• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis konsep garis batas tanggal Saaddoe’ddin Djambek perspektif fiqih dan astronomi terhadap penentuan awal Bulan Kamariah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis konsep garis batas tanggal Saaddoe’ddin Djambek perspektif fiqih dan astronomi terhadap penentuan awal Bulan Kamariah"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe’ddin Djambek

Perspektif Fiqih dan Astronomi Terhadap Penentuan Awal Bulan

Kamariah

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1)

Dalam Ilmu Syari’ah

Oleh :

ERIK MAHENDRA NIM : 112111058

PROGRAM STUDI ILMU FALAK FAKULTAS SYARI’AH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

(2)
(3)
(4)
(5)

v MOTTO1

لها ىعسي مىي ةملظلا يف ىقبتف بىنذلا ةملظب كملع سندت لاف املع تيتوا دق

نهملع رىنب نلعلا

Sungguh kamu telah diberi ilmu oleh Allah, maka janganlah kamu kotori ilmumu dengan gelapnya dosa yang akan menjadikan kamu tetap berada dalam kegelapan sementara para ahli ilmu sedang

berjalan dengan cahaya ilmunya

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Karya ini aku persembahkan untuk :

1.

Murobbil Jismi Yaitu Bapak dan Ibu (Haryanto dan Sri Zuniati)

tercinta

Yang dengan tulus ikhlas merelakan separuh kehidupannya untuk merawat dan

mendidikku dan selalu memberi kasih sayang serta meneguhkan keyakinanku

dikala aku tersesat dan putus asa.

2.

Murobbir Ruhi Yaitu Para Kyai, Dosen, Guru, dan Ustadz

Yang telah mengajarkan ilmu untuk menuju kemuliaan di sisi Allah SWT.

3.

Kakakku (Deby Hermawan) yang selalu mendukung untuk

kesuksesanku.

4.

Seluruh keluarga tercintaku, keluarga besar H. Syafi’i dan Hj.

Mahmudah, Yang selalu memberi motivasi serta semangat untuk menuju

(7)
(8)

viii ABSTRAK

Garis batas tanggal merupakan garis yang membagi Bumi menjadi dua wilayah yang mana wilayah sebelah Barat garis batas tanggal jumlah harinya berjumlah 29 hari sedangkan wilayah sebelah Timur garis batas tanggal jumlah harinya berjumlah 30 hari. Garis batas tanggal merupakan buah pemikiran dari sang mujaddid hisab yaitu Saaddoe‟ddin Djambek. Konsep tersebut merupakan sebuah tawaran untuk menciptakan keseragaman dalam memulai aktivitas maupun untuk pelaksanaan ibadah. Konsep garis batas tanggal adalah salah satu disiplin pembahasan ilmu falak untuk penentuan awal bulan Kamariah. Ilmu falak sendiri merupakan sebagian dari ilmu fiqih dan astronomi. Sehingga penting untuk mengetahui pandangan fiqih dan astronomi terhadap garis batas tanggal hijriah.

Dalam penelitian ini penulis mempunyai beberapa rumusan masalah yaitu : Pertama, bagaimana konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek terhadap penentuan awal bulan Kamariah?. Kedua, Bagaimana tinjauan astronomi terhadap garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek untuk penentuan awal bulan Kamariah?. Ketiga, bagaimana tinjauan fiqih terhadap garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek untuk penentuan awal bulan Kamariah?.

Jenis dari penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan melalui kajian pustaka (library research). Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer yaitu buku hisab awal bulan karya Saaddoe‟ddin Djambek, sedangkan data sekunder diambil dari buku-buku, ensiklopedi, artikel maupun tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi (documentation). Sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif.

Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yaitu : Pertama, konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek menggunakan data terbenam Matahari dan terbenam Bulan secara bersamaan sebagai titik batasnya, selanjutnya melakukan perhitungan perlintang untuk menemukan titik garis. Kedua, konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek jika ditinjau dari perspektif fiqih nampaknya konsep ini kurang tepat untuk diaplikasikan dalam penentuan awal bulan Kamariah. Hal ini dikarenakan konsep ini tidak menggunakan imkan al-rukyah untuk penentuan awal bulannya sebagaimana yang telah diperintahkan dalam Hadis Nabi. Ketiga, konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek jika ditinjau dari perspektif astronomi menghasilkan dua temuan yaitu teoritis dan praktik. Secara teoritis, konsep garis batas tanggal ini tidak bertentangan dengan kaidah astronomi, justru konsep ini merupakan disiplin keilmuan baru yang berkaitan dengan keilmuan falak. Secara praktik konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek ini kurang tepat jika digunakan untuk penentuan awal bulan Kamariah, karena tidak menggunakan imkan al-rukyah dalam penentuan awal bulannya.

Kata kunci : Garis Batas Tanggal, Saaddoe‟ddin Djambek, Konsep, Fiqih,

(9)

ix

KATA PENGANTAR

ٍُحسٌا ّٓحسٌا الله ُعت

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Atas hidayah yang telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis masih berkesempatan untuk mempelajari sedikit Ilmu-Nya agar bisa mengetahui keagungan-Nya. Alhamdulillah „ala kulli hal wa „ala kulli ni‟amah, penulis sangat bersyukur atas semua karunia yang telah diberikan kepada penulis, sehingga bi‟aunillah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi ini dengan judul “Analisis Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe’ddin Djambek Perspektif Fiqih dan Astronomi Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah”.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Pemimpin umat seluruh alam, Maulana Muhammad SAW kekasih Allah sekaligus sang Nabi pemberi syafa‟at di yaumil qiyamah kelak. Demikian pula kepada para alim dan ulama yang telah memberikan warna dalam perkembangan keilmuan Islam yang selalu menjadi motivasi bagi sang penikmat ilmu.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini bukanlah hasil “jerih payah” penulis sendiri. Akan tetapi semua itu merupakan wujud dari usaha dan bantuan, pertolongan serta do‟a dari berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi tersebut. Maka dari itu melalui untaian kata ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Kedua orang tua penulis, beserta segenap keluarga atas segala curahan do‟a, perhatian, dukungan dan kasih sayang yang tidak dapat penulis ungkapkan dalam untaian kata-kata.

2. Kementerian Agama RI cq Ditjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren atas Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dalam menempuh S1 Jurusan Ilmu Falak di Fakultas Syari‟ah UIN Walisongo Semarang.

(10)

x

3. Dekan Fakultas Syari‟ah UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag, dan para wakil dekan, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menulis skripsi tersebut dan memberikan fasilitas belajar hingga akhir.

4. Drs. H. Maksun, M.Ag, selaku Ketua Jurusan Ilmu Falak sekarang, Dr. H. Mohamad Arja Imroni, M.Ag, selaku Kaprodi sebelumnya, serta Sekretaris Jurusan Ilmu Falak Ahmad Syifa‟ul Anam, SHI, MH, atas bimbingan, motivasi, serta nasihatnya kepada penulis selama masa perkuliahan.

5. Drs. H. Eman Sulaeman, MH, Dr. H. Imam Yahya, M.Ag, selaku dosen wali penulis, dan Dr. H. Ahmad Izzuddin, M. Ag, selaku pengelola yang selalu memberikan masukan dan arahan untuk kebaikan kedepannya. 6. Drs. H. Maksun, M.Ag, selaku pembimbing I, atas bimbingan dan

pengarahan serta memberikan saran-saran yang konstruktif bagi penulis selama penulisan skripsi ini hingga selesai.

7. Ahmad Syifaul Anam, SHI, MH., selaku pembimbing II yang selalu meluangkan waktu untuk memberi pengarahan serta memotivasi penulis untuk segara menyelesaikan penulisan skripsi ini.

8. Keluarga besar Pondok Pesantren Al-Firdaus Ngaliyan Semarang. Khususnya untuk Drs. KH. Ahmad Ali Munir beserta keluarga yang senantiasa sabar, ikhlas dalam membina para santri, Pak Muktasit, Ust. Zumroni, Ust. Amir Tajrid, Ust. Saefuddin, yang telah memberi nasihat agar menjadi santri yang sukses, sholeh dan selamet di dunia dan di akherat.

9. Bapak Mashuri beserta keluarga selaku pengasuh santri putri, yang telah mengayomi, memotivasi, membimbing dan mengarahkan penulis.

10. Keluarga Besar MA Salafiyah dan Pondok Pesantren As-Salafiyah dan Riyadhul Ma‟la Al-Amin, khususnya pengasuh pondok KH. Asmu‟i

(11)

xi

Hasan, Kiai Ashabuddin, KH. Fathurrahman, Kiai Arif Supomo dan KH. Ulil Albab, atas pengajaran ilmu dan didikan yang diberikan kepada penulis selama penulis menjadi siswa dan santri.

11. Keluarga besar CSS MoRa UIN Walisongo Semarang yang senantiasa mengajarkan makna kebersamaan.

12. Angkatan 2011 PBSB UIN Walisongo “ FOREVER” ( Hadi, Oval, Syarif, Sholah, Andi, Anik, Dede, Fatih, Fidia, Firdos, Hanik, Ichan, Ayin, Lisa, Izun, Ma‟ruf, Najib, Sofyan, Shobar, Adin, Shodiq, Tari, Nurul, Wandi, Zabid dan Evi Maela Shofa) beserta teman-teman Forever reguler (Dessy, Laili, Mulky dan Rif‟an) yang telah memberikan coretan tinta terindah dalam hidupku, berbagi akan kebersamaan, kecerian, suka maupun duka. 13. Untuk Almarhumah Nafidatus Syafa‟ah, sahabat baik ku. Terimakasih

telah menjadi sebagian cerita dalam hidupku. Semoga kamu mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya.

14. Semua pihak yang telah memberi semangat serta motivasi yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan semangat, motivasi, masukan, koreksi, kritik yang konstruktif serta doa, dan semoga amal kebaikannya dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna yang disebabkan dari keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca demi upaya penyempurnaan tulisan ini kedepannya.

(12)

xii

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bisa memberi manfaat serta pengetahuan baru bagi bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya.

Semarang, 16 Juni 2015 Penulis

(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

HALAMAN DEKLARASI ... vii

HALAMAN ABSTRAK ... viii

HALAMAN KATA PENGANTAR ... ix

HALAMAN DAFTAR ISI ... xiii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 7 C. Tujuan Penelitian ... 7 D. Manfaat Penelitian ... 8 E. Telaah Pustaka ... 8 F. Metode Penelitian ... 11 G. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II KONSEP GARIS BATAS TANGGAL SAADDOE’DDIN DJAMBEK TERHADAP PENENTUAN AWAL BULAN KAMARIAH A. Tentang Saaddoe‟ddin Djambek ... 17

1. Biografi ... 17

2. Genealogi Keilmuan... 18

3. Karier... 20

4. Karya-Karya ... 22

B. Definisi Garis Batas Tanggal ... 27

C. Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe‟ddin Djambek Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah ... 28

(14)

xiv

1. Waktu Terbenam Matahari dan Bulan ... 29

2. Melukis Garis Batas Tanggal ... 32

3. Pembelokan Garis Batas Awal Bulan Kamariah ... 40

BAB III KONSEP GARIS BATAS TANGGAL SAADDOE’DDIN DJAMBEK PERSPEKTIF FIQIH DAN ASTRONOMI TERHADAP PENENTUAN AWAL BULAN KAMARIAH A. Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe‟ddin Djambek Perspektif Fiqih Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah... 42

1. Ijtimak ... 49

2. Imkan al-Rukyah ... 50

3. Matlak ... 52

B. Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe‟ddin Djambek Perspektif Astronomi Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah ... 59

1. Data-Data Astronomi ... 60

2. Garis Tanggal Internasional (GTI) ... 67

3. Garis Tanggal Kamariah Internasional (GTKI) ... 70

4. Ka‟bah Universal Time (KUT) ... 71

BAB IV ANALISIS KONSEP GARIS BATAS TANGGAL SAADDOE’DDIN DJAMBEK PERSPEKTIF FIQIH DAN ASTRONOMI TERHADAP PENENTUAN AWAL BULAN KAMARIAH A. Analisis Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe‟ddin Djambek Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah... 76

B. Analisis Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe‟ddin Djambek Perspektif Fiqih Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah .. 80

C. Analisis Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe‟ddin Djambek Perspektif Astronomi Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah ... 87

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 99

(15)

xv

C. Penutup ... 101

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(16)

xvi

PEDOMAN TRANSLITERASI HURUF ARAB KE HURUF LATIN2

A. Konsonan

Huruf Arab Huruf Latin

ا

-

ب

b

ت

t

خ

ts

ج

j

ح

h

خ

kh

د

d

ذ

dz

ز

r

ش

z

ض

s

غ

sy

ص

sh

ض

dl

ط

th

ظ

zh

ع

„a

غ

gh

ف

f

ق

q

ن

k

ي

l

َ

m

ْ

n

ٚ

w

ٖ

h

ء

ي

y

(17)

xvii B. Vokal

Tanda Nama Ditulis

َ Fathah A

ِ Kasrah I

ُ Dammah U

C. Diftong

Tanda Nama Ditulis

َ +

ْي Fathah + ya‟ mati Ai َ

+

ْٚ Fathah + wawu Au

D. Syaddah

Syaddah )

ّ

( dilambangkan dengan konsonan ganda, misalnya دّدجِ (mujaddid).

E. Kata Sandang

Kata Sandang (يا) ditulis dengan al-... misalnya طّشٌا

(al-Syamsu). Al- ditulis dengan huruf kecil kecuali jika terletak pada permulaan kalimat.

F. Ta’ Marbuthah

Setiap ta‟ marbuthah ditulis dengan “h” misalnya ةٌؤسٌا ْاىِإ (imkan al-rukyah).

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Metode penentuan awal bulan yang akurat, sesuai kaidah-kaidah astronomi, dan tidak menyulitkan umat Islam memiliki urgensi signifikan dalam kehidupan keberagamaan umat Islam. Metode penentuan awal bulan Hijriah memiliki kedudukan yang sangat penting untuk mendukung kegiatan amaliah praktis umat Islam. Ini disebabkan, hampir semua ibadah dalam Islam terkait dengan peredaran Bulan, misalnya ibadah puasa, zakat, haji, dan kurban.1

Dalam kalender Matahari, tidak terdapat perbedaan tentang kapan permulaan hari walaupun ada beberapa konsep yang berbeda tentang penentuan waktu tergantung pada benda langit yang dijadikan sebagai acuannya. Walaupun semuanya tetap didasarkan pada pergerakan (semu atau relatif) benda tersebut terhadap Bumi.2 Sedangkan penentuan awal bulan Hijriah sering menimbulkan polemik di antara umat Islam dikarenakan setiap golongan mempunyai keyakinan dan pemahaman tersendiri dalam menentukan kapan masuk awal bulan Hijriah.

Persoalan hisab rukyat awal bulan Hijriah ini pada dasarnya sumber pijakannya adalah hadis-hadis hisab rukyat. Di mana berpangkal pada zhahir hadis-hadis tersebut, para ulama‟ berbeda pendapat dalam memahaminya sehingga melahirkan perbedaan pendapat.3

1

Muhammad Hasan, Imkan Ar-Rukyah Di Indonesia, Disertasi Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2012, h. 1.

2 Muh. Nashirudin, Kalender Hijriah Universal Kajian Atas Sistem dan Prospeknya di

Indonesia, Semarang : El-Wafa, 2013, h. 71.

(19)

Ada pendapat yang menyatakan bahwa hasil rukyat di suatu tempat berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini dengan argumentasi bahwa khithab dari

hadis-hadis hisab rukyat ditujukan pada seluruh umat Islam di dunia, tidak dibedakan oleh perbedaan geografis dan batas-batas daerah kekuasaan. Pemikiran inilah yang terkenal dengan rukyat internasioanal, di mana dalam konteks keindonesiaan diwakili oleh kelompok Hizbut Tahrir.4

Pendapat lain menyatakan bahwa hasil rukyaht di suatu tempat hanya berlaku bagi suatu daerah kekuasaan hakim yang meng-isbat-kan hasil rukyat

tersebut. Pemikiran ini terkenal dengan rukyah fi al-wilayah al-hukmi

sebagaimana pemikiran yang selama ini dipegang oleh Nahdlatul Ulama secara institusi. Selain itu juga, ada pendapat yang hanya memberlakukan rukyat sebatas pada daerah yang dianggap memang memungkinkan adanya rukyat tersebut. Dalam konteks keindonesiaan, pemikiran ini kiranya tidak berkembang, dan kalaupun ada mungkin hanya pada perseorangan saja.5

Pada bulan Hijriah permulaan hari dimulai pada saat Matahari terbenam. Sebagian pengguna kalender Hijriah modern seperti Yahudi dan Islam, menetapkan waktu Matahari terbenam sebagai permulaan hari yang baru. Matahari terbit juga digunakan sebagai permulaan hari oleh setengah zaman awal seperti Mesir, dan juga zaman modern seperti Hindu dalam kalender keagamaan mereka. Kelebihan permulaan hari pada Matahari terbenam atau Matahari terbit ialah waktu malam maupun siang tidak terbagi pada dua penanggalan, seperti

4 Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah, Jakarta : Erlangga, 2007, h. 86. 5 Ahmad Izzuddin, Ilmu... h. 87.

(20)

3

yang berlaku jika tengah malam atau tengah hari digunakan untuk menandakan permulaan hari baru.6

Tujuan hisab ialah memastikan, apakah pada waktu perpindahan siang menjadi malam, Bulan sudah di sebelah Timur Matahari ataukah masih di sebelah Baratnya. Untuk memudahkan, Matahari di tempatkan pada posisi terbenam. Lalu dihisab kedudukan Bulan pada waktu itu. Bila hasil hisab menunjukkan bahwa Bulan berkedudukan di sebelah atas ufuk, jadi tingginya positif, ia sudah di sebelah timur Matahari, bila Bulan berkedudukan di sebelah bawah ufuk, jadi tingginya negatif, yang berarti masih di sebelah barat Matahari.7

Sesungguhnya antara metode hisab dan rukyat memiliki kesamaan yang sudah berjalan sejak dulu, yaitu masing-masing memiliki pendapat yang sama terhadap peristiwa pergantian Bulan, yang kita kenal sebagai peristiwa konjungsi ataupun ijtimak.8 Peristiwa ijtima adalah peristiwa yang sudah dipahami dan disepakati oleh semua pihak, sehingga bisa dijadikan acuan untuk melangkah bersama dalam menetapkan kalender Hijriah.9

Ijtimak sendiri merupakan sebuah peristiwa benda-benda langit, di mana kejadiannya sama sekali tidak bergantung kepada kondisi pengamat. Di manapun kita berada, ijtimak atau konjungsi di antara Bumi-Bulan-Matahari tetap akan

6 Mohammad Ilyas, Sistem Kalender Islam dari Perspektif Astronomi, Selangor : Dewan

Bahasa dan Pustaka, 1997, h. 17-18.

7

Saadoe‟ddin Djambek, Hisab Awal Bulan, Jakarta : Tinta Mas, 1976, h. 24.

8 Agus Musthofa, Mengintip Bulan Sabit Sebelum Maghrib, Surabaya : Padma Press,

2014, h. 39-40.

(21)

terjadi.10 Ijtimak tersebut juga akan menjadi bahan perhitungan yang penting dalam konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek.

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa waktu dalam Islam berkaitan erat dengan kalender Islam. Kalender Islam sendiri berdasarkan pergerakan Bulan dan Hilal. Kalender islam mempunyai ciri keislaman karena digunakan untuk menentukan waktu salat dan digunakan untuk ibadah Islam yang lainnya seperti menunaikan haji dan puasa, yang mana ibadah-ibadah tersebut menggunakan acuan pada kalender ini. Sehingga memerlukan perhatian yang serius melalui disiplin ilmu astronomi sebagai ilmu yang masih berkaitan dengan penanggalan tersebut.11

Dari sisi sains, kalender Islam adalah manifestasi astronomi yang melibatkan beberapa bidang yang berkaitan seperti fisik dinamik dan fisik optik, biofisik dan sudah pasti astronomi matematik dan sfera. Ketidakseragaman yang dihadapi oleh umat muslim dari tahun ke tahun pada masa kini berkaitan dengan perbedaan yang sangat menonjol dalam kalender Islam, terutama untuk menentukan peristiwa penting seperti awal Ramadan dan dua hari raya di negara yang berlainan, merupakan masalah baru dalam ilmu astronomi.12

Dalam penentuan kapan masuknya awal bulan Hijriah, tentunya semua umat muslim ingin melaksanakan ibadah puasa maupun hari raya serentak, sehingga Saaddoe‟ddin Djambek, tokoh muslim Indonesia yang oleh banyak

10

Agus Musthofa, Mengintip... h. 46.

11 Mohammad Ilyas, Astronomi Islam dan Perkembangan Sains, diterjemahkan oleh

Juneta Zawawi dkk, Kuala Lumpur : Maziza SDN BHD, 2003, h. 65.

(22)

5

kalangan disebut-sebut sebagai mujaddid al-hisab (pembaharu pemikiran hisab)13

menawarkan konsep garis batas tanggal sebagai penentu masuknya awal bulan Kamariah. Tidak bisa dipungkiri bahwasannya teori yang dikembangkan Saaddoe‟ddin Djambek merupakan perkawinan yang harmonis (two face in the coin ) antara hisab konvensional dan astronomi modern.14

Garis tanggal kalender Hijriah memiliki kerumitan yang berbeda dengan garis tanggal di kalender masehi. Sifat dari garis tanggal kalender Hijriah berubah sesuai dengan perubahan posisi Bulan dan Matahari. Permukaan Bumi memiliki perbedaan lintang geografis sehingga terkadang perbedaan sering terjadi di mana Matahari didahului oleh Bulan pada saat tenggelamnya ataupun sebaliknya. Sehingga pada hakikatnya kita hidup dengan dua garis tanggal. Garis tanggal Hijriah secara global yang memiliki perbedaan semu karena pada garis dari hari tahun Miladiah tetap.15

Khazanah ilmu falak di Indonesia tetap memberi peluang bagi aspek keilmuan dan kepercayaan saling mengisi, membangun pondasi peribadatan pada lingkup bersifat ijtihad dalam ajaran Islam terutama pada permasalahan penetapan

awal bulan. Dinamika dalam penentuan awal bulan Hijriah sudah mengarah pada perbedaan cara dalam mendasarkan mulainya puasa, lebaran maupun awal bulan Zulhijah. Sehingga perbedaan itu senantiasa mengakar kuat. 16

13 Susiknan Azhari, Pembaharuan Pemikiran Hisab dI Indonesia, Yogyakarta : Pustaka

Pelajar, 2002, h. 47.

14 Susiknan Azhari, Pembaharuan... h. 70. 15

Hafidzul Aetam, Analisis Sikap PP.Muhammadiyah Terhadap Penyatuan Sistem Kalender Hijriah di Indonesia, Skripsi Sarjana, Semarang, Fakultas Syariah IAIN Walisongo, 2014, h. 23-24.

(23)

Sebagai mana yang telah diketahui bahwasannya penanggalan Hijriah ini berdasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Satu kali edar lamanya 29 hari 12 jam 44 menit 2,5 detik. Untuk menghidari adanya pecahan hari maka ditentukan bahwa umur bulan ada yang 30 hari dan ada pula yang 29 hari.17 Sehingga dengan garis tanggal yang diusung oleh Saaddoe‟ddin Djambek tersebut sekaligus bisa mengetahui daerah mana yang bulan Ramadannya terdiri dari 29 hari dan daerah mana yang Ramadannya terdiri dari 30 hari.

Garis tanggal yang dirumuskan oleh Saaddoe‟ddin Djambek tersebut merupakan sebuah tawaran yang konkrit terhadap penentuan awal bulan Hijriah pada khususnya. Konsep tersebut murni menggunakan hisab dalam perhitungannya. Jika umat muslim ingin menggunakan konsep tersebut untuk menentukan awal bulan Hijriah, maka perlu sekiranya mengetahui pandangan fiqih dan astonomi terhadap konsep tersebut, karena untuk hal yang bersifat „ubudiyah akan terasa nyaman dan mantap dalam melaksanakannya jika hal yang dijadikan pedoman sesuai dengan fakta.

Dalam tinjauan fiqih (hukum Islam), penentuan awal bulan termasuk masalah ijtihadiyah yang diperbolehkan adanya perbedaan di dalamnya. Akan

tetapi, jika ditinjau dari segi sosial kemasyarakatan, perbedaan tersebut sering menimbulkan keresahan di masyarakat, yang tampak nyata maupun tidak. Oleh karena itu, kesatuan penentuan hari raya idul fitri , atau penyeragaman kalender Islam pada umumnya, mungkin lebih maslahat bagi umat Islam.

17 Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta : Buana Pustaka,

(24)

7

Penentuan awal bulan Hijriah melibatkan aspek-aspek yang sangat kompleks, mulai dari aspek fiqih, sosial politik, maupun aspek ilmiah. Akan tetapi, penulis membatasi pembahasan dalam penekanan aspek hukum Islam yang diwakili oleh disiplin ilmu fiqih dan aspek ilmiah yang diwakili oleh disiplin ilmu astronomi, dan tidak lupa menyinggung aspek lain yang tentunya berkaitan dengan penelitian ini.

B. Rumusan Masalah

Melihat permasalahan yang tergambar dari latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan masalah yang akan menjadi kajian penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek terhadap penentuan awal bulan Kamariah?

2. Bagaimana tinjauan fiqih terhadap konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek untuk penentuan awal bulan Kamariah? 3. Bagaimana tinjauan astronomi terhadap konsep garis batas tanggal

Saaddoe‟ddin Djambek untuk penentuan awal bulan Kamariah?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui dan Menganalisis konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek untuk penentuan awal bulan Kamariah. 2. Mengetahui dan menganalisis konsep garis batas tanggal

Saaddoe‟ddin Djambek perspektif fiqih untuk penentuan awal bulan Kamariah.

(25)

3. Mengetahui dan menganalisis konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek perspektif astronomi untuk penentuan awal bulan Kamariah.

D. Manfaat Penelitian

Mengenai manfaat dari penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu untuk kepentingan praktis dan kepentingan teoritis. Garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek secara praktis dapat digunakan untuk kepentingan bermuamalah, karena memberikan kepastian penanggalan Hijriah. Untuk kepentingan ibadahpun dapat digunakan dengan meyakinkan bila memiliki landasan fiqih yang kuat. Dengan itu, garis batas tanggal Saaddoe‟ddin yang dilahirkan sebagai penentu masuknya awal bulan Kamariah sangat diperlukan tinjauan fiqih dan astronomi untuk lebih meyakinkan umat muslim pada khususnya dalam melaksanakan ibadah.

Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk membangun keilmuan falak, khususnya yang terkait dengan penentuan awal bulan Kamariah. Ilmu falak yang merupakan salah satu bagian dari disiplin ilmu keislaman khususnya kesyariahan, yang selama ini terkesan stagnan, dengan hadirnya penelitian ini akan memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam khazanah keilmuan falak.

E. Telaah Pustaka

Sejauh pengetahuan dan penelitian penulis, sudah banyak penelitian yang membahas tentang hisab awal bulan Kamariah, namun penulis belum menemukan adanya karya yang secara mendetail meneliti masalah garis batas tanggal menurut Saaddoe‟ddin Djambek.

(26)

9

Ada beberapa penelitian yang pembahasannya hampir sama dengan pembahasan yang akan penulis teliti yaitu:

Penelitian yang telah dilakukan oleh Umi Laely Rizkiyani (2014), berjudul “Analisis Pemikiran Saadoe‟ddin Djambek Tentang Penentuan Awal Bulan Qamariah” yang ditulis dalam skripsinya. Hasil dari penelitiannya mengatakan

bahwa model hisab Saaddoe‟ddin Djambek sudah bisa dianggap akurat, salah satu faktor pendukung keakuratan yakni input data dari Almanak Nautika. Secara

astronomi modern, hisab Saadoe‟ddin Djambek telah menggunakan perhitungan yang bersifat geosentrik dan memperhatikan fenomena toposentrik dengan memperhatikan faktor koreksi pada tinggi mar‟i.18

Penelitian yang dilakukan oleh Nila Suroya (2013), berjudul “Uji Akurasi Pedoman Waktu Salat Sepanjang Masa Karya Saadoe‟ddin Djambek” merupakan penelitian yang memberikan deskripsi tentang Pedoman Waktu Salat Sepanjang

Masa. Buku tersebut merupakan pengembangan dari karya Saadoe‟ddin Djambek berjudul Almanak Djamilijah di mana bagian keduanya juga membahas mengenai

jadwal waktu salat. Dalam perhitungannya pun telah ada koreksi pada ketinggian, refraksi (pembiasan cahaya) dan dip (kerendahan ufuk) yang berpengaruh pada

waktu syuruq (terbit) dan ghurub (terbenam), dan hasil penelitian tentag

akurasinya juga dianggap sudah cukup bagus.19

Penelitian yang dilakukan oleh Karina Kusuma Wardani (2013), berjudul “Analisis Hisab Arah Kiblat Pemikiran Saadoeddin Djambek Dalam Buku Arah

18

Umi Laely Rizkiyani, Analisis Pemikiran Saaddoe‟ddin Djambek Tentang Penentuan

Awal Bulan Kamariah, Skripsi Sarjana, Semarang, Fakultas Syariah IAIN Walisongo, 2014.

19 Nila Suroya, “Uji Akurasi Pedoman Waktu Salat Sepanjang Masa Karya Saadoeddin

Djambek, Skripsi Sarjana, Semarang: Fakultas Syari‟ah dan Ekonomi Islam IAIN Walisongo, 2013.

(27)

Qiblat”, mengkaji mengenai pemikiran Saadoe‟ddin Djambek mengenai konsep hisabnya dalam karyanya itu. Terdapat pula penjelasan mengenai bagaimana Saadoe‟ddin Djambek mampu memberikan ilustrasi peta grafik kiblat pada suatu bidang datar dengan sistem proyeksi.20

Penelitian yang dilakukan oleh Sakirman (2009), berjudul “Konsep Kalender Islam Internasional Perspektif Mohammad Ilyas”, yang mana dalam penelitian tersebut membahas mengenai seorang tokoh falak dari negeri Jiran (Malaysia) yaitu Mohammad Ilyas memperkenalkan konsep Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line). Garis tersebut

dihubungkan antar wilayah guna mendapatkan keseragaman Hilal. Temuan dalam penelitian ini adalah bahwa konsep Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas masih terkendala pada Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International

Lunar Date Line) yang bersifat tidak tetap setiap bulannya.21

Penelitian yang dilakukan oleh M. Aulia Syamsul Riza (2012), berjudul “Analisis Pemikiran Bambang Eko Budhiyono Tentang Ka‟bah Universal Time”, yang mana temuan dalam penelitian tersebut adalah menggunakan Ka‟bah yang berada di kota Mekah sebagai transformasi bujur 0o agar umat Islam yang berada diantara bujur 40o BT (Kota Mekah) sampai bujur 180o (International Date Line) termasuk Indonesia tidak mendahului waktu ibadah kota Mekah (Masjidil

20

Karina Kusuma Wardani, “Analisis Hisab Arah Kiblat Pemikiran Saadoeddin Djambek Dalam Buku Arah Qiblat”, Skripsi Sarjana, Semarang: Fakultas Syari‟ah dan Ekonomi Islam

IAIN Walisongo, 2013.

21 Sakirman, Konsep Kalender Islam Internasional Perspektif Mohammad Ilyas, Skripsi

(28)

11

Haram), konsep tersebut menggunakan dasar hukum al-Quran surat al-Hujurat ayat 1.22

Dari beberapa telaah pustaka di atas, ada beberapa telaah pustaka yang secara subjektif sama dengan penelitian yang akan penulis angkat yaitu pembahasan tentang tokoh Saaddoe‟ddin Djambek. Akan tetapi, secara subtansial atau material penelitian yang akan penulis kaji berbeda dengan penelitian-penelitian di atas. Penulis akan fokus meneliti tentang konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek jika ditinjau dari keilmuan fiqih dan astronomi.

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif23 dengan melalui kajian pustaka (library research). Karena akan menganalisis dan

menyajikan data hasil analisis terhadap garis batas tanggal menurut Saadoe‟ddin Djambek untuk penentuan awal bulan Kamariah.

Pendekatan keilmuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fiqih dan pendekatan astronomi. Pendekatan fiqih digunakan dalam kaitannya dengan tujuan penelitian pertama, sedangkan pendekatan astronomi digunakan dalam kaitannya dengan tujuan penelitian yang kedua.

22 M. Aulia Syamsul Riza, “Analisis Pemikiran Bambang Eko Budhiyono Tentang Ka‟bah Universal Time”, Skripsi Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Walisongo, 2012.

23 Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat

postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Lihat Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan,

(29)

2. Sumber Data

Sumber data meliputi sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah data-data yang penulis peroleh langsung dari penelitian, yaitu melalui buku Hisab Awal Bulan karya

Saaddoe‟ddin Djambek. Sedangkan sumber data sekunder yaitu data-data yang diperoleh secara tidak langsung dalam melakukan penelitian. Sumber data sekunder ini meliputi kitab-kitab fiqih dan buku-buku astronomi, serta dokumentasi, ini diambil dari buku-buku atau karya ilmiah dan buku-buku yang mendukung dalam penyusunan penelitian ini.

Untuk mempermudah peneliti, dalam menelusuri pendapat ulama fiqih berkaitan dengan garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek, terlebih dahulu peneliti menelusuri teks-teks al-Quran dan Hadis yang terkait dengan penentuan awal Bulan Kamariah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, digunakan beberapa kitab tafsir sebagai alat bantu pencarian data antara lain :Tafsir al- Qurthubi danTafsir al-Misbah dan buku-buku yang

berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian ini sekaligus untuk mempermudah pemahaman peneliti berkaitan dengan teks ayat-ayat tersebut. Berkaitan dengan Hadis, Hadis yang digunakan adalah Hadis-Hadis tentang penentuan awal bulan yang terdapat dalam Sahih Muslim.

Hadis-Hadis yang dipilih adalah Hadis yang bernilai sahih dari segi periwayatannya. Setelah teks ayat dan Hadis yang terkait dengan

(30)

13

penentuan awal bulan Hijriah ditemukan, kemudian ditelusuri pendapat ulama yang terkait dengan garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek.24

3. Teknik Pengumpulan Data

Berkaitan dengan tujuan penelitian pertama, pengumpulan data pendapat ulama yang terdapat dalam kitab fiqih langsung ke perpustakaan untuk melacak pemikiran dan pemahamannya berkaitan dengan garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek. Di samping itu, penelusuran terhadap pendapat ulama juga dilakukan melalui penelaahan terhadap kitab-kitab fiqih kontemporer dan kitab-kitab falak.

Berkaitan dengan tujuan penelitian kedua, teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik penggunaan dokumen. Karena data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tentang garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek, maka dokumen-dokumen yang dikumpulkan dalam penelitian ini berbentuk dokumen pribadi25 dan record26.

Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka metode pengumpulan data yang penulis lakukan adalah dokumentasi (documentation) untuk mendapatkan data-data garis batas tanggal

Saaddoe‟ddin Djambek yang selanjutnya menganalisis konsep garis batas tanggal Saadoe‟ddin Djambek perspektif fiqih dan astronomi untuk penentuan awal bulan Kamariah.

24 Muhammad Hasan, Imkan... h. 30.

25Dokumen pribadi dalam penelitian ini maksudnya catatan seseornag secara tertulis

tentang pengetahuannya tentang garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek. Lihat Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2010, h. 217.

26 Record dalam penelitian ini maksudnya pernyataan tertulis atau data mengenai garis

batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian. Lihat Lexy J. Moleong, Metode... h. 217.

(31)

4. Analisis Data

Untuk menganalisis data yang telah terkumpul penulis menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif dilakukan dengan cara menyusun data penelitian menjadi teks naratif.

Landasan fiqih dijadikan main point karena merupakan persoalan

ibadah sehingga penelusuran teks (nash yang dijadikan hujjah) menjadi sangat penting untuk melihat bagaimana perintah tentang ibadah yang pelaksanaannya didasarkan pada peredaran benda-benda langit (fenomena astronomis). Penulis juga menggunakan pendekatan astronomi dalam penelitian ini (untuk mendapatkan konfirmasi data secara meyakinkan) karena penulis berkeyakinan bahwa fenomena alam yang disinyalir dalam nash al-Qur‟an maupun Hadis tidak bertentangan dengan fenomena kealaman dan terdapat keselarasan antar kajian nash dengan kajian astronomi sehingga penulis menggunakan data astronomis untuk membantu menganalisis peristiwa perbedaan dalam memulai berpuasa Ramadan antara Mu‟awiyah di Damaskus dan Ibnu Abbas di Madinah dengan batas keberlakuan garis tanggal. Berdasarkan informasi yang dijelaskan dalam Hadis Kuraib tersebut menerangkan bahwa Muawiyah dan Ibnu Abbas sama-sama memulai puasa dengan mendasarkan rukyat

al-Hilal dengan hasil yang berbeda dalam menetapkan hari awal bulan

Ramadan.27

27 Moh. Imron Rosyadi, Matlak Global dan Regional, Disertasi Institut Agama Islam

(32)

15

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini, secara garis besar penulis merancang menjadi lima bab. Di dalam setiap babnya terdapat sub-sub pembahasan, dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab I yaitu pendahuluan, bab ini meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, telaah pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II yaitu konsep garis batas tanggal Saadoe‟ddin Djambek terhadap penentuan awal bulan Kamariah, pembahasan dalam bab ini membahas tentang Saaddoe‟ddin Djambek yang meliputi biografi, genealogi keilmuan, karier dan karya-kayanya, definisi garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek serta konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek terhadap penentuan awal bulan Kamariah.

Bab III yaitu konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek perspektif fiqih dan astronomi, merupakan bab pembahasan yang membahas konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek perspektif fiqih terhadap penentuan awal bulan Kamariah dan konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek perspektif astronomi terhadap penentuan awal bulan Kamariah.

Bab IV yaitu analisis konsep garis batas tanggal Saadoe‟ddin Djambek perspektif fiqih dan astronomi, pembahasan dalam bab ini meliputi analisis konsep garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek terhadap penentuan awal bulan Kamariah, analisis konsep garis batas tanggal Saadoe‟ddin Djambek perspektif fiqih terhadap penentuan awal bulan Kamariah dan analisis konsep garis batas

(33)

tanggal Saadoe‟ddin Djambek perspektif astronomi terhadap penentuan awal bulan Kamariah.

Bab V yaitu penutup, dalam bab ini berisi kesimpulan, saran-saran, dan kata-kata penutup.

(34)

17 BAB II

KONSEP GARIS BATAS TANGGAL SAADDOE’DDIN DJAMBEK TERHADAP PENENTUAN AWAL BULAN KAMARIAH A. Tentang Saaddoe’ddin Djambek

1. Biografi

Saaddoe‟ddin Djambek adalah tokoh muslim Indonesia yang oleh banyak kalangan disebut-sebut sebagai mujaddid al-hisab (pembaharu

pemikiran hisab). Nama lengkapnya H. Saaddoe‟ddin Djambek atau biasa dikenal Datuk Sampono Radjo, beliau dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 24 Maret 1911 M / 29 Rabiul Awal 1329 H pada saat ranah Minang sedang terjadi pergolakan kebangkitan yang disebut Kaum Muda.

Gerakan ini berbeda dengan gerakan kebangkitan yang terjadi sebelumnya, seperti gerakan Paderi (1803-1838), di mana gerakan Paderi tersebut lebih menekankan semangat militerisasi. Gerakan kaum muda lebih bersifat

pembaharuan pemikiran, yang ditandai dengan munculnya berbagai media publikasi, sekolah serta organisasi yang dikelola secara modern. Gerakan kaum muda ini pula yang mengilhami berdirinya lembaga pendidikan Thawalib School, suatu lembaga pendidikan yang dikelola secara modern,

baik dari segi manajemennya maupun dari segi kurikulumnya. 1

Sang Pembaharu Pemikiran Hisab meninggal dunia pada hari Selasa tanggal 11 Zulhijah 1397 H bertepatan dengan tanggal 22

1 Susiknan Azhari, Pembaharuan Pemikiran Hisab di Indonesia, Yogyakarta : Pustaka

(35)

November 1977 M di Jakarta. Makamnya dekat dengan makam T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy.2

2. Genealogi3 Keilmuan

Saaddoe‟ddin adalah seorang guru serta ahli hisab dan rukyat, putra ulama besar Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947 M/1277-1367 H) dari Minangkabau. Beliau memperoleh pendidikan formal pertama di HIS (Hollands Inlandsche School) hingga tamat pada 1924 M/1343 H. Kemudian dia melanjutkan studinya ke sekolah pendidikan guru, HIK (Hollands Inlandsche Kweekschool). Setelah tamat dari HIK pada 1927 M/1346 H, dia meneruskannya lagi ke HKS (Hogere Kweekschool), sekolah pendidikan guru atas, di Bandung, Jawa Barat, dan memperoleh ijazah pada tahun 1930 M/1349 H. Selama empat tahun (1930-1934 M/1349-1353 H) dia mengabdikan diri sebagai guru Gouvernements Schakelschool di Perbaungan, Palembang. Setelah menjalani tugasnya sebagai guru di Palembang, dia berusaha melanjutkan pendidikannya, dia mengajukan permohonan untuk dipindahtugaskan ke Jakarta agar dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Di Jakarta dia bekerja sebagai guru Gouvernment HIS4 nomor 1 selama setahun. Pada 1935 M/1354 H dia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Indische Hoofdakte (program diploma pendidikan) di

2 Susiknan Azhari, Pembaharuan... h. 52.

3garis keturunan manusia lihat http://kbbi.web.id/genealogi di akses pada tanggal

05/06/2015 M pukul 10:39 WIB.

4

adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. Lihat

http://id.wikipedia.org/wiki/Hollandsch-Inlandsche_School di akses pada tanggal !9/05/2015 pukul 07:53 WIB.

(36)

19

Bandung sampai memperoleh ijazah pada 1937 M/1356 H. Pada tahun yang sama, dia juga memperoleh ijazah bahasa Jerman dan bahasa Perancis. Setelah mengikuti pendidikan di Bandung, dia kembali menjalankan tugas sebagai guru Gouvernment HIS di Simpang Tiga (Sumatera Timur). Sebagai seorang guru, dia tidak pernah berhenti mengembangkan karier di bidang pendidikan. Kariernya terus meningkat, dari guru sekolah dasar sampai menjadi dosen di Perguruan Tinggi dan terakhir menjadi pegawai tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Dia mulai tertarik mempelajari ilmu hisab dari Syekh Tahir Jalaluddin, yang mengajar di Al-Jami‟ah Islamiah Padang tahun 1939 M/1358 H. Pertemuannya dengan Syekh Tahir Jalaluddin membekas dalam dirinya dan menjadi awal pembentukan keahliannya di bidang hitung-menghitung penanggalan.5 Menurut pengakuannya buku Pati Kiraan karya Syekh Tahir Jalaluddin adalah yang menarik hatinya dalam mempelajari ilmu falak. Disamping itu, beliau juga mempelajari buku-buku yang lain, seperti Almanak Djamiliah karya Syekh Djambek,

Hisab Hakiki karangan KH. Ahmad Badawi dan lain sebagainya.6

Untuk memperdalam pengetahuannya, dia kemudian mengikuti kursus Legere Akte Ilmu Pasti di Yogyakarta pada tahun 1941-1942

M/1360-1361 H serta mengikuti kuliah ilmu pasti alam dan astronomi

5

Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2012, h. 185-187

6 Departemen Agama, Selayang Pandang Hisab Rukyat, Jakarta : Direktorat Jendral

(37)

pada FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) di Bandung pada 1954-1959 M/1374-1375 H.7

Dengan ilmu yang diperolehnya, Saaddoe‟ddin berusaha mengembangkan sistem baru dalam perhitungan hisab dengan mengenalkan teori spherical trigonometry (segitiga bola). Menurutnya

teori itu dibangun untuk menjawab tantangan zaman. Artinya dengan meningkatnya kecerdasan umat di bidang ilmu pengetahuan maka teori-teori yang berkaitan dengan ilmu hisab perlu didialogkan dengan ilmu astronomi modern sehingga dapat dicapai hasil yang lebih akurat.8

Dengan menggunakan teori-teori yang terdapat dalam spherical

trigonometry Saaddoe‟ddin mencoba menyusun teori-teori untuk menghisab arah kiblat, menghisab terjadinya bayang-bayang kiblat, menghisab awal waktu salat dan menghisab awal bulan Kamariah. Karena sistem ini dikembangkan oleh Saaddoe‟ddin maka sistem ini juga dikenal dengan istilah sistem hisab Saaddoe‟ddin Djambek.9

3. Karier

Pada tahun 1955-1956 M/1375-1376 H menjadi lektor kepala dalam mata kuliah ilmu pasti pada PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) di Batusangkar, Sumatera Barat. Kemudian beliau memberi kuliah

7 Susiknan Azhari, Ensiklopedi... h. 186. 8 Susiknan Azhari, Pembaharuan,... h. 50. 9 Susiknan Azhari, Pembaharuan... h. 50.

(38)

21

ilmu falak sebagai dosen tidak tetap di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1959-1961 M/1379-1381 H).10

Selain sebagai ahli falak, di antara aktivitasnya yang paling dominan adalah dalam pendidikan, melalui Muhammadiyah. Aktivitasnya tersebut pada gilirannya memperoleh pengakuan dari warga Muhammadiyah, sehingga pada tahun 1969 diberi kepercayaan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran di Jakarta periode 1969-1973.11

Sebagai seorang tokoh, Saaddoe‟ddin tidak jarang mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak, baik dari kalangan pemerintah maupun non pemerintah. Saaddoe‟ddin pernah diberi kepercayaan untuk menjadi staf ahli Mentri P & K. Di samping itu, pada tahun 1972 pada saat diadakan musyawarah ahli hisab dan rukyat seluruh Indonesia, di mana disepakati dibentuknya Badan Hisab dan Rukyat, Saaddoe‟ddin dipilih dan dilantik sebagai ketua.12

Kunjungan ke luar negeri yang pernah dilakukan Saaddoe‟ddin, antara lain adalah menghadiri konferensi Mathematical Education di India

(1958), mempelajari system Comprehensive School di negara-negara :

India, Thailand, Swedia, Belgia, Inggris, Amerika Serikat dan Jepang (1971), penelitian / survey mengembangkan ilmu hisab dan rukyat dan

10 Susiknan Azhari, Ensiklopedi... h. 185-187. 11 Susiknan Azhari, Pembaharuan...h. 50. 12 Susiknan Azhari, Pembaharuan... h. 50.

(39)

kehidupan sosial di Tanah Suci mekah dan menghadiri First World

Conference on Muslim Education di Mekah (1977).13

4. Karya-Karya

Sebagai ahli ilmu falak, beliau banyak menulis tentang ilmu hisab. Di antara karyanya adalah :

1) Waktu dan Djadwal Penjelasan Populer Mengenai Perjalanan Bumi, Bulan dan Matahari. Karya pertama Saadoe‟ddin Djambek

ini mencoba menerangkan pengertian-pengertian seperti waktu pertengahan, perata waktu, ijtimak dan lain-lain dengan cara yang mudah dipahami.14

2) Almanak Djamiliyah. Buku ini merupakan lanjutan dari buku sebelumnya yag berjudul Waktu dan Djidwal. Dalam buku ini memiliki dua bahasan utama. Pembahasan pertama memaparkan

tentangpenanggalan Masehi yakni tahun 1953, penanggalan tahun Kamariah tahun 1372-1373, dan penanggalan Jawa tahun 1884-1885. Tarikh Kamariah dikemukakan dengan dua cara untuk menetapkannya, yang pertama dengan penetapan umum (tarikh istilah), dan yang kedua menurut perhitungan saat ijtimak Bulan dan Matahari. 15

Bagian kedua, membahas tentang jadwal kelima waktu

salat. Saadoe‟ddin Djambek tidak menyusun jadwalnya secara

13

Susiknan Azhari, Pembaharuan... h. 52.

14 Saadoe‟ddin Djambek, Waktudan Djidwal (Penjelasan Populer Mengenai Perjalanan

Bumi, Bulan dan Matahari), Jakarta: Tintamas, Cet. ke-2, 1952, h. 3.

(40)

23

harian, namun ia menggunakan interpolasi empat hari (1, 5, 9, 13, 17, 21, 25, dan 29) pada setiap bulannya. Adapun cara-cara yang digunakan dalam buku ini dalam menghisab waktu-waktu salat adalah berdasarkan buku ”pati kiraan pada menentukan waktu jang lima dan hala qiblat dengan logharitma” karangan M. Tahir Djalaluddin.16

3) Arah Qiblat dan Tjara Menghitungnja Dengan Djalan Ilmu Ukur Segi Tiga Bola. Karya Saadoe‟ddin Djambek berikut ini membahas tentang arah kiblat yang cara pengukurannya dengan menggunakan ilmu segitiga bola yang mana konsep perhitungan tersebut sudah merupakan konsep perhitungan kontemporer, dari perhitunga tersebut Saaddoe‟ddin mengharapkan tercapainya perhitungan yang teliti dalam penentuan arah qiblat, karena menurutnya menetapkan arah qiblat termasuk hal yang wajib dalam hubungan ibadah yang dilakukan oleh umat Islam.17

4) Perbandingan Tarich. Secara umum karya Saadoe‟ddin ini memuat jadwal-jadwal yang membahas tentang cara memindahkan tarikh Masehi ke tarikh Kamariah dan tarikh Jawa, dan begitu juga sebaliknya. Selain itu dalam buku ini juga terdapat jadwal untuk mengetahui nama hari dan pasaran.18

16 Saaddoe‟ddin Djambek, Almanak... h. 3.

17 Saadoe‟ddin Djambek, Arah Qiblat dan Tjara Menghitungnja dengan Djalan Ilmu

Ukur Segi Tiga Bola, Jakarta: Tintamas, 1956, h. 3.

18 Saadoe‟ddin Djambek, Perbandingan Tarich (Memuat Djadwal-Djadwal untuk

Memindahkan Penanggalan Tarich Hidjriah dan Djawa Serta Sebaliknja), Jakarta: Tintamas, 1968.

(41)

5) Pedoman Waktu Shalat Sepanjang Masa. Dalam buku ini menampilkan pembahasannya dalam bentuk tabel jadwal setiap waktu shalat. Buku ini merupakan pedoman yang dapat digunakan untuk menentukan awal waktu salat pada setiap tanggal Masehi bagi daerah yang terletak di antara 7o lintang Utara dan 10o lintang Selatan.19 Buku ini terbagi menjadi dua bagian, pertama

menyajikan tabel-tabel awal waktu salat dan kedua berisi daftar

nama kota disertai nilai lintang dan bujur serta koreksi dalam satuan menit agar jadwal tersebut sesuai. Penulis menambahkan pula perlu adanya penambahan waktu ihtiat untuk setiap waktu

shalat.20

6) Shalat dan Puasa di Daerah Kutub. Buku terbitan tahun 1974 M ini hadir sebagai jawaban atas pertanyaan masyarakat muslim mengenai bagaimana menjalankan ibadah berpuasa di daerah yang jauh letaknya di sebelah Utara dan disebelah Selatan khatulistiwa. Karena di sana antara malam dan siang tidak senantiasa hampir sama panjangnya seperti di negeri kita, yaitu masing-masing kira-kira 12 jam. Di sana ada siang yang panjangnya sampai 20 jam, atau malahan sampai 24 jam, bahkan adaa siang hari berlaku terus-menerus selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan.21 Melihat

19 Saadoe‟ddin Djambek, Pedoman Waktu Shalat Sepanjang Masa, Jakarta: Tintamas,

1974

20

Saaddoe‟ddin Djambek, Pedoman... h. 3., Lihat pula skripsi Nila Suroya, Uji Akurasi Pedoman Waktu Shalat Sepanjang Masa Karya Saadoe‟ddin Djambek.

21 Saadoe‟ddin Djambek, Shalat dan Puasa di Daerah Kutub, Jakarta: Bulan Bintang,

(42)

25

kenyataan tersebut, tentunya sangat sukar untuk menjalankan ibadah salat dan puasa yang mana secara umum dalam pelaksanaannya mengacu pada peredaran Matahari. Maka dari itu, Saaddoe‟ddin mencoba menjelaskan perihal cara melaksanakan salat dan puasa di daerah yang ekstrem tersebut dengan cara mengikuti daerah yang terdekat.

7) Hisab Awal Qamariyah. Karya yang terakhir ini merupakan pergumulan pemikirannya yang akhirnya merupakan ciri khas pemikirannya dalam hisab awal bulan Kamariah.22 Sistem perhitungannya menggunakan spherical trigonometry dengan

data-data yang diambil dari almanak nautika, yang mana almanak tersebut merupakan almanak yang disusun dengan kerjasama Royal Greenwich Observatory (Inggris) dan United States Naval Observatory (Amerika) dengan nama asli The Nautical Almanac.

Untuk di Indonesia diterbitkan oleh Jawatan Hidrografi Angkatan Laut R.I mulai tahun 1963 M. 23

Selain karya Saadoe‟ddin Djambek dalam bidang falak, ia menghasilkan pula karya-karya di bidang keilmuan lainnya, di antaranya Marilah Berhitung

yang terbit tahun 1957 M, buku ini terdiri atas 10 jilid yang ditulis bersama dengan H. M. Arifin Temyang, Natidjah Umum yang terbit tahun 1967 M,

22 Susiknan Azhari, Ensiklopedi... h. 187.

(43)

Pendidikan Keagamaan diterbitkan tahun 1955 M, dan Mensjukuri Nikmat yang

terbit tahun 1965 M.24

Dari semua judul karya yang dihasilkan di atas, nampak jelas bahwa fokus yang menjadi pusat perhatian Saadoe‟ddin Djambek terpusat pada permasalahan yang bersinggungan dengan Ilmu Falak. Saadoe‟ddin menuangkan ide-ide hisabnya, yang merupakan pengembangan dan kolaborasi antara Ilmu Falak yang ia peroleh dari ayahnya dan gurunya, Syekh Tahir Djalaluddin, dengan Ilmu Astronomi yang ia peroleh selama kuliah di FIPIA Bandung, sehingga menghasilkan karya-karya pemikiran yang representatif yang merupakan kontribusi yang bcrharga untuk pengembangan pemikiran hisab di Indonesia khususnya dan untuk dunia internasional umumnya.25

Pergulatan pemikiran Saadoeddin Djambek dalam pengembangan Ilmu Falak merupakan sintesis ilmiah antara ilmu hisab yang ia peroleh dari ayahnya dan gurunya, Syekh M.Tahir Djalaluddin, dengan teori-teori yang ia pelajar dari guru-gurunya selama kuliah di Bandung, diantaranya adalah Prof. Dr. J. Hins, Prof. Dr. The Pik Sin dan Prof. Dr. G. B. Ban Albada, Prof. Dr. G. B. Ban Albada sendiri merupakan direktur pada Observatorium Bosscha tahun 1949 – 1958.26 Sehingga tidak mengherankan bahwa hasil hisab yang dihasilkan oleh Saaddoe‟ddin Djambek bisa dibilang lebih akurat dibanding dengan perhitungan dengan menggunakan hisab tradisional.

24

Abdul Azis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Ichtiar Baru van Hoeve: Jakarta, 1996, h. 276.

25

http://erwandigunawandly.blogspot.com/2014/06/pemikiran-hisab-saadoeddin-djambek.html di akses pada tanggal 30 Mei 2014 M pukul 20:24 WIB.

(44)

27

B. Definisi Garis Batas Tanggal

Garis batas tanggal adalah garis yang menghubungkan daerah-daerah di permukaan Bumi di mana Matahari dan Bulan terbenam secara bersamaan. Garis batas tanggal biasa digunakan oleh kelompok yang berpegang pada Ufuk Mar‟i27. Garis batas tanggal tidak bisa dijadikan pedoman langsung dalam menentukan posisi Hilal untuk suatu tempat, hal ini disebabkan : (a) data terbenam Matahari yang dijadikan pedoman dalam melukis garis itu diambil rata-rata dari tiga hari dan (b) data terbenam Matahari dan terbenam Bulan, tidak memperhatikan Kerendahan Ufuk28. Jadi hanya berlaku daerah yang persis berada di permukaan air laut (ketinggian 0 meter).29

Garis batas tanggal adalah garis khayal yang berposisi pada meridian 180o dari Greenwich, yaitu yang melintasi samudra pasifik. Dengan perjanjian internasional bahwa semua orang yang melewati garis batas tanggal ini perlu mengubah tanggal (walau waktu lokal tetap sama). Sebelah Barat garis batas, satu hari lebih maju daripada tempat yang berada di Timurnya. Dengan perkataan lain pengembara yang datang dari Timur ke Barat yang melintasi garis batas tersebut harus memajukan tanggal satu hari. Sebaliknya, yang datang dari Barat ke Timur harus menghitung hari yang sama dua kali.30

27Ufuk Mar‟i atau “Ufuk Kodrat” adalah ufuk yang terlihat oleh mata, yaitu ketika

seseorang berada di tepi pantai atau berada di dataran yang sangat luas, maka akan tampak ada semacam garis pertemuan antara Langit dengan Bumi. Garis pertemun inilah yang dimaksud dengan Ufuk Mar‟i yang dalam astronomi dikenal dengan nama Visible Horizon. Lihat juga Muhyiddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Yogyakarta : Buana Pustaka, 2005.

28 Kerendahan Ufuk atau “Ikhtilaful Ufuk” yaitu perbedaan kedudukan antara ufuk yang

sebenarnya (hakiki) dengan ufuk yang terlihat (mar‟i) oleh seorang pengamat. Dalam astronomi disebut Dip. Lihat juga Muhyiddin Khazin, Kamus... h. 25.

29 Susiknan Azhari, Ensiklopedi ...h. 69. 30 Muhyiddin Khazin, Kamus ... h. 25.

(45)

C. Konsep Garis Batas Tanggal Saaddoe’ddin Djambek Terhadap Penentuan Awal Bulan Kamariah

Garis tanggal adalah garis batas antara tempat-tempat yang esoknya sudah masuk bulan baru dan tempat-tempat yang esoknya belum masuk bulan baru. Secara teknis, garis tanggal ini merupakan batas antara tempat-tempat yang di sana Hilal mungkin terlihat (karena berada di atas ufuk) dan tempat-tempat yang Hilal tidak mungkin terlihat (karena berada di bawah ufuk) saat Matahari terbenam. Sebagaimana Matahari terbit dan terbenam di permukaan Bumi pada saat-saat tertentu, maka Bulan pun terbit dan terbenam dengan cara yang sama.31

Di tempat-tempat yang Hilal mungkin terlihat karena masih di atas ufuk pada saat Matahari terbenam, Bulan terbenam lebih kemudian dibandingkan dengan Matahari. Sebaliknya, di tempat-tempat lain, Bulan sudah terlebih dahulu terbenam sehingga pada saat Matahari terbenam, Bulan sudah tidak tampak di langit.32

Garis batas ditentukan oleh tempat-tempat yang di sana Bulan dan Matahari terbenam secara bersama-sama. Garis yang menghubungkan tempat-tempat tersebut menurut Saaddoe‟ddin Djambek disebut “garis batas tanggal”, sedangkan menurut Taqwim Ditbinbapera Departemen Agama dinamakan “garis ketinggian Hilal 0o”. Garis ijtimak ini tidak membujur Utara-Selatan atau Timur-Barat, namun, miring dan melengkung. Garis ini bergeser setiap bulannya.33

31

Farid Ruskanda, 100 Masalah Hisab dan Rukyat, Jakarta : Gema Insani Press, 1996, h. 24-25.

32 Farid Ruskanda, 100... h. 25 33 Farid Ruskanda, 100... h.25.

(46)

29

Dalam konsep perhitungannya, garis batas tanggal memiliki acuan untuk menentukan titik batasnya, yaitu:

1. Waktu Terbenam Matahari dan Bulan

Matahari dan Bulan bentuknya seperti Bola, tetapi menurut yang tampak kepada kita, bentuk itu lebih mirip dengan semacam piring bundar yang datar yang bergerak di langit. Dalam hal ini kita gunakan istilah piringan Matahari dan piringan Bulan. Piringan itu tidak selalu sama besar kelihatan oleh kita. Hal itu disebabkan oleh karena jarak Matahari dan Bulan dari Bumi tidak senantiasa sama besar. Bilangan rata-rata bagi garis tengah Matahari adalah 32‟, bagi garis tengah Bulan bilangan itu berkisar antara 29‟-33‟.34

Peristiwa terbenam didefinisikan sebagai keadaan, bila tepi piringan Matahari atau Bulan yang sebelah atas terletak tepat pada garis ufuk, seperti gambar di bawah ini :

Gambar 1.

Dengan jalan demikian titik pusat piringan itu terletak di bawah garis ufuk, yaitu sebanyak seperdua garis tengahnya. Hal yang demikian berarti bahwa Matahari terbenam titik pusatnya terletak 16‟ di bawah ufuk. Perlunya menentukan titik

(47)

pusat adalah karena semua data mengenai Matahari dan Bulan didaftarkan dalam jadwal-jadwal menurut kedudukan titik pusat masing-masing. 35

Jika kita perhatikan daftar salat di negeri kita, ternyata bahwa masuknya waktu maghrib dari hari ke hari hanya berubah sedikit saja. Memang waktu terbenam Matahari pada suatu hari tertentu tidak berbeda banyak dengan hari sesudahnya dan hari sebelumnya.36

Lain halnya dengan keadaan Bulan. Waktu terbenam Bulan pada suatu hari lebih lambat sekitar 50 menit dari waktu terbenam pada hari sebelumnya. Hal ini disebabkan setiap hari Bulan akan menjahui Matahari ke arah Timur sekitar 12 derajat37 lebih cepat setiap hari daripada perjalanan tahunan Matahari.38

Jika kita perhatikan daftar Matahari terbenam dan Bulan terbenam yang terdapat pada Almanak Nautika, di sana disajikan data waktu Matahari terbenam adalah sama untuk tiga hari berturut-turut, sedangkan data waktu Bulan terbenam disajikan setiap hari.39

Dibawah ini dicantumkan daftar yang memuat waktu terbenamnya Matahari pada tanggal 27 Juni 2014 M dan waktu terbenamnya Bulan tanggal 26, 27 dan 28 Juni 2014 untuk lintang 0o.

Lintang Matahari Terbenam Bulan Terbenam

0o 27 26 27 28

35 Saaddoe‟ddin Djambek, Hisab... h. 17. 36 Saaddoe‟ddin Djambek, Hisab ... h. 32. 37

Departemen Agama, Pedoman Perhitungan Awal Bulan Kamariah, Jakarta : Bagian Proyek PembinaanAdministrasi Hukum dan Peradilan Agama, 1983, h. 35.

38 Saaddoe‟ddin Djambek, Hisab... h. 32. 39 Departemen Agama, Pedoman... h.35

(48)

31

18.07 17.33 18.22 19.09

Daftar tabel diatas dikutip dari Alamanak Nautika dan berlaku bagi bujur 0o, yaitu bujur Greenwich. Semua waktu adalah waktu setempat. Ternyata bahwa dari tanggal 26 ke tanggal 27 waktu terbenam Bulan mundur sebanyak 49 menit, dan dari tanggal 27 ke tanggal 28 sebanyak 47 menit.40

Untuk menentukan waktu Matahari terbenam, kita hanya mempergunakan sistem interpolasi pada data lintang sebab waktu Matahari terbenam pada lintang yang sama berlaku untuk seluruh dunia walaupun bujurnya berbeda. Oleh karena itu, perbedaan bujur tidak menjadi masalah. Perbedaan bujur diperhitungkan jika kita hendak merubah waktu setempat (Local Mean Time) menjadi Waktu Daerah/Zone Time/atau Standar Time.41

Bagaimanakah kita dengan pertolongan daftar data di atas menentukan waktu terbenamnya Bulan pada tanggal 27 Juni 2014 di Pontianak misalnya, yang terletak di khatulistiwa dengan bujur 109o 22‟ di sebelah Timur Greenwich?42

Semakin ke Barat letak suatu tempat di atas Bumi, semakin terlambat di tempat itu Bulan terbenam. Semakin ke Timur letaknya semakin dulu Bulan terbenam. Oleh karena itu, bagi tempat-tempat yang letaknya di sebelah Barat bujur 0o, kita perhatikan waktu terbenam Bulan pada hari berikutnya, bagi

40 Saaddoe‟ddin Djambek, Hisab... h. 32. 41 Departemen Agama, Pedoman... h. 36.

42Saaddoe‟ddin Djambek,

(49)

tempat yang letaknya di sebelah Timur bujur 0o, waktu terbenam pada hari sebelumnya.43

Pontianak terletak di sebelah Timur Greenwich, jadi kita perhatikan waktu terbenam Bulan tanggal 26 Juni, yaitu pukul 17.33. Selisihnya dengan tanggal 27 Juni yaitu:

18.22 17.33- 00.49 menit

Bujur Pontianak 109o 22‟. Dengan pertolongan daftar pada Tabel 144 109o 22‟ kita jadikan bagian lingkaran. Oleh karena itu, tersusun menurut persepuluhan derajat, bujur itu kita jadikan 109,4o. Kita peroleh :

9 = 0,0250 0,4 = 0,0011 – 109,4 = 0,3039 bagian

Perbedaan menjadi 0,3039 x 49 menit = 14.8911 menit, yang kita bulatkan menjadi 15 menit.

Jadi, Bulan terbenam di Pontianak pada tanggal 27 Juni 2014 pukul 18.22 – 15 menit = 18.07 waktu setempat.

2. Melukis Garis Batas Awal Bulan Kamariah a. Titik Batas

43 Saaddoe‟ddin Djambek, Hisab... h. 32-33. 44 Lampiran-Lampiran

(50)

33

Kita tentukan sekarang waktu terbenam Bulan pada tanggal 27 Juni 2014 pada suatu tempat A dengan lintang 0o dan bujur 167,7o sebelah Timur Greenwich.

Waktu terbenam Bulan (dari daftar) = 18.22 Koreksi buat 167,7o : 0,4657 x 49 menit = 00.23-

Waktu setempat = 17.59

Ternyata bahwa di tempat A Bulan terbenam pukul 17.59 waktu setempat. Sedangkan Matahari terbenam pada waktu setempat yang boleh dikatakan sama bagi semua tempat dengan lintang yang sama. Di Pontianak Matahari terbenam pukul 18.07 dan di tempat A pun pukul 18.07. Bulan terbenam di Pontianak pukul 18.07 jadi bersamaan dengan terbenam Matahari dan di tempat A pukul 17.59, jadi 8 menit sebelum Matahari.45

Bila demikian keadaanya, tentu di antara Pontianak dan tempat A terdapat pada khatulistiwa sebuah titik, di mana Bulan dan Matahari terbenam hari itu pada saat yang sama, yaitu sama-sama pukul 18.07 waktu setempat.46

Bagaimana kita menentukan letak titik tersebut?47

Kita hanya harus menentukan letak titik, di mana Bulan terbenam pukul 18.07, karena Matahari di seluruh lintang memang terbenam pukul 18.07. Caranya adalah sebagai berikut:

45 Saaddoe‟ddin Djambek, Hisab... h. 33-34.

46Saaddoe‟ddin Djambek,

Hisab... h. 34.

47Saaddoe‟ddin Djambek,

(51)

Pada bujur 0o Bulan terbenam pada tanggal 27 Juni 2014 pukul 18.22, Matahari pukul 18.07. Matahari terbenam 15 menit lebih dulu.

Pada tanggal 27 Juni, Bulan terbenam pada bujur 0o pukul 18.22, pada hari sebelumnya yaitu tanggal 26 Juni pukul 17.33, beda 49 menit.

15 menit = 0,3061 x 49 menit (karena 15 : 49 = 0,3061)

Tempat yang mengalami Bulan terbenam pukul 18.07 terletak 0,3061 bagian lingkaran di sebelah Timur bujur 0o. Dengan bantuan daftar pada Tabel 1 kita pindahkan :

0,3061 bagian 0,3055 bagian- = 110o 0,0006 bagian 0,0006 bagian- = 0,2 0,0000 bagian = 0,0 Jumlah = 110,2o

Nampaknya tempat yang dimaksud, yang kita namakan tempat B, teletak pada bujur 110,2o, dibulatkan menjadi 110o di sebelah Timur Greenwich. Pada tempat itu Bulan dan Matahari terbenam sama-sama pukul 18.07 waktu setempat.48

Tempat B ini penting sekali artinya :

SABTU AHAD P B A 109,4o 110o 167,7o 48Saaddoe‟ddin Djambek, Hisab... h. 34.

Gambar

Gambar 3. Contoh garis batas tanggal Saaddoe‟ddin Djambek untuk awal  bulan Ramadan 1435 H

Referensi

Dokumen terkait

1. Penggunaan elemen ground dalam penulisan skripsi mahasiswa Fakultas Kedokteran lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kelima jenis elemen yang lainnya. Elemen ground

Hasil klasifikasi ulang ke dalam empat kelompok umur panen buah melon menggunakan fungsi diskriminan kuadratik menunjukkan sejumlah 67.27% sampel buah dapat

Di masa-masa mendatang, program pe- muliaan untuk menghasilkan varietas unggul kedelai perlu mempertimbangkan keragaman genetik plasma nutfah dari tetua yang akan digunakan

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa nilai median keseimbangan pasien sesudah terapi latihan gerak (hari ke-12) jauh lebih tinggi dari- pada sebelum terapi, dalam arti

Guru kemudian membahas hasil diskusi siswa dan menjelaskan tentang proses pembentukan minyak bumi dan dampak eksploitasi bagi bahan bakar tersebut pada masa yang akan datang..

Menelusuri budaya buku Nusantara baru kita sadari bahwa manusia Nusantara adalah manusia yang sangat unggul dalam budaya menyampaikan pesan secara tersurat dan

He has also participated in numerous group exhibitions, to mention a few: ArtJog: Resilience Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia (2020) JAVA Art Energy, Institut des

7.. Peningkatan sudut lumbosakral dan pergeseran titik pusat berat badan tersebut akan menyebabkan peregangan pada ligamen dan kontraksi otot- otot yang berusaha