TINJAUAN PUSTAKA
Tikus Rumah (Rattus rattus diardii) Klasifikasi dan Morfologi
Tikus rumah ( R. rattus diardii ) berdasarkan karakter ciri morfologinya digolongkan ke dalam kelas Mamalia, Ordo Rodentia, Famili Muridae, Subfamili Murinae, Genus Rattus, Spesies Rattus rattus (Suparjan 1994).
Ciri morfologi tikus rumah adalah tekstur rambut agak kasar, bentuk badan silindris, bentuk hidung kerucut, te linga berukuran besar tidak berambut pada bagian dalam dan dapat menutup jika ditekuk ke depan, warna bada n bagian perut dan punggung coklat hitam kelabu, warna ekor coklat hitam, bobot tubuh sekitar antara 60-300 gram, serta ukuran ekor terhadap kepala dan badan bervariasi (lebih pendek, sama, atau panjang) (Priyambodo 2003). Pada tikus betina memiliki puting susu 2 pasang di dada dan 3 pasang di perut (10 buah) (Rochman 1992). Bioekologi
Tikus rumah mempunyai distribusi geografi yang menyebar di seluruh dunia sehingga disebut hewan kosmopolit (Priyambodo 2003). Tikus ini sering dijumpai diperumahan, pasar , dan membuat sarang di loteng, apabila bahan makanan berkurang, tikus ini akan mencari makan di sawah sekitar rumah atau gudang maupun pekarangan sekitar kandang ternak.
Tikus rumah mempunyai kemampuan berkembangbiak dengan cepat dan melahirkan anak sepanj ang tahun tanpa mengenal musim, oleh sebab itu, tikus disebut hewan poliestrus. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh faktor habitat, iklim, dan pakan. Selama mempertahankan kelangsungan hidupnya, tikus rumah memanfaatkan pakan yang mengandung karbohidrat (gula + pati), lemak, protein, mineral, dan vitamin (Meehan 1984).
Sumber pakan tersebut didapatkan dari makanannya yang berupa biji -bijian, sayur-sayuran, kacang -kacangan, umbia -umbian, daging, ikan , dan telur. Dalam sehari tikus biasanya membutuhkan pa kan sebanyak 10% dari bobot tubuhnya jika pakan dalam keadaan kering, namun bila pakan dalam keadaan
basah kebutuhan pakan dapat mencapai 15% dari bobot tubuhnya. Tikus rumah biasanya akan mengenali dan mengambil pakan yang telah tesedia atau yang ditemukan dalam jumlah sedikit, untuk mencicipi atau mengetahui reaksi yang terjadi akibat mengonsumsi pakan yang ditemukan. Apabila tidak terjadi reaksi yang membahayakan, maka tikus akan menghabiskan pakan yang tersedia atau yang ditemukan (Priyambodo 2003) . Selain itu tikus rumah juga memerlukan banyak minuman setiap hari, jika tidak mereka harus makan makanan yang mengandung banyak air.
Kerusakan yang Disebabkan oleh Tikus Rumah
Kehadiran tikus rumah seringkali menimbulkan kerugian pada manusia pada habitat perumahan dan gudang. Menurut Priyambodo ( 2003) kerugian yang ditimbulkan oleh keberadaan tikus pada habitat tersebut dapat dibagi atas beberapa kategori sebagai berikut: (1) k erusakan pada bangunan rumah, kantor , gudang, dan pabrik, (2) berkurangnya simpanan bahan makanan di rumah dan gudang makanan. Kerusakan yang ditimbulkan tikus jauh lebih besar daripada yang dikonsumsinya karena cara makan yang sedikit demi sedikit pada be berapa bagian makanan, (3) kontaminasi pada bahan makanan oleh rambut, feses (kotoran), dan urine (air seni) tikus , (4) terbawanya beberapa patogen seperti
Salmonella sp., dan Leptospira sp., protozoa Entamoeba histolytica, dan Giardia muris dari tikus ke manusia atau hewan peliharaan, dan (5) tikus yang sudah mati
menimbulkan bau yang tidak sedap dan dapat menghambat saluran air.
Selain sebagai hama pada perumahan tikus rumah juga menjadi hama pada pertanian di antaranya adalah kelapa sawit, di Negara Malaysia selain tikus pohon (R. tiomanicus) dan tikus sawah ( R. argentiventer) ditemukan bahwa tikus rumah (R. rattus diardii) juga menjadi hama pada pertanaman kelapa sawit (Wood 1976). Beberapa faktor yang menyebabkan serangan tikus rumah pada kelapa sawit semakin tinggi yaitu: pengendalian tikus pohon yang dapat membuka jalan bagi tikus rumah untuk menyerang kelapa sawit; pengendalian yang dikhususkan untuk tikus pohon tidak ampuh terha dap tikus rumah; dan perkembangbiakan dan penyerbukan pada bunga kelapa sawit oleh kumbang Elaeidobius kamerunicus dapat menjadi makanan (sumber protein) bagi tikus rumah (Wood 1984).
Tikus Pohon (Rattus tiomanicus) Klasifikasi dan Morfologi
Tikus pohon ( R. tiomanicus) digolongkan ke dala m Kelas Mamalia, Ordo Rodentia, Famili Muridae. Ciri khas tikus pohon yang dapat dibedakan dengan tikus lain adalah panjang ekor yang lebih panjang daripada panjang tubuhnya, tubuh bagian dorsal berwarna coklat kekuningan dan bagian ventral berwarna putih kekuningan (krem) (Aplin et al 2003). Tikus ini mempunyai bentuk ekor yang lebih panjang yang dapat mempermudah tikus mencari makanan pada pohon yang tinggi.
Tikus pohon memiliki bentuk rambut agak kasar, bentuk hidung kerucut, bentuk badan silindris serta warna ekor bagian atas dan bawah coklat hitam. Tikus pohon memiliki bobot tubuh 55 –300 gram, panjang kepala dan badan 130 -200 mm. Tikus betina memiliki lima pasang puting susu yaitu dua pasang di dada dan tiga pasang di perut (Rochman 1992).
Bioekologi
Tikus pohon ( R. tiomanicus ) disebut juga tikus rawa atau tikus belukar karena habitatnya pada pohon, rawa , dan belukar. Tikus pohon pada umu mnya ditemukan pada berbagai tanaman seperti kelapa, kelapa sawit, kakao, tebu , dan kakao. Menurut Rochman (1992) p enyebaran tikus pohon terdapat di kepulauan Indonesia bagian Barat, menghuni hutan sekunder, dan kadang -kadang juga di sawah. Tikus ini dilaporkan menjadi hama utama kelapa sawit di Sumatera Selatan. Penyebaran dari tikus pohon dipeng aruhi oleh penyebaran sumber pakan di lingkungannya. Selain itu tikus juga membuat lubang untuk tempat tinggal, memelihara anak, dan sebagai tempat istirahat.
Tikus pohon mempunyai kemampuan fisik yang cukup tinggi, seperti kemampuan dalam meloncat, mema njat, dan berenang dengan baik (Rochman 1990). Kemampuan tikus dalam memanjat didukung oleh adanya tonjolan pada kaki (footpad) yang relati f besar dengan permukaan yang kasar. Footpad masih ditambah oleh cakar yang berguna untuk memperkuat pegangan, serta ekor sebagai alat keseimbangan pada saat memanjat (Priyambodo 2003). Selain itu , tikus pohon mempunyai kemampuan mengerat yang tinggi sebagai aktivitas untuk mengurangi pertumbuhan gigi seri yang tumbuh terus menerus, hal ini dapat
dilihat dengan adanya k eratan pada kelapa, tebu, pohon , dan benda lain yang dikeratnya (Walker 1999).
Kerusakan yang Disebabkan oleh Tikus Pohon
Serangan tikus pohon dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar pada sektor pertanian terutama subsektor perkebunan. Tikus pohon me rupakan hama penting pada subsektor tersebut terutama pada komoditi kelapa, kelapa sawit, tebu, kopi, dan kakao. Pada tanaman kelapa gejala serangan yang disebabkan oleh tikus pohon diantaranya buah kelapa berlubang dekat tampuknya dan terdapat lubang pada sabut dan tempurung sama besarnya (Suhardiono 1993). Kelapa yang terserang dan berlubang sudah tidak bisa dimanfaatkan karena daging buah dan air kelapa sudah terkontaminasi oleh tikus.
Tikus pohon dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar pada tanaman kelapa sawit, baik yang baru ditanam, tanaman yang belum menghasilkan, maupun tanaman yang sudah menghasilkan (Priyambodo 2003). Hama ini mengerat pangkal pelepah sampai titik tumbuh tana man muda, serta mengerat bunga dan buah dari tanaman yang telah menghasilkan. Kehilangan hasil akibat buah yang dimakan sekitar 4,29 -13,6 g/hari dan dap at menghilangkan produksi sekitar 5% pertahun (Wood 1984). Kematian tanaman muda akibat ser angan tikus dapat mencapai 20%, sehingga harus dilakukan penanaman ulang yang memerlukan biaya tambahan untuk bibit dan tenaga kerja, serta menyebabkan tertundanya masa panen (Duryadi dan Thohari 1987).
Pada tanaman kakao, tikus merupakan hama penting, karena seranga nnya sangat merugikan. Buah kakao yang terserang akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri atau cendawan. Serangan tikus dapat dibedakan dengan serangan tupai atau bajing. Tikus menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan biji beserta dagingnya (Hindayana 2002).
Metode Pengendalian Tikus Rumah dan Tikus Pohon
Pengendalian tikus rumah dan tikus pohon telah banyak dikembangkan, hal ini bertujuan untuk mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkan. Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan cara pengendalian kultur teknis, pengendalian ini hanya bisa diaplikasikan untuk tikus yang menghuni habitat
pertanian atau perkebunan; pengendalian sanitasi, dilakukan berupa tindakan mengelola dan memelihara li ngkungan sehingga tidak menari dan tidak sesuai bagi kehidupan dan perkembangbiakan tikus; pengendalian fisik -mekanis, yaitu usaha untuk mengubah lingkungan fisik agar dapat menyebabkan kematian pada tikus; pengendalian biotik dan genetik, pengendalian bio tik dapat menggunakan parasit, patogen, dan predator ; sedangkan pengendalian genetik dapat dilakukan dengan pelepasan individu tikus yang membawa gen perusak dan pelepasan individu steril atau mandul pada populasi tikus untuk menurunkan la ju reproduksi tikus; dan pengendalian kimiawi dengan menggunakan bahan kimia yang dapat mematikan atau mengganggu aktivitas tikus (Priyambodo 2006).
Dalam upaya menekan kerusakan oleh tikus, pengendalian tikus hama secara kimia merupakan alternatif yang paling umum ditemp uh dibandingkan dengan upaya pengendalian lainnya (Sunarjo 1992). Hal ini karena hasilnya relatif dapat segera terlihat dan mudah diaplikasikan untuk areal luas.
Rodentisida merupakan bahan kimia yang digunakan dalam mengendalikan tikus. Jika ditinjau dari cara penggunaannya terdapat dua macam rodentisida yang umum digunakan yaitu fumigasi dan umpan beracun. Fumigasi bersifat racun nafas, bahan yang biasanya banyak di gunakan yaitu belerang oksida, s edangkan rodentisida umpan beracun bersifat racun perut yang berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi dua golongan yaitu racun akut dan racun kronis (antikoagulan) (Prakash 1988).
Racun akut merupakan kelompok rodentisida yang dapat menyebabkan kematian dalam 24 jam atau kurang setelah pemberian pada dosis yang mematikan (Buckle dan Smith 199 6). Racun kronis merupakan kelompok rodentisida yang mengandung senyawa yang dapat menghambat pembe ntukan protrombin, bahan yang di dalam darah bertanggung jawab terha dap pembekuan darah dan merusak pembuluh kapiler sehingga merusak pembuluh darah internal (Sunarjo 1992). Racun akut bekerja lebih cepat dalam membunuh tikus dengan cara merusak sistem sy araf dan melumpuhkannya, s edangkan racun kronis (antikoagulan) bekerj a lebih lambat dengan cara menghambat proses koagulasi atau penggumpalan darah serta memecah pembuluh darah kapiler (Priyambodo 2003)
Bahan aktif pada racun kronis berdasarkan saat produksi terbagi menjadi dua, yaitu generasi I (warfarin, fumarin/ coumafuryl, coumachlor, coumatetralyl,
pival, diphacinone, isovaleryl indanedione, dan chlorophacinone) dan generasi II
(diphenacoum, brodifacoum, bromadiolone, dan floucoumafen) (Priyambodo 2006).
Brodifacoum
(3-(3-(4’-bromobiphenyl-4-yl)-1,2,3,4-tetrahydronaphth-1yl)-4-hydroxycoumarine, C31H23BrO3 merupakan rodentisida antikoagulan generasi II dikenalkan pertama kali di Inggris pada tahun 1977 (Prakash 1988). Konsentrasi penggunaan adalah 0,005% dalam bentuk umpan pelet dan blok. Kematian tikus dapat mencapai 10 0% hanya dengan satu hari pemberian, disebut dengan single dose rodenticide (Priyambodo 2006).
Bromadiolone (3-(3-(4’ bromobiphenyl -4-yl)3-hydroxy-1-phenylpropyl)-4-hydroxycoumarine, C10H23BrO4 ditemukan di Perancis pada pe rtengahan tahun 1970-an, dan sek itar tahun itu mulai dikomersilkan ke berbagai negara. Konsentrasi yang banyak digunakan yaitu 0,005%, yang hanya memerlukan 24 jam untuk dapat membunuh tikus sawah dan lima hari untuk membunuh tikus rumah (Prakash 1988).
Coumatetralyl (3-αtetralyl-4-hydroxycoumarin) C 19H16O3 merupakan bahan aktif generasi I ya ng ditemukan di Jerman beberapa tahun lalu. Formulasi yang digunakan sebesar 0,0375% yang telah dicampur dengan umpan LD 50 a kut oral adalah 16 mg/kg, tikus betina lebih peka terhadap racun ini daripada tikus jantan (Prakash 1988).
Dalam penangulangan tikus diterapkan “Konsep Pengendalian Terpadu” yaitu suatu cara pengendalian populasi dengan memanfaatkan semua komponen pengendalian yang dapat dilakukan secara terpadu unt uk menekan populasi sampai tingkat yang tidak menyebabkan kerugian ekonomis (Priyono 1992).
Umpan Fungsi dan Ciri Umpan
Bahan rodentisida seringkali tidak menarik bagi tikus untuk memakannya, maka diperlukan umpan agar racun dapat dimakan oleh tikus. Umpan yang campurkan pada bahan beracun (rodentisida) harus menarik bagi tikus. Menurut Priyambodo (2003) serealia dengan ukuran 4 -7 mm merupakan bahan umpan
yang terbaik bagi tikus. Ukuran yang lebih besar menyebabkan umpan te rsebut diambil oleh tikus dan disimpan di dalam sarangnya sehingga sulit dievaluas i jumlah umpan yang dikonsumsi, sebaliknya u mpan yang ukuran lebih kecil kurang disukai karena perilaku makan tikus senang memegang pakannya dengan kedua tungkainya. Selain itu umpan juga harus tidak menarik bagi hewan lain yang bukan sasaran, mudah didapat, dan mudah dicampur dengan racun. Umpan Gabah
Gabah merupakan bulir atau buah pada tanaman padi yan g telah dipisahkan dari jeraminya dan akan menjadi beras setelah dipisahkan dari kulitnya. Ditambahkan oleh Hasbullah (2005) gabah merupakan bagian yang terpenting dari tanaman padi. Bila gabah kering dikelupas kulit bijinya diperoleh sekam yang berwarna kuning sampai ungu kotor dengan jumlah sampai 20% dari gabah kering dan isi biji yang disebut dengan beras pecah kulit.
Pada persawahan padi, spesies tikus yang menjadi hama adalah R. argentiventer, R .tiomanicus, R. rattus diardii, R. exulans, B. indica, dan M. caroli. Adapun spesies yang paling dominan adalah tikus sawah (R. argentiventer)
(Priyambodo, 2003). Tikus rumah dan tikus pohon saat ini juga dapat menyerang pertanaman padi di sawah karena ketersediaan pakan di habitatnya semakin berkurang sehingga tikus mencari pakan di daerah sekitar habitatnya (Buckle dan Smith 1996).
Selain menyerang pertanaman di sawah, tikus juga menyerang gabah pada tempat penyimpanan. Serangan tikus dapat menyebabk an berkurangnya simpanan gabah. Kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada yang dikonsumsinya karena cara makan yang sedikit demi sedikit pada bulir gabah. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya, tikus lebih banyak memakan bulir padi dan menyisakan bekas bulir yang tidak dapat digunakan lagi (Nurdono 1990). Umpan Beras
Beras merupakan bahan pangan pokok bagi 90% penduduk Indonesia, dan menyumbang antara 40% sampai 80% kebutuhan protein. Komposisi beras mengandung karbohidrat 81,3% sampai 83,9%, dan protein 1,3% sampai 2,4% (Samad 2003).
Di gudang penyimpanan, beras merupakan media yang sangat baik untuk perkembangan hama tikus dan hama gudang lainnya. Serangan hama pada perumahan dan gudang penyimpanan dapat menurunka n kualitas dan kuantitas beras, karena jumlahnya yang melimpah, sangat m emungkinkan jika beras dapat mengundang kedatangan hama (Nurdono, 1990). Selain itu, beras juga digunakan dalam campuran pada racun tikus kronis dengan memenuhi kriteria umpan campuran pada racun karena menarik bagi tikus (Davis 1970).
Umpan Jagung
Jagung merupakan makanan pokok beberapa daerah seperti di Madura dan Nusa Tenggara. Jagung biasanya menjadi alternatif pangan sumber karbohidrat, sebagai pakan peternakan, dan bahan campuran makanan lainnya. Selain mengandung karbohidrat, jagung juga mengandung protein, lemak, kalsium , dan vitamin (Hasbullah 2005).
Jagung memiliki kandungan karbohidrat (60%) yang lebih kecil dibandingkan bera s dan memilik kandungan protein yang lebih tinggi (8%) (Hasbullah 2005). Meskipun demikian jika pakan tersebut yang terse dia di lapang dalam jumlah besar maka tikus akan meyebabkan kerusakan yang tinggi.