BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki kebutuhan yang cukup banyak. Mulai dari sandang, pangan dan kebutuhan lainnya. Tidak semua kebutuhan itu dapat dipenuhi oleh pemerintah. Kurangnya ketersediaan pasokan kebutuhan tersebut, membuat pemerintah Indonesia harus melakukan suatu kegiatan ekonomi yakni melakukan impor atau mendatangkan kebutuhan tersebut dari negara lain.

Melihat sejarah ke belakang, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kekuatan dalam hal ekspor, di beberapa bidang. Misalnya, pada pemerintahan (alm) presiden Soeharto, Indonesia merupakan negara yang dapat melakukan ekspor beras ke negara-negara di Asia. Dan hal ini memang terbukti, bahwa dulunya beras-beras dari Indonesia merupakan jaminan mutu. Oleh karena itu ekspor beras selalu dilakukan dalam kegiatan perekonomian Indonesia.

Semuanya itu hanya merupakan masa lalu. Sekarang ini, pemerintah Indonesia sudah melakukan kebijakan impor beras. Hal ini sebenarnya sudah lama terjadi sehingga terdapat pihak-pihak yang pernah mempertanyakan kebijakan tersebut karena, mengingat sebagian masyarakat Indonesia berprofesi sebagai petani dan lahan-lahan di daerah-daerah di Indonesia telah banyak menghasilkan bahan kebutuhan tersebut namun karena kerusakan lahan dan persoalan lainnya,

(2)

membuat pemerintah Indonesia melaksanakan kebijakan impor beras dari negara lain.

Kembali ke persoalan kebutuhan, terdapat juga kebutuhan yang sangat dirasakan penting. Hal ini berkaitan dengan minyak, terutama dengan minyak tanah. Sebagaimana kita tahu, bahwa masyarakat kita masih membutuhkan minyak tanah dalam kehidupan mereka sehari-hari karena masih terdapat masyarakat Indonesia yang berada di garis kemiskinan, sehingga masyarakat tersebut tidak mampu untuk memakai bahan bakar lainnya seperti gas elpiji.

Belakangan ini, terjadi suatu fenomena yang telah melanda hampir di seluruh daerah pulau Jawa dan bahkan di beberapa daerah di Indonesia. Terjadi kelangkaan minyak tanah yang cukup berarti. Terdapatnya pemberitaan di media akan kelangkaan minyak tanah. Penduduk rela mengantri selama beberapa jam di hampir semua pangkalan minyak tanah di daerah mereka masing-masing, demi untuk mendapatkan minyak tanah yang bahkan hanya sedikit mereka terima. Berdesakan merupakan kegiatan “biasa” yang harus dilalui oleh penduduk yang mengantungkan kehidupan mereka pada persediaan minyak tanah tersebut. Kata ‘biasa’ ini mempunyai makna berarti kegiatan berdesakan merupakan suatu kegiatan yang sudah sering terjadi dan semacam menjadi rutinitas tersendiri bagi masyarakat yang memerlukan minyak tanah. Bahkan penduduk di beberapa daerah seperti di Bekasi, Depok dan daerah lainnya, kesulitan untuk mendapatkan persediaan minyak tanah.

Masyarakat atau penduduk dibuat bingung akan kelangkaan minyak tanah tersebut atau bahkan tidak mengetahui mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada

(3)

pemberitaan-pemberitaan yang dihadirkan di beberapa surat kabar mengenai kelangkaan minyak tanah ini, telah diberitahukan penyebab dari fenomena tersebut. Sebagaimana kita ketahui, bahwa telah terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia yang sangat berarti. Bahkan sempat mencapai level psikologis 117 dollar AS per barrel (Kompas, Senin 21 April 2008). Hal inilah yang memicu mengapa terjadi kenaikan minyak tanah di daerah-daerah di Indonesia termasuk di pulau Jawa. Selain itu program pemerintah untuk mengurangi subsidi minyak tanah juga menjadi penyebab kenaikan harga minyak tanah.

Hal lain yang menyebabkan kelangkaan minyak tanah yakni karena minyak tanah dialihkan ke industri-industri. Ini didorong karena ada disparitas harga antara minyak tanah yang disubsidi dan minyak tanah untuk industri. Dalam hal ini juga terjadi penyeludupan tradisional dan penyeludupan fungsi (ke industri).

Terjadinya kelangkaan minyak tanah bukanlah semata-mata karena pengaruh dari negara luar namun, ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa karena adanya penyalahgunaan minyak tanah tersebut bersubsidi. Banyaknya versi jawaban yang diberitakan, membingungkan masyarakat. “Lempar argumentasi” dilakukan oleh beberapa pihak yang tidak ingin dijadikan sasaran akibat persoalan kelangkaan minyak tanah ini.

Persoalan ini merupakan persoalan yang cukup krusial mengingat minyak tanah masih banyak diminati oleh kalangan masyarakat bawah. Bahkan program pemerintah yang melakukan konversi minyak tanah ke gas elpiji, menjadi alasan yang masuk akal dalam penyebab kelangkaan minyak tanah ini. Pemerintah dalam

(4)

setiap pemberitaannya mengatakan selalu berusaha untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah ini. Dalam permasalahan ini, belum jelas siapa yang dapat disalahkan atau bahkan mungkin tidak ada yang perlu dipersalahkan.

Kelangkaan minyak tanah ini juga bisa diperparah oleh adanya penumpukan minyak tanah oleh sebagian pangkalan termasuk di daerah-daerah di pulau Jawa. Meskipun aktivitas pemerintahan Indonesia dominan berada di pulau Jawa, namun peristiwa tersebut malah terjadi lebih parah di beberapa daerah di pulau Jawa.

Melihat persoalan di atas, apakah dalam setiap pemberitaan mengenai kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa, ada aktor-aktor yang dikeluarkan atau dimasukkan? Hal ini dapat dirasa oleh peneliti mengingat adanya pihak-pihak yang merasa pihak mereka tidak perlu untuk bertanggung jawab akan kelangkaan minyak tanah tersebut. Seakan-akan terdapat adanya pembenaran bahwa kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa disebabkan oleh alasan-alasan yang dengan sengaja dibuat, sehingga seakan-akan menjadi suatu yang dilegalkan. Padahal bisa terjadi pengeluaran aktor-aktor yang, minimal sedikit bertanggung jawab akan terjadinya kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa.

Kita mungkin tidak mengetahui apakah yang terjadi sebenarnya. Apakah benar terjadi “pengeluaran” aktor-aktor dalam pemberitaan tersebut? karena dalam setiap pemberitaannya, pastilah ada individu atau kelompok yang menjadi narasumber. Dalam setiap individu, kelompok atau instansi yang menjadi narasumber telah melakukan suatu pencitraan, ketika mereka mengeluarkan pendapat atau fakta mengenai kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa ini.

(5)

Masyarakat akan mempunyai suatu persepsi tentang keterkaitan mereka dalam kelangkaan minyak tanah ini.

Adapun persepsi itu muncul dipengaruhi oleh media massa. Dimana media massa dalam hal ini melakukan pemberitaan mengenai kasus kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa. Media massa dapat bertindak adil atau tidak, dapat dilihat dari berita yang mereka tampilkan di media massa tersebut namun kita sendiri kurang mengetahui apakah berita yang ditampilkan oleh media massa tersebut sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Jurnalisme pada dasarnya lebih berurusan dengan fakta sosiologis. Persoalannya fakta media (berita) seringkali berbeda dengan realitas empirik yang ada di tengah masyarakat. Realitas simbolik yang dihadirkan media, kerap ditunggangi oleh kekuasaan eksternal media dalam pemberitaannya. Belum lagi kepentingan internal jurnalis dan pemilik media. Pada akhirnya, hak publik untuk memperoleh informasi menjadi tidak terjadi dengan seutuhnya.

Dalam hal ini peneliti menentukan penelitian ini berjalan dengan paradigma kritis. Titik penting dalam memahami atau mengkonsumsi media menurut paradigma kritis adalah bagaimana media melakukan politik pemaknaan. Dalam hal ini bahasa dapat mengungkapkan segala makna yang hendak ditampilkan oleh media massa tersebut.

Dari pemberitaan mengenai kasus kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa, peneliti melihat adanya suatu citra yang ditimbulkan dalam setiap pemberitaan yang dilakukan oleh media massa. Dalam beberapa pemberitaan terdapat pernyataan yang berbentuk keluh kesah ataupun opini masyarakat di

(6)

daerah-daerah di pulau Jawa atas kelangkaan minyak tanah ini. Pernyataan mereka dapat menjadi suatu masukan bagi pemerintah untuk melihat bahwa mereka benar-benar kesulitan mendapatkan minyak tanah. Begitu juga dengan pihak Hiswana Migas maupun Pertamina yang melontarkan pernyataan seputar penyebab kelangkaan minyak tanah tersebut sehingga masyarakat dapat melihat suatu pandangan yang dapat merubah image suatu pihak kearah yang lebih baik atau buruk.

Dari permasalahan itulah, peneliti merasa tertarik untuk meneliti bagaimana pemberitaan mengenai kasus kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa ditampilkan karena pemberitaan inilah yang dapat menimbulkan suatu citra tersendiri dan akan mengetahui pihak-pihak yang terkait atau terlibat, lewat pemberitaannya di Surat kabar KOMPAS. Dalam hal ini, peneliti memilih Surat Kabar KOMPAS sebagai bahan penelitian dengan pertimbangan kemapanan secara ekonomis dan jangkauan sirkulasi surat kabar tersebut. Seperti yang telah kita ketahui, Surat Kabar KOMPAS termasuk surat kabar berskala nasional dan sehubungan dengan berita yang hendak diteliti, mengenai kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa, berarti KOMPAS telah memenuhi persyaratan dalam lingkup tersebut.

I.2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan yang menjadi permasalahan sebagai berikut :

“Bagaimana Pemberitaan mengenai kasus kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa, ditampilkan dalam surat kabar KOMPAS?”.

(7)

I.3. PEMBATASAN MASALAH

Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas, maka peneliti merasa perlu untuk membuat pembatasan masalah agar menjadi lebih jelas. Adapun pembatasan masalah yang akan diteliti adalah :

a. Penelitian ini hanya dilakukan pada Harian KOMPAS.

b. Penelitian dilakukan pada pemberitaan yang berhubungan kasus kelangkaan minyak tanah di pulau Jawa.

c. Penelitian ini dilakukan sejak 1 Desember 2007 – 31 Januari 2008.

d. Penelitian ini menggunakan analisis wacana.

I.4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

I.4.1 Tujuan Penelitian

1. Untuk melihat bagaimana wacana mengenai kasus kelangkaan minyak tanah yang terjadi di pulau Jawa, dihadirkan dalam media massa, khususnya surat kabar KOMPAS.

2. Untuk mengetahui isi teks berita tentang kasus kelangkaan minyak tanah yang terjadi di pulau Jawa, pada surat kabar KOMPAS.

3. Untuk menganalisis isi teks berita tentang kasus kelangkaan minyak tanah yang terjadi di pulau Jawa, pada surat kabar KOMPAS.

(8)

I.4.2 Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis dan akademis, peneliti dapat menerapkan ilmu yang didapat selama menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi USU sekaligus menambah khasanah wawasan khususnya mengenai media dan penelitian analisis wacana.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca agar lebih kritis terhadap informasi yang disajikan media.

I.5. KERANGKA TEORI

Setiap penelitian memerlukan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti sebuah masalah. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan diri dari sudut mana masalah penelitian akan disoroti (Nawawi, 1995: 39-40). Menurut Kerlinger, teori adalah himpunan konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2002 :6). Dalam penelitian ini, beberapa teori yang digunakan antara lain adalah:

I.5.1 Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan salah satu bentuk kegiatan komunikasi

yang dilakukan melalui atau dengan menggunakan media massa ( mass media of communication). Komunikasi massa menyiarkan informasi, pendapat-pendapat,

(9)

nilai-nilai kepada komunikan yang beraneka ragam dan dalam jumlah yang banyak dan sekaligus menggunakan media massa.

Adapun yang menjadi ciri-ciri utama dari komunikasi massa adalah:

1. Sumber komunikasi massa bukan hanya satu orang. Biasanya yang menjadi sumber informasi dari komunikasi massa bukan individu perorangan melainkan suatu organisasi yang bersifat formal dan pengirimnya seringkali merupakan komunikator professional.

2. Pesannya tidak unik dan beranekaragam. Pesan yang disampaikan komunikasi massa biasanya bersifat sesuatu yang umum, kompleks, mudah dicerna dan diingat oleh audiencenya. Hubungan yang terjalin anatara pengirim dan penerima juga bersifat satu arah dan jarang sekali terjadi interaksi (bukan hubungan yang sifatnya khusus).

3. Komunikasi massa memiliki cakupan kontak yang sifatnya luas. Kontak terdapat dalam komunikasi massa bukan bersifat khusus, atau bersifat hubungan interpersonal. Hubungan yang terjalin dalam komunikasi massa adalah kontak secara serentak antara satu pengirim dengan banyak penerima. Tujuan dari kontak ini adalah untuk menciptakan pengaruh yang luas dalam waktu yang singkat dan respon seketika dari banyak orang secara serentak (Quail, 1994: 33-34).

I.5.2 Analisis Isi.

Analisis isi (content analysis) adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable), dan sahih data dengan

(10)

memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar dalam komunikasi, bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verbal maupun nonverbal. Sejauh itu makna komunikasi menjadi amat dominan dalam setiap peristiwa komunikasi.

Sebenarnya analisis isi komunikasi amat tua umurnya, setua umur manusia namun penggunaan teknik ini diintroduksikan di bawah analisis isi (content analysis). Dalam metode penelitian tidak setua umur penggunaan istilah tersebut. Tuanya umur penggunaan analisis isi dalam praktik kehidupan manusia, disebabkan sejak adanya manusia di dunia, manusia saling menganalisis makna komunikasi yang dilakukan antara satu dengan lainnya.

Gagasan untuk menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian muncul dari Bernard Berelson. Ia telah menaruh banyak perhatian pada analisis isi. Berelson mendefinisikan analisis isi dengan; Content Analysis is a research technique for the objective, systematic and quantitive of the manifest content of communication (Bungin, 2003:173). Tekanan Berelson pada menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian yang objektif, sistematis, dan deskripsi kuantitatif dari apa yang tampak dalam komunikasi. Salah satu tekanan Berelson dalam analisis isi yaitu deskripsi kuantitatif. Hal ini menunjukkan pada analisis isi adalah teknik yang bersisi ganda. Dapat digunakan pada teknik kuantitatif, maupun kualitatif, tergantung pada sisi mana peneliti memanfaatkannya.

Dalam penelitian kualitatif, analisis isi ditekankan pada bagaimana peneliti memaknakan isi komunikasi secara kualitatif, membaca simbol-simbol,

(11)

memaknakan isi interaksi simbolik yang terjadi dalam komunikasi (Bungin, 2003:174). Menurut McQuail dalam buku Mass Communication Theory (Kriyantono, 2006: 229) mengatakan bahwa tujuan dilakukan analisis terhadap isi pesan komunikasi adalah:

1. Mendeskripsikan dan membuat perbandingan terhadap isi media.

2. Membuat perbandingan antara isi media dengan realitas sosial.

3. Isi media merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem kepercayaan masyarakat.

4. Mengetahui fungsi dan efek media.

5. Mengevaluasi media performance.

6. Mengetahui apakah ada bias media.

I.5.3 Analisis Wacana

Lubis dalam Sobur menyatakan bahwa analisis wacana adalah ilmu baru yang muncul beberapa puluh tahun belakangan ini. Aliran-aliran linguistik selama ini membatasi penganalisisannya hanya kepada soal kalimat dan barulah belakangan ini sebagian ahli bahasa memalingkan perhatiannya kepada penganalisisan wacana (Sobur, 2004:47).

Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besar dari berbagai defenisi, titik singgungnya adalah analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa/ pemakaian bahasa (Eriyanto, 2001 :3-4).

(12)

Analisis wacana secara teoritis memiliki prinsip yang hampir sama dengan beberapa pendekatan metodologis, seperti analisis struktural, pendekatan dekonstruksionisme, interaksi simbolik dan hermeneutik, yang semuanya lebih menekankan pada pengungkapan makna yang tersembunyi (Bungin, 2003: 152-153).

Seperti yang banyak dilakukan dalam penelitian mengenai organisasi pemberitaan selama dan sesudah tahun 1960-an, analisis wacana menekankan pada bagaimana signifikasi ideologis berita merupakan bagian dan menjadi paket metode yang digunakan untuk memproses media (How the ideological significance of news is part of the methods used to process news ) (Sobur, 2004:48).

Analisis wacana dikatakan sebagai alternatif dari analisis isi, tentu saja hal itu bukan berarti analisis wacana lebih baik dari analisis isi kuantitatif. Kata alternatif digunakan untuk menunjukkan bahwa analisis wacana dapat melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif. Perbandingan di sini bukan dimaksudkan untuk mengatakan metode yang satu lebih baik dibandingkan metode yang lain, tetapi untuk menjelaskan setiap metode mempunyai karakter tersendiri, kelebihan dan kekurangan sendiri. Analisis wacana berbeda dengan apa yang dilakukan oleh analisis isi kuantitatif yaitu : pertama, analisis wacana dalam analisisnya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan analisis isi yang umumnya kuantitatif. Analisis wacana lebih memperhitungkan pemaknaan teks dari pada penjumlahan unit kategori seperti dalam analisis isi. Dasar dari analisis wacana adalah interpretasi, karena analisis wacana merupakan bagian dari metode

(13)

bukan sebagai sesuatu yang mempunyai arti yang tepat, setiap teks pada dasarnya bisa dimaknai secara berbeda, dapat ditafsirkan secara beraneka ragam.

Kedua, analisis isi kuantitatif pada umumnya hanya dapat digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat nyata (manifest), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang tersembunyi (latent). Makna suatu pesan dengan demikian tidak dapat hanya ditafsirkan sebagai apa yang tampak nyata dalam teks, tetapi harus dianalisis dari makna yang tersembunyi. Ketiga, analisis kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki “bagaimana ia mengatakan” (how). Dalam pendekatan ini, pengandaian yang digunakan untuk memeriksa makna tersembunyi yang dimiliki wacana juga dapat dipelajari dan dibedah.

Selain itu juga dapat dilihat bagaimana suatu peristiwa dapat digambarkan dengan sedikit atau banyak detil dalam teks. Intinya, semua elemen yang membentuk teks baik yang terlihat secara eksplisit maupun tersamar dapat dibedakan dengan analisis wacana. Keempat, analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi dengan beberapa asumsi. Salah satunya yaitu setiap peristiwa pada dasarnya selalu bersifat unik, karena itu tidak dapat diperlakukan prosedur yang sama yang diterapkan untuk isu dan kasus yang berbeda (Eriyanto, 2001: 337-340).

I.5.4 Analisis Wacana versi Theo Van Leeuwen

Theo Van Leeuwen memperkenalkan model analisis wacana untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu kelompok atau seseorang dimarjinalkan

(14)

posisinya dalam suatu wacana. Bagaimana suatu kelompok dominan lebih memegang kendali dalam menafsirkan suatu peristiwa dan pemaknaannya, sementara kelompok lain yang posisinya rendah cenderung untuk terus menerus sebagai objek pemaknaan, dan digambarkan secara buruk (Eriyanto, 2001 :171).

Dalam analisisnya, Van Leeuwen memusatkan perhatian pada dua hal, yaitu eksklusi dan inklusi. Eksklusi, melihat apakah dalam suatu teks ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dari pemberitaan dan strategi wacana apa yang dipakai dalam melakukan hal tersebut. Eksklusi dapat dilakukan dengan cara pasivasi, nominaliasi dan penggantian anak kalimat. Sementara inklusi, melihat bagaimana masing-masing pihak atau kelompok dimunculkan dalam pemberitaan atau bagaimana cara penggambarannya. Inklusi dapat dilakukan dengan cara diferensiasi-indeferensiasi, objektivasi-abstraksi, kategorisasi, nominasi-identifikasi, determinasi-indeterminasi, asimilasi-individualisasi, dan asosiasi-disosiasi.

I.5.5 Berita

Berita adalah sesuatu yang nyata-news is real. Berita adalah juga peristiwa

yang segar, yang baru saja terjadi, plus dan minus. Dalam berita itu tersirat pesan yang ingin disampaikan wartawan kepada pembacanya. Dalam berita ada karakteristik intrinsik yang dikenal sebagai nilai berita (news value). Nilai berita ini menjadi ukuran yang berguna, atau yang biasa diterapkan, untuk menentukan layak berita (Ishwara, 2005:52-53).

(15)

a. Kaitannya dengan peristiwa atau kejadian (komponen tindakan).

b. Kehangatannya.

c. Keberhargaannya sebagai berita atau kaitannya dengan beberapa hal atau orang penting. Lanjutnya bahwa berita itu sendiri bertanggung jawab menciptakan ‘konsensus’ di sepanjang waktu, atas dasar mana keberhargaan berita dikenali oleh para wartawan dan diterima oleh publik (McQuail, 1994:191).

Berita adalah bagian dari realitas sosial yang dimuat media karena memiliki nilai yang layak untuk disebarkan kepada masyarakat (Bungin, 2003:153). Dalam pandangan lain berita bukanlah realitas sebenarnya. Berita adalah realitas yang sudah diseleksi dan disusun menurut pertimbangan-pertimbangan redaksi, istilahnya disebut “second-hand reality”. Artinya, ada faktor-faktor subjektivitas awak media dalam proses produksi berita. Oleh karena itu, fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi awak media. Isi media, misalnya menurut Brian McNair dapat lebih ditentukan oleh:

a. Kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik (the political-economy approach).

b. Pengelola media sebagai pihak yang aktif dalam proses produksi berita (organizational approach).

c. Gabungan berbagai faktor, baik internal media ataupun eksternal media (culturalis approach) (Kriyantono, 2006:249).

(16)

I.6. KERANGKA KONSEP

Konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama (Singarimbun, 1995: 17). Kerangka konsep adalah hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai (Nawawi, 1995 :40). Kerangka konsep dalam penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis dengan memakai model analisis Theo van Leeuwen.

Secara umum model analisis ini dipergunakan untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu kelompok atau seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana serta menggambarkan bagaimana pelaku ditampilkan dalam pemberitaan. Theo van Leeuwen membuat suatu model analisis yang bisa dipakai untuk melihat bagaimana peristiwa dan aktor-aktor sosial ditampilkan dalam media. Dalam analisisnya, Theo van Leeuwen memusatkan perhatian pada dua hal, yaitu ekslusi dan inklusi. Tataran ekslusi, melihat apakah dalam suatu teks berita ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dari pemberitaan dan strategi wacana apa yang dipakai dalam melakukan hal tersebut. Proses pengeluaran ini, secara tidak langsung bisa mengubah pemahaman khalayak akan suatu isu dan melegitimasi posisi pemahaman tertentu. Tataran inklusi, melihat bagaimana pihak atau kelompok dimunculkan dalam pemberitaan dan bagaimana cara penggambarannya. Dengan memakai kata, kalimat, informasi atau susunan bentuk kalimat tertentu, cara bercerita tertentu, masing-masing kelompok direpresentasikan dalam teks.

(17)

I.7. OPERASIONAL VARIABEL VARIABEL TEORITIS PENELITIAN OPERASIONAL SUBJEK PENELITIAN 1.Eksklusion a. Pasivasi b. Nominalisasi

c. Penggantian anak kalimat

2.Inklusion a. Diferensiasi-Indeferensiasi b. Objektivasi-Abstraksi c. Nominasi-Kategorisasi d. Nominasi-Identifikasi e. Determinasi-Indeterminasi f. Assimilasi-Individualisasi g. Asosiasi-Disosiasi

I.8. DEFENISI OPERASIONAL

I.8.1 Eksklusi, apakah dalam suatu teks berita ada kelompok atau aktor yang

dikeluarkan dalam pemberitaan.

a. Pasivasi, yaitu suatu cara menghilangkan aktor atau pelaku dengan pemakaian kalimat pasif. Lewat pemakaian kalimat pasif, aktor dapat tidak hadir dalam teks, sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam kalimat yang berstruktur aktif. Dalam hal ini yang menjadi subjek dan inti pembicaraan adalah individu atau kelompok sosial tertentu yang termarjinalkan bukan aktor atau kelompok sosial yang melakukan

(18)

permarjinalan. Wartawan dan khalayak pembaca lebih memperhatikan dan tertarik unuk melihat adanya individu atau kelompok sosial yang dimarjinalkan daripada pelaku pemarjinalan. Padahal pelaku tindakan pemarjinalan adalah hal yang sangat penting yang sebetulnya layak diketahui oleh pembaca.

b. Nominalisasi, yaitu menghilangkan aktor dengan cara mengubah kata kerja menjadi kata benda, yaitu dengan cara memberi imbuhan pe-an. Nominalisasi ini dapat menghilangkan aktor/ subjek dalam pemberitaan karena berhubungan dengan transformasi dari bentuk kalimat aktif. Dalam struktur kalimat yang berbentuk aktif, selalu membutuhkan subjek. Kalimat aktif juga selalu berbentuk kata kerja, yang menunjuk pada apa yang dilakukan (proses) oleh subjek. Nominalisasi bukan hanya bisa menghilangkan posisi subjek yang melakukan tindakan, bahkan ia dapat mengubah makna kalimat ketika diterima oleh khalayak.

c. Penggantian anak kalimat, yaitu penggantian subjek dengan memakai anak kalimat yang sekaligus berfungsi sebagai pengganti aktor. Hal ini dilakukan karena penulis atau wartawan umumnya percaya dan menganggap bahwa khalayak pembaca mengetahui aktor yang melakukan tindakan pemarjinalan. Karena dianggap tahu, dan untuk efisiensi kata itulah, pelaku dihilangkan akan tetapi perubahan itu kemungkinan tanpa disadari oleh penulisnya yang membuat pelaku tindakan itu tersembunyi dalam kalimat.

(19)

I.8.2 Inklusi, bagaimana masing-masing pihak atau kelompok itu ditampilkan

lewat pemberitaan.

Diferensiasi-Indeferensiasi, yaitu bagaimana suatu peristiwa atau seorang aktor sosial bisa ditampilkan dalam teks secara mandiri, sebagai suatu peristiwa yang unik atau khas tetapi bisa juga dibuat kontras dengan menampilkan peristiwa atau aktor lain dalam teks. Penghadiran kelompok atau peristiwa lain itu secara tidak langsung ingin menunjukkan bahwa kelompok itu tidak bagus dibandingkan dengan kelompok lain. Ini merupakan strategi wacana bagaimana suatu kelompok disudutkan dengan menghadirkan kelompok atau wacana lain yang dipandang lebih dominan atau lebih bagus.

b. Objektivasi-Abstraksi, yaitu bagaimana aktor sosial ditampilkan dengan memberi petunjuk yang konkret dan aktor sosial ditampilkan dengan memberi petunjuk yang abstrak. Jumlah dari suatu aktor sosial dapat dikatakan menunjuk angka yang jelas, dapat juga dengan membuat suatu abstraksi seperti ratusan, ribuan, atau banyak sekali. Makna yang diterima khalayak akan berbeda, karena dengan membuat abstraksi peristiwa atau aktor yang sebetulnya secara kuantitatif berjumlah kecil dengan abstraksi dikomunikasikan seakan berjumlah banyak.

c. Nominasi-Kategorisasi, yaitu bagaimana aktor tersebut ditampilkan apa adanya, yang ditampilkan adalah kategori yang menunjukkan ciri penting dari seseorang aktor sosial tersebut. Kategori ini bisa macam-macam, yang menunjukkan ciri penting dari seseorang: bisa berupa

(20)

agama, status, bentuk fisik, dan sebagainya. Kategori itu sebetulnya tidak penting, karena umumnya tidak akan mempengaruhi arti yang ingin disampaikan kepada khalayak. Kategori apa yang ingin ditonjolkan dalam pemberitaan, menurut van Leeuwen, sering kali menjadi informasi yang berharga untuk mengetahui lebih dalam ideologi dari media bersangkutan, karena kategori itu menunjukkan representasi bahwa suatu tindakan tertentu atau kegiatan tertentu menjadi ciri khas atau atribut yang selalu hadir sesuai dengan kategori bersangkutan. Sering kali pemberitaan kategori itu tidak menambah pengertian atau informasi apa pun. Peneliti harus kritis melihat bagaimana suatu kelompok dimarjinalkan atau dikucilkan dengan memberikan kategori atau label yang buruk.

d. Nominasi-Identifikasi, yaitu bagaimana aktor ditampilkan apa adanya dengan memberi anak kalimat sebagai penjelas. Di sini, ada dua proposisi, di mana proposisi kedua adalah penjelas atau keterangan dari proposisi pertama. Umumnya dihubungkan dengan dengan kata hubung seperti : yang, di mana. Proposisi kedua ini dalam kalimat posisinya sebetulnya murni sebagai penjelas atau identifikasi atas sesuatu. Wartawan barangkali ingin memberikan penjelasan siapa seseorang itu atau apa tindakan atau peristiwa itu akan tetapi sering kali, dan ini harus dikritisi, pemberian penjelas ini mensugestikan makna tertentu karena umumnya berupa penilaian atas seseorang, kelompok, atau tindakan terentu. Ini merupakan strategi wacana di mana satu orang, kelompok,

(21)

atau tindakan diberi penjelasan yang buruk sehingga ketika diterima oleh khalayak akan buruk pula.

e. Determinasi-Indeterminasi, yaitu bagaimana aktor disebutkan secara jelas atau aktor disebutkan secara anonim. Anonimitas ini bisa jadi karena wartawan belum mendapatkan bukti yang cukup untuk menulis, sehingga lebih aman untuk menulis anonim. Bisa juga karena ada ketakutan struktural kalau kategori yang jelas dari seseorang aktor sosial tersebut disebut dalam teks. Apa pun alasannya, dengan membentuk anonimitas ini, ada kesan yang berbeda ketika diterima oleh khalayak. Hal ini karena anonimitas, menurut van Leeuwen, justru membuat suatu generalisasi, tidak spesifik sehingga bermakna jamak.

f. Asimilasi-Individualisasi, yaitu apakah kategori aktor sosial yang diberitakan ditunjukkan dengan jelas kategorinya. Asimilasi terjadi ketika dalam pemberitaan bukan kategori aktor sosial yang spesifik yang disebut dalam berita tetapi komunitas atau kelompok sosial di mana seseorang itu berada. Asimilasi sering kali berhubungan dengan identifikasi, bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya dengan kelompok yang sedang diberitakan. Teks menciptakan komunitas imajinatif di antara aktor sosial.

g. Asosiasi-Disosiasi, apakah aktor ditampilkan sendiri atau aktor ditampilkan menghubungkan dengan kelompok lain yang lebih besar. Kelompok sosial di sini menunjuk pada di mana aktor tersebut berada, tetapi persoalannya apakah disebut secara eksplisit atau tidak dalam

(22)

teks. Asosiasi menujuk pada pengertian ketika dalam teks, aktor sosial dihubungkan dengan asosiasi atau kelompok yang lebih besar, di mana aktor sosial itu berada. Sebaliknya disosiasi, jika tidak terjadi hal demikian. Dengan demikian, strategi asosiasi membuat makna menjadi besar (glorifikasi), karena asosiasi membuat khalayak membayangkan dan menghubungkan secara imajiner dengan komunitas yang lebih luas.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...