1.1 Latar Belakang
Seperti yang kita tahu, saat ini kondisi Bumi sedang membutuhkan perhatian khusus dari kita semua. Temperatur bumi melonjak drastis dari tahun ke tahun, iklim berubah secara ekstrim, bencana alam terjadi bertubi-tubi, mencairnya gunung es di kutub selatan, dan masih banyak lagi. Semua belah pihak saling menyalahkan mengenai kondisi ini. Banyak ilmuwan mengatakan, bahwa kondisi ini terjadi dikarenakan efek dari “rumah kaca” yang terjadi akibat tingkat polusi yang sangat tinggi. Baik itu polusi udara, polusi air, maupun pencemaran-pencemaran lainnya.
Untuk dapat menghindari perusakan ekosistem bumi lebih lanjut, perlu adanya tindakan preventif yang harus segera dilakukan oleh berbagai pihak. Baik itu masyarakat, pemerintah, maupun perusahaan-perusahaan. Saat ini berbagai organisasi dan perusahaan sudah mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan alam sekitar. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya berbagai produk ataupun program-program yang mendukung gerakan “Go green”. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggunakan teknologi dalam mendukung gerakan Go Green tersebut.
Teknologi saat berkembang sangat pesat. Teknologi, di satu sisi memperbaiki dan mendukung kehidupan manusia, sementara di sisi lain dapat juga mengancam ekosistem manusia tersebut dikarenakan besarnya daya konsumsi listrik yang dibutuhkan dalam menjalankan suatu teknologi tertentu. Teknologi Informasi (TI) adalah produk kreatif dari imaginasi dan mimpi manusia, keberadaannya telah menjadi bagian integral dari evolusi kultur manusia. Sehingga tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memanfaatkan TI secara efisien dan optimal agar TI dapat memberi manfaat melampaui biaya yang sudah dikeluarkan untuk investasi. Dalam hal ini bukan hanya memberi solusi komputasi, tetapi juga memberi sumbangan positif dalam menjaga alam semesta ini dengan bentuk mengurangi deforestasi atau kerusakan hutan.
Bank Mandiri, adalah salah satu bank pemerintah yang berdiri hasil dari restrukturisasi 4 bank sebelumnya (BBD, BDN, Bank Exim, Bapindo). Sehingga membuat bank Mandiri menjadi Bank terbesar di Indonesia saat ini. Dari semenjak merger pada tahun 1999, performa bank Mandiri terus melonjak dan semakin memantapkan posisi bank Mandiri dari para pesaingnya. Bank mandiri mempunyai visi “Menjadi lembaga keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif”. Dengan visi tersebut, bank Mandiri mempunyai target untuk menjadi Top 5 Bank di ASEAN pada tahun 2020, dan menjadi pemain utama di regional.
Pada saat ini bank Mandiri di dukung lebih dari 26 ribu pegawai yang tersebar di Indonesia, lebih dari 1300 kantor cabang dalam negri, dan 7 kantor luar negeri serta berbagai anak perusahaan yang bergerak di bidang pasar modal, perbankan syariah, asuransi jiwa. Transaksi perbankan dalam satu hari dapat mencapai 3 juta transaksi.
Kesuksesan bank Mandiri saat ini tentunya didukung oleh infrastruktur IT yang matang. IT bagi bank Mandiri sudah tidak menjadi alat pendukung bagi proses bisnis yang ada, akan tetapi sudah menjadi tulang belakang atas keseluruhan transaksi. Tidak heran jika saat ini bank Mandiri memiliki sekitar 100 aplikasi yang dijalankan pada sekitar 400 server yang ada pada data center (DC) bank Mandiri. Selain data center yang ada pada kantor pusat, bank Mandiri juga memiliki Data Recovery Center (DRC) yang terletak pada 3 tempat. DRC tersebut mereplikasi keseluruhan data dan aplikasi yang ada pada DC kantor pusat. Hardware dan infrastrukturnya pun juga disamakan dengan DC.
Sehingga total keseluruhan server yang digunakan bank Mandiri sekitar 1200 server dalam mendukung proses bisnis bank Mandiri setiap harinya.
Dapat dibayangkan berapa jumlah konsumsi energi yang dihasilkan hanya dari konsumsi data center yang ada pada bank Mandiri. Pada dasarnya bank Mandiri sudah mulai menerapkan Green Corporate Strategy dengan menjalankan beberapa program Go Green, seperti program CSR dengan membagikan bibit pohon kepada nasabah, menggunakan kertas daur ulang, dan program-program lainnya. Keseriusan bank Mandiri dalam mendukung gerakan Go Green membuat penulis ingin mengangkat topik penerapan strategi Green Data Center dalam mendukung Green Corporate Strategy.
1. 2 Rumusan Permasalahan
Besarnya jumlah server pada data center menjadikan data center sebagai tempat yang paling banyak mengkonsumsi sumber daya listrik. Dapat dibayangkan jumlah listrik yang terpakai untuk pendingin ruangan yang menyala terus menerus, listrik cadangan yang harus tersedia setiap saat, dan sebagainya. Sedangkan dilain sisi, kondisi alam saat ini sedang membutuhkan perhatian khusus terhadap ancaman global warming yang ada. Ditambah dengan adanya instruksi presiden No.013.2011 Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral memerintahkan kepada jajaran pemerintahan dan BUMN untuk dapat menurunkan hingga 20% penggunaan listrik.
Hal ini membuat Bank Mandiri berusaha turut serta dalam menjaga kesetabilan alam dan membuat strategi jitu untuk dapat menurunkan tingkat konsumsi sumber daya listrik. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah menerapkan Green IT Strategy pada Data Center bank Mandiri yang bertujuan untuk mengurangi besarnya pemakaian listrik.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari penulisan tesis ini adalah :
1. Mengukur tingkat konsumsi bank Mandiri terhadap pemakaian listrik yang ada saat ini dengan lebih terperinci.
2. Merancang Green Data Center pada bank Mandiri. Manfaat yang bisa didapat dari penulisan tesis ini adalah :
1. Membantu Bank Mandiri dalam merancang strategi untuk dapat menurunkan konsumsi sumber daya listrik pada data center dan berperan serta dalam menjaga kondisi alam.
2. Penghematan keuangan secara berkesinambungan.
3. Menjadikan Bank Mandiri sebagai bank pertama yang berlandaskan Green Data Center
1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari penulisan tesis ini akan penulis batasi pada pengukuran tingkat konsumsi bank Mandiri terhadap energi lingkungan atas konsumsi Data Center yang telah ada saat ini. dan merancang Green IT Strategy pada data center yang dapat diterapkan oleh bank Mandiri.
BAB II
LANDASAN TEORI
Data CenterKonsumsi Dalam Data Center
Menurut Newcombe (2010, p15) data center adalah lingkungan kompleks, tempat menyimpan peralatan TI. Daya listrik yang masuk ke data center harus melalui berbagai tahapan dari transformasi voltase, distribusi dan pembersihan sebelum masuk ke peralatan TI. Sebagian besar dari energi dalam fasilitas diubah menjadi panas. Oleh karena itu data center membutuhkan kapasitas mesin pendingin dalam sirkulasi udara. Juga terdapat banyak sistem pendukung dalam data center seperti pencahayaan, generator, sistem pemadam kebakaran, area pegawai yang membutuhkan listrik
Gambar 2.1 Arus Energi Pada Data Center (Newcombe, 2010)
Gambar diatas menjelaskan arus energi berikut arus energi yang hilang dalam siklusnya. Dalam setiap tahapan rantai pengantaran energi, pasti terdapat kehilangan yang tidak mendasar seperti yang digambarkan dengan panah merah.
Menurut Newcombe (2010, p15) implementasi aktual dari data center lebih kompleks dari gambar ini. Dalam suatu data center, bisa terdapat banyak variasi aliran energi. Seperti CRAC yang mendapatkan energinya dari UPS.
II.1.5 Sistem Listrik Data Center
Kebutuhan energi sebuah data center didapat dari sistem listrik yang dalam hal ini disediakan oleh PLN. Kebutuhan akan listrik pun akan terus bertambah seiring bertambahnya energi yang dibutuhkan oleh data center. Menurut Yulianti (2008, p13) terdapat 4 pertimbangan umum yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah kebutuhan energi yang terus bertambah pada data center yaitu :
¾ Membuat sistem energi (sistem energi dapat berupa sistem listrik, sistem pembangkit energi lainnya) yang modular sehingga dapat dengan mudah beradaptasi dengan pertumbuhan atau perubahan kebutuhan energi.
¾ Pre-engineered, terapkan solusi identifikasi energi yang standar sehingga menimialkan perencanaan dan perekayasaan yang akan dilakukan sendiri guna mempercepat pembangunan dan pengimplementasian pada data center.
¾ Memilih sistem energi dengan fitur mistake-proofing dan sedikit titik kegagalan yang dapat meningkatkan availabilitas.
¾ Menerapkan sistem manajemen energi yang menyediakan visibilitas dan pengontrolan energi pada berbagai level.
Tujuan dari pembuatan sistem energi yang menggunakan modular, sesuai dengan standar, hot swappable, dan terbuktu handal dapat mengurangi MTTR (Mean Time to Recover). Perencanaan komponen listrik secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pendefinisian kebutuhan energi listrik dan pendistribusiannya 2. Pendefinisian perangkat listrik yang dibutuhkan
3. Pemilihan power DC dan AC
4. Implementasi perangkat listrik pada data center 5. Maintenance
II.2 Green Computing
Green IT strategy atau yang sering disebut Green Computing mulai diperbincangkan pada tahun 1992. Saat itu US Environmental Protection Agency merelease program Energy Star, yaitu program promosi dan penghargaan bagi penerap efisiensi energi pada teknologi monitor, pengontrol iklim, dan teknologi lain. Istilah Green Computing muncul dengan booming-nya Energy Star ini, khususnya merujuk ke bagaimana kita bisa efisien dalam konsumsi energi pada penggunaan produk computing. Landasan pergerakannya adalah kebutuhan akan economic viability (keberlangsungan hidup), social responsibility (tanggung jawab sosial) dan environmental impact (pengaruh lingkungan).
Beberapa peneliti merumuskan definisi Green Computing dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dapat dilihat dari beberapa definisi berikut ini
Menurut Philipson (2010, P4) Green Computing lebih dari sekedar mengurangi emisi karbon ataupun mengurangi konsumsi energi ICT perusahaan. Green Computing adalah pusat teknologi keberlanjutan.
Menurut Stollenmayer (2011, p8) dalam artikel yang berjudul “How the Earth can benefit from Green ICT” Green Computing adalah hal kritis yang penting dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan. Bidang Green Computing sangatlah luas, pengurangan emisi karbon hanya salah satu contohnya.
Menurut Tomlinson (2010, p3) Green Computing mempunyai manfaat dalam area ekonomi, dan lingkungan. Selain itu juga membantu mengurangi dampak e-waste, memungkinkan desain interaksi berkelanjutan, dan mengurangi konsumsi energi dengan sistem komputerisasi.
Menurut Carinhas (2009, p2) Green IT dapat menurunkan biaya energi, dan juga mengurangi polusi lingkungan. Walaupun permintaan energi semakin meningkat, masih banyak teknologi dan metode untuk menghematnya. Perusahaan diharapkan bisa mengurangi emisi energi, dan mempertahankan kinerja komputasinya. Terdapat empat alasan perusahaan harus menggunakan Green IT : (1) Perubahan iklim, (2) Penghematan, (3) Persediaan energi, dan (4) Data center kehabisan energi dan pendingin karena tingginya tingkat penggunaan.
Dari beberapa definisi diatas dapat dilihat bahwa Green Computing menitik beratkan pada besarnya konsumsi energi yang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar dengan bantuan ICT. Dan ternyata green computing tidak hanya membahas tentang energy consumption, tapi juga bagaimana kita bisa menggunakan komputer beserta berbagai tool dan konten dengan lebih efisien dan jelas manfaatnya.
Green Computing diterapkan di berbagai tingkatan komputasi yang ada pada setiap organisasi. Mulai dari yang terendah, seperti meminimalkan penggunaan monitor CRT, membiasakan mematikan komputer jika tidak dipakai, penggunaan metode paperless hingga pemanfaatan energi alternatif untuk sumber daya data center.
Green Computing pada dasarnya terbagi menjadi dua bagian yaitu green of IT dan green by IT. Green of IT adalah memaksimalkan hasil dari suatu sistem IT yang produknya menggunakan perangkat IT yang ramah lingkungan. Seperti contoh mengganti mesin server yang lama dengan mesin yang ramah lingkungan. Sedangkan green by IT adalah dengan memanfaatkan teknologi IT agar dapat mengurangi polusi. Seperti contoh membuat sistem aplikasi paper less dengan sistem paper less maka teknologi IT telah membantu dalam mengurangi pemakaian kertas.
Menerapkan green computing pada data center dapat dilakukan dengan beberapa langkah sederhana. Dan dengan menerapkan green computing dalam jangka panjang, akan menghasilkan ROI dari penghemetan energi yang seharusnya dikeluarkan. Selain itu lingkungan organisasi bisa lebih nyaman dan lebih sehat. Menurut Dimitri (2009) langkah-langkah dalam menerapkan green computing pada data center dapat dijabarkan dalam 10 Langkah yaitu :
1. Evaluasi efisiensi energi
Perhatikan tagihan energi yang ada. Pelajari tagihan tersebut, dari penyedia jasa apa, dengan sumber daya apa, kemana pasokan energi tersebut disalurkan apakah sudah efisien atau tidak. Buat perencanaan untuk memantau dan mengurangi pemakaian energi yang ada. Evaluasi awal dapat dengan cara menghitung ROI setelah melakukan perubahan.
2. Mendesain ulang sistem pendingin
Pelajari kembali sistem pendingin yang ada. Server menghasilkan suhu panas yang cukup tinggi. Pendingin dapat langsung diarahkan ke rak server secara langsung, dan pastikan untuk minimalisir kehilangan aliran udara dan menutup lubang-lubang di dinding, atau kemungkinan kebocoran aliran udara. Dan pastikan menerapkan saluran udara yang tepat
3. Menkaji ulang redundansi sistem
Banyak perusahaan yang berinvestasi pada sistem pendingin maupun pemanas yang redundan yang menggunakan jumlah daya dua kali lipat. Hal ini memang membantu mempersiapkan sistem untuk pertumbuhan data dan juga performa disaat jam sibuk. Dikarenakan sistem redundan ini jarang digunakan, menyebabkan banyak energi yang terbuang sia-sia, oleh karena itu perlu dikaji ulang bagaimana meminimalisasi sistem pendingin maupun pemanas yang redundan agar sedapat mungkin untuk beroperasi hanya berdasarkan kebutuhan. 4. Menggunakan adjustable equipment
Untuk mempersiapkan pertumbuhan sistem dan juga performa sistem di saat jam sibuk, bisa menerapkan perangkat server yang terukur dan modular. Sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Seperti scalable blade server dapat mengkonsentrasikan pemakaian daya lebih kecil, kebutuhan ruang juga lebih kecil, dan juga pendingin yang lebih terfokus. Dan juga sistem-sistem lainnya yang menggunakan daya rendah akan tetapi dapat bertumbuh sesuai dengan kebutuhan.
5. Virtualisasi media penyimpanan
Banyak server yang kurang dimaksimalkan dalam penggunaan media penyimpanan, hal ini bisa terjadi karena teknologi yang cepat usang, atau sistem yang jarang digunakan. Untuk menghemat ruang penyimpanan, hal ini bisa diatasi dengan menggunakan media penyimpanan virtual. Dengan media penyimpanan virtual, server dapat dikurangi, dan pengaturan media penyimpanan bisa lebih mudah.
6. Menggunakan peralatan dengan standar Energy Star – Rated
Walaupun belum ada standar, energy star untuk server data center, akan tetapi untuk peralatan lainnya bisa menggunakan standart ini, seperti pendingin, monitor, ataupun peralatan elektrik lainnya.
7. Donasikan atau recycle server yang tidak terpakai
Teknologi terbaru akan memakan konsumsi lebih sedikit dibandingkan teknologi lama. Oleh karena itu tidak heran jika semua peralatan terus diperbarui. Mengeluarkan biaya lebih untuk menghemat biaya perawatan. Akan tetapi server-server yang sudah tidak terpakai jangan langsung dibuang begitu saja. Karena limbah elektronik sangat susah untuk terurai. Ada baiknya mendonasikan server-server tersebut ke pihak-pihak yang membutuhkan. Atau banyak vendor-vendor diluar sana yang dapat mendaur ulang tiap-tiap part dari server tersebut.
8. Lihat diluar lingkup datacenter
Selain dari perangkat server, perusahaan dapat memotong biaya dengan menggunakan bahan bangunan yang ramah lingkungan seperti karpet dengan bahan emisi rendah, cat yang tidak beracun dan sumber pencahayaan alami. 9. Research sumber daya alternatif
Cara terbaik untuk memelihara kelestarian alam adalah mencari energi alternatif sebagai sumber daya perangkat elektronik yang ada. Bisa dengan menggunakan solar panel pada atap, atau menggunakan tenaga angin, dan berbagai macam tenaga alternatif lainnya.
10. Libatkan pihak manajemen.
Untuk dapat melakukan perubahan sepenuhnya pada data center, anda perlu mendapatkan dukungan dari manajemen atas. Untuk dapat meningkatkan semangat, bisa dengan memaparkan konsep-konsep ramah lingkungan yang dapat berdampak global baik untuk karyawan-karyawan perusahaan tersebut, atau untuk masyarakat luas. Setelah mereka tertarik baru diarahkan kepada pembahasan pertumbuhan data center yang membutuhkan strategi green IT.
II.2.1 Energi Alternatif
Kita tahu bahwa mau tidak mau kita pasti menggunakan sumber daya energi yang ada sebagai sumber tenaga data center. Salah satu energi yang paling banyak digunakan sebagai sumber listrik saat ini adalah bahan bakar fosil yang diolah menjadi minyak dan kemudian dijadikan bahan bakar pembangkit listrik. Semakin hari persediaan bahan bakar di muka bumi semakin menipis. Sehingga perlu diadakan penelitian terus menerus untuk dapat menemukan bahan bakar alternatif. Untungnya, ternyata disekitar kita terdapat terdapat bermacam-macam energi alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti energi minyak yang tentunya tidak merusak lingkungan. Menurut Anne Ahira (2012) Macam-macam energi alternatif itu diantaranya adalah sebagai berikut :
• Air
Air mempunyai kekuatan luar biasa besar. Air yang mengalir, bahkan dapat menghancurkan bangunan yang kuat ketika terjadi banjir bandang ataupun tsunami. Karena kekuatan inilah, manusia dapat memanfaatkannya sebagai sumber daya alternatif. Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Prosesnya yaitu menampung air sungai yang berarus deras ke dalam sebuah waduk. Lalu, dialirkan melalui pintu. Pengaturannya dilakukan di pusat pengendalian bendungan atau waduk tersebut. Saat pintu bendungan dibuka, air akan mengalir sangat deras melalui terowongan sehingga mampu memutar turbin yang dapat menggerakan generator dan menghasilkan listrik.
• Matahari
Matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alternatif. Energi matahari diubah menjadi energi listrik dengan menggunakan sel surya atau dikenal dengan sebutan sel fotovoltaik. Contoh mudahnya dalam penggunaan calculator, pemanas air, atau mobil bertenaga surya
• Gelombang permukaan laut
Pemanfaatannya yaitu menjadikan energi ombak sebagai pembangkit tenaga listrik. Hal ini didukung dengan didirikannya sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO) di Yogyakarta. Prosesnya dengan memanfaatkan gerakan turun naik atau bergulung-gulungnya ombak menjadi energi yang digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik.
• Angin
Perpindahan udara atau yang biasa disebut angin ini dapat menghasilkan energi kinetik. Energi inilah yang dipergunakan untuk menggerakkan kincir angin atau turbin. Hal ini karena angin pada dasarnya memiliki kekuatan yang besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk sumber energi alternatif. Terutama, angin yang terdapat ditengah lautan.
• Biogas
Biogas dihasilkan dari kotoran hewan yang diproses lebih lanjut untuk menjadi gas metana yang dapat dipergunakan sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan. Metana sebagai energi alternatif diperoleh dari sampah organik dan sistem saluran limbah. Prosesnya mempergunakan bakteri tertentu atau dekomposer yang dapat memecah biomassa lingkungan dalam kondisi pernapasan anaerob bakteri tersebut.
• Baterai
Baterai untuk saat ini sering digunakan untuk dijadikan sumber daya energi alternatif dari alat transportasi. Banyak perusahaan otomotif yang menciptakan kendaraan ramah lingkungan berbahan bakar baterai. Kendaraan tersebut sudah dikomersilkan dan diterima oleh masyarakat secara luas sebagai kendaraan sehari-hari dengan menggunakan baterai sebagai pengganti bahan bakar bensin.
II.3 Data Center Energy Efficiency Metrics
Data center energy efficiency metrics atau sering disebut dengan The Green Grid merupakan organisasi yang terbentuk dari konsorsium beberapa perusahaan besar yang fokus terhadap pengembangan data center. Organisasi tersebut telah berdiri sejak tahun 2007 dengan jumlah member group 150 perusahaan termasuk perusahaan-perusahan manufaktur data center seperti Cisco. Group ini mempunyai goals dan target sebagai berikut :
• Mendifinisikan nilai-nilai pengukuran pada data center yang bermakna dan bermanfaat.
• Mengembangkan metode pengukuran, proses dan teknologi baru untuk improvisasi dari pengukuran yang ada.
• Menawarkan solusi energi efisiensi terhadap proses, dan teknologi pada data center.
Standar pengukuran yang saat ini sudah digunakan pada berbagai data center diantaranya adalah PUE (Power Usage Effectiveness), DCIE (Data Center Infrastructure Efficiency), CPE (Computer Power Efficiency) dan TCE (Technology Carbon Efficiency). II.3.1 Power Usage Effectiveness (PUE)
Menurut Webber (2009, p181) PUE digunakan untuk mengukur seberapa efisien energi yang digunakan di Data Center. Perhitungan ini dinilai dengan membagi jumlah listrik yang masuk kedalam data center dengan jumlah listrik yang digunakan oleh peralatan komputer dalam Data Center
PUE = _____Power entering data center_____ Power used by computer equipment
Peralatan komputer yang dimaksud adalah semua yang berhubungan dengan servis komputasi, seperti server, media penyimpanan, dan peralatan komunikasi. Semakin kecil PUE data Center, maka semakin efisien. Target dari nilai PUE sebuah data center adalah bernilai 1 yang artinya listrik yang masuk ke data center 100% digunakan untuk perangkat komputer.
II.3.2 Data Center Infrastructure Efficiensy (DCIE)
Menurut Webber (2009, p182) DCIE adalah kebalikan dari PUE. Perhitungan dinilai dengan membagi listrik yang digunakan peralatan komputer dengan jumlah lisrik yang masuk kedalam data center.
DCIE = Power user by computer equipment Power entering data center
DCIE dinyatakan dalam persentasi, dengan nilai target 100%. Perhitungan ini menyatakan berapa persen energi yang dibayar, digunakan oleh peralatan komputasi dalam data center. Data center pada umumnya mempunyai DCIE sekitar 40%. Pengukuran berkelanjutan akan memberikan pengertian yang lebih dalam terhadap infrastruktur data center. Serta memberikan penjelasan tentang faktor yangpaling mempengaruhi efisiensi fasilitas secara keseluruhan.
II.3.3 Compute Power Efficiency (CPE)
Menurut Webber (2009, p182) PUE dan DCIE hanya mengukur tingkat efisiensi dari listrik yang masuk ke data center dengan jumlah listrik yang digunakan oleh perangkat. Mereka tidak mengukur seberapa besar efisiensi listrik yang digunakan terhadap tiap-tiap perangkat komputer. Compute Power Efficiency (CPE) akan mengukur hal tersebut. CPE akan menghitung tingkat utilisasi komputer dengan nilai PUE.
CPE = Computer equipment utilization rate PUE
atau
CPE = Computer equipment utilization rate X Power used by computer equipment Power entering data center
Utilisasi peralatan komputer biasanya didapat dari nilai rata-rata utilisasi CPU seluruh server yang ada pada data center. Perhitungan ini dapat mengukur tingkat efisiensi proses yang ada pada data center dengan tingkat efisiensi listrik pada keseluruhan data center.
II.3.4 Technology Carbon Efficiency (TCE)
Menurut Alger (2009) untuk melihat seberapa “Green” data center yang ada dapat dengan cara mengkalikan tingkat emisi karbon pada daerah data center dengan jumlah energy yang dibutuhkan.
TCE = Total Facility Power X Electric Carbon Emission Rate IT Equipment Power
Sama dengan pengukuran PUE, semakin rendah nilai TCE maka semakin baik. TCE dapat mengukur dampak karbon yang dihasilkan pada suatu daerah data center. Sehingga memudahkan manager untuk menentukan dimana data center akan dibuat.
BAB III
METODOLOGI
III.1 Kerangka PikirMetode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri - ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara - cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara - cara yang dilakukan itu diamati oleh indera manusia, sehingga orang dapat mengamati dan mengetahui cara - cara yang digunakan. Sedangkan sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah - langkah tertentu yang bersifat logis.
Langkah penelitian yang diambil dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 3.1 Kerangka Pikir
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa penulis akan mengumpulkan data terlebih dahulu dari data center yang ada dan juga data recovery center. Data-data yang dikumpulkan adalah data mengenai tingkat konsumsi listrik, pendingin, dan sumber energi lainnya.
Dari data yang dikumpulkan akan dilakukan pengukuran tingkat konsumsi dari data center yang ada. Dengan mengukur tingkat konsumsi tersebut, penulis dapat melihat hal-hal apa saja yang menempati tingkat tertinggi dalam penggunaan energi. Dengan pengukuran ini juga maka penulis dapat membuat target hal-hal apa saja yang harus ditekan dalam penggunaannya.
Dari study literatur mengenai green IT strategy yang dipadukan dengan peraturan-peraturan pemerintah baik dari kementrian BUMN maupun kementrian ESDM, penulis akan mengidentifikasi hal-hal apa saja yang berpotensi untuk dapat menekan pemakaian sumber daya energi. Kemudian akan mulai dilakukan pengembangan green IT strategy yang sesuai dengan bank Mandiri. Dari strategi yang ada, maka dapat diukur seberapa besar jumlah penghematan listrik yang bisa dicapai. Dengan begitu langkah berikutnya adalah strategi tersebut dapat diukur cost and benefit analysisnya. Apabila strategi tersebut sudah matang, sebelum diimplementasikan penulis akan melakukan benchmarking terlebih dahulu dengan perusahaan-perusahaan sejenis yang telah menerapkan green IT strategy pada data center. Jika strategi tersebut sudah sesuai dengan kondisi yang ada maka akan dirancang langkah-langkah implementasi yang cocok pada data center Bank Mandiri.
III.3 Perancangan Green IT Strategy
Dengan data-data yang sudah dikumpulkan akan dapat lebih mudah untuk menentukan green IT strategy yang sesuai di implementasikan dengan keadaan data center Bank Mandiri. Strategi ini akan dirumuskan dengan literatur-literatur yang penulis pelajari, dan dikarenakan Bank Mandiri merupakan bank pemerintah maka strategi yang diterapkan juga harus selaras dengan peraturan-peraturan pemerintah, baik itu peraturan BI, peraturan kementrian BUMN, maupun kementrian ESDM.
Sesuai dengan langkah-langkah menerapkan green IT strategy yang telah ditulis pada landasan teori, maka green IT strategy yang akan diterapkan akan berdasarkan pendekatan berikut :
ANALISA DAN PEMBAHASAN
IV.2 Kondisi Data Center Saat IniIV.2.1 Infrastruktur Data Center Bank Mandiri
Data Center merupakan jantung operasional dari aspek sistem & teknologi yang berfungsi sebagai support utama bisnis Bank Mandiri, sementara itu Helpdesk & Command Center (HDCC) menjadi pusat komando bagi operasional sistem secara keseluruhan. Data Center adalah fasilitas utama pemrosesan data Bank yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak untuk mendukung kegiatan operasional Bank secara berkesinambungan. Fasilitas / infrastruktur pendukung Data Center terdiri dari power, rack, cooling, service & management merupakan layer Network Critical Physical Infrastructure (NCPI) sebagai pondasi yang mensupport agar kerja sistem senantiasa memiliki tingkat availability dan reliability yang tinggi serta dapat mendukung operasional selama 7x24 jam.
Data Center Bank Mandiri terletak di lantai 4 kantor pusat Bank Mandiri yang berada pada gedung Plaza Mandiri, Jl. Jend Gatot Subroto Kav.35-38. Pemilihan letak data center Bank Mandiri tentunya melalui berbagai tahap perencanaan dan sesuai dengan strategi pengembangan. Jumlah aplikasi yang berada pada Data Center Bank Mandiri saat ini berjumlah sekitar 300 aplikasi. Aplikasi tersebut terbagi menjadi aplikasi critical, very critical sebanyak, dan non critical. Hardware yang digunakan juga bermacam-macam seperti AS400 untuk mendukung core banking, balde server untuk beberapa aplikasi sampai mini tower juga digunakan untuk beberapa aplikasi. Penataan mesin-mesin tersebut dikelompokkan oleh jenis mesin.
Selain mesin-mesin server dan hardware pendukung lainnya, tentu data center Bank Mandiri membutuhkan alat infrastruktur yang dapat menjaga stabilitas data center seperti sumber daya listrik, keamanan dan pengaman kebakaran. Kondisi infrastruktur pendukung pada data center Bank Mandiri adalah sebagai berikut :
IV.2.2 Sistem Pendingin Data Center Bank Mandiri
Sistem pendingin yang digunakan pada data center Bank Mandiri menggunakan metode “Hot aisle/Cold aisle” dengan menyemprotkan udara dingin dari bawah lantai kearah sisi depan server, kemudian suhu panas yang dihasilkan oleh mesin server dihisap dari dinding langit-langit ruangan. Seperti yang terlihat pada gambar :
Gambar 4.4 Sistem Pendingin Data Center Bank Mandiri IV.2.4 Jenis Server Yang Digunakan
IV.2.4.1 Blade Server
Salah satu jenis server yang banyak digunakan di Bank Mandiri adalah Blade Server. Konsep dari blade system sendiri adalah bagaimana menempatkan sebuah server dengan kemampuan tinggi pada ruangan dengan luas yang seminimal mungkin. Pada blade server prosesor-prosesor yang digunakan ditata pada sebuah rak yang tersusun secara vertikal.
Vendor hardware yang memproduksi blade server di dunia saat ini antara lain adalah : HP, IBM, dan DELL. Bank Mandiri sejak tahun 2003 hingga tahun 2011 memiliki sekitar 900 blade server pada DC maupun DRC yang dibeli dari vendor HP. Jenis dan tipe blade server yang digunakan Bank Mandiri adalah sebagai berikut
Dalam memantau dan melakukan konfigurasi server-server tersebut, Bank Mandiri menggunakan tools dari HP. Tools-tools tersebut adalah :
• HP System Insight Management (SIM) – tools untuk memonitor availability hardware blade server
• HP Onboard Administration (OA) – tools untuk memonitor environment enclosure blade server
• HP Integrated Light Out (ILO) – tools untuk meremote hardware blade server
• HP Rapid Deployment Pack (RDP) – tools untuk deployment blade server
• HP Performance Management Pack (PMP) – tools untuk manajemen performa blade server
• HP Storage Essential (SE) – tools untuk membuat laporan performa blade server & storage infrastruktur
• HP Openview Storage Mirroring (OVSM) – tools untuk replikasi data file pada blade server
• HP Openview Data Protector (OVDP) – tools untuk membackup data file pada blade server
Aplikasi-aplikasi yang menggunakan blade server pada Bank Mandiri, total terdapat sekitar 100 aplikasi. Dengan pengkatagorian aplikasi dengan tingkat very critical dan katagori critical.
IV.2.5 Environment Monitoring System
Untuk dapat mengetahui kondisi lingkungan sekitar dari data center, diperlukan sistem yang dapat mengawasi kondisi dari lingkungan tersebut. Seperti cctv, pengukur suhu ruangan, sensor gerak, sensor gempa, sensor asap, dan pengawasan-pengawasan lainnya.
IV.3 Evaluasi Pemakaian Energi IV.3.1 Penggunaan Listrik
Penggunaan listrik pada data center Bank Mandiri berasal dari pembangkit listrik PLN dan juga dengan backup genset. Dari sumber listrik tersebut terhubung menuju 6 MCB. Dari 6 MCB tersebut terhubung menuju 2 UPS dengan daya UPS1 3x200 kVA dan UPS2 6 x 80 kVA. UPS tersebut akan langsung terhubung pada data center yang ada di lantai 4. Skema detail dari alur listrik yang ada dapat dilihat pada gambar berikut :
Untuk dapat menghitung besarnya konsumsi listrik yang dibutuhkan untuk perangkat IT yang ada dapat dihitung berdasarkan spesifikasi server yang ada dan sudah dijelaskan sebelumnya. Jumlah server dan besarnya listrik yang digunakan dapat dilihat pada table berikut,
Tabel 4.7 Perhitungan Kebutuhan Listrik Pada Data Center Bank Mandiri Kebutuhan energi untuk perangkat listrik
Beban untuk perangkat IT )*
Data beban untuk setiap perangkat IT berdasarkan tingkat kritikalnya
355,38 kW Beban untuk
perangkat non-IT
Data beban untuk setiap perangkat non-IT (termasuk perangkat fire, keamanan, dan sistem
monitoring)
5.80 kW
Perkiraan
penambahan beban
Dalam satuan VA (dihitungan untuk perangkat IT dan non-IT)
10.5 kW Terjadinya beban
puncak karena variasi pada beban kritikal
Total dari beban kritikal perangkat dalam keadaan stabil
373.53 kW
Inefesiensi UPS dan charging baterai
Beban aktual dan beban Cadangan
118.93 kW
Penerangan Penerangan pada area data center 0.6 kW
Beban total kebutuhan listrik 493.07 kW
Kebutuhan Energi untuk Perangkat Pendingin
Sistem Pendingin Chiller dan PAC 390.92 kW
Kebutuhan Energi Total Kebutuhan energi total untuk perangkat listrik dan pendingin
883,99 kW
Kebutuhan Energi Generator Generator untuk beban kritikal 640.99 kW Generator untuk pendingin 586.37 kW Ukuran generator
sesuai dengan beban
1227.37 kW *): Standar penentuan beban dalam VA bermacam-macam biasanya diambil dari website APC IV.3.2 Power Usage Effectiveness (PUE)
Perhitungan PUE diperoleh dengan membagi jumlah total listrik yang digunakan untuk fasilitas pendukung data center dengan jumlah total listrik yang digunakan untuk perangkat server (IT Equipment Power). IT Equipment power merupakan jumlah listrik yang digunakan untuk menghidupkan perangkat-perangkat server termasuk jaringan dan storage unit.
Power Usage Effectiveness (PUE) = Total Facility Power IT Equipment Power
Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah : • Total Facility Power : 883,99 kW
• IT Equipment Power : 355,38 kW Power Usage Effectiveness (PUE) = 883,99kW 355,38kW = 2.48
IV.3.3 Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE)
Perhitungan kedua adalah DCIE yang akan menghitung besarnya efisiensi dari fasilitas infrastructure data center. Parameter yang digunakan tidak berbeda jauh dengan menghitung PUE, hanya saja posisinya terbalik.
Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE) = IT Equipment Power Total Facility Power Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah :
• Total Facility Power : 883.99 kW • IT Equipment Power : 335.38 kW
Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE) = 335.38 kW 883.99 kW = 40,20 % DCIE IV.3.4 Compute Power Efficiency (CPE)
Perhitungan CPE digunakan untuk dapat mengevaluasi pemakaian listrik data center dengan cara membandingkan jumlah pemakaian overhead listrik dan memfaktorkan dengan utilisasi penggunaan CPU server
Compute Power Efficiency (CPE) = IT Equipment Utilization x IT Equipment Power Total Facility Power
Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah : • Total Facility Power : 883.99 kW
• IT Equipment Power : 335.38 kW • IT Equipment Utilization : 10 %
Compute Power Efficiency (CPE) = 10% x 335.38 kW 883.99 kW = 4.02 % CPE IV.3.5 Technology Carbon Efficiency (TCE)
Perhitungan TCE digunakan untuk dapat menghitung efisiensi listrik berdasarkan jumlah carbon yang dihasilkan dari perangkat pendukung maupun perangkat IT data center.
Technology Carbon Efficiency (TCE) = Total Facility Power x Electricity Carbon Emmision Rate
IT Equipment Power
Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah : • Total Facility Power : 883.99 kW
• Carbon Emmision Rate : 0.728 kg CO2 / kWh
Technology Carbon Efficiency (TCE) = 883.99 kW x 0.728 335.38 kW
= 1.81 TCE
Dari berbagai pengukuran yang ada di atas maka dapat dilihat posisi pemakaian dan efisiensi energi pada data center Bank mandiri. Seperti dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.8 Pengukuran Efisiensi Listrik Pada Data Center Bank Mandiri
Pengukuran Nilai
Power Usage Effectiveness (PUE) 2,48
Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE) 40,2 %
Compute Power Efficiency (CPE) 4.02 %
Technology Carbon Efficiency (TCE) 1.81
IV.4 Perancangan Strategi
IV.4.1 Kemungkinan Penghematan
IV.4.1.1 Desain Ulang Sistem Pendingin
Sistem pendingin pada data center dibuat untuk menjaga kestabilan temperatur yang cocok untuk data center. Disain sistem pendingin harus terencana dengan baik agar aliran udara dari perangkat pendingin mengalir dengan arah paralel ke barisan kabinet / rak. Kriteria umum disain sistem pendingin pada data center yang harus dipenuhi, adalah sebagai berikut :
• Memiliki skalabilitas dan adaptabilitas yang sangat baik • Sudah terstandardisasi
• Sederhana namun cerdas • Manajemen yang baik.
Menentukan kebutuhan sistem pendingin yang dibutuhkan untuk sebuah data center diperlukan input berupa jumlah panas yang dihasilkan dari perlengkapan IT dan sumber panas lainnya di data center. Pengukuran kebutuhan menggunakan standar watts. Kemudian setelah output panas didefinisikan maka pertimbangan-pertimbangan berikut juga diperhatikan :
1. Ukuran beban pendingin dari perangkat 2. Ukuran beban pendingin untuk gedung
3. Sistem pendingin harus dapat mengantisipasi efek humudifikasi, redundansi bila diperlukan dan untuk kebutuhan masa mendatang. Metode pendinginan pada data center saat ini sangat variatif. Beberapa metode yang sering digunakan adalah room oriented cooling system, row oriented cooling system, dan rack oriented cooling system.
Tabel 4.9 Jenis Pendingin Pada Data Center Room Oriented Cooling System
Sistem pendingin ini merupakan sistem pendingin yang paling mendasar. Karena sistem pendingin ini berorientasi pada suhu ruangan data center. Tujuan utamanya adalah mendinginkan suhu seluruh ruangan dengan menggunakan pendingin ruangan yang disebar di pinggir ruangan data center. Dari sistem pendingin tersebut terdapat beberapa kekurangan
• Sistem pendingin masih konvensional dan kurang efektif karena udata panas dan udara dingin bercampur serta aliran udara dingin yang dibutuhkan oleh perangkat kurang tepat, dikarenakan beberapa area bisa sangat dingin sedangkan beberapa area lainnya sangat panas. • Menimbulkan udara hangat akibat bertemunya udara panas dan
dingin berdampak pada meningkatnya proses kondensasi sehingga humiditinya jadi lebih lembab
• Lebih rumit jika ada keperluan penambahan kapasitas di posisi tertentu.
• Secara anggaran, sering melewati batas karena performa sistem sulit diprediksi dan tidak efektif penggunaan udara dingin ke perangkat IT
Row Oriented Cooling System
Row oriented cooling system atau yang sering disebut hot aisle and cold aisle adalah sistem pendingin yang membuat 2 jalur udara yaitu jalur udara panas dan jalur udara dingin. Udara dingin disalurkan di cold aisle ke bagian depan rack server. Kemudian dihisap oleh server untuk menurunkan panas di
dalam server dan udara panasnya dibuang ke belakang rack server setelah itu udara panas akan naik ke atas lalu dihisap oleh CRAC/PAC.
Posisi CRAC/PAC berada pada jalur hot aisle agar udara panas yang naik bisa dihisap oleh CRAC/PAC tanpa bercampur dengan udara dingin. Dengan cara ini lebih efisien karena udara dingin yang dihisap oleh server tidak tercampur oleh udara panas.
Penggunaan CRAC/PAC di setiap baris bisa dikatakan modular karena bisa menggunakan CRAC/PAC yang kapasitasnya lebih kecil dan cukup untuk mendinginkan 2 baris rack server saja.
Rack Oriented Cooling System
Sitem pendingin rack oriented cooling system tidak lagi menggunakan CRAC / PAC yang disebarkan di sisi-sisi ruang data center tapi sudah disebar di tiap barisan rak server. Didalam barisan rack server ini disisipkan cooling system yang mendinginkan udara panas di belakang server dan menghembuskan ke sisi depan server.
Jalur udara panas yang dihasilkan oleh server langsung disalurkan secara tertutup ke alat pendingin yang disisipkan di samping rack server. Oleh karena itu udara panas yang dihasilkan tidak bercampur dengan udara sekitar maupun mencemari udara dingin yang dihasilkan.
Sistem pendingin ini merupakan sistem pendingin yang tingkat efisiensinya paling tinggi.
Dari beberapa sistem pendingin yang telah dijabarkan diatas, dengan kondisi pendingin yang ada pada data center Bank Mandiri saat ini yaitu row oriented cooling system dapat lebih efisien jika sistem pendingin tersebut diganti dengan sistem pendingin rack oriented cooling system.
Dengan begitu diharapkan tingkat konsumsi atas pendingin pada data center Bank Mandiri dapat turun secara signifikan. Sehingga pemakaian listrik atas pendingin tersebut juga dapat turun.
IV.4.1.2 Virtualisasi
Virtualisasi adalah tren yang belakangan banyak dibicarakan dan juga merupakan cara tepat untuk menurunkan biaya pengadaan server maupun biaya operasional server.
Virtualisasi secara umum dapat diartikan sebagai pembuatan abstraksi dari perangkat keras. Jika pada umumnya suatu aplikasi di plot menggunakan 1 operating sistem dan menggunakan 1 hardware tertentu, dengan bantuan virtualisasi server memungkinkan suatu hardware dipakai bersama-sama lebih dari 1 operating system maupun lebih dari 1 aplikasi. Untuk melihat perbedaannya dapat dilihat pada gambar berikut
Gambar 4.12 Sistem Arsitektur Pada Komputer Traditional
Gambar 4.13 Sistem Arsitektur Pada Virtual Server Berikut beberapa alasan menggunakan teknik virtualisasi : • Konsolidasi server
Konsolidasi server dapat membuat beberapa server fisik untuk dijadikan kedalam sistem virtualisasi dan hanya menjalankan satu
server fisik yang di dalamnya terdapat beberapa virtual server yang dijalankan di atas satu server fisik.
• Dukungan terhadap aplikasi
Menyediakan upgrade aplikasi dan sistem operasi ke server baru tanpa menimbulkan masalah seperti tidak kompatibel dengan perangkat keras yang baru.
• Dukungan terhadap beberapa sistem operasi
Memiliki kemampuan untuk menjalankan beberapa sistem operasi dalam satu physical server. Berguna untuk melakukan pengembangan dan pengetesan beberapa sistem operasi.
• Demonstrasi perangkat lunak
Dengan menggunakan teknik virtualisasi maka dapat memudahkan dalam melakukan demonstrasi beta software. Pengguna dapat mencoba terlebih dahulu pada komputer virtual sebelum dijalankan pada physical server yang telah menjalankan aplikasi versi lama yang telah stabil. Selain itu seorang penjual dapat mendemonstrasikan perangkat lunaknya dalam beberapa sistem operasi hanya dengan mengoperasikan satu physical server.
• Pengembangan, pengetesan
Karena dalam sistem virtualisasi setiap komputer virtual terisolir antara satu dengan yang lainnya maka dapat dilakukan pengembangan dan pengetesan terhadap suatu aplikasi atau sistem operasi tanpa mengganggu layanan yang dijalankan komputer virtual lainnya.
• Pelatihan teknisi dan e-learning
Dengan menggunakan teknik virtualisasi, tempat pelatihan dapat memberikan hak akses administrator pada setiap komputer virtual ke peserta latihan. Peserta dapat melakukan uji coba konfigurasi tanpa mengganggu aplikasi lain yang berjalan pada komputer virtual lainnya.
Dengan menggunakan teknologi virtualisasi banyak sekali keuntungan yang didapat oleh perusahaan. Beberapa keuntungan yang didapat diantaranya adalah :
• Hemat biaya
Virtualisasi dapat menghemat biaya yang signifikan. Karena jumlah server yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit. Dari yang sebelumnya satu aplikasi menggunakan satu server, menjadi satu server dapat dipakai oleh beberapa aplikasi. Sehingga pembelian server baru akan menurun.
• Hemat energi
Tentu saja dengan semakin sedikit server yang digunakan, maka semakin sedikit energi yang digunakan untuk menghidupkan server. Oleh karena itu virtualisasi merupakan solusi tepat untuk menghemat energi dan meredam pengeluaran perusahaan.
• Meningkatkan fleksibilitas
Dengan teknologi virtualisasi, maka berbagai aplikasi dapat dijalankan pada hardware yang berbeda-beda. Sebagai contoh, apabila suatu perusahaan ingin melakukan penggantian server
maka komputer virtual tersebut dapat dengan mudah dipindahkan ke server yang baru walaupun perangkat keras yang ada pada server tersebut berbeda.
IV.4.1.3 Sumber Daya Alternatif IV.4.1.3.1 Solar Panel
Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadikan sel surya sebagai salah satu sumber energi masa depan mengingat posisi Indonesia pada garis khatulistiwa yang memungkinkan sinar matahari dapat optimal diterima di hampir seluruh Indonesia sepanjang tahun.
Dalam kondisi puncak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di permukaan panel surya di Indonesia seluas satu meter persegi akan mampu mencapai 900 hingga 1000 Watt. Bahkan, total intensitas penyinaran perharinya di Indonesia mampu mencapai 4500 watt hour per meter persegi yang menjadikan Indonesia tergolong kaya sumber energi matahari. Sehingga tidak heran jika banyak perusahaan ataupun pribadi beramai-ramai menggunakan solar panel sebagai sumber daya alternatif.
Solar panel atau sering juga disebut dengan panel surya adalah alat yang terdiri dari sel surya yang mengubah cahaya menjadi listrik. Mereka sering disebut sel photovoltaic, photovoltaic dapat diartikan sebagai “cahaya-listrik”. Solar panel bergantung pada efek photovoltaic untuk menyerap energi matahari dan menyebabkan arus mengalir antara dua lapisan bermuatan yang berlawanan. Arus listrik tersebut kemudian akan disalurkan ke baterai. Dengan menambah solar cells panel (memperluas) berarti menambah konversi tenaga surya. Umumnya solar cells panel dengan ukuran tertentu memberikan hasil tertentu pula. Contohnya ukuran a cm x b cm menghasilkan listrik DC (Direct Current) sebesar x Watt per hour/ jam.
Jenis-jenis solar panel :
• Polikristal (Poly-crystalline)
Merupakan solar cells panel yang memiliki susunan kristal acak. Type Polikristal memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monokristal untuk menghasilkan daya listrik yang sama, akan tetapi dapat menghasilkan listrik pada saat mendung.
• Monokristal (Mono-crystalline)
Merupakan panel yang paling efisien, menghasilkan daya listrik persatuan luas yang paling tinggi. Memiliki efisiensi sampai dengan 15%. Kelemahan dari panel jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik ditempat yang cahaya mataharinya kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan.
Dalam memanfaatkan Solar Panel (SP) sebagai sumber energi listrik, perlu dilakukan perencanaan untuk proses pemasangan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dan mengurangi energi yang terbuang. Dalam hubungannya dengan sistem sumber listrik yang lain, maka instalasi dibagi menjadi dua, yaitu sistem Instalasi Mandiri dan sistem Instalasi Terhubung Jaringan.
IV.4.1.3.2 Wind Turbin
Wind turbin adalah pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan energi angin. Di Indonesia, angin dapat berhembus dari pagi hari, siang hari bahkan malam hari. Sehingga untuk pembangkit listrik tenaga angin ini tidak terbatas oleh waktu. Turbin angin ini pada awalnya dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan para petani dalam melakukan penggilingan padi. Dengan tingginya permintaan energi alternatif saat ini membuat turbin angin menjadi salah satu sumber daya alternatif yang diminati.
Jenis turbin angin terbagi menjadi 2 yaitu: 1. Turbin angin sumbu horizontal
Turbin angin sumbu horizontal (TASH) memilik poros utama dan generator listrik di puncak menara. Turbin berukuran kecil diarahkan oleh sebuah baling-baling angin yang sederhana, sedangkan turbin berukuran besar pada umumnya menggunakan sebuah sensor angin yang digandengkan ke sebuah servo motor. Sebagian besar memiliki sebuah gearbox yang mengubah perputaran kincir yang pelan menjadi lebih cepat berputar.
Karena sebuah menara menghasilkan turbulensi dibelakangnya, turbin biasanya diarahkan melawan arah anginnya menara. Bilah-bilah turbin dibuat kaku agar mereka tidak terdorong menuju menara oleh angin berkecepatan tinggi. Sebagai tambahan, bilah-bilah itu diletakkan di depan menara pada jarak tertentu dan sedikit dimiringkan.
Karen turbulensi menyebabkan kerusakan struktur menara, dan realibilitas begitu penting, sebagian besar TASH merupakan mesin upwind (melawan arah angin). Meski memiliki permasalahan turbulensi, mesin downwind (menurut jurusan angin) dibuat karena tidak memerlukan mekanisme tambahan agar mereka tetap sejalan dengan angin, dan karena di saat angin berhembus sangat kencang, bilah-bilahnya bisa ditekuk sehingga mengurangi wilayah tiupan mereka dan dengan demikian juga mengurangi resistensi angin dari bilah-bilah itu. 2. Turbin angin sumbu vertikal.
Turbin angin sumbu vertikal (TASV) memiliki poros/sumbu rotor utama yang disusun tegak lurus. Kelebihan utama susunan ini adalah turbin tidak harus diarahkan ke arah angin berhembus. Kelebihan ini sangat berguna di tempat-tempat yang arah anginnya sangat bervariasi. TASV mampu mendayagunakan angin dari berbagai arah.
Dengan sumbu yang vertikal, generator serta gearbox bisa ditempatkan di dekat tanah, jadi tidak perlu menyokong konstruksi baling-baling, dan lebih mudah dalam melakukan perawatan.
IV.4.1.3.3 Bloom Energy
Sebuah perusahaan yang didirikan oleh K.R Sridar, Bloom Energy, telah menemukan terobosan teknologi baru di dunia energi alternatif yang disebut bloom box. Pada awalnya bloom box merupakan perangkat tenaga surya untuk menghasilkan oksigen dan hidrogen yang digunakan dalam kendaraan NASA di Mars yang kini telah dihapuskan. Jika prosesnya dibalik, maka alat tersebut tentunya bisa menghasilkan listrik.
Bloom Box adalah sebuah pembangkit listrik fuel cell yang bisa dibilang berbeda dengan fuel cell yang banyak digunakan saat ini. Jika fuel cell saat ini banyak menggunakan elektroda yang terbuat dari logam yang mahal, maka Bloom Box hanya menggunakan salah satu bahan keramik yang murah yaitu pasir.
Gambar 4.20 Cara Kerja Bloom Energy
Bloom box merupakan bahan bakar yang selalu bekerja, seperti baterai. Alat tersebut terdiri dari 3 bagian lempengan yaitu elektrolit, anoda dan katoda. Piringan tersebut bertindak sebagai elektroda dengan bahan bakar hidrokarbon, seperti ethanol,biodiesel, metan atau gas alam, yang pada suhu tinggi akan bereaksi menarik ion oksigen yang berada di sisi lain piringan. Saat ion tersebut bergerak memasuki piringan, maka akan dihasilkan listrik yang menurut K.R. Sridhar merupakan listrik yang bisa diandalkan.
Meskipun prosesnya mengkonsumsi hidrokarbon, tetapi Sridhar menjelaskan bahwa emisi karbon yang dihasilkan hanya setengah dari sumber energi konvesional lainnya karena Bloom Box tidak melibatkan pembakaran pada prosesnya. Produk sampingan lainnya yang bisa dimanfaatkan adalah hidrogen sebagai bahan bakar kendaraan fuel cell masa depan.
Bloom Energy sudah mempunyai klien yang beberapa di antaranya tentu tidak akan ceroboh memilih pembangkit listrik yang akan mendukung bisnisnya. Dua di antaranya adalah Google dan eBay. Menurut eBay yang berhasil dikonfirmasi oleh CBS, dalam sembilan bulan Bloom Box sudah menghemat 100.000 dolar AS. Sedangkan pusat data Google ternyata listriknya sudah disuplai selama 18 bulan. IV.4.1.3.4 Pembangkit Listrik Hybrida
Sistem pembangkit listrik hybrida adalah suatu sistem yang memadukan beberapa jenis pembangkit listrik. Umumnya terdiri atas modul tenaga surya, turbin angin, generator diesel, baterai, dan
peralatan kontrol terintegrasi. Tujuan dari pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) adalah mengkombinasikan keungulan dari setiap pembangkit sekaligur menutupi kelemahan masing-masing pembangkit untuk kondisi-kondisi tertentu. Sehingga secara keseluruhan sistem dapat beroperasi lebih ekonomis dan efisien.
Konsep PLTH yang sesuai dengan kondisi geografis bank mandiri adalah PLTH yang dirangkai secara paralel. Antara pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik tenaga angin, bloom energy, generator diesel dan juga di back up dengan pembangkit listrik PLN.
Gambar 4.21 Sistem Pembangkit Listrik Hybrid
Seperti yang dilihat pada skema pembangkit listrik hybrida bahwa berbagai sumber daya energi akan dikontrol melalui satu kendali kontrol. Prioritas utama adalah menggunakan pembangkit listrik dengan sumber daya tergantikan. Sedangkan jika memang tenaga yang dihasilkan tidak dapat mengakomodir kebutuhan saat itu dikarenakan suatu kondisi maka controller dapat mengakomodir kebutuhan dari pembangkit listrik PLN ataupun genset.
IV.4.3 Estimasi Penghematan Energi
Estimasi penghematan dari penerapan green data center pada Bank Mandiri dapat menekan konsumsi listrik hingga 50%, meningkatkan efisiensi utilisasi server hingga 30%, dan menurunkan tingkat emisi sebesar 30%.
Pemakaian listrik untuk mesin pendingin saat ini adalah sekitar 390.91 kW. dengan penerapan sistem pendingin yang baru, maka diperkirakan dapat menurunkan konsumsi listrik pendingin sekitar 60%. Sehingga nantinya pemakaian listrik untuk sistem pendingin data center adalah sekitar 140.94 kW. Dengan perubahan sistem pendingin maka semakin kecil juga kemungkinan server menjadi over heat dikarenakan suhu yang kurang ideal. Sehingga umur perangkat keras juga semakin panjang
Dengan begitu, maka perhitungan pemakaian listrik menjadi sebagai berikut. Tabel 4.14 Perhitungan Pemakaian Listrik Setelah Penghematan
Kebutuhan energi untuk perangkat listrik Beban untuk
perangkat IT )*
Data beban untuk setiap perangkat IT berdasarkan tingkat kritikalnya
355.38 kW Beban untuk
perangkat non-IT
Data beban untuk setiap perangkat non-IT (termasuk perangkat fire, keamanan, dan sistem
monitoring)
5.80 kW
Perkiraan
penambahan beban
Dalam satuan VA (dihitungan untuk perangkat IT dan non-IT)
10.5 kW Terjadinya beban
puncak karena variasi pada beban kritikal
Total dari beban kritikal perangkat dalam keadaan stabil
373.53 kW
Inefesiensi UPS dan charging baterai
Beban aktual dan beban Cadangan
118.93 kW
Penerangan Penerangan pada area data center 0.6 kW
Beban total kebutuhan listrik 493.07 kW
Kebutuhan Energi untuk Perangkat Pendingin
Sistem Pendingin Chiller dan PAC 140.91 kW
Kebutuhan Energi Total Kebutuhan energi total untuk perangkat listrik dan pendingin
633.99 kW
Kebutuhan Energi Generator Generator untuk beban kritikal 640.98 kW Generator untuk pendingin 211.37 kW Ukuran generator
sesuai dengan beban
853.37 kW *): Standar penentuan beban dalam VA bermacam-macam biasanya diambil dari website APC Power Usage Effectiveness (PUE)
Power Usage Effectiveness (PUE) = Total Facility Power IT Equipment Power Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah :
• Total Facility Power : 633.99 kW • IT Equipment Power : 355.38 kW Power Usage Effectiveness (PUE) = 633.99 kW 355.38 kW = 1.78
Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE)
Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE) = IT Equipment Power Total Facility Power Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah :
• Total Facility Power : 633.99 kW • IT Equipment Power : 355.38 kW
Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE) = 355.38 W 633.99 kW = 56,05 % DCIE Compute Power Efficiency (CPE)
Compute Power Efficiency (CPE) = IT Equipment Utilization x IT Equipment Power Total Facility Power
Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah : • Total Facility Power : 633.99 kW
• IT Equipment Power : 355.38 kW • IT Equipment Utilization : 15 %
Compute Power Efficiency (CPE) = 15% x 355.38 kW 633.99 kW = 8.41 % CPE Technology Carbon Efficiency (TCE)
Technology Carbon Efficiency (TCE) = Total Facility Power x Electricity Carbon Emmision Rate
IT Equipment Power
Dengan menggunakan rumus diatas, data yang di dapat adalah : • Total Facility Power : 633.99 kW
• IT Equipment Power : 355.38 kW
• Carbon Emmision Rate : 0.728 kg CO2 / kWh
Technology Carbon Efficiency (TCE) = 633.99 kW x 0.728 355.38 kW
= 1.28 TCE
Sehingga jika nilai tersebut dibandingkan antara sebelum strategi ini diimplementasi dan perkiraan setelah diimplementasi adalah sebagai berikut :
Tabel 4.15 Perhitungan Efisiensi Listrik Setelah Penghematan
Pengukuran Nilai Sebelum
Implementasi
Nilai Setelah implementasi
Persantase perubahan
Power Usage Effectiveness (PUE) 2,48 1,78 28 %
Data Center Infrastructure Efficiency (DCIE)
40,2 % 56.05 % 39%
Compute Power Efficiency (CPE) 4.02 % 8.41% 109%
Technology Carbon Efficiency (TCE) 1.81 1.29 28%
Selain peghematan pemakaian energi listrik yang digunakan, total pemakaian listrik pada data center yaitu sekitar 633.99 kW sekitar 60% akan menggunakan sumber daya alternatif. Sehingga sumber daya alam tak tergantikan yang selama ini digunakan untuk pembangkit listrik data center, dapat ditekan hingga 60%.
Untuk menghitung secara detail seberapa banyak sumber daya alternatif yang digunakan untuk mendukung data center yang ada dapat dihitung sebagai berikut :
1. Pembangkit Listrik Tenaga Surya
• Panel surya yang digunakan merupakan tipe 120 Wp yang dapat menghasilkan listrik 120Watt Hour Per Panel. Dengan luas 1,4M x 0,6M x 0,04M per solar panel, maka area parkir dan bagian atap gedung Plaza Mandiri dapat dipasangkan sekitar 300 Panel.
• Jumlah solar panel yang akan dipasang pada lahan terbuka bank mandiri adalah sekitar 300 Panel. Dengan rata-rata penyerapan matahari yang
maksimal 5 jam sehari, maka di dapat jumlah listrik yang dihasilkan adalah 300 x 5 x 120 = 180 kWh perharinya.
2. Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Pembangkit listrik tenaga angin erat kaitannya dengan besarnya tenaga yang dihasilkan oleh hembusan angin. Perbandingan antara kecepatan angin dengan energi listrik yang dihasilkan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.16 Tabel Perbandingan Kecepatan Angin Dengan Daya Maksimum Kecepatan Angin (m/s) Daya Maksimum (W) Kec Rotor (rad/s) 3 128.8 140 4 305.3 196 5 597.3 238 6 1031 280 7 1639 336 8 2446 378 9 3484 434 10 4780 476
Dengan letak geografis data center yang ada saat ini, besar angin yang berhembus di sekitar area data center adalah 7-9 m/s.
Pada area data center Bank Mandiri akan dipasang 10 unit wind turbin. Sehingga jika wind turbin itu berfungsi selama 24 jam, listrik yang dihasilkan adalah 10 x 2446 x 24 = 587,04 kWh setiap harinya.
3. Bloom Energy / Fuel Cell
Setiap unit Bloom Energy dapat menghasilkan energi listrik sebanyak 200kW. direncanakan Bank Mandiri akan menggunakan 2 server Bloom Energy. Sehingga jika bllom energy ini digunakan 24 jam maka dapat menghasilkan energi sebanyak 2 x 200 x 24 = 9600kWh perhari.
Dengan ketiga sumber daya alternatif diatas maka dapat dihitung berapa banyak jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga terbarukan.
Tabel 4.17 Tabel Perhitungan Jumlah Listrik Sumber Daya Alternatif
Nama Watt Yang
Dihasilkan / Hari
Jumlah Unit Sub Total per hari
Solar Panel 600 W 300 180,00 kWh
Wind Turbin 58,70 kW 10 587,56 kWh
Bloom / Fuel Cell 4800 kW 2 9600,00 kWh
Total Energi yang dihasilkan 10.367,04 kWh
Jumlah listrik yang dibutuhkan data center untuk dapat beroperasi selama 24 jam nonstop adalah sekitar 633.99 kW x 24 Jam = 15.215,86 kWh per hari. Sehingga dengan menggunakan pembangkit listrik sumber daya alternatif, akan mengcover sekitar 68% dari kebutuhan listrik data center.
IV.4.5 Cost and Benefit Analysis
Dalam merancang strategi diperlukan evaluasi untuk mengukur besarnya keuntungan yang didapat dengan jumlah harga yang diinvestasikan. Sama halnya dalam merancang Green Data Center pada Bank Mandiri. Perlu dihitung berapa
besar biaya yang dikeluarkan dalam menerapkan strategi tersebut, dan berapa banyak nominal yang dapat dihemat dari penerapan tersebut.
Komponen - komponen yang merupakan cost dalam penerapan strategi ini adalah :
1. Solar Panel 2. Wind Turbin 3. Fuel Cell
4. Rack Based Cooling System 5. Virtualisasi
Tabel 4.22 Tabel Perhitungan Jumlah Investasi Sumber Daya Alternatif Investasi
Keterangan Harga
Panel Surya Rp. 2.208.600.000,-
Wind Turbin Rp. 756.000.000,-
Bloom Energy / Fuel Cell Rp. 16.200.000.000,- Rack Based Cooling System Rp. 4.500.000.000,-
Virtualisasi Server Rp. 1.500.000.000,-
Maintenance, dll Rp. 3.774.690.000,-
TOTAL Rp. 28.939.290.000,-
Biaya investasi diatas tidak langsung dikeluarkan dalam satu waktu. Biaya investasi tersebut disesuaikan dengan timeline project yang telah tergambarkan pada Gambar 4.23. Jika disesuakan dengan jadwal tersebut, maka detail pengeluaran investasi adalah sebagai berikut :
Tahun Bulan Item Biaya
2012 Desember Redesign sistem pendingin Rp. 4.500.000.000,- 2013 Januari Virtualisasi Server Rp. 1.500.000.000,- 2013 Juli Sumber Daya Alternatif Rp. 19.164.600.000,- Akan tetapi untuk dapat menghitung manfaat yang didapat tetap akan dihitung dari saat project closing. Dikarenakan ini merupakan satu kesatuan project, sehingga baru dapat dihitung depresiasi dan nilai investasi jika project telah dinyatakan selesai.
Untuk dapat menghitung besarnya keuntungan yang didapat dapat diukur dengan menghitung berapa besar jumlah listrik yang berhasil dihemat kemudian dikalikan dengan tarif dasar listrik yang ada saat ini yaitu Rp. 1.380,-/kWh. Berdasarkan perhitungan penghematan listrik yang telah dihitung sebelumnya maka didapat perhitungan biaya yang dapat dihemat setiap harinya sebagai berikut :
Tabel 4.23 Tabel Perhitungan Jumlah Pendapatan Perhari Penghematan per Hari
Keterangan kWh/Hari Sub Total
Penghematan Sumber daya Alternatif 10.367,04 kWh Rp. 14.306.515,- Penghematan sistem pendingin 6000,00 kWh Rp. 8.280.000,-
TOTAL Rp. 22.586.515,-
Dari data yang ada, maka dapat dihitung nilai proyek penerapan Green IT strategi pada data center Bank Mandiri dan juga waktu BEP yang dibutuhkan. Dengan asumsi suku bunga saat ini 7% maka didapat perhitungan sebagai berikut :
Investasi Rp. 28.939.290.000,- Pendapatan (Rp. 24.813.173 x 365 Hari) Rp. 8.244.078.048,-
IRR 7% Simple Payback Period
Payback = Rp. 28.939.290.000,- Rp. 8.244.078.048,- = 3,5 Tahun
NPV
Tahun Free Cash Flow PVIF Discounted payback
peroid Cumulative 0 (Rp28.939.290.000) 1,00 (Rp28.939.290.000) (Rp28.939.290.000) 1 Rp8.244.078.048 0,93 Rp7.704.745.839 (Rp21.234.544.161) 2 Rp8.244.078.048 0,87 Rp7.200.697.046 (Rp14.033.847.115) 3 Rp8.244.078.048 0,82 Rp6.729.623.408 (Rp7.304.223.707) 4 Rp8.244.078.048 0,76 Rp6.289.367.671 (Rp1.014.856.037) 5 Rp8.244.078.048 0,71 Rp5.877.913.711 Rp4.863.057.674 6 Rp8.244.078.048 0,67 Rp5.493.377.300 Rp10.356.434.974 Payback Period = 4 Tahun 7 Bulan
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
V.1 KesimpulanDari hasil pengumpulan data, dan analisis. Bank Mandiri saat ini membutuhkan strategi jitu untuk dapat menghemat konsumsi energi yang digunakan untuk operasional data center. Hal ini disebabkan oleh banyak desakan yang terjadi. Seperti pemanasan global yang terus meningkat, besarnya konsumsi listrik terhadap perangkat IT pada data center, dan keputusan pemerintah yang mengharuskan seluruh perusahaan BUMN untuk dapat menekan pemakaian listrik hingga 30%.
Berdasarkan pengumpulan data yang selama ini penulis kumpulkan, didapat beberapa temuan penting mengenai kondisi data center saat ini seperti :
• Jumlah server yang dimiliki Bank Mandiri saat ini berjumlah sekitar 600 server yang ada pada DC dan DRC. Dan 90% dari server tersebut merupakan server atas aplikasi kritikal yang tidak boleh terjadi down time.
• Sistem pendingin yang digunakan saat ini menggunakan sistem pendingin row oriented cooling sistem. Sistem pendingin tersebut mengukur suhu ruangan yang di terima oleh chiller. Sistem mendinginkan suhu data center per barisnya dan tidak bisa mengetahui server-server mana saja yang memerlukan pendingin lebih banyak ataupun kebalikannya.
• Sumber daya listrik yang digunakan untuk menghidupkan data center masih berasal dari satu sumber yaitu PLN, dan didukung sumber daya listrik cadangan menggunakan generator berbahan bakar solar.
Untuk menjadi data center yang ramah lingkungan, dibutuhkan strategi yang dapat menekan angka pemakaian listrik yang dihasilkan oleh data center. Selain itu untuk dapat menurunkan pemakain sumber daya alam yang tak tergantikan, dibutuhkan sumber daya alternatif sebagai sumber listrik yang dapat digunakan secara terpadu dengan sumber daya listrik yang ada saat ini. Oleh karena itu penulis merancang green IT strategi pada data center Bank Mandiri dengan mengimplementasi beberapa konsep penghematan yaitu :
1. Desain ulang pendingin ruangan menjadi rack oriented cooling sistem. Dengan sistem pendingin tersebut, pendingin dapat mengetahui secara pasti rack server mana yang sedang membutuhkan pendingin lebih banyak, dan mana yang tidak membutuhkan. Selain itu udara panas yang dihasilkan oleh server tidak bercampur dengan udara dingin disekitarnya, dikarenakan langsung disedot oleh sistem pendingin yang ada dalam rack tersebut. Dengan begitu beban kerja pendingin akan lebih ringan, dan konsumsi listrik pendingin juga akan berkurang secara signifikan.
2. Membuat virtualisasi server pada server-server yang ada. Kondisi saat ini menunjukan untuk satu aplikasi membutuhkan minimal satu server atau lebih yang mana pada penggunaannya, server tersebut tidak terutilisasi secara optimal. Sehingga banyak resource server yang tidak terpakai secara maksimal. Dengan bantuan virtualisasi, maka secara fisik server-server yang ada dapat jauh dioptimalkan sehingga efisiensi server dapat meningkat secara signifikan.
3. Sumber energi alternatif. Seperti diketahui, sumber daya listrik yang digunakan saat ini menggunakan sumber daya alam tak tergantikan. Oleh karena itu dibutuhkan sumber daya listrik yang menggunakan sumber daya alam yang tergantikan. Dalam hal ini, berdasarkan letak geografis Bank Mandiri, sumber daya alternatif yang digunakan pada Bank Mandiri adalah sumber daya listrik menggunakan tenaga surya dan tenaga angin.
4. Membuat standarisasi perangkat ramah lingkungan untuk berbagai perangkat IT maupun non IT yang akan digunakan pada data center Bank Mandiri. Hal ini dilakukan dikarenakan penghematan energi yang dilakukan tidak boleh menghambat perkembangan bisnis yang selalu berkembang saat ini, oleh karena itu agar pengadaan perangkat IT dan non IT kedepannya tidak membuat pemborosan energi, dibutuhkan standar perangkat-perangkat yang ramah lingkungan.
Semua tahap tersebut diimplementasikan dalam beberapa fase yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tiga tahun. Dan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan didapat penurunan penggunaan listrik hingga 60% dan peningkatan efisiensi server hingga 20%.
V.2 Saran
Dalam melakukan implementasi green IT strategi pada data center Bank Mandiri ada beberapa saran yang dapat dipertimbangkan lebih lanjut :
1. Membuat satu group baru dibawah direktorat Tecnology & Operation yang memiliki tugas untuk memantau dan merancang lebih lanjut green strategy dari data center maupun bisnis proses IT secara keseluruhan
2. Green IT Strategy pada Bank Mandiri harus selaras dengan pertumbuhan bisnis yang ada.
3. Green IT Strategy harus di review seiring dengan perkembangan teknologi dari waktu ke waktu.