• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 14 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 14 Universitas Kristen Petra"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

14 Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1 Bullying

Kata bullying berasal dari kata bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang menyeruduk kesana kemari. Istilah ini akhirnya diambil untuk menguraikan suatu tindakan destruktif. Berbeda dengan negara lain seperti Norwegia, Finlandia, dan Denmark yang menyebut bullying dengan istilah mobbing atau mobbning. Istilah aslinya berasal dari bahasa Inggris yaitu mob yang menekankan bahwa biasanya mob adalah sekelompok orang yang anonim dan berjumlah banyak serta terlibat kekerasan (Owleus, 2002)

Dalam bahasa Indonesia secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang menggangu orang yang lemah. Istilah bullying dalam bahasa Indonesia bias menggunakan menyekat (berasal dari kata sakat) dan pelakunya (bully) disebut penyakat. Menyakat berarti menggangu, mengusik, dan merintangi orang lain (Wiyani, 2012).

Bullying dapat terjadi karena kesalah pahaman antarpihak yang berinteraksi. Bullying bukanlah merupakan suatu tindakan yang kebetulan terjadi, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, seperti faktor sosial, budaya dan ekonomi. Biasanya dilakukan oleh pihak- pihak yang merasa lebih terhormat untuk menindas pihak lain untuk memperoleh keuntungan. Bullying dapat terjadi dimana saja, seperti dikeluarga, masyarakat dan sekolah yang merupakan tri pusat pendidikan (Wiyani 2012).

Rigby (2005) merumuskan bahwa bullying merupakan sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan perasaan senang. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa perilaku bullying tersebut merupakan hal sepele atau bahkan normal dalam tahap kehidupan manusia atau dalam kehidupan sehari-hari

(2)

15 Universitas Kristen Petra Lebih lanjut Dan Owleus (2002) mendefiniskan bullying, yang mengandung tiga unsur mendasar dari perilaku bullying sebagai berikut :

1. Bersifat menyerang ( agresif ) dan negatif 2. Dilakukan secara berulang kali

3. Adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang terlibat

Bullying terjadi apabila memenuhi unsur (Dan Owleus 2002):

1. Perilaku yang menyebabkan seseorang/ siswa/ guru terhina, terintimidasi, takut, terisolasi

2. Perilaku yang dilakukan berulang-ulang baik verbal, fisik, dan psikis, yang menimbulkan powerless

3. Adanya aktor yang superior dan inferior 4. Perilaku yang dilakukan berdampak negatif.

Bullying disebut perilaku sadar karena perilaku ini dilakukan secara berulang, terorganisir dan memiliki tujuan yaitu untuk menciptakan teror bagi korban. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa kebanyakan definisi bullying dikategorikan sebagai suatu sub bagian dari perilaku agresif yang melibatkan suatu maksud untuk menyakiti orang lain. bullying merupakan bentuk tindakan kekerasan yang repetitif, cenderung diulang, dilakukan berkali-kali atau terusmenerus selama periode waktu tertentu. menspesifikan ” repetition” dalam definisi bullying di awal untuk mengecualikan insiden-insiden minor atau kejadian-kejadian tidak serius yang kadang-kadang terjadi. Kendatipun demikian, Olweus juga mengindikasikan bahwa hal serius tunggal ”di dalam keadaan tertentu ” harus dianggap sebagai bullying. (Camodeca et al. 2003; Olweus 1978; Rivers & Smith, 1994; Smith & Thompson, 1991; dalam Astuti, Retno, 2008).

Secara fisik, pelaku bullying tidak hanya didominasi oleh anak yang berfisik besar dan kuat, anak bertubuh kecil atau sedang yang memiliki dominasi psikologis yang besar di kalangan teman-temannya juga dapat menjadi pelaku bullying. Alasan yang paling jelas mengapa seseorang menjadi pelaku bullying adalah bahwa pelaku

(3)

16 Universitas Kristen Petra bullying merasakan kepuasan apabila ia “berkuasa” di kalangan teman sebayanya. Selain itu, tawa teman-teman sekelompoknya saat ia mempermainkan sang korban memberikan penguatan terhadap perilaku bullying-nya (Amini, 2008).

Para pelaku bullying juga memiliki kepercayaan diri tinggi dan dorongan untuk selalu menindas dan menggencet anak yang lebih lemah. Hal ini karena mereka tidak pernah dididik untuk memiliki empati terhadap orang lain, yakni merasakan perasaan orang lain yang mengalami siksaan dan aniaya. Selain itu, pelaku bullying umumnya temperamental, tidak jarang bullying dilakukan sebagai bentuk pelampiasan kekesalan dan kekecewaannya ataupun untuk memiliki kelompok sendiri. Tidak hanya itu, para pelaku Bullying bisa saja hanya sekedar mengulangi apa yang pernah ia lihat dan alami sendiri. Ia menganiaya anak lain karena ia dianiaya orang tuanya di rumah atau pernah ditindas dan dianiaya anak lain yang lebih kuat darinya (Amini, 2008)

Terjadinya bullying di sekolah menurut Salvimalli (dalam Astuti, Retno 2008) merupakan proses dinamika kelompok dan di dalamnya ada pembagian peran. Peran-peran tersebut adalah bully, asisten bully, reinfocer, defender, dan outsider :

a. Bully yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.

b. Victim yaitu murid yang sering menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan penyerangnya.

c. Asisten Bully terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung bergantung atau mengikuti perintah bully.

d. Reinfocer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, mentertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya.

e. Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantu korban, sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga.

(4)

17 Universitas Kristen Petra f. Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak

melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli.

2.2 Jenis Bullying

Barbara Coloroso dalam bukunya Stop Bullying! Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga SMU (2006, p.46) memaparkan empat jenis bullying, yakni sebagai berikut:

1. Bullying Verbal

Bullying Verbal merupakan bentuk bullying yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki laki. Persentasenya dilaporkan mencapai 70 persen dari seluruh kasus bullying. Bullying verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan di hadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi. Cepat dan tidak menyakitkan sang bully, namun dapat sangat melukai sang target. Anak-anak yang lebih muda, yang belum mengembangkan suatu kesadaran diri yang kuat, merupakan pihak yang paling gampang untuk di pengaruhi oleh hal ini, namun serangan berulang dapat mengecilkan setiap anak tak perduli berpapun usianya.

Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan dan pernyataan pernyataan yang bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Bullying verbal merupakan alat yang paling kuat dan dapat mematahkan semangat seseorang anak yang menerimanya. Penindasan verbal dapat diteriakkan ditaman bermain bercampur dengan hingar bingar dan diabaikan karena dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik diantara teman-teman sebaya.

2. Bullying Fisik

Bullying Fisik merupakan jenis yang paling tampak dan paling dapat dildentifikasi di antara bentuk-bentuk bullying lainnya, namun kejadian bullying fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden bullying yang dilaporkan oleh anak-anak.

(5)

18 Universitas Kristen Petra Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan dapat diidentifikasi diantara bentuk bentuk penindasan lain, jenis penindasan seperti, memukul, mencekik, menyikut, meninju, menedang, mengigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang tertindas hingga keposisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghacurkan pakaian serta barangbarang milik anak yang tertindas.

3. Bullying Relasional

Bullying Relasional merupakan jenis yang paling sulit dideteksi dari luar. Bullying relasional adalah pelemahan harga diri korban bullying secara sistematis. Selain tiga jenis bullying di atas, Coloroso juga memaparkan tiga jenis bullying yang mengandung unsur seksual.

Penindasan relasional adalah pelemahan harga diri korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan nafas, cibiran, tawa megejek, dan bahasa tubuh yang kasar.

4. Bullying elektronik

Bullying elektronik merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan pelakunya melalui sarana elektronik seperti computer, handphone, internet, website, chatting room, email, SMS dan sebagainya. Biasanya ditujukan untuk meneror korban dengan menggunakan tulisan, animasi, gambar, dan rekaman video atau film yang sifatnya mengintimidasi, menyakiti atau menyudutkan. Bullying jenis ini dilakukan oleh kelompok remaja yang memiliki pemahaman cukup baik terhadap sarana teknologi informasi dan media elektronik lainnya.

Pada umunya, anak laki-laki lebih banyak menggunakan bullying secara fisik dan anak wanita banyak menggunakan bullying relasional/ emosional, namun keduanya

(6)

19 Universitas Kristen Petra samasama menggunakan bullying verbal. Perbedaan ini, lebih berkaitan dengan pola sosialisasi yang terjadi antara anak laki-laki dan perempuan (Coloroso, 2006:51).

2.3 Tempat Terjadinya Bullying

Bullying dapat terjadi hampir di mana saja, tapi terutama bila tidak ada pengawasan yang memadai atau tidak ada orang dewasa. Berikut ini adalah tempat-tempat terjadinya bullying yang didefinisikan oleh Barbara Coloroso (2006, p. 79): 1. Di sekolah

Contohnya taman bermain, kelas yakni yang sering dilaporkan sebagai tempat paling umum untuk intimidasi di antara siswa SMP dan SMA, meskipun juga dilaporkan terjadi di Sekolah Dasar. Walaupun ada guru, bentuk bullying yang lebih halus misalnya gestur, catatan lewat (notepassing) sering terjadi di kelas. Pada waktu istirahat kelas dengan guru keluar dari ruangan, bentuk lain dapat diterapkan, dan antara kelas, seperti toilet, koridor, ruang gantungan baju, area loker, ruang ganti, kamar mandi dan asrama di sekolah asrama jika tidak dipantau/diawasi dengan baik juga dilaporkan oleh siswa sebagai tempat di mana mereka pernah mengalami bullying.

2. Ke dan dari sekolah

Siswa di tingkat Sekolah Dasar dan menengah juga melaporkan bahwa mereka dibully ke atau dari sekolah. Bullying ini bisa terjadi saat mereka berjalan ke atau dari rumah, namun siswa juga melaporkan bahwa bepergian di bus (sekolah atau publik) merupakan lokasi utama untuk dilecehkan.

3. Rumah

Sementara rumah selalu dianggap sebagai tempat yang aman, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan dan penyerangan cyberbullying telah menyerbu tempat yang aman itu. Tapi perilaku bullying seringkali bisa dimulai di dalam rumah, dengan anak-anak belajar perilaku dari orang tua atau saudara kandung, atau memang menderita intimidasi di tangan anggota keluarga sendiri.

(7)

20 Universitas Kristen Petra Komunitas yang lebih luas sebagai tempat umum sering menjadi saksi perilaku bullying. Penjaga toko, manajer, dan pekerja di masyarakat sering melaporkan melihat tindak kekerasan fisik dan verbal antara lain oleh siswa dari sekolah yang mereka kenal di daerah setempat, sementara hotspot wifi lokal juga bisa dimanfaatkan dalam memfasilitasi cyberbullying.

2.4 Teori Kultivasi

Teori Kultivasi merupakan salah satu teori yang ingin menjelaskan keterkaitan antara media komunikasi televisi dan film dengan tindak kekerasan. Tindak kekerasan memiliki banyak bentuk salah satunya yaitu kekerasan yang berbentuk Bullying. Teori ini dikemukakan oleh George Gerbner, mantan Dekan dari Fakultas (Sekolah Tinggi) Komunikasi Annenberg Universitas Pennsylvania, yang juga pendiri Cultural Environment Movement, berdasarkan penelitiannya terhadap perilaku penonton televisi yang dikaitkan dengan materi berbagai program televisi yang ada di Amerika Serikat. Teori Kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa para pecandu (penonton berat/heavy viewers) televisi atau film membangun keyakinan yang berlebihan bahwa “dunia itu sangat menakutkan” . Hal tersebut disebabkan keyakinan mereka bahwa “apa yang mereka lihat di televisi” yang cenderung banyak menyajikan tayangan kekerasan adalah “apa yang mereka yakini terjadi juga dalam kehidupan nyata” (Hadi, 2007:8).

Hadirnya media televisi memberi dampak komersial bagi pasar dan khalayak. Dampak medium televisi melalui program acara berita kriminal, jenis film action, triller, dan pembunuhan, ini mampu memengaruhi agresivitas khalayak terhadap dunia atas kumulatif efek melalui tayangan televisi. Dampak ‘kekerasan media’ ini oleh George Gerbner kemudian disebutnya sebagai “mean world syndrome”, dalam teori Cultivation Analysis (1970-1980) (Hadi, 2007 : 8).

Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para pemirsa televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur lingkungannya. Dengan kata lain untuk mengetahui dunia nyata macam apa yang dibayangkan oleh pemirsa televisi dan bagaimana media televisi mempengaruhi pemirsa atas dunia

(8)

21 Universitas Kristen Petra nyata. Asumsi mendasar dalam teori ini adalah terpaan media yang terus menerus akan memberikan gambaran dan pengaruh pada pemirsanya. Artinya, selama pemirsa kontak dengan televisi, mereka akan belajar tentang dunia, belajar bersikap dan nilai‐nilai orang (Hadi, 2007 : 9)

Gerbner meyakini bahwa kekuatan televisi berasal dari isi simbolik dari drama kenyataan hidup sehari-hari yang ditayangkan jam lepas jam dan minggu lepas minggu (Griffin, 1991). “Rata-rata pemirsa menonton televisi empat jam sehari” (Severin dan Tankard, 2001). “George Gerbner menggolongkan audience televisi menjadi 2 golongan, yaitu heavy viewer dan light viewer. Heavy viewer atau pecandu berat televisi adalah orang yang menonton televisi lebih dari 4 jam per hari. Sebaliknya, light viewer atau pecandu ringan adalah orang yang menonton kurang dari 4 jam per hari” (Hadi, 2007 : 3).

Dalam hal ini, seperti Marshall McLuhan dan Gerbner menyatakan bahwa televisi dan film merupakan suatu kekuatan yang secara dominan dapat mempengaruhi masyarakat modern. Kekuatan tersebut berasal dari kemampuan televisi dan film melalui berbagai simbol untuk memberikan berbagai gambaran yang terlihat nyata dan penting seperti sebuah kehidupan sehari-hari. Televisi dan film mampu mempengaruhi penontonnya, sehingga apa yang ditampilkan media film dan televisi dipandang sebagai sebuah kehidupan yang nyata, kehidupan sehari-hari. Realitas yang tampil di media dipandang sebagai sebuah realitas objektif (Hadi. 2012 : 4).

2.5 Komunikasi Massa

Komunikasi massa dalam tinjauan praktis adalah proses penyampaian pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima) dengan menggunakan media massa sebagai perantaranya. Di samping pengiriman pesannya menggunakan media massa, pihak komunikan dalam komunikasi massa ini tidak berjumlah satu orang saja, tetapi melibatkan banyak orang. Dengan kata lain pesan dalam komunikasi massa ini diperuntukkan kepada massa. Itu jelas perbedaannya dengan komunikasi antar pribadi yang pesannya hanya dikirim secara personal bukan massal. Dalam komunikasi massa ini, saluran komunikasi yang lazim digunakan

(9)

22 Universitas Kristen Petra dapat berupa media massa cetak, elektronik, atau media massa online (Elvinaro. 2007).

Saluran media massa cetak biasa digunakan untuk mengirim pesan bersifat tekstual (teks) atau visual (gambar). Jenisnya meliputi koran, majalah, tabloid, buletin, poster, pamflet, dsb. Sementara media massa elektronik, ialah media pengiriman pesan secara mekanis yang bentuk pesannya bisa bersifat audio untuk radio, dan audio-visual untuk televisi. Dewasa ini ada media pengirim pesan terbaru yakni media online. Media massa satu ini mempunyai sifat yang lengkap mencakup apa yang dimiliki oleh radio dan televisi, bahkan media online punya kelebihan dibanding media cetak dan elektronik. Keunggulan media online terdapat pada alur komunikasi yang lebih bergairah dan cepat, dimana khalayak dapat berperan aktif sebagai komunikator atau komunikan. Itu disebabkan media online yang memakai jaringan internet, membuat pengguna bisa saling member feedback (umpan balik) secara realtime (cepat). Ini jelas berbeda dengan radio atau televisi yang cenderung menjadikan khalayak sebagai penerima pesan saja tanpa umpan balik (Elvinaro. 2007).

Dalam peninjauan para pakar komunikasi, definisi komunikasi massa paling sederhana dikemukakan oleh Gerbner yang dikutip dari buku Komunikasi Massa, karangan Ardianto, yaitu:

“Mass communication is the tehnologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuos flow of messages in industrial societies”.

Definisi tersebut, mengartikan bahwa komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri.

Seseorang yang akan menggunakan media massa sebagai sarana untuk melakukan kegiatan komunikasi, maka perlu memahami karakteristik komunikasi massa. Menurut Effendy dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, menyebutkan tentang karakteristik komunikasi massa sebagai berikut:

(10)

23 Universitas Kristen Petra 1. Komunikasi massa bersifat umum yaitu, pesan yang disampaikan melalui media massa adalah terbuka untuk semua orang. Benda-benda tercetak, film, radio, dan televisi apabila digunakannya untuk keperluan pribadi dalam lingkungan organisasi yang tertutup, maka tidak dapat dikatakan sebagai komunikasi massa.

2. Komunikan bersifat heterogen yaitu, perpaduan antara jumlah komunikan yang besar dalam komunikasi massa dengan keterbukaan dalam memperoleh pesan-pesan komunikasi, erat sekali hubungannya dengan sifat heterogen komunikan.

3. Media massa menimbulkan keserempakan yaitu, keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah. Radio dan televisi dalam hal ini melebihi media tercetak, karena terakhir dibaca pada waktu yang berbeda dan lebih selektif.

4. Hubungan komunikator-komunikan bersifat non-pribadi, artinya dalam komunikasi massa, hubungan antara komunikator dan komunikan yang anonim dicapai oleh orang-orang yang dikenal hanya dalam peranannya yang bersifat umum sebagai komunikator. Sifat non-pribadi ini timbul disebabkan teknologi dan penyebaran yang massal dan sebagian lagi dikarenakan syarat-syarat bagi peranan komunikator yang bersifat umum

Karakter pada komunikasi ini harus menjadi pertimbangan bagi komunikator yang ingin menyampaikan pesan lewat saluran media massa, sebab untuk mencapai terjadinya perubahan sikap, opini, dan perilaku komunikan perlu ditinjau kembali bagaimana agar karakter komunikasi massa bisa sesuai dengan ciri komunikan yang heterogen demi tercapainya tujuan komunikasi. Oleh karenanya, menciptakan komunikasi melalui media massa tidak semudah berkomunikasi antar pribadi, karena feedback dalam komunikasi massa tidak langsung terjadi. Untuk menjadikan efek komunikasi massa efektif, diperlukan optimalisasi pada perancangan pesan.

(11)

24 Universitas Kristen Petra

2.6 Film

Film tidak ditemukan oleh satu orang. Pertama ,perangkat untuk foto objek bergerak harus ditemukan diikuti dengan alat untuk menampilkan foto- foto itu. Proses ini melibatkan enam orang : Etienne Jules Marey, Eadward Muybridge, Thomas Edison, Willliam K.L. Dickson, Auguste dan Louis Lumiere (Biagi, Shirley 2010 : 171 ).

Semua film pada awal permulaan adalah hitam – putih dan tanpa suara. Suara baru baru diperkenalkan ke dalam film pada tahun 1920-an. Dua pembuat film yang mempengaruhi perkembangan film menjadi seni adalah Georges Melies dan Edwin S. Porter (Biagi, Shirley 2010 : 174).

Menurut Undang – Undang Republik Indonesia No.33 tahun 2009 tentang perfilman, Bab 1 Pasal 1 menyebutkan bahwa Film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Perfilman adalah berbagai hal yang berhubungan dengan film. Budaya bangsa adalah seluruh sistem nilai, gagasan, norma, tindakan, dan hasil karya bangsa Indonesia di seluruh wilayah nusantara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kegiatan perfilman adalah penyelenggaraan perfilman yang langsung berhubungan dengan film dan bersifat nonkomersial. Usaha perfilman adalah penyelenggaraan perfilman yang langsung berhubungan dengan film dan bersifat komersial. Masyarakat adalah warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang perfilman. Iklan film adalah bentuk publikasi dan promosi film. Insan perfilman adalah setiap orang yang memiliki potensi dan kompetensi dalam perfilman dan berperan dalam pembuatan film. Sensor film adalah penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film dan iklan film untuk dipertunjukkan kepada khalayak umum. (referensi.elsam.or.id).

(12)

25 Universitas Kristen Petra Film merupakan salah satu alat media massa yang bergerak dalam media elektronik dan film juga merupakan alat penyampaian pesan dengan berbagai jenis pada masa peradaban yang modern. “Film merupakan medium komunikasi massa yang ampuh sekali, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan serta pendidikan” (Effendy, 2000, p.209). “Dengan kata lain, film merupakan media komunikasi massa yang mampu menimbulkan dampak pada masyarakat, karena film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) dibaliknya” (Sobur, 2004, p.127).

Seiring dengan kebangkitan film, muncul pula banyak film-film yang mengandung nilai seks, eksploitasi kecantikan dan kekerasan pada perempuan. Kekuatan dan kemampuan yang dimiliki film menjangkau lebih banyak segmen sosial, sehingga membuat para ahli yakin bahwa film memiliki banyak potensi untuk mempengaruhi khalayaknya (Sobur, 2004, p.127).

Film merupakan media komunikasi yang terbentuk dari kombinasi antara penyampaian pesan melalui gambar bergerak yang dibasilkan dari pemanfaatan teknologi kamera, pencahayaan, warna dan suara. Unsur tersebut dengan latar belakang alur cerita. yang mengandung pesan yang akan disampaikan oleh komunikator, yaitu sutradara melaului gambar, dialog, suara, warna , sudut pengambilan dan musik, adegan dirangkai satu sama lain beserta. lambang-lambang yang dipergunakan sehingga pesan dapat dipahami oleh khalayak penonton.Dari uraian diatas maka film dapat digolongkan sebagai media komunikasi massa. Dalam perspektif massa pengertian komunikasi massa adalah komunikasi media massa. Dengan kata lain komunikasi massa adalah komunikasi dengan menggunakan media massa meliputi surat kabar , majalah, radio, film, televisi dan Majalah. (Effendy,2002).

Sebagai salah satu media komunikasi massa, film mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Effendy, 2002):

a. Pesan dalam film berlangsung satu arah.

Tidak ada arus balik antara komunikan dan komunikator. Sutradara film sebagai komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak terhadap

(13)

26 Universitas Kristen Petra pesan dalam film yang dibuatnya. Sutradara tidak mengetahui apakah khalayak suka atau tidak terhadap film yang dibuatnya. Sutradara mengetahui film yang disukai khalayak melalui penjualan tiket bioskop dan DVD film yang dibuatnya. Semakin banyak tiket bioskop dan DVD film terjual berarti khalayak menyukai film tersebut.

b. Komunikator film melembaga.

Dalam pembuatan film melibatkan sejumlah orang yang terkoordinasi yang memiliki peran yang berbeda-beda, seperti produser, sutradara, artis dan kru film lainnya.

c. Pesan film bersifat umum.

Pesan yang disampaikan film bersifat umum karena ditujukan untuk khalayak banyak.

d. Menimbulkan keserempakan

Keserempakan dalam film terlihat ketika film dibuat untuk ditonton oleh khalayak secara serempak.

e. Komunikan film bersifat heterogen

Khalayak film merupakan kumpulan anggota masyarakat yang

keberadaannya terpencar, berbeda-beda satu sama lainnya. Oleh karena itu film dibuat dalam berbagai bahasa.

2.6.1 Jenis – jenis Film

Jenis – jenis film secara umum terbagi 3, yakni : dokumenter, fiksi dan eksperimental. Pembagian ini didasarkan oleh atas cara bertuturnya yakni, naratif ( cerita ) dan non- naratif (non cerita). Film fiksi memiliki struktur naratif yang jelas sementara film documenter dan eksperimental tidak memiliki struktur naratif. Film documenter memiliki konsep realism (nyata) berada dikutub yang berlawanan dengan film eksperimental yang memiliki konsep formalism (abstrak). Sementara film fiksi persis berada ditengah-tengah di dua kutub tersebut (Pratista, Himawan 2008: 4).

Menurut Himawan Pratista dalam bukunya yang berjudul “Memahami Film”, secara umum jenis film dibagi menjadi tiga jenis, yaitu ( Pratista, 2008):

(14)

27 Universitas Kristen Petra 1. Film Dokumenter : Film dokumenter adalah sebuah penyajian film yang berdasarkan fakta yang sebenarnya. Film jenis dokumenter ini berhubungan dengan tokoh, peristiwa, dan lokasi yang nyata. Tujuan dari film dokumenter dibuat pada umumnya sederhana, sutradara atau penulis bertujuan agar memudahkan penonton untuk memahami dan mengetahui fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Untuk proses pembuatan film dokumenter dapat menggunakan beberapa jenis metode pengambilan gambar yaitu merekam langsung saat peristiwa yang sedang benar-benar terjadi, cara yang kedua adalah dengan memperagakan kembali secara detail dan hampir menyerupai seperti kejadian yang asli dengan setting lokasi, aktor, dan peristiwa peristiwa yang terjadi, dan lain sebagainya.

2. Film Fiksi : Film fiksi adalah film yang berjenis cerita paling banyak diangkat dari karya-karya penulis dan sutradara film. Berbeda dengan film dokumenter, cerita yang ada dalam film fiksi merupakan sebuah karangan sebuah cerita di luar kejadian nyata. Untuk struktur ceritanya, film fiksi erat hubungannya dengan hukum kausalitas atau sebab-akibat. Cerita dalam film fiksi memiliki karakter protagonis dan antagonis, masalah dan konflik, penutupan, serta pola pengembangan cerita yang jelas. Untuk proses produksi, film fiksi lebih banyak memakan banyak tenaga dan juga waktu pembuatan yang lebih lama di banding jenis film yang lain, serta jumlah peralatan produksi yang lebih banyak dan bervariasi serta mahal juga lebih susah.

3. Film Eksperimental : Film eksperimental adalah jenis film yang sangat berbeda dengan jenis film dokumenter dan fiksi. Film eksperimental tidak memiliki plot namun film eksperimiental tetap memiliki struktur. Strukturnya sangat dipengaruhi oleh insting subyektif dari sang sutradara seperti gagasan, ide, emosi, serta pengalaman-pengalaman batin mereka. Ciri dari film eksperimental yang paling terlihat adalah ideologi penulis dan sutradara film itu sendiri yang sangat menonjol yang bisa dikatakan out of the box.

Film Shazam yang diproduksi tahun 2019 merupakan film yang masuk dalam kategori fiksi.

(15)

28 Universitas Kristen Petra 2.6.2 Genre Film

Selain jenisnya, film dapat dikelompokkan berdasarkan klasifikasi film. Klasifikasi film ini dapat dikelompoknya menjadi beberapa bagian, dengan berdasarkan proses produksinya, yaitu film hitam-putih dan film berwarna, film animasi, film bisu dan lain sebagainya. Klasifikasi yang paling banyak dikenal orang adalah klasifikasi berdasarkan genre film (Pratista, 2008). Istilah genre berasal dari bahasa Perancis yang bermakna “bentuk” atau “tipe”. Di dalam film, genre dapat diartikan sebagai jenis atau sebuah pembagian berdasarkan ciri-ciri dari sekelompok film yang memiliki karakter atau sebuah kekhasan seperti setting, isi dan subyek cerita, tema, struktur cerita, aksi atau peristiwa, periode, gaya, situasi, ikon, mood, serta karakter. Sedangkan fungi utama dari genre adalah membantu kita memilah-milah atau mengklasifikasikan film-film yang ada sehingga lebih mudah untuk mengenalinya (Pratista, 2008). Genre pun di bagi menjadi dua bagian yaitu genre induk primer dan genre induk sekunder.

Genre induk primer sebagai genre-genre pokok menurut pratista, antara lain : 1. Aksi

Aksi adalah sebuah jenis genre film yang memiliki energi yang tinggi, cenderung memiliki budget dan stunt-stunt besar, biasanya memiliki pengejaran, penyelamatan, perkelahian, dan sebuah krisis. Motionnya non stop, memiliki pacing yang cepat, dan ada seorang pahlawan yang melawan orang-orang jahat.

2. Drama

Drama adalah sebuah jenis genre film yang biasa menggambarkan karakter realistis, pengaturan, situasi kehidupan, dan cerita yang melibatkan pengembangan karakter yang kuat dan interaktif. Biasanya, mereka tidak fokus pada efek khusus, komedi, atau tindakan.

(16)

29 Universitas Kristen Petra Epik sejarah adalah sebuah jenis genre film yang termasuk drama kostum, drama sejarah, film perang atau aktivitas abad pertengahan. Epik sejarah mengambil tokoh sejarah atau peristiwa yang dibayangkan, mistis, legendaris, atau heroik. Genre film ini menambahkan pengaturan mewah dan kostum mewah, disertai dengan kemegahan dan visual yang luas, ruang lingkup dramatis, nilai-nilai produksi yang tinggi, dan background musik yang tematik.

4. Fantasi

Fantasi adalah sebuah jenis genre film yang termasuk dalam sebuah film yang lebih memperlihatkan dunia fantasi, yang mana di dunia nyata tidak ada. Film genre ini biasa di pakai untuk film kartun dan film yang memiliki imajinasi alat atau transportasi yang belum pernah ada sebelumnya. Seperti starwars, beauty and the beast, avangers.

5. Fiksi Ilmiah

Fiksi Ilmiah adalah sebuah jenis genre film yang sering visioner dan imajinatif lengkap dengan pahlawan, alien, planet-planet yang jauh, pencarian yang tidak mungkin, tempat yang fantastis, penjahat gelap dan bayangan besar, teknologi futuristik, pasukan tak dikenal dan diketahui, dan monster yang luar biasa , baik yang dibuat oleh ilmuwan gila atau malapetaka nuklir.

6. Horor

Horor adalah sebuah jenis genre film yang Film horor dirancang untuk menakut-nakuti dan untuk memanggil ketakutan terburuk kita yang tersembunyi. Dibuat untuk menakutkan, final yang mengejutkan dan menghibur kita pada saat yang sama dalam pengalaman katarsis.

7. Komedi

Komedi adalah sebuah jenis genre film yang Memiliki plot yang light, didesain untuk membuat audiens tertawa dan terhibur. Ada juga subgenre dari komedi yaitu slapsticks, spoof, parodi, komedi romantis dan masih banyak lagi. 8. Kriminal dan Gangster

(17)

30 Universitas Kristen Petra Kriminal dan Gangster adalah sebuah jenis genre film yang dikembangkan pada tindakan jahat penjahat atau mafia, khususnya pencuri uang atau preman kejam yang beroperasi di luar hukum, mencuri dan membunuh jalan melalui hidup. Genre film kriminal dan gangster sering dikategorikan sebagai genre film noir atau film detektif-misteri karena mendasari kesamaan antara bentuk-bentuk sinematik. Kategori ini berisi deskripsi dari berbagai ‘pembunuh berantai’ film.

9. Musikal / Tarian

Musikal / Tarian adalah sebuah jenis genre film yang berbentuk sinematik yang menekankan nilai skala penuh atau lagu dan tarian rutin secara signifikan (biasanya dengan pertunjukan musik atau tari terintegrasi sebagai bagian dari narasi film). Dalam genre film ini, film-film berpusat pada kombinasi musik , tari, lagu atau koreografi.

10. Petualangan

Petualangan adalah sebuah jenis genre film yang ceritanya cenderung seru, dengan pengalaman yang baru atau visual yang menarik, cukup mirip dengan genre film action, biasanya genre film ini memiliki sekuel atau prekuel. Tema biasanya pencarian sesuatu seperti misalnya harta karun, epic-epic di hutan dan gurun, dan juga film-film disaster.

11. Perang

Perang adalah sebuah jenis genre film yang cenderung horor dan memilukan, biasanya melawan bangsa dan umat manusia di darat, laut, atau di udara.

12. Western

Western adalah genre mendefinisikan utama dari industri film Amerika, mereka adalah salah satu yang tertua, genre paling abadi dengan plot yang sangat dikenali, elemen, dan karakter (senjata, kuda, kota berdebu dan jalan, koboi, Indian, dll).

2.7 Pesan

Pada dasarnya bersifat abstrak.Untuk membuatnya konkret agar dapat dikirim dan diterima oleh komunikan. manusia dengan akal budinya menciptakan sejumlah

(18)

31 Universitas Kristen Petra lambing komunikasi berupa suara, mimik, gerak-gerik, bahasa lisan, dan bahasa tulisan. Pesan bersifat abstrak, sehingga komunikan tidak akan tahu apa yang ada di benak komunilator sampai komunikator mewujudkannya dalam salah satu bentuk atau kombinasi lambang-lambang komunikasi ini. Karena itu, lambang komunikasi disebut juga bentuk pesan, yakni wujud konkret dari pesan, berfungsi mewujudkan pesan yang abstrak menjadi konkret Suara, mimik, dan gerak-gerik lazim digolongkan dalam pesan non-verbal, sedangkan bahasa lisan dan bahasa tulisan dikelompokan dalam pesan verbal.

Pesan didefinisikan sebagai segala sesuatu, verbal maupun non-verbal, yang disampaikan komunikator kepada komunikan untuk mewujudkan motif komunikasinya.Penekanan terhadap motif komunikasi dianggap penting karena obyek kajian ilmu komunikasi adalah penyampaian pesan secara sengaja, walaupun derajatnya tidak dapat diukur kepastiannya (Vardiansyah. 2004 p.23)

2.7.1 Komunikator (Pengirim Pesan)

Pengirim pesan yang dimaksud disini adalah manusia yang mengambil inisiatif dalam berkomunikasi (komunikator) Pesan yang disampaikan oleh komunikator untuk mewujudkan motif komunikasi.Schingga komunikator didesifinisikan sebagai manusia berakal budi yang berinisiatif menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif komunikasinya.

Jika lebih dari satu orang sebagai komunikator memiliki tujuan yang sama dan untuk mencapai tujuan tersebut terdapat pembagian kerja di antara para anggotanya, maka wadah kerja sama yang terbentuk sebagai kesatuan banyak orang ini lazim disebut Organisasi.Organisasi dilihat dari tujuan pendiriannya, ada yang bermotif komersial mengejar keuntungan atau bermotif ideal yang bersifat nirbala (lembaga swadaya masyarakat) (Vardiansyah. 2004 p.19).

2.7.2 Komunikan (Penerima Pesan)

Komunikasididefinisikan sebagai manusia berakal budi, kepada siapa pesan komunikator ditujukan. Komunikan dapat berjumlah satu orang atau lebih, sama seperti komunikator. (Vardiansyah. 2004 p.21)

(19)

32 Universitas Kristen Petra

2.8 Copycat Effect

Loren Coleman menyatakan bahwa Copycat Effect atau yang lebih diketahui scbagai "imitasi" atau "efek menular" atau "modelling theory" berhubungan dengan sesuatu yang dipublikasikan di media yang menciptakan banyak perhatian, sehingga orang lain bisa meniru, atau "meng-copy" hal ini Perilaku copycat effect disebabkan oleh melihat tindakan yang sama di media, baik itu film, televisi atau buku (2004, p.1). la mengemukakan bahwa copycat effect merupakan kekuatan yang dimiliki komunikasi massa dan budaya yang dapat menghasilkan sebuah epidemik atau perilaku serupa. Copycat adalah kecenderungan publisitas sensasional tentang kriminalitas (dalam penelitian ini yaitu tindakan bullying) atau bunuh diri sehingga menghasilkan lebih banyak kasus yang sama melalui peniruan. Dalam bukunya yang berjudul The Copycat Effect, pandangan Coleman tentang media adalah bahwa liputan konstan dari suatu kejadian kriminal dan bukan kejadian dengan pesan positif, memberi para pelaku kejahatan sebuah jenis "ketenaran". Lima menit "ketenaran, buku atau film yang didedikasikan untuk para perjahat ini memprovokasi orang-orang yang cenderung berperilaku serupa.

Untuk itulah karena adanya fenomena copycat effect ini, penelitian dengan metode analisis isi ini penting untuk dilakukan karena dapat diketahui pesan-pesan bullying yang ditampilkan dalam serial ini, yang bisa saja memicu terjadinya copycat effect oleh terutama remaja korban bully terhadap bentuk-bentuk bullying yang ditampilkan.

2.9 Analisi Isi

Analisis isi (content analysis) digunakan untuk memperoleh keterangan dari komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang yang terdokumentasi atau dapat didokumentasikan. Analisis isi dapat dipakai untuk menganalisa semua bentuk komunikasi, seperti pada surat kabar, buku, film, dan sebagainya. Dengan menggunakan metode analisis isi, maka akan diperoleh suatu pemahaman terhadap

(20)

33 Universitas Kristen Petra berbagai isi pesan komunikasi yang disampaikan oleh media massa atau dari sumber lain secara obyektif, sistematis, dan relevan (Subrayogo, 2001: 6).

Menurut Eriyanto dalam bukunya Analisis Isi (2011), tujuan dari analisis isi adalah sebagai berikut: secara detail karakteristik dari suatu pesan untuk

a. Menggambarkan mcnjawab pertanyaan "what, to whom, dan how" dari sautu proscs komunikasi dimana what berkaitan dengan penggunaan analisis isi untuk menjawab apa isis dari suatu pesan, to whom untuk menguji hipotesis mengenai isi pesan yang ditunjukan untuk khalayak yang berbeda, dan how untuk menggambarkan bentuk dan teknik-teknik pesan.

b. Menarik kesimpulan mengenai apa penyebab dari suatu pesan untuk menjawab pertanyaan mengapa pesan (isi) muncul dalam bentuk terntentu. Terdapat dua jenis analisis isi, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan anlisis kuantitatif karena sesuai dengan tujuan dari penelitian ini dibuat. Analisis isi kuantitatif didefinisikan scbagai suatu teknik penelitian ilmiah yang ditujukan untuk mengetahui garmbaranı karakteristik itFdan menarik inferensi dari isi. Analisis isi ditujukan untuk mengidentifikasikan secara sistematis isi komunikasi yang tampak (manifest), dan dilakukan secara objektif, valid. realiabel, dan dapat direplikasi (Eriyanto, 2011, p.15).

Ciri-ciri dari analisis isi adalah sebagai berikut: a. Objektif

Analisis isi dilakukan untuk mendapatkan gambaran dari suatu isi secara spa adanya, tanpa adanya campur tangan dari peneliti peneliti menghilangkan bias, keberpihakan, atau kecendrungan tertentu dari peneliti. Hasil analisis isi harus benar-benar mencerminakn isi dari suatu teks, dan bukan akibat dari subjekctivitas (keinginan, bias, atau kecendrungan tertentu dari peneliti) (Eriyanto, 2011, p.16).

(21)

34 Universitas Kristen Petra - Validitas

Berkaitan dengan apakah analisis isi mengukur apa yang benar-benar ingin diukur.

- Reliabilitas

Berkaitan denean apakah analisis isi akan menghasilkan temuan yang sama biarpun dilakukan oleh orang yang berbeda dan waktu yang berbeda.

b. Sistematis

Semua tahapan dan proses telah dirumuskan secara jelas, dan sistematis. Kategori-kategori diturunkan dari variabel, variabel diturunkan berdasarkan teori pengujian dibuat berdasarkan hipotesis. Selain itu, sistematis juga bisa berarti setiap kategori yang dipakai menggunakan suatu defenisi tertentu dan semua bahan dianalisis dengan menggunakan kategori dan defenisi yang sama (Eriyanto, 2011, p.18-19).

c. Replikabel

Pada buku Neuendorf (2002, p.12), discbutkan bahwa salalh satu ciri penting dari analisis isi adalah replikabel. Penelitian dengan temuan tertentu dapat diulang dengarn menghasilkan temuan yang sama pula. Hasil-hasil dari analisis isi scpanjang menggunakan bahan dan teknik yang sama, harusnya juga menghasillkan temuan yang sama. Temuan ini berlaku untulk peneliti yang berbeda, waktu yang berbeda, dan konteks yang berbeda (Eriyanto, 2011, p.21).

d. Isi yang tampak (marufest)

Terdapat beberapa pandangan yang berbeda dalam melihat analisis isi Beberapa pendapat menyatakan analisis isi hanya melihat isi yang tampak (manifest) dan ada juga yang menyatakn bisa dipakai untuk melihat isi yang tidak tampak (laten). Neuendorf (2002, p.23) dan Krippendorff (2006, p.20) menyatakan bahwa analisis isi dapat dipakai untuk melihat scnua karakteristik dari isi yang tampak maupun yang tidak tampak (Eriyanto, 2011, p.23).

Sedangkan Holsti (1969, p.14) dan Barelson (1952, p.18) menilai bahwa analisis hanya dapat dipakai untuk menyelidiki isi yang tampak. Kemudian, Riffe, Lacy dan Fico (1998, p.30) memberikan jalan tengah dengan mengatakan, pada saat

(22)

35 Universitas Kristen Petra proses koding dan pengumpulan data, peneliti hanya dapat menilai aspek- aspek dari isi yang dilihat. Sedangkan pada tahap analisis data, peneliti dapat memasukkan penafsiran akan aspek-aspek dari isi yang tidak terlihat (Eriyanto, 2011, p.23)

Namun, kembali pada pemahaman di awal bahwa analisis isi adalah metode yang berfokus untuk melihat sesuatu yang tampak dan harus tetap objektif maka analisis isi hanya membatasi pada isi yang tampak saja (Eriyanto, 2011, p.28).

e. Perangkuman

Analisis isi umumnya dibuat untuk membuat gambaran umum karakter dari suatu isi atau pesan. Analisis isi tidak bertujuan untuk menyajikan secara detail satu atau beberapa kasus isi (idiographe) melainkan membuat generalisasi dari pesan (nomotetik) (Eriyanto, 2011, p.29).

2.10 Nisbah Antar Konsep

Dalam penelitian ini, film sebagai media massa yang lebih menarik dibanding media massa lainya, karena film menggunakan audio, visual, dan music yang disatu padukan sehingga, menjadi sebuah karya seni yang memiliki efek sebagai cerminan budaya massa yang ada di masyarakat. Film termasuk salah satu alat media massa yang bergerak dalam media elektronik dan film juga sebagai alat penyampaian pesan dengan berbagai jenis, pada masa peradaban yang modern. Film juga merupakan media komunikasi massa yang ampuh sekali, bukan saja untuk hiburan, pendidikan, atau infomasi saja tetapi film juga sebuah media massa yang bebas untuk memilih genre sesuai dengan yang audience minati.

Shazam sebagai subjek penelitian ini merupakan sebuah film yang berasal dari Amerika serikat, yang digunakan oleh para pembuatnya sebagai sebuah media komunikasi untuk menyampaikan pesan tertentu, yang mengandung pesan-pesan bullying. Sebagai film superhero, Shazam disajikan berbeda dengan film superhero lainya. Untuk itulah film ini menjadi subjek dalam penelitian analisis isi ini, dimana pesan-pesan yang disampaikan selama durasi 232 menit, sehingga dapat telihat pesan-pesan bullying. Untuk menentukan ciri suatu aksi adalah termasuk

(23)

36 Universitas Kristen Petra bullying, juga terdapat konsep tipe-tipe penindas atau pelaku bullying sehingga perilaku bullying lebih terlihat.

Peneliti ini memfokuskan pada jenis/tipe pesan bullying dan digunakan teknik metode analisis isi yang digunakan untuk menarik kesimpulan, dandilakukan secara objektif dan sistematis. Penelitian menggunakan metode analisis isi deskripsif dengan pendekatan kuantitatif, diharapkan dapat mengetahui bagaimana pesan-pesan bullying yang ditampilkan dalam film Shazam.

(24)

37 Universitas Kristen Petra

2.11 Kerangka Pemikiran

Bullying coloroso. 2006 adalah topik yang sensitif, merupakan sisi gelap dan kelam dari masa-masa pertumbuhan remaja (tidak semua remaja melaporkan tindak bully

yang dialaminya. Dsb)

Film Shazam mengandung pesan-pesan Bullying yang dapat di persepsi secara positif atau negatif oleh penontonya.

Metode penelitian analisis isi kauntitatif digunakan untuk melihat pesan-pesan Bullying dalam film ini.

Peran-peran Bullying 1. Bully 2. victim 3. asisten bully 4. reinfocer 5. defender 6. outsider Jenis Bullying:

1.Bullying verbal (Coloroso, 2006) 2.Bullying fisik (Coloroso, 2006) 3. Bullying relasional (Coloroso, 2006)

4. Bullying elektronik (Coloroso, 2006)

Dilakukan tabulasi silang terhadap dua definisi operasional itu agar dapat memperkaya hasil penelitian dengan diketahuinya pembagian peran tiap jenis Bullying yang

dilakukan

Referensi

Dokumen terkait

Regresi adalah studi bagaimana satu variabel yaitu variabel dependen dipengaruhi oleh satu atau lebih variabel lain yaitu variabel independen dengan tujuan untuk mengestimasi

Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali

Sebagai suatu cara untuk dapat berkembang, maka organisasi pembelajar lebih merupakan perjalanan atau proses, bukan tujuan, sehingga memerlukan perubahan budaya organisasi, yaitu

Berdasarkan uraian yang telah di paparkan terdahulu maka berikut ini pe- nulis akan menguraikan inti dari bentuk kesimpulan adalah sebagai berikut bahwa dalam penerapan sangsi

MAKALAH ALAH KEPE KEPERAW RAWA AT TAN M AN MATERNITAS ATERNITAS.. ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU

Berdasarkan temuan alat-alat batu yang ada menunJukkan bahwa penghuni Gua Macan memiliki keahlian teknologi yang baik, hal tersebut dibuktikan dengan kondisi

yang berkembang di Jawa umumnya berarah barat-timur, maka secara teoritis dapat diinterpretasikan kelu- rusan struktur dengan arah barat- timur sebagai sesar naik

Road Map penelitian yang berjudul “Pembuatan Matriks Hidroksiapatit-Kitosan untuk Bahan Baku Filamen Tulang Buatan dari Limbah Cangkang Rajungan (Portunus Pelagicus) dengan