PELAKSANAAN FUNGSI SOSIALISASI DALAM PEMBENTUKAN
KARAKTER ANAK KELUARGA NELAYAN
DI KAMPUNG SUNGAI BUNGIN KECAMATAN BATANG KAPAS
KABUPATEN PESISIR SELATAN
ARTIKEL
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
WILIA SANDRA
NPM: 11070167
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
STKIP PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
PELAKSANAAN FUNGSI SOSIALISASI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK KELUARGA NELAYAN
DI KAMPUNG SUNGAI BUNGIN KECAMATAN BATANG KAPAS KABUPATEN PESISIR SELATAN
Wilia Sandra1Drs. NildaElfemi, M.Si 2,Erningsih, S.sos, M.Pd3 Program Studi Pendidikan Sosiologi
STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT
Family is a group of two or more people are bonded by ties of blood, marriage, or adoption and living together as a family is the first institution to be known by an individual in its infancy and the introduction of values to shape the behavior of children. Also, the children of fishermen in Kampung Sungai Bungin who some of them are taken care by their relatives and living environment, whereas their father is working as a fisherman father and their mother also work outside to improve the economic needs of the family. Thus, the formulation of the problem in this research is how the Family Socialization Function Implementation Fishermen in character formation in Kampung Sungai AnakBungin, District BatangKapas, South Coastal District. Furthermore, the purpose of this research is describing the performance of the functions of socialization in shaping the character of children.
The theory used in this research is the theory of exchange by George Homans. The method used is qualitative method with descriptive analytical approach. Determination of informants conducted by purposive sampling, establishes fishing families in Sungai Bungin Village, BatangKapassubdistrict, Pesisir Selatan as informants. Collected data is primary data which is obtained from the data in the form of interviews collection. The unit of analysis is the family with Mile &Hubermen’s data analysis, such as the reduction steps, the data presentation / data analysis, and conclusion.
Based on the research results, the conclusions has been obtained as follows: (1) parents carry out the function of socialization when parents are at home, (2) parents teach children good communication, etiquette, polite and courteous to everyone and teach prayer, (3) parents teach children after the afternoon prayer and time with children, (4) the child is left to be taken care by grandmother and aunt, when the child does not come home is not sought, the child's grandmother and aunt said gross silent or advised not scold the child.
Keyword : Family, character, socialization, children
PENDAHULUAN
Keluarga merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang direkat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi serta tinggal bersama (Suhendi dan Wahyu, 2000:41). Keluarga terdiri dari ayah, ibu, anak yang saling membutuhkan satu sama lain. Karena keluarga merupakan awal dari perkembangan diri anak.
Adapun jenis-jenis keluarga yang terdapat dalam masyarakat yaitu yang pertama keluarga batih ( nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya yang belum memisahkan diri dan membentuk keluarga sendiri. Kedua
keluarga luas (Extended Family) yaitu keluarga yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek nenek yang sama termasuk keturunan masing-masing istri dan suami (Suhendi dan Wahyu, 2000: 54-55).
Dalam sebuah keluarga tidak terlepas dari fungsi- fungsi keluarga yang akan membuat sebuah keluarga itu menjadi utuh dan bahagia. Beberapa fungsi dari keluarga sebagai berikut:
1. Fungsi biologis yang berkaitan erat
dengan pemenuhan kebutuhan seksual suami istri
2. Fungsi sosialisasi anak menunjukan pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak.
3. Fungsi afeksi salah satu kebutuhan dasar manusia ialah kebutuhan kasih sayang atau rasa cinta.
4. Fungsi edukasi keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik manusia hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan seorang anak mulai dari belajar jalan-jalan, hingga mampu berjalan.
5. Fungsi religius dalam keluarga merupakan salah satu indikator keluarga sejahtera.
6. Fungsi proteksi keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi keluarganya. 7. Fungsi rekreasi bertujuan unuk
memberikan suasana yang segar dan gembira dalam lingkungan keluarga. 8. Fungsi ekonomis bahwa keluarga
adalah unit primer yang memproduksi kebutuhan ekonomi (Suhendi dan Wahyu, 2000:45-51).
Berpijak pada defenisi keluarga di atas bahwa keluarga merupakan lembaga pertama sekali dikenal oleh seorang individu dalam masa pertumbuhannya. Dalam pelaksanaan pendidikan peranan keluarga juga tidak kalah pentingnya. Keluarga adalah unit unit sosial terkecil yang paling efektif menanamkan nilai-nilai budaya, karena di dalam lingkungan keluarga hubungan emosional terjalin dengan akrab dan intensif, sehingga memungkinkan berlangsungnya proses pendidikan. Melalui proses pendidikan lingkungan keluarga anak-anak dapat disiapkan dan dilatih untuk memenuhi fungsi dan peranannya dan dapat dipersiapkan untuk memasuki lingkungan yang lebih luas yakni lingkungan masyarakat.
Anak adalah manusia yang sedang berkembang dan penerus tradisi keluarga. Dalam keadaan normal lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tua, dan saudara-saudara yang lebih tua. Melalui lingkungan ini anak mengenal dunia dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari, dan anak mengalami proses sosialisasi awal.
Pada hakikatnya, para orang tua mempunyai harapan agar anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, tahu membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik, tidak mudah terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Harapan ini kiranya akan lebih muda terwujud
apabila sejak semula, orang tua telah menyadari peranan mereka sebagai orang tua yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak (Gunarsa, 1987 : 60).
Anak sebagai anggota keluarga harus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang baik yang bisa mengurus dirinya sendiri, dan tidak bergantung dan menimbulkan masalah pada orang lain, pada keluarga atau masyarakatnya(Gunarsa, 1987:15). Setiap individu menjalani proses sosialisasi yang berbeda, tergantung pada keluarga tempat dimana individu dilahirkan, pelaku yang disosialisasikan aktor-aktor yang berada di belakang yang menjadi agen sosialisasi tersebut serta aspek-aspek budaya para agen yang mensosialisasikan, sosialisasi anak dalam keluarga dipengaruhi oleh faktor latar belakang keluarga yaitu ekonomi keluarga, khususnya menentukan perkembangan sosial anak (Gerungan , 1991 : 185)
Kondisi ekonomi biasanya berhubungan dengan mempertahankan kelangsungan hidup keluarga mereka, artinya mereka harus bersosialisasi dalam mencari cara atau strategi dalam mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Salah satu usaha yang dilakukan oleh masyarakat adalah dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya adalah bekerja di bidang informal. Salah satu bentuk pekerjaannya adalah bidang sektor informal adalah sebagai nelayan. Nelayan adalah sejenis pekerjaan yang ada diperain laut dan merupakan mata pencaharian yang keberadaannya pada pesisir pantai. Golongan masyarakat pesisir yang dapat dianggap paling banyak memanfaakan hasil laut dan potensi lingkungan perairan pantai untuk kelangsungan hidupnya(Purba, 2005 : 36).
Pekerjaan sebagai nelayan merupakan pekerjaan yang banyak waktu di atas kapal. Rute kapal yang dilalui oleh ayah seperti, melaut ke Pagai, Mentawai dan butuh waktu seminggu sekali ke tepi pantai dalam memenuhi bekal untuk berlayar lagi. Sedangkan ibu memiliki pekerjaan diluar rumah sebagai pengelola ikan basah seperti, ikan sepat, ikan bada, ikan tete dan lain-lain. Waktu yang digunakan ibu banyak ditempat kerja dari pada dirumah, selain menjadi pengelola ikan ibu juga menjadi pekerja rumah tangga. Maka dari itu pelaksanaan
sosialisasi yang dilakukan oleh kedua orang tua tidak maksimal kepada anak.
Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 15 Januari 2015 dengan kepala kampung Sungai Bungin (Safrizal 36 tahun) terdapat 80% orang tua pekerja sebagai nelayan dan ibu pekerja di luar rumah. Dengan kondisi pekerjaan oleh kedua orang tua dalam melakukan pekerjaan masing-masing, kurang memiliki waktu dan kesempatan untuk mensosialisasikan dengan anak, karena waktu yang ada pada harinya mereka habiskan untuk bekerja, sedangkan orangua tidak memiliki waktu yang banyak untuk mengasuh dan mendidik anak, karena terbatasnya waktu yang mereka miliki untuk bersosialisasi.
Oleh karena itu, anak-anak nelayan lebih banyak bersosialisasi dengan orang lain yang bukan orang tuanya seperti, dengan saudara bapak, atau ibu yang menjadi pengasuh, atau dengan tetangga, serta teman sepermainan hal ini menggambarkan kurang berjalanya fungsi keluarga terhadap anak. Dengan demikian terjadi hambatan kasih sayang dan komunikasi antara orangtua dengan anak, sehingga mempengaruhi prilaku anak.
Sehubungan dengan hal di atas, observasi yang telah di lakukan pada tanggal 30 Januari 2015 di Kampung Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. Anak-anak yang berusia 2 sampai 12 tahun Ketika bermain dengan teman sebaya mereka berkata kotor, mencaci maki, dan carut marut. Anak-anak tersebut merupakan anak dari keluarga nelayan dan ibu pekerja rumah tangga. ini merupakan hal yang menarik untuk di teliti di Kampung Sungai Bungin Kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan dengan judul “Pelaksanaan Fungsi Sosialisasi dalam Pembentukan Karakter Anak Keluarga Nelayan “ di Kampung Sungai Bungin Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan”.
JENIS PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan padaJuli 2015. Lokasi penelitian ini adalah di DesaBalaiRajoKecamatan VII Koto IlirKabupatenTebo.Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian
kualitatif dan tipe penelitian ini adalah deskritif. Metode pemilihan informan dalam penelitian ini adalah dengan cara purposive
sampling (Afrizal, 2014:139-142). Dalam
penelitian ini, penelitian menggunakan data primer dan data skunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan studi dokumen. Model analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data Miles dan Huberman.
HASIL PENELITIAN
A. Bentuk Pelaksanaan Fungsi Sosialisasi Yang Dilakukan Orang Tua Terhadap Karakter Anak a. Membangunkan anak dan menyuruh
sholat subuh
Hal ini dilakukan oleh keluarga nelayan, biasanya yang membangunkan anak pada waktu subuh adalah ayah dan ibu. Ibu membangunkan anak dan menyuruh cuci muka dan berwudhu lalu mengerjakan sholat subuh, anak-anak yang tidak mau sholat biasanya ayah memukul dinding kamar dengan kayu sampai anak bangun, kemudian baru di suruh untuk sholat.
Pelaksanaan fungsi sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua pada waktu subuh bersama ayah dirumah yaitu memebangunkan anak dengan cara memukul dinding kamar sampai anak terbagun jika anak belum bangun juga, orang tua tidak membangunkan anak sehingga anak tidak mengerjakan sholat subuh, ayah dan ibu tidak terlalu mnegeraskan anaknya. Oleh karena itu anak tidak takut pada ayah dan ibunya jika tidak sholat subuh.
b. Menyuruh Anak Mandi
Di Kampung sungai masyarakat pada umumnya mandi dan segala kegiatan menggunakan air. Seperti mencuci dan lainnya di tempat pemandian umum, ada juga yang di rumah sendiri. Begitu juga dengan anak-anak mereka mandi ke tempat pemandian umum, pada setiap pagi sekitar jam 5 pagi di suruh pergi mandi tanpa di dampingi oleh orang tuanya, mereka hanya melakukannya sendiri. Mereka hanya melakukan sebatas keinginan mereka sendiri. Terkadang hanya membasahkan badan saja, tanpa menyabun, dan mencuci muka saja.
c. Memberikan Nasehat Sebelum Anak Berangkat Sekolah
Setelah anak-anak mandi dan mempersiapkan diri untuk kesekolah yaitu sekitar jam 6 pagi karena anak pergi kesekolah berjalan kaki dengan jarak 2 KM. Dalam hal berpakain anak melakukannya sendiri, ibu sibuk dalam urusan dapur dan menyiapkan bekal ayah, begitupun ayah juga menyiapkan perlengkapan untuk pergi melaut. Setelah hidangan siap dan anak juga sudah siap untuk berangkat kesekolah, maka semua anggota keluarga secara bersama makan bersama, sambil makan dengan anak maka orang tua memberikan nasehatnya bagaimana anak dirumah setelah ayah pergi melaut dan ibu juga pergi bekerja, ungkapan orang tua terhadap anak tidak membuat anak takut untuk melanggar apa yang di katakan oleh orang tua,.
Para orang tua selalu mengingatkan anak untuk tidak keluyuran, tidak berkata kotor, pergi bermain tidak jauh dari rumah, tidak mencuri, jika pulang sekolah langsung ke rumah. Jika setelah mereka pulang ternyata anak melanggar maka anak akan dipukul. Nasehat sudah diberikan anak pun berangkat kesekolah tanpa di antar orang tua, sebab setelah mereka makan ibu dan ayah juga berangkat kerja masing-masing.
Hal ini terlihat adanya pelaksanaan fungsi sosialisasi yang diberikan oleh orang tua tidak berjalan dengan baik, karena orang tua percaya atas apa yang dilakukan anak dan kurang memperhatikan kegiatan anak orang tua sibuk dengan kegiatan masing-masing, orang tua tidak pernah menanyakan kepada anak bagaimana kegitan anak, anaknya dilepas dan dibiarkan melakuknya sendiri tanpa ada yang membantu seperti mandi, makan, berpakaian, dan lain-lain).
orang tua telah berusaha untk mendidik anak supaya anak menjadi anak yang baik dan disenangi oleh masyarakat, orang tua sudah hati-hati berbicara jika marah kepada ibu, bapak lebih memilih diam karena anak-anak bapak OL Berdasarkan hasil wawancara bapak SR sangat hati-hati dalam berbicara dengan anaknya, jika dia berbeda pendapat dengan istrinya dia memilih diam dan akan menyelesaikannya ketika anak tidak di
rumah, semenjak dari kecil anak bapak SR sudah diberitahukan berkata kotor tidak baik, bagaimana menghormati orang tua, menahan emosi, dan bersikap diam jika tidak menyukai prilaku adik atau orang lain, merapikan mainan, mencuci piring selesai makan. Bapak SR sudah berusaha untk mengajari anak tidak boleh berkata kotor, mencuri, berbohong, namun anak bapak SR yang bernama MD berusia 12 tahun dan NV 10 tahun masih berkata buruk, mencuri, berbohong.. Karena Bapak SR tidak selalu di rumah, bapak SR tidak tahu bahwa anak bertingkah laku tidak sopan, berkata kotor, berbohong dan mencuri, selama bapak SR pergi bekerja.
cara berkomunikasi yang baik kepada anak, jika meminta makan tidak boleh menangis, tidak boleh berbicara ketika makan, tidak boleh meminta uang didepan tamu, menghormati orang yang sedang berbicara, rajin bekerja, namun anak pak IM yang bernama IS (7 tahun), ketika bermain masih berkata kotor, carut marut, tidak sopan kepada orang yang lebih tua, ini terlihat nilai-nilai yang telah disosialisasikan tidak membuat anak lebih baik karena orang tua memiliki waktu yang sedikit bersama anak sehingga orang tua tidak bisa memberikan sanksi terhadap perilaku anak, sedangkan tetangga dan masyarakat lainya hanya memberikan teguran saja tanpa ada penegasan terhadap perilaku anak.
B. Bentuk Sosialisasi yang Diberikan Oleh Orang Tua Setelah Pulang ketika ayah di Rumah.
Pembahasan dalam sub bab ini, menjelasakan bagaimana orang tua memberikan mensosialisasikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat setelah satu bulan menjadi melaut, pada umumnya mereka pulang ketika bulan terang pada tanggal 14-20 dalam tiap bulannya. Karena pada tanggal 14-20 itu merupakan waktunya libur bagi nelayan, mereka pulang untuk memberikan uang kepada istri dari hasil tangkapan ikan tersebut. Biasanya mereka kembali bekerja pada tanggal 22 pada tanggal ini aktivitas mereka kembali melaut lagi. Selama dirumah orang tua mereka juga pergi kekebun untuk membersihkan kebun, mencangkul sawah dan sekali-kali bermain bersama anak, ketika anak berkata kotor
sebagian dari orang tua tidak memarahi anak tetapi tertawa melihat anak berkata kotor.
orang tua pulang dari melaut, setelah beberapa hari tidak berkumpul bersama semua anggota keluarga, sudah memberikan nasehat kepada anak disamping kesibukan bapak melaksanakna pekerjaan selama di rumah, anak-anak sudah didik ketika berumur 2 tahun, bapak sudah mengajari makan pakai tangan kanan, dan mengawali pekerjaan dengan bismillah, mengajarkan cara berbicara yang baik namun dalam pernyataan di atas terihat ketidak tegasan orang tua memberikan punishment terhadap ingkah laku anak, bapak hanya tertawa melihat anak berkata kotor, seharusnya bapak langsung memberikan hukuman agar anak takut untuk berkata kotor. Anak-anak selama bapak dirumah mereka juga sering menonton flim yang bertema perang dan tinju atau gulat.
C. Aktor Yang Terlibat dalam Pengasuhan Anak
Keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang direkat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi serta tinggal bersama. Keluarga juga dapat didefenisikan sebagai kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan terus-menerus, yang tinggal satu atap yang mempunyai ikatan emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan orang yang lainnya (Anomius, 1995:471)
Keluarga merupakan kesatuan masyarakat yang terkecil, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya (keluarga inti/batih), dan keluarga juga bisa kerabat yang lain seperti mamak, etek, dan nenek lainnya atau biasa di sebut keluarga besar. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi dengan orang tuanya dan dalam keluarga jugalah pengasuhan yang pertama dilakukan oleh orang tuanya, di dalam kelurga nelayan pada masyarakat Kampung Sungai Bungin ini sangat sulit ditemukan idealnya orang tua harus berperan dalam melasanakan fungsi mensosialisasikan nilai dan norma serta menjadi pendidik bagi anak-anaknya, oleh karena itu pengasuhan terhadap anak tidak bisa dilakukan oleh oarang tuanya.
sebelum mereka pergi bekerja sebagai nelayan mereka memberitahukan
dulu kepada nenek anak-anaknya, agar dapat menjaga dan melihat anaknya ketika mereka tidak berada di rumah, namun pengasuhan dan pelaksanaan dan mensosialisasikan nilai-nilai dengan baik oleh kelurga luas oleh nenek dan etek (bibi) kepada anak tidak di temukan. Faktanya setelah orang tua berangkat anak-anak pun jarang berada di rumah, malah lebih lama di luar rumah dari pada di dalam rumah, pihak keluarga luas yang diharapkan untuk menggasuh anak sebagai pengganti orang tuanya belum berperan sebagaimana yang dirapkan oleh orang tua mereka yang menitipkan anaknya. a. Pengasuhan Oleh Nenek
Sebagai salah seorang anggota keluarga besar nenek adalah salah satu aktor yang terlibat dalam memberikan pengasuhan kepada anak-anak dari nelayan. Keterlibatan nenek dalam memberikan pengasuhan kepada anak-anak (cucu-cucu) dalam keluarga nelayan Kampung Sungai Bungin Kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan tidak memberikan konribusi yang banyak. Seperti yang seharusnya anak-anak dapatkan, hanya saja melihat dan mengawasi anak-anak dari jauh, hal ini di karenakan oleh kesibukan mereka, sesekali nenek melihat cucunya seperti pada waktu makan, yakni, pagi, suhur dan magrib. Tetapi untuk berbicara langsung dengan cucunya relatif sangat jarang, hanya pada waktu pagi saja sebelum berangkat ke sekolah saja mereka bertemu dan berkomunikasi, sedangkan pada siang hari anak-anak tidak ada lagi dirumah, begitu juga saat nenek datang pada waktu sore untuk mengangkat baju yang sudah di cuci oleh nenek juga tidak bertemu karena cucunya sudah magrib baru pulang ke rumah.
setiap pengasuh memilki cara didikan tersendiri, dan model sikap yang dihadapi oleh pengasuh seperti bu BY, anak yang diasuh berinisial FJ merupakan salah seorang anak yang suka berkata kotor tidak suka dinasehati, FJ tidak dinasehati secara baik oleh orangtua ketika FJ berkata kotor, orangtua memarahi anak sehingga anak terbiasa hidup dalam kondisi yang keras, jadi sosialisasi yang dilakukan keluarga kurang berjalan dengan baik maka perlu dilakukan oleh orang tua yaitu (1) Memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak serta lebih meningkatkan perhatian terhadap anak agar perilaku anak terbentuk
sesuai dengan nilai dan norma yang ada seperti sering memberikan masukan yang baik kepada anak, (2) Berusaha untuk mengetahui semua kegiatan yang dilakukan anak seperti tempat dan teman bermain anak.
b. Pengsuhan Oleh Saudara Ibu
Dalam keluarga nelayan anak-anak juga di berikan pengasuhan oleh saudara ibunya. Sama halnya seperti nenek yang memberikan pengasuhan terhadap anak-anak nelayan jika orang tua nya pergi bekerja, yaitu hanya sekedar melihat dan dan menegur jika mereka bertemu, hanya saja mengantarkan nasi dan gulai kerumah saudarinya tersebut. Tetapi untuk bertemu untuk mereka pun jarang, di samping kesibukan mereka juga mengurus anakmereka sendiri.
c. Pengsuhan Oleh Saudara Ibu
Dalam keluarga nelayan anak-anak juga di berikan pengasuhan oleh saudara ibunya. Sama halnya seperti nenek yang memberikan pengasuhan terhadap anak-anak nelayan jika orang tua nya pergi bekerja, yaitu hanya sekedar melihat dan dan menegur jika mereka bertemu, hanya saja mengantarkan nasi dan gulai kerumah saudarinya tersebut. Tetapi untuk bertemu untuk mereka pun jarang, di samping kesibukan mereka juga mengurus anakmereka sendiri.
D. Pembahasan
Dalam pelaksanan fungsi Sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga nelayan seharusnya mereka memberikan reword dan panisment atas tindakan yang dilakukan oleh anak. Dalam proposisi ini George Humans menyatakan bahwa bila seseorang berhasil memperoleh ganjaran atau menghindari hukuman, maka ia akan cendrung untuk mengulangi tindakan tersebut. Didalam hal ini anak hanya sering diberikan punishment oleh kedua orang tua sedikit sekali orang tua memberikan reword atas prilaku yang baik dilakukan oleh orang tua, karena orang tua memilki waktu yang banyak berada di rumah. Apakah anak melakukan perintah sesuai dengan nilai yang telah di sosialisasikan atau tidak itu tidak di ketahui oleh orang tua dengan baik. Sehingga anak merasa jenuh atas apa yang mereka lakukan karena reword nya tidak ada
dari kedua orang tua, oleh karena itu anak mengulangi tindakan yang memili arti bagi anak yaitu, anak berkelahi, berkata kotor, berkeluyuran, hal ini merupakan bernilai bagi dirinya, kerena anak merasa dianggap oleh kelompoknya dibandingkan oleh keluarganya sendiri.
Dalam teori ini jika suatu itu bernilai bagi seseorang di bandingkan dengan hadiah yang ia dapatkan karena, makin tingi nilai hasil tindakan seseorang bagi dirinya, maka makin besar pula kemungkinan ia melakukan tindakan yang diinginkan dibandingkan jika hadiah tidak bernilai. Jadi hal ini yang terjadi didalam keluarga nelayan di Kampung Sungai Bungin. Anak anak melakukan tindakanya karena kurang perhatian dari kedua orang tua dan keluarga luas tempat anak dititip. Sehingga anak melakukan hal yang melakukan tindakan yang bernilai bagi dirinya, seperti bermain ada sesuatu yang membuat anak senang dengan pergaulannya, anak bebas melakukan apa saja bersama teman-temannya di bandingkan jika anak besama keluarganya. Dalam teori Homans ini seseorang akan berhenti melakukan suatu tindakan jika ada panisment dan reword nya setimpal di berikan, Teori pertukaran dalam pemikiran Homans berasumsi bahwa orang yang terlibat dalam perilaku untuk memeperoleh ganjaran yang diberikan maka akan semakin cendrung tidak akan mengulangi tindakan tersebut begitu juga sebaliknya jika semakin tinggi hukuman (
punishment) yang diterima maka seseorang
cendrung tidak akan mengulangi tindakan tersebut (Upe 2010:177-178). Jadi Proses sosialisasi tidak sewajarnya diberikan kepada orang lain. Karena peran orang tua sangat besar dalam proses sosialisasi ini sebab dari anak akan meniru segala yang dilihat dan dipelajari dari orang tuanya. Apabila orang tua tidak menjalani fungsi sosialisasi dengan baik, problem yang akan muncul adalah anak kehilangan perhatian. Setelah itu dia mencari tokoh lain selain orang tuanya untuk ditiru.
Semua masyarakat sangat menggantungkan diri kepada keluarga dalam hal sosialisasi sebagai persiapan untuk memasuki usia dewasa agar anak dapat berperan secara positif ditengah-tengah masyarakat. Salah satu caranya adalah melalui pemberian model bagi anak. Anak
belajar menjadi laki- laki, suami, dan ayah dengan keluarga yang betul–betul dipimpin oleh laki- laki. Sosialisasi akan menemukan kesulitan apabila model semacam itu tidak ada dan bila anak harus mengandalkan diri pada model yang disaksikan dalam keluarga lain. Dalam proses sosialisasi tidak ada peran pengganti ayah dan ibu yang betul-betul memuaskan. Sejumlah studi mutakhir menyimpulkan bahwa alasan utama perbedaan perstasi intelektual anak adalah suasana dalam keluarga. Studi semacam ini semakin menegaskan bahwa keluarga merupakan faktor utama bagi sosialisasi anak. Sebaliknya, dalam keluarga yang serba susah dan menghadapi berbagai masalah kemiskinan yang mencekik, problem sosialisasi dalam keluarga tidak dapat berjalan normal. Keluarga seperti ini akan menyosialisasikan anak-anak dan ketergantungan terhadap orang tua.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan tujuan dari penelitian maka dapat disimpulkan bahwa orangtua menjalankan fungsi sosialisasi ketika orangtua berada di rumah saja.
2. Pelaksanaan fungsi sosialisasi yang dilakukan oleh orangtua seperti: mengajarkan anak berkomunikasi yang baik, mengajarkan tata krama, mengajarkan sopan dan santun, menanamkan nilai spiritual seperti: sholat, berkata yang benar. Mengajarkan nilai-nilai yang baik seperti jujur, rajin, tolong-menolong,
berinteraksi yang baik dengan masyarakat
3. Mereka mendidik anaknya ketika selesai sholat magrib, pelaksanaan fungsi sosialisasi tidak berjalan lagi selama orangtua tidak di rumah, karena orangtua sibuk bekerja, anak ditinggalkan dengan pengasuh. Jika anak tidak pulang ke rumah pengasuh tidak mencarinya,tidak mengingatkan anak sholat, tidak mengingatkan anak belajar. Tidak memarahi anak berkata kotor, tidak melarang anak pakai baju sempit.
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT Raja Grafindo
Gerungan. 1991. Psikologi Sosial. Bandung : PT Eresco
Gunarsa, Singgih D. 1987.Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja.
Jakarta : Gunung Mulia. Purba,
Jonny.2005.PengelolaanLingkunga
nSosial. Jakarta: YayasanObor Indonesia.
Suhendi, H HendidanRamdaniWahyu. 2000.
PengantarStudiSosiologiKeluarga.
Bandung: CvPustakaSetia.
Upe, Ambo. 2010. Tradisi dalam Sosiologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.