• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul Psikososial Dan Budaya Dalam Keperawatan(1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Modul Psikososial Dan Budaya Dalam Keperawatan(1)"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL

PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA DALAM

KEPERAWATAN

WAT DIII.09 BOBOT 2 SKS (T=2)

KURIKULUM 2013

Oleh :

Oleh

...

Disajikan Pada

Proses Belajar Mengajar Semester I (SATU) DIPLOMA III Jurusan Keperawatan

POLITEKNIK KESEHATAN GORONTALO

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

(2)

A. Kata Pengantar

Puji dan syukur patut kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas petunjuk, rahmat dan karunia-Nya, sehingga Modul Psikososial dan Budaya dalam Keperawatan dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disegala bidang menyebabkan arus komunikasi dan transportasi semakin meningkat dan hal tersebut sangat berpotensi mempengaruhi kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Dampak dari meningkatnya arus transportasi, dapat meningkatkan tingginya perpindahan penduduk dari desa ke kota, dari kota ke kota yang lain bahkan dari satu negara ke negara yang lain. Selain itu tingginya kunjungan turis asing dari satu negara ke negara yang lain, dapat berpotensi membawa bibit penyakit seingga terjadinya penularan penyakit. Karena itu tidak jarang kita melihat klien yang dirawat disetiap Rumah Sakit khususnya didaerah-daerah wisata tidak hanya penduduk lokal/masyarakat Indonesia tetapi juga mereka yang berasal dari manca negara yang notebene kebudayaan mereka sangat berbeda dengan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Untuk itulah diperlukan materi psikososial dan budaya dalam keperawatan dimasukan kedalam kurikulum pendidikan profesi Ners, agar mahasiswa dapat dibekali dengan ilmu dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien berdasarkan pendekatan psikososial dan budaya.

Modul ini berisi materi tentang konsep psikososial dalam praktik keperawatan yang mencakup konsep diri, kesehatan spiritual, seksualitas, stress adaptasi, konsep kehilangan, kematian dan berduka, konsep teoritis Antropologi kesehatan mencakup kebudayaan, masyarakat rumah sakit dan kebudayaan, etiologi penyakit, persepsi sehat sakit, peran dan perilaku pasien, respoon sakit/nyeri pasien serta konsep globalisasi dan perspektif transkultural, diversity dalam masyarakat, teori culture care leininger,pengkajian budaya, aplikasi transkultural nursing sepanjang daurkehidupan manusia, aplikasi keprawatan transkultural dalam berbagai masalaha kesehatan pasien.

Semoga Modul ini dapat membantu mahasiswa dan memberi inspirasi dalam menerapkan penyusunan asuhan keperawatan dengan pendekatan konsep psikososial dan budaya dari setiap klien yang dirawat di Rumah Sakit maupun di Puskesmas dan semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa.

(3)

B. Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar... i Kata Pengantar... ii Standar kompetensi ...

Deskripsi Umum

Peta kedudukan modul ... Petunjuk penggunaan modul ... Glosarium ...

BAB I : Psikososial dan budaya dalam keperawatan ………. 1 C. Capaian Pembelajaran

Setelah mengikuti mata kulian ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan konsep psikososial dalam praktik keperawatan, konsep antropologi kesehatan dan dapat menerapkan keperawatan transkultural dalam membuat asuhan keperawatan pada klien dengan baik dan benar.

D. Deskripsi Umum

Mata Kuliah ini menguraikan tentang konsep psikososial dalam praktik keperawatan yang mencakup konsep diri, kesehatan spiritual, seksualitas, stress adaptasi, konsep kehilangan, kematian dan berduka, konsep teoritis Antropologi kesehatan mencakup kebudayaan, masyarakat rumah sakit dan kebudayaan, etiologi penyakit, persepsi sehat sakit, peran dan perilaku pasien, respoon sakit/nyeri pasien serta konsep globalisasi dan perspektif transkultural, diversity dalam masyarakat, teori culture care leininger,pengkajian budaya, aplikasi transkultural nursing sepanjang daurkehidupan manusia, aplikasi keprawatan transkultural dalam berbagai masalaha kesehatan pasien.

Proses belajar memberikan pangalaman pemahaman tentang psikososial dan budaya dalam keperawatan melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, penugasan, jigsaw, round club, student facilitator.

E. Peta Kedudukan Modul

(4)

F. Petunjuk Penggunaan Modul

Untuk lebih cepat memahami materi yang terdapat dalam modul ini, setiap mahasiswa perlu mencermati beberapa petunjuk penggunaan sebagai berikut :

1. Siapkan hati dan pikiran kita untuk memulai dan mempelajari setiap pokok bahasan yang terdapat modul ini

2. Jangan tergesa-gesa membaca materi yang ada dalam modul ini, sebaliknya bacalah setiap item yang terdapat dalam modul ini dengan cermat, sehingga apa makna yangterkandung dalam setiap pokok dan sub pokok bahasan dapat dimengerti dengan baik dan benar

3. Pada saat saudara membaca modul ini, siapkan terlebih dahulu alat tulis dan buku catatan, sehingga ketika saudara membaca dan menemukan ada hal-hal penting, maka saudara segera mencatat dalam buku catatan yang sudah disiapkan

4. Jika menemukan istilah yang tidak dimengerti, silahkan cari di kamus dan atau diinternet sehingga saudara dapat mengerti maksud dari istilah tersebut

5. Sebaiknya ketika saudara membaca modul ini, ajaklah teman saudara sebagai teman untuk berdiskusi sehingga materi yang dibaca dapat dipahami dan dapat dijelaskan kepada teman atau kepada dosen pada saat dilakukan quis

6. Jika ada materi yang tidak dapat dipahami setelah berdiskusi dengan teman-teman, catatlah materi tersebut untuk selanjutnya dapat ditanyakan kepada dosen pengampu mata kuliah pada saat dikelas.

7. Buatlah rangkuman materi untuk setiap pokok dan sub pokok bahasan untuk membantu memudahkan saudara mendalami materi.

8. Khuusus untuk pokok bahasan tentang asuhan keperawatan berbasis transkultural hendaknya saudara melatih diri dengan membuat kasus-kasus semu dan atau kasus nyata hasil pangkajian saudara dilahan praktik.

G. Glosarium

...

(5)

BAB I : PSIKOSOSIAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

Konsep Diri Dan Kesehatan Spiritual

A. PENDAHULUAN

1. Deskripsi/Uraian Materi

Mata Kuliah ini menguraikan tentang konsep diri dan kesehatan spiritual mencakup pengertian konsep diri, macam konsep diri, komponen konsep diri, pengertian spiritual, dimensi spiritual, keterkaitan antara spiritual-kesehatan-sakit, factor yang mempengaruhi spiritualitas, pasien yang membutuhkan dukungan spiritual, masalah kebutuhan spiritual, macam-macam distress spiritual dan askep spiritual.

2. Kompetensi Dasar

a. Mampu menjelaskan pengertian konsep diri dan komponen konsep diri b. Mampu menjelaskan pengertian spiritual

c. Mampu menjelaskan keterkiatan antara spiritual-kesehatan-sakit d. Mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi spiritual

e. Mampu menjelaskan pasien yang membutuhkandukungan spiritual

f. Mampu menjelaskan masalah kebuthan spiritualdan macam-macam distres g. Mampu menyusun askep spiritual

B. Penyajian

1. Uraian materi konsep diri

a. Pengertian konsep diri

Konsep Diri didefenisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen 2005).

Konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, fisikal, emosional, intelektual, sosial dan spiritual (Keliat, 2005).

Konsep diri adalah citra subjektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri memberi kita kerangka acuan yang mempengaruhi manejemen kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain (Potter & Perry, 2005)

b. Macam-macam konsep diri

Dua macam konsep diri adalah sebagai berikut :

1) konsep diri negatif : peka pada kritik, responsif sekali pada pujian, hiperkritis, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, bersikap pesimitis pada

kompetensi.

2) konsep diri positif : yakin akan kemampuan mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, sadar akan keinginan dan perilaku tidak selalu disetujui oleh orang lain, mampu memperbaiki diri.

c. Hal-hal yang perlu dipahami tentang konsep diri adalah :

(6)

2) Ditandai dengan kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan(positif). 3) Negatif ditandai dengan hubungan individu dan sosial yang mal adaptif. 4) Merupakan aspek kritikal yang mendasar dan pembentukan perilaku individu. d. Hal-hal yang penting dalam konsep diri adalah :

1) Nama dan panggilan anak.

2) Pandangan individu terhadap orang lain. 3) Suasana keluarga yang harmonis. Penerimaan keluarga

e. Komponen konsep diri

Konsep diri terdiri dari Citra Tubuh (Body Image), Ideal Diri (Self ideal), Harga Diri (Self esteem), Peran (Self Rool) dan Identitas(self idencity).

1) Citra Tubuh (Body Image)

Body Image (citra tubuh) adalah sikap individu terhadap dirinya baik disadari maupun tidak disadari meliputi persepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan dinamis karena secara konstan berubah seiring dengan persepsi dan pengalaman-pengalaman baru.

Body image berkembang secara bertahap selama beberapa tahun dimulai sejak anak belajar mengenal tubuh dan struktur, fungsi, kemampuan dan keterbatasan mereka. Body image (citra tubuh) dapat berubah dalam beberapa jam, hari, minggu ataupun bulan tergantung pada stimuli eksterna dalam tubuh dan perubahan aktual dalam penampilan, stuktur dan fungsi (Potter & Perry, 2005).

2) Ideal Diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan/disukainya atau sejumlah aspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita ataupun penghargaan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut melahirkan penyesuaian diri. Ideal diri berperan sebagai pengatur internal dan membantu individu mempertahankan kemampuan menghadapi konflik atau kondisi yang membuat bingung. Ideal diri penting untuk mempertahankan kesehatan dan keseimbangan mental.

Pembentukan ideal diri dimulai pada masa anak-anak dipengaruhi oleh orang yang dekat dengan dirinya yang memberikan harapan atau tuntunan tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu individu menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk dari dasar ideal diri. Pada usia remaja, ideal diri akan terbentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Pada usia yang lebih tua dilakukan penyesuaian yang merefleksikan berkurangnya kekuatan fisik dan perubahan peran serta tanggung jawab.

(7)

2) Harga Diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu : dicintai, dihormati dan dihargai. Mereka yang menilai dirinya positif cenderung bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri, sebaliknya individu akan merasa dirinya negative, relatif tidak sehat, cemas, tertekan, pesimis, merasa tidak dicintai atau tidak diterima di lingkungannya (Keliat BA, 2005).

Harga diri dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga diri akan meningkat sesuai dengan meningkatnya usia. Harga diri akan sangat mengancam pada saat pubertas, karena pada saat ini harga diri mengalami perubahan, karena banyak keputusan yang harus dibuat menyangkut dirinya sendiri.

3) Peran

Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu di dalam kelompok sosial. Setiap orang disibukkan oleh beberapa peran yang berhubungan dengan posisi pada tiap waktu sepanjang daur kehidupannya. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri.

4) Identitas Diri

Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh individu dari observasi dan penilaian dirinya, menyadari bahwa individu dirinya berbeda dengan orang lain. Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada duanya. Identitas berkembang sejak masa kanak-kanak, bersamaan dengan berkembangnya konsep diri. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri

Daftar Pustaka

Keliat, Budi Anna, Dkk. 2005 . Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. Jakarta: EGC

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC Stuart, Gail & Sundeen, Sandra. 2005. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

(8)

2. Uraian Materi konsep spiritual

a. Pengertian spiritual

Spiritualitas merupakan sesuatu yg di percayai oleh seseorang dlm hubunganya dgn kekuatan yg lebih tinggi (tuhan), yg menimbulkan suatu kebutuhan serta kecintaan thdp adanya Tuhan dan permohonan maaf atas segala kesalahan yg pernah diperbuat.

Tdk selamanya dgn tuhan à animisme dinamisme .

Menurut Burkhardt (1993) Spiritualitas meliputi aspek sebagai berikut:

a) Berhubungan dgn sesuatu yg tdk diketahui atau ketidakpastian dlm kehidupan. b) Menemukan arti dan tujuan hidup.

c) Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dlm diri sendiri.

d) Mpy perasaan keterikatan dgn diri sendiri dan dengan Yg Maha Tinggi. e) Stoll (1989)

b. Dimensi spiritual

Spiritualitas sbg konsep dua dimensi: dimensi VERTIKAL adalah hubungan dgn Tuhan atau Yang Maha Tinggi yg menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi HORIZONTAL adalah hubungan seseorang dgn diri sendiri, orang lain dan dgn lingkungan.

(Carson, 1989). Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau

mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dgn Tuhan

c. Keterkaitan antara spiritual-kesehatan-sakit

Keterkaitan spiritualitas- kesehatan –sakit, keyakinan spiritual sngat penting krn dpt mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku selfcare klien.

Pengaruh dari keyakinan spiritual yg perlu dipahami adalah sebagai berikut:

1) Menuntun kebiasaan hidup

Praktik tertentu pd umumnya yg berhubungan dgn pelayanan keseh mungkin mpyai makna keagamaan bagi pasien.

Sebagai contoh, ada agama yg menetapkan makanan diit yg boleh dan tidak boleh dimakan. Begitu pula metode keluarga berencana ada agama yg melarang cara tertentu untuk mencegah kehamilan termasuk terapi medik atau

(9)

2) Sumber dukungan

Pada saat mengalami stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.

Dukungan ini sangat diperlukan untuk dpt menerima keadaan sakit yg dialami, khususnya jika penyakit tersebut memerlukan proses penyembuhan yg lama dgn hasil yg blm pasti.

Sembahyang atau berdoa, membaca kitab suci, dan praktik keagamaan lainnya sering membantu memenuhi kebutuhan spiritual yg juga merupakan suatu perlindungan terhadap tubuh.

3) Sumber kekuatan dan penyembuhan

individu cenderung dpt menahan stress baik fisik maupun psikis yg luar biasa karena mempunyai keyakinan yg kuat. Keluarga klien akan mengikuti semua proses penyembuhan yg memerlukan upaya ekstra, karena keyakinan bahwa semua upaya tersebut akan berhasil.

4) Sumber konflik

Pada suatu situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dgn praktik kesehatan.

Misalnya ada orang yg memandang penyakit sebagai suatu bentuk hukuman karena pernah berdosa.

Ada agama tertentu yg menganggap manusia sebagai makhluk yg tidak berdaya dlm mengendalikan lingkungannya, oleh karena itu penyakit diterima sbg nasib bukan sebagai sesuatu yg harus disembuhkan

d. Faktor yg mempengaruhi spiritualitas

1) Perkembangan; semakin dewasa idealnya semakin matang tingkat spiritualitas seseorang

2) Keluarga; memiliki peran yg sangat penting dalam memenuhi kebutuhan spiritual, individu yg di besarkan dalam keluarga agama islam cenderung 90% islam.

3) Ras/suku; di indonesia timur à irian jaya mayoritas beragama kristen aceh mayoritas islam

4) Agama yg di anut; keyakinan pd agama ttt dpt menentukan arti pentingnya kebutuhan spiritual

5) Kegiatan keagamaan; kegiatan agama dpt mengingatkan keberadaan dirinya dgn tuhan, dan sll mndekatkan diri kpd penciptanya

(10)

e. Pasien yg membutuhkan dukungan spiritual

1) Pasien kesepian; Pasien dalam keadaan sepi dan tdk ada yg menemani akan membutuhkan bantuan krn mereka merasakan tdk ada kekuatan selain kekuatan tuhan, tdk ada yg menyertainya kecuali Tuhan.

2) pasien ketakutan dan cemas; adanya ketakutan dan kecemasan dpt menimbulkan perasaan kacau, yg dpt membuat pasien membuutuhkan ketenangan pd dirinya, dan ketenangan yg plg bsar adlh bersama tuhan.

3) pasien yg harus mengubah gaya hidup; pola gaya hidup dpt mengacaukan keyakinan individu bila ke arah yg lbh buruk dan sebaliknya

f. Masalah kebutuhan spiritual

Distress spiritual à suatu keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami gangguan dalam kepercyaan atau sistem nilai yg memberikannya kekuatan, harapan dan arti kehidupan.

g. Macam – macam distres Spiritual

1) Spiritual yang sakit, yaitu kesulitan menerima kehilangan dari orang yang dicintai atau dari penderitaan yang berat

2) Spiritual yang khawatir yaitu terjadinya pertentangan kepercayaan dan sistem nilai seperti adanya aborsi

3) Spiritual yang hilang yaitu adanya kesulitan menemukan ketenangan dalam kegiatan keagamaan.

h. Asuhan keperawatan spiritual Pengkajian :

1) Sumber kekuatan : Tuhan atau yg lain

2) Data umum : agama yg di anut pasien / keyakinan

3) Bagaimana pasien melaksanakan keyakinanya, ada masalah? 4) Apakah sakit atau terluka mempengaruhi keyakinan anda? 5) Apakah anda mempunyai pemimpin spiritual?

6) Apakah anda butuh pemimpin spiritual?

7) Faktor yg mempengaruhi à kematian, sakit, kecacatan, dsb

8) Faktor yang menyebabkan masalah spiritual. Kehilangan salah satu bagian tubuh, beberapa penyakit terminal, tindakan pembedahan, prosedur invasif dll

(11)

9) Kaji tanda distres di atas

Diagnosa Keperawatan :

1. Distress spiritual b.d anxietas

Definisi : gangguan pada prinsip hidup yang meliputi semua aspek dari seseorang yang menggabungkan aspek psikososial dan biologis

— 2. Koping inefektif b.d krisis situasi

Definisi : ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadap stressor, pilihan respon untuk bertindak secara tidak adekuat dan atau ketidakmampuan menggunakan sumber yang tersedia

Batasan karakteristik Mayor (harus terdapat)

a. mengalami gangguan dlm sistem kepercayaan Minor (mungkin terdapat)

a. menunjukkan kekecewaan atau putus asa

b. memilih tdk melakukan kebiasaan upacara keagamaan c. bertanya ttg arti kehidupan, kematian dan penderitaan d. mengungkapkan bahwa ia tdk memiliki alasan untuk hdp Faktor yg berhubungan

a. kehilangan bagian atau fungsi tubuh b. sakit terminal c. penyakit2 d. nyeri e. trauma/terluka f. keguguran g. amputasi h. pembedahan/operasi

(12)

INTERVENSI Diagnosa 1

a. kaji adanya indikasi ketaatan dalam beragama b. tentukan konsep ketuhanan klien

c. kaji sumber-sumber harapan dan kekuatan pasisien

d. dengarkan pandangan pasien tentang hubungan spiritiual dan kesehatan e. nilai dampak situasi kehidupan terhadap peran

f. evaluasi kemampuan pasien dalam membuat keputusan g. anjurkan klien menggunakan tehnik relakssi

h. berikan pelatihan ketrampilan sosial yang sesuai

i. libatkan sumber – sumber yang ada untuk mendukung pemberian pelayanan kesehatan

EVALUASI

Evaluasi thdp masalah spiritual dpt di nilai dari Mampu beristirahat dengan tenang

Menyatakan penerimaan keputusan moral Mengekspresikan rasa damai

Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka

Menunjukkan sikap efektif tanpa rasa marah, rasa bersalah dan ansietas Menunjukkan prilaku lebih positif

Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya Daftar Pustaka

a. Nova Maulana, (2014), Buku Ajar Sosiologi dan Antropologi Kesehatan, Cetakan Pertama, Nuha Medika, Yogyakarta b. Arum Pratiwi, (2011), Buku Ajar Keperawatan Transkultural,

Cetakan Pertama, Penerbit Gosyen Pulishing, Yogyakarta c. Wahyu Ratna, (2010),”Sosiologi dan Antropologi Kesehatan

dalam Perspektif Ilmu Keperawatan”, Edisi I, Pustaka Rihama, Yogyakarta.

d. Sudiharto,(2007) “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Transkultural”, Edisi I, EGC, Jakarta

(13)

f. Sarwono, S. 1993. Sosiologi Kesehatan, Beberapa Konsep Beserta Apli kasinya, Yogyakarta, Gadjah Mada Press.

g. Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies

4. Latihan/Tugas

a. Setiap mahasiswa membuat rangkuman materi konsep diri dan kesehatan spiritual melalui buku-buku maupun jurnal.

b. Setiap kelompok mencari, menggali dan mendiskusikan materi konsep diri dan kesehatan spiritual untuk di presentasikan

C. Penutup

1. Evaluasi dan Kunci Jawaban a. Jelaskan pengertian konsep diri

b. Jelaskan macam-macam konsep diri, komponen konsep diri c. Jelaskan pengertian konsep kesehatan spiritual

d. Jelaskan dimensi spiritual, keterkaitan spiritual-kesehatan dan sakit e. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi spiritualitas

2. Lembar Kejra Mahasiswa .

Mata Kuliah ... Semester : ... SKS : ... Minggu ke : ... Tugas ke : ... 1. Tujuan Tugas : 2. Uraian Tugas : a. Obyek garapan : ...

b. Yang harus dikerjakandan batasan-batasan : ... c. Metode/cara pengerjaan, acuan yang digunakan : ... d. Deskripsiluaran tugas yang digunakan : ... 3. Kriteria penilaian :

a. ... ...% b. ... ...% c. ... ...%

(14)

KEGIATAN PEMEBELAJARAN 2 & 3

Konsep Seksual, Konsep Stres Adaptasi, Konsep Kehilangan, Kematian Dan Berduka

A. PENDAHULUAN

1. Deskripsi/Uraian Materi

Mata Kuliah ini menguraikan tentang konsep seksualitas mencakup : pengertian, sikap terhadap seksualitas, respon seksual, kehamilan dan seksualitas, masalah yang berhubungan dengan seksualitas, seksualitas dalam keperawatan, konsep stres adaptasi mencakup : pengertian, manifestasi stress, factor yang mempengaruhi, adaptasi, proses keperawatan stress management untuk perawat.

2. Kompetensi Dasar

a. Mampu menjelaskan pengertian seksualitas b. Mampu menjelaskan respon seksual

c. Mampu menjelaskan kehamilan dan seksualitas

e. Mampu menjelaskan masalah yang berhubungan seksualitas f. Mampu menjelaskan seksualitas dalam keperawatan

g. Mampu menjelaskan pengertian stres adaptasi h. Mampu menjelaskan manifestasi stres

i. Mampu menjelaskan faktor penyebab stres

j. Mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi stres k. Mampu menyusun proses keperawatan stres mamagement.

B. Penyajian

1. Uraian Materi Seksualitas

a. Pengertian seksualitas

Seksualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. (Stevens: 1999). Sedangkan menurut WHO dalam Mardiana (2012) seksualitas adalah suatu aspek inti manusia sepanjang kehidupannya dan meliputi seks, identitas dan peran gender, orientasi seksual, erotisme, kenikmatan, kemesraan dan reproduksi.

Seksualitas adalah komponen identitas personal individu yang tidak terpisahkan dan berkembang dan semakin matang sepanjang kehidupan individu. Seksualitas tidak sama dengan seks. Seksualitas ialah interaksi faktor-faktor biologis, psikologi personal, dan lingkungan. Fungsi biologis mengacu pada kemampuan individu untuk memberi dan menerima kenikmatan dan untuk bereproduksi. Identitas dan konsep diri seksual psikologis mengacu pada pemahaman dalam diri individu tentang seksualitas seperti citra diri, identifikasi sebagai pria atau wanita, dan pembelajaran peran-peran maskulin atau feminin. Nilai atau aturan sosio budaya membantu dalam membentuk individu berhubungan dengan dunia dan bagaimana mereka memilih berhubungan seksual dengan orang lain. (Bobak: 2004)

2 aspek seksualitas:

1. Seksualitas dalam arti sempit

Dalam arti sempit seks berarti kelamin. Yang termasuk dalam kelamin adalah sebagai berikut:

(15)

b. Kelenjar dan hormon-hormon dalam tubuh yang mempengaruhi bekerjanya alat kelamin

c. Anggota tubuh dan ciri-ciri badaniah lainnya yang membedakan laki-laki dan perempuan

d. Hubungan kelamin 2. Seksualitas dalam arti luas

Segala hal yang terjadi akibat dari adanya perbedaan jenis kelamin antara lain: a) Perbedaan tingkah laku: lembut, kasar, genit, dll

b) Perbedaan atribut: pakaian, nama, dll c) Perbedaan peran. (Mardiana: 2012)

b. Fungsi Seksualitas

1) Kesuburan

Pada beberapa kebudayaan, seorang wanita muda mungkin merasakan adanya keinginan yang kuat untuk membuktikan kesuburannya bahkan walaupun ia sebenarnya belum menginginkan anak pada tahap kehidupannya saat itu. Ini adalah macam masyarakat yang secara tradisional wanita hanya dianggap layak dinikahi apabila ia sanggup membuktikan kesuburannya.

2) Kenikmatan

Mungkin pendorong primer atau mendasar perilaku seksual adalah kenikmatan atau kesenangan yang dirasakan yaitu suatu kombinasi kenikmatan sensual dan kenikmatan khas seksual yang berkaitan dengan orgasme.

3) Mempererat ikatan dan meningkatkan keintiman pasangan

Dalam suatu pertalian seksual yang ekslusif, pasangan melakukan secara bersama-sama hal-hal yang tidak ingin mereka lakukan dengan orang lain. Ini adalah esensi dari keintiman seksual. Efektivitas seks dalam memperkuat keintiman tersebut berakar dari risiko psikologis yang terlibat; secara khusus, resiko ditolak, ditertawakan, mendapati bahwa dirinya tidak menarik, atau kehilangan kendali dapat memadamkan gairah pasangan.

4) Menegaskan maskulinitas atau feminitas

Sepanjang hidup kita, terutama pada saat-saat identitas gender terancam karena sebab lain (mis., saat menghadapi perasaan tidak diperlukan atau efek penuaan), kita mungkin menggunakan seksualitas untuk tujuan ini.

5) Meningkatkan harga diri

Merasa secara seksual bagi orang lain, atau berhasil dalam upaya seksual, secara umum dapat meningkatkan harga diri.

6) Mencapai kekuasaan atau dominasi dalam hubungan

Kekuasaan (power) seksualitas cenderung dianggap sebagai salah satu aspek maskulinitas, dengan pria, baik karena alasan sosial maupun fisik, biasanya berada dalam posisi dominan. Namun, seks dapat digunakan untuk mengendalikan hubungan baik oleh pria dan wanita dan karenanya sering merupakan aspek penting dalam dinamika hubungan. Kekuasaan tersebut mungkin dilakukan dengan mengendalikan akses ke interaksi seksual, menentukan bentuk pertalian seksual yang dilakukan, dan apakah proses menimbulkan efek positif pada harga diri pasangan. Sementara dapat terus menjadi faktor dalam suatu hubungan yang sudh berjalan, hal ini juga merupakan aspek yang penting dan menarik dalam perilaku awal masa “berpacaran”.

7) Mengungkapkan permusuhan

Aspek penting dalam masalah “dominasi” pada interaksi seksual pria-wanita adalah pemakaian seksualitas untuk mengungkapkan permusuhan. Hal ini

(16)

paling relevan dalam masalah perkosaan dan penyerangan seksual. Banyak kasus penyerangan atau pemaksaan seksual dapat dipandang sebagai perluasan dari dominasi atau kekuasaan, biasanya oleh pria terhadap wanita. Juga terdapat keadaan-keadaan dengan penyerangan seksual dapat dipahami sebagai suatu ungkapan kemarahan, baik terhadap wanita itu sendiriatau terhadap wanita itu sebagai pengganti wanita lain.

8) Mengurangi ansietas atau ketegangan

Menurunnya gairah yang biasanya terjadi setelah orgasme dapat digunakan sebagai cara untuk mengurangi ansietas atau ketegangan.

9) Pengambilan resiko

Interaksi seksual menimbulkan berbagai risiko, berkisar dari yang relatif ringan, misalnya ketahuan, sampai serius misalnya hamil atau infeksi menular seksual. Adanya resiko tersebut menjadi semakin bermakna dan mengganggu dengan terjadinya epidemi HIV dan AIDS. Bagi sebagian besar orang, kesadaran adanya resiko akan memadamkan respon seksual sehingga mereka mudah menghindari resiko tersebut. Namun, bagi beberapa individu, gairah yang berkaitan dengan persepsi resiko malah meningkatkan respons seksual. Untuk individu yang seperti ini, resiko seksual menjadi salah satu bentuk kesenangan yang dicari.

10. Keuntungan materi

Prostitusi adalah bentuk yang jelas dari aktivitas seksual untuk memperoleh keuntungan dan hal ini sering merupakan akibat dari kemiskinan. Pernikahan, sampai masa ini masih sering dilandasi oleh keinginan untuk memperoleh satu bentuk perlindungan dan bukan semata mata ikatan emosional komitmen untuk hidup bersama. ( Glasier: 2005 )

c.Kesehatan Seksualitas

Kesehatan seksual adalah kemampuan seseorang mencapai kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang terkait dengan seksualitas, hal ini tercermin dari ekspresi yang bebas namun bertanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan sosialnya misalnya dalam menjaga hubungan dengan teman atau pacar dalam batasan yang diperbolehkan oleh norma dalam masyarakat atau agama. Bukan hanya tidak adanya kecacatan, penyakit atau gangguan lainnya. Kondisi ini hanya bisa dicapai bila hak seksual individu perempuan dan laki-laki diakui dan dihormati (BKKBN, 2006).

d. Pertumbuhan Dan Perkembangan Seks Manusia

Pertumbuhan dan perkembangan seks manusia disebut libido. Terdiri dari beberapa tahap yaitu:

1) Tahap oral: Sampai mencapai umur sekitar 1-2 tahun, tingkat kepuasan seks dengan menghisap puting susu ibu, dot botol, menghisap jari tangan, Dengan bayi baru dapat tidur setelah disusui ibu, menghisap botol atau tidur sambil menghisap jarinya. Oleh karena itu perilaku demikian tidak perlu dilarang.

2) Tahap anal: Kepuasan seks anak didapat melalui rangsangan anus saat buang air besar, antara umur 3-4 tahun sering duduk lama ditoilet, sehingga kepuasannya tercapai.

3) Tahap falik: Terjadi sekitar umur 4-5 tahun, dengan jalan mempermainkan alat kelaminnya.

4) Tahap laten: Terjadi sekitar umur 6-12 tahun. Tingkah laku seksual seolah-olah terbenam, karena mungkin lebih banyak bermain, mulai masuk sekolah, dan adanya pekerjaan rumah dari sekolah, Sehingga anak-anak cepat lelah dan lekas tertidur, untuk siap bangun pagi dan pergi ke sekolah.

(17)

5) Tahap genital: Umur anak sekaitar 12-15 tahun. Tanda seks sekunder mulai berkembang dan keinginan seks dalam bentuk libido mulia tampak dan terus berlangsung sampai mencapai usia lanjut. Suara mulai berubah, keinginan dipuja dan memuja mulai muncul, keingian dicumbu dan mencumbu pun mulai tampak. Saat ini masa yang sangat berbahaya, sehingga memerlukan perhatian orang tua. Pada wanita telah mulai dating bulan (menstruasi) dan pria mulai mimpi basah sehingga dapat menyebabkan kehamilan atau hamil bila mereka melakukan hubungan seksual. Karena kematangan jiwa dan jasmani belum mencapai tingkat dewasa, sehingga bila terjadi kehamilan yang tidak dihendaki, memberikan dampak kejiwaan yang sangat menyedihkan. (chandranita :2009) Berkembangnya seksualitas dan pertalian seksual

a) Remaja

Pada awal masa remaja, sebagian besar seksualitas berkaitan dengan penegasan identitas gender dan harga diri. Pada saat awitan pubertas terjadi perubahan-perubahan di tubuh yang berlangsung tanpa dapat diduga sementara perubahan-perubahan hormon menimbulkan dampak pada reaktivitas emosi.

b) Pasangan dan awal perkawinan

Setelah perkawinan dimulai, tantangannya adalah membangun rasa aman dalam pertalian seksual yang juga mulai kehilangan pengaruh “pengalaman barunya”. Pada tahap inilah membangun komunikasi yang baik menjadi sangat penting untuk kelanjutan perkembangan pertalian seksual. Apabila pasangan tidak mengembangkan cara-cara yang memungkinkan pasangannya mengetahui apa yang mereka nikmati dan apa yang tidak menyenangkan maka akan muncul masalah yang seharusnya dapat dihadapi dan dipecahkan. c) Awal menjadi orang tua

Kehamilan, dan beberapa bulan setelah kelahiran, menimbulkan kebutuhan lebih lanjut akan penyesuaian seksual. Wanita besar kemungkinannya mengalami penurunan keinginan seksual dan kapasitas untuk menikmati seks menjelang akhir kehamilnya karena terjadinya perubahan-perubahan fisik dan mekanis. Periode pascanatal, karena berbagai alasan merupakan salah satu periode saat munculnya kesulitan-kesulitan seksual yang apabila pasangan obesitas belum mengembangkan metode-metode yang sesuai untuk mengatasinya, dapat menimbulkan kesulitan berkepanjangan. Masalah jangka panjang yang paling sering dalam hali ini adalah hilangnya gairah seksual pihak wanita.

4) Usia paruh baya

Seksualitas pada hubungan yang sudah terjalin lama biasanya menghadapi hambatan yang berbeda-beda. Pada tahap ini sesuatu yang baru dalam hubungan seksual telah lama hilang. Bagi banyakorang halini tidak menimbulkan masalah. Mereka telah mengembangkan bentuk kenyamanan intimasiseksual lain yang tetap menjadi bagian integral dari hubungan mereka. Tetapi bagi yang lain, kualitas hubungan seksual yang rutin ini akan memakan korban. Pada keadaan seperti ini stress di tempat kerja misalnya akan mudah menyebabkan kelelahan dan memadamkan semua antusiasme spontan untuk melakukan aktivitas seksual. Hubungan intim menjadi jarang dilakukan dan sebagai konsekuensinya dapat timbul ketegangan dalam hubungan pasangan tersebut.

Pada kelompok yang lebih tua lagi masalah seksual yang kita hadapi terutama adalah masalah ereksi pada pria dan hilangnya minat seksual pada

(18)

wanita. Proses penuaan memang menimbulkan dampak pada seksualitas tetapi tentu tidak selalu negatif. Pasangan pada usia ini lebih kecil kemungkinannya meminta pertolongan dalam konteks keluarga berencana atau kesehatan reproduksi (Glasier: 2005)

e. Respon Seksualitas

Siklus respon seksual normal terdiri dari empat tahap yang terjadi berturut-turut. “Normal” pada umumnya mengacu pada panjang siklus masing-masing fase, dan hasil bercinta yang memuaskan. Empat tahapan siklus respon seksual :

1) Fase kegembiraan adalah tahap pertama, yang dapat berlangsung dari beberapa menit sampai beberapa jam. Beberapa karakteristik dari fase kegembiraan meliputi:

a) Peningkatan ketegangan otot b) Peningkatan denyut jantung c) Perubahan warna kulit

d) Aliran darah ke daerah genital e) Mulainya pelumasan Vagina

f) Testis membengkak dan skrotum mengencang

2) Fase plateau adalah fase yang meluas ke ambang orgasme. Beberapa perubahan yang terjadi dalam fase ini meliputi:

a) Fase kegembiraan meningkat

b) Peningkatan pembengkakan dan perubahan warna vagina

c) Klitoris menjadi sangat sensitive

d) Testis naik ke dalam skrotum

e) Adanya peningkatan dalam tingkat pernapasan, denyut jantung, dan tekanan darah

f) Meningkatnya ketegangan otot dan terjadi kejang otot

3) Fase orgasme adalah puncak dari siklus respons seksual, dan merupakan fase terpendek, hanya berlangsung beberapa detik. Fase ini memiliki karakteristik seperti berikut:

a) Kontraksi otot tak sadar

b) Memuncaknya denyut jantung, tekanan darah, dan tingkat pernapasan c) Pada wanita, kontraksi otot vagina menguat dan kontraksi rahim

berirama

d) Pada pria, kontraksi otot panggul berirama dengan bantuan kekuatan ejakulasi

e) Perubahan warna kulit ekstrem dapat terjadi di seluruh tubuh

4) Tahap terakhir, yang disebut fase resolusi, adalah ketika tubuh secara perlahan kembali ke tingkat fisiologis normal. Fase resolusi ditandai dengan relaksasi, keintiman,dan seringkali kelelahan. Sering kali perempuan tidak memerlukan fase resolusi sebelum kembali ke aktivitas seksual dan kemudian orgasme, sedangkan laki-laki memerlukan waktu pemulihan sebelum orgasme selanjutnya. Seiring pertambahan usia laki-laki, panjang dari fase refraktori akan sering meningkat.

f. Dimensi seksualitas

Seksualitasmemiliki dimensi-dimensi.Dimensi-dimensi Seksualitasseperti sosiokultural,dimensi agamadanetik,dimensi psikologisdandimensi biologis (Perry & Potter, 2005). Masing-masing dimensi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

(19)

1) Dimensi Sosiokultural

Seksualitas dipengaruhi oleh norma dan peraturan kultural yang menentukan apakah perilaku yang diterima di dalam kultur. Keragaman kultural secara global menciptakan variabilitas yang sangat luas dalam norma seksual dan menghadapi spectrum tentang keyakinan dan nilai yang luas. Misalnya termasuk cara dan perilaku yang diperbolehkan selama berpacaran, apa yang dianggap merangsang, tipe aktivitas seksual, sanksi dan larangan dalam perilaku seksual, dengan siapa seseorang menikah dan siapa yang diizinkan untuk menikah. Setiap masyarakat memainkan peran yang sangat kuat dalam membentuk nilai dan sikap seksual, juga dalam membentuk atau menghambat perkembangan dan ekspresi seksual anggotanya. Setiap kelompok sosial mempunyai aturan dan norma sendiri yang memandu perilaku anggotanya.

Peraturan ini menjadi bagian integral dari cara berpikir individu dan menggarisbawahi perilaku seksual, termasuk, misalnya saja, bagaimana seseorang menemukan pasangan hidupnya, seberapa sering mereka melakukan hubungan seks, dan apa yang mereka lakukan ketika mereka melakukan hubungan seks.

2) Dimensi Agama dan etik

Seksualitas juga berkaitan dengan standar pelaksanaan agama dan etik. Ide tentang pelaksanaan seksual etik dan emosi yang berhubungan dengan seksualitas membentuk dasar untuk pembuatan keputusan seksual. Spektrum sikap yang ditunjukan pada seksualitas direntang dari pandangan tradisional tentang hubungan seks yang hanya dalam perkawinan sampai sikap yang memperbolehkan individu menentukan apa yang benar bagi dirinya. Keputusan seksual yang melewati batas kode etik individu dapat mengakibatkan konflik internal.

3) Dimensi Psikologis

Seksualitas bagaimana pun mengandung perilaku yang dipelajari. Apa yang sesuai dan dihargai dipelajari sejak dini dalam kehidupan dengan mengamati perilaku orangtua. Orangtua biasanya mempunyai pengaruh signifikan pertama pada anak-anaknya.

Mereka sering mengajarkan tentang seksualitas melalui komunikasi yang halus dan nonverbal. Seseorang memandang diri mereka sebagai makhluk seksual berhubungan dengan apa yang telah orangtua mereka tunjukan kepada mereka tentang tubuh dan tindakan mereka. Orangtua memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara berbeda berdasarkan jender.

4) Dimensi Biologis

Seksualitas berkaitan dengan pebedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang ditentukan pada masa konsepsi. Material genetic dalam telur yang telah dibuahi terorganisir dalam kromosom yang menjadikan perbedaan seksual. Ketika hormone seks mulai mempengaruhi jaringan janin, genitalia membentuk karakteristik laki-laki dan perempuan. Hormon mempengaruhi individu kembali saat pubertas, dimana anak perempuan mengalami menstruasi dan perkembangan karakteristik seks sekunder, dan anak laki-laki mengalami pembentukan spermatozoa (sperma) yang relatif konstan dan perkembangan karakteristik seks sekunder.

(20)

g. Permasalahan Seksualitas

Adapun penyebab dari masalah seksualitas adalah antara lain: 1) Ketidaktahuan mengenai seks

Lebih dari 70% wanita di Indonesia tidak mengetahui dimana letak klitorisnya sendiri. Sebuah hal yang sebenarnya sangat penting tetapi tidak diketahui oleh banyak orang. Masalah ketidaktahuan terhadap seks sudah betul-betul merakyat. Ini berpangkal dari kurangnya pendidikan seks yang sebagian besar dari antara masyarakat tidak memperolehnya pada waktu remaja. Tidak jarang, pengetahuan seks itu hanyalah sebatas informasi, bukan pendidikan. Itu terjadi karena mereka tidak mendapatkan pendidikan seks di sekolah atau lembaga formal lainnya. Akibatnya, keingintahuan soal seks didapatkannya dari berbagai media. Untuk itu orang tua hendaknya memberikan pendidikan soal seks kepada anak-anaknya sejak dini. Salah satunya dengan memisahkan anak-anaknya tidur dalam satu kamar setelah berusia sepuluh tahun, sekalipun sama-sama perempuan atau laki-laki. Demikian halnya dengan menghindarkan anak-anaknya mandi bersama keluarga atau juga teman-temannya.

Orang tua harus menjawab jujur ketika anaknya bertanya soal seks. Jawaban-jawaban yang diberikan hendaknya mudah dimengerti dan sesuai dengan usia si anak. Karena itulah, orang tua dituntut membekali dirinya dengan pengetahuan-pengetahuan tentang seks. Terlebih lagi, perubahan fisik dan emosi anak akan terjadi pada usia 13 – 15 tahun pada pria dan 12 – 14 tahun pada wanita. Saat itulah yang dinamakan masa pubertas yaitu masa peralihan dari masa anak-anak menjadi remaja. Pada saat itu pula, mereka mulai tertarik kepada lawan jenisnya.

2) Kelelahan

Rasa lelah adalah momok yang paling menghantui pasangan pada jaman ini dalam melakukan hubungan seks. Apalagi dengan meningkatnya tuntutan hidup, sang wanita harus ikut bekerja di luar rumah demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pada waktu suami istri pulang dari kerja, mereka akan merasa lelah. Dan pasangan yang sedang lelah jarang merasakan bahwa hubungan seks menarik minat. Akhirnya mereka memilih untuk tidur. Kelelahan bisa menyebabkan bertambahnya usaha yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan lawan jenis dan merupakan beban yang membuat kesal yang akhirnya bisa memadamkan gairah seks.

3) Konflik

Sebagian pasangan memainkan pola konflik merusak yang berwujud sebagai perang terbuka atau tidak mau berbicara sama sekali satu sama lain. Konflik menjadi kendala hubungan emosional mereka. Bahkan ini bisa menggeser proses foreplay. Pasangan dapat mempertajam perselisihan mereka dengan menghindari seks atau mengeluarkan ungkapan negatif atau membandingkan dengan orang lain, yang sangat melukai perasaan pasangannya. Kemarahan dan kecemasan yang tidak terpecahkan bisa menyebabkan sejumlah masalah seksual antara lain masalah ereksi, hilang gairah atau sengaja menahan diri untuk tidak bercinta. Perbedaan antara satu orang dan lainnya biasanya tidak baik dan tidak juga buruk. Jadi haruslah dipandang hanya sebagai perbedaan. Kemarahan, ketegangan atau perasaan kesal akan selalu menghambat gairah seks.

4) Kebosanan

Seperti halnya menggosok gigi atau menyetel alarm jam, seks bisa dianggap seperti “kerja malam”. Hubungan seks yang rutin sebelum tidur sering menjadi berlebihan sampai ke suatu titik yang membosankan. Yang mendasari rasa bosan

(21)

itu adalah kemarahan yang disadari atau tidak disadari karena harapan anda tidak terpenuhi. Masalah ini diderita oleh kebanyakan pasangan yang sudah hidup bersama bertahun-tahun. Sebagian pasangan yang sudah hidup bersama untuk jangka waktu yang lama merasa kehilangan getaran kenikmatan yang datang ketika melakukan hubungan seks dengan pasangan yang baru. Orang demikian melihat rayuan penguat ego, dibandingkan bila bersenggama dengan mitra baru.

h. Membantu Kesulitan Seksual

Kemampuan yang dapat sangat membantu tidak hanya memfasilitasi pasien dalam mengekspresikan kekhawatiran mereka mengenai kesulitan seksual, tetapi juga dengan mendengarkan secara empati. Tidak jarang, ini merupakan pertama kali pasien benar-benar mengutarakan masalah mereka dan mampu melakukannya, makamasalah dan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya lebih mudah dibawa ke dalam perspektif. Pada banyak kasus, mungkin tidak tersedia informasi mengenai respons seksual normal dan apa yang dapat diharapkan. Hal ini dapat dengan mudah diperbaiki. Contoh-contoh umum adalah asumsi bahwa pasangan harus mencapai orgasme bersama-sama atau bahwa pihak wanita harus mengalami orgasme hanya melalui hubungan per vaginam.

Dengan cara berbicara dengan pasangan,kita dapat membantu mereka untuk lebih memahami satu sama lain dan mengetahui arti pengalaman seksual bagi masing-masing. Mendorong pasangan untuk berbicara secara lebih terbuka dan nyaman mengenai perasaan-perasaan seksual mereka sering merupakan hal yang sangat penting, karena cara tersebut dapat membuka jalan bagi pasangan untuk menyelesaikan sendiri masalahnya. ( Glasier: 2005 )

2. Uraian materi Stres adaptasi a. Pengertian stres

Stres adalah segala situasi di mana tuntunan non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk merespon atau melakukan tindakan ( Selye, 1976 ). Respon atau tindakan ini termasuk respon fisiologis dan psikologis. Stresor adalah stimulus yang mengawali atau mencetuskan perubahan.

1) Stresor internal berasal dari dalam diri seseorang (demam, kondisi seperti kehamilan, menopause atau suatu keadaan emosi seperti rasa bersalah )

2) Stresor eksternal berasal dari luar diri seseorang (perubahan bermakna dalam suhu lingkungan, perubahan peran dalam keluarga atau sosial, atau tekanan dari pasangan ).

Berbagai pandangan manusia mengenai stres menghasilkan pengertian yang berbeda-beda tentang stres itu sendiri. Stres hanyalah sekedar gangguan sistem syaraf yang menyebabkan tubuh berkeringat, tangan menggenggam, jantung berdetak kencang,dan wajah memerah. Paham realistik memandang stress sebagai suatu fenomena jiwa yang terpisah dengan jasmani atau tubuh manusia atau fenomena tubuh belaka tanpa ada hubungan dengan kejiwaan. Sedangkan paham idealis menganggap stres adalah murni fenomena jiwa. Hal ini membuat kita sulit untuk menjelaskan kenapa jika fenomena stres hanyalah fenomena jiwa namun memberikan dampak pada fisik seseorang seperti dada yang berdebar-debar, keringat, dan sebagainya.

Tak seorang pun dapat menghindari stres karena untuk menghilangkannya berarti akan menghancurkan hidupnya sendiri ( Hans Selye, 1978 ). Stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan. Pendekatan ini telah dibatasi sebagai “model psikologi”. Model psikologi ini

(22)

menggambarkan stress sebagai suatu proses yang meliputi stresor dan ketegangan ( strain ). Interaksi antara individu dengan lingkungannya yang saling mempengaruhi itu dinamakan dengan interaksi transaksional yang di dalamnya terdapat proses penyesuaian. Stres bukan hanya stimulus atau respon tetapi juga agen aktif yang dapat mempengaruhi stresor melalui strategi prilaku, kognitif dan emosional. Individu akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap stresor yang sama.

Definisi tentang stres yang sangat beragam menunjukan bahwa stres bukanlah suatu hal yang sederhana. Salah satu definisinya adalah stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan ( Vincent Cornelli, dalamMustamir Pedak, 2007 ). Kesimpulan dari para ahli tentang stres yaitu stres bisa terjadi karena manusia begitu kuat dalam mengejar keinginannya serta kebutuhannya dengan mengandalkan segala kemampuannya dan potensinya.

b. Manifestasi stress

Stres sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat merasakannya, tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan karakteristik individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang. Seseorang yang mengalami stres dapat mengalami perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya, antara lain :

1) Perubahan warna rambut kusam, ubanan, kerontokan

2) Wajah tegang, dahi berkerut, mimik nampak serius, tidak santai, bicara berat, sulit tersenyum/tertawa dan kulit muka kedutan (ticfacialis)

3) Nafas terasa berat dan sesak, timbul asma

4) Jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar atau menyempit (constriksi) sehingga mukanya nampak merah atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama ujung-ujung jari juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan.

5) Lambung mual, kembung, pedih, mules, sembelit atau diare. 6) Sering berkemih.

7) Otot sakit seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang pada tulang terasa linu atau kaku bila digerakkan.

8) Kadar gula meningkat, pada wanita mens tidak teratur dan sakit (dysmenorhea)

9) Libido menurun atau bisa juga meningkat.

10) Gangguan makan bisa nafsu makan meningkat atau tidak ada nafsu makan. 11) Tidak bisa tidur

12) Sakit mental-histeris

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi stress

Kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressors. Meskipun stress dapat diakibatkan oleh hanya satu stressors, biasanya karyawan mengalami stress karena kombinasi stressors.

Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya stress yaitu:

1) Faktor Lingkungan

Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan. Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stress bagi karyawan yaitu ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian terhadap ketiga hal tersebut membuat

(23)

seseorang mengalami ancaman terkena stress. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi yang begitu cepat. Perubahan yang baru terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat dengan adanya teknologi yang digunakannya. 2) Faktor Organisasi

Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan stress yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure dan organizational leadership.

Pengertian dari masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai berikut :

a) Role Demands

Peraturan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu organisasi akan mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk memberikan hasil akhir yang ingin dicapai bersama dalam suatu organisasi tersebut.

b) Interpersonal Demands

Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi. Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan karyawan lainnya akan dapat menyebabkan komunikasi yang tidak sehat. Sehingga pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial akan menghambat perkembangan sikap dan pemikiran antara karyawan yang satu dengan karyawan lainnya. c) Organizational Structure

Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan tersebut dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau peraturan maka akan dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam organisasi.

d) Organizational Leadership

Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu organisasi. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group (Robbins, 2001:316) dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan atau menekankan pada hubungan yang secara langsung antara pemimpin dengan karyawannya serta karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan atau menekankan pada hal pekerjaan saja.

Empat faktor organisasi di atas juga akan menjadi batasan dalam mengukur tingginya tingkat stress. Pengertian dari tingkat stress itu sendiri adalah muncul dari adanya kondisi-kondisi suatu pekerjaan atau masalah yang timbul yang tidak diinginkan oleh individu dalam mencapai suatu kesempatan, batasan-batasan, atau permintaan-permintaan dimana semuanya itu berhubungan dengan keinginannya dan dimana hasilnya diterima sebagai sesuatu yang tidak pasti tapi penting (Robbins,2001:563). 3) Faktor Individu

Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Hubungan pribadi antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan akibat pada pekerjaan yang akan dilakukan karena akibat tersebut dapat terbawa dalam pekerjaan seseorang. Sedangkan masalah ekonomi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut dapat menghasilkan penghasilan yang cukup

(24)

bagi kebutuhan keluarga serta dapat menjalankan keuangan tersebut dengan seperlunya. Karakteristik pribadi dari keturunan bagi tiap individu yang dapat menimbulkan stress terletak pada watak dasar alami yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Sehingga untuk itu, gejala stress yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus diatur dengan benar dalam kepribadian seseorang.

d. ADAPTASI

Adaptasi adalah penyesuaian diri terhadap suatu penilaian. Dalam hal ini respon individu terhadap suatu perubahan yang ada dilingkungan yang dapat mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun psikologis dalam perilaku adaptip. Hasil dari perilaku ini dapat berupa usaha untuk mempertahankan keseimbangan dari suatu keadaan agar dapat kembali pada keadaan normal, namun setiap orang akan berbeda dalam perilaku adaptip ada yang dapat berjalan dengan cepat namun ada pula yang memerlukan waktu lama tergantung dari kematangan mental orang itu tersebut.

Adaptasi terhadap stress dapat berupa : 1) Adaptasi fisiologis

Adaptasi fisiologis adalah proses penyesuaian diri secara alamiah atau secara fisiologis untuk mempertahankan keseimbangan dalam berbagai faktor yang menimbulkan keadaan menjadi tidak seimbang contoh: masuknya kuman pennyakit ketubuh manusia.

2) Adaptasi psikologi

Adaptasi secara psikologis dapat dibagi menjadi dua yaitu: a) LAS ( general adaptation syndroma)

adalah apabila kejadiannya atau proses adaptasi bersifat lokal contoh: seperti ketika kulit terinfeksi maka akan terjadi disekitar kulit tersebut kemerahan, bengkak, nyeri, panas dll yang sifatnya lokal atau pada daerah sekitar yang terkena.

b) GAS ( general adaptation syndroma)

adalah apabila reaksi lokal tidak dapat diaktifitasi maka dapat menyebabkan gangguan dan secara sistemik tubuh akan melakukan proses penyesuaian diri seperti panas di seluruh tubuh, berkeringat

e. Proses keperawatan stress managemen stress untuk perawat

Manajemen stress adalah kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai aktivitas atau intervasi atau mengubah pertukaran respon terhadap penyakit. Fokusnya tergantung pada tujuan dari intervensi keperawatan berdasarkan keperluan pasien. Perawat bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada beberapa daerah perawatan.Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak sampai ke tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :

1) Pengaturan Diet dan Nutrisi

Pengaturan diet dan nutrisi merupakan cara yang efektif dalam mengurangi dan mengatasi stres melalui makan dan minum yang halal dan tidak berlebihan, dengan mengatur jadwal makan secara teratur, menu bervariasi, hindari makan dingin dan monoton karena dapat menurunkan kekebalan tubuh.

2) Istirahat dan Tidur

Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres karena dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keadaan tubuh.

(25)

Tidur yang cukup akan memberikan kegairahan dalam hidup dan memperbaiki sel-sel yang rusak.

3) Olah Raga atau Latihan Teratur

Olah raga dan latihan teratur adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olah raga dapat dilakukan dengan cara jalan pagi, lari pagi minimal dua kali seminggu dan tidak perlu lama-lama yang penting menghasilkan keringat setelah itu mandi dengan air hangat untuk memulihkan kebugaran.

4) Berhenti Merokok

Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stres karena dapat meningkatkan ststus kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan kekebalan tubuh.

5) Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras

Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat mengakibatkan terjadinya stres. Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras, kekebalan dan ketahanan tubuh akan semakin baik, segala penyakit dapat dihindari karena minuman keras banyak mengandung alkohol.

6) Pengaturan Berat Badan

Peningkatan berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan timbulnya stres karena mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap stres. Keadaan tubuh yang seimbang akan meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap stres.

7) Pengaturan Waktu

Pengaturan waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan menanggulangi stres. Dengan pengaturan waktu segala pekerjaaan yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien serta melihat aspek prokdutivitas waktu. Seperti menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu dan jangan biarkan waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

8) Terapi Psikofarmaka

Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam mengalami stres yang dialami dengan cara memutuskan jaringan antara psiko neuro dan imunologi sehingga stresor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau psikomotor yang dapat mengganggu organ tubuh yang lain. Obat-obatan yang digunakan biasanya digunakan adalah anti cemas dan anti depresi.

9) Terapi Somatik

Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang dialami sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh yang lain. 10) Psikoterapi

Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi redukatif di mana psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar pasien mengalami percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan secara berulang. Selain itu ada psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif dan lain-lain.

(26)

11) Terapi Psikoreligius

Terapi ini dengan menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi permasalahn psikologis mengingat dalam mengatasi atau mempertahankan kehidupan seseorang harus sehat secara fisik, psikis, sosial, dan sehat spiritual sehingga stres yang dialami dapat diatasi.

12) Homeostatis

Merupakan suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya. Proses homeostatis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami stres yang ada sehingga tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kondisi yang seimbang, atau juga dapat dikatakan bahwa homeostatis adalah suatu proses perubahaan yang terus menerus untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.

Homeostatis yang terdapat dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh suatu sistem endokrin dan syaraf otonom. Secara alamiah proses homeostatis dapat terjadi dalam tubuh manusia. Dalam mempelajari cara tubuh melakukan proses homeostatis ini dapat melalui empat cara di antaranya: a) Sself regulation di mana sistem ini terjadi secara otomatis pada orang

yang sehat seperti dalam pengaturan proses sistem fisiologis tubuh manusia.

b) Berkompensasi yaitu tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidak normalan dalam tubuh.

c) Dengan cara sistem umpan balik negatif, proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal segera dirasakan dan diperbaiki dalam tubuh dimana apabila tubuh dalam keadaan tidak normal akan secara sendiri mengadakan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan dari keadaan yang ada.

d) Cara umpan balik untuk mengkoreksi suatu ketidakseimbangan fisiologis.

e. Konsep kehilangan, kematian dan duka

1) Pengertian Kehilangan

Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.

Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.

Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman

(27)

yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.

Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan, tergantung:

a) Arti dari kehilangan b) Sosial budaya

c) Kepercayaan / spiritual d) Peran seks

e) Status social ekonomi

f) Kondisi fisik dan psikologi individu

Kemampuan untuk meyelesaikan proses berduka bergantung pada makna kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan menerima bantuan mempengaruh apakah yang berduka akan mampu mengatasi kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang diterima. Durasi peubahan (mis. Apakah hal tersebut bersifat sementara atau permanen) mempengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali ekuilibrium fisik, pshikologis, dan social.

2) Bentuk-bentuk kehilangan a) Kehilangan orang yang berarti b) Kehilangan kesejahteraan c) Kehilangan milik pribadi

3)Sifat kehilangan

a) Tiba–tiba (Tidak dapat diramalkan) Kehilangan secara tiba-tiba dan tidak diharapkan dapat mengarah pada pemulihan dukacita yang lambat. Kematian karena tindak kekerasan, bunuh diri, pembunuhan atau pelalaian diri akan sulit diterima.

b) Berangsur – angsur (Dapat Diramalkan)

Penyakit yang sangat menyulitkan, berkepanjangan, dan menyebabkan yang ditinggalkan mengalami keletihan emosional (Rando:1984). Penelitian menunjukan bahwa yang ditinggalkan oleh klien yang mengalami sakit selama 6 bulan atau kurang mempunyai kebutuhan yang lebih besar terhadap ketergantungan pada orang lain, mengisolasi diri mereka lebih banyak, dan mempunyai peningkatan perasaan marah dan bermusuhan. Kemampuan untuk meyelesaikan proses berduka bergantung pada makna kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan menerima bantuan mempengaruh apakah yang berduka akan mampu mengatasi kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang diterima. Durasi peubahan (mis. Apakah hal tersebut bersifat sementara atau permanen) mempengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan dalam

(28)

menetapkan kembali ekuilibrium fisik, pshikologis, dan social.

4) Tipe kehilangan a) Actual Loss

Kehilangan yang dapat dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, sama dengan individu yang mengalami kehilangan.

b) Perceived Loss ( Psikologis )

Perasaan individual, tetapi menyangkut hal – hal yang tidak dapat diraba atau dinyatakan secara jelas.

c) Anticipatory Loss

Perasaan kehilangan terjadi sebelum kehilangan terjadi.Individu memperlihatkan perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan yang akan berlangsung. Sering terjadi pada keluarga dengan klien (anggota)

menderita sakit terminal.

Tipe dari kehilangan dipengaruhi tingkat distres. Misalnya, kehilangan benda mungkin tidak menimbulkan distres yang sama ketika kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Nanun demikian, setiap individunberespon terhadap kehilangan secara berbeda.kematian seorang anggota keluargamungkin menyebabkan distress lebih besar dibandingkan kehilangan hewan peliharaan, tetapi bagi orang yang hidup sendiri kematian hewan peliharaan menyebaabkan disters emosional yang lebih besar dibanding saudaranya yang sudah lama tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Kehilangan dapat bersifat aktual atau dirasakan. Kehilangan yang bersifat actual dapat dengan mudah diidentifikasi, misalnya seorang anak yang teman bermainya pindah rumah. Kehilangan yang dirasakan kurang nyata dan dapat di salahartikan ,seperti kehilangan kepercayaan diri atau prestise.

5)Lima kategori kehilangan

a) Kehilangan objek eksternal.

Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi usang berpinda tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang bergantung pada nilai yang dimiliki orng tersebut terhadap nilai yang dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.

b) Kehilangan lingkungan yang telah dikenal Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal mencakup lingkungan yang telah dikenal Selma periode tertentu atau kepindahan secara permanen. Contohnya pindah ke kota baru atau

(29)

perawatan diruma sakit. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal dapat terjadi melalui situasi maturaasionol, misalnya ketika seorang lansia pindah kerumah perawatan, atau situasi situasional, contohnya mengalami cidera atau penyakit dan kehilangan rumah akibat bencana alam.

c) Kehilangan orang terdekat

Orang terdekat mencakup orangtua, pasangan, anak-anak, saudara sekandung, guru, teman, tetangga, dan rekan kerja.Artis atau atlet terkenal mumgkin menjadi orang terdekat bagi orang muda. Riset membuktikan bahwa banyak orang menganggap hewan peliharaan sebagai orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan atau kematian.

d) Kehilangan aspek diri

Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau psikologis.Kehilangan anggota tubuh dapat mencakup anggota gerak , mata, rambut, gigi, atau payu dara. Kehilangan fungsi fsiologis mencakupo kehilangan control kandung kemih atau usus, mobilitas, atau fungsi sensori. Kehilangan fungsi fsikologis termasuk kehilangan ingatan, harga diri, percaya diri atau cinta.Kehilangan aspek diri ini dapat terjadi akibat penyakit, cidera, atau perubahan perkembangan atau situasi.Kehilangan seperti ini dapat menghilangkan sejatera individu.Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan konsep diri. e) Kehilangan hidup

Kehilangan dirasakan oleh orang yang menghadapi detik-detik dimana orang tersebut akan meninggal. Doka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam- hidup kedalam enpat fase. Fase presdiagnostik terjadi ketika diketahui ada gejala klien atau factor resiko penyakit. Fase akut berpusat pada krisis diagnosis. Dalam fase kronis klien bertempur dengan penyakit dan pengobatanya ,yang sering melibatkan serangkain krisis yang diakibatkan. Akhirnya terdapat pemulihan atau fase terminal Klien yang mencapai fase terminal ketika kematian bukan hanya lagi kemungkinan, tetapi pasti terjadi.Pada setiap hal dari penyakit klien dan keluarga dihadapkan dengan kehilangan yang beragam dan terus berubah Seseorsng dapat tumbuh dari pengalaman kehilangan melalui keterbukaan, dorongan dari orang lain, dan dukungan adekuat.

6) Tahapan proses kehilangan

a) Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu berfikir positif – kompensasi positif

(30)

terhadap kegiatan yang dilakukan – perbaikan – mampu beradaptasi dan merasa nyaman.

b) Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu berfikir negatif – tidak berdaya – marah dan berlaku agresif – diekspresikan ke dalam diri ( tidak diungkapkan)– muncul gejala sakit fisik.

c) Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan individuberfikir negatif– tidak berdaya – marah dan berlaku agresif diekspresikan ke luar diri individu –berperilaku konstruktif perbaikan mampu beradaptasi dan merasa kenyamanan.

d) Stressor internal atau eksternal gangguan dan kehilangan individuberfikir negative tidak berdaya marah dan berlaku agresif diekspresikan ke luar diri individu berperilaku destruktif perasaan bersalah ketidakberdayaan.

Inti dari kemampuan seseorang agar dapat bertahan terhadap kehilangan adalah pemberian makna (personal meaning) yang baik terhadap kehilangan (husnudzon) dan kompensasi yang positif (konstruktif).

7) KEMATIAN

Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Namun, bencana gempa di Bantul memaksa anak untuk melihat dan atau mengalami kematian secara tiba-tiba. Pemahaman akan kematian mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang terhadap kematian. Selain pengalaman, pemahaman konsep kematian juga dipengaruhi oleh perkembangan kognitif dan lingkungan sosial budaya. Kebudayaan Jawa yang menjadi latar tumbuh kembang anak menjadi penting untuk diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman anak usia sekolah dan praremaja tentang kematian dengan mengacu pada tujuh subkonsep kematian, yakni irreversibility, cessation, inevitability, universability, causality, unpredictability, dan personal mortality dari Slaughter (2003). Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara yang dilakukan pada tiga anak usia (6-7 tahun) dan 4 praremaja (10-11 tahun). Hasil penelitian menunjukkan pemahaman konsep kematian yang berbeda-beda pada ketiga subjek yang berusia 6-7 tahun. Dua subjek belum memahami subkonsep unpredictability dan causality, sedangkan kelima subkonsep lainnya sudah dipahami oleh anak. Satu subjek lainnya hanya memahami subkonsep inevitability, universality, dan personal mortality, sedangkan empat subkonsep lainnya belum dipahami sama sekali. Secara umum ketiga subjek belum memahami kematian sebagai fenomena biologis. Partisipan yang berusia 10-11 tahun sudah memiliki ketujuh subkonsep kematian walaupun belum bisa

Referensi

Dokumen terkait