• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 25/PUU-V/2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 25/PUU-V/2007"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 25/PUU-V/2007

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002

TENTANG PARTAI POLITIK

TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR 1945

ACARA

PEMERIKSAAN PERBAIKAN PERMOHONAN

(II)

J A K A R T A

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 25/PUU-V/2007

PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik terhadap Undang-Undang Dasar 1945

PEMOHON

Lieus Sungkharisma ACARA

Pemeriksaan Perbaikan Permohonan (II)

Selasa, 13 November 2007, Pukul 10.00 – 10.30 WIB Ruang Sidang Panel Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1. Prof. Abdul Mukhtie Fadjar, S.H., M.S. K e t u a

2. Maruarar Siahaan, S.H. Anggota

3. Soedarsono, S.H. Anggota

(3)

Pihak yang Hadir: Pemohon :

• Lieus Sungkharisma

(4)

1. KETUA : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S

Sidang Panel untuk Perkara Nomor 25/PUU-V/2007 dengan ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera.

Saudara Pemohon, pada sidang hari ini merupakan sidang yang kedua, masih sidang panel. Untuk mengecek permohonan perbaikan yang telah dilakukan oleh Pemohon. Untuk itu saya persilakan, ini yang hadir Saudara Pemohon Prinsipal ya? Saya persilakan Saudara Pemohon untuk menjelaskan secara singkat apa-apa saja yang diperbaiki dari permohonan yang lalu, dipersilakan.

2. PEMOHON : LIES SUNGKARISMA Terima kasih Yang Mulia.

Kami memperbaiki, satu, status kami sebagai Pemohon itu dipertegas perorangan. Jadi sebagai Pimpinan Partai Reformasi Tionghoa. Partai Reformasi Tionghoa Indonesia itu hanya sebagai ilustrasi, pengalaman. Kemudian petitum tiga itu kita hapuskan, karena sesuai saran Yang Mulia bahwa tidak bisa kita mohon untuk menyatakan partai politik lokal itu diberlakukan di seluruh Indonesia. Oleh karenanya dua hal itu yang menjadi sangat penting kami sudah hapuskan. Kemudian saya kira Pak Sumitro itu lebih kepada materi-materinya, kalau saya hanya melihat memang kami ini, hak-hak kami secara kolektif ini dengan diberlakukan Undang-Undang Partai Politik itu menjadi hilang. Karena kami tadinya sudah terdaftar, sudah declare, sudah sah sebagai partai politik dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 31 itu kemudian partai kami itu dicabut.

Yang perlu kami tegaskan di sini, kami men-declare partai politik ini memang bukan semata untuk ikut pemilu, karena kami tahu Undang-Undang Pemilu itukan juga ada. Di dalam Undang-Undang-Undang-Undang Pemilu itu dipersyaratkan, partai politik yang ikut pemilu itu harus persyaratannya dua pertiga, dua pertiga setengah dan itu kami setuju. Oleh karenanya kami sangat dirugikan sekali tatkala Undang-Undang Nomor 2 itu diubah menjadi nomor 31. Padahal kami yakini partai politik itu bukan semata untuk ikut pemilu, tapi lebih pada hak berserikat dan berkumpul dan menyatakan pendapat. Terlebih lagi buat kami ini memperjuangkan

hak-SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB

(5)

hak sebagai Warga Negara Indonesia itu melalui perjuangan yang panjang.

Pengakuan kami sebagai putra bangsa itu melalui proses yang panjang karena selama pemerintahan Orde Baru banyak putusan-putusan yang diskriminatif. Sejak kami lahirkan Partai Reformasi Tionghoa ini dan mendapat pengesahan, kami bebas berdialog dengan partai-partai politik yang ada, dengan masyarakat kami bisa bertukar pikiran. Hingga hasilnya itu membuahkan hasil dimana Inpres yang melarang tentang adat istiadat dan agama serta kepercayaan masyarakat Tionghoa itu dicabut. Proses seperti inilah yang terus kami perjuangkan, termasuk yang belum berhasil kami perjuangkan adalah surat edaran presidium kabinet tentang sebutan Tiongkok dan Tonghoa diganti Cina. Hal ini kami perjuangkan, baik ke DPR maupun ke pemerintahan tetapi belum menghasilkan.

Oleh karenanya menjadi sangat strategis kesadaran masyarakat Tionghoa yang selama sekian puluh tahun itu dijauhkan dari kehidupan politik hanya diarahkan ke bidang ekonomi, dengan lahirnya Partai Reformasi Tionghoa ini, ini memberikan pendidikan politik bahwasanya seluruh masyarakat Indonesia punya tanggung jawab yang sama terhadap kelangsungan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan negara kesatuan Republik Indonesia. Saya pernah satu hari disalami oleh satu orang dari Kalimantan Barat, “Pak Lieus, waduh saya terima kasih. Dengan adanya Parti saya sekarang menjadi anggota DPRD, tapi karena Parti tidak ikut Pemilu, kita ikut partai lain”. Jadi ini hal-hal yang membanggakan kita, dimana walaupun kita sebagai partai politik tidak ikut Pemilu dan itu bukan tujuan kami men-declare Partai Reformasi Tionghoa ini untuk ikut Pemilu, mungkin nanti pada saatnya kita bisa memenuhi Undang-Undang Pemilihan Umum itu yang mempersyaratkan dua pertiga, dua pertiga dan setengah itu kita sudah firm, kita sudah diterima di masyarakat secara luas. Mungkin sepuluh tahun, dua puluh tahun kemudian kita baru akan ikut Pemilu. Tetapi dengan Undang-Undang Nomor 31 ini yang dari awal sudah membatasi keberadaan partai politik, ini kami anggap sangat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar khususnya Pasal 28C ayat (2), jadi bukan hak pribadi lagi ini, tapi hak kolektif kami.

Jadi saya kira itulah kami sangat memohon pada Yang Mulia Majelis bisa mengabulkan ini dan bukan semata-mata untuk kepentingan Partai Reformasi Tionghoa atau kami berdua, tetapi dalam konteks ke depan bangsa ini memang harus rakyatnya ini melek politik, diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk menyatakan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat melalui partai politik. Dan mungkin kekhususan Partai Reformasi Tionghoa ini Yang Mulia, itu tidak ada di partai lain. Banyak sekarang teman-teman yang di partai-partai lain mungkin memang kurang spesifik dan lebih-lebih kami ingin memperjuangkan ini adalah kesetaraan Yang Mulia, kesetaraan antara semua komponen bangsa. Jadi masih banyak masyarakat Indonesia

(6)

yang terdiskriminasi oleh karena kelahiran kita ini lebih kepada memberikan semangat, spirit kepada orang-orang Tionghoa yang selama 32 tahun ini terjauhkan dari masalah-masalah politik, hanya concern di bidang ekonomi.

Sementara dari kami begitu Yang Mulia, terima kasih. 3. KETUA : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S

Bapak Sumitro ada tambahan?

4. PEMOHON : LAKS. MADYA (PURN) SUMITRO Baik, terima kasih Yang Mulia.

Sidang Mahkamah yang mulia. Assalamu’alaikum wr. wb.

Perkenankan saya selaku Pemohon menyampaikan pokok materi dan jiwa permohonan kami pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik terhadap Undang-Undang Dasar 1945.

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28C ayat (2) menyatakan “setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.” Undang-Undang 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik, Pasal 2 ayat (3) huruf B mempersyaratkan partai politik memiliki kepengurusan pada sekurangnya 50% jumlah provinsi, 50% jumlah kabupaten kota, dan 25% jumlah kecamatan pada kabupaten bersangkutan.

Jiwa Pasal 2 ayat (3) huruf B Undang-Undang 31 tahun 2002 tersebut menyalahi Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 khususnya secara materi menyalahi Pasal 28C ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Pemohon berpendapat bahwa ketentuan dalam Undang-Undang 31 Tahun 2002 sebagaimana tersebut merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Undang-Undang Dasar 1945. Menghambat, merugikan, bahkan mematikan hak dan aspirasi kelompok Pemohon di dalam berserikat guna ikut serta dalam upaya membangun bangsa dan negara. Kuat keyakinan Pemohon bahwa keberhasilan kita dalam membangun bangsa yang besar, maju, dan bermartabat hanya bila kita mampu membangun persatuan kesatuan bangsa yang tulus berdiri di atas tatanan demokratis berkeadilan, berkemanusiaan sebagaimana hakikat kehidupan bangsa yang ber-Pancasila.

Tanpa ada kondisi persatuan kesatuan demokratis, berkeadilan dan berkemanusiaan, Pemohon yakin akan tumbuh rasa gamang dari mereka yang tersisihkan, terpinggirkan, terlecehkan dari semangat persatuan kesatuan, dari demokrasi dan keadilan, lebih-lebih lagi dari nilai-nilai kemanusiaan, rasa gamang sebagai bagian dari anak bangsa. Tidak sulit untuk kita pahami kegamangan tersebut saat ini terjadi dan lekat pada Saudara kita sebangsa, suku Tionghoa, yang menempati

(7)

urutan keempat atau kelima sekarang jumlahnya di bumi Indonesia. Kita bisa bertanya bagaimana mungkin kalau memang merasa hidup di bumi Indonesia, kalau memang merasa bagian dari bangsa Indonesia masih juga diliputi kegamangan. Pemohon mencoba memahami kondisi tersebut sebagai produk tatanan dan pranata sosial budaya yang tumbuh dan ditumbuhkan di bumi Indonesia sejak periode penjajahan sampai periode Orde Baru bahkan nampaknya masih berlanjut pada saat-saat ini. Beberapa fakta berikut dapat memberi gambaran terkait kegamangan tersebut, terkait persatuan kesatuan bangsa.

Pertama, Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE 06/Peskap/1967 tanggal 20 Juni 1967. Materi utama surat edaran tersebut adalah instruksi kepada seluruh jajaran pemerintahan, birokrasi, sipil, dan militer untuk secara formal mengganti penyebutan Tionghoa menjadi Cina dan Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Rakyat Cina. Bagi Pemohon tidak masalah perubahan penyebutan Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Rakyat Cina. Tetapi mengubah penyebutan Tionghoa menjadi Cina melalui lembaga kekuasaan bukan dalam proses budaya kehidupan rasanya hal itu merupakan penelikungan dan pelecehan budaya, budaya bangsa. Konon bangsa yang bertingkah laku halus dan berbudi luhur. Kantor pengacara Drs. Edi Sadli, S.H. and partners pada 10 Agustus 2001 mengajukan petisi kepada Presiden RI Ibu Megawati untuk mencabut surat edaran. Secara jelas diutarakan dalam petisi bahwa penggantian penyebutan Tionghoa menjadi Cina menyakitkan hati masyarakat Tionghoa yang merupakan bagian yang satu dari bangsa Indonesia yang lahir, hidup, dan meninggal di bumi Indonesia tercinta. Masyarakat Tionghoa yang berjumlah kurang lebih sebelas juta.

Petisi tersebut menggambarkan secara khusus aspirasi politik masyarakat Tionghoa untuk ikut serta dalam membangun bangsa dan negara sebagai bagian dari satu dan sama dari bangsa dalam identitas Tionghoa, bukan dalam identitas Cina. Penggunaan penyebutan Tionghoa ataupun Cina dalam pandangan Pemohon merupakan produk interaksi sosial budaya yang terjadi sejak kedatangan kelompok-kelompok pendatang dari daratan Cina. Penyebutan Cina atau pun Tionghoa telah terjadi dan berlaku seiring sejarah perjalanan bangsa dalam berbagai lokalitas dan komunitas. Penyebutan Cina merupakan hal yang biasa tanpa konotasi negatif atau pun negatif, tetapi ada pula lokalitas dan komunitas yang memahamkan penyebutan Cina sebagai negatif. Di lain pihak, penyebutan Tionghoa sepenuhnya dipahami tanpa konotasi negatif, tanpa sedikitpun ada nuansa pelecehan. Bahkan penyebutan Tionghoa yang berkembang dan tumbuh pada awal periode feodalistik Jawa merupakan simbol penerimaan dan penghormatan sebagai bagian yang satu dan sama dari anak bangsa. Kita sebut seseorang sebagai Cina, kita tidak pernah pasti negara mana kewarganegaraan dia. Sebut seseorang Tionghoa, tidak salah lagi dia saudara kita sebangsa, bangsa Indonesia. Alangkah naifnya saya

(8)

Pemohon mau menerima Tionghoa sebagai bagian yang satu dan sama dari anak bangsa, tetapi tidak mau memberi apresiasi dengan melegalkan penyebutan Tionghoa, bahkan menggunakan penyebutan Cina yang jelas-jelas melukai nurani sebagaimana tersirat dalam petisi. Petisi tinggal petisi, Tionghoa tinggal Tionghoa, tetapi Anda tetap Cina. Mohon diketahui tidak ada satu pun organisasi kemasyarakatan Tionghoa di Indonesia yang menggunakan sebutan Cina. Kami kelompok Pemohon Tionghoa maupun yang non Tionghoa berkepentingan untuk membangun semangat baru persatuan dan kesatuan bangsa, semangat baru membangun bangsa, semangat baru yang jelas-jelas tidak diberi peluang hidup oleh Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol.

Kedua, kerusuhan Mei 1998. Sejarah perjalanan bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari peristiwa kerusuhan rasial yang melibatkan dan mengorbankan kelompok Cina atau Tionghoa dan salah satunya kulminasi pada Tragedi Mei tahun 1998. Sebuah tragedi kebangsaan yang mencoreng wajah peradaban bangsa Indonesia, bagaimana tidak? Kerabat ipar Pemohon yang Tionghoa, istri dan ketiga anaknya yang masih remaja meninggal terbakar dibakar hidup-hidup pada ruko yang mereka tempati di kawasan Kebun Jeruk, sayangnya belum pernah ada upaya untuk memahami dan mengakomodasi sejauh mana peristiwa Mei 1998 berdampak dan mempengaruhi rasa hati nurani Saudara kita suku Tionghoa. Kalaupun selama ini ada upaya untuk mengungkap dan menuntut, nampaknya hal itu hanya sekedar bagian dari politik kekuatan dan politik kekuasaan kelompok kepentingan, bukan bagian dari upaya rekonsiliasi untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa.

Tragedi Mei semakin menumbuhkan kegamangan kepada Saudara kita suku Tionghoa, gamang dan bertanya-tanya, inikah perlakuan yang harus saya dapatkan sebagai anak bangsa? Tragedi Mei 1998 seolah memberikan jawaban bahwa keberadaannya seperti anak bangsa belum diterima secara tulus, tragedi tersebut melengkapkan luka hati oleh Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera. Luka hati yang pemerintahan periode reformasipun tidak tergerak hatinya untuk mengobati, bahkan tidak juga organisasi politik yang eksis saat ini. Kebenaran indikasi tersebut dapat dilihat dari fakta berikut; Mei 2007, Pemohon berkirim surat kepada salah satu dari tiga besar partai politik dengan permohonan dan saran untuk secara internal partai, agar secara resmi menetapkan penyebutan Tionghoa, lisan maupun tulisan. Upaya yang sama telah pula Pemohon ajukan kepada salah satu dari Parpol peserta Pemilu tahun 2004 yang lain, sampai saat ini belum mendapat tanggapan. Benar, semua yang tabu pada masa Orba telah ditiadakan. Silakan Barongsai, silakan Imlek, silakan ini, itu, tetapi jangan meminta secara formal diakui sebagai Tionghoa.

Inilah sekilas gambaran, sebagian dari aspirasi kami, sebagai individu-individu untuk mengobati luka hati. Membangun persatuan

(9)

kesatuan bangsa, ikut serta dalam upaya membangun bangsa dan negara melalui jalur dan tatanan kelembagaan partai politik.

Ketiga, Partai Reformasi Tionghoa Indonesia—disingkat Parti. Kerusuhan Mei 1998 serta bergulirnya arus reformasi telah membuka mata dan membangunkan kesadaran para deklator Parti, bahwa ada sesuatu yang hilang dari khasanah kehidupan mereka dalam berbangsa dan bernegara. Sesuatu yang dihilangkan, dipinggirkan bahkan mungkin juga dilecehkan, yaitu semangat kebangsaan. Pemohon membaca dan memahami deklarasi Partai Reformasi Tionghoa Indonesia sebagai sesuatu bentuk kebangkitan semangat kebangsaan dalam identitas Tionghoa. Memahami semangat perjuangan sedemikian meyakini bahwa suku di Tionghoa adalah bagian yang satu dan sama dari bangsa Indonesia. Meyakini bahwa pembangunan hanya akan berhasil bila ada persatuan kesatuan bangsa yang sebenar-benarnya. Pemohon segera pula mendukung dan bergabung, walau belum kenal secara perorangan siapa-siapa mereka, apa visi misi maupun apa program Parti. Dalam kondisi masyarakat Tionghoa yang gamang, dalam kondisi bayang-bayang kebijakan stigmatisasi, marjinalisasi, viktimisasi yang kental dan terjadi pada masa Orde Baru dapat dipahami bahwa kehadiran Parti masih pula diterima secara gamang. Kegamangan tersebut tersirat dalam ucapan Pimpinan Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia— disingkat PSMTI—kepada Pemohon pada pada perayaan Imlek tahun 2002. “Pak Mitro sebaiknya sebutan Tionghoa pada Partai Reformasi Tionghoa Indonesia diganti”. Pemohon merespon bila sebutan Tionghoa diganti, sekarang diganti, sekarang juga saya keluar dari Parti. dalam kondisi masyarakat Tionghoa maupun non Tionghoa yang gamang menerima kehadiran Parti, wajar bila Parti tidak dimungkinkan untuk secara cepat membangun jaringan organisasi, secara cepat meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Diperlukan waktu pencerahan, pemahaman membangun organisasi, sepanjang waktu tersebut tidak dimatikan. Yang pasti dalam kondisi gamang tersebut, individu-individu dalam kelompok kami merasa memiliki hak konstitusional untuk secara kolektif memperjuangkan aspirasi kami dalam upaya membangun masyarakat, bangsa, dan negara. Hak yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945 tanpa mempersyaratkan eksistensi sebaran wilayah organisasi, hak yang dijamin walau baru tumbuh dan berkembang secara sebaran organisasi dalam skala lokalitas di wilayah Indonesia.

Sidang yang mulia, Pemohon ingin menegaskan bahwa pada hakikatnya kami memiliki aspirasi, semangat, dan tujuan perjuangan yang sama dengan komponen anak bangsa. Hanya saja kami memiliki ciri khusus dan berbeda, yaitu kami ingin ikut serta membangun bangsa dan negara, membangun persatuan dan kesatuan bangsa dalam identitas Tionghoa dimana kami bisa berkata, “aku bangga menjadi Indonesia, bukan “aku gamang menjadi Indonesia”.

Untuk itu sidang Mahkamah Konstitusi yang mulia, Pemohon memohon kepada sidang agar Pasal 2 ayat (3) huruf B Undang-Undang

(10)

RI Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, karena bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945 Pasal 28C ayat (2).

Demikian, terima kasih Yang Mulia.

5. KETUA : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S Baik, terima kasih.

Ada pertanyaan? Baik Saudara Pemohon, kami sudah memahami pokok permasalahan Saudara dan pada hari ini sidang juga akan mengesahkan alat bukti yang telah diajukan. Perlu saya sampaikan bahwa alat bukti yang dapat mendukung persidangan ada bermacam-macam, ada yang merupakan alat bukti tulis, ini yang akan kami sahkan yang telah diajukan. Kemudian Pemohon juga dapat mengajukan alat bukti lain misalnya keterangan ahli atau saksi, kalau itu diinginkan.

Untuk sementara yang kami sahkan adalah alat bukti tulis yang telah diajukan. Pada kami telah terdapat alat-alat bukti yang jumlahnya ada enam belas. P1 sampai dengan P16 ini akan kami sahkan sesuai dengan ketentuan undang-undang bahwa kami harus mengecek alat-alat bukti ini dan mengesahkannya.

Bukti P1, Kartu Tanda Penduduk atas nama Pemohon I, Lieus Sungkarisma.

Bukti P2, Kartu Tanda Penduduk atas nama Pemohon II Sumitro.

Bukti P3, salinan akta pendirian Partai Reformasi Tionghoa Indonesia atau Parti, kami sahkan.

Bukti P4, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol.

Bukti P5, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Parpol. KETUK PALU 1X

KETUK PALU 1X

KETUK PALU 1X

KETUK PALU 1X

(11)

Bukti P6, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Bukti P7, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Partai Lokal di Aceh.

Bukti P8, Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah diamandemen dalam satu naskah.

Bukti P9, Undang undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, kami sahkan.

Bukti P10, Surat Pemberitahuan Penerimaan Pendaftaran untuk pengesahan pendirian partai politik Nomor 116/B/PP di daftar Parpol/2/1999, tanggal 22 Februari 1999

Bukti P11, Permohonan Pengumuman dalam Berita Negara RI Nomor 116/B/PP/PARPOL/2/1999

Bukti P12, Berita Negara bukti terdaftar di Menteri Kehakiman RI, kami sahkan.

Bukti P13, kliping koran Analisa Sabtu 6 Juni 1998, “Karena Dorongan Reformasi Politik, Warga Tionghoa Membentuk Partai Baru”.

KETUK PALU 1X KETUK PALU 1X KETUK PALU 1X KETUK PALU 1X KETUK PALU 1X KETUK PALU 1X KETUK PALU 1X

(12)

Bukti P14, kliping koran Suara Pembaharuan Senin, 22 Februari 1999, “140 Parpol yang Terdaftar di Depkeh”.

Bukti P15 atas sambutan Ketua Umum Parti Lieus Sungkarisma pada buku berjudul, “Ksatria Bangsa Laksamana Madya Sumitro”, bukti ini berupa buku ya? Di sini ada kata pengantarnya, sudah kami terima ini.

Bukti P16, kumpulan tulisan Bambang Warih Kusuma dan M. Khodari, baik kami sahkan.

Jadi ada enam belas alat bukti tertulis dari Pemohon. Kalau nanti ada tambahan bisa disusulkan. Kemudian apakah dikandung maksud dari para Pemohon untuk misalnya mengajukan ahli atau saksi, bagaimana? 6. PEMOHON : LAKSAMANA MADYA (Purn) SUMINTRO

Terima kasih Yang Mulia.

Pemohon pribadi tidak bermaksud mengajukan saksi dan ahli. 7. KETUA : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S

Ya, jadi ada dua yang bisa Saudara ajukan, yaitu ahli, yaitu yang diminta keterangan karena keahliannya dan saksi ialah yang menyaksikan apa-apa yang didengar sendiri, dilihat, diketahuinya begitu, tetapi tidak ada ya? Tidak ada ahli atau saksi? Atau mau direnungkan dulu?

Silakan, Pak Lieus Sungkarisma! KETUK PALU 1X

KETUK PALU 1X

KETUK PALU 1X

(13)

8. PEMOHON : LIES SUNGKARISMA

Saya pikir mau saksi/ahli yang betul-betul tahu tentang ketatanegaraan, hanya memang namanya ini saya sudah dapat, hanya belum dapat alamatnya Yang Mulia.

9. KETUA : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S

Itu tidak usah sekarang, jadi nanti para Pemohon bisa mengajukan daftar nama beserta curriculum vitae-nya ke Kepaniteraan. Selanjutnya persidangan ini akan kami laporkan ke Pleno untuk Rapat Permusyawaratan Hakim untuk ditentukan apakah perlu mendengar keterangan Pemerintah, DPR, dan sebagainya, jadi nanti akan kami beritahukan. Sambil menunggu proses itu, para Pemohon dapat mengajukan kalau berkeinginan untuk mengajukan ahli. Kita membedakan antara ahli dan saksi. Jadi ahli itu tadi diminta keterangan untuk karena keahliannya, kalau saksi itu karena pengetahuannya dari apa yang dilihat, didengar sendiri, dan sebagainya. Itu nanti kalau memang begitu nanti mengajukan saja ke Kepaniteraan nama-nama dan curriculum vitae dari ahli yang diinginkan.

Perlu kami beritahukan bahwa sidang ini, dua kali sidang itu masih berupa pemeriksaan pendahuluan. Justru untuk memperjelas apa yang para Pemohon inginkan dan sekaligus mengesahkan bukti-bukti yang mendukungnya. Selanjutnya persidangan berikutnya akan ada surat tentunya, panggilan dari Panitera apakah sidang nanti akan berupa sidang pleno untuk mendengarkan keterangan Pemerintah dan DPR sebagai pembentuk undang-undang atau ada kebijakan lain dari pleno hakim, misalnya tetap. Karena bisa saja persidangan berikutnya tetap dilakukan oleh panel tiga orang hakim. Yang tidak bisa hanya kalau memutuskan, kalau memutuskan dalam bentuk sidang pleno.

Baik Saudara Pemohon tentu sudah paham ya? Apakah masih ada yang ingin disampaikan sebelum kami akhiri sidang ini?

10. PEMOHON : LIES SUNGKARISMA

Ya, mungkin bukti tambahan, itu surat edaran presidium kabinet Yang Mulia. Itu nanti kita tambahkan karena disebut, hanya memang tidak terlampirkan sebagai saksi, masih memungkinkan tidak Yang Mulia?

11. KETUA : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S

Masih, masih. Jadi sepanjang persidangan masih bisa menambah bukti kalau diperlukan.

(14)

12. PEMOHON : LIES SUNGKARISMA Terima kasih Yang Mulia.

13. KETUA : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S Baik, masih ada lagi yang ingin disampaikan? Cukup?

Baik, Saudara Pemohon. Jadi sidang hari ini sudah cukup perbaikan sudah cukup kami pahami, demikian juga alat-alat bukti sudah kami sahkan dan untuk persidangan berikutnya nanti menunggu panggilan dari Mahkamah.

Dengan demikian sidang panel untuk memeriksa permohonan Nomor 25/PUU-V/2007 saya nyatakan ditutup.

KETUK PALU 3X

Referensi

Dokumen terkait

Karena DPR sebagai lembaga negara yang membentuk undang-undang dalam mekanisme demokrasi yang wajib memberi keterangan di depan MK dalam hal adanya permohonan

Akan tetapi dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, di dalam Pasal 77A

[r]

Sedangkan kegiatan PKL pada manajemen asuhan gizi bertujuan untuk dapat tercapainya kompetensi yang terdiri dari: kemampuan melakukan self assessment dalam rangka

• 5 jika siswa hanya menghubungkan sifat- sifat kubus dan sifat-sifat balok saja, tanpa menuliskan hubungan kubus dan balok • 4 jika siswa hanya dapat menghubungkan. 7-9 sifat

Dalam pengajuan permohonan ini Pemohon tidak menyampaikan dalil-dalil hukum yang rumit atau teori hukum yang sulit dan canggih karena menurut hemat Pemohon apa yang menjadi

Di dalam kesempatan sidang yang terhormat ini izinkan saya selaku Kepala Badan Pertanahan Nasional menyampaikan beberapa perspektif penting kepada yang mulia Majelis Hakim, berkaitan

Dari uraian diatas kita mengetahui bagaimana eksistensi partai politik Islam dalam pemilu yang selalu sulit bersaing dengan partai politik yang bukan berbasis Islam