BAB V SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan:

Teks penuh

(1)

BAB V

SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

1.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan:

1. Regresi pertama adalah regresi linear berganda yang dimana Ha (hipotesis alternatif) diterima. Dapat disimpulkan bahwa identitas ego (komitmen) dan persepsi ketidakpastian secara bersama mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis. Namun, Identitas ego (komitmen) tidak mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis secara independen.

2. Regresi kedua adalah regresi linear sederhana antara identitas ego (komitmen) dan persepsi ketidakpastian. Ha diterima, dan dapat disimpulkan bahwa identitas ego (komitmen) mampu memprediksikan persepsi ketidakpastian.

3. Regresi ketiga adalah regresi linear sederhana antara persepsi ketidakpastian dengan sikap pasien terhadap operasi medis. Ha diterima, dan dapat disimpulkan bahwa persepsi ketidakpastian mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis.

1.2 Diskusi

Penelitian mengenai korelasi prediksi ini telah membuktikan kalau ternyata identitas ego (komitmen) mampu memprediksikan persepsi ketidakpastian dan persepsi ketidakpastian mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis. Menurut Marcia (2011), komitmen dari

(2)

ego identitas diekspresikan dari tindakan dan kepercayaan dan keyakinannya. Semakin tinggi identitas ego (komitmen) seseorang, maka ia sudah memiliki suatu keyakinan yang tertanam dalam dirinya dan menunjukkannya dengan perilaku. Orang yang memiliki suatu keyakinan berarti ia juga peduli akan dirinya dan menggali identitas dirinya lebih dalam.

Hal tersebut juga dapat memprediksi persepsi ketidakpastian pasien terhadap operasi medis. Seseorang yang semakin tinggi memiliki identitas komitmennya maka ia memiliki suatu kepercayaan dan keyakinan akan suatu perilaku tersebut dan karena operasi ini adalah suatu hal yang penting maka keyakinan dan kepercayaannya diperkuat sehingga semakin jelas perilaku operasi dan persepsi ketidakpastian pun makin kecil.

Menurut Snyder, 1987 (dalam Kumru dan Thompon, 2003) identitas ego beruhubungan dengan self-monitoring dan self-awareness. Orang yang self-monitoring nya tinggi, mereka selalu memperhatikan sikap, perilaku, keyakinan, dan persepsinya. Orang yang selalu memonitor dirinya dan peduli akan dirinya (self-awareness) maka semakin jelaslah karakteristik dalam dirinya dan semakin ia mengenal dirinya maka semakin kecil lah persepsi ketidakpastian yang terjadi. Dengan demikian, operasi tidak dianggap sebagai ancaman identitasnya melainkan justru mengutuhkan identitas egonya.

Orang yang memiliki komitmen tinggi pada berbagai bidang dalam kehidupannya, dapat diartikan kalau ia sudah mengenali dirinya sendiri. Dengan menetapkan pilihan dalam hidup, berarti ia aware dan memperhatikan dirinya sehingga ia akan lebih mengetahui dirinya sendiri, karena sudah terbiasa dengan menetapkan pilihan-pilihan hidup. Besarnya pengenalan (self-recognition) dan kesadaran (self-awareness) akan diri yang berarti memiliki identitas ego

(3)

(komitmen) yang tinggi, membuat persepsi terhadap ketidakpastian semakin kecil dan kejelasan akan dirinya semakin besar.

Penelitian Meeus, Iedema et al 2002 (dalam Crocetti, Rubini, Meeus, 2008) yang menunjukkan apabila seseorang sudah berkomitmen pada kehidupannya, maka ia akan mengeksplor dan menggali informasi mengenai pilihannya tersebut. Menurut penelitian ini, komitmen yang menjadi penentu seseorang akan melanjutkan eksplorasinya mengenai komitmen tersebut. Eksplorasi disini berbeda dengan eksplorasi menurut Marcia (1966) yang artinya individu mempertimbangkan berbagai alternatif dalam hidupnya. Dalam penelitian ini, eksplorasi dilakukan pada satu komitmen atau pilihan yang ia sudah tentukan, dan bukannya mengeksplorasi alternatif lain. Penelitian ini juga berbeda dari Erikson (1968) yang mengemukakan bahwa eskplorasi terjadi sebelum individu melakukan komitmen pada pilihannya. Menurut penelitian ini, eksplorasi terjadi terjadi setelah individu berkomitmen pada suatu hal, namun eksplorasi disini hanya untuk komitmen yang ia pilih.

Jika dihubungkan dengan penelitian ini, apabila makin tinggi identitas ego (komitmen) seseorang, maka semakin rendah persepsi ketidakpastian. Hal itu dikarenakan orang yang berkomitmen tinggi maka ia juga akan menggali dan melakukan eksplorasi akan pilihan tersebut. Persepsi ketidakpastian pun merendah karena dilakukan eksplorasi yang berarti menggali informasi mengenai suatu hal dalam kehidupannya yang telah dipilih.

Identitas ego adalah suatu struktur internal diri yang Menurut Mishel (dalam Nai-Ying Ko, 2005), struktur internal diri menjadi penyangga bagi persepsi ketidakpastian. Identitas ego adalah pertumbuhan diri yang luas dan berada di sepanjang rentang kehidupan manusia. Identitas ego menjadi suatu pedoman dasar bagi kompleksitas kehidupan manusia di usia yang akan

(4)

dating. Jika identitas ego kuat, maka stimulus eksternal yang berkaitan dengan diri lebih mudah dicocokkan dengan diri dan menimbulkan kejelasan.

Hasil regresi kedua membenarkan hipotesis alternatif (Ha) yaitu persepsi ketidakpastian mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis. Menurut Mar’at, 1984 (dalam Rahayuningsih, S. U., 2008), ada tiga komponen sikap, yaitu pertama komponen kognitif seperti persepsi, stereotype, dan opini. Dalam penelitian ini, persepsi ketidakpastian yang termasuk dalam komponen kognitif terbukti mampu memprediksikan sikap. Kedua adalah komponen afeksi yaitu emosi dan perasaan seseorang mengenai suatu perilaku. Dan yang terakhir komponen perilaku, yaitu kecenderungan seseorang untuk berperilaku tertentu.

Persepsi ketidakpastian karena adanya konsekuensi-konsekuensi atau risiko yang terjadi pada suatu perilaku, namun ada juga keuntungan dan kebaikan dari perilaku tersebut. Berbagai kemungkinan-kemungkinan tersebut mencetuskan persepsi ketidakpastian pada pasien, karena tidak dapat dipastikan hal apa yang terjadi paska operasi. Semakin ketidakpastian dipersepsikan oleh seseorang, maka semakin negatif sikap mereka, karena mereka harus dihadapkan oleh situasi yang tidak dapat dipastikan. Sedangkan apabila persepsi ketidakpastian seseorang rendah terhadap operasi, di mana perilaku operasi sudah jelas baginya baik itu prosedur, konsekuensi, dan sebagainya, maka semakin positif (meningkat) sikap nya terhadap operasi.

Identitas ego (komitmen) dan persepsi ketidakpastian dibuktikan mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis. Namun tidak bisa ditentukan mana prediktif yang lebih kuat karena secara independent nilai komitmen tidak signifikan. Jadi, identitas ego tidak mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi jika berdiri sendiri.

(5)

Hipotesis tersebut sama seperti yang dikemukakan oleh Mishel (2006), bahwa persepsi ketidakpastian didukung oleh pengetahuan dan kognisi masing-masing individu dalam menyikapi positif atau negatifnya suatu hal. Identitas ego sendiri dibentuk oleh orientasi kognitif yang terdiri dari gaya identitas, gaya informatif, dan gaya normatif. Dengan kata lain dapat diartikan jika identitas ego mendukung persepsi ketidakpastian dalam membentuk suatu sikap positif atau negatif pasien terhadap operasi medis.

Persepsi ketidakpastian didukung oleh kapasitas kognisi, yaitu sejauh mana individu mampu mencerna dan mengelola informasi. Selain itu, persepsi ketidakpastian didukung dengan struktur internal seperti identitas ego. Identitas ego berperan sebagai sejauh mana individu membutuhkan informasi (needs of information). Ketika komitmen seseorang tinggi, maka ia membutuhkan informasi mengenai dirinya dan pilihan yang diambil. Kebutuhan informasi mengenai dirinya mendorong individu untuk mencari informasi sehingga persepsi ketidakpastian berkurang, sehingga sikap terhadap operasi semakin positif.

Dari data yang dihasilkan, terlihat bahwa identitas ego tidak mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis secara independen. Menurut Marcia (2012), identitas ego menjadi predictor bagi sikap individu selanjutnya. Namun disini identitas ego hanya bersifat abstraksi dan tersembunyi. Identitas ego memang menjadi potensi bagi sikap dan perilaku seseorang, tetapi apabila individu mengevaluasi lebih lanjut mengenai berbagai kemungkinan-kemungkinan yang ada. Apabila individu dihadapkan dengan sesautu yang konkret dan spesifik, ia tidak dapat bergantung pada sesuatu yang abstraksi saja, namun harus melewati persepsi-persepsi yang ada untuk selanjutnya dievaluasi lebih lanjut, barulah terbentuk sikap.

(6)

Hasil penelitian ini selanjutnya dapat menjadi bahan analisis jalur guna menentukan apakah persepsi ketidakpastian merupakan variabel mediator bagi hubungan prediktif antara identitas ego (komitmen) dengan sikap pasien terhadap operasi medis.

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Penelitian ini adalah penelitian payung yang dilakukan bersama mahasiswi psikologi bernama Icha Ratna Faza, dimana subjek penelitian yang dilakukan sama dan kuesioner untuk dua penelitian disatukan. Karena kondisi subjek penelitian yang lemah dan tidak memungkinkan untuk menjawab banyak pertanyaan, serta adanya dua penelitian dalam satu kuesioner, maka item-item pada tiap variabel terbatas.

Identitas ego menurut Erikson (1968), terdiri dari dua variabel yaitu krisis (yang juga disebut eksplorasi) dan komitmen. Oleh karena itu, dalam uji validitas dan reliabilitas serta analisa data skala identitas ego terpisah menjadi dua. Cronbach’s Alpha dari skala identitas ego komitmen cukup tinggi yaitu 0,794 dan hanya satu item yang terbuang seteah diuji corrected-item total correlation. Namun semua corrected-item skala identitas ego eksplorasi memiliki nilai corrected-item total correlation <0,25 dan semua item harus dihapus.

Keterbatasan kondisi fisik pasien yang kurang memungkinkan untuk menjawab kuesioner sendiri mengingat mereka sedang menjalani perawatan dan kesibukan mereka karena sedang menunggu antrean dokter di Rumah Sakit, maka mayoritas subjek perlu dibacakan, dan peneliti yang mengisikan jawaban mereka. Dari seluruh kuesioner yang dibacakan, peneliti mendapati banyak sekali pasien yang kurang mengeksplorasi identitas egonya. Mayoritas dari mereka tidak pernah mempertimbangkan agama, hubungan pertemanan, dan politik. Hal itu bisa terlihat dari pernyataan skala identitas ego (eksplorasi) mengenai apakah mereka pernah pernah

(7)

mempertanyakan agama dan ideologi politik mereka, dan mayoritas dari mereka tidak pernah. Mereka hanya mengikuti agama yang mereka anut dari orang tua mereka dan hanya memberi suara politik karena faktor “ikut-ikutan” dan tidak pernah melakukan eksplorasi lebih dalam.

Hal ini juga dikatakan oleh Sarwono (2005, dalam Sawitri, 2009), beliau mengamati gejala yang sama dari tahun ke tahun di Indonesia, yaitu lulusan SMA, tidak tahu akan melanjutkan jurusan apa, hal itu dikarenakan kurangnya eksplorasi. Sementara penelitian Moesono (2001) mengemukakan bahwa ternyata siswa SMA tidak pernah betul-betul tahu apa yang diinginkannya, tidak terbiasa tertantang menggali informasi sampai tuntas, namun hanya bermodal informasi yang hanya 40%, petunjuk orang tua, dan keberanian berisiko. Fakta tersebut menunjukkan kalau mayoritas masyarakat Indonesia kurang mengeksplorasi identitas egonya, maka dari itu skala identitas ego eksplorasi tidak valid dan reliable.

1.3 Saran

6.3.1 Saran Teoritis

1. Saran bagi penelitian selanjutnya agar mencari sampel pasien yang berpenyakit kanker lebih banyak dan seimbang dengan pasien penyakit jantung.

2. Saran bagi penelitian selanjutnya agar membedakan lama sakit untuk tiap-tiap partisipan.

3. Bagi penelitian payung, sebaiknya tidak menyatukan kuesioner jadi satu agar subjek tidak kelelahan dalam menjawab kuesioner juga hasil yang didapat lebih valid dan reliabel.

4. Penelitian ini belum melakukan back-translation. Dalam adaptasi alat ukur, dikenal adanya forward translation dan back translation. Forward translation, seperti yang

(8)

dilakukan oleh penelitian ini, menerjemahkan alat ukur dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dengan expert judgment dosen pembimbing. Back-translation, belum dilakukan oleh penelitian ini, menerjemahkan kembali hasil terjemahan bahasa Indonesia tersebut ke bahasa asing awal oleh penerjemah independen; guna mengetahui kecocokan hasil terjemahan. Apabila ditemukan kesesuaian antara forward dan back translation, maka hasil adaptasi lebih meningkat kualitasnya.

6.3.2 Saran Praktis

1. Diharapkan bagi dokter agar memberikan informasi mengenai risiko dan segala prosedur operasi kepada pasien agar tidak terjadi persepsi ketidakpastian yang menyebabkan sikap pasien menjauhi operasi.

2. Diharapkan bagi masyarakat agar selalu mengontrol dan lebih mengenali diri sendiri agar identitas ego semakin matang untuk pemahaman yang mendalam tentang diri agar dapat menyelesaikan berbagai kompleksitas di kehidupan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :