BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi virus dengue maupun demam berdarah dengue (DBD) merupakan

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi virus dengue maupun demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan global. Dalam tiga dekade terakhir terjadi peningkatan angka kejadian penyakit di berbagai negara dan menimbulkan kematian sekitar kurang dari 1%. Diperkirakan setiap tahun sekitar 50 juta orang terinfeksi virus dengue dimana 500.000 di antaranya memerlukan rawat inap, dengan proporsi terbesar (90%) adalah pasien anak berusia kurang dari 5 tahun, dan 2,5% diantaranya meninggal (WHO, 2011). Pada tahun 2013 WHO memperkirakan ada 50-100 juta kasus infeksi dengue per tahun, namun estimasi lain memperkirakan terdapat 390 juta kasus per tahunnya (Bhatt et al., 2013). Indonesia merupakan daerah endemis infeksi dengue dengan sebaran meliputi seluruh wilayahnya. Puncak kejadian kasus terjadi secara periodik dari waktu ke waktu. Data menunjukkan puncak kasus dalam 10 tahun terakhir terjadi pada tahun 2010, dengan jumlah kasus DBD dilaporkan sebanyak 156.086 (Ditjen PP&PL Kemenkes RI, 2015).

Angka kematian DBD di Indonesia menurun dengan stabil dari 41% pada tahun 1968 menjadi kurang dari 2% sejak tahun 2000, menurun menjadi 1,21 % pada tahun 2004 dan 0,86% pada tahun 2008(Raihan et al., 2010). Pada tahun 2013, dilaporkan sebanyak 112.511 kasus DBD dengan jumlah kematian 871 orang (angka kesakitan, incidence rate (IR) 45,85 per 100.000 penduduk dan angka kematian (CFR) 0,77%). Pada tahun 2013 di Daerah Istimewa Yogyakarta

(2)

sendiri terdapat 96 kasus per 100.000 penduduk dengan CFR 0,48%. Pada tahun 2014 terdapat 99.499 penderita DBD dengan angka kematian 905 (CFR 0,91%). (Ditjen PP & PL Kemenkes RI, 2015). Penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. Sardjito selama periode Januari 2006-Juli 2012 menunjukkan terdapat 221 kasus

dengue shock syndrome (DSS) yang masuk ke rumah sakit, dengan angka

kematian 27%. Sebanyak 96 subyek yang diikutkan penelitian dan 33 (34%) subyek diantaranya meninggal (Pangaribuan et al., 2014).

Beberapa pasien dengan infeksi dengue dapat mengalami manifestasi yang tidak lazim berupa ensefalopati-ensefalitis dengue, perdarahan masif, infeksi ganda (dual infection), kelainan ginjal dan miokarditis. Di daerah endemis terdapat laporan infeksi dengue terjadi bersamaan dengan infeksi lain seperti diare akut, pneumonia, campak, cacar air, demam tifoid, infeksi saluran kemih, leptospirosis, dan malaria. Data prevelansi dual infection masih jarang dilaporkan. Sumber infeksi dari kasus dengan dual infection dapat terjadi sebelum masuk rumah sakit atau pada saat pasien dirawat di rumah sakit (health

care associated infection) misalnya, trombloflebitis, pneumonia, infeksi saluran

kemih dan sepsis (Ditjen PP&PL Kemenkes RI, 2015).

Kejadian infeksi dengue yang disertai bakteremia masih jarang dilaporkan (Iskandar et al., 2010). Syok yang sering terjadi pada DBD dapat menyebabkan iskemia usus dan menyebabkan translokasi bakteri dari lumen usus ke sirkulasi darah. Kondisi syok dengan perdarahan gastrointestinal akan menyebabkan barrier mukosa usus rusak dan memudahkan terjadinya translokasi bakteri yang

(3)

memperburuk luaran dan meningkatkan kematian. Patofisiologi terjadinya dual

infection dikarenakan infeksi virus dengue merusak lapisan mukosa usus,

sehingga menjadi pintu masuk untuk flora normal di usus menjadi patogen kemudian invasi ke peradaran darah (Chai et al., 2007). Penelitian lain oleh Hadinegoro membuktikan bahwa endotoksin berhubungan erat dengan syok pada DBD. Endotoksin ini akan mengaktivasi sitokin terutama TNF-alfa dan IL-1. Endotoksemia terjadi pada 75% DSS dan 50% DBD (Hadinegoro et al., 2014). Beberapa literatur menyebutkan keterlibatan bakteri Gram negatif jenis

Enterobacteriacaea, dengan hanya satu kasus dilaporkan koinfeksi dengan S. Aureus(Iskandar et al., 2010).

Enterococcus faecalis adalah merupakan anggota microbiota normal pada

usus manusia. Spesies Entercoccus juga sering menyebabkan infeksi nosokomial dengan mortalitas tinggi (Murray, 2000; Donskey, 2004; Fisher dan Phillips, 2009). Akhir-akhir ini, saluran pencernaan diketahui sebagai tempat asal bakteri yang dapat mengakibatkan penyakit serius, termasuk sepsis (Sader et al., 2006). Karena itu, microbiota usus normal merupakan sumber yang signifikan dari bakteri yang berpotensi untuk translokasi ke aliran pembuluh darah dan menyebabkan kematian karena sepsis (Sader et al., 2006). Terdapat satu laporan kasus pasien dengan demam dengue klasik, yang kemudian berkembang menjadi syok sepsis fatal disebabkan oleh Staphylococcus aureus (Araujo et al., 2010). Suatu penelitian lain oleh Lee et al. (2005) menjelaskan bahwa diantara 774 pasien dengan DHF/ DSS sekitar 5,5% pasien juga mengalami bakteremia.

(4)

Terjadinya kematian pada DBD terutama disebabkan karena syok atau yang lebih dikenal sebagai DSS adalah akibat kebocoran plasma dari intravaskuler ke dalam ruang interstitial yang masif (WHO, 2011), namun penelitian terbaru melaporkan bahwa kelainan jantung dapat berkontribusi terhadap keadaan syok tersebut (Gupta et al., 2010). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor prognosis kematian pada DSS. Suatu penelitian di India yang menyebutkan bahwa syok refrakter berat, DIC (disseminated intravascular

coagulation), ARDS (acute respiratory distress syndrome), gagal hati dan

manifestasi neurologi merupakan penyebab kematian pada DSS(Raihan et al., 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Pangaribuan et al pada tahun 2014 di RSUP Dr. Sardjito menyimpulkan bahwa manajemen cairan sebelum masuk RS yang tidak adekuat, perdarahan mayor dan prolonged shock merupakan faktor prognosis independen kematian pada anak dengan DSS.

Data penelitian mengenai infeksi dengue yang disertai sepsis bakterial tidak banyak dilaporkan. Pada tahun 2008 di India ditemukan dari 114 kasus infeksi dengue, 3 diantaranya juga bersamaan dengan sepsis bakteri yang dikonfirmasi dari kultur darah positif yaitu dua positif Staphylococcus aureus dan satu positif

Salmonella typhi/ paratyphi A, grup B (Arya et al., 2008). Penelitian lain di

Taiwan menyebutkan bahwa saat terjadi outbreak terdapat 5.000 kasus infeksi dengue simptomatis dan hanya 7 kasus dengan bakteremia yang saat itu dirawat di Rumah Sakit Chang Gung Memorial (Lee et al., 2005). Namun data yang pasti baik di dunia maupun di Indonesia mengenai angka kematian dan faktor

(5)

jarang dilaporkan. Perumusan masalah dalam penelitian ini mengenai faktor prognostis kematian DSS yang disertai sepsis bakterial pada anak.

B. Pertanyaan penelitian

1. Berapa angka kematian DSS yang disertai dengan sepsis bakterial di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr Sardjito?

2. Faktor prognostik apa saja yang mempengaruhi kematian pasien DSS yang disertai sepsis bakterial ?

3. Bagaimana pola kuman pasien DSS yang disertai sepsis bakterial ? C. Tujuan penelitian

1. Untuk mengetahui angka kematian DSS yang disertai dengan sepsis bakterial di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito.

2. Untuk mengetahui faktor prognostik kematian pasien DSS yang disertai sepsis bakterial.

3. Untuk mengetahui pola kuman pasien DSS yang disertai sepsis bakterial. D. Keaslian penelitian

Didapatkan 1 penelitian yang menilai faktor prognostik kematian pada DSS. Tabel 1. Penelitian tentang faktor prognostik yang mempengaruhi kematian pada DSS dengan sepsis bakterial.

Peneliti Desain Penelitian Sampel Hasil Lee et al. (2005) Retrospektif 93 pasien DHF/ DSS 7 pasien dual infection

Pasien dengan dual infection lebih tua, demam lebih lama, frekuensi gagal ginjal lebih tinggi, perdarahan saluran cerna, dan mortalitas lebih tinggi dibanding pasien degnan DHF/ DSS saja.

(6)

E. Manfaat penelitian Bagi Rumah sakit

1. Sebagai dasar untuk membuat kebijakan untuk menurunkan angka kematian pada DSS yang disertai sepsis bakterial pada anak.

2. Mengetahui pola kuman pasien pada DSS dengan sepsis bakterial yang dirawat di bangsal anak RSUP Dr. Sardjito untuk menentukan kebijakan penggunaan antibiotik yang rasional berdasar hasil pola kuman tersebut.

Bagi Pengembangan Ilmu pengetahuan

1. Sebagai data untuk mengetahui faktor prognostis kematian pada DSS dengan sepsis bakterial pada anak .

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan DSS yang disertai sepsis bakterial pada anak.

Bagi Masyarakat Umum

1. Mendapatkan penanganan secara dini sehingga dapat menurunkan angka kematian pada DSS dengan sepsis bakterial pada anak.

2. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan upaya tindakan pencegahan dan intervensi terhadap faktor prognosis yang mempengaruhi kematian pada pasien DSS yang disertai sepsis bakterial pada anak di RSUP Dr. Sardjito.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :