BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN A.
A. LaLatatar Ber Belalakkanangg
Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, uni
unik, k, stesterereotiotipikpikal, al, dan dan ststigmigmatiatik. k. IdeIdentintitas tas budbudayaayanya nya ituitu dianggap sebagai deskripsi dari generalisasi jatidiri individual dianggap sebagai deskripsi dari generalisasi jatidiri individual ma
maupupun un kkomomununal al etetninik k MaMadudura ra dadalalam m beberprpererililakaku u dadann berkehidupan. Kehidupan mereka di tempat asal maupun di berkehidupan. Kehidupan mereka di tempat asal maupun di per
perantantauaauan n kkeraerapkpkali ali memmembawbawa a dan dan sensenantantiasiasa a dipdipahaahamimi oleh ko
oleh komunitas etnik munitas etnik lain lain atas dasar atas dasar identitas kidentitas kolektifnya itu.olektifnya itu. Ak
Akibibatatnnyaya, , ttididaak k jjararanang g di di anantatarra a mmererekeka a memennddapapatat perlakuan s
perlakuan sosial maupuosial maupun kultun kultural ral seara !sik seara !sik dan atau dan atau psikispsikis yang dirasakan kurang
yang dirasakan kurang proporsional.proporsional.
Berbagai deskripsi perilaku absurd orang"orang Madura Berbagai deskripsi perilaku absurd orang"orang Madura terbia
terbiasa sa diungdiungkap kap dan dan ditamditampilkpilkan an misalmisalnya, nya, dalam dalam forumforum"" fo
forurum m pepertrtememuauan n kkomomununititas as inintetelelektktuaual l #w#wellell"e"eduduaateted$d$ seh
sehingingga ga kiakian n menmengukgukuhkuhkan an gengeneraeralislisasi asi ideidentintitas tas mermerekekaa dalam
dalam nuansa nuansa tersubordinasi, tersubordinasi, terhegemonik, terhegemonik, dan dan teralienasiteralienasi dari %pentas budaya& berbagai etnik lainnya sebagai elemen dari %pentas budaya& berbagai etnik lainnya sebagai elemen pembentuk budaya nasional.
pembentuk budaya nasional. 'alam k
'alam konteks ronteks religiusitas, eligiusitas, masyarakat masyarakat Madura dikMadura dikenalenal mem
memegaegang kuang kuat #memt #memedoedomanmani$ ajari$ ajaran Islaan Islam dalam m dalam polpolaa k
kehehididupupanannynya a kkenendadati ti pupun n memenynyisisakakan an didilelemama, , ununtutukk menyebut adanya deviasi atau kontradiksi antara ajaran Islam menyebut adanya deviasi atau kontradiksi antara ajaran Islam #formal dan substantif$ dan pola perilaku sosiokultural dalam #formal dan substantif$ dan pola perilaku sosiokultural dalam praks
praksis is kekeberagberagamaan amaan mermereka eka itu. itu. (e(engakngakuan uan bahwbahwa a IslaIslamm sebagai ajaran formal yang diyakini dan dipedomani dalam sebagai ajaran formal yang diyakini dan dipedomani dalam keh
kehidupan individuidupan individual al etnik Madura etnik Madura itu itu ternternyata yata tidatidak k selalselaluu men
menampampakkakkan an linlinierieritaitas pada siks pada sikap, penap, pendiridirian, dan poan, dan polala perilaku mereka.
perilaku mereka.
) )
B.
B. **umuumusan san MasMasalaalahh ).
). BagaBagaimana (imana (engertengertian Islian Islam dan Bam dan Budaya Mudaya Madura adura ++ .
. BagaBagamana *mana *elasi Agelasi Agama daama dan Budn Budaya Maaya Madura +dura + -.
-. BagaBagaiaman Iiaman Identitdentitas Islaas Islam dan Bm dan Budaya Mudaya Madura +adura + .
. //ujuan ujuan ((embahembahasanasan ).
). 0ntu0ntuk Mengek Mengetahui Mtahui Mengenengenai Islam dai Islam dan Budaan Budaya Maduya Madura.ra. .
. 0ntu0ntuk Menetk Menetahui *ahui *elasi Agelasi Agama dan Bama dan Budaya Maudaya Madura.dura. -.
-. 0ntu0ntuk Mengek Mengetahui Idtahui Identitentitas Islam das Islam dan Budayan Budaya Madura Madura.a.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Islam dan Budaya
Agama Islam dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Ketika berbiara agama dan kebudayaan, bisa dilihat lewat aplikasi fungsinya dalam wujud sistem budaya dan juga dalam bentuk tradisi ritual atau upaara keagamaan yang nyata"nyata bisa mengandung nilai agama dan kebudayaan seara bersamaan.
Berbiara agama Islam dengan kebudayaan, tentu merupakan pembahasan yang sangat menarik. 'imana Islam sebagai agama universal merupakan rahmat bagi semesta alam dan dalam kehadirannya di muka bumi, Islam berbaur dengan budaya lokal suatu masyarakat, sehingga antara Islam dengan budaya lokal tidak bisa dipisahkan, melainkan keduanya merupakan bagian yang saling mendukung dan melengkapi.)
Adapun kebudayaan yang mengiringi tumbuhnya dan menyebarnya Islam keberbagai penjuru dunia. 'engan watak, keadaan geogra!s dan tatanan sosial yang ada maka melahirkan sejumlah de!nisi dari budaya atau kebudayaan itu sendiri.
1eara bahasa kata kebudayaan adalah merupakan serapan dari kata 1ansekerta, %Budayah& yang merupakan jamak dari kata %buddi& yang memiliki arti budi atau akal. 'engan demikian ke budayaan dapat diartikan dengan hal" ) Ahmad 1upadie, Pengantar Studi Islam, #2akarta3 *aja 4ra!ndo
(ersada, 5))$, hlm. 6)"6
-hal yang bersangkutan dengan akal. Kebudayaan adalah -hal" hal yang merupakan hasil dari keseluruhan system gagasan, tindakan, ipta, rasa dan karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang semua itu tersusun dalam kehaidupan masyarakat.
1eara istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Budaya memiliki arti pikiran7 akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. 1edangkan Kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan peniptaan batin atau akal budi manusia seperti keperayaan, kesenian, dan adat istiadat, keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
'alam antropologi budaya, dikenal maam"maam suku dan budaya dari berbagai daerah, salah satu dari suku tersebut adalah masyarakat suku Madura. Masyarakat Madura adalah orang"orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Madura dengan ragam dialeknya seara turun temurun. 1uku Madura adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah Madura. 1eara geogra!s suku Madura adalah merupakan bagian dari 2awa, namun masyarakat suku Madura memiliki iri khas yang sangat berbeda dari pada masyarakat 2awa pada umumnya, hal ini tanpak pada bahasa yang digunakan dalam kesehariannya. 8ang dikatakan suku Madura adalah masyarakat yang mendiami tanah Madura yang meliputi Bangkalan, 1ampang, *ohiman 9otowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-qur’an
dan Hadis, #2akarta3 *aja 4ra!ndo (ersada, )::;$, hlm.
(amekasan, dan 1umenep. 1umenep adalah merupakan ujung timur dari suku Madura yang merupakan bekas kerajaan yang sangat berpengaruh pada masa kerajaan" kerajaan di 2awa.
-Kebudayaan Madura adalah kebudayaan masyarakat asli Madura yang telah berkembang semenjak masa prasejarah. 1ebagai halnya suku"suku sederhana lainnya, budaya asli Madura ini bertumpu pada keperayaan animisme dan dinamisme. 'asar pikiran dalam keperayaan animisme dan dinamisme bahwa dunia ini juga didiami oleh roh"roh halus termasuk roh nenek moyang dan juga kekuatan"kekuatan #daya"daya$ ghaib.
1ebagai sebuah kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling memengaruhi karena keduanya memiliki nilai dan simbol. Agama adalah merupakan simbol yang menjadi lambang nilai ketaatan kepada /uhan. Kebudayaan juga memiliki nilai dan simbol agar supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol. 'engan kata lain, agama memerlukan kebudayaan. 9amun keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang !nal, universal, abadi, dan tidak mengenal perubahan #absolut$. Kebudayaan bersifat partikular, relatif, dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi. 9amun, tanpa kebudayaan, agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat. 'i Madura, Khususnya di 1umenep, agama #Islam$ dan budaya yang ada di 1umenep adalah merupakan - Kodiran, Kebudayaan dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia,
#2akarta3 2ambatan, ):6;$, hlm. -
ajaran Islam yang berkembang dan berjalan selaras dengan kebudayaaan masyarakat 1umenep.<
B. Relasi Agama dan Budaya Madura
1ejarah telah menorehkan atatan ihwal relasi agama dan kebudayaan yang berlangsung seara khusus dalam beberapa fase. (ertama, fase dimana agama dan kebudayaaan dipandan sebagai dua komponen yang sulit di pisahka antara satu dangan yang lainnya. Kedua, fase dimana agama dan kebudayaan mulai mengalami diferensiasi struktural. Agama mulai menjadi istitusi sendiri. 'emikian juga kebudayaan. Ketiga. >ase dimana diferansiasi agam dan kebudayaan semakin transparan. Agam mulai memiliki wilayah #menjadi istitusi$ tersendiri dan jarang berinteraksi dengan wilayah kwbudayaan lainnya.
>ase pertama tampak misalnya dari laku keberagaman yang di praktekkan orang"orang hindu jawa kuno. 'isampinag melakukan ritual keberagaman sebagaimana terpatri dalam ajaran agama, pengaruh dinamisme dan animisme sebagai nilai lokal masih ukup lekat dalam praktek kehidupan sehari" hari.
>ase kedua dalam konteks ini, islam lokal terbentuk dari interaksi dinamis melalui negosiasi antara islam dan nilai lokal. 'emikianpun masih terlihat bagaimana islam sebagai agama mempunyai struktur dan tempat tersendiri. 'alam prakteknya masih menunjukkan bagaimana kentalnya warna islam atas lokalisasi.
>ase ketiga terlaak seiring dengan munulnya gerakan puri!kasi dan puritanisasi yang dilakukan oleh kelompok modernis. Kelompok ini berusaha membersihkan dan memurnikan agam dari anasir"anasir asing yang kerap di < Iskandar ?ulkarnain, Sejara Sumene!, #1umenep3 'inas (ariwisata dan Kebudayaan, 55-$, hlm. -"@
lebeli dengan takhayul, mistik, khurafat, bidah dan sebagainya.
C. Identitas Islam dan Budaya Madura
*eligiusitas masyarakat etnik Madura telah dikenal luas sebagai bagian dari keberagamaan kaum muslimin Indonesia yang berpegang teguh pada tradisi atau ajaran Islam dalam menapak realitas kehidupan sosial budayanya. Kendati pun begitu, kekentalan dan kelekatan keberislaman mereka tidak selalu menerminkan nilai"nilai normatif ajaran agamanya. Kondisi itu dapat dipahami karena penetrasi ajaran Islam yang dipandang relatif berhasil ke dalam komunitas etnik Madura dalam realitasnya berinteraksi dengan kompleksitas elemen"elemen sosiokultural yang melingkupinya, terutama variabel keberdayaan ekonomik, orientasi pendidikan, dan perilaku politik. asil penetrasi Islam ke dalamnya kemudian menampakkan karakteristik tertentu yang khas dan sekaligus juga unik.=
Cleh karena itu, pemahaman dan penafsiran atas ajaran Islam normatif pada warga etnik Madura pada perkembangannya berjalan seiring dengan kontekstualitas konkret budayanya yang ternyata sangat dipengaruhi jika tidak dikatakan bermuatan heretial oleh lingkup lokalitas dan serial waktu yang membentuknya. 'alam perwujudannya, keberagamaan etnisitas komunal itu ternyata menampakkan diri dalam bentuk loal tradition di mana Islam sebagai great tradition #ajaran dan praksis normatif$ membentuk
konsepsi tentang realitas yang mengakomodasi kenyataan sosiokultural masyarakatnya atau komunitas yang dibentuknya itu. Kehadiran dan keberadaan Islam ke dalam suatu entitas sosial budaya telah menjadi gerakan aktual = Abd Ala, Memba"a Keberagaman Masyarakat Madura, #8ogyakarta3 (ustaka Marwa, 55<$, hlm. 6
kultural yang mengakomodasi dialog dalam atau dengan beragam segmentasi kehidupan sehingga wajah Islam normatif dimungkinkan mengalami perubahan walaupun pada sisi periferalnya.
Kenyataan demikian tampak pada konsepsi yang teraktualisasikan dalam bentuk bentuk perilaku pada budaya orang"orang Madura yang ternyata mengalami perubahan format jika tidak disebut bias atau deviasi dari norma asalnya. (erilaku demikian dapat diungkapkan, antara lain3
sebagian pedagang Madura berjualan tidak selalu sesuai dengan spesi!kasi yang diuapkan #dijanjikan$, tindakan premanisme, penghormatan berlebihan atau kultus individual pada !gur kiai, ketersinggungan yang sering berujung atau dipahami sebagai penistaan harga diri, perbuatan heretikal, temperamental, reaktif, keras kepala, dan penyelesaian konDik melalui tindak kekerasan !sik #pada derajat tertentu biasa disebut dengan istilah arok$.
ontoh"ontoh tersebut tidak saja menggambarkan bahwa keberagamaan sebagian masyarakat Madura berseberangan dengan ajaran normatif, moral, dan perenial Islam, melainkan berdampak juga pada munulnya stigma dan stereotipikal etnisitas seara komunal dan kultural dalam realitas praksis yang berjangkauan luas. Menghadapi kenyataan demikian, kearifan pandangan budaya benar"benar perlu dihadirkan sebagai bagian dari upaya solutif atas beragam problema tersebut. al itu didasari karena bias"bias perilaku mereka terwujud sebagai deviasi produk akomodatif Islam dan kenyataan sosial budaya dalam praksis dan kontekstualitas kehidupannya.
). Kekhasan Budaya
Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. (enggunaan istilah khas menunjuk pada pengertian bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan"kultural yang tidak serupa dengan etnogra! komunitas etnik lain. Kekhususan kultural itu tampak antara lain pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka seara hierarkis kepada empat !gur utama dalam berkehidupan, lebih" lebih dalam praksis keberagamaan. Keempat !gur itu adalah Buppa, Babbu, 4uru, ban *ato #Ayah, Ibu, 4uru, dan (emimpin pemerintahan$. Kepada !gur"!gur utama itulah kepatuhan hierarkis orang"orang Madura menampakkan wujudnya dalam praksis kehidupan sosial budaya mereka. Bagi entitas etnik Madura, kepatuhan hierarkis tersebut menjadi kenisayaan untuk diaktualisasikan dalam praksis keseharian sebagai aturan normatif yang mengikat. Cleh karenanya, pengabaian atau pelanggaran yang dilakukan seara sengaja atas aturan itu menyebabkan pelakunya dikenakan sanksi sosial maupun kultural. (emaknaan etnogra!s demikian berwujud lebih lanjut pada ketiadaan kesempatan dan ruang yang ukup untuk mengenyampingkan aturan normatif itu. 'alam makna yang lebih luas dapat dinyatakan bahwa aktualisasi kepatuhan itu dilakukan sepanjang hidupnya. /idak ada kosa kata yang tepat untuk menyebut istilah lainnya keuali ketundukan, ketaatan, dan kepasrahan kepada keempat !gur tersebut.
Kepatuhan atau ketaatan kepada Ayah dan Ibu #buppa ban Babbu$ sebagai orangtua kandung atau nasabiyah sudah jelas, tegas, dan diakui kenisayaannya. 1eara kultural, ketaatan dan ketundukan seseorang
kepada kedua orangtuanya adalah mutlak. 2ika tidak, uapan atau sebutan kedurhakanlah ditimpakan kepadanya oleh lingkungan sosiokultural masyarakatnya. Bahkan, dalam konteks budaya mana pun kepatuhan anak kepada kedua orangtuanya juga menjadi kemestian seara mutlak, tidak dapat dinegosiasikan, maupun diganggu gugat. 8ang mungkin berbeda, hanyalah ara dan bentuk dalam memanifestasikannya.
Kepatuhan mutlak itu tidak terkendala oleh apa pun, sebagai kelaEiman yang ditopang oleh faktor genealogis. Konsekuensi lanjutannya relatif dapat dipastikan bahwa jika pada saat ini seseorang #anak$ patuh kepada orangtuanya maka pada saatnya nanti dia ketika menjadi orangtua akan ditaati pula oleh anak"anaknya. Itulah salah satu bentuk pewarisan nilai"nilai kultural yang terdiseminasi. 1iklus seara kontinu dan sinambung itu kiranya akan berulang dan berkelanjutan dalam kondisi normal, wajar, dan alamiah, keuali kalau pewarisan nilai" nilai kepatuhan itu mengalami keterputusan yang disebabkan oleh berbagai kondisi, faktor, atau peristiwa luarbiasa. Kepatuhan orang"orang Madura kepada !gur guru berposisi pada level hierarkis selanjutnya. (enggunaan dan penyebutan istilah guru menunjuk dan menekankan pada pengertian Kiai pengasuh pondok pesantren atau sekurang" kurangnya 0stadE pada sekolah"sekolah keagamaan. (eran dan fungsi guru lebih ditekankan pada konteks moralitas yang dipertalikan dengan kehidupan eskatologis terutama dalam aspek ketenteraman dan penyelamatan diri dari beban atau derita di alam kehidupan akhirat #morality and sared world$. Cleh karena itu, ketaatan orang"orang Madura
kepada !gur guru menjadi penanda khas budaya mereka yang mungkin tidak perlu diragukan lagi keabsahannya. 1iklus"generatif tentang kepatuhan orang Madura #sebagai murid$ kepada !gur guru ternyata tidak dengan sendirinya dapat terwujud sebagaimana ketaatan anak kepada !gur I dan II, ayah dan ibunya. Kondisi itu terjadi karena tidak semua orang Madura mempunyai kesempatan untuk menjadi !gur guru. Kendati pun terdapat anggapan"prediktif bahwa !gur guru sangat mungkin diraih oleh murid karena aspek genealogis namun dalam realitasnya tidak dapat dipastikan bahwa setiap murid akan menjadi guru, mengikuti jejak orangtuanya. Cleh karenanya, makna kultural yang dapat ditangkap adalah bahwa bagi orang Madura belum ukup tersedia ruang dan kesempatan yang leluasa untuk mengubah statusnya menjadi orang yang senantiasa harus berperilaku patuh, tunduk, dan pasrah.
Kepatuhan orang Madura kepada !gur *ato #pemimpin pemerintahan$ menempati posisi hierarkis keempat. >igur *ato diapai oleh seseorang dari mana pun etnik asalnya bukan karena faktor genealogis melainkan karena keberhasilan prestasi dalam meraih status. 'alam realitasnya, tidak semua orang Madura diperkirakan mampu atau berkesempatan untuk menapai posisi sebagai *ato, keuali - atau < orang #sebagai Bupati di Madura$ dalam = hingga )5 tahun sekali. Itu pun baru terlaksana ketika diterbitkan kebijakan nasional berupa 0ndang"0ndang tentang Ctonomi 'aerah, tahun )::: yang baru lalu. Cleh karena itu, kesempatan untuk menempati !gur *ato pun dalam realitas praksisnya
merupakan kondisi langka yang relatif sulit diraih oleh orang Madura.
'alam konteks itulah dapat dinyatakan bahwa sepanjang hidup orang"orang Madura masih tetap dalam posisi yang senantiasa harus patuh. Begitulah posisi subordinatif"hegemonik yang menimpa para individu dalam entitas etnik Madura. 'eskripsi tentang kepatuhan orang" orang Madura kepada empat !gur utama tersebut sesungguhnya dapat dirunut standar referensinya pada sisi religiusitas budayanya. 1ebagai pulau yang berpenghuni mayoritas #F :6"::G$ muslim, Madura menampakkan iri khas keberislamannya, khususnya dalam aktualisasi ketaatan kepada ajaran normatif agamanya. Kepatuhan kepada kedua orangtua merupakan tuntunan *asulullah 1AH walaupun urutan hierarkisnya seharusnya mendahulukan Ibu #babbu$ kemudian Ayah #Buppa$. *asulullah menyebut ketaatan anak kepada Ibunya berlipat - daripada Ayahnya. 1elain itu juga dinyatakan bahwa keridhaan orangtua menjadi dasar keridhaan /uhan. Cleh karena seara normatif religius derajat Ibu - kali lebih tinggi daripada Ayah maka seharusnya produk ketaatan orang Madura kepada ajaran normatif Islam melahirkan budaya yang memosisikan Ibu pada hierarki tertinggi. 'alam kenyataannya, tidak demikian. Kendati pun begitu, seara kultural dapat dimengerti mengapa hierarki Ayah diposisikan lebih tinggi daripada Ibu. (osisi Ayah dalam sosiokultural masyarakat etnik Madura memegang kendali
dan wewenang penuh lembaga keluarga sebagai sosok yang diberi amanah untuk bertanggung jawab dalam semua kebutuhan rumah tangganya, di antaranya3 pemenuhan keperluan ekonomik, pendidikan, kesehatan,
dan keamanan seluruh anggota keluarga, termasuk didalamnya 1ang Ibu sebagai anggota dalam kepemimpinan lelaki. 'i sisi lain, kepatuhan kultural orang Madura kepada 4uru maupun kepada pemimpin pemerintahan karena peran dan jasa mereka itu dipandang bermanfaat dan bermakna bagi survivalitas entitas etnik Madura. 4uru berjasa dalam menerahkan pola pikir dan perilaku komunal murid untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan keselamatan mendiami negeri akhirat kelak. Kontribusi mereka dipandang sangat bermakna dan berjasa besar karena telah memberi bekal untuk survivalitas hidup di alam dunia dan keselamatan akhirat pasakehidupan dunia. 1edangkan pemimpin pemerintahan berjasa dalam mengatur ketertiban kehidupan publik melalui penyediaan iklim dan kesempatan bekerja, mengembangkan kesempatan bidang ekonomik, mengakomodasi kebebasan beribadat, memelihara suasana aman, dan membangun kebersamaan atau keberdayaan seara partisipatif. 'alam dimensi religiusitas, sebutan !gur *ato dalam perspektif etnik Madura dipersamakan dengan istilah ulil amri yang sama"sama wajib untuk dipatuhi. (ersoalan yang paling mendasar sesungguhnya terletak pada pemaknaan kultural tentang kepatuhan dalam konteks subordinasi, hegemoni, eksploitasi, dan berposisi kalah sepanjang hidup. (emaknaan tersebut perlu diletakkan dalam posisi yang berkeadilan dan proporsional. 2ika kepatuhan hierarkis kepada !gur I dan II tidak ada masalah karena terbentang luas untuk memperoleh dan mengubahnya seara siklis maka upaya untuk mengubah kepatuhan hierarkis pada !gur III dan I dapat ditempuh melalui kerja keras dan optimisme disertai bekal pengetahuan
)-yang sangat memadai. Karenanya, persoalan" persoalan kultural tentang konsepsi kepatuhan sesungguhnya bukanlah sesuatu yang tanpa solusi untuk mengubahnya. 0ngkapan budaya Madura3 mon kerras pa"akerrJs #jika mampu dan kompeten untuk berkompetisi maka harus wibawa, kharismatik, dan efektif layaknya setajam sebilah keris$ kiranya dapat mengilhami para individu entitas etnik Madura untuk meraih keberhasilan dan ketenteraman dalam menjalani kehidupan yang berdaya di dunia maupun di akhirat.;
. Keunikan Budaya
Istilah unik menunjuk pada pengertian leksikal bahwa entitas etnik Madura merupakan komunitas tersendiri yang mempunyai karakteristik berbeda dengan etnik lain dalam bentuk maupun jenis etnogra!nya #Alwi, 55)3 )<6$. Keunikan budaya Madura itu tampak tidak sejalan dengan kuatitas komunalnya yang menyebar ke berbagai daerah di 9usantara, yakni :,6 2uta 2iwa #6,=G$, menempati peringkat kuantitas etnik ketiga terbesar setelah 2awa #<=G$ dan 1unda #)<G$. Halaupun kedua konsepsi itu tampak tidak sejalan tetapi realitasnya menerminkan kondisi itu.
1ekedar deskripsi etnogra!s, hingga saat ini komunalitas etnik Madura di daerah"daerah perantauan masih tetap harus berjuang untuk mempertahankan survivalitasnya dalam menghadapi arus industrialisasi dan modernisasi yang semakin epat. Keberadaan mereka seolah" olah kian menyusut karena mereka ternyata mulai enggan mengakui komunitas asalnya saat status sosial ekonominya meningkat. Keengganan untuk mengakui ; A Latief Hiyata, Madura yang Patu, Kajian Antro!ologi Mengenai
Budaya Madura, #2akarta3 eri"!sip 0I, 55-$, hlm. )"=
identitas asal mereka dapat dimengerti karena selama ini itra tentang orang Madura selalu jelek sedangkan komunitasnya enderungtermarginalkan sehingga menimbulkan kesan traumatik.
Identitas diri mereka makin tidak dapat dikenali karena ada keenderungan esapisti dalam berinteraksi sosial di daerah perantauan. 'alam istilah lain, mereka meluuti identitasnya yang merupakan iri khas dan karakteristik etnisitas sesungguhnya yang justru masih melekat erat pada dirinya. /ermasuk di dalamnya juga menyembunyikan penggunaan berbahasa Madura antarsesama etnik. Kondisi sosiologis demikian jarang ditemukan pada komunitas etnik lain karena sesungguhnya penggunaan bahasa lokal untuk sesama etnik justru memunulkan kebanggaan tersendiri. 0ngkapan budaya #etnogra!$, misalnya taretan dhibi #saudara sendiri$ dalam bertutur"bahasa Madura saat berkomunikasi dengan sesama etnik kadang enderung mempererat persaudaraan serantau sekaligus dukungan untuk saling memberdayakan. (enggunaan konsep budaya taretan dhibi justru sering ditirukan oleh individu etnik lainnya sebagai ungkapan tentang bertemunya dua orang Madura atau lebih dalam satu lokasi.
Keunikan budaya Madura pada dasarnya banyak dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi geogra!s dan topogra!s hidraulis dan lahan pertanian tadah hujan yang enderung tandus sehingga survivalitas kehidupan mereka lebih banyak melaut sebagai mata pernarian utamanya. Mereka pun dibentuk oleh kehidupan bahari yang penuh tantangan dan risiko sehingga memunulkan
keberanian mental dan !sik yang tinggi, berjiwa keras dan ulet, penuh peraya diri, defensif dalam berbagai situasi bahaya dan genting, bersikap terbuka, lugas dalam bertutur, serta menjunjung martabat dan harga diri. Hatak dasar bentukan iklim bahari demikian kadang kala diekspresikan seara berlebihan sehingga memunulkan konDik dan tindak kekerasan !sik. Cleh karena itu, perilaku penuh konDik disertai tindak kekerasan dikukuhkan dan dilekatkan sebagai keunikan budaya pada tiap individu kelompok atau sosok komunitas etnik Madura.
(enghormatan yang berlebihan atas martabat dan harga diri etniknya itu seringkali menjadi akar penyebab dari berbagai konDik dan kekerasan. Kondisi itu terjadi karena hampir setiap ketersinggungan senantiasa dinisbatkan kepada atau diklaim sebagai peleehan atau penghinaan atas martabat dan harga diri mereka. 1ebagian anak"anak muda Madura di perantauan biasanya tidak memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai seara sengaja tampak menonjolkan itra negatif etnik komunalnya untuk menakut"nakuti orang lain agar mendapat keuntungan individual seara sepihak.
Kearifan budaya Madura yang juga menjadi keunikan etnogra!snya tampak pada perilaku dalam memelihara jalinan persaudaraan sejati. al itu tergambar dari ungkapan budaya orJng dhaddhi tarJtan, tarJtan dhaddhi orJng, #orang lain bisa menjadi atau dianggap sebagai saudara sendiri, sedangkan saudara sendiri bisa menjadi atau dianggap sebagai orang lain$. Keunikan yang munul dari ungkapan kultural #pseudo"kinship$ itu diwujudkan
dalam bentuk perilaku aktual. 1eara konkret, ungkapan kultural tersebut memiliki makna bahwa keookan dalam menjalin persahabatan atau persaudaraan dapat dikukuhkan seara nyata dan abadi. Artinya, orang lain yang berperilaku sejalan dengan watak dasar individu etnik Madura dapat dengan mudah diperlakukan sebagai saudara kandungnya #pseudo"kinship$. 1ebaliknya, saudara kandung dapat diperlakukan sebagai orang lain jika seringkali mengalami ketidakookan pendapat,
pandangan, dan pendirian. -. 1tereotip Budaya
(enggunaan istilah stereotip dalam etnogra! diartikan sebagai konsepsi mengenai sifat atau karakter suatu kelompok etnik berdasarkan prasangka subjektif yang tidak tepat oleh kelompok etnik lainnya. 'alam realitasnya, perilaku dan pola kehidupan kelompok etnik Madura tampak sering dikesankan atas dasar prasangka subjektif oleh orang luar Madura. Kesan demikian munul dari suatu penitraan yang tidak tepat, baik
berkonotasi positif maupun negatif. (rasangka subjektif itulah yang seringkali melahirkan persepsi dan pola pandang yang keliru sehingga menimbulkan keputusan individual seara sepihak yang ternyata keliru karena subjektivitasnya. 'alam perspektif budaya, setiap kelompok etnik berpeluang memiliki penilaian dan justi!kasi subjektif stereotipikal dari kelompok etnik lainnya yang diidenti!kasi atas dasar false generaliEation atas parsialitas perilaku yang ternyata tidak representatif. <. 1tigma Budaya
(emaknaan atas istilah stigma menunjuk pada pengertian tentang iri negatif yang menempel kuat pada
pribadi atau entitas etnik karena pengaruh lingkungan yang membentuknya. 1tigma yang paling kuat dan menonjol pada kelompok etnik Madura adalah kekerasan !sik yang bermuara pada adu"ketangguhan dengan bersenjatakan lurit. /indakan kekerasan itu kemudian dikenal populer dengan istilah arok.
Menurut Ibnu ajar, budayawan Madura asal 1umenep, bahwa arok sesungguhnya merupakan sarkasme bagi entitas budaya Madura. 'alam sejarah orang Madura, belum dikenal istilah arok massal sebab arok adalah duel satu lawan satu, dan ada kesepakatan sebelumnya untuk melakukan duel. Malah dalam persiapannya, dilakukan ritual ritual tertentu menjelang arok berlangsung. Kedua pihak pelaku arok, sebelumnya sama"sama mendapat restu dari keluarga masing"masing Karenanya, sebelum hari duel maut bersenjata elurit dilakukan, di rumahnya diselenggarakan selamatan dan pembekalan agama berupa pengajian. Cleh keluarganya, pelaku arok sudah dipersiapkan dan diikhlaskan untuk terbunuh.
Karakter yang juga lekat dengan stigma orang Madura adalah perilaku yang selalu apa adanya dalam bertindak. 1uara yang tegas dan uapan yang jujur kiranya merupakan salah satu bentuk keseharian yang biasa dirasakan banyak orang jika berkumpul dengan kumunitas etnik Madura. (ribadi yang keras dan tegas adalah bentuk lain dari kepribadian
umum yang dimiliki suku Madura. Budaya Madura adalah juga budaya yang lekat dengan tradisi religius. Mayoritas
orang Madura memeluk agama Islam. Cleh karena itu, selain akar budaya lokal #asli Madura$ 1yariat Islam juga begitu mengakar di sana. Bahkan ada ungkapan budaya3
seburuk"buruk orang Madura, jika ada seseorang atau sekelompok orang yang menghina agamanya #Islam$ mereka sangat tersinggung dan menampakkan kemarahan yang luar biasa.
arok sebagai sebuah bagian etnogra! Madura, tidaklah berlangsung spontan atau seketika. Ada proses yang mengiringi sebelum berlangsungnya arok. Biasanya, arok sebagai solusi problematik itu laEim dijadikan jalan efektif ketika harga diri orang Madura merasa terhina. 9amun demikian terdapat upaya untuk melakukan proses rekonsiliasi terlebih dahulu yang dilakukan sebelum terjadi arok. (ihak" pihak yang berada di sekitar orang yang akan melakukan arok, berposisi menjadi negosiator dan pendamai. Itulah antara lain salah satu dari serangkaian aturan main yang berlaku lumrah.6
BAB III 6 Ibid, hlm. ;":
PENUTUP A. Kesimulan
Agama Islam dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Ketika berbiara agama dan kebudayaan, bisa dilihat lewat aplikasi fungsinya dalam wujud sistem budaya dan juga dalam bentuk tradisi ritual atau upaara keagamaan yang nyata"nyata bisa mengandung nilai agama dan kebudayaan seara bersamaan.
*eligiusitas masyarakat etnik Madura telah dikenal luas sebagai bagian dari keberagamaan kaum muslimin Indonesia yang berpegang teguh pada tradisi atau ajaran Islam dalam menapak realitas kehidupan sosial budayanya. Kendati pun begitu, kekentalan dan kelekatan keberislaman mereka tidak selalu menerminkan nilai"nilai normatif ajaran agamanya. Kondisi itu dapat dipahami karena penetrasi ajaran Islam" yang dipandang relatif berhasil ke dalam komunitas etnik Madura dalam realitasnya berinteraksi dengan kompleksitas elemen"elemen sosiokultural yang melingkupinya, terutama variabel keberdayaan ekonomik, orientasi pendidikan, dan perilaku politik. asil penetrasi Islam ke dalamnya kemudian menampakkan karakteristik tertentu yang khas dan sekaligus juga unik.
B. Saran
Kami mengharapkan para pembaca bisa mengambil pelajaran dari makalah kami ini, dan member kritikan dari setiap kesalahan yang ada karena kami manusia biasa yang dhaif, dan jika ada benarnya itu semata-mata dari Allah swt.
DA!TAR PUSTAKA
Ala, Abd. Memba"a Keberagaman Masyarakat Madura# 8ogyakarta3 (ustaka Marwa, 55<.
Kodiran. Kebudayaan dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia# 2akarta3 2ambatan, ):6;.
Latief, A Hiyata. Madura yang Patu, Kajian Antro!ologi Mengenai Budaya Madura# 2akarta3 eri"!sip 0I, 55-. 9otowidagdo, *ohiman. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-qur’an dan Hadis# 2akarta3 *aja 4ra!ndo (ersada, )::;.
1upadie, Ahmad. Pengantar Studi Islam# 2akarta3 *aja 4ra!ndo (ersada, 5)).
?ulkarnain, Iskandar. Sejara Sumene!# 1umenep3 'inas (ariwisata dan Kebudayaan, 55-.