• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK PENGUSAHAAN AYAM PEDAGING PADA

KOTAMADYA BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN:

KASUS DI DESA PALAM KECAMATAN CEMPAKA

KOTA BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN

(The Prospect of Broiler Chicken Husbandry at Banjarbaru City South

Kalimantan: A Case Study at Palam Village Cempaka District Banjarbaru

City South Kalimantan)

RISMARINI ZURAIDA,ENI SITI ROHAENI danZAHIROTUL HIKMAH

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan Jl. Panglima Batur Barat No. 4, Banjarbaru

ABSTRACT

The demand of food stuffs in South Kalimantan always increases, while the supply of it now days gets limited due to the narrower of agricultural land. The husbandry of broiler chicken is one of the alternative farming systems, which can be carried, but because the duration for the husbandry of broiler chicken is short, the use of the land is economic, and it can be carried on by intensive capital and technology. The purpose of this research is to evaluate the prospect of broiler chicken husbandry at Banjarbaru City, South Kalimantan as a case study research. The study was conducted at Banjarbaru city in April 2006, and it was conducted by field observation which was focused on the problems, the constraints, and the opportunity of broiler chicken husbandry. The method used for collecting data was PRA (Participatory Rural Appraisal) method, followed by interviewing some groups of broiler chicken husbandry farmer (Focus Discussion Group). In order to get complete data, the interview was also done to the related institutions and literature. The research showed that with the farm scale of 9.000 broiler chickens the revenue was Rp. 117,867,000 and the total cost was Rp. 112,279,000. So, the net income received by the farmer during one production period was Rp. 5,581,035 with the R/C ratio 1.04. This result showed that the broiler chicken husbandry is feasible to be developed because the R/C ratio > 1.

Key Words: Prospect, Broiler Chicken, Banjarbaru

ABSTRAK

Kebutuhan akan bahan pangan semakin meningkat di Kalimantan Selatan, sementara itu penyediaan akan bahan pangan semakin terbatas misalnya semakin sempitnya lahan usaha pertanian. Usaha ternak ayam ras (pedaging) merupakan salahsatu alternative usaha yang dapat dilakukan karena waktu usahanya relatif cepat, hemat lahan dan dapat dilakukan secara intensif dengan padat modal dan teknologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat prospek usaha ternak ayam pedaging di Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan yang merupakan studi kasus. Kegiatan penelitian dilakukan di Kota Madya Banjarbaru pada bulan April 2006. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan lapangan yang difokoskan pada permasalahan, hambatan dan peluang usaha ternak ayam pedaging. Metode pengumpulan data yaitu dengan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) disertai wawancara dengan beberapa kelompok peternak ayam pedaging (Focos Group Discussion), untuk melengkapi data wawancara dengan instansi terkait dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan skala pengusahaan 9000 ekor penerimaan mencapai Rp. 117.867.000 dengan total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp. 112.279.000. Jadi pendapatan bersih yang diterima peternak pada satu masa produksi mencapai Rp. 5.581.035 dengan nilai R/C ratio sebesar 1,04. Hasil ini menunjukkan bahwa pengusahaan ayam pedaging mempunyai prospek untuk dikembangkan karena R/C ratio > 1.

(2)

PENDAHULUAN

Perunggasan merupakan komoditi secara riil mampu berperan dalam pembangunan nasional selain sebagai penyediaan protein hewani yang mutlak diperlukan dalam pembangunan kesehatan dan kecerdasan bangsa. Sektor perunggasan juga memiliki peran yang tidak dapat dianggap kecil dalam pembangunan perekonomian nasional. Sebanyak 12,5 juta jiwa masyarakat Indonesia kehidupan ekonominya bergantung pada usaha perunggasan. Sebesar Rp. 37 trilyun per tahun uang yang berputar pada usaha perunggasan. Ini semua membuktikan bahwa sektor perunggasan tidak bisa remehkan dalam pentas perokonomian Nasional. Apalagi ditengah kondisi perekonomian bangsa yang memburuk tentunya usaha peternak ayam pedaging (perunggasan) bias menjadi satu alternatif kongkret dalam upaya penyedia lapangan kerja dan pembangunan perekonomian bangsa (JAELANI, 2006).

Pendekatan yang diterapkan dalam mengembangkan usaha ayam potong adalah dengan pendekatan komoditas wilayah secara terpadu serta komponen pendukungnya. Perlu juga pendekatan agribisnis sehingga usaha ayam potong ini dapat lebih berkembang.

Peningkatan jumlah penduduk dan adanya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi pangan bernilai gizi tinggi hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan dan kebutuhan akan protein hewani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka salah satu alternatif usaha yang efisien secara teknis dan ekonomis dalam menghasilkan pangan bergizi tinggi adalah ayam pedaging (RESNAWATI et al., 2001). Ternak ayam pedaging merupakan salah satu ternak unggas yang dapat menyediakan daging dalam waktu relatif cepat dibandingkan ternak lain, harganya relatif murah, dapat diterima oleh berbagai kalangan, padat teknologi dan modal (SUHARNO, 2002; WIELOTO et al., 1992). Populasi ayam pedaging di Kalimantan Selatan sekitar 8,5 juta ekor dengan kontribusi produksi daging sekitar 76,79% dari total produksi daging unggas di Kalimantan Selatan (DINAS PETERNAKAN PROPINSI KALIMANTAN SELATAN, 2003).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi prospek pengusahaan ayam pedaging Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

MATERI DAN METODE

Penelitian dilakukan di Desa Palam Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru provinsi Kalimantan Selatan pada bulan April 2006. Penelitian dilakukan dengan observasi lapangan yang difokuskan pada permasalahan, hambatan dan peluang pengembangan pengusahaan ternak.

Metode pengumpulan data primer yaitu dengan metode PRA (Participatory Rural Appraisal), disertai wawancara dengan 5 kelompok peternak, satu kelompok beranggotakan 8 – 10 orang (Focus Group Discussion), sedangkan data sekunder merupakan data penunjang yang dikumpulkan dari instansi terkait dan kepustakaan. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif dan analisis kelayakan Finansial (analisis biaya dan pendapatan).

HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya ayam pedaging

Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki produksi tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya ayam broiler ini baru popular di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan penggalakkan konsumsi daging rumansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya karena pada umur 5 – 6 minggu sudah bias dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan diketahui beberapa persiapan dan tahapan pelaksanaan, diantaranya:

Penyiapan sarana dan peralatan

Perkandangan

Kandang yang ada daerah penelitian yaitu kandang panggung yang terbuat dari kayu papan dan tiang dari ulin, daya tahan kandang

(3)

dan peralatan sekitar 4 tahun. Letak kandang cukup mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang. Pemeliharaan ayam pedaging yang diusahakan dilakukan secara intensif, untuk anak umur 1 – 13 hari memakai kandang plastik, umur 14 hari dasar yaitu litter (alas lantai), bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam yang dicampur dengan kapur dan pasir dilepas untuk dibesarkan sampai panen (umur 35 – 39 hari) pada kandang postal.

Peralatan

Peralatan yang penting untuk disediakan yaitu tempat pakan, tempat minum, alat kebersihan, ember, drum, selang, lampu pemanas untuk ayam, sekat/penyekat untuk anak ayam. Bahan lain yang diperlukan yaitu litter (alas lantai) dengan ketebalan setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam yang dicampur dengan kapur dan pasir.

Persiapan lainnya

Persiapan yang dilakukan peternak sebelum ternak ayamnya masuk yaitu pembersihan dan desinfektan kandang dan peralatan (tempat pakan dan minum) dan pengapuran kandang.

Pakan

Pakan yang diberikan terdiri atas pakan BR 1 (untuk ayam umur 1 – 10 hari) dan BR 2 (umur 11 – panen). Komposisi pakan BR1 dan BR2 ditampilkan pada Tabel 1. Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum yang diganti dan diperiksa pada pagi dan sore hari.

Pemeliharaan

Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya disini perlu tenaga yang ulet/trampil ini sudah hampir semua peternak sudah melakukannya. Untuk melihat keragaan produksi dari ayam pedaging yang diusahakan peternak ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 1. Komposisi pakan BR-1 untuk ayam broiler umur 1 – 10 hari dan BR-2 dari umur 11 hari sampai panen (35 – 39 hari)

Nutrisi BR-1 (%) BR-2 (%) Kadar air Protein Lemak Serat Abu kalsium Fosfor 13 23 5 5 7 0,30 0,60 13 19,0 –21,0 5 5 7 0,30 0,60

Tabel 2. Keragaan produktivitas usaha ternak ayam pedaging di Desa Palam Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru tahun 2006

Uraian Nilai Rataan jumlah ternak (ekor) 9000

Lama pemeliharaan (hari) 35 – 39 hari Bobot akhir (kg) 1,7 Kematian dan afkir (%) 2,7

Pencegahan penyakit yang dilakukan adalah vaksinasi ND dan gumboro yang diberikan pada air minum. Vaksinasi ND dilakukan 2 kali yaitu pada umur 3 hari dan 21 hari sedang vaksin gumboro dilakukan pada umur 14 hari.

Sosial ekonomi pengusahaan ayam pedaging Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa usaha ternak ayam pedaging yang dilakukan oleh peternak dengan sistem kemitraan, yaitu pengusaha/perusahaan memberikan modal berupa bibit ayam, pakan, obat-obatan dan vaksin dan peternak menyediakan kandang dan alat, tenaga kerja, listrik, air dan bahan lain seperti sekam dan kapur. Bila ayam panen maka penjualan atau pemasaran ayam akan dilakukan oleh perusahaan dengan harga pasar yang telah ditentukan. Pengusahaan ayam pedaging yang dilakukan oleh peternak dilakukan sebanyak 3 periode per tahun dengan skala usaha antara 5000 sampai 9000 ekor per anggota kelompok. Rendah atau sedikitnya periode pengusahaan per tahun ini atas kesepakatan antara peternak dan perusahaan. Pemilihan waktu pemeliharaan diperhitungkan oleh perusahaan agar ayam dapat dipanen dan

(4)

dijual saat harga ayam mahal yaitu pada bulan-bulan tertentu seperti hari raya keagamaan.

Analisis kelayakan pengusahaan ayam pedaging

Dalam pengusahaan ayam pedaging ini adalah keterpaduan kemampuan/ketrampilan beternak, kemampuan pengelola, dan pemahaman hal bisnis beternak secara seimbang dan selaras karena kondisi pasar dan fluktuasi harga yang tidak menentu. Untuk melihat kasus pengusahaan ayam pedaging di daerah Desa Cempaka lebih jelasnya pada analisis finansial yang ditampilkan pada Tabel 3. Pada pakan I (BR1) ini memerlukan 50 sak (2.500 kg) dengan nilai sebesar Rp. 30.000.000. Pakan II (BR2) diperlukan sebanyak 100 sak (5000 kg) yang nilainya Rp. 45.000.000. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan pada kegiatan pemberian makan dan minum, pemeliharaan kesehatan dan sanitasi lingkungan ini dihitung dalam satuan hari orang kerja (HOK) ini mencapai 200 HOK dengan upah yang berlaku Rp. 10.000/hari, ini memerlukan biaya sebesar Rp. 2.000.000.

Jadi total biaya yang dikeluarkan dalam satu masa produksi ini sebesar

Rp. 112.279.000, pendapatan bersih yang rasio R/C sebesar 1,04. Nilai rasio R/C yang diperoleh menunjukkan bahwa pengusahaan ayam pedaging layak diusahakan karena nilai R/C > 1 (SOEKARTAWI, 1995).

Berdasarkan perhitungan (Tabel 4) diketahui bahwa pengeluaran tertinggi dikeluarkan untuk biaya pakan (66,79%), hal ini sesuai dengan beberapa pendapat bahwa biaya tertinggi yang dikeluarkan adalah biaya pakan berkisar antara 60 – 70% dari total biaya (ZUPRIZAL, 1998), selanjutnya adalah biaya bibit (21,64%).

Tabel 4. Persentase pengeluaran/biaya dalam pengusahaan ayam pedaging

Uraian Nilai (Rp) %

Bibit 24.300.000 21,64

Pakan 75.000.000 66,79

Obat-obatan dan vaksin 2.129.000 1,89 Sekam dan kapur, gula

merah, sekam

5.700.000 Listrik dan air 400.000 0,3 Sewa kandang dan alat 2.250.000 2 Tenaga Kerja 2.000.000 7,38

Jumlah 112.279.000 100

Tabel 3. Analisis finansial pengusahaan ayam pedaging (skala 9000 ekor) di Desa Palam Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru tahun 2006

Uraian Fisik Harga Nilai (Rp.)

Penerimaan (kg) 14.926.59 7.896 117.860.035 Biaya Bibit ayam Pakan BR 1 (zak) BR 2 (zak)

Obat-obatan dan vitamin (unit) Gula merah (kg)

Sekam/alas litter (zak) Kapur (zak)

Arang (zak) Listrik/air

Sewa kandang dan alat Tenaga kerja (HOK)

9000 100 150 29 50 150 50 30 - 9000 200 1.678 300.000 300.000 10.000 17.500 17.500 15.000 15.000 250 10.000 24.300.000 30.000.000 45.000.000 2.129.000 500.000 2.625.000 2.625.000 450.000 400.000 2.250.000 2.000.000 Total Biaya 112.279.000

Pendapatan (penerimaan – biaya) 5.581.035

(5)

PROSPEK PENGUSAHAAN TERNAK AYAM PEDAGING

Berdasarkan uraian dan analisis di atas menunjukkan bahwa usaha ternak pedaging umumnya dan khususnya di Desa Palam mempunyai prospek untuk dikembangkan karena pendapatan yang terima menguntungkan ini terlihat dari rasio R/C yang dicapai, dan memberi peluang untuk ditingkatkan lagi dengan pengelolaan (kandang, pakan dan pemeliharaan) yang lebih baik, pemilihan dan perbaikan sistem produksi yang sesuai dengan agroekosistemnya. Meskipun potensi lahan cukup besar untuk dikembangkan, namun sementara ini peternak di Desa Palam sering dihadapkan pada masalah sosial ekonomi yang kurang mendukung, yaitu masalah yang sangat krusial di tingkat peternak diantaranya keterbatasan modal usaha dan posisi yang lemah dalam pemasaran hasil karena harga sudah ditentukan pihak perusahaan. Selain itu kandang yang selalu disewa menjadi kendala bagi pengembangan peternakan setempat. Oleh sebab itu perlu sekali perhatian dari pemerintah untuk memfasilitasi permodalan baik ke pihak swasta atau perbankan. Dilain pihak permintaan pasar selalu meningkat, sejalan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi hewani. Produktivitas ternak ayam pedaging/broiler saat ini berkembang dengan pesat dan memberi peluang pasar yang luas dan dihandalkan.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pengusahaan ternak ayam pedaging di Desa Palam Kecamatan Cempaka Kota

Banjarbaru dengan sistem kemitraan layak untuk diusahakan karena diperoleh nilai R/C sebesar 1,04 dengan pendapatan bersih selama satu periode usaha sebesar Rp. 5.581.035.

DAFTAR PUSTAKA

AGUS JAELANI. 2006. Penataan Kebijakan Pembangunan Perunggasan Nasional. Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2006 Vol 1. DINAS PETERNAKAN PROPINSI KALIMANTAN

SELATAN. 2003. Buku Saku Peternakan Tahun 2003. Banjarbaru.

HASTONO. 1999. Peluang pengembangan ayam buras di lahan pasang surut Karang Agung Ulu, Sumatera Selatan. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor 1-2 Desember 1998. Jilid II. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 691 – 669.

RESNAWATI, H., A.G. NATAAMIJAYA, U. KUsNADI

dan S.N. JARMANI. 2001. Tepung kencur (Kaempferia galanga L) sebagai suplemen dalam ransum ayam pedaging. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 17 – 18 September 2001. hlm. 563 – 567.

SOEKARTAWI. 1995. Analisis Usaha Tani. Universitas Indonesia. Jakarta.

SUHARNO,B. 2002. Agribisnis Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.

WIELOTO, D., D. M. YUWONO, SUBIHARTA dan KASUDI. 1992. Pengaruh tingkat energi dan serat kasar dalam ransum terhadap performans dan penurunan lemak abdominal ayam pedaging. Pros. Pengolahan dan Komunikasi Hasil-Hasil Penelitian. Unggas dan Aneka Ternak. Bogor, 20 – 22 Februari 1992. hlm. 141 – 147.

Gambar

Tabel 1. Komposisi pakan BR-1 untuk ayam broiler  umur 1 – 10 hari dan BR-2 dari umur 11  hari sampai panen (35 – 39 hari)
Tabel 3.  Analisis finansial pengusahaan ayam pedaging (skala 9000 ekor) di Desa Palam Kecamatan  Cempaka Kota Banjarbaru tahun 2006

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan keputusan Mata Acara Rapat Ketiga sebagaimana tersebut di atas, dimana Rapat telah memutuskan untuk dilakukan pembayaran dividen tunai kepada pemegang saham

Bidang Pendaftaran, Ekstensifikasi, dan Penilaian mempunyai tugas melaksanakan bimbingan dan pemantauan pelaksanaan kebijakan teknis pendaftaran, melaksanakan bimbingan

Adanya galur mutan yang memiliki kadar gula batang lebih manis dibandingkan tetua, hal ini terlihat bahwa perlakuan radiasi gamma dapat memperbaiki sifat gula batang

Bahan-bahan hukum yang diperoleh akan dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif, khususnya dalam hasil analisis dari pertimbangan hakim dalam putusan pengadilan

Dari 4 langkah diatas bisa disimulasikan lintasan rute kunjungan salesman sebagai berikut start dari PT.BSP dipilih kunjungan pertama ke outlet nomor 2 karena antara

Pemberian ekstrak etanol kulit manggis (Garcinia mangostana) peroral menghambat penurunan testosteron total pada tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan yang dipapar

Menurut Ramaiah (2006) bahwa salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah nyeri disminore adalah melakukan aktifitas olahraga. Beberapa latihan dapat meningkatkan

Secara umum kebijakan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Tual dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan Peradilan Tingkat Pertama, baik yang