• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

288

JSBPSDM 1(4)(2020), 288-297

Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan

https://ojs.bpsdmsulsel.id/

Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Anak Melalui Media Gambar Tanaman di TK Az Zehan Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros

1Tasdiana Hastang, 2Rasbi Rahim & 3Dewi Angriani Lukman

1TK Zakia Fikrah 4 Moncongloe Kabupaten Maros 2 & 3TK Az Zehan Moncongloe Kabupaten Maros

Email: [email protected] ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar anak melalui pembelajaran dengan menggunakan media gambar tanaman di TK Az Zehan Moncongloe Lappara Kabupaten Maros. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini adalah anak didik Kelompok B TK Az Zehan Tahun pelajaran 2020/2021. Jumlah anak didik sebanyak 5 orang. Penelitian ini dilaksanakan di TK Az Zehan pada bulan Oktober hingga November 2020, dalam rangka pemenuhan tugas dalam Program PPG Daljab Tahun 2020. Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dapat meningkatkan motivasi belajar anak di TK Az Zehan Moncongloe Lappara Kabupaten Maros. Oleh karena itu., kepada guru TK/PAUD hendaknya menggunakan media gambar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, dengan mempertimbangkan kesesuaian tema/sub tema dengan gambar yang akan digunakan.

Kata Kunci: Media, Gambar, Tanaman, Motivasi, Belajar

© 2020 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sulawesi Selatan

PENDAHULUAN

Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi dasar pembelajaran yang akan mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki anak. Hal tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 14 yang menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu usaha pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan tidak terlepas dari proses pembelajaran, karena semua proses pendidikan berlangsung melalui kegiatan belajar.

Syaiful Bahri Djamarah (2011:13) mendefinisikan belajar sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Oemar Hamalik (2005:9) juga berpendapat bahwa belajar merupakan suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.

Anak didik membutuhkan motivasi dalam proses pembelajaran, karena motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar merupakan aktivitas individu dalam rangka mengembangkan potensi dirinya. Motivasi diartikan sebagai suatu kondisi dalam diri individu yang dapat mendorong atau menggerakkan seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan (Sukmadinata, 2005:61).

(2)

289

Anak yang memiliki motivasi tinggi, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Dengan kata lain bahwa motivasi belajar merupakan dorongan yang bisa datang dari dalam diri maupun dari luar anak sehingga menimbulkan gairah, usaha, perasaan senang, dan semangat untuk belajar.

Dalam proses pembelajaran, apabila anak tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diteliti sebab-sebabnya. Sebab tersebut biasanya bermacam-macam, bisa karena kurang tertarik dengan kegiatan yang diberikan, bisa karena anak tidak merasa senang, sakit atau lapar, dan lain sebagainya. Hal tersebut terjadi karena tidak ada perubahan energi dalam diri anak, afeksi anak tidak terangsang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan karena kurang memiliki semangat untuk terus belajar. Keadaan ini perlu diadakan dorongan yang dapat membangkitkan semangat anak dalam belajar. Dengan kata lain, anak perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi dalam diri anak (Sardiman A.M., 2006: 74).

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dalam kegiatan ovbservasi, menunjukkan bahwa motivasi belajar anak kurang terlihat dari kegiatan awal-akhir di Kelompok B TK Az ZehanMoncongloe Kabupaten Maros. Sehingga dapat diindikasikan bahwa motivasi belajar anak belum meningkat. Kondisi tersebut terlihat pada saat pembelajaran berlangsung, sekitar 12 dari 13 anak kurang memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru mengenai kegiatan yang akan dilakukan. 7 anak diantaranya cenderung pasif ketika kegiatan tanya jawab, dan 6 anak lainnya kurang tertarik mengerjakan kegiatan yang diberikan dengan menunjukkan sikap malas, dan bosan. Sebagian anak sudah mampu mengerjakan tugas sampai selesai, namun sebagian anak masih sering meminta bantuan guru atau cenderung mengandalkan teman untuk menyelesaikan tugasnya. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa motivasi belajar anak sangat kurang sehingga perlu ada upaya untuk meningkatkan motivasi anak dalam mengikuti proses pembelajaran.

Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan Rasbi Rahing (Kepala TK Az Zehan) diketahui bahwa sebagian besar anak memiliki motivasi belajar yang rendah dalam masa pandemi ini. Anak yang memiliki motivasi yang rendah sering terlihat bersendagurau dengan teman di sekitarnya ketika diminta untuk menulis sehingga anak membutuhkan waktu lama bahkan terkadang tidak selesai ketika waktu sudah habis. Selain itu ada juga anak yang benar-benar menolak jika diminta untuk menulis bahkan menangis jika diminta untuk menulis. Bahkan ada yang hanya melihat ketika teman menulis. Selai itu, Dewi Anggriani Lukman juga mengatakan bahwa anak lebih tertarik jika diminta untuk menggambar atau mewarnai dari pada diminta untuk menulis. Hasil wawancara dengan Dewi Angriani Lukman (Guru di TK Az Zehan) mengungkapkan bahwa pendidik sudah mengupayakan untuk meningkatkan motivasi belajar anak dengan memberikan penghargaan. Namun baru sebatas penghargaan verbal berbentuk pujian seperti “bagus”, “hebat”, “pintar”, dan hal tersebut juga jarang dilakukan. Penghargaan lain yang diberikan dalam bentuk simbol gambar bintang) pada setiap hasil kerja anak, yang juga digunakan sebagai alat ukur pencapaian perkembangan. Penghargaan lain yang sifatnya nyata (berbentuk benda) belum diberikan secara nyata, sehingga cara yang dilakukan guru belum sepenuhnya berhasil menarik perhatian anak dan meningkatkan motivasi belajar anak.

Belajar yang dilakukan untuk anak usia dini harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan yaitu dengan cara bermain. Bermain adalah salah satu cara melatih konsentrasi pada anak karena anak mencapai kemampuan maksimal ketika terfokus pada kegiatan bermain dan bereksplorasi dengan mainan. Bermain juga merupakan belajar yang efektif karena dapat menumbuhkan perasaan senang sehingga perasaan senang tersebut dapat menumbuhkan motivasi instrinsik anak untuk belajar. Motivasi instrinsik tersebut dapat dilihat dari emosi positif pada anak yang ditunjukkan melalui rasa ingin tahu yang besar terhadap kegiatan pembelajaran (Christianti, 2007). Melihat dari fakta-fakta tersebut

(3)

290

maka motivasi belajar yang dimiliki anak usia dini perlu ditingkatkan dengan menggunakan media yang efektif dan menyenangkan. Media yang efektif perlu digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Menurut teori kognitif anak harus diberikan suatu area yang belum diketahui, karena anak tidak dapat belajar dari apa yang telah diketahui. Oleh sebab itu diperlukan media pembelajaran yang belum pernah diberikan kepada anak selama disekolah. Selain itu menggunakan media dalam pembelajaran dapat memberikan inovasi yang berbeda ketika proses pembelajaran sehingga anak tidak akan mudah bosan. Wei, Hung, Ling, dan Chen (2011) menjelaskan bahwa metode pembelajaran ceramah yang sering diterapkan oleh pengajar terkadang menyebabkan murid tidak dapat memahami makna dari informasi yang disampaikan, oleh karena itu sangat disarankan bagi pengajarmenggunakan media konkret untuk membantu anak dalam menerima informasi.

Dengan menggunakan media yang tepat dapat membuat anak tertarik sehingga motivasi belajar anak dapat meningkat dengan baik. Salah satu media yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar pada anak adalah dengan menggunakan media gambar. Media gambar merupakan gambar-gambar yang diberikan dalam bentuk fotografik yang sesuai dengan tema pembelajaran (Widiasih, 2013). Menurut Arsyad (dalam Widiasih, 2013), gambar memiliki beberapa kelebihan antara lain gambar bersifat kongkrit, nyata dapat terlihat oleh indra. Beberapa keuntungan yang didapat ketika belajar menulis menggunakan media gambar ialah dapat menutupi beberapa kekurangan yaitu ruang, waktu, dan kemampuan indra manusia, merupakan media yang mudah didapatkan, dapat digunakan untuk menjelaskan masalah yang konkrit bahkan abstrak, serta mudah digunakan. Selain itu gambar memberikan kesempatan sebebas-bebasnya kepada anak untuk membangun kemampuan yang dimiliki.

Menurut Piaget tahap praoperasional yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun anak mulai mempresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan, dan gambar. Dengan menggunakan media gambar yang menarik dapat membuat anak lebih termotivasi untuk belajar menulis. Warna dan gambar merupakan daya tarik perhatian anak. Penglihatan, warna, dan persepsi bentuk merupakan hal yang memperoleh perhatian terbesar selain pendengaran (Solso, 2007). Dengan terpusatnya perhatian (attensi) yang dimiliki anak dapat mempengaruhi kemampuan kognitifnya sehingga anak lebih baik untuk mengingat apa yang dipelajari (Ambarningrum, 2011). Belajar harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pada anak prasekolah tahap perkembangannya yaitu tahap bermain. Belajar dapat dilakukan dengan bermain. Dengan gambar yang menarik, anak akan memperhatikan, mengamati, serta lebih fokus. Ketika sudah memasuki usia prasekolah anak-anak menjadi lebih baik dalam memfokuskan perhatian pada suatu tugas tertentu dan mempertahankannya, dan kurang mudah teralihkan oleh peristiwa yang tidak nyata (Ormrod, 2008). Siswa yang termotivasi lebih banyak memperhatikan, terlibat aktif dalam pembelajaran, serta mencari bantuan ketika tidak mengerti. Selain itu minat juga merupakan salah satu aspek dari motivasi. Ketika siswa memiliki minat pada suatu aktivitas tertentu, maka mereka menganggap aktifitas tersebut menarik dan menyenangkan (Ormrod, 2008).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sukartiningsing (2004) membuktikan bahwa media kata bergambar (MKB) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas 1 SD. Dari hasil penelitian, media kata bergambar dapat dipergunakan sebagai media alternatif dalam pembelajaran membaca menulis permulaan di SD selain dengan menggunakan metode syair dan lagu, metode membaca puisi, membacakan dongeng, dramatisasi, permainan boneka, serta metode yang lainnya. Media kata bergambar yang dikembangkan dalam penelitian ini tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis anak pada tahap

(4)

291

yang paling awal, namun juga dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis anak pada tahap lanjut.

Berdasarlan uraian di atas, penulis akan melakukan kajian untuk meningkatkan motivasi belajar anak melalui pembelajaran dengan menggunakan media di TK Az Zehan. Melalui pembelajaran yang menggunakan media tersebut, diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Selain itu, dengan media tersebut anak dapat belajar dengan santai sambil bermain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar anak melalui media gambar tanaman di TK Az Zehan.

Motivasi Belajar

Sardiman A. M. (2006: 75) mengungkapkan bahwa dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri anak, baik berasal dari dalam maupun luar anak yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada dasarnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan anak untuk belajar. Hal senada diungkapkan oleh Hamzah B. Uno (2010: 23) mengungkapkan bahwa motivasi belajar merupakan dorongan internal (dari dalam) dan eksternal (dari luar) pada seseorang yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku dengan beberapa indikator atau unsur pendukung.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa motivasi merupakan perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” atau perasaan untuk mencapai suatu tujuan. Dari pengertian motivasi ini terdapat tiga unsur elemen penting, yaitu motivasi mengawali terjadinya perubahan energi dalam diri seseorang, motivasi ditandai dengan munculnya rasa atau “feeling” afeksi seseorang, dan motivasi dirangsang karena adanya tujuan (Mc. Donald dalam Sardiman A. M., 2006: 73). Maka dapat dikatakan bahwa motivasi memiliki peranan penting memberikan semangat belajar, sehingga orang yang termotivasi memiliki energi yang banyak untuk melakukan aktivitas belajar.

Motivasi merupakan salah satu syarat dalam belajar, maka peranannya sangat penting dalam pencapaian keberhasilan belajar. Sardiman A. M. (2006: 50) mengungkapkan bahwa motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual, yang memiliki peran yang khas dalam hal menumbuhkan gairah, merasa senang, antusias, dan semangat untuk belajar. Motivasi bukan hanya berperan dalam meningkatkan semangat belajar disekolah, tetapi motivasi merupakan motif yang sudah menjadi aktif pada saat-saat tertentu (Winkel, 2004: 169). Oleh karena itu peran motivasi dalam belajar sangat penting untuk dikembangkan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan kesuluruhan daya penggerak yang membangkitkan seseorang, baik dari dalam maupun dari luar anak yang menimbulkan kegiatan dan kebutuhan belajar untuk mencapai tujuan dan harapan yang ingin dicapai. Motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik, dalam memenuhi kebutuhannya atau dalam mencapai tujuannya. Conny R. Semiawan (2009: 79) mengemukakan bahwa motivasi belajar bukanlah sesuatu yang siap jadi, tetapi diperoleh dan ditentukan oleh lingkungan yaitu berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.

Media Gambar

Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2011) media gambar adalah hasil potretan dari berbagai peristiwa/kejadian, objek, yang dituangkan dalam bentuk gambar-gambar, garis,

kata-kata, simbol maupun gambaran.Selanjutnya Supartinah (2011) mengemukakan

(5)

292

banyak diminati peserta didik terlebih gambar berwarna. Cucu Eliyawati (2005) berpendapat bahwa gambar diam atau gambar mati adalah gambar-gambar yang disajikan secara fotografik misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan bahan/isi tema yang diajarkan dan bersifat tunggal namun ada yang berseri.

Agus F. Tangyong, dkk (2004) mengemukakan gambar yang digunakan dapat berupa gambar bermacam-macam gerak sesuai dengan jenis kata yang dikehendaki (kata kerja), gambar bermacam-macam benda yang diperlukan (jenis kata benda), gambar bermacammacam bentuk, gambar bermacam-macam keadaan untuk menanamkan kata keterangan (banjir, gunung meletus, dan lain-lain). Berdasarkan pendapat diatas dapat ditegaskan bahwa media gambar adalah hasil potretan berbagai peristiwa atau objek yang dituangkan dalam bentuk gambar, praktis, mudah dibuat, diminati peserta didik dan berisi bahan atau tema yang diajarkan.

Media gambar yang digunakan dalam penelitian ini berisi gambar-gambar yang disesuaikan dengan tema pada hari saat berlangsungnya penelitian. Gambar-gambar tersebut adalah gambar tanaman seperti jeruk, sayur, tanman obat, dan lain-lain.

METODE

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini adalah anak didik Kelompok B TK Az Zehan Tahun pelajaran 2020/2021. Jumlah anak didik sebanyak 5 orang. Penelitian ini dilaksanakan di TK Az Zehan pada bulan Oktober hingga November 2020, dalam rangka pemenuhan tugas dalam Program PPG Daljab Tahun 2020. Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Tahapan setiap sikulis terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi (Djajadi, 2019). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi peningkatan motivasi belajar berupa lembar observasi. Data yang diperoleh dan dikumpulkan dianalisis terlebih dahulu, dengan maksud untuk membuktikan tentang ada tidaknya perbaikan yang dihasilkan setelah dilakukan penelitian tindakan.

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ditandai dengan meningkatnya motivasi belajar anak, dilihat dengan cara mengamati respon anak secara langsung selama proses pembelajaran berlangsung dengan hasil persentase 75% anak berada minimal pada kategori motivasi belajar tinggi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kondisi Awal Anak Sebelum Tindakan

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perkembangan motivasi belajar anak masih dalam kriteria kurang (rendah). Penghitungan persentase skor motivasi belajar anak dihitung dari frekuensi kemunculan indikator motivasi belajar anak pada setiap pertemuan. Dengan demikian terdapat 15 Jumlah kemunculan indikator seluruhnya dari pertemuan pertama hingga pertemuan ketiga. Hasil pengamatan motivasi belajar anak sebelum tindakan diringkas dalam tabel berikut ini:

Tabel 1. Hasil Pengamtan Motivasi Belajar Anak Sebelum Tindakan

No Nama Anak Kemunculan Indikator JM L Perse ntase Kriteria

Hari-I Hari-II

Hari-III

1 Ans 1 2 2 5 33,33 Cukup/Sedang

(6)

293

3 Sal 2 3 2 7 53,33 Cukup/Sedang

4 Naur 3 2 3 8 46,67 Tinggi

5 Um 1 2 2 5 33,33 Cukup/Sedang

Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa sebelum tindakan, pada umumnya motivasi motivasi belajar anak dalam cukup/sedang. Hanya satu orang anak yang memiliki kriteria motivas belajar tinggi. Motivasi belajar anak tersebut disebabkan karena perhatian anak belum sepenuhnya fokus pada penjelasan guru, anak sering melamun, pasif dalam kegiatan tanya-jawab. Anak juga masih belum dapat bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya sendiri, masih mengandalkan bantuan teman atau guru. Sehingga hasil belajar yang diperoleh belum menunjukkan kriteria sesuai indikator yang diharapkan. Kurang berkembangnya motivasi belajar yang dimiliki anak dikarenakan kegiatan pembelajaran yang diterapkan untuk menunjang motivasi belajar anak kurang optimal.

Berdasarkan data di atas peneliti menemukan beberapa permasalahan yang kemudian peneliti jadikan sebagai bahan refleksi untuk menentukan perencanaan dalam kegiatan pembelajaran pada Siklus I. Adapun masalah yang peneliti temukan yaitu sebagai berikut: 1. Motivasi belajar yang dimiliki anak masih kurang, hal ini dilihat dari sebagian besar anak masih pasif ketika kegiatan tanya-jawab, anak kurang memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru sehingga ketika diberikan tugas anak cenderung mengandalkan bantuan teman dan guru.

2. Kurangnya intensitas pemberian penghargaan sebagai tanda bahwa anak telah melakukan sesuatu yang benar, baik berupa penghargaan verbal maupun non verbal.

Hasil pengamatan mengenai motivasi belajar anak pada sebelum tindakan ini menunjukkan bahwa motivasi belajar anak dalam pembelajaran masih perlu ditingkatkan. Upaya yang dilakukan merupakan hasil kesepakatan bersama yaitu meningkatkan motivasi belajar anak menggunakan media gambar tanaman.

Siklus I

Tabel berikut ini menunjukkan capaian tingkat motivasi belajar anak pada siklus pertama.

Tabel 2. Hasil Observasi Motivasi Belajar Anak Siklus Pertama

No Nama Anak Mengerjak an tugas dengan usaha sendiri Mengikuti kegiatan dengan semangat Aktif dalam bertanya Menjawab pertanyaan guru dengan semangat/sung guh-sungguh Memperhatik an penjelasan guru dengan sungguh-sungguh JM L Persent ase 1. Ans √ √ 2 40% 2. Naj √ √ √ √ √ 5 100% 3. Sal √ √ 2 40% 4. Nau √ √ √ √ √ 5 100% 5. Um √ √ 2 40%

(Tanggal pengamatan: 19 Oktober 2020)

Pada Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa motivasi belajar anak pada umumnya masih dalam kategori cukup/sedang. Persentase keberhasilan tindakan juga belum mencapai kriteria yang diharapkan yaitu di atas 75%. Keerhasilan tindakan baru mencapai 40% (2 dari 5 anak yang mencapai kategori motivasi belajar tinggi atau sangat tinggi). Sehingga penelitian akan dilanjutkan pada tindakan Siklus II.

(7)

294

Tabel berikut ini menunjukkan capaian tingkat motivasi belajar anak pada siklus Kedua.

Tabel 3. Hasil Observasi Motivasi Belajar Anak Siklus Kedua

No Nama Anak Mengerjakan tugas dengan usaha sendiri Mengikuti kegiatan dengan semangat Aktif dalam bertanya Menjawab pertanyaan guru dengan semangat/sungg uh-sungguh Memperhatik an penjelasan guru dengan sungguh-sungguh JM L Persen-tase 1. Ans √ √ √ √ 4 80% 2. Naj √ √ √ √ √ 5 100% 3. Sal √ √ √ √ √ 5 100% 4. Nau √ √ √ √ √ 5 100% 5. Um √ √ √ √ 4 80%

(Tanggal pengamatan: 26 Oktober 2020).

Pada Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa motivasi belajar anak pada umumnya dalam kategori sangat tinggi. Seluruh anak mencapai persentase pada kategori sangat tinggi (76%-100%.). Selain itu, persentase pencapaian kelima indikator juga menunjukkan pencapaian dalam kategori sangat tinggi. Persentase keberhasilan tindakan juga telah mencapai kriteria yang diharapkan yaitu di atas 75%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media gambar tanaman dapat meningkatkan motivasi belajar anak.

Berdasarkan hasil penelitian pada bagian sebelumnya, diperoleh informasi bahwa pembelajaran dengan menggunakan media gambar tanaman dapat meningkatkan motivasi belajar anak di TK Az Zehan Moncongloe Lappara Kabupaten Maros. Hasil tersebut ditunjukkan oleh peningkatan motivasi belajar anak dari siklus pertama ke siklus kedua. Motivasi belajar tersebut tampak dalam capaian indikator dalam kategori sangat tinggi pada siklus kedua, sedangkan pada siklus pertama masih dalam kategori cukup/sedang. Kelima indikator yang digunakan dalam mengukur tingkat motivasi anak menunjukkan persentase capaian dalam kategori sangat tinggi pada siklus kedua. Kelima indikator tesebut yaitu; mengerjakan tugas dengan usaha sendiri, mengikuti kegiatan dengan semangat, aktif dalam bertanya, menjawab pertanyaan guru dengan semangat/sungguh, dan memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh.

Hasil penelitian di atas sejalan dengan pendapat Widiasih (2013) bahwa Dengan menggunakan media yang tepat dapat membuat anak tertarik sehingga motivasi belajar anak dapat meningkat dengan baik. Salah satu media yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar pada anak adalah dengan menggunakan media gambar. Media gambar merupakan gambar-gambar yang diberikan dalam bentuk fotografik yang sesuai dengan tema pembelajaran. Gambar memiliki beberapa kelebihan antara lain gambar bersifat kongkrit, nyata dapat terlihat oleh indra. Beberapa keuntungan yang didapat ketika belajar menulis menggunakan media gambar ialah dapat menutupi beberapa kekurangan yaitu ruang, waktu, dan kemampuan indra manusia, merupakan media yang mudah didapatkan, dapat digunakan untuk menjelaskan masalah yang konkrit bahkan abstrak, serta mudah digunakan. Selain itu gambar memberikan kesempatan sebebas-bebasnya kepada anak untuk membangun kemampuan yang dimiliki.

Hasil penelitian ini juga segalan dengan penapat Christianti (2007) bahwa motivasi belajar yang dimiliki anak usia dini perlu ditingkatkan dengan menggunakan media yang efektif dan menyenangkan. Media yang efektif perlu digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Menurut teori kognitif anak harus diberikan suatu area yang belum diketahui, karena anak tidak dapat belajar dari apa yang telah diketahui. Oleh sebab itu diperlukan media pembelajaran yang belum pernah diberikan kepada anak selama

(8)

295

disekolah. Selain itu menggunakan media dalam pembelajaran dapat memberikan inovasi yang berbeda ketika proses pembelajaran sehingga anak tidak akan mudah bosan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik keseimpulan bahwa kemunculan Indikator dalam kegiatan pembelajaran siklus kedua berbeda dengan siklus pertama. Jika pada siklus pertama masih ada beberapa indikator yang masih menunjukkan capaian persentase yang rendah, maka di siklus kedua semua indikator tersebut menunjukkan persentase capaian yang sangat tinggi. Kelima indikator motivasi belajar yaitu; mengerjakan tugas dengan usaha sendiri, mengikuti kegiatan dengan semangat, aktif dalam bertanya, menjawab pertanyaan guru dengan semangat/sungguh-sungguh, dan memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh. Selain itu, seluruh anak dalam siklus kedua mencapai persentase tingkat motivasi yang sangat tinggi. Selain itu, Penggunaan media gambar dapat meningkatkan motivasi belajar anak di TK Az Zehan Moncongloe Lappara Kabupaten Maros.

Diharapkan kepada guru TK/PAUD hendaknya menggunakan media gambar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, dengan mempertimbangkan kesesuaian tema/sub tema dengan gambar yang akan digunakan. Gambar yang digunakan sebagai media hendaknya gambar yang dekat dengan anak atau sering dijumpai oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Kepada peneliti lain, hendaknya mengembagkan kajian lainnya yang relevan dengan masalah dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Acep Yonny, dkk. (2010). Menyusun Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Familia. Anas Sudjiono. (2006). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Conny R. Semiawan. (2009). Metodologi Peneletian. Jakarta: Bumi Aksara.

Dimyati dan Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djajadi, Muhammad. (2019). Pengantar Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action

Research). Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Edi Purwanta. (2005). Modifikasi Perilaku Untuk Mengatasi Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Elida Prayitno. (1989). Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.

Hurlock, E. B. (1978). Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Hamzah B. Uno. (2010). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara

Kasihani Kasbolah. (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.

(9)

296

Masitoh, dkk. (2005). Pendidikan Belajar Aktif di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Muhibbin Syah. (1999). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Nana Syaodih Sukmadinata. (2005). Lansdasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.

Novan Ardy Wiyani & Barnawi. (2012). Format Paud Konsep, Karakteristik, dan Implementasi

Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Oemar Hamalik. (2003). Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Purwaka Hadi. (2005). Modifikasi Perilaku. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Sardiman A. M. (1986). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. Sardiman A. M. (2006). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT RajaGrafindo

Persada.

Sofia Hartati. (2005). Perkembangan Belajar Pada Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D). Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Suyatinah. (2000). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Syaiful Bahri Djamarah. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Wina Sanjaya. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup. Winkle, W. S. (2004). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Gambar

Tabel 1. Hasil Pengamtan Motivasi Belajar Anak Sebelum Tindakan  No  Nama Anak  Kemunculan Indikator  JM L   Perse ntase  Kriteria Hari-I Hari-II
Tabel  berikut  ini  menunjukkan  capaian  tingkat  motivasi  belajar  anak  pada  siklus  pertama

Referensi

Dokumen terkait

Bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Formasi Tahun Anggaran 2010, yang Surat Keputusan Pengangkatannya telah selesai diproses (daftar nama terlampir) dapat mengambil Surat Keputusan

Untuk menganalisis lebih jelas mengenai daya tarik yang dihipotesiskan mempunyai pengaruh terhadap promosi dan informasi, aksesbilitas yang dihipotesiskan mempunyai

Dalam penelitian ini dirumuskan masalah yang terkait dengan latar belakang di atas yakni: pertama, Bagaimana Kemunculan dan Perkembangan Tarekat Asy- Syahadatain di Desa

Melalui perancangan media komunikasi visual sebagai sarana promosi Carissa Cuci Mobil Otomatis (CCMO), dan untuk menjaga eksistensi menghadapi pesaingnya,

Seorang nyai berperan di dalam transformasi modernisasi di Jawa pada khususnya, transformasi modernisasi yang penulis maksud adalah proses perubahan kebiasaan atau budaya

Menurut Edward Djamaris dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Filologi, metode landasan dipakai apabila menurut tafsiran, nilai naskah jelas berbeda sehingga ada satu

Hal ini didukung oleh pernyataan Siagian (dalam Syamsi, 1995) bahwa pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan

Batas aliran lalu lintas yang ada pada suatu ruas jalan dilampaui, maka rata-rata kecepatan lalu lintas akan turun sehingga pada saat kecepatan mulai turun maka