I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara
dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara
(http://id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_ekonomi) . Tujuan pembangunan ekonomi suatu negara adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam dunia ketiga atau lebih sering disebut dengan negara sedang berkembang (NBS) merupakan negara – negara yang memerlukan perhatian lebih dalam aspek pembangunan ekonomi. Penyebab semakin meluasnya perhatian terhadap pembangunan ekonomi di Negara sedang berkembang ialah keinginan dari NSB untuk dapat mengejar ketinggalan dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Peningkatkan kesejahteraan dalam masyarakat memerlukan pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari distribusi pendapatan yang merata. Pertumbuhan ekonomi ini diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan laju pertumbuhannya atas dasar harga konstan. Pertumbuhan ekonomi yang cepat akan menimbulkan ketimpangan distribusi pendapatan, hal ini dikarenakan tidak memperhatikan apakah pertumbuhan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau perubahan struktur ekonomi.
Provinsi Aceh terdiri atas 23 kabupaten yang memiliki latar belakang berbeda antar wilayah. Perbedaan ini berupa perbedaan karakteristik alam, sosial, ekonomi, dan sumber daya alam yang penyebarannya berbeda disetiap kabupaten. Perbedaan tersebut menjadi hambatan dalam pemerataan pembangunan ekonomi
dikarenakan terkonsentrasinya suatu kegiatan perekonomian yang berdampak meningkatkan pertumbuhan ekonomi dibeberapa kabupaten atau wilayah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam yang dimiliki seharusnya dapat menjadikan nilai tambah dengan meningkatkan pembangunan ekonomi. Hanya saja kekayaan alam ini tidak dimiliki oleh seluruh kabupaten di provinsi Aceh secara merata. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab timbulnya ketimpangan atau kesenjangan antar daerah.
Ketimpangan wilayah (regional disparity) timbul dikarenakan tidak adanya pemerataan dalam pembangunan ekonomi. Hal ini terlihat dengan adanya wilayah yang maju dengan wilayah yang terbelakang atau kurang maju. Ketidakmerataan pembangunan ini disebabkan karena adanya perbedaan antar wilayah satu dengan lainnya. Perbedaan kandungan sumber daya alam dan perbedaan kondisi demografi yang terdapat pada masing – masing wilayah (Sjafrizal 2008, h. 104). Berkembangnya kabupaten – kabupaten baru dan desentralisasi diduga akan sangat mendorong kesenjangan antar daerah yang lebih lebar.
Ketimpangan memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari adanya ketimpangan adalah dapat mendorong wilayah lain yang kurang maju untuk dapat bersaing dan meningkatkan pertumbuhannya guna meningkatkan kesejahteraannya. Sedangkan dampak negatif dari ketimpangan yang ekstrim antara lain inefisiensi ekonomi, melemahnya stabilitas dan solidaritas, serta ketimpangan yang tinggi pada umumnya di pandang tidak adil (Todaro 2006, h. 249).
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator dari kesejahteraan masyarakat. Di mana ketika suatu wilayah memiliki pertumbuhan yang tinggi maka wilayah tersebut dapat dikatakan wilayah yang makmur. Prof. Simon Kuznets mengemukakan enam karakter atau ciri proses pertumbuhan ekonomi yang bisa ditemui dihampir semua negara yang sekarang maju sebagai berikut (Todaro 2003, h. 99-100) :
1. Tingkat pertumbuhan output per kapita dan pertumbuhan penduduk yang tinggi.
2. Tingkat kenaikan produktifitas faktor total yang tinggi. 3. Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi. 4. Tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi.
5. Adanya kecenderungan negara-negara yang mulai atau yang sudah maju perekonomiannya untuk berusaha merambah bagian-bagian dunia lainnya sebagai daerah pemasaran dan sumber bahan baku yang baru.
6. Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sepertiga bagian penduduk dunia.
Simon Kuznets (Todaro 2006, h. 253) juga mengatakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap selanjutnya distribusi pendapatan pun akan membaik. Hal ini sebagian besar dikaitkan dengan kondisi-kondisi dasar perubahan yang bersifat struktural. Observasi inilah yang kemudian dikenal sebagai Kurva Kuznets “U-Terbalik”.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan di mana pada saat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah meningkat akan mengurangi ketimpangan di dalam wilayah tersebut, akan tetapi
pertumbuhan ini harus diimbangi dengan pemerataan pendapatan per kapita bagi seluruh masyarakat.
Tebel 1
Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 tahun 2005-2011
No. Tahun
PDRB (ADHK) Kabupaten Aceh Barat
(%)
PDRB (ADHK) Kabupaten Aceh Selatan
(%) 1 2005 13,15 4,39 2 2006 8,65 3,42 3 2007 6,08 2,73 4 2008 5,46 3,63 5 2009 5,00 3,81 6 2010 5,09 4,27 7 2011 5,24 4,47
Sumber: Badan Pusat Statistik Aceh Barat (Mei 2013)
Dilihat dari tabel 1, tingkat pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari perkembangan nilai PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) yang disajikan secara berkala setiap tahunnya. Berdasarkan harga konstan 2000, selama kurun waktu tujuh tahun terakhir 2005-2011, pada tahun 2005 pertumbuhan PDRB mencapai 13,15 persen, dan mengalami penurunan pada tahun 2006 mencapai 8,65 persen. Nilai ini tumbuh lagi sebesar 5,09 persen pada tahun 2010 dan 5,24 persen pada tahun 2011 sehingga PDRB Aceh Barat mencapai angka 1,26 dan 1,32 trilyun rupiah di dua tahun terakhir. Sedangkan pada tahun 2005 pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Selatan mencapai 4,39% dan menurun menjadi 2,73% pada tahun 2007, ini disebabkan melambatnya sektor pertanian sebesar minus 1,48%, dimana sektor pertanian merupakan sektor yang memberi kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Aceh Selatan. Akan tetapi kembali mengalami peningkatan pada tahun 2008 mencapai 3,63 dan terus meningkat menjadi 4,47% pada tahun 2011.
PDRB Aceh Barat selama lima tahun terakhir ini merupakan yang tertinggi di kawasan Pantai Barat Selatan Aceh. Bersumber dari BPS Provinsi Aceh angka PDRB aceh jaya dan Nagan Raya sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan kabupaten ini hanya sebesar 1,08 dabn 1,77 trilyun rupian. Sedangkan PDRB Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan masing-masing 1,68 dan 2,71 trilyun rupiah. Bahkan PDRB Simeulue, Aceh Singkin dan Subulussalam malah hanya dibawah 1 trilyun rupiah. Basarnya PDRB ini merupakan cerminan kemajuan ekonomi suatu wilayah.
Tabel 2
Laju PDRB (ADHK) Per kapita Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2005-2011
No Tahun PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Barat
(Rupiah)
PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Selatan (Rupiah) 1 2005 5.841.752,71 5.702.691,96 2 2006 6.299.103,30 5.525.541,25 3 2007 6.608.169,64 5.634.475,17 4 2008 6.940.967,13 5.721.167,98 5 2009 7.083.539,99 5.901.317,52 6 2010 7.253.694,74 6.406.057,19 7 2011 7.462.849,18 6.564.136,60
Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh Barat (Mei 2013)
Sedangkan PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Barat tiap tahunnya dalam kurun waktu 7 tahun terakhir relatif terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 PDRB per kapita Kabupaten Aceh Barat sebesar Rp. 5.841.752,71, kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2006 sebesar Rp. 6.299.103,30 dan terus meningkat menjadi Rp. 7.462.849,18 pada tahun 2011. Begitu juga dengan PDRB Kabupaten Aceh Selatan selama 7 tahu terakhir yang terus meningkat, pada tahun 2005 sebesar Rp. 5.702.691,96 dan meningkat menjadi Rp. 6.564.136,60 pada tahun 2011. Akan tetapi peningkatan PDRB per kapita
Kabupaten Aceh Selatan tidak lebih besar dari PDRB per kapita Kabupaten Aceh Barat.
Ketimpangan yang terjadi di suatu daerah ini di sebabkan oleh banyak faktor. Seperti pada teori Myrdal dalam Jhingan (2007, h. 212), ketimpangan wilayah berkaitan erat dengan sistem kapitalis yang dikendalikan oleh motif laba. Motif laba inilah yang mendorong berkembangnya pembangunan terpusat di wilayah-wilayah yang memiliki harapan laba tinggi, sementara wilayah - wilayah yang lainnya tetap terlantar. Menurut Myrdal (2007, h. 212), ketidakmerataan pembangunan yang mengakibatkan ketimpangan ini disebabkan karena adanya dampak balik (backwash effect) yang lebih tinggi dibandingkan dengan dampak sebar (spread effect). Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya dampak balik pada suatu wilayah salah satunya investasi.
Investasi merupakan perpindahan modal dimana cenderung meningkatkan ketimpangan regional. Di wilayah maju, permintaan yang meningkat akan merangsang investasi yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dan menyebabkan putaran kedua investasi dan seterusnya. Lingkup investasi yang yang lebih baik pada sentra-sentra pengembangan dapat menciptakan kelangkaan modal di wilayah terbelakang (Myrdal dalam Jhingan 2007, h. 213). Kelangkaan modal ini akan menyebabkan ketimpangan antara wilayah yang maju dangan wilayah terbelakang.
Tabel 3
Nilai Investasi PMA dan PMDN Kabupaten Aceh Barat Tahun 2000-2011
No. Tahun PMA (US $) PMDN (US $)
1 2000 0 283.988.739.588 2 2001 0 0 3 2002 0 0 4 2003 0 0 5 2004 34.200.000,00 0 6 2005 0 0 7 2006 0 0 8 2007 0 0 9 2008 1.007.700.000 0 10 2009 0 0 11 2010 0 63.435.020.000 12 2011 140.000.000 15.000.000.000
Sumber : Badan Investasi dan Promosi Aceh ( Mei 2013)
Tabel 3 menunjukkan nilai investasi (PMA dan PMDN) di Provinsi Aceh tahun 2000 – 2011. Selama tahun 2000 – 2011 terlihat bahwa investasi swasta yang masuk baik dari asing maupun dalam negeri jumlahnya fluktuatif dan cenderung tinggi. Investasi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah setempat. Disisi lain seperti yang dikatakan oleh Myrdal (2007, h. 212) dalam teorinya mengenai dampak baik yang diakibatkan oleh perpindahan modal dan motif laba yang mendorong berkembangnya pembangunan terpusat pada wilayah – wilayah yang memiliki harapan laba tinggi, sementara wilayah – wilayah lainnya akan terlantar. Hal ini menunjukan bahwa investasi yang tidak merata pada setiap dearah menyebabkan kelangkaan modal yang mengakibatkan ketidakmerataan pembangunan.
Ketimpangan pembangunan dalam suatu wilayah atau antar wilayah terjadi karena setiap wilayah memiliki latar belakang dan potensi daerah yang berbeda, baik dari sumber daya alam maupun dari sumber daya manusia.
Pertumbuhan ekonomi merupakan usaha dalam meningkatkan produk domestik regional bruto dengan memperhatikan jumlah pertumbuhan penduduk.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti seberapa besar tingkat ketimpangan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat dibandingkan dengan pembangunan provinsi Aceh. Selain itu, juga pembuktian atas hipotesis Kuznets mengenai kurva “U Terbalik” apakah berlaku di Kabupaten Aceh Barat. Judul penelitiannya adalah “Analisis Ketimpangan Pembangunan Wilayah Antar Kabupaten Barat Selatan Provinsi Aceh”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan berapa besar tingkat ketimpangan pembangunan wilayah Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besarnya tingkat ketimpangan pembangunan wilayah Kabupaten Aceh Barat dibandingkan dengan tingkat ketimpangan pembangunan wilayah Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Adapun penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada : 1. Penulis
Menambah wawasan penulis sebagai bahan perbandingan antara teori yang telah dipelajari dengan praktek yang diterapkan.
2. Lingkungan Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam menambah bahan bacaan bagi yang ingin mendalami tentang ketimpangan pembangunan regional yang terjadi di suatu daerah.
1.4.2 Manfaat Praktis
Pemerintah daerah atau pihak – pihak terkait diharapkan dapat dugunakan sebagai bahan masukan untuk perkembangan pembangunan ekonomi wilayah sehingga dapat mengurangi tingkat ketimpangan yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat.
1.5 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagian kesatu pendahuluan merupakan bagian pendahuluan yang beri latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.
Bagian kedua tinjauan pustaka diberi landasan teori dan juga mengungkapkan kerangka pemikiran teoritis dan hipotesis.
Bagian ketiga metode penelitian berisikan dekripsi tentang bagaimana penelitian akan dilaksanakan secara operasional yang menggunakan variabel penelitian, definisi operasional, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis.
Bagian keempat hasil dan pembahasan berisikan statistik deskriptif variabel penelitian yang akan dilakukan, hasil pengujian hipotesis dan pembahsan hasil.
Bagian kelima penutup berisiskan tentang kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran-saran.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkat. Dimana kenaikan pendapatan perkapita merupakan suatu pencerminan dari timbulnya perbaikan dalam kesejahteraan ekonomi masyarakat, akan tetapi di ikuti oleh pemberantasan kemiskinan, penanggulangan ketimpangan pendapatan (Amalia 2007, h. 1).
Boediono (1985, h. 1) dalam Tarigan (2005, h. 46), mengungkapkan pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Jadi, persentase pertambahan output itu harus lebih tinggi dari persentase pertambahan penduduk dan ada kecenderungan dalam jangka panjang bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut. Sedangkan menurut Sukirno (2006, h. 9), pertumbuhan ekonomi sebagai suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses atau suatu tahap yang harus dijalani oleh setiap masyarakat atau negara dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita dan memperhatikan pertumbuhan penduduk. Melalui pembangunan ekonomi dimungkinkan adanya perubahan struktur perekonomian dari struktur ekonomi dan menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
2.1.2 Pembangunan Ekonomi Daerah
Proses pembangunan daerah secara keseluruhan menjadi kurang efisien dan ketimpangan wilayah semakin besar. Keadaan tersebut terjadi karena sistem
pembangunan yang terpusat cenderung mengambil kebijakan yang seragam dan mengabaikan perbedaan potensi daerah yang sangat besar (Sjafrizal 2008, h. 231).
Pola pembangunan daerah dan sistem perencanaan selama ini cenderung seragam, mulai berubah dan cenderung bervariasi tergantung pada potensi dan permasalahan pokok yang dialami oleh daerah yang bersangkutan. Kebijaksanaan pembangunan yang selama ini hanya merupakan pendukung dari kebijaksanaan nasional yang mulai sekarang mengalami perubahaan sesuai dengan keinginan dan aspirasi yang berkembang di daerah (Sjafrizal 2008, h. 229).
2.1.3 Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi 2.1.3.1 Model Pertumbuhan Neo-Klasik
Robert Solow dan Trevor Swan secara sendiri-sendiri mengembangkan model pertumbuhan ekonomi yang sekarang sering disebut dengan nama Model Pertumbuhan Neo-Klasik. Model Solow-Swan memusatkan perhatiannya pada bagaimana pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi dan output saling berinteraksi dalam proses pertumbuhan ekonomi. Dalam model neo-klasik Solow-Swan menggunakan model fungsi produksi yang memungkinkan adanya substitusi antar kapital (K) dan tenaga kerja (L), (Tarigan 2005, h. 52).
Menurut Sjafrizal (2008, h. 95), model Neo-Klasik dipelopori oleh George H.Bort (1960) dengan mendasarkan analisanya pada Teori Ekonomi Neo-Klasik. Menurut model ini, pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah tersebut untuk meningkatkan kegiatan produksinya. Sedangkan kegiatan produksi suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh potensi
daerah yang bersangkutan, tetapi juga ditentukan pula oleh mobilitas tenaga kerja dan mobilitas modal antar daerah.
Karena kunci utama pertumbuhan ekonomi daerah adalah peningkatan kegiatan produksi, maka mengikuti Richardson (1978) dalam Sjafrizal (2008, h. 95), model Neo-Klasik ini dapat diformulasikan mulai dari fungsi produksi. Dengan menganggap bahwa fungsi produksi adalah dalam bentuk Cobb-Douglas, maka dapat ditulis (Sjafrizal 2008, h. 95-96) :
Y = A Kα Lβ , a + β = 1 ... (1)
dimana Y melambangkan PDRB, K dan L melambangkan modal dan tenaga kerja. Karena analisa munyangkut pertumbuhan maka semua variabel adalah fungsi waktu (t). Dengan mengambil turunan matematika persamaan (2.1) terhadap variabel t diperoleh :
y = a + αk + (1- α) I ………(2)
dimana y = dY/dt menunjukan peningkatan PDRB (pertumbuhan ekonomi), a = dA/dt menunjukan perubahan teknologi produksi (secara netral), k = dK/dt menunjukan penambahan modal (investasi) dan l = dL/dt penambahan jumlah dan peningkatan kualitas tenaga kerja.
Selanjutanya, bila aspek daerah dimasukan ke dalam analisa ini, maka peningkatan modal di suatu daerah tidak hanya berasal dari tabungan di daerah itu saja, tetapi berasal juga dari modal yang masuk dari luar daerah. Kenyataan ini dapat diformulasikan sebagai berikut :
dimana si adalah Marginal Propensity to Save (MPS) di daerah i, vi adalah
Incremental Capital Output Ratio (ICOR) daerah i. Sedangkan kji adalah jumlah modal yang masuk dari daerah lain ke daerah i.
Sama halnya dengan modal, peningkatan jumlah tenaga kerja daerah i tidak saja disebabkan kerana pertambahan penduduk daerah yang bersangkutan saja, tetapi juga karena arus perpindahan penduduk masuk (imigration) ke daerah yang bersangkutan. Kenyataan ini dapat diformulasikan sebagai berikut :
Ii = ni + ∑ ji ………(4)
dimana ni merupakan pertambahan penduduk daerah yang bersangkutan, mji adalah penduduk yang masuk (inmigration) ke daerah i yang datang dari derah lainnya j (Sjafrizal 2008, h. 96).
Perpindahan modal (kji) dari daerah j ke daerah i terutama oleh tingkat pengembalian modal, r, yang tinggi di daerah i dibandingkan dengan daerah j. Demikian juga dengan perpindahan penduduk yang terjadi karena ada perbedaan tingkat upah, w (Sjafrizal 2008, h. 96). Berdasarkan hal ini maka dapat ditulis :
Kji = fk ( ri – rj ) ……….(5)
Mji = fi ( wi – wj ) ………..(6)
Penganut Model Neo-Klasik (dalam Sjafrizal 2008, h. 97) beranggapan bahwa mobilitas faktor produksi, baik modal maupun tenaga kerja, pada permulaan proses pembangunan adalah kurang lancar. Akibatnya, pada saat itu modal dan tenaga kerja ahli cenderung terkonsentrasi di daerah yang lebih maju sehingga ketimpangan pembangunan regional cenderung melebar (divergence). Akan tetapi bila proses pembangunan terus berlanjut, dengan semakin baiknya
prasarana dan fasilitas komunikasi maka mobilitas modal dan tenaga kerja tersebut akan semakin lancar. Dengan demikian, nantinya setelah negara yang bersangkutan telah maju maka ketimpangan pembangunan regional akan berkurang (convergence).
2.1.3.2 Teori Myrdal Mengenai Dampak Balik
Myrdal dalam M.L Jhingan (2007, h. 211), berpendapat bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab menyebab sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan semakin banyak, dan mereka yang tertinggal di belakang menjadi semakin terhambat. Dampak balik (backwash effect) cenderung membesar dan dampak sebar (spread effect) semakin mengecil. Semakin kumulatif kecenderungan ini semakin memperburuk ketimpangan internasional dan menyebabkan ketimpangan regional di negara-negara terbelakang.
Myrdal dalam Jhingan (2007, h. 212) mendefinisikan dampak balik (backwash effect) sebagai semua perubahan yang bersifat merugikan dari ekspansi suatu ekonomi di suatu tempat karena sebab-sebab di luar tempat itu. Dalam istilah ini Myrdal memasukkan dampak migrasi, perpindahan modal, dan perdagangan serta keseluruhan dampak yang timbul dari proses sebab-musabab sirkuler antara faktorfaktor baik non ekonomi maupun ekonomi. Dampak sebar (spread effect) menujuk pada momentum pembangunan yang menyebar secara sentrifugal dari pusat pengembangan ekonomi ke wilayah-wilayah lainnya. Sebab utama ketimpangan regional menurut Myrdal adalah kuatnya dampak balik dan lemahnya dampak sebar di negara terbelakang.
Ketimpangan regional berkaitan erat dengan sistem kapitalis yang dikendalikan oleh motif laba. Motif laba inilah yang mendorong berkembangnya pembangunan berpusat di wilayah-wilayah yang memiliki harapan laba tinggi, sementara wilayah-wilayah lain tetap terlantar. Penyebab gejala ini, menurut Prof. Myrdal ialah peranan bebas kekuatan pasar, yang cenderung memperlebar dibandingkan mempersempit ketimpangan regional (Jhingan 2007, h. 212).
Myrdal juga mengemukakan bahwa perpindahan modal juga cenderung meningkatkan ketimpangan wilayah. Di wilayah maju, permintaan yang meningkat akan merangsang investasi yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dan menyebabkan putaran kedua investasi dan seterusnya. Lingkup investasi yang lebih baik pada sentra-sentra pengembangan dapat menciptakan kelangkaan modal di wilayah terbelakang (Jhingan 2007, h. 213).
2.1.3.3 Hipotesis Kuznets
Simon Kuznets (1995) dalam Todaro (2003, h. 99) mengatakan, “pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan), dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.
Profesor Kuznets mengemukakan enam karakteristik atau ciri proses pertumbuhan ekonomi yang bisa ditemui di hampir semua negara yang sekarang maju sebagai berikut (Todaro 2003, h. 99-100) :
1. Tingkat pertumbuhan output per kapitadan pertumbuhan penduduk yang tinggi.
2. Tingkat kenaikan produktivitas faktor total yang tinggi. 3. Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi. 4. Tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi.
5. Adanya kecenderungan Negara – Negara yang mulai atau sudah maju perekonomiannya untuk berusaha merambah bagian-bagian dunia lainnya sebagai daerah pemasaran dan sumber bahan baku yang baru.
6. Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sepertiga bagian penduduk dunia.
Dua faktor pertama lazin disebut sebagai variabel – variabel ekonomi agregat. Sedangkan nomor tiga dan empat biasa disebut variabel – variabel transformasi struktural. Adapun dua faktor yang terakhir disebut sebagai variabel-variabel yang mempengaruhi penyebaran pertumbuhan ekonomi secara internasional (Todaro 2003, h. 99-100).
2.1.4 Ketimpangan Pembangunan Wilayah
Secara teoritis, permasalahan ketimpangan pembangunan antar wilayah mula-mula dimunculkan oleh Douglas C North dalam analisanya tentang Teori Pertumbuhan Neo-Klasik. Dalam teori tersebut dimunculkan sebuah prediksi tentang hubungan antara tingkat pembangunan ekonomi nasional suatu negara dengan ketimpangan pembangunan antar wilayah. Hipotesa ini kemudian lazim dikenal sebagai Hipotesa Neo-Klasik (Sjafrizal 2008, h. 105).
Menurut Hipotesa Neo-klasik, pada permulaan proses pembangunan suatu negara, ketimpangan pembangunan antar wilayah cenderung meningkat. Proses ini akan terjadi sampai ketimpangan tersebut mencapai titik puncak. Setelah itu, bila proses pembangunan terus berlanjut, maka secara berangsur-angsur ketimpangan pembangunan antar wilayah tersebut akan menurun (Sjafrizal 2008, h. 105).
Myrdal dalam Jhingan (2007, h. 212), ketimpangan wilayah berkaitan erat dengan sistem kapitalis yang dikendalikan oleh motif laba. Motif laba inilah yang mendorong berkembangnya pembangunan terpusat di wilayah-wilayah yang memiliki harapan laba tinggi, sementara wilayah-wilayah yang lainnya tetap terlantar.
Adapun faktor – faktor utama yang menyebabkan atau memicu terjadinya ketimpangan pembangunan wilayah antara lain perbedaan kandungan sumber daya alam, perbedaan kondisi demografis, kurang lancarnya mobolitas barang dan jasa, kosentrasi kegiatan ekonomi wilayah dan alokasi dana pembangunan antar wilayah (Sjafrizal 2008, h. 117-120). Dalam mengukur tingkat ketimpangan pembanggunan antar wilayah menggunakan indeks Williamson. Walaupun indeks ini mempunyai beberapa kelemahan, yaitu antara lain sensitif terhadap definisi wilayah yang digunakan dalam perhitungannya. Untuk mengetahui tingkat ketimpangan antar wilayah menggunakan indeks ketimpangan regional (regional inequality) yang dinamakan indeks ketimpangan Williamson (Sjafrizal 2008, h. 108):
Vw =
∑ )²( / )
0<Vw<1 ... (7) Dimana :
Yi = PDRB per kapita daerah i
y = PDRB per kapita rata – rata seluruh daerah fi = jumlah penduduk daerah i
n = jumlah penduduk seluruh daerah
subskrip w digunakan karena formulasi yang digunakan adalah secara terimbang sehingga indeks tersebut dapat dibandingkan dengan negara atau daerah lainnya. Sedangkan pengertian indeks ini adalah sebagai berikut : bila Vw mendekati 1 berarti sangat timpang dan bila Vw mendekati nol berarti sangat merata.
2.1.4.1 Faktor -Faktor Yang Mempengaruhi Ketimpangan Pembangunan Wilayah
a. Perbedaan Kandungan Sumber Daya Alam
Penyebab pertama yang mendorong timbulnya ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah adanya perdedaan yang sangat besar dalam kandungan sumber daya alam pada masing-masing daerah. Perbedaan sumber daya alam ini jelas akan mempengaruhi kegiatan produksi pada daerah bersangkutan. Daerah dengan kandungan sumber daya alam cukup tinggi akan dapat memproduksi barang-barang tertentu dengan biaya relatif murah dibandingkan dengan daerah lain yang mempunyai kandungan sumber daya alam lebih rendah, kondisi ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan menjadi lebih cepat. Sedangkan daerah lain yang mempunyai kandungan sumber daya alam lebih kecil hanya akan dapat memproduksi barang-barang dengan biaya produksi lebih tinggi
sehingga daya saingnya menjadi lemah. Dengan demikian terlihat dengan perbedaan sumber daya alam ini dapat mendorong terjadinya ketimpangan pembangunan antar wilayah yang lebih tinggi pada suatu negara.
b. Perbedaan Kondisi Demografis
Kondisi demogrfis ini akan dapat mempengaruhi ketimpangan pembangunan antar wilayah karena hal ini akan berpengaruh terhadap produktifitas kerja masyarakat pada daerah bersangkutan. Daerah dengan kondisi demografis lebih baik akan cenderung mempunyai produktifitas kerja yang lebih tinggi sehingga hal ini akan mendorong peningkatan investasi yang selanjutnya akan meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan. Sebaliknya, bila pada suatu daerah tertentu kondisi demografisnya kurang baik maka hal ini akan menyebabkan relatif rendahnya produktifitas kerja masyarakat setempat yang menimbulkan kondisi yang kurang menarik bagi penanaman modal sehingga pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan akan menjadi lebih rendah.
c. Kurang Lancarnya Mobilitas Barang dan Jasa
Kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa dapat pula mendorong terjadinya peningkatan ketimpangan pembangunan antar wilayah. Mobilitas barang dan jasa ini meliputi kegiatan perdagangan antar daerah dan migrasi baik yang disponsori pemerintah (transmigrasi) atau migrasi spontan. Demikian pula halnya dengan migrasi yang kurang lancar menyababkan kelebihan tenaga kerja suatau daerah tidak dapat dimanfaatkan oleh daerah lain yang sangat membutuhkannya. Karena itu tidaklah mengherankan bilamana ketimpangan pembangunan antar wilayah akan cenderung tinggi pada negara sedang
berkembang dimana mobilitas barang dan jasa kurang lancar dan masih terdapatnya beberapa daerah yang terisolir.
d. Kosentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah
Terjadinya kosentrasi kegiatan ekonomi yang cukup tinggi pada wilayah tertentu jelas akan mempengaruhi ketimpangan pembangunan antar wilayah. Pertumbuhan ekonomi daerah akan cenderung lebih cepat pada daerah dimana terdapat kosentrasi kegiatan ekonomi yang cukup besar. Kondisi Tersebut selanjutkan akan mendorong proses pembangunan daerah melalui peningkatan penyediaan lapangan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat.
Kosentrasi kegiatan ekonomi tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena terdapatnya sumber daya alam yang lebih banyak pada daerah tertentu. Disamping itu terdapatnya lahan yang subur juga terut mempengaruhi, khususnya menyangkut dengan pertumbuhan kegiatan pertanian. Kedua, meratanya fasilitas transportasi, baik darat, laut dan udara, juga ikut mempengaruhi kosentrasi kegiatan ekonomi antar daerah. Ketiga, kondisi demografis (kependudukan) juga ikut mempengaruhi karena kegiatan ekonomi akan cenderung terkosentrasi dimana sumber daya manusia tersedia dengan kualitas yang lebih baik.
e. Alokasi Dana Pembangunan Antar Wilayah
Tidak dapat disangkal bahwa investasi merupakan salah satu yang sangat menentukan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Karena itu, daerah yang dapat alokasi investasi yang lebih besar dari pemerintah, atau dapat menarik lebih banyak investasi swasta akan cenderung mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih cepat. Kondisi ini tentunya akan dapat pula
mendorong proses pembangunan daerah melalui penyediaan lapangan kerja yang lebih banyak dan tingkat pendapatan perkapita yang lebih tinggi (Sjafrizal 2007, h. 117-120).
2.1.4.2 Penanggulangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah a. Penyebaran Pembangunan Prasarana Perhubungan
Upaya untuk mendorong kelancaran mobilitas barang dan faktor produksi antar daerah dapat dilakukan melalui penyebaran pembangunan prasarana dan sarana perhubungan kesuluruh pelosok wilayah. Prasarana perhubungan yang dimaksudkan disini adalah fasilitas jalan, terminal dan pelabuhan laut guna mendorong proses perdagangan antar daerah. Sejalan dengan hal tersebut jaringan dan fasilitas telekonumikasi juga sangat penting untuk dikembangkan agar tidak daerah yang terisolir dan tidak dapat berkomunikasi dengan daerah lainnya. Bila hal ini dapat dilakukan, makan ketimpangan pembangunan antar wilayah akan dapat dikurangi karena usaha perdagangan dan mobilitas faktor produksi, khususnya investasi akan dapat lebih diperlancar.
b. Mendorong Transmigrasi dan Migrasi Spontan
Untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah, kebijakan dan upaya lain yang dapat dilakukan adalah mendorong pelaksanaan transmigrasi dan migrasi spontan. Melalui transmigrasi dan migrasi spontan ini, kekurangan tenaga kerja yang dialami oleh daerah terbelakang dan dapat pula diatasi sehingga proses pembangunan daerah bersangkutan akan dapat pula diatasi sehingga proses pembangunan daerah bersangkutan akan dapat pula digerakan.
c. Pengembangan Pusat Pertumbuhan
Kebijakan ini diperkirakan akan dapat mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah karena pusat pertumbuhan tersebut menganut konsep konsentrasi dan desentralisasi sekaligus. Aspek konsentrasi diperlukan agar penyebaran kegiatan pembangunan tersebut dapat dilakukan dengan masih terus mempertahankan tingkat efisiensi usaha yang sangat diperlukan untuk pengembangan usaha tersebut. Sedangkan aspek desentralisasi diperlukan agar penyebaran kegiatan pembangunan antar daerah dapat dilakukan sehingga ketimpangan antar daerah akan dapat dikurangi.
d. Pelaksanaan Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi pembangunan juga dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat ketimpangan pembangunan antar wilayah. Hal ini jelas karena, dengan dilaksanakannya otonomi daerah dan desentralisasi pembangunan, maka aktifitas pembangunan daerah, termasuk daerah terbelakang akan dapat digerakan karena ada wewenang yang berada dibawah pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Dengan adanya kewenangan tersebut, maka berbagai inisiatif dan asfirasi masyarakat untuk menggali potensi daerah akan dapat lebih digerakan. Bila hal ini dapat dilakukan, maka proses pembangunan daerah secara keseluruhan akan dapat lebih ditingkatkan dan secara bersamaan ketimpangan pembangunan antar wilayah akan dapat pula dikurangi (Sjafrizal 2007, h. 121-124).
2.1.5 Hubungan antara PDRB per kapita dan Ketimpangan Pembangunan Wilayah
Mengikuti Hipotesa Neo-Klasik variabel yang dapat digunakan sebagai variabel independen adalah pendapatan perkapita (PDRB perkapita) yang menunjukan tingkat pembangunan suatu Negara (Sjafrizal 2008, h. 110).
Pertumbuhan (Growth) dan pemerataan (Equality) merupakan dua unsur penting dalam proses pembangunan, baik pada tingkat nasional maupun daerah. Akan tetapi kenyataannya menunjukan pula bahwa antara kedua aspek ini seringkali terdapat “trade-of” antara satu dengan yang lainnya, yaitu bilamana pertumbuhan lebih diutamakan maka hal ini cenderung akan mengurangi aspek pemerataan dan sebaliknya bilamana pemerataan yang diutamakan akan cenderung pula memperlambat proses pertumbuhan (Sjafrizal 2008, h. 149).
2.1.6 Hubungan antara Investasi dan Ketimpangan Pembangunan Wilayah Investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pengeluaran penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuaan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian (Sadono Sukirno 2006, h. 121). Investasi berhubungan berhubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Yang mana alokasi investasi antar wilayah jelas akan mempengaruhi ketimpangan pembangunan antar wilayah. Menurut Myrdal dalam Jhingan, (2007, h. 213), perpindahan modal cenderung meningkatkan ketimpangan regional. Di wilayah maju, permintaan yang meningkat akan merangsang investasi yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan.
Sebaliknya di daerah-daerah yang kurang berkembang, permintaan akan investasi rendah karena pendapatan masyarakat yang rendah.Selain itu Investasi khususnya investasi swasta lebih banyak ditentukan oleh kekuatan pasar. Dalam hal ini, kekuatan yang berperan banyak dalam menarik investasi swasta ke suatu daerah adalah keuntungan lokasi yang dimiliki oleh suatu daerah (Sjafrizal 2008, h. 121). Perbedaan inilah yang akan menyebabkan ketimpangan antar wilayah menjadi semakin lebar.
2.2 Kerangka Pemikiran Teoritis
Masalah ketimpangan merupakan permasalahan yang banyak dihadapi di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Ketimpangan wilayah juga merupakan masalah yang belum dapat dihapuskan di Indonesia. Di Indonesia sebagai negara NSB dengan tingkat ketimpangan yang tinggi, salah satunya terdapat di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan yang memiliki tingkat ketimpangan pembangunan yang cukup tinggi. Tidak meratanya pembangunan di kabupaten Aceh Barat yang pembangunannya terpusat di kota saja.
Pembangunan ekonomi suatu wilayah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat wilayah yang bersangkutan. Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan pertumbuhan ekonomi ditunjukan dengan meningkatkan PDRB khususnya PDRB per kapita pada suatu wilayah. Harapan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan dapat meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat. Ketika pendapatan per kapita meningkat dan merata maka
diharapkan tercipta masyarakat yang sejahtera dan mengurangi ketimpangan. Akan tetapi yang masih menjadi masalah dalam pembangunan ekonomi ini adalah apakah pendapatan per kapita pada suatu wilayah sudah merata diseluruh lapisan masyarakat.
Investasi merupakan salah satu yang menentukan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Semakin berkembang suatu daerah akan menarik investasi khususnya investasi swasta untuk masuk. Seperti yang dikatakan oleh Myrdal dalam Jhingan (2007, h. 212) ketimpangan regional erat kaitannya dengan sistem kapitalis yang mementingkan motif laba. Dimana wilayah yang memiliki harapan laba tinggi akan lebih berkembang pesat karena mendorong banyaknya investasi yang masuk. Hal ini secara tidak langsung merugikan wilayah-wilayah terbelakang. Perbedaan yang terjadi ini akan semakin memperlebar ketimpangan antar wilayah.
III. MOTEDE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup penelitian ini meliputi PDRB (ADHK) 2000, PDRB per kapita dan jumlah penduduk di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan dalam kurun waktu 2005-2011.
3.2 Jenis dan sumber data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder atas perbandingan selam 7 tahun terhitung dari tahun 2005-2011. Sumber data dalam penelitian ini antara lain:
- Badan Pusat Stastistik Kabupaten Aceh Barat berbagai tahun terbitan - Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh berbagai tahun terbitan
- Badan Investasi dan Promosi Aceh tahun 2011
- Literatur-literatur serta informasi-informasi tertulis baik yang berasal dari instansi terkait maupun internet, yang berhubungan dengan topik penelitian untuk memperoleh data sekunder.
3.3 Metode Pengumpulan data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi pustaka dan dokumentasi. Studi pustaka dilakukan dengan mempelajari literatur-literatur yang berisikan informasi berhubungan dengan permasalahan yang tengah diteliti dan buku yang berhubungan dengan tema penelitian. Teknik dokumentasi dilakukan dengan menelusuri dan mendokumentasikan data-data dan informasi yang berkaitan dengan objek studi.
3.4 Model Analisis Data
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif. Statistik deskriptif digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian, yakni perhitungan tingkat ketimpangan wilayah menggunakan indeks Wiliamson, dengan rumus sebagai berikut :
Vw =
∑ ( ) ( / )
0<Vw<1) ... (8) Dimana :
Yi = PDRB per kapita daerah i
y = PDRB per kapita rata-rata seluruh daerah fi = jumlah penduduk daerah i
n = jumlah penduduk seluruh daerah
3.5 Definisi Operasional Variabel a. PDRB Per kapita
Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita (PDRB Per Kapita) merupakan besaran kasar yang menunjukan tingkat kesejahteraan penduduk disuatu wilayah pada suatu waktu tertentu dalam kurun waktu 2005-2011 di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan.
b. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk merupakan jumlah seluruh penduduk yang menetap di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan dalam kurun waktu 2005-2011.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Bagian ini peneliti akan menjelaskan tentang tingkat ketimpangan di Kabupaten Aceh Barat yang dibandingkan dengan tingkat ketimpangan di Kabupaten Aceh Selatan dalam kurun waktu 2005-2011.
4.1.1 PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Barat
Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita (PDRB Per Kapita) adalah besaran kasar yang menunjukan tingkat kesejahteraan penduduk disuatu wilayah pada suatu waktu tertentu. PDRB per kapita didapat dengan membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun di wilayah tersebut.
Tabel 4
Laju PDRB (ADHK) 2000, Jumlah Penduduk dan PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Barat Tahun 2005-2011
No Tahun PDRB (ADHK) 2000 (Juta Rupiah) Jumlah Penduduk (Jiwa) PDRB Per Kapita (Rupiah) 1 2005 878.891,70 150.450 5.841.752,71 2 2006 954.906,27 151.549 6.299.103,30 3 2007 1.012.992,76 152.557 6.608.169,64 4 2008 1.140.817,36 174.415 6.940.967,13 5 2009 1.197.904,53 169.111 7.083.539,99 6 2010 1.258.936,75 173.558 7.253.694,74 7 2011 1.324.894,54 177.532 7.462.849,18
Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh Barat (Mei 2013)
Bentuk tabel 4 menunjukan bahwa PDRB per kapita (ADHK) 2000 Kabupaten Aceh Barat relatif mengalami kenaikan. Pada tahun 2002 PDRB per kapita Kabupaten Aceh Barat sebesar Rp. 5.285.771,21, dan terus meningkat mencapai Rp. 7.462.849,18 pada tahun 2011. Peningkatan PDRB per kapita Kabupaten Aceh Barat diikuti dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, pada tahun 2002 sebesar 150.450 jiwa menjadi 177.532 jiwa pada tahun 2011.
4.1.2 PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Selatan
Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita (PDRB Per Kapita) adalah besaran kasar yang menunjukan tingkat kesejahteraan penduduk disuatu wilayah pada suatu waktu tertentu. PDRB per kapita didapat dengan membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun di wilayah tersebut.
Tabel 5
Laju PDRB (ADHK) 2000, Jumlah Penduduk dan PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2005-2011
No Tahun PDRB (ADHK) 2000 (Juta Rupiah) Jumlah Penduduk (Jiwa) PDRB Per Kapita (Rupiah) 1 2005 1.092.287,92 191.539 5.702.691,96 2 2006 1.129.691,38 204.449 5.525.541,25 3 2007 1.160.532,85 205.970 5.634.475,17 4 2008 1.202.675,33 210.215 5.721.167,98 5 2009 1.248.506,34 211.564 5.901.317,52 6 2010 1.301.826,13 203.218 6.406.057,19 7 2011 1.358.940,38 207.025 6.564.136,60
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh (Mei 2013)
Bentuk tabel 5 menunjukan jumlah penduduk dan PDRB per kapita Kabupaten Aceh Selatan selama periode penelitian tahun 2005 sampai dengan tahun 2011. Jumlah penduduk Kabupaten Aceh Selatan dan PDRB per kapita Kabupaten Nagan Raya relatif meningkat. Pada tahun 2005 PDRB per kapita Kabupaten Aceh Selatan sebesar Rp. 5.702.691,96 menjadi Rp. 6.564.136,60 pada tahun 2011. Begitu juga dengan PDRB (ADHK) Kabupaten Aceh Selatan yang juga mengalami selama 7 tahun terakhir pada tahun 2005 sebesar Rp. 1.092.287,92 menjadi Rp. 1.358.940,38 pada tahun 2011. Akan tetapi jumlah penduduk Kabupaten Aceh Selatan sempat mengalami penurunan pada tahun 2010 menjadi 203.218 jiwa dari tahun 2009 sebesar 211.564 jiwa, namun kembali meningkat pada tahun 2011 menjadi 207.025 jiwa.
4.2 Analisis Ketimpangan Pembangunan Wilayah
Ketimpangan wilayah (regional disparity) timbul dikarenakan tidak adanya pemerataan dalam pembangunan ekonomi. Hal ini terlihat dengan adanya wilayah yang maju dengan wilayah yang terbelakang atau kurang maju. Ketidakmerataan pembangunan ini disebabkan karena adanya perbedaan antar wilayah satu dengan lainnya. Perbedaan kandungan sumber daya alam dan perbedaan kondisi demografi yang terdapat pada masing-masing wilayah (Sjafrizal 2008, h. 104). Berkembangnya kabupaten-kabupaten baru dan desentralisasi diduga akan sangat mendorong kesenjangan antar daerah yang lebih lebar.
Ketimpangan memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari adanya ketimpangan adalah dapat mendorong wilayah lain yang kurang maju untuk dapat bersaing dan meningkatkan pertumbuhannya guna meningkatkan kesejahteraannya. Sedangkan dampak negatif dari ketimpangan yang ekstrim antara lain inefisiensi ekonomi, melemahnya stabilitas dan solidaritas, serta ketimpangan yang tinggi pada umumnya di pandang tidak adil (Todaro 2006, h. 249).
Menurut Hipotesa Neo-klasik, pada permulaan proses pembangunan suatu negara, ketimpangan pembangunan antar wilayah cenderung meningkat. Proses ini akan terjadi sampai ketimpangan tersebut mencapai titik puncak. Setelah itu, bila proses pembangunan terus berlanjut, maka secara berangsur-angsur ketimpangan pembangunan antar wilayah tersebut akan menurun (Sjafrizal 2008, h. 105). Tingkat ketimpangan pembangunan Kabupaten Aceh Barat dan
Kabupaten Aceh Selatan diukur dengan PDRB per kapita menggunakan Indeks Williamson.
Tabel 6
Jumlah PDRB Per Kapita dan Tingkat Ketimpangan Pembangunan Wilayah Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2005-2011
No Tahun PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Barat (Rupiah) PDRB Per Kapita Kabupaten Aceh Selatan (Rupiah) Ketimpangan Pembangunan Kabupaten Aceh Barat (%) Kabupaten Aceh Selatan (%) 1 2005 5.841.752,71 5.702.691,96 14,29 2,98 2 2006 6.299.103,30 5.525.541,25 2,89 2,95 3 2007 6.608.169,64 5.634.475,17 3,20 3,14 4 2008 6.940.967,13 5.721.167,98 3,84 3,45 5 2009 7.083.539,99 5.901.317,52 4,15 3,81 6 2010 7.253.694,74 6.406.057,19 4,33 4,03 7 2011 7.462.849,18 6.564.136,60 4,22 4,02
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh (Data diolah September 2013)
Berdasarkan hasil perhitungan indeks Williamson, tabel 6 menunjukan tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Barat relatif tinggi dan meningkat hampir setiap tahunnya. Akan tetapi pada tahun 2006 ketimpangan di Kabupaten Aceh Barat kembali menurun dari 14,29% di tahun 2005 menjadi 2,89% pada tahun 2006. Ketimpangan yang sangat tinggi pada tahun 2005 di kabupaten Aceh Barat tidak lepas dari di mulainya pembangunan di Aceh Barat setelah pada akhir tahun 2004 mengalami Gempa Bumi dan Tsunami yang terjadi di Aceh. Ketimpangan Pembangunan kembali meningkat sebesar 3,20% tahun 2007 dan terus mengalami peningkatan sampai tahun 2011. Begitu juga dengan tingkat ketimpangan di Kabupaten Aceh Selatan relatif tinggi dan terus meningkat tiap tahunnya selama periode penelitian dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2011. Pada tahun 2005 tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan sebesar 2,98% dan terus meningkat mencapai 4,02% pada tahun 2011.
Tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Barat dan di Kabupaten Aceh Selatan yang tinggi dan terus meningkat tiap tahunnya menunjukan pembangunan ekonomi di Kabupaten Aceh Barat dan di Kabupaten Aceh Selatan kurang merata. Ini disebabkan kurangnya pemerataan dalam pembangunan ekonomi karena terdapat perbedaan sumber daya alam dan potensi daerah di setiap wilayah. Seperti yang dikemukakan oleh Sjafrizal (2008, h. 104), Ketimpangan wilayah (regional disparity) timbul dikarenakan tidak adanya pemerataan dalam pembangunan ekonomi. Hal ini terlihat dengan adanya wilayah yang maju dengan wilayah yang terbelakang atau kurang maju. Ketidakmerataan pembangunan ini disebabkan karena adanya perbedaan antar wilayah satu dengan lainnya. Perbedaan kandungan sumber daya alam dan perbedaan kondisi demografi yang terdapat pada masing-masing wilayah.
Myrdal dalam Jhingan (2007, h. 212), mengemukakan bahwa Ketimpangan regional berkaitan erat dengan sistem kapitalis yang dikendalikan oleh motif laba. Motif laba inilah yang mendorong berkembangnya pembangunan berpusat di wilayah-wilayah yang memiliki harapan laba tinggi, sementara wilayah-wilayah lain tetap terlantar. Ketidakmerataan pembangunan yang mengakibatkan ketimpangan ini disebabkan karena adanya dampak balik (backwash effect) yang lebih tinggi dibandingkan dengan dampak sebar (spread effect).
4.3 Pembahasan Hasil
Berdasarkan data yang diperoleh dan dilakukan perhitungan dengan menggunakan indeks Williamson untuk mengetahui berapa besar tingkat
ketimpangan yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan selama periode penelitian dari tahun 2005 sampai tahun 2011. Dari hasil perhitungan yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat ketimpangan pembangunan wilayah di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan. Ini ditunjukan dari kriteria perhitungan indeks Williamson, dimana semakin mendekati 0, maka suatu daerah dikatakan tidak timpang, sedangkan jika semakin mendekati 1, maka suatu daerah dikatakan timpang.
Tabel 7
Tingkat Ketimpangan Pembangunan Wilayah Di Kabupaten Aceh Barat Tahun 2005-2011 No Tahun PDRB Per Kapita (ADHK) 2000 (Rupiah) Tingkat Ketimpangan Pembangunan (%) 1 2005 5.841.752,71 14,29 2 2006 6.299.103,30 2,89 3 2007 6.608.169,64 3,20 4 2008 6.940.967,13 3,84 5 2009 7.083.539,99 4,15 6 2010 7.253.694,74 4,33 7 2011 7.462.849,18 4,22
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Barat ( Data diolah September 2013)
Berdasarkan tabel 7, tingkat ketimpangan pembangunan Kabupaten Aceh Barat relatif tinggi dan terus mengalami peningkatan tiap tahunya yang dikuti dengan PDRB per kapita d Kabupaten Aceh Barat yang terus meningkat. Pada tahun 2005 tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Barat sangat tinggi mencapi 14,29%, itu akibat dari dimulainya proses pembangunan dan rehab kontruksi yang disebabkan Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Kemudian kembali mengalami penurunan pada tahun 2006 mencapai 2,89%, itu menunjukan proses pembangunan yang terus berlanjut di Kabupaten Aceh Barat. Namum tingkat ketimpangan kembali meningkat pada tahun 2007
sampai 2011. Meskipun pada pada tahun 2007 sampai tahun 2011 PDRB per kapita Kabupaten Aceh Barat mengalami peningkatan, akan tetapi tidak menurunkan tingkat ketimpangan pembangunan. Ini menunjukan tidak meratanya tingkat pendapatan yang diterima setiap penduduk, sehingga menyebabkan tingginya tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Barat.
Tabel 8
Tingkat Ketimpangan Pembangunan Wilayah Di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2005-2011 No Tahun PDRB Per Kapita (ADHK) 2000 (Rupiah) Tingkat Ketimpangan Pembangunan (%) 1 2005 5.702.691,96 2,98 2 2006 5.525.541,25 2,95 3 2007 5.634.475,17 3,14 4 2008 5.721.167,98 3,45 5 2009 5.901.317,52 3,81 6 2010 6.406.057,19 4,03 7 2011 6.564.136,60 4,02
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh Barat (Data diolah September 2013)
Sedangkan pada tabel 8 menunjukan tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan yang relatif tinggi dan terus mengalami peningkatan dengan diikuti peningkatan PDRB per kapita dalam tiap tahunnya. Tingginya tingkat ketimpangan pembangunan disebabkan tidak meratanya pendapatan yang diterima setiap penduduk Kabupaten Aceh Selatan. Selain itu, pada tahun 2005 merupakan titik awal meningkatnya ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan yang mana terjadi proses awal pembangunan akibat imbas dari Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh yang berpusat di Kabupaten Aceh Barat.
Hasil ini pun tidak sesuai dengan Hipotesa Noe-Klasik dimana pada permulaan proses pembangunan suatu negara, ketimpangan pembangunan antar wilayah cenderung meningkat. Proses ini akan terjadi sampai ketimpangan tersebut mencapai titik puncak. Setelah itu, bila proses pembangunan terus berlanjut, maka secara berangsur-angsur ketimpangan pembangunan antar wilayah tersebut akan menurun (Sjafrizal 2008, h. 105).
V. PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan analisis yang dilakukan pada Bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Ketimpangan pembangunan wilayah di Kabupaten Aceh Barat diukur dengan menggunakan indeks Wiliamson selama periode penelitian tahun 2005-2011 cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Barat sangat tinggi akibat permulaan proses pembangunan setelah terjadi Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh yang berpusat di Kabupaten Aceh Barat. Namun pada tahun 2006 tingkat ketimpangan kembali mengalami penurunan akibat dari terus berlanjutnya proses pembangunan di Kabupaten Aceh Barat, akan tetapi pada 2007 tingkat ketimpangan kembali naik dari 3,20% dan terus mengalami kenaikan hingga tahun 2011 mencapai sebesar 4,22%. Ini menunjukan tidak meratanya tingkat pendapatan yang diterima setiap penduduk sehingga menyebabkan meningkatnya ketimpangan pambangunan di Kabupaten Aceh Barat.
2. Ketimpangan pembangunan wilayah di Kabupaten Aceh Selatan diukur dengan menggunakan indeks Williamson selama periode penelitian tahun 2005-2011 cenderung tinggi dan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan sebesar 2,98%, akibat terjadinya proses rehab kontruksi yang disebabkan imbas Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh yang berpusat di Kabupaten Aceh Barat. Akan tetapi tingkat ketimpangan pembangunan terus meningkat sampai tahun 2011
menjadi 4,02, karena tidak meratanya tingkat pendapatan yang diterima setiap penduduk di Kabupaten Aceh Selatan yang menyebabkan terus tingginya tingkat ketimpangan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan.
5.2 Saran-Saran
1. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan tingkat ketimpangan yang cenderung meningkat dan tinggi selama periode penelitian di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan. Melihat keadaan tersebut hendaknya dilakukan upaya untuk mengurangi tingkat ketimpangan pembangunan wilayah, berupa tidak meratanya pendapatan per kapita, sehingga dibutuhkan usaha-usaha untuk pemerataan Pendapatan per kapita, pemerataan lapangan kerja di daerah yang tingkat penganggurannya relatif tinggi.
2. Selain itu untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk dapat dilakukan dengan optimalisasi program Keluarga Berencana (KB). Serta mempriotasikan penduduk Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan dengan penggunaan tenaga kerja oleh investor yang menanamkan sahamnya di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Lia. Edisi Pertama. 2007. Ekonomi Pembangunan. Graha Ilmu : Yogyakarta
Hasan, Ikbal. 2002. Pokok – Pokok Materi Statistik 2, Statistik Inforensif. Edisi 2. PT Bumi Aksara: Jakarta
Jhingan, M.L. 2007. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. PT Raja Grafindo: Jakarta
Nachrowi dan Usman. 2006. Pendekatan Populer bab Praktis Ekonometrika. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta
P. Todaro, Michael & Stephen C. Smith. Edisi Kedelapan. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ke tiga. Erlangga : Ciracas Jakarta
.2006. Pembangunan Ekonomi. Edisi Kesembilan. Erlangga: Ciracas Jakarta
Sadono, Sukirno. 2006. Makro Ekonomi: Teori Pengantar. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta
Sarwoko. 2005. Dasar – Dasar Ekonometrika. Yogyakarta
Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi. Badouse Media: Padang – Sumatra Barat
Suryadi dan Purwanto. 2004. Statistik Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Salemba Empat. Jakarta
Taringan, Robinson. Edisi Revisi. 2005. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi. PT Bumi Aksara: Jakarta