• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA STRATEGIS

(RENSTRA)

DINAS KEHUTANAN

PROVINSI NTB

TAHUN 2013 - 2018

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

DINAS KEHUTANAN

Jalan Majapahit No. 54 Mataram 83115 Telp. : (0370) 633071, Fax. : (0370) 633961

(2)

PEMERINTAH PROVINSI NTB

RENSTRA DINAS KEHUTANAN PROV.NTB TAHUN 2013-2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadlirat Allah SWT-Tuhan Yang Maha Esa, atas curahan rahmat dan karunianya yang tak ternilai harganya berupa sumber daya hutan sebagai ekosistem penyangga kehidupan dan merupakan bagian asset yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Nusa Tenggara Barat memiliki sumberdaya hutan 53,18 % dari luas wilayah daratan berperan sangat penting mendukung pembangunan daerah pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Potensi Sumberdaya hutan tersebut harus dikelola dengan sebaik-baiknya secara rasional, arif dan berkeadilan serta bertanggung gugat untuk sebesar – besar kemakmuran rakyat Nusa Tenggara Barat. Mengingat permasalahan pembangunan kehutanan dan kebutuhan masyarakat akan fungsi hutan dimasa mendatang semakin komplek, maka perlu dirumuskan pengelolaan hutan jangka menengah yang prioritas sesuai visi dan misi pemerintahan daerah Nusa Tenggara Barat periode Tahun 2013-2018 dalam rencana strategis.

Akhirnya Rencana Strategis ini dapat disusun berkat bantuan pemikiran semua pihak yang telah memberikan sumbangsihnya disampaikan apresiasi penghargaan ucapan terima kasih, semoga bermanfaat dan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkahi upaya kita Amiin.

Mataram, Oktober 2014 KEPALA DINAS KEHUTANAN

Ir. ANDI PRAMARIA, M.Si Pembina Tingkat I NIP. 19611122 198903 1 005

(3)
(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB. I PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Landasan Hukum 2

1.3. Maksud dan Tujuan 3

1.4. Sistematika Penulisan 3

BAB. II GAMBARAN PELAYANAN DINAS KEHUTANAN PROVINSI NTB 5

2.1. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi SKPD 5

2.2. Susunan Kepegawaian dan Aset yang Dikelola 8

2.3. Jenis Pelayanan dan Kelompok Sasaran 11

BAB. III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 13 3.1. Gambaran Umum Daerah Terkait dengan Pelayanan SKPD 13 3.2. Hasil-hasil yang Dicapai Lima Tahun Sebelumnya 17 3.3. Analisis Isu Strategis Terkait dengan Tugas dan Fungsi SKPD 31

3.4. Analisis Lingkungan Strategis 36

BAB. IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 38

4.1. Visi dan Misi 38

4.2. Tujuan dan Sasaran 41

4.3. Strategi dan Kebijakan 43

BAB. V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA,

KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF 45 BAB. VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN

DAN SASARAN RPJMD 58

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi berupa kawasan hutan yang mencapai 53,18 % dari luas wilayah daratannya. Posisi strategis sumberdaya hutan tersebut dalam konteks pembangunan daerah memiliki dua fungsi utama, yaitu peran hutan dalam pembangunan ekonomi dan peran hutan dalam pelestarian lingkungan hidup. Kedua peran tersebut harus mempertimbangkan kontribusi sektor kehutanan terhadap pembangunan ekonomi daerah dan masyarakat serta kontribusinya dalam menjaga keseimbangan sistem tata air, tanah dan udara sebagai unsur utama daya dukung lingkungan

Potensi sumberdaya hutan tersebut harus dikelola dengan sebaik-baiknya secara rasional, arif dan berkeadilan serta bertanggung gugat untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Nusa Tenggara Barat. Mempertimbangkan kebutuhan akan fungsi hutan dan permasalahan yang akan timbul, maka perlu dirumuskan pengelolaan hutan jangka menengah sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah.

Perencanaan pembangunan daerah tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan nasional yang diatur dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2005 tentang sistem pembangunan nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mengamanatkan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk menyusun Rencana Strategis (Renstra).

Rencana strategis SKPD merupakan dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana ini merupakan sebuah pendekatan untuk mencapai tujuan dengan mengarahkan pada pengambilan keputusan terkait dengan tugas pokok dan fungsi SKPD tersebut.

Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB Tahun 2013-2018 ini merupakan kerangka kerja Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam melaksanakan pembangunan kehutanan di Provinsi NTB. Renstra ini disusun berrdasarkan isu-isu strategis di bidang kehutanan, analisis yang mendalam dan perumusan strategi yang akan dilakukan serta kajian terhadap kondisi periode sebelumnya.

Rencana strategis ini berisi berbagai program dan kegiatan pengelolaan hutan yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan

(6)

kehutanan berkelanjutan dengan pertimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan. Renstra ini akan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Bidang dan Unit Pelaksana Tugas Daerah yang merupakan rincian dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari Dinas Kehutanan Provinsi NTB.

Renstra ini diharapkan dapat mencerminkan komitmen kuat dari Dinas Kehutanan Provinsi NTB untuk melaksanakan pengelolaan hutan secara lestari melalui pendekatan baru yang diharapkan mampu mengakomodir kepentingan seluruh pihak terkait.

1.2 Landasan Hukum

Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB Tahun 2013-2018 didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku antara lain :

a. Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, NTB dan NTT.

b. Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

c. Undang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

d. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintahan, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota

e. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 Jo Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan, Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan.

f. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah

g. Peraturan Pemerintah No 2 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berasal Dari Penggunaan Kawasan Hutan Untuk Kepentingan Pembangunan Di luar Kegiatan Kehutanan Yang Berlaku Pada Departemen Kehutanan.

h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah

i. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat No. 11 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTB.

(7)

j. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat No. 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas Daerah Provinsi NTB k. Peraturan Daerah Nomor: 2 Tahun 2014 tentang RPJMD NTB 2013 –

2018.

l. Peraturan Gubernur NTB No. 21 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas, Fungsi, dan Tata Kerja Dinas- Dinas Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat m. Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB Nomor : 188/24/Kpts/Dishut/2014 tentang Penunjukan Tim Penyusun Rencana Strategis Dinas Kehutanan Provinsi NTB Tahun 2013-2018.

1.3 Maksud dan Tujuan

Rencana Strategis Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat dimaksudkan agar terwujud kesinambungan program dan kegiatan dalam kurun waktu 2013-2018. Hal ini penting agar hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai sebelumnya dapat dipertimbangkan sebagai acuan sasaran periode berikutnya untuk kemudian dapat dipertajam prioritas sasaran kinerjanya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang melekat pada Dinas Kehutanan Provinsi NTB.

Tujuan penyusunan Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB 2013-2018 ini antara lain :

a. Merumuskan strategi, program dan kegiatan Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam rangka pencapaian visi dan misi organisasi 2013-2018.

b. Memberikan arah pembangunan sektor kehutanan di Provinsi NTB 2013-2018.

c. Sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan Dinas Kehutanan Provinsi NTB.

d. Menjadi dasar penilaian kinerja Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam kurun waktu 2013-2018.

1.4 Sistematika Tulisan

Sistematika penulisan Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB Tahun 2013-2018 adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN, bab ini merupakan penjelasan secara garis besar dari Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB. Hal-hal yang termuat dalam bab ini antara lain Latar belakang penyusunan Renstra, Aturan-aturan hukum yang menjadi landasan penyusunan Renstra,

(8)

Maksud dan tujuan penyusunan Renstra serta Sistematika penulisan Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB 2013-2018.

BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS KEHUTANAN PROVINSI NTB, bab INI menyajikan data dan informasi mengenai organisasi Dinas Kehutanan Provinsi NTB yang meliputi kedudukan, tugas pokok dan fungsi, struktur organisasi, sumberdaya aparatur serta sarana dan prasarana aset yang dikelola dan jenis pelayanan serta kelompok sasarannya.

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI, bab ini menyajikan tentang gambaran umum daerah terkait dengan pelayanan SKPD Dinas Kehutanan. Selanjutnya dijelaskan hasil capaian dari lima tahun sebelumnya. Dilanjutkan dengan analisis isu-isu strategis, disertai dengan analisis terhadap lingkungan strategis baik terkait dengan kondisi internal maupun eksternal.

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN. Bab ini mengemukakan pernyataan visi dan misi Dinas Kehutanan Provinsi NTB. Pada bagian ini juga dikemukakan rumusan tujuan dan sasaran serta strategi dan kebijakan yang akan ditempuh oleh Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam kurun waktu 5 tahun ke depan sampai dengan Tahun 2018.

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF. Pada bab ini dikemukakan rencana program dan kegiatan dengan masing-masing indikatornya, kelompok sasaran serta alternatif pendanaannya secara indikatif.

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD. Pada bab ini dikemukakan indikator kinerja Dinas Kehutanan Provinsi NTB yang secara langsung menunjukkan kinerja yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun mendatang sebagai salah satu bentuk komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD.

(9)

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN DINAS KEHUTANAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT 2.1. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi SKPD

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor : 21 Tahun 2008, Kepala Dinas Kehutanan mempunyai tugas membantu Gubernur dalam menyelenggarakan urusan Pemerintahan Daerah dibidang Kehutanan berdasarkan Azas Otonomi, Tugas Pembantuan dan Tugas Dekonsentrasi. Dalam pelaksanaan tugasnya Kepala Dinas Kehutanan menyelenggarakan beberapa fungsi antara lain : a. Perumusan kebijakan teknis bidang kehutanan;

b. Perencanaan program dan kegiatan bidang kehutanan;

c. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang kehutanan;

d. Pengkoordinasian dan pembinaan tugas bidang kehutanan; e. Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan tugas bidang kehutanan;

f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Susunan Organisasi Dinas Kehutanan Provinsi NTB, terdiri dari : A. Kepala Dinas;

B. Sekretariat;

Sekretariat mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan pembinaan administrasi yang meliputi ketatausahaan, umum, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan pemeliharaan kantor.

Sekretariat, membawahi :

1. Sub Bagian Program dan Pelaporan; 2. Sub Bagian Keuangan;

3. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian. C. Bidang Planologi dan Pengamanan Hutan;

Bidang Planologi dan Pengamanan Hutan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan pedoman/petunjuk, perencanaan kegiatan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, serta

(10)

monitoring dan evaluasi dalam urusan planologi dan pengamanan hutan.

Bidang Planologi dan Pengamanan Hutan, membawahi : 1. Seksi Inventarisasi dan Rencana Pengelolaan Hutan; 2. Seksi Kawasan Hutan;

3. Seksi Pengamanan Hutan. D. Bidang Pemanfaatan Hutan.

Bidang Pemanfaatan Hutan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan pedoman/petunjuk, perencanaan kegiatan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, serta monitoring dan evaluasi dalam bidang pemanfaatan hutan pada kawasan hutan lindung, kawasan hutan produksi dan kawasan taman hutan raya lintas kabupaten/kota.

Bidang Pemanfaatan Hutan, membawahi : 1. Seksi Budidaya dan Produksi Hasil Hutan; 2. Seksi Pengolahan dan Peredaran Hasil Hutan; 3. Seksi Aneka Usaha Kehutanan.

E. Bidang Rehabilitasi dan Konservasi Hutan

Bidang Rehabilitasi dan Konservasi Hutan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan pedoman/petunjuk, kegiatan, pembinaan, pengawasan pengendalian, monitoring dan evaluasi dalam bidang rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan.

Bidang Rehabilitasi dan Konservasi Hutan, membawahi : 1. Seksi Reboisasi;

2. Seksi Rehabilitasi Lahan;

3. Seksi Konservasi Sumber Daya Lahan. F. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) terdiri dari :

1. UPTD Balai Perbenihan dan Pembibitan Tanaman Hutan 2. UPTD Taman Hutan Raya Nuraksa

3. UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Rinjani Barat G. Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari :

1. Fungsional Perencana

2. Fungsional Surveyor Pemetaan

3. Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan 4. Fungsional Polisi Hutan

(11)

Struktur Organisasi

Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat

KABID PLANOLOGI DAN

PENGAMANAN HUTAN KABID PEMANFAATAN HUTAN

KASUBAG KEUANGAN KASUBAG PROGRAM DAN PELAPORAN KASUBAG UMUM DAN KEPEGAWAIAN

KABID REHABILITASI DAN KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN

KEPALA DINAS KEHUTANAN PROV. NTB

SEKRETARIS KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

KASIE REHABILITASI LAHAN KASIE KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN KASIE KAWASAN HUTAN

KASIE INVENTARISASI DAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN

KASIE PENGAMANAN HUTAN

KASIE BUDIDAYA DAN PRODUKSI HASIL HUTAN KASIE PENGOLAHAN DAN PEREDARAN HASIL HUTAN

KASIE ANEKA USAHA KEHUTANAN

KASIE REBOISASI PERENCANA EKOSISTEM HUTAN PENGENDALI SURVEYOR POLISI KEHUTANAN

KA. BALAI KESATUAN

PENGELOLAAN HUTAN (KPH) PEMBIBITAN TANAMAN HUTAN KA. BALAI PERBENIHAN DAN KA. BALAI TAMAN HUTAN RAYA NURAKSA

KASIE PERBENIHAN

TANAMAN HUTAN KASIE PEMBIBITAN TANAMAN HUTAN KASIE BUDIDAYA DAN

PRODUKSI KASIE PENGOLAHAN DAN PEMASARAN KASUBAG TATA

(12)

2.2. Susunan Kepegawaian dan Aset yang Dikelola A. Susunan kepegawaian

Sumberdaya manusia merupakan salah satu unsur penting yang harus dimiliki oleh instansi/badan usaha, karena kinerja para pegawai akan menentukan tingkat kinerja instansi/badan usaha tersebut. Sampai dengan akhir tahun 2013, jumlah pegawai Dinas Kehutanan Provinsi NTB adalah sejumlah 120 orang yang terdiri atas 78 orang staf dan 32 orang pejabat struktural dan fungsional. Komposisi pegawai berdasarkan golongan kepangkatan, didominasi oleh pegawai golongan III (67,23 %) dan golongan II (24,37 %), sedangkan sisanya 6,72 % dengan golongan IV dan 1,68 % pada golongan I.

Tabel 2.1. Komposisi Pegawai Berdasarkan Golongan GOLONGAN /

RUANG

ESELON NON ESELON

JUMLAH I II III IV FUNGSIONAL STAF TENAGA

GOLONGAN IV - 1 6 1 2 - 10 Golongan IV/e - - - - Golongan IV/d - 1 - - - - 1 Golongan IV/c - - - - Golongan IV/b - - 4 - - - 4 Golongan IV/a - - 2 1 2 - 5 GOLONGAN III - - 1 20 14 44 79 Golongan III/d - - 1 12 3 2 18 Golongan III/c - - - 8 5 6 19 Golongan III/b - - - - 4 17 21 Golongan III/a - - - - 2 19 21 GOLONGAN II - - - - - 29 29 Golongan II/d - - - 2 2 Golongan II/c - - - 3 3 Golongan II/b - - - 17 17 Golongan II/a - - - 7 7 GOLONGAN I - - - - - 2 2 Golongan I/d - - - - Golongan I/c - - - - Golongan I/b - - - 2 2 Golongan I/a - - - - TOTAL - 1 7 21 16 75 120

Berdasarkan jenis kelamin, pegawai laki-laki berjumlah 93 orang (77,50%) dan pegawai perempuan berjumlah 27 orang (22,50%). Dari

(13)

jumlah tersebut, pejabat Eselon II adalah laki-laki, pejabat Eselon III 6 orang (85,71%) adalah laki-laki dan 1 orang (14,29 %) adalam perempuan, Eselon IV 16 orang (76,19 %) adalah laki-laki dan 5 orang (23,81%) adalah perempuan, sedangkan staf 70 orang (76,92 %) laki-laki dan 21 orang (23,08%) perempuan.

Tabel 2.2. Jumlah Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin

Jabatan Jenis Kelamin Jumlah Persentase

L P L P Eselon II 1 0 1 100,00 0,00 Eselon III 6 1 7 85,71 14,29 Eselon IV 16 5 21 76,19 23,81 Staf 70 21 91 76,92 23,08 Total 93 27 120 77,50 22,50

Komposisi golongan kepangkatan juga didukung oleh faktor tingkat pendidikan yang didominasi oleh SLTA, S1 dan S2 dengan perincian sebagai berikut :

Tabel 2.3. Komposisi Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Jumlah Persentase

SD 2 1,68 SLTP 1 0,84 SLTA 52 43,70 D1 0 0,00 D2 0 0,00 D3 5 4,20 S1 46 37,82 S2 14 11,76 TOTAL 120 100

Dari komposisi tersebut di atas, dukungan tenaga teknis juga berupa ketersediaan pegawai dengan kualifikasi Perencana, Pengendali Ekosistem Hayati, Surveyor, Polisi Hutan termasuk kualifikasi tenaga teknis menengah yang berasal dari lulusan Sekolah Kehutanan Menengah Atas.

Selain itu, terdapat pegawai Dinas Kehutanan Provinsi NTB yang memiliki kualifikasi Pengawas Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (WASGANISPHPL) dalam beberapa jenis yaitu Pengukuran dan Pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia (6 orang), Pengukuran dan Pengujian Kayu Gergajian Rimba Indonesia (5 orang),

(14)

Perencanaan Hutan (2 orang) dan Pembinaan Hutan (1 orang). Dukungan kualifikasi tenaga teknis kehutanan ini tentunya juga akan didukung oleh pegawai pada Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan RI yang ada di NTB dan pada masing-masing Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota se Provinsi NTB dengan tingkat pendidikan dan kualifikasi berbagai bidang.

B. Aset yang dikelola

Dinas Kehutanan Provinsi NTB memiliki sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan kantor dengan lokasi dari ibukota provinsi sampai dengan tingkat lapangan di kabupaten/kota se Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sarana prasarana tersebut berupa bangunan kantor di Jalan Majapahit Nomor 54 Mataram dan Bangunan Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Rinjani Barat di daerah Sayang-sayang sampai dengan bangunan Pos Jaga dan kantor-kantor Satuan Pengelolaan Hutan (SPH) di kabupaten/kota se Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah sebagian dari bangunan-bangunan tersebut khususnya di kabupaten/kota saat ini peruntukkan adalah untuk kepentingan di luar sektor kehutanan. Seharusnya bangunan-bangunan tersebut bisa dioptimalkan keberadaannya sebagai pendukung kegiatan sektor kehutanan di tingkat lapangan. Selain itu banyak tersedia aset berupa lahan kosong yang tentunya bisa diarahkan sebagai lokasi pengembangan kegiatan pembibitan tanaman kehutanan.

Tabel 2.3. Aset tidak bergerak

No Jenis Aset Luas/ Panjang Nilai

1 Bangunan gedung tempat kerja

1.384 1.038.997.199

2 Bangunan gedung tempat tinggal

174 73.119.400

3 Bangunan air irigasi 115.680.000

4 Jalan dan jembatan 49.879.000

(15)

Dukungan sarana juga berupa kendaraan dinas roda dua, roda 3 dan roda empat dengan fungsi operasional kantor sampai kendaraan dengan kualifikasi kendaraan lapangan. Kegiatan pada Dinas Kehutanan Provinsi NTB juga didukung dengan tersedianya alat berupa penentu Global Positioning System (GPS), PC Unit, Laptop, Ploter, Printer, Planitop, Optical Pantograf, Teodolit, Altimeter, Telescope, Curve meter, kompas, peralatan pemetaan ukur, serta ketersediaan alat komunikasi dan jaringan internet.

Tabel 2.4. Aset bergerak

No Jenis Aset Jumlah Nilai

1 Alat-alat bantu 2 2.250.000

2 Alat angkutan darat bermotor 136 2.303.633.000

3 Alat bengkel dan alat ukur 13 65.096.667

4 Alat pertanian 1 3.000.000

5 Alat kantor dan rumah tangga 1.773 1.328.464.994

6 Alat studio dan alat komunilasi 146 343.230.720

7 Alat laboratorium 5 26.780.704

8 Barang-barang perpustakaan 1 10.500.000

TOTAL 4.082.956.085

2.3. Jenis Pelayanan dan Kelompok Sasaran

Dinas Kehutanan Prov. NTB sesuai dengan tupoksinya memberikan pelayanan terkait dengan bidang kehutanan baik itu untuk kepada pemerintah, masyarakat, maupun swasta.

Tabel 2.5. Jenis Pelayanan dan Kelompok Sasaran

No Bidang Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran

1 Sekretariat Pelaksanaan persiapan perumusan kebijakan dan

koordinasi Internal

Pengelolaan urusan keuangan Internal

Pelaksanaan pembinaan administrasi dalam arti melakukan urusan ketatausahaan, kepegawaian, perlengkapan, kerumahtanggaan dan keprotokolan

Internal

2 Planologi dan Pengamanan Hutan

Pengelolaan urusan inventarisasi dan rencana

pengelolaan hutan Pemerintah, swasta

Pengelolaan urusan kawasan hutan Pemerintah

Pengelolaan urusan pengamanan hutan Pemerintah, masyarakat, swasta 3 Pemanfaatan

Hutan Pelaksanaan urusan budidaya dan produksi hasil hutan Pemerintah, masyarakat, swasta

(16)

No Bidang Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran Pelaksanaan urusan pengolahan dan peredaran

hasil hutan Pemerintah, masyarakat,

swasta Pelaksanaan urusan aneka usaha kehutanan Masyarakat,

swasta 4 Rehabilitasi dan

Konservasi Hutan

Pelaksanaan urusan reboisasi Pemerintah,

masyarakat, swasta Pelaksanaan urusan rehabilitasi lahan dan urusan

konservasi sumber daya hutan Pemerintah, masyarakat, swasta 5 Balai perbenihan

dan pembibitan tanaman hutan

Pelaksanaan urusan pembenihan tanaman hutan Masyarakat, swasta Pelaksanaan urusan pembibitan tanaman hutan Masyarakat 6 Balai taman

hutan raya nuraksa

Pelaksanaan urusan konservasi sumberdaya alam di

wilayah Tahura Masyarakat, swasta

Pelaksanaan urusan pemanfaatan jasa lingkungan

di wilayah Tahura Masyarakat, swasta

7 Balai kesatuan pengelolaan hutan rinjani barat

Pelaksanaan urusan budidaya dan produksi hasil

hutan di wilayah KPH Rinjani Barat Masyarakat, swasta Pelaksanaan urusan pengolahan dan pemasaran

(17)

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI SKPD 3.1. Gambaran Umum Daerah Terkait dengan Pelayanan SKPD

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan tersebut merupakan salah satu ekosistem yang berperan sebagai penyangga kehidupan dan penyeimbang lingkungan hidup baik yang bersifat lokal maupun global. Memperhatikan peran hutan yang sangat penting bagi negara dan bagi hajat hidup orang banyak, maka pemerintah mempunya kewajiban untuk menguasai, melindungi dan mengelola kawasan hutan sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Salah satu bentuk peran pemerintah adalah penetapan kawasan hutan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 41 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, kawasan hutan disebutkan sebagai wilayah tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

Selanjutnya, Undang-undang tersebut juga mengamanatkan bahwa hutan merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dikelola oleh negara untuk memberikan manfaat yang serbaguna bagi masyarakat Indonesia sehingga wajib disyukuri dan dikelola secara optimal bagi generasi sekarang dan mendatang. Penetapan kawasan hutan tersebut juga ditujukan untuk menjaga dan mengamankan keberadaan kawasan hutan sebagai penggerak perekonomian lokal, regional dan nasional.

Provinsi NTB terdiri dari 2 (dua) pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa yang terletak antara 115o46’ – 119o10’ BT dan 8o10’ – 9o5’ LS. Luas wilayah provinsi NTB 2.015.315 Ha. Dari luas wilayah tersebut, 53,18% atau 1.071.722,83 Ha adalah kawasan hutan. Kawasan hutan tersebut terbagi berdasarkan fungsinya yaitu Hutan Konservasi seluas 173.636,40 Ha, Hutan Lindung seluas 447.272,86 Ha, dan Hutan Produksi seluas 450.813,57 Ha. Secara rinci, luas hutan berdasarkan fungsinya dapat dilihat pada tabel berikut:

(18)

Tabel 3.1. Data Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi Hutan

No Fungsi Hutan Luas (Ha)

1 Hutan Konservasi 173.636,40

- Cagar Alam 36.832,61

- Taman Nasional 41.330,00

- Suaka Margasatwa 21.674,68

- Taman Buru 48.668,05

- Taman Wisata Alam 21.976,06

- Taman Hutan Raya 3.155,00

2 Hutan Lindung 447.272,86

3 Hutan Produksi 450.813,57

- Hutan Produksi Tetap 160.085,74

- Hutan Produksi Terbatas 290.727,83

TOTAL 1.071.722,83

Sumber: Statistik Dinas Kehutanan Provinsi NTB Tahun 2012

Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah. Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.

Dinas kehutanan Provinsi NTB, sebagai pemegang amanat dalam mengelola kawasan hutan di Provinsi NTB berusaha untuk memenuhi tugas utamanya dalam mengelola kawasan hutan yaitu untuk menjaga kelestarian hutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Hutan yang lestari diwujudkan melalui kegiatan rehabilitasi dan perlindungan serta pengamanan kawasan hutan. Dalam mekanisme pengelolaannya, untuk hutan yang lestari dititikberatkan pada penanganan lahan kritis baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Berdasarkan penafsiran citra lansat tahun 2010 diketahui bahwa luas lahan kritis di Provinsi NTB adalah seluas 444.409,19 Ha dengan komposisi lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 181.188,66 Ha (40,77 % dari luas lahan kritis) dan lahan kritis di luar kawasan hutan seluas 263.220,53 Ha (59,23 % dari luas lahan kritis). Penanganan lahan kritis dilakukan dengan pola partisipatif bekerjasama dengan stakeholder kehutanan di berbagai lapisan yang nantinya akan menjadi salah satu indikator kinerja Dinas Kehutanan Provinsi NTB selaku

(19)

SKPD pembantu Gubernur dalam pelaksanaan tugas dan fungsi di bidang kehutanan.

Sedangkan untuk mencapai masyarakat yang sejahtera diwujudkan dengan memberikan akses serta mendorong masyarakat sekitar kawasan hutan untuk mengelola kawasan hutan. Desa sekitar hutan adalah wilayah desa yang secara geografis dan administratif berbatasan langsung dengan kawasan hutan atau kawasan sekitar hutan. Masyarakat yang berada di desa tersebut melakukan aktivitas atau kegiatan yang berinteraksi dengan sumberdaya hutan untuk mendukung kehidupannya. Kawasan hutan NTB berbatasan langsung dengan 461 desa dari total 1.117 desa se-NTB. Pemberian hak kelola kawasan hutan kepada masyarakat tersebut dilakukan melalui program Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Kemasyarakatan serta pengembangan hasil hutan bukan kayu.

Dalam kurun waktu 2009-2013, Dinas Kehutanan Provinsi NTB telah mendorong pembangunan Hutan Tanaman baik oleh swasta melalui Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun kelompok masyarakat sekitar hutan melalui Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Dari target pembangunan HTI seluas 24.000 Ha, Dinas Kehutanan Provinsi NTB berhasil mendorong masuknya investor yang bergerak di pembangunan hutan tanaman yaitu PT. Usaha Tani Lestari dengan luas izin 22.820 Ha, PT. Koinesia dengan luas izin 41.960 Ha dan PT. Sadhana Arif Nusa dengan luas izin 3.810 Ha. Kawasan Hutan Produksi yang dicadangkan untuk pembangunan HTR seluas 4.396 ha. Dari luasan tersebut, yang telah dibebani Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu - Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR) adalah seluas 1.728,81 Ha. Jika dibandingkan dengan Tahun 2011, terdapat penambahan luas areal HTR yang sudah memiliki izin yaitu seluas 492,27 Ha. Penambahan areal ini berada di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Jumlah luas areal HTR yang sudah berijin, sampai dengan Tahun 2012 mencapai kurang lebih 39 % dari luas areal yang telah dicadangkan. Dinas Kehutanan Provinsi NTB juga berhasil mendorong masuknya investasi di bidang pengelolaan hasil hutan kayu pada hutan alam yaitu atas nama PT. Agro Wahana Bumi (AWB) dengan luasan 28.644 Ha.

Selain melalui HTR, masyarakat juga diberikan akses untuk memanfaatkan kawasan hutan melalui Hutan Kemasyarakatan (HKm). Dinas Kehutanan Provinsi telah berhasil memfasilitasi dan mendorong terbitnya keputusan Menteri Kehutanan tentang pencadangan areal HKm pada 12

(20)

lokasi dengan total luas 14.836,50 Ha. Dari luasan tersebut, 10.469,58 Ha sudah ditetapkan menjadi Ijin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm).

Sektor Kehutanan juga memberikan sumbangan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Jika mengacu kepada indikator kinerja utama Kementerian Kehutanan dimana diharapkan terjadi peningkatan jumlah PNBP sebesar 10 % dalam kurun waktu 5 tahun (2009 – 2013 ), jumlah PNBP Tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 205 % jika dibandingkan dengan Tahun 2009. Hal ini jauh di atas target Kementerian Kehutanan yaitu 10 % (2 % per tahun). Data rinci capaian PNBP dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebagai berikut :

Tabel 3.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak Tahun 2009-2013

Tahun DR Tahun PSDH 2009 596.126.350,00 2009 237.462.002,00 2010 444.540.421,18 2010 112.326.095,00 2011 2.244.523.174,64 2011 946.391.878,00 2012 2.363.225.174,61 2012 847.797.809,00 2013 1.309.000.015,03 2013 399.035.256,00 6.957.415.135,46 2.543.013.040,00

Sumber : Laporan Kinerja Dinas Kehutanan Provinsi NTB Tahun 2012

Untuk mendukung program rehabilitasi hutan dan lahan Dinas Kehutanan Provinsi NTB telah melaksanakan pembuatan bibit/benih tanaman kehutanan sebanyak 5.554.500 batang melalui pola konvensional sebanyak 1.245.000 batang, bibit bakti sosial di Pulau Sumbawa sebanyak 780.000 batang, penguatan kelembagaan Pondok Pesantren (Ponpes) sebanyak 2.140.000 batang, ujicoba pot tray sebanyak 1.500 batang, pembuatan persemaian semi permanen sebanyak 855.000 batang, ujicoba anakan tanaman unggulan NTB sebanyak 33.000 batang dan persemaian trembesi 500.000 batang. Untuk mendukung kegiatan rehabilitasi telah dilaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat kepada 242 unit kelompok masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. kegiatan ini dilakukan melalui pelatihan pembuatan persemaian dan penanganan pasca panen antara lain melalui pembuatan bibit 68 kelompok, rehabilitasi areal taman hutan raya 23 kelompok, pembuatan demplot tanaman mangrove 37 kelompok, rehabilitasi sumber mata air 35 kelompok, silvopastura 17 kelompok, pengembangan benih tanaman kehutanan 25 kelompok, pengembangan aneka usaha kehutanan (AUK) dan Jasling 30 kelompok,

(21)

pembangunan MKKHD 20 kelompok dan pengembangan AUK pada areal KPH Rinjani Barat sebanyak 7 kelompok.

3.2. Hasil-hasil yang Dicapai Lima Tahun Sebelumnya

Program dan kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kehutanan diarahkan pada program-program pembangunan berdasarkan visi, misi, tujuan dan sasaran serta kebijakan dan strategi pembangunan kehutanan Provinsi NTB yang tertuang dalam Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB 2009-2013. Realisasi pelaksanaan pembangunan bidang kehutanan berdasarkan Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB 2009-2013 merupakan gambaran pelaksanaan dari upaya-upaya yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam memecahkan permasalahan bidang kehutanan dan mendukung tercapaianya sasaran dan indikator kinerja yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi NTB dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2009-2013.

Pencapaian pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan dalam Renstra Dinas Kehutanan Provinsi NTB 2009-2013 akan menjadi salah satu acuan dalam menetapkan sasaran program dan kegiatan dalam Renstra 2013-2018. Gambaran umum pencapaian kegiatan kehutanan dalam pelaksanaan Renstra 2009-2013 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3. Capaian Indikator Kinerja Utama Dishut Prov. NTB sesuai RPJMD 2009-2013

No Indikator Kinerja Utama Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

1 Menurunkan lahan kritis ≤

507.778,17 Ha Realisasi Target 492.605 492.175 455.184 444.409 412.889 396.179 355.000 338.289 297.754 281.123 2 Mempertahan kan kawasan

hutan tetap seluas 1.069.997,78 Ha

Target

Realisasi 1.069.997,78 1.069.997,78 1.069.997,78 1.069.997,78 1.069.997,78 1.071.722,83 1.071.722,83 1.071.722,83 1.071.722,83 1.071.722,83 3 Operasionalisasi Kesatuan

Pengelolaan Hutan (KPH) Realisasi Target 1 1 3 8 3 8 12 3 12* 3 4 Membentuk MKKHD Target

Realisasi 0 0 1 1 3 3 3 3 4** 3

Ket: *) Termasuk KPH Kabupaten yang kewenangan pengelolaannya berada pada Pemerintah Kabupaten.

**) MKKHD Tatar Sepang, MKKHD Tambora, MKKHD Parado dan ODTW Gunung Sasak

Pencapaian pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan tersebut dicapai melalui kegiatan:

1. Menurunkan Luas Lahan Kritis ( ≤ 507.778,17 Ha )

Untuk menurunkan luas lahan kritis, upaya yang telah dilakukan adalah melalui :

(22)

(a) Program pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dengan kegiatan pemanfaatan kawasan hutan tanaman, pengembangan hasil hutan bukan kayu & jasa lingkungan, pengembangan aneka usaha kehutanan pada wilayah KPH Rinjani Barat,

(b) Program rehabilitasi hutan dan lahan dengan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan melalui pembibitan tanaman hutan, rehabilitasi dan pemantapan Taman Hutan Raya (Tahura), rehabilitasi hutan dan lahan pada daerah cathment area atau sumber mata air, kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan melalui pola silvopastura, pengembangan perbenihan tanaman hutan,

(c) Program peningkatan fungsi dan daya dukung Daerah Aliran Sungan (DAS) berbasis pemberdayaan masyarakat dengan kegiatan pengembangan perhutanan sosial, penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan reklamasi hutan di DAS prioritas, pembinaan penyelenggaraan pengelolaan DAS, pengembangan perbenihan tanaman hutan, pengadaan bibit Kebun Bibit Rakyat (KBR), pengadaan bibit penghijauan lingkungan, rehabilitasi mangrove, pembuatan persemaian bibit untuk masyarakat, reboisasi pengkayaan pada hutan konservasi, pembuatan hutan kota, persemaian permanen, kegiatan reklamasi hutan oleh perusahaan di areal pinjam pakai kawasan hutan, reboisasi pengkayaan pada hutan lindung dan produksi,

(d) Program peningkatan usaha kehutanan dengan kegiatan peningkatan usaha hutan tanaman, perencanaan pemanfaatan dan peningkatan usaha kawasan hutan dan kegiatan peningkatan usaha industri primer kehutanan.

2. Mempertahankan Kawasan Hutan Tetap ( 1.069.997,78 Ha) Untuk mempertahankan kawasan hutan tetap, upaya yang telah dilakukan adalah melalui :

(a) Program perlindungan dan konservasi sumberdaya hutan dengan kegiatan operasi pengamanan hutan lintas kab/kota,

(b) Program perencanaan dan pengembangan hutan dengan kegiatan orientasi batas kawasan hutan dalam rangka pemeliharaan batas, (c) Program rehabilitasi hutan dan lahan dengan kegiatan rehabilitasi dan

(23)

(d) Program pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dengan kegiatan pengembangan, pengujian dan pengendalian peredaran hasil hutan, (e) Program peningkatan usaha kehutanan dengan kegiatan peningkatan

tertib peredaran hasil hutan dan iuran hasil hutan,

(f) Program perencanaan makro bidang kehutanan dan pemantapan kawasan hutan dengan kegiatan penyiapan pemantapan kawasan hutan, pengendalian penggunaan kawasan hutan, identifikasi dan inventarisasi permasalahan tenurial kawasan hutan,

(g) Program konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan hutan dengan kegiatan pengendalian kebakaran hutan, penyidikan dan pengamanan hutan

(h) Program penataan kawasan dengan kegiatan pemeliharaan batas kawasan konservasi, sosialisasi batas kawasan konservasi.

(i) Program penanganan tindak pidana kehutanan dengan kegiatan penyelesaian kasus hukum kejahatan kehutanan, pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan, operasi pengamanan hutan, penanganan perambahan dan penanganan pasca operasi perambahan dikawasan konservasi.

3. Operasionalisasi Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) ( 3 unit) Untuk operasionalisasi kesatuan pengelolaan hutan (KPH), upaya yang telah dilakukan adalah melalui :

(a) Program perencanaan makro bidang kehutanan dan pemantapan kawasan hutan dengan kegiatan pembangunan KPH,

(b) Program peningkatan usaha kehutanan dengan kegiatan perencanaan pemanfaatan dan peningkatan usaha kawasan hutan.

4. Terbentuknya Model Konservasi Keanekaragaman Hayati Daerah ( 3 lokasi )

Untuk terbentuknya model konservasi keanekaragaman hayati daerah, upaya yang telah dilakukan adalah melalui :

(a) Program perlindungan dan konservasi sumberdaya hutan dengan kegiatan pembangunan Model Konservasi Keanekaragaman Hayati Daerah (MKKHD),

(24)

(b) Program konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan hutan dengan kegiatan pengembangan kawasan konservasi, ekosistem esensial dan pembinaan hutan lindung.

Tabel 3.4. Total Anggaran dan Realisasi APBD Dinas Kehutanan Prov. NTB Tahun 2009-2013 NO PROGRAM/ KEGIATAN TOTAL 2009-2013 ANGGARAN (Rp) Realisasi Keu (Rp) % Fisik (%)

TOTAL BTL DAN BL (I + II) 59.417.679.433 54.957.222.667 92,49 99,38

I Belanja Tidak Langsung 36.574.690.123 33.846.725.824 92,54 100,00

II Belanja Langsung 22.842.989.310 21.231.116.338 92,94 98,73

1 Program pelayanan administrasi perkantoran 2.408.143.900 2.296.685.199 95,37 99,60

- Penyediaan jasa surat menyurat 22.605.000 17.950.254 79,41 100,00 - Penyediaan jasa komunikasi; sumberdaya air dan listrik 369.400.000 318.352.235 86,18 96,00 - Penyediaan jasa administrasi keuangan 350.903.500 346.161.944 98,65 100,00 - Penyediaan jasa kebersihan kantor 155.504.000 155.501.966 100,00 100,00 - Penyediaan alat tulis kantor 97.137.100 95.325.512 98,14 100,00 - Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan kantor 17.000.000 16.999.100 99,99 100,00 - Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor 112.583.000 108.207.835 96,11 79,80 - Penyediaan bhn bacaan & peraturan perundang-undangan 78.175.000 70.689.620 90,42 99,80 - Penyediaan makanan dan minuman 34.678.000 32.535.600 93,82 100,00 - Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah 595.655.000 580.357.794 97,43 100,00 - Penyediaan jasa administrasi dan teknis perkantoran 526.863.300 507.107.804 96,25 100,00 - Penyediaan barang cetakan dan penggandaan 16.140.000 16.067.890 99,55 100,00 - Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke dalam daerah 31.500.000 31.424.850 99,76 100,00

2 Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur 1.507.863.500 1.390.349.296 92,21 99,80

- Pemeliharaan rutin/ berkala kend. dinas/ operasional 1.194.478.000 1.094.752.987 91,65 99,60 - Pemeliharaan rutin/ berkala peralatan kantor 306.385.500 288.586.228 94,19 100,00 - Pemeliharaan rutin/ berkala meubelair 7.000.000 7.000.000 100,00 100,00

3 Program peningkatan disiplin aparatur 272.472.500 266.151.091 97,68 100,00

- Pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya 272.472.500 266.151.091 97,68 100,00

4 Program peningkatan kapasitas sumberdaya aparatur 404.679.000 344.760.352 85,19 97,50

- Pembinaan , pengendalian dan pengawasan kepegawaian 248.750.000 229.807.115 92,38 100,00 - Bimbingan dan pelatihan olah raga aparatur 1.800.000 1.800.000 100,00 100,00 - Pelatihan dan pendidikan formal 4.750.000 - - - - Pembinaan mental dan fisik aparatur 5.600.000 4.099.760 73,21 100,00 - Peningkatan iman dan taqwa aparatur 34.300.000 27.459.450 80,06 100,00 - Peningkatan keterampilan dan profesionalisme 6.000.000 2.400.000 40,00 100,00 - Pengembangan sistem informasi manajemen daerah 4.000.000 4.000.000 100,00 100,00 - Penyebarluasan informasi pembangunan daerah 48.479.000 32.849.370 67,76 100,00 - Penilaian kinerja SKPD 1.000.000 - - - - Peningkatan SDM aparatur 50.000.000 42.350.000 84,70 100,00

5 Prog peningkatan pengemb sistem pelaporan capaian

kinerja & keuangan 374.474.500 354.350.906 94,63 100,00

- Peningkatan pengawasan dan pengendalian keuangan 78.445.000 78.215.554 99,71 100,00 - Peny lap. capaian kinerja & ikhtisar realisasi kinerja SKPD 6.750.000 5.250.150 77,78 100,00 - Penyusunan Rencana Kinerja (RENJA) 20.100.000 20.100.000 100,00 100,00 - Peningkatan manajemen aset barang daerah 58.620.000 49.457.694 84,37 100,00 - Penyusunan RKA dan DPA SKPD 41.629.500 41.629.500 100,00 100,00 - Peningkatan tertib inventaris barang daerah 138.730.000 129.776.202 93,55 100,00

(25)

NO PROGRAM/ KEGIATAN TOTAL 2009-2013 ANGGARAN (Rp) Realisasi Keu (Rp) % Fisik (%)

- Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun 21.800.000 21.520.960 98,72 100,00 - Penyusunan dokumen pelaporan akuntabilitas SKPD 8.400.000 8.400.000 100,00 100,00

6 Program pemanfaatan potensi sumberdaya hutan 2.261.063.650 2.035.638.713 90,03 97,00

- Pengembangan hutan tanaman 353.849.250 302.052.578 85,36 95,00 - Pengelolaan dan pemanfaatan hutan 18.129.000 18.118.123 99,94 100,00 - Pengemb pengujian & pengendalian peredaran hasil hutan 221.410.000 204.918.698 92,55 100,00 - Pengendalian produksi hasil hutan 38.696.000 37.980.130 98,15 100,00 - Inventarisasi potensi KPH Rinjani Barat 64.895.000 62.325.158 96,04 100,00 - Inventarisasi hutan tanaman di KPH lintas Kab/ Kota 96.475.000 87.512.473 90,71 100,00 - Penyebarluasan informasi kehutanan 55.039.000 14.976.112 27,21 50,00 - Inventarisasi potensi KPH Batulanteh 117.591.250 115.333.498 98,08 100,00 - Penyusunan data dan informasi KPH 68.300.000 65.397.250 95,75 100,00 - Pengembangan HHBK & jasling 302.515.000 275.011.627 90,91 97,00 - Pengemb aneka usaha kehutanan pd wil KPH Rinbar 143.500.000 115.287.900 80,34 100,00 - Pemanfaatan kawasan hutan tanaman 19.110.000 19.035.471 99,61 100,00 - Pengemb. aneka usaha kehutanan pada wilayah KPH 761.554.150 717.764.786 94,25 100,00

7 Program rehabilitasi hutan dan lahan 12.344.260.816 11.616.591.609 94,11 99,84

- Pembuatan bibit/benih tanaman kehutanan 3.422.655.850 3.250.789.284 94,98 100,00 - Rehabilitasi dan pemantapan kawasan hutan raya 238.044.500 232.221.142 97,55 100,00 - Pembuatan demplot penanaman mangrove 419.144.500 408.873.242 97,55 100,00 - Rehabilitasi hutan dan lahan melalui RSMA 1.459.518.816 1.425.904.500 97,70 100,00 - Pemberdayaan masy hutan melalui keg silvopasture 1.160.528.750 1.087.760.504 93,73 99,33 - Rehabilitasi hutan dan lahan melalui kegiatan KIM 263.913.750 239.467.066 90,74 100,00 - Pengembangan benih tanaman kehutanan 301.275.000 259.804.683 86,24 100,00 - Pengemb. aneka usaha kehutanan HHBK & jasling 308.869.000 284.937.300 92,25 100,00 - Pemb. model konservasi keanekaragaman hayati daerah 1.227.810.800 1.171.699.846 95,43 100,00 - Fasilitasi pemberdayaan masy dlm pengemb. HHBK 210.230.000 165.303.849 78,63 93,75 - Pengembangan hutan tanaman 41.322.000 35.326.178 85,49 100,00 - Pengemb. aneka usaha kehutanan pada wil KPH Rinbar 187.219.000 180.834.832 96,59 100,00 - Rehab hutan dan lahan melalui pembibitan tanaman hutan 778.900.000 752.728.960 96,64 100,00 - Rehabilitasi dan pemantapan Taman Hutan Raya 1.883.435.850 1.691.479.019 89,81 100,00 - Rehabilitasi hutan dan lahan pada cathment area & RSMA 205.266.000 195.823.764 95,40 100,00 - Rehabilitasi hutan dan lahan melalui pola sylvopasture 236.127.000 234.208.844 99,19 100,00

8 Program perlindungan dan konservasi sumberdaya

hutan

1.309.146.000 1.080.200.697 82,51 95,00

- Operasi pengamanan hutan lintas daerah 638.228.000 480.621.720 75,31 91,67 - Operasi pengamanan hutan partisipatif 215.100.000 149.804.910 69,64 100,00 - Pemb, Model Konservasi Keanekaragaman Hayati Daerah 455.818.000 449.789.250 98,68 100,00

9 Program perencanaan dan pengembangan hutan 1.871.760.344 1.761.035.795 94,08 100,00

- Pengukuran garis ikatan ke jaringan titik control 270.980.000 268.888.469 99,23 100,00 - Penyusunan rencana pembangunan kehutanan 999.031.344 926.913.577 92,78 99,17 - Penyusunan draft Raperda bidang kehutanan 75.418.000 74.618.569 98,94 100,00 - Fasilitasi legalisasi batas kelola HKm 186.885.000 183.309.240 98,09 150,00 - Penyusunan peraturan hukum bidang kehutanan 109.290.000 82.606.274 75,58 100,00 - Penyusunan rencana pengelolaan hutan 30.250.000 30.059.425 99,37 100,00 - Penyebarluasan informasi kehutanan 115.950.000 112.022.030 96,61 100,00 - Orientasi bts kwsan htn dlm rangka pemeliharaan bts 83.956.000 83.956.000 100,00 100,00

10 Program peningkatan partisipasi masyarakat 79.125.100 74.440.894 94,08 100,00

- Sosialisasi kebij dlm rangka peningktn partisipasi masy 55.697.800 53.364.062 95,81 100,00 - Koordinasi & konsultasi prog pemberd masy. pedesaan 8.000.000 5.943.200 74,29 100,00 - Pembinaan, monev program pemberd masy pedesaan 15.427.300 15.135.724 98,11 100,00

(26)

NO PROGRAM/ KEGIATAN TOTAL 2009-2013 ANGGARAN (Rp) Realisasi Keu (Rp) % Fisik (%)

11 Program koordinasi dan sinergi dengan Kab/ Kota 10.000.000 9.670.000 96,70 100,00

- Pembinaan pembangunan ekonomi Kabupaten/ Kota 10.000.000 9.670.000 96,70 100,00

Uraian capaian program dan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Program pemanfaatan potensi sumberdaya hutan

Dinas Kehutanan Provinsi NTB melaksanakan berbagai kegiatan untuk mendukung program Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan antara lain melalui :

a. Pengembangan Hutan Tanaman

Dalam kurun waktu 2009-2013, Dinas Kehutanan Provinsi NTB telah membangun Hutan Tanaman Cadangan Pangan dan Energi (HTCPE) seluas 50 Ha di wilayah Kabupaten Lombok Tengah dengan jenis tanaman berupa lamtoro, mahoni, gamal dan nangka. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan kegiatan pemeliharaan pada tahun 2010-2013. Pada Tahun 2010 juga dilaksanakan kegiatan pemeliharaan I terhadap tanaman unggulan campuran di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat. Sebagai kegiatan pendukung, pada Tahun 2009 s/d 2013 telah dilaksanakan bimbingan teknis sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini difokuskan pada areal-areal pembangunan hutan tanaman baik berupa Hutan Tanaman Cadangan Pangan dan Energi (HTCPE), Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang berada di 5 kabupaten/kota yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa dan Dompu. Materi yang umumnya disampaikan adalah terkait dengan penanganan produk pasca panen, penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kerja Usaha (RKU) kelompok serta pengembangan koperasi kelompok tani yang sudah ada.

Dari target pembangunan HTI seluas 24.000 Ha, Dalam kurun waktu 2009-2013, Dinas Kehutanan Provinsi NTB berhasil mendorong masuknya investor yang bergerak di pembangunan hutan tanaman yaitu PT. Usaha Tani Lestari dengan luas izin 22.820 Ha, PT. Koinesia dengan

(27)

luas izin 41.960 Ha dan PT. Sadhana Arif Nusa dengan luas izin 3.810 Ha.

Di Provinsi NTB, kawasan Hutan Produksi yang dicadangkan untuk pembangunan HTR seluas 4.396 ha. Dari luasan tersebut, yang telah dibebani Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR) adalah seluas 1.728,81 Ha. Jika dibandingkan dengan Tahun 2011, terdapat penambahan luas areal HTR yang sudah memiliki izin yaitu seluas 492,27 Ha. Penambahan areal ini berada di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Jumlah luas areal HTR yang sudah berijin, sampai dengan Tahun 2012 mencapai kurang lebih 39 % dari luas areal yang telah dicadangkan.

Masing-masing lokasi HTI memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi yang apabila tidak dilakukan pengawasan yang ketat akan menimbulkan masalah di kemudian hari. HTI yang berada di Kabupaten Dompu dan Bima tampak tidak terawat dan ditinggal oleh pengelolanya. Informasi yang diperoleh di lapangan, bahwa permasalahan utamanya adalah terkait modal perusahaan. Sedangkan lokasi HTI di Pulau Lombok, permasalahan utama adalah resistensi dari masyarakat sekitar areal HTI terhadap keberadaan perusahaan “kayu” di sekitar mereka. Dibutuhkan sosialisasi dan pendekatan yang intensif dari pihak pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) demi menghindari konflik antara masyarakat setempat dan perusahaan.

b. Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan

Dalam rangka mendukung upaya pengelolaan dan pemanfaatan hutan, Dinas Kehutanan Provinsi NTB memandang perlu untuk melakukan penyebarluasan informasi mengenai berbagai kegiatan dan hasil-hasil kegiatan serta produk yang dihasilkan dari kegiatan di bidang kehutanan. Dalam kurun waktu Tahun 2009-2013, Dinas Kehutanan telah melaksanakan sosialisasi rencana aksi pembangunan kehutanan “NTB Hijau” di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok masing-masing 1 kali dan mengikuti Pameran NTB Expo sebanyak 3 kali pada Tahun 2009 dan 2010. Selain itu, Dinas Kehutanan Provinsi NTB juga melaksanakan promosi sampai ke tingkat nasional pada Tahun 2010.

(28)

Terkait dengan pemanfaatan hutan, Dinas Kehutanan Provinsi NTB berhasil mendorong masuknya investasi di bidang pengelolaan hasil hutan kayu pada hutan alam yaitu atas nama PT. Agro Wahana Bumi (AWB) dengan luasan 28.644 Ha. Saat ini perusahaan tersebut sedang melaksanakan penyusunan Rencana Kerja Usaha (RKU).

Dalam kurun waktu Tahun 2009-2013, jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang diterima dari kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan cenderung mengalami penurunan. Penurunan tersebut disebabkan karena menurunnya jumlah produksi kayu dari areal Ijin Pemanfaatan kayu (IPK) yang selama ini menjadi penyumbang terbesar PNBP dari sektor kehutanan di Provinsi NTB.

Namun demikian, jika mengacu kepada indikator kinerja utama Kementerian Kehutanan dimana diharapkan terjadi peningkatan jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 10 % dalam kurun waktu 5 tahun (2009 – 2013 ), jumlah PNBP Tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 205 % jika dibandingkan dengan Tahun 2009. Hal ini jauh di atas target Kementerian Kehutanan yaitu 10 % (2 % per tahun). Data rinci capaian PNBP dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebagai berikut :

Tabel 3.5. Penerimaan Negara Bukan Pajak Tahun 2009-2013

Tahun DR Tahun PSDH 2009 596.126.350,00 2009 237.462.002,00 2010 444.540.421,18 2010 112.326.095,00 2011 2.244.523.174,64 2011 946.391.878,00 2012 2.363.225.174,61 2012 847.797.809,00 2013 1.309.000.015,03 2013 399.035.256,00 6.957.415.135,46 2.543.013.040,00

Sumber : Laporan Kinerja Dinas Kehutanan Provinsi NTB Tahun 2012 Adapun persentase PNBP di atas, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sebagai berikut :

Tabel 3.6. Perbandingan PNBP kurun waktu 2009-2013 Tahun dibanding tahun Persentase

sebelumnya (%) Tahun Persentase dibanding tahun sebelumnya (%) 2009 0 2009 0 2010 74,57 2010 47,30 2011 504,91 2011 842,54 2012 105,29 2012 89,58 2013 55,39 2013 47,07 2009-2013 219,58 2009-2013 168,04

(29)

c. Pengembangan Pengujian dan Pengendalian Peredaran Hasil Hutan Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam kurun waktu 2009-2013 telah melaksanakan Diklat Pengukuran dan pengenalan jenis kayu rakyat sebanyak 1 angkatan yaitu 40 orang. Selain itu, pada Tahun 2012 mendapatkan dukungan dari Kementerian Kehutanan sebanyak 1 angkatan 40 orang dan dari Lembaga Swadaya Masyarakat SAMANTA 2 angkatan sebanyak 60 orang. Selain itu Dinas Kehutanan Provinsi NTB mendapatkan dukungan dari BP2HP Wilayah IX Denpasar sebanyak 98 orang, sehingga total Kepala Desa/Lurah yang telah mendapatkan pembekalan sebanyak 238 orang. Dari sejumlah itu, sudah ada 140 orang yang mendapatkan penetapan sebagai penerbit SKAU dari Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota.

Dalam rangka pengembangan pengujian dan pengendalian peredaran hasil hutan, Dinas Kehutanan Provinsi secara rutin setiap tahunnya melaksanakan pengawasan penggunaan SKSKB, pemantauan peneriaan iuran kehutanan, pembinaan terkait pelaporan pejabat PUHH. Dalam kegiatan ini juga dilaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknis setiap tahunnya dalam rangka antisipasi dinamika aturan dan kebijakan bidang pengolahan dan peredaran hasil hutan yang sangat dinamis.

d. Pengendalian Produksi Hasil Hutan.

Program ini dilakukan melalui monitoring dan evaluasi terhadap ijin-ijin pemanfaatan kayu baik yang berasal dari hutan negara maupun hutan rakyat. Data pada tabel jumlah produksi menunjukkan bahwa sebagian besar kayu yang dimanfaatkan berasal dari kayu rakyat. Kayu dari hutan negara hanya berasal dari 2 unit IPK Pinjam Pakai yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat yaitu IPK PT. Newmont Nusa Tenggara dan IPK Bintang Bano. Pada Tahun 2010 dan 2011, Dinas Kehutanan Provinsi mendorong terbentuknya 2 (dua) unit industri primer hasil hutan kayu yang juga bertempat di Kabupaten Sumbawa Barat atas nama CV. Veneeria dan HM. Syafi’i dengan kapasitas produksi sampai dengan 2.000 m3/tahun.

Pengendalian produksi hasil hutan juga dilakukan dengan pengawasan terhadap pembuatan dan pengesahan Laporan Hasil Produksi pada masing-masing IPK. Setiap tahun dilakukan penetapan Pembuat Laporan Hasil Produksi pada masing-masing IPK. Selanjutnya,

(30)

terhadap pelaksanaan penebangan di areal IPK tersebut dilakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penatausauhaannya.

Sejak akhir Tahun 2012, dengan terbitnya Permenhut Nomor : P.30/Menhut-II/2012 tentang Penatausahaan Hasil Hutan Yang Berasal Dari Hutan Hak, tidak ada lagi data perijinan kayu rakyat karena dalam aturan tersebut disebutkan bahwa dalam pemanfataan kayu rakyat tidak diperlukan perijinan. Dari hasil identifikasi potensi bahan baku yang dilaksanakan di Pulau Lombok pada Tahun 2012, diketahui bahwa terdapat 27 jenis pohon yang berpotensi menghasilkan bahan baku dengan rata-rata potensinya berkisar antara 26 m3 s/d 66 m3 per hektarnya. Lokasi pengembangan hutan rakyat berada pada lahan kebun, penggir jalan, halaman rumah, pinggir kali dengan luas bervariasi antara 0,1 s/d 1,2 Ha.

e. Inventarisasi Potensi KPH

Untuk melengkapi data potensi sumber daya alam yang ada di kawasan hutan dalam rangka mendukung pembangunan KPH, Dinas Kehutanan Provinsi NTB telah melaksanakan inventarisasi potensi pada areal KPH Rinjani Barat, KPH Mareje Aik Bukak, KPH Batulanteh dan KPH Lintas kabupaten/kota. Masing-masing kegiatan inventarisasi telah tersusun dalam bentuk dokumen Laporan Hasil inventarisasi. Dari hasil inventarisasi diperoleh data bahwa kondisi areal pada KPH-KPH tersebut masih cukup baik dengan keragaman potensi bukan hanya berupa kayu, melainkan juga non kayu dan jasa lingkungan. Selain itu, ditemukan beberapa tegakan jenis tanaman tertentu yang secara teori bukan merupakan jenis tanaan endemik wilayah nusa tenggara misalnya meranti dan tengkawang. Keberadaan tegakan tersebut dapat diarahkan untuk pengembangan sumber tegakan benih yang dapat dijadikan sebagai alternatif jenis tanaman yang bisa dikembangan di hutan negara.

2. Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Berdasarkan progres fisik pembangunan kehutanan dari Tahun 2009 s/d 2013, dalam kurun waktu tersebut Dinas Kehutanan Provinsi NTB telah melaksanakan pembuatan bibit/benih tanaman kehutanan sebanyak 5.554.500 batang melalui pola konvensional sebanyak 1.245.000 batang,

(31)

bibit bakti sosial di Pulau Sumbawa sebanyak 780.000 batang, penguatan kelembagaan ponpes sebanyak 2.140.000 batang, ujicoba pot tray sebanyak 1.500 batang, pembuatan persemaian semi permanen sebanyak 855.000 batang, ujicoba anakan tanaman unggulan NTB sebanyak 33.000 batang dan persemaian trembesi 500.000 batang.

Kegiatan rehabilitasi dan pemantapan kawasan hutan raya dilakukan melalui pemeliharaan satwa berupa rusa sebanyak 8 ekor dan pembelian rusa 1 ekor, penanaman baru tanaman langka seluas 8 ha, pemeliharaan tanaman tahun I dan II, penanaman pada arboretum seluas 10 ha, penataan trayek batas sepanjang 120 km, reboisasi pada kawasan Tahura seluas 600 ha, pemeliharaan tanaman seluas 900 ha dan pembangunan sarana prasarana di areal Tahura dan penyusunan desain tapak pada Tahun 2013.

Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam kurun waktu 2009-2012 melakukan penanaman mangrove dalam bentuk demplot seluas 45 Ha yang ditindaklanjuti dengan kegiatan pemeliharaan I dan II pada lokasi yang sama. Pemberdayaan masyarakat dilakukan terhadap 7 kelompok tani hutan mangrove melalui pelatihan persemaian dan penanganan produksi mangrove.

Terhadap sumber mata air, dilaksanakan rehabilitasi melalui penanaman baru seluas 400 ha di 7 kabupaten yang diikuti dengan pemeliharaan I dan II. Selain itu, Dinas Kehutanan Provinsi NTB membangun kantong air di wilayah-wilayah sekitar mata air yaitu 8 unit di Pulau Lombok dan 7 unit di Pulau Sumbawa.

Dinas Kehutanan Provinsi melaksanakan Kampanye Indonesia Menanam (KIM) sebanyak 3 kali pada Tahun 2009-2011 bertempat di Kabupaten Dompu. Sejak Tahun 2012, kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Badan Koordinasi Penyuluh Provinsi NTB.

Selain itu, dilaksanakan pengembangan benih tanaman kehutanan melalui identifikasi pohon induk sebagai sumber benih unggul di 20 lokasi yang didukung dengan sosialisasi perbenihan bagi kelompok sumber benih di Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, Sumbawa, Dompu dan Bima.

Pengembangan aneka usaha kehutanan berupa pengembangan HHBK dan jasa lingkungan berupa pembuatan demplot sukun seluas 30 Ha di Kabupaten Dompu dan Lombok Barat, Demplot nyamplung 30 Ha di Kabupaten Dompu dan Lombok Barat yang diikuti dengan kegiatan

(32)

pemeliharaan I namun tidak dilakukan Pemeliharaan II karena , pengembangan kelompok usaha HKm untuk 2 kelompok tani di Lombok Tengah, pembinaan kelompok tani madu hutan di 8 kabupaten/kota Se NTB. Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dilakukan melalui penanaman bambu seluas 20 Ha dan rumput ketak seluas 5 Ha, penyediaan alat pengukur kadar air madu sebanyak 5 unit di sentra penghasil madu, pemberian bantuan bibit jenis buah-buahan misalnya nangka, durian, sukun dan tanaman kehutanan berupa mahoni dan sengon serta pelatihan pengolahan produk HKm untuk 12 kelompok tani.

Selain itu, Dinas Kehutanan Provinsi NTB juga melakukan pengembangan aneka usaha kehutanan di wilayah KPH Rinjani Barat berupa penanaman bambu seluas 10 ha yang telah dilakukan pemeliharaan tahun I, penanaman rumput ketak di wilayah Lombok Barat seluas 30 ha disertai dengan pemeliharaan tahun I, serta penanaman pandan seluas 5 ha untuk mendukung pengembangan industri kreatif di bidang pariwisata. Selain itu, terdapat kegiatan RHL dengan proporsi tanaman karet 75 % dan sengon 25 % seluas 75 ha. Dalam rangka mendukung kegiatan tersebut, Dinas Kehutanan Provinsi NTB melengkapi dengan pengadaan kendaraan roda 2 untuk tenaga pengamanan hutan dan penyuluh kehutanan sebanyak 9 unit, kendaraan roda 3 untuk distribusi bibit sebanyak 6 unit.

Dalam kurun waktu Tahun 2009-2013, untuk mendukung kegiatan rehabilitasi telah dilaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat kepada 242 unit kelompok masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. kegiatan ini dilakukan melalui pelatihan pembuatan persemaian dan penanganan pasca panen antara lain melalui pembuatan bibit 68 kelompok, rehabilitasi areal taman hutan raya 23 kelompok, pembuatan demplot tanaman mangrove 37 kelompok, rehabilitasi sumber mata air 35 kelompok, silvopastura 17 kelompok, pengembangan benih tanaman kehutanan 25 kelompok, pengembangan Aneka Usaha Kehutanan (AUK) dan Jasling 30 kelompok, pembangunan MKKHD 20 kelompok dan pengembangan AUK pada areal KPH Rinjani Barat sebanyak 7 kelompok.

Berdasarkan memori serah terima jabatan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB, diperoleh data bahwa terlihat dampak dari kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan pada catchment area melalui berbagai sumber dana menampakkan keberhasilan dengan munculnya sumber mata air baru di dalam kawasan hutan sebanyak 155 mata air.

(33)

3. Program Perlindungan dan konservasi Sumber Daya Hutan Program ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan operasi pengamanan hutan lintas daerah setiap tahunnya di seluruh kabupaten/kota se NTB. Dalam rangka peningkatan kapasitas, petugas Polhut juga diikutsertakan dalam pelatihan menembak bagi 63 orang dalam kurun waktu 5 tahun. Terkait dengan batas kelola Tahura yang belum jelas sehingga diperlukan pemantapa kawasan Tahura melalui koordinasi dan sinkronisasi dengan berbagai pihak, pada tanggal 31 Januari 2013 telah dilakukan rapat pembahasan trayek Tahura yang menghasilkan “Piagam Kesepakatan” yang antara lain berisi kesanggupan masyarakat untuk turut serta dalam kegiatan pengelolaan hutan khususnya areal Tahura bersama pemerintah.

4. Program Perencanaan dan Pengembangan Hutan

Dalam rangka menjaga kepastian letak batas-batas kawasan hutan, Dinas Kehutana Provinsi NTB telah melaksanakan pengikatan pal batas ke jaringan titik kontrol sepanjang 185 km yaitu Kabupaten Dompu 65 km dan Kabupaten Bima 120 km. sebagai langkah antisipasi terhadap kerawanan sumber bencana, pada Tahun 2009 telah dilaksanakan identifikasi kawasan hutan sumber bencana di 20 lokasi yang berada di dalam kawasan hutan.

Selain itu, untuk keperluan perencanaan dan pengembangan hutan, areal HKm di Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur telah dilakukan penataan batas lokasinya. Sebagai pendukung kegiatan, telah dilakukan pemberdayaan terhadap masyarakat pada Tahun 2009 dan 2010 sebanyak 4 kelompok.

Dalam kurun waktu 2009-2013, Dinas Kehutanan Provinsi NTB secara rutin setiap tahunnya melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pembangunan kehutanan di 9 kabupaten/kota, penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD, Laporan Kinerja setiap tahunnya.

Selain itu, setiap tahunnya secara rutin dilaksanakan rapat evaluasi, ,rapat Musrenbanghutda dengan melibatkan seluruh UPT Kementerian Kehutanan RI yang bertempat di NTB dan yang bertempat di Bali namun wilayah kerjanya sampai ke NTB serta Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota se NTB. Dalam pertemuan ini dibahasa realisasi dan kemajuan program dan kegiatan bidang kehutanan yang dilaksanakan oleh masing-masing instansi

(34)

serta rencana kegiatan ke depan. Hal in penting sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih kegiatan dan lokasi dari masing-masing instansi.

Pelaksanaan program ini juga dilakukan melalui penyusunan draft rancangan peraturan daerah terkait dengan bidang kehutanan antara lain terkait dengan pengendalian industri. Hasilnya adalah berupa penerbitan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 46 Tahun 2010 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Gubernur NTB kepada Bupati/Walikota se NTB untuk penerbitan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IUIPHHK) kapasitas produksi sampai dengan 2.000 m3/tahun.

Selain itu, telah diinisiasi penyusunan rancangan peraturan daerah terkait dengan tata niaga kayu bakar dan peraturan gubernur tentang sumbangan pihak III hasil pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan pada KPH Rinjani Barat. Penyusunan berbagai rancangan aturan daerah ini telah dilakukan konsultasi publik ke seluruh kabupaten/kota se NTB.

Pada tahun 2010 s/d 2012 Dinas Kehutanan Provinsi NTB memfasilitasi pelaksanaan penentuan legalisasi batas kelola HKm yaitu seluas 500 ha di Sesaot-Lombok Barat, 20 km di Kabupaten Bima dan 895 ha di Kabupaten Bima. Pada kawasan hutan di Kabupaten Dompu dan Bima dilakukan orientasi batas kawasan hutan sepanjang 120 km.

Dalam rangka penyebarluasan informasi dan penggalian ide, permasalahan, rencana program dan kegiatan telah dilaksanakan koordinasi pembangunan ekonomi bidang kehutanan dengan kabupaten/kota. Selain itu, Dinas Kehutanan Provinsi NTB turut serta dalam pameran pembangunan kehutanan pada Tahun 2013. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, berbagai program dan capaian hasil kegiatan dapat diketahui oleh berbagai pihak dalam rangka menggali gagasan-gagasan untuk pembangunan kehutanan ke depannya. Melalui kegiatan ini diharapkan tumbuh sinergitas antara program dan kegiatan pembangunan kehutanan yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi NTB dengan Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota se NTB.

Selain itu, dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan, dilaksanakan sosialisasi pembangunan kehutanan ke masing-masing kabupaten/kota se NTB termasuk melakukan evaluasi terkait dengan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pedesaan dengan fokus pada desa-desa yang berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan Negara.

Gambar

Tabel 2.1. Komposisi Pegawai Berdasarkan Golongan  GOLONGAN /
Tabel 2.2. Jumlah Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 2.3. Aset tidak bergerak
Tabel 2.5. Jenis Pelayanan dan Kelompok Sasaran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan beberapa kasus yang ada dan hasil penelitian dari kurun waktu 2015- 2020 tentang penindasan, hal tersebut terjadinya karena kurangnya pengetahuan mereka

keterlambatan perkembangan motorik sejak usia 8 bulan, dimana seharusnya pasien dapat melakukannya pada usia 6 bulan, pasien juga baru bisa merangkak saat usia 12

Mampu memasang, setting dan bekerja dengan infokus Responden cukup mampu dalam memanfaatkan fasilitas infokus untuk kepentingan kegiatan pembelajaran kepada peserta didik yang menjadi

Rencana Strategis (Renstra) 2015-2025 STKIP Muhammadiyah Kuningan 13 4) Peningkatan mutu pengabdian masyarakat yang lebih difokuskan pada upaya pemberdayaan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap responden dosen tetap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Membangun Bandung mengenai pengaruh kepuasan kerja

Ketika diaktivasi dalam tanggap pada kedaruratan, pengkaji radiologi akan mengevaluasi bahaya radiologi atau resiko yang berhubungan dengan hilangnya atau penemuan sumber

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara umur, fungsi kognitif, tingkat pendidikan, jenis kelamin, riwayat penyakit, status perkawinan dan status

Adapun hasil wawancara bersama Bapak Indrah Dehimeli pada tanggal 19 juni 2017 mengenai pemahaman dan amalan ibadah kaum muslimin, beliau mengatakan bahwa