• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/puu-x/2012 dan Alternatif Model Hubungan Kelembagaan Terkait Pembentukan Undang-undang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/puu-x/2012 dan Alternatif Model Hubungan Kelembagaan Terkait Pembentukan Undang-undang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

Gambar

Tabel 1. Realisasi Prolegnas 2009 – 2014

Referensi

Dokumen terkait

Kewenangan DPD untuk membahas RUU telah diatur dengan tegas dalam Pasal 22D ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan, “Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan

BAB III PENGUJIAN UNDANG-UNDANG TENTANG MPR, DPR, DPD, DAN DPRD NOMOR 27 TAHUN 2009 DI LEMBAGA MAHKAMAH KONSTITUSI , yang terdiri dari : Subjectum litis dan Objectum litis

Sedangkan lembaga perwakilan yang lainnya yaitu DPD tidak memiliki kedudukan dan kekuasaan yang sebanding dengan DPR dimana sama-sama merupakan lembaga perwakilan rakyat

Melalui Putusan MK Nomor 92/PUU-X/2012 menegaskan pengembalian kewenangan legislasi yang dimiliki oleh DPD dalam 5 (lima) hal, yaitu (1) dalam mengajukan Rancangan Undang-Undang

Pasal 22D menyebutkan: (1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,

Setelah putusan MK dijatuhkan Pasal 22D ayat (2) UUD 1945 menjadi bermakna “Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undang-undang dimulai sejak pembahasan pada Tingkat I

Sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU­X/2012, proses penyusunan undang-undang menjadi kekuasaan Presiden dan DPR. Di tahapan ini, baik Presiden maupun DPR

Terhadap dalil DPD tersebut, menurut MK, keikutsertaan dan keterlibatan DPD dalam penyusunan Prolegnas seharusnya merupakan konsekuensi dari norma Pasal 22D ayat (1) UUD 1945