Tantangan Penyediaan Sarana Prasarana Perpustakaan

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Vol. 01, Ed 2, Maret 2021

Perhatian Terhadap

Perkawinan Anak Indonesia

Hal. 1

Kebijakan Pelaksanaan

Vaksinasi Covid-19

Hal. 3

Tantangan Penyediaan Sarana

Prasarana Perpustakaan

(2)

Penanggung Jawab

Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E., M.Si.

Pemimpin Redaksi

Slamet Widodo

Redaktur

Marihot Nasution * Martha Carolina Savitri Wulandari * Mutiara Shinta Andini

Editor

Marihot Nasution

Sekretariat

Husnul Latifah * Musbiyatun Memed Sobari * Hilda Piska Randini

Budget Issue Brief Kesejahteraan Rakyat ini diterbitkan oleh Pusat Kajian Anggaran,Badan Keahlian DPR RI. Isi dan hasil penelitian dalam tulisan-tulisan di terbitan ini sepenuhnya tanggung jawab para penulis dan bukan merupakan pandangan resmi Badan Keahlian DPR

RI.

(3)

www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran

1

Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 2, Maret 2021

Komisi VIII

KESEJAHTERAAN RAKYAT

Perkawinan anak adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang yang belum dewasa atau di bawah usia 18 tahun. Definisi ini mengacu pada Konvensi Hak-Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa

United Nation Convention on the Rights of the Child (UNCRC) yang menetapkan bahwa batasan bagi usia anak adalah 18 tahun. Sementara itu, Indonesia melalui Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menetapkan bahwa usia perkawinan untuk perempuan adalah 16 tahun sedangkan laki-laki adalah 19 tahun. Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencegah perkawinan anak kemudian terwujud dengan terbitnya UU 16/2019 yang mengubah Pasal mengenai batas minimum usia perkawinan anak dalam UU 1/1974 tentang Perkawinan. Dengan terbitnya UU 16/2019 Tentang Perubahan Atas UU 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batas minimum usia perkawinan perempuan meningkat dari 16 tahun menjadi 19 tahun.

Meskipun berlaku UU 16/2019, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama mencatat bahwa selama Januari hingga Juni 2020 terdapat 34.000 permohonan dispensasi yaitu pemberian hak kepada seseorang untuk menikah meskipun usianya belum mencapai batas minimal 19 tahun. Dari jumlah permohonan dispensasi tersebut sebanyak 97 persen permohonan dikabulkan dan 60 persen yang mengajukan permohonan tersebut merupakan anak di bawah umur. Padahal sepanjang 2019 diketahui hanya terdapat 23.700 permohonan dispensasi. Faktor yang menyebabkan meningkatnya pernikahan dini di tengah pandemi antara lain karena masalah ekonomi. Banyaknya PHK dan keadaan keadaan ekonomi yang sulit membuat beberapa orang tua beranggapan bahwa dengan menikahkan anak mereka dapat meringankan beban keluarga, walaupun usia menikah legal tanpa memerlukan persetujuan orang tua yaitu 19 tahun di UU 16/2019. Hal ini dapat dilakukan melalui pengajuan permohonan dispensasi oleh orang tua dari salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.

Jaminan terhadap hak anak tercantum di dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perkawinan anak berdampak kepada ekonomi, sosial, kesehatan dan tingginya tingkat perceraian di Indonesia. Tingkat perceraian antara usia 20-24 tahun lebih tinggi pada yang menikah sebelum usia 19 tahun. Hal ini dikarenakan

• Perkawinan anak merupakan

perkawinan seseorang yang belum dewasa yaitu dibawah usia 18 tahun baik laki – laki maupun perempuan.

• Terjadi peningkatan 34.000

permohonan dispensasi yang diajukan pada Januari hingga Juni

2020. Sebanyak 97 persen

permohonan dikabulkan. Sebanyak 60 persen yang mengajukan dispensasi adalah anak di bawah

umur (19 tahun). Padahal

sepanjang 2019 diketahui hanya terdapat 23.700 permohonan.

• Perkawinan anak akan berdampak pada aspek ekonomi, sosial, kesehatan dan memicu tingginya tingkat perceraian. Hal ini berdampak pada bertambahnya beban masalah pemerintah dalam menjalankan program wajib belajar memicu bertambanya masalah kesehatan ibu dan bayi dan menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia,

HIGHLIGHT

PUSAT KAJIAN ANGGARAN

Badan Keahlian DPR RI

Penanggung Jawab

Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E

Redaktur:

Slamet Widodo · Marihot Nasution · Martha Carolina · Mutiara Shinta Andini · Savitri Wulandari

Penulis

Martha Carolina · Arjun Rizky Mahendra Nazhid

(4)

tinggi menghadapi berbagai permasalahan kesehatan. Tingginya angka kematian ibu (AKI) setelah melahirkan disebabkan karena ketidaksiapan fungsi-fungsi reproduksi ibu secara biologis dan psikologis. Anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Selain kesehatan ibu, angka kematian bayi bagi ibu remaja juga lebih tinggi dan 14 persen bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur. Kemungkinan anak-anak tersebut mengalami hambatan pertumbuhan (stunting) selama 2 tahun juga meningkat sebanyak 30-40 persen. Perkawinan anak di bawah umur membatasi akses anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang cukup dan memperoleh pekerjaan produktif yang nantinya berdampak dalam mempersulit anak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik akibat kemiskinan. Perkawinan anak memaksa anak putus sekolah sehingga menghambat program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah. Dengan lebih dari 90 persen perempuan usia 20-24 tahun yang menikah secara dini tidak lagi bersekolah. Pendidikan yang rendah akan memicu naiknya tingkat pengangguran karena anak yang menikah dini dan berpendidikan rendah tersebut tidak mampu bersaing di pasar kerja.

Data Perkawinan Anak

Pada tahun 2017, angka perkawinan anak di Indonesia mencapai 11,54 persen. Angka tersebut turun pada 2018 menjadi 11,21 persen, dan tahun 2019 turun 10,82 persen. Pada tahun 2020, angka tersebut juga terus menurun walau tak siginifikan, yakni mencapai 10,19 persen.

BAPPENAS telah menentukan bahwa pencegahan perkawinan anak adalah salah satu isu strategis yang tercantum di dalam RPJMN 2020 - 2024 untuk Perlindungan Anak pada tahun 2019. Dokumen teknokratik yang sudah disusun oleh BAPPENAS menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia membuat target untuk merubah angka perkawinan anak yang sebelumnya 11,21 persen di tahun 2018 menjadi 8,74 persen pada tahun 2024. Komitmen di dalam RPJMN ini juga diperkuat dengan penyusunan Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak.

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2018

Upaya Yang Dilakukan Dalam Menurunkan Angka Perkawinan Anak

1) Penguatan hukum yang memastikan bahwa kebijakan yang dibuat baik atau tidak untuk melindungi anak perempuan dari perkawinan anak seperti peningkatan usia minimum perkawinan,

2) Memastikan layanan pendidikan dan kesehatan berkualitas tersedia untuk mencegah dan menangani perkawinan anak bagi semua anak terutama bagi kelompok anak yang lebih rentan dibanding anak lainnya, 3) Memadukan pendekatan perlindungan anak, penguatan sistem kesejahteraan anak untuk mengatasi kemiskinan yang menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya perkawinan anak,

4) Perubahan pola pikir mengenai dan perlindungan akses anak pada hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), kesetaraan gender dan partisipasi kaum muda, dan

5) Mendukung riset lebih lanjut yang berfokus kepada intervensi pada anak perempuan yang menikah, KDRT setelah perkawinan anak, perkawinan anak di perkotaan dan anak laki-laki yang menikah.

Meskipun strategi nasional pencegahan perkawinan anak telah hadir, namun strategi tersebut akan sia-sia jika permohonan dispensasi perkawinan anak tetap banyak dikabulkan. Target penurunan prevalensi perkawinan anak akan semakin sulit tercapai dengan hadirnya permohonan dispensasi tersebut.

1,6 1,38 1,35 1,38 1,15 1,05 0,99 0,6 0,54 0,48 0,56 14, 67 14, 08 13, 48 13, 97 14, 02 13, 59 13, 55 12, 14 11, 11 11, 54 11, 21 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Prevalensi Perkawinan Anak di Indonesia

(5)

www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran

1

Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 2, Maret 2021

Komisi IX

KESEJAHTERAAN RAKYAT

Pemerintah telah menetapkan pandemi Corona Virus Disease

2019 (Covid-19) sebagai bencana non alam sesuai dengan Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2020 tentang Penyebaran Bencana Nonalam Covid-19 sebagai Bencana Nasional, Covid-19 ini telah berdampak pada meningkatnya jumlah korban dan harta benda, meluasnya cakupan wilayah yang terkena bencana, serta menimbulkan implikasi pada aspek sosial ekonomi yang luas di Indonesia. Upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanganan pemberian vaksinasi ini merupakan salah satu dari 5 (lima) instruksi presiden untuk program vaksinasi Covid-19 yaitu: vaksin Covid-19 diberikan secara gratis.

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 ini pun didukung oleh beberapa payung hukum yang menguatkan bahwa pemerintah sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, khususnya dari segi kesehatan yang berdampak pada ekonomi, sosial, dan budaya, serta meyakinkan kepada masyarakat terkait keamanan, manfaat, dan efikasi vaksin. Beberapa payung hukum tersebut antara lain: 1) Peraturan Presiden No. 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin Dan Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19); 2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 84 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19); 3) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor H.K.01.07/MENKES/9860/2020 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor H.K.01.07/MENKES/12758/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19. Dengan adanya beberapa dasar hukum ini menjadikan pemerintah harus fokus dan konsisten mulai dari pengadaan, distribusi dan pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Tujuan dilaksanakannya vaksinasi Covid-19 di Indonesia adalah membentuk kekebalan kelompok terhadap suatu penyakit yang terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri, menurunkan kesakitan dan kematian akibat terkena virus Covid-19, melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh, dan menjaga produktivitas serta meminimalkan dampak sosial dan ekonomi. Adapun 3 (tiga) manfaat dari vaksin Covid-19 adalah memberikan kekebalan kepada masing-masing individu yang divaksinasi langsung, memberikan kekebalan kepada kelompok apabila banyak orang yang divaksinasi, dan memberi

• Penerapan protokol kesehatan saja tidak cukup dalam pencegahan dan penanganan Covid-19, diperlukan intervensi yang efektif pemerintah melalui upaya pemberian vaksin Covid-19.

• Vaksin akan diberikan kepada 181.554.465 jiwa dengan total

kebutuhan vaksin sebanyak

426.800.000 dosis.

• Vaksinasi Covid-19 dilaksanakan sebanyak 2 tahap, tahap pertama pada bulan Januari - April tahun 2021, dan tahap kedua pada bulan April tahun 2021 - Maret tahun 2022.

• Waktu pelaksanaan pemberian vaksinasi Covid-19 ini dilakukan 2

(dua) tahap dengan

mempertimbangkan hal - hal sebagai berikut: ketersediaan vaksin, waktu kedatangan vaksin, dan profil keamanan vaksin.

HIGHLIGHT

PUSAT KAJIAN ANGGARAN

Badan Keahlian DPR RI Penanggung Jawab

Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E

Redaktur:

Slamet Widodo · Marihot Nasution · Martha Carolina · Mutiara Shinta Andini · Savitri Wulandari

Penulis

Marihot Nasution · Firly Nur Agustiani

(6)

Penerima vaksin adalah penduduk yang berusia 18 tahun – 59 tahun serta penduduk yang sedang tidak hamil dan menyusui, bagi penduduk yang memiliki penyakit penyerta pun dapat memperoleh vaksin selama penyakit yang dimiliki terkontrol dengan baik. Data jumlah masyarakat hingga saat ini yang akan menerima vaksin Covid-19 sebanyak 181.554.465 jiwa dengan total kebutuhan vaksin sebanyak 426.800.000 dosis, ini semua keseluruhan biayanya ditanggung oleh pemerintah1. Terdapat 5 (lima) prinsip dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19, yaitu: 1) pemberian vaksinasi Covid-19 dilakukan oleh dokter, perawat atau bidan yang memiliki kompetensi; 2) pelaksanaan pelayanan vaksinasi Covid-19 tidak menganggu pelayanan imunisasi rutin dan pelayanan kesehatan lainnya; 3) melakukan screening terhadap status kesehatan sasaran sebelum dilakukan pemberian vaksinasi; 4) menerapkan protokol kesehatan; dan 5) mengintegrasikan dengan kegiatan surveilans Covid-19 terutama dalam mendeteksi kasus dan analisa dampak.

Pemerintah akan melakukan vaksinasi Covid-19 sebanyak 2 (dua) tahap, tahap 1 akan dilaksanakan periode Januari-April tahun 2021 yang akan diberikan kepada 1,4 juta jiwa petugas kesehatan dan 17,4 juta jiwa petugas publik serta 21,5 juta jiwa masyarakat lanjut usia dengan rekomendasi tenaga kesehatan, dan tahap 2 akan dilaksanakan periode April tahun 2021-Maret tahun 2022 yang akan diberikan kepada 63,9 juta masyarakat rentan (masyarakat di daerah dengan risiko penularan tinggi) dan 77,4 juta jiwa masyarakat lainnya (dengan pendekatan cluster sesuai dengan ketersediaan vaksin). Waktu pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan dalam 2 (dua) tahap ini mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan dan profil keamanan vaksin. Tempat pelayanan vaksinasi Covid-19 dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, berupa: 1. puskesmas, puskesmas pembantu; 2. klinik; 3. rumah sakit; dan/atau 4. klinik kantor kesehatan pelabuhan2.

Dalam hal penetapan vaksin Menteri Kesehatan berdasarkan rekomendasi Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) atau Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dan pertimbangan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) mencabut KMK No. H.K.01.07/MENKES/9860/2020 yang ditetapkan tanggal 3 Desember 2020 menetapkan 6 (enam) jenis vaksin terdiri dari Sinovac, Pfizer BioNTech, Moderna, PT. Bio Farma, AstraZeneca, dan Sinopharm, digantikan dengan KMK No. H.K.01.07/MENKES/12758/2020 yang ditetapkan tanggal 28 Desember 2020 menetapkan 7 (tujuh) jenis vaksin terdiri dari Sinovac, Pfizer BioNTech, Moderna, PT. Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, dan Novavax. Dari beberapa jenis vaksin tersebut memiliki tingkat efikasi/keampuhan berbeda-beda yaitu: Sinovac (65,3 persen), Pfizer BioNTech (95 persen), Moderna (94,1 persen), PT. Bio Farma (65,3 persen), AstraZeneca (70 persen), Sinopharm (79 persen), dan Novavax (89,2 persen). Ketujuh jenis vaksin ini telah dinyatakan selesai dalam pengujian klinik tahap ketiga. Dari ketujuh jenis vaksin tersebut, yang memiliki efikasi terendah adalah Sinovac dengan efikasi 65,3 persen, namun menurut WHO vaksin tersebut sudah lulus standar keamanan minimal 50 persen.

Menurut Kepala BPOM hasil evaluasi terkait keamanan vaksin yang diproduksi Sinovac Biotech telah didaftarkan di Indonesia oleh PT. Bio Farma CoronaVac diperoleh dari studi klinik fase 3 yang dipantau sampai periode 3 (tiga) bulan setelah penyuntikan dosis yang ke 2 secara keseluruhan menunjukkan vaksin CoronaVac aman dengan kejadian efek samping yang ditimbulkan bersifat ringan hingga sedang seperti nyeri indurasi (iritasi), kemerahan, dan pembengkakan, untuk efek samping sistemik berupa myalgia (nyeri otot), fatigue, dan demam3. Dengan ini dipastikan vaksin Covid-19 aman untuk digunakan.

1 https://covid19.go.id/berita/data-vaksinasi-covid-19-update-23-februari-2021 2 Paparan Kementerian Kesehatan tentang Kebijakan Vaksinasi COVID-19

(7)

www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran

1

Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 2, Maret 2021

Komisi X

KESEJAHTERAAN RAKYAT

Pendahuluan

Dalam menghadapi isu rendahnya literasi masyarakat, Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan budaya literasi dan menuangkannya dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2021. Namun demikian, masih terdapat beberapa permasalahan hulu terkait sarana prasarana perpustakaan yang menjadi hambatan dalam rangka peningkatan budaya literasi tersebut.

Tantangan Sarana Prasarana Perpustakaan

Terdapat beberapa tantangan pembangunan sarana dan prasarana perpustakaan yang harus menjadi perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan budaya literasi di Indonesia, antara lain:

Pertama, ketersediaan perpustakaan yang belum memadai. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menjelaskan bahwa masyarakat mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan, memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan. Kewajiban pemerintah atas ketersediaan perpustakaan di masyarakat diperjelas pada pasal 7 yang menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di tanah air.

Data yang dirilis oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) 2019 menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan perpustakaan secara nasional baru terpenuhi 20 persen, yakni baru 154.359 perpustakaan dari rasio kebutuhan sebesar 767.952 perpustakaan.

Kedua, terbatasnya ketersediaan bahan bacaan. Rasio ideal ketersediaan jumlah koleksi bahan perpustakaan terhadap populasi menurut IFLA/UNESCO adalah 2:1 atau dua koleksi untuk satu penduduk. Menggunakan penghitungan rasio ini, nampak bahwa jumlah koleksi yang saat ini tersedia masih sangatlah jauh dari kondisi ideal. Jumlah koleksi di perpustakaan umum saat ini hanya sebesar 4,16 persen dari jumlah koleksi ideal yang berarti perpustakaan Indonesia kekurangan koleksi sebesar 513.830.831 eksemplar (Perpusnas, 2021).

Ketiga, ketersediaan pustakawan belum memadai. Berdasarkan data Statistik Pustakawan pada laman Perpusnas per Februari 2021, jumlah fungsional pustakawan yang tersebar di 34 provinsi Indonesia berjumlah 4.010 orang. Dengan jumlah kebutuhan pustakawan sebanyak 79.915 orang, maka saat ini Indonesia kekurangan 75.905 pustakawan.

• Sarana dan prasarana

perpustakaan di Indonesia belum memadai dilihat dari jumlah perpustkaaan, jumlah koleksi bahan perpustakaan, dan jumlah pustakawan yang masih jauh dari kondisi ideal.

• Terdapat ketidakselarasan antara target 2021 dan capaian saat ini pada indikator rasio ketercukupan koleksi perpustakaan dengan jumlah penduduk.

• Rata-rata pagu anggaran

Perpustakaan Nasional selama 5 (lima) tahun terakhir adalah sebesar Rp619.385.821.000

HIGHLIGHT

PUSAT KAJIAN ANGGARAN

Badan Keahlian DPR RI

Penanggung Jawab Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E Redaktur:

Slamet Widodo. · Marihot Nasution · Martha Carolina · Mutiara Shinta Andini · Savitri Wulandari

Penulis Savitri Wulandari

(8)

RKP tahun 2021. Pemerintah menetapkan Peningkatan Budaya Literasi sebagai salah satu kegiatan prioritas yang mendukung capaian Program Prioritas Peningkatan Budaya Literasi, Inovasi dan Kreativitas Bagi Terwujudnya Masyarakat Berpengetahuan, dan Berkarakter. Kegiatan prioritas tersebut kemudian diturunkan ke dalam 3 indikator, yaitu: (i) Rasio ketercukupan koleksi perpustakaan dengan penduduk; (ii) Rasio ketercukupan tenaga perpustakaan dengan penduduk; (iii) Persentase peningkatan perpustakaan sesuai standar.

Tabel 1. Perbandingan Indikator pada RKP 2021 dan Kondisi Saat Ini

Sumber: Berbagai sumber (diolah)

Pada tabel di atas nampak bahwa indikator-indikator kegiatan pada dokumen RKP telah selaras dengan penyelesaian beberapa tantangan pembangunan perpustakaan yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. Namun demikian, apabila dilihat secara lebih detail dengan membandingkan target pada tahun 2021 dan capaian sejauh ini, terlihat adanya ketidakselarasan pada indikator rasio ketercukupan koleksi perpustakaan dengan penduduk.

Rasio ketercukupan koleksi perpustakaan tahun 2020, mengacu pada Bahan Paparan Kepala Perpusnas RI pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR RI pada 25 Januari 2021, adalah 1:12 atau satu buku untuk setiap 12 orang penduduk. Capaian tersebut sudah melebihi target RKP yang sebesar 1:15 sehingga target tersebut dianggap tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini. Untuk itu, Pemerintah hendaknya melakukan penyesuaian terhadap target indikator tersebut.

Sementara terkait target indikator persentase peningkatan perpustakaan sesuai standar sebesar 20,45% atau 384 perpustakaan yang direncanakan untuk terakreditasi pada tahun 2021, hal ini masih dinilai kurang. Dengan jumlah perpustakaan terakreditasi selama 5 (lima) tahun terakhir sebanyak 1.877 perpustakaan dan rata-rata akreditasi pertahun sebanyak 375 perpustakaan, maka untuk mengakreditasi sebanyak 154.359 perpustakaan dibutuhkan waktu selama 411 tahun.

Di samping itu, belum maksimalnya pembangunan perpustakaan secara umum dalam peningkatan literasi di Indonesia salah satunya disebabkan oleh terbatasnya ruang fiskal dalam mendanai berbagai program dan kegiatan perpustakaan. Rata-rata pagu anggaran Perpusnas selama 5 (lima) tahun terakhir adalah sebesar Rp619.385.821.000. Angka tersebut rasanya tidak sebanding dengan besarnya tantangan terkait pembangunan perpustakaan yang dihadapi saat ini. Dibutuhkan dukungan politik anggaran serta formulasi kebijakan pemerintah maupun pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota, keterlibatan dan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memberikan perhatian serius terhadap upaya pengembangan perpustakaan dan mewujudkan masyarakat literat.

Indikator 2020 Target 2021

Rasio Ketercukupan Koleksi Perpustakaan Dengan Penduduk 1:12 1:15 Rasio Ketercukupan Tenaga Perpustakaan Dengan Penduduk 1:20.000 1:19.000

Persentase Peningkatan Perpustakaan Sesuai Standar

(jumlah perpustakaan sesuai standar hingga tahun 2020 sebanyak 1.877 perpustakaan)

20,45% (2.261 perpustakaan

Figur

Memperbarui...

Related subjects :