• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Industri Kelapa Sawit Indonesia

Seiring dengan meningkatnya luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia, maka secara otomatis industri pengolahan kelapa sawit juga akan meningkat. Produksi kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit antara lain memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani dan masyarakat, produksi yang menjadi bahan baku industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri, ekspor CPO yang menghasilkan devisa dan menyediakan kesempatan kerja (Fauzi, dkk., 2012).

Berkembangnya pabrik kelapa sawit mampu meningkatkan devisa negara yaitu minyak nabati yang dihasilkan banyak digunakan sebagai bahan industri pangan, industri sabun, industri baja, industri tekstil, kosmetik dan sebagai bahan bakar alternatif. Namun disisi lain pabrik kelapa sawit juga akan menghasilkan limbah yang cukup banyak, baik berupa limbah padat maupun limbah cair (Sastrosayono, 2000).

2.2 Tandan Kosong Kelapa Sawit ( TKKS )

Salah satu limbah padat industri kelapa sawit adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). TKKS dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanah dan tanaman. TKKS mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi (Yan, dkk, 2008).

(2)

6

TKKS merupakan salah satu limbah padat kelapa sawit yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit (PKS). Adapun potensi TKKS yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit seperti tercantum pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Potensi TKKS Yang Dihasilkan Oleh Pabrik Kelapa Sawit Kapasitas

(ton/jam)*

TKKS (ton/th)**

Luasan yang dapat diaplikasi TKKS ( ha/th)***

30 31.200 780

45 46.800 1.170

60 62.400 1.560

Keterangan * = jam kerja pabrik 20 jam per hari, hari kerja dalam 1 tahun = 260 hari ** = 20% TBS merupakan TKKS

*** = dosis 40 ton TKKS/ha

Sumber : Darmosarkoro dan Rahutomo, (2007)

Pada saat ini TKKS digunakan sebagai bahan organik bagi pertanaman kelapa sawit secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan secara langsung ialah dengan menjadikan TKKS sebagai mulsa sedangkan secara tidak langsung dengan mengomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk organik. Bagaimanapun juga, pengembalian bahan organik kelapa sawit ke tanah akan menjaga kelestarian kandungan bahan organik lahan kelapa sawit demikian pula hara tanah. Selain itu, pengembalian bahan organik ke tanah akan mempengaruhi populasi mikroba tanah yang secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan dan kualitas tanah. Aktivitas mikroba akan berperan dalam menjaga stabilitas dan produktivitas ekosistem alami, demikian pula ekosistem pertanian (Darmosarkoro, 2010).

2.2.1 Karakteristik Tandan Kosong Kelapa Sawit

Salah satu potensi TKKS yang cukup besar adalah sebagai bahan pembenah tanah dan sumber hara bagi tanaman. Potensi ini didasarkan pada kandungan TKKS yang merupakan bahan organik dan memiliki kadar hara yang cukup tinggi. Pemanfaatan TKKS sebagai bahan pembenah tanah dan sumber hara ini dapat dilakukan dengan cara aplikasi langsung sebagai mulsa atau dibuat menjadi kompos (Darmosarkoro dan Rahutomo, 2007).

(3)

7

Secara fisik TKKS terdiri dari berbagai macam serat dengan komposisi antara lain selulosa sekitar 45.95%, hemisellulosa sekitar 16.49% dan lignin sekitar 22.84%) (Darmosakoro, 2007). Komposisi TKKS di sajikan pada tabel 2.2.

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Tandan Kosong Kelapa Sawit

Komponen Dasar kering (%)

Sellulosa 45,95 Hemiselullosa 16,49 Lignin 22,84 Abu 1,23 Nitrogen 0,53 Minyak 2,41 Sumber : Darmosarkoro (2007)

TKKS merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara utama N, P, K dan Mg. Setiap ton tandan kosong kelapa sawit mengandung unsur hara yang setara dengan 3 kg urea, 6 kg CIRP, 12 kg MOP, dan 2 kg kieserit (Sutarta, 2005). Dibawah ini tersaji analisa kandungan unsur hara TKKS pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Analisa Kandungan Hara TKKS C (%) N (%) P (%) K (%) C/N Mg (%) B (%) Cu (%) Zn (%) 42,8 0,8 0,22 2,9 53,5 0,3 10 23 51

Sumber : Darmosarkoro dan Rahutomo (2007)

TKKS berfungsi ganda yaitu selain menambah hara dalam tanah, juga meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang sangat diperlukan bagi perbaikan sifat fisik tanah. Dengan meningkatnya bahan organik tanah maka struktur tanah semakin mantap dan kemampuan tanah menahan air bertambah baik. Perbaikan sifat fisik tanah tersebut berdampak positif terhadap pertumbuhan akar dan penyerapan unsur hara (Ditjen PPHP, 2006).

(4)

8

TKKS dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik karena memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. TKKS mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi. Petani perkebunan sawit dapat menghemat penggunaaan pupuk sintesis sampai dengan 50% dari pemanfaatan pupuk organik (Fauzi, dkk, 2002).

2.2.2 Aplikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit

Aplikasi TKKS dapat meningkatkan proses dekomposisi sehingga kandungan fisik, kimia dan biologi pada tanah meningkat serta membantu dalam peremajaan tanah untuk jangka waktu lama dalam rangka mempertahankan produksi TBS agar tetap tinggi. Selain itu, aplikasi TKKS dapat menurunkan temperature tanah, mempertahankan kelembaban tanah dan mengurangi kerugian nutrisi melalui proses pencucian dan aliran permukaan atau menjaga terjadinya erosi tanah pada daerah curah hujan tinggi (Pahan, 2006).

Aplikasi TKKS di lapangan dilakukan dengan menyebarkan secara merata (satu lapis) pada piringan atau gawangan mati. Frekuensi aplikasi dapat dilakukan sekali dalam satu tahun, umumnya dilakukan pada pemupukan pertama. Beberapa percobaan di lapangan aplikasi TKKS sebagai mulsa di perkebunan kelapa sawit telah banyak dilakukan pada beberapa jenis tanah. Perhatian utama aplikasi TKKS tersebut ditunjukan pada pengembalian hara yang terangkut melalui panen dan penambahan bahan organik areal perkebunan kelapa sawit. Penambahan bahan organik di perlukan untuk mencegah degradasi kualitas lahan akibat penurunan kandungan bahan organik tanah, terutama pada lahan-lahan yang telah di tanami kelapa sawit 2-3 siklus tanam. Penurunan kandungan bahan organik tanah yang terus menerus akan mengakibatkan penurunan kualitas tanah, terutama pada penurunan kemantapan agregat tanah (Darmosarkoro, 2010).

(5)

9

Menurut Siahaan (1997) aplikasi TKKS sebagai mulsa berpengaruh terhadap produksi TBS kelapa sawit. Aplikasi TKKS dengan dosis 40 dan 60 ton TKS/ ha/tahun sebagai mulsa tanpa aplikasi pupuk standar dapat meningkatkan produksi secara berturut-turut 11% dan 13% diatas produksi kontrol (dilakukan pemupukan standar tetapi tanpa aplikasi TKKS), sedangkan aplikasi 40 ton TKKS/ ha yang dikombinasikan dengan 60% dosis pupuk urea dan RP dari standar kebun dapat meningkatkan produksi TBS sebesar 34% dari perlakuan standart.

2.3 Profil Tanah

Secara vertikal tanah berdifferensasi membentuk horizon-horizon (lapisan-lapisan) yang berbeda-beda baik dalam morfologis seperti ketebalan dan warnanya, maupun karakteristik fisik, kimiawi dan biologis masing-masingnya sebagai konsekuensi bekerjanya faktor-faktor lingkungan terhadap : (1) bahan induk asalnya maupun (2) bahan-bahan eksternal, berupa bahan organik sisa-sisa biota yang hidup di atasnya dan mineral non bahan-induk yang berasal dari letusan gunung api, atau yang terbawa oleh aliran air. Susunan horizon-horizon tanah dalam lapisan permukaan bumi setebal 100 - 120 cm disebut sebagai profil tanah (Hanafiah, 2005).

Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuh tanaman. Tanah berasal dari pelapukan batuan yang bercampur dengan sisa bahan organik dan mineral vegetasi serta hewan yang hidup di atas atau di dalamnya (Hardjowigeno 2003).

Kesuburan tanah memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman. Kesuburan tanah adalah hubungan sifat tanah (sifat fisik, kimia dan biologi) yang yang digunakan tanaman untuk bertumbuh dan berkembang. Kesuburan tanah juga dapat di nilai secara langsung pada

(6)

10

keadaan tanaman yang teramati. Tanah sebagai salah satu unsur habitat yang perlu diketahui kapasitas kemampuannya jika kita hendak melakukan penanaman pada tanah itu. Untuk mengetahui kapasitas kemampuan itu perlu dilakukan penelitian dengan cara analisasi (penguraian) terhadap tanah (Sutedjo, 2004).

Ada beberapa indikator untuk menilai kualitas tanah, yaitu :

a. Indikator fisik meliputi tekstur tanah, kedalaman tanah, top soil atau zona perakaran, infiltrasi, berat isi tanah, dan kemampuan menyimpan air. b. Indikator kimia meliputi bahan organik tanah (BOT), atau karbon dan

nitrogen organik, pH tanah, daya hantar listrik (EC), dan N, P, dan K. c. Indikator biologi meliputi karbon dan nitrogen mikroorganisme, potensial

nitrogen dapat termineralisasi (inkubasi anaerobik) dan respirasi tanah, kadar air, dan temperatur tanah.

d. Berdasarkan kriteria di atas, dapat disederhanakan bahwa pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan adalah mempertahankan produktivitas tanah untuk generasi mendatang baik secara ekologi, ekonomi, dan budaya (Winarso, 2005).

2.4 Mikroba Tanah

Mikroba tanah (bakteri, fungi, aktinomicetes) memainkan peranan yang sangat penting pada proses humifikasi dan mineralisasi bahan organik tanah sehingga menjadi unsur-unsur hara yang tersedia untuk pertumbuhan tanaman. Semakin tinggi populasi mikroba tanah maka semakin tinggi aktivitas biokimia dalam tanah dan semakin tinggi pula indeks kualitas tanah (Widyati, 2013). Menurut BIS dalam Ambarsari (2018) jumlah dan aktivitas mikroba tanah sangat dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik setempat. Faktor biotik meliputi kondisi vegetasi termasuk jenis vegetasi dan sistem perakarannya sedangkan faktor abiotik meliputi kondisi iklim (suhu dan kelembababan tanah) dan kondisi tanah (tekstur, struktur, salinitas, pH tanah, kandungan unsur hara dan bahan organik). Kondisi vegetasi yaitu kondisi tanaman dapat mempengaruhi

(7)

11

secara kuat aktivitas dan komposisi komunitas mikroba rizosfer (Loinez et al. dalam Ambarsari 2018 ).

Total mikroba dalam tanah dapat digunakan sebagai indeks kesuburan tanah tanpa mempertimbangkan hal-hal lain, karena pada tanah subur jumlah mikrobanya tinggi. Populasi yang tinggi menggambarkan adanya suplai makanan atau energi yang cukup ditambah temperatur yang sesuai, ketersediaan air cukup, dan kondisi ekologi lain yang mendukung populasi mikroba sebanding dapat mempunyai produktivitas yang berbeda, karena pada tanah yang satu kandungan unsur hara mikro dan makro yang ada hanya cukup untuk menunjang kehidupan mikroba. Oleh karena itu, jumlah mikroba tanah harus dipertimbangkan sebagai penciri (deskriptif) dan tidak digunakan sebagai indeks kesuburan tanah semata (Anas, 1989).

Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta sel mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, re-cycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen dan membantu penyerapan unsur hara. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut (Isroi, 2005).

Menurut RAO dalam Ambarsari (2018) mikroba tanah terdapat dalam segala macam tipe tanah, namun populasinya menurun sering dengan bertambahnya kedalaman tanah. Semakin bertambahnya kedalaman tanah maka semakin berkurangnya sumber nutrisi dan sumber energi yang digunakan mikroba tanah dari bahan organik. Mikroorganisme tanah lebih banyak ditemukan pada

(8)

12

permukaan tanah karena bahan organik lebih tersedia. Oleh karena itu mikroorganisme lebih banyak berada pada lapisan tanah yang paling atas.

2.5 Respirasi Tanah

Respirasi tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne. Penetapan respirasi tanah didasarkan pada penetapan : (1) Jumlah CO2 yang dihasilkan, dan (2) Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroba tanah (Anas, 1989).

Repirasi mikroba tanah sangat kompleks, banyak metode yang telah diusulkan untuk menangkap gas yang dihasilkan dan menganalisisnya sesuai dengan tujuan dan lingkungan peneliti, bisa dikatakan tidak ada metode sepenuhnya yang memuaskan. Oleh karena itu, para peneliti diharapkan metode yang paling tepat. Adapun cara penetapan tanah di laboratorium lebih disukai. Prosedur di laboratorium meliputi penetapan pemakaian O2 atau jumlah CO2 yang dihasilkan dari sejumlah contoh tanah yang diinkubasi dalam keadaan yang diatur di laboratorium. Dua macam inkubasi di laboratorium adalah : 1. Inkubasi dalam keadaan yang stabil (steady-stato)

2. Keadaan yang berfluktuasi

Untuk keadaan yang stabil, kadar air, kecepatan, aerasi, dan pengaturan ruangan harus dilakukan sebaik mungkin. Peningkatan respirasi terjadi bila ada pembasahan dan pengeringan, fluktuasi aerasi tanah selama inkubasi. Oleh karena itu, peningkatan respirasi dapat disebabkan oleh perubahan lingkungan yang luar biasa. Hal ini bisa tidak mencerminkan keadaan aktivitas mikroba dalam keadaan lapang, cara steady-stato telah digunakan untuk mempelajari

(9)

13

dekomposisi bahan organik, dalam penelitian potensi aktivitas mikroba dalam tanah dan dalam perkembangan penelitian (Anas, 1989).

Pemberian bahan organik dapat meningkatkan proses dekomposisi dan mineralisasi yang dilakukan mikroorganisme tanah akan melepaskan unsur nitrogen, fosfor, belerang dan unsur mikro yang diperlukan tanaman dan organisme lainnya. Pengaruh bahan organik terhadap sifat biologi tanah dapat meningkatkan aktivitas dan jumlah mikroorganisme tanah, sehingga respirasi tanah akan meningkat. Respirasi tanah yang tinggi menunjukkan tingkat dekomposisi dan oksidasi bahan organik yang baik (Darmosarkoro, 2003).

2.6 pH Tanah

Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH (potential of hydrogen). Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Tanah masam memiliki nilai pH yang rendah atau kadar ion H+ yang tinggi. Namun sebaliknya, tanah basa memiliki nilai pH yang tinggi atau kadar ion H+ yang rendah. Selain ion H+ dan ion-ion lain di dalam tanah ditemukan pula ion OH- yang jumlahnya berbanding terbalik dengan ion H+. Apabila kandungan H+ dan OH- adalah sama maka tanah bereaksi netral (Hardjowigeno, 2003). Nilai pH dapat digunakan sebagai indikator kesuburan tanah, karena dapat mencerminkan kesediaan hara dalam tanah tersebut, pH tanah umumnya berkisar dari 4,5-9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan pH 4,0-5,5, sehingga tanah dengan pH 6,0-6,5 dapat dikatakan netral. Pentingnya menjadikan pH sebagai indikator kesuburan tanah adalah untuk menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman karena pada pH tersebut unsur hara mudah larut dalam air, menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun karena pada tanah masam banyak ditemukan ion-ion Al didalam tanah, yang kecuali memfiksasi unsur P juga merupakan racun bagi tanaman, dan yang terakhir pH mempengaruhi perkembangan mikroorganisme dimana bakteri berkembang dengan baik pada pH 5,5 atau

(10)

14

lebih, sedang pada pH kurang dari 5,5 perkembangannya sangat terhambat (Hardjowigeno, 1987). pH dapat diklasifikasikan menurut kriteria penilaian sifat kimia tanah, (PusatPenelitian Tanah dalam Hardjowigeno, 2003), berikut akan ditampilkanklasifikasi pH tanah pada tabel 2.4 berikut ini.

Tabel 2.4 Klasifikasi pH Tanah

Tanah pH (H2O)

Sangat masam >4,5

Masam 4,5 – 5,5

Agak masam 5,6 – 6,5

Netral 6,6 – 7,5

Agak Alkalis (Basa) 7,6 – 8,5

Alkalis (Basa) >8,5

Sumber : PusatPenelitian Tanah (1983) dalam (Hardjowigeno, 2003)

Berdasarkan Kalsifikasi pH diatas mikroba dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu:

1. Mikroba asidofil, adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 2,0-5,0.

2. Mikroba mesofil (neutrofil), adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5-8,0.

3. Mikroba alkalifil, adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8,4-9,5. (Waluyo, 2005)

2.7 Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah adalah kumpulan senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa anorganik hasil mineralisasi, termasuk mikrobia heterotrof dan autotrof yang terlibat. Sumber primer bahan organik tanah adalah jaringan organik tanaman, baik berupa daun, batang/cabang, ranting,

(11)

15

buah maupun akar, sedangkan sumber sekunder berupa jaringan organik fauna termasuk kotorannya (Hanafiah, 2005).

Menurut Sutanto (2005) kandungan bahan organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik. Kandungan karbon (C) bahan organik bercariasi antara 45%-60% dan konversi C-organik menjadi bahan organik = % C-organik x 1,724. Kandungan C termasuk perakaran dan edafon yang masih hidup sehingga tidak rancu dengan kandungan humus. Kandungan bahan organik dipengaruhi oleh aras akumulasi bahan asli dan aras dekomposisi dan huminifikasi yang sangat tergantung kondisi lingkungan (vegetasi, iklim, batuan, timbulan, praktik pertanian).

Hakim, dkk. (1986) menyatakan bahwa pengaruh bahan organik pada ciri fisika tanah antara lain kemampuan menahan air meningkat, warna tanah menjadi coklat hingga hitam, merangsang granulasi agregat dan memantapkannya, menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat. Pengaruh bahan organik pada kimia tanah antara lain meningkatnya daya jerap dan kapasitas tukar kation, kation yang mudah dipertukarkan meningkat, unsur N, P, S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme, sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali, pelarutan sejumlah unsur hara dari mineral oleh asam humus. Pengaruh bahan organik pada biologi tanah antara lain yaitu jumlah dan aktivitas metabolik organisme tanah meningkat, dan kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik juga meningkat. kadar bahan organik terbanyak ditemukan dilapisan atas setebal 0 - 20 cm (15-20%). Kriteria penilaian bahan organik tanah tersaji dalam tabel 2.6 berikut ini.

(12)

16

Tabel 2.5 Kriteria Penilaian Bahan Organik Tanah Kriteria Bahan Organik (%)

Rendah <0,05 Sedang - Rendah 0,05 – 1 Sedang 1 – 2 Tinggi 2 – 4 Berlebihan 4 – 8 Sangat Berlebihan 8 – 15 Gambut >15

Sumber : (Buckman dan Brady, 1982) dalam Manurung (2018)

2.8 Nitrogen Tanah

Nitrogen adalah salah satu unsur makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak dan diserap tanaman dalam bentuk ion NH4+ dan NO3-.

nitrogen merupakan salah satu hara yang banyak mendapat perhatian. Ini dikarenakan jumlah N yang terdapat di dalam tanah sedikit, sedangkan dalam kebutuhan tanaman dan kehilangan nitrogen pada tanah cukup besar. Menurut

Damanik dkk, (2010) menyatakan bahwa kehilangan nitrogen dari tanah dapat

dalam bentuk gas yang terjadi karena kegiatan-kegiatan mikroba tanah dan reaksi-reaksi di dalam tanah, kehilangan akibat pencucian yang diakibatkan oleh lahan gundul/ tanpa tanaman, dan kehilangan bersama panen.

Nitrogen memiliki fungsi yaitu dapat memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan protein. Adapun gejala kekurangan N dalam tanah yaitu tanaman menjadi kerdil, pertumbuhan akar terbatas, dan daun-daun kuning serta berguguran. Selain itu, gejala kelebihan N seperti memperlambat kematangan tanaman (terlalu banyak pertumbuhan vegetatif), batang-batang lemah mudah roboh, dan mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit. Apabila kehilangan N pada tanah maka diakibatkan oleh beberapa faktor seperti digunakan oleh tanaman atau mikroorganisme (Hardjowigeno, 2003).

(13)

17 2.9 Suhu Tanah

Suhu tanah merupakan suatu konsep yang bersifat luas, karena dapat digunakan untuk menggolongkan sifat-sifat panas dari suatu sistem.Selain itu, suhu tanah merupakan faktor penting dalam menentukan proses-proses físika yang terjadi di dalam tanah, serta pertukaran energi dan massa dengan atmosfer, termasuk proses evaporasi dan aerasi. Suhu tanah juga mempengaruhi proses biologi seperti perkecambahan biji, pertumbuhan benih dan perkembangannya, perkembangan akar, maupun aktivitas mikrobia di dalam tanah (Budhyastoro, dkk, 2012).

Suhu tanah beragam menurut pola harian atau musiman. Di kedalaman 3 m, suhu agak konstan. Fluktuasi suhu terbesar berada di antara udara dan tanah, daripada di atas atau di bawah tanah. Di bawah 15 cm, variasi suhu tanah harian sangat kecil, namun bila terdapat bahan organik di atas permukaan tanah, dapat mengurangi fluktuasi suhu tanah. Penggunaan mulsa dan berbagai macam naungan dapat mengurangi jumlah radiasi matahari yang diserap tanah, hilangnya energi dari tanah akibat radiasi, dan hilangnya air melalui evaporasi (Budhyastoro, dkk, 2012).

Gambar

Tabel 2.1 Potensi TKKS Yang Dihasilkan Oleh Pabrik Kelapa Sawit  Kapasitas
Tabel 2.2 Komposisi Kimia Tandan Kosong Kelapa Sawit
Tabel 2.4 Klasifikasi pH Tanah
Tabel 2.5 Kriteria Penilaian Bahan Organik Tanah  Kriteria  Bahan Organik (%)

Referensi

Dokumen terkait

Setelah penulis mengidentifikasi permasalahan perkawinan lintas agama yang sangat luas tersebut, agar diperoleh pembahasan yang lebih spesifik mengenai objek penelitian, maka

Gambar 4.7 Swimlane Diagram Perencanaan Proyek Usulan.. Owner membuat SPK untuk perusahaan pemenang tender setelah terjadi kesepakatan kerja sama antara owner dan

Guru di SMP N 6 sudah melakukan evaluasi yang mengandung nilai-nilai pendidikan multikultural yang cukup baik, tanpa adanya perbedaan nilai antara siswa yang satu

Berdasarkan hasil pengujian regresi pada tabel di atas diketahui F test sebesar 167.973 lebih besar dari F tabel sebesar 4.062, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan variabel

Jenis penelitian ini digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh media sosial terhadap perubahan perilaku siswa-siswi SMP Negeri 2 Salatiga..

Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah suatu pembelajaran yang mencari pasangan sambil berjalan

salah satu cara mengukur keberhasilan program pemberdayaan dapat dilihat dari tercapainya tujuan (Subhan, 2003). Dengan adanya dana bantuan secara berkala, maka PKH

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah pada materi pokok kinematika dengan analisis vektor di kelas XI IPA SMA N