LAPORAN TEKNIS RISET
TAHUN ANGGARAN 2009
KAJIAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN DIPERAIRAN ESTUARI SUNGAI SIAK DAN SELAT PANJANG RIAU
Tim Riset :
Koordinator : Dr.Ali Suman
P.jawab
: Rupawan,SE
Anggota
: Eko Priyanto. S.Pi, M.Si
M .Fauzi, ST
Herlan,SP Suhardi Suryaningrat,SE Herman Muhtarul Abidin Sidarta Gautama Krisna Kumari.ST HaidirBALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM
PUSAT RISET PERIKANAN TANGKAP BADAN RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN
TAHUN 2009
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Penelitian : Kajian Pemnafaatan Sumberdaya ikan di perairan umum estuari sungai Siak dan rawa pasang-surut selat Panjang
Provinsi Riau. 2. Tim Riset : Dr. Ali Suman
Rupawan,SE
Eko Priyanto. S.Pi, M.Si M .Fauzi, ST Herlan,SP Suhardi Suryaningrat Herman Muhtarul Abidin Sidarta Gautama Krisna Haidir 3. Jangka waktu : 3 (tiga) tahun
Tahun ke 2. 4. Total Anggaran : Rp
254.765.000,-Palembang , Desember 2009 Kepala
Seksi Program dan Kerjasama Penanggungjawab Kegiatan
Eko Priyanto, S.Si.M.Si Rupawan,SE
NIP. NIP.19551102 198103 1 002
Kepala
Balai Riset Perikanan Perairan Umum
Dr.Ali Suman NIP.
KATA PENGANTAR
Kegiatan kajian pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan estuari sungai Siak dan rawa pasang surut Selat Panjang propinsi Riau bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi pemanfaatan sumberdaya perikanan melalui data dan informasi; nelayan, alat tangkap dan hasil tangkapan serta beberapa parameter fisika–kimia perairan.
Keluaran dari kegiatan ini berupa data dan informasi aktivitas penangkapan dan estimasi jumlah sumberdaya ikan yang berhasil ditangkap atau dimanfaatkan serta gambaran umum peran perairan estuaria sungai Siak dan rawa pasang surut selat Panjang.
Alat tangkap merupakan instrumen utama dalam aktivitas pemanfaatan sumberdaya, jenis alat, metoda penangkapan dan kelimpahan stok ikan menggambarkan kualitas dan jumlah hasil tangkapannya. Data dan informasi ini bermanfaat sebagai dasar dalam menentukan jenis alat tangkap apa yang layak dipertahankan atau sebaliknya dibatasi karena tidak mendukung konsep pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan yang berkelanjutan.
Penelitian dilakukan di perairan estuaria sungai Siak dan rawa pasang surut selat Panjang Riau Kabupaten Palalawan, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak Propinsi Riau. Kajian ini dilaksanakan dengan Anggaran APBN DIPA BRPPU Tahun 2009 sebesar Rp.254.765.000, yang terdiri dari Gajih upah, Bahan, Perjalanan Dinas dan sewa perahu. Laporan Teknis Riset ini memuat data dan informasi pemanfaatan sumberdaya ikan sebagai laporan pertanggungjawaban hasil pelaksanaan kegiatan.
Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu baik dalam pelaksanaan kegiatan dan penulisan laporan ini. Ucapan terima kasih kepada Kantor Cabang Dinas Perikanan dan Kelautan Kecamatan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan, Kecamatan Selat Panjang Kabupaten Bengkalis dan Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak Propinsi Riau.
Kami menyadari bahwa Laporan Teknis Riset ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, kritik dan saran untuk penyempurnaan laporan ini sangat kami harapkan. Terima kasih semoga Laporan Teknis Riset ini dapat bermanfaat.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv ABSTRAK ... iv BAB. 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tinjauan Pustaka ... 4 1.3. Permasalahan ... 5
1.4. Tujuan, Sasaran dan Manfaat Riset ... 6
BAB. II. MATERI DAN METODA PENELITIAN 2.1 . Waktu dan Tempat ...6
2.2 . Pengumpulan data dan Informasi...7
2.3 Bahan dan Alat... ... 8
2.4. Analisa Data ...9
BAB.III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Daerah penangkapan ... 10
3.2. Nelayan ... ...10
3.3. Aktifitas penangkapan ... .. 11
3.4. Alat Tangkap ... ... 11
3.5. Upaya penangkapan dan hasil tangkapan per upaya penangkapan.. . 16
3.6.Komposisi jenis, jumlah ekor dan berat hasil tangkapan... 21
3.7. Jumlah alat tgangkap ... 21
3.8. Laju tangkap atau jumlah total hasil tangkapan... ... 29
3.9. Estimasi hasil tangkapan yang dimanfaatkan/tdk dimanfaatkan... 31
3.10. Data dukung ...33 -Kebiasaan makan beberapa jenis ikan ekonomis penting
- Tingkat Kematangan gonad beberapa jenis ikan - Parameter Fisika-kimia air dan plankton
BAB.IV. KESIMPULAN... 37
BAB. V. DAFTAR PUSTAKA ... 39
BAB. VI. LAMPIRAN 1. Tabel Frequensi kumulatif (%) jumlah berat dan ekor Gumbang ... 40
2. Tabel frequensi kumulatif (%) jumlah berat dan ekor Blad ... 46
3. Tabel frequensi kumulatif (%) jumlah berat dan ekor jaring ingsang... 50
4. Tabel frequensi kumulatif (%) jumlah berat dan ekor Rawai... 54
ABSTRAK
Karateristik habitat dan biota perairan estuari khas dan dinamis karena dipengaruhi pasang-surut air laut, aktivitas perikanan tangkap sangat berkembang, menggunakan berbagai jenis alat tangkap mulai yang dapat menangkap sedikit dan selektif sampai pada jenis alat tangkap yang dapat menangkap banyak serta cenderung tidak selektif dan tidak ramah lingkungan. Dalam aktivitas penangkapan baik metoda penangkapan dan hasil tangkapan sangat bervariasi dan lebih mengutamakan untuk mendapatkan jumlah dan nilai hasil tangkapan yang sebesar-besarnya, keadaan ini akan mengarah pada penangkapan yang berlebih dan tidak ramah lingkungan. Hal ini ditunjukan dengan semakin banyak digunakan jenis alat tangkap yang tidak selektif dan tidak ramah lingkungan dan masih ditemukan penggunaan bahan dan alat tangkap yang dilarang (illegal fishing) seperti penggunaan potasium dan strom.
Tujuan utama pengelolaan sumberdaya ikan adalah menentukan tingkat hasil tangkapan lestari (MSY) agar pemanfaatan sumberdaya ikan dapat berlanjut dalam jangka panjang (long term sustainability). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan data dan informasi estimasi jumlah potensi sumberdaya dan estimasi besaran sumberdaya yang dimanfaatkan atau ditangkap.
Kajian pemanfaatan sumberdaya ikan dilakukan dengan metoda survei, pengamatan lapangan yaitu mengikuti kegiatan penangkapan nelayan, wawancara dan nelayan enumerator.
Hasil penelitian menunjukan bahwa daerah penangkapan Perairan estuari selat Panjang sampai estuari sungai Siak masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak.
Aktivitas penangkapan terkonsentrasi pada sungai utama, aktivitas penangkapan di rawa pasang surut sekitar sungai utama sangat rendah dan lebih berperan sebagai daerah penghasil kayu bakau untuk industri kayu dan tumbuhan nipah sebagai bahan baku industri penghasil tepung sagu.
Penduduk yang berdomisili sekitar lokasi pengamatan selain berpropesi sebagai nelayan sebagian besar berpropesi sebagai buruh kayu olahan, buruh kebun sawit dan buruh pengolah tepung sagu. Aktivitas penangkapan tergolong skala kecil dilakukan tidak jauh dari lokasi pemukinan, dilakukan oleh nelayan perorangan atau bersama
anggota keluarga menggunakan perahu bermotor ukuran 4 - 6 GT dengan mesin penggerak 8–12 PK atau tanpa motor.
Aktivitas penangkapan dilakukan dengan menggunakan 5 jenis alat tangkap utama yang didominasi alat tangkap pasif yaitu alat (pasang dan tunggu) yaitu Gumbang (filtering divice); Blad (beach barrier traps), Jaring ingsang (gillnet), Rawai (bottom longline) dan Jala (castnet).
Alat tangkap Gumbang menangkap 35 jenis didominasi udang Duri (Aphases.sp) dan ikan Teri, jumlah upaya penangkapan 26 hari/bulan dengan hasil tangkapan 10,26±kg/upaya (hari).
Alat tangkap Blad menangkap 15 jenis, didominasi ikan Belukang (Arius sagor), jumlah upaya penangkapan 12,7±2,26 hari/bulan dengan hasil tangkapan 22,86±3,26 kg/hari.
Alat tangkap Jaring ingsang menangkap 13 jenis, didominasi ikan Biang (Ilisha elongata), upaya penangkapan 14,3±2,94 hari/bulan dengan jumlah hasil tangkapan 16,34±8,15kg/upaya.
Alat tangkap Rawai menangkap 14 jenis, didominasi ikan Pari (Amphotistius imbricatus),upaya penangkapan 15±2,43 hari per bulan dengan jumlah hasil tangkapan 3,43±0,54kg/hari (upaya).
Alat tangkap Jala menangkap 7 jenis, didominasi Udang galah (Macrobrachium, sp), upaya penangkapan 9,0±2,0 hari per bulan dengan jumlah hasil tangkapan 2,38±0,13kg/upaya (hari).
Jumlah sumberdaya ikan yang berhasil ditangkap oleh 5 jenis alat tangkap utama (dimanfaatkan) pada tahun 2009 mencapai 9.244 ton. Hasil tangkapan tertinggi didapat pada bulan Okktober bertepatan musim kemarau dan hasil tangkapan terendah pada bulan Pebruari bertepagtan musim hujan). Hasil tangkapan alat tangkap Blad, Rawai dan Jala semua jenis dan jumlah hasil tangkapannya dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomi karena memenuhi sarat ukuran permintaan pasar dan tidak beracun.
Hasil tangkapan jaring dapat dimanfaatkan kecuali hasil tangkapan Buntal (±7%) tidak dimanfaatkan kareana tidak bisa dikonsumsi (beracun).
Jumlah dan jenis hasil tangkapan Gumbang ±2.745 ton (41,2%) yang dimanfaatkan dan diolah menjadi udang kering (ebi udang) dan ikan teri tawar. Sisanya
sebanyak 3.918,5 ton (58,8%) belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk bahan pembuatan terasi karena harga jual terasi yang tidak sebanding dengan biaya pengolahannya.
Hasil tangkapan sampingan Gumbang yang tidak atau belum dimanfaatkan ini didominasi larva dan yuvenil ikan ekonomis penting antara lain: ikan Bawal, Sembilang, Kurau, Tenggiri, Kakap, Dukang dan Layur dan bila jumlah ini dikonversi dengan berat rata-rata individunya (4,53 gr) didapat jumlah ±865 juta ekor yang ikut tertangkap tetapi tidak dimanfaatkan. Data ini menunjukkan bahwa perairan estuari sungai Siak dan selat panjang lebih berperan sebagai daerah asuhan dan diantara jenis alat tangkap yang beroperasi, alat tangkap Gumbang paling tidak seletif dan tidak ramah lingkungan. Saran kebijakan pembatasan jumlah alat tangkap Gumbang.
BAB. 1. PENDAHULUAN 1.1. Pengantar.
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbesar di dunia dengan 17.508 buah pulau, panjang garis pantainya mencapai 95.186 km, merupakan garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia. (Anonim, 2007). Wilayah pesisir merupakan wilayah yang sangat produktif bagi sektor perikanan berperan besar sebagai lahan usaha perikanan tangkap, sumber pendapatan nelayan dan sumber protein hewani.
Tingginya produktifitas perairan pesisir tersebut umumnya berasal paling tidak dari empat ekosistem yaitu; ekosistem estuaria (estuarine), rawa pasang surut dengan hutan bakaunya (mangrove), padang lamun (seagrasses beds) dan terumbu karang (coral reefs).
Perairan estuari dan rawa pasang surut adalah perairan yang berhubungan bebas dengan laut, air laut dengan salinitas tinggi bercampur dengan air tawar dari daratan atau sungai. Air sungai dari hulu banyak membawa sidemen yang kaya unsur hara dan terperangkap di perairan estuari (Nutrient trapped) sehingga daerah estuari dan rawa pasang-surut relatif lebih subur.
Namun dibalik kesuburan tersebut, sedimen yang terjebak juga membawa logam-logam berat yang juga ikut terjebak diperairan estuari sehingga tidak tertutup kemungkinan di daerah estuari dan rawa pasang-surut juga merupakan perangkap bahan tercemar (pollutant trapped).
Karakteristik perairan rawa erat hubungannya dengan faktor geografis dan kondisi hydrotopografi sehingga rawa dapat dibedakan; rawa pantai yang dipengaruhi pasang surut air laut dan rawa pedalaman yang dipengaruhi oleh adanya luapan air sungai pada bantarannya.
Wilayah pesisir diartikan sebagai daerah pertemuan laut dan darat. Kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh sifat sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan rembesan air asin.
Sedangkan kearah laut wilayah pesisir mancakup bagian laut yang masih dipengaruhi proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar maupun karena kegiatan manusia seperti pengundulan hutan dan pencemaran (Bengen. 2001)
Berdasarkan jangkauan luapan air pasang, rawa pasang surut dapat dibedakan; Luapan tipe A selalu terluapi pada saat pasang tertinggi, luapan tipe B tidak selalu terluapi pada saat pasang, tipe C dan D tidak pernah terluapi pada saat pasang tertinggi.
Meningkatnya aktivitas manusia disepanjang aliran sungai, pembukaan dan pemanfaatan lahan daratan rawa pasang surut pesisir sebagai lahan persawahan dan perkebunan pada akhir-akhir ini sangat berkembang .Tercatat sekitar 2 juta hektar lahan rawa pasang surut disepanjang pantai timur Sumatera ( Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung ) dan di bagian pesisir barat dan pesisir selatan Kalimantan telah direklamasi untuk berbagai kepentingan. (Tejoyuwono, 1994).
Meningkatnya aktivitas tersebut menyebabkan meningkatnya pengikisan tanah, sedimen yang terbawa ke muara sungai (estuari) berdampak terhadap proses pendangkalan. Disamping itu pendangkalan juga dapat terjadi akibat aktivitas gelumbang laut, pola arus air laut dan bahan tersuspensi dari laut ( Nybakken, 1992, Efriyeldi, 1999 ). Aktivitas tersebut dipastikan akan berdampak terhadap perubahan fungsi dan ekosistem perairan estuari dan dan rawa pasang surut serta ketersediaan sumberdaya ikan di wilayah tersebut.
Perairan estuari da rawa pasang surut didominasi oleh hutan mangrove atau hutan bakau, karena tahan terhadap kadar garam air laut. Produktivitas primer hutan mangrove dapat mencapai 5.000 g C/m²/th. Tingginya bahan organik diperairan hutan mangrove memungkinkan tumbuh suburnya hewan-hewan pemakannya dan selanjutnya sebagai makanan ikan.
Sehingga hutan mangrove di perairan estuari dan rawa pasang- surut berfungsi sebagai daerah untuk mencari makan, daerah asuhan dan pemijahan. (Bengen. 2002). Tiwow (2003) menyatakan bahwa kawasan pesisir termasuk estuari sangat berperan dalam penentu stok ikan dilaut.
Hasil tangkapan ikan dari perairan estuari dan rawa pasang-surut pada umumnya jenis ikan dan udang yang bernilai ekonomi tinggi seperti, kelompok udang air payau (udang penaid), udang air tawar dan beberapa jenis ikan antara lain: ikan kakap, ikan ekor kuning, belanak, sembilang, ikan kerapu dan kepiting bakau.
Di sepanjang pantai timur pulau Sumatera mulai dari Propinsi Lampung sampai Propinsi Aceh paling tidak ada 17 sungai besar yang bermuara dan membentuk wilayah perairan estuari dan rawa pasang surut pantai yang landai sehingga luasan wilayah pesisir dapat berada jauh dari garis pantai, didominasi tumbuhan hutan bakau dan nipah.
Pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan estuari dan rawa pasang surut melalui aktivitas penangkapan sangat berkembang, menggunakan berbagai jenis alat tangkap mulai yang dapat menangkap sedikit dan selektif sampai pada jenis alat tangkap yang dapat menangkap banyak serta cenderung tidak selektif dan tidak ramah lingkungan.
Dalam aktivitas penangkapan baik metoda penangkapan dan hasil tangkapan sangat bervariasi dan lebih mengutamakan untuk mendapatkan jumlah dan nilai hasil tangkapan yang sebesar-besarnya , keadaan ini akan mengarah pada penangkapan berlebih dan tidak ramah lingkungan.
Hal ini ditunjukan dengan semakin banyak digunakan jenis alat tangkap yang tidak selektif dan tidak ramah lingkungan dan masih ditemukan penggunaan bahan dan alat tangkap yang dilarang (illegal fishing) seperti penggunaan potasium dan strom.
Hasil penelitian kajian perikanan di perairan estuaria yang bermuara di selat Bangka Sumatera Selatan dan estuaria Sungai Kampar Riau ditemukan masing–masing 13 dan 7 jenis alat tangkap utama. Pada masing-masing perairan estuari tersebut, alat tangkap “Tuguk dan Gumbang” (filltering divice) terindikasi tidak selektif dan tidak ramah lingkungan. Kedua jenis alat tersebut banyak menangkap ikan dan udang yang berukuran yuvenil sebagai hasil tangkapan ikutan (bycath) dan tidak dimanfaatkan. (Rupawan et al. 2007 dan 2008).
Jenis alat tangkap tuguk (filtering divice) yang dioperasikan diperairan umum daratan juga dilaporkan sebagai jenis alat tangkap yang tidak selektif dan cara operasinya memotong badan sungai sehingga menghadang ruaya ikan. Sampai saat ini pengoperasian jenis alat tangkap yang dapat membahayakan kelestrarian sumberdaya ikan tersebut belum ada payung hukum untuk pengaturannya.( M.F. Rahardjo et al. 2006).
Walaupun sumberdaya ikan tergolong sumberdaya kelautan dan perikanan yang dapat diperbaharui (renewable resources), artinya jika sumberdaya ini dimanfaatkan sebagian, sisa ikan yang tertinggal mempunyai kemampuan untuk memperbaharui dirinya dengan berkembang biak dan tumbuh. Tinggi rendahnya kemampuan memperbaharui diri akan mempengaruhi ketersediaan atau stok ikan.
Hal ini memberikan pentunjuk bahwa stok ikan atau populasi sumberdaya ikan tidak boleh dimanfaatkan secara sembarangan tanpa memperhatikan potensi, struktur umur, ukuran dan rasio kelamin dari populasi ikan yang ada.
panjang (long term sustainability). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan data dan informasi besaran sumberdaya ikan yang dimanfaatkan dan estimasi jumlah potensi sumberdaya ikannya.
Alat tangkap merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya ikan, material dan rancang bangun, metoda penangkapan (bagaimana, dimana dan kapan) serta kelimpahan stok ikan akan menentukan jumlah dan keragaman jenis hasil tangkapanya (fishing succses).
Data dan informasi estimasi potensi dan estimasi jumlah yang telah dimanfaatan serta peran perairan estuari dan rawa pasang surut Sungai Siak dan selat Panjang belum banyak diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian.
Data dan informasi hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi besaran potensi sumberdaya ikan yang dimanfaatkan dihubungkan dengan jenis dan jumlah alat tangkap yang sesuai dengan konsep pengelolaan dan pemanfaatan yang bertanggung jawab (CCRF).
1.2 .Tinjauan Pustaka.
Muara sungai (Estuaria) adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Pickard, 1967).
Pengaruh percampuran kedua massa air tersebut menghasilkan suatu kondisi lingkungan dan komunitas biota yang khas dan dinamis. Tempat bertemunya arus sungai dengan arus pasang surut yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi dan ciri-ciri fisika-kimia airnya.
Karakteritik fisika-kimia air estuari dan rawa pasang-surut tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut. Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus–arus lain serta topografi daerah estuaria tersebut. Kondisi dan perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingya.
Berdasarkan karakteristik geomorfologinya (Bengen,2002) mengelompokan empat tipe perairan estuaria, estuaria Sungai siak dan Selat Panjang tergolong estuaria daratan pesisir yaitu estuari yang paling umum dijumpai, dimana pembentukannya terjadi akibat
Estuaria lainnya yaitu Laguna (gobah) atau teluk semi tertutup, terbentuk oleh adanya beting pasir yang terletak sejajar dengan garis pantai sehingga menghalangi interaksi langsung dan terbuka dengan perairan laut. Fjords merupakan estuaria yang dalam terbentuk oleh aktivitas glesier yang mengakibatkan tergenangnya lembah es oleh air laut. Estuaria tektonik terbentuk akibat aktivitas tektonik (gempa bumi atau letusan gunung berapi) yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah yang kemudian digenangi oleh air laut pada saat pasang.
Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan kehidupan organisme laut atau payau. Hewan-hewan yang hidup diperairan payau (salinitas 0,5–30 ie), hipersaline (40 – 80ie), atau air garam ( salinitas> 80 ie), biasanya mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar dibandingkan dengan organisme yang hidup di air laut atau air tawar (Supriharyono, 2000).
Hewan-hewan yang toleran pada kisaran salinitas yang luas disebut euryhalin, sedangkan yang toleran pada kisaran salinitas yang sempit disebut stenohaline (Kinne, 1964).Jumlah spesies organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut.
Sedikitnya jumlah spesies ini terutama disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, sehingga hanya spesies yang memiliki kekhususan fisiologis yang mampu bertahan hidup diperairan estuaria. Selain miskin dalam jumlah spesies fauna estuaria juga miskin akan flora. Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh mendominasi. Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikitnya herbivora dan terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus.
Detritus membentuk subtrat untuk pertumbuhan bakteri dan algae yang kemudian menjadi sumber makanan penting bagi organisme pemakan suspensi dan detritus. Suatu penumpukan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh organisme estuaria merupakan produksi bersih dari detritus ini. Fauna di estuaria, seperti ikan, kepiting, kerang,dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai makanan yang kompleks (Bengen, 2002).
1.3. Permasalahan.
jumlah dan jenis hasil tangkapan (fishing succses). Dalam operasionalnya baik jenis alat dan metoda penangkapan (bagaimana, dimana dan kapan) serta hasil tangkapannya masih berorientasi untuk mendapatkan jumlah dan nilai yang sebesar-besarnya. Tidak semua hasil tangkapan dapat dimanfaatkan terutama hasil tangkapan sampingan karena baik jenis dan ukuran yang tidak sesuai.
Keadaan ini akan mengarah pada pemanfaatan yang berlebih dan tidak ramah lingkungan, hal ini ditunjukan semakin maraknya penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai dengan ketentuan (illegal fshing) seperti penggunaan bahan beracun, bahan peledak dan listrik.
1.4 .Tujuan, Sasaran dan Manfaat Riset Tujuan
Penelitian bertujuan untuk mengetahui besaran jumlah sumberdaya ikan yang berhasil ditangkap atau dimanfaatkan serta peran perairan estuari Sungai siak dan rawa pasang surut selat Panjang.
Sasaran
Sasaran penelitian adalah diketahuinya jumlah sumberdaya ikan yang berhasil ditangkap (dimanfaatkan), dari jumlah dan komposisi jenis serta ukuran hasil tangkapan dapat disimpulkan peran perairan estuari sungai Siak dan selat Panjang apakah sebagai daerah penangkapan, asuhan dan pemijahan.
1.5. Manfaat Riset
Manfaat dan dampak dari hasil kegiatan penelitian ini adalah:
1. Sumber data dan informasi terkini pemanfaatan sumberdaya perikanan di perairan estuari sungai Siak dan rawa pasang-surut selat Panjang.
2. Sebagai bahan tulisan ilmiah pada berbagai publikasi ilmiah yang berdampak terhadap peningkatan jenjang fungsional SDM dan kinerja Balai.
3. Bahan evaluasi untuk kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di perairan estuari sungai Siak dan rawa pasang-surut selat Panjang
BAB. II. MATERI DAN METODA PENELITIAN 2.1. Waktu dan Tempat
untuk pengumpulan data primer dan data skunder, analisa data dan analisa di laboratorium, serta pelaporan. Kegiatan dilakukan di BRPPU, PRPT, BRKP dan di perairan estuari sungai Siak dan rawa pasang surut Selat Panjang Riau.
2.2 Pengumpulan data dan informasi : Data primer :
Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara survei, observasi lapangan, yaitu mengikuti kegiatan penangkapan nelayan, wawancara dan nelayan enumerator. Pengamatan dilakukan pada beberapa stasiun pengamatan yang ditentukan secara porpusive di perairan estuari sungai Siak dan rawa pasang-surut selat Panjang .
Observasi di lapangan dilakukan sebanyak 5 kali yaitu 2 kali mewakili musim hujan, 2 kali musim kemarau dan 1 kali musim peralihan.
Data dan informasi yang dikumpulkan dan metoda yang digunakan sebagai berikut.
Alat tangkap:
- Jumlah per jenis alat tangkap dilakukan dengan cara sensus pada desa nelayan lokasi pengamatan dan data monograf desa dan Kecamatan, Kabupaten sebagai data pembanding.
- Material dan rancang bangun serta metoda penangkapan yaitu bagaimana, dimana dan kapan) dilakukan dengan cara dengan cara wawancara dan pengamatan
langsung yaitu mengikuti aktivitas penangkapan nelayan, hasil dijelaskan dan digambarkan dalam sketsa dan photo.
Hasil tangkapan
- Jumlah upaya penangkapan dan jumlah hasil tangkapan per upaya penangkapan dilakukan dengan cara mencatat jumlah hasil tangkapan oleh nelayan enumerator
pada blanko isian yang telah disiapkan meliputi tanggal menangkap dan jumlah berat hasil tangkapan.
- Komposisi jumlah ekor dan jumlah berat masing-masing jenis hasil tangkapan per jenis alat tangkap dilakukan dengan cara pengamatan contoh hasil tangkapan yang diambil secara acak. Masing-masing contoh hasil tangkapan dimasukan dalam kantong plastik, diberi label dan diawet dalam larutan formalin dan disimpan dalam
Contoh hasil tangkapan dipisahkan berdasarkan kelompok jenis, masing-masing kelompok ditimbang dan dihitung jumlah ekor. Data ditabulasi dan digambarkan dalam grafik frequensi kumulatif (%) jumlah ekor dan jumlah berat masing-masing jenis hasil tangkapan per jenis alat tangkap.
Contoh hasil tangkapan diidentifikasi di laboratorium biologi Balai Riset Perikanan Perairan Umum berdasarkan buku Kottelat (1993). Weber, M and De Beufort 1916 (1-12 jilid), Peristiwady. (2006).
Jumlah sumberdaya ikan yang berhasil ditangkap (dimanfaatkan) berdasarkan penghitungan :
Rata-rata jumlah upaya penangkapan perjenis alat tangkap per bulan x 12 bulan x rata-rata jumlah hasil tangkapan per upaya dikali jumlah masing- masing alat tangkap.
2.3. Bahan dan alat.
Pengamatan beberapa parameter fisika-kimia air dan bilogi .
No Parameter Satuan Metode Alat dan Bahan
1 2 3 4 1 2 3 4 5 Kimia : pH Salinitas Oksigen terlarut Fisika : Kecerahan Kecepatan arus Temperatur air. Kedalaman air Phyto-zooplankton Unit o /oo mg /l cm m/det 0 C meter Jenis/ Kelimpahan Insitu, titrasi Insitu Insitu, titrasi Insitu Insitu Insiiti Insitu Insitu dan Lab.
Liquid pH universal Hand refractometer Bahan dan peralatan lab.
Piring Sechi disk Echosuounder Termometer Deepsounder
Plankton net, botol sample, larutan logol dan Mikroscop
Data sekunder:
1. Perikanan dalam angka Propinsi Riau.
2. Riau dalam angka dari Kantor Badan Statistik Propinsui Riau.
2.5 .Analisa Data
1.CPUE , dianalisa dengan mengunakan rumus SCHAEFER =
f Y
Dimana Y = hasil Tangkapan dan f = Upaya penangkapan (effort).
2. Upaya penangkapan = Unit upaya yang digunakan dalam penangkapan ( jumlah alat, hari operasi, jumlah tawur).
3. Laju tangkap atau jumlah hasil tangkapan = hasil tangkapan persatuan alat/ satuan waktu.
4. Komposisi hasil tangkapan ditabulasi dan digambarkan dalam grafik frequensi kumulatif (%) jumlah ekor dan jumlah berat masing-masing jenis hasil tangkapan. 5. Kebiasaan makan beberapa jenis ikan ekonomi penting
6. Biologi reproduksi beberapa jenis ikan ekonomi penting.
UNIT KERJA PELAKSANA :
Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Pusat Riset Perikanan Tangkap, Badan Riset Kelautan dan Perikanan
Desain riset
Riset dilaksanakan dengan metoda survei, untuk mendapatkan data dan informasi primer dilakukan pengamatan dan wawancara langsung di lapangan dan data hasil tangkapan harian serta sample hasil tangkapan oleh nelayan enumerator.
Data dan informasi primer didukung oleh data skunder berupa laporan tahunan dan statistik perikanan tingkat Kabupaten dan Propinsi serta monograf Kecamatan lokasi riset. Data dan informasi primer dan skunder dianalisa dan dipelajari untuk mendapatkan suatu kesimpulan dari hasil kegiatan riset.
Lokasi dan waktu riset Waktu dan Tempat
Kegiatan dilakukan mulai bulan Januari sampai dengan Desember 2009 dengan tahapan kegiatan; persiapan administrasi, bahan dan peralatan, pengumpulan
data skunder dan data primer, analisa data dan analisa laboratorium, serta pelaporan. Kegiatan dilakukan di BRPPU, PRPT, BRKP dan di perairan rawa pasang surut Selat Panjang.
BAB. III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1.Daerah penangkapan.
Perairan umum estuari selat Panjang sampai estuari sungai Siak berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan masuk dalam wilayah Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak.
Daerah penangkapan terkonsentrasi pada sungai utama sedangkan aktivitas penangkapan di rawa pasang surut sekitar sungai utama sangat rendah. Perairan rawa pasang surut sekitar sungai utama berpungsi sebagai penghasil kayu bakau untuk industri kayu dan tumbuhan nipah sebagai bahan industri penghasil tepung sagu.
3.2. Nelayan.
Penduduk angkatan kerjan yang berdomisili sekitar lokasi pengamatan yang berpropesi sebagai nelayan sebagai pekerja industri kayu olahan, pekerja industri pengolah tepung sagu dan buruh kebun kelapa sawit.
2 1 1 21 3 1 2 1 21 4 21 5 4 21 7 6 5 4 21 6 5 4 21 8 7 6 5 4
3.3. Aktivitas penangkapan dan alat tangkap.
Aktivitas penangkapan tergolong skala kecil dilakukan oleh nelayan perorangan atau bersama anggota keluarga (isteri dan anak) menggunakan perahu bermotor ukuran 6 - 8 GT dengan mesin penggerak 8 – 12 PK. Lokasi penangkapan tidak jauh dari lokasi pemukinan (Kampung, Desa. dan Dusun.
3.4. Alat tangkap.
Aktivitas penangkapan diperairan estuaria sungai Siak dan selat Panjang dilakukan dengan menggunakan 5 jenis alat tangkap utama yang didominasi alat tangkap pasif yaitu alat tangkap pasang dan tunggu. Alat tangkap pasang dan tunggu yang dipasang permanen yaitu :Gumbang (filtering divice); dipasang semi permanen yaitu blad (beach barrier traps), jaring ingsang (gillnet), pancing rawai (bottom longline); alat tangkap aktif yaiitu jala (castnet).
Material, rancang bangun dan metoda penangkapan masing-masing jeni alat tangkap
Gumbang (filtering divice).
Gumbang alat tangkap sejenis tuguk (filtering divice), terdiri dari komponen utama jaring kantong berbentuk kerucuk panjang 13–15 meter dengan ukuran mata jaring (meshsize) mulai dari depan (mulut jaring) yaitu 2,0; 1.5 dam 1,0 inch dan 0,5 inchi ( kantong hasil).
Jaring kantong dibuat dari bahan jaring pollyetheline (PE) dengan benang nomor 18 dan nomor 12. Ukuran bukaan mulut jaring 3 x 4 meter pada saat operasional bukaan mulut jaring dibentangkan oleh dua buah pelampung drum plastik dibagian atas dan pemberat (jangkar) bagian bawah.
Unit gumbang dihubungkan dengan tali dan patok kayu yang ditancapkan pada dasar perairan berpungsi agar unit gumbang tidak hanyut atau pada posisi yang tetap..
Menangkap dengan cara menghadang dan menyaring ikan dan udang yang berenang atau hanyut bersama arus air pasang atau surut. Jenis ikan dan udang yang masuk dalam mulut jaring terutama yang bergerak lambat karena berukuran kecil atau memang jenis yang tergolong berenang lambat (planktonis). Jenis ini mudah tertangkap Gumbang masuk dalam mulut jaring dan tidak mampu berenang melawan arus air dalam jaring yang semakin kecil dan akhirnya terdesak dan terkumpul pada kantong hasil.
Tergolong alat tangkap pasif yaitu alat tangkap pasang dan tunggu, dipasang permanen diperairan sungai utama estuari selat Panjang dan dapat dioperasikan sepanjang tahun .
Hasil tangkapan dipanen pada saat puncak air pasang menjelang surut atau puncak air surut menjelang pasang, karena pada saat itu kecepatan arus air rendah kantong hasil timbul kepermukaan air dan mudah diangkat.
Untuk operasional atau pemasangan pada arus air surut atau arus air pasang jaring kantong diatur sedemikian agar berbalik arah dan tidak tertumpuk atau terlipat.
Blad (Beach barrier trap).
Alat tangkap blad dibuat dari bahan jaring pollyetheline (PE) meshsize ¾ inchi, ukuran panjang 300-400 meter, tinggi 2,5- 3 meter. Pada bagian bawah dan atas jaring dilengkapi tali ris benang nylon pollyetheline diameter 5,0 mm. Agar jaring bisa terbentang vertikal saat operasional, setiap jarak 4 – 5 meter dipasang tiang kayu atau bambu diamater 3–5 cm.
Blad dioperasikan di perairan estuaria pasang-surut, dipasang di pantai sungai yang landai memanjang pada garis pantai permukaan air surut terendah. Hal ini bertujuan agar ikan yang terjebak dalam area blad mudah dipanen pada saat air surut terendah esok harinya.
Alat tangkap blad bersifat pasif (pasang dan tunggu), dioperasikan dengan memanfaatkan dinamika air pasang (pasang induk atau pasang purnama) dapat dioperasikan sepanjang tahun. Lokasi pemasangan blad setiap hari operasi berpindah atau bergeser ketempat lain sampai beberapa waktu kembali Sehubungan dengan itu nelayan alat tangkap blad harus punya pengetahuan yang baik tentang dinamika ketinggian air pasang dan surut air laut, karena sangat berkaitan dengan dimana posisi jaring blad dipasang dan pada saat kapan area blad ditutup atau jaring blad diangkat.
Air pasang mengenangi area pantai yang telah disiapkan jaring blad, pada saat air pasang ikan berimigrasi secara lateral kepinggir sungai untuk berlindung dan mencari makan. Saat pasang puncak (permukaan air pasang tertinggi), tali ris bagian atas jaring diangkat dan disangkutkan pada ujung tiang kayu yang telah disiapkan. Jaring blad terbentang, menghadang dan mengurung ikan untuk dipanen pada saat air surut .
Jaring hanyut (drief gillnet).
Alat tangkap jaring hanyut dibuat dari bahan nylon (senar) nomor 25 ukuran mata jaring (MS) 3,0 inchi, kedalamam 80 mata, pelampung bahan fiber dan pemberat timah 0,5 kg/ fis (90 meter).
Dipasang memotong badan sungai pada kedalaman tali ris atas 0,5–1,25 meter dari pemukaan air jaring bergerak mengikuti arus air pasang atau surut (hanyut). Satu unit perahu jaring hanyut mengoperasikan rata-rata 5 fis jaring (panjang 400-450 meter panjang.
Upaya penangkapan trip harian (1 x 24 jam), hasil tangkapan diperiksa setiap 3- 4 jam waktu rendam, dapat dioperasikan sepanjang tahun.
Jaring ingsang dasar (bottom gillnet).
Jaring ingsang dasar dengan nama lokal jaring batu atau jaring kurau karena hasil tangkapannya didominasi ikan Kurau (Polynemus indicus schaw).
Bahan jaring polyethelin, MS 6,0–10 inchi, satu unit mengoperasikan 4 -6 fis (400-600 meter), lebar jaring 5 - 7 m, pelampung bahan fiber dan pemberat batu cor sebanyak 20 kg/fis. Unit jaring berukuran besar dan berat sehingga dalam operasionalnya (pasang dan angkat) menggunakan alat bantu mesin penarik jaring
Dipasang memotong badan sungai di dasar perairan pada waktu arus air menjelang tenang sampai tenang yaitu menjelang pasang puncak sampai menjelang surut atau sebaliknya menjelang surut terendah sampai menjelang pasang (4- 6 jam) per waktu rendam .
Rawai (bottom longline)
Deskripsi umum pancing rawai dasar adalah sebagai berikut : tali utama (main line) dari bahan pollyetheline diameter 2,0 -3,0 mm, tali cabang (branch line) dari bahan nylon monofilamen diameter 1,0 mm. Panjang tali cabang 40 dengan jarak pemasangan (interval) antar tali cabang pada tali utama 4,0 meter. Menggunakan pancing ukuran nomor 7 atau nomor 8. Satu unit perahu pancing rawai mengoperasikan 150- 200 buah pancing (600 800 meter) per unit .
Menggunakan umpan sesuai target tangkapan yaitu: potongan ikan rucah, buah sawit, ulat sagu, buah pedada. Dapat dioperasikan siang dan malam dengan jumlah tawur 2 kali sehari, dapat dioperasikan sepanjang tahun dengan puncak musim penangkapan pada musim kemarau.
Jala (castnet)
Alat tangkap jala ( castnet) dibuat dari bahan nylon (tangsi), ukuran panjang 3,0 – 4,0 meter, mesh size: 1,0 inchi, rantai batu pemberat ± 4 kg/unit. Dioperasikan di pinggiran sungai utama dan anak sungai, menggunakan umpan bungkil kelapa atau beras yang dicampur tanah liat agar menggumpal dan tenggelam. Posisi umpan ditebar diberi tanda patok kayu kecil dipantai, lebih kurang 10 menit setelah umpan ditebar, jala ditawur pada posisi umpan, dapat dioperasikan siang dan malam sepanjang tahun dominan pada musim kemarau.
3.5. Upaya penangkapan dan hasil tangkapan per upaya penangkapan
Upaya penangkapan ( fishing effort) dan hasil tangkapan per unit upaya
penangkapan (CPUE) masing-masing 5 jenis alat tangkap utama berdasarkan data hasil tangkapan harian nelayan enumerator bulan Pebruari sampai Nopember 2009 seperti disajikan sebagai berikut .
Gumbang (filtering divice).
Tabel 2. Upaya penangkapan dan jumlahberat hasil tangkapan per upaya
penangkapan Gumbang .
Bulan Upaya penangkapan(trip) Jumlah hasil tangkapan (kg)rata-rata± sd Ket
Pebruari 16 12,4±0,97 Upaya penangkapan trip harian (1x 24 jam) Maret 28 10,4±1,25 April 29 9,9±1,05 Mei 27 10,76±0,82 Juni 28 9,71±1,08 Juli 29 9,35±1,0 Agustus 28 9,63±1,1 September 26 9,9±1,06 Oktober 28 10,25±0,83 Nopember 25 10,33±0,95 Rata-rata 26,4±3,86 10,26±0,85
Hasil tangkapan per upaya (Gumbang) 0 2 4 6 8 10 12 14 Pebr uari Maret Apr il Mei Juni Juli Agus tus Septe mber Oktob er Nope mber J u m la h h a s il ta n g k a p a n ( k g )
Tabel 2 dan Grafik 1. Menunjukan bahwa jumlah hari upaya penangkapan Gumbang berkisar antara 16 sampai 29 hari atau rata-rata 26,4±3,86hari per bulan.
Walaupun alat tangkap gumbang dipasang penuh waktu (1 bulan ), tetapi tidak semua hasil tangkapan diambil atau bisa dipenan.
Hal ini disebabkan bila pada waktu panen (puncak air pasang atau puncak air surut) bertepatan waktunya dengan waktu larut malam atau sedang hujan dan angin yang kuat, hasil tangkapan yang tidak diambil dan umumnya rusak atau busuk dan dibuang.
Jumlah hasil tangkapan per upaya penangkapan berkisar antara 9,35–10,7 kg atau rata-rata 10,26±0,85 kg/trip.
3.3.2. Belad (Beach barrier traps)
Tabel 3. Upaya penangkapan dan jumlah berat hasil tangkapan per upaya penangkapan Blad .
Bulan penangkapan (trip)Upaya Hasil tangkapan (kg) rata-rata± sd Ket
Pebruari 12 18,92±1,5 Upaya penangkapan trip harian (1 x 24 jam) Maret 12 30,5±1,95 April 15 22,0±2,34 Mei 10 22,92±1,57 Juni 9 23,08±1,75 Juli 12 22,48±2,47 Aguustus 14 21,69±1,55 September 16 25,77±1,96 Oktober 15 21,54±2,47 Nopember 12 19,76±1,27 Rata-rata 12,7±2,26 22,86±3,26
Hasil tangkapan per upaya (Gumbang) 0 2 4 6 8 10 12 14 Pebr uari Maret Apr il Mei Juni Juli Agus tus Septe mber Oktob er Nope mber J u m la h h a s il ta n g k a p a n ( k g )
Tabel. 3. dan Grafik 2. Menunjukan bahwa jumlah hari upaya penangkapan Blad berkisar antara 12 sampai 16 hari atau rata-rata 12,7±2,26hari per bulan. Rendahnya jumlah trip upaya penangkapan di karenakan operasional blad sangat tergantung pada pasang besar atau pasang purnama.
Luapan air pasang besar bisa mengenangi pantai yang lebih luas sehingga
dimungkinkan jumlah ikan yang terjebak juga banyak . Jumlah hasil tangkapan per upaya berkisar antara 19 -50 kg atau rata-rata 22,86±3,26 kg/trip.
3.3.3. Jaring ingsang (gillnet)
Tabel 4. Upaya penangkapan dan jumlah berat hasil tangkapan per upaya penangkapan Jaring ingsang.
Bulan
Upaya penangkapan
(trip)
Hasil tangkapan (kg)
rata-rata± sd Ket Pebruari 20 6,26±0,87 Upaya penangkapan trip harian (1 x 24 jam) Maret 12 6,12±0,7 April 15 6,3±0,71 Mei 10 12,4±1,57 Juni 12 26,2±2,74 Juli 15 24,5±1,58 Aguustus 14 17,2±1,55 September 12 26±1,49 Oktober 17 20,1±1,52 Nopember 16 18,4±1,65 Rata-rata 14,3±2,94 16,34±8,15
Hasil tangkapan pe upaya (jaring ingsang) 0 5 10 15 20 25 30 Pebr uari Maret April Mei Juni Juli Agus tus Sept embe r Oktob er Nope mber H a s il t a n g k a p a n ( k g )
Tabel. 4 dan Grafik 3. Menunjukan bahwa jumlah hari upaya penangkapan jaring ingsang berkisar antara 12 sampai 20 hari atau rata-rata 14,3±2,94 hari per bulan. Jumlah hasil tangkapan per upaya berkisar antara 6,26 -26 kg atau rata-rata16,34±8,15kg/trip.
3.3.4. Rawai (bottom longline)
Tabel 5. Upaya penangkapan dan jumlah berat hasil tangkapan per upaya penangkapan Rawai (bottom longline)
Bulan Upaya penangkapan(trip) Hasil tangkapan (kg) rata-rata± sd Ket
Pebruari 18 3,78±0,68 Upaya penangkapan trip harian (1 x 24 jam) Maret 13 2,54±0,56 April 11 2,9±0,71 Mei 12 3,13±0,6 Juni 15 3,25±0,72 Juli 17 3,58±0,71 Agustus 18 3,25±0,82 September 15 3,79±0,75 Oktober 16 4,5±1,06 Nopember 15 3,6±0,75 Rata-rata 15±2,43 3,43±0,54
Hasil tangkapan per upaya (Rawai) 0 0.51 1.52 2.53 3.54 4.55 Pebr uari Maret April Mei Juni Juli Agus tus Sept embe r Oktob er Nope mber H a s il t a n g k a p a n ( k g )
Tabel. 5 dan Grafik 4. Menunjukan bahwa jumlah hari upaya penangkapan rawai berkisar antara 11 sampai 18 hari atau rata-rata 15±2,43 hari per bulan. Jumlah hasil tangkapan per upaya berkisar antara 2,9 -4,5 kg atau rata-rata3,43±0,54kg/trip.
3.3.5. Jala (casnet)
Tabel 6. Upaya penangkapan dan jumlah berat hasil tangkapan per upaya penangkapan Jala
Bulan penangkapan (trip)Upaya Hasil tangkapan (kg) rata-rata± sd Ket
Pebruari 11 2,32±0,83 Upaya penangkapan trip harian ( 50 tawur) Maret 6 2,2±0,33 April 9 2,4±0,35 Mei 8 2,32±0,53 Juni 6 2,2±0,45 Juli 10 2,61±0,45 Aguustus 8 2,46±0,45 September 10 2,42±0,52 Oktober 10 2,55±0,32 Nopember 12 2,37±0,46 Rata-rata 9,0±2,0 2,38±0,13
Hasil tangkapan per upaya (Jala) 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 Pebr uari Maret April Mei Juni Juli Agus tus Sept embe r Oktob er Nope mber H a s il t a n g k a p a n ( k g )
Tabel. 6 dan Grafik 5. Menunjukan bahwa jumlah hari upaya penangkapan Jala berkisar antara 6 sampai 12 hari atau rata-rata 9,0±2,0 hari per bulan. Jumlah hasil tangkapan per upaya berkisar antara 2,2–2,6 kg atau rata-rata2,38±0,13kg/trip.
3.6. Komposisi jenis, jumlah ekor dan berat per jenis hasil tangkapan masing-masing jenis alat tangkap.
Berdasarkan data contoh hasil tangkapan yang diambil secara acak komposisi jenis, jumlah ekor dan berat masing-masing jenis hasil tangkapan bulan Pebruari sampai Nopember per jenis alat tangkap sebagai berikut. :
3.4.1. Gumbang
Frequensi kumulatif (%) berat masing-masing jenis hasil tangkapan Gumbang (N =272.516 gr/ 30 ulangan).
Komposisi (%) berat hasil tangkapan Gumbang
2.02 1.72 0.87 6.14 6.37 1.02 1.09 0.74 2.53 1.65 0.3 1.4 0.67 0.65 2.33 0.41 1.63 0.98 0.59 0.2 0.56 1.34 0.68 1.68 4 0.66 0.53 0.52 2.44 24.8 0.99 1.44 0.9 0.99 12.3 12.82
Biang (Ilisha elongata) Baw al (Pumpus sp) Bulu ayam (Coilia lindmoni) Buntal kuning (Xenopterus naritus) Buntal hijau (Chelonodon fluviatilis) Cumi (Loligo sp) Jejo (Scoliodon sarakkow ah) Dukang/ Duri (Arius sagor) Gulamo (Otolithoides pama) Janggut (Polynemus longipectoralis) Kakap batu (Proferacenthus sarissopharus) Kepiting (Charybdis annulata) Kakap (Lates calcarifer) Kiper (Scatophagus argus) Kitang (Mugil melinopterus) Kurau (Polynemus indicus schaw ) Langgai (Muraenesox talaban) L ome (Harpodon nehereus) Layur (Lepturacanthus savala) Lepo (Leptosynanceia astreroblepa) Lidah(Achiroides leocorhynchos) Parang-parang (Chirocentrus dorab) Puput (ilisha elongata) Pias (Indolybionlincolatum) Selunggang (Zenarchopterus ectontio) Sembilang (Plotasus canius) Sebelah (Synaptura panoides) Sumpit (Toxotes micropis) Tenggiri (Scomberonomos commersoni) Teri (Stolephoros dubiosus) U.merah (rpj)Parapenaeiis perezfarato) Udang pepeh (Metapenaues ensis) Udang putih (Penaeus merquensis) Udang petak (Oratosquila oratoria) Udang duri (Aphases sp) Ubur-ubur
Tabel 7 (Lampiran 1) dan Grafik 6. Menunjukan bahwa hasil tangkapan gumbang multi spesies menangkap 36 jenis terdiri 5 jenis kelompok udang dan dan 31 jenis ikan. Kelompok udang didominasi udang Duri (12,23 %) dan pada kelompok ikan yang didominasi ikan Teri (24,8%).
Frequensi kumulatif (%) jumlah ekor masing-masing jenis hasil tangkapan. Gumbang (N=60.038 ekor, 30 ulangan)
Frequensi kumulatif (%) jumlah ekor hasil tangkapan Gumbang
0.13 0.94 2.13 0.22 0.74 0.82 1.34 0.76 0.6 0.25 0.4 0.3 0.19 0.6 0.53 1.25 1.96 36.26 1.17 1.2 0.4 0.5 23.28 0.09
Kakap (Lates calcarifer) Kiper (Scatophagus argus) Kitang (Mugil melinopterus) Kurau (Polynemus indicus schaw ) Langgai (Muraenesox talaban) L ome (Harpodon nehereus) Layur (Lepturacanthus savala) Lepo (Leptosynanceia astreroblepa) Lidah(Achiroides leocorhynchos) Parang-parang (Chirocentrus dorab) Puput (ilisha elongata) Pias (Indolybionlincolatum) Selunggang (Zenarchopterus ectontio) Sembilang (Plotasus canius) Sebelah (Synaptura panoides) Sumpit (Toxotes micropis) Tenggiri (Scomberonomos commersoni) Teri (Stolephoros dubiosus) U.merah (Parapenaeiis perezfarato) Udang pepeh (Metapenaues ensis) Udang putih (Penaeus merquensis) Udang petak (Oratosquila oratoria) Udang duri (Aphases sp) Ubur-ubur
Tabel 8 (Lampiran 1) dan Grafik 7. Menunjukkan bahwa berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah ekor hasil tangkapan gumbang hasil tangkapan kelompok udang didominasi udang Duri (23,28%) dan pada kelompok ikan yang didominasi ikan Teri (36,26%).
3.4.2.Blad (Beach barrier traps)
Frequensi kumulatif (%) berat masing-masing jenis hasil tangkapan Blad (N = 462,5 kg/, 20 ulangan)
Komposisi (%) berat hasil tangkapan blad
10.28 5.35 5.25 7.39 5.35 7.5 4.28 5.14 9 8.57 3.32 7.93 3.75 8.57 8.25
Belukang (Arius sagor) Belanak (Liza melinoptera) Gulama (Otolithoides pama) Elang (Coisquadrifas ciatus) Janggut (Polynemus longipectoralis) Jumpol (Scomberomorus semifasciatus) Kerapu (Epicephalus sp) Kakap (Lates calcarifer) Kiper (Scatophagus argus) Kurau (Polynemus indicus schaw) Lidah (Synaptura panoides) Sembilang (Plotasus canius) Patin (Pangasius, sp) Sumpit (Toxotes micropis) Udang (Macrobrachium sp) .
Tabel 9 (Lampiran 1) dan Grafik 8. Menunjukkan bahwa alat tangkap blad menangkap 15 jenis terdiri. Berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah berat hasil tangkapan Blad hasil tangkapan kelompok udang (8,25 %) dan pada kelompok ikan yang didominasi ikan Belukang (10,28 %).
Frequensi kumulatif (%) jumlah ekor masing-masing jenis hasil tangkapan. Blad. (N=2.522 ekor, 20 ulangan)
Komposisi (%) jumlah ekor hasil tangakap Blad
18.04 3.56 1.82 1.5 4.24 1.03 1.11 6.26 1.14 3.44 5.07 8.52 9.23 29.93
Belanak (Liza melinoptera) Gulama (Otolithoides pama) Elang (Coisquadrifas ciatus) Janggut (Polynemus longipectoralis) Jumpol (Scomberomorus Kerapu (Epicephalus sp) Kakap (Lates calcarifer) Kiper (Scatophagus argus) Kurau (Polynemus indicus schaw) Lidah (Synaptura panoides) Sembilang (Plotasus canius) Patin (Pangasius, sp) Sumpit (Toxotes micropis) Udang (Macrobrachium sp) .
Tabel 10 (Lampiran 1) dan Grafik 9. Menunjukkan bahwa berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah ekor hasil tangkapan Blad hasil tangkapan kelompok udang didominasi udang galah (29,23%) dan pada kelompok ikan yang didominasi ikan Belanak i (18,04%).
3.4.3. Jaring hanyut
Frequensi kumulatif (%) jumlah berat masing-masing jenis hasil tangkapan Jaring hanyut . (N=453,1 kg, 26 ulangan)
Komposisi (% ) berat hasil tangkapan jaring hanyut
26.72 2.93 3 0.79 7.1 5.67 25.4 7.28 1.12 6.46 5.51 8.49 1.43
Biang (Ilisha elongata) Buntal kuning (Xenopterusnaritus) Buntal hijau (Chelonodon fluviatilis) Duri (Arius sagor) Debuk (Otolithus rubber) Jejo (Scoliodon saraklowah) Lomeh (Harpodon nehereus) Malung (Muraenosex talaban) Parang-parang (Chirocentrus dorab) Pias (Indolybionlincolatum) Selunggang (Zenarchopterus ectontio) Tenggiri (Scomberonomos Terubuk (Tenualosa macrura)
Tabel 11 (Lampiran 1) dan Grafik 10. Menunjukkan bahwa jaring hanyut menangkap 13 jenis ikan , berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah berat hasil tangkapan jaring hanyut, hasil tangkapan didominasi ikan Biang (27,72 %).
Frequensi kumulatif (%) jumlah ekor masing-masing jenis hasil tangkapan Jaring hanyut ( N=5.194 ekor, 26 ulangan)
Komposisi (%) jumlah ekor hasil tangkapan jaring hanyut
2.36 2.25 0.34 0.23 3.5 36.06 0.15 1.59 5.75 2.63 5.19 0.32
Buntal kuning (Xenopterusnaritus) Buntal hijau (Chelonodon fluviatilis) Duri (Arius sagor) Debuk (Otolithus rubber) Jejo (Scoliodon saraklow ah) Lom eh (Harpodon nehereus) Malung (Muraenosex talaban) Parang-parang (Chirocentrus dorab) Pias (Indolybionlincolatum ) Selunggang (Zenarchopterus ectontio) Tenggiri (Scom beronom os com m ersoni) Terubuk (Tenualosa m acrura)
Tabel 12 (Lampiran 1) dan Grafik 11. Menunjukkan bahwa berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah ekor hasil tangkapan jaring hanyut, didominasi ikan Biang (38,65 %).
3.3.4. Rawai
Frequensi kumulatif (%) jumlah berat masing-masing jenis hasil tangkapan Rawai ( N=102 kg , 24 ulangan) .
Komposisi (%) berat hasil tangkapan rawai
1.51 3.59 13.35 12.28 1.34 3.35 2.95 12.21 4.56 7.78 5.3 20 10.65 1.38
Kakap (Lates calcarif er) Baw al (Pumpus sp) Duri (Arius sagor) Debuk (Otolithus rubber) Hiu (Charcharhinus leucas) Jejo (Scoliodon saraklow ah) Jumpol (Scomberomorus semif asciatus) Kurau (Polynemus indicus schaw ) Malong (Muraenosex talaban) Patin (Pangasius nasutus) Parang-parang (Chirocentrus dorab) Pari (Amphotistius imbricatus) Sembilang (Plotasus canius) Tenggiri (Scomberonomos commersoni)
Tabel 13 (Lampiran 1) dan Grafik 12. Menunjukkan bahwa alat tangkap rawai menangkap 14 jenis dan berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah berat hasil tangkapan rawai didominasi ikan Pari (20%).
Frequensi kumulatif (%) jumlah ekor masing-masing jenis hasil tangkapan Rawai (N=111 ekor, 24 ulangan)
Fre que nsi kumulatif (%) jumlah (e kor) hasil tangkapan rawai 3.75 14.5 11.75 1.9 2.75 0.09 11.7 5.47 11.7 5.47 13.52 10.82 2.75 Bawal (Pumpus sp) Duri (Arius sagor) Debuk (Otolithus rubber) Hiu (Charcharhinus leucas) Jejo (Scoliodon saraklowah) Jumpol (Scomberomorus semifasciatus) Kurau (Polynemus indicus schaw) Malong (Muraenosex talaban) Patin (Pangasius nasutus) Parang-parang (Chirocentrus dorab) Pari (Amphotistius imbricatus) Sembilang (Plotasus canius) Tenggiri (Scomberonomos commersoni)
Tabel 14 (Lampiran 1) dan Grafik 13. Menunjukkan bahwa berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah ekor hasil tangkapan rawai didominasi ikan Pari (13,52 %).
3.3.5. Jala (cast net)
Frequensi kumulatif (%) jumlah berat masing-masing jenis hasil tangkapan Jala ( N=40.350 gr , 20 ulangan) .
Komposisi (%) berat hasil tangkapan jala
6.11 11.32 11.71 7.94 7.55 5.33 50
Biang ( Ilisha elongata) Betutu (Oxyeleotris marmorata) Bulu ayam (Coilia lindmoni) Janggut (Polynemus longipectoralais)
Sepengkah (Ambassis kopsii) Sumpit (Toxotes micropis) Udang Galah (Macrobrachium, sp)
Tabel 15 (Lampiran 1) dan Grafik 14. Menunjukkan bahwa alat tangkapJala menangkap 7 jenis dan berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah berat hasil tangkapan Jala didominasi udang galah sebagai target tangkapan utama mencapai (50 %).
Frequensi kumulatif (%) jumlah ekor masing-masing jenis hasil tangkapan Jala . (N= 1.710/ 20 ulangan)
Frequensi kumulatif (%) jumlah (ekor)/ jenis hasil tangkapan Jala
7.95 2.58 31.05 7.25 5.08 4.68 41.4
Biang ( Ilisha elongata) Betutu (Oxyeleotris marmorata) Bulu ayam (Coilia lindmoni) Janggut (Polynemus longipectoralais)
Sepengkah (Ambassis kopsii) Sumpit (Toxotes micropis) Udang Galah (Macrobrachium, sp)
Tabel 16 (Lampiran 1) dan Grafik 15. Menunjukkan bahwa berdasarkan frequensi kumulatif (%) jumlah ekor hasil tangkapan Jala didominasi udang galah sebagai target tangkapan utama (41,4 %).
3.7. Jumlah alat tangkap.
Untuk mendapatkan jumlah perjenis alat tangkap yang biasa dioperasikan di perairan estuari sungai Siak dan selat Panjang dilakukan dengan cara sensus pada setiap desa atau perkampungan nelayan. Bekerja sama dengan aparat desa, nelayan, ketua RT dan pemuka masyarakat untuk mendata berdasakan blanko isian sebagai berikut : Nama nelayan serta jenis dan jumlah alat tangkap yang dimiliki.
Berdasarkan pendataan jumlah perjenis alat tangkap aktif (alat tangkap nelayan tetap) seperti disajikan padaTabel 17 .
Tabel .17 . Jumlah per jenis alat tangkap di perairan estuari sungai Siak dan selat Panjang . Lokasi (Desa, dusun, RT) wil.Administrasi Jenis alat Gumbang (unit) Blad (Unit ) Jaring (fiece) Rawai (Unit) Jala (buah) Kec.Kuala Kampar Kab. Pelalawan 86 - 15 12 -Kec.Tebing tinggi Kab. Bengkalis 11 - 210 23
-Kecamatan Sungai Apit Kab. Siak
110 24 34 20 12
207 24 259 (52 perahu) 55 12
Jumlah perjenis alat tangkap hasil pendataan lebih kecil dibanding jumlah alat tangkap yang tercatat pada laporan monograf masing-masing Kecamatan. Hal ini disebabkan jumlah alat tangkap yang tertulis pada laporan monograf meliputi untuk wilayah operasional yang lebih luas sampai pada perairan laut. Sehingga data jumlah alat tangkap yang dipakai yaitu jumlah hasil pendataan (sensus).
3.8. Laju tangkap ( Jumlah hasil tangkapan persatuan alat persatuan waktu).
Estimasi jumlah (kg) sumberdaya ikan dan udang yang berhasil ditangkap oleh 5 jenis alat tangkap utama di perairan estuari sungai Siak dan selat panjang tahun 2009 berdasarkan perhitungan :
Jumlah upaya penangkapan/jenis alat tangkap/tahun = rata-rata jumlah upaya penangkapan per bulan x jumlah alat tangkap (asumsi masing-masing jumlah alat tangkap hasil sensus beroperasi sesuai sample jumlah upaya penangkapan ).
Jumlah hasil tangkapan pertahun = jumlah upaya pertahun x rata-rata jumlah hasil tangkapan per upaya penangkapan, seperti disajikan pada Tabel. 19.
Tabel 19 .Estimasi jumlah sumberdaya ikan perairan estuari sungai Siak dan selat Panjang Riau tahun 2009.
Bulan Jenis alat tangkap Jumlah upaya penangkapan (trip)/tahun Rata-rata hasil tangkapan (kg)/upaya Jumlah hasil tangkapan (kg) Pebruari Gumbang 16x207=3.312 12,40 ± 0,97 41.068 Blad 12x24x=288 18,92 ±1,50 5.448 Jaring 20x52=1.040 6,26 ± 0,87 6.510 Rawai 18x55=990 3,78 ± 0,68 3.742 Jala 11x12=132 2,32 ± 0,83 306 53.332 Maret Gumbang 28x207=5.796 10.40 ± 1,25 60.278 Blad 12x24=288 30,50 ± 1,95 8.784 Jaring 12x52= 624 6,12 ± 0,70 3.818 Rawai 13x55=715 2,54 ± 0,58 1.801 Jala 6x12=72 2,20 ± 0,33 158 74.839 April Gumbang 29x207=6.003 9,90 ± 1,05 59.429 Blad 15x24=360 22,0 ± 2,34 7.920 Jaring 15x52=780 6,30 ± 0,71 4.914 Rawai 11x55=605 2,90 ± 0,71 1.754 Jala 9x12=108 2,40 ± 0,35 259 74.276 Mei Gumbang 27x207=5.589 10,76 ± 0,82 60.137 Blad 10x24=240 22,92 ± 2,23 5.500 Jaring 10x52=520 12,40 ± 1,57 6.448 Rawai 12x55=660 3,13 ± 0,60 2.065 Jala 8x12=96 2.32 ± 0,53 222 74.372 Juni Gumbang 28x207=5.796 9,71±1,08 56.279 Blad 9x24=216 23,08 ± 1,75 4.985 Jaring 12x52=624 26,20 ± 2,74 16.348
80.451 Juli Gumbang 29x207=6.003 9,35 ± 1,0 56.128 Blad 12x24=288 22,48 ± 2,47 6.474 Jaring 15x52=780 24,50 ± 1,58 19.110 Rawai 17x55=935 3,58 ± 0,71 3.347 Jala 10x12=120 2,61± 0,45 313 85.372 Agustus Gumbang 28x207=5.796 9,63 ± 1,10 55.815 Blad 14x24=336 21,69 ± 1,55 7.287 Jaring 14x52=728 17,20 ± 1,55 12.521 Rawai 18x55=990 3,35 ± 0,82 3.316 Jala 8x12=96 2,46 ± 0,45 236 79.175 September Gumbang 26x207=5.382 9,90 ± 1,06 53.821 Blad 16x24=384 25,77 ± 1,96 9.895 Jaring 12x52=624 26 ± 1,49 16.224 Rawai 15x55=825 3,79 ± 0,75 3.126 Jala 10x12=120 2,42 ± 0,52 290 83.356 Oktober Gumbang 28x207=5.796 10,25 ± 0,83 59.409 Blad 15x24=360 21,54 ± 2.47 7.754 Jaring 17x52=884 20,10 ± 1,52 17.768 Rawai 16x55=880 4,5 ± 1,06 3.960 Jala 10x12=120 2,55 ± 0,32 306 89.197 Nopember Gumbang 25x207=5.175 10,33 ± 0,95 53.457 Blad 12x24=288 19,76 ± 1,27 5.690 Jaring 16x52=832 18,4 ± 1,65 15.308 Rawai 15x55=825 3,60 ± 0,75 2.970 Jala 12x12=144 2,37 ± 0,45 341 77.766 Jumlah /10 bulan 772.136 Rata-rata/bulan 77.213 Jumlah 12 bulan (2009) 936.35
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Jum lah hasil tangkapan (ton)
Pebruari April Juni Agustus Oktober
Grafik jumlah hasil tangkapan 5 jenis alat tangkap utama (Peb-Nop.2009)
Tabel 20 dan Grafik 16. Menunjukan bahwa jumlah total sumbedaya ikan yang berhasil ditangkap (dimanfaatkan) selama 10 bulan (Peb-Nop.2009) mencapai 926,5 ton. Hasil tangkapan tertinggi pada bulan Oktober (puncak musim kemarau) dan hasil tangkapan terendah bulan Pebruari (puncak musim hujan).
3.9. Estimasi jumlah hasil tangkapan yang dimanfaatkan dan tidak dimanfaatkan
Estimasi jumlah hasil tangkapan per jenis alat tangkap yang dimanfaaatkan dan yang bekum atau tidak dimanfaatkan seperti disajikan pada Tabel 20.
Tabel. 20. Estimasi jumlah hasil tangkapan yang dimanfaatkan, belum atau tidak dimanfaatkan per jenis alat tangkap.
Jenis alat tangkap Total hasil tangkapan (ton) Dimanfaatkan (ton) Tidak dimanfaatkan (ton) Gumbang 667 274,80 (41,2%) 392,2 (58,8%) Blad 83,68 83,68 (100%) -Jaring 142,76 132,76 (93%) 10 (7 %) Rawai 40,8 40,8 (100%) -Jala 2,11 2,11 (100%) -Jumlah 936,35 534,33 (57%) 402.2 (43%)
Tabel 20. menunjukkan bahwa kecuali hasil tangkapan Gumbang dan jaring ingsang semua hasil tangkapan dimanfaatkan dan bernilai ekonomi karena memenuhi ukuran permintaan pasar dan tidak beracun.
Hasil tangkapan jaring dapat dimanfaatkan kecuali hasil tangkapan Buntal (7%) tidak dimanfaatkan karena tidak bisa dikonsumsi (beracun).
Hasil tangkapan Gumbang lebih kurang 274,80 ton (41,2%) yang dimanfaatkan dan diolah menjadi udang kering (ebi udang) dan ikan teri tawar. Sisanya sebanyak 392,2 (58,8%) belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk bahan pembuatan terasi karena harga jualnya yang tidak sebanding dengan biaya pengolahannya.
Dari jumlah yang tidak dimanfaatkan ini didominasi larva atau yuvenil ikan ekonomis penting antara lain: ikan Bawal, Sembilang, Kurau, Tenggiri, Kakap, Dukang, Layur, bila jumlah ini dikonversi dengan berat rata-rata individunya (4,53 gr) didapat jumlah lebih kurang 86,6 juta ekor hasil tangkapan sampingan yang tidak dimanfaatkan dan dibuang .
Data ini menunjukkan bahwa perairan estuari sungai Siak dan selat panjang lebih berperan sebagai daerah asuhan dan diantara 5 jenis alat tangkap yang beroperasi, alat tangkap Gumbang (filtering divice) yang paling tidak seletif dan tidak ramah lingkungan sehingga diperlukan kebijakan regulasi jenis dan jumlah.
3.10. Data dukung. Kebiasaan makan
Berdasarkan hasil pengamatan ukuran ikan, panjang usus, panjang dan volume lambung serta isi lambung, disimpulkan kebiasaan makan beberapa jenis ikan seperti disajikan pada tabel 22.
Kebiasaan makan beberapa jenis ikan ekonomis penting.
No Jenis ikan Kebiasaan makan Isi lambung/Ket.
1 Sembilang Karnivora Pot.ikan dan udang
2 Lomeh Omnivora Usus palsu
3 Selunggang Karnivora Pot. Ikan dan udang
4 Kakap Karnivora Pot. Ikan dan udang
5 Gulama Omnivora Serasah, dedaunan pot
ikan/udang
6 Dukang Karnivora Pot. Ikan dan udang
Berdasarkan hasil pengamatan gonad beberapa jenis ikan yang berukuran dewasa (hasil tangkapan rawai dan jaring ) disimpulkan tingkat kematangan gonad beberapa jenis ikan seperti disajikan pada tabel 23.
Tabel .22. Tingkat krematanngan gonad (TKG) beberapa jenis ikan ekonomis penting.
No Jenis ikan Kisaran TKG Keterangan
1 Sembilang II–III N= 20 ekor
2 Lomeh I - IV N= 16 ekor
3 Kurau I - III N = 5 ekor
4 Kakap 1 - III N= 3 ekor
5 Gulama 1–IV N= 12 ekor
6 Dukang I - IV N= 6 ekor
Parameter fisika kimia air dan plankton
Pengamatan beberapa parameter fisika kimia dan biologi air yang berkaitan erat dengan perairan estuari sungai Siak dan rawa pasang surut selat Panjang pada stasiun pengamatan yang telah ditentukan seperti disajikan pada Tabel 24 dan Tabel 25.
Tabel.23 . Parameter fisika–kimia air
No Parameter Satuan Stasiun pengamatan
1 2 3 4 P. Serapung P. Tiga P.Panjan g Tj Penangkat 1 Koordinat N 00.32.34.0 00.39.18.2 00.46.22.9 00.45.19.3 E 103.05.49.4 102.58.08. 0 102.49.14. 3 102.38.38.1 2 Salinitas 0/00 20-23 22-25 20-22 20-22 3 Kecerahan cm 15- 25 22-40 22-55 40-65 4 pH - 7,5 -8 7,5-8 7,5- 8 7,5- 8 5 DO mg/l 4.95- 7,2 4.91-7,21 3.68-6,6 3.96-4,9 6
Kecepatan arus m/det ps ps ps ps
7 Suhu Udara/Air 0C 30/25 32/30 28/27.5 26/31 8 Kedalaman m 6.6 11.1 10.5 27.3 9 CO2 mg/l 21.12 21.12 10.56 17.6
11 Total Alkalinitas mg/l 17 12 10 28 12 DHL µsiemens/ cm ≥ 3980 ≥ 3980 ≥ 3980 ≥ 3980 13 TDS ppm ≥ 1990 ≥ 1990 ≥ 1990 ≥ 1990 Sambungan Tabel . 23.
No Parameter Satuan Stasiun pengamatan
5 6 7 8
Parit
Ambai Tj. Tanah Lalang Muara Siak
1 Koordinat N 00.46.24.6 00.51.23.4 01.02.27.5 01.14.02.5 E 102.32.42.8 102.24.02. 8 102.13.03. 0 102.09.58.8 2 Salinitas 0/00 22-25 22-25 23-25 17-22 3 Kecerahan cm 13-25 40-65 28-50 30-65 4 pH - 7,5- 8 7,5 - 8 7,0 -7.5 7 - 8 5 DO mg/l 4.85- 5,6 4.85- 7,2 5.56- 7,2 3.23- 4,85 6
Kecepatan arus m/det ps ps ps ps
7 Suhu Udara/Air 0C 29/28 32/27 29/27 29/27 8 Kedalaman m 3.4 37 17.3 5.9 9 CO2 mg/l 10.56 10.56 10.56 10.56 10 TSS mg/l 0.12 0.09 0.02 0.01 11 Total Alkalinitas mg/l 12 10 12.4 10 12 DHL µsiemens/ cm ≥ 3980 ≥ 3980 ≥ 3980 ≥ 3980 13 TDS ppm ≥ 1990 ≥ 1990 ≥ 1990 ≥ 1990
Tabel 24. Jenis dan kelimpahan plankton
Kelas No Genus Stasiun/kelimpahan( ind/L)
St.1 St.2 St.3 St.4 St.5 St.6 St.7 St.8 Bacillariophyceae 1 Diatoma 0,35 0,30 0 0,50 0,35 0,50 - 0,25 2 Coscinodiscus 0,60 0,55 1,70 0,85 1,80 1,30 0,75 2,25 3 Cyclotella 0,25 0,60 1,55 - 1,45 0,75 - 0,65 4 Pleurosigma - 0,20 0,25 - - - - -5 Synedra 0,65 0,55 0,80 0,35 1,25 0,50 1,0 0,80 6 Fragilaria 0,45 0,20 0,25 0,65 0,25 0 0,1 0,25 7 Tabellaria - - - 0,35 - - - -8 Nitzschia 0,40 0,20 0,30 0 0,55 0,55 0,40 0,60 9 Cocconeis - 0,75 1,95 0,60 1,95 0,75 0,30 -10 Pinnularia 0,35 - - - -11 Surirella - - 0,30 0,15 - 0,30 0,15 0,20 12 Gyrosigma 0,35 - - - -13 Cymbella - - - 0,20 - - - 0,25 Chlorophyceae 1 Zygnema - - - 0,15 - - - -2 Cosmarium - - 0,35 - - - 0,15 0,20 3 Ulotrix 0,30 0,30 0,35 - - - - -4 Pleurotaenium - 0,50 - - - -5 Ankistrodesmus 0,30 0,30 0,30 - - - - 0,20 6 Closterium 0,35 0,20 0,35 - - - - 0,35 7 Tetraedron - 0,20 0,20 - 0,40 0,35 0,35 0,40 8 Mougeotia 0,30 - - - -Cyanophiceae 1 Oscillatoria - 0,40 - - - 0,15 2 Spirulina - - - 0,15 - - - -3 Anabaena 0,20 - - 0,35 0,30 0,30 0,10 0,20 Mastigophora 1 Euglena - 0,30 - - - -Chrysophyceae 1 Navicula - - 0,40 - 0,30 0,55 0,15 0,20 Protozoa 1 Diflugia 0,40 0,75 0,25 0,30 0,30 0,35 0,35 0,25 2 Trachelomomnas 0,35 0,25 0,30 0,25 0,55 0,30 0,15 0,15 3 Oxytricha - 0,95 - - - -4 Phacus - 0 0,65 0,30 0,55 0,35 0,15 0,20 5 Actinophris - 0,20 - - - 0,60 - -6 Trichocerca 0,30 0,20 - 0,30 - - 0,15 -Rotifer 1 Licane 0,30 - - 0,25 0,30 - - 0,15 2 Mytillina - - 0,30 - - - - -3 Brachionus - - - - 0,20 - - -Crustacea 1 Cyclops - - - 0,15 0,30 - - -2 Nauplius - 0,20 - 0,60 - 0,30 -
-BAB. IV. KESIMPULAN SARAN DAN TINDAK LANJUT.
1. Daerah penangkapan Perairan estuari selat Panjang sampai estuari sungai Siak
masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak.
2. Aktivitas penangkapan terkonsentrasi pada sungai utama, aktivitas penangkapan di
rawa pasang surut sekitar sungai utama sangat rendah dan lebih berperan sebagai daerah penghasil kayu bakau untuk industri kayu dan tumbuhan nipah sebagai bahan baku industri penghasil tepung sagu.
3. Penduduk yang berpropesi sebagai nelayan relatif lebih kecil dibanding sebagai
buruh kayu olahan, buruh kebun sawit dan buruh pengolah tepung sagu.
4. Aktivitas penangkapan tergolong skala kecil dilakukan tidak jauh dari lokasi
pemukinan, dilakukan oleh nelayan perorangan atau bersama anggota keluarga menggunakan perahu bermotor ukuran 4 - 6 GT dengan mesin penggerak 8– 12 PK.
5. Aktivitas penangkapan dilakukan dengan menggunakan 5 jenis alat tangkap utama
yang didominasi alat tangkap pasif yaitu alat tangkap pasang dan tunggu yaitu Gumbang (filtering divice); Blad (beach barrier traps), Jaring ingsang (gillnet), Rawai (bottom longline) dan Jala (castnet).
6. Gumbang menangkap multi spesies (35 jenis) didominasi udang Duri (Aphases.sp)
dan ikan Teri , jumlah upaya penangkapan 26 hari/bulan dengan hasil tangkapan 10,26 kg/upaya (hari)
7. Blad menangkap 15 jenis, didominasi ikan Belukang (Arius sagor), jumlah upaya
penangkapan 12,7±2,26 hari/bulan dengan hasil tangkapan 22,86±3,26 kg/hari (upaya).
8. Jaring ingsang menangkap 13 jenis, didominasi ikan Biang (Ilisha elongata), upaya
penangkapan 14,3±2,94 hari/bulan dengan jumlah hasil tangkapan 16,34±8,15 kg/upaya.
9. Rawai menangkap 14 jenis, didominasi ikan Pari (Amphotistius imbricatus),upaya
penangkapan 15±2,43 hari per bulan dengan jumlah hasil tangkapan 3,43±0,54kg/hari (upaya).
10. Jala menangkap 7 jenis, didominasi Udang galah (Macrobrachium, sp), upaya