• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERIAN BANTUAN HUKUM UNTUK WARGA MISKIN DALAM PERKARA PERCERAIAN OLEH LEMBAGA BANTUAN HUKUM PALEMBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBERIAN BANTUAN HUKUM UNTUK WARGA MISKIN DALAM PERKARA PERCERAIAN OLEH LEMBAGA BANTUAN HUKUM PALEMBANG"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERIAN BANTUAN HUKUM UNTUK WARGA MISKIN DALAM PERKARA PERCERAIAN

OLEH LEMBAGA BANTUAN HUKUM PALEMBANG

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

OLEH : AHMAD SHOLIHUN ( 02011281621208 ) FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2020

(2)
(3)
(4)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

ف

, ًرْسُي ِرْسُعْلا َعَم َّنِإ

.ا ًرْسُي ِرْسُعْلا َعَم َّنِإ

"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya

sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Dengan Sholat semua menjadi

tenang.

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

 Kedua Orang tuaku yang telah

Memberikan Doa dan kasih sayangnya

 Kakak-kakakku, yang senantiasa

Memberikan support

 Keluargaku semua saudaraku, yang

Telah menjadi penyemangat

 Teman-temanku

 Almamater tercinta

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini, shalawat dan salam tercurah kepada Baginda tercinta yaitu Nabi Muhammad SAW kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti. Skripsi ini diberi judul ’’Pemberian Bantuan Hukum

Untuk Warga Miskin Dalam Perkara Perceraian Oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang’’ yang merupakan syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum

pada Program Kekhususan Hukum Perdata di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Penyusunan skripsi ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan baik dalam hal pengetahuan dan keterampilan maka dari itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak yang lebih baik guna menyempurnakan karya-karya yang akan datang.

Demikian pengantar yang dapat saya sampaikan, dimana penulis menyadari bahwa untuk menghasilkan skripsi yang baik tidaklah mudah, sehingga terdapat kekurangan dalam penulisan maupun dalam penyusunan skripsi ini. Semoga tulisan ini bermanfaat dan memberikan kontribusi yang baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum, khususnya dibidang hukum perdata.

Indralaya, 2019

AHMAD SHOLIHUN 02011281621208

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillahirobbilalamin segala puji dan syukur atas penulis limpahkan kehadirat Allah SWT, karena berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul ’’Pemberian Bantuan Hukum Untuk Warga Miskin Dalam Perkara Perceraian Oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang’’. Dalam Penulisan skripsi ini tidaklah mudah penulis menyelesaikan skripsi ini tanpa bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Melalui kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT kasih dan anugerah-Nya selalu hadir dan nyata dalam setiap langkah kehidupan penulis.

2. Nabi Muhammad SAW, yang telah menjadi panutan dan pedoman penulis dalam kehidupan dan berperilaku sehari-hari sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi.

3. Terimakasih kepada Bapak (PONIMIN) dan Ibu (SUHARLIN) tercinta yang telah memberikan dukungan dan doa serta kasih sayang yang tidak tergantikan.

4. Kakak-kakakku (AHMAD GUNAWAN dan ABDUL MUHID) Terimakasih buat segala dukungan dan doa, semoga kita saling menguatkan dan selalu diberi yang terbaik dalam menggapai asa dan cita doakan saudaramu ini sukses kedepannya.

5. Seluruh Keluarga Besarku Tercinta, Terimakasih atas segala bentuk dukungan maupun doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

(7)

6. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaf, MSCE, selaku Rektor Universitas Sriwijaya.

7. Bapak Dr. Febrian, S.H., M.S, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

8. Bapak Dr. Mada Apriandi, S.H., MCL, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

9. Bapak Dr. Ridwan, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

10. Bapak Dr. H. Murzal, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

11. Bapak Taroman Pasyah, S.HI., M.H, selaku Dosen Pembimbing Akademik, yang telah memberikan arahan dan bimbingan dari awal hingga sampai akhir selama proses perkuliahan serta yang telah meluangkan tenaga, waktu maupun pikiran untuk memberikan bimbingan kepada penulis.

12. Bapak Dr. H. KN. Sofyan Hasan, S.H., M.H, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat, serta telah bersedia meluangkan tenaga, waktu maupun pikiran untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

13. Ibu Dian Afrilia, S.H., M.H, selaku Dosen Pembimbing Kedua yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama proses perkuliahan serta bersedia meluangkan waktunya selama penulisan skripsi ini.

(8)

14. Ibu Sri Turatmiyah, S.H., M.Hum, selaku Ketua Program Kekhususan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

15. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya yang saya tidak bisa sebutkan satu-persatu, saya ucapkan terimakasih atas ilmu yang diberikan dan menjadi bekal untuk penulis untuk kehidupan sesungguhnya di luar sana. 16. Pegawai dan Staf Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya yang senantiasa

memberikan bantuannya kepada penulis dalam menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

17. Raudhatun Nadiyah, terimakasih telah menemani, membantu dan memotivasi saya dalam mengerjakan skripsi dan memberikan saran-saran terkait dalam proses penulisan skripsi.

18. Sahabat-sahabat saya Muhamad Imron, Ahmad Wahyudi, A. Ilham Aris M, Irfan Affandi, Wahidiyah N.H, Jehan Nabila, Antika Febrianti, Adji Pangestu, Bilton Ariansyah, Muhamad Febriansyah, Dwi Krismulyadi, Andhika Yudha P, Arif Rachman N.P, Okta Tasti, Dian Ramadhan, Rama Rivansyah, Surya Alwandhani, M. Bima Aprianto, M. Irwan Falezia, Herry Novriansyah, Terimakasih atas doa dan dukungannya, saya tidak pernah melupakan kalian semuanya.

19. Keluarga Besar B.O RAMAH Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, terimakasih telah memberikan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat selama saya di dalam organisasi.

(9)

20. Tim I1 MCC Perdata Pelatihan dan Kemahiran Hukum Semester Genap 2018/2019. Terimakasih atas kasih atas kebersamaannya dan telah memberikan pengalaman dalam kurun waktu empat bulan yang luar biasa. 21. Tim Kuliah Kerja Lapangan Semester Genap 2019/2020. Tim yang terdiri

dari 6 orang yang memiliki karakter yang beda-beda, tetapi tetap kompak dan solid. Terimakasih atas dukungan dan semangat yang diberikan sehingga saya dapat menulis skripsi ini dengan baik.

22. Teman- teman seperjuangan Fakultas Hukum Angkatan 2016. Dari awal PK2 hingga sampai sekarang satu-persatu dari kita mulai meninggalkan Fakultas Hukum. Semoga tali persaudaraan antara kita tetap erat.

(10)

DAFTAR ISI Daftar Isi...i BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1 B. Rumusan Masalah ...13 C. Tujuan Penelitian...13 D. Manfaat Penelitian...14 E. Kerangka Teoritik...15

1. Teori Negara Hukum...15

2. Teori Bantuan Hukum...16

3. Teori Konsep Perkawinan...18

4. Teori Putusnya Perkawinan...19

F. Ruang Lingkup Penelitian...20

G. Metode Penelitian...20

1. Jenis Penelitian...20

2. Pendekatan Penelitian...21

3. Jenis dan Bahan Hukum...22

4. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum………...…24

5. Teknik Analisis Bahan Hukum...25

6. Teknik Penarikan Kesimpulan...25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum tentang Pemberian Bantuan Hukum...26

1. Pengertian Bantuan Hukum...26

2. Pengaturan Bantuan Hukum...28

3. Pelaksana Bantuan Hukum...32

B. Tinjauan Umum tentang Warga Miskin...35

(11)

2. Indikator Kemiskinan...36

3. Bentuk Kemiskinan...38

C. Tinjauan Umum tentang Perceraian...40

1. Pengertian Perceraian...40

2. Sumber Hukum Perceraian...45

3. Faktor Penyebab Perceraian...49

BAB III PEMBAHASAN A. Prosedur Pemberian Bantuan Hukum Untuk Warga Miskin dalam Perkara Perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang...55

1. Sejarah Organisasi...56

2. Struktur Keanggotaan Organisasi...62

3. Prosedur Pemberian Bantuan Hukum...64

B. Faktor Penghambat dan Pendukung Pemberian Bantuan Hukum untuk Warga Miskin dalam Perkara Perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang...75

1. Faktor Penghambat...75

2. Upaya untuk Mengatasi...79

3. Faktor Pendukung...84

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan...91

(12)
(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hak untuk mendapat perlindungan hukum adalah salah satu hak mendasar yang dimiliki oleh setiap manusia, salah satu perwujudan dari perlindungan hukum adalah hak untuk mendapatkan bantuan hukum. Bantuan hukum memiliki arti yang sangat penting bagi seseorang yang sedang berhadapan dengan masalah hukum, apalagi bila orang tersebut tidak memahami hukum. Karenanya, problematika bantuan hukum diatur dalam pasal-pasal dibeberapa undang-undang, yaitu Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Advokat dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Kemudian disempurnakan dengan kehadiran Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Lahirnya undang-undang tentang bantuan hukum semakin mempertegas kedudukan penting suatu bantuan hukum dalam proses penegakan hukum di Indonesia.

Indonesia adalah negara hukum maka semua orang harus diperlakukan sama di hadapan hukum (equality before the law). Persamaan di hadapan hukum harus diimbangi juga dengan persamaan perlakuan (equal treatment). Kalau seorang yang mampu mempunyai masalah hukum, ia dapat menunjuk seorang atau lebih yang berprofesi sebagai Advokat untuk membela kepentingannya.

(14)

2

Sebaliknya seorang yang tergolong tidak mampu juga dapat meminta pembelaan dari seorang atau lebih pembela umum (public defender) sebagai pekerja dilembaga bantuan hukum (legal aid institute) untuk membela kepentingannya dalam suatu perkara hukum. Tidak adil bilamana orang yang mampu saja yang dibela oleh Advokat dalam menghadapi masalah hukum, sedangkan bagi warga negara yang kurang mampu atau miskin tidak mendapatkan pembelaan dikarenakan tidak mempunyai uang berupa jasaa ataupun uang jasa. Definisi miskin tersebut adalah suatu kebutuhan dimana sesorang tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar.

Menurut Romli Atmasasmita dalam Frans Hendra Winata,1di Indonesia hak fakir miskin untuk memperoleh bantuan hukum terutama pada masyarakat yang bermukim di wilayah terpencil masih jauh dari harapan, sehingga menjadi sebuah pertanyaan mengapa di negeri ini bantuan hukum belum mampu untuk mencapai daerah terpencil, padahal daerah terpencil tersebut masih diwilayah Jawa dan Sumatera. Kehadiran Lembaga Bantuan Hukum di Indonesia adalah sangat penting bagi rakyat yang teridentifikasi dalam kondisi tidak mampu secara perekonomian, rentan, dan marjinal, apalagi mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas terkategori menengah kebawah secara perekonomian dan kondisi penegakan hukum di Indonesia masih dalam proses untuk dapat optimal secara merata.

1

Frans Hendra Winata, Probono Publico, Hak Konstitusional Fakir Miskin Untuk

(15)

3

Dalam hal yang menjadi persoalan dewasa ini adalah angka perceraian yang dialami oleh masyarakat kurang mampu termasuk dalam perkara yang bisa dikatakan sangat tinggi, tentunya perlu sekali dalam hal pemberian bantuan hukum. Seperti contoh Angka perceraian di kota Palembang masih cukup tinggi. Berdasarkan data dari Pengadilan Agama kelas 1A kota Palembang, hingga September 2018 ini, tercatat 2.212 kasus perceraian.2 Oleh karenanya yang menjadi pokok permasalahan adalah dalam hal perkawinan. Perkawinan pada pokoknya adalah suatu hal yang sangat sakral bagi manusia yang menjalaninya, adapun tujuan dari perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang harmonis yang dapat menuju terwujudnya ketenangan, bahagia, kenyamanan bagi suami isteri serta anggota keluarga. Islam memandang perkawinan adalah suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena dalam Islam perkawinan merupakan kebutuhan yang mendasar dari manusia, ikatan tali suci atau merupakan perjanjian suci antara Suami dan Isteri. Hal yang tidak bisa lepas dari Perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia tak lepas dari kondisi lingkungan dan budaya dalam membina dan mempertahankan jalinan hubungan antar keluarga. Tanpa adanya kesatuan tujuan tersebut berakibat terjadinya hambatan-hambatan pada kehidupan keluarga, yang akhirnya dapat menjadi perselisihan dan keretakan dalam inti keluarga. Di Era Globalisasi sekarang ini, semakin banyak permasalahan-permasalahan baru yang melanda rumah tangga,

2

Red, Wow Tahun ini Ada 2.212 Janda Baru di Kota Palembang,

https://www.detiksumsel.com/wow-tahun-ini-ada-2-212-janda-baru-di-kota-palembang/diakses pada 4 September 2019 Pukul 21.36 WIB.

(16)

4

semakin banyak pula tantangan yang akan di hadapi bersama sehingga bukan saja berbagai persoalan yang dihadapi bahkan kebutuhan rumah tangga semakin meningkat seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibatnya tuntutan terhadap setiap pribadi dalam rumah tangga banyak sekali yang diperlukan. Kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi akan berakibat pada permasalahan sosial, dan terutama adalah permasalahan ekonomi semakin lama permasalahan meruncing sehingga dapat menjadikan kearah perceraian bila tidak ada penyelesaian yang berarti bagi pasangan suami isteri. Pada Era Globalisasi banyak faktor yang menyebabkan perceraian antara lain media massa yang tak terkendali seperti film.

Budaya seperti ini secara tidak langsung sudah menggambarkan bahwa sikap masyarakat Indonesia sekarang ini yang memandang bahwa perkawinan bukanlah suatu hal yang dikatakan sakral. Dampak dari krisis ekonomi pun turut memicu peningkatan perceraian. Dimulai dengan kondisi masyarakat yang semakin terbebani dengan tingginya harga kebutuhan, banyaknya kasus pemutusan hubungan kerja oleh banyak perusahan, penurunan penghasilan keluarga, meningkatnya kebutuhan hidup dan munculah konflik keluarga. Kemudian adanya tontonan dari seorang artis yang banyak bercerai dipandang oleh masyarakat sebagai hal biasa dan oleh sebab itu kegiatan meniru untuk bercerai dianggap tabu dan tidak dihindari. Perceraian seyogyanya adalah proses dimana hubungan antara suami isteri tatkala tidak ditemui lagi hal yang positif antara lain keharmonisan dalam perkawinan, terkadang mereka bercerai hanya

(17)

5

sebatas dalam keluarga ataupun menyelesaikan dengan cara individu masing-masing dan banyak faktor lagi.

Dengan berlakunya UU No. 16 Th. 2019 Atas Perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, yang mana peraturan tersebut adalah hukum positif maka terhadap perceraian diberikan pembatasan yang ketat dan tegas baik mengenai syarat-syarat untuk bercerai maupun tata cara mengajukan perceraian, Hal ini di jelaskan dengan ketentuan Pasal 39 Undang-Undang Perkawinan yaitu:

1. Perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang pengadilan setelah pengadilan berusaha dan dirasa tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak .

2. Dalam melakukan perceraian harus cukup alasan bahwa antara suami isteri tidak akan dapat hidup rukun lagi sebagai suami isteri.

3. Dalam hal tata cara di depan sidang pengadilan diatur dalam peraturan sendiri.

Ketentuan pasal 115 Kompilasi Hukum Islam yaitu : “ Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.”dari ketentuan diatas dapat disimpulkan bahwa Undang-Undang Perkawinan melarang untuk melakukan perceraian, peraturan perundang-undangan telah mengatur sedemikian rupa tentang perceraian namun dalam faktanya yang terjadi dimasyarakat terutama masyarakat miskin, mereka melakukan perceraian dengan

(18)

6

cara masing-masing seperti tidak tinggal serumah lagi dan mereka tidak mencari keadilan yang bisa ditempuh. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu mulai dari faktor ekonomi, pendidikan, maupun pengetahuan yang tidak mengetahui bahwa ada aturan untuk bercerai. Melihat dari fakta hukum tersebut maka sangat diperlukan sekali pendampingan hukum untuk masyarakat/warga negara miskin dalam perkara perceraian.

Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, Bantuan Hukum adalah suatu kegiatan berupa jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara cuma-cuma atau gratis kepada Penerima Bantuan Hukum.3 Yang dimaksud Penerima Bantuan Hukum adalah orang atau kelompok orang miskin.4 sedangkan menurut Soerjono Soekanto, bantuan hukum pada pokoknya memiliki arti bantuan hukum yang diberikan oleh para ahli bagi warga masyarakat yang memerlukan untuk mewujudkan hak-haknya serta juga mendapatkan perlindungan hukum yang wajar.5 Bantuan hukum merupakan masalah yang terkait dengan hak-hak asasi manusia, terutama dari segi pelaksanaan pemberian bantuan hukum. Ada yang beranggapan bahwa hukum hanya melindungi penguasa atau orang-orang dengan keadaan ekonomi yang baik. Lapisan masyarakat berpendidikan rendah yang tidak mengetahui hak-haknya sebagai subjek hukum atau karena status sosial dan ekonomi serta adanya

3

Undang-Undang No. 16 Th. 2011, Tentang Bantuan Hukum, Pasal 1 Ayat 1.

4

Ibid., Ayat 2.

5

IGN. Ridwan Widyadharma, Profesional Hukum dalam Pemberian Bantuan Hukum, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2010, hlm. 26.

(19)

7

tekanan dari pihak yang lebih kuat, cenderung tidak mempunyai keberanian untuk membela hak-haknya.

Hak manusia dilanggar ketika Pemerintah membuat Negara menjadi majikannya, ketimbang menjadi pelayan warga negaranya. Indonesia telah mengalami Reformasi Konstitusi dimana pengakuan terhadap HAM, terkait persamaan di hadapan hukum telah diatur dalam UUD Tahun 1945 Amandemen II yang memberikan jaminan terhadap pengakuan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama terhadap setiap orang-orang.6 Oleh sebab itu Konstitusi menjamin hak setiap warga Negara dalam mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum, termasuk hak untuk mengakses keadilan melalui pemberian bantuan hukum sebagai perwujudan terhadap keadilan.

Sistem Peradilan yang sangat birokratis, mahal, rumit dan hanya dimengerti oleh kalangan tertentu saja, mengakibatkan tidak semua orang mendapatkan askses dan perlakuan yang sama pada saat berhadapan dengan hukum terutama bagi masyarakat miskin. Orang kaya dan Penguasa dengan mudah mengakses dan mendapatkan keadilan, melalui tangan-tangan Advokat Profesional yang disewanya. Tidak demikian halnya kelompok masyarakat tidak mampu, yang tidak memiliki pengetahuan akan hukum dan tidak mampu melakukan perbuatan serta tidak mampu untuk membayar Advokat. Dapat terlihat jelas bahwa hal tersebut menyebabkan kemustahilan untuk memperoleh

6

(20)

8

perlakuan yang sama di hadapan hukum dan mempersulit akses untuk memperoleh keadilan yang nyata dalam pelaksanaannya. Selain itu adanya permasalahan terhadap tidak adanya perluasaan akses yang sama bagi setiap warga negara untuk mendapatkan perlakuan yang sama di muka hukum, meskipun terdapat jargon yang menyatakan keadilan harus bersifat Universal. Kedudukan masyarakat yang tidak mampu sering kali menjadi alasan dari terjadinya ketidakadilan sehingga diperlakukan secara tidak adil, disiksa, dihukum, dan diperlakukan secara tidak manusiawi bahkan direndahkan martabatnya sebagai manusia. Sering kali sistem yang ada dimasyarakat tidak memungkinkan bagi masyarakat yang tidak mampu untuk berbicara secara terbuka dan memperoleh keadilan secara transparan terhadap suatu masalah apalagi dalam persoalan memperoleh hak.

Oleh sebab itu urgensi dari bantuan hukum oleh para penegak hukum agar selayaknya memberikan bantuan kepada pencari keadilan yang tidak mampu atau pun orang miskin yang tidak mengerti hukum dengan harapan agar tidak terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak dari pihak yang tidak mampu tersebut. Pemberian bantuan hukum kepada masyarakat yang tidak mampu seharusnya dapat dilaksanakan secara efektif apabila Lembaga Bantuan Hukum dapat membangun kesadaran hukum masyarakat untuk menyadari hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai manusia yang terhormat yang menyadari harkat dan martabatnya sebagai subjek hukum. Para pemberi bantuan hukum juga harus menjelaskan tentang adanya jalan-jalan hukum dan upaya upaya hukum yang

(21)

9

dapat ditemukan dalam Lembaga Bantuan Hukum yang telah menyediakan fasilitas dan jasa tersebut. Dengan demikian akan muncul keberanian pada masyarakat yang tidak mampu tersebut untuk menggunakan hak-hak yang mereka miliki secara sah dan memanfaatkan jalan dan upaya-upaya hukum yang tersedia.

Oleh karena hal tersebut peran dari Lembaga Bantuan Hukum sangat besar dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat tidak mampu dalam memberikan pengetahuan yang luas, dan juga menumbuhkan keberanian dan kepercayaan bagi mereka yang memerlukan bantuan. Permasalahan pemberian bantuan hukum bagi masyarakat yang tidak mampu di Indonesia bukan semata-mata hanya masalah hukum saja melainkan juga masalah kompleks lainnya seperti menyangkut aspek-aspek permasalahan ekonomi, sosial dan politik.

Namun pada faktanya masih banyak rakyat miskin yang belum tahu akan adanya lembaga bantuan hukum dan bagaimana cara mendapatkan bantuan hukum. Bantuan hukum hanya di kenal oleh sedikit masyarakat saja bukan karena minimnya pengetahuan tentang lembaga bantuan hukum, pengkategorian miskin dan kaya juga belum jelas di tetapkan, kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendampingan hukum,dan juga karena lembaga bantuan hukum belum mudah untuk di jangkau baik ditinjau dari segi lokasi yang juga membutuhkan biaya. Golongan yang berbeda inilah yang kemudian muncul dan menimbulkan masalah-masalah hukum khususnya tindak pidana. Maraknya

(22)

10

tindak pidana yang terjadi di masyarakat dewasa ini sebagian besar disebabkan karena kurangnya rasa keadilan bagi masyarakat yang berbeda golongan tersebut.. Oleh karena itu, untuk setiap tindak pidana atau pelanggaran hukum yang dituduhkan, tersangka berhak pula untuk mendapat bantuan hukum yang diperlukan sesuai dengan asas negara hukum. Asas dari negara hukum mengandung prinsip “equality before the law” (kedudukan yang sama dalam hukum).

Meskipun Bantuan Hukum tidak secara tegas disebutkan sebagai tanggung jawab negara namun dalam hal lain ketentuan menurut Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Dalam negara hukum, negara bertugas mengakui dan melindungi hak asasi manusia bagi setiap orang termasuk hak atas Bantuan Hukum. Kegiatan penyelenggaraan bantuan hukum merupakan upaya untuk memenuhi dan sekaligus sebagai implementasi dan eksekusi negara hukum yang mengakui dan melindungi serta menjamin hak asasi warga negara akan kebutuhan akan rasa keadilan (access to justice) dan kesamaan didepan hukum (equality before the law). Jaminan atas hak konstitusional tersebut belum mendapatkan perhatian yang mencukupi, sehingga perlu dibentuknya Undang-Undang tentang Bantuan Hukum ini menjadi landasan bagi negara untuk menjamin warga negara khususnya bagi orang atau kelompok orang miskin untuk mendapatkan akses keadilan dan kesamaan dihadapan hukum. Oleh karena

(23)

11

itu, tanggung jawab negara harus diimplementasikan terlaksana melalui pembentukan Undang-Undang Bantuan Hukum ini.

Selama ini dilapangan, pemberian Bantuan Hukum yang dilakukan belum banyak menyentuh menjamah orang atau kelompok orang miskin, sehingga mereka kesulitan untuk mengakses keadilan karena terhambat faktor ketidakmampuan. Pengaturan mengenai pemberian Bantuan Hukum dalam Undang-Undang ini merupakan hal yang mendesak sebagai jaminan terhadap hak-hak konstitusional orang atau kelompok orang miskin.7

Indonesia sebagai Negara hukum dengan konsep kesamaan dan perlakuan yang sama dimata hukum bagi semua warga Negara tanpa memandang kelas-kelas sosial. Tetapi dalam tataran praktis, prinsip equality before the law kadang tidak konsisten. Lembaga Bantuan Hukum Palembang sebagai bagian dari Organisasi Bantuan Hukum atau disingkat (OBH) yang berdomisili di kota Palembang yang selanjutnya disingkat LBH Palembang, tidak hanya menangani perkara terbatas dalam domisilinya. Ada banyak kasus yang berasal diluar wilayah kantor yang tetap didampingi oleh LBH Palembang.

Persoalan bantuan hukum di LBH Palembang tentu saja hadir melihat realitas masyarakat yang masih dalam kategori menengah kebawah atau tidak mampu. Secara data pada tahun 2013 keatas, terdapat 1,1 Juta penduduk di Provinsi Sumatera Selatan yang terkategori tidak mampu. Hal tersebut fluktuatif dari tahun ketahun meskipun terkadang naik turun, tetapi dalam rentang waktu

7

(24)

12

10 (sepuluh) tahun terakhir, angka kemiskinan di Sumsel tidak pernah turun dari 1 juta penduduk yang terkategori miskin. Bahwa berdasarkan data dari LBH Palembang terdapat total kasus sebanyak 93 total perkara sepanjang 2018, dimana perceraian menyumbang persentase yakni sebesar 62 kasus. Adapun perkara perceraian yang dimaksud adalah perkara cerai gugat dan cerai talak dipengadilan agama.8 Melihat data dari LBH Palembang tersebut pada kasus perceraian tergolong dalam kategori yang sangat tinggi.

Maka adalah rasional, apabila keberadaan bantuan hukum gratis atau cuma-cuma menjadi sebuah alternatif solusi, dengan kondisi penduduk Provinsi Sumatera Selatan yang masih dalam kelas menengah kebawah ditambah dengan total perkara yang ada di Sumsel. Melihat realitas ini, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Sumsel bersama-sama mengakomodasi dalam tataran normatif dan pelaksanaan.

Seperti halnya yang telah di ungkapkan di atas penulis ingin mengkaji pelanggaran hukum yaitu dalam perkara perceraian yang saat ini menjadi sorotan adalah angka perceraian di kota Palembang merupakan kasus dengan jumlah yang sangat tinggi terlagi pendampingan hukum di perlukan untuk menyelesaikan dalam hal pencari keadilan. Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis tertarik untuk menulis skripsi yang berjudul

“Pemberian Bantuan Hukum Untuk Warga Miskin Dalam Perkara Perceraian Oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang”

8

(25)

13

B. RumusanMasalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan, maka untuk menarik benang merah dalam penelitian ini, penulis membuat 2 (dua) rumusan masalah, sebagai berikut:

1. Bagaimana prosedur pemberian bantuan hukum untuk warga miskin dalam perkara perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang? 2. Apakah faktor penghambat dan pendukung pemberian bantuan hukum

untuk warga miskin dalam perkara perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang?

C. Tujuan Penelitian

Selaras dengan rumusan masalah di atas, tulisan ini memiliki tujuan sebagai berikut, yaitu:

1. Untuk mengetahui prosedur pemberian bantuan hukum untuk warga miskin dalam perkara perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang

2. Untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung prosedur pemberian bantuan hukum untuk warga miskin dalam perkara perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang

(26)

14

D. Manfaat Penelitian

Dalam menulis skripsi ini, tentunya penulis sangat mengharapkan atau menginginkan supaya skripsi ini akan memberikan manfaat kedepannya bagi semua pihak. Sehingga kebermanfaatan tulisan ini sendiri penulis membagi ke dalam beberapa aspek kebermanfaatan, yaitu:

1. Penelitian ini di harapkan dapat memberikan kesadaran bagi warga miskin akan pentingnya pemberian bantuan hukum dalam perkara perceraian untuk mencari keadilan yang sebenarnya. Secara teoritis hasil penelitian dapat menjadi bahan pengembangan Ilmu Hukum Perdata, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan terutama untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang dikemukaan dalam perumusan masalah di atas yakni pemberian bantuan hukum untuk warga negara miskin dalam perkara perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang.

2. Penelitian ini di harapkan dapat memberikan pengetahuan kepada aparat penegak hukum bahwa masih banyak warga negara miskin yang membutuhkan pemberian bantuan hukum agar hak-hak dari setiap warga negara dapat terlindungi sebagaimana mestinya.

(27)

15

E. Kerangka Teoritik

1. Teori Negara Hukum

Indonesia adalah negara hukum, hal seperti ini bisa kita dapati dalam Dalam Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) berbunyi, “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Jika dikaitkan dengan kalimat tersebut, arti Negara Hukum tidak dapat terpisahkan dari pilarnya yaitu kedaulatan hukum. Meskipun Negara hukum merupakan istilah yang kelihatan sederhana, akan tetapi negara hukum memiliki kandungan makna atau muatan sejarah pemikirian yang sangat panjang.9 Salah satu unsur mutlak yang harus ada yang ada didalam negara hukum yaitu terpenuhinya hak-hak dasar dari manusia itu sendiri. Jaminan dasar perlindungan hak asasi manusia dalam konstitusi sebagai hukum tertinggi memliki makna bahwa negara pun dilarang melakukan pelanggaran hak asasi manusia.10

Negara hukum menjamin setiap rakyat atau warga negara dalam perlindungan hukum yang paling utama adalah hak individu masing-masing mengingat dalam hal ini peran negara sangat di butuhkan oleh rakyat. Sekilas persoalan hak individu atau kelompok terlihat sangat sepele padahal persoalan tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga, dilindungi dan dikembangkan. Negara harus mampu menyelenggarakan atau menekankan

9

Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia, Jakarta: Kencana, 2005, hlm. 48.

10

(28)

16

gagasan yang berprinsip akhlak dari segi negara, jauh tidak lebih dari pada menurut suasana hukum yang terjadi pada masyarakat, negara dituntut untuk menjaga hak-hak dari individu. Dan dari pada itu negara melakukan cara untuk mewujudkannya,didalam negara hukum pun warga negaranya sangat aktif untuk ikut serta dalam proses penyelenggaran yang ada didalam urusan negara.

Di Negara Indonesia, pemikiran tentang negara hukum tertuang dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Dalam negara hukum dapat diartikan bahwa negara yang mendirikan supremasi hukum untuk menegakan keadilan dan kebenaran serta tidak ada kekuasaan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

2. Teori Bantuan Hukum

Roberto Conception berpendapat bahwa yang di maksud dengan bantuan hukum adalah pengungkapan yang bersifat umum yang digunakan untuk menunjuk kepada setiap pelayanan hukum yang ditawarkan atau diberikan. Hal tersebut sejalan dengan fungsi hukum yaitu hukum berfungsi sebagai alat “perubahan sosial” dan hukum berfungsi sebagai alat “pengendalian sosial” yang dikatakan sebagai kegunaan sosiolgi hukum diantaranya sebagai berikut:11

1. Memberikan kemampuan untuk mendakan analisa terhadap efektivitas hukum dalam masyarakat baik sebagai sarana pengendalian sosial

11

(29)

17

maupun sebagai sarana untuk merubah masyarakat agar tercapai keadaan tertentu.

2. Memberikan kemampuan bagi pemahaman terhadap hukum didalam konteks sosial.

3. Memberikan kemungkinan serta kemampuan untuk mengdakan evaluasi terhadap efektivitas hukum didalam masyarakat.

Jika perubahan sosial tetapi tidak diikuti oleh perubahan hukum maka akan terjadi:12

1. Sosial Iaq (terjadi ketidakseimbangan dengan perubahan hukum) 2. Anomie (tidak ada aturan), suatu keadaan dimana aturan lama sudah

ditiadakan atau ditinggalkan sedangkan aturan yang baru belum tersedia.

Negara Indonesia adalah negara hukum, oleh karena itu penyelenggaraan atas setiap individu diatur oleh negara termasuk bantuan hukum kepada setiap warga negaranya tanpa terkecuali dalam hal upaya untuk memenuhi dan sekaligus sebagai implementasi sebagai negara hukum yang mengakui dan melindungi serta menjamin hak asasi warga negara akan kebutuhan akses terhadap keadilan.13

12

Ibid., hlm. 77-78.

13Eka N.A.M. Sihombing,”Mendorong Pembentukan Daerah Tentang Bantuan Hukum

(30)

18

3. Konsep Perkawinan

Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan menetapkan definisi perkawinan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Secara yuridis menurut Undang-Undang Perkawinan barulah ada perkawinan apabila dilakukan antara seorang pria dan seorang wanita, berarti perkawinan sama dengan perikatan (verbindtenis). Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan di atas, dapat diuraikan bahwa sendi-sendi dan unsur-unsur utama perkawinan adalah:

1. Perkawinan merupakan persekutuan hidup antara seorang pria dengan seorang wanita. Artinya, Undang-Undang Perkawinan menutup kemungkinan dilangsungkannya perkawinan antara orang-orang yang berjenis kelamin sama meskipun di dalam Pasal 8 dari Undang-Undang Perkawinan, yang mengatur mengenai Larangan Perkawinan, tidak dicantumkan secara eksplisit tentang larangan perkawinan sesama jenis.

2. Perkawinan harus dilakukan berdasarkan peraturan perundang-perundang yang berlaku di Indonesia. Keabsahan perkawinan hanya terjadi jika memenuhi syarat formil dan materil beserta prosedur dan tata cara yang ditentukan oleh undangundang dan peraturan pelaksanaannya.

(31)

19

3. Perkawinan mempunyai hubungan erat dengan agama. Agama merupakan sendi utama kehidupan bernegara di Indonesia.14

4. Teori Putusnya perkawinan

Menurut Adul Kadir Muhamad, putusnya perkawinan karena kematian disebut dengan “ceri mati”, sedangkan putusnya perkawinan karena

perceraian ada 2 istilah, yaitu: a. Cerai gugat (khulu) b. Cerai talak

Putusnya perkawinan karena putusan pengadilan disebut dengan istilah “cerai batal”.15

Menurut Amir Syarifudin, putusnya perkawinan adalah istilah hukum yang digunakan dalam undang-undang untuk bagiaman menjelaskan atau berakhirnya hubungan perkawinan antara seorang laki-laki dan dengan seorang perempuan yang selama ini hidup bersama-sama sebagai suami isteri.16

14

Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: FH UII, 2002, hlm. 11.

15

Abdul Kadir Muhamad, Hukum Perdata Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000, hlm. 10.

16

Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam Indonesia: Antara Fiqh Munaqahat dan

(32)

20

F. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penulisan skripsi ini penulis membatasi pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-Undang Nomor 16 tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum,dan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Bantuan Hukum Cuma-Cuma di wilayah Provinsi Sumatera Selatan khususnya mengenai pemberian bantuan hukum untuk warga miskin (tidak mampu) dalam perkara perceraian oleh Lembaga Bantuan Hukum Palembang, serta hal-hal yang berkaitan dengan bantuan hukum dan dalam perkara perceraian. Sehingga skripsi ini tidak menyimpang dari permasalahan yang ada.

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang di gunakan penulis adalah jenis penelitian Normatif didukung dengan Empiris, Normatif melihat peraturan perundang-undangan yang didukung dengan wawancara karena melihat bekerjanya hukum dimasyarakat dalam menyelesaikan suatu masalah. Pendekatan yang dilakukan untuk penelitian ini adalah pendekatan Yuridis Normatif dan Yuridis Empiris

(33)

21

yaitu mengkombinasikan data primer (yang berupa hasil wawancara) dengan data sekunder guna mengidentifikasikan permasalahan serta mencari dasar hukum yang berkaitan dengan penyelesaian permasalahan tersebut yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara pengkajian peraturan perundang-undangan dan bahan pustaka atau bahan hukum sekunder yang ada.17

2. Pendekatan Penelitian

Adapun didalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan, dengan pendekatan tersebut penulis atau peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk menjawab permasalahan yang sedang di cari. Beberapa pendekatan tersebut yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Pendekatan perundang-undangan (statute approach)

Dilakukan dengan mengkaji semua undang-undang dan pengaturan yang bersangkutan dengan isu hukum yang sedang ditangani, pada hematnya penulis akan menggunakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 16 tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum dan Peraturan Daerah

17

Johnny Ibrahim, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, Jakarta: Bayumedia Publishing, 2005, hlm. 241.

(34)

22

Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Bantuan Hukum Cuma-Cuma di wilayah Provinsi Sumatera Selatan

b. Pendekatan konsep (conceptual approach)

Bersumber dari pandangan atau doktrin-doktrin yang berkembang didalam ilmu hukum, pendekatan yang didasarkan pada pendapat para ahli hukum, buku-buku, literatur, karya tulis ilmiah dan catatan kuliah yang ada kaitannya dengan permasalahan yang sedang di bahas oleh penulis.

c. Pendekatan sosiologi (sosiologis approach)

Suatu landasan kajian sebuah studi atau penelitian untuk memperlajari hidup bersama dalam masyarakat. Ada juga pendekatan perbandingan hukum yaitu dilakukan dengan membandingkan peraturan hukum atau putusan pengadilan disuatu Negara dengan peraturan hukum dinegara lain.18 Tetapi dalam skripsi ini menggunakan pendekatan sosiologi.

3. Jenis dan Bahan Hukum

Jenis dan bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier yaitu:

18

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Cetakan Ke 7, Jakarta: Prenada Media Group, 2011, hlm. 93.

(35)

23

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer, yaitu misalnya bahan-bahan hukum yang mengikat, dan terdiri dari peraturan perundang-undangan dan putusan hakim. Sedangkan bahan hukum yang ingin penulis gunakan adalah

burgerlijk wetboek dan peraturan perundang-undangan yaitu

Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang bantuan hukum dan Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan .

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang didalmnya merupakan penejelasan mengenai bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, hasil penelitian, pendapat pakar hukum buku-buku, literatur, atau tulisan dituangkan dalam artikel dan jurnal tentang bantuan hukum, perkawinan, serta dokumen lain yang terkait dengan pembahasan yang akan ditulis, yang diperoleh secara langsung dari instansi-instansi atau lembaga-lembaga terkait, maupun melalui

website atau internet.

c. Bahan Hukum Tertier

Bahan hukum tertier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder,

(36)

24

seperti kamus (hukum) Ensiklopedia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

4. Teknik Pengumpulan dan Pengolaham Bahan Hukum

Untuk menyelesaikan permasalahan penelitian ini, karena penelitian hukum adalah penelitian hukum normatif sepenuhnya menggunakan data sekunder (bahan kepustakaan), penyusunan kerangka teoretis yang bersifat tentative (skema) dapat ditinggalkan, tetapi penyusunan kerangka konsepsional, dapat dipergunakan perumusan-perumusan yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penelitian.

Studi kepustakaan dilakukan dengan mengidentifikasi peraturan perundang-undangan, meneliti bahan pustaka, membaca buku-buku dan sumber-sumber lainnya yang berhubungan dengan masalah ini, serta menyeleksi bermacam-macam bahan yang mengandung sudut pandang yang berbeda-beda dan bertentangan satu sama lain. Setelah memperoleh bahan-bahan hukum dari hasil penelitian kepustakaan dan didukung studi lapangan maka dilakukan pengelolaan bahan-bahan hukum yang didapatkan dengan cara mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis dan didukung studi lapangan melalui wawancara dengan pihak Lembaga Bantuan Hukum Palembang. Sistematisasi berarti membuat klarifikasi terhadap bahan-bahan

(37)

25

hukum tertulis dan didukung studi lapangan untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.

5. Teknik Analisis Bahan Hukum

Analisis data adalah kegiatan pemaknaan dan penafsiran terhadap hasil data.19 Metode yang digunakan untuk menganalisis bahan pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dengan melakukan uraian secara deskripstif dari data primer, sekunder dan tertier yang telah dikumpulkan mengenai permasalahan yang berkaitan pada penelitian ini berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun yang dimaksud dengan Metode deskriptif kualitatif bertujuan untuk memahami, menggambarkan, mencatat dan menginterpretasikan suatu kondisi atau fenomena yang sedang terjadi atau berlangsung. Dalam analisis deskriptif kualitatif , menguraikan data secara sistematis dalam bentuk kalimat yang logis, efektif dan efisien sehingga memudahkan dalam interpretasi bahan dan pemahaman atas hasil bahan yang dikumpulkan guna menjawab permasalahan dalam penelitian ini.20

6. Teknik Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dalam skripsi ini dilakukan secara deduktif, yaitu suatu proses atau cara penarikan kesimpulan yang berangkat dari suatu hal yang

19

Soerjono Soekamto, Pengantar Peneltian Hukum, Jakarta: Penerbit UI Press, 2010, hlm. 52.

20

(38)

26

bersifat umum ke hal yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan ini dilakukan untuk memperoleh jawaban setiap permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini.

(39)

27

DAFTAR PUSTAKA

Buku-Buku

Abdul Kadir, Muh. 2004.Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Abd. Rahman, Ghazaly. 2006. Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana.

Ahmad , Abdul Aziz. 2009. Problematika dan Jalan Keluarnya, Bandung: Penerbit Pustaka Hidayah.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2011. Perhitungan dan Analisis Kemiskinan Makro

Indonesia Tahun 2011. BPS: CV. Nario Sari.

Basyir, Ahmad Azhar. 2002. Hukum Perkawinan Islam. Yogyakarta: FH UII.

Ernaningsih, Wahyu dan Putu Samawati. 2006. Hukum Perkawinan Indonesia. Palembang: PT. Rambang Palembang.

Ibrahim, Johnny. 2005.teori dan metode penelitian hukum normatif. Jakarta: Bayumedia publishing.

ibrani, Julius. 2013. Bantuan Hukum Bukan Hak Yang DiBeri. Jakarta:YLBHI. Kompilasi Hukum Islam (KHI). 2008. Hukum Perkawinan, Kewarisan, dan

Perwakafan. Bandung: CV. Nuansa Aulia

Mahmud Marzuki, Peter. 2011. Penelitian hukum.Jakarta: prenada media group. Muchsin. 2003. Perlindungan dan Kepastian Hukum untuk Investor di Indonesia.

Disetasi. Universitas Sebelas Maret.

Muhtaj, Majda El. 2005. Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia. Jakarta: Kencana.

MZ , Cholidah Utama. 2013. Pengantar Ilmu Hukum. Palembang: Noer Fikri. Ridwan Widyadharma, IGN. 2010.Profesional Hukum dalam Pemberian Bantuan

(40)

28

Setiadi, Elly M dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta

Dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, Dan Pemecahannya Cet

ke-2. Jakarta: kencana.

Soekanto, Soerjono. 2004.Pengantar Sosiologi. Jakarta: Rajawali Pers.

Soekanto, Soerjono. 2010. pengantar Peneltian Hukum. Jakarta: Penerbit UI Press. Sudarwati, Ninik. 2009. Kebijakan Pengentasan Kemiskinan: Mengurang

Kegagalan Penanggulangan Kemiskinan. Malang: Intimedia.

Sunggono, Bambang dan Aries Harianto. 2009. Bantuan Hukum dan Hak Asasi

Manusia. Bandung: CV Mandar Maju.

Syaifuddin, Muhamad, Sri turatmiyah dan Annalisa yahanan. 2014. Hukum

Perceraian. Jakarta: Sinar Grafika,

Syarifudin, Amir. 2009. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana. Winata, Frans Hendra. 2009. Probono Publico, Hak Konstitusional Fakir Miskin

Untuk Memperoleh Bantuan Hukum. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Zainab, Siti. 2009. Manajemen Konflik Suami Istri solusi dan Terapi Al-Qur‟an

dalam Hidup Berpasangan Cet. 1, Banjarmasin: Antasari Press.

Peraturan Perundang-Undangan

Republik Indonesia. 2006. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945,

Pasal 28 Ayat (1). Lembaran Negara RI Tahun 2006, No. 11 . Sekretariat

Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun

2011 Tentang Bantuan Hukum. Lembaran Negara RI Tahun 2011, No. 104 .

Sekretariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 1974. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang

Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

(41)

29

Republik Indonesia. 2013. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42

Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum. Lembaran Negara RI Tahun 2013, No. 98 .

Sekretariat Negara. Jakarta.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Lembaran Negara RI Tahun 1975,

No. 1 . Sekretariat Negara. Jakarta.

Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014. Tentang Bantuan Hukum Cuma-Cuma di

wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Lembaran Daerah Provinsi Sumatera

Selatan Tahun 2014, No. 5. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan.

JURNAL

Arif, Andry Rahman. 2015. Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Terhadap

Terdakwa Yang Tidak Mampu Dalam Perkara Pidana Di Kota Bandar Lampung. 9 (1): 106-108.

Kalo, Iwan Wahyu Pujiarto Syafruddin dan Eka Putra, Edy Ikhsan. 2015.

Pelaksanaan Pemberi Bantuan Hukum Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum, 8 (3): 332-334.

Sihombing, Eka N.A.M. Mendorong Pembentukan Daerah Tentang Bantuan Hukum

diSumatera Utara. 2 (1): 8

Usman, Atang Hermawan. 2014. Kesadaran Hukum Masyarakat Dan Pemerintah

Sebagai Faktor Tegaknya Negara Hukum Di Indonesia. 30 (1): 90

Iswandi, Dedi. 2017. Fenomena Perceraian Di Masyarakat Bantaeng. Skripsi. Universitas Alaudin Makassar.

Ramdan, Ajie. 2014. Bantuan Hukum Sebagai Kewajiban Negara Untuk Memenuhi Hak

(42)

30

Wawancara

Kharisma interview. 2019. Faktor penghambat dan pendukung pemberian bantuan

hukum untuk warga miskin dalam perkara perceraian. Palembang.

Tamsil interview. 2019. Prosedur pemberian bantuan hukum untuk warga miskin

dalam perkara perceraian. Palembang.

Internet

Red. 2018. Wow Tahun Ini Ada. 2.212 Janda Baru diKota Palembang di https://www.detiksumsel.com/wow-tahun-ini-ada-2-212-janda-baru-di-kota-palembang/

Profil LBH Palembang. 2018. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia LBH

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan faktor - faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi perusahaan diatas, maka faktor yang digunakan untuk mengukur kinerja sistem

Dasar pertimbangan hakim yang menyatakan kelalaian Para Tergugat karena baru diadakan pertemuan tanggal 20 september 2001 setelah 1 bulan lewat dari tanggal kejadian bukan

21 Hospital Ampang 22 Hospital Selayang 23 Hospital Serdang 24 Hospital Sungai Buloh 25 Hospital Shah Alam 26 Hospital Kajang 27 Hospital Banting W.P Kuala. Lumpur 28

Merujuk pada permasalahan tersebut, pencipta mengajak anak tunarungu untuk berproses kreatif di bidang tari kontemporer serta memupuk rasa percaya diri bahwa mereka memiliki

60 Peminat-peminat bola sepak hadir ____________ sokongan dan tepukan gemuruh kepada. pasukan Perlis Stadium

Metode pembelajaran aktif-reflektif pada dasarnya meminta semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran yaitu guru dan siswa untuk memiliki kemampuan

Belkaoui (1989) mengutarakan bahwa perusahaan yang melaksanakan kegiatan sosial akan memaparkannya dalam laporan keuangan. Sebagian berasal dari studi-studi yang

Jenis, Kluster, dan Teknis Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Merujuk pada Agenda Riset Keagamaan Nasional (ARKAN) dan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, Pendidikan