Konseling Dan Penapisan Kb (Kel.3)

22 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TUGAS KELOMPOK

KONTRASEPSI DAN KELUARGA BERENCANA

“Konsep Konseling dan Penapisan Klien”

Dosen Pembimbing ;

Dr. Pelsi Sulaini, Sp. OG (K)

Dr. Desmiwarti, Sp. OG (K)

Dr. Ariadi, Sp. OG (K)

Disusun Oleh :

Eka Safitri Yanti

1420332031

Usna Maria Harahap

1420332036

Yohana Suganda

1420332041

Refni Zilmawati

1420332049

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEBIDANAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

2015

(2)

Puji syukur selalu kita ucapkan kepada Allah SWT yang memberikan rahmat-Nya kepada kita semua, sehingga pada kesempatan ini kami dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah kontrasepsi dan keluarga berencana dengan judul “Konsep Konseling dan Penapisan Klien untuk Pelayanan Keluarga Berencana”. Sawalat dan salam tidak lupa kita berikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Konsep konseling dan penapisan keluarga berencana merupakan penuntun bagi kita dalam memberikan pelayanan keluarga berencana kepada klien. Pelayanan keluarga berencana selayaknya dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan klien yang pada dasarnya memiliki spesifisitas yang berbeda-beda. Penulisan ini diambil dari bahan pelatihan konseling dan penapisan pasien keluarga berencana dan beberapa sumber lainnya.

Terima kasih kami ucapkan kepada tim dosen pembimbing mata kuliah Kontrasepsi dan Keluarga Berencana atas arahan yang diberikan. Demikianlah penulisan ini kami buat, semoga bermanfaat bagi kita semua. Saran dan masukan kami harapkan untuk perubahan dimasa yang akan datang.

Padang, Agustus 2015

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii DAFTAR ISI...iii BAB I PENDAHULUAN...1 A. LATAR BELAKANG...1 B. TUJUAN...2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...3

A. KONSEP KONSELING...3

1. Konseling Pelayanan Kontrasepsi...3

2. Tujuan Konseling...4

3. Prinsip Konseling...4

4. Keuntungan Konseling...4

5. KIE => Komunikasi, Informasi dan Edukasi...5

6. Hak Pasien...5

7. Sikap Petugas Kesehatan dalam Melakukan Konseling yang Baik...5

8. Langkah – langkah konseling KB (SATU TUJU)...6

9. Dimana dan Siapa Saja yang Harus Memberikan Informasi dan Konseling...8

10. INFORMED CHOICE...9

11. Alat Bantu Pengambil Keputusan (ABPK)...10

12. PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS (INFORM CONSENT)...10

13. Persyaratan Medis (Medical Eligibility) dalam Penggunaan Kontrasepsi...11

B. PENAPISAN KLIEN PELAYANAN KB...12

BAB III PENUTUP...17

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keluarga berencana merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada pelaksanaannya pelayanan keluarga berencana ini melibatkan semua pihak baik lintas program maupun sektoral. Bidan sebagai pemberi pelayanan kesehatan pada tingkat lini pertama, selayaknya mengusai konsep-konsep konseling dan penapisan keluarga berencana ini.

Konseling dan persetujuan tindakan medis adalah untuk mengenali kebutuhan klien,

membantu klien membuat pilihan yang sesuai dan memahami tujuan dan risiko prosedur klinik terpilih. Konseling yang baik akan meningkatkan kepuasan klien juga membantu klien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lamadan meningkatkan keberhasilan KB. Konseling juga akan mempengaruhiinteraksi antara petugas dan klien karena dapat meningkatkan hubungan dankepercayaan yang sudah ada. Seringkali konseling diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan baik karenapetugas tidak mempunyai waktu dan tidak menyadari pentingnya konseling. Padahal dengan konseling klien akan lebih mudah mengikuti nasihat provider. Konseling adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan semua aspekpelayanan Keluarga Berencana dan bukan hanya informasi yang diberikandan dibicarakan pada satu kesempatan yakni pada saat pemberian pelayanan.Teknik konseling yang baik dan informasi yang memadai harus diterapkandan dibicarakan secara interaktif sepanjang kunjungan klien dengan cara yangsesuai dengan budaya yang ada.

Penapisan klien merupakan upaya untuk melakukan tela’ah dan kajian tentang kondisi kesehatan klien dengan kesesuaian penggunaan metode kontrasepsi yang diinginkan. Konseling yang baik akan melancarkan proses penapisan klien dan penapisan klien yang baik akan memperbesar tingkat kesuksesan program KB serta menekan terjadinya efek samping dan kejadian komplikasi.

(5)

Dengan melihat betapa pentingnya proses konseling dan penapisan klien dalam pelayanan Keluarga Berencana, makalah ini akan membahas lebih jauh kedua hal tersebut di atas.

B. TUJUAN

Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan konsep-konsep tentang : 1. Konseling keluarga berencana

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP KONSELING

1. Konseling Pelayanan Kontrasepsi

Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap,dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. Proses pemberian bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatukeputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadapfakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien.Proses melalui satu orang membantu orang lain dengan komunikasi, dalamkondisi saling pengertian bertujuan untuk membangun hubungan, orang yangmendapat konseling dapat mengekspresikan pikiran& perasaannya dengancara tertentu sesuai dengan situasi, melalui pengalaman baru, mamandangkesulitan objektif sehingga dapat menghadapi masalah dengan tidak terlalucemas dan tegang. Jadi konseling kebidanan adalah bantuan kepada orang lain dalam bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam danusaha bersama antara konselor (bidan) dengan konseli (klien) untuk mencapaitujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhankebutuhan ataupun perubahan tingkah laku/ sikap dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan”.

Konseling adalah bentuk wawancara untuk membantu orang lain memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai dirinya, termasuk keinginan, sikap, kecemasan dalam usahanya untuk memahami permasalahan yang sedang dihadapinya. Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan KeluargaBerencana (KB) dan Kesehatan

(7)

Reproduksi (KR). Dengan melakukankonseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya.

Bidan sebagai konselor memiliki kemampuan teknik konseling, pengetahuan tentang alat kontrasepsi dan yang berkaitan dengan pemakaiannya. Klien calon pemakai kontrasepsi tidak boleh oleh provider, namun kerelaan klien untuk menggunakan salah satu alat kontrasepsi adalah pilihan klien sendiri, setelah mereka memahami manfaat dari setiap alat kontrasepsi. Dan pemilihan alat kontrasepsi oleh klien dan keluarganya merupakan hak klien dan keluarganya untuk dapat merencanakan dengan baik tentang pengaturan kelahiran mereka.

Konseling yang baik membantu klien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lama dan meningkatkan keberhasilan KB. Konseling juga akan mempengaruhi interaksi antara petugas dan klien dengan cara meningkatkan hubungan dan kepercayaan yang sudah ada. Konseling sering diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan baik karena petugas tidak mempunyai waktu dan mereka tidak mengetahui bahwa dengan konseling klien akan lebih mudah mengikuti nasihat. Teknik konseling yang baik dan informasi yang memadai harus diterapkan dan dibicarakan secara interaktif sepanjang kunjungan klien dengan cara yang sesuai dengan budaya yang ada.

2. Tujuan Konseling

a. Meningkatkan penerimaan b. Menjamin pilihan yang cocok

c. Menjamin penggunaan cara yang efektif d. Menjamin kelangsungan yang lebih lama

3. Prinsip Konseling

Prinsip konseling KB meliputi: percaya diri/confidentiality, Tidak memaksa / voluntary choice

Informed consent, Hak klien /clien’t rightsdan Kewenangan / empowerment.

4. Keuntungan Konseling

Konseling KB yang diberikan pada klien memberikan keuntungan kepada pelaksana kesehatan

(8)

a. Kliendapat memilih metodekontrasepsiyang sesuai dengan kebutuhannya. b. Puasterhadap pilihannya dan mengurangi keluhan atau penyesalan. c. Cara dan lama penggunaan yang sesuai serta efektif.

d. Membangun rasa saling percaya. e. Mengormati hak kliendan petugas.

f. Menambah dukungan terhadap pelayanan KB. g. Menghilangkan rumor dan konsep yang salah.

5. KIE => Komunikasi, Informasi dan Edukasi

a. Komunikasi : penyampaian pesan secara langsung/ tidak langsung melalui saluran komunikasi kepada penerima pesan untuk mendapatkan efek.

b. Informasi: keterangan, gagasan maupun kenyataan yang perlu diketahui masyarakat (pesan yang disampaikan).

c. Edukasi: proses perubahan perilaku ke arah yang positif. Pendidikan kesehatan merupakan kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan karena salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan.

6. Hak Pasien

a. Pasien sebagai calon maupun akseptorKB mempunyai hak sebagai berikut: b. Terjaga harga diri dan martabatnya.

c. Dilayani secara pribadi (privasi) dan terpeliharanya kerahasiaan.

d. Memperoleh informasi tentang kondisi dan tindakan yang akandilaksanakan. e. Mendapat kenyamanan dan pelayanan terbaik.

f. Menerima atau menolak pelayanan atau tindakan yang akan dilakukan. g. Kebebasan dalam memilih metode yang akan digunakan.

7. Sikap Petugas Kesehatan dalam Melakukan Konseling yang Baik

a. Memperlakukan klien dengan baik

Petugas bersikap sabar, memperlihatkan sikap menghargai setiap klien, dan menciptakan satu rasa percaya diri sehingga klien dapat berbicara secara terbuka dalam segala hal

(9)

termasuk masalah-masalah pribadi sekalipun. Petugas menyakinkan klien bahwa ia tidak akan mendiskusikan rahasia klien dengan orang lain.

b. Interaksi antara petugas dan klien

Petugas harus mendengarkan, mempelajari dan menanggapi keadaan klien karena setiap klien mempunyai kebutuhan dan tujuan reproduksi yang berbeda. Petugas harus mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya.

c. Memberikan informasi yang baik pada klien

Mendengarkan apa yang disampaikan klien sehingga mengetahui apa yang dibutuhkan oleh setiap klien. Petugas harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti klien dalam memberikan informasi.

d. Menghindari pemberian informasi yang berlebihan

Memberikan infomasi sesuai kebutuhan klien sehingga tidak menyebabkan kesulitan bagi klien dalam mengingat informasi yang penting, akibat kelebihan informasi. Ketika memberikan informasi petugas harus memberikan waktu bagi klien untuk berdiskusi bertanya dan berpendapat.

e. Tersedianya metode yang diinginkan klien

Petugas membantu klien membuat keputusan mengenai pilihannya dan harus tanggap terhadap pilihan klien dengan mendorong klien untuk berfikir melihat persamaan yang ada dan membandingkankan antara kontrasepsi tersebut, sehingga klien mempunyai pilihan kontrasepsi sesuai pilihannya dan klien akan menggunakan kontrasepsi tersebut lebih lama dan lebih efektif.

f. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat

Petugas memberi contoh alat kontrasepsi dan menjelaskan kepada klien agar memahaminya dengan memperlihatkan bagaimana cara-cara penggunaannya melalui media cetak seperti flip chart, pamflet, poster, atau halaman bergambar. Sehingga akan membantu klien mengingat akan apa yang harus dilakukan juga dapat memberitahu kepada orang lain. Petugas juga perlu melakukan penilaian bahwa klien telah mengerti atau belum.

(10)

8. Langkah – langkah konseling KB (SATU TUJU)

Dalam memberikan konseling kepada calon klien KB, hendaknya petugas dapat menerapkan enam langkah yang sudah dikenal dengan kata kunci SATU TUJU, sebagai berikut :

a. SA : Sapa dan Salam kepada klien secara terbuka dan sopan. Berikan perhatian sepenuhnya kepada mereka dan berbicara di tempat yang nyaman serta terjamin privasinya. Yakinkan klien untuk membangun rasa percaya diri. Tanyakan kepada klien apa yang perlu dibantu serta jelaskan pelayanan apa yang dapat diperolehnya.

b. T : Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien untuk berbicara mengenai pengalaman Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, tujuan, kepentingan,harapan, serta keadaa kesehatan dan kehidupan keluarganya. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkan oleh klien. Berikan perhatian kepada klien apa yang disampaikan klien sesuai dengan kata-kata, gerak isyarat dan caranya. Coba tempatkan diri kita di dalam hati klien. Perlihatkan bahwa kita memahami. Dengan memahami pengetahuan,kebutuhan dan keinginan klien, kita dapat membantunya.

c. U : Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beri tahu apa pilihan reproduksi yang paling mungkin,,termasuk pilihan beberapa jenis kontrasepsi. Bantulah klien pada jenis kontrasepsi yang paling dia ingini, serta jelaskan alternatif kontrasepsi lain yang mungkin diingini oleh klien.

d. TU : BanTUlah klien menentukan pilihanny. Bantulah klien berpikir mengenai apa yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Doronglah klien untuk menunjukkan keinginannya dan mengajukan pertanyaan. Tanggapilah secara terbuka. Petugas membantu klien mempertimbangkan kriterian dan keinginan klien terhadap setiap jenis kontrasepsi. Tanyakan juga apakah pasangannya akan memberikan dukungan dengan pilihan tersebut. Jika memungkinkan diskusikan mengenai pilihan tersebut kepada pasangannya. Pada akhirnya yakinkan bahwa klien telah membuat suatu keputusan yang tepat. Petugas dapat menanyakan : Apakah anda sudah memutuskan pilhan jenis kontrasepsi? Atau apa jenis kontrasepsi terpilih yang akan digunakan?

(11)

e. J : Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunaan kontrasepsi pilihannya. Setelah klien memilih jenis kontrasepsinya,jika diperlukan, perlihatkan alat atau obat kontrasepsinya. Jelaskan bagaimana alat atau obat kontrasepsi tersebut digunakan dan bagaimana cara penggunaannya. Sekali lagi doronglah klien untuk bertanya dan petugas menjawab secara jelas dan terbuka. Beri penjelasan juga tentang manfaat ganda metode kontrasepsi, misalnya kondom yang dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS). Cek pengetahuan klien tentang penggunaan kontrasepsi pilihannya dan puji klien apabila dapat menjawab dengan benar.

f. U : Perlunya dilakukan kunjungan Ulang. Bicarakan dan buatlah perjanjian kapan klien akan kembali untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dan permintaan kontrasepsi jika dibutuhkan . Perlu juga selalu mengingatkan klien untuk kembali apabila terjadi suatu masalah.

9. Dimana dan Siapa Saja yang Harus Memberikan Informasi dan Konseling

Kenyataan yang ada dilapangan adalah tidak semua sarana kesehatan dapat dijangkau oleh klien. Oleh karena itu tempat pelayanan konseling untuk melayani masyarakat yang membutukannya dapat dilakukan pada 2 (dua) jenis tempat pelayanan konseling, yaitu :

a. Konseling KB dilapangan (non klinik)

Konseling ini dilaksanakan oleh para petugas dilapangan yaitu PPLKB, PLKB, PKB, PPKBD, SU PPKBD, dan kader yang sudah dapat pelatihan konseling dan berstandar. Tugas utama dipusatkan pada pemberian informasi KB, baik dalam kelompok kecil maupun secara perorangan. Adapun informasi yang dapat diberikan mencakup :

1) Pengertian manfaat perencanaan keluarga. 2) Proses terjadinya kehamilan/ reproduksi sehat.

3) Informasi berbagai kontrasepsi yang lengkap dan benar meliputi cara kerja, manfaat, kemungkinan efek samping, komplikasi, kegagalan, kontraindikasi, tempat kontrasepsi bisa diperoleh, rujukan, serta biaya.

b. Konseling KB di klinik

Konseling ini dilaksanakan oleh petugas medis dan para medis terlatih diklinik yaitu dokter, bidan, perawat, serta bidan di desa. Pelayanan konseling di klinik dilakukan agar

(12)

diberikan secara perorangan diruangan khusus. Layanan konseling di klinik dilakukan untuk melengkapi dan sebagai pemantapan hasil konseling dilapangan, sebagai berikut :

1) Memberikan informasi KB yang lebih rinci sesuai dengan kebutuhan klien.

2) Memastikan bahwa kontasepsi pilihan klien telah sesuai dengan kondisi kesehatannya. 3) Membantu klien memilih kontrasepsi lain, seandainya yang dipilih ternyata sesuai

dengan kondisi kesehatannya.

4) Merujuk klien seandainya kontrsepsi yang dipilih tidak tersedia diklinik atau jika klien membutuhkan bantuan medis dari ahli seandainya pemeriksaan ditemui masalah kesehatan lain.

5) Memberikan konseling pada kunjungan ulang untuk memastikan bahwa klien tidak mengalami keluhan dalam penggunaan kontrasepsi pilihannya

10. INFORMED CHOICE

Klien yang informed choice akan lebih baik menggunakan KB karena :

a. Informed choice adalah suatu kondisi /calon peserta KB yang memilih kontrasepsi didasari oleh pengetahuan yang cukup setelah mendapat informasi KIP/K.

b. Memberdayakan para klien untuk melakukan informed choice adalah kunci yang baik menuju pelayanan KB yang berkualitas.

c. Bagi calon peserta KB baru, informed choice merupakan proses memahami kontrasepsi yang akan dipakainya.

d. Bagi peserta KB apabila mengalami gangguan efek samping, komplikasi dan kegagalan tidak terkejut karena sudah mengerti kontrasepsi yang akan dipilihnya.

e. Bagi peserta KB tidak akan terpengaruh oleh rumor yang timbul dikalangan masyarakat. f. Bagi peserta KB apabila mengalami gangguan efek samping, komplikasi akan cepat berobat

ke tempat pelayanan.

g. Bagi peserta KB yang informed choice berarti akan terjaga kelangsungan kontrasepsinya. Sebagamana telah dijelaskan bahwa dalam setiap pelayanan profesi yang diberikan bidan harus selalu memberi kesempatan pasien untuk memilih (informed choice) dan memberi persetujuan (informed consent). Dalam pelayanan KB hal ini tetap berlaku karena bidan harus

(13)

menjelaskan keuntungan dan kerugian setiap jenis alat kontrasepsi dengan jujur dan netral, tidak memaksakan suatu metode kontrasepsi tertentu. Mengingat bahwa belum ada satu metode kontrasepsi yang aman dan efektif 100% maka dengan melakukan informed choice dan informed consent selain merupakan perindungan bagi bidan sebagai pemberi pelayanan (provider) juga membatu dampak rasa aman dan nyaman bagi pasien sebagai penerima jasa. Rasa aman dan nyaman mengurangi terjadinya efek samping (side effect).

Setiap pemakaian kontrasepsi harus memperhatikan hak-hak reproduksi individu dan pasangannya, sehingga harus diawali dengan pemberian informasi yag lengkap. Informasi yang diberikan kepada calon atau klien KB tersebut harus disampaikan selengkap-lengkapnya, jujur dan benar tentang metode kontrasepsi yang akan digunakan oleh calon atau klien KB tersebut.

11. Alat Bantu Pengambil Keputusan (ABPK)

WHO mengembangkan lembar balik yang telah diadaptasi untuk Indonesia oleh STARH untuk dimudahkan untuk konseling. ABPK membantu petugas melakukan konseling sesuai standar dengan adanya tanda pengingat mengenai keterampilan konseling yang perlu dilakukan dan informasi apa perlu diberikan yang disesuaikan dengan kebutuhan klien. ABPK mengajak klien bersikap lebih partisipatif dan membantu mengambil keputusan.

12. PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS (INFORM CONSENT)

Jika kontrasepsi yang dipilih klien memerlukan tindakan medis, surat Persetujuan Tindakan Medis (informed Consent) diperlukan. Yang dimaksud dengan informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh klien atau keluargaya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap klien tersebut. Setiap tindakan medis yag mengandung resiko harus dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan, yaitu klien yang bersangkutan dalam keadaan sadar dan sehat mental.

Informasi yang diberikan kepada calon / klien KB harus disampaikan selengkap -lengkapnya, jujur dan benar tentang metode kontrasepsi yang akan diadakan oleh calon / klien KB tersebut. Dalam memberikan informasi penting sekali adanya komunikasi verbal antara dokter dan klien. Ada anggapan bahwa banyak klien sering melupakan informasi lisan yang

(14)

telah diberikan oleh dokter atau bidan. Maka dari itu untuk mencegah hal tersebut perlu diberikan pula informasi tertulis.

Dengan dilakukannya tindakan medis termasuk kontrasepsi mantap, maka perlunya izin dari kedua belah pihak. Berbeda dengan tindakan medis lainnya yang hanya memerlukan izin dari pihak yang akan mengalami tindakan tersebut.

Daftar Tilik Untuk Petugas, Pada halaman belakang lembar persetujuan tindakan medis terdapat daftar tilik untuk petugas yang digunakan untuk mengingatkan petugas adanya beberapa aspek yang harus dijelaskan beberapa klien melalui beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan metode kontrasepsi Metode Operasi Pria/Wanita, implan, dan AKDR (cara kerja, kontraindikasi, efek samping, komplikasi, kegagalan, keuntungan atau kerugian, jadwal atau tempat kunjungan ulang, persyaratan MOP/WOW dan rekanalisasi serta keberhasilannya, resiko pencabutan AKDR atau implan dan jadwal pencabutannya, serta kategori pencabutan AKDR/Impaln).

Catatan Tindakan Dan Pernyataan. Setelah calon peserta dan pasangannya menandatangani inform consent, pelayanan kontrasepsi dilakukan. Pada halaman belakang lembar persetujuan tindakan medis terdapat catatan tindakan dan pernyataan oleh dokter/bidan/perawat yang melakukan tindakan. Catatan tindakan dan pernyataan tersebut memuat catatan tindakan yang dilakukan yaitu metode keberhasilan tindakan, waktu, serta pernyataan dari petugas bahwa pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan standar.

13. Persyaratan Medis (Medical Eligibility) dalam Penggunaan Kontrasepsi

Klien harus memperoleh informasi yang cukup sehingga dapat memilih sendiri metode kontrasepsi yang sesuai untuk mereka. Informasi tersebut meliputi pemahaman tentang efektivitas relatif (effectiveness) dari metode kontrasepsi, cara kerja, efek samping, manfaat dan kerugian metode tersebut, geja;a dan tanda yang perlu ditindaklanjuti di klinik atau fasilitas kesehatan, kembalinya kesuburan dan perlindungan terhadap infeksi menular seksual.

Untuk metode yang memerlukan prosedur bedah, insersi, atau pencabutan alat oleh tenaga terlatih, tenaga terlatih tersebut perlu dilengkapi dengan fasilitas yang cukup agar prosedur tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan standar, termasuk prosedur pencegahan

(15)

infeksi. Peralatan dan pasokan yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan harus tersedia. Petugas pelayanan harus dilengkapi dengan panduan-panduan yang memungkinkan mereka melaksanakan penapisan dan pelayanan terhadap klien sebaik-baiknya dan dapat menghindar resiko yang tidak diinginkan. Petugas pelayanan harus mendapat pelatihan yang cukup dalam konseling Keluarga Berencana. Konseling merupakan elemen kunci dalam mutu pelayanan, mulai dari kunjungan awal serta ulang, dan meliputi bukan hanya tentang kontrasepsi, melainkan juga masalah-masalah seksualitas dan pencegahan Infeksi Menular Seksual termasuk HIV/AIDS.

B. PENAPISAN KLIEN PELAYANAN KB

Penapisan klien merupakan upaya untuk melakukan tela’ah dan kajian tentang kondisi kesehatan klien dengan kesesuaian penggunaan metode kontrasepsi yang diinginkan. Tujuan utama penapisan klien untuk menentukan keadaan yang membutuhkan perhatian khusus dan masalah (misalnya diabetes atau tekanan darah tinggi) yang membutuhkan pengamatan dan pengelolaan lebih lanjut. Lebih jauh berikut akan dijelaskan penapisan klien:

Tujuan penapisan klien adalah untuk menentukan:

1. Apakah ada masalah medik, kondisi biologik sebagai penyulit teknis, tidak terpenuhinya syarat teknis-medik yang dapat menghalangi penggunaan metode KB tertentu.

2. Apakah perlu dilakukan penilaian/pengelolaan lanjut terhadap masalah medik yang ditemukan agar penggunaan kontrasepsi memungkinkan.

3. Perencanaan Keluarga Dan Penapisan Klien

4. Seorang perempuan telah dapat melahirkan, segera setelah ia mendapat haid yang pertama (menarche)

5. Keseburan seoramg perempuan akan terus berlangsung sampai berhentinya haid (menopuse) 6. Kehamilan dan kelahiran terbaik, artinya resiko rendah untuk ibu dan anak adalah antara 20-35

tahun.

7. Persalinan pertama dan kedua paling rendah resikonya 8. Jarak antara 2 kelahiran sebaiknya 2-4 tahun.

(16)

Tujuan utama penapisan klien sebelum pemberian suatu kontrasepsi adalah untuk menentukan apakah ada :

1. Kehamilan

2. Keadaan yang membutuhkan perhatian khusus

3. Masalah (misalnya diabetes atau tekanan darah tinggi) yang membutuhkan pengamatan dan pengelolaan lanjut.

Untuk sebagian besar klien bisa diselesaikan dengan cara anamnesis terarah, sehingga masalah utama dikenali atau memungkinkan hamil dapat dicegah. Sebagian besar cara kontrasepsi, kecuali AKDR dan kontrasepsi mantap tidak membutuhkan pemeriksaan fisik maupun panggul. Pemeriksaan laboratorium untuk klien Keluarga Berencana dan klien baru tidak diperlukan karena : 1. Sebagian besar klien KB berusia muda (umur 16 – 35 tahun) dan umumnya sehat.

2. Pada wanita, masalah kesehatan reproduksi (misalnya kanker genital dan kanker payudara, fibroma uterus) jarang di dapat pada umur sebelum 35 tahun atau 40 tahun.

3. Pil kombinasi yang sekarang tersedia berisi estrogen dan progestin lebih baik karena efek sampingnya jarang menimbulkan masalah medis.

4. Pil progestin, suntikan, dan susuk bebas dari efek yang berhubungan dengan estrogen dan dosis progestin yang dikeluarkan perhari bahkan lebih rendah dari pil kombinasi.

Tabel Daftar Tilik Penapisan Klien. Metode reversibel Metode hormonal (pil kombinasi; pil progestin, suntikan dan

susuk) Ya Tidak

Hari pertama haid terakhir 7 hari yang lalu atau lebih. Menyusui dan kurang dari 6 minggu pasca

persalinan 1,2.

Perdarahan/ perdarahan bercak antara haid setelah senggama. Ikterus pada kulit atau mata.

Nyeri kepala hebat atau gangguan visual.

Nyeri hebat pada betis, paha atau dada, atau tungkai bengkak (oedema).

Tekanan darah di atas 160/ 90 mmHg. Massa atau benjolan pada payudara. Sedang minum obat – obatan anti kejang .

(17)

AKDR (semua jenis pelepas tembaga dan progestin) Ya Tidak

Hari pertama haid terakhir 7 hari yang lalu. Klien (pasangan) mempunyai pasangan seks lain. Infeksi menular seksual (IMS).

Penyakit radang panggul atau kehamilan ektopik. Haid banyak (lebih 1 – 2 pembalut tiap 4 jam). Haid lama (lebih dari 8 hari).

Dismenorea berat yang membutuhkan analgetika dan/atau istirahat baring.

Perdarahan/ perdarahan bercak antara haid atau setelah senggama/gejala penyakit jantung valvular atau kongenital.

1. Apabila klien menyusui dan kurang dari 6 minggu postpartum maka pil kombinasi adalah

metode panggilan terakhir.

2. Tidak cocok untuk pil progestin (minipil), suntikan (DMPA atau NET - EN), atau susuk 3. Tidak cocok untuk suntikan progestin (DMPA atau NET - EN)

4. Tidak cocok untuk AKDR pelepas – progestin

Selain itu, dahulu tenaga kesehatan cenderung menggunakan syarat pemakaian metode kontrasepsi secara berlebihan sehingga mempengaruhi pemilihan metode dari klien. Akibatnya, banyak permintaan pemeriksaan lab yang sebenarnya tidak di perlukan (misalnya pemeriksaan kolesterol, fungsi hati, glukosa atau pap smear). Walaupun permintaan menjadi klien KB menjadi meningkat, kemampuan pelayanan terbatas karena tidak tersedianya laboratorium untuk pemeriksaan sehingga menghambat terhadap pemilihan kontrasepsi dan pelaksananan pelayanan. Karena itu klien dapat memperoleh cara konrasepsi yang terbaik sesuai pilihannya, penilaian cara klien harus di batasi pada prosedur yang di perlukan untuk semua klien pada setiap tatanan.

Jika semua keadaan di atas ”tidak” (negatif) dan tidak dicurigai adanya kehamilan, maka dapat di teruskan dengan konseling metode khusus. Bila respon banyak yang dalam “iya” (positif), berarti klien perlu di evaluasi sebelum keputusan akhir dibuat.

Catatan : klien tidak selalu memberikan informasi yang benar tentang kondisi di atas. Namun,

(18)

dapat mengulangi pertanyaan yang berbeda. Perlu juga di perhitungkan masalah sosial ,budaya atau agama yang mungkin berpengaruh terhadap respon klien tersebut (pasangannya).

Tabel Daftar Tilik Penapisa Klien Metode Irreversibel (Tubektomi) Keadaan klien Dapt dilakukan pada

fasilitas rawat jalan

Dilakukan difasilitas rujukan

Keadaan umum (anamnesis pemeriksaan fisik).

Kedaan umum baik, tidak ada tanda-tanda apenyakit jantung, paru, atau ginjal.

Diabetes tidak terkontrol,

riwayat gangguan

pembekuan darah, ada tanda - tanda penyakit jantung, paru atau ginjal.

Keadaan emosional Tenang Cemas,takut

Tekanan darah Kurang dari 160/100mmHg ≥ 160/100mmHg

Berat badan 35-85 kg >85kg ; < 35kg

Riwayat operasi

abdomen/panggul. Bekas secsio sesaria (tanpaperlekatan). Operasilainya,perlekatan abdomenatau terdapat kelaianan pada pemerikaan panggul.

Riwayat radang panggul, hamil ektopik, apendisitis.

Pemeriksaan dalam normal Pemeriksaan dalam ada kelainan.

Anemia HB ≥ 8g% HB < 8g%

Tabel Daftar Tilik Penapisan Klien. Metode Irreversibel (vasektomi)

Keadan klien Dapat dilakukan padafasilitas berjalan Dilakukan pada fasilitasrujukan

Keadaan umum (anamnesis, pemeiksaan fisik).

Keadaan umum baik, tidak ada tanda penyakit jantung, paru atau ginjal.

Diabetes tidak terkontrol,

riwayat gangguan

pembekuan darah, ada tanda penyakit jantung, paru atau ginjal.

Keadaan emosional Tenang Cemas takut

Tekanan darah < 160/100mmHg ≥160/100mmHg

Infeksi atau kelainan skrotum/inguinal.

Normal Tanda-tanda infeksi atau ada

kelainan.

Anemia HB ≥ 8g% HB < 8g%

Meyakini bahwa klien tidak hamil

Klien tidak hamil apabila :

(19)

2. Sedang memaka metode efektif secara baik dan benar 3. Sekarang didalam 7 hari pertama haid terakhir

4. Didalam 4 minggu pasca persalinan 5. Dalam 7 hari pasca keguguran 6. Menyusui dan tidak haid

Pemeriksaan fisik jarang dibutuhkan kecuali untuk menyingkirkan kehamilan yang lebih dari 6-8 minggu.

Uji kehamilan yang biasa tidak selalu menolong, kecuali tersedia uji kehamilan yang lebih sensitif. Jika tidak tersedia kehamilan yang sensitif, klien di anjurkan memakai kontrasepsi barier sampai haid berikutnya.

(20)

Keterangan :

1. Metode hormonal2.

2. Oklusi tba dan vasektomi3.

3. Bila ceklis penapisan benar semua “tidak” pemeriksaan tidak diperlukan

BAB III

PENUTUP

Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedangdihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. Penapisan keluarga berencana merupakan upaya untuk melakukan telaah dan kajian tentang kondisi kesehatan kliendengan kesesuaian penggunaan metode kontrasepsi yang diinginkan.

Konsep konseling dan penapisan keluarga berencana adalah suatu hal yang memiliki arti penting pada setiap pelayanan keluarga berencana, karena hal ini bertujuan agar setiap klien yang dilayani mendapatkan metode kontrasepsi yang sesuai. Jika setelah mendapatkan penapisan yang cukup, dalam perjalanan pemakaian metode kontrasepsi klien mendapatkan efek samping, maka akan membantu klien tersebut untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

BKKBN & Depkes. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Meilani, N. dkk., 2010. Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Fitramaya.

Pinem, S., 2009. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi. Jakarta: Trans Info Media.

Saifuddin, A., 2006. Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sulistyawati, A., 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Salemba Medika.

Suratun, dkk., 2008. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Trans Info Media

(22)

Figur

Memperbarui...

Related subjects :