3. PERANCANGAN BANGUNAN
Pada perancangan bangunan didasarkan atas konsep dasar dan konsep bentuk yang didapat, yaitu dengan mengambil proses dari munculnya sehingga ide itu dapat teraktualisasi. Dalam hal ini masih berhubungan dengan judul proyek yaitu Fasilitas Aromaterapi di Villa Puncak Tidar, Malang, yang berarti suatu tempat yang menyediakan sarana untuk pengobatan dengan media aroma. Bentuk dasar merupakan bentuk geometri yang nantinya akan terolah secara dinamis melalui permainan atap dan ornamen serta bahan tiap bangunan itu sendiri. Dalam perancangan banyak berpedoman pada teori / konsep Broadbent, antara lain:
• Container, suatu proyek harus mampu mewadahi secara tepat dari fungsi yang sebenarnya.
• Crimate modifier, Proyek yang dibuat harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan iklim dan cuaca ataupun kondisi fisik setempat beserta aturan-aturan mengenainya.
• Enviromental filter, adanya pembatas yang jelas pada site sehingga antara daerah privat - publik terlihat jelas.
• Behaviour modifier, pengolahan ruang luar yang ada, sehingga modifikasi pelaku dapat dirasakan.
• Capita investmant, proyek harus dapat dijadikan sarana investasi yang menguntungkan bagi daerah dimana proyek didirikan.
• Artistic form, terdiri dari 5 aspek yaitu kesatuan (mengolah bentuk yang beragam menjadi satu kesatuan unit melalui pengolahan detail), tekanan (memiliki suatu karakter yang kuat pada bangunan sehingga skala bangunan dapat dinikmati secara utuh, selain itu harus memiliki suatu vocal point guna menarik perhatian orang), keseimbangan (membuat massa menjadi satu kesatuan bangunan yang seimbang walaupun sebenarnya bangunan tidak simetri), irama (adanya pengulangan yang teratur dari garis-garis, bentuk-bentuk, potongan-potongan, ataupun warna), proporsi (dibagi menjadi 2 bagian proporsi struktur dan proporsi skala). (Broadbent, 1978)
3.1. Konsep Dasar Perancangan 3.1.1. Konsep Dasar Desain
Fasilitas Aromaterapi di Villa Puncak Tidar ini adalah sebuah bentuk interaksi antara proses terapi dan rekreasi yang dihadirkan secara bersamaan sehingga pengunjung tidak merasa sedang menjalani terapi melainkan sedang berekreasi. Dalam konteks tersebut, kompleks terapi sekaligus rekreatif ini di desain dengan konsep :
• Proses aromaterapi tidak dibuat seperti proses berobat yang kaku, tetapi pengunjung dibuat merasa bebas untuk memilih fasilitas apa yang diperlukan oleh dirinya sendiri.
• Memasukkan proses aromaterapi kedalam cottage, sehingga pengguna cottage dapat menjalani terapi secara lebih privat.
3.2. Perancangan Tapak
3.2.1. Pola penataan Ruang Luar / Zoning
Gambar 3.1. Pembagian Zoning
COTTAGE PARKIR PARKIR OFFICE OPEN RESTO MAIN LOBBY AREA TERAPI ADMINISTRATION COTTAGE
Pola penataan ruang luar / zoning tersebut dipengaruhi oleh Konsep Dasar Desain, dimana peletakkan area publik yaitu massa bangunan penerima (hall / lobby) sengaja diletakkan di bagian depan site agar mudah terlihat oleh para pengendara jalan yang lewat. Sedangkan area privat yaitu area sosialisasi (interaksi) dan massa bangunan fasilitas terapi sengaja diletakkan di bagian belakang site, karena para penderita membutuhkan privacy dan ketenangan untuk mencapai proses penyembuhan yang optimal.
3.2.2. Pencapaian dan Pintu Masuk
Gambar 3.2. Site Plan IN
3.3. Perancangan Bangunan 3.3.1. Pola Penataan Massa
Pola penataan massa bangunan berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari pemecahan masalah dengan berdasarkan pendekatan kontekstual, dimana merumuskan pemecahan masalah berdasarkan arah datangnya matahari, arah datangnya angin, kegiatan dan aktivitas manusia menjadi pertimbangan dalam menentukan pola penataan massa bangunan.
3.3.2. Jalur Sirkulasi Antar Massa
Sirkulasi ke dalam tapak harus menampung pengunjung (pejalan kaki, ruda dua, roda empat, dan bus), kendaraan servis, kendaraan penjual, kendaraan pengelola / staff, dan kendaraan karyawan. Sedangkan untuk penentuan entrance, ditentukan dengan mengambil titik tangkap site yang paling menarik.
Gambar 3.3. Skema Sirkulasi Antar Massa
Pintu Masuk Parkir
Main Lobby Office Building Administration Building
Area Terapi
Area Servis
3.3.3. Sirkulasi Parkir Dalam Tapak
Gambar 3.4. Sirkulasi Parkir
Sirkulasi parkir pada tempat ini dibedakan antara parkir untuk sepeda motor pengunjung dan parkir mobil pasien ataupun pengunjung. Sedangkan parkir untuk open resto dan cottage berupa parkiran untuk golf car.
3.3.4. Bentuk
Bentuk dan penampilan bangunan mengakomodasi bentuk dan penampilan dari bangunan yang ada di sekitar lingkungan site. Hal ini dikarenakan kebanyakan lingkungan sekitar site dihuni oleh masyarakat yang berada pada tingkat ekonomi menengah ke atas. Bangunan kebanyakan memiliki denah segi-4 memanjang atau kotak dengan menggunakan dinding tembok bata dan atap genteng pelana. Untuk bisa beradaptasi dengan bangunan sekitar maka,
unsur-MOBIL PENGUNJUNG SEPEDAMOTOR
SERVIS GOLF CAR
unsur dari bangunan sekitar ikut dimasukkan dalam desain tampilan dan bentuk bangunan.
3.3.5. Penataan ruang dalam bangunan
Penataan ruang ditentukan berdasarkan pengelompokkan ruang berdasarkan fungsi ruang, aktivitas pengguna, kebutuhan ruang (view, kebisingan, bau, matahari, angin), jenis pengguna ruang, waktu berlangsungnya aktivitas, ruang-ruang yang diperlukan (sesuai dengan kebutuhan program ruang).
3.3.6. Karakter ruang
3.3.6.1. Karakter Ruang Luar
Gambar 3.5. Perspektif Bird Eye View
Dalam membentuk karakter ruang luar, terdapat 3 aspek yang di desain, yaitu karakter tampilan bangunan, area sosialisasi, dan elemen landscape.
• Tampilan Bangunan
Gambar 3.6. Tampak Depan
Gambar 3.7. Tampak Belakang
Gambar 3.8. Tampak Kiri
Gambar 3.9. Tampak Kanan
Dari gambar tampak diatas, terlihat bahwa warna yang dominan digunakan adalah warna coklat muda. Dimana warna coklat muda digunakan karena warna coklat bisa menjadi sumber energi yang konstan, serta dapat membuat pasien atau penderita merasa kuat.
Pada aksen dindingnya diberikan elemen batu-batuan alam, karena dapat menghidupkan suasana agar terasa berenergi dan dinamis.
• Area Sosialisasi (interaksi)
Gambar 3.10. Perspektif Bird Eye View Area Interaksi
Desain ruang luar dengan pemakaian material lantai yang berupa batuan alam, ruang luar yang berupa area sosialisasi ini diharapkan mampu menarik perhatian agar para penggunanya bisa menjalin interaksi dan komunikasi yang nyaman satu sama lainnya. Area sosialisasi ini merupakan penghubung antara massa bangunan penerima (hall serta fasilitas umum) dengan massa bangunan terapi.
• Elemen Landscape
Yang termasuk dalam elemen landscape adalah : pertama, unsur air. Unsur ini merupakan salah satu media terapi, karena suara gemericik air serta kejernihannya dapat memberikan efek positif yang menenangkan. Serta, elemen
air didesain sebagai pembatas atau pemberi jarak antara massa penerima yang digunakan untuk masyarakat umum dengan bangunan terapi yang terkesan privat. Kedua, unsur vegetasi. Unsur vegetasi juga dapat dijadikan media terapi, karena warnanya yang hijau dapat menimbulkan perasaan diterima dan kemantapan serta dapat meringankan masalah-masalah yang mengganjal di hati.
Ketiga, unsur material. Unsur material jalur sirkulasi didesain untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penderita kelumpuhan, yang cenderung menggunakan kursi roda maupun kruk untuk berjalan. Pola lantai yang digunakan adalah polos dan sedikit agak kasar, untuk menghindari penggunannya agar tidak terjatuh, terpeleset atau tergelincir.
3.3.6.2. Karakter Ruang Dalam
Dalam membentuk karakter ruang dalam, terdapat 2 aspek yang didesain, yaitu karakter area sosialisasi / area penghubung antar ruang dan karakter ruang terapi (terapi psikis dan terapi fisik).
• Pemilihan Bahan Atap Yang Digunakan
Atap genteng dengan kuda-kuda kayu dan dak beton pada tempat peletakan tandon atas. Pertimbangannya adalah curah hujan dan penyesuaian dengan lingkungan sekitar.
• Pemilihan Bahan Plafond
Plafon yang digunakan adalah variasi antara gypsum dan balok kayu dengan pertimbangan mudah dipasang dan dibentuk sesuai keinginan, serta yang paling penting penciptaan kesan tradisional pada ruang tersebut.
• Pemilihan Bahan Lantai
Bahan lantai pada Fasilitas Aromaterapi ini bervariasi tergantung dengan fungsi ruang dan estetika dengan pertimbangan karakter ruang yang diinginkan.
• Pemilihan Bahan Dinding
Bahan Dinding yang digunakan pada Fasilitas ini didominasi oleh penggunaan bahan kayu.
3.3.7. Sistem Utilitas
3.3.7.1. Sistem Distribusi Air Bersih
Sistem distribusi yang direncanakan dalam tapak adalah untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih bagi pengunjung maupun pengelola. Untuk itu, air bersih disupplai langsung dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan menggunakan sistem up feed, dengan pertimbangan untuk efisiensi penggunaan listrik dan pompa, mengingat fasilitas yang dirancang merupakan massa banyak dan penggunaan fasilitas yang hanya efektif pada jam-jam tertentu saja.
Karena terdapat 3 massa bangunan, dengan 2 massa bangunan yang cukup luas, maka dipakai 2 buah tandon dan pompa. Tandon utama yang terletak di semi basement bangunan servis melayani bangunan servis, bangunan pengelola, informasi masyarakat, hall, serta medis. Sedangkan tandon yang satunya lagi, melayani bangunan terapi.
Aliran air bersih dari PDAM tersebut menuju meteran yang kemudian akan ditampung oleh tandon utama. Kemudian pompa akan mengalirkan ke tandon penunjang lainnya.
Gambar 3.11. Skema Distribusi Air Bersih 3.3.7.2. Sistem Pembuangan Air Kotor dan Kotoran
Mengingat fasilitas yang dirancang merupakan massa banyak, maka air kotor dan kotoran dibuang pada septiktank dan sumur resapan yang terletak pada samping bangunan servis.
PDAM METERAN AIR TANDON UTAMA
POMPA
TANDON PENUNJANG KRAN, KATUP, GELONTOR
Gambar 3.12. Skema Distribusi Air Kotor
Gambar 3.13. Skema Pembuangan Kotoran 3.3.7.3. Sistem Pembuangan Air hujan.
Air hujan dibuang dengan sistem terpisah dari sistem pembuangan air kotor dan kotoran. Karena ruang luar yang di dalam tapak cukup luas maka air hujan yang langsung jatuh pada tapak dirembeskan ke dalam tanah.
Untuk menghindari genangan air dalam tapak maka dibuat saluran air kota dalam tapak. Air hujan pada atap dibuang dari talang dan pipanya diletakkan dalam kolom dan dibungkus water resistant gypsum. Setelah itu disalurkan pada bak kontrol dan kemudian dibuang ke selokan dan dilanjutkan ke saluran kota.
Gambar 3.14. Skema Pembuangan Air Hujan 3.3.7.4. Sistem Pembuangan Sampah
Sistem pembuangan sampah menggunakan sistem carry out, yaitu suatu sistem dimana sampah yang ada dikumpulkan pada suatu tempat dan kemudian diangkut oleh mobil khusus untuk dibuang ke penampungan. Dimana sampah dibuang ke tong sampah dan kemudian oleh staff kebersihan dibawa ke tempat pembuangan sementara di area servis. Sampah tersebut akan diambil setiap hari oleh truk pengangkut sampah melalui jalur loading dock. Setelah itu baru dibawa ke tempat pembuangan akhir.
WASTAFEL, FLOOR DRAIN SUMUR RESAPAN
KLOSET SEPTIKTANK SUMUR RESAPAN
TALANG ATAP PIPA TALANG BAK KONTROL
SELOKAN SALURAN KOTA
3.3.7.5. Sistem Telephone
Sistem telephone di dalam fasilitas ini menggunakan Sistem PABX. 3.3.7.6. Sistem Distribusi Listrik
Untuk melayani kebutuhan listrik, diambil dari PLN serta dilakukan penyediaan genset, untuk menjaga jika ada pemadaman listrik PLN.
Gambar 3.15. Skema Distribusi Listrik 3.3.7.7. Sistem Pemadam Kebakaran
Sistem pencegahan terhadap bahaya kebakaran pada setiap massa menggunakan beragam peralatan penangggulangan kebakaran sesuai dengan kebutuhannya, misalnya hydrant halaman yang diletakkan setiap 20 meter; hydrant dalam, sprinkler, unit-unit pemadam satuan (PAR), smoke detector, alarm, dimana penempatannya harus mudah dilihat dan dijangkau.
Fasilitas yang dirancang ini termasuk kelas C dalam klasifikasi bangunan menurut ketentuan sistem struktur terhadap api, dimana struktur utamanya harus
ATS TRAFO PANIL UTAMA PANEL DISTRIBUSI GENSET PLN PANEL LISTRIK
LOBBY & RETAIL SHOP RESTAURANT FASILITAS AROMATERAPI TIM MEDIS COTTAGE SERVICE AREA PENGELOLA
tahan terhadap api sekurang-kurangnya 2 jam untuk keperluan evakuasi. Untuk pemadam kebakaran, yang harus disediakan antara lain :
• Portable Fire Extinguisher (PAR / Pemadam Api Ringan) ditempatkan pada setiap bangunan, yaitu disediakan 1 unit untuk setiap 100 m².
• Hydrant halaman diletakkan setiap 20 meter. Air berasal dari tandon bawah yang tersedia, dimana tandon tersebut dibagi menjadi 2 bagian, yaitu untuk keperluan distribusi air bersih dan air pemadam kebakaran. Pompa air berasal dari tandon ke hydrant disediakan 2 buah sebagai cadangan bila salah satu rusak.
• Tidak digunakan sistem splingker dalam ruang karena mengingat bangunan hanya memiliki ketinggian 1 lantai.
• Tapak dapat dikelilingi oleh mobil pemadam kebakaran, sehingga mempermudah proses pemadaman kebakaran.