• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK SAGU : FILOSOFIS, TEORITIS, HISTORIS DAN FUTURIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POLITIK SAGU : FILOSOFIS, TEORITIS, HISTORIS DAN FUTURIS"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

Prof. Dr. Ir. Ervizal A.M. Zuhud (AMZU), MS

Divisi Bioprospeksi dan Konservasi Tumbuhan Tropika

Dep. KSHE., Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University, Bogor. 16 Juni 2020

Serial II Webinar Sagu : Preposisi Politik Pangan Berbasis Tepung Sagu

POLITIK SAGU : FILOSOFIS, TEORITIS,

HISTORIS DAN FUTURIS

(2)

PANCASILA

(3)

Dasar Filosofis

Kami jadikan di bumi itu kebun-kebun palma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, agar mereka dapat makan dari hasil usaha

tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur ?

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena

sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

https://www.kompasiana.com/senis.jotam/54f6e1e9a33311b5408b480e/pengelolaan

(4)

Perintah UUD 1945

Pembukaan UUD 1945 :

“……….. pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, ………….. susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan

berdasar kepada ………

Peran dan Tugas Negara yg Utama

(5)

Perintah UUD 1945

UUD 1945 :

Pasal 28A

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak

mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Ervizal A.M. Zuhud (AMZU), 2020

Pasal 33

(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung

di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan

untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

(6)

Pidato Bung Karno di Bogor 27 April 1952

(7)

Deklarasi Roma

Keamanan Pangan Dunia, 13 Nov. 1996)

al :

Pangan itu adalah Hak Azasi Manusia

Pangan tidak boleh digunakan sebagai instrumen

untuk tekanan politik dan ekonomi

. Kami menegaskan

kembali pentingnya kerja sama dan solidaritas internasional serta perlunya

menahan diri dari tindakan sepihak yang tidak sesuai dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan yang membahayakan keamanan

(8)

Dasar Teoritis

Potensi SAGU yang besar akan berguna jika dan hanya jika “SAGU” masuk dalam arus utama pembangunan yang

diunggulkan.

SAGU harus ada dalam peta pikiran (mindset) dan politik

pembangunan, prasyarat utama untuk menjadikan SAGU

sebagai pangan pokok, pangan fungsional dan industri. Harus dg Political Will “Peraturan Perundangan”

(9)

1943

Pendidikan, IPTEK

Ekonomi dan Politik, itu

satu paduan yang tidak

boleh dipisah-pisahkan.

Kalau tidak, maka politik

dan kecerdasan bangsa

asing akan memakai

kekuatan Indonesia untuk

membelenggu Indonesia

dan menjajah ekonomi

Indonesia.

(10)

Teori Tong Liebiq Minimum

Pertumbuhan Pembangunan Ekonomi yg tinggi gagal/belum

mewujudkan kesejahteraan rakyat banyak, Karena puluhan

juta

rakyat lemah (petani)

berada diposisi terendah,

diabaikan

!

Petani/Desa

Peran dan Tugas Negara adalah Melindungi dan Membina Kelompok yg Lemah dan Mengendalikan

(11)

Donald Trump Beri Stimulus US$19 M

(Rp. 268 triliun) untuk Petani Amerika Serikat

CNN Indonesia | Minggu, 19/04/2020 10:05 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika SerikatDonald Trumpmengumumkan bantuan sebesar US$19 miliar untukindustri pertanian. Bantuan itu bertujuan untuk menghadapi penurunan ekonomi yang disebabkanvirus corona.

……pemberian uang secara langsung pada petani, peternak dan produsen yang terdampak corona. Menteri Pertanian Sonny Predue mengatakan banyak petani yang terdampak pandemic covid-19 karena penurunan permintaan.

Salah satu penyebab penurunan permintaan adalah penutupan sekolah dan restoran. Belakangan ini, warga Amerika Serikat lebih banyak mengkonsumsi makanan di rumah untuk menjaga kesehatan dan memutus rantai penularan corona.

(12)

Sistem Pertanian di Jepang,

Menjadi Terbaik di Dunia

https://tabloidsinartani.com/detail/industri-perdagangan/nasional/8713-Mempreteli-Sistem-Pertanian-Di-Jepang-Menjadi-Terbaik-di-Dunia

Pertanian

bukan jadi sektor andalan bagi Negara Jepang.

Sumbangsih sektor pertanian terhadap GDP hanya 1,5 %,

namun pemerintah Jepang

membela petani mati-matian?

Jepang salah satu negara terpadat di Dunia. Untuk menjamin

ketersediaan dan kedaulatan pangan rakyatnya, Pemerintah

Jepang mengalokasikan APBN sebesar 3,7% dan memberi

subsidi hingga 770% untuk sektor pertanian.

(13)

Kedaulatan Pangan Nasional

Bisakah Terwujud ?

Bisa !!!

Prasyaratnya :

Jika dan Hanya Jika Setiap Desa di Seluruh

Wilayah NKRI (83.931 desa) Berdaulat Pangan!

Pembangunan

Re-diversifikasi

Pangan Lokal

Berbasis Masing-Masing

Eko-sosio-biogeografis

Ervizal; A.M. Zuhud (AMZU), 2020

(14)

Kedaulatan Pangan Nasional

Bisakah Terwujud ?

Bisa !!!

Prasyaratnya :

Kedaulatan pangan pokok Indonesia mustahil

dengan

komoditi tunggal Beras, kecuali bersama Tepung Sagu !

Semua wilayah Ekosistem NKRI di luar sawah saat ini dapat

dipastikan berdasarkan Eko-sosio-biogeografis lahan tidak

ada yg layak ditanami padi dengan efektif dan efisien !

(15)
(16)

MODAL Kedaulatan Pangan (Pokok) Indonesia

Berbasis Eko-Sosio-Biogeografis

Sweet potato

Rice Cassava Taro

Sago Maize rice rice sago sweet potato taro cassava maize rice rice sago, maize sago rice taro maize cassava taro sago sago sago

(17)

Setiap Desa di Semua Wilayah NKRI Telah Tersedia Spesies Plasma Nutfah Keranekaragaman Bahan Pangan dan Obat untuk Hidup Sehat Berdaulat

No Lokasi Pangan Obat Sumber

1 Sebangar, Bengkalis (Riau) 50 76 La Medi et.al (1998)

2. TN Wasur (Papua) 97 125 Inama et.al(2008)

3. TN Bukit Tigapuluh (Jambi) 73 317 Fakhrozi et.al(2009)

4. Desa di Suaka Alam Lambusongo (P. Buton) 80 169 Hamidu et.al(2009)

5. Desa Dirun-Lumaknen, Belu NTT), 41 69 Atok et.al(2009)

6 Desa Dukuh, Garut (Jawa Barat) 101 150 Hidayatet.al(2009)

8. Desa di TAHURA Inten Dewata (Jawa Barat) 24 21 Nugraha et.al (2010)

9 Aur Kuning, Kampar Kiri Hulu (Riau) 47 98 Ernawatiet.al(2009)

10 Desa di CA Dolok Sibual-buali (Sum. Utara) 49 67 Hasibuan et.al(2011)

11 Desa di TWA Ruteng (NTT) 38 69 Iswandono (2007)

12 Desa di TN. Kayan Mentarang 137 51 Ayu (2011)

13 Cipakem, Kuningan (Jawa Barat) 110 92 Rona (2011)

(18)

45 sp buah2an 10 sp kacang2an 55 sp sayuran

(19)
(20)

SEKILAS HISTORIS PRAKTEK

POLITIK PERTANIAN PANGAN

INDONESIA DARI WAKTU KE

WAKTU

(21)

Pangan Pokok Nenek Moyang Indonesia adalah

Tumbuhan Palma (Sagu, Kelapa, Aren, Lontar)

Ervizal; A.M. Zuhud (AMZU), 2020

Menurut Nadirman Haska, Peneliti sagu Indonesia, menyatakan pada pahatan relief di Candi Borobudur, tentang palma kehidupan seperti kelapa, lontar, aren dan sagu. Selain itu, masalah istilah penamaan, masyarakat Jawa menyebut beras dengansego, dan orang Sunda menyebutkansangu, yang mendekati kata sagu.

(22)

Dia terkesima melihat satu pohon yang

menjadi sumber pangan masyarakat Barus.

Ratusan tahun lalu, Marco Polo pernah menginjakkan kakinya di Sumatra. Semua itu tertulis dalam manuskrip kuno Le Devisement du Monde yang ditulis oleh Rustichello de Pisa, seorang penulis yang ditemuinya di penjara setelah pulang ke Venesia pada 1290-an.

Polo … sempat mencoba

membuat roti dengan tepung

SAGU dan hasilnya sangat enak.

(23)

Sejarah Kejayaan Pertanian Indonesia sebelum

Era Penjajahan Belanda (VOC)

Penduduk di nusantara makmur (masa Ker. Majapahit,

Sriwijaya dll) dari pertanian. 5 tanaman asli Indonesia menjadi komoditas utama pertanian dunia selama ratusan tahun yaitu,

(24)

Sejarah Kejayaan Pertanian Indonesia zaman VOC

Tambahan komoditi baru KARET, COKLAT dan TEBU (di Jawa), VOC telah berhasil menjadikan Kerajaan Belanda menjadi

salah satu kerajaan terkaya di dunia waktu itu.

Era penjajahan yang diawali oleh VOC, 5 komoditi utama di atas diperdagangkan secara monopoli, membuat VOC menjadi perusahaan multinasional pertama dan terkaya

di dunia pada saat itu.

(25)

BAGAIMANA

POLITIK PEMBANGUNAN

INDONESIA SAAT INI ?

NEO-KOLONIAL ?

ATAU

NEO-VOC ?

Politik, Ekonomi, Sosial, Pendidikan dan IPTEKS belum merdeka bersatu ! Political by accident, Politik Tanggap darurat !

(26)
(27)

Kekayaan SDA Indonesia Sejak Zaman VOC sampai Kini Menjadi Perebutan Dunia

(28)

Bagaimana Politik Pertanian Indonesia Saat Ini ?

Letter of Intent (LoI) IMF yang ditandatangani oleh Soeharto pada 1997

semakin memperburuk sektor pertanian . LoI IMF ini secara jelas semakin pro pasar bebas Perjanjian Pertanian AoA WTO di tahun 1995 dan tunduk kepada LoI IMF di tahun 1997

membuat terjadi proses liberalisasi pertanian yang radikal.Menyerahkan sistem pertanian dan nasib petani kepada

mekanisme pasar bebas. Siapa yang kuat dia yang menang dan siapa yang lemah dia yang kalah.

Negara tidak berpihak kepada PETANI KECIL & LEMAH

Negara

(29)

Terjadi pemborosan dan kebocoran APBN yang besar setiap tahun !

Eksploitasi SDA (ada di desa) besar-besaran sampai saat ini ! SDM Desa lemah, SDM yang hebat berkumpul di kota ! SDA desa tak terkelola dg baik

Belanja Negara RI 2019 : Rp. 2.540,4 (Triliun)

I. Belanja Pemerintah Pusat : Rp. 1.527,2

1. Kementerian/Lembaga : Rp. 854,9 2. Non Kementerian/Lembaga: Rp. 672,2 II. Transfer Ke Daerah dan Desa : Rp. 814,4

1. Transfer Ke Daerah : Rp. 744,6

2. Dana Desa (sangat kecil) : Rp. 69.8 (3%) Tak ada stimulus bagi tenaga SDM terdidik untuk

bekerja di desa selama 7 dekade Indonesia merdeka ! Di desa yang bertani orang2 tua !

http://www.kemenkeu.go.id/apbn2019

Fallacy Politik Anggaran ! Teori Minimum Tong Liebig

(30)
(31)

GLOBAL

(Terperangkap)

Food

Drug Disease

s

Temarginalnya Pangan dan Obat Lokal Indonesia

Terjadi Penurunan Imun Tubuh & Kualitas Kesehatan Anak Bangsa

Telah Merubah Mindset dan Life Style Anak Bangsa

(32)

Kebijakan pemerintah pusat dalam melakukan

serangan politik beras kini berdampak serius pada pangan

sagu yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan

orang Maluku. Konon katanya, sagu lebih terbelakang,

kampungan, norak dan semacamnya. Sedangkan

beras, lebih modern. ……….dalam cakapan hari-hari bersama rekan-rekan semalukuan.

Peneliti Pertanian Universitas Pattimura, Wardis Girsang (2014), bahwa masyarakat lokal Maluku mulai meninggalkan sagu dan beralih ke beras.

(33)
(34)

Versus

(35)

Candu Gandum di Indonesia

Gandum menjadi komoditas impor

terbesar setelah bahan bakar dan kedelai.

Turut berperan bagi pelemahan rupiah.

(36)

Kisah Tragis Kelaparan Suku Asmat di Gudang Sagu & Ikan,

Dahsyatnya Pengaruh Pandemik “Virus Berasisi” Merusak

(37)

Politik Pertumbuhan Ekonomi yang mengabaikan teori tong

Liebiq minimum telah merusak dan meluluh-lantakkan

SDA dan tambah memiskin rakyat lemah petani TERJADI PENGURASAN dan PEMBOROSAN SDA

(38)

Pembukaan lahan hutan besar2an, Meluluh-lantakkan lingkungan kampung dan desa masyarakat lokal : mal-nutrisi , infeksi penyakit dll

(39)

Trend Apa yang akan Terjadi Kedepan Era

Pandemic Covid-19 ?

GLOBALISASI VERSUS COVID-19

DE-GLOBALISASI

Masing-masing Negara di Dunia Secara Drastis

Mengurangi Impor dan Ekspor Barang !!!

(40)

Setiap Negara di Dunia secara Otamatis akan Berupaya

Maksimal Mandiri untuk Memenuhi Kebutuhan

Pangan Sehat Rakyatnya.

Agar Terhindar dari Wabah Covid 19 yang Diperkirakan

akan Terus Ada Sepanjang Masa

Peluang dan momentum terbaik untuk

(41)

ERA PENDAMI COVID-19 ADALAH

MOMENTUM TERBAIK BANGSA KITA

UNTUK PEMBANGUNAN KEDAULATAN

PANGAN ASLI INDONESIA

“Jadikan Sagu sebagai Pangan Pokok dan

Fungsional Ramah Lingkungan

(Eco-Healthy Food) Kebanggaan Nenek

Moyang Indonesia yang Lebih

(42)

USULAN POLITIK DAN KEBIJAKAN

PEMBANGUNAN PANGAN BERBASIS SAGU

1. Politik menjadikan kembali “Tepung Sagu” sebagai Pangan Pokok dan Fungsional Indonesia, dimulai dari masyarakat lokal “Eko-sosio-biografis sagu” ke

masyarakat luas Indonesia. Jadikan argumen kuat dan dengan branded : “Sagu adalah Pangan Ramah

Lingkungan (Eco-healthy Food) Kebanggaan Nenek

(43)

USULAN POLITIK DAN KEBIJAKAN

PEMBANGUNAN PANGAN BERBASIS SAGU

2. Ketersediaan SDM berkualitas, handal dan tangguh dengan

jumlah yang cukup serta IPTEKS sagu yang berkualitas dan tepat guna adalah suatu prasyarat yang tidak bisa ditunda-tunda. Diminta

pemerintah dan DPR memandatkan dengan Peraturan Perundangan kepada Universitas/Perguruan Tinggi berbasis kluster lokasi

hutan/kebun sagu untuk mewujudkan SDM dan IPTEKS Sagu untuk sepanjang masa.

3. Tahap awal untuk penyediaan SDM Penyuluh Sagu perlu segera dibangun Pusat Diklat Sagu

(44)

Universitas yang Dimandati untuk Membangun SDM dan

IPTEKS Sagu di INDONESIA

No Provinsi Universitas/{erguruan Tinggi

1. Papua Univ. Cendrawasih, Jayapura

2. Papua Barat Univ. Papua, Manokwari

3. Maluku Univ. Patimura, Ambon

4. Maluku Utara Universitas Negeri Khairun, Ternate 5. Sulawesi Utara Univ. Sam Ratulangi, Menado

6. Sulawesi Tenggara Universitas Halu Oleo, Kendari 7. Sulawesi Selatan Universitas Hasanuddin, Makasar 8. Kalimantan Barat Universitas Tanjungpura, Pontianak 9. Kalimantan Selatan Univ. Lambung Mangkurat, Banjarbaru 10 Kalimantan Timur Univ. Mulawarman, Samarinda

11 Riau Universitas Riau, Pekanbaru

12 Sumatera Barat (Mentawai) Universitas Andalas, Padang

13 Aceh Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 14 Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara, Medan

(45)

USULAN POLITIK DAN KEBIJAKAN

PEMBANGUNAN PANGAN BERBASIS SAGU

4. Ubah politik struktur anggaran APBN maupun APBD

yang berpihak untuk pembangunan desa sagu

֍ Subsidi petani sagu lokal adalah suatu keniscayaan

֍ Insentif yang cukup bagi tenaga penyuluh sagu di

lapangan

֍ Blok Grant yang cukup dan berkelanjutan bagi

Universitas Mandatoris Sagu untuk menghasilkan

SDM dan IPTEKS

֍ Anggaran pembangunan infrastruktur yang ramah

lingkungan dan berdaya tepat guna secara

(46)

USULAN POLITIK DAN KEBIJAKAN

PEMBANGUNAN PANGAN BERBASIS SAGU

5. Pemerintah harus berpihak dan komitmen terhadap petani sagu, karena kegiatan pertanian sagu jauh lebih berat,

beresiko dan besar tantangannya di lapangan . Pemerintah harus komitmen (dengan regulasi) memberi jaminan

stimulus bagi “petani sagu', siapapun yang mau menjadi

petani sagu yang bekerja dengan giat, stimulusnya

pemerintah harus menjamin kesejahteraannya. Kebijakan al. harus dituangkan dalam regulasi (1)harga yang

menguntungkan, (2)subsidi faktor produksi, dan (3) perlindungan atas produk lokal.

6. Penyediaan atau pembagian lahan kepada petani sagu yang benar-benar dihitung minimal dan maksimal kepemilikan lahannya mengacu pada economic of scale

(47)

USULAN POLITIK DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

PANGAN BERBASIS SAGU

7. Pemerintah mendirikan BULOG SAGU yang berazaskan

Koperasi, yang mempunyai tugas pokok al. :

֍ Memberikan petunjuk dan nasehat dalam mengelola usaha tani sagu, penguasaan teknologi, dan penyebaran informasi pertanian sagu.

֍ Mengumpulkan, mengangkut dan mengolah bahan baku sagu menjadi tepung sagu dan mendistribusikan serta menjualkan produk tepung sagu.

֍ Menyediakan sarana produksi, berperan sebagai bank, bahkan juga sebagai lembaga asuransi dan layanan kesehatan bagi petani.

8. Pengusahaan hutan/kebun alam sagu harus menerapkan prinsip kelestarian atau keberlanjutan hasil, dengan menerapkan

kearifan lokal yang sudah berlaku dan teruji oleh masyarakat local. Termasuk penerapan sistem pemanenan tebang pilih dan

(48)

USULAN POLITIK DAN KEBIJAKAN

PEMBANGUNAN PANGAN BERBASIS SAGU

9. Hutan/kebun sagu yang rusak akibat pemanenan

sagu yang berlebihan harus dilakukan dengan sistem pertanian sagu terpadu, yaitu dengan sistem agroforestri sagu yang diintegrasikan dengan kearifan masyarakat lokal dengan

penanaman tanaman pangan semusim lainnya, peternakan dan perikanan.

(49)

Alhamdulillah

(50)

Pustaka

1. Pawera, L., N.I.Lipoeto, A.Khomsan dan E.A.M. Zuhud. 2018. Buku Panduan untuk Masyarakat. Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Gizi dan Kesehatan Masyarakat. IPB University, Czech University of Life Sciences, Andalas University, CIFOR, Bioversity International and Swisscontact Indonesia

2. Collins, Elizabeth Fuller. 2008. Indonesia Dikhianati. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

3. AMZU, Ervizal. 2011. Operasi Membangkitkan Dan Mengembangkan Desa-kampung Konservasi Keanekaragaman Hayati Di Seluruh Wilayah NKRI, Untuk Mendukung Kedaulatan Pangan, Energi, Kesehatan Dan Obat Keluarga

(Pekoga) Indonesia Dalam Menghadapi Ancaman Krisis Baru Ekonomi Dunia di Era Globalisasi. Bahan Orasi GB. IPB Press. Bogor

Referensi

Dokumen terkait