JURNAL STIKNA :
JURNAL SAINS, TEKNOLOGI, FARMASI DAN
KESEHATAN
Volume 1, Nomor 1, Mei 2017
e-ISSN 2579-7603
JURNAL STIKNA : Jurnal Sains, Teknologi, Farmasi & Kesehatan
Vol.1, No.1, Mei 2017 e-ISSN 2579-7603
DAFTAR ISI
NO JUDUL HAL
1
Pemeriksaan
(
Muhammad Taufik, Harlem Marpaung, Jamahir Gultom, Saur LumbanNarkotika
Menggunakan
Sampel
Urine
Raja)1-10
2 Analisis Cepat Methamphetamin pada RambutMenggunakan Gas Kromatografi Spekstroskopi Massa (Zul Alfian,Pengguna Sabu Sabu Harlem Marpaung, dan Muhammad Taufik)
11-19
3 Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats Menggunakan Kolom
Kapiler Altech 10 Meter pada kromatografi Gas (Mahmudi) 20-30 4 Komunikasi Efektif Dokter dan Pasien Dalam Upaya Keselamatan Pasiendi Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Haji Medan 2015 (Novita Sari Br.
Barus)
31-40
5 Determinan Efisiensi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan
(Arifa Masyitah Panjaitan) 41-49
6 Pengaruh Karakteristik, Personal Hygiene, dan Alat Pelindung Diri (Apd)Dengan Gangguan Kelainan Kulit Pada Petugas Pengangkut Sampah Di Kota Padangsidimpuan Tahun 2016 (Khodijah Tussolihin Dalimunthe)
50-60
7
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Modifikasi Ovitrap pada Siswa SD Di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan Tahun 2016 (Vina Anggina Hutasuhut)
61-71
8 Upaya Pencegahan Dampak Mengangkat pada Pekerja Batubata di DesaKaranganyar Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016 (Velly Fazri Sinaga)
72-82
9 Penggunaan dan Pemanfaatan Kembali Limbah Batubara sebagai MaterialBangunan (Saur Lumbanraja, Zul Alfian, Dede Ibrahim Muthawali) 83-94
10 Prilaku Keluarga Terhadap Anggota Keluarga Yang Menderita AutismeDi Pusat Pelatihan Anak Autisme Pelita Kasih (Heni Triana) 95-105
11 Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Ekstraksi terhadap Total Mikroba padaEsktraksi Belimbing Wuluh sebagai Pengawet Ikan Kembung
(
(Rastrelliger kanagurta))(Mariany Razali)(
JURNAL STIKNA : Jurnal Sains, Teknologi, Farmasi & Kesehatan
Vol.1, No.1, Mei 2017 e-ISSN 2579-7603
Jurnal Stikna diterbitkan setahun dua kali oleh STIKes Nurliana Medan, melingkupi berbagai bidang ilmu dalam bidang Sains, Teknologi, Farmasi dan Kesehatan.
Penasehat
Ketua STIKes Nurliana Medan
Ketua Redaksi Mahmudi, S.Si, M.Si
Wakil Redaksi
dr. Novita Sari Br. Barus, M.Kes
Editor
Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc, Apt Dr. Muhammad Taufik, M. Si.
Dr. Rudi Kartika, M. Si. Dr. Binawati Ginting, M.Si
Dr. Ir. Desi Ardilla, M. Si.
Diterbitkan Oleh : STIKes Nurliana Medan www. http://jurnal.stikna.ac.id
JURNAL STIKNA :
JURNAL SAINS, TEKNOLOGI, FARMASI DAN KESEHATAN Volume 1, Nomor 1, Mei 2017
e-ISSN 2579-7603
Prilaku Keluarga Terhadap Anggota Keluarga Yang Menderita
Autisme Di Pusat Pelatihan Anak Autisme Pelita Kasih
Heni Triana
Prodi Keparawatan STIKes Flora Medan Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bersifat deskriftif dengan pendekatan kualitatif, dimana tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengetahuan sikap dan tindakan keluarga terhadap pengasuhan anak yang menderita autism. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam (Indepth interview) terhadap informan yang terpilih di pusat pelatihan anak autism pelita kasih. Pengolahan data dilakukan menggunakan alat bantu EZ. Test versi 3.06. Pengetahuan keluarga terhadap pengasuhan anak autism umumnya sudah baik karena umumnya informan mampu menjawab dengan benar pengertian, gejalala dan sumber informasi tentang autism. Sikap informan terhadap pengasuhan anak autism umumnya sudah baik walaupun sikap yang baik tidak selalu di iringi hasil yang baik pula. Tindakan informan terhadap pengasuhan anak autisme masih kurang , hal itu disebabkan karena masih dijumpai beberapa informan yang mempunyai balita sehingga perhatian informan tidak sepenuhnya untuk anak autisme. Jadi di harapkan kepada orang tua agar lebih memperhatikan anak – anak autisme karena pengasuhan anak autisme di banding dengan anak normal sangat berbeda.
Kata kunci: anak, autism, keluarga dan sikap ABSTRACT
This research is descriptive with qualitative approach, where the purpose of this research is to know the knowledge of attitude and family action to the care of children with autism. The method used is in-depth interviews (Indepth interview) on selected informants in the child training center autism pelita kasih. Data processing is done using EZ tools. Test version 3.06. Family knowledge of autism child care generally is good because generally informants are able to answer correctly understanding, gejalala and source of information about autism. Attitudes of informants to the care of children with autism generally have been good even though a good attitude is not always accompanied by good results. Informant's actions against child care autism is still lacking, it is because there are still found some informants who have toddlers so informant attention is not entirely for children with autism. So in expecting parents to pay more attention to children of autism because autistic child care in appeal with normal children is very different.
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
96
PENDAHULUAN
Kesehatan menurut WHO adalah suatu keadaan yang dua prima meliputi fisik, mental maupun sosial, melainkan diartikan pula bebas dari sakit atau cacat sementara dalam UU RI No. 23 tahun 1992 kesehatan didefenisikan sebagai keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis dengan demikian maka kesehatan adalah suatu kondisi yang penuh secara fisiologis maupun psikologis.
Dalam menyongsong dan mensukseskan Pembangunan Jangka Panjang II (1993-2018), maka unsur Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi primadona yang amat penting. Salah satu sasaran terpenting SDM adalah anak. Anak adalah tumpuan harapan bangsa dan negara, karena ia merupakan generasi penerus, pembangunan manusia di masa depan adalah pembangunan anak sekarang (Riyadi, 1982).
Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang muncul pada usia 1-3 tahun. Tanda-tanda autisme biasanya muncul pada tahun pertama dan sebelum anak berusia 3 tahun. Penyebab yang pasti dari autis tidak diketahui yang pasti hal ini bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah. Penulisan terbaru menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis di otak termasuk ketidakseimbangan, biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan (www.medicasture.com).
Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1982. Penderita autisme 1:5000 kemudian tahun 1997 penderita autisme 1:500 dan tahun 2000 penderita autisme 1:150 dan terakhir tahun 2001 menunjukkan bahwa penderita autisme 1:100 (Maria Sumediyani, 2001). Dari beberapa tempat pusat pelatihan anak autisme di kota Medan tahun 2003 dijumpai penderita autisme sekitar 200 penderita sedangkan belum termasuk penderita yang tidak terdaftar.
Keluarga sangat berperan aktif untuk kesembuhan anak autisme karena orang tua, saudara merupakan orang yang paling dekat dan paling tau tentang perkembangan anak-anak autisme.
Julianita (2001) mengatakan bahwa kesabaran sangat dituntut baik bagi sang terapi maupun orang tua atau saudara dari anak autis. Hal ini dikarenakan terapi pada anak autisme bisa memerlukan waktu yang sangat lama.
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
Anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat yang tidak seperti anak yang lain lahirnya normal sebagai mana manusia pada umumnya adalah tetap sebagai manusia anak bangsa yang berhak untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal seperti yang terdapat pada pasal 4 dan 5 (hak dan kewajiban) Undang-Undang RI tahun 1991 tentang kesehatan (Hanafiah dan AMRI, 1998).
Dalam pengelolaan anak autisme diperlukan kerja sama yang erat dari suatu tim yang menanganinya karena anak yang menderita autisme merupakan hal yang kompleks, serta kelainan yang diderita oleh satu penderita tidak sama dengan penderita yang lain sehingga penderitaanya bagi setiap anak berbeda. Tim yang menangani anak yang menderita autis biasanya terdiri dari dokter tenaga terapi. Disamping psikolog dan pendidik tidak kalah pentingnya dari tugas tim adalah peranan orang tua atau keluarga penderita. Keikutsertaan dan kesadaran orang tua atau keluarga sangat membantu suksesnya pengelolaan anak yang menderita autisme dimana tempat yang paling baik bagi perkembangan serta pertumbuhan anak autisme seperti juga anak-anak sehat lainnya adalah lingkungan keluarganya bukan rumah sakit.
Peneliti melihat bahwa anak yang menderita autisme dapat terjadi oleh anak siapapun tanpa melihat status dan tingkat sosial ekonomi keluarga. Namun pada saat ini keluarga yang membawa anaknya untuk diterapi di Pelita Kasih berasal dari keluarga yang menempuh ekonomi sosial menengah ke atas. Hal tersebut dikarenakan keluarga dari ekonomi menengah ke bawah terkadang tidak mengetahui anaknya terserang autisme.
Pada tahap survei awal peneliti melihat sendiri secara langsung bagaimana keluarga menghadapi anak yang menderita autisme. Mereka tidak begitu mengetahui cara penanganan yang baik. Kita tahu bahwasanya anak yang menderita autisme mempunyai salah satu ciri keterlambatan dalam perkembangan bicara terkadang orang tua atau keluarga mengajarkan berbagai kata-kata yang anak itu harus dapat menghafalnya. Padahal yang penting adalah pemahaman terhadap satu kata lebih berarti daripada banyak kata. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui bagimana perilaku keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita autisme di pusat pelatihan anak autisme Pelita Kasih tahun 2003.
Tujuan dari penelitian ini mengetahui perilaku keluarga teghadap anggota keluarga yang menderita autisme di pusat pelatihan anak autisme Pelita Kasih, baik berupa mengetahui
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
98
gambaran pengetahuan keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita autisme di Pusat Pelatihan Anak Autisme Pelita Kasih, mengetahui gambaran sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita autisme Di Pusat Pelatihan Anak Autisme Pelita Kasih dan mengetahui gambaran tindakan keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita autisme Di Pusat Pelatihan Anak Autisme Pelita Kasih.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang akan memberikan gambaran tentang prilaku keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita autisme di Pusat Pelatihan Anak Autisme Pelita Kasih.
A. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah keluarga yang mempunyai anak yang menderita autisme yang sedang di terapi di Pusat Pelatihan Autisme Pelita Kasih.
2. Informan Penelitian
Informan penelitian ini dilakukan dengan cara adequacy (kecukupan) dan kesesuaian melalui pendekatan secara individual terhadap keluarga di pusat pelatihan autisme, dimana data yang diperoleh dari informan dapat menggambarkan seluruh fenomena yang berkaitan dengan topik penelitian. Pada penelitian kualitatif jumlah informan tidak menjadi faktor penentu utama akan tetapi kelengkapan data yang diperlukan maka peneliti menentukan 8 orang dengan alasan informasi yang dikumpulkan bervariasi sehingga bisa memperoleh gambaran dari fenomena yang ada.
B. Proses Pemilihan Informan
Pada saat peneliti memutuskan untuk meneliti perilaku orang tua terhadap pengasuhan anak yang menderita autisme, peneliti belum menemukan pusat pelatihan untuk peneliti mengadakan penelitian, sehingga peneliti berusaha untuk mencarinya bersama dengan sahabat peneliti yang juga akan mengambil kasus autisme tersebut. Kami pergi keliling kota Medan untuk mencari dimana pusat pelatihan tersebut sehingga kami bertemu dengan seorang teman yang mengatakan bahwasanya ada pusat pelatihan anak autisme di Jalan. Kapten Muslim, setelah mendapatkan informasi tersebut kami pergi untuk
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
mencari dimana tempat pelatihan tersebut. Setelah kami dapatkan kami terus menjumpai pimpinan pusat pelatihan tersebut dan kami mengutarakan bahwa kami akan mengadakan penelitian disini, gunanya untuk melengkapi salah satu tugas dosen dalam rangka tridharma perguruan tinggi dan bukan untuk keperluan apa-apa. Setelah kami menjelaskan maksud dan tujuan kami kesini dan berbincang-bincang dengan pimpinan pusat pelatihan anak autisme Pelita Kasih syukurlah kami mendapatkan izin untuk mengadakan penelitian sehingga peneliti tidak begitu kesulitan untuk mencari tempat penelitian.
C. Pengumpulan Data 1. Data Primer
Data diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara mendalam (In depth Interview) menggunakan panduan pertanyaan yang telah disusun. Informan yang telah terpilih berjumlah 8 orang diwawancarai dengan waktu yang terpisah, untuk itu peneliti menggunakan alat bantu : Alat tulis dan tape recorder.
2. Data Sekunder
Data umum tentang puast penelitian anak autisme Pelita Kasih diperoleh dari pimpinan pusat pelatihan anak autisme dari tenaga terapi serta data yang diperoleh dari buku-buku yang berkenaan dengan maslah yang dibahas.
3. Metode Analisa Data
Data diolah dengan menggunakan EZ-Text versi 3.06. Analisa data dilakukan dengan menggunakan penyajian dalam bentuk matrix terhadap variabel dimaksud data yang ditemukan kemudian dianalisa dengan menggunakan teori dan pustaka yang ada.
HASIL DAN DISKUSI Gambaran Informan Karakteristik Informan
Gambaran karakteristik informan yang diteliti antara lain adalah nama, umur, pendidikan, jumlah anak, anak keberapa yang menderita autisme, suku, riwayat anak autisme pada masa pra kehamilan, hamil, lahir dan pra sekolah.
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
100
Tabel 1. Karakteristik Informan
No Nama Umur Pend.
Terakhir Suku Jlh. Anak Jlh. Balita Anak ke berapa yg menderita autisme Umur anak yang menderita Autisme
Riwayat anak autisme Pra
kehamilan
Hamil Lahir Pra
sekolah
101 Naumi 31 thn SMA Batak 3 1 1 7 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah 102 Erwin Marbun 42 thn S1 Batak 2 - 1 7 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah
103 Aslin 33 thn SMEA Karo 2 - 2 5 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah
104 Lily 36 thn S1 China 2 1 1 3 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah
105 Lili 32 thn S1 Batak 2 1 1 5 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah
106 Muliani 37 thn SMA China 2 1 2 5 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah 107 Fransisk a 43 thn S1 Jawa 2 - 2 5 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah
108 Mariani 36 thn SMA China 2 1 2 4 thn Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Tdk ada kelainan Bermasalah
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 8 orang informan mempunyai umur yang bervariasi pada umur yang tertua adalah umur 42 tahun. Sedangkan umur yang termuda adalah 31 tahun. Untuk tingkat pendidikan dari ke 8 informan juga bervariasi mulai dari yang berpendidikan SMA 4 orang, S1 4 orang, terlihat juga dari ke 8 orang infoman mempunyai jumlah anak yang bervariasi, dari yang berjumlah 2 orang anak sebanyak 7 orang, yang berjumlah 3 orang anak sebanyak 1 orang, dan dari ke 8 informan yang mempunyai anak balita sebanyak 5 orang, terlihat juga dari ke 8 informan mempunyai suku yang berbeda, dari yang bersuku Batak berjumlah 4 orang, Jawa 1orang, China 3 orang. Dari ke 8 anak yang menderita autisme mempunyai umur yang bervariasi pada umur yang tertua adalah umur 7 tahun dan umur yang termuda adalah umur 3 tahun dan riwayat anak autisme mulai dari pra kehamilan, hamil, lahir dari ke 8 informan tidak ada masalah namun pada pra sekolah dari ke 8 informan mengatakan bermasalah karena tanda dan gejala autisme sudah kelihatan.
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
Matriks Distribusi Informan Pengetahuan
a. Pengetahuan informan mengenai autism dari ke 8 informan semuanya mengatakan pernah mendengar autisme.
b. Pengetahuan informan tentang dari mana mendapatkan informasi tentang autisme. Tabel 2. Darimana Sumber Informasi Yang Diperoleh Tentang Autisme
No. Informan Bila pernah darimana sumber informasi yang anda peroleh
101 “Dari buku, majalah, TV, kan dulu sering dimunculkan di
TV, tahun berapa itu dan gejala-gejala autisme baru muncul
itu sering dibahas”.
102 “Dari saudara yang member masukan, setelah itu baru saya
tertarik untuk mencari informasi tentang autisme dari majalah, buku-buku”.
103 “Dari dokter, dari koran-koran dan majalah”.
104 “Dari majalah wanita, majalah anak-anak, wanita
sebelumnya majalah Femina juga”.
105 “Dari lihat TV, teman-teman”.
106 “Dari kakak saya sendiri dia membaca majalah
107 “Dari tulisan-tulisan tentang autis. Saya mencari
informasi-informasi guru autis ke RSU H. Adam Malik sudah dapat, terus di akan ounya buku-buku tentang autis, makalah tentang autis, saya pinjam dan suka pinjam dan saya photo
copy gitu aja, jangan sering nonton TV”.
108 “Dari majalah apa ya, enggak ingat lagi, dan dari koran
Dari tabel di atas didapati bahwa informan mendapatkan informasi tentang autisme umumnya didapat dari majalah, ada juga salah seorang informan mengatakan mendapat informasi dari TV disamping juga majalah. Salah seorang informan juga mengatakan mendapat informasi mengenai autisme dari teman, dari saudara, dari buku, makalah, dan dari guru autis disamping juga ia mendapatkan informasi dari majalah dan seorang informan lagi mendapatkan informasi dari dokter.
Menurut pengamatan peneliti, walaupun tingkat pendidikan ke 8 informan berbeda namun mereka sudah memahami tentang autisme. Hal ini dikarenakan anak mereka sendiri yang mengalami penyakit tersebut. Jadi mereka berusaha mencari tahu tentang autisme. Menurut Notoatmojo (1993), pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu.
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
102
Sikap
a. Sikap informan terhadap penderita autisme yang sedang di therapi di Pelita Kasih ini apakah bermanfaat atau tidak.
Tabel 3. Sikap Informan Terhadap Penderita Autisme Yang Sedang Di Therapi Di Pelita Kasih Apakah Bermanfaat Atau Tidak
No. Informan Bagaimana pendapat anda dengan penderita autisme yang sedang di therapi di pelita kasih apakah bermanfaat atau tidak
101 “Bermanfaat sekali” 102 “Bermanfaat sekali” 103 “Bermanfaat” 104 “Bermanfaat” 105 “Bermanfaat sekali” 106 “Bermanfaat sekali”
107 “Banyak sekali manfaatnya”
108 “Bermanfaat”
Dari tabel di atas terlihat bahwa semua informan mengatakan bahwa sangat bermanfaat sekali penderita autisme di terapi di Pelita Kasih.
b. Sikap informan jika masyarakat mengganggu bahwasanya autisme itu adalah penyakit kutukan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Sikap Informan Jika Masyarakat Mengganggu Bahwasanya Autisme Itu Adalah Penyakit Kutukan
No. Informan Bagaimana sikap anda jika masyarakat mengganggu bahwasanya autisme itu adalah penyakit kutukan
101 “ Ya enggak lah kalau ada orang ngomong aku enggak suka”
102 “ Ya enggak lah masak kutukan, tapi kalau dilingkungan
saya tak ada yang berfikir seperti itu malah mereka memberi
support kepada saya”
103 “Saya masih marah kalau ada yang menganggap penyakit autisme itu penyakit kutukan”
104 “Perlu dijelaskan kepada masyarakat”
105 “Sebagai orang tua saya sedih juga”
106 “Ya enggak masak kutukan, saya marah kalau ada yang bilang kutukan”
107 “Saya enggak percaya kalau itu kutukan, saya enggak terima jika ada yang bilang penyakit kutukan”
108 “Saya tidak setuju dan saya akan menjelaskan bahwasanya penyakit ini bukan penyakit kutukan”
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
Dari tabel di atas terlihat bahwa 2 orang informan mengatakan marah bila ada yang bilang penyakit kutukan, 2 orang informan lagi mengatakan memberikan penjelasan kepada masyarakat kalau itu bukan penyakit kutukan, 1 orang informan mengatakan sedih dan 1 orang informan lagi mengatakan tidak terima kalau masyarakat menganggap seperti itu, seorang lagi mengatakan ya enggak lah masak penyakit kutukan dan seorang lagi mengatakan enggak suka kalau ada orang menganggap seperti itu.
Menurut Rudy wakil ketua Yayasan Autisme Indonesia therapi memberikan harapan bagi anak autis karena dapat menyebabkan anak autis mampu mencapai tingkatan yang lebih baik. Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa pada umumnya informan mengatakan bermanfaat sekali hal itu dirasakan oleh informan terhadap anak-anak mereka yang sudah mampu mencapai tingkatan yang lebih baik.
Tindakan
a. Tindakan tentang siapa yang paling sering mengasuh anak autisme
Tabel 5. Tindakan Tentang Siapa Yang Paling Sering Mengasuh Anak Autisme Di Rumah
No. Informan Menurut pendapat anda siapa yang paling sering mengasuh anak autisme
101 “Ya aku, aku kan tantenya dari bayi aku yang pegang dia
makanya aku tau perkembangannya
102 “Dia lebih dekat dengan saya (bapaknya) daripada ibunya bahkan sama kakaknya dia enggak suka”
103 “Ya saya sendiri”
104 “Pembantu”
105 “Kami berdua dengan papanya”
106 “Pembantu”
107 “Saya Sendiri”
108 “Saya Sendiri”
Dari tabel di atas memperlihatkan bahwa siapa yang paling sering mengasuh anak autisme di rumah, 3 orang informan mengatakan diasuh oleh mereka sendiri (ibunya), 2 orang informan mengatakan diasuh oleh pembantu, 1 orang informan mengatakan
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
104
diasuh oleh bapaknya, dan 1 orang informan mengatakan diasuh berdua dengan papanya.
b. Tindakan informan terhadap usaha untuk mengobati anak autisme
Tabel 6. Tindakan Informan Terhadap Usaha Untuk Mengobati Anak Autisme
No. Informan Apa usaha anda untuk mengobati anak autisme
101 “Therapi terus dan kita anjurkan di rumah pelajaran yang didapat dari tempat terapi”
102 “Ya dibawa therapi disini, juga therapi di rumah”
103 “Therapi juga dulu pernah minum obat tapi karena biayanya
mahal enggak dikonsumsi lagi”
104 “Dibawa ke dokter di Penang. Setelah itu baru dibawa kemari”
105 “Langsung dibawa kemari untuk di therapi”
106 “Sekolah terus kasih les, di rumah lagi seperti les akademiknya, les wicara”
107 “Pergi ke alternative, diajari di rumah”
108 “Therapi dan pemberian vitamin aja”
Dari tabel di atas terlihat bahwa 5 orang informan mengatakan dibawa therapi disamping diberi vitamin juga therapi di rumah, 1 orang informan mengatakan dibawa ke dokter di Penang disamping itu juga dibawa therapi, 1 orang lagi juga mengatakan pergi ke alternatif disamping itu diajari di rumah dan seorang lagi mengatakan di sekolah disamping di beri les di rumah seperti les akademiknya, les wicara.
Secara umum gejala autisme akan berlanjut seumur hidup. Banyak ahli yakin prognosa kelainan ini ditentukan oleh berapa banyak therapi bicara yang sudah diterima pada saat anak berusia 7 tahun. Autisme ini dengan kecerdasan subnormal (<50) harus mendapat therapi purna waktu. Penderita autisme dengan kecerdasan hampir normal atau di atas rata-rata bisa diberi pskiotherapi atau pendidikan khusus. (www. medicastore. com/ penyakit/ autisme, htm. 2003). Menurut Dr. Melly Budhiman, bahwasanya penyandang autisme itu biasanya unik artinya setiap individu mempunyai gejala dan memerlukan pengananan masing-masing. Vitamin atau obat yang bagus untuk menyandang autisme yang satu belum tentu bagus pula hasilnya bagi penyandang autisme lainnya.
Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats otter... (Mahmudi)
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan adalah Pengetahuan mengenai autisme umumnya sudah baik, hal ini dapat dilihat bahwa informan telah mampu menjawab defenisi autisme, gejala dan penyebabnya. Sikap informan terhadap autisme umumnya sama, yaitu merasa sangat mengharapkan kesembuhan dari anak-anak autisme ini. Tindakan informan terhadap anak autisme yaitu mereka rutin membawa anaknya untuk therapi dengan harapan anaknya akan sembuh
DAFTAR PUSTAKA
Abu, A. (1991). Psikologi Sosial. PT Rineka Cipta. Jakarta.
Anonim (1992). Undang-Undang RI No 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan Depkes RI. Jakarta
Anonim (2002). Ciri-Ciri Dan Penanganan Autisme.
www.balitaanak.indoglobal.com/autisme.html
Anonim (2002) Meningkatkan Komunikasi Pada Anak Autis. www.kompas.com/keluarga/mini27.htm.
Anonim (2003). Autisme.www.medicatore.com/penyakit/autisme.htm
Emily Slone, Mc. Kinney, Maternal-Child Nursing, edition W.B. Saunders Company. Philadelphia. 2002
Hanafiah, A. (1998). Etika Kedokteran Dan Hukum Kesehatan. Edisi kedua.USU Medan
Maria, S. (2001). Laporan Seminar Autisme. Jakarta
Morgan Kathleen Speer, Pediatrik Care Planning, 3 rd edition, Spring House Corporation, Pennsylvania.1999.
Notoatmodjo, S. (1993). Pengantar Pendidikan Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan, Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.
Riyadi, s. (1982). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Usaha Nasional. Surabaya. Sacharin, R. (1996). Prinsip Perawatan Pediatrik. EGC. Jakarta.
Sarlito, W. (1986). Pengantar Ilmu Psikologi. PT. Bulan Bintang.