• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. SIKAP ANAK JALANAN 1. Pengertian sikap

Secara historis, istilah sikap (attitude) pertama kali digunakan oleh Herbert Spence pada tahun 1862 yang menunjuk suatu status mental seseorang. Kemudian pada tahun 1888 Lange menggunakan konsep ini dalam suatu eksperimen laboratorium. Kemudian konsep sikap sangat populer digunakan oleh para ahli sosiologi dan psikologi. Pendapat Thurstone pada tahun 1946 menjelaskan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan objek psikologi. Objek psikologi di sini meliputi: simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya. Selanjutnya, Zimbardo & Ebbesen berpendapat bahwa sikap adalah suatu keadaan mudah terpengaruh terhadap seseorang, ide atau objek yang berisi komponen kognitif, afektif dan perilaku (Ahmadi, 1999).

Masih sama dengan pendapat diatas, menurut Gamea (dalam Tatong, Pandu & cangara, 2012) menjelaskan bahwa sikap adalah perasaan positif atau negatif atau keadaan mental yang selalu disiapkan, dipelajari dan diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap orang, objek dan keadaan. Serta pendapat Taylor, Peplau & Sears (2009) menambahkan arti yang menjelaskan

(2)

bahwa sikap adalah evaluasi terhadap objek, isu atau orang. Sikap didasari pada informasi efektif, behavioral dan kognitif.

Pendapat Allport (dalam Meinarno, 2009) mengenai sikap yang merupakan suatu proses berlangsung dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman individual masing-masing mengarah dan menentukan respons terhadap berbagai objek dan situasi. Sementara dalam Walgito (2003) disebutkan bahwa sikap adalah organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.

Azwar (2011) menggolongkan pengertian sikap dalam tiga kerangka pemikiran. Pertama, kerangka pemikiran yang diwakili oleh para ahli psikologi seperti Louis Thurstone, Rensis Likert & Charles Osgood. Menurut mereka, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Kedua, kelompok pemikiran ini diwakili oleh para ahli seperti Chave, Bogardus, LaPierre, Mead & Gordon Allport. Menurut mereka, sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons. Ketiga,

(3)

kelompok pemikiran yang berorientasi kepada skema triadik (triadic scheme). Menurut kerangka pemikiran ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek.

Jadi berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan individu untuk mengevaluasi dunia sosial dimana individu mengarah dan menentukan suatu respons terhadap objek yang merupakan hasil interaksi komponen kognitif, afektif dan konatif.

2. Komponen sikap.

Menurut Sears, Freedman & Peplau (1999) mengatakan bahwa sikap mengandung tiga komponen. Yaitu:

a. Komponen afektif.

Komponen afektif terdiri dari emosi dan perasaan seseorang terhadap stimulus, khusunya evaluasi positif atau negatif. b. Komponen behavioral.

Komponen behavioral adalah cara seseorang bertindak dalam merespons stimulus.

c. Komponen kognitif.

Komponen kognitif terdiri dari pemikiran seseorang tentang objek tertentu, seperti fakta, pengetahuan dan keyakinan.

(4)

Selanjutnya pendapat Mann (dalam Azwar, 2011) mengembangkan tiga komponen sikap yaitu :

a. Komponen kognitif.

Komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama apabila menyangkut masalah atau problem yang kontraversial.

b. Komponen afektif.

Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap.

c Komponen behavioral.

Komponen perilaku berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu

Dengan demikian sikap seseorang pada suatu objek sikap merupakan manifestasi dari karakteristik ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk memahami, merasakan dan berperilaku terhadap objek sikap. Ketiga komponen itu saling berinteraksi dan konsisten satu dengan yang lainnya. Jadi, terdapat pengorganisasian secara internal diantara ketiga komponen tersebut.

(5)

Komponen sikap yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Sears, Freedman & Peplau (1999) yaitu afektif, behavioral dan kognitif. Alasan komponen ini digunakan karena mendukung pengertian sikap yang tertera pada penjelasan diatas.

3. Interaksi komponen-komponen sikap.

Azwar (2000) mengatakan bahwa apabila ketiga komponen sikap tidak konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap sedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali. Prinsip inilah yang banyak dimanfaatkan dalam manipulasi sikap guna mengalihkan bentuk sikap tertentu menjadi bentuk yang lain, yakni dengan memberikan informasi berbeda mengenai objek sikap yang dapat menimbulkan inkonsistensi di antara komponen-komponen sikap seseorang. Dalam ketiga komponen sikap juga terdapat perbedaan tingkatan atau kadar, serta terdapat pula perbedaan komplesitasnya. Pada suatu tingkatan sederhana, komponen afektif sikap seseorang dapat berarti sekedar suka atau tidak suka namun pada tingkatan yang lebih kompleks komponen afektif itu berarti adanya reaksi emosional seperti kecemasan atau kekhawatiran bahkan keebencian. Dalam proporsinya, suatu sikap yang didominasi oleh komponen afektif yang kuat dan kompleks akan lebih sukar untuk berubah walaupun dimasukkan informasi baru yang berlawanan mengenai objek sikap.

(6)

4. Pembentukan sikap

Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Interaksi sosial mengandung arti lebih daripada sekedar adanya kontak sosial dan hubungan antar individu sebagai anggota kelompok sosial. Dalam interaksi sosial, terjadi hubungan saling memengaruhi di antara individu yang satu dengan yang lain, Terjadi hubungan timbal balik yang turut memengaruhi pola perilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologi yang dihadapinya. Diantaranya berbagai faktor yang memengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, orang lain yang dianggap penting, kebudayaan, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu. Penjelasannya sebagai berikut: a. Pengalaman pribadi. Middlebrook (dalam azwar, 200) mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman yang dimiliki oleh seseorang dengan suatu objek psikologis, cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Sikap akan lebih mudah terbentuk jika yang dialami seseorang terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Situasi yang melibatkan emosi akan menghasilkan pengalaman yang lebih mendalam dan lebih lama membekas. b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu cenderung akan memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

(7)

Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keingginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting.

c. Pengaruh kebudayaan. Burrhus Frederic Skinner sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang. Kepribadian merupakan pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah Reinforcement yang kita alami (Hergenham dalam Azwar, 2000). Kebudayaan memberikan corak pengalaman bagi individu dalam suatu masyarakat. kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap individu terhadap berbagai masalah.

d. Media massa. Berbagai bentuk media masa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan individu. Media massa memberikan pesan-pesan yang sugestif yang mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuk sikap terhadap hal tersebut. Jika cukup kuat, pesan-pesan sugestif akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama. Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk , garis

(8)

pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperolah dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. Konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan sehingga tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.

f. Faktor emosional. Suatu bentuk sikap terkadang didasari oleh emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme petahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama (Azwar, 2000).

5. Fungsi Sikap

Berdasarkan teori fungsional yang dikemukakan oleh Katz (1960) yang mengatakan bahwa untuk memahami bagaimana sikap menerima dan menolak perubahan haruslah berangkat dari dasar motivasional sikap itu sendiri. Apa yang dimaksudkan Katz sebagai dasar motivasional merupakan fungsi sikap bagi individu yang bersangkutan. Fungsi sikap bagi manusia telah dirumuskannya menjadi empat macam (dalam Azwar, 2000) yaitu:

a. Fungsi Instrumental, Fungsi Penyesuaian, atau Fungsi Manfaat. Fungsi ini menyatakan bahwa individu dengan sikapnya berusaha untuk memaksimalkan hal-hal yang

(9)

diinginkan dan meminimalkan hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan demikian, individu akan membentuk sikap positif terhadap hal-hal yang dirasakannya akan mendatangkan keuntungan dan membentuk sikap negatif terhadap hal-hal yang dirasanya akan merugikan dirinya. Dalam pergaulan sosial, sikap yang sesuai akan memungkinkan seseorang untuk memperoleh persetujuan sosial dari orang di sekitarnya. Pernyataan sikap tertentu akan dihargai oleh orang-orang yang dianggap penting seperti orangtua, sahabat, maupun kerabat.

b. Fungsi Pertahanan Ego. Sewaktu individu mengalami hal yang tidak menyenangkan dan dirasa akan mengancam egonya atau sewaktu ia mengetahui fakta dan kebenaran yang tidak mengenakkan bagi dirinya maka sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego yang akan melindunginya dari kepahitan kenyataan tersebut. Sikap, dalam hal ini merefleksikan problem kepribadian yang tidak terselesaikan.

c. Fungsi Pernyataan Nilai. Nilai adalah konsep dasar mengenai apa yang dipandang sebagai baik dan diinginkan. Nilai-nilai terminal merupakan preferensi mengenai keadaan akhir tertentu seperti persamaan, kemerdekaan, hak asasi, dll. Nilai-nilai instrumental merupakan preferensi atau pilihan mengenai berbagai perilaku dan sifat pribadi seperti kejujuran, keberanian atau kepatuhan akan aturan. Dengan fungsi ini seseorang seringkali mengembangkan sikap tertentu untuk memperoleh kepuasan dalam menyatakan nilai

(10)

yang dianutnya sesuai dengan penilaian pribadi dan konsep-dirinya.

d. Fungsi Pengetahuan. Menurut fungsi ini mempunyai dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk mencari penalaran dan untuk mengorganisasikan pengalamannya. Adanya unsur-unsur pengalaman yang semula tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun, ditata kembali, atau diubah sedemikian rupa sehingga tercapai suatu konsistensi. Jadi, sikap berfungsi sebagai suatu skema, yaitu suatu cara strukturisasi agar dunia di sekitar tampak logis dan masuk akal. Sikap digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap fenomena luar yang ada dan mengorganisasikannya. Selanjutnya Katz dan Stotland (dalam Azwar, 2000) mengatakan bahwa prinsip konsistensi dalam teori ini terutama berlaku bagi obyek sikap tunggal. Komponen-komponen afektif, kognitif dan perilaku dalam obyek sikap tunggal bergerak menuju suatu konsistensi namun dalam suatu sistem secara keseluruhan berbagai sikap yang berbeda dapat saja tidak konsisten satu sama lain tanpa menimbulkan ketegangan.

B. RESOSIALISASI ANAK JALANAN 1. Pengertian resosialisasi.

Resosialisasi merupakan salah satu tahap persiapan pembelajaran dimana anak jalanan dibantu merekonstruksi sikap dan perilaku mereka berdasarkan norma sosial. Tujuan resosialisasi anak jalanan di rumah singgah adalah membuat

(11)

anak jalanan memiliki sikap dan perilaku yang baik dan positif, menunjukan perilaku sosial yang baik, kompetensi dalam mengatur diri dalam menghadapi masalah BKSN (dalam Saripudin, 2012).

Menurut UNDP & Depsos RI, Sudrajat, Ishak (dalam Saripudin, Suwirta & Komalasari, 2008) menyatakan bahwa upaya untuk mengembalikan sikap dan perilaku terhadap norma sosial sangat penting untuk dilakukan melalui kegiatan resosialisasi. Resosialisasi menekankan sikap dan perilaku anak berubah. Tujuan dari resosialisasi anak jalanan di rumah singgah adalah membuat anak jalanan memiliki sikap baik dan positif, melakukan perilaku sosial yang sesuai dengan norma yang ada di masyarakat, kemampuan untuk mengelola diri dan kemampuan untuk mengatasi masalah yang terjadi.

Glosarium Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (2009) mengatakan bahwa resosialisasi adalah salah satu tahapan pelayanan rehabilitasi sosial yang bertujuan agar bekas klien dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan sosialnya. Resosialisasi dilakukan serangkaian kegiatan untuk memfasilitasi seseorang atau sekelompok orang yang telah memperoleh layanan pemulihan psikososial agar dapat kembali ke dalam keluarga dan masyarakat.

Dari pengertian-pengertian tentang resosialisasi yang dijelaskan maka dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengertian resosialisasi yang dikemukakan oleh BKSN (dalam Saripudin, 2012) yaitu, tahap persiapan pembelajaran dimana anak jalanan dibantu merekonstruksi sikap dan perilaku mereka

(12)

berdasarkan norma sosial. Tujuan resosialisasi anak jalanan di rumah singgah adalah membuat anak jalanan memiliki sikap dan perilaku yang baik dan positif, menunjukan perilaku sosial yang baik, kompetensi dalam mengatur diri dalam menghadapi masalah.

2. Proses Resosialisasi

Terhadap istilah resosialisasi ini, terdapat satu pandangan yang mengidentikkannya dengan istilah “perubahan sikap dan perilaku” pandangan yang sedemikian ini sebagaimana dikemukakan oleh BKSN, UNDP & Depsos RI, Sudrajat, Ishak (dalam Saripudin,2012 & Saripudin, Suwirta & Komalasari, 2008) yang menjelaskan bagaimana program resosialisasi yang diterapkan oleh rumah singgah pada anak jalanan sedemikian agar dapat membantu anak jalanan memiliki sikap baik dan positif, melakukan perilaku sosial yang sesuai dengan norma yang ada di masyarakat.

Sementara menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI (2002) memaparkan beberapa tahapan proses pembelajaran sebagai upaya penanganan anak jalanan melalui 5 langkah. Sebagai berikut:

(13)

Tabel 2:1

Proses pembelajaran penanganan anak jalanan Pelayanan Kondisi anak Tahap Tahap I Penjangkauan Anak masih di jalanan Kunjungan lapangan, pemeliharaan hubungan, pembentukan kelompok, konseling, advocacy, mendamping anak. Induksi peranan, pengisian

file anak dan monitoring kemajuan anak Masuk Rumah Singgah tahap II Pengajian Masalah Resosialisasi: bimbingan sosial, penyuluhan, permaian, rekreasi. Sikap dan perilaku

normatif Tahap III Persiapan Pemberdayaan Tahap IV Pembelajaran

Mandiri dan proses produktif

Pemberdayaan Anak: Beasiswa, Modal Usaha,

Pelatihan ketrampilan. Orang Tua:Modal Usaha Tahap V

Terminasi

Anak keluar dari Rumah Singgah

Mandiri/Produktif/Alih kerja, Menyatu dengan

keluarga, Boarding House/Panti, Peningkatan

Penghasilan . 24

(14)

Penjelasan tahapan proses pembelajaran sebagai upaya penanganan anak jalanan melalui 5 tahapan sebagai berikut.

1. Tahap I: Penjangkauan.

a. Secara intensif berlangsung pada tiga bulan pertama dan selanjutnya sesuai kebutuhan dan dapat menggunakan anak-anak jalanan lainnya.

b. Para petugas turun ke jalanan/kantong sasaran, bertemu dan berkenalan dengan anak jalanan.

c. Membuat pemetaan wilayah dan gambaran keadaan anak jalanan.

d. Mengidentifikasi mereka secara kelompok seperti jenis kegiatan. Asal daerah, kebiasaan di jalanan, dll.

e. Membentuk kelompok-kelompok, memilih ketuanya dan anggota dengan jelas.

f. Mensosialisasikan manfaat Rumah Singgah. g. Menambahkan kepercayaan kepada pekerja sosial.

2. Tahap II: Mengkaji Permasalahan Anak

a. Induksi peranan anak Jalanan di Rumah Singgah b. Mengisi file anak

c. Mendiskusi permasalahan anak

d. Membahas perkembangan kemajuan anak sesuai perubahan-perubahan yang terjadi pada anak.

(15)

3. Tahap III: Persiapan Pemberdayaan

a. Membuat Rumah Singgah sebagai suatu keluarga yang terbuka dan mau mendengar nasehat

b. Membuat peraturan yang menyenangkan dan tidak memaksa anak

c. Memberikan bimbingan sosial baik kasus maupun perilaku sehari-hari dengan cara dan metode yang menyenangkan.

d. Membuat jadwal pemeriksaan kesehatan setiap bulan. e. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan anak

seperti permainan, olahraga, kesenian, dll.

f. Membagi penanganan anak jalanan oleh pekerjaan sosial. file untuk itu dapat dimintakan kepada petugas administrasi.

g. Membuat persiapan-persiapan pada diri anak terhadap kegiatannya.

4. Tahap IV: Rujukan Pemberdayaan

a. Mengidentifikasi anak secara satu persatu berdasarkan kebutuhan pelayaan

b. Menghubungi sumber-sumber yang diperlukan dan mendorong anak mendayagunakannya.

c. Menyiapkan anak memperoleh pelayanan tersebut. d. Membuat kesepakatan dengan sistem sumber e. Mengantar anak memperoleh pelayanan.

f. Mendorong anak bertanggungjawab untuk melakukan kegiatan dan menerima pelayanan tersebut.

(16)

g. Memantau kemajuan anak selama memperoleh pelayanan dan membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi.

5. Tahap IV: Pengakhiran (Terminasi)

Tahap pengakhiran berarti anak selesai menerima pelayanan. Ada beberapa keadaan akhir pada fase ini, yakni:

a. Mandiri/ Produktif/ Alih kerja

b. Anak kembali pada keluarganya, panti atau lembaga pengganti

c. Anak masih di jalanan d. Masuk boarding house

e. Anak masih di jalanan namun mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

f. Peningkatan pendapatan bagi orang tuanya.

Salah satu tahap yang paling penting adalah tahap persiapan pemberdayaan dimana anak jalanan mengikuti proses resosialisasi. Pada tahap ini ada usaha untuk merekonstruksi sikap dan perilaku mereka berdasarkan norma sosial. Proses resosialisasi, meliputi pengenalan peranan anggota rumah singgah, melakukan kegiatan keagamaan, pengajaran dan diskusi tentang norma sosial, permainan pertunjukan seni dan olahraga, membaca buku, bimbingan sosial perilaku sehari-hari, bimbingan sosial kasus, pemeliharaan kesehatan, penyatuan kembali dengan keluarga, surat menyurat dan kunjungan rumah kepada orang tua anak jalanan dan terakhir pertemuan dengan warga sekitar rumah singgah secara rutin maupun dalam kegiatan bersama.

(17)

C. ANAK JALANAN

1. Pengertian anak jalanan

Menurut Direktorat Jendral Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI (2002) anak jalanan adalah anak yang berusia 18 tahun ke bawah yang berada di jalanan seharian untuk bekerja dan menggelandang, Menurut imawan (1999) anak jalanan adalah anak yang sudah sangat biasa hidup tidak teratur di jalan raya, bisa sambil bekerja tetapi dapat juga menggelandang saja setiap hari. Usia berkisar 5-18 tahun, sikapnya seenaknya sendiri dan tidak punya aturan dalam hidupnya sehingga sangat sulit merasa betah dalam lembaga penampungan yang disediakan. Menurut definisi Departemen Sosial (dalam Nasution & Nashori, 2007), anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat umum lainnya. Anak jalanan dalam konteks ini adalah anak yang berusia antara enam sampai dengan 18 tahun.

Munajat (2003) menjelaskan bahwa anak jalanan adalah seseorang yang tergolong pada umur belum menikah yang karena sesuatu sebab sehingga terpaksa bekerja di jalanan atau melarikan diri ke jalanan. Penjelasan yang agak berbeda dari pendapat yang dikemukakan sebelumnya diajukan oleh UNDP (dalam Yusra & Siregar, 2006) yang menyatakan bahwa anak jalanan merupakan suatu pribadi dan dunia sendiri yang berbeda dengan dunia anak-anak pada umumnya. Sebagai suatu dunia didalamnya terdapat mekanisme hidup yang khas seperti cara berinteraksi, berkomunikasi, berperilaku, berkelompok dan

(18)

bertahan hidup. Mekanisme tersebut terbentuk dari proses interaksi dengan cara hidup di jalanan dan umumnya berinteraksi dengan orang-orang yang berada di jalanan. Oleh karena itu, siapapun yang bekerja dengan anak-anak jalanan dalam rangka mencapai perubahan-perubahan yang diinginkan harus memahami hidup mereka tersebut.

Dari hasil penelitian dengan pendekatan kualitatif oleh Boakye & Boaten (dalam Hutapea, 2012) terdapat definisi tentang anak jalanan dari perspektif mereka. Hal ini sangat menarik sebab sejauh ini belum ada penelitian atau definisi tentang anak jalanan dari perspektif bagaimana anak jalanan memandang dirinya sendiri. Anak-anak tersebut bersikukuh bahwa anak jalanan adalah anak-anak yang bekerja dan mencari penghidupan di jalanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa anak-anak terbebas dari pengawasan atau sistem pendukung keluarga serta semakin memperkuat adanya kesenjangan antara orang (publik) mempersepsi anak jalanan dan anak jalanan mempersepsikan dirinya sendiri.

Jadi berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa anak jalanan adalah anak-anak yang berusia 5-18 tahun yang menghabiskan waktu di jalanan untuk memperoleh penghasilan yang terdiri dari anak-anak yang mempunyai hubungan dengan orangtua atau terputus hubungannya dengan orang tua.

2. Ciri-ciri anak jalanan

Berdasarkan Direktorat Jendral Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI (2002) terdapat ciri-ciri yang

(19)

sangat melekat pada anak-anak jalanan yaitu : (a) Berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya yakni pulang secara periodik misalnya seminggu sekali, sebulan sekali, dan tidak tentu. Mereka umumnya berasal dari luar kota yang bekerja di jalanan. (b) Berada di jalanan sekitar 8 s.d 12 untuk bekerja, sebagian mencapai 16 jam. (c) Bertempat tinggal di jalanan dan tidur di sembarang tempat seperti emperan toko, kolong jembatan, taman, terminal, stasiun, dll. (d) Tidak bersekolah lagi.

Menurut BKSN (dalam Dewi, 2004) bila dilihat dari ciri-ciri fisik dan psikis anak jalanan mempunyai karakteristik berbeda dengan anak pada umumnya, seperti warna kulit kusam, rambut berwarna kemerah-merahan, usia berkisar 6 sampai dengan 18 tahun, pakaian tidak terurus, mobilitas tinggi, bersikap acuh tak acuh, sangat sensitif, penuh curiga, berwatak keras, kreatif, memiliki semangat hidup tinggi, berani menanggung resiko, mandiri. Sementara itu, kehidupan anak jalanan pada umumnya berada di trotoar, perempatan jalanan sekitar lampu lalu lintas, jalan raya, tempat pembuangan sampah, kendaraan umum, tempat bus kota, terminal bus, stasiun kereta api, pasar tradisonal, pusat perbelanjaan, mall, atau di taman-taman perkotaan.

Mulandar (dalam Jauchar, 2008) memberikan empat ciri yang melekat ketika seorang anak digolongkan sebagai anak jalanan :

a. Berada di tempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, tempat-tempat hiburan) selama 3-24 jam sehari.

(20)

b. Berpendidikan rendah (kebanyakan putus sekolah, sedikit sekali tamat SD)

c. Berasal dari keluarga-keluarga tidak mampu (kebanyakan kaum urban, beberapa diantaranya tidak jelas keluarganya.) d. Melakukan aktivitas ekonomi (melakukan pekerjaan pada

sektor informal).

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri anak jalanan sebagai berikut : mereka yang memiliki hubungan atau terputusnya hubungan dengan keluarga, berada di jalanan sekitar 16 jam atau 24 jam, tinggal di sembarang tempat seperti emperan tokoh, gerbong kereta api. Berpakaian tidak terurus, sifat acuh tak acuh dan sebagian besar tidak bersekolah.

3. Kategori anak jalanan

Anak jalanan juga dapat dibedakan dalam tiga kelompok. Surbakti (dalam Jauchar, 2008) membagi pengelompokan anak jalanan tersebut sebagai berikut :

a. Children On The Street; yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di jalanan, namun mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua mereka. Fungsi anak jalanan dalam kategori ini adalah untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung dan tidak dapat diselesaikan sendiri oleh orang tuanya.

(21)

b. Children Of The Street; yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial dan ekonomi, beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tua mereka tetapi frekuensinya tidak menentu. Banyak diantara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab, biasanya kekerasan, lari, atau pergi dari rumah.

c. Children From Families Of The Street ; yakni anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup dijalanan, walaupun anak-anak ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang-ambing dari suatu tempat ketempat yang lain dengan segala resikonya.

Dalam (the world bank, 2008) membagi atau mengklasifikasikan anak jalanan menjadi 4 jenis, yaitu:

a. A’ Child Of the street’. Tidak memiliki rumah tetapi tinggal di jalanan. keluarga mereka mungkin membuang mereka atau mungkin tidak ada anggota keluarga yang ada.

b. A’ Child On The Street’, mereka tinggal bersama keluarga mereka pada tiap kesehariannnya. Anak-anak ini tetap kembali tiap malam untuk tidur di rumah, tetapi sebagian besar harinya pada siang dan malam berada pada jalanan karena kemiskinan, kepadatan, penduduk, pelanggaran fisik dan seksual di rumah.

c. A’ Part Of A Street Family. Beberapa anak tinggal di pinggiran jalanan atau pinggiran kota dengan istirahat bersama keluarga mereka. Keluarga mereka menjadi miskin karena dipecat atau banyak utang. Bencana alam atau perang yang menekan mereka untuk tinggal di jalanan. mereka

(22)

memindahkan barang-barang mereka dari tempat satu ke tempat yang lain ketika mereka membutuhkan. Sering anak-anak dalam keluarga jalanan ini bekerja di jalanan dengan anggota kelurga yang lain.

d. In Institutional Care, seperti rumah singgah, anak jalanan yang berada dalam rumah singgah

Berdasarkan berbagai uraian yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa anak jalanan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah children of The street. Anak jalanan yang dijadikan subjek pada penelitian ini masih mempunyai keluarga tetapi intensitasnya bersama keluarga sangat minim. Selain itu, terdapat beberapa penyebab sehingga ia turun ke jalanan adalah ketidakharmonisan dalam keluarga dan menjadi korban kekerasan oleh anggota keluarganya dan ingin bersenang-senang di jalanan. In institutional care merupakan kategori anak jalanan pada penelitian ini dikarenakan subjek sekarang telah menetap di Yayasan Emas Indonesia.

4. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya anak jalanan Setijaningrum (2008) menjelaskan bahwa alasan sebagian besar anak jalanan turun ke jalan karena; a) masalah ekonomi. Mereka turun ke jalan untuk mencari uang, membantu orang tua dan untuk biaya sekolah. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus menghidupi diri sendiri karena tidak memiliki keluarga, sehingga mau tak mau harus turun ke jalan untuk mencari uang; b) Karena masalah keluarga. Broken home dan keluarga yang tidak harmonis juga merupakan alasan mengapa anak turun ke

(23)

jalan dan memilih jalan hidup sebagai anak jalanan yang dirasakan oleh mereka bisa hidup bebas; c) Ada juga yang mereka turun ke jalan karena ikut-ikutan teman. Sekedar bersenang-senang dan kumpul-kumpul bersama teman. Kegiatan mereka adalah mabuk-mabukan, berjudi, dan akhirnya menyeret mereka ke tindakan kriminal dengan melakukan pencurian, perampokan, pencopetan, dan lain-lain.

Yayasan Duta Awam Semarang (dalam Nasution & Nashori, 2007) mengkategorikan faktor penyebab anak turun ke jalanan karena tiga faktor yaitu ekonomi, masalah keluarga dan pengaruh teman. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama yang menjadikan anak turun ke jalanan, yaitu karena kemisikinan, baik struktural maupun non struktural, sehingga anak turun ke jalan bukan karena inisiatif sendiri. Banyak kasus anak turun ke jalanan justru karena perintah orangtuanya. Kemudian, faktor keluarga bisa jadi penyebab seorang anak turun ke jalanan, yaitu karena penanaman disiplin dan pola asuh otoriter yang kaku dari orangtua, keluarganya selalu ribut, perceraian, diusir dan dianiaya orangtua. Faktor teman juga bisa menyebabkan anak turun ke jalanan, yaitu adanya dukungan sosial atau bujuk rayu dari teman.

Selanjutnya terdapat beberapa laporan penelitian yang dikutip dari Shalahuddin (dalam Kushartati, 2004) terungkap bahwa ada berbagai faktor pendorong dan penarik yang menyebabkan anak turun ke jalan. Banyak pihak meyakini bahwa kemiskinan merupakan faktor utama yang mendorong anak pergi ke jalan. Faktor-faktor lainnya seringkali merupakan

(24)

turunan akibat kondisi kemiskinan atau ada relasi kuat yang saling mempengaruhi antar faktor-faktor tersebut, yaitu : kekerasan dalam keluarga. Kekerasan dalam keluarga banyak diungkapkan sebagai salah satu faktor yang mendorong anak lari dari rumah dan pergi ke jalanan. Tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anak memang dapat terjadi di semua lapisan sosial masyarakat. Namun, pada lapisan masyarakat bawah/ miskin, kemungkinan terjadinya kekerasan lebih besar dengan tipe kekerasan yang lebih beragam. Tipe-tipe kekerasan bisa berupa kekerasan mental, kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Seorang anak bisa mengalami lebih dari satu tipe kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarganya. Anak yang turun ke jalanan akibat menjadi korban kekerasan mental sebagian besar dalam bentuk dimarahi atau merasa tidak dipercaya dan selalu disalahkan oleh anggota keluarganya. Pergi ke jalanan dinilai sebagai upaya untuk melepaskan atau menghindari tekanan yang dihadapi di dalam keluarga.

Berdasarkan penjelasan diatas ada beberapa faktor penyebab sehingga subjek turun ke jalanan. Salah satunya ialah kekerasan dalam keluarga yang sangat dominan dibandingkan rasa keinginan untuk bebas. Selain itu, kegiatan mengamen untuk memperoleh uang disebabkan ekonomi keluarga yang sangat rendah.

(25)

D. RUMAH SINGGAH

1. Pengertian rumah singgah

Direktorat Jendral Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI (2002) menjelaskan bahwa rumah singgah adalah suatu wahana yang dipersiapkan sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak yang membantu mereka. Dari pengertian ini, terkandung unsur rumah singgah yang memberlakukan proses informal, memberikan perlindungan dan suasana penanaman kembali nilai dan norma masyarakat kepada anak jalanan.

Selain itu, Munajat (2006) menjelaskan bahwa rumah singgah adalah salah satu bentuk pendekatan dalam penanganan anak jalanan, berupa wahana yang dipersiapkan sebagai perantara anak jalanan. Suatu wahana yang dipersiapkan sebagai perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang membantu mereka. Dengan demikian rumah singgah bukan merupakan lembaga pelayanan sosial yang membantu menyelesaikan masalah namun merupakan lembaga pelayanan sosial yang memberikan proses informal dengan suasana resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Masih sama dengan pendapat diatas Asmorowati (2008) mengemukakan bahwa rumah singgah merupakan upaya penyediaan rumah bagi anak jalanan yang diharapkan menjadi wahana perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak yang membantu mereka serta memberikan intervensi yang tepat bagi mereka. Secara ideal rumah singgah diharapkan dapat menjadi

(26)

proses pembinaan informal yang memberikan suasana resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Selanjutnya pendapat dari Glosarium Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (2009) yang menjelaskan bahwa rumah singgah merupakan tempat penampungan sementara anak jalanan sebagai wahana pelayanan kesejahteraan sosial.

2. Tujuan rumah singgah

Direktorat Jendral Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI (2002) mengemukakan bahwa tujuan dari penyelenggaraan Rumah Singgah itu sendiri ada dua macam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum rumah singgah adalah membantu anak jalanan mengatasi masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Adapun tujuan khusus rumah singgah adalah :

a. Membentuk kembali sikap dan perilaku anak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

b. Mengupayakan anak kembali ke rumah jika memungkinkan atau ke panti dan lembaga pengganti lainnya jika diperlukan. c. Memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan

kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi warga masyarakat yang produktif. Menurut proyek INS/94/007, 1997;14.

Selain itu, Munajat (2006) menjelaskan mengenai realisasi tujuan Rumah Singgah tersebut diupayakan melalui penanganan yang dilaksanakan oleh pekerja sosial. Adapun prinsip utama

(27)

dalam melaksanakan realisasi dengan anak jalanan, pekerja sosial sebagai kawan serta sebagai pendamping. Prinsip ini menekankan perlunya mempertahankan kemampuan positif anak dan penanganannya berdasarkan aspirasi dan potensi yang dimiliki anak. Prinsip tersebut mengandung pengertian adanya keyakinan akan nilai pembawaan, integritas dan harga diri dari anak jalanan, keyakinan bahwa anak jalanan sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial, menghadapi masalah ekonomi, pribadi dan sosial. Mereka mempunyai hak untuk menemukan sendiri permasalahan yang dihadapinya. Sedangkan fungsi pendampingan di dalam Rumah Singgah menekankan perwujudan dari hak individu, seperti penghormatan diri, harga diri, penentuan nasib sendiri dan kesempatan yang adil dalam kehidupan sosial.

Melalui rumah singgah, kiranya tujuan usaha kesejahteraan sosial tersebut akan mudah tercapai, mengingat pada rumah singgah terdapat kondisi yang kondusif untuk menyelenggarakan upaya atas perwujudan dari human dignity, self determanition, equality opportunity dan sosial responsibility. Di dalam rumah singgah sosialisasi tata nilai dilaksanakan berdasarkan nilai pembawaan yang dimiliki oleh masing-masing anak jalanan. Melalui rumah singgah anak jalanan juga akan mengadakan penyesuaian terhadap tata nilai dalam kehidupan masyarakat luas, tanpa melalui gejolak psikis dalam penyesuaian dirinya. Sehingga perubahan perilaku mereka akan sesuai dengan harapan masyarakat tanpa beban berat.

(28)

3. Yayasan Emas Indonesia a. Sejarah Yayasan

Melihat kenyataan yang sangat memprihatinkan ini, sekelompok anak-anak muda berbagai kalangan tergerak bersama-sama dengan pemerintah berusaha untuk memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang terjadi pada masyarakat akhir-akhir ini khususnya yang terjadi di kota Semarang dan Indonesia pada umumnya. Untuk itu mereka mendirikan suatu lembaga sosial yang bergerak untuk mengentaskan generasi bermasalah yang ada di kota dan bangsa ini. Lembaga sosial yang dibentuk pada tahun 2004 diberi nama Yayasan YEBEKA MOVETA.

Pergerakan pelayanan kepada masyarakat bermasalah (pra sejahtera) diawali dengan beberapa rekan-rekan yang sejak tahun 1999-2000 sudah bergerak untuk melakukan pendekatan-pendekatan pada anak-anak jalanan yang ada di kota Semarang khususnya di daerah Tugu Muda, Pasar Johar, Kanjengan dan Peterongan dan juga rekan-rekan yang terlibat dalam kebiasaan mengkonsumsi obat-obat terlarang. Pendampingan bagi anak-anak jalanan diikuti dengan mengadakan pembelajaran gratis (bagi yang usia sekolah) dan pemberian bea siswa bagi anak tersebut serta pembinaan mental dan moral. Lewat pendekatan-pendekatan tersebut akhirnya di tahun 2003 beberapa di antara anak-anak tersebut yang jumlahnya sekitar 50-70 anak menyatakan ingin dibina lebih lanjut. Akhirnya dengan kesepakatan bersama mereka mengontrak sebuah rumah yang dijadikan tempat

(29)

pembinanan (Rumah Singgah) dan selanjutnya pada tahun 2004 mereka mendaftarkan ulang yayasan kepada pejabat notaris dengan pusat pembinaan terletak di Jalan Onta Raya 10, Semarang.

b. Transformasi Yayasan

Melihat kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dan melalui berbagai pertimbangan maka mulai tahun 2011 Yayasan Yebeka Moveta bertransformasi secara struktural dan membentuk Yayasan baru dengan nama Yayasan Emas Indonesia. Hal ini tidak mengubah visi dan misi dalam melayani anak-anak jalanan namun hanya bersifat merapikan Yayasan secara administratif pada bulan Agustus 2011 Yayasan Emas Indonesia telah berdiri secara legal dengan akta no.6/Notaris Dwi Hastuti, SH, MKn/Agustus/2011 dan telah memperoleh pengesahan dari Menkumham RI dengan nomor : AHU-7437.AH.01.04. Tahun 2011.

c. Isi Yayasan

Menyiapkan generasi yang tangguh yang sudah mengalami pemulihan batiniah, meningkatkan status sosial, akhlak moral, religius serta lepas dari kebiasaan-kebiasaan negatif sehingga akhirnya menjadi generasi yang berbudi luruh dan berguna bagi transformasi kota dan bangsa Indonesia.

d. Misi Yayasan

1. Penjangkauan secara langsung ke jalanan.

(30)

2. Membangun rumah-rumah persinggahan sebagai tempat perteduhan anak-anak jalanan yang sudah dilayani dan di bimbing lebih lanjut.

3. Membuat panti-panti asuhan. 4. Membuat rumah-rumah rehabilitas.

5. Memberikan bea siswa bagi pendidikan anak-anak.

6. Memberikan jasa konsultasi bagi anak/ keluarga bermasalah

7. Menyiapkan generasi siap terjun dalam dunia kerja. 8. Membuka lapangan kerja.

e. Program Kerja Yayasan 1. Pelayanan Anak Jalanan

Sebuah pelayanan pendekatan kepada anak-anak jalanan dan keluarga yang bermasalah dengan cara berbagai kasih, membantu mereka dalam pelajaran sekolah, pendekatan kepada orang tua dan lingkungan sekitar.

2. Pengentasan/ Resosialisasi.

Diambil dari kata dasar entas yang berarti: mengangkat dari suatu tempat untuk menarik ke atas, mengeluarkan dari lingkungan, menyadarkan dan memperbaiki kehidupan individual tersebut. Dengan demikian anak-anak yang sudah dibina dan selesai masa pembinaan yang mereka lalui di rumah pengentasan, tentunya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku maka anak tersebut akan dientaskan dari rumah pengentasan.

(31)

3. Pembinan Iman

Sebuah pelayanan yang membekali batiniah anak-anak binaan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan dalam menghadapi kerasnya hidup yang dijalanani. Setiap hari jumat mulai pukul 19.00-21.00 WIB terkumpul ± 30 orang yang terdiri dari anak-anak binaan serta pengurus dan aktivis Yayasan untuk dibina imannya bersama-sama Rumah Pengentasan. Kegiatan ini juga bertujuan sebagai sarana untuk menyatukan visi dan misi Yayasan Emas Indonesia di kalangan pengurus, aktivis dan anak binaan.

4. Kegiatan Pelatihan Usaha

Merupakan sebuah kegiatan untuk mendidik dan memperlengkapi anak-anak yang sudaha siap untuk masuk di dunia kerja agar di kemudian hari mereka dapat hidup mandiri. Ada beberapa usaha yang sudah pernah kami rintis antara lain Usaha Es Jus dan juga Usaha Es Tebu sekitar tahun 2006-2007, dan dalam kurung waktu tahun 2010-sekarang kami telah membuka Usaha Warung Kucing dan Counter Handphone.

5. Program beasiswa

Sudah dari sejak awal pelayanan melalui Departeman Pendidikan Yayasan kami selalu berusaha memberikan beasiswa kepada anak binaan kami secara intelejensia mampu namun kurang mampu secara finansial. Awalnya kami memberikan donasi secara swadana maupun dari beberapa kenalan yang tergerak. Namun puji Tuhan

(32)

selama lebih kurang dua tahun ini ada beberapa pihak yang berkerjasama dengan kami untuk memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak binaan kami.

E. DINAMIKA RESOSIALISASI ANAK JALANAN

Dalam penelitian ini objek sikap adalah resosialisasi pada anak jalanan yang memiliki latar belakang menodong dan memakai obat-obatan. Secara konseptual anak jalanan adalah seseorang yang tergolong belum menikah yang karena suatu sebab sehingga terpaksa bekerja di jalanan atau melarikan diri ke jalanan (Munajat, 2003). Menurut BKSN (dalam Dewi, 2004) anak jalanan mempunyai ciri-ciri fisik dan psikis seperti warna kulit kusam, rambut berwarna kemerah-merahan, pakaian tidak terurus, bersikap acuh tak acuh, sangat sensitif dan berani. Ada pula beberapa ciri-ciri fisik dan psikis yang sangat melekat pada subjek sebelum ia tinggal di Yayasan yaitu: warna kulit kusam, rambut kemerah-merahan, pakaian tidak teratur, berwatak keras,dan mandiri.

Kategori subjek pada penelitian ini selaras dengan pendapat Surbakti (dalam Jauchar, 2008) yang membagi pengelompokan anak jalanan salah satunya children of the street, yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi, beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tua mereka tetapi frekuensinya tidak menentu. Banyak diantara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab, biasanya kekerasan, lari atau pergi dari rumah. Selain itu, penjelasan dari The World Bank (2008) mengklasifikasikan anak jalanan, salah satunya In Institutional Care Yaitu mereka yang

(33)

tinggal di rumah singgah. In Institutional Care juga melekat pada kedua subjek dalam penelitian ini karena mereka sekarang tinggal di Yayasan Emas Indonesia. Selanjutnya faktor-faktor mereka turun ke jalanan menurut Setijaningrum (2008) menjelaskan bahwa sebagaian anak turun ke jalanan karena (a) masalah ekonomi (b) masalah keluarga (c) mereka turun ke jalan karena ikut-ikutan teman. Sekedar bersenang-senang dan kumpul bersama teman-teman itulah yang merupakan alasan salah satu subjek saat turun ke jalanan.

Selanjutnya terdapat beberapa laporan penelitian yang dikutip dari Shalahuddin (dalam Kushartati, 2004) menjelaskan bahwa ada berbagai faktor pendorong dan penarik yang menyebabkan anak turun ke jalanan salah satunya adalah kekerasan dalam keluarga. kekerasan dalam keluarga banyak diungkapkan sebagai salah satu faktor yang mendorong anak lari dari rumah dan pergi ke jalanan. Faktor kekerasan jugalah yang dialami oleh salah satu subjek dalam penelitian ini. Secara psikologi mereka adalah anak-anak yang pada taraf tertentu belum mempunyai mental emosional yang kokoh, sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang kerasa dan cenderung berpengaruh negatif bagi perkembangan. Hal ini sebagai penyebab dari perkembangan tidak sehat seorang anak, perkembangan ketidakmampuan menyesuaikan diri, maka kriminalitas muncul sebagai akibat konflik-konflik mental, rasa tidak dipenuhi kebutuhan pokoknya seperti rasa aman, dihargai. Sehingga ada keinginan bebas untuk melakukan apa saja termasuk kriminalitas atau delinkuensi (Juita, Astanti, Riana, 2009).

(34)

Selaras dengan penjelasan diatas, terdapat pula bentuk-bentuk delinkuensi yang dilakukan oleh beberapa anak jalanan yang tinggal di Yayasan Emas Indonesia. Mereka adalah subjek dalam penelitian ini, diakui mereka bahwa tindakan delinkuensi yang dilakukan adalah menodong dan memakai obat-obatan. Pengaruh jalanan dan komunitas jalanan membuat sikap dan perilaku mereka tidak sesuai dengan lingkungan sosial. Keberadaan anak di jalanan menunjukkan terganggunya keberfungsian sosial anak. Konsep keberfungsian sosial mengacu pada kepada situasi dan relasi anak yang melahirkan berbagai konsep dan tugas mereka.

Oleh karena itu, Horton & Hunt (dalam Saripudin & Karim, 2009) berpendapat bahwa orang yang harus menjalani peralihan peran dituntut untuk benar-benar belajar kembali sehingga proses itu disebut resosialisasi. Resosialisasi merupakan salah satu tahap persiapan pembelajaran dimana anak jalanan dibantu untuk merekonstrusi sikap dan perilaku mereka berdasarkan norma sosial yang ada. Tujuan resosialiasi anak jalanan di rumah singgah adalah membantu anak jalanan memiliki sikap dan perilaku yang baik dan positif, menunjukan perilaku sosial yang baik, kompotensi dalam mengatur diri dalam menghadapi masalah (BKSN, dalam Saripudin, 2012). Selain itu, Glosarium penyelenggaraan kesejahteraan sosial (2009) menjelaskan bahwa resosialisasi adalah salah satu tahap pelayan rehabilitasi sosial yang bertujuan agar bekas klien dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, untuk mengetahui keberfungsian program resosialisasi dalam penanganan anak

(35)

jalanan maka dapat dilihat dari segi proses maupun hasil, salah satunya yaitu dengan melihat sikap anak jalanan yang sedang menjalani proses resosialisasi terhadap program tersebut. Baron & Byrne (2004) menggunakan isitilah Attitude untuk merujuk pada evaluasi terhadap berbagai aspek dunia sosial serta bagaimana evaluasi tersebut memunculkan rasa suka atau tidak suka terhadap isu, ide, orang, kelompok sosial bahkan objek tertentu. Pendapat dari Baron & Byrne (2004) juga menjelaskan bahwa sikap sebagai sesuatu yang penting bukan hanya karena sikap sulit diubah tetapi ada beberapa alasan logis yang menjadikan sikap sebagai isu sentral dalam bidang psikologi sosial. Pertama, sikap sangat memengaruhi pemikiran sosial, meskipun sikap tersebut tidak selalu direfleksikan dalam tingkah laku yang nampak. Kedua, sikap sebagai hal yang penting karena sikap memengaruhi tingkah laku individu maupun kelompok, terutama terjadi saat sikap yang dimiliki kuat dan mantap.

Terkait dengan paparan diatas terdapat hasil penelitian dari Sakina (2001) yang berjudul Penilaian Anak Jalanan Terhadap Pelayanan Rumah Singgah dan Hubungannya Dengan Perilaku Mereka menyatakan bahwa mayoritas anak jalanan memiliki penilaian positif yaitu mereka merasa puas terhadap fungsi rumah singgah sebagai tempat pertemuan, perlindungan, pusat informasi, kuratif-rehabilitatif, pelayanan sosial dan resosialisasi. Namun di sisi lain terdapat penelitian yang dilakukan oleh Saripudin & Karim (2009) mengenai Program Resosialiasi Kanak-Kanak Jalanan di Rumah Singgah: Satu Penilaian menyatakan bahwa program resosialisasi kanak-kanak di rumah singgah di Bandar

(36)

Bandung masih terdapat beberapa kelemahan dan masalah-masalah yang dihadapi.

Berdasarkan paparan diatas secara tidak langsung menjelaskan adanya hubungan sikap dengan perilaku. Sikap anak jalanan terhadap program resosialisasi juga akan memmengaruhi perilaku anak jalanan. Artinya, semakin positif sikap anak jalanan terhadap program resosialisasi maka semakin positif pula perilaku mereka. Jadi secara tidak langsung akan menjelaskan keberfungsian dari program resosialisasi dalam penanganan anak jalanan. Sherif & Sherif menyatakan bahwa sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2003). Ahmadi (1999) menjelaskan bahwa meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap, namun ada beberapa ciri yang dapat disetujui. Sebagian besar ahli dan penelitian sikap setuju bahwa sikap adalah predisposisi yang dipelajari yang memengaruhi tingkah laku. Untuk beberapa alasan inilah sikap telah menjadi konsep utama dalam psikologi sosial dan menjadi konsep utama untuk mengevaluasi ide, pemikiran serta keseluruhan dunia sosial. Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk melihat program resosialisasi yang merupakan salah satu objek sikap.

Berdasarkan paparan di atas serta penjelasan dari beberapa hasil penelitian, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Resosialisasi Anak Jalanan (Studi Kasus Sikap Anak Jalanan

(37)

Yang Memiliki Latar Belakang Menodong dan Memakai Obat-Obatan di Yayasan Emas Indonesia).

Referensi

Dokumen terkait

Grafik step respon hasil simulasi untuk sistem pengendalian kcc epatan putaran motor diesel high speed dengan menggunakan kontro l er logika fuzzy kctika motor dilakukan

Dalam konteks perguruan tinggi agama Katolik, pengembangan sumber daya manusia dapat dipandang sebagai upaya berkesinambungan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam

HKEY_LOCAL_MACHINE/Software/Microsoft/Windows/CurrentVersion/Explorer/DocFolderPaths Pilih menu Edit > New > String Value dan beri nama sesuai dengan username yang digunakan di

Paparan di atas menunjukkan bahwa mahasiswa prodi PBA memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan mahasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk membina dan mengembangkan

Dalam pelaksanaannya, siswa akan terlibat secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran, siswa akan terdorong untuk mengonstruksi sendiri konsep yang sedang

Orang tua berusaha menggunakan bahasa yang mudah untuk dimengerti oleh anak dan hal ini penting untuk dilakukan oleh orang tua, agar komunikasi antara orang

Di daerah Beoga, Puncak Jaya, Papua, tersingkap sekelompok batuan ofiolit yang terdiri atas piroksenit, dunit, serpentenit, dan peridotit yang tersebar memanjang

Pandangan peneliti potensi sumber daya alam Sumenep yang begitu melimpah ruah baik dari sektor laut, minyak dan gas bumi (migas) atau sumber daya alam lain