• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Keterbatasan Lahan untuk Ruang Terbuka Hijau di Kampung Luar Batang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemanfaatan Keterbatasan Lahan untuk Ruang Terbuka Hijau di Kampung Luar Batang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

5

Pemanfaatan Keterbatasan Lahan untuk Ruang Terbuka

Hijau di Kampung Luar Batang

B Chandra1 dan T Fatimah2

1

Mahasiswa Magister Arsitektur, Program Studi Magister Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara, Jakarta, Indonesia

2 Program Studi Magister Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara, Jakarta, Indonesia

E-mail: b u d i j a n t o c h a n d r a @ g m a i l . c o m

Abstrak. Kampung Luar Batang adalah kampung kota bernilai sejarah yang terletak di kawasan cagar budaya Kota Tua dan mempunyai wisata religi Masjid Luar Batang dan Makam Keramat Habib Husein yang menjadi pusat kegiatan ibadah umat Muslim pada hari-hari tertentu. Kampung ini mempunyai penataan ruang yang tidak teratur, dan tidak direncanakan dari awal, banyaknya pendatang dan kondisi alam yang sering terkena banjir rob membuat kampung ini menjadi perkampungan yang tidak tertata dengan baik, sangat padat dan kumuh. Selain masalah di atas, Luar Batang juga mempunyai keterbatasan dalam penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sangat diperlukan untuk suatu area permukiman karena dapat menghasilkan kualitas udara lingkungan yang bersih, menjadi area resapan air dan menahan limpasan air hujan serta menjadi tempat berkumpul dan rekreasi penduduk. Dengan keterbatasan lahan, perlu diusahakan area ruang terbuka hijau di beberapa lokasi yang memungkinkan. Tujuan penelitian adalah usulan mengenai lokasi dan bentuk dari ruang terbuka hijau yang cocok dengan kondisi lahan sempit, minimnya air untuk penyiraman tanaman serta lahan untuk resapan air. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan observasi dan wawancara untuk memperoleh bentuk dan lokasi ruang terbuka hijau yang cocok dengan kondisi setempat. Dari contoh kasus studi di RW 02, didapatkan solusi RTH yang cocok untuk kondisi Luar Batang yaitu dengan bentuk urban farming hidroponik dan akuaponik yang memberikan nilai tambah bagi penduduk yaitu untuk bercocok tanam dan budi daya ikan lele. Pada Kampung Luar Batang yang mempunyai keterbatasan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau masih dimungkinkan untuk mengadakan penghijauan dengan metode hidroponik dan akuaponik.

Kata kunci: akuaponik, hidroponik, keterbatasan lahan, luar batang, ruang terbuka hijau

1. PENDAHULUAN

Kampung Luar Batang sebagai kampung kota (untuk selanjutnya disebut Luar Batang) adalah kampung dengan kepadatan tinggi di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, dengan luas sekitar 131.500 m² dan bersebelahan dengan kawasan Pasar Ikan (lama, sekarang dikenal dengan Kampung Aquarium) dan secara administratif terdiri dari tiga Rukun Warga (RW) dan 36 Rukun Tetangga (RT) (Ashadi, et al., 2017). Adapun pembagian wilayah Luar Batang yang terdiri dari tiga RW dapat dilihat pada gambar 1. Pada halaman berikut.

Perkembangan lingkungan Luar Batang didukung dengan adanya wisata religi Masjid Luar Batang yang di dalamnya terdapat Makam Keramat Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Wisata religi yang dilakukan masyarakat biasanya dilakukan setiap malam jumat dan juga disertai dengan munculnya pedagang yang berjualan di bazar malam jumat yang berasal dari berbagai daerah, sehingga kegiatan ini juga menjadikan Luar Batang sebagai wisata belanja dan juga wisata kuliner.

Karena perencanaan Luar Batang dari semula tidak direncanakan dan permukiman berkembang secara sporadis, maka penataan perumahan dan jalan tidak teratur dan bahkan tidak memenuhi persyaratan perumahan dan permukiman yang layak. Ditambah lagi sangat sulit menemukan lahan terbuka yang dapat digunakan untuk RTH, hal ini penting untuk kesehatan warga, rekreasi dan tempat berkumpul warga. kondisi fisik bangunan dan lingkungan kurang baik dan tidak beraturan, kerapatan bangunan dan penduduk tinggi, sarana pelayanan dasar serba terbatas, seperti air bersih, saluran air limbah dan air hujan, pembuangan sampah dan lainnya.

(2)

6

Gambar 1. Administratif Luar Batang (Sumber: Ashadi et. al., 2005)

Jumlah ruang publik di Luar Batang juga tidak banyak dan ruang publik yang paling sering digunakan adalah dia area Masjid Luar Batang 42%, di area pesisir Sunda Kelapa 22%, jalanan di RW 02 20%, halaman sekolah 4% sedangkan selebihnya lapangan proyek sebesar 14% merupakan tanah yang dimiliki oleh pengembang (Kasman, 2016).

Gambar 2. Ruang Publik di Luar Batang (Sumber: Kasman, 2016)

Permasalahan di Luar Batang adalah keterbatasan lahan yang dapat dipakai untuk menambah RTH yang sudah ada, karena RTH yang ada letaknya hanya terpusat di RW 02 dan lokasi dalam area Masjid Luar Batang.

(3)

7

Beberapa RTH yang ada di Luar batang terletak di tiga lokasi yaitu:

A.Didalam Masjid Luar Batang, ini RTH yang terbesar di kawasan Luar Batang.

B. Di RW 02/ RT 10 berupa lahan penghijauan dengan memakai teknologi Akuaponik dengan memakai media air untuk penanaman sayuran dan untuk nutrisi memakai ikan lele atau nila. C. Di RW 02 / RT 02 berupa lahan penghijauan yang memanjang memanfaatkan tembok kosong

dengan tanaman pot dan juga area penghijauan dengan memakai metode hidroponik di RW 02/ RT 01. Metode hidroponik dengan media air ditambah nutrisi AB mix.

Gambar 3. RTH di Luar Batang

Studi kasus dilakukan RTH di RW 02 yang berhasil membuat RTH di sepanjang dinding sekitar 25 meter dan lebar sekitar 1 meter. Dalam pengamatan di lapangan, area ini banyak dipakai untuk area bermain anak-anak dan warga berpartisipasi dalam menanam tanaman di pot-pot. Selain itu di RW 02 juga berhasil membuat RTH di lahan yang sempit dengan memakai teknologi hidroponik dan akuaponik.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari kesuksesan RTH di RW 02 dan hasil perumusan keberhasilan RTH ini dapat menjadi masukan dan implementasi ke area Luar Batang lainnya.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan menurut Heryati (2011), Kampung kota adalah suatu bentuk permukiman di wilayah perkotaan yang khas Indonesia dengan ciri antara lain: penduduk masih membawa sifat dan prilaku kehidupan pedesaan yang terjalin dalam ikatan kekeluargaan yang erat.

Luar Batang adalah kampung kota bersejarah yang masih bertahan sampai sekarang, karena eksistensinya yang dianggap penting. Ada dua hal penting yang dipertimbangkan untuk Luar Batang (Puspita P., et al., 2011):

(4)

8

- Luar Batang secara historis mempunyai peran cukup signifikan dalam pertumbuhan kota Batavia dan perencanaan kawasan kota lama Jakarta saat ini.

- Luar Batang adalah salah satu kampung bersejarah di Jakarta yang masih bertahan, di mana kampung sejenis sudah punah digantikan pusat-pusat kegiatan bisnis.

Menurut Keputusan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Nomor 1766 tahun 2015, Kawasan Kota Tua sudah ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya, di mana Luar Batang adalah merupakan bagian dari kawasan Kota Tua (Pemprov DKI, 2015).

Menurut Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 mengenai Penataan Ruang, RTH adalah area memanjang atau jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

3. METODE PENELITIAN

Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif yang terdiri dari observasi ruang terbuka hijau yang terdapat di Luar Batang. Penelitian kemudian di fokuskan ke area RW 02 dan melakukan wawancara dengan pengurus warga dan warga setempat serta merumuskan keberhasilan terciptanya area terbuka hijau di RW 02.

Penelitian diharapkan menjawab pertanyaan penelitian yaitu:

-Hambatan-hambatan apa yang ada dalam menciptakan ruang terbuka hijau di Luar Batang? -Bagaimana cara untuk mengatasi problem utama dalam membuat RTH di Luar Batang yaitu

kurangnya lahan terbuka dan keterbatasan air untuk irigasi?

-Bagaimana bentuk RTH yang cocok dengan keterbatasan lahan dan cocok dengan kondisi masyarakat luar batang?

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Di RW 02 ditemukan RTH yang menempati area yang sempit di sepanjang dinding

Gambar 4. RTH di lokasi RW 02

RTH hanya berupa dinding yang dihias dan dibuat relief di dinding sepanjang 25 meter sebagai elemen taman yang berupa ornamen benda mati hardscape, dan lebarnya hanya 1 meter untuk meletakkan tanaman (softscape) berupa tanaman yang di tanam di pot ada juga tanaman dalam pot yang digantung. Alasan tanaman ditanam di pot karena tidak ada lahan terbuka (media permukaan tanah) karena jalan di cor sampai ke pinggir dinding.

(5)

9

Gambar 5. Anak-anak bermain di RTH Adapun keberhasilan RTH ini adalah:

- RTH ini tidak membutuhkan lahan yang luas tapi memanjang, ini cocok dengan terbatasnya sulit lahan terbuka di Luar Batang.

- Warga aktif memanfaatkan RTH ini dan anak-anak bermain di area ini. - Partisipasi warga dalam menanam tanaman di pot.

- Letaknya cukup strategis di pertigaan jalan, membuat RTH ini dapat menjadi tempat pertemuan warga dan menjadikan area sekitarnya merasakan penghijauan.

Selain itu dari observasi lapangan, RTH di lahan sempit dan memakai sistem hidroponik atau akuaponik sudah berjalan dan sudah beberapa kali panen. Untuk urban farming dengan hidroponik dan akuaponik, telah berhasil dikembangkan di RW 02 dengan beberapa kali panen sayuran seperti: kangkung, slada, sawi, bayam merah, pakcoi dan lain-lain, bahkan dengan sistem akuaponik, dapat juga membudi dayakan ikan lele atau ikan nila.

(6)

10

Gambar 7. Panen Selada akuaponik RT 10

Dari studi kasus di RTH RW 02, dibuat analisa kriteria kebutuhan minimum untuk membuat RTH ini sehingga dapat dicocokkan dengan lokasi yang dapat dimanfaatkan. Kriteria itu adalah:

-Lokasi sebaiknya dekat dengan kegiatan warga, misal: Posyandu, PKK, PAUD dan lain-lain sehingga RTH ini akan terawat dengan warga yang ada di dekat RTH itu.

-Penghijauan yang cocok dengan kondisi di Luar Batang adalah dengan cara hidroponik atau akuaponik, karena tidak membutuhkan lahan yang luas, tidak membutuhkan media tanah, air yang dipakai dapat disirkulasi sehingga tidak mem-butuhkan banyak air dan tidak perlu dilakukan penyiraman serta dapat menambah penghasilan bagi penduduk.

Setelah disusun kriteria kebutuhan, maka dicari lahan potensial yang dapat diterapkan RTH seperti gambar berikut:

1. Di lokasi RW 03, memanfaatkan bangunan yang sudah tidak terpakai terutama di bagian lantai 1 karena muka jalan sudah hampir menutupi sebagaian lantai satu. Lokasinya juga di pinggir jalan utama dan tempat berkumpul warga di sekitarnya.

2. Di Lokasi Kantor RW 03, di area Masjid Luar Batang, area ini cukup strategis dan mempunyai dampak yang sangat besar apabila ada penghijauan. Di Lokasi RW 01, memanfaatkan penutup saluran air dan letaknya sangat strategis di perempatan jalan dan berseberangan dengan Kantor sekretariat RW 01/1 dan Posyandu Melati dan tempat berkumpulnya warga.Di Lokasi RW 01, memanfaatkan penutup saluran air dan letaknya sangat strategis di perempatan jalan dan berseberangan dengan Kantor sekretariat RW 01/1 dan Posyandu Melati dan tempat berkumpulnya warga.

3. Di Lokasi RW 01, memanfaatkan penutup saluran air dan letaknya sangat strategis di perempatan jalan dan berseberangan dengan Kantor sekretariat RW 01/1 dan Posyandu Melati dan tempat berkumpulnya warga.

(7)

11

Gambar 8. Usulan Lokasi dan Bentuk RTH

5. SIMPULAN

Hasil sintesis dari penelitian mencoba menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut:

 Hambatan dalam menciptakan RTH di Luar Batang adalah: terbatasnya lahan terbuka bebas dari perkerasan beton, kurangnya media tanah untuk tanaman, air untuk penyiraman tanaman dan perawatan RTH.

 Untuk mengatasi problem utama adalah dengan menanam tanaman dalam pot sehingga konsumsi air untuk penyiraman juga tidak banyak dan dapat diusahakan dengan model hidroponik atau akuaponik.

 Dari studi kasus di RW 02, bentuk RTH yang cocok dengan kondisi di Luar Batang adalah dengan sistem hidroponik dan akuaponik, karena tidak membutuhkan lahan yang luas untuk penghijauan. Selain hasilnya dapat dikonsumsi dan dapat dijual, pemeliharaannya juga mudah. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga, memanfaatkan dan merawat RTH memegang peranan penting dalam keberlangsungan RTH.

DAFTAR PUSTAKA

Ashadi, et al. (2017). Eksplorasi Potensi Pengembangan Wisata Di Sekitar Bangunan Bersejarah Masjid Luar Batang. Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2017, pp. 1-8.

Ashadi, et al. (2017). Function, Form, and Meaning of Ritual and Market in Historical Site of Kampung Luar Batang, Jakarta, Indonesia. International Journal of Research-Granthaalayah, Vol. 5 No. 10, pp. 246-255.

Ashadi, et al. (2017). Fungsi Masjid bersejarah Luar Batang, Jakarta Utara, dan pengaruhnya terhadap pola permukiman di sekitarnya. NALARs Jurnal Arsitektur Vol.16 No.2, Juli 2017, pp. 169-178.

(8)

12

Ashadi, et al. (2018). Kegiatan Ritual Ziarah Makam Habib Husein Alaydrus dan pengaruhnya terhadap penggunaan ruang public di Kampung Luar Batang. NALARs Jurnal Arsitektur Vol.17 No.1, Januari 2018, pp. 79-86.

Heryati (2011). Kampung Kota sebagai bagian dari Permukiman Kota, Studi Kasus: Tipologi Permukiman RW01 RT02 Kelurahan Limba B dan RW04 Kel. Biawu Kecamatan Kota Selatan Kota Gorontalo, Jurnal Teknik, Vol. 8 No. 3, pp. 1-11.

Iskandaria, H., et al. (2013). Peran Kampung Luar Batang Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara Dalam Menunjang Konservasi Kota Tua, Arsitron, Vol. 4 No. 1, pp. 1-7.

Kasman, T.M.S (2016). Hubungan Karakteristik Penduduk dengan Pemilihan Ruang Publik di Kampung Luar Batang, Jakarta Utara, Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016, pp. 15-20.

Pemprov DKI. (2015). Keputusan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Nomor 1766 Tahun 2015 Tentang Penetapan Kawasan KotaTua Sebagai Kawasan Cagar Budaya. Jakarta: Pemprov DKI. Puspitasari, P., et al. (2011). Dinamika Pemanfaatan Lahan Kampung Bersejarah Luar Batang –

Jakarta Utara, Forum Teknik, Vol. 34 No. 1, pp. 27-38.

Puspitasari, P., et al. (2011). Ritual and Space Structure: Pilgrimage and Space Use in Historical Urban Kampung Context of Luar Batang (Jakarta, Indonesia), Social and Behavioral Sciences, pp. 350-360.

Gambar

Gambar 2. Ruang Publik di Luar Batang  (Sumber: Kasman, 2016)
Gambar 3. RTH di Luar Batang
Gambar 4. RTH di lokasi RW 02
Gambar 6. Panen kangkung hidroponik RT01
+3

Referensi

Dokumen terkait

Komputasi model optimasi menghasilkan nilai optimal fungsi tujuan, pola penggunaan lahan optimal, pola pertanaman optimal, nilai-nilai sasaran-sasaran optimasi, serta

Tema penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2008 ini adalah perencanaan penggunaan lahan, dengan judul Optimasi Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lahan Pertanian

Teknik yang lazim digunakan untuk menggambarkan pola-pola pemanfaatan lahan permukiman adalah membuat model (Rhind dan Hudson, 1980:172). Mode yang digunakan dalam

26 Tahun 2007 yang mengatakan bahwa luas ruang terbuka hijau adalah 30% dari luas lahan, maka pada dua lokasi penelitian ini ternyata keberadaan ruang terbuka hijau di kedua

26 Tahun 2007 yang mengatakan bahwa luas ruang terbuka hijau adalah 30% dari luas lahan, maka pada dua lokasi penelitian ini ternyata keberadaan ruang terbuka hijau di kedua

Salah satu cara mengatasi femomena urban heat island adalah dengan RTH atau Ruang Terbuka Hijau, tetapi luas RTH Kota Pekalongan sekitar 6,91 km 2 atau 15,39% dari

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperolah gambaran lokasi yang cocok dan luas kawasan peruntukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memungkinkan ditempatkan di kawasan perkotaan

Dari hasil analisis dengan overlay peta yang telah dilakukan peneliti, untuk lahan yang berpotensi dijadikan ruang terbuka hijau RTH publik memiliki luas total sebesar 17,5 Ha atau jika