• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah Kepemilikan Persediaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Masalah Kepemilikan Persediaan"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PSAK NO 14

• Aktiva yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan

usaha normal, dalam proses produksi dan atau

perjalanan atau dalam bentuk perlengkapan

bahan atau perlengkapan (supplies) untuk

digunakan

dalam

proses

produksi

atau

pemberian jasa

pemberian jasa

• Donald E Kieso, Jerry J Weygandt dan Terry D

Warfield:

Aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam operasi bisnis

normal atau barang yang akan digunakan atau

dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan

dijual

(3)

Masalah Kepemilikan Persediaan

Barang-barang Dalam Perjalanan (good in

transit)

– Syarat pengiriman barang yang umum

digunakan antara lain :

• Free On Board (FOB) Shipping Point

• Free On Board (FOB) Destination

Barang-barang Yang Dipisahkan (segregate

goods)

Barang-barang Konsinyasi (consignment goods)

(4)

Persediaan Barang Dagangan

• Metode Pencatatan Transaksi persediaan

barang dagangan

• Metode penentuan harga perolehan

persediaan dan harga pokok penjualan

persediaan dan harga pokok penjualan

• Metode penilaian persediaan akhir

(5)

Metode Pencatatan Transaksi

persediaan barang dagangan

• Metode Physical

• Metode Perpetual

(6)

Physical

Utang –piutang dicatat

sebesar nilai bersih

Utang-piutang dicatat

sebesar nilai kotornya:

a. Cara langsung

b. Cara cadangan

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagangan

Utang-piutang dicatat

sebesar nilai bersih

Utang-piutang dicatat

sebesar nilai kotornya:

a.Cara langsung

b.Cara cadangan

(7)

Bila Utang-piutang dicatat sebesar Nilai Bersihnya

TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL

2 April 2008 dibeli barang dagangan Rp.4.500.000 syarat pembayaran 2/10,n/60 Pembelian Rp.4.410.000 Utang usaha Rp.4.410.000 Persed.Brg Dag. Rp.4.410.000 Utg usaha Rp.4.410.000

2 April 2008 dibayar biaya angkut pembelian Rp.250.000

Beban angkut Pembelian Rp.250.000 Kas Rp.250.000

Persed.Brg Dag. Rp.250.000 Kas Rp.250.000

4 April retur pembelian Rp.100.000 Utang usaha Rp.98.000

Retur pembelian Rp.98.000

Utang usaha Rp.98.000 Persed.Brg Dag. Rp.98.000 a) Bila harga faktur pembelian

dibayar dalam masa tunai.

Tgl 12 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008

Utang usaha Rp.4.312.000 Kas Rp.4.312.000

Utang usaha Rp.4.312.000 Kas Rp.4.312.000

b) Bila harga faktur pembelian dibayar lewat masa tunai.

Tgl 22 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008

(D) Utang usaha Rp.4.312.000 (D) Rugi atas pot Pemb.

yg tdk diambil Rp.88.000 (k) Kas Rp.4.400.000

Utang usaha Rp.4.312.000 Rugi atas pot Pemb.yg tdk diambil Rp.88.000

(8)

B. Transaksi Penjualan

TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL

2 April 2008 dijual barang

Dagangan

Rp.4.500.000 syarat 2/10,n/60 Laba kotor 20% dari harga jual

Piutang usaha Rp.4.410.000 Penjualan

Rp.4.410.000

(D)Piutang usaha Rp.4.410.000 (K)Penjualan Rp.4.410.000

(D)Harga pokok penj Rp.3.600.000 (K)Persed.Brg Dag Rp.3.600.000

2 April 2008 dibayar Beban angkut Penj Beban angkut 2 April 2008 dibayar

biaya angkut kirim Rp.250.000

Beban angkut Penj Rp.250.000

Kas Rp.250.000

Beban angkut

penjualan Rp.250.000 Kas Rp.250.000 4 April retur penjualan

Rp.100.000 Retur penjualan Rp.98.000 Piutang usaha Rp.98.000 (D)Retur penjualan Rp.98.000 (K)Piutang usaha Rp.98.000 (D)Persed.Brg Dag. Rp.80.000 (K)Harga pokok penjualan Rp.80.000

(9)

a) Bila harga faktur penjualan dibayar dalam masa tunai. Tgl 12 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 Kas Rp.4.312.000 Piutang usaha Rp.4.312.000 Kas Rp.4.312.000 Piutang usaha Rp.4.312.000 retur tgl 4/4 2008 b) Bila harga faktur

penjualan dibayar lewat masa tunai. Tgl 22 April 2008

diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008

Kas Rp.4.400.000 Laba atas pot Penj yg tdk Diambil

Rp.88.000

Piutang usaha Rp.4.312.000

Kas Rp.4.400.000 Laba atas pot Penj yg tdk diambil

Rp.88.000 Piutang usaha

(10)

2a. Bila Utang-Piutang Dicatat sebesar Nilai Kotor: Cara Langsung

TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL 2 April 2008 dibeli barang

dagangan Rp.4.500.000 syarat pembayaran 2/10,n/60 Pembelian Rp.4.500.000 Utang usaha Rp.4.500.000 Persed.Brg Dag. Rp.4.500.000 Utang usaha Rp.4.500.000

2 April 2008 dibayar biaya angkut pembelian Rp.250.000 Beban angkut pembelian Rp.250.000 Kas Rp.250.000 Persed.Brg Dag. Rp.250.000 Kas Rp.250.000 4 April 2008 retur pembelian

Rp.100.000

Utang usaha Rp.100.000

Retur pembelian Rp.100.000

Utang usaha Rp.100.000 Persed.brg.dag Rp.100.000 Rp.100.000 Retur pembelian Rp.100.000 Persed.brg.dag Rp.100.000 a) Bila harga faktur

pembelian dibayar dalam masa tunai.

Tgl 12 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4/08 Utang usaha Rp.4.400.000 Pot pembelian Rp. 88.000 Kas Rp.4.312.000 Utang usaha Rp.4.400.000 Pot pembelian Rp. 88.000 Kas Rp.4.312.000

b) Bila harga faktur

pembelian dibayar lewat masa tunai

Tgl 22 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl.4/4 Utang usaha Rp.4.400.000 Kas R.4.400.000 Utang usaha Rp.4.400.000 Kas Rp.4.400.000

(11)

Transaksi Penjualan

TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL

2 April 2008 dijual barang dagangan Rp.4.500.000 Syaratpembayaran2/10,n/60 Laba kotor 20% dari harga jual

(D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Penjualan Rp.4.500.000

(D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Penjualan Rp.4.500.000

(D) Harga pokok penjualan Rp.3.600.000 (K) Persed.brg dag Rp.3.600.000 2 April 2008 dibayar biaya

angkut kirim Rp.250.000 (D) Beban ankut Penjualan Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000 (D) Beban ankut Penjualan Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000 4 April 2008 retur penjualan (D) Retur penjualan Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp.100.000 4 April 2008 retur penjualan

Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp.100.000 (K) Piutang usaha Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp.100.000 (K) Piutang usaha Rp.100.000 (D) Persed.brg dag Rp.80.000 (K) Harga pokok penjualan Rp.80.000 a) Bila harga faktur

penjualan dibayar dalam masa tunai.Tgl 12 April 08 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4/08 stelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Pot.penjualan Rp. 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Pot.penjualan Rp. 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000

(12)

b) Bila harga faktur

penjualan dibayar lewat masa tunai

Tgl 22 April 2008

diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah (D) Kas Rp.4.400.000 (K) PiutangusahaRp.4.400.000 (D) Kas Rp.4.400.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008

(13)

2b. Bila Utang-Piutang Dicatat sebesar Nilai Kotor : Cara Cadangan

TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERETUAL 2 April 2008 dibeli barang

dagangan Rp.4.500.000 syarat 2/10,n/60 (D) Pembelian Rp.4.410.000 (D) Cad.pot pemb Rp. 90.000 (K) Utang usaha Rp.4.500.000 (D) Persed.brg dag Rp.4.410.000 (D) Cad.pot pemb Rp. 90.000 (K) Utang usaha Rp.4.500.000 2 April 2008 dibayar biaya

angkut pembelian Rp.250.000

(D) Beban angkut pemb Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000

(D)Persed.brg.dag Rp.250.000 (K)Kas Rp.250.000

4 April retur pembelian Rp.100.000 (D) Utang usaha Rp.100.000 (K) Cad.pot.pemb Rp. 2.000 (K) Retur pemb Rp. 98.000 (D) Utang usaha Rp.100.000 (K) Cad.pot.pemb Rp. 2.000 (K) Persed.brg.dag Rp.98.000 (K) Retur pemb Rp. 98.000 (K) Persed.brg.dag Rp.98.000 a) Bila harga faktur pembelian

dibayar dalam masa tunai Tgl 12 April 2008 dibayar

harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 (D) Utang usaha Rp.4.400.000 (K) Cad.pot pemb Rp. 88.000 (K) Kas Rp.4.312.000 (D) Utang usaha Rp.4.400.000 (K) Cad.pot.pemb Rp. 88.000 (K) Kas Rp.4.312.000

b) Bila harga faktur pembelian dibayar lewat masa tunai Tgl 22 April 2008 dibayar

harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi tgl 4/4 2008 (D) Utang usaha Rp.4.400.000 (K) Kas Rp.4.400.000 (D) Rugi cad.pot. Pemb tdk diambil Rp.88.000 (K) Cad.pot.pemb Rp 88.000 (D) Utang usaha Rp.4.400.000 (K) Kas Rp.4.400.000 (D) Rugi cad.pot.pemb tdk diambil Rp.88.000 Cad.pot.pemb Rp.88.000

(14)

B. Transaksi Penjualan

TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL

2 April 2008 dijual barang dagangan Rp.4.500.000 syarat 2/0,n/60

Laba kotor 20% dari harga jual (D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Cad.pot.penj Rp. 90.000 (K) Penjualan Rp.4.410.000 (D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Cad.pot.penj Rp .90.000 (K) Penjualan Rp.4.410.000 (D) Hg pokok Penj Rp.3.600.000 (K) Persed.brg.dag Rp.3.600.000 2 April 2008 dibayar (D) Beban angkut penjualan Rp.250.000 (D) Beban angkut penj Rp.250.000 2 April 2008 dibayar

biaya angkut kirim Rp.250.000

(D) Beban angkut penjualan Rp.250.000

(K) Kas Rp.250.000

(D) Beban angkut penj Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000

4 April retur penjualan Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp. 98.000 (D) Cad.pot.penj Rp. 2.000 Piutang usaha Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp. 98.000 (D) Cad.pot.penj Rp. 2.000 (K) Piutang usaha Rp.100.000 Persed.brg.dag Rp.80.000

(15)

a) Bila harga faktur penjualan dibayar masa dalam tunai. Tgl 22 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Cad.pot.penj Rp 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Cad.pot.penj Rp. 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 b) Bila harga faktur

penjualan dibayar lewat masa tunai Tgl 22 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 (D) Kas Rp.4.400.000 (K) Piut usaha Rp.4.400.000 (D) Cad.pot.penj Rp.88.000

(K) Laba cad.pot penj yg tdk diambil Rp.88.000 (D) Kas Rp.4.400.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 (D) Cad.pot.penj Rp.88.000

(K) Laba cad.pot penj yg tdk diambil Rp.88.000

(16)

Metode Penentuan Harga

Perolehan Persediaan

• Penentuan harga perolehan persediaan dan

harga

pokok

penjualan

dilakukan

berdasarkan asumsi arus biaya (cash flow

assumption) bukan berdasarkan arus fisik

persediaan.

(17)

metode penentuan harga perolehan persediaan dan harga

pokok penjualan yang dapat diaplikasikan

1.

Metode penentuan harga perolehan pada perusahaan dagang :

a. Metode identifikasi khusus

b. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) c. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP) d. Metode rata-rata

e. Metode harga beli terakhir

f. Metode nilai penjualan relative f. Metode nilai penjualan relative g. Metode harga jual eceran

h. Metode laba kotor

2.

Metode penentuan harga perolehan pada perusahaan manufaktur

a. Metode biaya variable (variable casting) b. Metode biaya penuh (full casting)

c. Metode biaya standar (standard casting)

3.

Penentuan harga perolehan pada perusahaan konstruksi

a. Metode kontrak selesai

(18)

Metode Penentuan Harga Perolehan Persediaan Pada

Perusahaan Dagang

Metode

Identifikasi

Khusus

(Specific

Cost

Identification Method)

Penggunaan

metode

ini

mengharuskan

dilakukannya penandaan (identifikasi) terhadap

setiap barang yang masuk pada kartu identitas

setiap barang yang masuk pada kartu identitas

dan mencantumkan harga pokoknya

Penentuan harga pokok persediaan yang tersisa

dan harga pokok penjualan dapat dilakukan

berdasarkan

catatan-catatan

dalam

kartu

(19)

Metode ini jarang sekali digunakan disebabkan

antara lain :

• Memerlukan banyak pekerjaan tambahan.

• Memerlukan tempat penyimpanan yang lebih

• Memerlukan tempat penyimpanan yang lebih

luas

(20)

Metode Masuk Pertama Keluar

Pertama (MPKP)

• Metode ini dikembangkan berdasarkan

asumsi bahwa barang dagangan yang

pertama dibeli adalah barang dagangan

yang pertama dijual (the first merchandise

yang pertama dijual (the first merchandise

purchased is the first merchandise sold).

(21)

Kelebihan

Menguntungkan rentabilitas perusahaan

Secara umum harga barang selalu naik dari waktu ke waktu.

Laba yang besar parallel dengan perbaikan tingkat rentabilitas

perusahaan.

Menguntungkan likuiditas dan solvabilitas perusahaan

Harga pokok persediaan yang tersisa pada akhir periode

didasarkan pada harga pokok persediaan yang terakhir masuk

sehingga persediaan di neraca dilaporkan dengan nilai yang

tinggi. Tingginya nilai persediaan yang dilaporkan di neraca

mengakibatkan tingginya rasio likuiditas dan rasio solvabilitas

mengakibatkan tingginya rasio likuiditas dan rasio solvabilitas

perusahaan.

Persediaan akhir sesuai dengan harga faktual

Karena dinilai berdasarkan harga perolehan yang terakhir

masuk, maka persediaan akhir yang dilaporkan di neraca lebih

mencerminkan perkembangan harga pasar secara aktual.

Arus pembebanan harga pokok sesuai dengan arus fisik barang

Untuk menghindari kerusakan barang maka umumnya

persediaan yang pertama dibeli adalah persediaan yang

pertama dikeluarkan pada saat terjadi penjualan.

(22)

Kelemahan

Tidak menguntungkan arus kas. Perolehan laba bersih

yang

diperhitungkan

lebih

tinggi

mempunyai

konsekuensi tingginya kewajiban yang harus dipenuhi

oleh perusahaan kepada pemerintah (beban pajak)

dan kewajiban kepada pemegang saham (deviden)

Harga pokok penjualan tidak parallel dengan hasil

penjualan. Hal ini disebabkan karena harga pokok

Harga pokok penjualan tidak parallel dengan hasil

penjualan. Hal ini disebabkan karena harga pokok

penjualan dihitung berdasarkan harga pokok

barang-barang yang pertama ma suk, sehingga harga pokok

penjualan

tidak

mencerminkan

harga

pokok

persediaan pada saat dilakukan penjualan, sehingga

semestinya harga pokok penjualan yang ditentukan

metode ini tidak dapat dipertemukan dengan hasil

penjualannya.

(23)

Metode MPKP secara Physical

Penentuan harga perolehan persediaan menurut

metode ini dilakukan secara berkala pada setiap

akhir periode. Penentuan harga perolehan

persediaan yang tersisa pada akhir periode

dilakukan dengan cara mengalikan kuantitas

dilakukan dengan cara mengalikan kuantitas

yang tersisa dengan harga perolehan

barang-barang yang terakhir dibeli. Harga pokok

penjualan

ditentukan

dengan

cara

mengurangkan harga perolehan dari persediaan

yang tersisa dari harga perolehan persediaan

yang siap dijual.

(24)

Ilustrasi. UD. Kharis Wyeth Supplier adalah perusahaan distributor

untuk suatu produk susu olahan. Berdasarkan catatan fisik

persediaan susu olahan Merk Sugem kemasan kaleng 800 gr

selama periode Desember 2008 diketahui data-data berikut :

Tanggal 1

: Persediaan awal

250 kaleng @ Rp.150.000

3

: Pembelian

300 kaleng @ Rp.155.000

7

: Penjualan

350 kaleng @ Rp.180.000

7

: Penjualan

350 kaleng @ Rp.180.000

15

: Pembelian

200 kaleng @ Rp.157.000

17

: Retur pembelian 20 kaleng atas pembelian tanggal

15 Desember 2008

26

: Penjualan

300 kaleng @ Rp.190.000

27

: Retur penjualan 30 kaleng atas penjualan tanggal

26 Desember 2008

(25)

Dari data-data tersebut maka penentuan harga

perolehan

persediaan

dapat

dilakukan

melalui

perhitungan berikut :

Tgl 1 : Persediaan awal = 250 kaleng @ Rp.150.000

3 : Pembelian = 300 kaleng @ Rp.155.000

7 : Pembelian (200-20) = 180 kaleng @ Rp.157.000

30 : Pembelian = 260 kaleng @ Rp.160.000

Persediaan siap dijual = 990 kaleng

7 : Penjualan 350 kaleng

7 : Penjualan 350 kaleng

26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng

Terjual = 620 kaleng Tersisa = 370 kaleng

Harga perolehan persediaan akhir terdiri dari : 260 kaleng @ Rp.160.000 = Rp.41.600.000 110 kaleng @ Rp.157.000 = Rp.17.270.000 Rp.58.870.000

(26)

Harga pokok penjualan periode Desember

2008 dihitung sebagai berikut :

Tgl 1 : Persediaan awal 250 kaleng @ Rp.150.000 = Rp. 37.500.000

3 : Pembelian 300 kaleng @ Rp.155.000 = Rp. 46.500.000

15 : Pembelian (200-20) 180 kaleng @ Rp.157.000 = Rp. 28.260.000

30 : Pembelian 260 kaleng @ Rp.160.000 = Rp. 41.600.000

Persediaan siap dijual 990 kaleng = Rp.153.860.000

Perseediaan akhir = Rp. 58.870.000

Harga pokok penjualan = Rp.94.990.000

Sedangkan laba kotor periode Des 2008 adalah sbb

:

Tgl 7 : Penjualan 350 kaleng @ Rp. 180.000 = Rp. 63.000.000

26 : Penjualan (300-30) 270 kaleng @ Rp. 190.000 = Rp. 51.300.000

Hasil penjualan periode Desember 2008 = Rp.114.300.000

Harga pokok penjualan = Rp. 94.990.000

(27)

Metode MPKP secara Perpetual

• Untuk tiap-tiap jenis persediaan harus dibuatkan kartu

persediaan sendiri-sendiri. Kartu persediaan ini dapat

difungsikan sebagai buku pembantu persediaan.

• contoh transaksi mutasi persediaan susu olahan merk

Sugem kemasan kaleng 800 gr

(28)

Jenis barang : Susu Sugem 80 gr Suplier utama : PT. Total Wyeth Utama Lokasi barang : Gudang A3 R34 Suplier kedua : PT. Adi Nutrisi

Satuan produk : Kaleng Batas min : 600 kaleng, max : 1.500 kaleng KARTU PERSEDIAAN Periode : Desember 2008

Masik Pertama Keluar Pertama (MPKP) Jumlah dalam ribuan

Tgl Pembelian Penjualan Saldo

Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah

1 250 150.000 37.500 3 300 155.000 46.500 250 150.000 37.500 300 155.000 46.500 7 250 150.000 37.500 100 155.000 15.500 200 155.000 31.000 15 200 157.000 31.400 200 155.000 31.000 200 157.000 31.400 17 (20) 157.000 (3.140) 200 155.000 31.000 180 157.000 28.260 26 200 155.000 31.000 100 157.000 15.700 80 157.000 12.560 27 (30) 157.000 (4.710) 110 157.000 17.270 30 260 160.000 41.600 110 157.000 17.270 260 160.000 41.600 Jumlah Pembelian 116.360 Jumlah HPP 94.990 Persed Akhir 58.870

(29)

Jurnal yang harus dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi

tersebut bila utang-piutang dicatat sebesar nilai kotornya

menurut cara langsung adalah

3/12 Persediaan barang dagangan Rp.46.500.000,00

Utangdagang

Rp.46.500.000,00

7/12 Piutang usaha

Rp.63.000.000,00

Penjualan

Rp.63.000.000,00

Harga pokok penjualan

Rp.53.000.000,00

Harga pokok penjualan

Rp.53.000.000,00

Persediaan barang dagangan

Rp.53.000.000,00

15/12 Persediaan barang dagangan

Rp.31.400.000,00

Utang dagang

Rp.31.400.000,00

17/2 Utang dagang

Rp.3.140.000,00

Persediaan barang dagangan

Rp.3.140.000,00

20 x Rp.157.000,00 = Rp.3.140.000,00

(30)

26/12 Piutang dagang

Rp.57.000.000,00

Penjualan

Rp.57.000.000,00

Harga pokok penjualan

Rp.46.740.000,00

Persediaan barang dagangan

Rp.46.740.000,00

27/12 Retur penjualan

Rp.5.700.000,00

Piutang dagang

Rp.5.700.000,00

Persediaan barang dagangan Rp.4.710.000,00

Harga pokok penjualan

.4.710.000,00

30/12 Persediaan dagangan

Rp.41.600.000,00

(31)

Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)

harga

pokok

penjualan

dinilai

berdasarkan harga pokok persediaan

yang terakhir masuk maka harga

pokok persediaan yang tersisa terdiri

dari harga perolehan persediaan yang

dari harga perolehan persediaan yang

pertama masuk.

(32)

Kelebihan metode ini antara lain :

– Karena harga perolehan barang yang dijual dinilai berdasarkan

harga perolehan persediaan yang terakhir masuk maka harga

perolehan yang diperhitungkan dalam harga pokok penjualan

dapat dipertemukan secara aktual dengan hasil penjualannya.

– Pada saat kondisi sangat fluktuatif, penggunaan metode ini

dapat mengeliminasi pengaruh negatif pada perhitungan

laba-rugi perusahaan yang disebabkan karena adanya fluktuasi

rugi perusahaan yang disebabkan karena adanya fluktuasi

harga. Fluktuasi harga tersebut dapat langsung terserap dalam

harga pokok penjualan.

– Penggunaan metode ini menguntungkan arus kas keluar

perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena metode ini cenderung

mengakibatkan laba bersih perusahaan yang lebih kecil tentunya

mengakibatkan kewajiban perusahaan kepada negara dan

(33)

Kelemahan metode ini antara lain

• Rendahnya tingkat rentabilitas karena metode ini

cenderung menghasilkan laba akutansi yang lebih

kecil dari pada kalau digunakan metode lainnya.

• Rasio likuiditas dan rasio solvabilitas cenderung

lebih rendah dikarenakan persediaan yang

lebih rendah dikarenakan persediaan yang

dilaporkan di neraca cenderung lebih kecil

dibandingkan bila digunakan metode lainnya.

• Rendahnya rasio likuiditas, solvabilitas dan rasio

rentabilitas dapat menimbulkan penilaian yang

kurang menguntungkan dimata investor dan

(34)

Metode MTKP secara physical

Tgl 1: Persediaan awal

= 250 kaleng @ Rp.150.000

3: Pembelian

= 300 kaleng @ Rp.155.000

15: Pembelian (200-20) = 180 kaleng @ Rp.157.000

30: Pembelian

= 260 kaleng @ Rp.160.000

Persediaan siap dijual = 990 kaleng

7: Penjualan

= 350 kaleng

26: Penjualan (300-30)

= 270 kaleng

Terjual = 620 kaleng

Tersisa

= 370 kaleng

Harga perolehan persediaan akhir terdiri dari :

250 kaleng @ Rp.150.000

= Rp.37.500.000

120 kaleng @ Rp.155.000.

= Rp.18.600.000

(35)

• Harga pokok penjualan periode Desember 2008 dihitung sebagai berikut :

Tgl 1: Persediaan awal 250 kaleng @ Rp.150.000 = Rp. 37.500.000

3: Pembelian

300 kaleng @ Rp.155.000 = Rp. 46.500.000

15: Pembelian (200-20)180 kaleng @ Rp.157.000 = Rp. 28.260.000

30: Pembelian

260 kaleng @ Rp.160.000 = Rp. 41.600.000

Persediaan siap dijual 990 kaleng

= Rp.153.860.000

Persediaan akhir

= Rp. 56.100.000

Harga pokok penjualan

= Rp. 97.760.000

(36)

• Sedangkan laba kotor periode Desember 2008 adalah sebagai berikut :

Tgl 7 : Penjualan 350 kaleng @ Rp.180.000

= Rp. 63.000.000

26 : Penjualan (300-30)= 270 kaleng @ Rp.190.000 = Rp. 51.300.000

Hasil penjualan periode Desember 08

= Rp.114.300.000

Harga pokok penjualan

= Rp. 97.760.000

Laba kotor penjualan

= Rp 16.540.000

Laba kotor penjualan

= Rp 16.540.000

• Metode MTKP secara Perpetual

Slide berikut ini adalah kartu persediaan yang dibuat berdasarkan

metode MTKP yang diselenggarakan dengan menggunakan metode

perpetual.

(37)

Jenis barang : Susu Sugem 800 gr Suplier utama : PT. Total Wyeth Utama Lokasi barang : Gudang A3 R34 Suplier kedua : PT. Adi Nutrisi

Satuan produk : Kaleng Batas min : 600 kaleng, max : 1.500 kaleng KARTU PERSEDIAAN Periode : Desember 2008 Masik Terakhir Keluar Pertama (MTKP) Jumlah dalam ribuan

Tgl Pembelian Penjualan Saldo

Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah

1 250 150.000 37.500 3 300 155.000 46.500 250 150.000 37.500 300 155.000 46.500 7 300 155.000 46.500 50 150.000 7.500 200 150.000 30.000 15 200 157.000 31.400 200 150.000 30.000 200 157.000 31.400 17 (20) 157.000 (3.140) 200 150.000 30.000 180 157.000 28.260 26 180 157.000 28.260 120 150.000 18.000 80 150.000 12.000 27 (30) 150.000 (4.500) 110 150.000 16.500 30 260 160.000 41.600 110 150.000 16.560 260 160.000 41.600

(38)

• Sedangkan laba kotor periode Desember 2008 adalah sebagai berikut :

Tgl 7 : Penjualan 350 kaleng @ Rp.180.000

= Rp. 63.000.000

26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng @ Rp.190.000 = Rp. 51.300.000

Hasil penjualan periode Desember 2008

= Rp.114.300.000

Harga pokok penjualan

= Rp. 95.030.000

Laba kotor penjualan

= Rp 19.270.000

• Jurnal yang harus dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi

tersebut bila utang-piutang dicatat sebesar nilai kotornya

menurut cara langsung dapat dilihat pada slide berikut ini

(39)

3/12 Persediaan barang dagangan Rp.46.500.000,00

Utang dagang Rp. 46.500.000,00

7/12 Piutang dagang Rp.63.000.000,00

Penjualan Rp. 63.000.000,00

Harga pokok penjualan Rp.54.000.000,00

Persediaan barang dagangan Rp. 54.000.000,00 15/12 Persediaan barang dagangan Rp.31.400.000,00

Utang dagang Rp. 31.400.000,00

17/2 Utang dagang Rp. 3.140.000,00*)

Selisih persediaan Rp. 140.000,00

Persediaan barang dagangan Rp. 3.000.000,00 *) 20 x Rp.157.000,00 = Rp.3.140.000,00

*) 20 x Rp.157.000,00 = Rp.3.140.000,00

26/12 Piutang dagang Rp.57.000.000,00

Penjualan Rp. 57.000.000,00

Harga pokok penjualan Rp.46.260.000,00

Persediaan barang dagangan Rp. 46.260.000,00 27/12 Retur penjualan Rp.5.700.000,00

Piutang dagang Rp. 5.700.000,00

Persediaan barang dagangan Rp.4.50 0.000,00

Harga pokok penjualan Rp. 4.50 0.000,00 30/12 Persediaan dagangan Rp.41.600.000,00

(40)

Metode MTKP Nilai Uang (Rupiah)

• Metode MTKP juga dapat diselenggarakan perhitungannya

berdasarkan

nilai

uang

disamping

berdasarkan

mutasi

persediaan. Langkah-langkah penggunaan metode ini dalam

penentuan harga perolehan persediaan antara lain :

• Semua

barang

harus

dikelompokan-kelompokan

menurut

jenisnya atau criteria tertentu yang ditetapkan,

• Menentukan

harga

perolehan

persediaan

akhir

periode

berdasarkan harga barang pada saat dilakukan perhitungan

(current price)

(current price)

• Menentukan persentase index harga, yaitu dengan cara

membagi harga sekarang (current price) dengan harga tahun

dasar (base-year price)

• Menentukan nilai persediaan akhir periode berdasarkan harga

tahun dasar, yaitu dengan jalan membagi nilai persediaan pada

akhir periode berdasarkan harga barang saat dilakukan

perhitungan (current price) dengan index harga (2 : 3)

• Menentukan nilai persediaan akhir periode berdasarkan metode

MTKP, yaitu dengan jalan mengalikan nilai persediaan pada

akhir periode berdasarkan harga tahun dasar dengan index

harga (4 x 3).

(41)

PT.Salsa Inti Pangan Tbk adalah distributor Gula di kota

Gresik, manajemen perusahaan menetapkan menggunakan

metode MTKP Nilai Rupiah dalam menentukan harga

perolehan persediaan dan menetapkan harga gula tahun 2004

sebagai harga tahun dasar. Dibawah ini adalah

informasi-informasi yang terkait dengan persediaan barang dagangan

setiap akhir periode mulai tahun 2004 sampai dengan 2008.

Tahun

Persediaan

berdasarkan harga

akhir tahun

Index Harga

2004

Rp.22.550.000

100

2005

Rp.28.450.000

105

2006

Rp.32.300.000

110

2007

Rp.28.200.000

115

2008

Rp.30.440.000

120

(42)

Berdasarkan data-data tersebut diatas maka perhitungan

untuk menentukan harga perolehan persediaan barang

dagangan menurut metode ini adalah :

Persediaan akhir menuut harga tahun dasar

Tahu

n

Persediaan

berdasar harga

akhir tahun

Index

Har

ga

Persediaan berdasar harga

tahun dasar

2004

Rp.22.550.000

100

Rp.22.550.000,00

2005

Rp.28.450.000

105

Rp.27.095.238,00

2006

Rp.32.300.000

110

Rp.29.363.636,00

2007

Rp.28.200.000

115

Rp.24.521.739,00

2008

Rp.30.440.000

120

Rp.25.366.666,67

(43)
(44)

Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.22.550.000 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000

Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2004 adalah sebesar Rp.22.500.000 yang dihitung dengan cara sebagai berikut

Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2005 adalah Persediaan

menurut harga dasar

Lapisan persediaan menurut harga dasar

Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.27.095.238 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000 Rp.4.545.238 105% Rp.4.772.500 Jumlah Rp.27.095.238 Rp.27.322.500

Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2005 adalah sebesar Rp.27.322.500 yang dihitung dengan cara sebagai berikut

(45)

Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.29.363.636 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000

Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Desember 2006

adalah sebesar Rp.29.817.738 yang dihitung dengan cara sebagai berikut :

Rp.4.545.238 105% Rp. 4.772.500

Rp.2.268.398 110% Rp.2.495.238

(46)

Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.24.521.739 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000

Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2007 adalah sebesar Rp.24.620.326 yang dihitung dengan cara sebagai berikut

Rp.1.971.739 105% Rp.2.070.325

110%

(47)

Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.25.366.666 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000

Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2008 adalah sebesar Rp.25.634.237 yang dihitung dengan cara sebagai berikut

Rp.1.971.739 105% Rp.2.070.325

Rp.844.927 120% Rp.1.013.912

(48)

Metode Rata-rata (Average)

• Metode ini dikembangkan untuk memberikan solusi

tengah ekstrimitas metode MPKP dengan metode

MTKP. Pada metode rata-rata, penentuan harga

perolehan persediaan tidak didasarkan pada harga

perolehan persediaan yang pertama masuk atau yang

terakhir masuk melainkan diantara keduanya. Dengan

terakhir masuk melainkan diantara keduanya. Dengan

begitu kelebihan dan kelemahan dari metode MPKP dan

metode MTKP tereliminasi pada posisi rata-rata.

Terdapat 2 (dua) cara perhitungan harga perolehan

persediaan menurut metode rata-rata, yaitu 1) Rata-rata

tertimbang (weighted average), dan 2) Rata-rata

bergerak (moving average).

(49)

Metode Rata-rata (Average)

Harga perolehan rata-rata per unit =

Harga perolehan persediaan siap dijual Harga perolehan rata-rata per unit =

(50)

Ilustrasi, berdasarkan transaksi persediaan tersebut

diatas (lihat pada metode MPKP), maka penentuan

harga perolehan persediaan menurut metode rata-rata

tertimbang adalah

Tgl. 1 : Persediaan awal 250 kaleng @Rp. 150.000 = Rp.37.500.000 3 : Pembelian 300 kaleng @Rp. 155.000 = Rp.46.500.000 15 : Pembelian (200-20) = 180 kaleng @Rp. 157.000 = Rp.10.260.000 30 : Pembelian 260 kaleng @Rp. 160.000 = Rp.41.600.000

pembelian siap dijual 990 kaleng Rp.135.860.000 7 : Penjualan 350 kaleng

26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng 26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng Terjual 620 kaleng Tersisa 370 kaleng

Harga rata-rata tertimbang = Rp. 135.860.000 : 990 = Rp.137.232,32 Harga perolehan persediaan per 31 Desember 2008

= 370 x Rp. 137.232,32 = Rp.50.775.958,40

Persediaan siap dijual = Rp.135.860.000,00

Persediaan akhir = Rp.50.775.958,00

(51)

Laba kotor Des 2008

Tgl. 7: Penjualan 350 kaleng @Rp. 180.000 = Rp. 63.000.000 26: Penjualan (300-30) = 270 kaleng @Rp. 190.000 = Rp. 51.300.000

Hasil penjualan perilode Desember 2008 = Rp.114.300.000

Harga pokok penjualan Rp.85.084.042

(52)

• Metode penentuan harga perolehan persediaan ini

merupakan metode rata-rata yang diselenggarakan

secara perpetual. Setiap terjadi transaksi pembelian atau

masuknya persediaan maka harus dihitung harga

perolehan rata-rata yang baru.

• Harga pokok penjualan merupakan hasil perkalian

• Harga pokok penjualan merupakan hasil perkalian

antara banyaknya persediaan yang dijual dengan harga

perolehan rata-rata pada saat itu.

• Berdasarkan

kasus

tersebut

diatas

maka

kartu

persediaan

yang

dibuat

untuk

penentuan

harga

perolehan persediaan dengan menggunakan metode

rata-rata bergerak seperti nampak dibawah ini :

(53)

Tgl

Pembelian Penjualan Saldo

Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah

1 250 150.000 37.500.000 3 300 155.000 46.500.000 550 152727,27 84.000.000 7 350 152727,27 53.454.695 200 152727,27 30.545.305 15 200 157.000 31.400.000 400 154.863,26 61.945.304 17 (20) 154.863,26 (3.097.265,20) 380 154.863,26 58.848.033,80 26 300 154.863,26 46.458.978 80 154.863,26 12.389.055,80 27 (30) 154.863,26 (4.645.897,80) 110 154.863,26 17.034.953,60 30 260 160.000 41.600.000 370 158.472,85 58.634.953,60 Jml. Pembelian 116.402.728,80 Jumlah HPP 95.267.775,20 Prsdiaan. akhr 58.634.953,60

(54)

Tgl. 7 : Penjualan 350 kaleng @Rp. 180.000 = Rp. 63.000.000,00 26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng @Rp. 190.000 = Rp. 51.300.000,00

Hasil penjualan perilode Desember 2008 = Rp.114.300.000,00

Harga pokok penjualan Rp. 95.267.775,20

(55)

3/12 Persediaan barang dagangan 40.500.000,00

Utang dagang 40.500.000,00 7/12 Piutang dagang 63.000.000,00

Penjualan 63.000.000,00 Harga pokok penjualan 53.454.695,00

Persediaan barang dagangan 53.454.695,00 15/12 Persediaan barang dagangan 31.400.000,00

Utang dagang 31.400.000,00 17/12 Utang dagang 3.140.000,00

Selisih persediaan 42.818,22 Persediaan barang dagangan 3.097.271,20 *) 20 x Rp. 157.000 = Rp. 3.140.000

26/12 Piutang dagang 57.000.000,00

Penjualan 57.000.000,00 Harga pokok penjualan 46.458.978,00

Persediaan barang dagangan 46.458.978,00 27/12 Retur penjualan 5.700.000,00

Piutang dagang 5.700.000,00 Persediaan barang dagangan 4.645.897,80

Harga pokok penjualan 4.645.897,80 30/12 Persediaan barang dagangan 41.600.000,00

(56)

Metode Harga Beli Terakhir

• Metode

penentuan

harga

perolehan

persediaan

ini

merupakan

metode

penentuan harga perolehan yang apriori

terhadap

mutasi

persediaan

dan

perubahan

harga,

penentuan

harga

perolehan

terhadap

persediaan

yang

perolehan

terhadap

persediaan

yang

tersisa dilakukan berdasarkan harga beli

yang terakhir tanpa harus memperhatikan

apakah jumlah barang yang tersisa itu

melebihi jumlah pembelian terakhir atau

tidak.

(57)

• Ilustrasi, dari contoh kasus tersebut diatas, bila penentuan harga

perolehan menggunakan metode harga beli berakhir, maka perhitungan

penentuan harga perolehan tersebut nampak sebagai berikut :

• Tgl.

1: Persediaan awal 250 kaleng @Rp.150.000= Rp.150.000.000

3: Pembelian 300 kaleng @Rp.155.000=Rp. 55..000

15: Pembelian (200-20) =180 kaleng @Rp.157.000=Rp. 10.260.000

30: Pembelian 260 kaleng

@Rp.160.000=Rp. 41.600.000

pembelian siap dijual990 kaleng

Rp.135.860.000

7: Penjualan 350 kaleng

26: Penjualan (300-30) = 270 kaleng

26: Penjualan (300-30) = 270 kaleng

Terjual

620 kaleng

Tersisa

370 kaleng

Harga perolehan persediaan akhir = 370 x Rp. 160.000

= Rp. 59.200.000

(58)

MetodeNilaiPenjualanRelatif

Metode

ini

digunakan

untuk

mengalokasikan

harga

perolehan

bersama (joint cost) kepada harga

perolehan masing-masing persediaan

atau produk yang diperoleh dalam satu

atau produk yang diperoleh dalam satu

harga perolehan.

(59)

Ilustrasi PT. Kharis Jaya Abadi, Tbk adalah perusahaan

importir bawang putih curah dari Tiongkok, selama periode

2008 telah mengimport 100 ton bawang putih dengan

harga 1.250 per Kg, biaya angkut dan ongkos kuli Rp.

1.500.000 dan biaya sortir Rp.1.450.000 setelah disortir

diperoleh bawang putih kualitas A sebanyak 50 ton,

kualitas B sebanyak 30 ton dan kualitas C sebanyak 20

ton. Harga jual bawang putih kualitas A ditetapkan Rp.

2.500 per kg. bawang putih kualitas B Rp. 2.250 per kg dan

bawang putih kualitas C Rp. 1.950 per kg. Untuk bawang

bawang putih kualitas C Rp. 1.950 per kg. Untuk bawang

putih kualitas A telah terjual 40 ton, kualitas B telah terjual

seluruhnya dan kualitas C telah terjual 13 ton. Berdasarkan

data-data tersebut diatas maka perhitungan penentuan

harga perolehan yang terserap dalam persediaan yang

telah terjual dan yang melekat pada persediaan yang

tersisa serta perhitungan laba kotor periode 2008 adalah

sebagai berikut :

(60)

• Hasil penjualan relatif :

• Bawang putih kualitas A = 50 x 1.000 x Rp. 2.500 = Rp.125.000.000 54% • Bawang putih kualitas B = 30 x 1.000 x Rp. 2.250 = Rp. 67.500.000 29% • Bawang putih kualitas C = 20 x 1.000 x Rp. 1.950 = Rp. 39.000.000 17%

• Jumlah hasil penjualan relatif Rp.231.500.000 100%

• Hasil perolehan :

• Bawang putih kualitas A = 54% x 1.250 x 100.000 = Rp. 67.500.000 • Bawang putih kualitas B = 29% x 1.250 x 100.000 = Rp. 36.250.000 • Bawang putih kualitas C = 17% x 1.250 x 100.000 = Rp. 21.250.000

• Jumlah harga perolehan Rp.125.000.000

• Hasil penjualan periode 2008 • Hasil penjualan periode 2008

• Bawang putih kualitas A = 40 x 1.000 x Rp. 2.500 = Rp. 100.000.000 • Bawang putih kualitas B = 30 x 1.000 x Rp. 2.250 = Rp. 67.500.000 • Bawang putih kualitas C = 13 x 1.000 x Rp. 1.950 = Rp. 25.350.000

• Jumlah hasil penjualan Rp. 192.850.000

• Hasil pokok penjualan periode 2008

• Bawang putih kualitas A = (Rp. 67.500.00 : 50.000) x 40.000 = Rp. 54.000.000 • Bawang putih kualitas B = (Rp. 36.250.00 : 30.000) x 30.000 = Rp. 36.250.000 • Bawang putih kualitas C = (Rp. 21.250.00 : 20.000) x 13.000 = Rp. 13.812.500

(61)

• Harga perolehan persediaan per 31 Desember 2008

• Bawang putih kualitas A = (Rp. 67.500.00 – Rp. 54.000.000 = Rp. 13.500.000 • Bawang putih kualitas B = (Rp. 36.250.00 - Rp. 36.250.000= Rp. 0 • Bawang putih kualitas C = (Rp. 21.250.00 - Rp. 13.812.500= Rp. 7.437.500

• Jumlah harga perolehan Rp. 20.937.500

• Laba kotor periode Desember 2008 • Laba kotor periode Desember 2008

• Hasil penjualan periode Desember 2008 = Rp. 192.850.000

• Jumlah harga pokok penjualan = Rp. 104.062.500

(62)

Metode Laba Kotor

• Dalam penggunaan metode penentuan harga perolehan ini

selalu diasumsikan bahwa rasio laba kotor tahun sekarang

adalah sama/sebesar rasio laba kotor th sbl nya/periode

tertentu. Rasio laba kotor tidak lain adalah persentase laba

kotor dari penjualan bersih. Langkah-langkah penentuan

harga perolehan persediaan menurut metode ini adalah :

– Tentukan rasio laba kotor tahun sebelumnya atau rasio

rata-rata laba kotor.

rata-rata laba kotor.

– Tentukan besarnya harga pokok penjualan dengan cara

mengalikan rasio laba kotor dengan penjualan bersih

periode sekarang.

– Tentukan nilai persediaan siap dijual berdasarkan

catatan-catatan dalam akuntansi perusahaan.

– Persediaan

akhir

dapat

ditentukan

dengan

cara

mengurangkan persediaan siap dijual terhadap harga

pokok penjualan.

(63)

• Ilustrasi : Gudang PT. Reksa pada tanggal 15 Mei 2008

terbakar, berdasarkan catatan-catatan dalam akuntansi PT.

Reksa diketahui hal-hal sebagai berikut ;

Persediaan barang dagangan per 31/12/07 Rp. 25.300.000

Penjualan

Rp.325.800.000

Retur penjualan

Rp. 14.500.000

Potongan penjualan

Rp. 20.400.000

Pembelian

Rp.145.000.000

Pembelian

Rp.145.000.000

Biaya angkut pembelian

Rp.12.600.000

Retur pembelian

Rp.22.600.000

Potongan pembelian

Rp.10.900.000

(64)

• Bila rasio laba kotor rata-rata selama lima tahun terakhir sebesar 40%, maka perhitungan untuk menentukan harga perolehan persediaan per tanggal 15 Mei 2008 sesaat sebelum terjadinya musibah kebakaran adalah :

Penjualan Rp.325.800.000

Retur penjualan Rp. 14.500.000

Potongan penjualan Rp. 20.400.000 +

Rp. 34.900.000

-Penjualan bersih Rp.290.900.000

Harga pokok penjualan = 60% x Rp. 290.900.000= Rp.174.540.000

Persediaan barang dagang per 1 Januari Rp. 25.300.000

Persediaan barang dagang per 1 Januari Rp. 25.300.000

Pembelian Rp.145.000.000

Biaya angkut pembelian Rp. 12.600.000 +

Rp.157.600.000

Retur dan pot. Pembelian Rp. 33.500.000

-Pembelian bersih Rp.124.100.000

Persediaan siap dijual Rp.149.400.000

(65)

Metode Harga Jual Eceran

• Perusahaan dagang eceran (retailer) pada

umumnya

mempunyai

persediaan

barang

dagangan yang sangat heterogen baik dari segi

macam barang yang diperdagangkan maupun

harga barang yang bersangkutan, dan dalam

harga barang yang bersangkutan, dan dalam

harga jual eceran masing-masing mungkin

diperhitungkan laba kotor yang berbeda-beda.

Metode penentuan harga perolehan yang lebih

tepat

digunakan

pada

perusahaan

yang

mempunyai

karakteristik

demikian

adalah

metode harga jual eceran.

(66)

Cost ratio

Harga pokok persediaan siap dijual

Jumlah jual eceran persediaan siap dijual

Ilustrasi. Dari catatan dalam kartu persediaan barang dagangan

pada Salsa Outlet. Co untuk periode 2008 diketahui hal-hal berikut :

Harga Pokok

Harga Jual Eceran Persediaan per 1 Januari 2008 Rp. 25.600.000 Rp. 32.750.000 Pembelian bersih Rp. 129.400.000 Rp. 162.800.000

Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000 Rp. 195.550.000 Dari catatan dalam buku besar Salsa Outlet Co diketahui

Penjualan Rp. 178.650.000,00 Retur Rp. 2.750.000,00 Potongan penjualan Rp. 4.860.000,00

(67)

Berdasarkan data – data tersebut diatas perhitungan

penentuan harga perolehan persediaan per 31 Desember

2008 adalah sebagai berikut :

Harga Pokok Harga Jual Eceran

Persediaan per 1 Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembelian bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00

Persediaan siap dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 195.550.000,00

Penjualan Rp. 178.650.000,00 Retur Penjualan Rp. 2.750.000,00 Retur Penjualan Rp. 2.750.000,00 Pot. Penjualan Rp. 4.860.000,00 Rp. 7.610.000,00 Penjualan bersih Rp. 171.040.000,00

Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran

Rp. 24.510.000,00 Cost ratio = ( 155.000.000 / 195.550.000 ) x 100 % = 79.26 %

Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 79,26% x Rp. 24.510.000,00 = 19.426.626,00

(68)

Metode Harga Jual Eceran dalam hal terdapat

tambahan Markup atau Markdown

• Markup merupakan kenaikan harga ( laba kotor

) yang ditambahkan pada harga perolehan

(cost) untuk membentuk harga jual eceran

semula ( original sales price ). Harga jual eceran

semula ini yang digunakan sebagai patokan

semula ini yang digunakan sebagai patokan

apakah terhadap harga jual eceran telah

dilakukan

tambahan

markup

ataupun

(69)

Cost Markup Harga Jual eceran semula

Tambahan Markup (Markup

additional)

Pembatalan Markdown (Markdown concellation)

Pembatalan tambahan markup (Markup

additional concellation) Markdown

(70)

• Penentuan harga perolehan persediaan akhir dengan mengunakan

metode harga eceran dalam hal terdapat tambahan kenaikan harga

atau

penurunan

harga

jual

eceran

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan salah satu dari keempat dasar perhitungan di bawah ini :

• FIFO/MPKP, bila digunakan dasar perhitungan menurut metode FIFO

maka harga perolehan dan harga jual eceran dari persediaan awal tidak

ikut diperhitungkan dalam menentukan besarnya rasio harga perolehan

(cost ratio), sebab perhitungan harga diperoleh persediaan akhir

berdaar FIFO dilakukan pembelian yang dilakukan selama metode

FIFO/MPKP

berdaar FIFO dilakukan pembelian yang dilakukan selama metode

berjalan. Jadi rasio harga perolehan menurut dasar perhitungan FIFO

menujukan hubungan antara harga perolehan dengan harga jual eceran

dari persediaan yang dibeli selama periode berjalan.

Rasio harga perolehan = (FIFO)

Harga perolehan pembelian bersih

Harga jual eceran dari pembelian + net markup – net markdown

Harga perolehan Persediaan Akhir = Rasio harga perolehan x Persed. Akhir menurut harga jual eceran

(71)

Rata – rata /Average,bila rasio harga di peroleh dihitung atas dasar rata – rata, maka besarnya rasio harga perolehan dihitung berdasarkan

perbandingan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dengan

harga jual eceran dari persediaan siap dijual. Jadi rasio harga perolehan yang dihitung secara rata – rata merefleksikan hubungan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dari persediaan barang siap jual, termasuk

persediaan awal. Rata – rata /Average

Rasio harga perolehan (rata-rata)=

Harga perolehan pembelian bersih

Harga jual eceran persediaan siap jual + net markup – net markdown

Harga perolehan Persediaan Akhir = Rasio harga perolehan x Persed. Akhir menurut harga

(72)

Rata – rata /Average,bila rasio harga di peroleh dihitung atas dasar

rata – rata, maka besarnya rasio harga perolehan dihitung

berdasarkan perbandingan antara harga perolehan dengan harga jual

eceran dengan harga jual eceran dari persediaan siap dijual. Jadi

rasio harga perolehan yang dihitung secara rata – rata merefleksikan

hubungan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dari

persediaan barang siap jual, termasuk persediaan awal.

Harga Terendah Antara Harga Perolehan dengan Harga Pasar (LCOM)

Rasio harga perolehan = (LCOM dengan MPKP)

Harga perolehan pembelian bersih

Harga jual eceran pembelian + net markup

Rasio harga perolehan= (LCOM dengan MPKP rata-rata)

Harga perolehan (persediaan awal+pembelian bersih) Harga jual eceran +(persediaan siap jual+pembelian bersih) + net markup

(73)

bila digunakan dasar perhitungan menurut metode LIFO maka harga

perolehan dan harga perolehan dan harga jual eceran dari persediaan

awal tidak ikut diperhitungkan dalam menentukan besarnya rasio harga

diperoleh (cost ratio). Harga perolehan persediaan akhir dihitung

berdasarkan persediaan awal menurut harga perolehannya ditambah

harga perolehan dari selisih antara persediaan awal menurut harga jual

eceran dengan persediaan akhir menurut harga jual eceran.

LIFO/MTKP

Rasio harga perolehan =

Harga perolehan pembelian bersih

Harga jual eceran dari pembelian + net markup – net markdown

Rasio harga perolehan= persediaan akhir

Harga perolehan (persediaan awal+ (rasio harga

perolehan x selisih harga jual eceran (persediaan akhir – persediaan awal))

(74)

Harga Pokok Harga Jual Eceran

Persediaan per 1 Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00

Pembelian bersih Rp. 129. 400.000,00 Rp. 162.800.000,00

Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00

Pembatalan tambahan kenaikan harga (Rp. 8.500.000,00)

Penurunaan harga (Rp. 10.200.000,00)

Dari catatan dalam kartu persediaan barang dagangan pada Salsa Outlet.Co untuk periode 2008 diketahui hal – hal berikut :

Penurunaan harga (Rp. 10.200.000,00)

Pembatalan penurunan harga (Rp. 4.300.000,00)

Pemberian potongan harga (Rp. 1.200.000,00)

Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00

Dari catatan dalam buku besar Salsa Outlet.Co diketahui

Penjulan Rp. 178.650.000,00

Retur penjualan Rp. 2.750.000,00

(75)

• Berdasarkan data – data diatas perhitungan penentuan harga perolehan persediaan akhir periode 2008 adalah :

Bila dihitung atas dasar metode FIFO/MPKP, maka :

Harga Pokok Harga Jual Eceran

Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00

Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00)

Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00

Penurunan harga (10.200.000,00)

Pembatalan penurunan harga 4.300.000,00

Penurunan harga bersih (5.900.000,00)

Penurunan harga bersih (5.900.000,00)

Pototongan harga khusus (1.200.000,00)

Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00

Penjualan 178.650.000,00

Retur dan potongan penjulan Rp. 2.750.000,00 (2.750.000,00)

Penjualan bersih (175.900.000,00)

Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran

26.550.000,00

Cost ratio FIFO =

{129.400.000,00/ (162.800.000,00 + 14.000.000,00 – 5.900.000,00 -1.200.000,00)}x 100% = 72,25%

Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 75,25% x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 19.978.875,00

(76)

Bila dihitung atas dasar metode Rata – rata (Average), maka :

Harga Pokok Harga Jual Eceran

Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00

Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00)

Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00 Penurunan harga (10.200.000,00)

Pembatalan penurunan harga 4.300.000,00 Pembatalan penurunan harga 4.300.000,00

Penurunan harga bersih (5.900.000,00) Pototongan harga khusus (1.200.000,00)

Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00

Penjualan 178.650.000,00

Retur dan potongan penjulan Rp. 2.750.000,00 (2.750.000,00)

Penjualan bersih (175.900.000,00)

Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran 26.550.000,00

Cost ratio Average = (155.000.000,00 / 202.450.000,00) x 100% = 76,56%

Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 76,56% x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 20.326.680,00

(77)

a. bila dihitung atas dasar metode LCOM dengan MPKP, maka :

Harga Pokok Harga Jual Eceran

Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00

Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00)

Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00

Jumlah salain persediaan awal Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00

Penjulan 178.650.000,00

Retur dan potongan penjualan (2.750.000,00) Retur dan potongan penjualan (2.750.000,00) Penjualan bersih 175.900.000,00 Penurunan harga Rp. 10.200.000,00

Pembatalan penurunan harga (Rp. 4.300.000,00) 5.900.000,00 Penurunan harga bersih 1.200.000,00

183.000.000,00

Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran

26.550.000,00

Cost ratio LCOM dengan MKPK = (129.400.000,00 /(162.800.000+ 14.000.000,00) x 100% = 73.19%

Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 73,19 % x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 19.431.945,00

(78)

b. Bila dihitung atas dasar metode LCOM dengan Average, maka

Harga Pokok Harga Jual Eceran

Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00

Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00)

Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00

Jumlah salain persediaan awal Rp. 155.000.000,00 Rp. 209.550.000,00

Penjulan 178.650.000,00

Retur dan potongan penjualan (2.750.000,00) Penjualan bersih 175.900.000,00 Penjualan bersih 175.900.000,00 Penurunan harga Rp. 10.200.000,00

Pembatalan penurunan harga (Rp. 4.300.000,00) 5.900.000,00 Penurunan harga bersih 1.200.000,00

183.000.000,00

Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran

26.550.000,00

Cost ratio LCOM dengan Average = (155.000.000,00/209.550.000,00) x 100 % = 73,97%

Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 73,97 % x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 19.639.035,00

(79)

Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00 Harga Pokok Harga Jual Eceran

Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00

Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00

Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00

Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00)

Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00

Penurunan harga 10.200.000,00)

Pembatalan penurunan harga 4.300.000,00

Penurunan harga bersih (5.900.000,00)

Pototongan harga khusus (1.200.000,00)

Bila dihitung atas dasar metode LIFO/MTKP, maka :

Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00

Penjualan 178.650.000,00

Retur dan potongan penjulan Rp. 2.750.000,00 (2.750.000,00)

Penjualan bersih (175.900.000,00)

(80)

Cost ratio (LIFO) = (129.400.000,00/ (162.800.000,00 + 14.000.000,00 – 5.900.000,00 – 1.200.000,00) x 100% = 75,25%

Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan

per 1 Januari 2008 = Rp. 25.600.000,00

Persediaan akhir menurut harga jual eceran = Rp. 26.550.000,00

Persediaan awal menurut harga jual eceran = Rp. 32.750.000,00 _

Penurunan persediaan menurut harga eceran = Rp. 6.200.000,00

Penurunan persediaan menurut harga eceran = Rp. 6.200.000,00

Rasio harga perolehan = Rp. 75,25%

=(Rp. 4.665.500,00)

(81)

Metode penilaian persediaan

• Dua metode yang umum digunakan:

– Metode harga perolehan

– Metode harga terendah antara harga

perolehan dengan harga pasar

(82)

Metode harga perolehan

• Nilai persediaan yang dilaporkan dalam

laporan keuangan adalah sebesar harga

perolehannya

yang

dihitung

dengan

menggunakan

salah

satu

metode

menggunakan

salah

satu

metode

penentuan harga perolehan persediaan

yang telah dibahas

(83)

Metode harga terendah antara harga

perolehan dengan harga pasar

Batas atas harga pasar Harga pokok pengganti Harga pasar Harga perolehan pengganti Batas bawah harga pasar Nilai persediaan akhir menurut metode LCOM

(84)

Contoh

Jenis barang Batas atas harga pasar Harga pokok pengganti Batas bawah harga pasar Harga pasar Barang A Rp.2.500 Rp.2.600 Rp.2.000 Rp.2.500 Barang B Rp.2.500 Rp.1.900 Rp.2.000 Rp.2.000 Barang C Rp.2.500 Rp.2.200 Rp.2.000 Rp.2.200

(85)

Metode penilaian persediaan dapat

dilakukan dengan 3 cara

• Cara individual

• Cara kolektif

(86)

Contoh

• PT.

Salsa

Tbk

merupakan

perush

distribusi makanan olahan. Pad tanggal

31/12/2008 perusahaan akan melakukan

penilaian

persediaan

dengan

menggunakan metode harga terendah

menggunakan metode harga terendah

antara harga perolehan dengan harga

pasar. Dari penentuan harga perolehan

dan penentuan harga pasar terhadap

persediaan yang tersisa diperoleh data2

sbb

(87)

Jenis barang Haraga perolehan Harga pasar Frozen food

Chiken nugget Rp.3.150.000 Rp.3.000.000

Meat ball kecil Rp.3.400.000 Rp.3.510.000

Meat ball sedang Rp.5.600.000 Rp.5.625.000

Meat ball sedang Rp.5.600.000 Rp.5.625.000

Meat ball besar Rp.6.050.000 Rp.6.200.000

Frozen vegetables

Spinach Rp.3.350.000 Rp.3.277.500

Kool Rp.2.760.000 Rp.2.820.000

(88)

Maka penilaian per 31/12/28 adalah sbb

Jenis barang Harga perolehan

Harga pasar Harga terendah antara harga pasar dengan harga pasar

Frozen foods individual kolektif agregat Chiken nugget Rp.3.150.000 Rp.3.000.000 Rp.3.000.000

Meat ball kecil Rp.3.400.000 Rp.3.510.000 Rp.3.400.000 Meat ball sedang Rp.5.600.000 Rp.5.625.000 Rp.5.600.000 Meat ball besar Rp.6.050.000 Rp.6.200.000 Rp.6.050.000

Rp.18.200.000 Rp.18.335.000 Rp.18.050.000 Rp.18.200.000 Frozen vegetables Spinach Rp.3.350.000 Rp.3.277.500 Rp.3.277.000 Kool Rp.2.760.000 Rp.2.820.000 Rp.2.760.000 Carrot Rp.3.375.000 Rp.3.750.000 Rp.3.375.000 Rp.9.485.000 Rp.9.347.500 Rp.9.347.000 Jumlah Rp27.685.000 Rp.27.682.500 Rp.27.337.500 Rp.27.547.000 Rp.27.682.500

(89)

Perlakuan akuntansi terhadap

penurunan nilai persediaan

• Dilakukan dengan metode pencatatan

transaksi

persediaan

yang

telah

digunakan perusahaan

digunakan perusahaan

• Kerugian atas penurunan nilai persediaan

jika dipisahkan dari HPP harus dibuatkan

rek tersendiri

(90)

Ada 3 Prosedur Yang dapat digunakan untuk

mencatat aturan harga pokok atau nilai realisasi

bersih yang lebih rendah

• Metode

pengurangan

persediaan

langsung

dimana kerugian penurunan harga persediaan

tidak dilaporkan tersendiri

• Metode

pengurangan

persediaan

langsung

• Metode

pengurangan

persediaan

langsung

dimana

hanya

kerugian

penurunan

harga

persediaan akhir yang dilaporkan tersendiri

• Metode cadangan persediaan dimana kerugian

penurunan harga persediaan awal dan akhir

dilaporkan tersendiri

(91)

Tgl Harga pokok Hg pokok atau nilai realisasi bersih yg lebih rendah

Selisih/Rugi

1/1/05 Rp.300.000 Rp.300.000

-31/12/05 320.000 280.000 Rp.40.000

(92)

Metode FISIK

Tahun 2005

HPP

Rp.300rb

Persediaan barang Rp.300 rb

(menutup persediaan awal)

Persediaan barang Rp.280rb

HPP

Rp. 280rb

(mencat persed akhir dengan jumlah harga pokok atau nilai realisasi

yang lebih rendah

yang lebih rendah

Tahun 2006

HPP Rp.280rb

Persediaan barang

Rp.280rb

(menutup persediaan awal)

Persediaan barang Rp. 224rb

HPP

Rp. 224rb

(Mencat persediaan akhir dg jml hg pokok atau nilai realisasi yg lbh

rendah

(93)

Metode Buku

Tahun 2005

HPP

Rp.40rb

Persediaan barang Rp.40 rb

(mengurangi nilai persed akhir menjadi jumlah hg pokok atau nilai

realisasi bersih yg lbh rendah)

Tahun 2006

HPP

Rp.16rb

HPP

Rp.16rb

Persediaan barang

Rp.16rb

(mengurangi nilai persed akhir menjadi jumlah hg pokok atau nilai

realisasi bersih yg lbh rendah)

(94)

Contoh dengan metode fisik

• Di neraca 31/12/2008

Nama perkiraan

Debet

Kredit

Persediaan per 1 Jan 08

Rp.22.700.000

Pembelian

Rp.87.000.000

• Persediaan barang dag menurut perhit metode MPKP

physical

Rp.18.000.000

sedang

berdasar

LCOM

Rp.16.500.000

(95)

Kerugian penurunan nilai

persediaan dicart secara tidak terpisah dari hg pokok penj

Kerugian penurunan nilai persediaan dicat sec terpisah dari hg pokok penj

Cara langsung Cara tdk lgs (D) Hg pokok penj Rp22.700.000 (K) Persed brg dag Rp.22.700.000 (D) Hg pokok penj Rp22.700.000 (K) Persed brg dag Rp.22.700.000 (D) Hg pokok penj Rp22.700.000 (K) Persed brg dag Rp.22.700.000 (D) Hg pokok penjualan Rp.87jt (K) Pembelian Rp.87jt (D) Hg pokok penjualan Rp.87jt (K) Pembelian Rp.87jt (D) Hg pokok penjualan Rp.87jt (K) Pembelian Rp.87jt (D) Return&pot Pemb Rp.2.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.2.500.000

(D) Return pot Pemb Rp.2.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.2.500.000

(D) Return pot Pemb Rp.2.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.2.500.000 (D) Persedi brg dag Rp.16.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.16.500.000 (D) Persed brg dag Rp.16.500.000 (D) Rugi penurunan nilai persed Rp. 1.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.18.000.000 (D) Persed brg dag Rp.16.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.16.500.000 (D) Rugi penurunan nilai persed Rp.1.500.000 (K) Cad penurunan nilai persed Rp.1.500.000

(96)

Nama perkiraan Debet Kredit

Persediaan per 1 Jan 08 Rp.22.700.000

Pembelian Rp.87.000.000

• Persediaan barang dagangan per 31 Desember 2008 menurut kartu

• Persediaan barang dagangan per 31 Desember 2008 menurut kartu

persediaan

periode

Desember

dengan

metode

MPKP

Rp.18.000.000 sedangkan berdasarkan penilaian yang dilakukan

dengan menggunakan metode harga yang terendah antara harga

perolehan dengan harga pasarnya ditetapkan nilai persediaan per

31 Desember sebesar Rp.16.500.000

(97)

Kerugian penurunan nilai

persediaan dicart secara tidak terpisah dari hg pokok penj

Kerugian penurunan nilai persediaan dicat sec terpisah dari hg pokok penj

Cara langsung Cara tdk lgs (D) Hg pokok penj Rp1.500.000 (K) Persed brg dag Rp1.500.000 (D) Rugi penurunan Nilai persd Rp1.500.000 (K) Persed brg dag Rp1.500.000 (D) Rugi penurunan Nilai persd Rp1.500.000 (K) Cad penurunan

(K) Persed brg dag Rp1.500.000 (K) Cad penurunan

(98)

Gambar

Ilustrasi PT. Kharis Jaya Abadi, Tbk adalah perusahaan importir bawang putih curah dari Tiongkok, selama periode 2008 telah mengimport 100 ton bawang putih dengan harga 1.250 per Kg, biaya angkut dan ongkos kuli Rp.

Referensi

Dokumen terkait

Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya atau lebih dikenali sebagai “Masjid Besi” merupakan masjid utama di Malaysia yang dipertanggungjawabkan pengurusannya kepada

Instruksi Menteri Dalam Negeri RI Nomor 385-356 Tahun 1988 tentang Pelaksanaan Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri RI tentang Pola Tarip

teridentifikasi setidaknya 2 (dua) persoalan pokok bagi alih status UKK Imigrasi Brebes menjadi Kantor Imigrasi Kelas III, yakni: pertama, berhubungan dengan

Jadi yang dimaksud penulis dengan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di PAUD TPQ Al- I‟tikaf Tambakan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas Tahun

Sebagaimana terlihat dalam gambar di bawah, berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan KPPPA dan BPS (2016), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Banyumas pada

Rencana Kerja (RENJA) ini disusun sebagai pedoman bagi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Pagar Alam dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang bersifat strategis

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pelaksanaan pembelajaran Baca Tulis Al Qur’an (BTQ) di MTs N Klaten tahun pelajaran 2016/2017 dideskripsikan sebagai berikut:

Berdasarkan hasil tindakan dan data yang diperoleh dari tes hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi peningkatan hasil