45
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Aset Unit
Usaha Syariah Pada Bank Umum Nasional
Analysis Of Factors Affecting Growth Of Assets Of Sharia Business
Units In National General Banks
Muhammad Yusuf1), Tatang Fatoni2)
Institut Teknologi dan Bisnis Bank Rakyat Indonesia1) Indonesia Banking School2)
[email protected]) [email protected])
Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan menguji pengaruh variabel pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah , NPF Murabahah, FDR, dan Jaringan Kantor terhadap Pertumbuhan Aset Unit Usaha Syariah pada PT. Bank Umum Nasional (Persero) Tbk. Data dalam penelitian ini diperoleh dari laporan bulanan, laporan triwulanan publikasi, annual report Unit Usaha Syariah pada PT. Bank Umum Nasional (Persero) Tbk dan Statistik Perbankan Syariah terkait dengan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah di Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Teknik Analisis yang digunakan adalah regresi liniear berganda dengan menggunakan program aplikasi E-Views9. Hasil analisis menunjukkan bahwa Dana Pihak Ketiga Mudharabah dan FDR yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan Aset UUS pada Bank Umum Nasional (Persero) Tbk. Pembiayaan Murabahah, NPF Murabahah dan Jaringan Kantor tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan aset. Secara simultan Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor berpengaruh terhadap Pertumbuhan Aset.
Kata Kunci: Pembiayaan Murabahah, Dana Pihak Ketiga Mudharabah, NPF Murabahah, FDR, Jaringan Kantor
Abstract
This research was conducted by examining the effect of Murabahah financing, Mudharabah deposits, NPF Murabahah, FDR, and Office Networks on the Growth of Sharia Business Unit Assets at PT. National Public Bank (Persero) Tbk. The data in this study were obtained from monthly reports, quarterly publication reports, Sharia Business Unit annual reports at PT. National Public Bank (Persero) Tbk and Sharia Banking Statistics are related to Sharia Commercial Banks and Sharia Business Units in Indonesia issued by Bank Indonesia and the Financial Services Authority. The analysis technique used is multiple linear regression using the E-Views9 application program. The results of the analysis show that Mudharabah and FDR Third Party Funds have a positive and significant influence on the growth of UUS Assets in National Commercial Banks (Persero) Tbk. Murabahah Financing, NPF Murabahah and Office Networks have no influence on asset growth. Simultaneously Murabahah Financing, Mudharabah Deposits, NPF Murabahah, FDR and Office Networks have an effect on Asset Growth.
Keywords: Murabahah Financing, Mudharabah Third Party Funds, NPF Murabahah, FDR, Office Networks
46
PENDAHULUAN
Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia dimulai sejak tahun 1992 terus tumbuh secara bervariasi sesuai dengan kondisi ekonomi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahwa kehadiran industri perbankan syariah di Indonesia tentunya diharapkan oleh masyarakat yang menginginkan layanan keuangan dengan prinsip syariah serta berkontribusi untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional.
Pada saat awal berdirinya perbankan syariah di Indonesia porsi pangsa pasarnya masih kurang dari 2 %. Berdasarkan Roadmap Perbankan Syariah 2015 – 2019 (Otoritas Jasa Keuangan) disebutkan bahwa visi pengembangan perbankan syariah di Indonesia adalah : “Mewujudkan perbankan syariah yang berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan dan stabilitas sistem keuangan serta berdaya saing tinggi.” Dan juga dalam roadmap tersebut menetapkan target pertumbuhan perbankan syariah tahun 2019 menjadi diatas 5%. Bahwa fenomena perkembangan industri perbankan syariah diukur dari pertumbuhan asetnya. Dengan meningkatnya pertumbuhan aset perbankan syariah mencerminkan bahwa fungsi dari bank syariah dapat berjalan dengan baik sebagai intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan. Pada tahun 2012 pencapaian market share aset perbankan syariah hanya sebesar 4,58%. Sampai akhir tahun 2017 aset perbankan syariah terus melaju menjadi sebesar Rp. 424,18 triliun sehingga market sharenya meningkat menjadi 5,74%.
Unit Usaha Syariah PT. Bank Umum Nasional (Persero) Tbk berdiri sejak tahun 2005 yang memposisikan diri sebagai spesialis bank yang fokus pada pembiayaan perumahan dengan visi “Menjadi Bank Syariah yang terdepan di Indonesia dalam pembiayaan perumahan dan industri ikutannya”. Sampai saat ini total jaringan Kantor Cabang Syariah terdiri dari 24 Kantor Cabang Syariah, 42 Kantor Cabang Pembantu Syariah, 7 Kantor Kas Syariah serta 240 Kantor Layanan Syariah (Office Channelling). Sampai akhir tahun 2017 aset Unit Usaha Syariah PT. Bank Umum Nasional (Persero) Tbk sebesar Rp. 23,39 triliun, pembiayaan sebesar Rp. 17,99 triliun, Non Performing Financing (NPF) sebesar 0,95%, dana pihak ketiga sebesar Rp. 18,75 triliun, laba bersih mencapai Rp. 482,19 miliar. Dan share aset Unit Usaha Syariah Bank X terhadap Bank induknya sebesar 8,95%. Pertumbuhan aset dan market share Unit Usaha Syariah Bank X terhadap Perbankan Syariah Nasional terlihat terus meningkat dari tahun 2012-2017. Pada tahun 2012 aset UUS Bank X sebesar Rp. 7,48 triliun sedangkan aset perbankan syariah nasional sebesar Rp. 195, 02 triliun sehingga kontribusi aset UUS Bank X terhadap perbankan syariah nasional sebesar 3,92%. Aset UUS Bank X dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan hingga tahun 2017 sebesar Rp. 23,39 triliun berada pada peringkat 7 diantara Top 10 Perbankan Syariah di Indonesia dengan market sharenya sebesar 5,52%.
Dalam praktiknya portofolio bank syariah di Indonesia sebagian besar didominasi dengan menggunakan akad murabahah dalam penyaluran pembiayaan yaitu pembiayaan konsumtif seperti properti dan kendaraan. Demikian pula dengan UUS Bank X, merupakan bank yang fokus pada bisnis pembiayaan perumahan serta mendukung pembiayaan program pemerintah sejuta rumah dengan pembiayaan KPR yang menggunakan dengan skim atau akad murabahah mencapai sebesar 73,61%. Sedangkan untuk portofolio Dana Pihak Ketiga didominasi oleh DPK Mudharabah. Ini terlihat dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2017 portofolio DPK diatas 80%. Sedangkan pada tahun 2017 portofolio Dana Pihak Ketiga Mudharabah sebesar 82,02%. Kinerja UUS
47
Bank X tahun 2017 memiliki pertumbuhan lebih tinggi dibanding pertumbuhan Kinerja Perbankan Syariah Nasional. Kinerja Perbankan Syariah Nasional dapat digambarkan sebagai berikut: Aset tumbuh 18,98% pembiayaan tumbuh 16,86%, DPK tumbuh 19,83%, NPF pembiayaan sebesar 3,87%, FDR sebesar 85,35%. Sementara Kinerja UUS Bank X tahun 2017, aset tumbuh sebesar 29,08%, pembiayaan tumbuh 26,46%, DPK tumbuh 24,78%, NPF sebesar 0,95%, FDR sebesar 95,91%.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti dapat merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah secara parsial masing-masing variabel yaitu Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR, dan Jaringan Kantor berpengaruh terhadap Aset Unit Usaha Syariah pada Bank X?
2. Apakah Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan
Jaringan Kantor berpengaruh secara simultan terhadap Aset UUS pada Bank X?
Tinjauan Teori
Aset
Aset adalah salah satu indikator yang umum digunakan untuk menilai ukuran pertumbuhan perbankan. Subramanyam dan John J. Wild (2010) mendefinisikan aset merupakan sumber daya yang dikuasai oleh suatu perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba. Aset dapat digolongkan dalam dua kelompok yaitu lancar dan tak lancar. Aset lancar (current assets) merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang dapat langsung diubah menjadi kas sepanjang siklus operasi perusahaan. Golongan utama aset lancar mencakup kas, setara kas, efek, piutang, derivatif, persediaan, dan beban diterima di muka. Aset jangka panjang (long-lived assets), disebut juga aset tetap (fixed assets) atau aset tak lancar (non current assets) merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama periode melebihi periode kini. Aset jangka panjang utama mencakup properti, pabrik, peralatan, aset tak berwujud, investasi, dan beban-beban yang ditangguhkan. Ikatan Akuntan Indonesia (2016) mendifinisikan aset manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi dari aset tersebut memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara kas kepada entitas syariah. Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan merupakan bagian dari aktivitas operasional entitas syariah. Mungkin pula berbentuk sesuatu yang diubah menjadi kas atau setara kas atau berbentuk kemampuan untuk mengurangi pengeluaran kas, seperti penurunan biaya akibat proses produksi alternatif. Di dalam perbankan syariah bahwa dana yang berhasil dihimpun dilakukan penanaman atau penempatan aset atau aktiva produktif baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk antara lain: pembiayaan, piutang, Qardh, surat berharga syariah, penempatan pada bank syariah lain, penyertaan modal sementara (debt to equity swap, convertible bonds, equity options), bank garansi, akseptasi (endorsmen), irrevocable letter of credit (L/C) dan garansi lain berdasarkan prinsip syariah, Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI).
Pembiayaan Murabahah
Berdasarkan UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan menyatakan bahwa pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Menurut UU no. 21 tahun
48
2008 tentang perbankan syariah pasal 1 poin ke 25 menjelaskan bahwa pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:
a. transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah;
b. transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik;
c. transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna; d. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh;
e. transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa;
f. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.
Menurut Muhamad (2014), dari beberapa pembiayaan berprinsip syariah bahwa pembiayaan murabahah adalah salah satu aktiva yang paling dominan. Secara logis, penambahan jumlah pembiayaan murabahah akan menambah jumlah aset. Dengan demikian, bahwa jika terdapat peningkatan jumlah pembiayaan murabahah ini akan mempengaruhi pertumbuhan aset. Berdasarkan hasil penelitian Lubis (2016), menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan total asset perbankan syariah. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif dan metode analisis dengan menggunakan Regresi Linear Berganda. Adapun variabel dependennya adalah jumlah total asset perbankan syariah di Indonesia. Sedangkan variabel independennya adalah pembiayaan murabahah dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pembiayaan murabahah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan total asset Bank Syariah di Indonesia. Serta variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan total aset Bank Syariah di Indonesia.
Dana Pihak Ketiga Mudharabah
Pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan kemampuannya dalam menghimpun dana masyarakat atau sering disebut juga dengan dana pihak ketiga (DPK) baik dana ritel maupun lembaga. DPK yang berasal dari masyarakat dihimpun dalam bentuk giro, tabungan dan deposito. DPK yang berhasil terhimpun dapat menentukan besarnya market share bank terhadap Perbankan Syariah di Indonesia. Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam penelitian ini adalah dana pihak ketiga baik giro, tabungan maupun deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah. Bahwa dana pihak ketiga yang dihimpun oleh Unit Usaha Syariah Bank X dari masyarakat sebagian besar adalah pada Dana Investasi Non Profit Sharing atau juga disebut juga dana pihak ketiga dengan akad mudharabah.
Berdasarkan hasil penelitian Ida dan Abror (2011), yang menguji faktor-faktor yang mempengaruhi aset perbankan syariah di Indonesia. Adapun teknik analisa yang digunakan adalah purposive sampling dengan metode analisis mengunakan Multi Linear Regression. Adapun variabel dependen penelitian ini adalah aset perbankan syariah, dan
variabel independen adalah jumlah kantor, NPF, FDR, biaya promosi, office
channelling, DPK, jumlah uang beredar (M2). Variabel internal yang mempengaruhi pertumbuhan aset perbankan syariah secara signifikan hanya jumlah kantor, rasio FDR, biaya promosi, sedangkan untuk variabel internal lainnya, yaitu rasio NPF dan jumlah dana pihak ketiga tidak mempengaruhi secara signifikan. Semua variabel ekternal yang diteliti (jumlah office channelling dan jumlah uang beredar) tidak mempengaruhi pertumbuhan aset perbankan syariah secara signifikan. Penambahan jumlah kantor, rasio FDR, dan biaya promosi secara bersama-sama mempengaruhi pertumbuhan aset perbankan syariah sebesar 98,4%, sedangkan 1,6% lainnya dipengaruhi oleh
variabel-49
variabel lain yang tidak termasuk dalam variabel dan obyek penelitian. Hasil penelitian Purboastuti, Anwar dan Suryani (2015) dengan menguji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia, hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel DPK dan ROA berpengaruh positif signifikan terhadap pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia. Variabel NPF berpengaruh negatif signifikan terhadap pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia. Dan variabel FDR berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia. Serta variabel nisbah berpengaruh negatif terhadap pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia.
Non Performing Financing (NPF) Pembiayaan Murabahah
Pembiayaan yang diberikan kepada masyarakat sebagai nasabah yang tercatat pada sisi aktiva sebagai aset produktif, dengan harapan dapat kembali dan memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Akan tetapi pembiayaan yang disalurkan juga mempunyai risiko kegagalan nasabah dalam memenuhi kewajibannya dan ini berdampak pada kualitas penilaian aset produktif. Adapun sesuai POJK No. 31/POJK.05/2014 Tentang Penyelenggaraan Usaha Pembiayaan Syariah tanggal 19 November 2014 pada pasal 22 bahwa peniliaian kualitas Aset Produktif ditetapkan menjadi: lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet. Penilaian kualitas aset produktif diatas yang dikategorikan NPF atau Non Performing Financing adalah mulai dari kurang lancar, diragukan dan macet. NPF merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola kredit bermasalah. Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin memburuk kualitas kredit bank yang berdampak kepada kerugian bank yang diakibatkan rendahnya pengembalian dari kredit macet.Variabel NPF menggunakan cara perhitungan sebagai berikut:
Dalam penelitian ini variabel NPF yang digunakan adalah NPF Pembiayaan yang berdasarkan prinsip Murabahah.
Menurut hasil penelitian Diamantin (2016) menguji faktor-faktor yang mempengaruhi aset bank syariah. Adapun teknik analisa yang digunakan adalah
purposive sampling dan pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan metode
Partial Least Square (PLS). Adapun faktor eksternal adalah sebagai variabel laten eksogen yaitu inflasi, pertumbuhan GDP, BI rate, dan uang beredar (M2), sedangkan faktor internal sebagai variabel laten endogen intervening yaitu tingkat bagi hasil ekuivalen, biaya promosi, pendidikan dan pelatihan, rasio NPF, rasio ROA, rasio FDR, jumlah DPK, jumlah kantor, dan office channelling. Hasil penelitian bahwa faktor eksternal memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap faktor internal bank syariah di Indonesia sedangkan faktor eksternal tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan aset bank syariah di Indonesia. Faktor internal memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan aset bank syariah di Indonesia. Hasil penelitian Saputra (2014) dengan menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah. Adapun variabel dependen yang digunakan adalah Market Share Bank Syariah di Indonesia, sedangkan variabel independen yang digunakan adalah ROA, CAR, FDR, NPF dan REO. Metode analisis yang digunakan Regresi Linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ROA, CAR, FDR memiliki pengaruh signifikan positif terhadap market share Perbankan Syariah di Indonesia. Sedangkan
Jml. Pembiayaan Kurang Lancar, Diragukan, Macet
NPF = --- x 100 % Total Pembiayaan
50
NPF dan REO memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap market share
Perbankan Syariah di Indonesia
Financing To Deposit Ratio (FDR)
Financing to deposit ratio adalah rasio antara jumlah kredit atau pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. FDR (Financing To Deposit Ratio) digunakan untuk bank syariah atau di bank umum/konvensional dikenal dengan LDR (Loan To Deposito Ratio). FDR ditentukan oleh perbandingan antara jumlah pinjaman yang diberikan dengan dana masyarakat yang dihimpun yaitu mencakup giro, tabungan dan simpanan berjangka (deposito). Ikatan Bankir Indonesia (2015) juga mendefinisikan FDR sebagai rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga dalam rupiah dan valuta asing, tidak termasuk kredit kepada bank lain, terhadap dana pihak ketiga yang mencakup giro, tabungan dan deposito dalam rupiah dan valuta asing, tidak termasuk dana bank. FDR tersebut menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin besar kredit atau pembiayaan maka pendapatan yang diperoleh meningkat, karena pendapatan meningkat secara otomatis laba juga akan mengalami kenaikan.
Semakin tinggi rasio FDR maka semakin rendah kemampuan bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk pembiayaan menjadi semakin besar. Data yang digunakan biasanya dalam bentuk presentase. Adapun variabel FDR menggunakan cara perhitungan sebagai berikut:
Berdasarkan hasil penelitian Anton (2014) dengan menguji pengaruh faktor-faktor Pembiayaan, DPK, Financing to Deposit Ratio, dan Non Performing Financing
terhadap total Aset BPR Syariah di Pulau Jawa yang terdiri dari provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode analisis yang digunakan Regresi Linear Berganda dengan metode kuadrat terkecil atau Ordinary Least Square (OLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan faktor Pembiayaan, Dana Pihak Ketiga (DPK), Financing to Deposit Ratio
(FDR), dan Non Performing Financing (NPF) berpengaruh signifikan terhadap total aset BPR Syariah di Pulau Jawa. Sedangkan secara parsial, hanya faktor Pembiayaan yang berpengaruh signifikan terhadap total aset BPR Syariah di Pulau Jawa.
Jaringan Kantor
Jaringan kantor diperlukan untuk meningkatkan fungsi intermediasi dan jasa pelayanan perbankan dalam menunjang aktivitas bisnis masyarakat sekaligus memperkuat kepercayaan, profesionalisme dan meningkatkan market share perbankan syariah. Bahwa meningkatkan jaringan kantor perbankan syariah dapat mengakselerasi penghimpunan dana maupun penyaluran pembiayaan. Dalam hal ini jaringan kantor terdiri dari: Kantor Cabang Syariah, Kantor Cabang Pembantu Syariah, Kantor Fungsional Syariah, Kantor Kas Syariah, Kegiatan Pelayanan Kas Syariah, Layanan Syariah Bank, Layanan Syariah.
Berdasarkan hasil penelitian Ahmad Fadlan Lubis (2016) yang menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan total asset perbankan syariah. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif dan metode analisis dengan menggunakan Regresi Linear Berganda. Adapun variabel dependennya adalah jumlah total asset perbankan
Jumlah Pembiayaan yang disalurkan
FDR = --- x 100 % Total Deposit
51
syariah di Indonesia. Sedangkan variabel independennya adalah pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pembiayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan total asset Bank Syariah di Indonesia. Serta variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan total aset Bank Syariah di Indonesia
H1 H2 H3 H4 H5
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Metode Penelitian
Obyek dalam penelitian ini dilakukan pada Unit Usaha Syariah PT. Bank Umum Nasional (Persero) Tbk, yang telah memiliki jaringan kantor terdiri dari 24 kantor cabang, 42 kantor cabang pembantu syariah dan 7 kantor kas syariah. Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk pengumpulan data atas obyek penelitian, yaitu data sekunder dari laporan keuangan Unit Usaha Syariah Bank X sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2017 baik dari data bulanan, kuartalan, semesteran dan laporan tahunan baik yang terpublikasi maupun yang tidak terpublikasi yang terdiri dari Aset, Pembiayaan Murabahah, Dana Pihak Ketiga (DPK) Mudharabah, Non Performing Financing (NPF) Murabahah, Financing to Deposit Ratio (FDR) dan Jaringan Kantor. Penelitian ini menggunakan 72 waktu amatan (n=72) dan periode bulan Januari 2012 sampai dengan Desember 2017. Dalam penelitian ini variabel dependen yang digunakan adalah 1 (satu) variabel dependen dan 5 (lima) variabel independen/bebas. Adapun variabel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Variabel Dependen
Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah total aset dari Unit Usaha Syariah pada Bank X. Berdasarkan fungsi aset yang digunakan dalam penelitian ini, maka bentuk model dalam penelitian ini sebagai berikut :
ASET = βο+β₁Pembiayaan Murabahah+β₂DPK Mudharabah+β₃NPF
Murabahah+β₄FDR+β₅Jaringan Kantor 2. Variabel Independen penelitian ini adalah :
a. Pembiayaan Murabahah merupakan pembiayaan yang diberikan kepada
masyarakat berdasarkan akad murabahah.
b. DPK Mudharabah merupakan sumber dana yang berhasil dihimpun dari
masyarakat yang ditempatkan di bank dengan akad mudharabah.
c. NPF (Non Performing Financing) Murabahah atau disebut juga pembiayaan bermasalah yang dengan akad murabahah. NPF Murabahah merupakan rasio tingkat pengembalian pembiayaan murabahah bermasalah terhadap total
Pembiayaan Murabahah (X1)
DPK Mudharabah (X2)
NPF Mudharabah (X3)
FDR (X4)
Jaringan Kantor (X5)
52
pembiayaan yang dikeluarkan oleh bank. NPF dapat diukur dengan rumusan sebagai berikut :
d. FDR (Financing to Deposit Ratio) merupakan rasio yang mengukur
perbandingan jumlah pembiayaan yang diberikan bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank dan modal bank yang bersangkutan. Rasio ini dipergunakan untuk mengukur sampai sejauh mana dana pinjaman yang bersumber dari dana pihak ketiga. Semakin tinggi FDR menunjukkan bahwa pembiayaan semakin tinggi dan akan berdampak kepada meningkatnya aset, sebaliknya semakin rendah FDR menunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam menyalurkan pembiayaan. FDR dapat dirumuskan sebagai berikut :
e. Jaringan Kantor merupakan seluruh jaringan kantor yang terdiri dari kantor cabang, kantor cabang pembantu dan kantor kas yang mempunyai fungsi intermediasi dan jasa pelayanan perbankan.
Analisis Data
Dalam penelitian ini analisa data yang digunakan mencakup beberapa tahap antara lain, yaitu Regresi Linear Berganda, Uji Klasik dan Uji Hipotesis yang selanjutnya akan dijelaskan pada uraian dibawah ini.
Regresi Linear Berganda
Berdasarkan dari kerangka pemikiran teoritis, maka teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan model analisis regresi linear berganda (Multiliple Linear Regression Analysis) dengan program aplikasi
E-Views9. Analisa regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas/bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan/atau memprediksi rata-rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Ghozali, 2016). Persamaan regresi linier bergandanya sebagai berikut :
Keterangan : Y = ƒ {X₁, X₂, X₃, X₄,X₅} ƒα = Konstanta X₁ = Pembiayaan Murabahah X₂ = DPK Mudharabah X₃ = FDR X₄ = NPF Murabahah X₅ = Jaringan Kantor Ɛ = Error i = Objek Penelitian t = Periode
Dasar persamaaan matematika regresi linear berganda, yaitu:
Y =
ƒ
α
{ß
1.X1 +ß
2.X2 +ß
3.X3 +ß
4.X4 +ß
5.
X5 } + ƐitJumlah Pembiayaan yang Diberikan
FDR = --- X 100% Total Dana Pihak Ketiga
Pembiayaan Murabahah Bermasalah
NPF Murabahah = --- X 100% Total Pembiayaan
53
Pengujian Hipotesis
Dalam penelitian ini, hipotesis akan diuji tingkat signifikansi variabel independen (yaitu Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor) terhadap variabel dependen (Aset) baik secara parsial maupun simultan. Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dari Goodness of Fit. Menurut Ghozali (2016), secara statistik, setidaknya tingkat signifikansi variabel-variabel dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai uji statistik t dan nilai uji statistik F. Secara statistik dianggap signifikan jika nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak) atau sebaliknya disebut tidak signifikan jika nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima.
a. Uji Statistik t
Uji Statistik t merupakan suatu pengujian yang bertujuan mendeteksi signifikansi seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang digunakan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikansi level 0,05 (α = 5%). Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
1) Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
2) Jika nilai signifikan < 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi signifikan). Ini berarti secara parsial variabel independen tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
b. Statistik F
Uji statistik F digunakan untuk menguji apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016). Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikansi tingkat 0.05 (α = 5%). Variabel independen mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen jika signifikansi < 0.05 maka hipotesis penelitian akan diterima (koefisien regresi signifikan), tetapi jika variabel independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen maka akan memiliki tingkat signifikansi > 0.05 maka hipotesis penelitian akan ditolak (koefisien regresi tidak signifikan).
c. Koefisien Determinasi (R₂)
Bahwa koefisien determinasi merupakan yang mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan atau menjelaskan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R₂ yang kecil menjelaskan bahwa kemampuan variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan, sedangkan untuk data runtut waktu (time series) biasanya mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi (Ghozali, 2016).
Hasil dan Pembahasan
Uji asumsi klasik merupakan persyaratan atau pengujian asumsi-asumsi statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS). Sebelum melakukan pengujian analisis regresi linier berganda terhadap hipotesis penelitian, maka terlebih dahulu diperlukan untuk melakukan pengujian asumsi klasik atas data penelitian yang akan diolah. Pengujian asumsi klasik pada
54
penelitian ini meliputi: uji Normalitas, uji Multikolinieritas, Uji Heteroskedastisitas dan uji Autokorelasi. Hasil uji asumsi klasik tersebut dapat dilihat pada pembahasan berikut ini.
1. Uji Normalitas
Hasil pengujian yang dilakukan terhadap residual normalitas menggunakan Jarque-Bera Test. Tampilan hasil uji normalitas dapat dilihat pada gambar berikut:
0 2 4 6 8 10 12 14 16 -0.02 -0.01 0.00 0.01 Series: Residuals Sample 2012M02 2017M12 Observations 71 Mean 3.81e-16 Median 0.001427 Maximum 0.013170 Minimum -0.022252 Std. Dev. 0.007511 Skewness -0.702514 Kurtosis 3.106764 Jarque-Bera 5.873772 Probability 0.053031
Gambar 2. Hasil Uji Normalitas
Data penelitian dikatakan terdistribusi normal menggunakan residual dengan membandingkan nilai dari probabilitas JB (Jarque-Bera) dengan tingkat signifikasi alpha sebesar 0,05 atau 5%. Hasil uji normalitas berdasarkan gambar di atas memperlihatkan bahwa nilai probabilitas JB hitungnya sebesar 0,053031 > 0,05 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa data residual penelitian terdistribusi normal, ini membuktikan bahwa uji asumsi klasik normalitas telah terpenuhi.
2. Uji Multikolinieritas
Hasil pengujian multikolinieritas penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Hasil uji Multikolinieritas
Coefficient Uncentered Centered
Variable Variance VIF VIF
C 0.710528 3159.789 NA X1 2.338178 7.833045 1.016600 X2 0.076793 1.271094 1.123842 X3 12.18588 17.90000 3.144253 X4 0.035702 179.0170 1.380579 X5 0.039479 2746.168 2.819228
Hasil uji multikolinieritas berdasarkan tabel di atas memperlihatkan bahwa nilai VIF dari masing-masing variabel yaitu pada variabel X1 sebesar 1.016600, pada variabel X2
sebesar 1.123842, pada variabel X3 sebesar 3.144253, pada variabel X4 sebesar
1.380579, pada variabel X5 sebesar 2.819228. Hasil nilai VIF dari kelima variabel itu
tidak ada yang lebih besar dari 10 dan nilai VIF tidak ada juga yang lebih kecil dari 0,10, maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut tidak terjadi multikolinieritas pada kelima variabel bebas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Pada penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya Heteroskedastisitas dengan menggunakan uji Glesjer, di bawah ini dapat dilihat hasil uji tersebut pada tabel sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil uji Heterokedastisitas
Heteroskedasticity Test: Glejser
F-statistic 0.536972 Prob. F(5,66) 0.7475 Obs*R-squared 2.814446 Prob. Chi-Square(5) 0.7286 Scaled explained SS 5.475325 Prob. Chi-Square(5) 0.3607
55 R-squared 0.039090 Mean dependent var 0.018378
Adjusted R-squared -0.033707 S.D. dependent var 0.033978 S.E. of regression 0.034546 Akaike info criterion -3.813389 Sum squared resid 0.078767 Schwarz criterion -3.623667 Log likelihood 143.2820 Hannan-Quinn criter. -3.737860 F-statistic 0.536972 Durbin-Watson stat 2.111252 Prob(F-statistic) 0.747528
Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas pada model regresi linier yaitu dengan melihat nilai dari Probabilitas F-statistic. Apabila nilai dari probabilitas F-statistic-nya lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%), maka data penelitian tidak terjadi heteroskedastisitas, sedangkan apabila nilai dari probabilitas F-statistic lebih kecil dari tingkat alpha 0,05 maka terjadi heteroskedastisitas. Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan nilai probabilitas F-statistic sebesar 0.7475, maka nilai tersebut lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas pada kelima variabel bebas.
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi pada penelitian ini menggunakan metode Breusch-Godfrey atau LM (Lagrange Multiplier) test dan Durbin-Watson. Hasil test uji autokorelasi menggunakan metode Breusch-Godfrey atau LM (Lagrange Multiplier) test pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Hasil Uji Autokorelasi LM
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 0.016863 Prob. F(2,64) 0.9833 Obs*R-squared 0.037922 Prob. Chi-Square(2) 0.9812
Untuk menentukan ada tidaknya autokorelasi adalah membandingkan nilai Probabilitas F-statistic dengan tingkat alpha 0,05 (5%). Apabila nilai Probabilitas F-statistic lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi. Tetapi sebaliknya, apabila nilai Probabilitas F-statistic lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan pada data terjadi autokorelasi. Hasil dari tabel di atas memperlihatkan bahwa nilai Probabilitas F(2,64) sebesar 0.9833, maka nilai tersebut lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%), sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak terjadi autokorelasi.
Untuk pengujian autokorelasi selain dengan LM Test juga dapat menggunakan
Durbin-Watson, hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5. Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson
R-squared 0.989916 Mean dependent var 16.23274 Adjusted R-squared 0.989152 S.D. dependent var 0.385304 S.E. of regression 0.040130 Akaike info criterion -3.513707 Sum squared resid 0.106290 Schwarz criterion -3.323985 Log likelihood 132.4935 Hannan-Quinn criter. -3.438178 F-statistic 1295.822 Durbin-Watson stat 1.953633 Prob(F-statistic) 0.000000
Hasil dari tabel di atas memperlihatkan bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1.953633, maka untuk membuktikan ada tidaknya autokorelasi yaitu dengan membandingkan nilai tersebut dengan kriteria penerimaan atau penolakan dari nilai dL dan dU yang ditentukan berdasarkan jumlah variabel bebas dalam model regresi (k) serta jumlah sampelnya. Nilai dari dL dan dU dapat dilihat pada tabel DW dengan tingka signifikasi (error) 5% (α = 0,05). Dari model penelitian diketahui bahwa variabel bebas ada
56
sebanyak 5 variabel (k-5) dan jumlah sampel sebanyak 72 (n = 72), maka berdasarkan tabel DW dapat dilihat bahwa nilai dL adalah 1,4732 dan dU = 1,7688. Berdasarkan data tersebut, maka dapat dibuat gambar untuk membandingkan hasil uji Durbin-Watson dengan tabel Durbin-Watson dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3. Hasil uji Autokorelasi DW
Hasil dari gambar di atas diketahui nilai uji DW sebesar 1.953633 berada diantara nilai dU dan 4-dU, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa model regresi tidak mengandung Autokorelasi.
Hasil Uji Hipotesis
Hipotesis akan diuji tingkat signifikansi variabel independen (yaitu Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor) terhadap variabel dependen (Aset) baik secara parsial maupun simultan.
A.Hasil Uji t
Dari hasil tabel uji t di atas dapat disusun persamaan regresi linear berganda seperti berikut ini:
Aset = 0.706756 2,67 + 0.047986 PM + 0.900036 DPK – 0.923102 NPFM +
0.374879 FDR + 0.044798JK
Besar t tabel dihitung dengan alpha sebesar 5% dan df = 67, n = 72 dan k = 5. Nilai dari t tabel sebesar 1.99601. Berdasarkan perhitungan uji t dan hasil nilai t hitung tersebut di atas, maka penjelasan dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen pada persamaan regresi linier di atas adalah sebagai berikut:
1. Variabel X1 ( Pembiayaan Murabahah)
Dari hasil perhitungan uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar 0.444449 dengan nilai signifikasi sebesar 0.6582. Karena nilai signifikasi lebih besar dari 5% dan t hitung (0.444449) lebih kecil dari t kritis (1.99601) maka uji hipotesis (H1)
ditolak, yaitu tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Pembiayaan Murabahah terhadap Aset.
2. Variabel X2 (Dana Pihak Ketiga (DPK) Mudharabah)
Dari hasil perhitungan uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar 5.506556 dengan nilai signifikasi sebesar 0.0000. Karena nilai signifikasi lebih kecil dari 5% dan t hitung (5.506556) lebih besar dari t kritis (1.99601) maka uji hipotesis (H2)
diterima, yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel DPK Mudharabah terhadap Aset.
3. Variabel X3 (Non-Performing Financing (NPF) Murabahah)
Dari hasil perhitungan uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar -0.612548 dengan nilai signifikasi sebesar 0.5423. Karena nilai signifikasi lebih besar dari 5% dan t hitung (-0.612548) lebih kecil dari t kritis (1.99601) maka uji hipotesis (H3)
ditolak, yaitu tidak memiliki pengaruh yang signifikan antara variabel NPF Murabahah terhadap Aset.
4. Variabel X4 ( Financing to Deposit Ratio (FDR))
Dari hasil perhitungan uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar 2.455132 dengan nilai signifikasi sebesar 0.0167. Karena nilai signifikasi lebih kecil dari 5% dan t hitung (2.455132) lebih besar dari t kritis (1.99601) maka uji hipotesis (H4)
dL dU 4-dU 4-dL 0 1,4732 1,7688 1.953633 2.2312 2,5268 4 Autokorelasi Positif Autokorelasi Negatif
Ragu-ragu Tidak ada Ragu-ragu
57
diterima, yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel FDR terhadap Aset.
5. Variabel X5 ( Jaringan Kantor )
Dari hasil perhitungan uji secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar 0.606641 dengan nilai signifikasi sebesar 0.5462. Karena nilai signifikasi lebih besar dari 5% dan t hitung (0.606641) lebih kecil dari t kritis (1.99601) maka uji hipotesis (H5)
ditolak, yaitu tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Jaringan Kantor terhadap Aset.
B.Hasil Uji F
Hasil pengolahan data untuk perhitungan regresi linier nilai F kritis atau F tabel hitung sebesar 2.51. Dari tabel hasil uji F diperoleh hasil F hitung sebesar 1295.822 dengan nilai signifikasi 0,000000. Nilai ini menunjukkan bahwa F hitung (1295.822) lebih besar (>) dibandingkan nilai F kritis atau F tabel (2.51). Nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, yaitu sebesar 0,000000 maka dapat diartikan bahwa
kelima variabel bebas yaitu Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF
Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor secara bersama-sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap aset.
C.Uji Koefisien Determinasi
Hasil tabel dari hasil uji nilai koefisien determinasi (R-squared) dari Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor adalah
0.9899 atau sebesar 98,99 %. Hal tersebut menggambarkan bahwa Pembiayaan
Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor dalam memberikan sumbangan pengaruh terhadap Aset adalah sebesar 98,99% sedangkan sisanya sebesar 1,01% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan didalam model ini.
Pembahasan
Pengaruh Pembiayaan Murabahah terhadap Pertumbuhan Aset UUS di Bank X
Dari penelitian ini diperoleh koefisien regresi untuk Pembiayaan adalah sebesar 0.047986 dengan nilai signifikansi 0.6582, dimana dengan nilai signifikansi sebesar 0.6582 lebih besar dari 0.05, dengan demikian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa Pembiayaan Murabahah memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap Pertumbuhan aset ditolak, atau dapat dikatakan bahwa Pembiayaan Murabahah tidak memiliki pengaruh siginifikan terhadap Pertumbuhan Aset. Produk pembiayaan yang disalurkan oleh UUS Bank X berdasarkan akad terdiri dari pembiayaan berbasis piutang (murabahah) sebesar 73,61% dan pembiayaan bagi hasil (mudhrabah/musyarakah) sebesar 26,39%. Berdasarkan dari hasil penelitian, naiknya Pembiayaan Murabahah tidak berpengaruh terhadap Pertumbuhan Aset, hal ini dapat dijelaskan bahwa setiap pembiayaan murabahah yang disalurkan bank sebagai fungsi intermediasi dananya bersumber dari dana pihak ketiga. Bahwa total penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp. 18,75 triliun terdiri dari DPK Mudharabah Rp. 15,38 triliun dan DPK Wadiah sebesar Rp. 3,37 triliun. DPK yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan sebesar Rp. 17,99 triliun yang terdiri dari pembiayaan murabahah sebesar Rp. 13,24 triliun dan pembiayaan mudhrabah/musyarakah sebesar Rp. 4,75 triliun. Jika DPK tidak bertambah atau tetap dan realisasi pembiayaan tumbuh atau meningkat maka dana diambil dari penempatan pada Bank Indonesia sebagai cadangan primer (primary reserve). Artinya dengan adanya penambahan realisasi pembiayaan murabahah dapat dipenuhi dari dana yang tersedia dengan adanya dana cadangan primer (primary reserve) yang ada di Bank indonesia, sehingga kenaikan pertumbuhan pembiayaan murabahah tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan aset.
58
Pengaruh DPK Mudharabah terhadap pertumbuhan Aset UUS pada Bank X
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai koefisien regresi untuk DPK Mudharabah adalah sebesar 0.900036 dengan nilai signifikansi sebesar 0.0000, dimana dengan nilai signifikansi sebesar 0.0000 lebih kecil dari 0.05, dengan demikian hipotesis kedua menyatakan bahwa DPK Mudharabah berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan aset diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa DPK Mudharabah memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan aset. Berdasarkan dari hasil penelitian, mengindentifikasi bahwa penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Mudharabah yang berhasil dihimpun oleh bank dapat mempengaruhi pertumbuhan aset bank. Dari data yang ada portofolio dana pihak ketiga didominasi oleh DPK dengan akad mudharabah sebesar 82,02% yang terdiri dari giro mudharabah sebesar 12,26%, tabungan mudharabah 13,69% dan deposito mudharabah sebesar 74,05%. Deposito mudharabah yang sangat dominan mendorong pertumbuhan aset bank yang bersumber dari dana lembaga yaitu Goverment, Education, Privat atau Swasta dan Other (DPLK, Yayasan, Komunitas) terdiri dari jangka waktu 1 bulan sebesar 47,44%, jangka waktu 3 bulan sebesar 48,70%, jangka waktu 6 bulan sebesar 3,72% dan yang jangka waktu 12 bulan sebesar 0,14%. Pertumbuhan aset UUS Bank X didorong oleh liabilities driven
atau didorong oleh dana pihak ketiga yaitu giro, tabungan dan deposito. Dimana dengan adanya dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank ini dapat mempengaruhi peningkatan pertumbuhan aset bank. Bahwa dengan pertumbuhan DPK Mudharabah sebesar 33,94% dapat meningkatkan pertumbuhan aset bank sebesar 25,06%. Pada tahun 2016 sampai tahun 2017 terlihat bahwa jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank selalu diatas pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat. Tahun 2016 posisi dana pihak ketiga sebesar Rp. 15,03 triliun dan pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp. 14,22 triliun dan pada tahun 2017 total terjadi peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga yaitu sebesar Rp. 18,75 triliun dan pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp. 17,99 triliun. Artinya bahwa dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bank cukup tersedia untuk disalurkan dalam bentuk pembiayaan. Demikian pula dengan penghimpunan dana pihak ketiga dengan akad mudhrabah terus mengalami peningkatan dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2017. Dari pembiayaan yang disalurkan tersebut diatas mempunyai kualitas yang baik maka pembentukan CKPN pun menjadi rendah sehingga akan meningkatkan pendapatan dan laba bank. Dari performance yang baik ini tentunya dapat meningkatkan kepercayaan bank kepada masyarakat serta profitabilitas yang baik menjadi daya tarik kepada masyarakat untuk menyimpan dananya dalam bentuk simpanan atau DPK mudharabah yang mendorong pertumbuhan aset bank.
Pengaruh NPF Murabahah terhadap pertumbuhan Aset UUS pada Bank X
Dari hasil penelitian diperoleh nilai koefisien regresi untuk NPF Murabahah adalah sebesar -9.923102 dengan nilai signifikansi sebesar 0.05423, dimana dengan nilai signifikansi sebesar 0.05423 lebih besar dari 0.05, dengan demikian hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa NPF Murabahah berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan aset ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa NPF Murabahah tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan aset.
Pembiayaan yang disalurkan (baik secara total pembiayaan maupun pembiayaan murabahah) dari tahun ke tahun meningkat dengan kualitas yang membaik sehingga dapat meningkatkan penerimaan cash basis dari angsuran pembiayaan yang disalurkan. Besarnya NPF total dari tahun 2014 sebesar 2,06% terus terjadi penurunan sampai tahun 2017 membaik menjadi sebesar 0,95%. Demikian juga dengan NPF Murabahah dari tahun 2014 sebesar 1,38% mengalami penurunan sampai tahun 2017 membaik menjadi
59
sebesar 0,67%. Dengan besarnya NPF tersebut kurang dari 1% menggambarkan kualitas pembiayaan yang disalurkan sangat baik. Dan ini mempengaruhi besarnya pembentukan biaya CKPN yang sangat kecil sehingga akan dapat meningkatkan profitabilitas bank. Namun demikian NPF Murabahah tersebut diatas tidak berpengaruh langsung terhadap pertumbuhn aset bank, akan tetapi besarnya NPF tersebut diatas dapat meningkatkan imbal bagi hasil yang lebih baik yang berdampak semakin menarik kepada nasabah untuk menginvestasikan dananya pada produk mudharabah seperti deposito mudharabah. Dan juga akan berpengaruh menurunkan FDR serta meningkatkan penghimpunan DPK sebagai sumber untuk meningkatkan pembiayaan yang disalurkan.
Pengaruh FDR terhadap pertumbuhan Aset UUS pada Bank X
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai koefisien regresi untuk FDR adalah sebesar 0.374879 dengan nilai signifikansi sebesar 0.0167, dimana dengan nilai signifikansi sebesar 0.0167 lebih kecil dari 0.05, dengan demikian hipotesis keempat yang menyatakan bahwa FDR berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan aset diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa FDR memiliki pengaruh dan signifikan terhadap pertumbuhan aset. Dapat dijelaskan bahwa FDR sebagai rasio yang menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai likuiditasnya. Semakin tinggi rasio maka semakin rendah kemampuan bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk pembiayaan menjadi semakin besar. FDR pada tahun 2017 sebesar 95,91%, artinya bahwa dana pihak ketiga yang dihimpun dari masyarakat dan disalurkan dalam bentuk pembiayaan sebesar 95,91% dan sebesar 4,09% sebagai primary reserve. Ini menunjukkan bahwa bank dapat memanfaatkan secara optimal dana yang dihimpun kemudian disalurkan melalui pembiayaan agar dapat meningkatkan profitabilitas bank dengan tetap menjaga likuiditasnya pada Bank Indonesia yaitu dalam bentuk giro wajib minimum yang harus dipelihara agar tersedia dana untuk mencukupi kebutuhan kewajiban jangka pendek yang ada. Dan ini dapat memberikan keyakinan para penyimpan dana untuk terus menyimpan dananya pada bank, sehingga diharapkan ini dapat meningkatkan dana pihak ketiga. Jika FDR semakin menurun artinya dana pihak ketiga yang dihimpun belum optimal disalurkan ke pembiayaan sehingga terjadi idle fund, sebaliknya jika FDR semakin tinggi artinya pembiayaan yang disalurkan melebihi dana pihak ketiga yang dihimpun bank dan ini berdampak kepada risiko likuiditas dimana bank harus mengantisipasi memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Pengaruh Jaringan Kantor terhadap pertumbuhan Aset UUS pada Bank X
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai koefisien 0.044798 dengan nilai signifikansi sebesar 0.5462, dimana dengan nilai signifikansi 0.5462 lebih besar dari 0.05, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Jaringan Kantor tidak memiliki pengaruh dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan aset. Dengan penambahan jaringan kantor diharapkan dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah sekitanya, dengan demikian dapat berdampak pada peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga sehingga akan dapat meningkatkan pertumbuhan aset. Berdasarkan dari data empiris dari tahun 2016 sampai tahun 2017 terjadi penambahan jaringan kantor sebanyak 8 jaringan kantor yang berlokasi di luar wilayah jakarta yang terdiri dari 1 KCS Mataram, serta 7 KCPS yang terdiri dari KPCS Magelang, KCPS Palu, KCPS Pare-Pare, KCPS Cikarang, KCPS Karawang, KCPS Kendal, dan KCPS Indramayu. Sedangkan sebesar 74,05% DPK Mudharabah adalah dana lembaga yang kantor pusatnya sebagian besar
60
terletak di wilayah Jakarta dan menyimpan dananya di beberapa kantor cabang syariah yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Pengaruh Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR, dan Jaringan Kantor terhadap Aset UUS pada Bank X
Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai F hitung sebesar 1295.822 karena nilai F hitung (1295.822) > F tabel (2.51) dan nilai signifikansi adalah 0.0000 < 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor tehadap pertumbuhan aset UUS Bank X. Secara simultan kelima variabel diatas berpengaruh terhadap pertumbuhan aset, ini menggambarkan bahwa masing-masing variabel mempunyai kontribusi terhadap pertumbuhan aset bank. Dengan dana pihak ketiga yang dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan dalam bentuk pembiayaan dengan harapan menghasilkan return yang diharapkan dan dengan NPF atau kualitas pembiayaan yang baik sehingga pokok, margin atau bagi hasil dari pembiayaan dapat disalurkan kembali ke pembiayaan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial Pembiayaan Murabahah, NPF Murabahah dan Jaringan Kantor tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan aset UUS pada Bank X.
Sedangkan DPK Mudharabah dan FDR secara parsial berpengaruh signifikan
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan aset UUS pada Bank X. Semua variabel bebas yakni: Pembiayaan Murabahah, DPK Mudharabah, NPF Murabahah, FDR dan Jaringan Kantor secara bersamaan atau simultan memiliki pengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan aset UUS pada Bank X.
Implikasi Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian bahwa DPK Mudharabah dan FDR memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pertumbuhan aset UUS pada Bank X, agar menjadi perhatian bagi manjemen untuk tetap meningkatkan profitabilitasnya sehingga akan meningkatkan imbal bagi hasil pada produk DPK Mudharabah, dengan demikian akan semakin menarik bagi nasabah atau masyarakat untuk menginvestasikan dananya pada DPK Mudharabah. Pada sisi FDR (Financing to Deposit Ratio), bank agar tetap menyalurkan pembiayaan secara optimal kepada masyarakat atas penghimpunan dana yang diperoleh dari masyarakat dan tetap memperhatikan risiko likuiditas. Sedangkan variabel yang tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan aset adalah pembiayaan murabahah, NPF murabahah dan jaringan kantor. Namun demikian, ketiga variabel tersebut tetap menjadi perhatian karena secara simultan variabel independen tersebut satu sama lain saling mempengaruhi terhadap pertumbuhan aset.
Daftar Pustaka
Aisy, Diamantin Rohadatul, dan Imron Mawardi. 2016, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Aset Bank Syariah di Indonesia Tahun 2006-2015,
Jurnal Ekonomi Syariah dan terapan Vol. 3 No. 3 Maret 2016: 249-265.
Anthony A. Atkinson, Robert S. Kaplan, Ella Mae Matsuma, S. Mark Young. 2009.
Akuntansi Manajemen. PT. Indeks. Jakarta.
Arifin, Muhammad. 2010. Riba & Tinjauan Kritis Perbankan Syariah. Bogor: CV Darul Ilmi.
Bank Indonesia. Outlook Perbankan Syariah 2014.
61
Echdar, Saban. 2017. Metode Penelitian Manajemen dan Bisnis. Bogor. Ghalia Indonesia.
Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS 23, Cetakan ke VIII. Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ikatan Akuntan Indonesia. Standar Akuntansi Keuangan Syariah. 2016.
Ikatan Bankir Indonesia. Manajemen risiko 2: Mengindentifikasi risiko likuiditas, reputasi, hukum, kepatuhan, dan strategik bank. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2015.
K.R. Subramanyam, John J. Wild. Analisa Laporan Keuangan (Finansial Statement Analysis) 2010. Edisi Sepuluh. Jakarta. Penerbit Salemba Empat.
Lubis, Ahmad Fadlan. 2016. Analisis Pertumbuhan Total Aset Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Nusantara (Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial), Volume 1 Desember 2016: ISSN 2541-657X.
Muhamad. 2014. Manajemen Dana Bank Syariah. Cetakan ke 1. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Nurhayati, Sri, dan Wasilah. 2013. Akuntansi Syariah di Indonesia. Edisi 3. Jakarta. Salemba Empat.
Otoritas Jasa Keuangan. Tahun 2012 – 2017. Statistik Perbankan Syariah. Otoritas Jasa Keuangan. Roadmap Perbankan Syariah Indonesia 2015 -2019.
Otoritas Jasa Keuangan. Peraturan Otoriras Jasa Keuangan No. 6/POJK.03/2015 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan.
Purboastuti, Nurani, Nurul Anwar dan Irma Suryahani. Pengaruh Indikator Utama
Perbankan Terhadap Pangsa Pasar Perbankan Syariah. JEJAK Journal of
Economics and Policy, 8(1): 13-22, March 2015.
Rahman, Aulia. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Market Share Bank Syariah. Analytica Islamica, Vol.5, No. 2, 2016: 291-314.
Republik Indonesia. Undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang Nomor : 7 tahun 1992. Jakarta.
Republik Indonesia. Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Jakarta.
Saputra, Bambang. 2014. Faktor-Faktor Keuangan Yang Mempengaruhi Market Share Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Akuntabilitas Vol. VII No. 2.
Sudrajat, Anton. Determinan Total Aset Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Pulau Jawa Tahun 2014. Islamic Economic Journal Vol. 1, No. 1 Juni 2015, ISSN: 2460-1860)
Syafrida, Ida dan Ahmad Abror. Faktor-Faktor Internal dan Eksternal Yang
Mempengaruhi Pertumbuhan Aset Perbankan syariah di Indonesia. Jurnal
Ekonomi dan Bisnis, Vol 10, No. 1, Juni 2011 : 25-33.
Taswan. 2010. Manajemen Perbankan Konsep Teknik & Aplikasi. Edisi 2. Yogyakarta. UPP STIM YKPN.
Werner R. Muhadi. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta. Salemba Empat.
Yusuf, Muhammad, Wiroso dan Sofyan Harahap. 2010. Akuntansi Perbankan Syariah.