• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proceeding Seminar Nasional Thermofluid VI Yogyakarta, 29 April 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Proceeding Seminar Nasional Thermofluid VI Yogyakarta, 29 April 2014"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Perambatan Gelombang Detonasi Campuran Stoikiometris LPG-Oksigen

di Belakang Model Media Porous dengan Variasi Massa

(Detonation Wave Propagation of Stoichiometric LPG-Oxygen Mixture behind

Porous Media Model with Mass Variation)

Jayan Sentanuhady, Jannati Adnin Tuasikal

Department of Mechanical and Industrial, Engineering Faculty, Universitas Gadjah Mada Jalan Grafika No. 2, Kampus UGM, Yogyakarta, 55281.

[email protected].

Abstract

LPG-air mixture enriched with oxygen is usually used for generating heat in industry sector in order to increase flame temperature resulted by combustion process. There is possibility that LPG-oxygen will mix and react independently and the mixture could generate detonation wave if an accident occurs. This condition could harm people and environment, thus detonation quenching to guarantee safety becomes very important. The aim of this experiment is to investigate detonation quenching phenomena behind porous medium model.

This experiment used detonation test tube with 50 mm of inner diameter and 6000 mm of total length, which consists of two section, 1000 mm long driver section and 5000 mm long driven section. Driver section and driven section are separated by mylar film to prevent mixing between driver gas and driven gas which consists different gas mixture with different pressure. The driver section contains stoichiometric hydrogen-oxygen mixture at constant initial pressure which functions as direct initiator for detonation in driven section. In other hand, the driven section contains stoichiometric mixture of LPG and oxygen at initial pressure varied from 20 to 100 kPa with interval 10. Stainless steel porous media with variation masses of 15 and 20 grams was inserted in a cylindrical case which has perforated small holes on its cross-sectional surface to enable detonation wave to propagate through it. Observation of detonation wave propagation was done at upstream and downstream of the model.

Two mechanisms of detonation wave propagation were observed in the downstream of porous media model, which are (a) detonation reinitiation and (b) detonation transmission. The increase of porous media mass will result to the increase of reinitiation distance of detonation behind the model. Increment of reinitiation distance of detonation is significant for mixture with low initial pressure.

Keywords LPG Combustion, Detonation, Detonation Quenching, Porous Media

1. Pendahuluan

LPG Pertamina merupakan salah satu bahan bakar yang banyak digunakan di Indonesia, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri. Pada penggunaan LPG sebagai bahan bakar di industri, oksigen biasa ditambahkan pada proses pembakaran untuk meningkatkan energi yang dihasilkan. Akan tetapi, ada kemungkinan oksigen bereaksi dengan LPG secara independen tanpa udara yang dapat menghasilkan energi dan kalor lebih tinggi dibandingkan dengan reaksi LPG dengan udara. Energi dalam jumlah tinggi ini dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya gelombang detonasi apabila terjadi kecelakaan. Detonasi sendiri merupakan gelombang pembakaran yang merambat dengan kecepatan supersonik. Pada kondisi detonasi, terdapat

shockwave yang merambat tepat di depan gelombang

pembakaran.

Gelombang detonasi dapat terbentuk dari campuran LPG-Oksigen stoikiometris dengan tekanan awal 20 hingga 100 kPa sebagaimana telah diamati oleh Sentanuhady et al. pada tahun 2013 [1]. Pada

penelitian tersebut, diketahui bahwa detonasi merambat dengan kecepatan mencapai 2320 m/s dengan tekanan shockwave mencapai 2952,6 kPa. Kecepatan dan tekanan tinggi pada perambatan detonasi inilah yang dapat membahayakan lingkungan, maupun manusia yang berkerja di sekitar sistem pembakaran apabila terjadi kecelakaan. Untuk itu, pengendalian gelombang detonasi menjadi sangat penting untuk menjamin keselamatan para pekerja. Proses pengendalian gelombang detonasi bisa disebut proses detonation quenching, dimana gelombang detonasi bertransformasi menjadi gelombang deflagrasi yang lebih tidak berbahaya. Detonation

quenching dapat dilakukan dengan metode kimia

maupun mekanis seperti menggunakan perforated

obstacle maupun model media porous.

Pada tahun 1999 Dillon et al. meneliti perambatan pembakaran hidrogen-udara melalui media

porous kaca di dalam combustion vessel [2]. Penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui nilai equivalence ratio (ER) kritis campuran hidrogen-udara yang memungkinkan terjadi pembakaran pada vessel

(2)

media porous juga pernah diteliti oleh Mihalik et al. pada tahun 1999 dengan menggunakan campuran metana-udara dan propana-udara [3]. Penelitian ini menunjukkan flammability limit campuran melalui model media porous lebih sempit dibandingkan dengan flammability limit campuran pada pipa tanpa model dikarenakan terjadi heat loss dari gelombang pembakaran ke media porous.

Pada tahun 2013, Sentanuhady et al. melakukan observasi terhadap perambatan gelombang detonasi LPG-oksigen melalui media porous dengan massa konstan 10 gram [4]. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa gelombang detonasi mengalami

quenching pada nilai tekanan awal kurang dari 60 kPa,

akan tetapi berhasil terreinisiasi setelah beberapa saat. Sebelumnya, pada tahun 2011 Sentanuhady et al. mengamati karakteristik perambatan deflagrasi LPG-udara melewati media porous dengan menggunakan

Constant Volume Combustion Chamber (CVCC) [5].

Pada penelitian tersebut nilai tekanan awal campuran divariasikan dari 40 hingga 100 kPa dan massa media

porous divariasikan sebesar 5, 10, 15, dan 20 gram.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi massa media porous yang digunakan, semakin tinggi tingkat keberhasilan flame quenching. Pada pengujian dengan menggunakan media porous dengan massa 15 dan 20 gram, flame quenching teramati untuk seluruh nilai tekanan awal campuran. Sedangkan untuk nilai massa media porous lebih rendah, yaitu 5 dan 10 gram, reinisiasi terjadi pada campuran dengan nilai tekanan awal yang tinggi.

Berkaitan dengan penggunaan media porous untuk flame quenching, pada tahun 2012, Ciccarelli mengungkapkan bahwa media porous memiliki luas area besar yang dibutuhkan dalam proses flame

quenching untuk meningkatkan terjadinya perpindahan

kalor dari flame front [6]. Akan tetapi apabila flame

front tidak berhasil mengalami quenching, media porous justru dapat meningkatkan ledakan yang

terjadi. Hal tersebut diakibatkan saluran-saluran kecil pada media porous justru meningkatkan turbulensi pada perambatan gelombang yang kemudian membantu meningkatkan kecepatan perambatan dari gelombang tersebut.

Hasil dari berbagai penelitian yang telah tersebut di atas mengindikasikan bahwa media porous memiliki kemampuan dalam flame quenching maupun

detonation quenching. Lebih lanjut properties dari

media porous yaitu massa media porous juga mempengaruhi karakteristik perambatan pembakaran yang merambat melaluinya. Di samping itu, properties

terhadap keberhasilan detonation quenching

menggunakan campuran LPG-oksigen stoikiometris dengan nilai tekanan awal divariasikan. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan delam perancangan dan pengembangan flame arrester untuk sistem pembakaran LPG.

2. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Konversi Energi, Jurusan Teknik Mesin dan Industri, UGM. Peralatan pengujian terdiri dari pipa uji detonasi (PUD), sensor tekanan, sensor ionisasi, sistem akuisisi data, dan sistem pencampuran gas seperti ditunjukkan Gambar 1. PUD terbuat dari stainless steel dengan diameter dalam 50 mm, yang terdiri dari dua bagian yaitu driver sepanjang 1 m dan driven sepanjang 5 m. PUD dilengkapi dengan dump tank pada bagian ujung akhir driven yang berfungsi untuk menyerap perambatan reflected shock kearah upstream. Tiap bagian dari PUD dibatasi oleh mylar film setebal 50 μm untuk mencegah tercampurnya gas pada bagian

driver, driven, dan dump tank yang masing-masingnya

berisi gas berbeda dengan tekanan berbeda pula. Model media porous stainless steel dengan variasi massa 15 dan 20 gram dimasukkan dalam casing yang dipasang pada bagian driven dengan jarak 4 m dari ujung awal driven. Casing media porous memiliki

perforated hole pada kedua permukaannya untuk

memungkinkan gelombang detonasi merambat melaluinya. Rincian dari desain dan parameter model media porous tercantum pada Gambar 2 dan Tabel 1. Empat sensor tekanan PCB Piezotronic 113B24 diinstal pada PUD untuk mendeteksi shockwave. Dua sensor dipasang pada upstream model, sedangkan dua lainnya dipasang pada downstream model. Empat sensor ionisasi diinstal berlawanan dengan sensor tekanan yang berfungsi untuk mendeteksi kedatangan

flame front. Soot track record terbuat dari plat

aluminium yang dilumuri jelaga pembakaran minyak tanah dipasang pada upstream dan downstream dari model untuk memvisualisasikan mekanisme perambatan detonasi.

Bagian driver diisi dengan campuran hidrogen-oksigen stoikiometris dengan tekanan awal konstan 100 kPa yang berfungsi sebagai direct inisiator detonasi pada bagian driven. Sedangkan bagian driven diisi dengan campuran LPG-oksigen stoikiomteris dengan tekanan bervariasi dari 20 hingga 100 kPa. Campuran gas disimpan dalam mixing tank selama mimimal 12 jam sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas yang baik. Kondisi eksperimen tercantum pada tabel 2.

(3)

Gambar 1. Skema peralatan pengujian

(a) (b)

Gambar 4.2. Casing media porous (a) gambar CAD inventor (b)foto model sebenarnya Tabel 1. Konfigurasi model media porous

Parameter Keterangan

Panjang Casing (mm) 72

Diameter dalam Casing (mm) 52,5 Kedalaman rongga Casing (mm) 41

Material Casing Steel

Material Media Porous Stainless Steel

Tabel 2. Experimental conditions Parameter Driver Driven

Fuel Hidrogen LPG

Pertamina Oksidizer Oksigen Oksigen

Equivalence Ratio 1 1 Initial Pressure (kPa) 100 20-100, interval 10 Temperatur (⁰C) 25 25

Mixing Premixed Premixed

Massa Media Porous (gram)

15 dan 20

3. Hasil dan Pembahasan

Dari hasil eksperimen diperoleh dua mekanisme perambatan detonasi yang telah diobservasi di belakang model media porous, yaitu (1)

detonation transmission dan (2) detonation reinitiation.

Gambar 3(a) menunjukkan data dari sensor tekanan dan ionisasi pada pembakaran campuran LPG-oksigen stoikiometris dengan nilai tekanan awal 80 kPa yang melewati model media porous dengan massa 15 gram. Sumbu vertikal menunjukkan tekanan non dimensi dan sumbu horizontal menunjukkan waktu. Waktu kedatangan flame front melewati sensor ditandai dengan penurunan sinyal ionisasi, sedangkan waktu kedatangan dan besarnya gelombang tekanan ditandai dengan kenaikan sinyal dari sensor tekanan. Pada Gambar 3(a), terlihat bahwa kenaikan tekanan terjadi bersamaan dengan penurunan nilai sinyal ionisasi pada semua lokasi sensor. Hal tersebut menunjukkan bahwa gelombang detonasi merambat pada upstream dan downstream model media porous. Kecepatan perambatan flame front pada downstream terhitung sebesar 2293 m/s sedangkan nilai tekanan

shockwave yang terdeteksi pada downstream sebesar

2838 kPa. Kedua nilai tersebut mendekati nilai kecepatan teoritis detonasi Chapman-Jougout (CJ) sebesar 2374 m/s dan nilai tekanan teoritis detonasi CJ sebesar 3061.57 kPa, sehingga dapat dipastikan bahwa detonasi terjadi pada downstream model. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh Gambar 4(a) yang merupakan visualisasi perambatan detonasi di belakang model pada kondisi eksperimen ini. Sel detonasi mulai terbentuk pada jarak 12 mm di belakang model. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa gelombang detonasi mengalami transmisi secara langsung setelah melewati model media porous.

(4)

0 20 40 60 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005 time (s) P2 P3 P4 SW d (a) 0 20 40 60 80 100 120 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005

LPG-O2 Pi=20kPa, media porous 15 g

time (s) ion probe P1 P2 P3 P4 RS SW u PW (c) 0 20 40 60 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005 time (s) P4 P3 P2 SW d (b) ion probe P1 P2 P3 0 20 40 60 80 100 120 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005

LPG-O2 Pi=20kPa, media porous 20 g

time (s) P4 RS SW u PW (d)

Gambar 3. Data dari sensor tekanan dan ionisasi pada kondisi (a) detonation transmission, pada Pi=80kPa dan

mporous=15g, (b) detonation transmission, pada Pi=80kPa dan mporous=20g, (c) detonation reinitiation, pada Pi=20kPa dan mporous=15g, (d) detonation reinitiation, pada Pi=20kPa dan mporous=20g.

Data dari sensor tekanan dan ionisasi pada pengujian dengan nilai tekanan awal campuran gas 80 kPa menggunakan model media porous dengan massa 20 gram ditampilkan pada Gambar 3(b). Fenomena yang terjadi sama dengan Gambar 3(a) yaitu

detonation transmission. Akan tetapi terdapat perbedaan pada visualisasi perambatan detonasi pada

downstream model yang ditunjukkan gambar dan 4(b),

dimana sel detonasi baru mulai terbentuk pada jarak 18 mm dari model. Nilai ini lebih tinggi 4 mm dibandingkan dengan reinitiation distance detonasi di belakang model media porous dengan massa 15 gram.

Gambar 3(c) menunjukkan data dari sensor tekanan dan ionisasi pada pengujian dengan nilai tekanan awal campuran gas 20 kPa menggunakan model media porous dengan massa 15 gram. Pada Gambar 3(c), sensor tekanan 1 dan 2 mendeteksi kenaikan tekanan pada waktu bersamaan dengan dideteksinya perambatan flame front oleh sensor ionisasi yang menunjukkan bahwa detonasi merambat pada upstream dari model. Selanjutnya, ketika gelombang detonasi merambat melalui media porous, terjadi heat loss dan momentum loss yang besar sehingga gelombang detonasi mengalami quenching menjadi deflagrasi pada downstream. Fenomena ini diindikasikan Gambar 3(c), dimana waktu kedatangan

flame front dideteksi jauh di belakang waktu

dideteksinya pressure wave pada lokasi sensor 3 dan 4.

Dari perhitungan data sensor ionisasi dan sensor tekanan, didapatkan kecepatan flame front mencapai 626 m/s dan tekanan pressure wave mencapai 295.86 kPa pada downstream. Nilai ini jauh lebih kecil dari nilai kecepatan dan tekanan teoritis detonasi CJ yang bernilai 2322 m/s dan 726.02 kPa. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa deflagrasi merambat pada downstream dari model. Akan tetapi dari hasil visualisasi perambatan detonasi pada sooth track

record yang terpasang pada downstream sebagaimana

ditampilkan pada Gambar 4(c), sel detonasi mulai terbentuk pada jarak 320 mm dari model. Dapat disimpulkan gelombang detonasi mengalami

quenching menjadi deflagasi setelah merambat melalui

media porous, akan tetapi setelah beberapa saat detonasi mengalami reinisiasi. Fenomena ini disebut dengan detonation reinitiation.

Pengujian dengan nilai tekanan awal campuran yang sebesar 20 kPa menggunakan media

porous dengan massa 20 gram juga menghasilkan

fenomena detonation reinitiation seperti ditunjukkan Gambar 3(d). Akan tetapi terdapat perbedaan pada visualisasi sooth track yang ditampilkan pada Gambar 4(d), dimana sel detonasi baru terbentuk pada jarak 525 mm dari model. Terlihat terjadi peningkatan nilai sebesar 205 mm dari reinitiation distance detonasi ketika pengujian dengan menggunakan media porous bermassa 15 gram.

(5)

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 4. Visualisasi detonasi pada sooth track record (a) detonation transmission, pada Pi=80kPa dan

mporous=15g, (b) detonation transmission, pada Pi=80kPa dan mporous=20g, (c) detonation reinitiation, pada Pi=20kPa dan mporous=15g, (d) detonation reinitiation, pada Pi=20kPa dan mporous=20g.

0 100 200 300 400 500 600 0 20 40 60 80 100 120 m=15 g m=20 g Pi (kPa) P1

P2 limit of detonation transmi tion

Gambar 5. Hubungan antara tekanan awal campuran dengan Reinitiation Distance

Efek dari peningkatan massa media porous dan tekanan awal campuran terhadap reinitiation

distance detonasi (Dri) pada downstream model

ditunjukkan Gambar 5. Garis solid menunjukkan Dri pada kondisi media porous bermassa 15 gram dan garis putus-putus menunjukkan Dri pada kondisi media porous bermassa 20 gram. Gambar 5 menunjukkan bahwa pada nilai tekanan awal tinggi antara 70 hingga 100 kPa garis putus-putus berhimpit

dengan garis solid. Kemudian seiring dengan penurunan nilai tekanan awal, garis putus-putus cenderung lebih tinggi dibandingkan garis solid. Pada nilai tekanan awal 20 kPa, nilai Dri pada kondisi massa media porous 20 gram mengalami peningkatan mencapai 205 mm dari Dri pada kondisi massa media

porous 15 gram. Oleh karena itu, dapat dikatakan

bahwa peningkatan massa media porous akan meningkatkan nilai reinitiation distance detonasi yang cukup signifikan pada campuran dengan tekanan awal rendah. Hal ini disebabkan karena media porous dengan massa lebih tinggi mengambil lebih banyak kalor dari flame front yang melewatinya dan menyebabkan momentum loss yang lebih besar. Konsekuensinya, perambatan pressure wave dan flame

front pada downstream lebih lemah yang

mengakibatkan reinisiasi detonasi terjadi pada jarak yang lebih jauh dari model. Pada tekanan awal 50 hingga 100 kPa, peningkatan nilai Dri pada kondisi massa media porous 20 gram hanya sebesar 2 mm secara rata-rata dari nilai Dri pada kondisi massa media porous 15 gram. Hal ini dikarenakan meskipun massa media porous ditingkatkan menjadi 20 gram,

heat loss dan momentum loss yang terjadi jauh lebih

kecil dibandingkan heat dan momentum yang dimiliki gelombang detonasi. Sebagai akibatnya, jarak reinisiasi detonasi hanya mundur sedikit.

(6)

detonation reinitiation. Lebih lanjut peningkatan

massa dari media porous akan meningkatkan

reinitiation distance detonasi di belakang model.

Peningkatan nilai reinitiation distance detonasi sangat signifikan pada campuran dengan tekanan awal rendah yaitu mencapai 205 mm untuk nilai tekanan awal 20 kPa. Sedangkan pada nilai tekanan awal campuran tinggi, antara 50 hingga 100 kPa, reinitiation distance detonasi hanya meningkat rata-rata sebesar 2 mm. REFERENSI

[1] Sentanuhady, J., Jannati Adnin Tuasikal, 2013, Karakteristik Perambatan Gelombang Pembakaran Campuran LPG-Oksigen pada Kondisi Stoikiometris, Proceeding Seminar

Nasional Thermofluid.

Gaseous Mixtures in Porous Media, 17th

ICDERS Meeting, Heidelberg, Germany.

[4] Sentanuhady, J., Jannati Adnin Tuasikal, 2013, Combustion Wave Characteristics of LPG-Oxygen Mixture behind Porous Media Model

Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin (SNTTM) ke-12.

[5] Sentanuhady, J., Desmon Purba, Tri Agung Rohmat,2011, Deflagrasi LPG-Udara yang Melalui Media Porous, Proceeding Seminar

Nasional Tahunan Teknik Mesin (SNTTM) ke-10.

[6] Ciccarelli, G.,2012, Explosion Propagation in Inert Porous Media, Philosophical Transaction

of the Royal Society A: Mathematical, Physical, and Engineering Sciences vol.370.

Gambar

Gambar 1. Skema peralatan pengujian
Gambar 3. Data dari sensor tekanan dan ionisasi pada kondisi  (a) detonation transmission, pada P i =80kPa dan  m porous =15g, (b) detonation transmission, pada P i =80kPa dan m porous =20g, (c) detonation reinitiation, pada
Gambar 4. Visualisasi detonasi pada sooth track record (a) detonation transmission, pada P i =80kPa dan  m porous =15g, (b) detonation transmission, pada P i =80kPa dan m porous =20g, (c) detonation reinitiation, pada

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil evaluasi dapat diketahui bahwa perlakuan akuntansi pembiaayaan mudharabah yang dilakukan oleh BMT Kanindo Syari‟ah Malang sudah sesuai dengan PSAK

Hal ini disebabkan karena upah yang diterima oleh ibu rumah tangga dari satu unit anyaman nyiru besar lebih besar dari anyaman yang lebih kecil, sedangkan

Tunduk kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku dari waktu ke waktu dalam wilayah hukum di mana kantor cabang Bank maupun media Jasa Bank dan/atau Rekening berada,

Namun demikian, pada pengamatan untuk panen ketiga, kembali menunjukkan bahwa tidak terlihat adanya pengaruh formula pestisida nabati terhadap penekanan intensitas

Pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis I Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD.. Soetomo dengan

Dari segi bahasa Norma berasal dari bahasa inggris yakni norm. Dalam kamus oxford norm berarti usual or expected way of behaving yaitu norma umum yang berisi bagaimana

Prinsip dari peralatan hidrolik memanfaatkan konsep tekanan, yaitu tekanan yang diberikan pada salah satu silinder akan diteruskan ke silinder yang lain., sesuai dengan hukum

Mikro atoll adalah kejadian umum pada karang yang memiliki pertumbuhan lambat seperti massive Porites dimana bagian atas dari koloni akan mati dan bagian