• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan HE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan HE"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TUGAS KHUSUS

LAPORAN TUGAS KHUSUS

PT. PERTAMINA (PERSERO) RU VI BALONGAN

PT. PERTAMINA (PERSERO) RU VI BALONGAN

EVALUASI

EVALUASI KINERJA

KINERJA HEAT EXC

HEAT EXCHANGER

HANGER 20E-103

20E-103 PADA

PADA UNIT

UNIT

CATALYT

CATALYTII C CON

C CONDE

DE NS

NSATI

ATI O

ON UNI

N UNI T

T

Periode : 20 Januari

Periode : 20 Januari

 – 

 – 

 20 Februari 2017

 20 Februari 2017

Disusun Oleh :

Disusun Oleh :

Siti

Siti Hardiyanti

Hardiyanti Pradana

Pradana

5213414008

5213414008

Dessy

Dessy Ratna

Ratna Puspita

Puspita

5213414062

5213414062

JURUSAN TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SEMARANG

SEMARANG

2017

2017

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI DAFTAR ISI ... ... ... 11 DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL ... ... ... 33 DAFTAR GAMBAR  DAFTAR GAMBAR  ... ... ... 44 BAB I BAB I ... ... ... 55 PENDAHULUAN PENDAHULUAN ... ... ... 55 1.1

1.1 Latar BelakangLatar Belakang ... 5 ... 5 1.2

1.2 Rumusan masalahRumusan masalah ... ... ... 66 1.3 1.3 TujuanTujuan ... ... ... 77 1.4 1.4 ManfaatManfaat ... ... ... 77 BAB II BAB II... ... 88 TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA ... ... ... 88 2.1

2.1 Perpindahan Perpindahan PanasPanas ... ... ... 88 2.1.1

2.1.1 Konduksi Konduksi ((conductionconduction)) ... ... ... 99 2.1.2

2.1.2 Konveksi Konveksi ((convectionconvection)) ... ... ... 99 2.1.3

2.1.3 Radiasi Radiasi ((radiationradiation)) ... 9 ... 9 2.2

2.2 Alat Alat Penukar Penukar PanasPanas ... ... ... 99 2.3

2.3 Kegunaan Kegunaan Alat Alat Penukar Penukar PanasPanas... 1... 100 2.4

2.4 Arah Arah Aliran Aliran Fluida Fluida pada pada Alat Alat Penukar Penukar PanasPanas ... ... 1... 111 2.5

2.5 Tipe Tipe Heat Heat Exchanger Exchanger  ... ... 1... 133 2.5.1

2.5.1  Double Pipe He Double Pipe Heat Exchangeat Exchanger r  ... ... 1... 144 2.5.2

2.5.2 Shell and Tube Heat Shell and Tube Heat ExchangeExchanger r  ... ... ... 1515 2.5.3

2.5.3 Plate Plate and and Frame Frame Heat Heat ExchangeExchanger r  ... 20 ... 20 2.5.4

(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI DAFTAR ISI ... ... ... 11 DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL ... ... ... 33 DAFTAR GAMBAR  DAFTAR GAMBAR  ... ... ... 44 BAB I BAB I ... ... ... 55 PENDAHULUAN PENDAHULUAN ... ... ... 55 1.1

1.1 Latar BelakangLatar Belakang ... 5 ... 5 1.2

1.2 Rumusan masalahRumusan masalah ... ... ... 66 1.3 1.3 TujuanTujuan ... ... ... 77 1.4 1.4 ManfaatManfaat ... ... ... 77 BAB II BAB II... ... 88 TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA ... ... ... 88 2.1

2.1 Perpindahan Perpindahan PanasPanas ... ... ... 88 2.1.1

2.1.1 Konduksi Konduksi ((conductionconduction)) ... ... ... 99 2.1.2

2.1.2 Konveksi Konveksi ((convectionconvection)) ... ... ... 99 2.1.3

2.1.3 Radiasi Radiasi ((radiationradiation)) ... 9 ... 9 2.2

2.2 Alat Alat Penukar Penukar PanasPanas ... ... ... 99 2.3

2.3 Kegunaan Kegunaan Alat Alat Penukar Penukar PanasPanas... 1... 100 2.4

2.4 Arah Arah Aliran Aliran Fluida Fluida pada pada Alat Alat Penukar Penukar PanasPanas ... ... 1... 111 2.5

2.5 Tipe Tipe Heat Heat Exchanger Exchanger  ... ... 1... 133 2.5.1

2.5.1  Double Pipe He Double Pipe Heat Exchangeat Exchanger r  ... ... 1... 144 2.5.2

2.5.2 Shell and Tube Heat Shell and Tube Heat ExchangeExchanger r  ... ... ... 1515 2.5.3

2.5.3 Plate Plate and and Frame Frame Heat Heat ExchangeExchanger r  ... 20 ... 20 2.5.4

2.5.4 Air Air Cooled Cooled Heat Heat ExchangeExchanger r ... 2... 211 2.5.5

(4)

2.8

2.8 Fouling Fouling Factor Factor (Rd)(Rd) ... ... 2... 244 2.8.1

2.8.1 Mekanisme Mekanisme PembentukanPembentukan Fouling  Fouling  ... ... ... 2626 2.8.2

2.8.2 Penyebab Penyebab dan dan Akibat Akibat TerjadinyaTerjadinya Fouling  Fouling  ... ... ... 2727 2.8.3

2.8.3 Pencegahan dan Cara MengatasiPencegahan dan Cara Mengatasi Fouling  Fouling  ... 28 ... 28 BAB III BAB III ... ... ... 3030 METODOLOGI METODOLOGI ... ... 3... 300 3.1 Pengumpulan Data 3.1 Pengumpulan Data ... 30 ... 30 3.1.1

3.1.1 Pengumpulan Pengumpulan Data Data Primer Primer ... ... 3030 3.1.2

3.1.2 Pengumpulan Data Sekunder Pengumpulan Data Sekunder  ... 27 ... 27 3.2

3.2 Pengolahan DataPengolahan Data ... ... ... 2828 BAB IV

BAB IV ... ... 3... 3 33 PEMBAHASAN

PEMBAHASAN ... 33 ... 33 4.1 Evaluasi nilai Q Desain dan

4.1 Evaluasi nilai Q Desain dan Q AktualQ Aktual... ... 3434 4.2 Evaluasi Nilai Rd Desain dan Rd

4.2 Evaluasi Nilai Rd Desain dan Rd AktualAktual ... 35 ... 35 4.3 Evaluasi

4.3 Evaluasi Nilai EfisiensNilai Efisiensi Aktual dan Dei Aktual dan Desainsain... 37... 37 4.4 Evaluasi

4.4 Evaluasi Nilai Efisiensi AkNilai Efisiensi Aktual dan Desain Terhtual dan Desain Terhadap Nilai Rdadap Nilai Rd ... ... ... 3838 Gambar 15 Grafik Perbandingan Rd dan Efisiensi

Gambar 15 Grafik Perbandingan Rd dan Efisiensi ... 38 ... 38 BAB V BAB V ... ... ... 4040 PENUTUP PENUTUP ... ... 4... 400 5.1 Simpulan 5.1 Simpulan ... ... ... 4040 5.2 Saran 5.2 Saran ... ... ... 4545 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA ... ... ... 4646 LAMPIRAN 1 PERHITUNGAN DATA DESAIN

(5)

DAFTAR TABEL

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data Primer Tubular Heat Exchanger 

Tabel 1 Data Primer Tubular Heat Exchanger 

……….

……….31

31

Tabel 2 Data Sekunder 10 Januari sampai 11 Januari 2017

(6)

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Arah Aliran Co-Current atau Paralel Flow

Gambar 1 Arah Aliran Co-Current atau Paralel Flow………..

………..12

12

Gambar 2 Arah Aliran Counter Current Flow

Gambar 2 Arah Aliran Counter Current Flow

………..

………..12

12

Gambar 3 Arah Aliran Cross Flow

Gambar 3 Arah Aliran Cross Flow

………..

………..13

13

Gambar 4 Profil Suhu Arah Aliran

Gambar 4 Profil Suhu Arah Aliran

………...

………...13

13

Gambar 5 Double-Pipe Heat Exchanger 

Gambar 5 Double-Pipe Heat Exchanger 

………..

………..15

15

Gambar 6 Shell and Tube Heat Exchanger 

Gambar 6 Shell and Tube Heat Exchanger 

………..

………..16

16

Gambar 7 Susunan tube pada shell and tube heat exchanger 

Gambar 7 Susunan tube pada shell and tube heat exchanger 

………...

………...17

17

Gambar 8 Tubes Layout pada shell and tube heat exchanger 

Gambar 8 Tubes Layout pada shell and tube heat exchanger 

………..

………..18

18

Gambar 9 Penempatan baffle

Gambar 9 Penempatan baffle………..

………..19

19

Gambar 10 Plate and Frame Heat Exchanger 

Gambar 10 Plate and Frame Heat Exchanger 

………..

………..21

21

Gambar 11 Air Cooled Heat Exchanger 

Gambar 11 Air Cooled Heat Exchanger 

………..

………..22

22

Gambar 12 Coil Heat Exchanger 

Gambar 12 Coil Heat Exchanger 

……….

……….22

22

Gambar 13 Grafik Perbandingan Rd desain dengan Rd aktual

Gambar 13 Grafik Perbandingan Rd desain dengan Rd aktual

………

………37

37

Gambar 14 Grafik Perbandingan Flowrate dan Efisiensi

Gambar 14 Grafik Perbandingan Flowrate dan Efisiensi

………

………38

38

Gambar 15 Grafik Perbandingan Nilai Rd Desain dan Efisiensi

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertamina RU VI balongan merupakan kilang yang dirancang untuk

mengolah minyak mentah jenis Duri ( 80% ).

Crude

duri mempunyai harga jual

yang relatif rendah karena kualitasnya yang kurang baik sebagai bahan baku

kilang, karena mengandung residu yang sangat tinggi mencapai 78%, kandungan

logam berat dan karbon serta nitrogen yang juga tinggi sehingga memerlukan

Secondary Recovery.

RCC

complex

merupakan

Secondary Recovery

yang terdiri dari beberapa

unit operasi di kilang RU- VI balongan yang berfungsi untuk mengolah residu

minyak (

Crude Oil

) menjadi produk-produk minyak bumi yang bernilai tinggi

seperti: LPG,

Gasoline, Light Cycle Oil, Decant Oil, Propylene, dan Polygasoline

dengan beberapa unit proses dalam RCC

complex

unit yaitu unit

 Residual

Catalytic Cracker Unit

dan juga Light End Unit

yang didalamnya terdapat proses

Catalytic Condensation Unit

( CCU ).

Catalytic Condensation Unit 

  merupakan proses lanjutan dari

 Propylene

 Recovery Unit

(PRU) yang bertugas untuk mengolah

mixed butane

menjadi

 gasoline

dengan angka oktan yang tinggi dengan menggunakan katalisator asam

fosfat padat dengan suhu operasi yang tinggi sehingga memerlukan sebuah

 Heat

 Exchanger 

 sebelum produk masuk ke

 storage tank 

. Produk yang dihasilkan dari

unit

Catalytic Condensation Unit

( CCU ) adalah polygasoline dan butana.

Heat Exchanger merupakan suatu alat yang menghasilkan perpindahan

 panas dari suatu fluida, baik yang digunakan dalam proses pemanasan maupun

 proses pendinginan. Kondisi operasi yang tepat dapat menghasilkan produk yang

sesuai dengan apa yang diinginkan pada suatu proses. Kondisi operasi yang

(8)

diperhatikan antaralain temperature dan tekanan proses. Namun alat ini memiliki

 jangka waktu tertentu untuk berjalan dan berfungsi dengan baik sesuai dengan

desain awal. Waktu tersebut merupakan variabel, tergantung dari fluida yang

masuk ke Heat Exchanger dan komposisi fluida tersebut. Apabila fluida banyak

kotoran (partikel padat atau komponen pengotor), maka semakin cepat alat

tersebut kotor. Maka dari itu perlu dilakukan pembersihan agar alat dapat

 berjalan dengan baik. Jika tidak dilakukan pembersihan pada alat, kotoran dari

fluida yang terbentuk akan menyebabkan terjadinya penuruan efisiensi dan

 performa dari Heat Exchanger tersebut karena tidak meratanya transfer panas.

Jika Heat Exchanger memiliki efisiensi yang tinggi, maka kehilangan

 panas dapat ditekan sekecil mungkin yang pada akhirnya akan mengurangi biaya

untuk penyediaan energi suatu pabrik. Oleh karena itu dilakukan evaluasi kinerja

Stabilizer Bottom Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic

Unit /

CCU (Unit 20) ini untuk mengetahui alat ini sudah bekerja dengan baik

atau belum, apabila belum maka harus dilakukan pembersihan. Apabila

 pembersihan pada Heat Exchanger dilakukan secara berkala, kinerja, performa,

dan efisiensi dari Heat Exchanger akan terjaga sehingga menjadikan alat tersebut

 beroperasi dengan baik.

1.2 Rumusan masalah

Rumusan masalah dari tugas khusus kerja praktek ini antara lain :

1.

Bagaimana kinerja dari

Stabilizer Bottom Heat Exchanger

(20-E-103)

 pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit 20) pada kondisi

aktual berdasarkan

heat flow

  (Q),

 fouling factor 

  (Rd), dan efisiensi

dari tanggal 10 Januari 2017 sampai 11 Januari 2017 ?

(9)

kondisi aktual dengan data desain berdasarkan

heat flow (Q), fouling

 factor 

 (Rd), dan efisiensi dari tanggal 10 sampai 11 Januari 2017?

1.3 Tujuan

Tujuan dari dari Tugas Khusus Kerja Praktek ini antara lain :

1.

Mengetahui evaluasi kinerja pada

Stabilizer Bottom Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit 20).

2.

Mengetahui perbandingan hasil evaluasi performa

Stabilizer Bottom

 Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit 20) antara kondisi aktual dengan kondisi desain.

1.4 Manfaat

Manfaat dari dari Tugas Khusus Kerja Praktek ini antara lain :

1.

Mengetahui pengaruh

 fouling factor 

 (Rd) terhadap kinerja

Stabilizer

 Bottom Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic

Unit /

CCU (Unit 20).

2.

Mengevaluasi kinerja

Stabilizer Bottom Heat Exchanger

(20-E-103)

 pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit 20) agar dapat

(10)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Perpindahan Panas

Perpindahan panas adalah suatu ilmu pengetahuan yang berurusan

dengan laju pertukaran panas antara badan panas dan badan dingin yang disebut

dengan

 source

dan

receiver 

. Pada umumnya perpindahan panas dapat

 berlangsung melalui 3 cara yaitu secara konduksi, konveksi dan radiasi.

Hukum Pertama Termodinamika atau Hukum Kekelaan Energi

menyatakan bahwa : “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan,

melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Dalam suatu proses perpindahan

 panas dapat mengakibatkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi seperti,

 perubahan temperatur, tekanan, reaksi kimia, dan lain-lain.

Perpindahan panas adalah ilmu yang mempelajari secara rinci

mekanisme perpindahan energi terutama yang berupa panas karena perbedaan

suhu (

driving  force

ΔT). Arah perpindahan

 panas adalah dari medium dengan

temperatur yang lebih tinggi menuju ke medium dengan temperatur yang lebih

rendah.

Proses terjadinya perpindahan panas dapat terjadi secara langsung

maupun tidak langsung. Proses perpindahan panas secara langsung yaitu

 perpindahan panas ketika fluida yang panas akan bercampur secara langsung

dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah. Sedangkan proses perpindahan

secara tidak langsung yaitu perpindahan panas ketika antara fluida panas dan

fluida dingin tidak berkontak secara langsung melainkan adanya pemisah berupa

sekat-sekat pemisah. Panas dapat berpindah melalui tiga mekanisme yang

 berbeda diantaranya :

(11)

2.1.1 Konduksi (conduction)

Konduksi atau hantaran merupakan transfer energi dari partikel dengan

energi yang lebih tinggi menuju ke partikel di sekitarnya yang memiliki

kandungan energi yang lebih rendah sebagai akibat dari interaksi antar partikel.

Konduksi dapat terjadi pada padatan, gas dan cairan. Pada gas dan cairan,

konduksi disebabkan oleh tumbukan dan difusi molekul, sedangkan konduksi

 pada padatan disebabkan oleh kombinasi antara vibrasi molekul dan perpindahan

energi karena elektron bebas.

2.1.2 Konveksi (convection)

Konveksi atau aliran merupakan transfer energi antara suatu permukaan

 padatan dengan fluida (gas atau cairan) yang bergerak dan melibatkan efek

konduksi sekaligus pergerakan fluida. Semakin cepat pergerakan fluida, semakin

 besar laju perpindahan panas konveksi.

2.1.3 Radiasi (radiation)

Radiasi atau pancaran merupakan perpindahan panas yang terjadi karena

 pancaran gelombang elektromagnetik (atau foton) dengan panjang gelombang

tertentu. Tidak seperti konduksi dan konveksi, mekanisme perpindahan panas

radiasi tidak memerlukan medium dan dapat terjadi pada ruang hampa.

2.2

Alat Penukar Panas

Pada sebagian besar industri kimia, proses produksi dijalankan pada

temperatur tertentu sehingga melibatkan proses pemanasan atau pendinginan,

adapula proses yang diserta dengan perubahan fasa seperti pengembunan dan

 penguapan. Untuk mencapai kondisi operasi tersebut suatu industri memerlukan

suatu alat penukar panas atau yang biasa dikenal dengan sebutan

 Heat

 Exchanger, sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik.

(12)

 pertukaran panas antara dua arus fluida yaitu : fluida panas (hot fluid 

) dan fluida

dingin (cold fluid 

) dengan adanya perbedaan temperatur tanpa disertai dengan

 pencampuran (mixing 

) antar keduanya, karena panas yang ditukar terjadi dalam

suatu sistem maka kehilangan panas dari suatu benda akan sama dengan panas

yang diterima oleh benda lain.

Tujuan melakukan perpindahan panas pada industri antara lain:

a.

Memanaskan atau mendinginkan suatu fluida hingga mencapai temperatur

yang diinginkan pada proses lain.

 b.

Mengubah keadaan atau fasa suatu fluida.

c.

Menghemat energi pada proses selanjutnya.

Pada proses pengolahan minyak, alat penukar panas banyak digunakan

diantaranya sebagai alat pemanas atau pendingin fluida proses maupun produk

yang akan disimpan dalam tangki penyimpanan. Pada industri pengolahan

minyak,

heat exchanger 

 yang paling banyak digunakan adalah tipe shell and tube

heat exchanger.

Hal ini disebabkan karena beberapa keuntungan diantaranya :

a.

Memberikan luas permukaan perpindahan panas yang besar dengan

 bentuk atau volume yang kecil.

 b.

Cukup baik untuk beroperasi bertekanan.

c.

Dibuat dengan berbagai jenis material, sesuai dengan fluida yang

mengalir didalamnya, sesuai dengan suhu dan tekanan.

d.

Mudah dibersihkan

e.

Konstruksinya sederhana dan pemakaian ruangan yang relatif kecil.

f.

Prosedur pengoperasiannya sangat mudah dimengerti oleh operator.

g.

Konstruksinya tidak satu kesatuan yang utuh sehingga pengangkutannya

relatif mudah.

(13)

1.

Cooler 

.  Alat penukar panas yang digunakan untuk mendiginkan fluida

 panas sehingga mencapai kondisi relatif yang diinginkan dengan

menggunakan suatu media pendingin berupa air atau udara.

2.

Preheater.

Alat penukar panas yang berfungsi metransfer panas dari

 produk-produk yang bersuhu tinggi ke umpan sebelum masuk ke

 furnace,

agar kerja furnace menjadi lebih ringan.

3.

Condenser.

Alat penukar panas yang digunakan untuk mengembunkan

uap dari suatu unit proses.

4.

Vaporizer 

.

Alat penukar panas yang digunakan untuk menguapkan

sebagian besar cairan.

5.

E vaporator 

.

Alat penukar panas yang digunakan untuk memekatkan suatu

larutan dengan menguapkan sebagian besar air (atau solven) dari suatu

larutan encer.

6.

Reboiler 

.

Alat penukar panas yang berfungsi menguapkan liquid pada

 bagian dasar kolom distillasi sehingga fraksi-fraksi ringan yang terikut

dalam hasil bawah dapat diuapkan kembali, dengan media pemanas

umumnya berupa steam atau fluida panas.

7.

Boiler.

Alat penukar panas yang digunakan untuk membangkitkan steam

(mengubah air dari fase cair ke fase uap pada suhu dan tekanan tertentu).

2.4

Arah Aliran Fluida pada Alat Penukar Panas

Arah aliran fluida yang mengalir didalam

 Heat Exchanger 

  terbagi

menjadi tiga tipe yaitu :

1.

Aliran Searah (co-current 

 atau paralel flow)

Pada tipe aliran ini fluida panas dan fluida dingin masuk pada ujung penukar

 panas yang sama dan kedua fluida mengalir searah menuju ujung penukar

 panas yang lain.

(14)

Gambar 1 Arah Aliran Co-Current atau Paralel Flow

2.

Aliran Berlawanan Arah (

counter current flow

)

Pada tipe aliran ini fluida panas dan fluida dingin masuk melalui ujung

 penukar panas yang berbeda. Masing-masing fluida mengalir dengan arah

 berlawanan menuju ujung penukar panas keluar.

Gambar 2 Arah Aliran Counter Current Flow

3.

Aliran Silang (

cross flow

)

Pada tipe aliran ini fluida panas dan fluida dingin mengalir pada

right angle

satu sama lain.

  Heat Excanger

dengan tipe aliran ini banyak  digunakan

dalam pemanasan dan pendinginan udara atau gas.

(15)

Gambar 3 Arah Aliran Cross Flow

Akibat terjadinya penukaran panas, maka akan terjadi perubahan suhu. Arah

aliran menyebabkan perbedaan profil suhu yang terjadi pada saat proses

 penukaran panas. Berikut adalah profil suhu yang terjadi

Gambar 4 Profil Suhu Arah Aliran

2.5

Tipe Heat Exchanger

 Heat Exchanger

memiliki beberapa tipe sesuai dengan kebutuhan proses

yang ada. Ada enam tipe

 Heat Exchanger, dimana yang paling umum digunakan

adalah tipe

 Double Pipe Heat Exchanger 

  dan

Shell and Tube Heat Exchanger 

,

dengan penjelasan masing-masing enam tipe sebagai berikut :

(16)

2.5.1

Double Pipe H eat E xchanger 

 Heat Exchanger

ini adalah tipe yang paling sederhana, terdiri dari dua

 buah  pipa dengan ukuran diameter yang berbeda, pipa dengan diameter lebih

kecil diletakkan didalam pipa dengan diameter lebih besar dan kedua pipa

disusun secara konsentris (satu sumbu).

 Heat Exchanger 

  jenis ini hanya dapat

digunakan untuk kapasitas yang kecil ( A < 200ft

2

  ), biasanya dibuat dalam

 bentuk pipa U (sering disebut

hairpin

).

 Heat Exchanger 

 jenis ini dapat digunakan

untuk gas-liquid atau gas-gas.

Kelemahan

 Heat Exchanger 

  jenis

 Double Pipe

  ini adalah terbatasnya

 jumlah panas yang dapat ditransfer, namun karena kemudahan dalam

 pembersihan dan konstruksinya maka penggunaannya menjadi lebih umum.

Dengan keterbatasannya untuk kapasitas yang kecil, jika diperlukan luas

 perpindahan panas yang besar, maka dapat dipakai beberapa pipa U yang

dihubungkan secara seri atau paralel. Namun cara tersebut kurang efektif karena

 jumlah

hairpin

  yang besar sehingga akan membutuhkan tempat yang luas dan

 jika terjadi kebocoran aka sulit dikendalikan. Oleh karena itu sebagai solusinya

(17)

Gambar 5 Double-Pipe Heat Exchanger

2.5.2

 Shell and Tube H eat E xchanger 

Jenis umum dari penukar panas, biasanya digunakan dalam kondisi

tekanan relatif tinggi, yang terdiri dari sebuah

 shell 

  yang didalamnya disusun

 pipa yang banyak (tube) dengan rangkaian tertentu untuk mendapatkan luas

 permukaan yang optimal. Fluida mengalir di

 sheel 

  maupun di

tube  sehingga

terjadi perpindahan panas antara fluida dengan dinding

tube  sebagai perantara.

Pada dinding

 shell 

  biasanya dipasang penghalang (baffle) untuk menambah

turbulensi (jarak antar

baffle biasanya 0,2-1 D

shell

).

Keuntungan dari

Shell and Tube Heat Exchanger 

 adalah sebagai berikut :

a.

Dapat digunakan secara luas di berbagai industri karena dapat digunakan

untuk kapasitas yang lebih besar (> 200 ft

2

).

 b.

Mempunyai susunan mekanik yang baik dengan bentuk yang cukup baik

untuk operasi bertekanan.

c.

Tersedia dalam berbagai bahan konstruksi, dimana dapat dipilih jenis

material yang dipergunakan sesuai dengan temperatur dan tekanan operasi.

d.

Dapat digunakan dalam rentang kondisi operasi yang melebar.

(18)

e.

Prosedur pengoperasian lebih mudah.

f.

Metode perancangan yang lebih baik telah tersedia.

g.

Pembersihan dapat dilakukan denga lebih mudah.

Gambar 6 Shell and Tube Heat Exchanger

Komponen penyusun

Shell and Tube Heat Exchanger 

 antara lain :

1.

 Shell

Merupakan bagian tengah alat penukar panas dan tempat untuk

tube bundle.

Antara  shell

dan  tube bundle

terdapat fluida yang menerima atau melepaskan

 panas. Yang dimaksud dengan lintasan shell 

 adalah lintasan yang dilakukan oleh

fluida yang mengalir ke dalam melalui saluran masuk (

inlet nozzle) melewati

 bagian dalam shell 

 dan mengelilingi

tube kemudian keluar melalui saluran keluar

(outlet nozzle).

2.

Tube

Merupakan pipa kecil yang tersusun didalam

 shell 

 yang merupakan tempat

fluida yang akan dipanaskan ataupun didinginkan.

Tube tersedia dalam berbagai

 bahan logam yag memiliki harga konduktifitas panas yang besar sehingga

(19)

ukuran yang didefinisikan sebagai

birmingham wire gauge (BWG). Aliran fluida

dalam tube sering dibuat melintas lebih dari satu kali dengan tujuan untuk

memperbesar koefisien perpindahan panas lapisan film sisi fluida dalam

tube.

Pengaturan ini terjadi dengan adanya

 pass devider 

 dalam

channel 

 yang berfungsi

untuk membagi aliran fluida dalam

tube.

Gambar 7 Susunan tube pada shell and tube heat exchanger

a.

Tube Sheet

Komponen ini adalah suatu flat lingkaran yang fungsinya memegang

ujung-ujung

tube dan juga sebagai pembatas aliran fluida di sisi

 shell and tube.

b.

Tube Dise Channels and Nozzle

Berfungsi untuk mengatur aliran fluida pada sisi

tube.

c.

Tube Pitch

Lubang yang tidak dapat dibor dengan jarak yang sangat dekat, karena jarak

tube  yang terlalu dekat akan melemahkan struktur penyangga

tube. jarak

terdekat antara dua

tube yang berdekatan disebut

Clearance. Tube diletakkan

dengan susunan bujur sangkar atau segitiga seperti terlihat pada gambar

 berikut :

(20)

Gambar 8 Tubes Layout pada shell and tube heat exchanger

d.

Channel Cover

Merupakan bagian penutup pada konstruksi

 Heat Exchanger 

  yang dapat

dibuka pada saat pemeriksaan dan pembersihan alat

e.

Pass Devider

Komponen ini berupa plat yang dipasang didalam

channels untuk membagi

aliran fluida

tube bila diinginkan jumlah

tube pass lebih dari satu.

f.

Baffles

Pada umumnya tinggi segment potongan dari

baffle  adalah seperempat

diameter dalam shell 

 yang disebut 25%

cut segmental baffle. Baffle

tersebut

 berlubang-lubang agar bisa dilalui oleh tube

yang diletakkan pada

rod-baffle.

 Baffle digunakan untuk mengatur aliran lewat

 shell 

 sehingga turbulensi yang

lebih tinggi akan diperoleh. Adanya

baffle  dalam

 shell 

  menyebabkan arah

aliran fluida dalam shell 

 akan memotong kumpulan

tube secara tegak lurus,

sehingga memungkinkan pengaturan arah aloran dalam

 shell 

  maka dapat

meningkatkan kecepatan linearnya. Sehingga akan meningktakan harga

(21)

untuk mengontrol serta mengarahkan aliran fluida yang mengalir diluar

tube

sehingga turbulensi aliran meningkat maka koefisien perpindahan panas

akan meningkat dan laju perpindahan panas juga meningkat. Penempatan

baffle

dan bentuknya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 9 Penempatan baffle

Dasar pertimbangan untuk fluida yang mengalir di bagian shell 

 dan

tube

 pada shell and tube heat exchanger 

 antara lain :

1.

Fluida yang lebih kotor selalu melalui bagian yang mudah dibersihkan, yaitu

tube terutama bila

tube bundle bisa diambil, tetapi dapat juga melalui bagian

 shell 

  bila kotorannya banyak mengandung

coke  karena lebih mudah

dibersihkan.

2.

Fluida yang lebih cepat memberikan kotoran, tekanan tinggi, dan korosif

selalu ditempatkan di

tube  karena

tube  tahan terhadap

high  pressure

dan

 biaya pemeliharaanya lebih murah.

(22)

3.

Fluida yang berbentuk campuran

non condensable gas

  melalui

tube

  agar

tidak terjebak.

4.

Fluida yang berpotensi menimbulkan korosi ditempatkan pada

tube,

 dengan

tujuan dapat menekan biaya penggantian

 shell 

  yang lebih mahal dari pada

tube

 jika terjadi kerusakan akibat korosif.

5.

Fluida yang mempunyai volume besar dilewatkan melalui

tube

  karena

adanya cukup ruangan dan fluida yang mempunyai volume kecil dilewatkan

melalui

 shell 

  karena dapat dipasang

baffle

  untuk menambah

transfer-rate

tanpa menghasilkan kelebihan

 pressure drop

.

6.

Fluida ang lebih viskos atau yang mempunyai

low transfer-rate

 dilewatkan

melalui

 shell 

 karena dapat digunakan

baffle

.

7.

Fluida dengan laju alir rendah dialirkan di dalam

tube

. Diameter

tube

  yang

kecil menyebabkan kecepatan linear fluida (

velocity

) masih cukup tinggi,

sehingga menghambat

 fouling 

 dan mempercepat perpindahan panas.

2.5.3 Plate and Frame Heat Exchanger

 Plate and Frame Heat Exchanger

merupakan sejenis penukar panas untuk

fluida yang didalamnya tersusun banyak sekat-sekat yang berfungsi sebagai

 pemisah (pembatas) antara fluida panas dan fluida dingin. Sekat-sekat tersebut

 juga berfungsi sebagai pengarah aliran. Perpindahan panas yang terjadi didalam

 Plate and Frame Heat Exchanger

adalah secara konveksi, konduksi, dan sedikit

radiasi. Perpindahan panas konveksi terjadi antara plate dengan fluida,

 perpindahan panas konduksi terjadi pada plate (dinding pemisah fluida) dan

 perpindahan panas secara radiasi terjadi dari

 Heat Exchanger 

  ke lingkungan

(23)

Gambar 10 Plate and Frame Heat Exchanger

2.5.4 Air Cooled Heat Exchanger

 Air Cooled Heat Exchanger

adalah salah satu tipe penukar panas dimana

minimal salah satu fluidanya berfasa gas. Pada simulasi ini,

 Air Cooled Heat 

 Exchanger

 berfungsi untuk menurunkan relatif gas tanpa perubahan fase

sehingga hanya ada panas relatif. Yang menjadi fluida panas adalah gas,

sedangkan fluida dinginnya adalah udara. Proses perpindahan panas antara gas

dengan udara terjadi di sepanjang

tube,  gas akan melepaskan panas sedangkan

udara akan menyerap panas sehingga

relative gas menurun, tetapi

relative udara

meningkat. Aliran udara dan gas terjadi secara konveksi dengan menggunakan

kompresor.

Tekanan kerja gas pada

 Air Cooled Heat Exchanger 

 tinggi sehingga masuk

dalam kategori bejana bertekanan (

 pressure vessel 

) sehingga dalam

 perancangannya harus berpedoman pada ASME

Section  VIII dan BP Migas.

Parameter desain yang perlu diperhatikan adalah material

tube  dan plat serta

ketebalan minimal

tube dan plat

header.

(24)

Gambar 11 Air Cooled Heat Exchanger

2.5.5 Coil Heat Exchanger

Coil Heat Exchanger

ini mempunyai pipa berbentuk koil yang

dibenamkan di dalam sebuah

box  berisi air dingin yang mengalir atau

disemprotkan untuk mendinginkan fluida panas yang mengalir di dalam pipa.

Jenis ini disebut juga sebagai

box cooler 

  jenis ini biasanya digunakan untuk

 pemindahan kalor yang relatif kecil dan fluida yang di dalam

 shell 

  yang akan

(25)

Selain jenis-jenis

 Heat Exchanger 

  yang telah dijelaskan diatas, juga

terdapat beberapa

 Heat Exchanger 

  yang dirancang khusus sehingga memiliki

luas transfer panas per unit volume yang besar yang sering disebut dengan

Compact  Heat Exchanger

. Rasio antara luas transfer panas dengan volume

disebut area

  density

(β). Suatu

  Heat Exchanger

disebut sebagai

  Compact Heat

 Exchanger

 jika memiliki nilai β > 700 m

2

/m

3

  (atau 200 ft

2

/ft

3

). Contoh dari

Compact Heat  Exchanger

misalnya radiator mobil (β = 1000 m

2

/m

3

), turbin gas

(β = 6000

m

2

/m

3

), regenerator dari

Stirling engine

(β = 15000 m

2

/m

3

) dan

paru- paru manusia (β = 20000 m

2

/m

3

).

Compact Heat Exchanger 

 biasanya digunakan

untuk proses pertukaran panas antara gas-gas, gas-cair, atau cair-gas.

2.6 Feed Bottom Exchanger 20-E-103

 Feed Bottom Exchanger 20-E-103

 pada unit Catalytic Condensation Unit

merupakan alat penukar panas jenis

 shell and tube heat exchanger

dengan tipe

aliran

Cunter courent. Feed Bottom Exchanger 20-E-103

digunakan untuk

memanaskan Stabilizer Feed Bottom Exchanger dengan memanfaatkan panas

dari penambahan katalis yang bersifat eksoterm.

 Feed Bottom Exchanger

20-E-103

dalam dapur kemudian melewati air cooler jenis fin fan untuk menurunkan

suhu sebelum feed tersebut masuk ke dalam

 storage tank.

(26)

2.7

Permasalahan pada Heat Exchanger

Penggunaan

 Heat Exchanger 

  secara terus menerus akan menimbulkan

 permasalahan. Permasalahan yang sering muncul pada

 Heat Exchanger 

  pada

umumnya adalah sebagai berikut :

1.

Masalah yang berkaitan dengan proses

a.

Penurunan

 perfomance

  karena pengotoran (

 fouling 

) sehingga target

temperatur yang diinginkan tidak tercapai.

 b.

Perubahan distribusi aliran dalam proses sehingga dapat menyebabkan

terjadinya penyimpangan aliran pada

 shell 

 dan

tube.

c.

Perubahan

 physical properties

 fluida yang mengalir pada

 shell 

 atau

tube

akibat perubahan komposisi

 crude

atau fluidanya sendiri terutama yang

langsung mempengaruhi koefisien perpindahan panasnya seperti

viskositas,

thermal conductivity

, dan

 specifications

.

2.

Masalah yang berkaitan dengan mekanikal

a.

Kerusakan pada bagian peralatan

 Heat Exchanger.

 b.

Korosif

c.

Gasket

 bocor 

d.

Berkurangnya luas area

tube

 karena ada sebagian

tube

 yang ditutup atau

diplug.

2.8

Fouling Factor (Rd)

 Fouling

dapat didefinisikan sebagai pembentukan deposit pada

 permukaan alat penukar panas yang dapat menghambat perpindahan panas dan

meningkatkan hambatan aliran fluida pada alat penukar panas tersebut. Lapisan

 fouling 

 dapat berasal dari pertikel-partikel atau senyawa lainnya yang tersangkut

aliran fluida. Pertumbuhan lapisan tersebut dapat meningkat apabila permukaan

(27)

 pembentukan lapisan

 fouling 

  merupakan fenomena yang sangat kompleks

sehingga sukar untuk dianalisa secara analitik. Mekanisme pembentukan

 fouling 

dan metode pendekatannya juga sangat beragam dan berbeda-beda.

Berdasarkan proses terbentuknya endapan atau kotoran,

 fouling 

  dibagi

menjadi lima jenis antara lain :

1.

 Precipitation Fouling 

Pengotoran jenis ini biasanya terjadi pada fluida yang mengandung

garam-garam yang terendapkan pada suhu tinggi seperti garam, kalsium,

fosfat, sulfat, dan lain-lain.

2.

 Particulate Fouling

Pengotoran ini terjadi akibat pengumpulan partikel-partikel padat yang

terbawa oleh fluida diatas permukaan perpindahan panas, seperti debu

 pasir, dan lain-lain.

3.

Chemical Reaction Fouling

Pengotoran ini terjadi akibat adanya reaksi kimia didalam fluida yang

terjadi diatas permukaan perpindahan panas dimana material bahan

 permukaan perpindahan panas tidak ikut bereaksi. Contohnya adalah

reaksi polimerisasi.

4.

Corrosion Fouling

Pengotoran ini terjadi akibat reaksi kimia antara fluida kerja dengan

material bahan permukaan perpindahan panas.

5.

 Biological Fouling

Pengotoran ini berhubungan dengan aktifitas organisme biologis yang

terdapat atau terbawa aliran fluida, seperti lumut, jamur, dan lain-lain.

 Fouling Factor

(Rd) adalah angka yang menunjukan hambatan akibat

adanya kotoran yang terbawa oleg fluida yang mengalir di dalam

 Heat

 Exchanger 

  yang melapisi bagian dalam dan luar

tube. Fouling Factor 

  dapat

(28)

mempengaruhi proses perpindahan panas karena dapat menghambat pergerakan

 panas didalamnya yang diakibatkan karena deposit tersebut. Apabila nilai

 fouling

 factor 

  hasil perhitungan lebih besar dari nilai

 fouling factor 

  desain maka

 perpindahan panas yang terjadi di dalam alat tidak memenuhi kebutuhan

 prosesnya dan harus segera dibersihkan. Oleh karena itu, nilai

 fouling factor 

desain harus tetap dijaga agar perpindahan panas dapat optimal untuk kebutuhan

 proses.

Evaluasi

 fouling factor 

  dilakukan supaya dapat mengetahui keberadaan

kotoran di dalam alat dan waktu pembersihan harus dilakukan. Nilai

 fouling

 factor 

 yang semakin besar akan mengakibatkan efisiensi perpindahan panas yang

semakin menurun dan nilai

 pressure drop

  yang semakin tinggi. Hal tersebut

dapat menyebabkan penurunan kinerja dari

heat exchanger 

.

 Fouling factor 

 dapat

ditentukan berdasarkan harga koefisien perpindahan panas

overall 

 untuk kondisi

clean

dan

 dirty

 pada alat penukar panas yang digunakan.

2.8.1 Mekanisme Pembentukan

F ouling

Secara umum mekanisme terjadinya

 fouling,

  pembentukan dan

 pertumbuhan deposit terdiri dari :

1.

 Initiation,

yaitu pada periode kritis dimana temperatur, konsentrasi, dan

gradien kecepatan dari zona deplesi oksigen dan kristal terbentuk dalam

waktu singkat.

2.

Transport partikel ke permukaan.

-

 Infaction :

secara mekanik.

-

 Diffusion : secara turbulen.

-

Thermophoresis

dan

 Electrophoresis.

(29)

5.

 Attachment,

yaitu awal dari terbentuknya lapisan deposit.

6.

Transformattion or Aging 

, yaitu periode kritis dimana perubahan fisk 

maupun struktur kimia atau kristal dapat meningkatkan kekuatan dan

ketahanan lapisan.

 Removal or Re-entrainment 

, yaitu perpindahan lapisan

  fouling

dengan cara

 pemutusan, erosi, dan spalling.

2.8.2 Penyebab dan Akibat Terjadinya

Fouling

Penyebab terjadinya

 fouling 

 pada

heat exchanger 

 adalah sebagai berikut :

a.

Adanya pengotor berat (

hard deposit 

) yaitu kerak keras yang berasal dari

hasil korosi atau

coke

 keras.

 b.

Adanya pengotor berpori (

 porous deposit 

) yaitu kerak lunak yang berasal

dari dekomposisi kerak keras.

Kondisi yang mempengaruhi terjadinya

 fouling 

 antara lain :

a.

Temperatur yang tinggi.

 b.

Waktu tinggal yang lama, terutama pada daerah yang bertemperatur

tinggi.

c.

 Flow velocity.

d.

Material konstruksi dan permukaan yang halus.

Terbentuknay

 fouling 

 akan menimbulkan beberapa akibat seperti :

a. Terjadinya kenaikan tahanan

heat transfer 

  sehingga biaya perawatan

 bertambah.

 b. Ukuran

heat exchanger 

  menjadi lebih besar, kehilangan energi

meningkat, waktu untuk

 shut down

 lebih lama, dan biaya perawatan lebih

 besar.

(30)

2.8.3 Pencegahan dan Cara Mengatasi

F ouling

Pencegahan

 fouling 

 dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan berikut :

1. Menggunakan bahan konstruksi yang tahan korosi.

2. Menekan potensi

 fouling 

, dapat dengan cara melakukan penyaringan.

3. Menginjeksi anti

 foulant 

 pada fluida

4. Menempatkan

nozzle

(

 shell side

  dan

tube side)

  di permukaan terendah

atau tertinggi pada HE untuk menghindari terjadinya kantung-kantung gas

ataupun kantung volume fluida diam.

 Namun jika telah terjadi

 fouling 

 di dalam

heat exchanger 

, maka sebaiknya

segera dilakukan pembersihan (

cleaning 

) agar tidak menimbulkan kerusakan

lainnya.

Terdapat tiga tipe cara pembersihan (

cleaning)

  yang mungkin dapat

dilakukan seperti :

1.

Chemical / Physical Cleaning

Metode pembersihan dengan mensirkulasikan

agent 

  melalui peralatan,

 biasanya menggunakan HCl 5

 – 

 10%.

Kelebihan :

-

Tidak perlu membongkar alat, sehingga menghemat waktu dan pekerja.

-

Tidak ada kerusakan mekanik pada

tube

.

Kelemahan :

-

Hanya membersihan beberapa tipe deposit, dalam hal ini

coke

  sukar

dilakukan.

-

Tube

yang tersumbat penuh, disarankan untuk melakukan

  mechanical

cleaning

terlebih dahulu karena sirkulasi dari

  cleaning agent

tidak

mungkin dilakukan.

(31)

-

Deposit kemungkinan dapat terakumulasi di tempat dimana aliran relatif

lambat.

2.

 Mechanical Cleaning

Terdapat tiga tipe

mechanical cleaning 

 yang dapat dilakukan seperti :

-

 Driling

atau

 Turbining

Pembersihan ini dilakukan dengan mengedrill deposit yang menempel

 pada dinding

tube

. Pembersihan ini paling dianjurkan untuk

tube

  yang

tertutup total.

-

 Hydro jeting

Pembersihan ini dilakukan dengan cara menginjeksikan air ke dalam

tube

 pada tekanan tinggi, untuk jenis deposti yang lunak.

-

Sand Blasting

Pembersihan ini dilakukan dengan cara menyemprotkan campuran air

dengan pasir ke dalam

tube

 pada tekanan tinggi.

3.

Gabungan keduanya

Merupakan gabungan dari

chemical cleaning 

  diikuti dengan

mechanical 

cleaning 

. Pembersihan dengan cara ini pada kondisi tertentu dapat

meningkatkan efektivitas pembersihan

 fouling 

 pada

heat exchanger.

(32)

BAB III

METODOLOGI

3.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data sangat dibutuhkan untuk mengavaluasi

Stabilizer

 Bottom Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit 20). Data yang dipakai yaitu kerja

heat exchanger

 pada tanggal 10

Januari 2017 sampai tanggal 11 Januari 2017 Adapun metode pengumpulan data

disini terbagi menjadi dua, yaitu metode pengumpulan data primer dan

 pengumpulan data sekunder.

3.1.1

Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data primer disini yaitu mengambil data

Stabilizer Bottom

 Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit

20) desain. Fungsinya yaitu untuk bahan acuan dalam mengevaluasi

Stabilizer

 Bottom Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit 20), apakah

heat exchanger

yang sedang dipakai masih dalam

keadaan bagus atau sudah perlu dilakukan cleaning. Data desain

Stabilizer

 Bottom Heat Exchanger

(20-E-103) pada unit

Condensation Catalytic Unit /

(33)
(34)

3.1.2 Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder yaitu data yang diperlukan sebagai bahan

 perhitungan pada analisa evaluasi

Stabilizer Bottom Heat Exchanger

(20-E-103)

 pada unit

Condensation Catalytic Unit /

CCU (Unit 20) desain. Data diperoleh

dari data lapangan dan data literatur. Data studi lapangan diperoleh dengan cara

melihat kondisi operasi dan aliran proses aktual

Stabilizer Bottom Heat

 Exchanger

(20-E-103) pada unit desain. dari tanggal 10 Januari 2017 sampai

dengan 11 Januari 2017, yaitu berupa data-data temperatur

in

dan

out 

, serta

data-data laju alir masing-masing fluida yang mengalir, baik di

 shell

maupun di

tube.

Pada studi Literatur, data-data yang diperoleh adalah langkah-langkah

 perhitungan

heat exchanger

dan grafik serta tabel yang digunakan. Literatur yang

digunakan adalah Kern, D.Q., 1974 “

 Process Heat Transfer 

”.

Data sekunder yang didapat adalah sebgai berikut :

Tabel 2 Data Sekunder 10 Januari 2017 sampai dengan 11 Januari 2017

Tanggal

Tube

20FU029 20TI047 20TI074

Flow Tin Tout

10 Januari 2017 6,70984 176,8285 68,51292 11 Januari 2017 6,57909 173,6912 71,13396

Tanggal

Shell

20Fu029 20FU033 Ton/hr 20TI003 20TI073 Total flow Tin Tout 10 Januari 2017 6,70984 13,68962 20,39946 57,66491 64,35327 11 Januari 2017 6,57909 14,01631 20,5954 61,70449 67,21642

(35)

3.2

Pengolahan Data

Dari data primer maupun sekunder dilakukan pengolahan data melalui

 perhitungan dengan cara Kern, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menghitung Neraca Panas

Untuk perhitungan kerja alat penukar panas, persamaan yang digunakan

yaitu :

Q= m.c.∆T / Q=m.λ 

Keterangan :

Q

= jumlah panas yang diinginkan, btu/hr

m

= Laju alir massa, lb/hr

c

= spesific heat, btu/lb.

F

T

= Perbedaan temperatur yang masuk dan keluar, .

F

λ

=

enthalpy

2. Menghitung

Log Mean Temperature Difference (LMTD)

Adalah beda suhu rata-rata di sepanjang

 Heat Exchanger 

 yang dinyatakan

dalam beda suhu rata-rata logaritmik. Nilai tergantung dari konfigurasi

aliran fluida di dalam HE

 Mean Temperature Difference

(ΔT)

m

 pada beberapa literatur (misalnya

Kern, 1950) sering disebut de

ngan (ΔT)

LMTD  (LMTD:

 Log Mean

Temperature Difference

). Untuk HE multi-pass, terdapat faktor koreksi

FT.

 Nilai FT dapat dibaca pada Fig. 18 Kern, dengan menghitung R dan S.

 = ℎ  ℎ 

lnℎ 

ℎ 

(36)

3. Menghitung Flow Area

Pada Tube

 = 

 × ′

Keterangan :

 = Flow area tube,

 

2

= Jumlah tube

= Flow area per tube,

 

2

 N = Jumlah pass

4. Menghitung Mass Velocity

Pada Tube

= 

Keterangan :

= Mass velocity tube, lb/hr.

 

2

Wt = Flow rate fluida di tube, lb/hr

= Flow area tube,

 

2

5. Menghitung Bilangan Reynold (Re)

Pada Tube



 =  ×

Keterangan :



= Reynold number di tube

D/ ID

= Diameter ekivalen di tube, ft ( Table 10

(37)

6. Faktor Perpindahan Panas, jH

 Nilai jH dapat diperoleh dari fig.28, kern untuk shell dan fig. 24, Kern

untuk tube. Namun apabila nilai Reynold number over range, nilai jh

dapat dihitung menggunakan persamaan :

Pada Tube

  = 0,36(

 × 

 )

,55

(

 × 

 )

,5

atau

Membaca pada fig.28, Kern

7. Menghitung Koefisien Panas h

Pada Shell

ℎ = 

 ×  ×(

 × 

 )

1 ⁄

× ∅

atau

memakai asumsi dan melakukan pembacaan pada fig.15.11, Kern

Dimana :

ℎ

 = Coeffision transfer di-shell, btu/hr.

 

2

.℉

k = Konduktivitas pada temperature kalorik, btu/hr.

 

2

.℉

c = Specific heat pada temperature kalorik, btu/lb.

 

2

.℉

= Viskositas pada temperature kalorik,

= Viscosity ratio

D = Diameter ekivalen tube

Jh = Faktor perpindahan panas

Pada Tube

(38)

ℎ

∅

= ℎ∅

 × 



Keterangan :

hi = Koefisien transfer di-tube, btu/hr.

 

2

.℉

8. Menghitung Overall Koefisient

Merupakan keofisien perpindahan panas gabungan dari keseluruhan

 proses transfer pada yang terjadi dalam HE. Nilai koefisien transfer panas

keseluruhan (U) secara umum tergantung pada mekanisme perpindahan

 panas yang terjadi dalam HE (seperti: konduksi, konveksi, radiasi, dan

lain-lain), sifat-sifat fluida, dan jenis HE.

Untuk estimasi awal pada saat peranangan/desain, kisaran nilai U dapat

dibaca pada literatur (Table 8. Kern). Pada saat desain dilakukan, U akan

terkoreksi dari perhitungan.

Koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) yang diperlukan untuk

memenuhi kondisi operasi dalam HE dapat ditentukan dari Persamaan

Umum

 pada Nomor 1, jika A, Q dan ΔT diketahui. Jika A tidak diketahui,

maka U tidak dapat dihitung sehingga harus dihitung terpisah berdasarkan

koefisien perpindahan panas konveksi dari pipa dalam (h

io

) dan koefisien

 perpindahan.

 = ℎ

ℎ  ℎ

 × ℎ

Keterangan :

Uc

= Clean overall Koefisient, btu/hr.

 

2

.℉

ℎ

= koefisien transfer di shell, btu/hr.

 

2

.℉

(39)

9. Menghitung

Design Overall K oefisient 

 (Ud)

 Design

Overall

Koefisient

merupakan

koefisien

perpindahan

 panasmenyeluruh setelah terjadi pengotoran pada

 Heat Exchanger,

misalnya pembentukan kerak atau deposit

.

 Terbentuknya kerak ini dapat

menambah resistansi atau hambatan perpindahan panas sehingga dapat

menurunkan performa dari HE dan perpindahan panasmenjadi tidak

maksimal. Untuk mengatasinya perlu dipertimbangkan adanya

 fouling

 factor

(Rd). Besarnya Ud lebih kecil dari Uc.

 = 

  × ∆

Keterangan :

Ud = Overall Heat Transfer Koefisient, btu/hr.

 

2

.℉

A = Total

 surface

10.

F ouling F actor 

, Rd

 Fouling Factor

dapat menjadi dasar pertimbangan apakah suatu hasil

rancangan HE dapat diterima atau tidak. Rancangan HE dapat diterima

 jika Rd terhitung lebih besar dari Rd yang diperlukan (

required Rd 

).

Dengan kisaran nilai Rd tergantung dari jenis fluida dan prosesnya (Table

12, Kern).

 =   

 × 

Keterangan :

Uc

= Clean overall Koefisient, btu/hr.

 

2

.℉

(40)

BAB IV

PEMBAHASAN

RCC

complex

merupakan

Secondary Recovery

yang terdiri dari beberapa

unit operasi di kilang RU- VI balongan yang berfungsi untuk mengolah residu

minyak (

Crude Oil

) menjadi produk-produk minyak bumi yang bernilai tinggi

seperti: LPG,

Gasoline, Light Cycle Oil, Decant Oil, Propylene, dan Polygasoline

dengan beberapa unit proses dalam RCC

complex

yaitu unit

 Residual Catalytic

Cracker Unit

dan juga Light End Unit

yang didalamnya terdapat proses

Catalytic

Condensation Unit

( CCU ).

Unit

Catalytic Condensation Unit

CCU / (Unit 20) itu sendiri berfungsi

untuk mengolah campuran butane/butilene dari

 Propylene Recovery Unit 

(unit 19 ) dengan bantuan larutan fosfat dengan kapasitas 13.000 BPSD menjadi

 produk gasoline dengan berat molekul tinggi yang disebut polygasoline dan

 butana. Produk

 Polygasoline  ini dibentuk dari campuran senyawa-senyawa C4

tak jenuh dan butan dari RCC Complex.

 Heat Exchanger

merupakan suatu alat yang menghasilkan perpindahan

 panas dari suatu fluida, baik yang digunakan dalam proses pemanasan maupun

 proses pendinginan. Kondisi operasi yang tepat dapat menghasilkan produk yang

sesuai dengan apa yang diinginkan pada suatu proses. Kondisi operasi yang

diperhatikan antaralain

temperatur 

e dan tekanan proses. Arah perpindahan panas

nya dari medium dengan temperatur yang lebih tinggi menuju ke medium

dengan temperatur yang lebih rendah.

 Feed Bottom Exchanger 

  (20-E-103) merupakan alat yang terdapat dalam

unit

Catalytic Condensation Unit / 

CCU (Unit 20) yang digunakan untuk

(41)

dipompa oleh Flash Rectifier Bottom Pumpn (20-P-106) ke

 Feed Bottom

 Exchanger 

 (20-E-103) dan dipanaskan sampai suhu reaksi.

Ketika fluida mengalir di sepanjang

 Heat Exchanger 

 sebagian pengotor

dan fluida lainnya akan menempel pada dinding-dinding

 shell 

  dan

tube

  yang

dalam jangka waktu yang cukup lama akan membentuk kerak yang menyebabkan

terhambatnya laju perpindahan panas dan penyumbatan pada aliran fluida di

dalam

heat exchanger 

. Transfer panas yang terhambat akan membuat proses

 perpindahan panas terhalang dan membuat suhu yang diinginkan tidak sesuai.

Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja

heat exchanger 

.

Adapun parameter evaluasi dilaksanakan berdasarkan hasil perhitungan nilai

duty

(Q) dan

 fouling factor 

  (Rd)

 Feed Bottom Exchanger 

  (20-E-103) pada unit

Catalitic Condensation Unit 

pada periode 10 Januari 2017 sampai dengan 11

Januari 2017.

4.1 Evaluasi nilai Q Desain dan Q Aktual

 Nilai Q merupakan total panas yang ditransfer dari fluida yang panas ke

fluida yang dingin ataupun sebaliknya. Berdasarkan dari hasil perhitungan data

desain dan data aktual Q pada

 Feed Bottom Exchanger 

  (20-E-103) pada unit

Catalitic Condensation Unit 

pada periode 10 Januari 2017 sampai dengan 11

Januari 2017 dapat dilihat perbandingan antara kedua data pada tabel berikut ini :

Tanggal

Nilai Q Design ( Btu/hr)

Nilai Q Aktual ( Btu/hr)

Shell

Tube

Shell

Tube

10 Januari 2017

748628,1741 1066433,535 422318,4973 1730458,425

11 Januari 2017

748628,1741 1066433,535 360388,6140 1552983,84

(42)

Pada tabel diatas dapat dilihat tabel perbandingan antara nilai Q desain

dan Q aktual pada

Combined heat exchanger

20-E-103 pada tanggal 10 Januari

2017 sampai dengan 10 Januari 2017, Q aktual shell lebih rendah apabila

dibandingkan dengan nilai Q desain. Perbedaan antara nilai Q aktual dengan nilai

Q desain ini disebabkan karena memang ada perbedaan jumlah feed yang masuk,

 jumlah feed aktual yang masuk jauh lebih kecil dibanding feed desain.

Sedangkan jika dibandingkan antara Q shell dan Q tube pada aktual

maupun desain ada perbedaan antara nilai panas yang masuk dan nilai panas

yang keluar, hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, diantaranya yaitu faktor

 pengotor, kebocoran pada alat, umur alat.

4.2 Evaluasi Nilai Rd Desain dan Rd Aktual

 Nilai

 fouling factor

(Rd) merupakan nilai yang digunakan untuk

menunjukkan besar kecilnya faktor pengotor yang terdapat dalam

heat

exchanger 

. Parameter Rd ini digunakan untuk mengetahui perlu tidaknya

heat

exchanger

tersebut dibersihkan. Apabila Rd aktual > Rd desain maka

heat

exchanger

 perlu dibersihkan. Berdasarkan dari hasil perhitungan data desain dan

data aktual Rd (

 fouling factor 

) pada

 Feed Bottom Exchanger

20-E-103 pada 10

Januari 2017 sampai dengan 11 Januari 2017 dapat dilihat perbandingan antara

kedua data pada grafik berikut ini :

(43)

Gambar 13 Grafik Perbandingan Nilai Rd Desain dan Rd Aktual

Pada grafik di atas dapat dilihat perbandingan antara nilai Rd desain dan

Rd aktual pada

 Feed Bottom Exchanger

20-E-103 pada tanggal 10 Januari 2017

sampai dengan 11 Januari 2017 semua nilai Rd aktual berada di atas Rd Desain,

 berarti

heat exchanger

ini mempunyai faktor pengotor yang lebih tinggi dari

desainnya. Hasil ini menunjukan bahwa deposit kontaminan pada

 Feed Bottom

 Exchanger

20-E-103 sudah banyak sehingga Heat Exchanger tersebut sudah

harus dilakukan

cleaning 

.

1; 0,0008 1; 0,0077 2; 0,0092 0,0000 0,0010 0,0020 0,0030 0,0040 0,0050 0,0060 0,0070 0,0080 0,0090 0,0100 0 0 , 5 1 1 , 5 2 2 , 5

GRAFIK RD

design aktual

(44)

4.3 Evaluasi Nilai Efisiensi Aktual dan Desain

Gambar 14 Grafik Perbandingan Flowrate dan Efisiensi

Laju alir semakin cepat membuat perpindahan panas semakin efisien,

dimana suhu semakin stabil tanpa ada kenaikan suhu maupun penurunan suhu

yang signifikan. Didalam shell terdapat

baffle

  yang memiliki fungsi untuk

meningatkan waktu tinggal fluida dingin sehingga transfer panas dapat

 berlangsung secara efisien. Laju aliran yang besar menghasilkan nilai efisiensi

yang besar pula hal ini dikarenakan alat ini bekerja secara

counter-current

menghasilkan efisiensi waktu tinggal dengan mass flow besar semakin lama

sehingga menyebabkan efisiensi yang besar. Hal lain yaitu karena tidak ada

 perubahan fase pada saat kondensasi dalam proses perpindahan panas, dimana

fase dari

hot fluid 

  masih berupa liquid (kern, 1972). Hal lain dapat dikatahui

20,0000 25,0000 30,0000 35,0000 40,0000 45,0000 50,0000 55,0000 60,0000 65,0000 70,0000 75,0000 0 20000 40000 60000 80000 100000         E         f         i      s         i      e       n       s         i Flowrate

Flowrate vs Efisiensi

design aktual

(45)

dingin lebih besar dari fluida panas dan juga delta T fluida dingin lebih besar dari

fluida panas.

Efisiensi

heat exchanger 

 ditentukan dari perbandingan energi panas pada

cold fluid 

  terhadap energi panas pada

hot fluid 

. Efisiensi desain yaitu bernilai

70,1992 % dan efisiensi aktual memiliki nilai yang lebih kecil dari efisiensi

desain, itu berarti panas yang terbuang pada

 Heat exchanger pada kenyataannya

lebih besar dari pada yang diinginkan.

4.4 Evaluasi Nilai Efisiensi Aktual dan Desain Terhadap Nilai Rd

Gambar 15 Grafik Perbandingan Rd dan Efisiensi

Faktor Dirty merupakan besarnya nilai pengotor yang ada pada Heat

Exchanger tersebut. Nilai Rd tergantung pada nilai Koefisien Transfer Panas

kotor ( UD ) dan Nilai Koefisien Transfer Panas Clean ( UC ) . Nilai Ud sangat

 berpengaruh pada pada besarnya flowrate masuk serta nilai perubahan suhu

(LMTD). Nilai Q berbanding terbalik dengan nilai LMTD sehingga semakin

0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 0,002 0,004 0,006 0,008 0,01       e         f         i      s         i      e       n       s         i Rd

Efisiensi Vs Rd

(46)

 besar LMTD maka nilai Rd yang dihasilkan semakin kecil. Dimana nilai Rd ini

akan berpengaruh dengan efisiensi alat yang dihasilkan. Dari tabel diatas terlihat

 bahwa fluida dengan faktor pengotor kecil transfer panas yang terjadi sangat

efektif sedangkan faktor pengotor yang besar menyebabkan transfer panas yang

terjadi sangat rendah sehingga nilai efisiensi rendah ( Kern, 1972 ).

(47)

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan data desain dan data

aktual dari tanggal 10 Januari 2017 sampai dengan 11 Januari 2017 dapat

disimpulkan bahwa :

1. Laju alir massa umpan berupa feed Bottom yaitu berasal dari unit 19,

sehingga laju alir massa aktual memiliki jumlah yang lebih kecil, oleh

karena itu Q aktual jauh lebih kecil dari desain.

2.

Kinerja pada

 Feed Bottom Exchanger

 jika ditinjau dari nilai rata-rata Rd

aktual yang rata-rata lebih besar dari Rd desain, dapat disimpulkan bahwa

 performance Feed Bottom Exchanger 

  20-E-103 sudah tidak bekerja

secara optimum.

3. Efisiensi desain Feed Bottom Exchanger 

 20-E-103 yaitu sebesar 70,1992

%, dan efisiensi aktual berada sedikit dibawah efisiensi desain. Ini

menunjukkan jika kondisi

 Feed Bottom Exchanger 

  20-E-103 harus

ditingkatkan, dengan cara diberi Plug pada tube yang mengandung

 pengotor lebih banyak sehingga panas yang akan ditransfer tidak hilang

 padasystem.

(48)

5.2 Saran

Dari hasil evaluasi Feed Bottom Exchanger 

 20-E-103 pada unit

Catalytic Condensation

Unit

( CCU ) pada periode 10 Januari 2017 sampai dengan 11 Januari 2017 maka menurut

kami perlu dilakukan beberapa hal, antara lain :

1. Perlu dilakukan monitoring kinerja dari Feed Bottom Exchanger 

 20-E-103 secara

 berkala untuk menjaga kondisi alat tetap optimal, sehingga dapat diketahui kapan

 perlu dilakukan proses

cleaning 

  tanpa menunggu performa alat turun secara

signifikan.

2. Semakin banyak panas yang terbuang maka efisiensi dari alat akan semakin

sedikit, kinerja dari

 Feed Bottom Exchanger 

  20-E-103 pada kenyataanya

memiliki efisiensi yang cukup kecil, perlu dilakukan kajian ulang agar

efisiensinya mendekati angka yang diinginkan dengan cara memperbaiki alat

tersebut.

Gambar

Gambar 15 Grafik Perbandingan Rd dan Efisiensi  ........................................................
Gambar 2 Arah Aliran Counter Current Flow 3. Aliran Silang (cross flow)
Gambar 3 Arah Aliran Cross Flow
Gambar 5 Double-Pipe Heat Exchanger 2.5.2  Shell and Tube H eat E xchanger 
+7

Referensi

Dokumen terkait

Peristiwa penyerangan jamaah Ahmadiyah di Cikuesik telah menyebabkan tiga orang tewas yang melibatkan banyak orang. Nyawa satu orang saja tidak ternilai harganya, apalagi

Untuk menguji pengaruh variabel nisbah bagi hasil secara parsial terhadap minat nasabah menabungdi Bank BNI Syariah Kantor Cabang Purwokerto. Hipotesis dirumuskan sebagai berikut

“Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran mata pelajaran Al- Qur’an Hadits, guru di MI NU Banat Kudus melakukan perencanaan pembelajaran yaitu dengan menyusun RPP

Untuk menentukan tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan di DAS lepan, metode yang dilakukan adalah dengan analisis vegetasi dan kesesuaian lahan beberapa jenis tanaman

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang pelaksanaan kegiatan dakwah Majelis Dzikir Al-Mustajab terhadap jamaahnya, diantaranya untuk mengetahui

Penentuan datum dengan cara modern berdasarkan pada titik titik yang sudah terdefinisi biasanya menggunakan beberapa titik yang kemudian digunakan untuk

Aktrinindo merupakan perusahaan konsultan yang diberikan kepercayaan oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan untuk melakukan kegiatan pengawasan

Kacang Panjang di Kecamatan Proppo, Tlanakan, Larangan, Pegantenan, Pakong, Palengaan,9. Waru,