• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

Tursiops aduncus yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari

perairan laut Indonesia yang dipelihara di kawasan konservasi lumba-lumba Pantai Cahaya Kendal Jawa Tengah. Ketika melakukan pengambilan sampel swab

blowhole pada 11 ekor T. aduncus, lumba-lumba tersebut dalam kondisi sehat

tanpa menunjukkan adanya gejala klinis sakit. Sebanyak 22 sampel swab

blowhole yang telah diperiksa (sampel B dan B1), didapatkan 67 isolat bakteri.

Isolat bakteri yang berhasil diidentifikasi sebanyak 46 isolat dan sisanya sebanyak 21 isolat tidak dapat teridentifikasi. Isolat yang tidak teridentifikasi ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adanya pertumbuhan bakteri pencemar yang merusak biakan isolat, pertumbuhan cendawan pengganggu, dan keterbatasan media untuk uji lanjutan.

Berdasarkan isolat yang berhasil diidentifikasi, terdapat 15 jenis bakteri pada saluran pernafasan atas T. aduncus, yang terdiri dari 12 jenis bakteri Gram negatif dan 3 jenis bakteri Gram positif. Bakteri Gram negatif yang berhasil diidentifikasi yaitu, Actinobacillus sp., Pseudomonas sp., Moraxella sp.,

Citrobacter sp., Salmonella sp., Serratia sp., Klebsiella sp., Proteus sp, Pasteurella sp., Edwardsiella tarda, Alcaligenes faecalis, dan Yersinia sp. Bakteri

Gram positif yang berhasil diidentifikasi yaitu, Bacillus sp., Staphylococcus

aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Hasil identifikasi bakteri pada saluran

pernafasan atas T. aduncus dapat dilihat pada Tabel 8.

Bakteri yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini adalah

Actinobacillus sp. (54,5%) dan ditemukan pada 6 ekor lumba-lumba. Selanjutnya Pseudomonas sp. (45,5%) ditemukan pada 5 ekor lumba-lumba. Moraxella sp.

dan Bacillus sp. ditemukan pada 4 ekor lumba-lumba dengan persentase masing-masing sebesar 36,4%. S. aureus ditemukan pada 3 ekor lumba-lumba dengan persentase sebesar 27,3%. S. epidermidis, Citrobacter sp., Salmonella sp.,

Serratia sp., dan Klebsiella sp. masing-masing memiliki persentase sebesar 18,2%

(2)

Tabel 8 Hasil identifikasi bakteri pada saluran pernafasan atas T. aduncus Nama Lumba-lumba Bakteri Gram Negatif Bakteri Gram Positif

Apri Actinobacillus sp. Pseudomonas sp. Citrobacter sp. Yersinia sp. Serratia sp. Mail Actinobacillus sp. Moraxella sp. Klebsiella sp. Citrobacter sp. Salmonella sp. Ucil Actinobacillus sp. Proteus sp. Edwardsiella tarda

Arapik Pseudomonas sp. Bacillus sp.

Klebsiella sp.

Homlo Alcaligenes faecalis Bacillus sp.

Penti Pasteurella sp Staphylococcus aureus

Ragil Actinobacillus sp. Bacillus sp.

Serratia sp. Staphylococcus epidermidis Salmonella sp. Tomtom Actinobacillus sp. Pseudomonas sp. Moraxella sp. Ozawa Actinobacillus sp. Pseudomonas sp. Moraxella sp.

Jabaru Pseudomonas sp. Bacillus sp.

Staphylococcus aureus Staphylococcus epidermidis

Ginda Moraxella sp. Staphylococcus aureus

Tabel 9 Persentase bakteri pada saluran pernafasan atas T. aduncus Bakteri Gram Negatif Ditemukan pada (ekor) Persentase (%) Bakteri Gram Positif Ditemukan pada (ekor) Persentase (%) Actinobacillus sp. 6 54,5 Bacillus sp. 4 36,4 Pseudomonas sp. 5 45,5 Staphylococcus aureus 3 27,3

Moraxella sp. 4 36,4 Staphylococcus epidermidis 2 18,2

Citrobacter sp. 2 18,2 Salmonella sp. 2 18,2 Serratia sp. 2 18,2 Klebsiella sp. 2 18,2 Proteus sp. 1 9,1 Pasteurella sp. 1 9,1 Edwardsiella tarda 1 9,1 Alcaligenes faecalis 1 9,1 Yersinia sp. 1 9,1

(3)

Proteus sp., E. tarda, A. faecalis, dan Yersinia sp. masing-masing ditemukan pada

1 ekor lumba-lumba dengan persentase sebesar 9,1%. Persentase bakteri pada saluran pernafasan atas T. aduncus disajikan pada Tabel 9. Morfologi dan karakteristik biokimia dari bakteri-bakteri hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 1.

IV.2 Pembahasan

Keberadaan bakteri-bakteri Actinobacillus sp., Pseudomonas sp.,

Moraxella sp., dan Bacillus sp. pada saluran pernafasan atas T. aduncus tersebut

dapat diperkirakan sebagai mikroflora normal karena bakteri tersebut ditemukan pada kisaran 54,5-36,4% individu T. aduncus pada penelitian ini. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Higgins (2000) yang menyatakan bahwa

Actinobacillus sp., Pseudomonas sp., dan Moraxella sp., merupakan jenis bakteri

yang sering ditemukan di kulit, sistem respirasi, sistem digesti, sistem urogenital, dan sistem retikuloendotelial mamalia laut. Morris et al. (2011) juga menyatakan bahwa Bacillus sp. merupakan salah satu bakteri yang umum ditemukan pada

blowhole dan lambung T. truncatus di perairan Laut Estuaria. Keberadaan jenis

bakteri lain seperti Staphylococcus sp., Citrobacter sp., Salmonella sp.,

Klebsiella sp., Proteus sp., Pasteurella sp., dan Edwardsiella sp. juga

diperkirakan masih sebagai mikroflora normal pada T. aduncus selama sistem pertahanan tubuh lumba-lumba dalam kondisi baik. Hal ini didukung oleh pernyataan Higgins (2000) yang menyatakan bahwa Staphylococcus sp.,

Citrobacter sp., Salmonella sp., Klebsiella sp., Proteus sp., Pasteurella sp., dan Edwardsiella sp. juga merupakan jenis-jenis bakteri yang dapat ditemukan di

kulit, sistem respirasi, sistem digesti, sistem urogenital, dan sistem retikuloendotelial mamalia laut. Beberapa jenis bakteri ini dapat berpotensi sebagai patogen dan menyebabkan sakit ataupun kematian saat kondisi pertahanan tubuh lumba-lumba menurun.

Kesamaan jenis bakteri yang terdapat pada masing-masing individu

T. aduncus kemungkinan dipengaruhi oleh kesamaan sumber air kolam tempat

pemeliharaan, sehingga bakteri-bakteri tersebut tersebar di lingkungan perairan kolam. Adapun jenis bakteri yang hanya ditemukan pada 3 atau 1 individu

(4)

T. aduncus (Tabel 8), seperti S. aureus, S. epidermidis, Citrobacter sp., Salmonella sp., Serratia sp., Klebsiella sp., Proteus sp., Pasteurella sp., E. tarda, A. faecalis, dan Yersinia sp. kemungkinan mengindikasikan bahwa

bakteri-bakteri tersebut berpotensi patogen, karena hanya ditemukan pada individu tertentu. Sebagian dari bakteri-bakteri tersebut juga merupakan bakteri yang tersebar luas di lingkungan dan sering ditemukan di perairan laut, sehingga keberadaannya di dalam saluran pernafasan atas T. aduncus masih dikatakan normal. Potensi patogen dari bakteri tersebut juga dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh lumba-lumba. Saat sistem kekebalan tubuh lumba-lumba menurun maka bakteri-bakteri tersebut dapat menjadi patogen dan menyebabkan sakit ataupun kematian (Tellez et al, 2010).

Tursiops aduncus merupakan jenis lumba-lumba yang hidup di perairan

laut landai atau pesisir pantai (coastal). Habitat hidup T. aduncus ini berpengaruh terhadap jenis flora normal dalam tubuhnya. Pada penelitian ini kondisi lumba-lumba yang diambil sampel swab blowhole dalam kondisi sehat. Lumba-lumba-lumba tersebut dikatakan sehat karena tidak menunjukkan adanya gejala klinis sakit, walaupun dari hasil identifikasi swab blowhole ditemukan 15 jenis bakteri yang beberapa di antaranya kemungkinan bersifat patogen. Hal ini mungkin terjadi seperti dalam konsep segitiga epidemiologi yang menyatakan bahwa, munculnya suatu penyakit bukan hanya ditentukan dari keberadaan suatu agen infeksius di dalam tubuh inang, namun merupakan proses dinamik hasil interaksi antara inang, agen, dan lingkungan. Apabila salah satu dari ketiga faktor tersebut terganggu, maka akan berpengaruh terhadap kehidupan T. aduncus. Salah satu contohnya adalah perubahan pada faktor lingkungan yang dapat menyebabkan mudahnya penyebaran agen penyakit serta meningkatnya kerentanan lumba-lumba terhadap infeksi penyakit. Kondisi air kolam pemeliharaan yang buruk, seperti kadar salinitas, pH yang tidak sesuai serta tingkat kekeruhan yang tinggi dapat meningkatkan kerentenan lumba-lumba terhadap infeksi penyakit akibat stres lingkungan. Kondisi lingkungan yang buruk ini juga mendukung untuk penyebaran dan pertumbuhan agen infeksius di dalam kolam pemeliharaan (Spotte 1991).

(5)

Kondisi kesehatan yang baik dari T. aduncus ini mungkin salah satunya dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan yang baik, seperti pemberian nutrisi yang bermutu dan bergizi serta sistem pengelolaan air di kolam yang terkontrol. Kedua faktor tersebut berperan penting dalam mendukung kesehatan lumba-lumba. Pemberian pakan yang bermutu dan bergizi serta tambahan vitamin dan mineral dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh lumba-lumba terhadap resiko infeksi agen infeksius termasuk bakteri penyebab penyakit. Begitu halnya dengan kondisi lingkungan air kolam yang baik juga dapat membantu menurunkan resiko stres lingkungan pada lumba-lumba. Lumba-lumba yang mengalami stres lingkungan dapat berakibat pada penurunan sistem imun tubuhnya. Kondisi air kolam yang baik juga berperan penting dalam mengontrol jumlah populasi alga dan bakteri yang hidup di dalam kolam, termasuk bakteri patogen yang mungkin hidup di air laut. Hal lain yang dapat dijadikan alasan adalah lumba-lumba merupakan satwa liar. Satwa liar memiliki kemampuan daya tahan tubuh yang lebih baik di lingkungan dibandingkan hewan domestik. Satwa liar tidak akan menunjukkan gejala klinis penyakit yang jelas pada periode awal infeksi dan umumnya baru terlihat munculnya gejala klinis saat kondisinya sudah parah atau kronis (Tellez et al, 2010).

Actinobacillus sp.

Actinobacillus adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang ataupun

kokoid yang termasuk ke dalam famili Pasteurellaceae. Bakteri ini bersifat tidak motil, dan tidak berspora, namun mampu untuk memfermentasikan karbohidrat dan tidak menghasilkan gas seperti yang dikemukakan oleh Quinn et al. (2004). Pada media TSIA bakteri ini mampu mengubah warna media slant dan butt menjadi kuning, namun tidak menunjukkan adanya pembentukan H2S yang

berupa endapan warna hitam. Hasil ini menunjukkan bahwa Actinobacillus sp. adalah bakteri yang mampu memfermentasi glukosa, sukrosa, dan atau laktosa serta tidak menghasilkan H2S selama proses fermentasi. Bakteri ini pertama kali

diisolasi dari ordo Cetacea di sekitar pantai Skotlandia pada tahun 1996.

Actinobacillus jarang ditemukan pada mamalia laut lain selain Cetacea

(6)

Salah satu jenis Actinobacillus yang berhasil diisolasi oleh Foster et al. (1996) dari golongan Cetacea adalah A. delphinicola. A. delphinicola merupakan jenis bakteri baru yang berhasil diidentifikasi oleh Foster pada tahun 1996.

A. delphinicola berhasil diisolasi dari beberapa jaringan tubuh lumba-lumba

belang (Stenella coeruleoalba) dan lumba-lumba dermaga (Phocoena phocoena), yaitu dari jaringan paru-paru, serviks, uterus, intestinal, dan limfonodus mandibular. Foster et al. (1998) juga berhasil mengisolasi bakteri A. scotiae dari jaringan limpa, hati, intestinal, dan limfonodus lumba-lumba dermaga (Phocoena

phocoena) dan beberapa jenis singa laut. Kedua jenis bakteri Actinobacillus ini

tidak menunjukkan gejala patologis yang jelas pada biakan murni jaringan, baik secara mikroskopis ataupun makroskopis pada lumba-lumba belang (Stenella

coeruleoalba), lumba-lumba dermaga (Phocoena phocoena), dan beberapa jenis

singa laut.

Gambar 10 Morfologi Actinobacillus sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Pada kuda keberadaan kelompok bakteri Actinobacillus seperti A. equuli pada ginjal dapat menyebabkan terjadinya nefritis dan pada jaringan uterus akan menyebabkan terjadinya abortus ataupun anak kuda yang dilahirkan hanya akan bertahan hidup kurang dari 7 hari (Chia et al. 2011). Pada jaringan lain seperti pada hati dapat menyebabkan hepatitis, pada limfonodus menyebabkan penurunan jumlah limfosit (deplesi limfosit), pada usus menyebabkan enteritis, dan

(7)

omphalitis pada umbilikal (Chia et al. 2011). Pada babi infeksi Actinobacillus dapat menyebabkan artritis, septikemia, dan pneumonia (Quinn et al. 2004).

Actinobacillus merupakan flora normal pada rongga mulut manusia namun dapat

berubah menjadi patogen oportunistik saat terjadi penurunan sistem imun tubuh akibat stres (Hsieh et al. 2011). Actinobacillus yang berasosiasi dengan

Actinomyces dapat menyebabkan infeksi periodontol pada rongga mulut manusia, facial cellutis, endokarditis, dan infeksi sistemik (Hsieh et al. 2011). Gejala

patologis yang ditemukan pada mamalia lain seperti kuda, babi, dan manusia kemungkinan dapat juga ditemukan pada T. aduncus apabila terjadi infeksi secara kronis. Tidak ditemukannya gejala patologis yang jelas pada mamalia laut seperti lumba-lumba belang (Stenella coeruleoalba), lumba-lumba dermaga (Phocoena

phocoena), dan beberapa jenis singa laut yang terinfeksi oleh Actinobacillus

(Foster et al. 1996). Hal serupa mungkin juga ditemukan pada T. aduncus yang disebabkan oleh banyak faktor salah satunya faktor daya tahan tubuh satwa liar yang lebih baik dibandingkan hewan domestik dan manusia serta patogenitas jenis

Actinobacillus yang berbeda untuk masing-masing spesies inang yang terinfeksi.

Pseudomonas sp.

Pseudomonas sp. adalah kelompok bakteri Gram negatif berbentuk kokoid

sampai batang pendek. Berdasarkan dari hasil uji biokimia, Pseudomonas sp. menunjukkan sifat motil, indol negatif, dan mampu memfermentasi sitrat. Bakteri ini juga mampu mengubah warna media TSIA bagian slant menjadi merah dan bagian butt tidak mengalami perubahan warna. Hal ini mengindikasikan bahwa

Pseudomonas sp. tidak memfermentasi karbohidrat di dalam media, tetapi

menggunakan pepton sebagai sumber utama dalam metabolisme aerob yang dilakukan. Sifat lain yang dapat dilihat dari uji TSIA adalah tidak ada pembentukan H2S dan gas selama proses metabolisme. Hasil uji fermentasi

karbohidrat menunjukkan bahwa bakteri ini tidak memfermentasikan sebagian besar karbohidrat. Pseudomonas sp. adalah bakteri yang dapat ditemukan di lingkungan alami baik di air, tanah, tanaman bahkan di dalam air limbah. Beberapa jenis Pseudomonas, seperti P. putida dan P. flourescens dapat ditemukan pada sistem pencernaan mamalia (Willey et al. 2008).

(8)

Pseudomonas adalah kelompok bakteri yang sering ditemukan pada blowhole lumba-lumba. Bakteri ini sering ditemukan pada blowhole lumba-lumba

kemungkinan karena keberadaannya yang tersebar luas di lingkungan. Morris (2011) yang melakukan penelitian terhadap 180 ekor T. truncatus di perairan laut tenggara Amerika Serikat menyebutkan bahwa salah satu bakteri

yang banyak ditemukan adalah Pseudomonas sp. seperti, P. aeruginosa,

P. alcaligenes, P. fluorescens, dan P. stutzeri. Hal serupa juga dilaporkan oleh

Higgins (2000) yang melaporkan adanya P. aeruginosa dan Buck (2006) tentang keberadaan P. stutzeri pada blowhole T. truncatus.

Gambar 11 Morfologi Pseudomonas sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Dunn et al. (2001) pada

T. truncatus kehadiran P. aeruginosa dapat menyebabkan terjadinya

bronkopneumonia, dermatitis, osteomyelitis, dan septikemia. Bahkan juga dapat menyebabkan nekrosis dan ulcer pada kulit, gangguan pernafasan serta depresi (Dunn et al. 2001). Pada beruang laut P. aeruginosa merupakan salah satu jenis flora normal (Dunn et al. 2001). Dunn et al. (2001) juga berhasil mengisolasi

Pseudomonas dari sistem respirasi dan pencernaan paus putih atau beluga. P. aeruginosa juga berhasil diisolasi dari beberapa kasus mastitis pada walrus

(9)

lemah, dan bengkak pada bagian kiri flipper akibat terjadinya mastitis pada kelenjar mamae di kuadran kiri (Calle 1998). Walsh et al. (1999) juga melaporkan adanya kasus enterokolitis pada orphan (Trichechusmanatus latirostris) akibat infeksi dari P. aeruginosa, Salmonella spp., dan Clostridium difficle. Beberapa kelompok Pseudomonas pada mamalia laut ada yang bersifat zoonosis, seperti

P. mallei dan P. pseudomallei yang bersumber dari lumba-lumba dan paus. Salah

satu jenis Pseudomonas yang banyak dikenal adalah P. aeruginosa. Bakteri ini merupakan salah satu jenis mikroflora normal pada saluran pencernaan dan kulit manusia, namun terkadang bakteri ini juga dapat berubah menjadi patogen oportunistik yang menyebabkan bronkopneumonia kronis pada manusia saat kondisi imun tubuh menurun (Tellez 2010). Kondisi serupa juga sering ditemukan pada hewan yang menderita pneumonia dan gangguan saluran urinari (Tellez 2010).

Moraxella sp.

Moraxella sp. merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang kecil,

bersifat tidak motil serta uji indol dan sitrat negatif. Berdasarkan uji TSIA yang dilakukan bakteri ini mampu mengubah warna media slant menjadi merah, tidak memproduksi gas, dan H2S serta tidak terjadi perubahan warna media bagian butt.

Hasil uji TSIA ini menunjukkan bahwa Moraxella sp. adalah bakteri yang tidak memfermentasikan glukosa, laktosa, dan atau sukrosa. Bakteri ini mampu memfermentasikan sebagian karbohidrat, namun tidak menghasilkan gas.

Moraxella sp. hidup sebagai bakteri komensal pada membran mukosa manusia

dan mamalia (Quinn et al. 2004).

Salah satu jenis Moraxella patogen yang sering ditemukan adalah M. bovis dan M. equi yang dapat menyebabkan keratokonjungtivitis (Quinn et al. 2004). Keratokonjungtivitis yang terjadi pada sapi dan kuda akibat infeksi M. bovis dan

M. equi kemungkinan dapat juga terjadi pada mamalia laut termasuk T. aduncus.

Hal ini mungkin terjadi karena bakteri ini hidup alami sebagai bakteri komensal pada membran mukosa termasuk mukosa mata mamalia. Berdasarkan catatan kesehatan di kawasan konservasi lumba-lumba Pantai Cahaya Kendal sering ditemukan adanya kasus konjungtivitis pada T. aduncus. Kasus konjungtivitis ini

(10)

apabila tidak mendapat penanganan medis yang cepat dan efektif maka dapat menyebabkan kebutaan pada T. aduncus. Keberadaan Moraxella sp. pada saluran pernafasan atas (blowhole) T. aduncus pada penelitian ini kemungkinan karena

Moraxella sp. merupakan bakteri komensal pada membran mukosa saluran

pernafasan lumba-lumba. Dugaan ini didukung oleh penelitian Greig et al. (2011) yang pernah melaporkan keberadaan Moraxella sp. di jaringan paru-paru, hati, dan umbilikal anjing laut yang mati saat dilahirkan. Moraxella sp. adalah bakteri yang tersebar di berbagai mukosa jaringan tubuh mamalia. Hal ini dibuktikan dari penelitian Johnson et al. (2006) dan Goldstein et al. (2009) yang menemukan keberadaan bakteri ini pada jaringan urogenital (vagina dan preputium), hati, limpa, plasenta, dan cairan lambung singa laut california (Zolophus californiasus).

Gambar 12 Morfologi Moraxella sp. dengan pewarnanaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Pada manusia bakteri jenis Moraxella selain hidup sebagai bakteri komensal pada membran mukosa jaringan tubuh, bakteri ini juga hidup sebagai flora normal di saluran pernafasan dan urogenital. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gutigoli dan Zaman (2000) salah satu jenis Moraxella, yaitu

M. phenylpyruvica berpotensi menyebabkan endokarditis pada manusia. Moraxella sp. juga dapat menyebabkan infeksi silang pada penyu laut yang

(11)

terinfeksi cacing Trematoda seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Flint

et al. (2009).

Bacillus sp.

Bacillus sp. adalah bakteri Gram positif berbentuk batang. Bakteri ini

memiliki karakteristik yang khas yaitu memiliki endospora, sehingga semua bakteri Gram positif yang berbentuk batang dan berspora digolongkan sebagai

Bacillus sp. Bacillus sp. akan tumbuh subur di nutrient agar (Quinn et al. 2004).

Sebagian besar jenis Bacillus sp. bersifat saprofit dan tersebar luas di udara, air, dan tanah dengan tingkat patogenitas yang rendah atau bahkan tidak berpotensi patogen (Quinn et al. 2004). Salah satu contoh jenis Bacillus yang sering ditemukan di laut dan tidak patogen terhadap hewan laut adalah B. thuringiensis (EPA 1998).

Gambar 13 Morfologi Bacillus sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Morris et al. (2011) dapat diketahui bahwa Bacillus sp. merupakan salah satu bakteri yang umum ditemukan pada blowhole dan lambung T. truncatus di perairan Laut Estuaria. Bakteri ini juga sering ditemukan pada ikan laut dan kepiting serta banyak berada di sekitar perairan laut (Dunn et al. 2001). Geraci et al. (1966) menyatakan bahwa kejadian

(12)

penyakit pada mamalia laut yang disebabkan oleh Bacillus sp. diperkirakan akibat kontak tidak langsung dari konsumsi ikan laut yang terkontaminasi bakteri tersebut. Keberadaan Bacillus sp. dari hasil swab blowhole T. aduncus pada penelitian ini kemungkinan berasal dari air laut yang merupakan habitat alami bakteri ini ataupun dari ikan yang digunakan sebagai pakan lumba-lumba. Kemungkinan juga bahwa Bacillus sp. merupakan flora normal yang ada pada saluran pernafasan atas (blowhole) T. aduncus seperti yang dikemukakan oleh Morris et al. (2011).

Staphylococcus sp.

Staphylococcus sp. adalah bakteri Gram positif berbentuk khas kokus

bergerombol, tidak motil, katalase positif, dan mampu memfermentasi glukosa dalam kondisi mikroaerofilik. Berdasarkan hasil identifikasi bakteri yang dilakukan pada T. aduncus di kawasan konservasi Pantai Cahaya Kendal, didapatkan dua spesies Staphylococcus dari hasil swab blowhole, yaitu S. aureus dan S. epidermidis. Kedua jenis bakteri Staphylococcus ini dapat dibedakan melalui warna koloni yang tumbuh pada media MSA. Koloni S. aureus berwarna kuning pada media MSA karena mampu memfermentasi manitol, sedangkan koloni S. epidermidis berwarna pink serupa dengan warna media karena tidak mampu untuk memfermenatsi manitol. Staphylococcus sp. merupakan jenis bakteri Gram positif yang sering ditemukan di jaringan tubuh lumba-lumba termasuk pada blowhole (Dunn et al. 2001). Higgins (2000) menyebutkan beberapa jenis Staphylococcus yang sering ditemukan pada sistem organ tubuh

T. truncatus, yaitu S. aureus, S. delphini, S. epidermidis, dan S. hyicus.

Bakteri-bakteri ini sering ditemukan di sistem integumen, pernafasan, pencernaan, dan urogenital (Higgins 2000).

Berdasarkan penelitian Higgins (2000), bakteri yang paling sering ditemukan pada sistem organ T. truncatus adalah S. aureus. Bakteri ini tersebar luas di seluruh sistem organ tubuh lumba-lumba, yaitu di sistem integumen, pernafasan, pencernaan, dan urogenital. Menurut Streitfeld dan Chapman (1976) pada T. truncatus yang hidup liar, S. aureus merupakan mikroflora normal di dalam tubuh. Streitfeld dan Chapman (1976) juga menyebutkan bahwa S. aureus

(13)

dapat diisolasi dari jaringan paru-paru lumba-lumba dan anjing laut greenland (Phoca groenlandia) yang menderita bronkopneumonia dan infeksi saluran pernafasan serta dari sistem integumen. S. aureus juga berhasil diisolasi dari sistem pencernaan paus putih atau beluga (Delphinapterus leucas)

(Streitfeld & Chapman 1976). Keberadaan S. aureus pada saluran pernafasan lumba-lumba merupakan hal yang sering ditemui dan sering dikaitkan dengan terjadinya kasus pneumonia (Dunn et al. 2001). Berdasarkan dari hasil identifikasi bakteri yang dilakukan pada penelitian ini ditemukan adanya S. aureus pada

blowhole T. aduncus di kawasan konservasi Pantai Cahaya Kendal, namun

keberadaan bakteri ini pada blowhole lumba-lumba tidak menunjukkan adanya gejala pneumonia. Hal ini mungkin terjadi karena sistem kekebalan tubuh lumba-lumba yang baik, sehingga keberadaan S. aureus pada blowhole diperkirakan sebagai flora normal yang bersifat patogen oportunistik. Bakteri ini tidak bersifat infektif saat kondisi kekebalan tubuh lumba-lumba baik.

Gambar 14 Morfologi S. aureus dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Jenis Staphylococcus lain yang berhasil diisolasi dari blowhole lumba-lumba pada penelitian ini adalah S. epidermidis. S.epidermidis merupakan bakteri yang banyak ditemukan di lingkungan dan bersifat koagulase negatif, sehingga dikenal sebagai bakteri nonpatogen (Quinn et al. 2004). Pada hewan dan manusia, walaupun bakteri ini menunjukkan sifat koagulase negatif namun S. epidermidis

(14)

dapat berperan sebagai patogen oportunistik (Quinn et al. 2004). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Higgins (2000), S. epidermidis berhasil diisolasi dari saluran pernafasan paus putih atau beluga dan saluran pencernaan T. truncatus. Dunn et al. (2001) juga melaporkan bahwa S. epidermidis berhasil diisolasi dari seekor T. truncatus yang menunjukkan gejala klinis kesulitan pernafasan dan batuk yang dalam. Keberadaan S. epidermidis pada saluran pernafasan lumba-lumba diduga akibat infeksi yang berasal dari lingkungan, karena bakteri ini banyak ditemukan di lingkungan baik di tanah, air, dan udara seperti pernyataan dari Quinn et al. (2004). Infeksi S. epidermidis pada saluran pernafasan T. aduncus pada penelitian ini tidak sampai menimbulkan adanya gejala klinis, walaupun keberadaan S. epidermidis dan S. aureus pada saluran pernafasan lumba-lumba sering dikaitkan dengan kejadian penyakit pneumonia.

Gambar 15 Morfologi S. epidermidis dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Citrobacter sp.

Citrobacter sp. adalah bakteri Gram negatif yang berbentuk kokoid.

Bakteri yang termasuk ke dalam famili Enterobactereriaciae ini bersifat motil, uji sitrat dan MR positif, dan negatif pada uji VP. Pada uji TSIA bakteri ini tidak mampu untuk memfermentasi karbohidrat di dalam media TSIA. Hal ini ditunjukkan dengan perubahan warna media slant dan butt menjadi merah.

(15)

Berdasarkan hasil uji TSIA tersebut juga dapat diketahui bahwa bakteri ini menghasilkan gas dan H2S. Uji fermentasi karbohidrat juga menunjukkan bahwa

bakteri ini mampu memfermentasikan sebagian besar karbohidrat dan menghasilkan gas dalam proses fermentasinya.

Gambar 16 Morfologi Citrobacter sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Citrobacter sp. sama seperti kelompok Enterobacteriaceae lain yang

secara alami dapat ditemukan di dalam usus hewan ataupun manusia. Menurut Cabral (2010), salah satu jenis Citrobacter yang dapat ditemukan pada feses manusia dan juga Gibbon (fitz gibbon) di Australia adalah C. freundii. Bakteri ini secara alami selalu dapat ditemukan di dalam feses mamalia. Jumlah bakteri ini tidak sebanyak E. coli, namun penyebarannya di lingkungan cukup tinggi, khususnya di lingkungan perairan (Cabral 2010). Salah satu jenis Citrobacter yang sering ditemukan pada mamalia laut menurut Higgins (2000) adalah

C. freundii. C. freundii berhasil diisolasi dari sistem pernafasan dan pencernaan

paus putih atau beluga. Buck et al. (2006) juga melaporkan telah berhasil mengisolasi Citrobacter sp. dari blowhole dan anus T. truncatus. Dalam penelitian Buck et al. (2006) tersebut Citrobacter sp. bukan merupakan bakteri dominan yang berhasil diisolasi, namun bakteri ini ditemukan di dalam blowhole dan saluran pencernaan lumba-lumba dengan persentase yang kecil. Page (2010) melaporkan telah berhasil mengisolasi C. freundii dari sarang radang granuloma

(16)

lumba-lumba moncong pendek (Delphinus delphis) yang menderita encephalitis. Keberadaan Citrobacter sp. pada otak lumba-lumba moncong pendek ini kemungkinan sama dengan kejadian neonatal brain abscess pada manusia yang merupakan suatu penyakit kongenital akibat infeksi C. freundii. Awalnya

C. freundii menyerang dan bertahan hidup di jaringan epitel otak dan

menyebabkan peradangan pada zona putih (white matter zone) dan akhirnya berpenetrasi ke dalam jaringan otak (Agrawal & Mahapatra 2005).

Keberadaan Citrobacter sp. di dalam jaringan tubuh mamalia laut, khususnya lumba-lumba kemungkinan sebagai mikroflora yang dapat ditemukan di dalam saluran pernafasan dan pencernaan dan dapat berubah menjadi patogen oportunistik saat kondisi pertahanan tubuh lumba-lumba menurun. Patogenitas

Citrobacter sp. pada saluran pernafasan lumba-lumba secara lebih spesifik belum

diketahui.

Salmonella sp.

Salmonella sp. adalah bakteri Gram negatif berbentuk kokoid yang

termasuk dalam kelompok Enterobacteriariaceae. Bakteri ini bersifat motil, uji indol negatif, dan mampu mengubah warna media TSIA bagian slant dan butt menjadi kuning akibat dari pembentukan asam hasil dari fermentasi glukosa, laktosa, dan atau sukrosa yang terkandung di dalam media TSIA. Dari hasil uji TSIA juga dapat diketahui bahwa Salmonella sp. juga menghasilkan gas dan H2S

pada proses fermentasi. Pada media agar MacConkey koloni bakteri ini berwarna pucat serupa warna media yang menunjukkan bahwa bakteri ini biasanya bersifat patogen (Lay 1994).

Infeksi Salmonella sp. atau dikenal dengan salmonellosis adalah masalah utama yang sering dijumpai pada hewan domestik yang biasanya sering berdampak pada kesehatan masyarakat. Salmonella serotipe Typhimurium merupakan salah satu penyakit emerging pada hewan yang banyak terjadi di berbagai negara (Poppe et al. 1998). Salmonella sp. telah berhasil diisolasi dari berbagai spesies Cetacea, yaitu paus pembunuh (Orcinus orca), paus pilot, dan

T. truncatus (Higgins 2000). Foster et al. (1999) telah berhasil mengisolasi Salmonella sp. dari berbagai jaringan tubuh lumba-lumba dermaga

(17)

(Phocoena phocoena) di perairan Scottish. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bakteri yang paling banyak ditemukan di jaringan paru-paru adalah

Salmonella sp. Gilmartin et al. (1979) juga berhasil menemukan Salmonella sp.

pada gajah laut utara dan singa laut california yang diduga menderita pneumonia dan beberapa di antaranya diduga telah mengalami salmonellosis sistemik.

Salmonella sp. dan kelompok Enterobacteriaceae lainnya merupakan bakteri

Gram negatif yang sering ditemukan di berbagai jaringan tubuh Pinnipidae, yaitu mencapai 75% dari total bakteri Gram negatif yang ditemukan (Thornton 1995). Higgins (2000) juga melaporkan adanya infeksi Salmonella sp. pada sistem pencernaan anjing laut abu-abu dan sistem urogenital singa laut california.

Gambar 17 Morfologi Salmonella sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Berdasarkan dari contoh-contoh kasus yang ditemukan, keberadaan

Salmonella sp. pada blowhole T. aduncus pada penelitan ini kemungkinan karena

bakteri ini merupakan salah satu flora normal yang banyak ditemukan pada jaringan tubuh mamalia laut. Keberadaan Salmonella sp. ini bersifat sebagai patogen oportunistik saat kondisi kekebalan tubuh lumba-lumba menurun, sehingga apabila lumba-lumba memiliki kekebalan tubuh yang baik maka tidak akan menunjukkan adanya gejala klinis.

(18)

Serratia sp.

Serratia sp. merupakan bakteri Gram negatif berbentuk kokoid. Bakteri

kelompok Enterobacteriaceae ini bersifat motil, uji sitrat, dan indol negatif serta mampu memfermentasikan sebagian karbohidrat. Pada uji TSIA diketahui bahwa

Serratia sp. merupakan bakteri yang mampu menghasilkan asam dari hasil

fermentasi glukosa, sukrosa, dan atau laktosa yang terkandung di dalam media TSIA. Hal ini ditunjukkan dengan perubahan warna media menjadi kuning pada bagian slant dan butt. Dari hasil uji TSIA juga diketahui bahwa Serratia sp. tidak menghasilkan gas dan H2S.

Gambar 18 Morfologi Serratia sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Secara umum Serratia sp. adalah bakteri yang jarang ditemukan di dalam tubuh mamalia laut. Bakteri ini banyak ditemukan tersebar di lingkungan. Higgins (2000) pernah melaporkan adanya Serratia sp. pada sistem pencernaan paus putih atau beluga. Sangat sedikit informasi lain yang menjelaskan tentang keberadaan

Serratia sp. pada mamalia laut, sehingga keberadaan Serratia sp. di dalam tubuh

lumba-lumba belum diketahui secara pasti patogenitasnya. Keberadaan Serratia sp. di dalam blowhole T. aduncus pada penelitian ini kemungkinan berasal dari air laut yang merupakan habitat alami Serratia sp..

(19)

Klebsiella sp.

Klebsiella sp. merupakan bakteri Gram negatif berbentuk kokoid dan tidak

motil. Hasil uji sitrat dan indol menunjukkan hasil negatif. Klebsiella sp. pada uji TSIA menunjukkan sifat fermentatif dengan menghasilkan asam dari hasil fermentasi glukosa, sukrosa, dan atau laktosa, sehingga terjadi perubahan warna media bagian slant dan butt menjadi kuning. Pada uji TSIA juga diketahui bahwa

Klebsiella sp. menghasilkan gas tetapi tidak menghasilkan H2S dalam proses

fermentasinya. Bakteri ini mampu memfermentasikan sebagian karbohidrat dan menghasilkan gas. Uji Voges-Proskauer (VP) menunjukkan hasil negatif, sedangkan uji Methyl-Red (MR) positif.

Gambar 19 Morfologi Klebsiella sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Klebsiella sp. masih tergolong kelompok Enterobacteriaceae yang secara

alami dapat ditemukan pada saluran pencernaan mamalia. Higgins (2000) menyebutkan bahwa Klebsiella sp. dapat ditemukan pada sistem pernafasan dan pencernaan lumba-lumba, singa laut california, dan paus putih atau beluga. Jenis

Klebsiella yang sering ditemukan adalah K. pneumoniae (Higgins 2000). Morris et al. (2011) juga berhasil mengisolasi K. pneumoniae dari blowhole, anus, dan

lambung T. truncatus di perairan laut tenggara Amerika Serikat. Buck et al.

(20)

K. pneumoniae dari T. truncatus. Keberadaan bakteri Gram negatif nonfermenter

seperti C. freundii, K. pneumoniae, P. multocida, dan Proteus sp. dapat dikaitkan dengan adanya kontaminasi saat pengambilan sampel yang berasal dari air laut dan manusia (Buck et al. 2006). Tellez et al. (2010) menyatakan bahwa

Klebsiella sp. merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan

terjadinya pneumonia dan kematian pada lumba-lumba. Keberadaan bakteri ini di dalam tubuh lumba-lumba cukup mendapat perhatian khusus, karena selain patogenitasnya yang tinggi dikhawatirkan lumba-lumba yang terinfeksi bakteri ini dapat menjadi karier atau agen pembawa yang dapat menyebabkan infeksi pada lumba-lumba lain (Buck et al. 2006).

Proteus sp.

Proteus sp. adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang kecil, bersifat

motil, uji indol positif, dan tidak memfermentasi sitrat. Pada media TSIA bakteri ini mampu mengubah warna slant menjadi merah, butt menjadi kuning, menghasilkan gas namun tidak menghasilkan H2S. Hasil uji TSIA ini

menunjukkan bahwa Proteus sp. mampu untuk memfermentasikan glukosa dan menghasilkan gas dalam proses fermentasinya namun tidak menghasilkan H2S. Proteus sp. juga mampu untuk memfermentasikan sebagian karbohidrat dalam uji

fermenatsi karbohidrat. Proteus sp. adalah salah atau anggota kelompok Enterobacteriaceae. Enterobacteriaceae secara alami banyak ditemukan di dalam air, tanah, tanaman, dan usus hewan ataupun manusia (Quinn et al. 2004).

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Higgins (2000) diketahui bahwa

salah satu jenis bakteri yang sering ditemukan pada T. truncatus adalah

P. mirabilis. Bakteri ini dapat ditemukan pada sistem integumen, pernafasan, dan

pencernaan lumba-lumba. Penelitian serupa yang dilakukan oleh Morris et al. (2011) pada 180 ekor T. truncatus juga ditemukan adanya P. mirabilis pada

blowhole dan anus lumba-lumba. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh Buck et al. (1987) yang berhasil mengisolasi P. mirabilis dari anus T. truncatus. Tellez et al. (2010) meyebutkan bahwa P. mirabilis merupakan salah satu jenis bakteri

yang sering dikaitkan dengan kasus pneumonia pada lumba-lumba. Thronton

(21)

anjing laut, dan beruang laut yang mengalami fistula pada taringnya. Bogomolni

et al. (2008) juga melaporkan bahwa telah berhasil mengisolasi P. mirabilis dari

paus minke (minke whale) yang mengalami abses pada paru-paru. Asper et al. (1980) dalam Buck et al. (2006) juga melaporkan telah berhasil mengisolasi jenis

Proteus lain, yaitu P. vulgaris dari blowhole T. truncatus di perairan laut Florida.

Gambar 20 Morfologi Proteus sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Keberadaan Proteus sp. di dalam tubuh mamalia termasuk juga manusia adalah sebagai patogen oportunistik (Manos & Belas 2006). Berdasarkan dari pernyataan Manos dan Belas (2006) dapat dimungkinkan bahwa Proteus sp. adalah flora normal yang berada di dalam blowhole lumba-lumba seperti penelitian yang dilakukan oleh Higgins (2000) dan Buck et al. (2006). Keberadaan Proteus sp. di dalam blowhole lumba-lumba dapat berubah menjadi patogen saat kondisi pertahanan tubuh lumba-lumba menurun dan kemungkinan dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, walaupun belum diketahui dengan pasti patogenitasnya pada lumba-lumba hidung botol.

Pasteurella sp.

Pasteurella sp. merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang kecil

(22)

adalah uji sitrat dan indol negatif. Pada uji TSIA bakteri ini mampu menghasilkan asam dari hasil fermentasi glukosa, laktosa, dan atau sukrosa yang ditunjukkan dengan perubahan warna media bagian slant dan butt menjadi kuning. Pada uji TSIA juga diketahui bahwa bakteri ini tidak menghasilkan gas dan H2S.

Berdasarkan hasil uji fermentasi karbohidrat, Pasteurella sp. mampu memfermentasikan sebagian besar karbohidrat kecuali glukosa. Secara alami

Pasteurella sp. merupakan bakteri yang dapat ditemukan pada berbagai spesies

hewan dan sebagian besar merupakan bakteri komensal pada membran mukosa saluran pernafasan atas dan saluran percernaan hewan (Quinn et al. 2004).

Gambar 21 Morfologi Pasteurella sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Keberadaan Pasteurella sp. pada mamalia laut sudah sering dilaporkan. Higgins et al. (2000) berhasil mengisolasi P. multocida dari saluran pernafasan dan pencernaan paus putih atau beluga. P. multocida juga pernah diisolasi dari jaringan paru-paru T. truncatus yang menderita pendarahan akibat bronkopneumonia yang menyerupai septikemia akut (Tellez et al. 2010). Dunn

et al. (2001) menyatakan bahwa kasus kematian lumba-lumba yang disebabkan

oleh infeksi P. multocida biasanya tidak disertai dengan gejala klinis yang jelas. Lumba-lumba yang terinfeksi P. multocida akan terlihat anoreksia, lemah, dan terjadi perubahan perilaku seperti penurunan aktivitas berenang beberapa jam

(23)

sebelum kematian (Dunn et al. 2001). Dunn et al. (2001) juga melaporkan bahwa infeksi P. mutocida dapat menyebabkan terjadinya enteritis, pendarahan usus, dan septikemia yang menyebabkan kematian pada lumba-lumba. Keberadaan

P. multocida ini kemungkinan berasal dari burung pantai yang sedang bermigrasi

(Dunn et al. 2001). Bakteri Pasteurella sp. yang ditemukan pada blowhole

T. aduncus dalam penelitian ini kemungkinan merupakan mikroflora normal yang

secara alami hidup sebagai bakteri komensal pada membran mukosa saluran pernafasan atas lumba-lumba seperti yang diungkapkan oleh Quinn et al. (2004). Bakteri ini mungkin dapat berubah menjadi patogen oportunistik saat kondisi pertahanan tubuh lumba-lumba menurun.

Edwardsiella tarda

Edwardsiella tarda merupakan bakteri Gram negatif berbentuk kokoid.

Bakteri ini bersifat motil dan menunjukkan hasil positif pada uji indol dan sitrat. Pada uji TSIA, bakteri ini hanya mampu memfermentasikan glukosa yang ditunjukkan dengan perubahan warna media bagian slant menjadi merah dan bagian butt menjadi kuning. Perubahan warna media bagian butt menjadi kuning akibat pembentukan asam dari hasil fermentasi glukosa. Selain itu, dari hasil uji TSIA juga dapat diketahui bahwa E. tarda menghasilkan gas dan H2S dalam

proses fermentasinya. Berdasarkan uji fermenatsi karbohidrat bakteri ini mampu memfermentasikan sebagian besar karbohidrat.

Edwardsiella tarda merupakan kelompok Enterobacteriaceae yang secara

alami ditemukan pada sistem pencernaan hewan dan manusia (Quinn et al. 2004). Bakteri ini di alam banyak tersebar di lingkungan perairan baik di air laut, air tawar ataupun daerah yang sedikit berlumpur. Menurut Tellez et al. (2010)

Edwardsiella sp. merupakan salah satu jenis bakteri Gram negatif yang dapat

menyebabkan pneumonia dan kematian pada lumba-lumba. Higgins (2000) dalam studinya melaporkan adanya Edwardsiella sp. pada sistem integumen, sistem pernafasan, dan urogenital singa laut california. Higgins (2000) juga melaporkan adanya Edwardsiella sp. pada sistem pernafasan anjing laut, paus putih atau

beluga, lumba-lumba (Delphinus delphis), dan paus pembunuh atau killer whale.

(24)

Buck et al. (2006) juga berhasil mengisolasi E. tarda dari blowhole dan anus

T. truncatus di perairan Teluk Meksiko dan Samudera Atlantik. Berdasarkan dari

studi kasus yang dilakukan oleh Colles et al. (1978) E. tarda berhasil diisolasi dari singa laut california yang mati akibat menderita peritonitis dan intusepsio intestinal serta dari lumba-lumba dermaga (Phocena phocena) yang mati akibat distokia dan peritonitis.

Gambar 22 Morfologi Edwardsiella tarda dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Banyaknya laporan mengenai keberadaan E. tarda pada mamalia laut menunjukkan bahwa bakteri ini kemungkinan merupakan mikroflora normal di dalam tubuh mamalia laut termasuk lumba-lumba (Coles et al. 1978). Keberadaan

E. tarda pada blowhole T. aduncus pada penelitian ini kemungkinan karena E. tarda merupakan mikroflora normal yang terdapat pada blowhole

lumba-lumba. E. tarda juga banyak ditemukan di lingkungan perairan laut sehingga peluang lumba-lumba untuk berkontak dengan bakteri ini sangat besar.

E. tarda selain diperkirakan sebagai mikroflora normal di dalam tubuh

lumba-lumba, bakteri ini juga berpotensi menjadi patogen saat kondisi pertahanan tubuh lumba-lumba menurun yang dapat menyebabkan pneumonia dan kematian seperti yang diungkapkan oleh Tellez et al. (2010).

(25)

Alcaligenes faecalis

Alcaligenes faecalis adalah bakteri Gram negatif berbentuk kokoid dan

termasuk ke dalam kelompok Enterobacteriaceae. Bakteri ini bersifat motil dan menunjukkan hasil negatif pada uji sitrat dan indol. Pada uji TSIA A. faecalis tidak memfermentasikan karbohidrat yang terkandung di dalam media, yaitu glukosa, laktosa, dan atau sukrosa, namun bakteri ini menggunakan pepton sebagai sumber energi dalam metabolisme aerob. Penggunaan pepton ini menyebabkan perubahan warna media bagian slant menjadi merah, sedangkan bagian butt tidak mengalami perubahan warna atau disebut netral. Berdasarkan hasil uji TSIA juga dapat diketahui bahwa A. faecalis adalah bakteri yang tidak memproduksi gas dan H2S. Uji fermentasi karbohidrat juga menunjukkan bahwa

bakteri ini mampu memfermentasikan sebagian karbohidrat tanpa menghasilkan gas.

Gambar 23 Morfologi Alcaligenes faecalis dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Seperti halnya kelompok Enterobacteriaceae lainnya A. faecalis secara alami juga ditemukan di saluran pencernaan hewan dan manusia (Quinn et al. 2004). Bakteri ini juga tersebar luas di tanah dan perairan (Quinn et al. 2004). Keberadaan A. faecalis pada mamalia laut pernah dilaporkan oleh MacNeill et al. (1975) dalam studi kasusnya. MacNeill et al. (1975) melaporkan telah berhasil

(26)

mengisolasi A. faecalis dari blowhole paus kutub utara atau narwhale yang menderita pneumonia akibat infestasi cacing paru (lungworm) dari golongan Nematoda. Keberadaan A. faecalis ini diperkirakan sebagai infeksi sekunder akibat terjadinya Nematidosis (MacNeill et al. 1975). Sweeney dan Gilmartin (1974) juga melaporkan hasil survei yang telah mereka lakukan pada 51 ekor singa laut california. Berdasarkan hasil survei tersebut dilaporkan adanya

A. faecalis pada abses kulit di jaringan subdermal singa laut california. Vedros et al. (1982) juga melaporkan keberadaan Alcaligenes sp. pada jaringan orofaring

dan darah anjing laut berbulu atau fur seal yang diduga menderita pneumonia. Keberadaan A. faecalis pada blowhole T. aduncus pada penelitian ini diduga karena bakteri ini banyak ditemukan di lingkungan hidup lumba-lumba atau air laut, sehingga kemungkinan kontak lumba-lumba dengan bakteri ini cukup besar.

Yersinia sp.

Yersinia sp. adalah bakteri Gram negatif berbentuk kokoid. Bakteri ini

juga termasuk ke dalam kelompok Enterobacteriaceae yang sering ditemukan di dalam saluran pencernaan hewan dan manusia (Quinn et al. 2004). Bakteri ini bersifat motil dan tidak memfermentasikan sitrat dan indol. Berdasar uji TSIA yang dilakukan dapat diketahui bahwa bakteri ini hanya mampu memfermentasikan glukosa yang ditunjukkan dengan perubahan warna media menjadi kuning pada bagian butt dan merah pada bagian slant. Berdasar hasil uji TSIA dapat diketahui juga bahwa Yersinia sp. tidak menghasilkan gas dan H2S

selama proses fermentasi. Yersinia sp. juga mampu memfermentasikan sebagian besar karbohidrat pada uji fermentasi karbohidrat.

Secara umum Yersinia sp. adalah bakteri yang jarang ditemukan di dalam tubuh mamalia laut. Bakteri ini banyak ditemukan tersebar di lingkungan. Sedikit laporan ataupun hasil penelitian yang melaporkan keberadaan Yersinia sp. pada

mamalia laut. Buck et al. (2006) berhasil mengisolasi Y. enterolitica dari

T. truncatus di perairan Teluk Meksiko, namun dengan jumlah isolat yang kecil,

sehingga hanya dianggap sebagai bakteri kontaminan yang berasal dari air laut atau manusia saat pengambilan sampel.

(27)

Gambar 24 Morfologi Yersinia sp. pada pewarnaan Gram, perbesaran objektif 100X.

Sangat sedikit informasi lain yang menjelaskan tentang keberadaan

Yersinia sp. pada mamalia laut, sehingga keberadaan Yersinia sp. di dalam tubuh

lumba-lumba belum diketahui secara pasti patogenitasnya. Keberadaan Yersinia sp. di dalam blowhole T. aduncus pada penelitian ini kemungkinan berasal dari air laut yang merupakan salah satu habitat alami Yersinia sp.

Gambar

Tabel 8 Hasil identifikasi bakteri pada saluran pernafasan atas T. aduncus
Gambar  11  Morfologi  Pseudomonas  sp.  dengan  pewarnaan  Gram,  perbesaran  objektif 100X
Gambar  12  Morfologi  Moraxella  sp.  dengan  pewarnanaan  Gram,  perbesaran  objektif 100X
Gambar  13  Morfologi Bacillus sp. dengan pewarnaan Gram, perbesaran objektif  100X.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hand sanitizer kulit buah Pometia pinnata dengan konsentrasi 0,5% dan 1% tidak cukup kuat untuk menurunkan angka bakteri

Berat kering akar dipengaruhi oleh bakteri Azospirillum karena bakteri tersebut menyebabkan perubahan morfologi perakaran, meningkatkan jumlah akar rambut,

Dari hasil kultur darah positif yang diperoleh di LMK-FKUI pada 2001-2006, mayoritas bakteri yang terdapat dalam darah merupakan bakteri gram negatif, yaitu

Eritromisin merupakan antimikroba yang memiliki aktivitas terhadap bakteri Gram positif dan beberapa bakteri Gram negatif, sedangkan kloramfenikol merupakan antimikroba yang

Berdasarkan hasil penelitian telah diidentifikasi 14 genus bakteri, terdiri dari 12 spesies bakteri Gram negatif dan 7 spesies bakteri Gram positif dari saluran

Hasil ini berbeda dengan isolat bakteri T8 yang meskipun memiliki nilai IP yang tidak berbeda jauh dengan isolat bakteri T9 yaitu 3,27 namun dalam hal melarutkan fosfat pada

Tabel 4.9 Hasil Analisis Kadar Fosfat Massa Adsorben Optimum Sebelum Perlakuanmg/L Setelah Perlakuan Penambahan adsorben Batas Keberterimaan 1 gram 2 gram 3 gram 2,466 mg/L

Senyawa ini memiliki berbagai sifat farmakologis termasuk hepatoprotektan, anti bakteri, antihistamin, dan efek biologis lainnya.21 Pada penelitian ini dilakukan pengukuran kadar