• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMNAS ENTREPRENEURSHIP Juni 2014 Hal:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SEMNAS ENTREPRENEURSHIP Juni 2014 Hal:"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Hal:248-254

PENGARUH PERBEDAAN SALINITAS

TERHADAP JUMLAH SPORA

GRACILARIA sp.

Riche Hariyati

Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro

[email protected]

Abstrak-Gracilaria sp. merupakan salah satu rumput laut yang termasuk kelompok Rhodophyta atau ganggang merah. Algae ini kaya akan kandungan agar (agarophyte) sehingga banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri. Spora dari rumput laut ini dapat dikembangkan untuk budidaya sehingga untuk memenuhi kebutuhan industri tidak hanya mengandalkan dari hasil panen alam saja. Guna menunjang hal tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai faktor ekologi yang berpengaruh terhadap produksi spora Gracilaria sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan salinitas terhadap jumlah spora yang dihasilkan oleh tanaman Gracilaria sp serta salinitas yang paling optimal dalam produksi spora yang dihasilkan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan ACAK Lengkap (RAL) dengan faktor salinitas yang berbeda yaitu : 10 %o (S1), 15 %o (S2); 20%o (S3); 25%o (S4) ; 30 %o (S5), 35 %o (S6); 40%o (S7); dan 45 %o (S8). Masing-masing unit perlakuan dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah spora yang dihasilkan selama 3 hari, serta faktor lingkungan yang mempengaruhi seperti pH dan suhu. Hasil Anova memperlihatkan faktor perlakuan terhadap salinitas memberikan hasil yang nyata (berpengaruh sangat nyata). Gracilaria sp mampu melepaskan spora pada salinitas 10 %o sampai dengan 45 %o. Jumlah spora yang dihasilkan paling maksimal diperoleh pada hari ke3. Salinitas 30 ‰ merupakan salinitas yang optimal dalam produksi spora yang yang dihasilkan tanaman Gracilaria sp.

Kata kunci : Salinitas, Spora, Gracilaria PENDAHULUAN

Latar belakang

Di Indonesia rumput laut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan serta mempunyai nilai ekonomis yang penting, akan tetapi pengelolaannya masih belum sempurna dan masih

mengandalkan pada hasil panen alam (Wild Crops) sehingga keberlangsungan produksinya tidak stabil.

Gracilaria merupakan rumput laut penghasil agar-agar (agarophtye). Agar-agar merupakan ekstrak dari rumput laut (Anonim; 2010), banyak

(2)

| Pros Sem Nas Entrepreneurship. Hal:248-254 249

dimanfaatkan oleh industri makanan, farmasi, kosmetik, cat dan industri lainnya. Disamping itu dapat pula digunakan sebagai media kultur mikroorganisme dalam bidang bioteknologi. Sejalan dengan semakin meningkatnya penggunaan rumput laut dalam berbagai industri,maka akan semakin meningkat pula prmintaan produksi rumput lautsehingga untuk memenuhi permintaan tersebut tidaklah cukup hanya mengandalkan hasil panen alam saja,akan tetapi harus diusahakan sistem produksi yang lebih penting yaitu dengan cara budidaya atau ketersediaan benih yang cukup.

Selama ini penyediaan bibit rumput laut Gracilaria dalam usaha budidaya Indonesia dilakukan dengan cara vegetatif yaitu pemotongan bagian thallus yang kemudian ditanam di dalam lahan budidaya sampai menjadi tanaman siap panen.Budidaya dengan cara demikian memang sangat mudah dan murah sehingga untuk saat ini banyak dijadikan dasar pengembangan budidaya rumput laut.Tetapi penyediaan bibit dengan cara vegetatif ini akan menimbulkan masalah jika budidaya dilakukan dalam skala besar.Untuk itu perlu kiranya dipikirkan alternative lain

upaya penyediaan bibit rumput laut selain dengan pemotongan thallus (stek). Menurut Rao and Reddy (1997) spora Gracilaria baik tetraspora maupun karpospora dapat dikembangkan untuk budidaya dengan memanfaatkan sifat reproduksi generatif melalui perkembangan spora belum banyak dilakukan baik untuk jenis Eucheuma

maupun Gracilaria. Untuk

memanfaatkan spora dalam budidaya rumput laut perlu diperoleh data tentang produksi spora yang dihasilkan tanaman Gracilaria baik di alam maupun di laboratorium. Pada penelitian ini percobaan dilakukan dalam skala laboratorium dan salah satu faktor yang mempengaruhi adalah salinitas.

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan salinitas terhadap jumlah spora yang dihasilkan oleh tanaman Gracilaria sp serta salinitas yang paling optimal dalam produksi spora yang dihasilkan.

BAHAN DAN METODE Tempat penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara.

(3)

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari genus Gracilaria sp yang diambil dari perairan Karimunjawa, Jepara,Jawa Tengah. Alat yang dipergunakan adalah cawan petri (petri disk), rak percobaan, refraktosalinometer, pinset, skapel, gelas ukur, hand counter, mikroskop binokuler, termometer, pH meter dan akuades.

Rancangan Penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan ACAK Lengkap (RAL) dengan faktor salinitas yang berbeda yaitu : 10 %o (S1), 15 %o (S2); 20%o (S3); 25%o (S4) ; 30 %o (S5), 35 %o (S6); 40%o (S7); dan 45 %o (S8). Masing-masing unit perlakuan dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah spora yang dihasilkan selama 3 hari, serta faktor lingkungan yang mempengaruhi seperti pH dan suhu. Pelaksanaan Penelitian

Sampel tanaman uji diambil dari Pulau Karimunjawa. Tanaman ini kemudian dibersihkan dari lumpur dan jenis-jenis algae lain yang menempel. Thalus Gracilaria ini kemudian ditanam

dengan metode rakit yang terapung pada bak–bak percobaan yang berisi air laut.Cawan petri yang akan digunakan sebagai tempat pemeliharaan tanaman uji disiapkan dan diberi label sesuai dengan perlakuan yang akan diberikan. Selanjutnya petri disk secara acak ditempatkan ke dalam kotak-kotak yang tersedia.

Langkah selanjutnya adalah mengisi masing-masing petri disk yang sudah tertata dalam kotak percobaan dengan air laut steril dan diisi dengan media pemeliharaan dengan salinitas yang diiginkan dan digunakan rumus dari Underwood dan Day , ( 1998 ). Penanaan Thallus

Thallus Gracilaria fertil dibersihkan dan dipotong-potong sepanjang 2 cm dengan menggunakan skapel.Potongan-potongan thallus ini dengan pinset kemudian diletakkan pada cawan petri berisi air laut yang telah diatur di dalam kotak – kotak penelitian yang telah diketahui salinitasnya.

Volume air media yang diisikan pada masing-masing petri disk 20 ml, sehingga seluruh bagian thallus

(4)

| Pros Sem Nas Entrepreneurship. Hal:248-254 251

tanaman uji dapat

terendam.Pada masing-masing petri disk ditempatkan satu buah potongan thallus.Kemudian setiap petri disk ditutup agar tidak terjadi peguapan sehingga salinitas pada masing-masing taraf relatif konstan. Selanjutnya tanaman uji dipelihara pada suhu kamar dan setiap 24 jam sekali dihitung jumlah spora yang dihasilkan. Sebagai data tambahan selama penelitian diukur

parameter kualitas air yang meliputi suhu dan pH.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian dengan perlakuan perbedaan salinitas diperoleh hasil yang nyata bahwa perbedaan salinitas ternyata berpengaruh terhadap jumlah produksi spora yang dihasilkan oleh Gracilaria sp. Hasil pengamatan pada hari ke 1 sampai hari ke 4 disajikan pada tabel 4. 1. di bawah ini :

Tabel 4.1. Rerata jumlah spora Gracilaria sp pada salinitas berbeda selama 4 hari

Salinitas

Waktu pengamatan Keterangan :

hari

ke-1 hari ke-2 hari ke-3 hari ke-4

S1 145 240 268 268 S1: Salinitas 10 ‰ S2 229 294 357 357 S1: Salinitas 15 ‰ S3 463 521 661 661 S1: Salinitas 20 ‰ S4 832 1028 1122 1122 S1: Salinitas 25 ‰ S5 971 1244 1458 1458 S1: Salinitas 30 ‰ S6 627 782 816 816 S1: Salinitas 35 ‰ S7 169 249 284 284 S1: Salinitas 40 ‰ S8 122 192 221 221 S1: Salinitas 45 ‰

Dari hasil analisis memperlihatkan faktor perlakuan terhadap salinitas

memberikan hasil yang nyata

(berpengaruh sangat nyata). Gracilaria sp mampu melepaskan spora pada salinitas 10 %o sampai dengan 45 %o. Jumlah spora yang dihasilkan paling maksimal diperoleh pada hari ke 3 dan hari ke 4 sudah tidak ada penambahan jumlah spora (stagnan) sehingga spora yang diperoleh optimal

pada salinitas 30 %o (S5) yang kemudian diikuti berturut-turut pada salinitas 25 %o (S4), salinitas 35 %o (S6), 20 %o (S3), 15 %o (S2), 40 %o (S7), 10 % (S1) dan 45 %o (S8) (seperti terlihat pada tabel diatas). Pada perlakuan dengan menggunakan salinitas 35 ‰, 40 ‰, dan 45 ‰ terlihat bahwa semakin tinggi nilai salinitas yang diberikan dari salinitas normal (30 ‰ )

(5)

maka jumlah spora yang dihasilkan juga semakin menurun.

Gambar 1. Grafik pengaruh perbedaan salinitas terhadap jumlah spora Gracilaria sp. Gracilaria bersifat eurihaline, hidup

dengan range salinias yang lebar, dan mampu tumbuh atau hidup di perairan payau. Salinitas dapat mempengaruhi kesuburan Gracilaria dan alga ini kebanyakan mandul pada salinitas tinggi. Pada beberapa jenis alga merah (seperti Gelidium, Gelidiopsis dan Pterocladia ) yang diamati pada perairan di India, menurut Rao dan Kaliaperumal (1988), menunjukkan bahwa salinitas yang dapat menghasilkan spora adalah salinitas 10 ‰ - 40 ‰ dan optimalnya tercapai pada salinitas 25 ‰ – 30 ‰. Pada Dictyota dichotoma salinitas yang optimal adalah

30 ‰ – 35 ‰, sedangkan Asparagopsis jumlah spora optimal yang dihasilakan pada salinitas 40 ‰.

Hasil analisis menggunakan Anova menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata antar perlakuan. Faktor waktu juga berpengaruh terhadap jumlah spora yang dilepaskan oleh Gracilaria. Pada uji Duncan untuk faktor waktu (hari) terhadap jumlah spora menghasilkan perbedaan nyata antara hari ke-1 sampai hari ke4. Pada hari ke-3 dan ke-4 tidak berbeda karena mempunyai jumlah yang sama yang menandakan bahwa spora yang dihasilkan maksimal pada hari ke-3.

(6)

| Pros Sem Nas Entrepreneurship. Hal:248-254 253

Gambar 2. Grafik jumlah spora yang dihasilkan Gracilaria sp. pada waktu yang berbeda. Salinitas merupakan faktor yang dapat

mempengaruhi fisiologi algae. Perubahan salinitas sangat berpengaruh terhadap kehidupan organisme perairan karena berhubungan dengan proses osmosa. Perubahan salinitas yang berulang-ulang akan mempengaruhi proses reproduksi pada rumput laut. Gracilaria sp. mempunyai jumlah spora tertinggi pada salinitas 30 ‰ karena mempunyai tekanan osmotik yang optimum, sedangkan pada salinitas dibawah atau diatas 30 ‰ mempunyai jumlah spora yang lebih kecil atau sedikit karena potensial air diluar sel rendah sehingga air akan berdifusi keluar sel sehingga didalam sel air akan berkurang atau menyusut. Sebaliknya pengambilan ion sel akan meningkat. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan organela,

membran, enzim , kenaikan turgor dan pengaturan osmotik.

Akibat tekanan osmotik didalam sel lebih besar maka spora akan dilepas melalui suatu membran pada sel epidrmis. Keadaan salinitas yang kurang sesuai akan mengakibatkan proses pematangan spora terhambat sehingga hal ini menyebabkan akan terhambatnya spora yang dihasilkan.

Hasil pengamatan pada parameter kualitas air memperlihatkan bahwa kondisi media masih dalam kisaran layak bagi pertumbuhan Gracilaria sp. Hasil pengukuran suhu media berkisar antara 27 °C – 29 °C sedangkan pH mempunyai kisaran 7,9 – 8,4. Kondisi di alam temperatur untuk daerah tropis berkisar antara 27 °C – 33 °C sedangkan pH berkisar 7,5 – 9.

(7)

KESIMPULAN

Salinitas berpengaruh terhadap jumlah spora yang dihasilkan Gracilaria sp. Salinitas 30 ‰ merupakan salinitas yang optimal dalam produksi spora yang yang dihasilkan tanaman Gracilaria sp. DAFTAR PUSTAKA

Anonim . 2010. Artikel seaweed. www.Seaweed.org. 3 Mei 2010.

---. 2012. :

file://F:\Ganggang(Algae)<<BIOL OGI ONLINE.htm. Diakses 30 Maret 2012

Bold,H.C and Wynne, M . J. 1985. Introduction to the Algae . Prentice Hail of India Private Limited. New Dehli.

Chen Y.W. and Shang, S.Y., 1980. Seasional Variation of the Quality of the Gracilaria Cultived in Taiwan.Proc .National Science Council.ROC.

Garrison, T. 1993.Oceanography An Invitation Marine Science. Wadsworth Publishing Company. Belmont California.

Hayshi, et al. 2010 . Effect of Salinity on the Growth Rate ,carrageenan yield,and cellular structure of

Kappaphycus Alvarezii

(Rhodopytha,Gigartinales)Culture in vitro.J.Appl Phycology. Vol. XI :61-73

Kim, D.H. 1970. Economically Important Seaweeds, in Chile (Gracilaria). J.

Botanica Marina. Vol.

XIII.Universidad de Concepcion. Chile.Hal 140 – 162.

Weed ecology and physiology. Cambridge University Press. Page 259-266.

Oza, R.M.1986. Studies on Indian Gracilaria II The Development of Reproductive Structure of Gracilaria corticata. Botanica Marina India. Hal.107-114.

Rao, M.U. and Kaliaperumal, N., 1988. Effect of Environmental Factors On The Liberation Of Spores From

Some Red Algae Of

Visakhapatnam Coast.

Departement Of Botany, Andhra University. Waltair, India.

Rao, M.U. and Reddy B.S., 1997. Infuence of Dessication, Salinity and Temperature on the Liberation and Germination of Tetraspore of Dictyotadichotoma. Indian J. Marine Science 26 : 312 -314 Syafrie, N.D.M. 1990. Beberapa Catatan

Mengenai Rumput Laut Gracilaria. Oseana 15 (4) : 147 – 155.

Sze,P. 1993. A biology of The Algae. WM . C. Brown Publishers. Dubuque, Iowa. Melbourne, Australia. Oxford, England

Trono, G.C. JR. , and R.A., Corrales. 1983.

The Genus Gracilaria

(Gigartinales, Rhodophyta) in the Phillipines. Kalikasan Philip. J. Biol. 12 (1-2) : 15- 41.

Underwood.A.L dan Day, R.A. 1998. Analisis Kimia Kunatitatif. Erlangga .Jakarta.

Yamamoto, H.,1978. Systematic and Anatomical Study of The Genus Gracilaria in Japan. Faculty of fisheries, Hokkaido University. J apan. Hal 97-152.

Gambar

Gambar 1. Grafik pengaruh perbedaan salinitas terhadap jumlah spora Gracilaria sp.
Gambar 2. Grafik jumlah spora yang dihasilkan Gracilaria sp. pada waktu yang berbeda.

Referensi

Dokumen terkait

Demikian juga halnya terhadap produksi tanaman kedelai berpengaruh nyata terhadap bobot polong per tanaman dan bobot yang terberat diperoleh pada perlakuan G3 (600 g/plot) yaitu

Hasil penelitian ini menunjukkan KTK tanah yang diperoleh pada perlakuan pupuk kandang ayam dan beberapa sumber P (SP-36 &amp; TSP) serta interaksinya tidak

Pengaruh pupuk kandang terhadap parameter pertumbuhan dan produksi Hasil penelitian diperoleh bahwa perlakuan pupuk kandang menunjukkan perbedaan yang nyata pada parameter

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa waktu pemberian dolomit berpengaruh nyata terhadap susut bobot tanaman bawang merah, tetapi tidak berpengaruh nyata pada perlakuan

Hasil penelitian ini menunjukan perlakuan perbedaan jumlah bibit per lubang tanam menunjukkan tidak berpengaruh nyata pada panjang tanaman dan jumlah daun, tetapi pada

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk nitrogen berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap produksi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penggunaan mulsa berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah dan produksi tertinggi diperoleh pada penggunaan mulsa plastik

Produksi per plot g Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan sistem tanam legowo dan tumpang sari palawija berpengaruh nyata terhadap produksi per plot, tetapi interaksi kedua