• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Putusan MK No. 92/PUU -X/2012

N/A
N/A
Christie Butarbutar

Academic year: 2023

Membagikan "Implikasi Putusan MK No. 92/PUU -X/2012 "

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Implikasi Putusan MK No. 92/PUU -X/2012 terhadap upaya penginkatan fungsi legislasi DPD

Disusun oleh:

Kelompok 7

1. Suci Nur Maulida 210514311

2. Jaclyn 210514079

3. Maria Vianney Indri Ratna Ernawati 210514277

4. Fransiskus welly 210514111

5. Aldila dwiana 210514066

6. Yohana prisilla jeman 210514210

7. Christie Evy 210514194

FAKULTAS HUKUM

(2)

UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Kata pengantar

Kata Pengantar Singkat Makalah:

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 92/PUU-X/2012 dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Indonesia. Mahkamah Konstitusi (MK) Indonesia telah memainkan peran penting dalam membentuk dinamika politik dan hukum negara ini. Salah satu putusan MK yang memiliki implikasi besar adalah Putusan No.

92/PUU-X/2012, yang berkaitan dengan peran Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam proses legislasi. Putusan ini telah mengubah tatanan politik dan perundang-undangan Indonesia dengan menguatkan peran DPD dalam pembuatan undang-undang.

Makalah ini akan membahas latar belakang, konteks, serta implikasi dari Putusan MK No. 92/PUU-X/2012 terhadap upaya peningkatan fungsi legislasi DPD. Kami akan menjelaskan perubahan signifikan dalam kewenangan DPD dalam pembuatan undang-undang, dampaknya terhadap dinamika hubungan antara DPD dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), serta tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan putusan ini.

Penting untuk memahami bahwa putusan MK ini bukan hanya tentang perubahan hukum, tetapi juga tentang perubahan dalam peran dan responsibilitas politik DPD dalam mewakili kepentingan daerah di tingkat nasional. Semoga makalah ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran DPD dalam sistem politik Indonesia dan bagaimana putusan MK ini telah berdampak signifikan dalam meningkatkan perannya dalam proses legislasi.

(3)

Daftar Isi

Judul...……… i Daftar Isi...……… ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...…….. 3 1.2 Rumusan Masalah...……. 4 BAB II PEMBAHASAN

2. Bagaimana Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 92/PUU-X/2012

memengaruhi dan memiliki implikasi terhadap upaya peningkatan fungsi legislasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Indonesia?

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan...………. 11 3.2 Saran...……… 12 DAFTAR PUSTAKA...……… 13

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara demokratis yang menganut sistem pemerintahan republik dengan tiga lembaga utama, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Presiden. DPR dan DPD adalah dua lembaga legislatif yang memiliki peran penting dalam proses pembuatan undang-undang di negara ini. Namun, sejak reformasi politik tahun 1998, peran dan kewenangan DPD dalam legislasi seringkali menjadi subjek perdebatan.

DPD didirikan sebagai salah satu produk reformasi politik dan desentralisasi pemerintahan, dengan tujuan utama mewakili kepentingan daerah-daerah di tingkat nasional.

Namun, selama beberapa tahun setelah berdirinya DPD, perannya dalam pembuatan undang- undang sering kali ambigu dan terbatas. DPR seringkali mendominasi proses legislasi, dan DPD dianggap kurang memiliki peran yang efektif dalam mengadvokasi kepentingan daerah.

Permasalahan ini mencapai puncaknya ketika pada tahun 2012, Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan Putusan No. 92/PUU-X/2012 yang menjadi titik balik dalam perdebatan mengenai peran DPD dalam proses legislasi di Indonesia. Putusan MK ini terkait dengan kewenangan DPD dalam pembuatan undang-undang, khususnya RUU yang berpotensi memengaruhi otonomi daerah dan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

Putusan MK No. 92/PUU-X/2012 menegaskan bahwa DPD memiliki peran yang lebih aktif dalam pembuatan undang-undang, terutama terkait dengan RUU yang berdampak

(5)

signifikan pada daerah-daerah. Putusan ini memperkuat kewenangan DPD dan memberikan legitimasi hukum yang kuat terhadap peran mereka dalam proses legislasi. Ini adalah sebuah tonggak penting dalam sejarah DPD yang memperkuat posisinya sebagai wakil kepentingan daerah di tingkat nasional.Implikasi dari putusan ini sangat penting dalam konteks upaya peningkatan fungsi legislasi DPD di Indonesia. Putusan MK ini memicu perubahan dalam cara DPR dan DPD berinteraksi dalam proses pembuatan undang-undang. Ini juga mendorong pembahasan lebih lanjut tentang mekanisme penyelesaian perselisihan antara kedua lembaga jika terjadi perbedaan pendapat dalam pembahasan RUU.

Makalah ini akan membahas lebih lanjut implikasi Putusan MK No. 92/PUU-X/2012 terhadap peningkatan fungsi legislasi DPD, termasuk perubahan dalam praktik legislasi, dinamika hubungan antara DPD dan DPR, serta tantangan yang masih dihadapi dalam mengimplementasikan putusan ini untuk meningkatkan peran DPD dalam proses pembuatan undang-undang di Indonesia.

1.2 Rumusan masalah

Bagaimana Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 92/PUU-X/2012 memengaruhi dan memiliki implikasi terhadap upaya peningkatan fungsi legislasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Indonesia?

BAB II PEMBAHASAN Putusan ………

BAB III

(6)

PENUTUP 3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

BAB III PENGUJIAN UNDANG-UNDANG TENTANG MPR, DPR, DPD, DAN DPRD NOMOR 27 TAHUN 2009 DI LEMBAGA MAHKAMAH KONSTITUSI , yang terdiri dari : Subjectum litis dan Objectum litis

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU-X/2012 Tentang Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Dalam Mengajukan Rancangan Undang-Undang. Peraturan Mahkamah

Kebudayaan, wajib melaksanakan putusan tersebut, termasuk dengan mencabut atau merevisi peraturan teknis yang memayungi operasional RSBI, (2) Putusan MK No 5/PUU-X/2012

Masyarakat hukum adat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari NKRI, termasuk dalam hal melakukan pengelolaan hutan yang mana hutan itu sendiri merupakan tempat tinggal,

berdasarkan Putusan Perkara No. 93/PUU-X/2012, Sengketa Perbankan Syariah adalah domain dari Pengadilan Agama. Meskipun Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut sudah

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : (1) Implikasi Putusan MK Nomor 93/PUU-X-2012 terhadap penyelesaian sengketa nonlitigasi perbankan syariah

Namun lahirnya beberapa peraturan perundang-undangan ternyata menimbulkan polemik dalam penyelesaian sengketa perbankan syari’ah yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 yang memberi

3 Dalam ketentuan Bab VII A Pasal 22D UUD NRI 1945 menerangkan bahwa DPD berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang RUU khususnya seperti: 1 otonomi daerah; 2 hubungan pusat dan