• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS

RUU TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH &

RUU TENTANG PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN

Tahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat Rapat Ke Sifat Rapat Dengan Hari I T anggal Pukul Tempat Rapat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara

Anggota yang hadir

Nama Anggota

Pimpinan Pansus Pemilu:

2006-2007 IV

RDP/RDPU 2 (Dua) Terbuka

Koalisi Perempuan Indonesia, Pusat Pemberdayaan Perempuan Dalam Politik dan Liga Perempuan Pemilih Indonesia

Rabu, 18 Juli 2007 10.00 WIB-selesai

Ruang Rapat Komisi II DPR-RI (KK.III/Gd Nusantara) Ferry Mursyidan Baldan/Ketua Pansus Pemilu Suroso, SH/Kabagset Pansus Pemilu

Pandangan tentang urgensi pengaturan keterwakilan perempuan dalam UU Pemilu dan Strategi Pencapaian Sistem Pemilu yang Sensitif Gender.

28 dari 50 orang anggota Komisi II DPR-RI. 22 orang ljin

1. Drs. Ferry Mursyidan Baldan/F-PG/Ketua 2. DR. Yasona H. Laoly, SH, MS/F-PDIP/Waket 3. Drs. H.B. Taman Achda, M.Si/F-PPP/Waket 4. Ignatius Mulyono/F-PD/Waket

(2)

Fraksi Partai Golkar : 6. Mustokoweni Murdi, SH 7. Dr. Mariani Akib Baramuli, MM 8. Drs. Simon Patrice Morin 9. H. Hardisoesilo

10. H. Muhammad Sofhian Mile, SH, MH 11. H. Asep Ruchimat Sudjana

12. Rambe Kamarul Zaman, M.Sc

Fraksi PDI Perjuangan : 13. Alexander Litaay 14. Pataniari Siahaan 15. Nur Suhud 16. Permadi, SH 17. Drs. I.Made Urip

Fraksi Partai Persatuan Pembangunan : 18. Ora. Hj. Lena Maryana Mukti

Fraksi Partai Demokrat : 19. Drh. Jhonny Allen

20. DR. Syarief Hasan, SE, ME, MBA 21. Dr. Benny Kabur Harman, SH 22. lr. Agus Hermanto, MM

Fraksi Partai Amanat Nasional : 23. H. Patrialis Akbar, SH

24. lr. Tjatur Sapto Edy, MT 25. Abdillah Toha, SE

Anggota yang berhalangan hadir (ljin) : 1. Drs. Agun Gunandjar Sudarsa

2. Drs. H.A. Mudjib Rochmat 3. Ora. Chairun Nisa, MA 4. Drs. T. M. Nurlif 5. Tjahjo Kumolo, SH 6. DR. Sutradara Gintings 7. Jacobus Mayong Padang 8. Hj. Tumbu Saraswati, SH 9. Drs. H. Akhmad Muqowam 10. Drs. H. Hasrul Azwar, MM 11. Lukman Hakim Saifuddin 12. H. Totok Daryanto, SE

13. Drs. H. Ali Masykur Musa, M.Si 14. H.A. Effendy Choirie, M.Ag.MH 15. Prof. DR. Moh. Mahfud MD 16. Hj. Badriyah Fayumi, Lc

Fraksi Kebangkitan Bangsa : 26. Drs. H. Saifullah Ma'shum, M.Si

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera : 27. Agus Purnomo, S.IP

Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi :

Fraksi Partai Bintang Reformasi :

Fraksi Partai Damai Sejahtera : 28. Pastor Saut M. Hasibuan

17. Drs. Almuzzamil Yusuf 18. Mustafa Kamal, SS 19. H. Jazuli Juwaini, MA

20. Prof. DR. M. Ryaas Rasyid, MA 21. Drs. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si 22. H. Rusman HM Ali, SH

(3)

JALANNYA RAPAT:

PIMPINAN RAPAT/DRS. H.B. TAMAM ACHDA, M.Si/F-PPP:

Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera dan selamat pagi bagi kita semua. Yang terhormat Koalisi Perempuan Indonesia,

Yang terhormat Pusat Pemberdayaan Perempuan Indonesia, Yang terhormat Liga Perempuan Pemilih Indonesia, dan Para hadirin sekalian yang saya hormati.

Selazimnya kita sudah mulai acara ini pad a jam 1 0.00 tapi saya lihat ada beberapa kawan lain yang belum hadir karena itu, saya mohon perkenannya untuk kita tunda dulu selama 10 men it dan saya nyatakan dibuka dulu baru kemudian saya tunda 10 men it.

(KETOK PALU 1 KALI) Skors saya cabut dan rapat kita mulai.

lbu-ibu dan bapak-bapak yang saya hormati,

Assa/amu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera buat kita semua dan selamat pagi. Yang terhormat Koalisi Perempuan Indonesia, Yang terhormat Pusat Pemberdayaan Politik, Yang terhormat Liga Perempuan Pemilih Indonesia,

Yang terhormat saudara pimpinan, Anggota Pansus RUU tentang Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD beserta RUU tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya atas perkenannya kita dapat menghadiri rapat pada hari ini dalam keadaan sehat wal'afiat. lbu dan hadirin sekalian, rapat ini tidak memerlukan quorum karena itu dalam rapat ini tidak mengambil keputusan tetapi hanya mendapatkan masukan-masukan dalam rangka pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD serta RUU tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Selanjutnya kami ingin menyampaikan terima kasih kepada Koalisi Perempuan Indonesia, Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam politik dan Liga Perempuan Pemilih Indonesia atas kesediannya menghadiri rapat ini. Demikian juga kepada pimpinan dan para anggota Pansus yang saya hormati. Sebelum kami melanjutkan pembicaraan ini, kami juga ingin menawarkan waktu sampai jam 12.00 WIB kalau disetujui kita akan bersidang sampai jam 12.00 dan bilamana nanti kemudian diperlukan kita bisa tambah lagi. Dapat disetujui ibu-ibu?

(KETOK PALU 1 KALI)

Selanjutnya kami informasikan bahwa rapat hari ini adalah dalam rangkaian rapat dengar pendapat atau rapat dengar pendapat umum yang akan diselenggarakan secara paralel dengan berbagai pihak antara lain perguruan tinggi dalam rangka instansi para pakar, para ahli, LSM serta masyarakat dimana Pansus perlu mendapatkan masukan-masukan dalam rangka pembahasan RUU tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD serta RUU tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Selanjutnya untuk mempersingkat waktu, kami persilahkan kepada ibu-ibu dan saya berharap memang gentian begitu, yang pertama saya persilahkan wakil dari LPPI kemudian nanti

(4)

--

.

diteruskan kepada Pusat Pemberdayaan Perempuan Dalam Politik dan kemudian diteruskan lagi dengan Koalisi Perempuan Indonesia. Saya kira demikian, kita persilahkan ibu segera dimulai.

IBU ABDUL GAFURILPPI :

Assalamu'a/aikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

Bapak pimpinan dan ibu pimpinan yang saya hormati,

Bersama ini atas nama Liga Perempuan Pemilih Indonesia, kami mengucapkan terima kasih kepada Pansus RUU Pemilu terutama kepada Saudara saya Pak Ferry Musrsyidan Baldan dan semua orang yang ada di depan itu yang telah memberikan tempat kepada kita kaum perempuan di seluruh di Jakarta ini untuk sama-sama kita memberikan pemikiran-pemikiran kita masing-masing. Khusus mengenai ini yang ingin saya sampaikan adalah mengenai keterwakilan perempuan yang dirumuskan pada pasal 65 Undang-Undang Nomor 31 disandingkan dengan pasal RUU 1262 RUU yang berbunyi daftar calon sebagaimana dimaksud pada pasal 61 harus memperhatikan keterwakilan bakal calon perempuan paling sedikit 30% dan memperlihatkan kemajuan. Kalimat paling sedikit kami mohon diberikan dengan setidak-tidaknya paling kurang sekurang-kurangnya atau memang harus 30%.

Lalu yang kedua, kami juga mengusulkan ada kalimat pasal 62 untuk lebih menegaskan keterwakilan perempuan 30% tanpa menggunakan kata-kata paling sedikit tapi memang harus 30% itu juga. Yang ketiga, juga pada pengurus partai politik baik ditingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota yang menyusun daftar bakal calon DPR maupun DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota agar susunannya berturut terurut perempuan-laki-laki, perempuan-laki-laki-perempuan jangan nanti laki-laki sudah 20-30 perempuan-laki-laki-perempuan baru di bawahnya itu. yang keempat, kami inginkan juga adalah rumusan pasal 61 ayat (1), (2), (3), dan (4) disempurnakan dengan menambah kalimat secara berurutan laki-perempuan setelah kalimat peserta pemilu. Contoh pasal 61 ayat (1) daftar bakal calon anggota DPR ditetapkan oleh pengurus pusat politik perempuan peserta pemilu secara berurutan laki-perempuan secara selang-seling.

Jadi kalau perlu, perlunya kita mengadakan adanya sanksi bagi mereka yang tidak mentaati hal ini. Demikian dari kami pak, terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatu/ahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Terima kasih lbu Gafur dan kemudian saya persilahkan dari Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam Politik. Saya persilahkan lbu Titi Sumbung.

TITI SUMBUNG/PUSAT PEMBERDA Y AAN PEREMPUAN : T erima kasih pak,

lbu-ibu dan bapak-bapak anggota dewan yang saya hormati. lbu-ibu dan ternan-ternan yang saya kasihi.

Merupakan suatu kehormatan bagi kami mendapatkan kesempatan untuk bertatap muka dengan para wakil yang terhormat untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran berkaitan dengan pemilihan umum sebagai salah satu wujud Negara demokrasi. Hal ini sekaligus suatu pertanda bahwa anggota dewan sudah peka dan tanggap terhadap bagian dari kelompok masyarakat yang masih tertinggal dan perlu didengar suaranya karena kelompok ini (perempuan) sebagai-bagian dari warga Negara selama ini belum banyak terdengar suaranya. Melalui kesempatan pembahasan rancangan undang-undang ini, kami berharap perempuan sebagai asset bangsa yang jumlahnya setengah penduduk Indonesia dapat meningkatkan partisipasi dan kontribusinya serta melaksanakan tanggungjawab publiknya. Tadi secara gurai bicara sama bapak, mengapa sih perempuan tidak banyak lantas saya bilang begini "rupanya memang perempuan sudah

(5)

dikondisikan untuk tidak biasa dibidang politik" sebaliknya bapak-bapak itu tidak dibiasakan untuk melihat perempuan di bidang politik begitu. Nah itulah sebabnya, jadi kalau ada perempuan rasanya sudah alergi begitu. Marilah kita sekarang bersama-sama membangun kemitraan pak, membangun kemitraan yang nantinya bisa bersama-sama kita menciptakan suatu demi kejayaan bangsaini.

Jadi pertama yang kami ingin perlihatkan di sini kondisi objektif dari pembangunan manusia Indonesia. Tema yang kami usung di sini adalah bersama membangun Indonesia dan bersama itu adalah laki dan perempuan dan sub temanya adalah mencari format baru pemilu untuk mewujudkan keterwakilan seimbang antara perempuna dan laki-laki. Dalam proses pengambilan keputusan rumusan kebijakan public menyongsong pemilu 2009 itu adalah sub temanya pak. Dan dasar pemikirannya kita semua tahu bahwa tiada demokrasi tanpa perempuan karena perempuan itu setengah penduduk, karena perempuan itu 53% dari pemilih dan juga warga Negara yang sudah dijamin mempunyai hak yang sama dan kemudian punya tanggungjawab public nah ini yang belum banyak dikerjakan dan berhak mendapatkan manfaat yang sama. Nah manfaat ini pun belum banyak. Nah ini sebenarnya yang mendasari kita untuk melakukan ini. Dari segi hokum memang tidak ada masalah tapi dari segi the faktonya itu masih menjadi masalah besar karena banyak terjadi diskriminasi.

lni adalah jaminan hokum juga yang sudah tercantum dalam deklarasi umum PBB.

Selanjutnya Beijing platform for actions sidang dunia tentang perempuan juga sudah

disebut itu adalah kewajiban pemerintah, kewajiban masyarakat sipil, organisasi PBB, lembaga donor semuanya wajib untuk melaksanakan itu yaitu keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan. lni adalah bidang yang khusus mengenai perempuan dalam kekuasaan dan pengambilan keputusan. Nah inilah yang banyak diangkat di televise hampir setiap hari kita lihat adalah millennium development goals dan millennium development goals ini goals yang ketiga

adalah mendorong kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dan dengan catatan bahwa goal yang lain tidak mungkin bisa dicapai kalau goal ketiga itu sudah dipenuhi. Jadi ini adalah syarat dan ternyata pada waktu evaluasi baru-baru lalu yang diambil oleh PBB ternyata Indonesia itu masih rendah capaiannya dari segi millennium development goals.

Selanjutnya ukuran daripada itu adalah indikatornya adalah proporsi perempuan yang duduk dalam lembaga parlemen nasional meningkat. Nah di sini kita tahu bagaimana meningkatnya. RPJMN kita juga sudah punya malah secara jelas bilang meningkatkan keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan public. lnilah kondisi objektif daripada pembangunan manusia, kualitas SDM Indonesia yang diukur dengan human development indeks dimana ada

dimensi kesehatan, dimensi pendidikan, dimensi ekonomi dan Indonesia menduduki rangking yang 108 dibandingkan dengan Malaysia 61, Thailand 7 4, China 81, Filipina dan seterusnya Jepang rangking ke-7 dan Korea rangking ke-26.

Selanjutnya gender related development indeks yang ada diterpilah datanya itu Indonesia

nomor 81 dibandingkan dengan Negara-negara lain kita masih di bawah itu. Selanjutnya yang menentukan adalah yang disebut gender empower meansurement dimana ini diukur dari

partisipasi perempuan sebagai anggota parlemen, sebagai pekerja professional kepemimpinan dan ketatalaksanaan dan angkatan kerja ternyata Indonesia rangkingnya 60. nah bagaimana kondisi objektif daripada kita ternyata bahwa sebagai wakil rakyat suara mayoritas yang samar, masih samara-samar terdengar dan itu adalah baik di legislative, di eksekutit maupun di yudikatif, jadi masih sangat rendah dalam menentukan prioritas kepentingan dan perumusan kebijakan. Selanjutnya inilah keterwakilan perempuan hasil Pemilu 2004 di legislative dan kalau kita ke tingkat kabupaten ternyata cum a 5% dan ban yak kabupaten/kota yang anggotanya 100% laki-laki saya balik pak, 100% laki-laki. Lanjut dan ini adalah antara citra dan fakta isu kita ialah tidak ban yak perempuan akhirnya itulah yang membawa dampak ketertinggalan perempuan di segala bidang.

(6)

lni adalah keterwakilan perempuan dari data IPU sedunia ternyata Indonesia itu menempati rangking yang ke-89 dan dibandingkan dengan nomor 1 itu adalah Ruanda yang keterwakilan perempuannya di legislative itu 48% dan kemudian kita itu masih dibawa Timor Leste dan kemudian ada China dan Singapura dan sebagainya, kita masih di bawah itu ya kita masih untung di atas Thailandlah jaman Malaysia. lni di lembaga eksekutif kalau kita lihat di BNS itu maka dari eselon 1 itu perempuannya cuma 10%, eselon 2 itu 6% dan eselon 3, ya eselon 4 itu memang lebih banyak begitu ya, karena dibawah.

Selanjutnya ini dibidang yudikatif. Hakim masih lumayan karena perempuan sebagai hakim itu ada 24%, jaksa lebih lumayan 26% dan ini perlu untuk digarisbawahi yaitu pengadilan tinggi agama perempuan di situ sudah 23% demikian juga pengadilan agama itu sudah 26% perempuan. Jadi sebenarnya ini hal-hal yang membuat kita untuk bisa meningkatkan partisipasi. Hambatan mungkin perlu juga disebutkan antara lain yaitu system politik yang masih maskulin kemudian system pemilihan proporsional terbuka yang masih setengah hati. Kemudian system internal partai politik yang belum demokratis. Selanjutnya disamping segi ekonomi dan social budaya dan seterusnya sehingga memang kayanya masih ada glass shilling yang memisahkan kita dari semua itu.

Selanjutnya isu strategis sebenarnya adalah sedikitnya perempuan dalam kekuasaan adalah suatu devisit dari demokrasi karena rakyat tidak ikut menentukan prioritas kepentingan dan pengalokasian anggaran terutama di DPR. Yang lain lagi, kita juga menyadari keterwakilan perempuan adalah goes beyond numbers, jadi bukan sekedar jumlah banyak perempuan di situ

kalau tidak banyak bisa membawa perubahan itu tidak banyak membawa arti, karena apa? Penelitian membuktikan keseimbangnya jumlah perempuan dan laki-laki dalam kekuasaan membawa perubahan dalam wacana politik dan mempengaruhi kebijakan public. Jadi ada hal-hal yang tidak akan terpikirkan oleh bapak-bapak yang bisa kita pikirkan begitu ya. Jadi kontribusi kita ini mbo yo diperhitungkan begitu sajalah.

Selanjutnya karena memang kebijakan public itu berkaitan dengan kepentingan warga masyarakat perempuan dan laki-laki memenuhi kesejahteraan dan penyediaan layanan public secara adil bagi semua. Nah itulah sebenarnya yang kita menjadi berkepentingan untuk bagaimana lebih banyak perempuan dalam posisi-posisi decisions making. Sehingga yang kita

angkat adalah bagaimana meningkatkan kualitas kebijakan public sehingga keberadaan perempuan, paradigma adalah perspektif baru dalam proses mulai dari penentuan prioritas, perumusan kebijakan, perencanaan program, pengalokasian sumber, pemantauan women making different katanya begitu, mudah-mudahan bisa membawa perubahan. Nah untuk itulah tiba

saatnya yang kami mau menekankan perlunya tindakan khusus sementara, banyak salah paham tentang istilah tindakan khusus sementara affirmative actions atau kita tidak mau sama sekali

mengatakan ini sebagai istilah kuota karena ini bukan arti sudah dijatah begitu tidak ini adalah suatu tindakan khusus dimana kita harapkan, diwajibkan minimum memang harus ada sekurang-kurangnya 30% di dalam lembaga-lembaga penentu kebijakan apakah itu di eksekutif, di legislative maupun di yudikatif. Ada kesepakatan internasional yang mengatakan tidak boleh di dalam lembaga-lembaga yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak salah satu jenis kelamin melebihi 70% tidak boleh lebih dari 70%. Nah di sini kalau di kabupaten pakem 100% begitu. Jadi ini tidak boleh sebenarnya secara kesepakatan internasional seperti itu.

Selanjutnya 30% ini diperlukan karena dalam kondisi seperti ini gambar ini, jelas sekali tidak mungkin kalau perempuan disilahkan untuk berlomba, tidak mungkin berlomba dengan beban segala macam dengan posisi seperti itu. nah 30% ini adalah suatu koreksi, 30% adalah suatu kompensasi dan satu asistensi dari pengakuan terhadap perempuan yang selama ini masih banyak dideskriminasi dan itu jaminan hukumnya sudah banyak. Argumentasi atau rasionalitas yang memang sudah banyak kami kutip di ekspert meeting di PBB yang pertama adalah

(7)

rasionalisasi ini, argumentasinya mengapa perlu 30% minimum? Keadilan. Perempuan separuh jumlah penduduk sehingga memang mau tidak mau dia ada orang yang mewakili di situ.

Kemudian kepentingan. Perempuan dan laki-laki mempunyai kepentingan yang berbeda dan tidak selalu harus sama. lni yang saya kira satu yang perlu digarisbawahi kepentingan itu berbeda, kebutuhan juga beda, alasan simbolik yaitu perempuan akan tertarik pada politik apabila ada contoh. Jadi seperti tadi saya katakan bahwa perempuan tidak dibiasakan di politik. Jadi sekarang lebih banyak perempuan di pimpinan, itu akan mendorong yang lain, ini adalah alasan simbolik dan kemudian alasan demokrasi sudah tentu partisipasi itu adalah memantapkan pembangunan tata pemerintahan yang demokratis.

Selanjutnya ini ada beberapa contoh dari beberapa Negara yang sudah menerapkan tindakan khusus sementara, kami punya yang lebih lengkap kalau diperlukan itu bisa kami copy ada beberapa puluh Negara begitu. Selanjutnya sehingga perjuangan jaminan hokum yang lebih tegas untuk mewujudkan partiesipasi dan keterwakilan perempuan yang seimbang antara laki dan perempuan menuju tercapainya keseteraan ini memerlukan format baru bahwa format pemilu yang baru dalam paket Undang-Undang Politik. Oleh karena itu, mohon kami ajak yang mana sih mau dirubah tapi sudah beberapa dikemukakan tetapi kami hanya focus mengenai tindakan khusus sementara. Tindakan khusus sementara kami garisbawahi sementara, tidak terus-terusan kita mau begini, tidak ma terus-terusan kita mau tindakan khusus. Kita mau pada suatu saat tidak ada lagi tindakan khusus yaitu kalau sudah paling kurang 30% sekurang-kurangnya 30%. Habis itu marilah kita berlomba saling mengisi silahkan. Jadi usul kami adalah yang menyangkut tindakan khusus itu berkaitan dengan keanggotaan parpol karena apa? Karena partai politik selalu menjadi alasan tadi bapak sudah ngomong kepada saya di luar sidang ini, kita tidak ada perempuan, perempuan yang tidak mau katanya begitu. Jadi untuk itulah kita perlu untuk mendesak supaya partai politik mengambil tindakan khusus untuk mengkader lebih banyak perempuan dan anggotanya juga sehingga dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengatakan kita tidak punya stok perempuan.

Yang kedua, rekruitmen dalam pengisian jabatan politik, itu juga kita harapkan. Yang ketiga, memang ini Undang-Undang Parpol tetapi ini ada kaitannya dengan Undang-Undang Pemilu yaitu kepengurusan partai politik. Di dalam Undang-Undang Pemilu yang rancangan sekarang, itu ditulis juga memang perlunya ada kepengurusan partai itu 30% perempuan di semua tingkatan dan saya tahu ini dari Partai PAN sudah ada ketentuan itu diambil. Saya tidak tahu dimana ada Pansus ini. Yang di depan ini sudah ada itu merupakan suatu contoh alasan simbolik.

Kemudian kaderisasi partai politik. lni juga perlu diambil dan ini adalah wajib supaya 30% itu bisa sekurang-kurangnya setiap kali. Kemudian yang terpenting dalam kesempatan ini adalah mengenai bakal calon legislative. Bakal calon legislative diminta paling sedikit partai yang mau ikut pemilu ada 30% perempuan di dalam data dan itu hukumnya wajib.

Kemudian apa sanksinya. Tadi dikatakan bahwa harus ada sanksi. Sanksinya adalah bahwa di daerah pemilihan itu dimana tidak banyak cukup perempuan 30% dia tidak boleh ikut pemilu. ltu salah satu yang bisa dipikirkan sebagai sanksi. Bisa juga dipikirkan sebagai sanksi yaitu bahwa kalau nanti ada yang terpilih maka anggota yang terpilih itu yang perempuan katanya dapat dua kali insentif lebih banyak daripada yang laki-laki katanya begitu, ada yang menyuarakan begitu. Jadi ini masih dalam pembahasan bisalah kita pilih mana yang paling baik sanksinya.

Demikianlah kira-kira pokok-pokok pikiran yang dapat kami sampaikan pada kesempatan yang sangat berharga ini. Usulan penyempurnaan selengkapnya dari Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam Politik sebagai hasil dari suatu telaah hokum tentang hak politik perempuan yang tadi sudah saya sampaikan kepada bapak pimpinan dan itu adalah berdasarkan ini dan mohon hal-hal lain yang nanti berhubungan dengan Rancangan Undang-Undang Pemilu akan disampaikan kepada teman-teman yang berkabung dalam aleansi masyarakat sipil untuk revisi

(8)

paket Undang-Undang Politik yang memang kita sengaja sudah membentuk suatu aliansi untuk bisa mengawal Undang-Undang Politik ini sepanjang pembahasan di DPR.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih lbu Titi Sumbung dan bukannya tadi saya lupa memperkenalkan tapi karena memang sekarang sudah banyak lagi yang hadir, nanti saya khawatir cepat keluar lagi begitu karena ada tugas-tugas yang lain. Saya ingin memperkenalkan dulu sebelum kemudian saya persilahkan waktunya kepada Koalisi Perempuan Indonesia. Yang pertama saya urut dari sebelah sana Pak Syarief Hasan dari Fraksi Partai Demokrat kemudian Pak Hardisoesilo dari Fraksi Partai Golkar kemudian Pak Asep Sudjana dari Fraksi Partai Golkar kemudian Pak Pataniari Siahaan dari Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia kemudian Bapak I Made Urip dari Fraksi PDIP juga kemudian Pak Agus Pumomo dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera kemudian Pak Saefullah Ma'shum dari Fraksi Kebangkitan bangsa kemudian Pak Abdillah Toha dari Fraksi PAN kemudian lbu DR. Mariani Akib Baramuli dari Fraksi Partai Golkar kemudian Bapak Permadi dari Fraksi PDIP, Pak Beni Harman dari Fraksi Partai Demokrat kemudian dari meja pimpinan saya ingin memperkenalkan. Pertama saya ingin memperkenalkan adalah lbu DR. Andi Yuliani Paris dari Fraksi PAN kemudian Bapak DR. Laoly beliau dari Fraksi PDIP kemudian disebelah saya Bapak Ferry Mursyidan Baldan dari Fraksi Partai Golkar dan sekaligus ketua Pansus ini dan saya sendiri Pak Tamam Achda dari Fraksi Persatuan Pembangunan kemudian tadi ada Pak Ignatius Mulyono dari Fraksi Partai Demokrat mahan maaf meninggalkan tempat karena ada cara lain. Saya kira demikian perkenalannya dan saya persilahkan kepada lbu Ani Sucipto dari Koalisi Perempuan Indonesia.

ANI SUCIPTO/KOALISI PEREMPUAN INDONESIA :

Terima kasih Bapak Tamam Achda dari Fraksi Persatuan Pembangunan,

Bapak dan ibu pimpinan Pansus serta bapak dan ibu anggota Pansus Undang-Undang Pemilu.

Saya di sini namanya Ani Sucipto, saya mau mewakili teman-teman dari Koalisi Perempuan Indonesia dan beragam ... dan sebagainya. Tadi dua ternan kami dari Liga Pemilih Perempuan Indonesia dan PDP sebetulnya telah menyampaikan latar belakang yang menarik, masukan yang menarik juga untuk memberikan beragam rekomendasi tentang revisi paket Undang-Undang Politik. Kami dari Aliansi Koalisi Perempuan Indonesia pertama-tama ingin menyampaikan kepada bapak dan ibu sekalian anggota Pansus, jika kami di sini banyak sekali beragam dari beragam latarbelakang beragam organisasi itu adalah sebenarnya cermin juga dari kemajemukan kita sebagai bangsa, sebagai kelompok dan ini sebetulnya harus dilihat sebagai asset kita semua.

Yang kedua adalah yang ingin kami sampaikan juga mungkin Pansus ini terlihat istimewa dengan hadirnya kami banyak sekali teman-teman perempuan tetapi mahan dipahami bahwa kita hadir di sini bukan sekedar ingin melihat isu keterwakilan perempuan sebagai keinginan untuk meminta jatah kursi di DPR atau DPRD provinsi atau di DPRD kabupaten/kota atau di DPD atau keinginan sempit yang ingin melihat selama ini bahwa perempuan ingin minta belas kasihan. Jadi kita datang ke sini memohon supaya Pansus itu juga memberikan jatah sama sekali bukan seperti itu. Jadi keinginan kami untuk meningkatkan keterwakilan perempuan, itu sebetulnya adalah sebagai sarana tadi sudah disampaikan oleh lbu Titi Sumbung proses depending demokrasi di Indonesia. Demokrasi yang lebih bermakna, lebih substantive dan lebih tranformatif. Nah untuk itu, kami dari koalisi perempuan dan koalisi gerakan perempuan ingin menyampaikan juga rekomendasi yang lebih utuh yang tidak hanya menyangkut usulan tentang pasal 65 kebijakan

(9)

affirmative yang sekarang draft Undang-Undang Pemerintah itu sudah dicantumkan di pasal 62 tetapi kami juga mengkaitkannya dengan bagaimana keterwakilan perempuan itu dikaitkan dengan system pemilu maupun system kepartaian. Ternan kami Dani dari politik fisif Ul yang akan menyampaikan rangkuman dari usulan kami, silahkan Dani.

DANI/FISIP Ul :

Terima kasih. Selamat pagi ibu-ibu dan bapak-bapak yang terhormat di sini. Perkenankan saya Dani Pusat Kajian Fisip Ul atas nama teman-teman dari Koalisi Perempuan Indonesia untuk menyampaikan beberapa pandangan atau perspektif yang telah kami diskusikan sejak lama paling tidak ada 3 bulan terakhir, kami intensif mendiskusikan rekomendasi ini dan insya Allah hari ini kami bisa memaparkan beberapa point-point penting yang nanti akan kami berharap bapak-ibu Pansus Pemilu bisa mempertimbangkan dengan seksama apa yang telah kami rekomendasikan pada pertemuan pada siang hari ini.

lbu-bapak sekalian memang masalah keterwakilan perempuan memang telah menjadi isu nasional sejak dibahasnya masalah ini pada 2003 yang lalu dimana kemudian gerakan perempuan ketika itu dan juga sikap dari partai-partai politik yang dapat mengakomodasi masalah keterwakilan 30% yang kemudian berhasil menggoalkan pasal 65 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2003 di mana ini menjadi suatu pasal pembuka atau menjadi suatu tindakan affirmative yang diperlukan bagi peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen. Secara kualitatif memang pasal 65 itu harus diakui sebagai sebuah pasal yang cukup berhasil dalam rangka memang mendorong perempuan atau membentuk kesadaran perempuan untuk melihat politik dan untuk melihat proses politik sebagai suatu hal yang bisa mereka alami, bisa mereka amati dan bisa mereka dekati.

Sehingga dengan demikian, mereka bisa terlibat aktif di dalam proses pengambilan keputusan artinya ini ada sebuah pencapaian yang luar biasa dimana sebelumnya politik dipandang sebagai wilayah yang bukan bagian dari perempuan artinya ini merupakan suatu pencapaian yang sangat kualitatif yang luar biasa. Ada beberapa evaluasi bapak-ibu sekalian sebelum kami sampai kepada point rekomendasi bahwa memang sebagaimana tadi saya katakan bahwa lahirnya pasal 65 itu merupakan sebuah terobosan penting untuk memulai perjuangan meningkatkan keterwakilan perempuan di parlemen dan ini juga pasal 65 bisa dilihat juga sebagai upaya sebetulnya ketika itu untuk mendesak partai politik untuk merekrut dan mencalonkan perempuan. Sebuah upaya yang relative berhasil mengingat separoh parpol peserta pemilu 2004 mencalonkan 30% perempuan sebagai anggota legislative. Berikut ini ada beberapa data dimana berdasarkan hasil pemilu 2004 ada 14 partai politik yang mencalonkan lebih dari 30% perempuan. Di mana paling tinggi itu adalah partai PKS dengan 43% sementara perolehan suara PKS 7,34% dan partai ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 121olos ... untuk mengikuti 2009. PKPI, PSI dan sebagainya sampai kepada Partai Bintang Reformasi yang mencalonkan 31 ,5%. Bila bapak-ibu melihat di situ bahwa hanya ada tiga partai yang saat ini punya perspek, punya perspektif untuk mengikuti pemilu tahun 2009 yang pencalonan perempuannya di atas 30% yaitu PKS, PKB dan PAN. Sementara partai yang lain seperti Partai Golkar, partai PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat itu rata-rata mencalonkan 28%.

Jadi memang belum semua partai itu memang mencalonkan 30% di dalam daftar calon mereka tapi bagaimana pun kami gerakan perempuan mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh partai politik dengan merekrut perempuan dan menjadikan mereka sebagai salah satu Caleg di daerah pemilihan tertentu. Memang hasil evaluasi terhadap hasil pemilihan umum tadi terkait dengan pencalonan perempuan menunjukkan bahwa pasal 65 belum efektif sebagai tindakan affirmative segera setelah ... dilakukan itu berbagai macam penelitian dilakukan oleh berbagai macam lembaga, di situ secara seragam menyimpulkan bahwa pasal 65 belum efektif bukan sekedar masalah sanksi yang belum diatur tapi juga soal komitmen parpol untuk menerapkan

(10)

tindakan affirmative di internal mereka yang belum ada. Data berikut menunjukkan bagaimana affirmative interal partai dalam penempatan caleg memberi pengaruh kepada peluang terpilihnya perempuan.

Yang berikutnya ini adalah perbandingan caleg perempuan nomor jadi dan caleg terpilih dari 9 partai yang ada di DPR. Telah nampak bahwa sebetulnya apabila ada komitmen dari interal partai politik untuk mencalonkan perempuan di nomor jadi, nomor 1 dan nomor 2 itu kemungkinan terpilihnya perempuan itu akan lebih besar. Kita lihat sebetulnya Golkar dengan 17 caleg perempuan di nomor jadi itu yang terpilih ada 19 terutama dari Sulawesi selatan karena ini nomor urut 5,7 sampai 8 itu terangkat. Kemudian POl Perjuangan itu dengan nomor jadi 17 orang itu 12 orang terpilih ini artinya hampir lebih dari 50% terpilih dan selanjutnya demokrat sampai dengan PDS yang jumlah caleg perempuan nomor jadi 22 terpilih 2.

Jadi ibu-bapak sekalian, data ini menunjukkan bahwa sebetulnya apabila tindakan affirmative pasal 65 itu diikuti dengan kebijakan affirmative di internal partai akan memberikan dampak yang baik atau dampak yang cukup efektif terhadap peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen. Selanjutnya ini sebuah kesimpulan bahwa pasal 65 belum efektif. Pasal 65 belum memberikan jaminan bagi perempuan untuk dicalonkan partai politik sesuai dengan presentasi minimal yang ada yaitu sekurang-kurangnya 30% kenapa? Karena memang rumusan tersebut sangat longgar bahkan muncul sebuah idiom bahwa pasal 65 adalah pasal tanda kutip pasal karet. Nah artinya apa? Artinya memang tindakan affirmative pasal 65 belum juga didukung oleh undang-undang yang lainnya seperti Undang-Undang Parpol khususnya yang mengatur tentang rekruitmen caleg. Pimpinan partai politik memiliki tanda kutip criteria sendiri yang sering sekali mengabaikan system skorring. Kasus beberapa caleg perempuan yang digeser nomor urutnya menjelang pengajuan ke KPU adalah salah satu contoh yang menunjukan kondisi belum terjaminnya mekanisme rekruitmen caleg yang demokratis. Nah ini sekedar bagan yang menunjukan betapa sebetulnya caleg perempuan itu menghadapi tantangan-tantangan yang tidak mudah. Pertama dari masalah komitmen partai di situ juga dengan adanya belum efektifnya masa tindakan affirmative di dalam partai kemudian masalah di dalam internal perempuan sendiri seperti masalah basis social politik, masalah keterampilan dalam bernegosiasi, masalah jaringan apalagi masalah dana dan juga akses ke media seharusnya tidak masalah eksternal mereka dalam hal system pemilu, opini public dan masih adanya pro dan kontra aturan kuota.

Jadi berdasarkan hal inilah, sebetulnya kami mencoba untuk membangun sebuah rekomendasi yang kami pikir mungkin bisa mendorong secara efektif masalah peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen. Selanjutnya remondasinya adalah bagaimana masa depan keterwakilan perempuan di parleman pada tahun 2009 mendatang kita lihat. Pertama adalah revisi pasal 65 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 evaluasi penting adalah tidak efektifnya pasal ini tadi sebagaimana di sampaikan dengan itu, kami secara tegas mengusulkan bahwa mengubah kata dapat menjadi wajib agar pasal ini memiliki makna tegas dan penerapannya dapat diukur, kata "dapat" itu masih digunakan di dalam pasal62 acuan draft pemerintah.

Selanjutnya dari rekomendasi katanya adalah setiap partai politik peserta pemilu wajib mengajukan daftar calon tetap untuk anggota DPR, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota yang memuat paling sedikit 30% perempuan, jadi ini rekomendasi nomor 1. konsekuensi dari rumusan tersebut adalah tentu saja sebagaimana tadi dikatakan oleh sebelumnya mekanisme sanksi bagi partai karena tanpa sanksi tidak ada perubahan signifikan dalam penerapan kebijakan affirmative bagi perempuan dan kenapa harus partai politik yang dikenakan sanksi? Karena memang partai adalah kipper dalam proses ini artinya semua terletak pada partai politik. Jadi itu yang coba kami tawarkan di sini, jadi sanksi seperti apa? Berdasarkan banyak sekali pengalaman beberapa Negara banyak macam-macam sanksi yang telah kami pelajari juga tapi memang untuk kasus Indonesia, kami menganggap bahwa sanksi yang mungkin efektif adalah sanksi yang

(11)

peluang penerimaannya lebih besar dikalangan partai politik dengan tingkat efektivitas yang relative tinggi dalam hal penegakan hukumnya adalah sanksi yang tidak melibatkan soal financial. Beberapa Negara umumnya mendapatkan sanksi yang juga tidak bersifat financial. Maka rekomendasi yang kami tawarkan adalah jika partai politik peserta pemilu tidak dapat mengajukan daftar calon tetap untuk anggota DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota pada satu daerah pemilihan tertentu maka KPU atau KPUD menolak daftar calon yang diajukan partai politik bersangkutan.

Jadi di sini bola ada ditangan KPU, dimana nanti KPU akan memberikan jadwal misalnya untuk pertama misalnya pengembalian dulu selama batas tertentu apabila dia CS-nya belum 30% mungkin pengembaliannya sekali, pengembalian dua kali sampai yang ketiga, sampai jadwal disatukannya OCT. Jadi kami berharap penegakannya di dalam KPU itu akan bisa didorong untuk kearah bagaimana supaya sanksi bisa efektif dilakukan.

Selanjutnya masalah-masalah penting lainnya adalah penempatan caleg perempuan dalam daftar calon. Tindakan affirmative tidak cukup dengan mengatur batas minimal presentase pencalonan perempuan tetapi harus diimbangi dengan peluang ketepihan yang besar. Data tadi sebelumnya memang menunjukkan bahwa apabila perempuan di letakkan pada nomor jadi, nomor yang peluang terpilihnya besar mereka juga akan terangkat jumlahnya di parlemen. Artinya beberapa Negara pun telah menerapkan tindakan affirmative dalam penempatan caleg perempuan di daftar calon. Nah maka usulan yang kami tawarkan yang nomor 3 adalah daftar calon tetap untuk anggota DPR, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota memuat paling sedikit 30% perempuan dan harus ditempatkan pada posisi yang peluang terpilihnya besar, artinya posisi ini sebetulnya kami juga nanti akan mendorong kepada tindakan affirmative di interal partai politik mungkin saja misalnya seperti partai Golkar atau PDI Perjuangan dengan jumlah kader yang banyak bisa menempatkan perempuan pada posisi selang-seling itu sangat kami hargai atau juga partai-partai menengah misalnya seperti PAN, PKB, PKS dan lainnya mungkin bisa menempatkan dalam posisi-posisi tertentu di nomor 1, nomor 2 atau nomor 3 dan sebagainya. Jadi kami mendorong dengan pasal ini adalah perubahan kebijakan affirmative di interal partai yang bisa disesuaikan dengan aturan di dalam Undang-Undang Pemilu.

Selanjutnya adalah masalah system pemilu dan penempatan caleg terpilih. Sebetulnya system pemilu ada masalah teknis ibu-bapak sekalian, artinya bagaimana sih kursi itu untuk siapa, untuk partai apa dan untuk calon yang mana tetapi bisa juga menjadi urusan politis karen a system pemilu bisa berdampak pada tingkat representasi dan akuntabilitas bagi rakyat terhadap konsituensnya. Nah makanya kami merekondisikan agar system pemilu adalah proporsional dengan daftar terbuka artinya ini sebetulnya tidak berubah dari 2004 yang lalu dan juga kalau dilihat dari draft pemerintah itu dipasal5 ayat (1) dikatakan bahwa system pemilu adalah dengan proporsional terbuka. Tetapi memang ada sebuah hal yang berkaitan dengan tindakan affirmative yang harus juga kami sampaikan adalah masalah penetapan caleg terpilih ditentukan berdasarkan perolehan suara yang dapat memenuhi BPP. Pada tahun 2004 yang lalu itu yang menjadi persoalan adalah BPP 100% artinya kemudian hanya ada dua orang yang dapat memenuhi BPP dan sisanya adalah menjadi caleg karena nomor urut. Kecenderungan yang berkembang adalah ingin memperbaiki aturan tersebut agar lebih banyak caleg terpilih yang berhasil melewati BPP dan hal ini selain juga untuk memperbaiki kualitas perwakilan politik dan juga masih memberikan tempat kepada partai politik untuk mengatur masalah pencalonan dan pencalegan itu. Dari simulasi perolehan suara caleg yang kami lakukan dari hasil 2004 yang lalu tentunya tidak ada perbedaan signifikan antara caleg laki-laki dengan caleg perempuan di dalam perolehan suara artinya kami coba simulasi dengan suara 5% ke atas dari BPP itu hanya sekitar 1400 caleg dari 7500-an untuk DPR pusat yang bisa melampau 5% atau hanya 18,45%.

(12)

Jadi sebetulnya sisi kinerja perolehan suara baik laki-laki maupun perempuan itu nyaris tidak ada perbedaan signifikan karena berkaitan dengan kerja-kerja politik ditingkat konsituensnya masing-masing. Nah ini hasil simulasi kami menunjukkan bahwa memang kalau disuruh memilih apakah kuota 5% ke atas dengan kuota 25% ke atas memang tampak bahwa baik laki-laki maupun perempuan itu lebih punya kesempatan untuk dipilih oleh pemilih melalui kuota 5% ke atas dari BPP karena di atas itu memang 15% laki-laki dan 3% perempuan sementara apabila di atas 25% itu laki-laki turun sampai 2,5% dan laki-laki hanya 0,4%. Jadi data ini makin menyakinkan kami bahwa sebetulnya persoalan di lapangan itu adalah persoalan masing-masing caleg di mana mereka bisa melakukan kerja-kerja di bawah di konsituens. Berdasarkan alasan ini pula kami merekomendasikan bahwa penetapan calon anggota terpilih untuk DPR, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota dari partai peserta pemilu di dasarkan pada perolehan kursi ... daerah pemilihan dengan ketentuan nama calon yang mencapai angka 5% dari BPP ditetapkan sebagai calon terpilih. Dua, jika tidak calon yang mencapai angka 5% dari BPP berdasarkan calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut pada daftar calon di daerah pemilihan bersangkutan. C. Jika satu daerah pemilihan terdapat beberapa calon yang mencapai angka 5% dari BPP maka yang menetapkan sebagai calon terpilih adalah yang memperoleh suara terbanyak.

Bapak-ibu sekalian memang ini rekomendasi yang mungkin dalam tanda kutip sesuatu yang keluar jalur atau bagaimana hanya kami dari koalisi perempuan Indonesia bukan saja dari kalangan NJO tapi juga dari kalangan perempuan partai yang selama ini selalu berkeluh kesah, selalu menceritakan bagaimana kondisi internal partai dan sampai pada suatu kesimpulan memang ini adalah mungkin suatu mekanisme sementara tadi yang kemudian bisa mendorong masalah keterwakilan perempuan di dalam lembaga parleman.

Selanjutnya ini soal tatacara pencoblosan itu mungkin sama dengan yang didaftar pemerintah pemilih mencoblos pada salah satu gambar atau toto calon anggota DPR, DPD provinsi dan DPD kabupaten/kota yang tercetak di atas tanda gambar partai politik artinya sebetulnya kami tidak ingin mencoblos dua kali tapi hanya mencoblos satu kali pada nama caleg atau foto yang tercetak di atas tanda partai.

Selanjutnya adalah masalah jumlah kursi daerah pemilihan. Mungkin ini kami cenderung ke menengah besar antara 3 sampai 12 kursi dan yang lain-lain. Jadi bapak-ibu sekalian, itu beberapa rekomendasi dari kami dan sebetulnya secara lengkap kami sudah mengirimkan atau membagikan melewati absen tadi laporan lengkap yang mungkin sudah dipegang oleh bapak-ibu sekalian dan mungkin ini bisa menjadi bahan pertimbangan selanjutnya bagaimana rekomendasi ini dibuat. Demikian, terima kasih atas kesempatannya.

KETUA RAPAT:

Terima kasih dari Koalisi Perempuan Indonesia.

Saya ingin melanjutkan memperkenalkan lagi ibu-bapak Anggota Pansus yang kebetulan baru hadir, yang pertama Pak Jonny Alen beliau dari Fraksi Partai Demokrat, kemudian disebelahnya Bapak Simon Patrice Morin dari Fraksi Golkar, kemudian Bapak Nur suhud dari Fraksi PDIP, kemudian lbu Mustokoweni dari Fraksi Golkar, kemudian Bapak Patrialis Akbar dari Fraksi Amanat Nasional, kemudian lbu Lena Maryana dari Fraksi PPP.

Kemudian saya melihat ini acaranya sangat spesifik dan khusus topiknya saya atas kesepakatan pimpinan senang sekali kalau bisa menambah waktu, memberikan waktu sedikit tambahan kepada tiga orang ibu yang saya berharap memberikan kelengkapan atas segala hal yang sudah disampaikan tadi dan kalau ada barangkali ada lbu Hemas yang hadir juga selamat datang lbu Hemas dari DPD beliau, silahkan lbu Yuniwati perkenalkan terlebih dahulu supaya kita bisa saling mengenal, saya persilahkan dari lbu Yuniwati kemudian lbu Syahnidar dan kepada lbu

(13)

...

Rini Amaluddin dan nanti sebagaimana lajimnya akan kita persilahkan kepada ibu-bapak anggota Pansus untuk memberikan komentar, tanggapan atau pandangan dipersilahkan.

YUNIWATI M.S (ALIANSI KOALISI PEREMPUAN INDONESIA): Terima kasih bapak pimpinan.

Saya Yuniwati Ma'shum Sofwan dari Aliansi Koalisi Perempuan Indonesia. Kalau kita tadi mendengarkan ternan-ternan aktivis perempuan menyimak apa yang telah mereka sampaikan. Kita menyadari bahwa ada kaitan antar paket Undang-Undang Politik ini pak, terutama empat paket Undang-Undang Pemilu, Parpol, Susduk dan Undang-Undang Pemerintahan Oaerah. Oleh karena itulah, kami berharap di sini dari Aliansi Koalisi Perempuan Indonesia kepada ibu-bapak yang duduk di dalam tim Pansus kan ini Pansusnya berbeda pak, ada dua Pansus itu terutama dalam rangka meningkatkan keterawakilan perempuan menyadari adanya hubungan antar empat paket Undang-Undang Politik. Kalau kita lihat di dalam Undang-Undang Partai Politik misalnya di sana tidak secara jelas, secara eksplisit keterwakilan perempuan tercantum hanya di sana dikatakan bahwa harus memperhatikan keterwakilan perempuan. Jadi kuota itu harus wajib bagaimana bisa kita menundukkan perempuan di jabatan-jabatan penentu kebijakan kalau di dalam parpolnya sendiri sedikit sekali ada perempuan terutama di dalam kepengurusan harian. Kalau hanya ada satu atau dua dia tidak akan terdengar suaranya.

Kemudian juga di dalam Undang-Undang Pemilu selain pasal 65 kita juga harus memiliki suatu system pemilu yang berpihak kepada perempuan. Tadi sudah dijelaskan kalau BPP 5%-nya itu kita high call pak, saya kira bukan hanya perempuan yang senang dengan 5% ya laki-laki tentu

juga senang tapi itu mungkin merupakan sesuatu high call dan tentu saja apabila nanti itu

diterapkan system proporsional terbuka terbatas, kami juga berharap system Zig-Zagnya diterapkan kepada partai politik.

Kemudian juga Undang-Undang Susduk ini jugakan mengatur tentang pimpinan di fraksi maupun di komisi ya kalau tidak salah ya begitu. Jadi di situ ada pula kewajiban untuk keterwakilan perempuan, jadi itu saja dari kami mengingatkan kembali bahwa ada kaitan sangat erat antar paket Undang-Undang Politik ini.

Terima kasih.

SYAHNIDARIPARTAI HANURA: Terima kasih,

Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

Nama saya Syahnidar dari Partai Hanura, kami partai baru. Jadi kami akan mencoba juga hadir dalam pertemuan ini. Kami dari perempuan Hanura juga sudah membuat rekomendasi atas dasar pemikiran yang berkembang dalam diskusi interaktif yang diselenggarakan oleh perempuan Hanura. Maka perempuan Hanura mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut ;

1. Dalam mengembangkan kehidupan demokrasi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender, maka perlu dibangun sebuah kebersamaan dengan melibatkan partisipasi secara aktif dan kontruktif;

2. Pengaturan politik yang konvensional yang menghambat kemajuan perempuan dalam politik harus dirubah sehingga pengaturan baru Undang-Undang bidang Politik benar-benar berspektif gender jauh dari diskriminasi terhadap perempuan;

3. Ketentuan kuota 30% bagi representasi politik perempuan baik dalam kepengurusan partai politik maupun dalam daftar calon legislative wajib diterapkan secara jelas dalam Undang-Undang bidang Politik sehingga memiliki kekuatan hokum dan sanksi hokum. Jadi kami menggarisbawahi adalah kepengurusan dan juga calon legislative;

(14)

4. Untuk meningkatkan jumlah perempuan di legislative dan eksekutif perlu disusun pengaturan yang jelas dan proporsional dalam menempatkan perempuan di daftar calon legislatfi dan perlu pengaturan bagi partai politik untuk melakukan pendidikan politik perempuan.

Demikian rekomendasi ini kami sampaikan, mohon untuk dapat didukung dan dimasukkan dalam Undang-Undang Partai Politik dan Undang-Undang Pemilu 2009. Jakarta, 17 Juli perempuan Hanura, Ora. Min Untoro dan Dr. Syahni dan Elfiani

RINI/LPPI:

Terima kasih bapak pimpinan.

Hari ini kami mewakili LPPI. T adi semua sudah mendengar apa masalah-masalah yang menjadi krusial dalam kita berusaha meningkatkan jumlah keterwakilan perempuan legislative, eksekutif maupun yudikatif. Saya ingin bapak memahami walaupun saya tahu bapak ini anggota yang terhormat tapi belum tentu semua paham apa sebetulnya masalah yang dihadapi perempuan ini. Kalau yang terhormat para anggota DPR Pansus baik bapak-bapak dan ibu sudah memahami saya rasa perjuangan ini ... kami di dukung di sini. Jadi begini pak, saya akan bicara daripada ibu Yuniwati mengatakan masalah perempuan sangat terikat dengan RUU yang akan kita sempurnakan ditambah nanti RUU tentang Pemerintah daerah. Pertanyaannya mana yang hulu, mana yang hilir dulu? Tentunya bapak sepakat tidak dengan pertanyaan saya? Kita mulai dulu dari partainya, kalau partainya itu juga tidak memberikan kesempatan kepada perempuan sampai lebaran kapan pun tidak akan teratasi saya sejujurnya pak. Kalau di partai kecil mungkin kesempatannya jauh lebih banyak, di partai besar luar biasa. lni Pak Ferry ada di sini mungkin lebih bisa menjelaskan apa yang saya maksudkan dan bapak Pansus juga memahami apa yang saya sampaikan. Masalah intern partai dari rekruitmen saja sudah terjadi perbedaan dari mulai administrasi, dari mulai kebijakan partai sampai kepada pertarungan masalah dana. Kalau sudah bicara uang, perempuan hand up tapi apakah uang itu segala-galanya itu pertanyaan saya kepada

yang terhormat di Pansus ini. Uang ada tapi tidak sebanyak bapak, kesempatan ayo kita bertarung soal kualitas, ayo kita maju pak, karena apa? Karena kalau perempuan yang maju ditanyakan kualitasnya. Kenapa laki-laki yang maju tidak pernah ditanya? ltu pertanyaan saya.

Jadi saya mohon kita fear, kita main itu fear, main transparan, kita mari mengukur dengan paradigma yang sekarang ada. Jadi saya mohon, dimulai dari partainya dulu 30% kepengurusan partai ada sanksinya kalau tidak, di hariannya pak itu juga sampai kepada di Undang-Undang Pemilunya bagaimana, system pemilunya bagaimana, peta politiknya bagaimana, pemetaannya bagaimana ... saya mengakui bahwa perempuan itu juga belum semuanya siap, itu saya mengakui pak, tapi tugas partailah yang melakukan pendidikan politik. Di sini ada sekolah politiknya yang kebetulan saya tidak promosi ya pak, saya minta maaf tapi inilah karena LPPI itu pilihlah perempuan untuk perempuan tapi perempuan yang bagaimana, yang berkualitas. Jadi bukan sembarangan perempuan pak, yang dipilih. Jadi saya mohon mana yang hulu. mana yang hilirnya dulu. Kalau hulunya masih juga tidak diperbaiki bagaimana kita sampai ke hilirnya demikian juga begitu pak.

Jadi kalau kita bicara masa depan kebijakan affirmative actions hukumnya adalah

mandatory tidak ada pilihan lagi, imperative tidak ada tawar menawar lagi wajib hukumnya. Yang kedua pak, kalau partai politik tidak dapat melaksanakan itu harus ada sanksinya pak, nah sanksinya di Undang-Undang Penyelenggara Pemilu jelas KPU harus memberi sanksi dari mulai di daerah sampai di pusatnya pak. Yang ketiga, saya mohon system Zig-Zag ini juga menjadi satu pertimbangan karena startnya berbeda pak, kalau bapak sudah sampai di Bandara cengkareng

(15)

"-startnya perempuan masih dipasar boblo pak. Jadi kalau 30% itu sudah terakomodasi dengan segala hati, senang hati dan ikhlas kita melepaskan diri dari affirmative actions.

Terima kasih,

Assa/amu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

TITI SUMBUNG/PUSAT PEMBERDAY AAN PEREMPUAN :

Sebenarnya kalau boleh ini ada tiga partai di depan dan ini ada banyak partai, kita tahu bahwa 30% itu sekurang-kurangnya 30% caleg itu nanti akan bertarung lagi bersama-sama di waktu pemilu. Kenapa sih takut? Ya toh itu sama-sama secara demokrasi inikan untuk menambah nilai demokrasi begitu loh, kenapa kok banyak sekali yang tidak setuju, banyak sekali kok takut begitu loh, kan kita akan berantem-berantem tapi artinya kita memang berdemokrasi itu adalah seperti itu. kami menyadari ini tidak juga tidak mudah bagi perempuan karena terutama di tingkat kabupaten. Oleh karena itu, kami juga mengajak partai-partai politik untuk mengambil tindakan khusus marilah pendidikan politik ini menjadi kita bersama-samalah mengangkat lebih banyak perempuan. Saya kira itu saja. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih ibu-ibu dan hadirin sekalian,

Sebagaimana lazimnya, kami persilahkan kepada bapak dan ibu anggota Pansus untuk memberikan respon atas berbagai hal yang tadi dikemukan. Saya persilahkan kepada Pak Patrialis Akbar.

H. PATRIALIS AKBAR, SH/F·PAN: Terima kasih pimpinan,

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami hormati khususnya kepada ibu yang dating sebagai narasumber.

Terus terang sebetulnya kita sudah berprinsip tidak akan membedakan antara laki-laki dengan perempuan. Kenapa? Karena laki-laki dan perempuan adalah warga Negara yang sama-sama mempunyai hak dan kedudukan di dalam berbangsa dan bernegara ini. Jadi sebetulnya kita tidak boleh membedakan mana yang laki-mana yang perempuan karena kita prinsipnya sama-sama mempunyai kesempatan. Sekarang tergantung bagaimana masing-masing laki-laki dan perempuan itu memainkan peranannya mewujudkan prestasi yang baik. Oleh karena itu, kalau memang kita ingin jangankan 30% sebetulnya kalau kita ingin atur di dalam undang-undang ini supaya lebih fear meskipun sistemnya agar berbeda tadi, kapan perlu nomor urutnya itu gantian laki-perempuan, perempuan-laki. Jadi memberikan gambaran bahwa memang mempunyai kesempatan yang sama, jadi jangankan 30% kalau kita hitung presentase sebab kalau kita pakai presentase seperti itu justru menurut saya membuka peluang untuk lebih mengecilkan walaupun ada kalimat tadi mengatakan sekurang-kurangnya itu satu.

Yang kedua, tadi juga disampaikan mengenai masalah system pemilihan umum apakah proporsional terbuka murni, apakah nomor urut. Kalau kita berbicara masalah proporsional terbuka sebetulnya kita tidak lagi bicara nomor urut. Jadi apakah kita di nomor 1, apakah di nomor 5 kalau memang itu kualitasnya betul-betul bisa diharapkan dan masyarakat mengenal itu pasti terpilih. Jadi pad a prinsip keterwakilan perempuan ini, kami Partai Amanat Nasional memberikan dukungan sepenuhnya.

(16)

·

--

.

PERMADI, SH/F-PDIP : Terima kasih pimpinan, lbu-ibu yang saya hormati.

Kalau saya akan berbicara seperti ini bukan karena di depan ibu-ibu, saya adalah seorang spiritualis jawa. Jadi dimana pun saya akan berbicara seperti ini. Pertama, secara filosofis, secara mitos di Indonesia ini laki-laki is nothing Negara kita disebut ibu pertiwi, penjaga laut yang ganas ratu kidul, penjaga laut utara Dewi lanjar, ini ibu jari bukan bapak jari. Orang Batak tidak berani memberi nama anaknya nama pasar pasti pasaribu, surga di telapak kaki ibu. Jadi laki-laki itu tidak ada simboliknya di Indonesia, tetapi barangkali ibu-ibu telah melupakan filosofi, metologi di Jawa di Indonesia ini mungkin lebih terkesan dengan perjuangan emansipasi dan lain sebagainya. Padahal secara filosofi, secara mitologi perempuan di Indonesia itu lebih tinggi dari laki-laki. Nah karena itu, mungkin yang harus dirombak adalah filosofi kita yang sudah terkena pencemaran-pencemaran ini kita kembalikan. Jaman dulu tribuana tunggadewi atau gayatri jadi ratu tidak ada masalah, ratu bokor, ratu ini banyak ratu-ratu, banyak barangkali tapi karena sudah berubah itulah seakan-akan perempuan-perempuan ini harus minta maaf mengemis-ngemis tempat dan lain sebagainya. Padahal tidak boleh itu makanya itu saya memberikan kesan sepertinya.

Kemudian kendala-kendala apa yang ada di perempuan? Nah dengan filosofi dan mitos seperti ini, saya menyetujui bukan hanya 30 tapi 60% sesuai dengan perbandingan penduduk Indonesia harusnya, ini juga akan mengurangi beban laki-laki di dalam memikirkan Negara. Kemudian kami lihat juga ada beban-beban. Saya dari Dapil 9 Jawa timur wilayah Pantai utara Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro. Saya turun ke konsituens bukan hanya konsituens POl Perjuangan saya turun ke PKB, saya turun ke Golkar saya Tanya "kenapa perempuan tidak bisa maju, kenapa tidak" umumnya ini di daerah pedesaan umumnya menjawabnya 'aduh pak, kalau saya harus ke Jakarta nanti suami saya tidak pindah, anak saya masih kecil' kalau aktivis-aktivis, saya yakin bisa tapikan kita memerlukan perwakilan bukan hanya aktivitas atau menunggu anak saya besar dulu biar bisa berdiri sendiri baru saya akan terjun. Nah kendala-kendala ini ada pada masyarakat yang masih tradisional. lni yang harus dibongkar juga.

Kemudian juga ada terus terang saja, kami melihat di DPR kalau perempuan-perempuan banyak di DPR yang pentingkan bukan perempuannya, yang pentingkan persatuan diantara mereka, kesempatan-kesempatan diantara mereka. Buat apa perempuan banyak di DPR kalau juga perang tanding satu sama lain sebagai contoh, waktu kita membahas Undang-Undang Pornografi umumnya pansusnya itu perempuan umumnya dari partai ini, dari partai ini umumnya perempuan tarung tidak ada kesepakatan, perempuan yang satu menolak dengan keras Undang-Undang Pornografi, perempuan yang lain mendukung dengan keras Undang-Undang-Undang-Undang Pornografi.

Jadi menu rut saya perlu ada kotak-kotak partai dan sebagainya ini harus dibongkar. Kalau perempuan nanti mewakili rakyat di DPR, kotak-kotak partai ini harus bisa dibongkar, kalau tidak akan terjadi dikotomi terus-menerus diantara mereka. Kemudian juga terus terang saja ini bukan mengeluh waktu Mega menjadi presiden pun tidak didukung oleh kaum perempuan pada umumnya tentu alasannya ada tapi masalahnya solidaritas perempuan dibutuhkan dalam hal ini kalau kita memang menginginkan perempuan menjadi pemimpin di Indonesia.

Kemudian pada umumnya perempuan-perempuan di Indonesia ini lebih penonjolan kepada selebritis dicalonkan sebenarnya harusnya menjadi vote getter saja umumnya saya tidak mengatakan semua dan terus terang saja takkala Marissa Haque yang di PAW itu yang bersorak dengan permintaan maaf juga perempuan sendiri kenapa tidak mempertahankan malah bersorak girang begitu. Jadi ada hal-hal dimana perempuan sendiri mempunyai masalah begitu.

Kemudian kalau memang tadi ibu mengatakan kenapa tidak diberi peluang perempuan? Sebenarnya jangan begitu seharusnya berani bersaing dalam partai berani bersaing, berani ngomong keras, berani berjuang. Nah umumnya yang berani itu para aktivis umumnya seperti LSM

(17)

aktivitas yang tidak itu kalau sudah berdebat diam umumnya, jadi kurang ada perlawanan-perlawanan sehingga tidak mampu merebut posisi-posisi yang diinginkan. Jadi menurut saya, etos perjuangannya kurang dalam merebut posisi, jadi merebut posisi itu jangan diartikan "aduh aku sungkan" tidak posisi itu harus direbut tidak mungkin diberikan ke laki-laki. Nah karena itu, menurut saya sebenarnya perempuan punya senjata yang luar biasa 53%. Kalau pemilu belum memenuhi persyaratan seperti yang diinginkan perempuan boikut saja, kalau perempuan berani boikut pemilu habis.

Terima kasih.

Dr.BENNY KABUR HARMAN, SH/F-PD : Terima kasih pimpinan,

lbu-ibu dan bapak-bapak sekalian yang saya hormati.

Saya ingin tanya kepada lbu Ani Sucipto mengenai ketentuan yang sifatnya affirmative ini. Saya setuju apakah memang itu di dalam undang-undang, apakah itu Undang-Undang Parpol kemudian Undang-Undang mengenai Pemilu, hanya kalau tadi dikatakan mesti ada sanksi itu juga betul tetapi melihat pengalaman dan realitas, kalau itu sepenuhnya diserahkan kepada KPU dan tanpa ada mekanisme yang menjamin KPU juga untuk melaksanakan ketentuan itu, itu juga akan menjadi mubajir. Oleh sebab itu, saya ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut mekanisme yang kita perlukan untuk memaksa KPU sekalipun untuk menerima itu. kalau misanya KPU tetap meloloskan itu, apa upaya yang bisa dilakukan? ltu satu.

Yang kedua adalah mungkin tidak ada upaya lain yang bisa memposisikan kaum perempuan untuk bisa melakukan gugatan apabila ketentuan-ketentuan itu tidak dipenuhi baik dalam level partai, maupun dalam level KPU tapi jangan juga nanti ketentuan itu hanya memberi hak juga tetapi juga tidak efektif hanya formalitas dua-dua tapi tetap saja jalan itu keputusan yang terjadi selama inikan begitu, hak juga dikasih tetapi keputusan itu efektif. Kita tahu di Indonesia inikan gugatan itu bisa beranak pinak dia, bisa tahun-tahun, bisa berpuluh-puluh tahun bahkan sampai pemilu yang berikutnya dimulai lagi keputusan pun belum muncul. Saya ingin lebih dapat menggali lebih jauh dari lbu Ani mengenai sama-sama kita mengawal itu. jadi tidak cukup kita memaksakan supaya ketentuan affirmative itu masuk dalam undang-undang ini harus dikawal. Saya mohon penjelasan atau mungkin pemikirannya supaya ketentuan ini sungguh-sungguh bisa dilaksanakan di lapangan. Yang kedua, saya juga ingin Tanya mendapatkan gambaran lebih lanjut dari lbu Titi Sumbung nanti bisa dijelaskan oleh ibu-ibu yang lain.

Kemudian problem pokok bangsa kita ini dalam kaitan dengan persoalan kaum perempuan dalam politik apa sebetulnya? apakah masalahnya itu dalam level keterwakilan fisik? Atau pada lebih kepada masalah-masalah yang hubungannya sangat erat dengan persoalan keterwakilan ide atau keterwakilan gagasan. Pada level ini sebetulnya kita tidak lagi ngomong bahas keterwakilan fisik perempuan atau laki-laki yangpenting adalah apakah problem-problem atau kepentingan-kepentingan atau aspirasi kaum perempuan pada umumnya bisa diperjuangkan baik oleh wakil yang laki-laki maupun oleh wakil yang perempuan. Sebab saya sangat takut keterwakilan system affirmative yang sekian banyak itu tadi tidak menjamin keterwakilan gagasan untuk memperjuangkan aspirasi atau kepentingan kaum perempuan. Kalau pola paradigma system social kita masih sangat buyers pada system partiakat itu. ini-ini untuk kita diskusi lebih jauh oleh ternan-ternan dalam kaitan dengan problem bangsa ini dalam hubungan persoalan kaum perempuan dalam masalah politik dan tentu saja bukan hanya soal kaum perempuan dalam politik tetapi bagaimana kaum perempuan sebagai-bagian dari bangsa ini yang juga memiliki tanggungjawab yang sama untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Saya rasa point-point yang mesti kita bahas bukan semata-mata soal ketentuan affirmative ini tapi

(18)

bagaimana kita sama-sama melihat masalah bangsa ini dan sama-sama pula kita memberikan jawaban dan menyelesaikannya.

Kemudian yang ketiga, mungkin saya mau lebih jauh apa yang disampaikan oleh yang terhormat Pak Permadi tadi, saya sangat setujubahwa persoalan perempuan dalam politik tidak bisa dijawab dengan ketentuan-ketentuan yang sifatnya affirmative itu belaka, tidak bisa. Oleh sebab itu, selain ketentuan-ketentuan yang affirmative yang mudah-mudahan bisa dimasukkan nanti agenda yang paling penting bagi kita ini bagi kaum perempuan di bangsa ini adalah bagaimana membangkitkan kembali semangat, bagaimana kaum perempuan ini bangkit kembali untuk mengambil bagian dalam kehidupan politik bahwa tanpa mengambil bagian dalam kehidupan politik bangsa ini sebetulnya tinggal waktu untuk mengubah kalau mau ekstrim seperti itu. oleh sebab itu, masalah pokok bagi saya selain itu adalah bagaimana sebetulnya kita membangkitkan kembali kebangkitan kaum perempuan dalam politik ini, menciptakan system politik, system social yang kondusif supaya kaum perempuan bangkit dalam politik. Saya rasa ini agenda yang jauh lebih penting dari sekedar soal masalah yang sifatnya affirmative yang tadi dikatakan Pak Permadi cenderung mengesankan meminta belaskasihan.

Jadi pimpinan, ibu-ibu sekalian, tentu saja tidak mengurangi komitmen kami dari Fraksi Partai Demokrat untuk memperjuangkan kuota jangankan 30%, 50%, 70% pun itu akan diperjuangkan tetapi jangan sampai ketentuan ini menghambat iklim persaingan yang pada prinsipnya berbasikan pad a prinsip politik ekualitas di depan hokum dan pemerintahan.

Sekian pimpinan, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Pak Beni terima kasih. lbu-ibu tolong di catat juga barangkali nanti bisa memberikan respon kembali, saya lihat tadi ada masalah-masalah yang tadi disampaikan oleh Pak Permadi juga masalah persoalan internal perempuan itu bagaimana dan kemudian juga ada appeal dari

Pak Beni apakah perwakilan yang dimaksudkan itu secara fisik sajakah atau seperti ide begitu, karen a memang keterwakilan politik memiliki setidaknya dua dimensi simbolik dan kapabilitas. Jadi saya piker pertanyaan yang sangat relevan yang sudah dijelaskan nanti jawabannya. Saya kira demikian dan seterusnya saya persilahkan kepada Pak Simon.

Drs. SIMON PATRICE MORIN/F-PG:

Terima kasih pimpinan rapat, ibu-ibu yang saya hormati.

Pertama saya menyampaikan penghargaan atas aspirasi yang telah diperjuangkan dengan menghadirkan sekian banyak wakil dari kaum perempuan di ruangan ini. Pada waktu pembahasan Undang-Undang Pemilu yang lalu pun ya katakanlah pressure dalam tanda kutip itu

cukup menghasilkan satu keputusan politik dan saya kira apa yang ditampilkan pada hari ini mudah-mudahan ini menjadi gerakan sampai level di bawah tidak hanya tampil pada level Jakarta saja dipusat saja tanpa harus menjadi gerakan dari warga Negara Republik Indonesia yang perempuan sehingga hak-hak politik kaum perempuan betul-betul terakomodasi bukan saja pada level nasional tapi juga sampai level di tingkat daerah.

Jadi apa yang dilakukan pada hari ini mudah-mudahan menjadi gerakan dari kaum perempuan seluruh Indonesia. Jadi tidak hanya wakil dari mereka yang ada di Jakarta saja sedangkan the silent majority yang ada di desa-desa, yang ada di daerah-daerah itu melihat

perjuangan ini menjadi sesuatu yang terlepas dari kepentingan mereka dan saya kira hal ini yang harus menjadi perhatian dari ibu-ibu yang hadir pada kesempatan ini, ya walaupun di sini dikatakan bahwa ada affirmative actions, saya kira sebagai hak dari warga Negara mestinya bukan affirmative actions hak kita cukup katakan bahwa adalah hak dari setiap warga Negara khususnya

(19)

keputusan-keputusan politik yang begitu penting dan begitu menentukan nasib daripada kehidupan bangsa kita, nasib daripada anak-anak kita. Ada yang mengatakan ibu-ibu lebih sensitive melihat persoalan-persoalan social, persoalan-persoalan kemanusiaan yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Jadi berada di dalam di bidang politik saya kira hal yang penting ya walaupun sekarang diperjuangkan tetapi mestinya menjadi kesadaran bersama dari bangsa kita untuk melihat sesuatu yang penting bukan karena ibu-ibu hadir di sini untuk mengatakan bahwa itu penting tetapi harus menjadi kesadaran bersama dari suatu bangsa untuk melihat peranan kaum perempuannya di dalam berbagai bidang apakah di politik seperti sekarang ibu-ibu perjuangkan tetapi juga dibidang-bidang yang lain

Jadi kami dari Partai Golkar dalam berbagai kesempatan terus mendiskusikan hal-hal seperti ini karena kami merasa bahwa hal itu penting bahwa ibarat kita berjalan, kita tidak bisa berjalan jauh kalau kita hanya berjalan dengan satu kaki demikian juga kalau kita berdiri kita tidak bisa berdiri terlalu lama kalau kita hanya dengan satu kaki harus dua kaki baru manusia itu bisa bergerak dengan lebih gesit, dengan lebih sempurna.

Terima kasih.

Drh. JHONNY ALLEN/F·PD : Terima kasih,

Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

Salam sejahtera, selamat siang untuk semuanya.

Pimpinan yang saya hormati bersama dengan anggota Pansus dan ibu-ibu yang saya cintai dan yang saya muliakan.

Pertama-tama saya memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kaum ibu karena kalau tidak ada kaum ibu saya tidak bisa duduk-berdiri di depan ini. Saya melihat dari apa yang kita diskusikan maupun dalam perspektif politik terdapat khususnya di dalam peranan kaum ibu adalah saya tidak melihat di dalam mensandingkan antara kaum ibu dan kaum bapak dan saya lebih cenderung melihat adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya karena pad a kesempatan itulah saya kira orang bisa belajar learning by doing bisa meningkatkan kemampuan tapi

pemberian kesempatan ini pun saya kira tidak bisa juga bertekuk sebelah tangan harus juga dari dua-duanya. Kenapa saya katakan demikian? Saya salah satu pengurus di Partai Demokrat, saya sebenarnya di dalam konsolidasi organisasi saya di Partai Demokrat mencoba seluas-luasnya untuk mengikutsertakan pengurus-pengurus bahkan pimpinan-pimpinan partai khususnya partai Demokrat mulai dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas untuk by proses learning by doing dimana bahwa legislative itu akan diusulan oleh parpol itu sendiri. Karena bagaimana pun di

dalam mengusulkan calon-calon legislative di luar kepengurusan atau pimpinan pengurus di dalam affirmative tadi adalah juga sesuatu hal yang akan debatable dalam internal pengurus itu.

Sehingga sebenarnya memang bahwa kaum perempuan mulai dari tingkat daerah sebenarnya juga harus juga bisa gayung bersambut bagaimana mengambil peranan daripada menjadi aktivis atau pengurus-pengurus partai di daerah dari semua partai-partai politik yang ada. Sehingga saya kira kuota ya minimal 30 bahkan di atas saya kira adalah saya kira tidak menyulitkan secara teknis di dalam mengusulkan secara administrative tadi. lni saya lihat menjadi kendala. Nah di dalam Partai Demokrat saya sebenarnya untuk itu dipilih lebih dari 33 kita menginginkan paling tidak 5 sampai 10 tapi kita baru hanya mampu sekitar 3 untuk daerah kabupaten/kota yang dari 440 delapan kabupaten kota, kita mengingkan sekitar 50 sampai 1 00 tapi kita baru hanya mampu sekitar 15 tentunya ini adalah yang menjadi pimpinan-pimpinan memang untuk katakanlah level di bawahnya sang at katakanlah ban yak ...

lnilah sebenarnya yang juga dari perhatian kita sekaligus saya informasikan juga kepada para kaum ibu bagaimana mensosialisasikan ini agar juga kaum perempuan ini secara katakanlah

Referensi

Dokumen terkait

Writing an outline will help you to feel better about writing your research paper because you will have a sense of organization and direction after you write it.. Create the

Selanjutnya apabila ada rekanan/perusahaan peserta pelengan umum yang berkeberatan atas pengumuman ini, maka diberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan secara tertulis

Sehubungan dengan Pembukaan Penawaran hanya dua penawar/penyedia yang memasuki penawran maka Pokja V ULP Kabupaten Maluku Tengah Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten

¯ Religious or political affiliations ¯ Reasons why you left your last job ¯ Your Social Security Number.. ¯ Health restrictions or

Sehubungan dengan pekerjaan : Pengawasan Pembangunan Jaringan Air Bersih/Air Minum Sumber Dana Alokasi Umum (DAU)(Lelang Ulang) maka dengan ini kami: POKJA Dinas Pekerjaan Umum

Seluruh asli dokumen penawaran Saudara yang telah diunggah melalui LPSE Kota Medan; 2.. Berkas asli Dokumen Kualifikasi dan fotokopinya sebanyak 1

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya telah memberi kemudahan dan juga kelancaran sehingga

Uji coba lapangan dilaksanakan di MTs Assyafi’iyah Gondang selama 2 minggu pada kelas VII E dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang. Peneliti menggantikan guru kelas untuk