Analisis Distribusi Tegangan Pada Kepala Baut Dengan Variasi Filet
Menggunakan Metode Fotoelastisitas
Tono Sukarnoto dan Soeharsono
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, UnivcrsitasTrisakti Kampus A, Gedung Heri Hartanto- Lt.4, Jl. KyaiTapaNo 1,Grogol, Jakarta Barat 11440
Telp. 5663232 Ext: 431, Fax: 5605841. E-mail: [email protected]
ABSTRACT: Stress Distribution Analysis on Bolt Head with Various Fillets Using Photoelasticity
Method. A geometry modification can be use to reduce stress concentration. This research is investigating the influence offillet radius in the head ofbolt. Different than most common bolt, thefillet is made at the bottom surface of head around its neck. To show the stress distribution we use classical experimental mechanics method, photo elasticity. Loading comesfrom a lead screw and measured by a load cell connected to a computer data logger. As the result, a 5 mm fillet radius may reduce maximum shear stress up to 35% than nofillet radius, so its effective to minimize stress concentration in head bolt. Keywords'. Photoelasticity, bolt, stress distribution
PENDAHULUAN
Baut merupakan salah satu elemen mesin yang
penggunaannya sangat luas. Fungsi utama baut adalah
menyambung dua komponen atau lebih agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Ketika dibutuhkan sambungan dapat dilepas kembali tanpa merusak.
Pada saat digunakan baut akan mengalami tegangan tarik maupun tegangan geser. Karena perubahan
geometri maka pada bagian-bagian tertentu terjadi konsentrasi tegangan. Beberapa cara dapat diiakukan
untuk mengurangi konsentrasi tegangan akibat
perubahan geometri ini yaitu, membuat radius filet, mengubah posisi filet atau bahkan dengan melubangi bagian tertentu di sekitar konsentrasi tegangan [1].
Pada baut, secara umum terdapat radius filet di
sudut antara kepala baut dengan badannya. Filet ini
efektif mengurangi konsentrasi tegangan di daerah
tersebut. Namun dalam pemakaian dapat terjadi filet ini terdeformasi oleh lubang baut sehingga radiusnya mengecil. Untuk itu dicoba membuat filet di bagian bawah kepala baut sehingga tidak terpengaruh kontak antara baut dan tempat mengikatnya.
Metode fotoelastisitas dipilih karena perubahan
tegangan yang terjadi dapat diamati secara langsung dari perubahan fringe cahaya pada spesimen model transparan yang ditempatkan di antara medan cahaya terpolarisasi [2]. Hasil pengukuran dengan metode ini
relatif akurat dan dapat dianalogikan dengan material
sesungguhnya dalam skala penuh atau pun diperkecil.
Fotoelastisitas yang digunakan adalah dua dimensi. Analisis orde fringe diiakukan secara digital sehingga
sangat menghemat waktu serta tidak terlalu memerlukan
keahlian khusus sebagaimana cara manual [3].
Kontak Person: Tono Sukarnoto
JurusanTeknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, USAKTI Kampus A, Gedung Heri Hartanto- Lt.2,Jl. Kyai Tapa No. I Grogol, Jakarta Barat 11440 Telp. 5663232 Ext: 431 Fax: 5605841, E-mail: [email protected]
Fotoelastisitas Dua Dimensi
Analisis tegangan menggunakan metode
fotoelastisitas berdasarkan atas fenomena material, yang
bersifat isotropic ketika tidak dibebani. Tetapi akan berubah menjadi doubly refractive {optically anisotropic) ketika dibebani. Namun karakteristik ini
akan hilang ketika kembali tidak dibebani. Besar beban yang dibebankan pada model dibawah batas elastis
material. Contoh material ini seperti: epoxy, high polymer materials, dan Iain-lain [4].
Aplikasi dari fotoelastisitas dapat terbagi menjadi
dua bagian tergantung dari bentuk geometri model yang dianalisis. Jika model yang dianalisis berupa bidang,
maka gaya-gaya dapat dianalisa sebagai tegangan dan
regangan pada bidang, maka metode dua dimensional dapat diiakukan. Untuk model berbentuk selain bidang
dan lebih kompleks, maka digunakan metode analisis tiga dimensional.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa terdapat suatu kelas material dimana ia bersifat isotropic
ketika tidak dibebani, dan menjadi doubly refractive
{optically anisotropic) ketika dibebani. Material inilah yang dikenal sebagai crystals yang apabila dilewati oleh cahaya, akan direfleksikan menjadi dua cahaya, inilah yang disebut sebagai double refraction. Metode
fotoelastisitas ini dikembangkan berdasarkan sifat-sifat fisik dari material transparan tersebut, dengan catatan besar beban yang diuji tidak melewati batas elastis dari material [4].
Dalam menganalisis tegangan dengan
menggunakan metode fotoelastisitas terdapat dua jenis polariskop yang dapat digunakan. Polariskop merupakan susunan peralatan optik yang digunakan dalam
mendeteksi distribusi tegangan yang terjadi. Kedua jenis
polariskop yang biasa digunakan adalah:
• Polariskop bidang {planepolariscope) (Gambar 1) • Polariskop circular{circularpolariscope){G&mbar 2)
Polariskop bidang
Ketika model uji dibebani maka akan bersifat
doubly refractive dan titik dimana cahaya lewat akan terpolarisasi sesuai dengan arah tegangan utama yang bekerja 0\ dan rj2. Sumbu polarisator akan membentuk sudut (j) terhadap sumbu ot dan a2 (Gambar 1). Apabila
besar sudut $ yang terjadi adalah nol atau it/2, maka
sumbu polarisator akan berimpit dengan a, atau a2.
Karena sumbu analisator adalah tegak lurus terhadap arah sumbu polarisator, maka intensitas cahaya yang
keluar dari analisator adalah nol. Akibatnya pada semua titik pada model uji dimana arah dari tegangan utama berimpit dengan orientasi dari polarisator-analisator,
cahaya yang keluar dari analisator akan nol [5].
Titik-titik dimana arah tegangan utama berimpit dengan orientasi dari kombinasi polarisator-analisator
disebut dengan garis isoklinis.
Polariskop circular
Pada susunan polariskop circular digunakan dua
buah pelat seperempat gelombang (quarter wave plate)
yang masing-masing diletakkan diantara model uji dan
polarisator serta antara model uji dan analisator. Susunan
polariskop circular ini dapat dilihatpada Gambar 2. Pada susunan polariskop circular, posisi titik-titik
pada model uji dimana nilai dari a, dan a2 membuat perbedaan fase relatif 2mn. Disebabkan perbedaan fase
relatif berhubungan dengan o"|-a2, maka semua titik-titik pada model uji dimana nilai dari csra2 yang
menimbulkan perbedaan fase relatif sebesar 2m7t (dimana m = 0, 1,2, ...), intensitas cahaya yang keluar dari analistor akan nol. Maka dari itu pada layar akan
terlihat susunan garis gelap {dark band) atau fringe yang dikenal sebagai garis isokromatis [5].
Gambar 1. Susunan polariskop bidang, S = sumber cahaya, P = polarisator, M = model uji, A = analisator [5]
METODOLOGI
Peralatan
Peralatan terdiri dari perangkat fotoelastisitas, perangkat mekanis untuk pembebanan dan perangkat pengolah
gambar. Rangkaian perangkat fotoelastisitas terdiri dari
sumber cahaya, polarisator, analisator dan sepasang pelat seperempat gelombang (Gambar 3).
138
Gambar 2. Susunan polariskop circular, P= polarisator.
Qi= Pelat 'A X pertama, M= model, Q2= Pelat V* X kedua.
Perangkat pembebanan berupa kerangka dengan lead screw untuk mengatur beban (Gambar 4). Sebagai
pengukur beban digunakan load cell model cincin yang
dilengkapi dengan rangkaian strain gage dan
dihubungkan dengan komputer data logger. Model transparan baut dipasang dengan bagian kepala di bavvah kemudian diberi beban aksial ke atas.
Pola isokromat dan isoklinis tiap spesimen direkam dengan kamera digital. Selanjutnya gambar yang
diperoleh diproses dengan komputer untuk mendapatkan ordefringe yang dicari.
F SC
>£
U U I
L U
P Qi
M
Q2
A
cGambar 3. Susunan peralatan optik, SC=sumber cahaya,
P= polarisator, Q,= Pelat V* Xpertama, M= model.
Q2= Pelat V* X kedua, A= analisator, C= kamera digital
Gambar 4. Perangkat Mekanis, a= ulir pembeban, b= rangka, c= load cell. d= model beban transparan
Benda Uji
Pada penelitian ini dibuat empat model baut dengan variasi pada radius filetnya. Mulai dari tanpa filet, spesimen 1 (R = 0), spesimen 2 radius filet (R) = 2,5 mm, spesimen 3 R = 4 mm dan spesimen 4 R = 5 mm (Gambar 5). Beban konstan diberikan dalam arah aksial di badan model sehingga terjadi tegangan kontak
antara kepala model dengan tumpuannya.
Bahan model transparan dari lembaran epoxy araldit B tebal 10 mm. Pada saat pemesinan hams diperhatikan masalah gaya pemotongan dan panas yang timbul. Panas akibat gaya pemotongan yang tinggi saat
pemesinan harus dihindari karena akan menimbulkan tegangan batas yang tertinggal pada model [2]. Untuk itu
diperlukan mata potong yang tajam serta mesin yang presisi sehingga pemesinan diiakukan dengan mesin
CNC.
il
X •-* <2^ •A vo>r^i
o "-X 0:< *•*. •:> s. > s°>>Gambar 5. Model dan Variasi Radius Benda Uji
Radius filet R=0, R=2,5, R= 4 dan R=5 mm berturut-turut untuk gambar a, b, c, dan d.
Prosedur Pengujian
Ekperimen ini diiakukan dalam beberapa tahap
yaitu:
- Pengambilan pola gambar isoklinis - Pengambilan pola gambar isokromatis
- Penggabungan pola garis isoklinis
- Penggabungan pola garis isokromatis untuk medan gelap dan terang
- Analisis pola gambar
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis pertama untuk pola isoklinis
Pola garis isoklinis diambil pada sudut-sudut 0°
sampai dengan 90° dengan interval 15°. Contoh gambar hasil pengujian isoklinis dapat dilihat pada Gambar 6. Sedangkan contoh gambar dari pola garis isoklinis ditunjukkan pada Gambar 10.
Analisis kedua untuk pola isokromat
Pola garis isokromatis pada spesimen 1 sampai 4 diiakukan dengan beban 350 N pada medan gelap dan medan terang. Contoh gabungan untuk medan gelap dengan medan terang dengan beban 350 N pada Gambar 7. Pola garis medan gelap dapat dilihat pada Gambar 8 sedangkan medan terangnya dapat dilihat pada
Gambar 9. 90 75' 60 45 > -15 0 _--r- • .ts. jr •» i _ \ yf ill \ v s {Fft* \ ss E&h Gambar 6. Pola Garis Isoklinis Spesimen 3 (angka di sebelah kiri
adalah sudut isoklinis)
Gambar 7. Pola gabungan medan gelap dan terang isokromat
Garis Pengamatan
I .) vCW- •••-:••*
'ISfrr-S r;
\. \
Gambar 9. Pola garis medan terang pada spesimen 3 beban 350 N
Perhitungan
Hasil dari perhitungan yang didapat akan disajikan
dalam bentuk grafik yang menjelaskan hasil analisis terhadap benda uji. Dari model benda uji tersebut, distribusi tegangan yang akan dibahas adalah distribusi tegangan sepanjang garis pengamatan seperti terlihat
pada Gambar 8. Dengan mengambil titik pengamatan sebagai fungsi sudut isoklinis dan ordt fringe maka akan dihasilkan grafik sebagai berikut untuk model spesimen
no 3 (Gambar 10 & 11).
Sudut
I | I |c | I 1 I | I I I 1 I I ' |» I—Tltlk Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 LO
Gambar 10. Sudut Isoklinis pada spesimen 3
Fringe
Medan terang Medan gelap
I | I 1 I | I | I | I | I 1 I | I | I I Nth Penganatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Gambar 11.Grafik ordo isokromat padaspesimen 3 beban350 N
140
Dengan menggunakan metode separasi tegangan
diketahui at atau a2 serta x,2 pada permukaan bebas
nilainya adalah nol. Distribusi tegangan yang terjadi dari
hasil eksperimental untuk setiap nomor fringe dapat
dihitung sebagai berikut:
/ \ . N
Txy = V°"i ~ 0"2 jsm 2a = fr.— sin 2a
h (1)
dimana diketahui:
fr {ni\a\ fringe tegangan) = 11,2 kN/m [2]
h(tebal spesimen) = 10mm =0,01m
N (jumlahfringe)
txy: Tegangan gesermaksimum o~|dan a2: tegangan utama
Berdasarkan rumus di atas, maka distribusi
tegangan xxy hasil eksperimental untuk setiap titik
pengamatan untuk keempat spesimen dapat ditunjukkan
pada grafik Gambar 12.
Perbandingan Tegangan Fotoelastisitas Tegangan (MPa) 2.00E+06 1.80E+06 ; r 1.60E+O8 1.40E+06 1.20E+06 1.00E+06 8.00E+05 6.00E+05 4.00E+05 2.00E+05 0.00E+00 -2.00E+05 • Spesimen 1 ' Spesimen 2 * -Titik Pengamatan - Spesimen 3 - Spesimen 4
Gambar 12. Grafik perbandingan tegangan-tegangan fotoelastisitas
beban 350 N untukkeempat spesiemen.
Secara keseluruhan tegangan terbesar untuk
keempat spesimen terjadi di titik pengamatan nol pinggir
filet dan makin mengecil dengan makin menjauhnya titik
pengamatan, hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi
tegangan di daerah tersebut.
Tegangan maksimum terbesar terjadi pada
spesimen no 1 (tanpa radius) dan yang terkecil pada
spesimen no 4 (radius celah paling besar). Hal ini sesuai
dengan
teori
bahwa
konsentrasi
tegangan
akibat
perbedaan geometri akan berkurang dengan pemberian
radius filet.
Dalam perancangan baut pemberian radius yang
selama ini diiakukan di bagian filet di leher baut, dapat
diubah dengan memindahkan letak radius di bagian
bawah kepala bautdi sekeliling lehernya. Tentunya besar radius yang dapat diberikan bergantung kepada ukuran
bautnya, selain itu perlu dipertimbangkan aspek mampu
bentuk iformability) dari material baut tersebut.
SIMPULAN
Berdasarkan analisis dari hasil eksperimental yang telah dibahas, dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian filet dengan radius tertentu di sekeliling Ieher baut efektif mengurangi konsentrasi tegangan di kepala baut.
Radius filet 5 mm memberikan pengurangan
tegangan geser maksimum sampai 35 % dibandingkan
tanpa radius, sedangkan radius 2.5 mm mengurangi
tegangan maksimum sebesar 14%.
Radius filet pada kepala baut dapat menjadi alternatif desain geometri untuk pengurangan
konsentrasi tegangan selain dari radius filet di leher baut sebagaimana baut pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA 1,
4.
5.
A Ahlquist, I Ionescu, Moslehy; Stress reduction in
Gear Tooth using Photoelasticity and Finite Element Analysis, Journal of Experimental Techniques, 2001,25 (5), pp 19-21.
Durelli, A.J. ; Applied Stress Analysis ; Prentice -Hall ofIndia Private Limited; New Delhi; 1970. Zuccarello; Complete Isochromatic Fringe-order Analysis in Digital Photoelasticity by Fourier Transform and Load Stepping, Strain International Journal for Strain measurement, 2005,41 (2). Dally, James W. ; Wiliiam F. Riley ; Experimental Stress Analysis (Third Edition) ; 1991, McGraw
-Hill International Editions.
Srinath, L.S; M.R. Raghavan; K. Lingaiah; G.
Gargesha; B. Pant; K. Ramachandra; Juvinall, R.C.;
Experimental Stress Analysis; 1980, Tata McGraw