• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik Perekonomian Daerah, sebagai gambaran umum untuk situasi perekonomian Kota Semarang tahun 2008 berikut karakteristiknya serta prospek perekonomian tahun 2009-2010. Bab ini juga membahas mengenai tantangan perekonomian Kota Semarang serta gambaran dinamika faktor eksternal dan internal yang diperkirakan mempengaruhi kinerja perekonomian daerah.

3.1 Kondisi Ekonomi Makro Kota Semarang tahun 2008 dan perkiraan tahun 2009 Kondisi ekonomi Makro Kota Semarang tahun 2008 dengan berbagai indikator seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), Pendapatan Perkapita, Inflasi, Investasi, dan perkembangan Keuangan Daerah akan menjadi referensi dalam menentukan kebijakan Pemerintah Kota Semarang khususnya kebijakan ekonomi dalam Rencana Kerja Pemerintah Kota Semarang Tahun 2010.

PDRB Kota Semarang Tahun 2008 sebesar Rp. 34.407.228.000.000, atau meningkat sebesar 12,75% dibanding tahun 2007 yang sebesar Rp. 30.525.736.000.000,- . Dilihat dari kontribusi sektor usaha terbesar adalah sektor Perdagangam Hotel dan Restoran yakni sebesar 30,29%, berturut-turt sektor Industri Pengolahan sebesar 27,50%, sektor Bangunan 15,10%, dan sektor Jasa-jasa sebesar 12.00%. Pada tahun 2009 PDRB Kota Semarang diperkirakan perkembangannya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan komposisi sektor dominan pada sektor Perdagangan, Hotel dan Jasa, dan Industri Pengolahan, begitu pula dengan proyeksi tahun 2010.

LPE, laju pertumbuhan ekonomi tahun 2008 mengalami pertumbuhan sebesar 6,79% atau terjadi peningkatan pertumbuhan 13,55% jika dibandingkan pada tahun 2007 sebesar 5,98%. Pada tahun 2009 dan tahun 2010 diperkirakan pertumbuhannya sama dengan tahun sebelumnya yakni mencapai sebesar 7,71% dan 8,75%.

Pendapatan Perkapita, Pertumbuhan ekonomi tersebut diikuti dengan peningkatan pendapatan perkapita masyarakat dari Rp. 11.468.461,36 pada tahun 2007

(2)

menjadi Rp. 11.954.074,44 pada tahun 2008 atau meningkat 3,64%. Pada tahun 2009 peningkatan pendapatan perkapita sama dengan tahun sebelumnya, sehingga

pendapatan perkapita tahun 2009 diperkirakan sebesar

Rp. 12.338.943,47,- dan tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 12.780.624,45

Inflasi, Laju pertumbuhan ekonomi tersebut mendorong laju inflasi, pada tahun 2008 sebesar 7,49% mengalami peningkatan dibanding tahun 2007 yang sebesar 6,75%. Laju inflasi sangat dipengaruhi oleh kebijakan nasional seperti kenaikan BBM, TDL dan lain, seperti halnya kenaikan inflasi pada tahun 2008. Pada tahun 2009 dan 2010 diperkirakan tingkat inflasi mengalami pertumbuhan yang stabil, namun demikian masih menunjukkan angka dibawah dua digit.

Investasi, Kota Semarang yang kondusif dan didukung oleh keberadaannya sebagai pusat aktivitas pemerintahan berpengaruh positif dalam meningkatkan investasi di Kota Semarang. Realisasi Nilai investasi PMA tahun 2007 sebesar US $ 317.165.100 meningkat menjadi US $ 1.835.125.390,- pada tahun 2008. Sedangkan realisasi nilai investasi PMDN tahun 2007 sebesar Rp. 1.191.875.230.000,- meningkat menjadi Rp. 2.518.121.150.000,- pada tahun 2008. Dan proyeksi realisasi investasi ditahun mendatang diharapkan dapat meningkat sebesar 10 % per tahun.

Keuangan Daerah, pada tahun 2008 rasio PAD terhadap PDRB harga Konstan sebesar 1,55% dan diperkirakan menurun pada tahun 2009 sebesar 1,51%, dan 1,58% pada tahun 2010, sedangkan ratio Pajak Daerah terhadap PDRB sebesar 0,84% dan diperkirakan akan sama pada tahun 2009 sebesar 0,84% dan Tahun 2010 sebesar 0,89% , demikian pula rasio pembiayaan daerah terhadap PDRB sebesar 5,17% dan akan meningkat pada tahun 2009 sebesar 5,38% dan tahun 2010 sebesar 6,39%. Hal ini menunjukkan bahwa peranan PDRB dalam meningkatkan kontribusi positif terhadap Pendapatan Asli Daerah, Pajak Daerah dan Pembiayaan Daerah.

(3)

Tabel 3.1

Perkembangan Pendapatan Indikator Makro Eknomi Kota Semarang

No Indikator Makro Ekonomi

Realisasi Proyeksi Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 1 PDRB :

a. Harga Berlaku (Juta Rp) 18.143 19.167 20.249 21.392

b. Harga Konstan Tahun 2000 (Juta Rp.) 30.515 34.107 38.796 43.744

2 Pertumbuhan Ekonomi / PDRB Harga

Konstan (%) 5,98 6,79 7,71 8,75

3 Tingkat Inflasi (%) 6,75 7,49 8,31 9,22

4 Struktur PDRB menurut sektoral (%)

a. Pertanian 1,21 1,17 1,13 1,10

b. Pertambangan & Penggalian 0,17 0,17 0,17 0,17

c. Industri Pengolahan 27,55 27,50 27,45 27,40

d. Listrik, Gas dan Air Bersih 1,3 1,28 1,26 1,24

e. Bangunan 14,93 15,10 15,28 15,45

f. Perdagangan, Hotel & Restoran 30,28 30,29 30,30 30,31

g. Pengangkutan dan komunikasi 9,62 9,66 9,70 9,74

h. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 2,90 2,84 2,78 2,73

i. Jasa-Jasa 12,04 12,00 11,96 11,92

5 Poduktivitas Sektoral (Juta Rp)

a. Pertanian 365.094 414.238 469.998 533.263

b. Pertambangan & Penggalian 57.062 62.227 67.859 74.001

c. Industri Pengolahan 7.883.532 8.695.545 9.591.196 10.579.100

d. Listrik, Gas dan Air Bersih 532.279 581.126 643.455 692.679

e. Bangunan 5.414.829 6.595.804 8.034.349 9.786.642

f. Perdagangan, Hotel & Restoran 8.635.562 9.968.821 11.507.924 13.284.652 g. Pengangkutan dan komunikasi 3.073.387 3.419.659 3.805.025 4.233.774 h.Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 889.126 1.023.810 1.178.896 1.357.473

i. Jasa-Jasa 3.664.861 4.257.096 4.945.035 5.744.144

6 Pendapatan Perkapita (Ribu Rp) 11.486 11.905 12.339 12.789

7 Ratio Pajak Daerah Terhadap PDRB (%) 0,75 0,84 0,84 0.89

8 Ratio PAD Terhadap PDRB (%) 1,39 1,55 1,51 1,58

9 Ratio Dana Perimbangan terhadap PDRB

(4)

3.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Kota Semarang Tahun 2010 dan tahun 2011

Kondisi ekonomi Kota Semarang tahun 2010 dan tahun 2011 akan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan internal yang melingkupinya, seperti ditunjukkan pada tabel 3.2. dibawah ini :

Tabel 3.2

Analisis Kondisi Internal dan dan Kondisi Eksternal Kota Semarang

Kondisi Internal Daerah Kondisi Eksternal Daerah

Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman

a. Tersedianya produk hukum daerah (Perda) tentang Investasi

a. Kurang optimalnya Pengelolaan

investasi daerah

b. Sebagai ibukota Propinsi Jawa Tengah sekaligus

pusat aktivitas

pemerintahan Jawa

Tengah

a. Krisis Ekonomi Global

yang akan

menghambat ekpor komoditas daerah di pasar globlal

b. Tersedianya kelembagaan daerah yang melayani perijinan investasi melalui One Stop Service (OSS) dan aparatur pemerintahan yang memadai.

b. Kurangya perencanaan penanaman modal

c. Perkembangan ilmu dan teknologi

c. Krisis energi

kelistrikan

c. Tersedianya sarana dan prasarana infrastruktur perekonomian kota yang memadai. c. Rendahnya kemadirian daerah dalam membiayai pembangunan investasi d. Tersedianya lembaga-lembaga keuangan

perbankan dan non

perbankan yang

memadai

d. Instabilitas nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.

d. Tersedianya kebijakan

pemerintahan yang

mengedepankan sektor

perdagangan dan jasa sebagai visi kota

d. Ketrampilan tenaga kerja yang tidak

sesuai dengan

kebutuhan pasar

e. Terciptanya kondisi sosial politik yang

kondusif dalam

berinvenstasi

e. Tingginya tingkat inflasi.

e.Jumlah penduduk yang memadai untuk penyediaan tenaga kerja

Kerusakan lingkungan f. Klongomerasi global

f. Perlintasan jalur transportasi darat, laut dan udara sebagai penghubung kota besar bagian barat, bagian Timur dan bagian selatan (Jkt, Surabaya, Solo, Jogya)

(5)

3.3. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

Dari beberapa indikator ekonomi Kota Semarang yang diuraikan diatas, dan sejalan dengan Arah kebijakan Ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang Tahun 2005 – 2010 yakni Penguatan ekonomi masyarakat yang diharapkan akan mampu mendorong peningkatan kemampuan masyarakat sehingga memiliki kemampuan bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan, maka kebijakan ekonomi tahun 2010 dirumuskan sebagai berikut :

a. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui kerjasama dengan penyedia tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas tenaga kerja, perluasan lapangan kerja, serta perlindungan ketenagakerjaan.

b. Perwujudan sistem ekonomi kerakyatan dengan pengembangan koperasi dan dunia usaha terutama usaha kecil dan menengah, memperluas peluang kerja dan pengembangan kerjasama strategis antar pelaku usaha, serta meningkatkan investasi.

c. Penciptaan iklim yang kondusif guna menarik minat investor baik asing maupun domestik

d. Pengembangan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan mengembangkan agribisnis dan agroindustri serta mengembangkan sumber daya, sarana dan prasarana dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

e. Pengembangan Potensi Sumberdaya Perdagangan, Perlindungan Konsumen, Peningkatan Ekspor, Pengembangan Regulasi Usaha dan Peningkatan Sarana Prasarana Perdagangan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sumberdaya manusia, penguatan permodalan dan peningkatan askes pasar, pemberdayaan UKM serta pengembangan sentra-sentra sesuai dengan kawasan unggulan.

f. Peningkatan kualitas produksi, penerapan teknologi inovatif tepat guna, dan mengembangkan sentra-sentra produksi untuk memperkuat permodalan dan ketersediaan

(6)

bahan baku, ketrampilan manajemen usaha dan produksi terutama home industri, menengah dan kecil.

3.4. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

3.4.1. Arah Kebijakan Pendapatan daerah

Berdasarkan perkembangan realisasi pendapatan selama 3 tahun terakhir tahun 2007, tahun 2008 dan tahun 2009 terjadi pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 4,49%. Realisasi pendapatan daerah tersebut, masih didominasi oleh pendapatan daerah yang bersumber dari Pusat dan Provinsi.

Jika menggunakan asumsi pertumbuhan rata-rata tersebut, maka perkiraan pendapatan daerah tahun 2010 adalah sebsesar Rp. 1.473.414.000.000,- dan tahun 2011 sebesar Rp. 1.603.487.000.000,-

Kebijakan perencanaan pendapatan daerah Kota Semarang pada tahun 2010 diarahkan pada optimalisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber PAD melalui langkah-langkah identifikasi sumber-sumber pendapatan potensial maupun penyesuaian tarif retribusi /pajak daerah yang sudah tidak relevan dengan perkembangan kondisi dengan tidak membebani masyarakat. Realisasi dan Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 adalah sebagai berikut :

TABEL 3.3

Realisasi dan Proyeksi Pendapatan Daerah KOTA SEMARANG TAHUN 2007 – TAHUN 2011 NO Jenis Pendapatan Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan rata2 (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1.1 Pendapatan Asli Daerah 238.236 266.381 265.399 10,00 291.938 321.132

1.1.1 Pajak Daerah 128.536 143.460 147.170 10,00 161.887 178.076

1.1.2 Retribusi Daerah 77.049 84.757 72.545 10,00 79.799 87.779

1.1.3 Hasil Pengelolaan

kekayaan daerah yang dipisahkan

3.824. 5.405 6.962 10,00 7.658 8.424

(7)

NO Jenis Pendapatan Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan rata2 (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

daerah yang sah

1.2 Dana Perimbangan 773.906 887.425 925.109 9,46 956.532 989.022

1.2.1 Dana bagi hasil

Pajak/Bagi Hasil bukan pajak

178.776 231.419 195.677 7,00 202.324 231.343

1.2.2 Dana alokasi umum 586.736 634.864 687.629 8,26 710.986 805.872

1.2.3 Dana alokasi khusus 8.394 21.141 41.803 124,79 43.223 821.963

1.3 Lain-lain Pendapatan

Daerah yang sah 161.185 183.871 185.151 7,39 188.944 192.815

1.3.1 Hibah 1.3.2 Dana darurat

1.3.3 Bagi hasil pajak dari

provinsi dan dari

pemerintah daerah lainnya

130.177 151.805 135.109 2,81 138.903 142.803

1.3.4 Dana Penyesuaian dan

Otonomi Khusus 5.000 13.531 29.578 0,00 29.578 29.578

1.3.5 Bantuan Keuangan dari

pemerintah daerah lainnya 26.007 18.535 20.463 0,00 20.463 20.463

Jumlah Pendapatan Daerah

(1.1+1.2+1.3) 1.173.329 1.337.677 1.375.658 4,49 1.473.414 1.603.487

3.4.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah

Berdasarkan perkembangan realisasi belanja tidak langsung selama 3 tahun

terakhir (2007 – 2009) terjadi rata-rata pertumbuhan pertahun sebesar 9,96%. Jika menggunakan asumsi rata-rata pertumbuhan tersebut maka dapat diprediksi belanja tidak langsung tahun 2010 menjadi sebesar Rp.851.799.000,- dan tahun 2011 menjadi sebesar

Arah kebijakan belanja daerah dengan tetap mengedepankan prinsip

efektifitas, efisiensi, transparasi dan akuntabilitas penggunaan pendapatan daerah dan penerimaan pembiayaan daerah dalam pencapaian optimalisasi prioritas sasaran pembangunan melalui mekanisme penyusunan perencanaan partisipatif dan aspiratif. Belanja daerah meliputi total perkiraan belanja daerah yang terdiri belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja tidak langsung merupakan belanja yang tidak terkait langsung dengan kegiatan yang dilaksanakan dan sukar diukur dengan capaian

(8)

prestasi kerja yang ditetapkan, berikut realisasi dan proyeksi Belanja Tidak Langsung Kota Semarang Tahun 2007-2011 ditunjukkan pada tabel 3.4.:

TABEL 3.4

Realisasi dan Proyeksi Belanja Tidak Langsung KOTA SEMARANG

TAHUN 2007 – TAHUN 2011

NO Jenis Belanja Tidak

Langsung Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 2.1.1 Belanja pegawai 487.009 643.710 686.288 9,96 754.647 829.816 2.1.2 Belanja bunga 1.906 1.610 587 9,96 645 710 2.1.3 Belanja subsidi - - - - 2.1.4 Belanja hibah - 8.597 18.915 9,96 20.799 22.870

2.1.5 Belanja bantuan sosial 53.300 91.133 68.850 9,96 75.708 83.249

2.1.6 Belanja bagi hasil kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/Kel.

3.997 - - 0,00 0 0

2.1.7 Belanja bantuan keuangan kepada

Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/Kel.

6.952 - - 0,00 0 0

2.1.8 Belanja Tidak Terduga - - - -

Jumlah Belanja Tidak Langsung 553.164 745.050 774.639 9,96 851.799 936.645

TABEL 3.5

Realisasi dan Proyeksi Belanja Langsung KOTA SEMARANG

TAHUN 2007 – TAHUN 2011

NO Jenis Belanja Langsung

Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 2.2. Belanja Langsung 2.1.1. Belanja Pegawai 62.100 70.137 104.056 15,00 119.664 137.613

2.1.2. Belanja Barang Jasa 353.112 355.068 366.861 1,94 373.969 381.215

2.1.3. Belanja Modal 159.470 155.069 274.530 37,14 376.487 516.310

(9)

3.4.3. Arah Kebijakan Penerimaan Pembiayaan Daerah

Realisasi penerimaan pembiayaan selama 3(tiga) tahun terakhir (tahun 2007 - 2009) dari tahun ke tahun diambil dari sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan, sehingga penerimaan pembiayaan pada tahun 2010 dapat diprediksi sebagaimana penerimaan pembiayaan yang bersumber dari SILPA tahun 2009 adalah sebesar Rp. 152.378.000.000,- dan tahun 2011 menjadi sebesar Rp 134.709.000.000,- Kebijakan penerimaan pembiayaan tahun 2010 diarahkan pada optimalisasi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan daerah dan digunakan untuk menutup selisih antara Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran Pembiayaan.

Berikut Realisasi dan perhitungan proyeksi pembiayaan tahun 2007– tahun 2011 adalah sebagai berikut :

TABEL 3.6

Realisasi dan Proyeksi Penerimaan Pembiayaan Daerah KOTA SEMARANG Tahun 2007 – Tahun 2011 NO Jenis Penerimaan Pembiayaan Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan rata2 (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

3.1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya (SiLPA)

209.926 249.163 251.778 - 152.378 134.709

3.1.2 Pencairan dana cadangan - - - -

3.1.3 Hasil penjualan kekayaan

Daerah yang dipisahkan - - - -

3.1.4 Penerimaan pinjaman daerah - - - -

3.1.5 Penerimaan kembali

pemberian pinjaman - - - -

3.1.6 Penerimaan piutang daerah - - - -

Jumlah Penerimaan

(10)

3.4.4. Arah Kebijakan Pengeluaran Pembiayaan

Berdasarkan perkembangan realisasi pengeluaran pembiayaan selama 3 tahun terakhir (2007 – 2009) dari tahun ke tahun terjadi penurunan pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar -6,53 %. Jika menggunakan asumsi pertumbuhan rata-rata tersebut, maka dapat diprediksi pengeluaran pembiayaan daerah untuk tahun 2010 menjadi sebesar Rp 7.771.000, dan tahun 2011 sebesar Rp7.631.000,-.

Kebijakan pengeluaran pembiayaan tahun 2010 diarahkan pada pengeluaran untuk penyertaan modal (investasi) daerah dalam rangka pengembangan sumber-sumber pendapatan daerah, Pemenuhan kewajiban hutang, serta pembentukan dana cadangan. Realisasi dan proyeksi Pengeluaran Pembiayaan Daerah Kota Semarang tahun 2006 – 2011 adalah sebagai berikut :

TABEL 3.7

Realisasi dan Proyeksi Pengeluaran Pembiayaan Daerah KOTA SEMARANG TAHUN 2007 – TAHUN 2011 NO Jenis pengeluaran Pembiayaan Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan rata2 (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

3.2.1 Pembentukan dana cadangan - - 5.000 0,00 5.000 5.000

3.2.2 Penyertaan modal (investasi)

daerah 4.050 6.995 2.000 0,65 2.013 2.026

3.2.3 Pembayaran pokok utang 2.195 2.741 950 - 20,23 758 604

3.2.4 Pemberian pinjaman daerah - - - - -

Jumlah Pengeluaran Pembiayaan

(11)

3.4.5. Rekapitulasi Realisasi dan Proyeksi (pagu indikatif) Kerangka Pendanaan Pembangunan Daerah.

TABEL 3.8

Rekapitulasi Realisasi dan Proyeksi Kerangka Pendanaan Pembangunan Daerah KOTA SEMARANG TAHUN 2006 S/D TAHUN 2011 NO Jenis Pendapatan Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan rata2 (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1.1 Pendapatan Asli Daerah 238.238 266.380 265.399 10,00 291.938 321.132

1.1.1 Pajak Daerah 128.536 143.460 147.170 10,00 161.887 178.076

1.1.2 Retribusi Daerah 77.049 84.757 72.545 10,00 79.799 87.779

1.1.3 Hasil Pengelolaan

kekayaan daerah yang dipisahkan

3.824 5.405 6.962 10,00 7.658 8.424

1.1.4 Lain-lain pendapatan asli

daerah yang sah 28.829 32.758 38.722 10,00 42.594 46.853

1.2 Dana Perimbangan 773.906 887.424 925.109 9,46 956.532 989.022

1.2.1 Dana bagi hasil

Pajak/Bagi Hasil bukan pajak

178.776 231.419 195.677 7,00 202.324 231.343

1.2.2 Dana alokasi umum 586.736 634.864 687.629 8,26 710.986 805.872

1.2.3 Dana alokasi khusus 8.394 21.141 41.803 124,79 43.223 821.963

1.3 Lain-lain Pendapatan

Daerah yang sah 161.184 183.871 185.151 7,39 188.944 192.815

1.3.1 Hibah 1.3.2 Dana darurat

1.3.3 Bagi hasil pajak dari

provinsi dan dari

pemerintah daerah lainnya

130.177 151.805 135.109 2,81 138.903 142.803

1.3.4 Dana Penyesuaian dan

Otonomi Khusus 5.000 13.531 29.578 0,00 29.578 29.578

1.3.5 Bantuan Keuangan dari

pemerintah daerah lainnya 26.007 18.535 20.463 0,00 20.463 20.463

A JUMLAH PENDAPATAN (1.1. s/d 1.3) 1.173.328 1.337.675 1.375.658 4,49 1.473.414 1.603.487 2. BELANJA DAERAH 2.1.1 Belanja pegawai 487.009 643.710 686.288 9,96 754.647 829.816 2.1.2 Belanja bunga 1.906 1.610 587 9,96 645 710 2.1.3 Belanja subsidi - - - - 2.1.4 Belanja hibah - 8.597 18.915 9,96 20.799 22.870

2.1.5 Belanja bantuan sosial 53.300 91.133 68.850 9,96 75.708 83.249

(12)

NO Jenis Pendapatan Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan rata2 (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/Kel. 2.1.7 Belanja bantuan keuangan

kepada

Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa/Kel.

6.952 - - 0,00 0 0

2.1.8 Belanja Tidak Terduga - - - -

B JUMLAH BELANJA TIDAK LANGSUNG (2.1.1. s/d 2.1.8.) 553.164 745.050 774.639 9,96 851.799 936.645 2.2. Belanja Langsung 2.1.1. Belanja Pegawai 62.100 70.137 104.056 15,00 119.664 137.613

2.1.2. Belanja Barang Jasa 353.112 355.068 366.861 1,94 373.969 381.215

2.1.3. Belanja Modal 159.470 155.069 274.530 37,14 376.487 516.310 C. JUMLAH BELANJA LANGSUNG (2.1.1.+2.1.2) 574.682 580.274 745.447 16,72 870.120 1.035.137 D. TOTAL JUMLAH BELANJA (B+C) 1.127.846 1.325.324 1.520.086 13,28 1.721.919 1.917.782 E. SURPLUS / (DEFISIT) (A-D) 45.482 12.351 -144.428 - 285.134 - 368.295 3. PEMBIYAAN DAERAH 3.1. Penerimaan Pembiyaan 3.1.1 Sisa Lebih Perhitungan

Anggaran Tahun Anggaran

sebelumnya (SiLPA) 209.926 249.163 291.779 17,10 290.279 109.820

3.1.2 Pencairan dana cadangan - - - -

3.1.3 Hasil penjualan kekayaan Daerah

yang dipisahkan - - - -

3.1.4 Penerimaan pinjaman daerah - - - -

3.1.5 Penerimaan kembali pemberian

pinjaman - - - -

3.1.6 Penerimaan piutang daerah - - - -

F. JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN ( 3.1.1. s/d 3.1.6.) 209.926 249.163 251.778 152.378 134.709 3.2. Pengeluaran Pembiayan

3.2.1 Pembentukan dana cadangan - - 5.000 0,00 5.000 5.000

3.2.2 Penyertaan modal (investasi)

daerah 4.050 6.995 2.000 0,65 2.013 2.026

3.2.3 Pembayaran pokok utang 2.195 2.741 950 - 20,23 758 604

(13)

NO Jenis Pendapatan Realisasi (Rp.000.000) Pertum buhan rata2 (%) Proyeksi (Rp.000.000) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) (9) G. JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN ( 3.2.1. s/d 3.2.4.) 6.245 9.736 7.950 18,78 9.443 11.216 H. Pembiayaan Netto ( F-G) 203.681 239.427 283.829 18,05 335.053 395.522

I. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA) – (H+E)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalens ILO, karakteristik subjek ILO, karakteristik ILO, serta hubungan antara usia, jenis kelamin, status nutrisi, skor PELOD, skor

Untuk membantu pemerintah didalam mengawasi penggunaan uang Negara , dalam kapasitasnya insan pers dengan peran “kontrol sosial ” , maka insan pers diharapkan berperan lebih aktif

Pada tahapan perencanaan penelitian melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) Menganalisis kurikulum dengan menggunakan pembelajaran 3 pada Tema 8 “Daerah Tempat

Kesan-kesan buruk lain : Tiada kesan yang penting atau bahaya kritikal yang diketahui.

Yang dimaksud dengan ”Wajibul Wujud Bidzatihi” (wajib ada dengan zatnya) ialah sesuatu yang adanya itu tidak tergantung dengan adanya sebab yang lain, dan karena

Tentu akibat dari tidak terpenuhinya prestasi yang telah diperjanjikan antara developer residence dan pembeli perumahan tersebut mengakibatkan kerugian materiil

Semua kasus, fokus dan tikus positif yang tertangkap dipetakan dengan menggunakan GPS seri GPSMap 76 CSx, dengan menentukan posisi (waypoint) dan selanjutnya

Frasa berikut yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah (A) sangat baik, tenteram sekali, banyak foto.. (B) sangat besar, sangat harum,