DIFUSI
Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul suatu
zat yang dibawa oleh gerakan molekular secara acak dan
berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul
melalui sutau batas, misalnya suatu membran polimer, merupakan
suatu cara yang mudah untuk menyelidiki proses difusi.
Proses difusi merupakan hal yang sangat penting dalam
bidang farmasi, khususnya untuk sediaan farmasi seperti tablet,
serbuk granul, salep ataupun suppositoria. Hal ini diperlukan olehh
suatu sediaan obat untuk mencapai organ target yang dinginkan.
Organ
tubuh
memiliki
lapisan
semipermeabel
yang
memungkinkan setiap zat yang masuk dapat melewatinya. Namun
hanya untuk molekul-molekul yang berukuran kecil, sehingga bagi
formulator sangat dianjurkan ketelitiannya dalam memformulasikan
suatu sediaan.
Ada beberapa faktor yanng mempengaruhi proses difusi
suatu obat yaitu :
Ukuran relatif molekul yang akan melalui membran
tersebut
Diameter dari pori membran yang akan dilalui
Daya hancur obat
Viskositas dari sediaan yang dibrikan
Sifat kelarutan obat (hidrofilil/lopofil)
Dialisis adalah suatu proses pemisahan berdasarkan
kecepatan lewatnya zat terlarut dan pelarut yang tidak sama
melalui membaran yang berpori-pori sangat kecil yang
diangkut dengan cara kontinu.
Osmosis adalah proses berpindahnya zat dari yang
Ultrafiltrasi adalah proses yag digunakan untuk
memisahkan partikel koloidal dan molekul besar dengan
menggunakan suatu membran.
Aliran suatu zat untuk berdifusi dengan membran dapat
dijelaskan melalui rumus yang dikenal dengan hukum Fick I
dan II.
Hukum Fick Pertama :
Sejumlah M benda yang mengalir melalui satu satuan
penampang melintang S dari suatu pembatas dalam satu
satuan waktu t dikenal sebagai aliran dengan simbol J.
dM
J = ──
Sebaliknya aliran berbanding lurus dengan perbedaan
konsentrasi, dC/dx :
dC
J = -D ──
dx
Dimana :
J
: Aliran
S
: Permukaan batas (cm
2)
M
: Jumlah benda (mmol)
D
: Koefisien difusi/difusan (cm
2/detik)
C
: Konsentrasi (gram/cm
3)
x
: Jarak (cm)
t
: Waktu (detik)
Jika suatu diagram memisahkan dua kompartemen dari suatu sel
difusi dengan luas penampang melintang S dan dengan ketebalan h,
dan jika konsentrasi dalam membran di sebelah kiri (donor) dan
disebelah kanan (reseptor) adalah C
1dan C
2maka hukum Fick
pertama dapat ditulis :
dM
C
1– C
2J = ——— = D ————
S dt h
Dimana (C
1– C
2)/h kira-kira dC/dx dalam diafragma harus dianggap
konstan untuk terjadinya keadaan (kuasi stasioner).
Dari persamaan tesebut maka dapat diperoleh rumus koefisien
distribusi atau koefisien partisi K :
C
1C
2K = — = —
Cd Cr
Catatan : konsentrasi C1 dan C2 dalam membran biasanya tidak diketahui tetapi dapat diganti dengan koefisien partisi dikalikan dengan Cd pada sisi donor dan Cr pada sisi reseptor.
Oleh karena itu :
dM DSK (Cd – Cr)
—— = ———————
dt h
dan jika keadaan sink dalam kompartemen reseptor dipertahankan, maka Cr = 0,
dM DSKCd — = ——— = PSCd dt h DK Dimana : P = —— (cm/detik) h Keterangan :
C1 : konsentrasi dalam membran disebelah kiri (donor)
C2 : konsentrasi dalam membran disebelah kanan (reseptor)
h : ketebalan (cm)
K : koefisien distribusi/partisi Cd : konsentrasi donor
Cr : konsentrasi reseptor
P : koefisien permeabilitas (cm/detik)
Setelah diperoleh koefisien permeabilitas maka dapat ditentukan
kemiringan kurva garis plot M terhadap t :
M = PSCdt
dengan menganggap Cd tetap konstan sepanjang waktu. Dan apabila
Cd berubah dengan berubahnya waktu maka Cd = jumlah obat dalam
fase donor dibagi dengan volume fase donor, sehingga dapat
diperolah P dari kemiringan log Cd terhadap t :
PSt
log Cd = log Cd (0) – ————
2,303 Vd
Aliran J sebanding dengan aktifitas termodinamika lebih daripada
konsentrasi, sehingga aktivitas ini dapat dibuat konstan (a = 1) pada
suatu bentuk peberian yakni dengan menggunakan larutan jenuh di
mana ada kelebihan obat padat dalam larutan tersebut.
Lag time untuk suatu garis lurus adalah :
SDKC
dh2
M = ——— (t-t
L) sehingga lag time-nya : t
L= ——
Hukum Fick Kedua :
Kecepatan perubahan konsentrasi difusan pada suatu titik
dalam suatu sistem sangat berpengaruh dibandingkan
dengan difusi massa melalui suatu satuan luas dari barier
dalam satuan waktu.
Perbedaan dalam konsentrasi adalah akibat dari
perbedaan dalam input dan output. Konsentrasi difusan
dalam volume unsur berubah terhadap waktu, yakni ∆C/∆t,
apabila aliran atau jumlah yang berdifusi berubah terhadap
jarak ∆J/∆x, dalam arah x atau :
∂C
∂J
── = - ──
∂t
∂x
Jika diinginkan konsentrasi difusan dalam tiga dimensi, maka hukum Fick kedua dapat ditulis sebagai berikut :
∂C ∂2C ∂2C ∂2C
— = D — + — + —
∂t ∂x2 ∂y2 ∂z2
Laju berubahnya konsentrasi dC/dt akan sama dengan nol, maka hukum kedua akan berubah :
dC d2C
— = D —— = 0 dt dx2
Membran
Kompartemen Aliran masuk Aliran keluar reseptor
Kompartemen
donor
Contoh soal I :
Suatu steroid yang baru disintesis dibiarkan melalui suatu membran siloksan dengan luas penampang melintang 10,36 cm2 dan ketebalan 0,085 cm, dalam suatu sel difusi pada 25 o C. dari intersep horizontal
dari plot Q = M/S terhadap t, diperoleh lag time (tL), sebesar 47,5 menit. Konsentrasi mula-mula Co = 0,003 mol/cm3. jumlah steroid yang melalui membran dalam 4,0 jam adalah 3,65 x 10 -3 mmol.
a). Hitunglah parameter, DK, dan permeabilitasnya
b). Hitunglah koefisien difusi dengan menggunakan lag time c). Hitunglah koefisien partisi
Penyelesaian : Diketahui : M = 3,65 x 10 -3 S = 10,36 cm 2 h = 0,085 cm tL = 47,5 menit Co = 0,003 mol/cm3 t = 4,0 jam
a). Parameter, DK dan Permeabilitas
dM dQ DCs Perlu diketahui bahwa — = — = ——
S.dt dt h dM dQ Sehingga : — = — dQ x S. dt = dM x dt S. dt dt dM . dt dM dQ = ——— dQ = — S. dt S
3,65 x 10-3 mmol Q = ——————— = 0,35 x 10-3 mmol/cm2 10,36 cm2 0,00 mmol/cm3 47,5 = DK —————— = 0,4 jam - —— jam 0,085 cm 60 DK = 0,0031 cm2/jam = 8,6 x 107 cm2/detik P = DK/h = (8,6 x 107 cm2/detik)/0,085 cm = 1,01 x 10-5 cm/detik b). Koefisien difusi h2 h2 (0,085)2 cm tL = — D = —— = —————— 6D 6tL 6 x 47,5 menit = 25,4 x10-6 cm2/menit = 4,23 x 10-7 cm2/detik c). Koefisien Partisi Ph (1,0 x 10-5 cm/detik) (0,085 cm) K = — = ————————————— = 2,03 D 4,23 x 10-7 cm2/detik
Contoh soal II :
Difusi fluosinolon asetonid terjadi dari suatau larutan 30% propilenglikol-air melalui suatu penampang membran bundar polietilen dalam suatu suatu sel gelas dua kompartemen. Tebal membran adalah 0,076 cm dan diameternya 2,21 cm. koefisien partisi dari obat antara membran dan larutan adalah 1,28 pada suhu 25o C
dan dan kelarutan obat dalam membran adalah 0,o25 g/100 cm3. Plot jumlah obat
(dalam g) yang mempenetrasi terhadap waktu (dalam jam) menghasilkan suatu garis lurus (sesudah tercapai steady state) dengan lag time 25,0 jam.
a). Hitung koefisien difusi dengan mengetahui h dan tL
b). Hitung dQ/dt dalam µg/cm2 jam dengan menggunakan persamaan dQ/dt =
DKCv/h. Penyelesaian : Diketahui : h = 0,075 cm K = 1,28 Cv = 0,25 g/100 cm3 tL = 25,0 jam a). tL = h2/6D (0,076)2cm 5,776 x 10-3 D = h2/6tL = ————— = —————— = 3,85 x 10-5 cm2/jam 6 (25,0 jam) 150 jam
b). dQ/dt = DKCv/h
3,85 x 10
-5cm
2/jam x 1,28 x 0,025 g/100 cm
3= ————————————————————
0,075 cm
12, 32 x 10
-7g/cm
2jam
= ————————————
7,6 x 10
-1cm
= 1,62 x 10
-6g/cm
2jam
= 0,162 µg/cm
2jam
Koefisien difusi dari senyawa-senyawa berbagai media
D i f u s i
Volume Molar Parsial (cm3/mol) D x 106 (cm2/detik)Medium ataun batas (dan Temperatur, o C)
Etanol
n-Pentanol
Formamid
Glisin
Na. Lauryl sulfat
Glukosa
Heksana
Heksadekan
Metanol
Asam asetat
dimer
Metan
n-Pentan
Neopentan
40,9
89,5
26
42,9
235
116
103
265
25
64
22,4
-
-
12,4
8,8
17,2
10,6
6,2
6,8
15,0
7,8
26,1
14,2
1,45
6,9
0,002
Air (25
o)
Air (25
o)
Air (25
o)
Air (25
o)
Air (25
o)
Air (25
o)
Kloroform (25
o)
Kloroform (25
o)
Kloroform (25
o)
Kloroform (25
o)
Karet alami (40
o)
Karet silikon (50
o)
Etilselulosa (50
o)
Koefisien Difusi dan Koefisien Permeabilitas Obat Obat Koefisien Difusi Membran (cm2/detik) Koefisien Permeabilitas (cm/detik)
Dengan jalan Temperatur
(o C) Acuan
Asam borat
Butil p-aminobenzoat Kloramfenikol
Etin odiol diasetat
Estron Fluocinolon asetonid Hidrokortison Medroksi-progesteron asetat Nikotinamid Oktanol Asam oktanoat Progesteron Prostaglandin 15 (S)-metil-PGF2d Salisilat Asam salisilat Testosteron Air - 2,7 x 10-6 - - 3,94 x 10-7 (3,4 x 10-2 cm2/hari - 1,11 x 10-8 (4x10-5 cm2/jam) - - 3,7 x 10-7 - - - - - 1,69 x 0-6 - - 2,8 x 10-10 36,6 x 10-4 - 1,87 x 10-6 5,02 x 10-6 - 20,7 x 10-4 - 0,56 x 10-4 5,8 x 10-5 - 1,54 x 10-4 12 x 10-4 39 x 10-4 7 x 10-4 0,58 x 10-4 - 10,4 x 10-4 20 x 10-4 2,78 x10-7
Absorpsi dari jejunum tikus
Dari larutan dlm air melalui membran silastik Melalui kulit mencit
Melalui kulit mencit
Penglepasan dari matriks silastik
Absorpsi dari jejunum tikus
Dari 30% PPG 70% pelarut air melalui suatu membran polietilen
Absorpsi dari jejunum tikus
Absorpsi dari saluran vagina kelinci Penglepasan dari matriks silastik
Absorpsi dari jejunum tikus Absorpsi dari jejunum tikus Absorpsi dari jejunum tikus
Absorpsi dari saluran vagina kelinci Absorpsi in situ dari jejunum tikus
Difusi menyeberang membran selulosa Absorpsi dari jejunum tikus
Absorpsi dari jejunum tikus
Difusi kedalam lapisan-lapisan kulit manusia
37 37 25 37 25 37 25 37 37 25 37 37 37 37 37 37 37 37 37 a b c c d a e a f g a a a a a h a a i
DISOLUSI
Disolusi
adalah suatu proses terjadinya kelarutan obat atau
suatu bentuk sediaan seperti granul, kapsul, tablet dan sebagainya
di dalam tubuh.
Suatu sediaan obat misalnya sediaan padat di dalam tubuh akan
mengalami disintergrasi menjadi granul atau agregat, selanjutnya
oleh proses deagregasi menjadi partikel-partikel halus. Dari
partikel halus akan mengalami disolusi di dalam larutan (in vitro
atau in vivo). Setelah mengalami disolusi obat akan diabsorpsi ke
dalam jaringan tubuh. Dari proses absorpsi zat-zat sisa akan
mengalami eliminase dan kemudian diekskresikan keluar tubuh
melalui ginjal ataupun organ organ tubuh lainnya.
Laju disolusi
adalah kecepatan melarutnya obat dalam tubuh
setelah diberikan. Proses disintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa
berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari
bentuk di mana obat tersebut diberikan.
Tahapan-tahapan dalam proses disolusi digambarkan sebagai berikut :
DisolusiDisolusi Absorpsi
in vivo
Disolusi
TABLET ATAU KAPSUL
GRANUL ATAU AGREGAT
OBAT DALAM LARUTAN (in vitro atau in vivo)
OBAT DALAM DARAH, CAIRAN TUBUH LAINNYA DAN JARINGAN
PARTIKEL-PARTIKEL HALUS
Persamaan laju disolusi (Noyes-Whitney):
dM DS dC DS
—— = —— (Cs – C) atau — = — (Cs - C) Dt h dt Vh
Dimana : M = massa zat terlarut yang dilarutkan pada waktu t (g)
dM/dt = laju disolusi dari massa tersebut (mg/detik) D = koefisien difusi dari zat terlarut dalam larutan
(cm2/detik)
S = luas permukaan zat padat yang menyentuh larutan
(cm2)
h = ketebalan lapisan difusi (cm)
Cs = kelarutan dari zat padat yakni konsentrasi larutan
jenuh dari senyawa tersebut pada temperatur percobaan
C = konsentrasi zat terlarut pada waktu t dC/dt = laju disolusi
Perbedaan konsentrasi dengan berubahnya jarak untuk melewati lapisan difusi adalah konstan. Namun bisa terjadi penurunan dengan slop yang dinyatakan dalam persamaan (Cs –C)/h.
Jika C jauh lebih kecil dari kelarutan obat, Cs, sistem tersebut digambarkan oleh keadaan sink dan konsentrasi C bisa dihilangkan sehingga diperoleh persamaan : dM/dt = DSCs/h.
Contoh soal I :
Suatu sediaan granul obat seberat 0,55 g dan luas permukaannya 0,28 m2 (0,28 x
104 cm2) dibiarkan melarut dalam 500 ml air pada 25oC. Sesudah menit pertama,
jumlah yang ada dalam larutan adalah 0,76 g. Kuantitas D/h dikenal sebagai konstanta laju disolusi, k.
Jika kelarutan Cs dari obat tersebut adalah 15 mg/ml pada 25oC, berapakah k?
Dimana M berubah secara linear dengan t awal.
Penyelesaian : Diketahui : M = 0,76 g = 760 mg S = 0,28 x 10-4 cm2 V = 500 ml Cs = 15 mg/ml D/h = k
dM dM 760 mg — = kSCs — = ——— = 12,67 mg/detik dt dt 60 detik 12,67 mg/detik = kSCs 12,67 mg/detik k = ——————— SCs 12,67 mg/detik k = —————————————— = 3,02 x 10-4 cm/detik 0,28 x 10-4 cm2 x 15 mg/ml
Dalam contoh ini 0,76 g larut dlam 500 ml sesudah waktu 1 menit atau 760 mg/500ml = 1,5 mg/cm3. Harga ini 1/10 dari kelarutan obat dan bisa dibuang tanpa menimbulkan kesalahan yang berarti sehingga :
12,67 mg/detik
k = ——————————————————— = 3,35 x 10-4 cm/detik
(0,28 x 10-4 cm2) (15 mg/cm3 – 1,5 mg/cm3)
Jika k =D/h dan tebal lapisan difusi pada contoh tersebut diperkirakan 5.10-3 cm.
Maka, koefisien difusinya adalah :
Disolusi Serbuk : Hukum Akar Pangkat Tiga dari Hixon-Crowell.
Persamaan untuk suatu serbuk obat yang terdiri dari partikel-partikel yang berikuran sama :
dV = 4πr2 dr (1)
Untuk N partikel seperti itu, volume yang hilang adalah :
dV = 4Nπr2 dr (2)
Luas permukaan dari N partikel tersebut adalah :
S = 4Nπr2 (3)
Perubahan massa yang sangat kecil :
-dM = kSCs dt , (dimana k digunakan untuk D/h) (4)
Kerapatan obat adalah :
-ρ dV = kSCs dt (5)
Subtitusi persamaan (1) dan (3) :
-4ρNπr2 dr = 4Nπr2kCs dt (6)
Persamaan (6) dibagi kedua sisinya dengan 4Nπr2 menjadi :
-ρ dr = kCs dt (7)
Integrasi dengan r = ro pada t =0 menjadi :
r = ro – kCs t / ρ (8)
Massa dari N partikl adalah : M = Nρ(π/6)d3, dimana d = 2r dan dengan mengambil akar
pangkat tiga persamaan tersebut :
M⅓ = Nρ(π/6) 1/3d jika diameter d disubtitusikan dengan 2r ke dalam persamaan
(8) maka :
Mo ⅓ - M1/3 = Kt (9)
2kCs Mo ⅓ 2kCs
dimana, K = Nρ(π/6) 1/3 —— = —— ——— (10) ρ d ρ
Mo adalah massa awal dari partikel-partikel obat yang dikenal dengan hukum
akar pangkat tiga (3√) Hixon-Crowell.
Perubahan jari-jari partikel seiring perubahan waktu :
DCst r2 = r
o2 - ——— (11)
ρ
Waktu untuk disolusi sempurna t, yakni bila r2 =0, maka :
ρro2
t = —— (12)
Contoh soal II :
Dalam praktek klinik, injeksi diazepam propilenglikol-etanol-air
seringkali diencerkan beberapa kali dengan injeksi garam normal.
Endapan awal dari diazepam yang terjadi tidak berubah pada
penambahan larutan garam normal diikuti dengan disolusi sempurna
dalam waktu 1menit dengan pengocokan. Dengan harga Cs dalam air
adalah 3 mg/ml, ρ = 1,0 g/ml dan D = 5 x 10
-6cm
2/detik, hitung waktu
untuk disolusi sempurna jika r
o= 10µm (10 x 10
-4cm).
Penyelesaian :
(1 g/ml) (10 x 10
-4cm)
2t = —————————————— = 33 detik
2(5 x 10
-6cm
2/detik) (3 x 10
-3g/ml)
PENGLEPASAN OBAT
Lepasnya suatu obat dari sistem pemberian meliputi faktor disolusi dan difusi.
Obat dalam matriks polimer. Obta serbuk didispersikan secara homogen ke saluran matriks dari suatu tablet yang dapat terkikis. Obat tersebut dianggap melarut dlam matriks, polimer dan berdifusi ke luar dari permukaan matriks tersebut. Ketika obat dilepaskan, jarak untuk difusi menjadi bertambah besar.
Hukum Fick Pertama :
dM dQ DCs —— = —— = —— S. dt dt h (2A – Cs) (2A – Cs)h2 t = ———— h2 + C atau t = —————— 4DCs 4DCs 4DCs t 1/2 h = ———— 2A – Cs dQ ADCs 1/2
Laju penglepasan obat sesaat adalah : — = —— dt 2t
Dimana, dQ/dt adalah laju obat yang lepas per satuan luas permukaan matriks yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Cs adalah kelarutan atau konsentrasi obat jenuh dalam matriks. A adalah jumlah obat total dalam satuan volume matriks.
Q = D(2A – Cs) Cs t 1/2 atau Q = (2ADCst)1/2
Contoh soal III :
a). Berapakah jumlah obat per satuan luas, Q, yang dilepaskan dari suatu matriks tablet pada waktu t = 120 menit ?Konsentrasi obat total dari matriks homogen , A, adalah 0,02 g/cm3. Kelarutan obat Cs adalah 1,0 x 10-3 g/cm3 dalam polimer tersebut. Koefisien
difusi obat, D, dalam matriks polimer pada 25o Cadalah 6,0 x 10-6 cm2/detik atau 360 x
10-6 cm2/menit.
Penyelesaian : Q = (2ADCst)1/2
= 2(0,02 g/cm3) (360 x 10-6 cm2/menit) (1,0 x 10-3 g/cm3) (120 menit) ½
= 1,3 x 10-3 g/cm2
b). Berapakah laju penglepasan obat sesaat yang terjadi pada menit ke 120? dQ ADCs 1/2 (0,02) (360 x 10-6) (1,0 x 10-3) 1/2
— = ——— = ——————————————— = 5,5 x 10-6 g/cm-2 menit -1
Penglepasan obat dari matriks granular : Porositas dan tortuositas
Penglepsan suatu obat padat dari suatu matriks granular meliputi penetrasi simultan dari cairan sekitarnya, disolusi obat, dan menembus keluarnya obat dari saluran-saluran atau pori-pori.
Dє
Q = — (2A – єCs) Cst 1/2
τ
τ = Tortousitas є = Porositas
Porositas matriks total adalah : є = єo + A(1/ ρ) єo = porositas awal
Difusi Lapis Ganda . Meliputi membran-membran terpisah, sel-sel cairan distribusi.
Pi = DiKi/hi dan Ri = 1/Pi = hi/Di/Ki, dimana Ri tahanan terhadap difusi. Tahanan total adalah :
R = R1 + R2 + ……. R n
1/P = 1/P1 + 1/P2 ……. + 1/Pn
R = 1/P = h1/D1K1 + h2/D2K2 + …… hn/DnKn
Permeabilitas total untuk dua lapisan :
D1 K1 D2 K2
P = ————————— h1 D2 K2 + h2 D1 K1
Lag time sampai masa tunak untuk sistem dua lapisan adalah : h12 h 1 h2 h22 h1 h2 — ——— + ——— + —— ——— + ——— D1 6D1K1 2D2K2 D2 2D1K1 6D2K2 tL = ————————————————————————— (h1/D1K1 + h2/D2K2)
Tetapi jika koefisien partisi Ki dari kedua lapisan sama san salah satu dari h/D, katakan h1/D1, jauh lebih besar daripada yang lain, maka lag time untuk sistem kulit dua lapis menjadi lebih sederhana :
tL = h12/6D 1
Kontrol Membran dan Kontrol Lpisan-Lapisan Difusi. Dalam hal lapisan ganda yang
terpentinga adalah membran antara dua face air dengan lapisan pelarut stasioner atau lapisan pelarut stagnan yang berhubungan dengan sisi donor dan sisi reseptor dari membran tersebut.
Permeabilitas barir total, yang terdiri dari membran dan dua lapisan difusi air statis adalah : 1 Dm K Da 1
P = — = —————————— = ———————— R hm Da + 2ha Dm K hm/Dm K + 2ha/Da K = C3/C4 = C3/C2
Aliran J = P(C1 –C5) dan apabila reseptor bertibdak sebagai sink yakni C5 = 0 dan konsentrasi donor C1 dianggap konstan maka :
1 dM Dm KDa C1
J = — — = ————————— S dt hm Da + 2ha Dm K
Pengendalian Membran. Jika Rm > 2Ra atau Pm < 2Pa maka :
KDm J = —— C1 hm
Pengendalian Lapisan Difusi Air. Jika 2ha KDm > hmDa : Da
J = —— C1 2ha
Contoh soal IV :
Aliran steady state J untuk heksil para-aminobenzoat didapat 1,60 x 10-7 mmol cm -2 detik-1. D
a adalah 6,0 x 10 -6 dan konsentrasi eter PABA, C, adalah 1,0 mmol liter
-1. Sistem berada dalam pengendalian lapisan difusi, jadi digunakan persamaan
pengendalian lapisan air. Hitung tebal lapisan difusi statis, ha. Da Da J = —— C atau ha = —— C 2ha 2J 6,0 x 10-6 cm2 detik-1 Ha = ——————————————— x (1,0 x 10-3 mmol cm-3) 2(1,60 x 10-7 mmol cm-2 detik -1 = 0,019 cm
Aliran maksimum adalah :
DmKDa
Jmax = ————————— Cs hmDa + 2ha KDm
Waktu Lag pada pengendalian oleh lapisan Difusi.
(∑ha)2
tL = ——— 6Da
Lag time untuk membran yang tebal yang bekerja pada pengendalian lapisan difusi :
hm ha1 ha2 K tL = ——————
(ha1 + ha2)Da
Jika ha1 dan ha2 sama tebalnya maka lag time : hm ha K
tL = ———— 2Da
Obat-obat yang larut dalam pembawa topikal dan matriks. Persamaan Bottari : Q2 + 2DRA *Q - 2DA *C st = 0 Dimana : A* = A - ½ (Cs + Cv)
Q = jumlah obat yanag dilepaskan per satuan luas bentuk sediaan D = difusivitas efektif dari obat tersebut dalam pembawa
A = konsentrasi obat total
Cs = kelarutan obat dalam pembawa Cv = konsentrasi obat pada antar muka
R = tahanan difusi yang ditanggung oleh batas antara pembawa donor dan fase reseptor A* = keadaan yang efektif yang digunakan apabila A hanya kira-kira 3 atau 4 kali lebih besar
dari Cs.
Bila Q2 > 2DRA*Q
maka disederhanakan menjadi bentuk persamaan Higuchi yaitu
Q = (2A*DCst)1/2
pada kondisi ini R tidak lagi bermakna atau menjadi : Q = D(2A – Cs) Cst ½
Atau bila diselesaikan dengan pendekatan kuadrat maka aQ + bQ + c = 0
Dimana a = 1, b = 2DRA* dan c = -2DA*Cst sehingga menjadi :
-b ± √b2 – 4ac -2DRA* + √(2DRA)2 + (2DRA*C st)
Q = —————— atau Q = ———————————————— 2a 2
Jika terjadi suatu waktu lag, maka t diganti dengan (t – tL) untuk periode steady-state.
Maka Cv = R(dQ/dt) Contoh soal V :
a). Hitung Q, jumlah benzoqaina micronized dalam miligram yang dilepaskan
per cm2 luas permukaan dari suatu gel air setelah 9000 detik (2,5 jam) dalam
suatu sel difusi. Dengan menganggap bahwa konsentrasi total A adalah 10,9 mg/ml, kelarutan Cv adalah 1,31 mg/ml, Cv = 1,05 mg/ml, tahanan difusi R dari suatu batas karet silikon yang memisahkan gel dari ruang, donor adalah 8,10 x3 detik/cm, dan difusifitas D dari obat tersebut dalam gel adalah 9,14 x 10-6
cm2/detik
A* = A - ½ (Cs + Cv)
= 10,9 mg/ml - ½ (1,31 + 1,05) mg/ml = 9,72 mg/ml.
Jadi :
DRA* = (9,14 x 10-6 cm2/detik) (8,10 x 103 detik/cm) (9,72 mg/ml
= 0,7196 mgcm-2 DA*Cst = (9,14 x 10-6) (9,72) (1,31) (9000) = 1,047 mg2/cm4 Q = -0,7196 + (0,7196)2 + 2(1,047) ½ mg/cm2 = -0,7196 + 1,616 = 0,90 mg/cm2
Q(hitung) = 0,90 mg/cm2 dibandingkan dengan Q
(o bervasi) = 0,88 mg/cm2 hasilnya
cukup baik.
Sedikit peningkatan ketepatan bisa diperoleh dengan mengganti t = 9000 detik dengan (9000 – 405) detik, di mana waktu lag t = 405 detik diperoleh dari suatu plot harga Q percobaan terhadap t½, koreksi ini menghasilkan suatu harga
(b). Hitung Q dengan menggunakan persamaan Q = D(2A – Cs) Cst ½ dan bandingkan hasilnya dengan (a).
Q ={(9,14 x 10-6) ( 2 x 10,9) – 1,31 (1,31) (9000)}½
= 1,49 mg/cm2
Persamaan Chien untuk menyatakan laju penglepasan obat pada kondisi sink :
KrDaDm
Q = ————————— Cpt
KrDahm + Dmha Kr = Cs/Cp
Kr = koefisien partisi ha = ketebalan lapisan difusi Cp = kelarutan obat hm = ketebalan membran Jika KrDahm > Dmha maka : Da = difusifitas larutan
Dm Q/t = laju penglepasan obat
Q = — Cpt Dm = difusifitas membran ha
Jika Dmha > KrDahm maka : Da KrDa Q = —— Cst = —— Cst ha ha Cs = KrCp
Q/t = laju pengleoasan obat
Contoh soal VI :
Koefisien partisi Kr = Cs/Cp dari progesteron adalah 0,022, difusifitas membran
silastis Da adalah 4,994 x 10 -2 cm2/hari; kelarutan progesteron dalam membran
silastis Cp adalah 512 µg/cm3; ketebalan membran kapsul h
m adalah 0,080 cm ketebalan lapisan difusi ha adalah 0,008 cm. Hitung laju penglepasan progesteron dari kapsul dan nyatakan dalam µg/cm2 per hari. Bandingkan hasil yang dihitung
dengan hasil observasi, Q/t = 64,50 µg/cm2/hari.
CpKrDaDm Q/t = ——————— KrDahm + Dmha
(513 µg/cm3) (0,022) (4,994 x 10-2 cm2/hari) (14,26 x 10-2 cm2/hari) Q/t = ——————————————————————————————— (0,022) (4,994 x 10-2 cm2/hari) (0,080 cm) + (14,26 x 10-2 cm/hari) (0,008 cm) 0,08037 Q/t = ———— = 65,42 µg/cm2 per hari 0,00123 a). Apakah KrDahm > Dmha b). Apakah Dmha > KrDahm
c). Kesimpulan apakah yang akan diambil dengan menganggap pengendalian oleh matriks atau lapisan difuasi?
KrDahm = 8,79 x 10-5; D
mha = 1,14 x 10-3
Dmha/(KrDahm + Dmha) = (1,14 x 10-3)/ (8,79 x 10-5) + (1,14 x 10-3) = 0,93
Oleh karena itu Dmha > KrDahm, dan sisten tersebut adalah 93% di bawah pengendalian lapisan difusi air.
Jadi seharusnya digunakan persamaan :
KrDaCp (0,022) (4,994) x 10-2) (513)
Q/t = ———— = ————————————— = 70,45 37 µg/cm2 per hari
ha 0,008
Walaupun Dmha lebih besar dari KrDahm kira-kira satu orde dari besarnya yakni Dmha/Kdahm = 13, terbukti bahwa hasil yang jauh lebih baik didapat dengan menggunakan keseluruhan persamaan :
KrDaDm
Q = ————————— Cpt
KrDahm + Dmha
Contoh soal VII :
Dua ester steroid kontraseptif baru A dan B disintesis dan parameter-parameter yang ditentukan untuk penglepasan dari kapsul adalah :
CpKrDaDm Q/t = ——————— KrDahm + Dmha Kr Da (cm2/hari Dm (cm2/hari Cv (µg/cm3 ha (cm) Q/t (µg/cm2) A = 0,15 B = 0,04 25 x 10-2 4,0 x 10-2 2,6 x 10-2 3,0 x 10-2 100 85 0,008 0,008 24,5 10,32
Hitung hm dalam cm untuk membran kapsul ! (Q/t) (KrDahm + Dmha) = CpKrDaDm (Q/t)(KrDahm = CpKrDaDm - Dmha(Q/t) CpKrDaDm - Dmha(Q/t) hm = —————————— (Q/t)KrDa Untuk kapsul A : (100) (0,15) (25 x 10-2) (2,6 x 10-2) – (2,6 x 10-2) (0,008) (24,50) hm = —————————————————————————— (24,50) (0,15) (25 x 10-2) 0,0924 cm hm = ———— = 0,101 cm 0,0918
Perlu diingit bahwa semua satuan hilang kecuali cm Untuk senyawa B = 0,097 cm.
PRINSIP DIFUSI DALAM SISTEM BIOLOGIS
Absorpsi Obat dalam Gastrointestin (Lambung-Usus). Obat-obatan umumnya adalah asam
lemah atau basa lemah, kemudian sifat ionis dari obat serta kompartemen biologis dan membran mempunyai suatu pengaruh penting pada proses perpindahan tersebut.
Untuk suatu asam lemah : (A-)
pH = pKa + log ——
(HA) Untuk basa lemah : (B)
pH = pKa + log —— atau pKa = pKw - pKb (BH+)
% Terion = I/I + U x 100
U/I = 10(pKa – pH) = antilog (pKa – pH) atau U = I antilog (pKa – pH) Sehingga :
100
% Terion = —————————— untuk asam lemah 1 + antolog (pKa-pH)
100
% Terion = ——————————— untuk basa lemah. 1 + antilog (pH - pKa)
Bila dinyatakan dalam hukum Fick maka : dM Dm SK
- — = ——— (Cg – Cp) dt h
Modifikasi Prinsip pH-partisi.
Aliran dari suatu obat yang mempenetrasi membran mukosa adalah :
J = Pnyata (Cb –Cdarah)
Karena reservoir darah adalah sebuah sink maka : Cdarah = 0 Sehingga : J = Pnyata Cb
Koefieien permeabilitas nyata adalah : 1
Pnyata = ——————
1 1 — + —
Dimana :
Paq = koefisien permeabilitas obat dalam lapisan batas air (cm/detik)
Pm = koefisien permeabilitas efektif untuk obat dalam daerah lemak
dan daerah air polar dari membran tersebut (cm/detik)
Pnyata = koefisien permeabilitas nyata
Cb = konsentrasi obat total dalam larutan bulk dilumen usus
J = aliran obat dapat ditulis engan menggunakan rumus ;
Vd Cb J = - — x — S dt
S = luas permukaan V = volume ruas usus
dCb V — = - KuCb atau J = — . KuCb
dt S
1 V Pnyata = ——— = — Ku 1 + 1 S — — Pag Pm S Paq Ku = — . —— V Paq 1 + —— Pm Ku, max = (S/V)Paq Ku = (S/V)Pm
Untuk suatu obat elektrolit lemah Ku adalah : S Paq Ku = — . —————— V paq 1 + ————— PoXs + Pp
Di mana Pm membran dipisah dalam batas Po sehingga koefieien permeabilitas dari jalur polar atau air untuk zat ionik maupun nonionik adalah :
Pm = PoXs + Pp
Dimana fraksi dari obat yang tidak terdisosiasi Xs pada pH permukaan membran dalam air adalah :
(H+)
s 1
Xs = ————— = ——————— untuk basa lemah
(H+)
s + Ka 1 + 10 pHs – pKa
Ka 1
Xs = ————— = —————— untuk asam lemah
(H+)
Pnyata untuk fraksi mol yang tertinggal (masih ada) yang dinyatakan sebagai
1-fraksi yang terabsorpsi :
C(l) 2πrlPnyata 1- —— = 1 – eksponen – —————— C(0) v v C(l) Pnyata = - —— ln —— 2πrl C(0) v = - —— ln (1- fraksi terabsorpsi) 2πrl Paq Pnyata = ————— 1 + Paq/Pm
Contoh soal I :
Hitung konstanta laju orde satu Ku untuk transpor suatu alkohol alifatis melewati membran mukosa dari usus halus tikus jika S/V = 11,2 x 10-1, Paq = 1,5 x 10-4
cm/detik dan Pm = 1,1 x 10-4 cm/detik.
1,5 x 10-4 cm/detik Ku = (11,2) ———————— 1,5 x 10-4 cm/detik 1 + ———————— 1,1 x 10-4 cm/detik 1,5 x 10-4 =11,2 ———— 2,3636 Ku = 7,1 x 10-4 detik-1
Contoh soal II :
Suatu obat asam lemah yang mempunyai Ka = 1,48 x 10-5 ditaruh dalam duodenum dalam suatu larutan dapar pH 5,0. Anggaplah ((H+) = 1 x 10-5
dalam duidenum , Paq = 5 x 10 -4 cm/detik, P
o = 1,14 x 10-3 cm/detik, Pp = 2,4 x
10-5 cm/detik dan S/V = 11,20 cm-1. Hitunglah konstanta laju absorpsi, K u ! Penyelesaian : (1 x 10-5) Xs = —————————— = 0,403 (1 x 10-5) + 1,48 x 10-5 Maka 5 x 10 -4 Ku = (11,2) ———— 5,0 x 10-4 1 + ————————————— (1,14 x 10-3) 0,403 + 2,4 x 10-5 Ku = 2,75 x 10-3 detik-1
Contoh soal III :
Suatu sediaan dengan fraksi obat terabsorpsi dalam jejunum tikus adalah 0,6 untuk progesteron dan 0,4 untuk kortikosteron jika v = 0,247 ml/menit, r = 0,18 cm dan l = 33,3 cm.
a). Tentukan Paq dan Pm dalam cm/detik untuk kortikosteron. Pnyata = Paq 0,247 = - ———————————— ln (1- 0,6) untuk peogesteron 60(2 x 3,14 x 0,18 x 33,3) = 1,0 x 10-4 cm/detik 0,247
Pnyata = - —————————— ln (1 – 0,4) untuk kortokosteron 60(2 x 3,14 x 0,18 x 33,3
= 5,58 x 10-5 cm/detik (60 tampak dalam penyebut untuk mengubah
Absorpsi Perkutan. Penetrasi perkutan akni perjalanan melalui kulit meliputi
disolusi suatu obat dalam pembawanya, difusi obat terlarut (solut) dari pembawa ke permukaan kulit dan penetrasi obat melalui lapisan-lapisan kulit, terutama lapisan stratum korneum.
Persamaan difusi untuk sistem absorpsi perkutan: dCv SKvsDsCv
- — = ————— dt Vh
Dimana :
Cv = konsentrasi obat yang terlarut dalam pembawa (g/Cm3)
S = luas permukaan pemakaian
Ksv = koefisien partisi dari diflorason diasetat pada kulit pembawa Ds = koefisien difusi sari obat (cm2/detik)
V = volume produk obat yang dipakai (cm3)
H = tebal pembatas kulit (cm)
dCv SKvsCv - —— = ———— dt VRs
Sedangkan untuk memperoleh jumlah diflorason digunakan rumus :
SKvsCv MR = ———— t Rs
Dan aliran J dapat terjadi sebagai berikut : MR KvsCv
J = —— = ——— S . T Rs
Contoh soal :
Suatu penelitian penetrasi 5,0 x 10-3 g/cm3 larutan diflorason diasetat dilakukan
dalam sel difusi pada 27o C, dengan menggunakan suatu pelarut yang mengandung
fraksi berat 0,4 polioksipropilena 15 stearil eter an minyak mineral. Koefisien partisi Kvs untuk untuk obat yang terdistribusi antar kulit mencit yang tidak berambut dan pembawa diperoleh sebesar 0,625. Tahanan Rs dari obat dalam kulit mencit ditentukan 6666 jam/cm. Garis tengah penampang melintang kulit mencit yang digunakan sebagai pembatas dalam sel difusi adalah 1,35 cm. Hitung aliran, J= MR/(S.t) dalam g/cm2/jam dan jumlah M
R dalam µg diflorason diasetat yang terdifusi
Penyelesaian : KvsCv (0,625) (5,0 x 10-3 g/cm3) a). J = ——— = ——————————— Rs 6666 jam/cm J = 4,69 x 10-7 g/cm2/jam b). MR = J x S x t MR = (4,69 x 10-7 g/cm2/jam) (¼)π (1,35)2 cm2 (8 jam) MR = 5,37 x 10-6 g = 5,73µg Absorpsi Buccal.
Absorpsi buccal dianggap sebagai proses orde-pertama yang memiliki obat nonakumulasi (tidak berkumpul) dalam darah.
C
Ln — = - Kut, dimana C adalah konsentrasi air dari asam n-alkanoat
Co S Paq Ku = — . ———— V Paq 1 + —— PoXs
Difusi melalui Rahim 1 De Ks 1 1 ———— M 2 + ——— — + — M - (2πhD eCst) = 0 2πhao2A a o Paq Pm
PENYERAPAN UAP DAN TRANSMISI
Permeasi air, uap air, bahan-bahan parfum dan bahan menguap lainnya merupakan hal penting dalam penelitian.
Menurut hukum Fick, jalannya permeasi gas melalui suatu membran dapat dinyatakan sebgai berikut :
dM SD (C1 – C2) —— = ————— dt L
dM/dt = massa permean yang berdifusi per satuan waktu (g) C1 –C2 = perbedaab konsentrasi melewati lapisan tipis
S = luas permukaan L = tebal lapisan D = koefieien difusi
Jika dihubungkan dengan gas yang terlarut dalam cairan maka diperoleh : C = σp, sehingga : dM SDσ (p1 – p2) —— = ————— dt L σ = konstanta p1 – p2 = tekanan (Hg)
Koefisien permeabilitas adalah :
L(dM/dt)
P = ———— , Δp = perbedaan tekanan (Hg) S(Δp)
Atau
P = RL
Mekanisme Dasar dari Permeasi Uap Air. Menurut Morgan, polimer yang menahan
permeabilitas uap mempunyai beberapa ciri antara lain : Rantai molekular dari karbon jenuh
Rantai cabang minimum
Mempunyai simetri yang cukup besar antara molekul-molekul yang terletak berdampingan dalam struktur polimer
TERMODINAMIKA DIFUSI
Persamaan Arrhenius tentang permeasi gas, cairan dan zat terlarut melalui membran memerlukan energi yang dinyatakan dalam rumus :
P = Poе-Ep/RT
ln P = ln Po – Ep/RT
Maka persamaan untuk difusi adalah :
D = D0е-E/RT
Koefisien kelarutan dari suatu uap atau gas dinyatakan denga rumus :
σ = σoеΔHs/RT
Permeabilitas P = Dσ adalah suatu kombinasi difusi dan kelarutan :
P = Doσoе-(E-ΔHs)/RT
= Poе-(E-ΔHs)/RT, dimana E
p = E - ΔHs
Jika dihubungkan dengan logaritma maka menjadi : E - ΔHs ln P = ———— ln p + konstanta ΔH E - ΔHs Kemiringan garis = ———— ΔH
Po = suatu faktor yang tidak bergantung pada suhu dan sebanding dengan jumlah molekul yang masuk
Ep = energi pengaktivasi untuk permeasi (kalori/mol) E = energi pengaktivasi untuk difusi
Do = difusi
ΔHs = panas larutan dari gas dalam polimer P = permeabilitas
R = suhu (oC)
T = tekanan
Contoh soal :
Konstanta permeabilitas untuk metan dala karet alam untuk jarak temperatur kira-kira 20o – 60o C di atas temperatur mana plot tersebut merupakan suatu garis lurus. Hitung besarnya Ep = (E – ΔHs). Jika E = 11,600 kalori/mol, berapakah panas larutan untuk metan dalam karet alam ? Kemiringan garis untuk metan dalam karet alam pada 25oC kira-kira :
ΔlnP ln (10 x 10-9) - ln(2 x 10-9)
—— = ——————————— = 0,868 ΔlnP ln 83 – ln 13
seperti yang diperlukan didapat perbandingan tanpa dimensi. Panas molar penguapan dari air pada 25oC = 10,736 kal/mol. Maka : 11,600 (kal/mol) – ΔHs (kal/mol) 0,868 = ———————————— 10736 a9kal/mola0 ΔHs = 2280 kal/mol Ep = 11,600 – 2280 = 9320 kal/mol