• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tedi Erviantono, S.IP, M.Si Ni Made Ras Amanda, S.Sos, M.Si I Dewa Ayu Sugiarica Joni, S.Sos, M.A Dewi Yuri Cahyani, S.Sos, M.Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tedi Erviantono, S.IP, M.Si Ni Made Ras Amanda, S.Sos, M.Si I Dewa Ayu Sugiarica Joni, S.Sos, M.A Dewi Yuri Cahyani, S.Sos, M.Si"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Penerapan Metode Simulasi “Mini Pemilu” sebagai Materi Pendukung Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Pada Kalangan Siswa Kelas XI SMA Negeri VIII, Kelurahan Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota

Denpasar

Tedi Erviantono, S.IP, M.Si Ni Made Ras Amanda, S.Sos, M.Si I Dewa Ayu Sugiarica Joni, S.Sos, M.A

Dewi Yuri Cahyani, S.Sos, M.Si

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Abstrak

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan pembekalan pengetahuan kepada para guru dan siswa terkait teknik dan metode kepemiluan, seperti mekanisme pemungutan suara, partisipasi pengawasan dan penghitungan suara dalam pemilu. Kondisi yang ada, para siswa dan guru, khususnya pengampu mata pelajaran PKn, minim pemahaman kepemiluan, akibat materi pemilu yang tidak dibahas secara mendetail pada perangkat pembelajaran serta ketiadaan fasilitator. Metode pembekalan keilmuan tentang kepemiluan ini diberikan melalui dua metode, yaitu workshop bagi guru PKn dan simulasi mini pemilu bagi siswa kelas XI di SMA Negeri VIII Kota Denpasar. Berdasarkan hasil pra tes dan post tes yang dibagikan kepada peserta, proses pengenalan ini tepat sasaran. Hal ini terbukti dari 98% guru maupun siswa memahami mengenai metode kepemiluan, termasuk penghitungan dan rekapitulasi hasil suara dalam pemilu. Kata kunci : Simulasi, Mini Pemilu.

A. Pendahuluan

Pengetahuan mengenai teknik pemungutan suara pada pemilu di kalangan pelajar seringkali terabaikan. Kalangan pelajar ini notabene adalah para pemilih pemula yaitu kelompok usia yang baru pertama kali akan menggunakan hak suaranya dalam pemilu. Pemilih pemula ini berusia antara 17 hingga 21 tahun dan mereka rata-rata duduk di bangku sekolah menengah atas, atau semester awal perkuliahan. Menurut Arbi Sanit, kelompok ini merupakan warga Negara yang memiliki hak suara namun pengetahuan mereka terhadap pemilu masih belum optimal dibandingkan kelompok lain yang sudah memiliki pengalaman dalam keikutsertaannya sebagai masyarakat pemilih (Sanit, 2009 : 35).

Meski dinilai memiliki antusiasme tinggi mengingat rasa penasaran mereka untuk menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya, namun preferensi mereka masih kurang optimal. Padahal menurut Maridjan (2010 : 121), pada kalangan pemilih pemula ini sebaiknya disosialisasikan sejak dini mengenai ragam preferensi tentang cara atau metode pemilihan

(2)

umum, teknik memilih anggota peserta pemilu yang berkualitas sekaligus kiat memilih program secara cerdas, pengetahuan tentang sistem kepartaian, metode peghitungan suara hingga proses pemantauan pemilu. Kegiatan pendidikan ini sangat penting mengingat pemilu merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat untuk dapat memilih pemimpin politik secara langsung dan berkualitas. Pemimpin politik merupakan wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat (parlemen), baik di tingkat pusat, daerah; maupun pemimpin eksekutif (kepala pemerintahan) seperti presiden, gubernur atau bupati/walikota.

Secara realitas, pada pemilu-pemilu sebelumnya, pengetahuan teknik pemungutan suara di kalangan pelajar seringkali diberikan dalam waktu yang serba terbatas, mendesak dan dilakukan sesaat menjelang pemilihan umum digelar. Berangkat dari kondisi inilah maka ragam bentuk sosialisasi maupun pengenalan metode sistem pemilihan umum banyak terbaikan bahkan tidak menyentuh wilayah-wilayah strategis seperti institusi sekolah maupun kampus sekalipun. Hal inilah yang dinilai banyak kalangan termasuk Kacung Maridjan beresiko, antara lain berpotensi dimasukinya kegiatan sosialisasi dengan niatan terselubung dari partai politik, calon legislatif, atau calon peserta pemilu tertentu untuk mengkampanyekan program mereka pada pemilih pemula (Maridjan, 2010 :125). Selain itu, ragam resiko yang muncul adalah adanya apatisme kalangan pemilih pemula yang enggan karena ketidaktahuannya terhadap model atau teknik pemungutan suara sehingga lebih memilih menjadi kelompok golput atau golongan putih (sebagai golongan yang tidak memberi hak suara dan tidak mendukung pelaksanaan pemilu).

Guna mereduksi hal hal tersebut tentunya diperlukan adanya upaya praktek sosialisasi atau simulasi yang sifatnya diberikan sejak dini dan yang terpenting menghantarkan kalangan pemilih pemula ini menjadi tahu akan penggunaan hak suara mereka secara benar, cerdas dan selektif dalam memilih program para peserta pemilu, baik caleg/parpol serta antusiasme dalam mengikuti kegiatan pemilu termasuk upaya-upaya pemantauan akan hasil pemilu.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini tentunya dirancang dalam bentuk simulasi yang diintegrasikan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini seperti yang telah dilakukan di beberapa daerah dan direncanakan , namun hingga kini masih belum bisa terealisasikan karena proses penyusunan materi, hambatan SDM pengajar serta alat peraga (Harian Surya, 1 November 2011).

Sesuai muatan materi, memang terdapat materi ajar yang memiliki kedekatan dengan maksud dari kegiatan teknik simulasi mini pemilu ini yaitu materi Budaya Demokrasi, sub materi

(3)

Teknik Pemilihan Umum dalam mata pelajaran PKn semester 1 kelas XI SMA. Hanya saja akibat ketiadaan daya dukung yang mencukupi, aktualisasinya selama ini sifatnya hanya monologis dan tidak terdapat pengupayaan penyajian materi pelajaran dalam bentuk praktikum atau simulasi meski jam pengajarannya masih mungkin dilaksanakan (Wawancara Awal dengan guru PKn SMAN VIII Kota Denpasar).

Bentuk simulasi ini merupakan suatu metode yang cepat dimengerti oleh kalangan siswa dan diproyeksikan siswa yang masih duduk di kelas XI, pada pemilu 2014 mereka masih tetap sebagai kategori pemilih pemula dengan kisaran usia 18-19 tahun sehingga apabila kegiatan simulasi ini diberikan pada saat ini (dua tahun sebelum pelaksanaan pemilu) maka jangka politiknya lebih panjang dan diharapkan bisa berkelanjutan saat mereka nanti benar-benar menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.

Penulisan kegiatan pengabdian masyarakat ini terinsipirasi pula dari model kegiatan simulasi pemilu sejenis yang diadakan Dinas Pendidikan setempat bersama Komisi Pemilihan Umum pada kalangan murid SMU se-Kabupaten Grobogan, Jateng; SMU Negeri se-Kabupaten Luwu (Sulawesi Tengah); serta Kabupaten Sidoarjo (Jatim ) yang diintegrasikan pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Selain itu, penulisan kegiatan pengabdian ini juga merujuk pada model aktifitas pengabdian masyarakat dari sumber pembiayaan dana DIPA yang telah ada sebelumnya, antara lain Ayub Torry Satriyo Kusumo, S.H., M.H dari Fakultas Hukum UNS Surakarta dengan judul : Voter Education Bagi Pemilih Pemula sebagai Upaya Mengurangi Golongan Putih Dalam Pemilihan Umum di SMUN 5 Surakarta, Jawa Tengah ; serta Pengabdian Masyarakat Pendidikan Politik bagi Pemilih Pemula untuk Keberhasilan Pemilu 2009 di SMAN I Sragen, Jawa Tengah oleh Dra. Sri Yuliani, M.Si, Jurusan Administrasi Negara UNS Surakarta.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan analisis situasi yang ada diatas, maka dapat dirumuskan kondisi masih belum optimalnya pengetahuan teknik pemilihan umum di kalangan pelajar atau pemilih pemula khususnya yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Materi sudah tersedia dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan terjabar pada materi teknik pemilihan umum. Hanya saja dalam pelaksanaannya terkendala metode pembelajaran yang masih monolog sehingga seringkali susah dipahami siswa.

Kondisi ini terjadi akibat ketiadaan daya dukung SDM yang dapat mensimulasikan materi terkait teknik pemilu, minimnya penguasaan guru mata ajar PKn terhadap materi atau

(4)

model-model pemilu serta keterbatasan alat peraga. Padahal materi ini sangat penting mengingat para siswa peserta pelajaran ini merupakan kalangan pemilih pemula yang akan menggunakan hak pilihnya pertamakali pada pemilu 2014 mendatang sehingga preferensi mereka mencukupi untuk mengenali ragam teknik pemilu secara benar, pengenalan profil peserta pemilu, kiat menggunakan hak pilih secara tepat dan cerdas, serta keikutsertaan dalam memantau jalannya pemilu maupun penghitungan suara.

C. Tujuan dan Manfaat Kegiatan C.1. Tujuan

1. Melaksanakan sosialisasi secara dini mengenai teknik atau metode pemilihan umum di kalangan siswa – siswi SMA sekaligus pemilih pemula dalam pemilu 2014 mendatang sehingga merekabisa mendapatkan pengatahuan secara matang yang nanti akan menggunakan hak pilihnya;

2. Mendukung pemahaman Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Materi Budaya Politik, khususnya Sub Materi Teknik Pemilihan Umum dalam bentuk simulasi / praktek pembelajaran “mini pemilu” sekaligus menjadi daya dukung rintisan laboratorium ilmu sosial di SMA Negeri VIII Kota Denpasar ;

3. Membantu ketercapaian kompetensi dasar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) kelas XI dalam mengenali dan menganalisis tipe-tipe budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia dengan melihat pada indikator kemampuan siswa dalam mendeskripsikan tipe-tipe pemilihan umum dan menganalisis dampak perkembangan tipe politik sesuai dengan perkembangan sistem politik yang berlaku;

4. Sarana pengaktualisasian mata kuliah Pengantar Ilmu Politik dan Sistem Politik Indonesia bagi mahasiswa pendamping kegiatan pengabdian masyarakat ini sekaligus mengenalkan program studi Ilmu Politik FISIP Universitas Udayana di kalangan pelajar SMA wilayah Denpasar.

C.2. Manfaat

1. Menambah preferensi pengetahuan para siswa dalam mengenali ragam teknik pemilu secara benar, pengenalan profil peserta pemilu, kiat menggunakan hak pilih secara tepat dan cerdas, serta teknik dalam pemantauan jalannya pemilu maupun

(5)

penghitungan suara yang terintegrasi dalam materi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

2. Mereduksi angka golongan putih atau ketidakikutsertaan peserta pemilu dari kalangan pemilih pemula akibat ketidaktahuan teknik pemilu serta secara ideal diharapkan akan mencegah terjadinya praktek money politic (politik uang) yang diindikasikan banyak terjadi pada penyelenggaraan pemilu di Negara kita.

3. Memberikan rekomendasi pada KPU maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali mengenai faktor keberhasilan maupun kegagalan pelaksanaan teknik pembelajaran simulasi “mini pemilu” sebagai pendukung materi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMA .

D. Tinjauan Kepustakaan

Kalangan pelajar merupakan pemilih pemula yaitu kelompok usia yang baru pertama kali akan menggunakan hak suaranya dalam pemilu. Pemilih pemula berusia antara 17 hingga 21 tahun dan rata-rata duduk di bangku sekolah menengah atas atau semester awal perkuliahan. Pemilih pemula merupakan warga Negara yang memiliki hak suara namun pengetahuan mereka terhadap pemilu masih belum optimal dibandingkan kelompok lain yang memiliki pengalaman dalam keikutsertaannya sebagai pemilih (Sanit, 2009 : 35).

Berdasarkan data Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) jumlah pemilih pemula yang menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2009 berjumlah sekitar 20 – 30 persen dari jumlah pemilih secara keseluruhan yaitu 170 juta pemilih. Angka ini diprediksikan oleh LSI akan menaik tajam pada saat pemilu 2014 mendatang (Media Indonesia, 6 Agustus 2011). Peran pemilih pemula sangat signifikan bagi partai politik, sebab pelajar atau pemilih pemula secara psikologis sangat mudah dipengaruhi atau diarahkan untuk melakukan sesuatu, terutama apabila yang mempengaruhi adalah orang-orang yang mereka anggap sebagai tokoh atau idola, seperti guru, tokoh agama, artis, atau tokoh lain sebagai vote getter (pendongkrak perolehan suara) (Maridjan, 2010 : 126).

Beberapa partai tersebut selain membentuk organisasi sayap, juga secara gencar menarik simpati pemilih pemula dengan beragam iklan simpatik dan kental dengan nuasa kaum muda, seperti menampilkan tokoh dan artis muda yang menjadi idola pelajar. Besarnya potensi pemilih pemula ini sejak dini harus mendapat perhatian khusus sehingga mereka tidak hanya dimanfaatkan oleh partai politik ataupun pemanfaatan pemilih pemula dengan mobilisasi suara

(6)

melalui kampanye yang tidak mendidik.Hal ini seperti kehadiran mereka saat kampanye hanya karena alasan senang pada sifat keramaiannya saja tetapi tetap tidak perduli pada hakikat penyelenggaraan pemilu itu sendiri. Kondisi yang lebih memprihatinkan lagi, saat mereka sangat rentan diprovokasi bertindak anarkis dengan merusak fasilitas umum atau tawuran dengan peserta kampanye lainnya. (Harian Surya, 1 November 2011).

Ketidak-pedulian kalangan pemilih pemula juga disebabkan kurangnya sosialisasi yang dilakukan penyelenggara pemilu (baca : KPU) yang volume kerjanya sangat kompleks dalam mempersiapkan rangkaian penyelenggaraan pemilu yang serba terbatas waktu maupun sumber daya pelaksananya. Melihat dari kondisi inilah, maka selain rentan dimanfaatkan partai politik, pemilih pemula juga rentan akan menjadi golput, karena kepedulian mereka terhadap pemilu. Hal ini misalnya ditilik dari banyaknya beban pendidikan yang harus siswa hadapi, yaitu persiapan belajar untuk proses Ujian Akhir Nasional (UAN) saat di kelas XII. Pada kondisi ini akibatnya perhatian mereka untuk mengikuti pemilu menjadi tergeser, sehingga tepat kiranya langkah sosialisasi ini diberikan pada saat siswa masih berada di kelas XI.

Kalangan pelajar atau pemilih pemula ini harus diberikan pengertian dan pemahaman tentang pemilu secara lebih baik dan proporsional, yang mencakup teknik pemilihan umum, kapabilitas peserta pemilu, teknik pengawasan pemilu maupun penghitungan suara, dimana semuanya diarahkan pada usaha bagaimana kalangan pelajar atau pemilih pemula memaknai pemilu sebagai mekanisme perubahan bangsa untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Metode simulasi merupakan metode mengajar yang digunakan dalam pembelajaran kelas. Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Metode mengajar simulasi banyak digunakan pada pembelajaran IPS, PKn, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Apresiasi (Unesa : 2010). Pembinaan kemampuan bekerjasama, komunikasi dan interaksi merupakan bagian dari keterampilan yang akan dihasilkan melalui pembelajaran simulasi. Metode mengajar simulasi lebih banyak menuntut aktivitas siswa sehingga metode simulasi sebagai metode yang berlandaskan pada pendekatan keterampilan proses.

(7)

Disamping itu, metode ini dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis konstektual, salah satu contoh bahan pembelajaran dapat diangkat dari kehidupan sosial, nilai-nilai sosial maupun permasalahan-permasalahan sosial yang aktual maupun masa lalu untuk masa yang akan datang. Permasalahan- permasalahan yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan sosial maupun membentuk sikap atau perilaku dapat dilakukan melalui pembelajaran ini. Langsung maupun tidak langsung melalui simulasi kemampuan siswa yang berkaitan dengan bermain peran dapat dikembangkan. Siswa akan menguasai konsep dan keterampilan intelektual, sosial, dan motorik dalam bidang-bidang yang dipelajarinya serta mampu belajar melalui situasi tiruan dengan sistem umpan balik dan penyempurnaan yang berkelanjutan.

Dalam pembelajaran, siswa akan dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Disamping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Model yang dikenal sebagai simulasi sekaligus digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah bermain peran (role playing). Metode ini mengutamakan pola permainan dalam bentuk dramatisasi. Dramatisasi dilakukan kelompok siswa dengan mekanisme pelaksanaan yang diarahkan oleh guru maupun pendamping untuk melaksanakan kegiatan yang telah ditentukan / direncanakan sebelumnya. Simulasi ini lebih menitik beratkan pada tujuan untuk mengingat atau menciptakan kembali gambaran masa silam yang memungkinkan terjadi pada masa yang akan datang atau peristiwa yang aktual dan bermakna bagi kehidupan sekarang. Beberapa prosedur dalam metode simulasi antara lain : Pertama, menetapkan topik simulasi yang diarahkan oleg guru; Kedua, menetapkan kelompok dan topik-topik yang akan dibahas; Ketiga, simulasi diawali dengan petunjuk dari guru tentang prosedur, teknik, dan peran yang dimainkan; Keempat, proses pengamatan terhadap proses, peran, teknik, dan prosedur dapat dilakukan dengan diskusi; dan Kelima, kesimpulan dan saran dari kegiatan simulasi.

Menurut Suwarna, M.Pd (dalam Benny, 2005 : 67) langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam melaksanakan simulasi adalah :

1. Menentukan topik serta tujuan yang ingin dicapai

2. Memberikan gambaran tentang situasi yang akan disimulasikan 3. Membentuk kelompok dan menentukan peran masing-masing 4. Menetapkan lokasi dan waktu pelaksanaan simulasi

(8)

6. Melakukan penilaian

Kemampuan guru maupun tenaga pendamping yang harus diperhatikan untuk menunjang metode simulasi antara lain kemampuan membimbing siswa dalam mengarahkan teknik, prosedur, dam peran yang akan dilakukan dalam simulasi; mampu memberikan ilustrasi; mampu menguasai pesan yang dimaksud dalam simulasi tersebut; serta mampu mengamati secara proses simulasi yang dilakukan oleh siswa. Sedangkan kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan dalam penerapan metode simulasi adalah ; kondisi, minat, perhatian dan motivasi siswa dalam bersimulasi; pemahaman terhadap pesan yang akan menstimulasikan; serta kemampuan dasar berkomunikasi dan berperan.

Keunggulan penggunaan metode simulasi diantaranya adalah siswa dapat melaksanakan interaksi sosial dan kominikasi dalam kelompoknya; aktivitas siswa cukup tinggi dalam pembelajaran sehingga terlibat langsung dalam pembelajaran; dapat membiasakan siswa untuk memahami permasalahan sosial , hal ini dapat dikatakan sebagai implementasi pembelajaran yang berbasis konstekstual; melalui kegiatan kelompok dalam simulasi dapat membina hubungan personal yang positif; dapat membangkitkan imajinasi; serta membina hubungan komunikatif dan kerjasama dalam kelompok.

E. Pelaksanaan Kegiatan E.1. Realisasi Pemecahan Masalah

Dari permasalahan diatas, segenap dosen dan dibantu tenaga mahasiswa program studi ilmu politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana memberikan sumbangsih berupa kegiatan pengabdian masyarakat simulasi mini pemilu sebagai penunjang materi mata pelajaran Pendidikan Kewargangeraan dengan memberikan dampingan/fasilitasi pada para guru PKn maupun siswa kelas XI SMAN VIII Kota Denpasar. Kegiatan ini terbagi atas tahapan sebagai berikut :

Tahapan Kegiatan

Tahap I Workshop Teknik dan Metode Kepemiluan, Mekanisme Pemungutan Suara dan Partisipasi Pengawasan dan Penghitungan Suara dalam Pemilu pada para guru PKn SMAN VIII Kota Denpasar

(9)

Pemungutan Suara dan Partisipasi Pengawasan dan Penghitungan Suara dalam Pemilu pada para siswa kelas XI SMAN VIII Kota Denpasar.

E.2. Khalayak Sasaran

Khalayak sasaran dari kegiatan simulasi mini pemilu ini adalah guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) serta siswa siswi kelas XI SMAN VIII Kota Denpasar. Diharapkan dari kegiatan workshop maupun simulasi yang diberikan oleh dosen FISIP Universitas Udayana ini dapat membantu pemahaman materi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) khususnya mengenai teknik kepemiluan.

E.3. Metode Kegiatan

Metode kegiatan yang dipandang efektif dilakukan adalah kegiatan workshop dan pendampingan simulasi. Kegiatan pada tahap pertama adalah penyelenggaraan workshop yang diberikan oleh dosen dengan didampingi tenaga mahasiswa Program Studi Ilmu Politik FISIP Unud. Peserta workshop adalah guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SMAN VIII Kota Denpasar, sedangkan peserta simulasi adalah siswa-siswi kelas XI SMAN VIII Kota Denpasar.

F. Hasil Kegiatan

Hari/Tanggal Kegiatan Sasaran Lokasi

Kegiatan Rabu, 23 Agustus

2012

Workshop Teknik dan Metode Kepemiluan, Mekanisme

Pemungutan Suara dan Partisipasi Pengawasan dan Penghitungan Suara dalam Pemilu pada para guru PKn SMAN VIII Kota Denpasar 1 Kepala Sekolah, dan 3 guru PKN. Aula SMAN VIII Peguyangan Kaja Kota Denpasar Kamis, 24 Agustus 2012 Kegiatan Simulasi Teknik Metode Kepemiluan, Mekanisme

Pemungutan Suara dan Partisipasi Pengawasan dan Penghitungan Siswa-Siswi SMAN VIII Aula SMAN VIII Peguyangan Kaja Kota Denpasar

(10)

Suara dalam Pemilu pada para siswa kelas XI SMAN VIII Kota Denpasar. 25 Agustus - 25 Oktober 2012 Pelaporan Kegiatan Pengabdian Masyarakat Laporan Hasil Kegiatan

Kegiatan pengabdian masyarakat Simulasi Mini Pemilu sebagai Penunjang Materi Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ini dilakukan melalui dua bentuk kegiatan. Pertama, kegiatan workshop bagi Guru PKn dan kedua, kegiatan simulasi mini pemilu bagi Siswa Siswi SMAN VIII Kota Denpasar. Workshop diadakan 24 Agustus 2012 pukul 09.00 – 13.00 WITA di Aula SMAN VIII Kota Denpasar. Peserta berjumlah 6 orang yang terdiri dari 3 Guru Pendidikan Kewarganegaraan, 1 Kepala Sekolah dan 2 Pendamping dari KPU Kota Denpasar, 6 mahasiswa Program Studi Ilmu Politik dan 7 dosen anggota kegiatan pengabdian masyarakat.

Gambar 1

Workshop Kepemiluan bagi Guru PKn

Kondisi yang terjadi, guru PKn masih belum memahami materi dasar kepemiluan, teknis pemungutan suara maupun penghitungan suara. Kondisi ini tercermin dari hasil angket/kuesioner pra tes yang diserahkan kepada para peserta workshop yaitu para Guru PKn di SMAN VIII Kota Denpasar. Hasil pra tes menunjukkan 100% Guru PKn tidak tahu teknik penghitungan dan rekapitulasi suara. Sedangkan 33% tidak mengetahui mekanisme pemungutan suara dalam pemilu dan mengetahui calon yang tepat dalam pemilihan umum dan 33% tidak mengetahui cara tepat memilih calon dalam pemilu secara independen. Pemahaman materi tentang hakikat pemilu, perbedaan pemilu eksekutif dan legislatif, diketahui para guru PKn dari sumber pembelajaran buku paket, media massa, serta internet. Mekanisme pemilu diketahui

(11)

berdasarkan pengalaman aktual para guru saat mereka menjadi pemilih pemilu yang pernah diikuti sebelumnya. Pemahaman materi terkait pemilihan umum diakui 100% guru PKn akibat minimnya pengetahuan tentang mekanisme pemilu, keterbatasan dan ketidaklengkapan materi; sulitnya melakukan simulasi karena tidak terdapat dalam silabus pembelajaran; serta terbatasnya jam pertemuan belajar karena materi pemilu tidak dibahas pada bab tersendiri melainkan hanya pada sub bab budaya politik sehingga guru maupun siswa kesulitan melakukan simulasi/praktek akibat jangkauan materi yang terlalu dangkal.

Secara awal, pemaparan materi workshop membahas pengertian tentang pemilihan umum, bentuk-bentuk pemilihan umum, tata cara pemilu, pengenalan logistik perlengkapan pemilu hingga pengertian-pengertian teknis kepemiluan seperti daftar pemilih tetap, kartu pemilih, panwas, dan aduan hasil kepemiluan. Selaku narasumber kegiatan ini adalah ketua tim pengabdian masyarakat dibantu dua dosen Program Studi Ilmu Politik, serta narasumber Komisi Pemilihan Umum Kota Denpasar. Kehadiran narasumber dari KPU Kota Denpasar karena sebelumnya Universitas Udayana mengadakan kesepakatan bersama (MoU) terkait pengabdian masyarakat, penelitian dan sosialisasi kepada masyarakat luas. Pemaparan kedua tentang pengenalan model teknik pemungutan dan penghitungan suara yang digunakan pada pemilu di Indonesia.

Gambar 2

Pemaparan Materi Workshop

Selama pelaksanaan wokshop, peserta diberikan beberapa contoh kertas suara, bilik dan kotak suara. Pada kegiatan ini, peserta workshop diberikan pembimbingan dengan memakai

(12)

simulasi dari siswa terpilih yang sudah ditunjuk oleh guru. Setelah kegiatan workshop selesai dilaksanakan, disebarkan angket post test dengan hasil optimalisasi pemahaman peserta yaitu guru PKn terhadap pengertian dasar pemilu, model-model pemilu serta teknik penghitungan dan rekapitulasi suara.

Pada 24 Agustus 2012 jam 09.00 – 11.00 WITA dilanjutkan kegiatan simulasi teknik kepemiluan, mekanisme pemungutan suara dan partisipasi pengawasan dan penghitungan suara dalam Pemilu. Para peserta dari kegiatan simulasi ini adalah siswa siswi kelas XI SMAN VIII Kota Denpasar. Sebelum dilaksanakan simulasi, dibagikan lembar kuesioner pra test seperti halnya kegiatan workshop. Hasil yang diperoleh 85% siswa masih tidak tahu tentang pemilu, teknik pemungutan maupun penghitungan suara karena peserta belum berpengalaman memilih dan proyeksinya pada pemilu 2014 mereka sebagai pemilih pemula. Sebesar 15% siswa mengaku mengerti dari berita televisi, internet maupun penjelasan orang tua namun pemahaman mereka masih tidak optimal, bahkan sumber belajar mata pelajaran PKn terkait pemilu masih dianggap tidak membantu pemahaman para siswa.

Gambar 3

Simulasi Mini Pemilu pada Siswa

Pada kegiatan simulasi, tim pengabdian masyarakat masih didampingi tim KPU Kota Denpasar. Para peserta simulasi dikenalkan beberapa atribut peralatan dan perlengkapan pemilu, seperti bilik dan kertas suara, tinta suara, kotak suara, contoh Daftar Pemilih Tetap serta kertas plano penghitungan suara. Setelah pengenalan atribut pemilu, peserta simulasi diberikan pengetahuan teknik kepemiluan, mekanisme pemungutan suara dan partisipasi pengawasan dan penghitungan suara dalam Pemilu. Pada sesi tanya jawab beberapa peserta simulasi menanyakan

(13)

seputar cara memilih calon yang berkualitas, jaminan hukum saksi pemilu, dan praktek politik uang dalam pemilu. Pertanyaan dijawab oleh tim pengabdian masyarakat serta tim KPU Kota Denpasar.

Setelah mendapatkan penjelasan dari tim pengabdian masyarakat, Peserta simulasi dibagi dalam tiga kelompok, yaitu kelompok panitia pemungutan suara, pengawas dan kelompok pemilih. Masing-masing kelompok memegang peranan dan mesimulasikan perannya masing-masing secara bergantian. Peran awal yang dilakukan adalah daftar pemilih berdasarkan nomor urut absen kelas dan proses pemanggilan peserta pemilih dilakukan panitia. Pemilih diberikan contoh kertas surat suara dan menentukan pilihannya di bilik suara. Proses memasukkan kertas suara pada kotak suara dibedakan menurut jenis pilihan, yaitu simulasi untuk anggota legislatif pusat, provinsi dan tingkat kabupaten/kota; serta presiden dan wakil presiden, serta kepala daerah, baik gubernur maupun bupati/walikota. Setelah memasukkan kertas suara, pemilih mencelupkan jari pada tinta yang sudah disediakan oleh tim pengabdian masyarakat.

Setelah selesai proses pemungutan suara, para siswa diajak bersimulasi proses penghitungan suara serta rekapitulasi akhir hasil pemilu. Pada proses ini, paar guru PKn diajak turut serta mensimulasikan di hadapan para siswa. Simulasi berlangsung dengan bantuan fasilitasi dari pihak KPU Kota Denpasar. Acara simulasi berlangsung tertib dan berakhir pukul 11 siang.

Gambar 4

(14)

Di akhir acara, para peserta simulasi dibagikan kuesioner post tets. Hasil yang diperoleh sebanyak 97% siswa merasa puas dan paham dengan kegiatan simulasi ini karena mereka mengalami perannya secara langsung baik sebagai pemilih, panitia maupun pengawas. Beberapa hal yang direkomendasikan adalah peningkatan intensitas simulasi kepada para siswa untuk mendukung pemahaman kegiatan belajar mengajar, terutama teknis kepemiluan.

G. Simpulan dan Saran

Kegiatan pengabdian masyarakat Penerapan Metode Simulasi “Mini Pemilu” sebagai Materi Pendukung Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Pada Kalangan Siswa Kelas XI SMA Negeri VIII, Kelurahan Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar ini dinilai sangat bermanfaat dan tepat sasaran. Hal ini selain keterbatasan jam dan tenaga fasilitator simulasi pemilu, juga masih minimnya pengetahuan para guru PKn mengenai hal-hal teknis kepemiluan terutama tentang proses penghitungan dan rekapitulasi suara.

Dari hasil post tes yang diberikan kepada para peserta workshop maupun simulasi terdapat beberapa saran dan rekomendasi. Beberapa hal yang direkomendasikan adalah kegiatan simulasi kepada para siswa dilakukan berkesinambungan dengan mengatualisasikan kerjasama dengan Program Studi Ilmu Politik Universitas Udayana dalam mendukung materi terkait pemilu pada siswa kelas XI SMA Negeri VIII Kota Denpasar. Peserta workshop juga tidak sebatas guru PKn, melainkan juga guru ilmu sosial lainnya, seperti Sosiologi dan Sejarah, bahkan bisa diaplikasikan sosialisasi kepada masyarakat umum di luar dunia pendidikan.

Pada kegiatan ini, para guru PKn yang telah mengikuti workshop mendapatkan sertifikat dari tim pengabdian masyarakat yang harapannya dapat berguna bagi pengembangan karier dan pengalaman mereka sebagai tenaga pendidik. Sedangkan untuk menjaga keberlanjutan program, pihak SMA Negeri VIII Kota Denpasar menjalin kerjasama di bidang pengabdian masyarakat dengan Program Studi Ilmu Politik yang dituangkan dengan pemberian sertifikat kepada pihak kepala sekolah sebagai simbol sekolah yang telah mendapatkan Workshop dan Simulasi Mini Pemilu dari Universitas Udayana serta fasilitasi pihak KPU Kota Denpasar.

H. Daftar Pustaka

- Benny, Achmad, 2005, Metode Pengajaran, Universitas Terbuka : Jakarta. - E-learning, Universitas Negeri Surabaya dalam web site elearning.unesa.ac.id

- Maridjan, Kacung, 2010, Sistem Politik Indonesia: Konsolidasi Demokrasi Pasca-Orde Baru, Penerbit Prenada Media Group : Jakarta

(15)

- Media Indonesia, 6 Agustus 2011

- Sanit, Arbi, 2010, Sistem Politik Indonesia, Penerbit Rajawali Press : Jakarta - Surya, 1 November 2011

- Wawancara dengan Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMAN VIII Kota Denpasar, Kota Denpasar, 24 Januari 2012

Referensi

Dokumen terkait

Spector menyebutkan dua perbedaan konsepsi tentang komitmen organisasi, yaitu sebagai berikut: pendekatan pertukaran (exhange approach), di mana komitmen pada organisasi

Jika kesalahan yang terjadi adalah membolehkan pemain yang tidak berhak untuk melakukan free throw, maka hasil free throw yang telah dilakukan dibatalkan dan bola

Data yang diperlukan pada input ini adalah untuk login Admin agar dapat melihat data permintaan barang, data perintah kerja dari user, melihat data user, melakukan

Analisis faktor bertujuan untuk menentukan variabel baru yang disebut faktor prioritas yang jumlahnya lebih sedikit dari variabel asli (Dillon dan Goldstein 1984). Terdapat

Hasil ini sesuai dengan penelitian di Puskesmas Srandakan Bantul bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kepatuhan pasien dalam penggunaan obat sebelum dan setelah pelaksanaan

pada siklus I pertemuan Iadalah sebagai berikut: 1) Melakukan pertemuan bersama guru kolaborator dengan tujuan membahas kapan penelitian siklus I pertemuan Iakan

Semoga surat kuasa ini dapat digunakan sebagaimana mestinya. Banjarmasin, 6 November 2012 Penerima kuasa

Perbedaan kedua model terletak pada dilibatkannya tahap pendisainan dalam pemrograman, Farbstein tidak terkait sama sekali dengan proses disain sedangkan Kurtz