• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007 PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 56 PRP TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN

TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR 1945

ACARA

MENDENGAR KETERANGAN PEMERINTAH (III)

J A K A R T A

SELASA, 26 JUNI 2007

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NO. 11/PUU-V/2007 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 56 PRP Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian terhadap Undang-Undang Dasar 1945

PEMOHON

Yusri Ardisoma.

ACARA

Mendengar Keterangan Pemerintah (III)

Selasa, 26 Juni WIB, Pukul 10.00 – 10.50 WIB

Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 7, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. (Ketua) 2) Prof. Dr. H.M. LAICA MARZUKI, S.H. (Anggota)

3) H. ACHMAD ROESTANDI, S.H. (Anggota)

4) Prof. H.A.S. NATABAYA, S.H., LL.M. (Anggota)

5) I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H. (Anggota)

6) Prof. H. ABDUL MUKTHIE FADJAR, S.H., M.S. (Anggota)

7) MARUARAR SIAHAAN, S.H. (anggota)

8) Dr. HARJONO, S.H., M.C.L (Anggota)

9) SOEDARSONO, S.H. (Anggota)

Eddy Purwanto,S.H. Panitera Pengganti

(3)

PIHAK YANG HADIR:

Pemohon :

Yusri Ardisoma Pemerintah :

Sofyan Sitompul (Dirt Litigasi, Dept Hukum dan HAM)

Mualimin Abdi, S.H., M.H. (Kabag. Litigasi Dept. Hukum dan HAM)

Dr. Ir. Yuswanda Tumenggung (Deputi Pengaturan & Penataan Pertanahan BPN)

RB Agus Wijayanto, S.H., M.H. (Dirt. Perkara BPN)

Dr. Guna Negara (Ka. Pusat Hukum BPN)

Gunawan Sasmita, MPA (Dirt. Land Reform)

(4)

1. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik Saudara-Saudara, Sidang Mahkamah Konstitusi untuk pemeriksaan perkara ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Asalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera.

Sebelum kita mulai karena ini adalah sidang Pleno yang pertama, kita mulai dengan memperkenalkan diri dulu siapa saja yang hadir dalam sidang ini, saya persilakan mulai dari Pemohon dan seterusnya nanti, silakan. Perkenalan saja dulu.

2. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Asalamu’alaikum Wr. Wb.

Izinkanlah saya untuk ini nama saya Yusri Ardisoma, di Subang sebagai Pemohon Pak.

3. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik, sendirian ya?

4. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Sendirian.

5. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Berani sekali Saudara!

Baiklah kita lanjutkan dari pihak Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat, saya persilakan Pemerintah dulu.

6. PEMERINTAH : SOFYAN SITOMPUL (DIRT. LITIGASI DEPT HUKUM DAN HAM)

Terima kasih Yang Mulia, Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita semua. Saya Sofyan Sitompul selaku Direktur Litigasi Perundangan-undangan dari Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum Dan HAM,

SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB

KETUK PALU 3X

(5)

selain memperkenalkan diri perkenankan kami menjelaskan bahwa Bapak Menteri Hukum dan HAM tidak dapat hadir dalam persidangan ini karena sedang berdinas di luar kota, sedangkan Bapak Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan begitu juga tidak dapat menghadiri, mohon maaf karena harus menghadiri persidangan di DPR untuk suatu pembahasan perancangan undang-undang, untuk itu kami juga didampingi atau bersama-sama dengan BPN dan akan memperkenalkan diri sesudah ini.

Demikian penjelasan kami dan juga kami perlu sampaikan bahwa Departemen Dalam Negeri juga ada jajarannya mewakili, demikian terima kasih Yang Mulia.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

7. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Silakan dulu, memperkenalkan saja dulu dari mana saja.

8. PEMERINTAH : Dr. Ir. YUSWANDA TUMENGGUNG (DEPUTI PENGATURAN & PENATAAN TANAH, BPN)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang Mulia, kami memperkenalkan diri, saya Yuswanda A.

Tumenggung Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan, Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. Bersama saya tiga—dua direktur, pertama adalah, saya mohon berdiri! Direktur Land Reform Gunawan Sasmita, kedua adalah Direktur Perkara Pertanahan Agus RB, ketiga adalah Kepala Biro Hukum dan Humas Pertanahan Guna Negara.

Demikian Yang Mulia kami ucapkan terima kasih.

9. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Dari DPR ada? Belum ya? Jadi hari ini kita fokuskan kalau begitu mendengar keterangan dari Pemerintah baik formal maupun tentu instansi yang berkaitan sekali dengan persoalan ini adalah BPN dan saya ucapkan selamat datang dalam Sidang Mahkamah Konstitusi hari ini. Ini sekaligus juga bagi Pemohon menggambarkan bahwa di tengah kesibukannya Pemerintah banyak sekali urusan sebagaimana tadi disampaikan, ada DPR, ada menteri juga di luar kota. Tapi untuk menghadapi kasus yang Saudara ajukan permohonan ini, ini Pemerintah nampaknya sudah siap untuk memberikan keterangan. Sekarang sebelum kita mulai, saya persilakan Saudara Pemohon menguraikan pokok permohonannya sekali lagi, tidak usah panjang-panjang pokoknya saja, apa inti permohonan Saudara, apanya yang bertentangan dengan Konstitusi? Dan apa yang Saudara harapkan dengan perkara ini?

(6)

Permohonannya itu apa? Petitum-nya bagaimana? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya persilakan.

10. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Terima kasih Yang Mulia,

Pertama yang menjadi dasar permohonan adalah Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960, Pasal 10 ayat (3) dan (4) dan penjelasan Pasal 10, Pasal 11 dan intinya di situ disebutkan bila terjadi tindak pidana bahwa jika terjadi tindak pidana dalam Pasal 10 ayat (3) dan (4) Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Pasal 10 ayat (3) menyebutkan, jika terjadi tindak pidana yang dimaksud ayat 1 huruf A pasal ini maka pemindahan hak itu batal karena hukum, sedangkan tanah yang bersangkutan jatuh kepada negara tanpa hak untuk menuntut ganti kerugian. Dalam Pasal 10 ayat (4) Undang-Undang PLT menyebutkan jika terjadi tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf B pasal ini, maka kecuali dalam hal termasuk dalam Pasal 7 ayat (1), tanah yang selebihnya dari luas maksimal jatuh pada negara, yaitu jika karena tersebut semuanya milik terhukum dan atau anggota keluarganya dengan ketentuan bahwa dia diberi kesempatan untuk mengemukakan keinginannya mengenai tanah yang jatuh pada negara itu dia tidak berhak atas ganti kerugian berupa apapun.

Di sini ada satu tidak ada kepastian hukum, jadi hanya orang yang terjadi tindak pidana yang kena aturan ini, sedangkan yang tidak terjadi kena pidana dibiarkan, tidak menutup kemungkinan sampai sekarang juga masih banyak orang yang memiliki tanah kelebihan.

Jadinya tidak ada satu proses dikenakan tanahnya untuk jatuh kepada negara. Di sini juga ada diskriminasi perbedaan, terus yang ketiga bahwa ini bertentangan dengan Pasal 28 ayat (H), Pasal 4, setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun. Di sini jelas kalau tanah itu dirampas tanpa ganti rugi ini adalah seolah diambil alih secara sewenang-wenang.

Kedua, mungkin keuntungan bagi Pemohon kalau ini dikabulkan atau bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, bahwa undang- undang di Indonesia akan berjalan, sampai sekarang mandeg 47 tahun, ya seperti beginilah. Kedua, bahwa nanti rakyat atau Pemohon mungkin sadar kalau tanahnya lebih ada bentuk satu ganti kerugian, barangkali itu saja Bapak Ketua Majelis, terima kasih.

(7)

11. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Apa bisa diceritakan sedikit kaitannya dengan Saudara ini bagaimana ini sebagai Pemohon ini? Apa kepentingannya dengan undang-undang ini? Coba ceritakan sedikit.

12. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Jadi, mungkin Pemohon di sini bertindak sebagai ahli waris dari Bapak Dukrim yang terkena undang-undang ini, maupun kami sebagai pribadi yang mempunyai tanah lebih dari batas maksimal. Jadi orang tua kami mempunyai tanah 272 hektar, waktu itu ada kasus, ada orang yang inilah mengatakan bahwa itu penyerobotan, tanah itu berasal dari gadai, itu ada proses pidana, akhirnya dinyatakan bersalah orang tua kami itu memiliki tanah 272 (hektar) melebihi dari maksimal, tanah selebihnya dirampas oleh negara tanpa ganti rugi berupa apapun. Ke sininya itu diusulkan oleh Kepala Kantor Agraria, dulu Kantor Pertanahan, diusulkan kami sebagai ahli waris menandatangani STP3 (Surat Tanda Penyerahan Penerimaan Pembayaran dan ganti rugi), tapi terbentur setelah datang ke—dulu masih Dirjen Agraria kalau tidak salah, sebelum BPN—terbentur di situ karena aturannya bahwa kami tidak mendapat ganti rugi berupa apapun.

Itu barangkali yang menjadi intinya begitu.

13. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Kapan kejadiannya itu?

14. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Tahun 1979.

15. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Tahun 1979, baiklah.

16. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Terus yang kedua, ini saya mau menyampaikan ini kemarin ada kekurangan bukti, ada bukti tambahan, barangkali mungkin akan disampaikan.

17. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik, nanti bukti-bukti tambahan bisa kita susulkan dan setelah mendengar keterangan Pemerintah ini nanti, proses pembuktian itu bisa

(8)

dilakukan Saudara bisa mengajukan Ahli, mengajukan Saksi di dalam sidang berikutnya, kalau memang diperlukan. Sekarang kami persilakan dari Pemerintah dulu memberikan keterangan nomor satu mengenai substansi perkara ini dan nomor dua untuk memberi gambaran tentang kebijakan pertanahan yang ada hubungannya langsung atau tidak langsung dengan persoalan yang timbul dari permohonan ini, barangkali ini saya persilakan dulu, tapi sebelum itu dalam persidangan Mahkamah Konstitusi karena resminya surat menyuratnya itu harus lengkap, yang dipanggil ke dalam sidang adalah Presiden dan DPR sebagai institusi.

Presiden dan DPR sebagai pembentuk undang-undang, maka yang dipanggil itu dalam tanda petik dalam sidang ini Presiden sendiri, tentu Presiden karena sibuk dia tidak perlu hadir sendiri. Dia biasanya menguasakan kepada pembantunya yang ada kaitan dengan ini yaitu menteri dan selalu setiap perkara menteri setidak-tidaknya satu kali datang dan itulah nanti yang resmi dan Presiden pun harus memberi kuasa kepada menteri yang bersangkutan, lalu menteri untuk selanjutnya boleh juga substitusi kepada staf. Sekarang ini apa surat- surat segala macam ini sudah lengkap? Belum? Jadi kalau begitu status keterangan ini sifatnya sementara atau dari Kehakiman ada barangkali, bagaimana silakan? Eh, dari Departemen Hukum ada?

18. PEMERINTAH : SOFYAN SITOMPUL (DIRT. LITIGASI DEPT HUKUM DAN HAM)

Ketua Majelis, kami ingin menjelaskan pertanyaan Yang Mulia.

Mengenai surat kuasa khusus dari Presiden sudah dikuasakan kepada tiga menteri, yaitu Menteri Hukum dan HAM, sudah ditanda tangani, kemudian Menteri Pertanian sudah ditanda tangani.

19. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Oh, Menteri Pertanian?

20. PEMERINTAH : SOFYAN SITOMPUL (DIRT. LITIGASI DEPT HUKUM DAN HAM)

Satu penerima kuasa, kemudian Kepala Badan Pertanahan Nasional, sudah ditanda tangani (...)

21. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Menteri Dalam Negeri juga tidak?

(9)

22. PEMERINTAH : SOFYAN SITOMPUL (DIRT. LITIGASI DEPT HUKUM DAN HAM)

Menteri Dalam Negeri tidak Pak, sedangkan surat kuasa khusus substitusi Yang Mulia tanyakan tadi baru Menteri Hukum memberikan kuasa subtitusi kepada Dirjen Peraturan Perundang-Undangan.

23. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Tapi Dirjen pun tidak hadir?

24. PEMERINTAH : SOFYAN SITOMPUL (DIRT. LITIGASI DEPT HUKUM DAN HAM)

Belum bisa hadir, sedangkan Kepala BPN sedang memproses kuasa substitusinya, kalau diperkenankan akan menyusul kemudian.

25. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Jadi sifatnya sekarang sementara dulu, keterangan sebatas sementara, tidak apa-apa, lisan juga boleh. Kalaupun ada yang tertulis bisa disampaikan dan nanti bisa dilanjutkan disusulkan dengan keterangan selanjutnya, jadi surat menyurat disampaikan melalui Kepaniteraan, saya persilakan.

26. PEMERINTAH : Dr. Ir. YUSWANDA TUMENGGUNG (DEPUTI PENGATURAN & PENATAAN TANAH, BPN)

Bismillahirrahmaanirrahim Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera bagi kita semua,

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat, sebelumnya Kepala Badan Pertahanan Nasional RI, selaku penerima kuasa khusus Presiden RI menyampaikan permohonan maaf kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat karena dalam waktu yang bersamaan harus mendampingi Bapak Presiden ke Jawa Timur dalam rangka penyelesaian masalah yang sedang dialami Saudara-Saudara kita yang sedang terkena dampak semburan lumpur panas di Jawa Timur.

Sekiranya Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat berkenan, izinkan pada sidang pertama ini kami membacakan keterangan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI atas permohonan pengujian Undang- Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 atas Undang-Undang Dasar RI 1945.

Kami akan bacakan selengkapnya, keterangan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI atas permohon pengujian Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 terhadap Undang Undang Dasar RI 1945.

(10)

Majelis Hakim Konstitusi yang terhormat, di samping jawaban dan keterangan Pemerintah yang diberikan oleh kuasa khusus Presiden RI kepada Menteri Hukum dan HAM, Menteri Pertanian, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional. Di dalam kesempatan sidang yang terhormat ini izinkan saya selaku Kepala Badan Pertanahan Nasional menyampaikan beberapa perspektif penting kepada yang mulia Majelis Hakim, berkaitan dengan permohonan uji materiil Pasal 10 ayat (3) dan (4) Undang- Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 terhadap ketentuan Pasal 28H Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang disampaikan oleh Saudara Yusri Ardisoma.

Majelis Hakim Konstitusi yang terhormat,

Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kesejahteraan bangsa Indonesia sehingga hubungan bangsa Indonesia dengan tanah bersifat abadi. Hubungan bangsa Indonesia dengan tanah yang merupakan kekayaan nasional sangat menentukan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, keberlanjutan, dan harmoni bagi bangsa dan negara Indonesia. Bagi bangsa Indonesia hubungan manusia masyarakat dengan tanah merupakan hal yang sangat mendasar dan asasi. Jika hubungan ini tidak tersusun dengan baik akan lahir kemiskinan bagi sebagian terbesar rakyat Indonesia, ketidakadilan, peluruhan, serta sengketa konflik yang berkepanjangan yang bisa bersifat struktural.

Hubungan yang mendasar dan asasi tersebut dijamin dan dilindungi keberadaannya oleh Pasal 27 ayat (2), Pasal 28, dan Pasal 33 Undang- Undang Dasar 1945. Sejalan dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang menunjukkan suatu perjalanan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam alinea keempat Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 bahwa ujung dari cita-cita negara adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Artinya, apabila dikaitkan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 maka pengelolaan pertanahan didasarkan pada empat prinsip dasar.

Yang pertama, pertanahan berkonstribusi pada kesejahteraan rakyat.

Pertanahan harus berkontribusi pada keadilan, pertanahan harus berkontribusi pada keberlanjutan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia, dan pertanahan harus berkontribusi pada tatanan kehidupan yang bersama, yang harmonis.

Kemudian Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 memberikan dasar bagi lahirnya kewenangan negara yang diatur Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Pokok Agraria yang disebut dengan hak menguasai negara. Hak negara dimaksud berisi kewenangan;

a. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa tersebut;

b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa;

c. menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.

(11)

Ketiga kewenangan sebagaimana dimaksud tadi untuk mewujudkan cita-cita sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat (3) Undang- Undang PA menyatakan bahwa wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari negara tersebut pada ayat (2) pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dalam arti kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat,

Permasalahan mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia sampai saat ini diantaranya adalah ketidakadilan sosial yang mewujud dalam bentuk kemiskinan struktural. Data kemiskinan terakhir menunjukkan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 39,05 juta jiwa atau 17,75% dari total penduduk Indonesia. Demikian juga jumlah penganggguran menunjukkan data yang relatif tinggi mencapai 11,10 juta jiwa atau 10,45%. Banyaknya kemiskinan di sektor pertanian berkaitan dengan penguasaan tanah yang timpang. Ada sementara pihak menguasai dan memiliki tanah dalam skala luas, yang besar, yang tidak termanfaatkan dengan baik. Di sisi lain masih banyak pihak utamanya rakyat atau petani miskin yang tidak mempunyai tanah. Dari data terakhir menunjukkan bahwa petani gurem penguasaan tanah kurang dari ½ hektar mencapai 56,5% dari total jumlah petani di Indonesia.

Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi,

Upaya-upaya pembangunan nasional termasuk bidang pertanahan diarahkan kembali kepada penataan struktur penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan tanah. Penataan kembali tersebut sekaligus untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat dalam bentuk program reformasi agraria yang telah menjadi tekad Pemerintah sebagaimana disampaikan dalam pidato Presiden awal tahun 2007 pada tanggal 31 Januari 2007. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat, di dalam kerangka mencapai sebesar-besarnya keadilan sosial Undang-Undang PA dalam Pasal 7 mengamanatkan bahwa untuk tidak merugikan kepentingan umum, maka kepemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan. Selanjutnya dalam Pasal 17 bahwa untuk mencapai tujuan dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) Undang- Undang PA diatur luas maksimal dan atau minimal tanah yang boleh dipunyai dengan sesuatu hak oleh satu keluarga atau badan hukum.

Penetapan batas maksimal dimaksud ditetapkan dalam Undang- Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960. Ketidakadilan sosial yang terjadi di tahun 60-an tercermin dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 yang intinya rumusannya antara lain sebagai berikut, 60%

rakyat petani yang tidak mempunyai tanah yang polanya sebagian buruh tani, sebagian lain mengerjakan tanah orang lain sebagai penyewa atau penggarap dengan bagi hasil. Adapun petani gurem yang mempunyai tanah sebagian besar hanya menguasai atau memiliki tanah pertanian kurang dari satu hektar, rata-rata 0,6 hektar sawah atau 0,5 hektar tanah kering. Jelasnya tidak cukup untuk hidup layak, di sisi lain di

(12)

samping petani-petani tidak bertanah dan yang bertanah tidak cukup terdapat petani-petani yang menguasai tanah-tanah pertanian luas yang berpuluh-puluh, beratus-ratus, bahkan beribu-ribu hektar. Menurut catatan, di tahun 1960-an tentunya, bahwa tanah-tanah yang dipunyai dengan hak milik di Jawa, Madura, Sulawesi Selatan, Bali, Lombok hanya terdapat 5.400 orang yang mempunyai tanah sawah lebih dari sepuluh hektar di antaranya seribu orang mempunyai lebih dari 20 hektar.

Mengenai tanah kering yang mempunyai lebih dari sepuluh hektar adalah sebelas ribu orang di antaranya 2.700 orang mempunyai tanah lebih dari 20 hektar.

Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi,

Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 yang mengatur hal- hal sebagai berikut:

a. penetapan batas maksimal yang dapat dimiliki oleh keluarga;

b. penetapan batas minimal yang dapat dimiliki oleh keluarga;

c. larangan pemindahtanganan tanah-tanah pertanian yang melebihi batas maksimal;

d. pengembalian tanah-tanah gadai kepada pemiliknya;

e. pemberian sanksi bagi pelanggar ketentuan.

Dalam konteks Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960, pihak yang melanggar ketentuan undang-undang diberikan sanksi pidana dan/atau denda—ini di Pasal 10. Bahwa ketentuan Pasal 3 Undang- Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 mewajibkan pemilik tanah pertanian yang melebihi batas maksimal untuk melapor dalam waktu tiga bulan.

Selanjutnya Pasal 4 Undang-Undang 56 PRP Tahun 1960 mengatur bahwa orang atau orang sekeluarga yang memiliki tanah pertanian yang jumlah luasnya melebihi luas maksimal, dilarang untuk memindahkan hak miliknya seluruh atau sebagian tanah tersebut. Pelanggaran atas larangan dan kewajiban melapor tersebut di atas mengakibatkan yang bersangkutan kehilangan kepemilikannya atas tanah kelebihan tersebut, termasuk hak atas kerugian dari negara dan sanksi serta penerapan sanksi itu merupakan akibat hukum yang harus diterima dan ditanggung bagi siapa pun yang melakukan pelanggaran hukum.

Undang-Undang 56 PRP Tahun 1960 yang melaksanakan ketentuan Pasal 17 Undang-Undang PA telah memberikan pengaturan yang berimbang antara hak publik dan hak privat karena pengambilan hak-hak kepemilikan yang bersifat privat itu tidak dilakukan secara sewenang-wenang. Terbukti dengan pemberian ganti kerugian tentu saja ganti kerugian diberikan kepada mereka yang mentaati ketentuan tersebut. Dengan demikian tidak ada ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 yang bersifat perampasan atas hak-hak privat milik warga negara sehingga tidak ada materi Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 yang bertentangan secara konstitusional dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat,

(13)

Demikian keterangan tambahan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di samping keterangan Pemerintah yang secara utuh disampaikan kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat.

Jakarta, 26 Juni 2007

Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Joyo Winito, Ph.D.

Terima kasih.

27. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik, ada tambahan lagi barangkali dari Bapak Sofyan? Cukup?

Ada yang mau tanya? Silakan, kiri dulu Bapak Hakim Natabaya.

28. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Kepada Pemohon ini. Kelihatannya Pemohon sebagai ahli waris dan terhadap orang tuanya ini adalah perkara pidana, tindak pidana oleh Pemohon dan sudah dijatuhi hukuman dan juga sudah meminta PK ditolak dan ada satu kalimat yang di dalam permohonan Saudara ini yang agak menarik. Bahwa Pemohon sebagai ahli waris dari mendiang Bapak Dukrin bin Suta alias Bapak Kebon telah menandatangani Surat Tanda Penerimaan Penyerahan Hak dan Pemberian Ganti Rugi (STP3) atas tanah kelebihan dari batas maksimal pada tanggal 1 Juli 1986 Nomor A/VII/53A/574/1986 sampai sekarang belum mendapat ganti rugi sekalipun sudah diusulkan oleh Kepala kantor Agraria Subang tanggal 16 Oktober 1986 Nomor 592/KAT.1125/1986 pemberian ganti rugi. Jadi di sini masalahnya ini adalah masalah pembayaran ya? Pembayaran daripada yang menurut Pemohon ini yang belum dilaksanakan, betul?

29. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Itukan usulan dari BPN yang belum dilaksanakan.

30. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Iya itulah. Artinya dengan kata lain bahwa Pemohon itu telah serta merta sudah menerima keputusan dari pengadilan dan juga minta ganti rugi, sudah diusulkan, tapi sampai sekarang belum turun ganti ruginya itukan?

31. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Iya.

(14)

32. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Itukan begitu. Jadi masalahnya ini masalah mengenai pembayaran yang belum dibayar, ganti menurut Pemohon, betul?

33. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Yang Mulia, memang betul Pak itu hanya sebagai bukti saja.

34. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Iya, tapi bukti inilah yang saya tanyakan ini di dalam permohonan Saudara ini. Bahwa Pemohon sebagai ahli waris dari mendiang Bapak Dukrin bin Suta alias Kebon telah menandatangani Surat Tanda Penerimaan Penyerahan Hak dan Pemberian ganti rugi, tapi ganti ruginya itu sudah diusulkan tapi sampai sekarang belum Bapak terima, itukan kira-kira, betul?

35. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Ya, cuma itu terganjal dengan aturan Pak Majelis.

36. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Tunggu dulu, ini di dalam permohonan Anda, betul? Nah, sekarang pasal yang menjadi persoalan Bapak adalah Pasal 10, PRP itu ya? Apakah memang betul menurut—sebab di dalam permohonan tidak jelas, bahwa Bapak Dukrin bin Suta alias Bapak Kebon ini sudah melakukan pelanggaran tindak pidana yang diatur Pasal 10 ini?

37. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Sudah.

38. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Betul? Melanggar tindak pidana yang berupa memindahkan. Pasal 4 bunyinya begini, “orang atau orang sekeluarga yang memiliki tanah pertanian yang jumlah luasnya melebihi jumlah luas maksimum dilarang memindahkan hak miliknya”, inikan yang dilarang memindahkan hak miliknya ya?

39. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Iya.

(15)

40. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Atas seluruh atau sebagian tanah tersebut kecuali dengan izin Kepala Agraria Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Izin tersebut hanya dapat diberikan jika tanah haknya dipindahkan tidak melebihi, ini ada kuncinya, izin tersebut hanya dapat diberikan jika tanah yang haknya dipindahkan itu tidak melebihi luas maksimum dan dengan memperhatikan pula ketentuan Pasal 94 ayat (1) dan (2). Apakah memang betul di dalam prosesnya itu orang tua Pemohon ini memang telah melakukan pelanggaran memindahkan tanahnya itu, hak miliknya itu yang waktu proses di Pengadilan Subang itu?

41. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Jadi orang tua Pemohon itu bukan memindahkan, tapi menguasai tanah melebihi dari batasnya, itu saja.

42. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Bagaimana kenapa jadi dijatuhkan prosesnya itu Pasal 10 ini?

Sebab Pasal 10 ini kalau melanggar Pasal 4, tapi di dalam permohonan Anda tidak kelihatan sampai dia dijatuhkan sebab di dalam Saudara ini menyatakan bahwa terdakwa Dukrin bin Suta menurut bukti dan meyakinkan terang bersalah telah melakukan memiliki tanah pertanian ini melebihi batas maksimal sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 56 serta peraturan pelaksanaannya. Nah, apakah memang betul di dalam prosesnya itu yang dalam pelaksanaan ini dalam rangka melanggar Pasal 10 ini, memindahkan?

43. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Jadi, memiliki tanah pertanian sesuai dengan Pasal 10 tadi, jadi waktu itu tidak memindahkan hanya tanah yang lebihnya itu dirampas.

44. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Saya tidak pakai buktinya proses di persidangannya. Coba baca Pasal 10 itu, dipidana dengan hukuman kurungan selamanya tiga bulan dan/atau denda sebanyaknya bla, bla. Barangsiapa melanggar larangan yang tercantum dalam Pasal 4. Hal yang dilarang Pasal 4 itu adalah dilarang untuk memindahkan hak miliknya, bla, bla kecuali dengan izin ini bagi tanah yang lebih, apakah itu? Lantas yang di tiga itu dikatakan, jika terjadi tindak pidana, tindak pidananya itu adalah melanggar untuk memindahkan itu, tindak pidananya itu. Pasal ini adalah pelanggaran jika terjadi tindak pidana sebagai yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a,

(16)

maka pemilikan hak itu batal karena hukum, sedangkan tanah yang bersangkutan jatuh pada negara tanpa hak untuk menuntut ganti kerugian apapun. Karena ini adalah konsekuensi logis bahwa ada batas maksimum, batas minimum kalau dia sudah lebih dari minimumnya itu, itukan punya negara. Sehingga konsekuensi logisnya tentu kalau tanah itu memang punya tanah negara tanpa ganti kerugian dipindahkan itu.

Jadi kalau saya mempunyai tanah yang seharusnya itu hanya satu hektar menurut ketentuan undang-undang. Saya mempunyai tiga hektar, itukan saya harus lapor, sehingga yang dua hektar ini itu bisa minta ganti rugi.

Tapi karena saya pindahkan melanggar Pasal 4 tadi, karena saya melanggar Pasal 4 itu tadi, maka dua hektar yang saya pindahkan itu melanggar hukum tindak pidana itu konsekuensi logisnya saya tidak mempunyai hak ganti rugi karena itu memang milik negara.

Inilah inti Pasal 4 ini, jadi dimana letaknya bahwa itu mengatakan bahwa itu milik dari Pemohon? Karena memang tanah itu lebih daripada ketentuan undang-undang.

45. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Bisa dijelaskan?

46. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Timbulnya pidana itukan bukan produk BPN bahwa almarhum Pak Dukrin memiliki tanah sekian banyak Pak. Bukan karena itu tadinya, BPN membiarkan saja. Jadi karena Pak Dukrin itu bukan memiliki tanah banyak dari batas maksimal terus ada proses pidana dari awalnya bukan itu begitu Pak? Bukan ada pengaduan masyarakat yang mengatakan itu adalah penyerobotan, penggelapan itu. Akhirnya Pak Jaksa pada waktu itu mengatakan tuntutannya itu pasal-pasal berlapis. Yang terbukti adalah tadi yang terakhir yang memilik tanah dari batas maksimal, hanya itu. Jadi untuk pemindahan itu tidak ada. Jadi kesalahan di sini sebetulnya bukan ini bukan sebagai ahli waris bukan kesalahan Pemohon saja, sebab di sini Pemerintah sebagai agraria atau BPN pada waktu itu tidak melakukan kontrol kepada kepemilikan itu.

47. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Baiklah jadi seandainya hal itu adalah kesalahan pada waktu proses pidana yang menurut Pemohon bahwa itu tidak ada pelanggaran tindak pidana, tapi fakta bahwa orang tua Pemohon adalah memiliki tanah yang melebih daripada ketentuan undang-undang, sehingga apabila ada prosesnya itu kelebihannya itu harus diganti rugi. Jadi masalahnya ini bukan masalah norma, tapi masalah ganti rugi yang harus diberikan oleh negara. Tapi saya ingin kalau bisa didapatkan satu

(17)

bukti mengenai tuduhan daripada jaksa itu dengan putusan Pengadilan Subang itu?

48. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Terima kasih.

Bukti sudah dilampirkan Pak Ketua Majelis, bukti sudah ada. Terus beginilah pendapat saya, ini Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 ini tidak sejalan dengan Undang-Undang Pokok Agraria yang tadi dikatakan oleh Bapak direktur bahwa Pasal 17 ayat (3) itu kalau tanah selebihnya diambil oleh Pemerintah dengan bentuk ganti kerugian, itu Pak.

49. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Jadi, begini Pak kalau kita membaca Undang-Undang Nomor 5, Nomor 11, Undang-Undang 56 PRP Tahun 1960 ini, maka ini tidak lepas daripada Pasal 2, Pasal 7, dan Pasal 17 ya! Pasal 2 itu merupakan dasar daripada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, Pasal 7 itu mengenai peraturan melebihi batas tidak diperkenankan penguasaan tanah yang melebihi batas, tidak diperkenankan, Pasal 17 mengenai pengaturan luas tanah.

Pelaksanaan Pasal 7 dan Pasal 17 ini ada di dalam Undang- Undang PRP Nomor 56 ini. Jadi Undang-Undang 56 PRP Tahun 1960 ini adalah merupakan turunan daripada Undang-Undang Pokok Ketentuan Mengenai Agraria itu. Nah, ini yang harus dibaca di situ, jadi tidak lepas.

Sebab memang pembatasan itu ditentukan oleh Undang-Undang Pokok Agraria, bahwa itu harus ganti rugi itu betul. Bahwa ganti ruginya itu belum diberikan, itu juga satu masalah tapi bukan norma yang menjadi persoalan sebetulnya.

50. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik, ada yang mau dijelaskan lagi? Cukup? Silakan, sebelah kanan Pak Hakim Maruarar?

51. HAKIM KONSTITUSI : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Baik, terima kasih Pak Ketua.

Dari Pemerintah kebijakan yang mempidana pelanggaran batas pemilikan itu pertanyaan pertama saya dalam kebijakan Pemerintah apakah itu efektif diperlakukan? Yang kedua, khususnya mengenai contoh daripada gadai berlangsung tujuh tahun, pengalaman saya di daerah saya dulu, tujuh tahun gadai kemudian dikembalikan tanpa mengembalikan uang gadai itu akan menimbulkan pertentangan sosial yang tajam. Karena dari sudut cost and benefit saja seorang yang

(18)

menerima gadai telah menyerahkan sejumlah uang yang menjadi juga satu capital yang memiliki juga bisa dikembangkan.

Oleh karena itu logika dari pasal ini dari sudut keadilan bahwa modal yang bisa dikembangkan kemudian dikembalikan tanpa modal itu perhitungannya hanya karena dianggap dengan hasil gadai itu orang telah impas memperoleh, tapi bagaimana kebalikannya dengan modal yang diberikan oleh orang yang menggadaikan. Jadi di daerah dimana saya lama bertugas ini merupakan satu masalah sosial yang sangat tinggi kerawanannya oleh karena dianggap bertentangan dengan keadilan dengan cara berpikir yang sepihak. Oleh karena itu, pertanyaan saya kepada Pemerintah apakah efektif atau tidak hal yang demikian di dalam kebijakan land reform yang dijalankan oleh Pemerintah?

Yang ketiga pertanyaan saya, kalau di dalam kebijakan pemidanaan biasanya hasil atau barang yang digunakan untuk melakukan kejahatan itu yang dirampas untuk negara maupun dimusnahkan, tetapi ini adalah suatu pelanggaran yang disebutkan kalau pelanggaran itu adalah tindak pidana yang ringan, yang bukan untuk kejahatan, tetapi objeknya dirampas untuk negara tanpa suatu tanpa ganti rugi, bagaimana beleid Pemerintah selama ini? Apakah kasus ini saja yang terjadi? Pelanggaran batas minimum atau banyak pelanggaran batas minimum, tetapi tidak pernah menjadi suatu objek pemeriksaan daripada Pemerintah atau BPN, bahkan tidak pernah menjadi persoalan pidana, dapatkah Pemerintah memberikan angka-angka berapa banyak yang tercatat bahwa pelanggaran batas maksimum itu telah menjadi suatu pidana dan berapa banyak yang telah diambil oleh Pemerintah tanpa suatu ganti rugi?

Demikian pertanyaan saya Pak Ketua.

52. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Ada lagi? Kiri? Kanan? Silakan, Pak Hakim Mukthie Fadjar.

53. HAKIM KONSTITUSI : Prof. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S Terima kasih Pak Ketua.

Untuk yang mewakili Pemerintah, khususnya BPN, ini undang- undang yang dimohonkan pengujian, ini undang-undang yang sudah cukup lama, sudah 47 tahun usianya. Yang barangkali memang disusun sesuai dengan politik hukum agraria pada waktu itu, yang tentu juga sangat kontekstual. Dalam perkembangan sekarang ini, apakah dari Pemerintah khususnya BPN dalam rangka pembaharuan hukum agraria dan itu juga sudah diamanatkan oleh TAP MPR Tahun 2000, sudah ada langkah-langkah untuk meninjau kembali perundang-undangan atau undang-undang yang mungkin pada konteks sekarang sudah tidak sesuai. Apalagi misalnya ada ketentuan-ketentuan pemidanaan dan

(19)

pengambilan tanah-tanah yang melebihi batas yang mungkin bisa tidak proporsional.

Ini saya ingin tahu bagaimana arah pembaharuan yang akan dilakukan dan untuk meninjau berbagai undang-undang yang sudah cukup lama ini, yang mungkin tidak cocok lagi?

Terima kasih.

54. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Ada lagi? Cukup?

Baik saya persilakan mulai dari Pemohon dulu kalau ada yang mau disampaikan? Oh, sudah ya, tadi sudah dijawab.

Baik, sekarang Pemerintah.

55. PEMERINTAH : Dr. Ir. YUSWANDA TUMENGGUNG (DEPUTI PENGATURAN & PENATAAN PERTANAHAN BPN)

Terima kasih Yang mulia,

Kami sampaikan terima kasih atas pertanyaan-pertanyaan.

Yang pertama apakah efektifitasnya? Di dalam pelaksanaan undang-undang ini dari tahun 1960 secara rinci tentunya sebagaimana Bapak sampaikan bagaimana detailnya saya kira kami perlu suatu proses inventarisasi, tetapi secara angka agregat karena konteks land reform waktu itu tahun 1960 praktis peraturan pelaksanaannya adalah PP Nomor 24 tahun 1961 sampai sekarang kita masih menjalani dari objek yang berasal dari tanah kelebihan maksimum dan absente sampai tahun 2006 akhir, kita sudah meredistribusikan sekitar 1,16 juta hektar di seluruh Indonesia. Dan penerima manfaatnya lebih kurang 1,5 juta hektar. Jadi saya kira ke tingkat efektifitasan itu bisa kita bisa lihat dalam konteks demikian.

Namun mohon maaf sebesar-besarnya Majelis yang terhormat angka detailnya, inventarisasinya saya belum siap pada kesempatan yang ini. Demikian juga mengenai gadai, saya kira juga ada prosesnya demikian. Untuk bagaimana perspektif undang-undang ini dalam konteks kekinian bangsa kita, bagaimana disampaikan Pak Mukhtie tadi, Badan Pertanahan Nasional, Pemerintah dalam hal ini sudah menyiapkan beberapa langkah dalam kerangka melihat itu semua. Namun demikian kalau kita lihat secara hakiki, secara filosofis. Baik dari mulai Undang- Undang Dasar 1945, Undang-Undang Pokok Agraria sampai dengan peraturan-peraturan pelaksaaan antara lain Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 ini, saya pikir, kita pikir bahwa secara filosofis justru makin ke mari tantangan, ketimpangan, ketidakadilan kita ini makin tinggi.

Kalau tadi kita gambarkan angka-angka di tahun 60-an di waktu nuansanya undang-undang itu berjalan, tentunya sudah 47 tahun ini tentunya kompleksitas permasalahan ketimpangan, kemiskinan, dan

(20)

sebagainya itu semakin besar. Jadi kami melihat bahwasanya secara filosofis Undang-Undang Pokok Agraria itu kita akan coba dan dalam rangka pelaksanaannya bagaimana penyesuaian dengan konteks kekinian, saya kira juga ini sedang kita bahas dengan DPR tentunya akan melahirkan proses-proses pembaharuan daripada undang-undang ini.

Kalau kita lihat bahwasanya efektifitas Undang-Undang Nomor 56 misalnya atau UUPA terhadap pemilikan dan penguasaan maksimum sudah berjalan, tapi penguasaan yang minimum saya kira ini juga menjadi concern kita. Hal-hal semacam itu yang mulia Majelis kita sedang coba pihak Pemerintah bersama DPR dalam menyikapi undang- undang ini apakah perlu tindak lanjut-tindak lanjut yang lebih kontekstual pada masa-masa kita.

Demikian Majelis yang terhormat, terima kasih.

56. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik, masih satu lagi, mudah-mudahan terakhir, silakan.

57. HAKIM KONSTITUSI : SOEDARSONO, S.H.

Terima kasih Bapak Ketua.

Kami tujukan kepada Wakil atau Kuasa dari Pemerintah, yang saya pertanyakan bukan efektifitas, karena sudah dijawab. Saya tanyakan apakah pasal dari undang-undang a quo ini, sekarang ini masih diterapkan atau tidak? Karena apa? Karena pada sidang pendahuluan, itu Pemohon mengatakan ada kekhawatiran pada dirinya karena dia merasa punya tanah lebih, kalau tidak salah itu kurang lebih sepuluh hektar.

Sementara di Subang itu batasnya dua hektar, itu pada sidang yang lalu.

Sekali lagi yang ingin saya tanyakan, apakah pasal ini masih diterapkan sekarang?

Terima kasih.

58. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Ya, secara yuridis tentu diterapkan, masih berlaku masih mengikat, maksudnya apakah dalam praktiknya bagaimana?

Silakan.

59. PEMERINTAH : Dr. Ir. YUSWANDA TUMENGGUNG (DEPUTI PENGATURAN & PENATAAN BPN)

Terima kasih Yang Mulia.

Prinsipnya adalah masih kita lakukan, ini juga saya kita memang di dalam undang-undang itu kalau tadi Pemohon mengatakan lebih karena sprain of control juga saya kita dari kita dan ada kewajiban dari masyarakat untuk melaporkan, undang undang ini mengatakan. Jadi

(21)

melaporkan seperti di Subang itu saya kira range-nya antara tujuh hektar. Jadi kalau lewat dari tujuh hektar itu harus melaporkan dan dari melaporkan itu mana yang bagian Pemohon yang punya, mana yang harus diganti oleh Pemerintah? Yang diganti oleh Pemerintah ini diganti rugi. Pelaksanaan ganti rugi sampai sekarang masih berjalan, tanah hasil ini sendiri itu yang diredistribusikan lagi kepada penerima manfaat lainnya.

Saya kira prosesnya demikian Majelis.

60. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Cukup Pak?

61. HAKIM KONSTITUSI : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Saya potong sedikit?

62. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Silakan, silakan.

63. HAKIM KONSTITUSI : MARUARAR SIAHAAN, S.H.

Kalau bisa Saudara menyajikan data, satu angka yang tadi Saudara katakan diterapkan masih di seluruh Indonesia dari seluruh BPN saya kira harus disajikan juga data dan kemudian laporan tentang kelebihan maksimum itu juga bisa tidak disajikan datanya seluruh Indonesia, sehingga argumen yang mengatakan itu efektif dan tidak hanya pilih kasih atau hanya digunakan sebagai sesuatu hal yang pada perseorangan tertentu secara tebang pilih begitu, kami minta ada satu data yang bisa disajikan secara nasional, terima kasih.

64. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik, saya rasa kalau demikian berarti kita perlu sidang selanjutnya untuk memberi kesempatan kepada Pemerintah menyampaikan keterangan yang lebih detail dan Saudara Pemohon juga bagaimana? Apa akan mengajukan bukti-bukti, atau ahli atau apa atau dianggap sudah cukup? Cukup Pemerintah saja?

65. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Mungkin bukti-bukti tambahan tertulis akan kami serahkan sekarang. Untuk saksi dan ahli kami juga akan mengupayakan Pak Ketua Majelis.

(22)

66. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Maksudnya mengupayakan itu bagaimana? Belum siap?

67. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Belum siap begitu untuk sidang yang akan datang barangkali.

68. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Jadi, Saudara ajukan saja dulu secara tertulis, siapa yang mau dimajukan? Apa mau ahli? Mau saksi? Nanti akan dipertimbangkan mana yang diterima, sebab kadang-kadang mengajukannya terlalu banyak, jadi tidak usah terlalu banyak.

69. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Mungkin yang sudah siap baru saksi.

70. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Jadi nanti kita tentukan waktunya, jadi diajukan saja dulu ahli, kemudian mungkin saksi atau ahli yang paling pokok, yang paling penting. Dan pada Pemerintah juga kami persilakan dipersiapkan termasuk data-data yang tadi dipersoalkan, mungkin juga kalau mau mengajukan ahli untuk meng-counter ahli yang diajukan oleh Pemohon juga boleh dan silakan diajukan secara tertulis dulu, mudah-mudahan cukup satu kali saja sidangnya, tuntas begitu, dibuka saja seluruh persoalannya termasuk tadi pertanyaan mengenai apakah misalnya apakah norma-norma yang secara yuridis masih berlaku tapi nyatanya tidak lagi? Secara sosiologis tidak berlaku lagi, misalnya begitu. Apa memang ada begitu? Sebab dalam praktik di negara lain ada yang seperti itu. Jadi ada pasal-pasal yuridis dia masih ada, berlaku tapi nyatanya di lapangan sudah 99,9% itu sudah menjadi death later. Tiba- tiba pasal yang death later itu diterapkan untuk satu kasus tertentu, kadang-kadang begitu. Apa iya begitu? Jadi ini perlu juga disajikan datanya, itu untuk memperlihatkan bahwa memang normanya yuridis masih berlaku dan sosiologis juga iya, dengan bukti-bukti data-data itu.

Saya kira demikian, silakan nanti diselesaikan administratifnya dan termasuk juga dalam sidang yang akan datang itu diharapkan Kepala BPN-nya dapat menyampaikan sendiri sebagai kuasa resmi dari Presiden dan bila diperlukan kami akan persilakan disediakan juga misalnya transparan sehingga betul-betul seluruh aspek yang perlu dijelaskan tidak hanya menyangkut soal teknis kalimat-kalimat dari materi perkara yang dipersoalkan, tapi legal policy mengenai land reform Indonesia ke

(23)

depan seperti apa? Yang dipikirkan, dirancangkan oleh Pemerintah sehubungan dengan persoalan tanah ini.

Jadi saya rasa soal tanah ini, apalagi ini masalah serius mendapat perhatian masyarakat, maka silakan nanti kita lihat, tapi tentu saja di perkara ini, Sidang Mahkamah Konstitusi ini fokus perhatiannya adalah soal konstitusionalitas materi permohonan Pemohon. Namun untuk memberi dukungan pada keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Pemerintah atau pun juga nanti keterangan ahli kami persilakan dikemukakan hal-hal yang menunjang maupun yang kontra, kontra bukti dari pihak Pemerintah.

Saya kira begitu ya! Ada yang mau disampaikan terakhir?

Silakan.

71. PEMERINTAH : SOFYAN SITOMPUL (DIRT LITIGASI DEPT HUKUM DAN HAM)

Terima kasih Yang Mulia.

Saya ingin minta permohonan—kalau diperkenankan—kami sampaikan keterangan Pemerintah yang sudah kami susun secara lengkap di samping pernyataan tersendiri tadi oleh Kepala BPN di dalam persidangan ini di samping nanti dalam persidangan yang akan datang kami lengkapi dengan data-data yang diminta oleh Majelis tadi. Kalau diperkenankan kami akan menyerahkannya pada petugas.

Terima kasih Yang Mulia.

72. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Keterangan Pemerintah ini? Bagaimana kalau di sidang yang akan datang saja? Oh, bukan yang ini? Ini lain lagi?

73. PEMERINTAH : SOFYAN SITOMPUL (DIRT LITIGASI DEPT HUKUM DAN HAM)

Ini lain lagi.

74. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Silakan petugas, sudah rangkap dua belas ya, silakan Pemohon diberi satu. Dan BPN juga kami harapkan nanti dua belas rangkap juga, oh sudah termasuk di situ. Maksud saya yang akan datang juga dua belas rangkap.

Baiklah Saudara-saudara sekalian, kita tutup sidang ini sampai sidang berikutnya untuk mendengar keterangan ahli yang diajukan Pemohon, keterangan Pemerintah resmi. Keterangan ahli mungkin yang akan diajukan juga kalau ada yang semuanya nanti kami persilakan diajukan secara tertulis lebih dulu.

(24)

Dengan demikian sidang Mahkamah Konstitusi untuk perkara ini saya nyatakan ditutup.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

SIDANG DITUTUP PUKUL 10.50 WIB KETUK PALU 3X

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pengajuan permohonan ini Pemohon tidak menyampaikan dalil-dalil hukum yang rumit atau teori hukum yang sulit dan canggih karena menurut hemat Pemohon apa yang menjadi

Karena DPR sebagai lembaga negara yang membentuk undang-undang dalam mekanisme demokrasi yang wajib memberi keterangan di depan MK dalam hal adanya permohonan

Grafik balok yang menggambarkan penyebaran data sebagai hasil dari satu macam pengukuran atas suatu kejadian atau proses.  Menurunkan variabilitas

[r]

Sedangkan kegiatan PKL pada manajemen asuhan gizi bertujuan untuk dapat tercapainya kompetensi yang terdiri dari: kemampuan melakukan self assessment dalam rangka

Ini saya lihat di dalam permohonan ini maupun juga dengan pernyataan tadi secara lisan tadi sebagaimana juga oleh Bapak Maruarar tadi dia melihat dari satu sisi, saya dari sisi

Hormon yang mempengaruhi diantaranya adalah brassinosteroid (BRs) dan auksin yang merupakan dua phytohormon penting dalam mengendalikan berbagai tanggapan

• 5 jika siswa hanya menghubungkan sifat- sifat kubus dan sifat-sifat balok saja, tanpa menuliskan hubungan kubus dan balok • 4 jika siswa hanya dapat menghubungkan. 7-9 sifat