• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH K3 SERTA LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI PT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH K3 SERTA LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI PT"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH K3 SERTA LINGKUNGAN KERJA TERHADAP

KINERJA KARYAWAN DI PT. JABONTARA EKA KARSA

DI DESA BATU PUTIH KECAMATAN TELUK BAYUR

KABUPATEN BERAU PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

Oleh:

SOLEKHAN NIM:120500104

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL

PERKEBUNAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(2)

PENGARUH K3 SERTA LINGKUNGAN KERJA TERHADAP

KINERJA KARYAWAN DI PT. JABONTARA EKA KARSA

DI DESA BATU PUTIH KECAMATAN TELUK BAYUR

KABUPATEN BERAU PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

Oleh:

SOLEKHAN NIM:120500104

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk

Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL

PERKEBUNAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(3)

PENGARUH K3 SERTA LINGKUNGAN KERJA TERHADAP

KINERJA KARYAWAN DI PT. JABONTARA EKA KARSA

DI DESA BATU PUTIH KECAMATAN TELUK BAYUR

KABUPATEN BERAU PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

Oleh:

SOLEKHAN NIM:120500104

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL

PERKEBUNAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian : Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Serta Lingkunngan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di PT. Jabontara Eka Karsa di desa Batu Putih kecamatan Teluk Bayur kabupaten Berau propinsi Kalimantan Timur

Nama : Solekhan

NIM : 120 500 104

Program studi : Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan Jurusan : Teknologi Pertanian

Lulus ujian pada tanggal 08 Juli 2015

Pembimbing

Mujibu Rahman, S.TP., M.Si

NIP. 197110272002121002 Penguji I

Anis Syauqi, S.TP,. M.Sc

NIP. 197612092003121002

Menyetujui, Ketua program studi

Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan Politeknik Pertanian Negri Samarinda

Muh. Yamin, S.TP.,M.Si

NIP. 197408132002121001

Mengesahkan,

Ketua Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Pertanian Negri Samarinda

Hamka, S.TP.,MP., M.Sc

NIP. 197604082008121002 Penguji II

Dr. Saipul Hamdi, S.Pdi., MA

(5)

ABSTRAK

Solekhan, Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Serta Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (di bawah bimbingan Mujibu Rahman)

Keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan, resiko kecelakaan serta penyakit akibat kerja sering terjadi karna lingkungan yang tidak nyaman dan program K3 tidak berjalan dengan baik. Hal ini dapat berdampak pada kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan dan pengaruh lingkunagan kerja terhadp kinerja karyawan pada PT. Jabontara Eka Karsa.

Penelitian ini dilakukuakn di PT. Jabontara Eka Karsa, Berau. Dengan jumlah sampel sebanyak 20 responden secara acak berstrata (stratified random

sampling). Data yang digunkan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari data primer

dan data skunder, pengumpulan data menggunakan kuisioner yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada dua faktor penelitian. Kuisioner tersebut kemudian dianalisis menggunkan rating scale.

Hasil penelitian menunjukan bahwa Pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja diperoleh nilai 90.23% yang menunjukan katagori interval sangat kuat hubunganya dengan kinerja karyawan. Dan diperoleh persentase 54,6% yang memilih sangat setuju, persentase 42,7%, yang memilih setuju, persentase 1,9% yang memilih kurang setuju, persentase 0,4% yang memilih tidak setuju dan persentase 0,4% yang memilih kurang setuju. Faktor lingkungan kerja diperoleh nilai 90.9% yang menunjukan katagori interval sangat kuat hubunganya dengan kinerja karyawan. Dan diperoleh persentase 53% yang memilih sangat setuju, persentase 45% yang memilih setuju, persentase 2% yang memilih kurang setuju.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Solekhan, lahir pada tanggal 12 November 1993 di Desa Sidomulyao, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutaikartanegara, Propinsi Kalimantan Timur. Merupakan anak ke dua dari empat bersaudara, dari pasangan Bapak Dasar Santoso dan Ibu Paipah.

Pada tahun 1998 memulai pendidikan di TK Dahlia 002, Kecamatan Anggana Kabupanten Kutaikartanegara lulus pada tahun 1999, pada tahun 1999 melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD) Negri 008 Sidomulyo dan lulus pada tahun 2006, pada tahun 2006 melanjutkan Sekolah di Maderasah Tsanawiyah Sungi Mariam dan lulus pada tahun 2009, pada tahun 2009 melanjutkan pendidikan ke SMK NU Balikpapan dan lulus pada tahun 2012, pada tahun 2012 melanjutkan ke perguruan tinggi di Politeknik Pertanian Negri Samarinda, Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan.

Pada tanggal 10 Maret 2015 sampai tanggal 29 April 2015 melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PT. Jabontara Eka Karsa, Desa Batu Putih, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur.

Sebagai syarat memperoleh predikat ahli madya, penulis mengadakan penelitian dengan judul “ Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Serta Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan” di bawah bimbingan Mujibu Rahman, S. TP., M. Si

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di pabrik kelapa sawit PT. Jabontara Eka Karsa, desa Batu Putih, kabupaten Berau Kalimantan Timur.

Adapun maksud dari penyusunan dari karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan tugas akhir di Politeknik Pertanian Negri Samarinda dan memperoleh gelar Ahli Madya Diploma III (A.Md). keberhasilan dan kelancaran dalam penulisan karya ilmuah ini juga tidak terlepas dari peran serta dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orang tua tercinta bapak Dasar Santoso, dan ibunda tercinta Paipah serta saudara-saudara Dayanto, Tiyah, dan Riduwan yang telah banyak memberikan dukungan, baik dari segi moral maupun matrial.

2. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

3. Bapak Muh. Yamin, S,TP., MP. Selaku kepala program studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan.

4. Bapak Bapak Mujibu Rahman, S.TP., M,Si selaku dosen pembimbing 5. Bapak Anis Syauqi, S.TP., M.Sc selaku dosen penguji I

6. Bapak Dr. Saipul Hamdi, S. Pdi., MA selaku dosen penguji II

7. Bapak Musfian dan Bapak S. Erwin Saragih serta staf dan karyawan PT. Jabontara Eka Karsa yang telah banyak membimbing pada saat berlangsungnya kegiatan penelitian ini

8. Para staf pengajar dan administrasi program studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan

9. Teman-teman seperjuangan Angkatan 2012 Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan Politeknik Pertanian Negri Samarinda, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Pada penulisan karya ilmiah ini mungkin terdapat kekurangan atau kesalahan karena keterbatasan penulis, baik dalam penguraian ilmu maupun keterbatasan dalam pengalamana yang sejauh ini belum dapat tercapai sebagai mana yang diharapkan. Oleh karna itu, penulis menerima dan mengharapakan kritikan serta saran-saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan tulisan ini.

Samarinda, September 2015

Solekhan

Nim. 120 500 104

(8)

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... i HALAMAN PENGESAHAN ... ii ABSTRAK ... ` iii RIWAYAT HIDUP ... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang ... 1

B. Tujuan ... 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 4

A. Keselamtan dan kesehatan kerja ... 4

B. Lingkungan kerja ... 16

C. Produktifitas kerja... 18

BAB III. METODE PENELITIAN ... 20

A. Tempat dan waktu... 20

B. Alat dan bahan ... 20

C. Metode penelitian ... 20

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22

A. faktor keselamatan dan kesehatan kerja... 22

B. faktor lingkungan kerja ... 24

BAB V. SARAN DAN KESIMPULAN ... 28

A. Saran ... 28

B. Kesimpulan ... 28

DAFTAR PUSTAKA ... 29

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Tubuh Utama Halaman 1. Tabel 1. Rekapitulasi dari 20 responden diperoleh data

keselamatan dan kesehatan kerja... 22 2. Tabel 2. Rekapitulasi dari 20 responden diperoleh data faktor

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Tubuh Utama Halaman

1. Identitas responden... 33

2. Kuisioner I. faktor keselamatan dan kesehatan kerja ... 34

3. Kuisioner II. faktor lingkungan kerja ... 36

4. Lampiran 1. faktor keselamatan dan kesehatan kerja ... 38

5. Lampiran 2. faktor lingkungan kerja ... 39

6. Lampiran 3. Nilai disetiap jawaban pada kuiesioner ... 40

7. Lampiran 4. Perhitungan persentase dari jawaban faktor k3 dan rating scale pada keselamatan dan kesehatan kerja ... 41

8. Lampiran 5. Perhitungan persentase dari jawaban faktor lingkungan kerja dan rating scale pada faktor lingkungan kerja ... 42

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Tubuh Utama Halaman 1. Diagram 1. Rata-rata jawaban dari faktor K3 ... 23 2. Diagram 2. Rata-rata jawaban dari faktor lingkungan kerja ... 26 3. Gambar 1 dan 2. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3 ... 43 4. Gambar 3 dan 4. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3 ... 43 5. Gambar 5 dan 6. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3 ... 44 6. Gambar 7 dan 8. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3 ... 44 7. Gambar 9 dan 10. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3 . 45 8. Gambar 11 dan 12. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3 45 9. Gambar 13 dan 14. Penggunaan APD yang disesuaikan pada

karyawan ... 46 10. Gambar 15 dan 16. Pengumpulan data kueisioner ... 46 11. Gambar 17 dan 18. Pengumpulan data kuesioner ... 47

(12)

1 BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum di Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah. Padahal karyawan adalah aset penting perusahaan (Silalahi, 1995).

Kewajiban untuk menyelenggarakaan Sistem Manajemen K3 pada perusahaan-perusahaan besar melalui UU Ketenaga kerjaan, baru menghasilkan 2,1% saja dari 15.000 lebih perusahaan berskala besar di Indonesia yang sudah menerapkan Sistem Manajemen K3. Minimnya jumlah itu sebagian besar disebabkan oleh masih adanya anggapan bahwa program K3 hanya akan menjadi tambahan beban biaya perusahaan. Padahal jika diperhitungkan besarnya dana kompensasi/santunan untuk korban kecelakaan kerja sebagai akibat diabaikannya Sistem Manajemen K3, yang besarnya mencapai lebih dari 190 milyar rupiah di tahun 2003, jelaslah bahwa masalah K3 tidak selayaknya diabaikan. Di samping itu, yang masih perlu menjadi catatan adalah standar keselamatan kerja di Indonesia ternyata paling buruk jika dibandingkan dengan negara- negara Asia Tenggara lainnya, termasuk dua Negara lainnya, yakni Bangladesh dan Pakistan. Sebagai contoh, data terjadinya kecelakaan kerja yang berakibat fatal pada tahun 2001 di Indonesia sebanyak 16.931 kasus, sementara di Bangladesh 11.768 kasus (Arianto, 2013).

(13)

2 Jumlah kecelakaan kerja yang tercatat juga ditengarai tidak menggambarkan kenyataan di lapangan yang sesungguhnya yaitu tingkat kecelakaan kerja yang lebih tinggi lagi. Seperti diakui oleh berbagai kalangan di lingkungan Departemen Tenaga Kerja, angka kecelakaan kerja yang tercatat dicurigai hanya mewakili tidak lebih dari setengah saja dari angka kecelakaan kerja yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa masalah, antara lain rendahnya kepentingan masyarakat untuk melaporkan kecelakaan kerja kepada pihak yang berwenang, khususnya PT. Jamsostek. Pelaporan kecelakaan kerja sebenarnya diwajibkan oleh undang-undang, namun terdapat dua hal penghalang yaitu prosedur administrasi yang dianggap merepotkan dan nilai klaim asuransi tenaga kerja yang kurang memadai. Disamping itu, sanksi bagi perusahaan yang tidak melaporkan kasus kecelakaan kerja sangat ringan (Rahmawati dkk, 2014).

Sebagian besar dari kasus-kasus kecelakaan kerja terjadi pada kelompok usia produktif. Kematian merupakan akibat dari kecelakaan kerja yang tidak dapat diukur nilainya secara ekonomis. Kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat seumur hidup, disamping berdampak pada kerugian non- materil, juga menimbulkan kerugian materil yang sangat besar, bahkan lebih besar bila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh penderita penyakit-penyakit serius seperti penyakit jantung dan kanker (Arianto, 2013).

Karyawan merupakan asset paling berharga yang dimiliki oleh prusahan, karna karyawan yang akan menentukan kualitas dari pabrik, apabila karyawan merasa aman dalam menjalankan pekerjaanya maka karyawan dapat bekerja

(14)

3 dengan maksimal. Lingkungan yang tidak nyaman dan Program K3 yang tidak berjalan dengan baik akan beresiko kecelakaan, hal ini dapat berdampak pada tingkat kinerja karyawan, keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan kerja. Maka itu dilakukan suatau penelitian untuk mengetahui pengaruh K3 dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan.

B. Tujuan

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja pada PT. Jabontara Eka Karsa.

2. Untuk mengetahui pengaruh lingkunagan kerja terhadp kinerja karyawan pada PT. Jabontara Eka Karsa.

(15)

4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Keselamatan dan kesehatan kerja

Keselamatan kerja adalah membuat kondisi kerja yang aman dengan dilengkapi alat-alat pengaman, penerangan yang baik, menjaga lantai dan tangga bebas dari air, minyak, nyamuk dan memelihara fasilitas air yang baik (Agus, 1989). Menurut Malthis dan Jackson (2002), keselamatan kerja menunjuk pada perlindungan kesejahteraan fisik dengan tujuan mencegah terjadinya kecelakaan atau cedera terkait dengan pekerjaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa keselamatan kerja berarti proses merencanakan dan mengendalikan situasi yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja melalui persiapan prosedur operasi standar yang menjadi acuan dalam bekerja (Rika, 2009).

Tujuan keselamatan kerja adalah:

1. Para pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja dapat digunakan sebaik-baiknya.

3. Agar semua hasil produksi terpelihara keamanannya.

4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan gizi pegawai. 5. Agar dapat meningkatkan kegairahan, keserasian dan partisipasi kerja. 6. Terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan kerja. 7. Agar pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

Menurut Husni (2005), menyatakan bahwa keselamatan kerja bertalian dengan kecelakaan kerja, yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri. Kecelakaan industri ini secara

(16)

5 umum dapat diartikan sebagai suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas. Menurut Rika (2009), kecelakaan kerja merupakan kecelakaan seseorang atau kelompok dalam rangka melaksanakan kerja di lingkungan perusahaan, yang terjadi secara tiba-tiba, tidak diduga sebelumnya, tidak diharapkan terjadi, menimbulkan kerugian ringan sampai yang paling berat, dan bisa menghentikan kegiatan pabrik secara total.

Penyebab kecelakaan kerja dapat dikategorikan menjadi dua:

1. Kecelakaan yang disebabkan oleh tindakan manusia yang tidak melakukan tindakan penyelamatan. Contohnya, pakaian kerja, penggunaan peralatan pelindung diri, falsafah perusahaan, dan lain- lain.

2. Kecelakaan yang disebabkan oleh keadaan lingkungan kerja yang tidak aman. Contohnya, penerangan, sirkulasi udara, temperatur, kebisingan, getaran, penggunaan indikator warna, tanda peringatan, sistem upah, jadwal kerja, dan lain- lain (Rika, 2009).

Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial (Husni, 2005). Selain itu, kesehatan kerja menunjuk pada kondisi fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum dengan tujuan memelihara kesejahteraan individu secara menyeluruh (Malthis dan Jackson, 2002). Sedangkan menurut Mangkunegara (2001), pengertian kesehatan kerja adalah kondisi bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebakan lingkungan kerja. Kesehatan dalam ruang lingkup keselamatan

(17)

6 dan kesehatan kerja tidak hanya diartikan sebagai suatu keadaan bebas dari penyakit. Berdasarkan Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, Bab I Pasal 2, keadaan sehat diartikan sebagai kesempurnaan yang meliputi keadaan jasmani, rohani dan kemasyarakatan, dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan-kelemahan lainnya.

Menurut Veithzal (2004), pemantauan kesehatan kerja dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Mengurangi timbulnya penyakit.

Pada umumnya perusahaan sulit mengembangkan strategi untuk mengurangi timbulnya penyakit-penyakit, karena hubungan sebab-akibat antara lingkungan fisik dengan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan sering kabur. Padahal, penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan jauh lebih merugikan, baik bagi perusahaan maupun pekerja.

2. Penyimpanan catatan tentang lingkungan kerja.

Mewajibkan perusahaan untuk setidak-tidaknya melakukan pemeriksaan terhadap kadar bahan kimia yang terdapat dalam lingkungan pekerjaan dan menyimpan catatan me ngenai informasi yang terinci tersebut. Catatan ini juga harus mencantumkan informasi tentang penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan dan jarak yang aman dan pengaruh berbahaya bahan-bahan tersebut.

(18)

7 3. Memantau kontak langsung.

Pendekatan yang pertama dalam mengendalikan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan adalah dengan membebaskan tempat kerja dari bahan-bahan kimia atau racun. Satu pendekatan alternatifnya adalah dengan memantau dan membatasi kontak langsung terhadap zat-zat berbahaya.

4. Penyaringan genetik.

Penyaringan genetik adalah pendekatan untuk mengendalikan penyakit-penyakit yang paling ekstrem, sehingga sangat kontroversial. Dengan menggunakan uji genetik untuk menyaring individu-individu yang rentan terhadap penyakit-penyakit tertentu, perusahaan dapat mengurangi kemungkinan untuk menghadapi klaim kompensasi dan masalah- masalah yang terkait dengan hal itu.

Penyakit kerja adalah kondisi abnormal atau penyakit yang disebabkan oleh kerentana n terhadap faktor lingkungan yang terkait dengan pekerjaan. Hal ini meliputi penyakit akut dan kronis yang disebakan oleh pernafasan, penyerapan, pencernaan, atau kontak langsung dengan bahan kimia beracun atau pengantar yang berbahaya (Dessler, 2007).

Masalah kesehatan karyawan sangat beragam dan kadang tidak tampak. Penyakit ini dapat berkisar mulai dari penyakit ringan seperti flu, hingga penyakit yang serius yang berkaitan dengan pekerjaannya (Malthis dan Jackson, 2002), Menjelaskan bahwa dalam jangka panjang, bahaya-bahaya di lingkungan tempat kerja dikaitkan dengan kanker kelenjar tiroid, hati, paru-paru,

(19)

8 otak dan ginjal; penyakit paru-paru putih, cokelat, dan hitam; leukimia; bronkitis; anemia plastik dan kerusakan sistem saraf pusat; dan kelainan kelainan reproduksi (misal kemandulan, kerusakan genetik, keguguran dan cacat pada waktu lahir).

Menurut Silalahi (1995), perusahaan mengenal dua kategori penyakit yang diderita tenaga kerja, yaitu:

1. Penyakit umum

Merupakan penyakit yang mungkin dapat diderita oleh semua orang, dan hal ini adalah tanggung jawab semua anggota masyarakat, karena itu harus melakukan pemeriksaan sebelum masuk kerja.

2. Penyakit akibat kerja

Dapat timbul setelah karyawan yang tadinya terbukti sehat memulai pekerjaannya. Faktor penyebab bisa terjadi dari golongan fisik, golongan kimia, golongan biologis, golongan fisiologis dan golongan psikologis.

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu sistem yang dirancang untuk menjamin keselamatan yang baik pada semua personel di tempat kerja agar tidak menderita luka maupun menyebabkan penyakit di tempat kerja dengan mematuhi atau taat pada hukum dan aturan keselamatan dan kesehatan kerja, yang tercermin pada perubahan sikap menuju keselamatan di tempat kerja (Dewi, 2006). Menurut Argama (2006), program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif)

(20)

9 timbulnya kecelakaan dan penyakit kerja akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal- hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit kerja akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Menurut Dessler (2007), mengatakan bahwa program keselamatan dan kesehatan kerja diselenggarakan karena tiga alasan pokok, yaitu:

1. Moral. Para pengusaha menyelenggarakan upaya pencegahan kecelakaan dan penyakit kerja pertama sekali semata- mata atas dasar kemanusiaan. Mereka melakukan hal itu untuk memperingan penderitaan karyawan dan keluarganya yang mengalami kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

2. Hukum. Dewasa ini, terdapat berbagai peraturan perundang- undangan yang mengatur ikhwal keselamatan dan kesehatan kerja, dan hukuman terhadap pihak-pihak yang melanggar ditetapkan cukup berat. Berdasarkan peraturan perundang-undangan itu, perusahaan dapat dikenakan denda, dan para supervisor dapat ditahan apabila ternyata bertanggung jawab atas kecelakaan dan penyakit fatal.

3. Ekonomi. Adanya alasan ekonomi karena biaya yang dipikul perusahaan dapat jadi cukup tinggi sekalipun kecelakaan dan penyakit yang terjadi kecil saja. Asuransi kompensasi karyawan ditujukan untuk member ganti rugi kepada pegawai yang mengalami kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Apabila perusahaan dapat melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik, maka perusahaan akan dapat memperoleh manfaat sebagai berikut:

(21)

10 1. Meningkatkan produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang

hilang.

2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih komitmen. 3. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.

4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim.

5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari partisipasi dan ras kepemilikan.

6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatkan citra perusahaan.

7. Perusahaan dapat meningkatkan keuntungannya secara substansial.

Menurut Modjo (2007), manfaat penerapan program keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan antara lain:

1. Pengurangan Absentisme, Perusahaan yang melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja secara serius, akan dapat menekan angka risiko kecelakaan dan penyakit kerja dalam tempat kerja, sehingga karyawan yang tidak masuk karena alasan cedera dan sakit akibat kerja pun juga semakin berkurang.

2. Pengurangan Biaya Klaim Kesehatan. Karyawan yang bekerja pada perusahaan yang benar-benar memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja karyawannya kemungkinan untuk mengalami cedera atau sakit akibat kerja adalah kecil, sehingga makin kecil pula kemungkinan klaim pengobatan/ kesehatan dari mereka.

(22)

11 3. Pengurangan Turnover Pekerja, Perusahaan yang menerapkan program

K3 mengirim pesan yang jelas pada pekerja bahwa manajemen menghargai dan memperhatikan kesejahteraan mereka, sehingga menyebabkan para pekerja menjadi merasa lebih bahagia dan tidak ingin keluar dari pekerjaannya.

Menurut Malthis dan Jackson (2002) menyebutkan, manfaat program keselamatan dan kesehatan kerja yang terkelola dengan baik adalah:

1. Penurunan biaya premi asuransi, 2. Menghemat biaya litigasi,

3. Lebih sedikitnya uang yang dibayarkan kepada pekerja untuk waktu kerja mereka yang hilang,

4. Biaya yang lebih rendah untuk melatih pekerja baru, 5. Menurunnya lembur,

6. Meningkatnya produktivitas.

Pemerintah memberikan jaminan kepada karyawan dengan menyusun Undang-undang Tentang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33, yang dinyatakan berlaku pada tanggal 6 januari 1951, yang merupakan bukti tentang disadarinya arti penting keselamatan kerja di dalam perusahaan (Ranupandojo dan Husnan, 2002). Lalu, menurut penjelasan Undang- undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1992, menyatakan bahwa sudah sewajarnya apabila tenaga kerja juga berperan aktif dan ikut bertanggung jawab atas pelaksanaan program pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan demi terwujudnya perlindungan tenaga kerja dan keluarganya dengan baik. Jadi,

(23)

12 bukan hanya perusahaan saja yang bertanggung jawab dalam masalah ini, tetapi para karyawan juga harus ikut berperan aktif dalam hal ini agar dapat tercapai kesejahteraan bersama.

Berdasarkan Undang-Undang no.1 tahun 1970 pasal 3 ayat 1, syarat keselamatan kerja yang juga menjadi tujuan pemerintah membuat aturan K3 adalah :

a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.

b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran. c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.

d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.

e. Memberi pertolongan pada kecelakaan.

f. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.

g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar radiasi, suara dan getaran.

h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik Fisik maupun non fisik, keracunan, infeksi dan penularan.

i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. j. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik. k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

(24)

13 m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan

proses kerjanya.

n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang.

o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.

p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang.

q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.

r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

Undang-Undang tersebut selanjutnya diperbaharui menjadi Pasal 86 ayat 1 UndangUndang No. 13 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa setiap pekerja/ buruh berhak untuk memperoleh perlindungan atas:

1. Keselamatan dan kesehatan kerja 2. Moral dan kesusilaan

3. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama (Husni, 2005).

Banyak elemen dan faktor- faktor yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja agar pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam perusahaan dapat berjalan efektif.

1. Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja para tenaga kerja harus diprioritaskan atau diutamakan dan diperhitungkan agar tenaga kerja merasa

(25)

14 ada jaminan atas pekerjaan yang mereka lakukan, baik yang beresiko maupun tidak. Menurut Adia (2010), jaminan keselamatan dan kesehatan dapat membuat para tenaga kerja merasa nyaman dan aman dalam melakukan suatu pekerjaan, sehingga dapat memper kecil atau bahkan mewujudkan kondisi nihil kecelakaan dan penyakit kerja.

2. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah pelatihan yang disusun untuk memberi bekal kepada personil yang ditunjuk perusahaan untuk dapat menerapkan K3 di tempat kerja. Pelatihan K3 bertujuan agar karyawan dapat memahami dan berperilaku pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, mengidentifkasi potensi bahaya di tempat kerja, melakukan pencegahan kecelakaan kerja, mengelola bahan-bahan beracun berbahaya dan penanggulangannya, menggunakan alat pelindung diri, melakukan pencegahan dan pemadaman kebakaran serta menyusun program pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan (Hargiyarto, 2010).

3. Alat Pelindung Diri

Yang menjadi dasar hukum dari alat pelindung diri ini adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Bab IX Pasal 13 tentang Kewajiban Bila Memasuki Tempat kerja yang berbunyi:

“Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.”

(26)

15 Alat pelindung diri adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. Pada umumnya alat-alat tersebut terdiri dari:

a) Safety Helmet, berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung.

b) Tali Keselamatan (Safety Belt), berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat transportasi ataupun peralatan lain yang serupa (mobil, pesawat, alat berat, dan lain- lain)

c) Sepatu Karet (Sepatu Boot), berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek ataupun berlumpur.

d) Sepatu Pelindung (Safety Shoes), berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dan sebagainya.

e) Sarung Tangan, berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. f) Tali Pengaman (Safety Harness), berfungsi sebagai pengaman saat

bekerja di ketinggian.

g) Penutup Telinga (Ear Plug/ Ear Muff), berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.

h) Kacamata Pengaman (Safety Glasses), berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misal mengelas).

(27)

16 i) Masker (Respirator), berfungsi sebagai penyaring udara yang

dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara yang buruk (misal berdebu, beracun, berasap, dan sebagainya).

j) Pelindung Wajah (Face Shield), berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal pekerjaan menggerinda). k) Jas Hujan (Rain Coat), berfungsi melindungi diri dari percikan air saat

bekerja (misal bekerja pada saat hujan atau sedang mencuci alat). 4. Beban Kerja

Beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu (Kurnia, 2010).

5. Jam Kerja

Untuk karyawan yang bekerja 6 hari dalam seminggu, jam kerjanya adalah 7 jam dalam satu hari dan 40 jam dalam satu minggu. Sedangkan untuk karyawan dengan 5 hari kerja dalam satu minggu, kewajiban bekerja mereka adalah 8 jam dalam satu hari dan 40 jam dalam satu minggu. Hampir satu abad berlalu sejak standar internasional jam kerja diberlakukan, sebuah studi yang dilakukan oleh Orga nisasi Buruh sedunia memperkirakan bahwa satu dari 5 peker jadi berbagai penjuru bumi atau lebih dari 600 juta orang masih bekerja lebih dari 48 jam per minggu (Paulus , 2007).

Studi bertajuk “Working Time Around the World: Trends in Working Hours, Laws and Policies in a Global Comparative Perspective” itu

(28)

17 mengungkapkan, 22% tenaga kerja global, atau 614,2 juta pekerja, bekerja di atas standar jam kerja. Padahal, sedemikian studi tersebut mengingatkan, jam kerja yang lebih pendek bisa mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif, seperti meningkatkan kesehatan hidup karyawan dan keluarganya, mengurangi kecelakaan di tempat kerja dan mempertinggi produktivitas. Namun, pada sisi lain, studi yang sama juga mengungkapkan sisi negatif dari jam kerja yang pendek, terutama di negara-negara berkembang dan transisi. Yakni, bisa menyebabkan pengangguran dan dengan demikian cenderung meningkatkan kemiskinan.

B. Lingkungan kerja

Lingkungan kerja itu sendiri menurut Nitisemito (1991: 183), adalah segala sesuatu yang ada disekitar pekerja dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Indikator- indikator lingkungan kerja adalah sebagai berikut: pewarnaan, kebersihan, penerangan, pertukaran udara, musik, keamanan dan kebisingan. Unsur-unsur lingkungan kerja menurut Kartono (1995: 161), adalah tutur kata diantara tenaga kerja, sikap tolong menolong, sikap saling menegur dan mengoreksi kesalaha n dan sikap kekeluargaan diantara tenaga kerja. Sedangkan keadaan yang mendukung lingkungan kerja menurut Nitisemito (1991: 192), adalah suasana kerja yang menyenangkan, tingkat otoriter atasan karyawan dalam bekerja, tingkat sumber saran dalam kelompok, kesempatan untuk mengembangkan bakatnya, ketentraman, dan ruangan atau tempat dimana ia bekerja. Lingkungan kerja akan

(29)

18 menentukan kenyamanan seseorang dalam bekerja. Semakin baiknya lingkungan kerja akan mengakibatkan pencapaian kinerja organisasi secara maksimal.

Ketidak mampuan untuk melawan keterbatasan inilah yang akan menimbulkan frustrasi, konflik, gelisah, dan rasa bersalah yang merupakan tipe-tipe dasar stress (Luthan, 2006: 439). Akibat-akibat stres terhadap seseorang dapat bermacam- macam dan hal ini tergantung pada kekuatan konsep dirinya yang akhirnya menentukan besar kecilnya toleransi orang tersebut terhadap stres. Stres yang dialami oleh karyawan akibat lingkungan yang dihadapinya akan mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerjanya, sehingga manajemen perlu untuk meningkatkan mutu lingkungan organisasional bagi karyawan. Dengan menurunnya stres yang dialami karyawan tentu akan meningkatkan kesehatan dalam tubuh organisasi. Stres merupakan sebuah kondisi di mana seseorang dihadapkan pada konfrontasi antara kesempatan, hambatan, atau permintaan akan apa yang dia inginkan dan hasilnya dipersepsikan tidak pasti dan penting.

Jika produktivitas kerja karyawan baik, maka sebuah organisasi harus dapat memberikan fasilitas sebagai penunjang dalam menyelesaikan pekerjaan. Sarana dan prasarana itu antara lain adalah lingkungan kerja yang baik, baik itu lingkungan internal organisasi maupun lingkungan eksternal organisasi. Lingkungan kerja yang baik (sarana dan prasarana yang baik) atau buruk (tidak tersedianya sarana dan prasarana penunjang) dalam suatu organisasi secara langsung ataupun tidak langsung akan dapat mempengaruhi kinerja karyawan, misalnya lingkungan kerja yang jauh dari tempat tinggal karyawan dapat

(30)

19 menyebabkan produktivitas kerja karyawan menjadi berkurang karena lelah dalam menempuh perjalanan, lingkungan kerja yang kotor, lingkungan kerja yang tidak aman, lingkungan kerja yang tidak nyaman, suara bising, Hal ini semua dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan (Sastrohadiwiryo, 2003). “Lingkungan kerja adalah suatu kondisi, situasi dan kedaaan kerja yang menimbulkan tenaga kerja memiliki semangat dan moral/gairah kerja yang tinggi, dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja sesuai dengan yang diharapkan C. Produktivitas kerja

Produktivitas secara umum diartikan sebagai hubungan antara keluaran (barang atau jasa) dengan masukan (tenaga kerja, bahan baku, uang). Produktivitas adalah ukuran efisiensi produktif. Suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan. Masukan sering dibatasi dengan tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam satuan fisik, bentuk dan nilai (Sutrisno, 2009).

Menurut Schermenharn (2003) ”Produktivitas diartikan sebagai hasil pengukuran suatu kinerja dengan memperhitungkan sumber daya yang digunakan, termasuk sumber daya manusia”. Produktivitas dapat diukur pada individual, kelompok maupun organisasi. Produktivitas juga mencerminkan keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai efektivitas dan efisiensi kinerja dalam kaitannya dengan penggunaan sumber daya. Orang sebagai sumber daya manusia ditempat kerja termasuk sumber daya yang penting dan perlu diperhitungkan. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa produktivitas mencakup efisiensi, efektivitas, dan kualitas dari keluaran yang dicapai. Kemudian, peningkatan produktivitas itu terletak pada dua

(31)

20 faktor penting yaitu efisiensi dan kualitas dari masukan serta efektivitas dan kualitas dari keluaran yang dicapai.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Setiap organisasi atau perusahaan selalu berkeinginan agar tenaga kerja yang dimiliki mampu meningkatkan produktivitas yang tinggi. Menurut Simanjuntak dalam Sutrisno (2009), menyatakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas karyawan, yaitu: mental dan kemampuan fisik karyawan, hubungan antara atasan dan bawahan. Sedangkan menurut Sulistiyani dan Rosidah (2009), menyatakan beberapa faktor yang yang menentukan besar kecilnya produktivitas antara lain: Knowledge, Skills, Abilities, Attitudes dan Behaviors”. Kemudian banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa produktivitas sangat dipengaruhi oleh faktor: Knowledge, Skills, Abilities, Attitudes dan Behaviors (Gomes, 2003).

(32)

21 BAB III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di pabrik pengolahan kelapa sawit PT. Jabontara Eka Karsa di desa Batu Putih, kec Teluk Bayur, kabupaten Berau. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan mulai pembuatan proposal, pengambilan data, pengolahan data, dan penyusunan tulisan.

B. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian diantaranya pulpen sebagai alat tulis, laptop sebagai pengolah data yang akan diperoleh, kertas sebagai alat untuk mencatat data. Adapun bahan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini yaitu kuesioner.

C. Matode Penelitian a) Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden (objek penelitian) data primer dapat diperole h melalui, kuesioner. Data skunder yaitu data yang diperoleh melalui data yang telah diteliti dan dikumpulkan oleh pihak lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, data skunder diperoleh melalui studi keputusan.

b) Teknik Pengambilan Responden

Dalam penelitian ini diambil berdasarkan pengambilan sampel secara acak berstrata (stratified random sampling) secara proporsiona l yaitu responden

(33)
(34)

23 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di PT. Jabontara Eka Karsa, diperoleh data rekapitulasi dari 20 responden untuk Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan kerja serta lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan.

A. Faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Berdasarkan hasil rekapitulasi dari 20 responden untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat dilihat pada tabel 1. adalah sebagi berikut.

Tabel 1. Rekapitulasi dari 20 responden diperoleh data Keselamatan dan Kesehatan kerja. Pernyataan Jawab Total SS S KS TS STS 1 9 11 - - - 20 2 6 13 1 - - 20 3 11 9 - - - 20 4 11 7 2 - - 20 5 8 11 1 - - 20 6 15 4 - 1 - 20 7 5 14 1 - - 20 8 13 6 - - 1 20 9 13 7 - - - 20 10 14 6 - - - 20 11 12 8 - - - 20 12 11 9 - - - 20 13 14 6 - - - 20 Jumlah 142 111 5 1 1 260

Sumber : Data primer setelah diolah. 2015

Berdasarkan hasil rekapitulasi pada tabel 1, dapat diperoleh bahwa rata-rata pernyataan dari responden yang dari keselamatan dan kesehatan kerja menunjukan responden yang paling banyak memilih sangat setuju dan setuju. Responden yang memilih sangat setuju berjumlah 142 dengan persentase 54,6%, untuk responden yang memilih setuju berjumlah 111 dengan persentase 42,7%, untuk responden yang memilih kurang setuju berjumlah 5 dengan persentase 1,9%,

(35)

24 responden yang memilih tidak setuju berjumlah 1 dengan persentase 0,4%, dan responden yang memilih sangat tidak setuju berjumlah 1 dengan persentase 0,4%. Dari 20 responden yang diberikan kuesioner. Jumlah persentase tersebut dapat dilihat pada diagram 1.

Diagram 1. Persentase dari jawaban faktor K3.

Dari hasil rekapitulasi yang diperoleh akan digunakan Rating Scale untuk mengetahui pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan, dengan perhitungan, intrepretasi didapat sebesar 90,23% (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 4) yang menunjukan pengaruh sangat kuat, hubungan antara keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan.

Pada diagram 1 menunjukan bahwa pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja responden memilih sangat setuju dengan persentase 54,6%, dan yang memilih setuju dengan persentase 42,7% hasil ini menunjukan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja akan mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak

0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 SS S KS TS STS 54,6 42,7 1,9 0,4 0,4

(36)

25 diinginkan yang akan berpengaruh pada kinerja karyawan. Pada hasil perhitungan

Rating Scale mendapatkan hasil 90,23% (perhitungan dapat dilihat pada lampiran)

yang bearti termasuk dalam katagori range sangat kuat untuk Pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan.

Pemahaman tentang K3 perlu dilakukan bagi setiap karyawan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja pada saat pelaksanaan kerja, gangguan kesehatan kerja mempunyai dampak yang terasa secara langsung dan yang tidak langsung, dampak secara langsung adalah gangguan kesehatan kerja yang dirasakan seketika itu juga oleh pekerja, sedang yang dimaksud dengan dampak secara tidak langsung adalah gangguan pada kesehatan yang dirasakan oleh pekerja setelah jangka waktu tertentu. Ketika gangguan kesehatan mulai terasa maka akan berpengaruh terhadap banyak aspek, salah satunya adalah turunnya produktivitas dari pekerja (Suaeb, 2009).

B. Faktor Lingkungan Kerja

Berdasarkan hasil rekapitulasi dari 20 responden untuk lingkungan kerja dapat dilihat pada tabel 2 adalah sebagi berikut.

Tabel 2. Rekapitulasi dari 20 responden diperoleh data lingkungan kerja.

Pernyataan Jawab Total

SS S KS TS STS 1 13 7 - - - 20 2 12 8 - - - 20 3 8 11 1 - - 20 4 11 7 2 - - 20 5 7 13 - - - 20 6 7 13 - - - 20 7 9 10 1 - - 20 8 11 9 - - - 20 9 15 5 - - - 20 10 13 7 - - - 20 Jumlah 106 90 4 0 0 200

(37)

26 Pada tabel 2. faktor lingkungan kerja yang ada di PT. Jabontara Eka Karsa, diperoleh persentase dari tabel rekapitulasi untuk yang memilih sangat setuju berjumlah 106 dengan persentase 53%, yang memilih setuju berjumlah 90 dengan persentase 45%, dan yang memilih kurang setuju dengan jumlah 4 dengan persentase 2%. Dari kuiesioner yang diberikan kepada responden, persentase jumlah faktor lingkungan kerja dapat dilihat pada diagram 2.

Diagram 2. Persentase jawaban dari faktor lingkungan kerja.

Dari hasil rekapitulasi yang diperoleh akan digunakan Rating Scale untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan, dengan perhitungan, intrepretasi didapat sebesar 90,9% (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 5) yang menunjukan faktor lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan berpengaruh sangat kuat.

Pada diagram 2 menunjukan bahwa faktor lingkungan kerja responden memilih sangat setuju dengan persentase 53%, yang memilih setuju dengan persentase 45%, dan responden yang memilih kurang setuju dengan persentase

0 10 20 30 40 50 60 SS S KS TS STS 53 45 2 0 0

(38)

27 2%. hasil ini menunjukan bahwa lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh karyawan agar dapat menunjang kinerja karyawan. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan Rating Scale diperoleh hasil 90,9% (perhitungan dapat dilihat pada lampiran) yang berarti termasuk dalam katagori

range sangat kuat untuk hubungan antara faktor lingkangn kerja terhadap kinerja

karyawan.

Lingkungan kerja merupakan bagian komponen yang sangat penting di dalam karyawan melakukan aktivitas bekerja. Dengan memperhatikan aspek lingkungan kerja yang baik atau menciptakan kondisi kerja kondusif akan yang mampu memberikan motivasi karyawan untuk bekerja dengan baik dan benar berdasarkan prosedur perusahaan, hal ini memberikan pengaruh terhadap semangat kerja /etoskerja karyawan. Pengertian lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan. Suatu kondisi lingkungan kerja dapat dikatakan baik apabila lingkungan kerja tersebut sehat, nyaman, aman dan menyenangkan bagi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya, lingkungan kerja didesain sedemikian rupa agar dapat tercipta hubungan kerja yang mengikat pekerja dengan lingkungan. Lingkungan kerja yang menyenangkan dapat membuat para karyawan merasa betah dalam menyelesaikan pekerjaannya serta mampu mencapai suatu hasil yang optimal (Rahmawati, dkk, 2014).

(39)

28 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di PT. Jabontara Eka Karsa dengan mensurvey 20 Karyawan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja diperoleh nilai 90,23% yang menunjukan katagori interval sangat kuat hubunganya dengan kinerja karyawan. Dan diperoleh persentase 54,6% yang memilih sangat setuju, persentase 42,7%, yang memilih setuju, persentase 1,9% yang memilih kurang setuju, persentase 0,4% yang memilih tidak setuju dan persentase 0,4% yang memilih kurang setuju.

2. Faktor lingkungan kerja diperoleh nilai 90,9% (sangat kuat) hubunganya dengan kinerja karyawan. Dan diperoleh persentase 53% yang memilih sangat setuju, persentase 45% yang memilih setuju, persentase 2% yang memilih kurang setuju.

B. Saran

Pada hasil penelitian yang telah dilakukan di PT. Jabontara Eka Karsa pada tingkat kebisingan alat pelindung diri (APD) yang digunakan masihlah ada kekurangan, sehingga diharapkan untuk kedepannya perlengkapan APD pada tingkat kebisingan perlu dilengkapi, salah satunya adalah penutup telinga (Ear

Plug). Keselamatan dan kesehatan kerja perlu diperha tikan sejak dini sehingga

tidak terjadi kecelakaaan dimasa yang akan datang dan terganggunya kesehatan yang dapat merugikan pekerja.

(40)

29 DAFTAR PUSTAKA

Adia, S. 2010. Gema Budaya K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

http://www.4antum.wordpress.com/2014/11/14/gema-budaya-k3.html. Diakses 15 November 2014

Agus, T. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit PT. Gramedia Pustaka, Jakarta.

Argama, R. 2006. Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai Komponen

Jamsostek. Makalah Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.

Arianto, N.A.G. 2013. Pengaruh kedisiplinan lingkungan kerja dan budaya

kerja terhadap kinerja tenaga pengajar. Universitas islam nahdatul ulama

Jepara.http://localhost.Ucfly.com:solo/reformat/reformat/reformat.php?url =http%3A%2F%2Fjurnal.unly.ac.id%2findex.php%2feconomia%2fartica l%2fdownlod%2fiso9%2f1501&cocokie=&refren%3A%2F%2fwww.goo gle.co.id%2fsearch%3f9%3Dpengaruh%2520kdisiplinan%2520lingkunga n%2520kerja%2520dan%2520budaya%2520terhadap%2520kinerja%252 0tenaga%2520pengajar

Dessler, G. 2007. Manajemen Personalia. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Dewi, R. 2006. Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kinerja

Karyawan pada PT. Ecogreen Oleochemicals Medan Plant. Skripsi

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Medan.

Gomes, M. 2003. Produktivitas Apa dan Bagaimana, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Hargiyarto, P. 2010 Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta

Pencegahan Kecelakaan Kerja. http://www.eprints.uny.ac.id/1237/. Diakses 14 November 2014.

Husni, L. 2005. Hukum Ketenaga kerjaan, Edisi Revisi. Penerbit PT. Raja Grafindo, Jakarta.

Kartono, K. 1995. Manajemen Industri. Penerbit Rajawali, Bandung.

Kurnia, A. 2010. Definisi Analisis Beban Kerja.

http://www.basukisutjianto.com/search/ pengertian-beban-kerja.html. Diakses 15 november 2014.

(41)

30 Malthis, L. dan J.H. Jackson, 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia.

Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Mangkunegara, P. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Modjo, R. 2007. Modul Promosi Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

http://www.staff.ui.ac.id/internal/132096019/modul-promosi-kesehatan-dan-keselamatankerja.pdf. Diakses 15 November 2014.

Nitisemito, A.S. (1991) Manajemen Personalia. Penerbit Ghalia, Jakarta.

Paulus , B. WS. 2007. 22% Karyawan Masih Bekerja di Atas Standar Jam Kerja. http://www.portalhr.com/.../1id675.html. Diakses 15 November

2014

Rahmawati, NP. Swasto, B. dan Prasetya, A. 2014. Pengaruh Lingkungan

Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan Kantor

Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. http://download.portalgaruda.org/article.php%3Farticle%3D189815%26v al%3D6468%26title%3DPENGARUH%2520LINGKUNGAN%2520KE RJA%2520TERHADAP%2520KINERJA%2520KARYAWAN%2520

Ranupandojo, H dan Husnan, S. 2002. Manajemen Personalia. Yogyakarta: BPFE-UGM.

http://www.sucofindo.co.id/pelatihan-pelatihan-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-k3.html. Diakses 16 November 2010

Riduwan. 2013. Dasar-Dasar Stastistik. Penerbit Alfabeta, Bandung.

Rika, A.H. 2009. Manajemen Pabrik Pendekatan Sistem untuk Efisiensi dan

Efektifitas. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Sastrohadiwiryo, B.S. (2003). ManajemenTenaga Kerja Indonesia, Pendekatan

Administratif dan Operasional. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Schermenharn, J.R. (2003) Manajemen (EdisiBahasa Indonesia). Penerbit Andi, Yogyakarta.

Shafiqah Adia. 2010. Gema Budaya K3 (Keselamatan dan Kesehatan

Kerja). http://www.4antum.wordpress.com/2014/11/14/gema-budaya-k3.html. Diakses 16 November 2014

Silalahi, B. 1995. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Penerbit Bina Rupa Aksara, Jakarta.

(42)

31 Suaeb, A. 2009. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Studi Kasus: Pembersihan

Kaca Jendela) Jurusan Teknik Industry , Penerbit Fakultas Teknologi

Industry, Universitas Gunadarma, Jakarta.

http://repository.gunadarma.ac.id/1206/1/KESEHATAN%20DAN%20KE SELAMATAN%20KERJA%20.pdf

Sulistiyani, dan Rosidah, 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Kedua, Cetakan Pertama. Penerbit Garaha Ilmu, Yogyakarta.

Sutrisno, E., 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit Kencana Prenada Media Group, Surabaya.

Veithzal, R. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. Penerbit Rajagrafindo Persada, Jakarta.

(43)

33 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGRI SAMARINDA

RAHASIA

KUESIONER PENELITIAN

PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN

KERJA (K3) SERTA LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

PADA PT. JABONTARA EKA KARSA

Petunjuk pengisian:

1. Mohon berikan jawaban dari masing- masing pilihan yang tersedia dengan memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang Bapak/Sdr pilih disertai dengan menulis secara singkat alasan mengapa Bapak/Sdr memilih jawaban tersebut. Petunjuk Pengisian:

2. Pilihan hendaknya seobjektif mungkin, karena kuisioner ini dapat digunakan secara optimal apabila seluruh pertanyaan terjawab, untuk itu harap diteliti kembali apakah semua pertanyaan telah terjawab.

IDENTITAS REPONDEN 1. No Responden : ……… 2. Tanggal/Bulan/Tahun : .../.../... 3. Umur : …………...tahun

4.Tingkat Pendidikan : SLTP? SMU ? D3? S1 ? S2 ? 5. Masa Kerja : .………….tahun

6. Jenis Kelamin : Laki- Laki ? Perempuan ? 7. Unit Kerja : ...

Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Serta Lingkungan Kerja Te rhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Jabontara Eka Karsa

Pada bagian ini, Bapak/Ibu diminta membantu tanda silang (X) pada salah satu alternatif jawaban yang menurut Bapak/Ibu paling tepat pada a, b, c, d, dan e.

(44)

34 Keterangan

Symbol Keterangan Nilai/Bobot

SS Sangat Setuju 5

S Setuju 4

KS Kurang Setuju 3

TS Tidak Setuju 2

STS Sanagat Tidak Setuju 1

I.FAKTOR KESELAMTAN DAN KESEHATAN KERJA

1. Karyawan perlu memahami tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang dilaksanakan oleh perusahaan

a.Sangat Memahami c. Kurang Memahami e. Sangat Tidak Memahami b.Memahami d. Tidak Memahami

2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat meningkatkan kinerja karyawan dalam mencapai target yang ditetapkan oleh PT. Jabontara Eka Karsa.

a. Sangat Meningkatkan c. Kurang Meningkatkan e. Sangat Tidak Meningkatkan b. Meningkatkan d. Tidak Menigkatkan

3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja pada saat pelaksanaan kegiatan

a. Sangat Mencegah c. Kurang Kurang Mencegah e. Sangat Tidak Mencegah b. Mencegah d. Tidak Mencegah

4. Kesesuaian antara kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan dapat menghindari terjadinya kecelakaan kerja pada saat melaksanakan pekerjaan

a. Sangat Menghindari c. Kurang Menghindari e. Sangat Tidak Menghindari b. Menghindari d. Tidak Menghindari

5. Beban kerja yang diberikan kepada karyawan harus sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya agar dapat menghindari terjadinya kecelakaan kerja

a. Sangat Menghindari c. Kurang Menghindari e. Sangat Tidak Menghindari b. Menghindari d. Tidak Menghindari

6. Kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi karyawan perlu diperhatikan oleh PT. Jabontara Eka Karsa.

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

7. Prosedur pelayanan kesehatan yang diberikan oleh PT. Jabontara Eka Karsa dapat memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan

a. Sangat Memberi Jaminan d. Tidak Memberi Jaminan

b. Memberi Jaminan e. Sangat Tidak Memberi Jaminan

(45)

35 8.Ketersediaan alat pelindung / pengaman pada saat melaksanakan pekerjaan dapat

menghindari terjadinya kecelakaan kerja

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

9.Tindakan pencegahan penyakit dan kecelakaan akibat kerja perlu dilakukan kepada karyawan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

10.Tindakan perawatan dan penyembuhan kepada karyawan perlu dilakukan sebaik-baiknya agar karyawan merasa diperhatikan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

11.Kelengkapan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sangat diperlukan pada waktu pelaksanaan pekerjaan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

12. Pemahaman tentang penggunaan alat Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu dilaksanakan bagi setiap karyawan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

13. Tingkat keamanan pada saat bekerja dengan menggunakan alat pelindung diri sangat diperlukan oleh setiap karyawan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

II. FAKTOR LINGKUNGAN KERJA

1. Kondisi penerangan yang baik dapat mengurangi tingkat kecelakaan kerja pada saat karyawan melaksanakan pekerjaan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

2. Tingkat kesesuaian ruang gerak yang disediakan oleh perusahaan sangat diperlukan untuk melakukan suatu pekerjaan

a. Sangat Diperlukan c. Kurang Diperlukan e. Sangat Tidak Diperlukan b. Diperlukan d. Tidak Diperlukan

3. Tingkat kesesuaian tata letak peralatan kerja dan mesin dapat mendukung proses kegiatan pekerjaan

a. Sangat Mendukung c. Kurang Mendukung e. Sangat Tidak Mendukung b. Mendukung d. Tidak Mendukung

(46)

36 4. Persedian perlekapan kerja yang cukup dapat mendukung terlaksanya pekerjaan dengan

baik

a. Sangat Mendukung c. Kurang Mendukung e. Sangat Tidak Mendukung b. Mendukung d. Tidak Mendukung

5. Kondisi suhu udara yang baik didalam pabrik dapat mendukung terlaksananya pekerjaan dengan baik

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

6. Tingkat pengaruh kebisingan dan getaran diusahakan agar tidak mempengaruhi terhadap hasil kerja karyawan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

7. Tingkat pengaruh radiasi diharapkan tindakan mempengaruhi terhadap hasil kerja karyawan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

8. Tingkat kepedulian karyawan yang sangat tinggi terhadap lingkungannya dapat menghindari kecelakaan kerja

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

9. Tingkat pelaksanaan hubungan antar karyawan terlaksana dengan baik dapat menciptakan kondisi kerja yang menyenangkan bagi setiap karyawan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

10. Kondisi mesin yang sangat baik dapat menghindari terjadinya kecelakan kerja pada saat melakukan pekerjaan

a. Sangat setuju c. Kurang Setuju e. Sangat Tidak Setuju b. Setuju d. Tidak Setuju

(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)

43 Gambar 1. Dan gambar 2 Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3

(53)

44

Gambar 3 dan Gambar 4. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3

(54)

45

Gambar 7 dan Gambar 8. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3

(55)

46 Gambar 11 dan Gambar 12. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3

(56)

47 Gambar 13 dan Gambar 14 Penggunaan APD yang disesuaikan pada karywan

(57)

48 Gambar 15 dan Gambar 16. Pengumpulan data kueisioner

(58)

49 Gambar 17 dan Gambar 18. Pengumpulan data kueisioner

Gambar

Tabel 1. Rekapitulasi dari 20 responden diperoleh data Keselamatan dan  Kesehatan kerja
Diagram 2. Persentase jawaban dari faktor lingkungan kerja.
Gambar 3 dan Gambar 4. Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3
Gambar 9 dan Gambar 10.  Rambu-rambu yang berhubungan dengan K3

Referensi

Dokumen terkait

This research is about the case study of the teaching learning model based on the cognitive moral on Indonesia Language subject in 4th grade in Pasirtamiang 2 Elementary school in a

[r]

[r]

melalui kuesioner, Motif Anggota Komunitas Couchsurfing Surabaya dalam mengakses Website Couchsurfing adalah motif information, motif website preference, motif

Negara Jerman. 4) Peserta didik memperhatikan penjelasan tentang hubungan Indonesia Jerman. 2) Peserta didik berdiskusi dengan kelompok yang sudah dibentuk diawal

Dari keempat jenis ikan Channidae tersebut di atas, kalau diurutkan berdasarkan panjang dan berat tubuh, maka dapat diurutkan sebagai berikut : urutan pertama,

[r]

Luas lahan sawah Jawa Barat 2002-2012 yang dihasilkan dari klasifikasi kelas penggunaan lahan sawah berbasis citra MODIS pada penelitian ini kemudian dibandingkan