3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Definisi Konseptual
Berikut adalah definisi konseptual dari penelitian ini :
a. Technological Determinism Theory (Teori Determinisme Teknologi) Teori ini dikemukakan oleh Marshall McLuhan pertama kali pada tahun 1962. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir dan berperilaku dalam masyarakat.
Menurut McLuhan budaya kita dibentuk oleh bagaimana cara kita berkomunikasi. McLuhan mengatakan bahwa “Kita membentuk peralatan untuk berkomunikasi, dan akhirnya peralatan untuk komunikasi yang kita gunakan membentuk atau mempengaruhi kehidupan kita sendiri”.
Teknologi komunikasi menyediakan pesan dan membentuk perilaku kita sendiri. Radio menyediakan pesan kepada manusia melalui indera pendengaran (audio), sementara televisi menyediakan pesan tidak hanya melalui pendengaran, tetapi juga penglihatan (audio visual), dari situ McLuhan menyimpulkan bahwa media adalah pesan itu sendiri (the medium is the message).
McLuhan membagi periode perkembangan teknologi komunikasi menjadi empat yaitu: era kesukuan, era tulisan, era mesin cetak, dan terakhir era media elektronik. Kini kita berada di era elektronik. Kemampuan yang terjadi akibat era elektronik menyebabkan perluasan yang lebih baik pada pikiran dan perasaan manusia. Manusia tidak saja mengandalkan pendengaran atau penglihatan, tapi keduanya sekaligus (Nurudin, 2007, p.185).
b. PAC (Presence-Aware Communication)
PAC (Presence-Aware Communication) didefinisikan sebagai bentuk komunikasi bermedia di mana pengguna langsung mengetahui status kehadiran online dari partner komunikasi mereka, baik sebelum maupun selama komunikasi berlangsung (Shaw, 2009, p.5).
Berdasarkan teori PAC, ada tiga kategori mengenai penggunaan teknologi komunikasi, khususnya instant messaging. Berikut adalah penjabarannya (Shaw, 2009, p.20):
a) Presence enhancement (mengetahui ketersediaan kontak).
Teknologi instant messaging memungkinkan penggunanya mengetahui siapa saja rekannya yang saat itu sedang online. Hal ini biasanya berguna ketika pengguna akan melakukan koordinasi atau mencari informasi tertentu, terutama saat berada di luar jam kantor, serta membutuhkan respon yang cepat.
b) Reducing (pre-)communication cycles (mengurangi pengulangan komunikasi).
Teknologi instant messaging dapat mengurangi pesan voice mail seperti yang ada pada telepon konvensional. Selain itu, instant messaging juga dapat mengurangi kemungkinan “reject” atau penolakan pesan oleh penerima pesan.
c) Displacement of existing forms of communication (menggantikan format komunikasi yang ada).
Teknologi instant messaging dapat mengurangi jumlah kontak melalui telepon dan e-mail sehingga pengirim pesan dapat menerima feedback atau balasan dalam waktu yang cepat.
c. Efektivitas Komunikasi
Menurut Hardjana (2000, p.24) efektivitas secara umum memiliki beberapa pengertian, antara lain mengerjakan hal-hal yang benar, mencapai tingkat di atas pesaing, membawa hasil, menangani tantangan masa depan, meningkatkan laba-keuntungan, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya.
Sedangkan efektivitas menurut komunikasi dapat didefinisikan sebagai berikut: penerima pesan merupakan objek yang diharapkan untuk menerima pesan tersebut, isi pesan yang diterima sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pengirim pesan, pesan yang dimaksudkan sampai kepada penerima pesan tepat pada waktunya, media yang digunakan untuk menyampaikan pesan sesuai dengan kebutuhan dan diharapkan oleh pengirim pesan dan penerima pesan, terdapat
kesesuaian format antara yang dimaksudkan oleh pengirim dan penerima, serta ada kejelasan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga pesan yang disampaikan akurat (Hardjana, 2000, p.24).
3.2 Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Variabel bebas atau variabel X.
Variabel X dalam penelitian ini adalah Presence-Aware Communication. Presence-Aware Communication memiliki tiga kategori, yaitu sebagai berikut (Shaw, 2009, p.20) :
a) Presence enhancement (mengetahui ketersediaan kontak).
- Anda bisa dengan segera bertanya atau mencari informasi yang Anda butuhkan.
- Anda bisa meminta jawaban sesegera mungkin sesuai kebutuhan. - Anda dapat melakukan koordinasi mengenai suatu kepentingan. - Anda dapat melakukan kerjasama tentang sebuah event/project. - Anda bisa menerima pesan balasan dalam waktu yang cepat.
b) Reducing (pre-) communication cycles (mengurangi pengulangan komunikasi).
- Anda dapat mengirimkan pesan secara langsung ke penerima, tanpa ada kemungkinan untuk ditolak.
- Anda tidak perlu mengulangi pengiriman pesan ketika penerima pesan tidak berada di tempat.
- Anda dapat mengirimkan pesan yang sama kepada beberapa atau banyak orang secara langsung.
c) Displacement of existing forms of communication (menggantikan format komunikasi yang ada).
- BBM dapat memfasilitasi pengiriman undangan secara lebih cepat dibandingkan e-mail.
- BBM dapat memfasilitasi pengiriman undangan secara lebih cepat dibandingkan telepon.
2. Variabel terikat atau variabel Y.
Variabel Y dalam penelitian ini adalah efektivitas komunikasi. Berikut adalah indikator efektivitas komunikasi (Hardjana,2000, p.24) :
a. Penerima/pemakai : antara penerima pesan dengan penerima yang dituju. Penerima pesan merupakan objek yang diharapkan untuk menerima pesan tersebut.
- Anda mengetahui bahwa pesan dikirimkan pada orang yang tepat. - Anda akan bertanya kepada sekretariat HDCI Surabaya bila pesan
undangan yang dikirim via BBM kurang jelas.
- Anda selalu menerima setiap pesan undangan yang dikirimkan oleh sekretariat HDCI Surabaya.
b. Isi : antara yang diterima atau tersalur dengan yang dimaksudkan.
Isi pesan yang diterima memang sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pengirim pesan.
- Anda menerima pesan undangan touring via BBM.
- Anda mengetahui dan mengerti dengan jelas pesan undangan touring via BBM.
- Anda mengetahui dan mengerti dengan jelas pesan undangan gathering via BBM.
c. Ketepatan waktu : sesuai jadwal atau menyimpang jadwal.
Pesan yang dimaksudkan sampai kepada penerima pesan tepat pada waktunya. Artinya penyampaian pesan tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi.
- Jadwal kegiatan dikirimkan 2-3 minggu sebelum hari pelaksanaan touring/gathering.
- Waktu pengiriman sesuai dengan kebutuhan untuk persiapan kegiatan oleh masing-masing anggota HDCI Surabaya.
- Jadwal kegiatan dikirimkan kembali seminggu sebelum hari pelaksanaan touring/gathering sebagai reminder.
d. Media : antara saluran yang digunakan dengan saluran yang dimaksud. Media yang digunakan untuk menyampaikan pesan sesuai dengan kebutuhan dan diharapkan oleh pengirim pesan dan penerima pesan.
- BBM merupakan sarana yang tepat untuk mengirimkan undangan touring.
- BBM merupakan sarana yang tepat untuk mengirimkan undangan gathering.
- Anda lebih memilih pengiriman pesan undangan melalui BBM daripada melalui e-mail/telepon.
e. Format : antara struktur yang diterima dengan yang dikirim.
Terdapat kesesuaian format antara yang dimaksudkan oleh pengirim dengan penerima.
- Format undangan touring/gathering via BBM mudah dipahami. - Ide pokok/tema kegiatan disampaikan dengan jelas.
- Detail kegiatan (waktu, tempat, tanggal, biaya pendaftaran) disampaikan dengan jelas.
- Himbauan untuk mengikuti kegiatan touring/gathering disampaikan dengan jelas.
f. Sumber : antara orang yang melakukan dengan orang yang bertanggung jawab.
Artinya ada kejelasan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga pesan yang disampaikan akurat.
- Anda mengetahui kejelasan pengirim pesan.
- Anda mengetahui bahwa pesan yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
3.3 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif eksplanatif dengan menggunakan analisis regresi. Analisis regresi dilakukan bila hubungan dua variabel berupa hubungan kausal atau fungsional (Sugiyono, 2006, p.243). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya pengaruh Presence-Aware Communication terhadap efektivitas komunikasi melalui Blackberry Messenger dalam Harley Davidson Club Indonesia Surabaya.
3.4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Metode ini banyak menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2002, p.10). Data dalam penelitian kuantitatif banyak didominasi angka sebagai hasil suatu pengukuran berdasarkan pada variabel yang telah dioperasionalkan. Metode kuantitatif juga bertujuan untuk melakukan generalisasi, sehingga terikat pada jumlah sampel yang banyak.
3.5 Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah Harley Davidson Club Indonesia Surabaya. Sedangkan objek penelitiannya adalah pengaruh Presence-Aware Communication terhadap efektivitas komunikasi melalui Blackberry Messenger dalam organisasi tersebut.
3.6 Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian. Populasi dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, nilai, peristiwa, dan sebagainya (Bungin, 2001, p.101). Sampel adalah perwakilan dari keseluruhan populasi yang dijadikan objek penelitian (Bungin, 2001, p.103).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Harley Davidson Club Indonesia Surabaya. Sedangkan untuk pengambilan sampel digunakan teknik total sampling (sampling jenuh). Total sampling (sampling jenuh) adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan apabila jumlah populasi relatif kecil (Sugiyono, 1994, p.62). Peneliti menggunakan teknik ini karena populasi seluruh anggota Harley Davidson Club Indonesia Surabaya berjumlah 88 orang (wawancara dengan koordinator sekretariat HDCI Surabaya, Dimitri Naftali, pada tanggal 17 Februari 2012).
Berikut adalah rincian dari jumlah populasi Harley Davidson Club Indonesia Surabaya:
Jabatan Jumlah orang
Penasehat 6 orang
Ketua 1 orang
Wakil Ketua 1 orang
Sekretaris 1 orang
Wakil Sekretaris 1 orang
Bendahara 1 orang
Wakil Bendahara 1 orang
Bidang Organisasi 2 orang
Bidang Kegiatan 1 orang
Sie Touring 5 orang
Sie Baksos 4 orang
Bidang Humas 1 orang
Dokumentasi 2 orang
Koordinator sekretariat 1 orang
Anggota 60 orang
Total 88 orang
Tabel 3.1 : Penjabaran populasi Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Surabaya
Sumber : Koordinator Sekretariat HDCI Surabaya, 2012
3.7 Teknik Pengumpulan Data 3.7.1 Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Survei adalah metode riset dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan datanya. Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu (Kriyantono, 2006, p.60).
Pengukuran variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah skala likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dengan menggunakan skala likert, setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata sebagai berikut (Riduwan, 2002, p.12) :
1. Sangat setuju (SS) berarti memberikan pernyataan sangat setuju terhadap pernyataan yang diajukan dalam kuesioner. Bila responden memilih pernyataan ini maka akan diberikan skor 5.
2. Setuju (S) berarti memberikan pernyataan setuju terhadap pernyataan yang diajukan dalam kuesioner. Bila responden memilih pernyataan ini maka akan diberikan skor 4.
3. Netral (N) berarti memberikan pernyataan netral, dalam pengertian tidak sepenuhnya setuju tetapi juga tidak sepenuhnya tidak setuju dengan pernyataan yang diajukan. Bila responden memilih pernyataan ini maka akan diberikan skor 3.
4. Tidak setuju (TS) berarti memberikan pernyataan tidak setuju terhadap pernyataan yang diajukan dalam kuesioner. Bila responden memilih pernyataan ini maka akan diberikan skor 2.
5. Sangat tidak setuju (STS) berarti memberikan pernyataan sangat tidak setuju terhadap pernyataan yang diajukan dalam kuesioner. Bila responden memilih pernyataan ini maka akan diberikan skor 1.
Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Kuesioner
Kuesioner berbentuk rangkaian atau kumpulan pertanyaan yang disusun secara sistematis dalam sebuah daftar pertanyaan, kemudian dikirim kepada responden untuk diisi. Setelah diisi, kuesioner dikirim kembali atau dikembalikan ke peneliti (Bungin, 2001, p.130). Dalam penelitian ini, kuesioner akan dibagikan kepada seluruh anggota Harley Davidson Club Indonesia Surabaya.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai (Bungin, 2001, p.133). Peneliti akan melakukan wawancara dengan koordinator sekretariat Harley Davidson Club Indonesia Surabaya.
3.8 Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini, analisis data dilakukan melalui beberapa tahap yaitu sebagai berikut (Bungin, 2001, p.182) :
a. Pemeriksaan (editing)
Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai menghimpun data di lapangan. Proses editing dimulai dengan memberi identitas pada instrumen penelitian yang telah terjawab, kemudian memeriksa satu per satu lembaran instrumen pengumpulan data, serta memeriksa poin-poin dan jawaban yang tersedia.
b. Proses pemberian identitas (coding)
Setelah editing selesai dilakukan, kegiatan berikutnya adalah mengklasifikasi data-data tersebut melalui tahapan coding. Data yang telah diedit diberi identitas atau skor sehingga memiliki arti tertentu saat dianalisa.
c. Proses pembeberan (tabulating)
Proses tabulasi adalah memasukkan data pada tabel-tabel tertentu dan mengatur angka-angka serta menghitungnya.
3.9 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Pada penelitian ini menggunakan 2 variabel, yaitu variabel X dan variabel Y. Variabel X pada penelitian ini adalah Presence-Aware Communication, dan variabel Y dalam penelitian ini adalah efektivitas komunikasi. Berikut adalah tahapan-tahapan peneliti dalam melakukan penelitian:
1. Validitas
Validitas mengandung pengertian bahwa skala atau instrumen yang digunakan dapat mengukur atau mengungkapkan hal-hal yang seharusnya diukur atau diungkapkan (Idrus, 2009, p.124). Validitas pada penelitian ini diukur dengan menggunakan korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut:
r =
Keterangan:
r = Koefisien korelasi X = Nilai skor butir Y = Nilai skor total N = Jumlah responden
Untuk menafsirkan hasil uji validitas, kriteria yang digunakan adalah (Muhidin & Abdurahman, 2007, p.47):
a. Jika nilai r hitung lebih besar daripada r tabel, maka item kuesioner dinyatakan valid dan dapat dipergunakan.
b. Jika nilai r hitung lebih kecil daripada r tabel, maka item kuesioner dinyatakan tidak valid dan tidak dapat dipergunakan.
c. Nilai r tabel dapat dilihat pada a=5% dan db=N-2.
2. Reliabilitas
Reliabilitas merupakan ketepatan atau consistency atau dapat dipercaya. Artinya instrumen yang akan digunakan dalam penelitian akan memberikan hasil yang sama meskipun diulang-ulang dan dilakukan oleh siapa dan kapan saja. Reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan formula Cronbach’s Alpha untuk menghitung koefisien reliabilitas (Idrus, 2009, p.143).
√NΣX2–(ΣX)2[NΣY2–(ΣY)2]
Keterangan:
n = Banyaknya butir pertanyaan = Varians skor tiap-tiap item = Varians skor total
3.10 Uji Korelasi dan Uji Regresi
1. Uji Korelasi
Pada tahapan ini peneliti melakukan analisis korelasi untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel X (penggunaan teknologi komunikasi) dengan variabel Y (efektivitas komunikasi). Jika memiliki hubungan, bagaimana arah hubungan dan seberapa besar hubungan tersebut (Santoso, 2000, p.149).
Rumusnya adalah sebagai berikut :
Nilai koefisien korelasi r, yaitu antara -1 sampai +1, dengan kriteria sebagai berikut (Ruslan, 2004, p.185) :
a. Jika nilai r > 0, terjadi hubungan linear positif dan makin besar nilai variabel X (independen), maka makin besar nilai variabel Y (dependen). Atau sebaliknya makin kecil nilai X, maka nilai Y makin kecil.
b. Jika nilai r < 0, terjadi hubungan linear yang negatif.
c. Jika nilai r = 0, artinya tidak ada hubungan sama sekali antara variabel X dan variabel Y.
d. Jika nilai r = 1 atau r = -1, terjadilah hubungan yang sempurna dan berbentuk garis lurus, dan sedangkan untuk nilai r yang makin mengarah ke angka nol maka garis tidak lurus.
2. Uji Regresi
Pada tahapan ini, peneliti akan melakukan analisis regresi antara variabel X (penggunaan teknologi komunikasi) dengan variabel Y (efektivitas komunikasi). Dari hasil analisis tersebut, akan diketahui apakah variabel X mempengaruhi variabel Y.
Persamaan regresi yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Hal ini dikarenakan pada penelitian ini peneliti hanya menggunakan 1 variabel independen (penggunaan teknologi komunikasi) dan 1 variabel dependen (efektivitas komunikasi) (Sugiyono, 2006).
Adapun persamaan regresi linier sederhana yang digunakan adalah (Algifari, 2000, p.9):
Y = a + bX
Yang menunjukkan bahwa: Y = variabel dependen
a = intersep (titik potong kurva terhadap sumbu Y) b = kemiringan (slope) kurva linear
X = variabel independen
Sedangkan untuk uji signifikansi, dihitung melalui Uji-t dengan rumus (Algifari, 2000, p.19) :
Dalam melakukan uji regresi, diperlukan perumusan hipotesis terlebih dahulu. Rumusan hipotesisnya adalah (Algifari, 2000, p.19):
H0: b = 0
Ha: b ≠ 0
Jika b = 0 berarti variabel independen (X) tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Namun, jika b ≠ 0 berarti variabel independen (X) berpengaruh terhadap variabel dependen (Y) (Algifari, 2000, p.19). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tingkat signifikansi 5%. Sehingga jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima, jika probabilitas < 0,05, maka H0