• Tidak ada hasil yang ditemukan

Naskah Akademik. Penerbitan Mushaf Qur`an Shalat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Naskah Akademik. Penerbitan Mushaf Qur`an Shalat"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Naskah Akademik

Penerbitan Mushaf “Qur`an Shalat” Muqaddimah

Allah swt. telah berjanji menjaga al-Qur`an dan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang mau mempelajarinya. Allah swt. berfirman,

اَُِإ َُْنََ اَلَْؾَُْ ِّلا َؽْن اَُِإَو ُ َ ل َطـَى ْٔ ُغِفا َن

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya,” (QS. al-Hijr [18]: 9). ْػَلَىَو اَُْ َسََّي َنآْؽُلْىا ِّلِل ِؽْن ْوََٓذ ٌَِْ ٍؽِنَػٌُ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. al-Qamar [54]: 17).

Allah swt. menggerakkan hamba-hamba-Nya dari masa ke masa untuk melakukan terobosan dan inovasi demi menjaga al-Qur`an dan memudahkannya untuk dipelajari.

Setelah Rasulullah saw. wafat, Qur`an sudah terjaga dan tersimpan dalam dada para penghafal al-Qur`an, serta tercatat secara terpisah-pisah di atas kulit hewan, pelepah tanaman, lempengan batu, dll. Kemudian pada zaman Abu Bakar ash-Shiddiq, terjadi satu perang yang menyebabkan banyak para penghafal al-Qur`an gugur di medan jihad. Jika hal itu terus terjadi, dikhawatirkan al-Qur`an akan hilang. Akhirnya, diputuskan satu terobosan dan inovasi untuk menjaga al-Qur`an. Abu Bakar ash-Shiddiq memerintahkan agar semua catatan ayat-ayat al-Qur`an yang tersebar di atas kulit hewan, pelepah tanaman, lempengan batu, dikumpulkan kemudian disalin dan dihimpun dalam shuhuf (lembaran-lembaran).

Pada zaman Ustman bin Affan terjadi perselisihan akibat perbedaan qiraat yang hampir menyebabkan perpecahan umat. Akhirnya, diputuskan satu terobosan dan inovasi untuk menjaga al-Qur`an. Utsman bin Affan memerintahkan agar apa yang tertulis dalam shuhuf ditulis ulang menjadi mushaf. Kemudian mushaf tersebut diperbanyak dan dikirimkan ke kota-kota besar supaya menjadi standar dan rujukan bagi kaum Muslimin. Pada waktu itu, teks di dalam mushaf belum seperti sekarang ini, tanpa titik pada huruf hijaiyah dan tanpa harakat.

Setelah berbagai suku bangsa masuk Islam dan berbaur dengan orang-orang Arab, kemampuan berbahasa Arab pun melemah dari waktu ke waktu. Akibatnya, sering terjadi lahn atau kesalahan dalam membaca al-Qur`an. Kondisi semacam ini mendorong para ulama untuk membuat terobosan dan inovasi yaitu meletakkan tanda baca pada mushaf sehingga bisa memudahkan orang membaca dan menghindarkannya dari lahn.

(2)

Peletakan tanda baca pada mushaf pertama kali dilakukan oleh Abu al-Aswad ad-Du`ali. Saat itu masih sangat sederhana, yaitu dengan pemberian titik. Huruf berharakat fathah diberi satu titik di atas huruf. Huruf berharakat dhammah diberi satu titik di samping huruf. Huruf berharakat kasrah diberi satu titik di bawah huruf. Huruf bertanwin diberi tanda dua titik. Titik penanda ini disebut sebagai naqth i’râb.

Tanda baca ini terus digunakan hingga pada masa Abdul Malik bin Marwan. Saat itu banyak terjadi lahn. Salah satu penyebabnya karena belum ada tanda yang membedakan antara huruf-huruf yang mirip. Antara huruf ba, ta, tsa, ya, dan nun; dal dan dzal; ra dan zay; fa dan qaf; sin dan syin; shad dan dhad; tha dan zha`; tulisannya sama tidak ada yang membedakannya.

Atas perintah Abdul Malik bin Marwan melalui Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, dua ulama Iraq: Yahya bin Ya’mur dan Nashr bin Ashim membuat tanda pada huruf berupa titik yang bisa membedakan antara huruf-huruf yang mirip. Tanda untuk membedakan huruf ini disebut naqth i’jâm.

Naqth i’jâm ini terus digunakan hingga pada masa Dinasti Abbasiyah, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi mengadakan perbaikan dan penyempurnaan.Tanda baca yang dibuat oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi mengalami penyempurnaan waktu demi waktu hingga seperti yang kita gunakan saat ini. Pada awalnya tidak ada penomoran ayat dan pembagian juz, kemudian untuk memudahkan menghafal al-Qur`an dan untuk tujuan lainnya, para ulama memberikan penomoran pada ayat al-Qur`an dan membaginya menjadi 30 juz.

Semangat membuat terobosan dan inovasi demi menjaga dan memudahkan mempelajari al-Qur`an inilah yang mendorong lahirnya ide penerbitan mushaf “Qur`an Shalat”.

Deskripsi tentang Mushaf Qur`an Shalat

a. Definisi

Mushaf “Quran Shalat” adalah mushaf yang dilengkapi dengan alat penyangga semacam lekar berdiri, yang didesain khusus untuk bisa dibaca ketika sedang shalat.

b. Ukuran

Mushaf ini berukuran 38 x 30 cm, tebalnya 308 halaman.

c. Pemilihan nama

Sudah banyak beredar di masyarakat bermacam-macam mushaf yang dinamai sesuai dengan fungsi penggunaaannya. Di antaranya:

(3)

1. Mushaf “Qur`an Tajwid”, yaitu mushaf yang didesain untuk memudahkan orang membaca al-Qur`an secara benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid.

2. Mushaf “Qur`an Hafalan”, yaitu mushaf yang didesain untuk memudahkan orang menghafal al-Qur`an.

3. Mushaf “Qur`an Waqf Ibtida”, yaitu mushaf yang didesain untuk memudahkan mengetahu cara waqf (berhenti di tengah ayat) dan ibtida` (memulai lagi setelah berhenti di tengah ayat) dengan benar sesuai kaidah.

Mushaf-mushaf tersebut, sudah beredar di masyarat dan tidak ada yang mempermasalahkannya. Mushaf “Qur`an Shalat” ini dinamakan demikian karena didesain untuk memudahkan orang untuk bisa membaca al-Qur`an ketika sedang shalat. Sebagaimana dijelaskan para ulama dalam kitab hadits dan fiqih bahwa membaca al-Qur`an dalam shalat lebih utama daripada membaca al-Qur`an di luar shalat. Keutamaan ini mungkin selama ini hanya bisa diraih oleh para penghafal al-Qur`an. Namun, kini dengan mushaf “Qur`an Shalat”, semua orang insya Allah bisa meraih keutamaan tersebut.

d. Metode penggunaan

1. Mushaf “Qur`an Shalat” diletakkan di atas lekar dan diposisikan kurang lebih 120 cm di depan posisi kaki berdiri ketika shalat.

2. Tentukan surah dan ayat yang ingin dibaca ketika shalat. Buka halaman tempat surah dan ayat tersebut berada. Setelah membaca surah al-Fatihah, bisa langsung melihat mushaf “Qur`an Shalat” dan membacanya.

3. Mushaf “Qur`an Shalat” bisa dibaca oleh imam shalat ketika shalat berjamaah, atau dibaca oleh orang yang shalat sunnah sendirian.

4. Ada empat halaman yang bisa ditampilkan Mushaf “Qur`an Shalat”. Untuk shalat 2 rakaat, bisa membaca 2 halaman setiap rakaat. Untuk shalat 4 rakaat, bisa membaca 1 halaman setiap rakaat. 5. Mushaf “Qur`an Shalat” bisa diterapkan untuk program shalat Tarawih dengan bacaan setiap

malam satu juz. Dengan 20 rakaat shalat Tarawih, satu rakaat membaca 2 lembar, target bacaan satu juz satu malam bisa terpenuhi.

(4)

e. Tujuan

Sebagaimana telah dijelaskan dalam muqaddimah bahwa lahirnya ide penerbitan Mushaf “Qur`an Shalat” didasari oleh semangat berinovasi untuk menghadirkan kemudahan. Almahira berharap dengan adanya Mushaf “Qur`an Shalat”, kaum Muslimin akan mendapatkan kemudahan-kemudahan berikut ini:

1. Kemudahan menghidupkan sunnah Nabi saw. dan tradisi salaf saleh

Ada banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw., para sahabat, dan salaf saleh membaca ayat-ayat yang panjang ketika shalat. Di antaranya:

ََْخ ِػْتَخ ِللا َِْة ، ِبِئاَفلا « َ أَؽَك ّ ِبَِلْا َلّ َض ُللا ِّْيَيَؼ ًََيَـَو ٌُِِْْٔؤٍُلا َن ِف ، ِصْت ّطلا َتَّض اَذِإ َءاَس ُؽْنِذ ، َسَُٔم َنوُراََْو ْوَأ ُؽْنِذ َسيِؼ ُّْحَؼَعَأ ٌثَيْؽَـ َػَكَؽَف » . َ أَؽَكَو ُؽٍَُخ / ِف ِثَؽْنَؽلا َ لوُلأا ٍثَئاٍِِة ََيِ ْشِْؼَو ًثَيآ ٌََِ ،ِةَؽَلَلبا ِفَو ِثَيِجاَلثّا ٍةَرٔ ُفِب ٌََِ ِناَرٍَلا َ أَؽَكَو . ُفَِْضَلأا ِفَْٓهلاِة ِف ، لوَ ُلأا ِفَو ِثَيِجاَلثّا َف ُـُٔيِب ْوَأ َؿُنُٔي َؽَنَذَو ، َُُّأَ َلّ َض َػٌَ َؽٍَُخ َ ِضَر ُللا َُِّْخ َصْت ّطلا آٍَِِة َ أَؽَكَو . َُْبا ٍدُٔؽ ْفَم / َيِؽَبْرَأِة ًثَيآ ٌََِ ،ِلاَفْجَلأا ِفَو ِثَيِجاَلثّا ٍةَرٔ ُفِب ٌََِ ْا ِو َطَفٍُل

Diriwayatkan dari Abdullah bin as-Saib bahwa Nabi saw. membaca (surah) al-Mu`minûn ketika shalat Subuh, saat sampai pada ayat yang menyebutkan kisah Musa dan Harun atau Isa, beliau terbatuk lalu ruku’. Umar membaca 120 ayat surah al-Baqarah pada rakaat pertama dan membaca salah satu surah al-Matsânî (surah yang ayatnya kurang dari seratus) pada rakaat kedua. Sementara itu, al-Ahnaf membaca surah al-Kahfi pada rakaat pertama dan membaca surah Yûsuf atau Yunus pada rakaat kedua. Al-Ahnaf menyebutkan bahwa dia pernah shalat Subuh bersama Umar dengan membaca dua surah tersebut. Sementara itu, Ibnu Mas’ud membaca empat puluh ayat surah al-Anfâl dan pada rakaat kedua membaca salah satu surah al-Mufashshal (kumpulan surah mulai dari surah Muhammad sampai surah an-Nâs). (HR. al-Bukhari).

ََْخ َناَوْؽَم َِْة ًَِسَلحا ، َلاَك / َلاَك ِل ُػْيَز َُْب ٍجِةاَذ « / اٌَ َمَل ُ أَؽْلَت ِف ِبِؽْغٍَلا ،ٍرا َطِلِة ْػَكَو ُجْؽٍَِـ َ ِبَِلْا َلّ َض ُللا ِّْيَيَؼ ًََيَـَو ُ أَؽْلَح َ لٔ ُطِة ِ ْيَ َلَّٔطىا »

Diriwayatkan bahwa Marwan bin al-Hakam berkata, “Zaid bin Tsabit pernah berkata kepadaku, ‘Kenapa kaubaca surah-surah pendek ketika shalat Maghrib, padahal dulu aku mendengar Nabi saw. (ketika shalat Maghrib) membaca salah satu dari dua surah terpanjang (A’râf dan al-Mâ`idah)?!’” (HR. al-Bukhari). ََْخ َثَفْحَؼُض َلاَك / ُجْيَي َض َػٌَ ّ ِبَِلْا َلّ َض ُللا ِّْيَيَؼ ًََيَـَو ًثَيْ َلَ َصَخَخْذاَف ،َةَؽَلَلباْ ُجْيُلَذ / ُػَنْؽَي َػِِْؼ ،ِثَئاٍِْلا ، َضٍَََذ ُجْيُلَذ / ُػَنْؽَي َػِِْؼ ، ِ ْيَتَئاٍِْلا ، َضٍَََذ ُجْيُلَذ / ّلّ َطُي آَِة ِف ،ٍثَؽكَرْ ، َضٍَََذ َصَخَخْذاَف ،َءا َفّنّىا ،اََْأَؽَلَذ ًَُث َصَخَخْذا َلآ َناَؽٍِْؼ ،اََْأَؽَلَذ ُ أَؽْلَح ًلّـَ َتٌَُ اَذِإ َؽَم ٍثَيآِة آَيِذ ٌصيِبْفَت ، َصَتَـ اَذِإَو َؽَم ٍلاَؤُفِب ، َلَأَـ اَذِإَو َؽَم َؽَخِة ٍذّٔ َذََٔؽَت

(5)

Diriwayatkan bahwa Hudzaifah berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi saw. pada suatu malam. Beliau mengawali bacaan dengan surah al-Baqarah. Aku berkata (dalam hati), ‘(Mungkin) beliau akan ruku’ pada ayat keseratus.’ Ternyata beliau masih meneruskan bacaan. Aku berkata (dalam hati), ‘(Mungkin) beliau akan ruku’ pada ayat kedua ratus.’ Ternyata beliau masih meneruskan bacaan. Aku kembali berkata (dalam hati), ‘(Mungkin) beliau akan membaca surah al-Baqarah dalam satu rakaat.’ Ternyata beliau melanjutkan dengan membaca surah an-Nisâ, lalu surah Âli ‘Imran. Beliau membaca dengan tartil. Ketika melewati ayat tentang tasbih, beliau bertasbih; ketika melewati ayat tentang doa, beliau berdoa; ketika melewati ayat tentang meminta perlindungan, beliau meminta perlindungan.” (HR. an-Nasa`i).

Membaca surah-surah panjang ketika sedang shalat dulu hanya mungkin dilakukan oleh para penghafal al-Qur`an. Kini, dengan Mushaf “Qur`an Shalat” semua mendapat kemudahan untuk bisa membaca surah-surah panjang dalam shalat.

2. Kemudahan meraih keutamaan membaca al-Qur`an dalam shalat

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa membaca al-Qur`an di dalam shalat lebih utama dibandingkan membaca al-Qur`an di luar shalat, di antaranya:

ُباَة ِو ْغَف ِةَءاَؽِك ِنآْؽُلْىا ِف ِة َل َطلا ٍِِّّيَؽَتَو ََْخ ِبَأ ،َةَؽْيَؽُْ َلاَك / َلاَك ُلُٔـَر ِللا َلّ َض ُللا ِّْيَيَؼ ًََيَـَو « / ّبِ ُيَُأ ًُْزُػَضَأ اَذِإ َػَسَر َ لِإ ِِّيَْْأ ْنَأ َػَِيَ ِّيِذ َث َلَذ ٍتاَفِيَع ٍما َغِؼ ؟ ٍناٍَِـ » اَِْيُك / ،ًَْؽَج َلاَك « / ُث َلَرَذ ٍتاَيآ ُ أَؽْلَح ََِِٓة ًُْزُػَضَأ ِف ،ِِّح َل َض ٌْيَع ُ َ ل ٌَِْ ِث َلَذ ٍتاَفِيَع ٍما َغِؼ ٍناٍَِـ »

Bab Keutamaan Membaca al-Qur`an dalam Shalat dan (Keutamaan) Mempelajarinya

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Apakah kalian suka apabila ketika pulang menemui keluarga, kalian mendapatkan tiga ekor unta hamil yang besar dan gemuk?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Tiga ayat yang dibaca seseorang di antara kalian dalam shalatnya lebih baik daripada tiga ekor unta hamil yang besar dan gemuk,’” (HR. Muslim).

ََْخ َث َشِئ َعَ َ ِضَر ُللا ،آََِْخ َنَأ َ ِبَِلْا َلّ َض ُللا ِّْيَيَؼ ًََيَـَو / َلاَك « ُةَءاَؽِك ِنآْؽُلْىا ِف ِة َل َطلا ُو َغْفَأ ٌَِْ ِةَءاَؽِك ِنآْؽُلْىا ِف ِْيَد ِة َل َطلا ، ُةَءاَؽِكَو ِنآْؽُلْىا ِف ِْيَد ِة َل َطلا ُو َغْفَأ ٌََِ ِيِتْهَلتّا ِصيِبْفَتىاَو ، ُصْيِبْفَتىاَو ُو َغْفَأ ٌََِ ِثَكَػ َطلا ، ُثَكَػ َطلاَو ُو َغْفَأ ٌََِ ِمْٔ َطلا ، ُمْٔ َطلاَو ٌثَُِس ٌََِ ِراَلْا »

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Membaca al-Qur`an dalam shalat lebih utama daripada membaca al-Qur`an di luar shalat. Membaca al-Qur`an di luar shalat lebih utama daripada takbir dan tasbih. Tasbih lebih utama daripada sedekah. Sedekah lebih utama daripada puasa. Puasa adalah perisai yang melindungi dari azab neraka,” (HR. al-Baihaqi).

Dengan Mushaf “Qur`an Shalat”, kaum Muslimin dimudahkan untuk bisa membaca sebanyak mungkin ayat dalam shalat, sesuai dengan kemampuan masing-masing, walaupun belum menjadi penghafal al-Qur`an.

(6)

3. Kemudahan mengkhatamkan al-Qur`an dalam shalat

Saat ini sudah ada gerakan seperti One Day One Juz yang memotivasi masyarakat mengkhatamkan al-Qur`an dalam sebulan. Dengan Mushaf “Qur`an Shalat” ini diharapkan umat Islam bisa termotivasi dan dimudahkan untuk bisa mengkhatamkan al-Qur`an di dalam shalat.

Landasan Syar’i

Sebelum memutuskan untuk menerbitkan Mushaf “Qur`an Shalat”, Almahira sudah melakukan kajian dengan menelaah kitab-kitab fiqih 4 madzhab mengenai hukum membaca al-Qur`an ketika shalat, kesimpulannya:

1. Ulama Madzhab Syafi’i dan Hanbali membolehkan hal itu.

2. Ulama Madzhab Maliki mengatakan hal itu makruh dalam shalat fardu, tetapi tidak makruh dalam shalat sunnah.

3. Imam Abu Hanifah mengatakan hal itu membatalkan shalat karena memegang mushaf, melihatnya, dan membalikkan halamannya adalah termasuk gerakan-gerakan yang membatalkan shalat.

4. Imam Muhammad dan Imam Abu Yusuf dari Madzhab Hanafi mengatakan bahwa hal itu makruh jika dilakukan dengan maksud meniru-niru kebiasaan ahlulkitab.

Berikut ini nukilan dari kitab-kitab fiqih 4 madzhab mengenai masalah tersebut: 1. Madzhab Syafi’i ( ٌعْؽَف ) َْٔل َ أَؽَك َنآْؽُلْىا ٌَِْ ِفَط ْطٍُْلا ًَْل ْو ُطْتَت ُُّح َل َض ٌءأََـ َن َكَ ُّ ُغَفْ َيُ ْمَأ َ ل ْوَة ُبَِيَ ِّْيَيَؼ َمِلَذ اَذإ ًَْل ِظَفْ َيُ َثَ ِتِاَفْىا اٍََن َقَتَـ َْٔلَو َبَيَك َُّكاَرْوَأ اًُاَيْضَأ ِف ِِّح َل َض ًَْل ْو ُطْتَت ، َْٔلَو َؽ َغَج ِف ٍبُٔخْهٌَ ِْيَد ِنآْؽُلْىا َدَدَرَو اٌَ ِّيِذ ِف ِّ ِفْفَج ًَْل ْو ُطْتَت ُُّح َل َض ْنِإَو َلا َط َِْسَى ُهَؽْسُي َصَُ ِّْيَيَؼ ّ ِعِِفا َشلا ِف ِء َلْمِلْاْ َقَت ْطَأَو ِّْيَيَؼ ُباَط ْضلأاَ ْ َكَضَو ّ ِعِِفاَؽلا آًْسَو َنَأ َديِػَض ِؿْفَلْا اَذإ َلا َط َو َطْبَأ َة َل َطلا ََُْٔو ّذاَش ُرُٔٓ ْشٍَْلاَو َلْا ُمْؾ آَِخَط ِطِة َُّيَلَجَو ُظْي َشلا ُٔةَأ ٍػٌِاَض ََْخ ِّ ّطَُ ِف ِء َلْمِلْاْ اَؼََْو يِلاَ ُهاَُْؽَنَذ ٌَِْ َنَأ َةَءاَؽِلْىا ِف ِفَط ْطٍُْلا َ ل ُوِطْتُت َة َل َطلا اَُِتَْْؼٌَ ُبَْْؼٌََو ٍمِلاٌَ ِبَأَو َفُـُٔي ٍػٍََ ُمَُو َو َ أ َْح َػ ، َك َلا ُْٔةَأ َثَفيَِِض ُوِطْتُت َلاَك ُٔةَأ ٍؽْسَة ّيِزاَؽلا َداَرَأ اَذإ ًَْل ِظَفْ َيُ َنآْؽُلْىا َ أَؽَكَو اًيِرَن ِف ِفَط ْطٍُْلا اٌََأَف ْنإ َن َكَ ُّ ُغَفْ َيُ ْوَأ َ ل ُّ ُغَفْ َيُ َ أَؽَكَو اًي ِفَي ِثَيلْ َكَْ أَِْْنََوَ َلَف ُو ُطْتَت َزُخْضاَو ُ َ ل ََُُّأِة ُجاَخْ َيُ ِف َمِلَذ َ لإ ٍؽْهِف ٍؽ َغَجَو َمِلَذَو ٌوٍََخ ٌيِرَن اٍََكَو َْٔل َََلَيَح ٌَِْ ِهِ ْيَد ِف ِة َل َطلا َزَخْضاَو اَُِباَط ْضَأ َُُّأِةَ َتَأ ِةَءاَؽِلْىاِة اٌََأَو ُؽْهِفْىا ُؽ َغَلْاَو َلَف ُو ُطْتَت ُة َل َطلا ِقاَفّت ِلاِة اَذإ َن َكَ ِف ِْيَد ِفَط ْطٍُْلا ِّيِفَف َ لْوَأ َو اٌََأ ُيِلْيَلتّا ِف ِة َل َطلا َلَف آَُيِطْتُح اََُػِِْؼ َلِة ٍف َلِع . عٍٔشلما( حشر بؼٓلما ج يؤلْا ماٌلإل 4 ص 59 )ؽهفىا راد ،

(7)

2. Madzhab Hanbali [ ٌو ْطَف ّلّ َطُي ِساَلْاِة َماَيِلْىا ََُْٔو ُؽ ُغَِْح ِف ِفَط ْطٍُْلا ] ( 088 ) ٌو ْطَف / َلاَك ُػَ ْحَأ / َ ل َسْأَة ْنَأ َّلّ َطُي ِساَلْاِة َماَيِلْىا ََُْٔو ُؽ ُغَِْح ِف ِفَط ْطٍُْلا َويِر ُ َ ل / ِف ؟ِث َغيِؽَفْىا َلاَك / ،لَ ًَْل ْػٍَْـَأ ِّيِذ اًئْي َش . َلاَكَو ِضاَلْىا / ُهَؽْسُي ِف ، ِضْؽَفْىا َ لَو َسْأَة ِِّة ِف ِعّٔ َطَلتّا اَذإ ًَْل ، ْظَفْ َيُ ْنِإَف َن َكَ ا ًغِفاَض َهِؽُن ا ًغْيَأ . َلاَك ْػَكَو َوِئُـ ُػَ ْحَأ ََْخ ِثٌَاٌَِلْاْ ِف ِفَط ْطٍُْلا ِف ؟َنا َغَمَر َلاَلَذ / اَذإ َؽ ُط ْعُا َ لإ َمِلَذ . َُّيَلَج ّ َِعَل َُْب ،ٍػيِؽَـ ، ٌصِىا َضَو َُْباَو ٍرٔ ُطٌَِْ . َ ِكُضَو ََْخ َِْةا ٍػٌِاَض َنَأ ْفَلْا َو َضْؽَفْىاَو ِف َلْا ِزأَ ٌءأََـ . َلاَكَو ُْٔةَأ َثَفيَِِض ُو ُطْتَت ُة َل َطلا ِِّة اَذإ ًَْل َُْسَي ا ًغِفاَض ؛ ََُُّ ِلأ ٌوٍََخ ، ٌوئِ َط ْػَكَو ىَوَر ُٔةَأ ِؽْسَة َُْب ِبَأ ،دُواَد ِف ِباَخِن ِفِضا َطٍَْلا ِهِداَِْـِإِة ََْخ َِْةا ٍساَتَخ َلاَك اَُآََج ُيٌَِأ َيٌِِِْؤٍُْلا ْنَأ َمُؤَُ َساَلْا ِف ، ِفِضا َطٍَْلا ْنَأَو اٌََُِؤَي َ لإ ،ًٌِيَخْ ُمُ َيِوُرَو ََْخ َِْةا ِبّيَفٍُْلا َلحْاَو ، ََِف ،ٍػِْاَ ُمَُو ،ًَيِْاَؽْةِإَو َناٍَْيَيُـَو َِْة ،َثَي َغَِْض ، ِػيِبَؽلاَو ُثَْاَؽَن َمِلَذ . ََْخَو َـ ،ٍػيِؽ ْاَو ََِفَلح َ لاَك / ُدّدَؽُح اٌَ َمَؽٌَ ٌَِْ ِنآْؽُلْىا َ لَو ُ أَؽْلَت ِف ِفَط ْطٍُْلا . ِْلََلدّاَو ُو َ َعَ ِهِزأََس اٌَ ىَوَر ُٔةَأ ٍؽْسَة ،ُمَؽْذَ ْلأا َُْباَو ِبَأ دُواَد اٍَِِْداَِْـِإِة ََْخ َث َشِئ َعَ آََجأَ ْجََُكَ آَّمُؤَي ٌػْتَخ آََل ِف ِفَط ْطٍُْلا َوِئُـَو ّيِؽّْْؾلا ََْخ ٍوُسَر ُ أَؽْلَح ِف َنا َغَمَر ِف ِفَط ْطٍُْلا َلاَلَذ / َن َكَ اَُُراَيِع ْوُءَؽْلَح َن ِف ِفِضا َطٍَْلا َيِوُرَو َمِلَذ ََْخ ،ٍءا َطَخ َيْ َيَُو ّيِرا َطُْلأاَ ْ ََْخَو َلحْا ، ََِف ٍػٍََ ُمَُو ِف ِعّٔ َطَلتّا َنَ ِلأَو اٌَ َزاَس ُُّحَءاَؽِك اًؽِْا َع َزاَس ُهُيِغَُ َلحْ َكَ ، ِظِفا َ لَو ًُّي َفُن َنَأ َمِلَذ ُجاَخْ َيُ َ لإ ٍوٍََخ ، ٍوئِ َط ْنِإَو َن َكَ اًيِرَن ََُٔٓذ ٌو ِطَخٌُ ِج َطَخْعاَو ُثَْاَؽَهْىا ٍََِْة ُظَفْ َيُ ََُُّ ِلأ ُوِغَخ ْشَي َمِلَؼِة ََِؼ ُلْا ِعٔ ُش ِف ِة َل َطلا ِؽ َغَلْاَو َ لإ ِػ ِعَْٔم ِدُٔش ّفلا ِْيَغِى ٍثَساَض . َهِؽُكَو ِف ِضْؽَفْىا َ َعَ ؛ ِق َلْطِ ْلْا َنَ ِلأ َةَداَؽْىا َُُّأَ َ ل ُجاَخْ َيُ َ لإ َمِلَذ ْيِذ آَ ْجَطيِبُأَو ِف ِْيَد َِْيَؼَْ ِ ْيَؽ ِعٍَْْٔلا ِػ ِعٍَِْٔل َلحْا ِثَسا َ لإ ِعاٍََـ ِنآْؽُلْىا ِماَيِلْىاَو ِِّة اَو ُلل ًَُيْؼَأ . ) نيغلما ل ماٌلإ َةا ج ثٌاػك 1 ص 411 -414 ، )ةؽْالىا ثتخهم 3. Madzhab Maliki َلاَكَو ٌمِلاٌَ / َ ل َسْأَة ْنَأِة َمُؤَي ُماٌَِلْاْ ِساَلْاِة ِف ِفَط ْطٍُْلا ِف َنا َغَمَر ِفَو ِثَيِفاَلْا . َلاَك َُْبا ًِِـاَلْىا / َهِؽَكَو َمِلَذ ِف ِث َغيِؽَفْىا .

(8)

َلاَك َُْبا ٍبَْْو َلاَك َُْبا ٍبآَِش / َن َكَ اَُُراَيِع َنوُءَؽْلَح ِف ِفِضا َطٍَْلا ِف ،َنا َغَمَر اوُؽَنَذَو َنَأ َم َلُغ َث َشِئ َعَ َن َكَ آَّمُؤَي ِف ِفَط ْطٍُْلا ِف ،َنا َغَمَر َلاَكَو ٌمِلاٌَ ُدْيَيلاَو َُّيْرٌِ . ( ثُوػلما ج ملاٌ ماٌلإل 1 ص 400 -405 راد ، بخهلا ثيٍيؽىا ) 4. Madzhab Hanafi ( ُُّحَءاَؽِكَو ٌَِْ ٍفَط ْطُم ) ِنيْؽَح ُػُفْفَت ُة َل َطلا ، اَؼََْو َػِِْؼ ِبَأ َثَفيَِِض . َلاَكَو ُٔةَأ َفُـُٔي ٌػٍََ ُمَُو ُهَؽْسُح َ لَو ُػُفْفَت ُُّح َل َض اٍَِل َيِوُر ََْخ َنأَْنَذ َ لَْٔم َث َشِئ َعَ َ ِضَر ُللا آٍََُِْخ َُُّأَ َن َكَ آَّمُؤَي ِف ِؽَْٓش َنا َغَمَر َن َكََو ُ أَؽْلَح ٌَِْ ِفَط ْطٍُْلا َنَ ِلأَو َةَءاَؽِلْىا ٌةَداَتِؼ ْجَفا َغُْا َ لإ ٍةَداَتِؼ ىَؽْعُأ ََُْٔو ُؽ َغَلْا َ لإ ِفَط ْطٍُْلا ، َؼَِٓلَو ا ِجََُكَ ُةَءاَؽِلْىا ٌََِ ِفَط ْطٍُْلا َو َغْفَأ ٌََِ ِةَءاَؽِلْىا اًتِئ َغَ ، َ لإ َُُّأَ ُهَؽْسُي ِف ِة َل َطلا اٍَِل ْيِذ ِّ ٌَِْ ِّّت َشَتىا ِوْؽِفِة ِوَْْأ ِباَخِهْىا ، ْ ِبَ ِلأَو َثَفيَِِض َنَأ َوْ َح ِفَط ْطٍُْلا َُّؽ ْعَوَو َػِِْؼ ِعُٔنّؽلا ِدُٔش ّفلاَو َُّؽْذَرَو َػِِْؼ ِماَيِلْىا ْيِيْلَتَو َب ِِّكاَرْوَأ َؽ َغَلْاَو ِّْ َلَإ ٍََُّْٓذَو ٌوٍََخ ٌيِرَن ُػ َطْلَيَو ٌََْ ُهآَر َُُّأَ َؿْيَى ِف ِة َل َطلا ؛ ََُُّ ِلأَو ََُلَيَخَح ٌَِْ ِفَط ْطٍُْلا ََّتْشَأَف ََّلَيَلتّا ٌَِْ ِهِ ْيَد َ َعََو اَؼَْ َ ل َقْؽَف َ ْيَب ٍُْْٔطٍَْلا ِل ِعٔ ُعٍَْْٔلاَو َ َعََو ِلَوَ ْلأا ِناَكِ َتَْفَح ُؽَذَأَو َنأَْنَذ ٌلٍُْٔ َمُ َ َعَ َُُّأَ َن َكَ ُ أَؽْلَح َوْتَر ْوُ ُشر ِِّؼ ِف ِة َل َطلا ، ًَُث ُ أَؽْلَح ِف ِة َل َطلا اًتِئ َغَ َْٔلَو َن َكَ ُظَفْ َيُ َنآْؽُلْىا ُهَأَؽَكَو ٌَِْ ٍبُٔخْهٌَ ٌَِْ ِْيَد ِوْ َح ِفَط ْطٍُْلا أُلاَك / َ ل ُػ ُفْفَت ُُّح َل َض ِمَػَؽِى َِْيَؽْمَ ْلأا ًَْلَو ْو ِطْفَح ِف ِ َصَخْغٍُْلا َ لَو ِف َلْا ِػٌِا ِيِغ َطلا آٍََُِْيَة اَذإ َ أَؽَك ًليِيَك ْوَأ اًيِرَن ٌَِْ ِفَط ْطٍُْلا َلاَكَو ُظْؽَب ِظِياَشٍَْلا / ْنإ َ أَؽَك َراَػْلٌِ ٍثَيآ ُػ ُفْفَت ُُّح َل َض ، َ لِإَو َلَف ، َلاَكَو ًُْٓ ُغْؽَب ْنإ َ أَؽَك َراَػْلٌِ ِثَ ِتِاَفْىا ْتَػ َفَف ،ُُّح َل َض َ لِإَو َلَف . ييبح( قئاللحا حشر نزن قئاكلدّا ج عِييؾلا ماٌلإل 1 ص 190 -195 راد ، بخهلا )ثيٍيؽىا Penutup

Demikian pemaparan singkat tentang Mushaf “Qur`an Shalat”. Almahira memohon dukungan dari MUI, terutama dari LPBKI MUI dan Komisi Fatwa MUI sehingga Mushaf “Qur`an Shalat” bisa diterima masyarakat dan kehadirannya bermanfaat untuk umat.

Referensi

Dokumen terkait

Kemampuan membaca Al- Qur‟an merupakan keterampilan yang wajib dikuasai siswa sebagai harapan untuk menjadi anak soleh. Agar siswa memiliki kemampuan yang baik dan

Minat akan membawa siswa menjadi mampu membaca Al-Qur‟an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid yang tepat. Minat siswa dalam membaca Al-Qur‟an

23 Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur‟an, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm.. cocok dan nyaman sesuai suasana hati demi terciptanya

Orang yang telah sampai padanya al-Qur’an, membaca al-Qur’an, dan hidup di tengah-tengah kaum muslimin lantas dia melakukan syirik akbar , misalnya dengan memberikan

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) adapun formulasi strategi yang dibuat guru Al-Qur‟an Hadist dalam meningkatkan kemampuan membaca Al- Qur‟an siswa MI

Upaya-upaya yang dilakukan orangtua untuk meningkatkan kemampuan anak dalam membaca al-Qur‟an di desa Huta Baru adalah: memberikan pendidikan al-Qur‟an anak di rumah, memberikan

Dalam tafsir tematik, seorang mufassir tidak lagi menafsirkan ayat demi ayat secara berurutan sesuai urutannya dalam mushaf, tetapi menafsirkan dengan jalan menghimpun seluruh atau

Berdoa dengan membaca ayat al-Qur`an pada prosesi Batagak rumah adalah suatu kebaikan, karena masyarakat meyakini bahwa dengan membaca ayat al-Qur`an itu dapat menambah keimanan dan