• Tidak ada hasil yang ditemukan

asuhan persalinan normal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "asuhan persalinan normal"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

REFRESHING

Persalinan Normal

Stase Obstetri Ginekologi

Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih

Disusun oleh

:

Kartika Eka Wulandari S.Ked

( 2009730089 )

DOSEN PEMBIMBING :

dr.Edy Purwanta, Sp.OG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

Jln. KH Ahmad Dahlan .Ciputat, Cireundeu, Jakarata Selatan

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-40 mgg), lahir spontan dengan presentsi belakang kepala tanpa kompikasi bagi ibu maupun janin ( Sarwono )

Persalinan normal adalah proses lahirnya bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alatalat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.

Dan menurut Sarwono Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan dimulai (inpartu) pd saat uterus berkontraksi ⇒ perubahan pd serviks(membuka dan menipis) dan berakhir dgnlahirnya plasenta secara lengkap.

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

PERSALINAN dan PEMBENTUKAN JALAN LAHIR

PERSALINAN

Persalinan adalah proses melahirkan, Sebagai respon dari adanya kontraksi uterus maka terjadilah penipisan segmen bawah uterus, dilatasi servik dan jalan lahir terbentuk yang kemudian diikuti dengan desensus janin untuk keluar melalui panggul.

AKTIVITAS UTERUS

Kapasitas uterus berkurang secara progresif dan dinding uterus menjadi semakin tebal terutama di daerah fundus.

(4)

Dengan semakin bertambah majunya persalinan, frekuensi, intensitas, kekuatan dan durasi kontraksi uterus menjadi semakin bertambah . Otot segmen bawah uterus menjadi semakin tipis dan relatif bersifat pasif sehingga terjadilah dilatasi servik.

Persalinan dibagi menjadi 3 tahap :

1. Persalinan kala I

1. Kala I fase laten : Dilatasi 1 – 3 cm 2. Kala I fase aktif : > 4 cm sampai lengkap

1. Fase akselerasi

2. Fase maksimal dilatasi 3. Fase deselerasi

2. Persalinan kala II : Pembukaan lengkap sampai lahirnya anak 3. Persalinan kala III : Kala pengeluaran plasenta

(5)
(6)
(7)

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati panggul [ “cardinal movements of labor” ] yang terdiri dari :

1. Desensus 2. Fleksi

3. Putar paksi dlam (internal rotation)

4. Ekstensi

5. Putar paksi luar ( external rotation ) 6. Ekspulsi

(8)
(9)

DIAGNOSA PERSALINAN

Beberapa minggu menjelang persalinan, intensitas Braxton Hicks contraction semakin meningkat. Pada masa masa itu terjadi pembentukan segmen bawah uterus untuk mengakomodasi bagian terendah janin.

“Lightening” peristiwa yang sering terjadi akibat masuknya bagian terendah janin

kedalam pintu atas panggul menyebabkan ibu merasa bahwa pernafasannya menjadi lega namun dibagian bawah abdomen menjadi terasa sakit. Disamping itu, keluhan konstipasi,

(10)

gangguan miksi dan keputihan menjadi keluhan yang sering disampaikan pada masa pasca "lightening" tersebut.

Saat awal persalinan sulit ditentukan. Proses dilatasi dan pendataran seringkali terjadi sebelum persalinan terutama pada multipara. Pada multipara, tanda show jarang terlihat dan untuk menetapkan awal persalinan seringkali diperlukan waktu yang agak lama.

TRUE LABOR :

 Kontraksi uterus regular

 Terdapat show

 Terjadi dilatasi dan pendataran servik secara progresif

 Rasa nyeri terutama dari perut menjalar ke belakang punggung

 Rasa nyeri tidak hilang dengan pemberian sedasi

FALSE LABOR :

 Kontraksi uterus iregular

 Tidak terdapat show

 Tidak terjadi dilatasi dan pendataran servik

 Rasa nyeri terutama di bagian bawah abdomen

(11)

KEMAJUAN PERSALINAN

KEMAJUAN PERSALINANKEMAJUAN PERSALINAN ditentukan oleh :

1. Meningkatnya intensitas, frekuensi dan durasi kontraksi uterus ( his ) yang diperoleh dari palpasi abdomen , pemasangan transduser eksterna; atau insersi kateter intra uterin

2. Dilatasi servik

Hal yang perlu dicatat saat melakukan vaginal toucher : 1. Derajat dilatasi dan pendataran servik

2. Ada tidaknya forewater ( selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah ) 3. Keadaan cairan amnion ( jernih , hijau , kemerahan, kental )

4. Posisi dari bagian terendah janin yang diperoleh dari perabaan sutura sagitalis dan perabaan ubun ubun kecil

5. Derajat penurunan bagian terendah janin ( bidang hodge atau station )

6. Gambar dibawah memperlihatkan adanya kepala janin yang mengadakan fleksi penuh pada posisi oksiput kiri anterior dengan kepala yang hampir engage ( diameter suboccipitobregmatica sedikit diatas pintu atas panggul ), dilatasi servik kira kira 3 jari dan terdapat forewater (selaput ketuban masih utuh .

(12)

Diketahui dengan melakukan palpasi abdomen (Leopold III dan IV ) atau dengan palpasi perlimaan :

Palpasi abdomen Leopold IV :

(13)

PERSALINAN KALA I

Kala I persalinan pada primigravida berlangsung lebih dari 12 jam , pada multipara biasanya berlangsung sekitar 8 jam. Kecepatan dilatasi servik pada primipara biasanya 1.2 cm per jam dan pada multipara 1.5 cm per jam

Efek peningkatan kontraksi uterus terhadap penampilan ibu bersalin sangat nyata. Ibu akan nampak menderita saat kontraksi uterus. Pada kala I persalinan sering terjadi pecahnya selaput ketuban secara spontan

Perawatan ibu bersalin pada kala I :

1. Berikan dukungan, semangat serta kenyamanan ibu bersalin 2. Berikan informasi mengenai jalannya proses persalinan 3. Lengkapi partogram :

1. Periksa nadi, tekanan darah, suhu setiap 4 jam

2. Amati frekuensi, durasi dan intensitaskontraksi uterus

3. Amati DJJ setiap 15 menit pada kala I (setiap 5 menit pada kala II ) 4. Bila sudah masuk fase aktif , lakukan pemeriksaan VT setiap 4 jam 4. Bahas mengenai kebutuhan anaelgesia dengan ibu bersalin

5. Tentukan posisi kepala janin dalam hubungannya dengan panggul

PERSALINAN KALA II

Kala II berawal sejak pembukaan servik lengkap

Kala II pada primipara biasanya berlangsung sekitar 1 jam dan pada multipara lebih singkat lagi.

Kala II dapat dikenali dengan semakin kuatnya dorongan ibu untuk meneran.

Pimpinan persalinan dilakukan bila sudah terjadi “crowning” yaitu dengan terlihatnya bagian kepala janin di vulva dengan diameter sekitar 4 – 5 cm.

(14)

PERTOLONGAN PERSALINAN KALA II

Pada awal kala II (dilatasi servik lengkap), terdapat reflek meneran dari ibu pada tiap kontraksi uterus.

Tekanan abdomen disertai dengan kontraksi uterus akan mendorong janin keluar dari jalan lahir.

Pada kala II, kemajuan persalinan ditentukan berdasarkan derajat desensus . Pada saat bagian terendah janin berada setinggi spina ischiadica maka dikatakan penurunan pada stasion 0. Pada primigravida, umumnya kala II berlangsung selama ± 50 menit dan pada multigravida ±

20 menit.

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati panggul [“seven cardinal movements of labor”] yang terdiri dari :

1. Engagemen 2. Fleksi 3. Desensus

4. Putar paksi dalam

5. Ekstensi

6. Putar paksi luar 7. Ekspulsi

(15)

Bahu dicekap dan tubuh dilahirkan kearah os pubis. Tindakan ini kadang dapat dibantu dengan membawa bahu kearah belakang terlebih dahulu baru kemudian kearah atas. Tubuh dan tungkai dilahirkan dengan mudah.

Mulut dan hidung dibersihkan. Umumnya anak akan segera menangis dan diletakkan diantara tungkai ibu dan kemudian dilakukan pemotongan talipusat.

Setelah bahu depan lahir, dilakukan traksi curam atas kepala kearah simfisis pubis. Tindakan ini memungkinkan bahu depan bebas dari perineum dan dapat dilahirkan

Perineum sering mengalami cedera akibat persalinan bahu dan khususnya bila persalinan dikerjakan secara terburu – buru dan tidak memperhatikan adanya kontraksi uterus.

RESTITUSI sekarang terjadi dan kemudian terjadi Putar Paksi Luar akibat bahu yang sedang

memasuki panggul.

Kepala dicekap, jari-jari tangan kiri didekat dagu dan rahang dan jaring tangan kanan dibawah oksiput.

(16)

PENATALAKSANAAN KALA III

Persalinan kala I dan II beakhir , maka KALA III akan mulai terjadi.

Pada kasus yang sudah diyakini bahwa ini merupakan persalinan pada kehamilan tunggal, maka antisipasi terhadap jalannya persalinan kala III sudah dipersiapkan menjelang akhir kala II.

Dalam keadaan normal , pada saat “crowning” atau setelah bahu depan lahir, disuntikkan oksitosin intramuskular sebanyak 5 unit. Oksitosin bekerja dalam waktu 2 – 3 menit sehingga penyuntikan ini dapat menurunkan rsiko terjadinya perdarahan pasca persalinan. Bila injeksi dilakukan saat “crowning” maka sisa proses persalinan selanjutnya akan berlangsung tidak secara tergesa-gesa, oksitosin akan menunjuuakn efeknya saat persalinan kala II berakhir sempurna.

(17)

Plasenta selanjuytnya akan turun dari segmen bawah uterus seperti bentuknya. Tinggi fundus uteri naik diatas pusat, mengeras .

Setelah plasenta lahir segmen bawah uterus kembali kosong, fundus uteri turun dan mengeras oleh karena mengalami kontraksi.

Melahirkan plasenta dilakukan pada posisi dorsal.

1. Tinggi dan konsistensi fundus ditentukan secara baik. Melakukan masase fundus uteri hanya akan menyebabkan kontraksi uterus yang iregular sehinga plasenta hanya terlepas sebagian dan menyebabkan perdarahan.

2. Pindahkan klem talipusat mendekati vulva 3. Persiapkan wadah plasenta

4. Tanda lepasnya plasenta :

1. Fundus uteri membulat dan naik 2. Sedikit perdarahan

3. Talipusat didepan memanjang

5. Plasenta yang sudah terlepas dikeluarkan dengan menarik talipusat secara terkendali saat ada kontraksi uterus dan menahan bagian bawah uterus ( maneuver Brandt Andrew )

6. Saat plasenta terlihat didepan vulva, dengan kedua telapak tangan lahirkan plasenta dengan gerakan

(18)

memuntir agar selaput amnion dapat lahir seluruhnya 7. Lakukan masase uterus fundus

8. Inspeksi vulva dan jalan lahir untuk melihat kemungkinan adanya robekan jalan lahir 9. Periksa plasenta

(19)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Fokus utama dari persalinan normal adalah mencegah terjadinya komplikasi. Sementara itu, fokus utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan suatu pergesaran paradigma dan sikap menunggu dan menangani komplikasi menjadi mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.

Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Hal ini dikarenakan sebagian besar persalinan di Indonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer dengan penguasaan keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan tersebut masih belum memadai. Melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Prof. Dr. dr. Sarwono, Sp.OG. Ilmu Kebidanan Ed. 4, Cet. 1. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008.

Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal. Jaringan Nasional Pelatihan Klinik

Kesehatan Reproduksi. Jakarta. Oktober 2002.

Hand out Blog Persiapan Klinik Obstetri Ginekologi. dr. Bambang Widjanarko, Sp.OG. Jakarta. 2012.

Referensi

Dokumen terkait

Dari data pada tabel 7 tentang pengukuran kadar debu yang dilakukan selama enam hari berturut turut yaitu senin s/d sabtu , maka dengan menggunakan uji statistik ( software SPSS 11

Activity Based Costing adalah metode pembebanan aktivitas-aktivitas berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada objek

a) Kekeringan meteorologis adalah kekeringan yang berhubungan dengan kurangnya curah hujan yang terjadi berada di bawah kondisi normal dalam suatu musim.

[r]

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa liturgi dalam gereja memiliki arti sebagai bentuk pelayanan yang dilakukan oleh anggota jemaat untuk memuliakan

Bahasa Bali merupakan salah satu bahasa daerah besar di Indonesia, yang memiliki tradisi lisan dan tulis. Sebagai tradisi lisan bahasa Bali eksis digunakan sebagai alat komunikasi intrapenutur pada masyarakat Bali,

A. Tujuan Sesudah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara intensitas cahaya dengan laju

Hal ini menggambarkan bahwa dari sisi penanaman nilai-nilai sosial inilah santri ngawulo banyak yang datang memilih tinggal di Pondok Pesantren Sunan Drajat