Ternbusan :
1. Yth. Pirnpinan Badan Pcngkajian MPR. 2. Yl11. Sesjen dan Wasesjen MPH.
Yana
Indr
a
wan
A.N. SEKRET/\RIS JENDERAL MPR, KEPALA BIRO PENGl<AJIAN
kasih.
Dengan horrnat karni bcritahukan. Hadan
P
erigkaj
i
an
MPR akan merigadakan Lomba Academic Constitutional Drafting bag: para mahasiswa Fakultas Hukurn. terutarna Program Studi Hukurn Tata Negara. Untuk itu. karni mengunclang Fakultas Hukurn Universitas Diponegoro untuk mengikuLi lomba dimaksucl. Ketentuan lomba dapat dibaca padak
e
r
angka a
c
u
a
n
scbagaimana terlampir. ·U
n
t
u
k
informasi lebih lanjut dapat menghubungi Saudara Riswandi No. Telepon08
1
1.666.
9
56
da
n
Ka
rt
i
k
a
Lestari Sianipar No. Telcpon0
8
11
.9699
.
788,
No.K
a
n
to
r
(0
21)
5789-5
4
14/
578
9
-5
41
5,
da
n
e-mail: µ[email protected], badan. pengkajia n@setjen. rn pr.go.id ata u bi ro.pengka] ia n@gma i I.corn.Dcmikian, atas perhatian dan kerjasarna Bapak Dekan, kami mengucapkan terima
Kepad
a
Yth.D
e
kan
F
a
kult
a
s
Hukurn
Universitas Diponegoro di Semarang : Bia~a : 1 (satu) berkas : Lomba Academic Constitutional Drafting2
4 A
g
us
t
us
2
01
6
: 8-2232/PJ. 07 /8-V 11 /Scljen M PR/08/2016 Nomor Sifa
t
Lampi ran Perihal-
-
KERANGKA ACUAN LOMBA
ACADEMIC CONSTITUTIONAL DRAFTING
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYATREPUBLIK INOONESIA "'··::::~) .,
.
-
.
•',
.: .:t. ·~ ;.i • • ... · fI
I
3.
Dalam rangka melatih mahasiswa untuk mulai memikirkan penataan kehidupan kenegaraan, sekaligus mendapatkan masukan bagi Badan Pengkajian MPR, diadakan LombaAcademic Constit
u
tio
n
al Draft
in
g
.
2. Salah satu muatan yang perlu penataan adalah melakukan reformulasisistem perencanaan pembangunan nasional dengan model GBHN sebagai haluan penyelenggaraan negara.
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat masa jabatan 2009-2014 telah menyampaikan rekomendasi kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat masa jabatan 2014-2019 untuk melakukan penataan sistem
ketatanegaraan Indonesia melalui perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan tetap berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum negara dan Kesepakatan Dasar untuk tidak mengubah Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tetap mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, mempertegas sistem pemerintahan presidensial serta melakukan perubahan dengan cara
adendum.
A
.
P
E
NDAHULUAN
KERANGKA ACUAN LOMBA
ACADEM
IC CONST
ITUTI
ONAL DRA
FTI
NG
M/\JELIS PERMUSYAW/\RATAN RAKYAT llEl'UBLII< INDONF.SI/\
Terna bahasan dalam Lomba Academic Constitutional Drafting ini
adalah Reformulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Model GBHN. Terdapat beberapa alasan mengapa Indonesia memerlukan sistem
perencanaan pembangunan nasional model GBHN. Pertama, negara seluas
Indonesia memerlukan haluan negara sebagai pemandu arah pelaksanaan pembangunan nasional yang berkesinambungan. Kedua, diperlukan integrasi sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Ketiga, diperlukan
sistem perencanaan pembangunan yang berbasis kedaulatan rakyat.
Dengan dihapuskannya kewenangan MPR untuk menetapkan GBHN,
maka sistem perencanaan pembangunan nasional tidak berlandaskan pada
Ketetapan MPR tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tetapi berlandaskan pada Undang-Undang tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Peraturan Presiden tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun berdasarkan
Visi dan Misi cal on Presiden dan Wakil Presiden terpil ih.
Dengan model sistem perencanaan pembangunan nasional yang
demikian memungkinkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RP JPN) dilaksanakan secara tidak konsisten dalam setiap periode pemerintahan mengingat implementasi Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RP JMN) didasarkan kepada visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden terpilih dalam pemilihan umum, yang masing-masing dapat
memiliki visi dan misi yang berbeda dalam setiap periode pemerintahan. Demikian pula antara sistem perencanaan pembangunan nasional dan sistem perencanaan pembangunan daerah, kemungkinan berpotensi terjadi ketidakselarasan pembangunan mengingat sistem perencanaan pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) tidak terikat untuk mengacu pada sistem perencanaan pembangunan menengah nasional (RPJMN) mengingat visi dan misi Gubernur/Bupati/Walikota yang mungkin dapat berbeda dengan Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden terpilih,
3
1
pembangunan nasional harus berbasis kedaulatan rakyat, maka Lembaga
Negara yang paling tepat diserahi wewenang untuk menetapkan sistem
perencanaan pembangunan nasional model GBHN adalah MPR, karena MPR terdiri atas anggota DPR sebagai perwakilan politik, dan anggota DPD yang
merupakan perwakilan daerah. Dengan alasan itulah, bentuk hukum yang
tepat bagi sistem perencanaan pembangunan nasional model GBHN adalah Ketetapan MPR.
Untuk itu, MPR perlu melakukan perubahan ke-5 Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dengan memberi wewenang kepada MPR untuk menetapkan Haluan Negara dalam bentuk Ketetapan
MPR. Pertimbangan perlunya sistem perencanaan pembangunan nasional
model GBHN dituangkan dalam bentuk hukum Ketetapan MPR karena sistem perencanaan pembangunan nasional model GBHN merupakan peta jalan, strategi, dan arah serta sasaran pembangunan nasional bagi seluruh
komponen bangsa untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional
sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian, sistem perencanaan
pembangunan nasional model GBHN perlu diberikan daya ikat dan daya dorong yang lebih kuat agar ditaati oleh seluruh komponen bangsa dalam pelaksanaannya, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Dengan bentuk hukum Ketetapan MPR, sistem perencanaan pembangunan nasional model GBHN dapat menjadi alat kendali untuk
mengukur ketepatan "perencanaan pembangunan jangka menengah" dalam
bentuk RPJMN yang diberi bentuk hukum Undang-Undang. Walaupun Presiden dan Wakil Presiden telah dipilih langsung oleh rakyat dan tidak ada lagi mekanisme pertanggungjawaban politik Presiden kepada MPR, namun
Ketetapan MPR tentang sistem perencanaan pembangunan nasional model
GBHN dapat dijadikan "batu uji" dalam konteks pcngujian konstitusional,
mengingat secara teoritik, Ketetapan MPR merupakan aturan dasar
b
e
rn
ega
r
a
(Staat
sger
und
geze
t
s),
sama seperti Undang-Undang Dasar.Artinya, masyarakat dapat menjadikan Ketetapan MPR tentang sistem perencanaan pembangunan nasional model GBHN untuk menilai apakah
Naskah Academic Constitusional Drafting dalam bcntuk PDF dikirimkan kc
tanggal 20 Oktober 2016.
1. Tiap Peserta/Tim mengirimkan naskah Academic Constitusional Drafting, yaitu
usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 beserta alasan dan naskah akademiknya, selambat-lambatnya
E.
KETENTUAN PERLOMBAAND. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN LOMBA
1. Lomba
Ac
a
de
mi
c Cons
ti
t
u
s
ion
o
i
Dr
a
ftin
g
akan dilaksanakan di Jakarta(G
e
dun
g
MPR), p
a
d
a
tan
gga
l
2
0-
22
Nov
e
mb
e
r 2016
(Jika ada perubahantanggal akan segera diberitahukan kepada peserta lomba).
2. Biaya transportasi dan akomodasi bagi peserta yang lolos pada Putaran
Final menjadi tanggungan Sekretariat Jenderal MPR.
3. Jumlah peserta yang ditanggung oleh Sekretariat Jenderal MPR adalah
5
(lima) orang mahasiswa peserta lomba dan 2 (dua) orang dosen
pembimbing.
4.
Setiap peserta lomba (mahasiswa dan dosen pembimbing) mendapatkanuang saku yang besarannya akan ditentukan kemudian.
C. PESERTA
1. Peserta Lomba
!lcademic Con
s
titu
s
iona
l
Draft
in
g
adalah mahasiswahukum dari perguruan linggi/universitas di Indonesia.
2. Peserta merupakan kelompok/tim yang beranggotakan 5 (lima) orang
mahasiswa.
3. Universitas/Perguruan Tinggi yang diundang mengikuti lomba hanya
dapat mengirimkan
1
(s
a
tu) kelompok
/
tim.
4. Setiap tim dapat didampingi oleh sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang
dosen pembimbing.
5
1
No. Penilaian Sidang Bo bot Skor Skor
Terbobot --
Cara Penyampaian Presentasi Berkas:
-
Sistematika Penyajian1 Materi. 35%
- Sikap.
-
Tata Bahasa.Kebenaran dan Ketepatan Jawaban:
2
-
Pemahaman terhadap35
%
materi.
- Diksi, teori, dan doktrin
1.
Penilaian Sidang
F.
KRITERIA PENILAIAN
7. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
6. Dewan Juri akan menentukan pcringkat terbaik dari masing-masing Peserta.
Tata Negara yang akan ditentukan kemudian.
5. Dewan Juri terdiri dari Pimpinan/Anggota Badan Pengkajian dan Pakar Hukum
Drafting, dan 45 menit untuk sesi tanya jawab.
hadapan Dewan Juri.
4. Pada babak final masing-masing Kelompok/Tim diberikan alokasi waktu sebanyak 1 jam (60 menit), 15 menit untuk memaparkan naskah Academic Constitusional
l<elompok akan memaparkan naskah Academic Constitusional Drafting di
dan menentukan 5 (lima) naskah Academic
Con
s
titu
si
onal Drafting
terbaikuntuk dilombakan pada babak final.
Babak Final: merupakan babak yang pesertanya adalah Kelompok/Tim yang
dinyatakan masuk dalam 5 (lima) terbaik. Pada babak ini masing-masing
Babak Penyisihan: merupakan seleksi terhadap naskah Academic
Constitusional Drafting yang masuk ke Panitia, Dewan Juri akan menyeleksi
3. Perlombaan dibagi dalam 2 (dua) babak, yaitu:
2. Peserta yang mengirimkan naskah Academic Constitusional Drafting, setelah tanggal yang ditentukan dinyatakan gugur oleh Panitia.
Bahasa yang digunakan dan sistematika penulisan
naskah akademik (alur/peralihan bab)
b. Materi
-
Kejelasan konsep dan desainketatanegaraan yang
40
%
dibangun-
Met ode yang digunakan dalam pembuatan naskah akademik-
lmplikasi '-- -c
.
Bahasa dan Sistematika Penulisan25
%
a. Teori dan Fakta Empiris - Ketepatan penggunaan teori 35% dalam naskah akademik - Ketepatan analisis fakta empiris 1. Penilaian Naskah Akademik Skor Bo bot Skor Terbobot Penilaian Berkas 2. Penilaian Berkas.·
-
-
yang digunakan.Sinkronisasi Presentasi dengan
3
Rancangan Undang-Undang15
%
Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
-
4 Pemanfaatan Waktu
15
%
7
1
a. Juara I Rp2
5.
000
.
000
,-
b. Juara IIRp
2
0
.0
00
.
0
0
0
,
-
c.
Juara Ill Rp1
5.
0
00
.
0
0
0
,
-
d. Juara IV Rp1
0
.
0
0
0
.
00
0
,
-
e. Juara V Rp5
.0
0
0.000
,
-
1. Dewan Juri akan menentukan peringkat Juara I, 11, dan Ill.
2. Tim yang memperoleh peringkat juara berhak mendapatkan Trophy Pimpinan MPR dan uang pembinaan, masing-masing:
G.
JUARA DAN HADIAH
S
k
o
r B
e
rk
as
=(Sk
o
r N
aska
h A
k
a
d
e
m
i
k
+
Skor
R
a
ncan
g
an
UUD N
R
I
J
umla
h
1
945
)
X60
°/
o
- ~---1---<-
--
-
20
%
Kesesuaian antara konsep dan desain dengan norma yang dibangun f---f---- c. Orisinalitas - Keaslian dan kreativitas ide 30% dari Rancangan Undang- Undang Dasar1
945
b. Bahasa Hukum danPenormaan
- Diksi, Bahasa, tanda baca dan ejaan yang digunakan - Komponen bahasa hukum