• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Studi Agama dan Budaya Manarut Qur'an

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan " Jurnal Studi Agama dan Budaya Manarut Qur'an "

Copied!
173
0
0

Teks penuh

Manarut Qur'an 

DEWAN REDAKSI:  Pengarah: Rektor UNSIQ Wonosobo

Penanggung Jawab: Kepala LP3MPB UNSIQ

Pemimpin Redaksi: Dr. Nurul Mubin, M.S.I

Sekretaris Redaksi: Soffan Rizqi, Alh, S.Pd.I.

Redaktur Ahli:

Dr. H. Zamakhsyari Dhofier, MA Drs. KH. Muchotob Hamzah, MM Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud, M.A

Drs. Zainal Sukawi, MA Dr. Phil. Sahiron Syamsudin, MA

Drs. Abdul Kholiq, MA Drs. Akhsin Wijaya, Alh. M.Ag.

Drs. Arifin Shidiq, M.Pd.I Drs. Samsul Munir Amin, MA

Dr. H. Asyhar Kholil, MA Perwajahan:

Agung Istiadi Editing:

Hidayatus Sibyan, S.Kom. Distributor: Adi Suwondo, M.Kom.

Hafin Hafiyati, S.S. Penerbit:

Pusat Penelitian, Penerbitan & Pengabdian Masyarakat (P3M) Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo

Jl. Raya Kalibeber Km. 03 Mojotengah, Wonosobo, Jawa Tengah Telp. (0286) 321873, Fax. (0286) 324160

Pengantar Redaksi 

Pendidikan dalam islam bisa diartikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Nilai-nilai islam yang kmenyeluruh ini harus tercover juga dalam pendidikan islam sehingga pribadi yang terbentuk dalam pendidikan islam ini akan kaffah.

Pada “Manarul qur’an “edisi ini sejumlah artikel menarik tentang dunia pendidikan disajikan diantaranya adalah artikel strategi pengembangan potensi intelektual muslim yang ditulis oleh Asep Sunarko, kemudian tulisan Chairani Astina membahas tentang Ketimpangan Gender Dalam Pendidikan dalam artiket tersebut dibahas secara detail ketimpangan-ketimpangan gender yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia, selanjutnya artikel tentang ilmu munasabah  sebagai pendekatan dalam pendidikan islam, penulis artikel ini Hendri Purbo Waseso berharap adanya keilmuan di rumpun kajian Kealqur’aan mampu terefleksikan di dunia pendidikan sehingga nilai I’jaznya akan semakin terbukti, kemudian H.M. Abdul Kholiq menulis artikel tentang Peran Perguruan Tinggi dan Pemberantasan Korupsi. Penulis berupaya menyampaikan bahwa perguruan tinggi mempunyai peran yang sangat vital dalam pemberantasan korupsi, dilanjutkan dengan artikel yang berjudul konsep manusia dalam al-qur’an Oleh Muhamad Ali Mustofa Kamal kemudian artikel yang ditulis oleh Muhtar Sofwan Hidayat yang berjudul nilai-nilai pendidikan multikultural di dalam al-Qur’an, kemudian Maryono menulis artikel tentang Kyai Sebagai Pemimpin Pembelajaran dilanjutkan dengan artikel yang berjudul Peran manajemen terhadap mutu pendidikan Di sekolah/madrasaholeh Nur Farida dan yang terakhir adalah artikel berjudul model Pengelolaan kerukunan umat beragama berbasis kearifan lokal di kabupaten Wonosobo oleh H. Zaenal Sukawi

edisi ini akan turut serta mewarnai dan meramaikan belantaran pemikiran dan kajian keislaman di Indonesia.

Daftar Isi 

STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI INTELEKTUAL MUSLIM

Asep Sunarko

KETIMPANGAN GENDER DALAM PENDIDIKAN Chairani Astina

ILMU MUNASABAH SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Hendri Purbo Waseso

PERAN PERGURUAN TINGGI DAN PEMBERANTASAN KORUPSI H.M. Abdul Kholiq

KYAI SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

(Studi Kasus di Pesantren Ulumul Qur’an Kalibeber Wonosobo) Maryono

KONSEP MANUSIA DALAM AL-QUR’AN Muhamad Ali Mustofa Kamal

NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI DALAM AL-QUR’AN

Muhtar Sofwan Hidayat

PERAN MANAJEMEN TERHADAP MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH/MADRASAH

Nur Farida

MODEL PENGELOLAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KABUPATEN WONOSOBO

H. Zaenal Sukawi 

STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI INTELEKTUAL MUSLIM 

Asep Sunarko 

Dosen UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo

Abstrak

Pada masa keemasan Islam banyak bermunculan intelektual muslim dalam berbagai disiplin pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun non-agama (pengetahuan umum). Tidak hanya menyangkut permasalahan fiqih dan teologi, tetapi juga dalam bidang filsafat, matematika, astronomi, kedokteran dan lain sebagainya. Kaum intelektual ini adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya. Meskipun secara kuantitas mereka bisa dikatakan sangat sedikit, akan tetapi secara kualitas tentunya mereka di atas rata-rata orang awam karena mereka memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan.

Diakui atau tidak, sebenarnya kaum intelektual merupakan bagian dari masyarakat dan bukan kelas tersendiri, tetapi memiliki keterkaitan sosial di mana kegiatan yang diberi kategori intelektual mendapat tempat dalam hubungan pada umumnya. Kaum intelektual tidak ditempatkan sebagai kelas tersendiri, tetapi berlaku bagi siapa saja yang melakukan perjuangan menegakkan kebenaran guna mewujudkan keadilan, kebebasan, dan kemajuan masyarakatnya. Jadi kaum intelektual bukanlah kaum elit yang harus memisahkan diri dari masyarakat di mana ia lahir atau tinggal, akan tetapi ia harus berpijak dan bergaul dengan masyarakat tersebut serta membawa mereka menuju kemerdekaan. Merdeka dari belenggu kebodohan, pasungan ketertinggalan dan kemerdekaan dari kemiskinan. pengabdian serta komitmen yang jelas dalam membangun peradaban umat dan bangsanya.

Dari situlah pengembangan intelektual muslim harus dibumikan kembali sehingga umat islam menjadi Rohmatan Lil Alamin.

Kata Kunci : Strategi, Intelektual Muslim

Abstract

In the islamic golden age many springing intellectual muslim in various discipline knowledge, in the area of religion and non-agama ( knowledge public.Does not only relate to problems fiqih and theology, but also in philosophy, math astronomy, medicine and others.The intellectual are a people put of reason ( consideration intelligence as a skill first precedence; who see the destination the end of human effort in understanding the truth with penalarannya.Although in their quantity it can be said very few, and yet in the quality of it is sure above average a layman because they have a science and knowledge.

Recognized or no, actually the intellectual forms part of the society and not a class of its own, but has links social in which activities who were given category intellectual take the place of ties in general.The intellectual not placed as a class separate but valid for who had struggle cause the truth to bring justice freedom, and progress of its people.Were a people intellectual is not the elite who have to separate myself from society in which he was born or stay, will but he had to stand and they blend with the community the location and bring them toward independence.Merdeka from shackles stupidity the lack of the stocks and independence from poverty. Devotion as well as the commitment that clearly in develop civilization nation and his people.

Out of it development intellectual muslim have to dibumikan back so that the you are Rohmatan Lil Alamin. 

A. Latar Belakang Masalah

Tatkala Allah SWT akan menjadikan manusia pertama yaitu Nabi Adam sebagai khalifah dibumi maka para malaikat berkata: Apakah Engkau menjadikan mahluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah sebagai khalifah di bumi? Allah tentunya lebih mengetahui dari apa yang diduga oleh malaikat, Dia pada akhirnya membekali Nabi Adam dengan Ilmu dan memerintahkan malaikat untuk

bersujud kepada-Nya.

Dari hal tersebut kita dapat memahami dua hal, pertama, bahwa bekal yang paling utama untuk mengatur dan mengelola bumi ini adalah Ilmu, kedua orang yang memiliki ilmu memiliki derajat yang lebih tinggi, hal ini sesuai dengan firman Allah di ayat yang lain yang menjelaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang memilki Ilmu.

Hal tersebut secara historis telah terbukti dimana umat islam pernah mencapai derajat yang tinggi dengan menjadi pemimpin yang menguasai sebagian besar wilayah di dunia dan membangun sebuah peradaban yang tak tertandingi pada masanya, pada saat itu ilmu pengetahuan berkembang dengan begitu pesat, menurut Ibn Khaldun tanda wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan.

Pada masa keemasan Islam banyak bermunculan intelektual muslim dalam berbagai disiplin pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun non-agama (pengetahuan umum). Tidak hanya menyangkut permasalahan fiqih dan teologi, tetapi juga dalam bidang filsafat, matematika, astronomi, kedokteran dan lain sebagainya.

Namun kegemilangan peradaban umat Islam tersebut, pada saat ini hanya menjadi artefak yang menyimpan nostalgia keindahan sejarah. Sedikit demi sedikit umat Islam mulai mengalami kemunduran dan kelemahan di berbagai bidang. Mulai dari kehidupan politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan kebudayaan yang diikuti kekalahan dalam kehidupan intelektual, moral, kultural, budaya, dan ideologi.

Yang lebih memprihatinkan adalah menurut Nurcholish Madjid, dunia Islam dewasa ini merupakan kawasan bumi yang paling terbelakang di antara penganut-penganut agama besar di dunia dikarenakan begitu rendahnya kemajuan yang diraih dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam hanya menjadi penonton bahkan “terbuai” oleh kenikmatan semu yang disuguhkan oleh Barat dengan kecanggihan teknologinya.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana strategi untuk merebut kembali kejayaan peradaban Islam, hal ini tentunya memerlukan proses, walaupun peradaban Islam memiliki sumbangsih yang besar terhadap kemajuan peradaban barat namun walaupun demikian umat islam tidak

3 dapat mengambil kembali begitu saja konsep-konsep itu langsung dari Barat, tanpa proses. Sebab orang-orang Barat mengambil konsep-konsep itu dengan proses epistemologis yang panjang yang pada akhirnya menghasilkan konsep-konsep yang sudah tidak lagi dapat dikenali konsep aslinya, yaitu Islam.

Menurut Ibnu Khaldun Ilmu pengetahuan merupakan elemen terpenting dalam membangun sebuah peradaban dan Ilmu pengetahuan dapat hidup dan berkembang karena adanya komunitas yang aktif dan kreatif mengembangkannya yang disebut dengan intelektual, ini berarti bahwasanya intelektual muslim memiliki tanggung jawab yang besar dalam Membangun Kembali Peradaban Islam Menuju Kejayaan, yang itu berarti perlu adanya strategi dalam memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki intelektual muslim demi terwujudnya Islam yang Ya’lu wala Yu’la alaih.

 

B. Kajian Literatur

1. Pengertian Intelektual 

Kata intelek berasal dari kosa kata latin: Intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, kecerdasan. Dalam pengertian sehari-hari kemudian berarti kecerdasan, kepandaian, atau akal. Intelektual secara harfiah menurut AS. Hornby et.al, artinya adalah having or showing good

reasoning power,1 yaitu memiliki atau menunjukkan kekuatan penalaran yang baik. Sedangkan secara istilah menurut George A. Theodorson dan Achilles G. Theodorson intelektual adalah:

Those members of society who are devoted to development of original ideas and are engaged in creative intellectual pursuits.

Anggota masyarakat yang mengabdikan diri kepada pengembangan gagasan-gagasan orisinil dan terlibat dalam usaha-usaha intelektual kreatif .2

Berdasarkan pengertian diatas maka intelektual dapat diartikan sebagai orang cerdik dan pandai yang memiliki sikap hidup yang terus menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk mendapatkan pengetahuan, memahami sesuatu dan menghasilkan gagasan-gagasan orisinil. Lebih dari itu mereka juga berperan dan berjuang dalam mengupayakan kemajuan umat (masyarakat), memperbaiki aturan lama dan mempromosikan aturan dan tatanan hidup baru yang lebih baik dan lebih maju.

 

1. AS. Hornby, EV. Gatenby, H. Wakefield, The Advanced, Learner’s Dictionary of Current English, (oxford:Second edition, 1962), Hal. 513

2 George A. Theodorson and Achilles Theodorson, A Modern Dictionary Of  Sociology, New York: Barnes and Noble Book, 1979, hal 210

2. Identitas dan Posisi Intelektual

Kaum intelektual adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya. Meskipun secara kuantitas mereka bisa dikatakan sangat sedikit, akan tetapi secara kualitas tentunya mereka di atas rata-rata orang awam karena mereka memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan.

Diakui atau tidak, sebenarnya kaum intelektual merupakan bagian dari masyarakat dan bukan kelas tersendiri, tetapi memiliki keterkaitan sosial di mana kegiatan yang diberi kategori intelektual mendapat tempat dalam hubungan pada umumnya. Kaum intelektual tidak ditempatkan sebagai kelas tersendiri, tetapi berlaku bagi siapa saja yang melakukan perjuangan menegakkan kebenaran guna mewujudkan keadilan, kebebasan, dan kemajuan masyarakatnya.

Jadi kaum intelektual bukanlah kaum elit yang harus memisahkan diri dari masyarakat di mana ia lahir atau tinggal, akan tetapi ia harus berpijak dan bergaul dengan masyarakat tersebut serta membawa mereka menuju kemerdekaan. Merdeka dari belenggu kebodohan, pasungan ketertinggalan dan kemerdekaan dari kemiskinan. pengabdian serta komitmen yang jelas dalam membangun peradaban umat dan bangsanya.

Orang yang terdidik tidak secara otomatis disebut intelektual, apabila tidak memiliki pengabdian serta komitmen yang jelas dalam membangun peradaban umat dan bangsanya., Apabila seorang intelektual tidak mempunyai concern terhadap misi dan komitmen ini, maka ia bukanlah seorang intelektual, melainkan hanyalah seorang peneliti, akademisi atau politisi.

3. Fungsi Intelektual

Kaum intelektual adalah segmen masyarakat terdidik yang memilki kemampuan dan kelebihan, oleh karenanya mereka memiliki fungsi atau peranan, diantaranya adalah:

a. Fungsi pertama : menciptakan dan menyebarkan kebudayaan yang tinggi. Ini merupakan fungsi utama kaum intelektual. Dalam hal ini kegiatan intelektual berusaha mengolah warisan kebudayaan, memperhalus, mengoreksi dan mengubah warisan-warisan itu dalam bentuk karya-karya baru.

b. Fungsi kedua : menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa. Kaum intelektual dalam berkarya tidaklah terbatas untuk masyarakatnya sendiri akan tetapi lebih dari itu untuk kepentingan nasional dan antar bangsa.

5 c. Fungsi ketiga : membina kebudayaan bersama. Kaum intelektual tidaklah memencilkan diri atau terasing dari masyarakatnya, Taufik Abdullah menyatakan, “ keterasingan yang sungguh-sungguh berarti gugurnya dia sebagai cendekiawan”

d. Fungsi keempat : mempengaruhi perubahan sosial.dengan memberikan contoh-contoh dan norma-norma serta menampilkan lambang yang dapat dihargai, para cendekiawan baik produktif maupun reproduktif membangkitkan membimbing dan membentuk bakat-bakat dan daya-daya ekspresif dalam suatu masyarakat.3

4. Karakteristik Intelektual Muslim

Intelektual adalah sebuah kata sifat yang netral, tidak memihak ke sekuler ataupun yang tidak sekuler. Maka dalam pengertian ini, intelektual muslim adalah mungkin dan sangat mungkin. Yang artinya, ketika intelektual muslim itu mungkin, terdapat sebuah worldview (pandangan terhadap dunia) yang membedakannya dengan intelektual selain yang muslim. Artinya, intelektual muslim bukan hanya sebagai labelisasi terhadap seorang intelektual yang beragama Islam. Tapi lebih dari itu, intelektual muslim adalah sebuah kata yang menunjukan karakteristik seorang intelektual yang beragama Islam dan memiliki pandangan terhadap dunia yang sesuai Islam. Yakni yang mempunyai, memahami Islamic Vision atau Ru’yatul Islam li Al Wujud (ru’yat/pandangan Islam terhadap wujud/ kebenaran dan realitas).

Menurut M. Natsir kaum intelektual muslim adalah para cendekiawan yang benar-benar bernafaskan islam.4 Ideology Islam dijadikan sebagai landasan berfikir dan pandangan hidup. Keterikatan mereka kepada ideology Islam tidak bisa ditawar-tawar karena mereka adalah intelektual yang menghayati Islam dan memperjuangkan kehidupan Islam di dalam masyarakat.5

Menurut Nabiel Fuad Al-Musawa karakteristik seorang intelektual muslim ada 6 yaitu :

1. Bersungguh-sungguh belajar (QS 3/7). Seorang muslim sangat menyadari akan hakikat semua aktifitas hidupnya adalah dalam rangka pengabdiannya kepada Allah SWT, sehingga dirinya haruslah mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya untuk sebesar-besarnya digunakan meningkatkan taraf hidup kaum muslimin.

 

3 Azyumardi Azra, Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1998, hal 43-45

4 Muhammad Natsir, peranan cendekiawan Muslim , Jakarta:DDII, 1978, hal 2 5 Deliar Noer, Maslah Ulama Intelektual atau Intelektual Ulama, Jakarta : Bulan  Bintang, 1974 hal. 8

2. Berpihak pada kebenaran (QS 5/100). Seorang muslim sangat menyadari bahwa ilmu yang bermanfaat yang didapatnya itu kesemuanya dari sisi Allah SWT. Allah-lah yang telah mengajarinya dan membuatnya bisa mengenal alam semesta ini. Sehingga sebagai konsekuensinya, maka ia haruslah berpihak kepada kebenaran yang telah diturunkan Allah SWT, tidak peduli ia harus berhadapan dengan para oportunis, dan tidak peduli walaupun yang berpihak kepada kebenaran itu sangat sedikit. Karena ia tahu bahwa saat menghadap Allah SWT kelak, masing-masing akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri-sendiri dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan walaupun kecil (QS 99/7-8).

3. Kritis dalam belajar (QS 39/18). Setiap muslim mengetahui bahwa kebenaran yang terkandung dalam ilmu pengetahuan yang dipelajarinya bersifat relatif dan tidak tetap. Sehingga ia selalu berusaha bersifat kritis dan tidak menelan bulat-bulat apa yang dipelajarinya dari berbagai ilmu pengetahuan modern tanpa melakukan suatu pengujian dan eksperimen.

Bisa saja suatu saat nanti teori yang saat ini dianggap benar akan ditinggalkan, karena kebenaran teori bersifat akumulatif, sehingga dengan semakin berlalunya waktu maka akan semakin mengalami penyempurnaan. Hal ini berbeda dengan kebenaran al-Qur’an yang bersifat absolut karena ia diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui akan kebenaran.

4. Menyampaikan ilmu (QS 14/52). Sifat kaum muslimin yang keempat adalah berusaha mengamalkan ilmu yang sudah didapatnya dengan berusaha menyampaikannya sedapat mungkin kepada orang lain. Karena pahala ilmu yang telah dipelajari akan menjadi suatu amal yang tidak pernah putus walaupun ia telah tiada, jika telah menjadi suatu ilmu yang bermanfaat.

5. Sangat takut kepada Allah SWT (QS 65/10). Sifat yang kelima dari seorang ilmuwan muslim adalah bahwa dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan yang didapatnya maka ia merasa semakin takut kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan karena dengan semakin banyaknya ilmunya, maka semakin banyak rahasia alam semesta ini yang diketahuinya dan semakin yakinlah ia akan kebenaran firman Allah SWT dalam kitab-Nya. Bukan sebaliknya, semakin pandai maka semakin jauh ia kepada Allah SWT.

6. Bangun diwaktu malam (QS 39/9). Ciri seorang ilmuwan muslim yang keenam sebagai konsekuensi dari ciri kelima di atas adalah bahwa dengan semakin yakinnya ia kepada penciptanya maka akan

7 semakin banyak ia beribadah kepada-Nya dan sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang dilakukan diwaktu malam (QS 32/16).6

B. Potensi Manusia

Pengertian potensi adalah kemampuan yang dimiliki setiap pribadi (individu) yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan dalam berprestasi atau dengan kata lain kemampuan yang terpendam pada diri setiap orang, karena setiap orang memilikinya.7

Potensi- potensi dasar dan sifat- sifat asal manusia itu berkaitan dengan masalah spiritual, yaitu dalam hubunganya dengan keyakinan terhadap Tuhan. Quraish shihab berpandangan bahwa potensi- potensi manusia juga berkaitan dengan hal- ha lain. Menurutnya fitrah manusia bukan hanya itu tapi juga kecenderungan hati kepada lawan jenis, anak- anak, harta, binatang ternak, sawah dan ladang, dan seterusnya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).( QS. Ali Imran, 3: 14).

Ayat di atas menandaskan bahwa manusia memiliki beragam potensi, seperti sifat bawaan untuk menyukai lawan jenis, sifat bawaan untuk memiliki anak, harta benda dan lain sebagainya.

Potensi manusia ada 4 seperti yang dipaparkan oleh H. Fuad Anshori dalam bukunya Potensi- potensi Manusia:

1. Potensi berpikir

Manusia memiliki potensi berpikir. Seringkali Allah menyuruh manusia untuk berpikir, Maka Berpikirlah. Logikanya orang hanya disuruh berpikir karena ia memiliki potensi berpikir. Maka, dapat dikatakan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk belajar informasi - informasi baru, menghubungkan berbagai informasi, serta menghasilkan pemikiran baru. Potensi berpikir ini berbeda antara manusia satu dibandingkan dengan manusia yang lain. Semakin besar potensi berpikir semakin besar kemampuan dalam menyerap dan mengembangkan pengetahuan. Mereka yang berpotensi besar memiliki kecenderungan ilmiah yang tinggi, mampu membaca lebih cepat dari rata- rata, menyenangi kegiatan belajar, mampu bepikir abstrak, mampu berkomunikasi verbal secara baik. Adakalanya potensi yang dimiliki seseorang itu biasa saja sehingga seseorang membutuhkan usaha yang lebih untuk memiliki penguasaan tehadap

 

6 Nabiel Fuad Al-Musawa, Karakteristik seorang intelektual Muslim, http//www//Ikhwan.Net diakses Kamis, 04 Maret 2016 Jam 09.00 WIB

7 Mustofa. Mengenal Potensi Diri Untuk Berprestasi. 26 Maret 2016.  (www.mustofasmp2.wordpress.com). Diakses : Kamis, 04 Maret 2016 Jam 09.00 WIB

pengetahuan. Karena perlu diingat dibalik usaha yang besar itu ternyata terdapat janji akan balasan bukan

2. Potensi Emosi

Setiap manusia memiliki potensi cita rasa, yang dengannya manusia dapat memahami perasaan orang lain, memahami suara alam, ingin mencintai dan dicintai, memprhatikan dan diperhatikan, menghargai dan dihargai, cenderung kepada keindahan. Orang yang berpotensi dalam bidang musik mampu mempelajari musik dengan cepat dan mampu untuk mengembangkan diri dalam bidang musik dan menciptakan kreasi baru dalam musik. Ada juga yang cepat sekali meniru tarian dengan lemah gemulai menghasilkan kombinasi baru gerak tari, ada juga yang berpotensi dalam bidang lukis dan kemudian mampu melukis dengan bagus dan dilakukan dengan cara baru. 3. Potensi Fisik

Manusia memiliki potensi dalam bidang fisik. Salah satunya yang melatarbelakangi Nabi Muhammad menyuruh setiap anak untuk dilatih memanah, berkuda, dan berenang adalah karena manusia memiliki potensi yang luar biasa untuk membuat gerakan fisik yang efektif dan efisien serta memiliki kekuatan fisik yang tangguh.Orang yang berbakat mampu mempelajari olah raga dengan cepat dan selalu menunjukan permainan yang baik. Gerakan yang mereka tunjukan dilandasi dengan kemampuan intelektual mereka, khususnya intelektual yang berhubungan dengan fisik.Sebagai misal David Beckham pemain tim nasional inggris, Manchaster united dan Real Madrid, memiliki kemampuan melakukan tendangan bebas yang disebut tendangan Pisang. Dengan tendangan inilah Becks banyak menghasilkan gol.

4. Potensi Sosial

Potensi berikutnya adalah potensi dalam bidang sosial atau kepemimpinan. Dalam sejarah Islam pernah ditunjuk seorang panglima perang yang masih sangat muda, Usamah bin Zaid namanya. Saat ditunjuk sebagai panglima dalam perang melawan pasukan Romawi di perbatasan Balqo’ dan Darum palestina, ia baru berusia 18 tahun. Latarbelakang utama yang menjadikan Nabi Muhammad menunjuknya adalah karena ia memiliki potensi memimpin yang luar biasa. Pemilik potensi sosial yang besar memiliki kapasitas menyesuaikan diri dan mempengaruhi orang lain didasari kemampuanya belajar, baik dalam dataran pengetahuan maupun ketrampilan. Anak yang mempunyai potensi sosial yang bagus dapat merubah kelompok yang tidak produktif menjadi kelompok yang

9 produktif dan dinamis, dari kelompok yang penuh persaingan menjadi kelompok yang kompak.8

Manusia memiliki potensi yang berebeda-beda antar manusia yang satu dengan yang lainya. Ada yang berpotensi besar dan ada pula yang berpotensi biasa saja. Dalam agama Islam ada sebuah catatan yang patut mendapat perhatian, yaitu potensi yang besar ternyata menuntut tanggung jawab yang besar pula.

“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- An’am, 6:165)

C. STRATEGI PENGEMBANGAN INTELEKTUAL MUSLIM

Potensi yang dimiliki oleh intelektual muslim membutuhkan suatu strategi agar bisa berkembang secara optimal dalam menggerakkan keilmuan umat Islam masyarakat untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam, menurut Prof. Imam suprayogo tidaknya ada dua strategi untuk mengembangkan potensi intelektual muslim hal yaitu :

1. Rekonstruksi kajian Keislaman

Membaca dan memahami teks untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan, demikianlah pola dasar ideal yang dirumuskan oleh umat islam sehubungan dengan kewajibannya untuk memedomani Al Qur’an sebagai landasan formal melaksanakan tugas sebagai Khalifatullah dan Abdullah di muka bumi,9 dengan pola tersebut maka kajian keislaman oleh kebanyakan orang hanya terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan Islam seperti ilmu kalam, tafsir, fiqih , dan sejenisnya, sedangkan keilmuan yang banyak berhubungan dengan non teks (ayat kauniyah) seperti ilmu politik, kimia, biologi kedokteran dan sebagainya dianggap sebagai ilmu sekuler yang tidak absah apabila dimasukan dalam kajian keislaman.

Mencermati adanya penyempitan kajian keislaman yang hanya terbatas pada beberapa ilmu tertentu seperti ilmu kalam, tafsir, fiqih dsb maka professor Imam suprayogo menawarkan alternatif rekonstruksi kajian keislaman dengan tetap memposisikan al Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama, menurutnya ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadis adalah menyangkut lima hal:

1. Ketuhanan 2. Penciptaan

3. Manusia dan prilakunya

 

8 H. Fuad Nashori, Potensi- Potensi Manusia, Pustaka Pelajar, Jogyakarta 2005,  Hal. 85- 89

4. alam dan sifat-sifatnya 5. keselamatan manusia

Pendekatan lama yang menggunakan konsep tauhid, fiqih, ahlak, tasawuf, tafsir, tarikh dan bahasa arab dalam mengkaji islam tidak seluruhnya ditinggalkan namun diintegrasikan dengan pola pendekatan yang baru. Tatkala berbicara tentang keselamatan manusia maka aspek tauhid, fiqih, ahlak dan tasawuf akan menjadi bahan kajian. Demikian pula tatkala mengkaji tentang tuhan, penciptaan, manusia dan prilakunya, alam dan sifat-sifatnya maka diperlukan ilmu tafsir dan ilmu hadis dengan berbagai cabangnya.

2. Mengembangkan perangkat metodologis

Menurut profesor Abdussalam kekurangan keilmuwan masa lampau adalah tidak adanya teori ilmu pengetahuan atau logika metodologi ilmiah. Sehingga ilmu pengetahuan belum menjadi gerakan di kalangan umat islam karena tidak ada dasar teoritis untuk prakarsa ilmiah.

Perangkat metodologis yang diperlukan untuk menggerakkan dan mengembangkan keilmuan islam adalah:

a). Filsafat,

Filsafat merupakan elemen terpenting dalam pengembangan intelektual karena fisafat merupakan pola berfikir yang sistematis, radikal dan universal, melalui metode ini diharapkan seseorang memiliki kedalaman dalam berefleksi.menurut fazlur rahman bahwa filsafat adalah hal yang sangat niscaya bagi umat islam jika menginginkan kembali meraih masa kejayaan dibidang ilmu pengetahuan.

b). Hermeneutika,

Peranan khazanah ulumul Qur’an sebagai bentuk metodologi untuk memahami al-Qur’an tidak perlu diragukan lagi hal ini terbukti dengan berlimpahnya karya tafsir dengan berbagai pola, mulai dari tahlili sampai maudhu’i dan mulai yang sekedar mencari sinonim kata sampai melakukan ta’wil secara intuitif dan menafsirkan secara ilmiah.

Namun titik lemah dari kitab-kitab tafsir klasik adalah tidak adanya dialektika antara teks-konteks-kontekstualisasi , kehadiran hermeneutika sebagai metodologi yang menekankan akan adanya dialektika antara ketiga hal tersebut tentunya akan semakin memperkaya dan menggairahkan semangat krilmuan umat Islam.

3. Memperkuat karakteristik intelektual Muslim

Persoalan yang bisa menghambat potensi seorang intelektual muslim adalah pertarungan pemikiran yang tidak sehat yang berkembang menjadi pertikaian politik yang menguras energi umat islam., untuk menghindari hal tersebut seorang intelektual muslim disamping memiliki fungsi juga diharapkan memiliki karakteristik kepribadian, diantaranya adalah:

a. Keterbukaan, intelektual muslim bersedia mendengarkan segala macam pendapat dan paham dengan tenang. Mereka tidak cepat apriori terhadap segala pendapat yang muncul dan tidak tergesa-gesa dalam menerima pikiran lain; mereka menganalisa sebelum menentukan mana yang perlu dipakai dan mana yang harus ditinggalkan10

b. Tidak mengisolir diri, intelektual muslim tidak melebur dalam ide-ide dan faham yang ada atau menjauhkan diri dari perbenturan dan pertentangan pikiran. Dalam hal ini mereka berpegang pada nilai-nilai ilahi sebagai tata cara hidupnya dengan konsekwen memelihara identitas mereka agar tidak hanyut terbawa arus., di tengah-tengah lingkungan yang serba corak itu mereka berlomba-lomba menegakkan kebajikan untuk kesejahteraan mahluk sekitarnya tanpa diskriminasi. c. Kerendahan hati, intelektual muslim walaupun telah

mengembangkan pemikirannya berdasarkan teori-teori, metode observasi dan eksperimen sehingga menghasilkan karya cemerlang, namun mereka dengan rendah hati menyatakan bahwa hasil karya mereka mungkin saja salah. Contohnya adalah seperti apa yang dilakukan oleh Al Haithan yang menutup buku karyanya dengan pernyataan: “ that while

all he known about the subject is his book, his knowledge is limited and there may even be errors in his works. “Only Allah knows best”.11

d. Kejujuran, seorang intelektual muslim harus berani menyatakan yang benar dan yang salah apa adanya, mempunyai integritas pribadi yang tangguh dengan menjadikan nilai-nilai kejujuran yang bersumber dari ajaran islam.

 

10 Muhammad Natsir, peranan cendekiawan Muslim , Jakarta:DDII, 1978, hal 4 11 Ziauddin SardarCan science came back to Islam,New Scientist, London hal  216

4. Mempublikasikan karya intelektual Muslim

Beberapa hasil penelitian berikut ini memberikan gambaran bahwa karya intelektual muslim yang terpublikasikan jumlahnya masih sedikit.

Tabel 1

Jumlah Penulis Ilmiah

Negara Jumlah penulis yang terdata

Seluruh dunia 352.000

Dunia ketiga 19.000

Negara-negara Islam 3.300

Islam 6.100

Tabel 2

Karya Ilmiyah di beberapa Negara Islam sebagai bagian (prosentase) dari karya ilmiah dunia, 1976

Negara Islam Prosentase

Mesir 0.021 % Iran 0.043 % Irak 0.022 % Libya 0.002 % Pakistan 0.055 % Arab Saudi 0.008 % Suriah 0.001 % India 2.260 % Tabel 3

Penulisan Ilmiah dalam bidang fisika, matematika, dan kimia, 1989

Bidang pengarang Jumlah yang didata Jumlah pengarang muslim yang ditemukan Fisika 4.168 46 Matematika 5.050 53 Kimia 5.375 128

Menurut Prof. Abdus Salam Kemerosotan atas ilmu pengetahuan yang hidup di dunia Islam lebih banyak disebabkan oleh factor intern, diantaranya adalah karena terasingnya usaha-usaha ilmiah intelektual Islam, hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya eksistensi penelitian –

13 penelitian yang dilakukan oleh intelektual muslim masih berjalan sampai sekarang namun belum terpublikasikan dengan maksimal.

5. Membentuk Komunitas Intelektual Muslim

Untuk mendukung para peniliti diperlukan komunitas yang mempunyai pandangan ilmiah dan mau mencari kebenaran yang lebih sempurna sampai dengan batas akhir. Komunitas itu tidak dapat dibentuk dalam sehari, Eropa membutuhkan waktu empat abad untuk membentuknya. Pembentukan itu dimulai dari Galileo dan masih berlangsung hingga kini.

Kaum muslimin telah membentuk masyarakat itu, tetapi hanya mampu bertahan selama beberapa abad. Dewasa ini dunia Islam adalah pemakai dan bukan penghasil ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain dunia Islam mengekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi, mengubah hal ini diperlukan komunitas peneliti.

C. Kesimpulan

Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam. Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu pengetahuan seseorang mampu memberi respon terhadap situasi yang sedang dihadapinya.

Lebih penting dari ilmu dan pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat, adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual.

Ini bukan sekedar teori tapi telah merupakan fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam. Di Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafii, Hanbali, Imam al-Ghazzali, Ibn Khaldun, dan lain sebagainya mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka.

Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para intelektual muslim dengan cara memperluas dan merekonstruksi kajian keislaman, memantapkan dan memperkaya metodologi dalam memahami al Qur’an serta menumbuh kembangkan karakteristik seorang ilmuan muslim.

Pembangunan ilmu pengetahuan Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam, karena dari gerakan ilmu pengetahuan adalah poros utama untuk menggerakkan bidang-bidang yang lain. Wallahu a’lam bissawab. 

Daftar Pustaka

AS. Hornby, EV. Gatenby, H. Wakefield, The Advanced, Learner’s

Dictionary of Current English, (oxford:Second edition, 1962)

George A. Theodorson and Achilles Theodorson, A Modern Dictionary Of

Sociology, New York: Barnes and Noble Book, 1979

Azra, Azyumardi. Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1998.

Natsir, Muhammad. Peranan Cendekiawan Muslim , Jakarta:DDII, 1978 Noer, Deliar. Masalah Ulama Intelektual atau Intelektual Ulama, Jakarta :

Bulan Bintang, 1974

Fuad Al-Musawa, Nabiel. Karakteristik Seorang Intelektual Muslim, http//www//Ikhwan.Net diakses tanggal 30 Maret 2016 jam 10:00 Nashori, Fuad. Potensi - Potensi Manusia, Pustaka Pelajar, Jogyakarta

2005

Faiz, Fahruddin. Hermenutika al Qur’an , eLSAQ Press, Sleman

Sardar, Ziauddin. “Can science came back to Islam,New Scientist, London Mustofa. Mengenal Potensi Diri Untuk Berprestasi. 26 Maret 2016. 

KETIMPANGAN GENDER DALAM PENDIDIKAN

Chairani Astina 

Dosen UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo

Abstrak 

Pendidikan yang dapat mencerdaskan bangsa adalah pendidikan yang terbebas dari unsur diskriminasi gender. Laki-laki dan perempuan, sama–sama berhak memperoleh pendidikan tinggi, sama-sama berhak mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya untuk kebaikan manusia, baik dalam lingkungan rumah tangga maupun diluar rumah tangganya.

Meskipun saat ini sudah banyak perempuan yang mengenyam pendidikan akan tetapi mereka tetap belum mendapatkan kesempatan sepenuhnya untuk mengembangkan kualitas diri mereka dengan cara meneruskan pendidikan mereka kejenjang yang lebih tinggi lagi, dikarenakan beberapa faktor yaitu : ekonomi, sosial, fasilitas pendidikan dan pembagian peranan menurut jenis kelamin. Dan ada pula beberapa ketimpangan yang terjadi dalam pendidikan yaitu: 1) kurikulum yang bias gender, 2) kebijakan sekolah yang diskriminatif, dan 3) stigmatisasi disiplin ilmu. Untuk mengembangkan masyarakat, ada beberapa prinsip yang harus ditumbuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan emansipatori : Pemerataan atau kesetaraan, berkelanjutan, produktifitas, dan pemberdayaan dari setiap individu.

Adapun tujuan dari pendidikan berperspektif gender di antaranya: mempunyai akses yang sama dalam pendidikan, kewajiban yang sama, dan persamaan kedudukan dan peran. Jika ini dapat direalisasikan maka kita bisa mengurangi terjadinya ketimpangan-ketimpangan gender yang ada dalam pendidikan.

Kata kunci : Ketimpangan Gender, Pendidikan.

Abstract

Education can achieve the nation is free from gender discrimination element. Men and women are equally entitled to obtain higher education, are equally entitled to devote knowledge that has been gained for the benefit of man, both within the household and outside the household.

Although it's been a lot of women who get an education but they still have not gotten a chance to fully develop the qualities themselves in a way to continue their education to a higher level again, due to several factors: economic, social, educational facilities and the distribution of roles according to the types of genitals. And there are also some inequality in education, namely: 1) gender-biased curriculum, 2) discriminatory school policy, and 3) the stigmatization of disciplines. To develop a community, there are several principles that must be grown in the administration of emancipatory education: Equity or equality, sustainability, productivity and empowerment of each individual.

The purpose of education with a gender perspective include: equal access to education, the same obligations, and equality and roles. If this can be realized then we could reduce the gender inequalities that exist in education.

A. Latar Belakang

Pada masa Yunani, pendidikan dikonsepsikan sebagai proses penyiapan kehidupan manusia yang memilikitiga tipe sebagai masyarakat yang mewujudkan Negara ideal, yaitu: 1) Manusia sebagai pemikir dan pengatur Negara, 2) Manusia sebagai kesatria dan pengaman Negara, 3) Manusia sebagai pengusaha dan penjamin kemakmuran serta kesejahteraan Negara dengan segenap warganya.

Pendidikan yang dapat mencerdaskan bangsa adalah pendidikan yang terbebas dari unsur diskriminasi gender. Laki-laki dan perempuan, sama–sama berhak memperoleh pendidikan tinggi, sama-sama berhak mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya untuk kebaikan manusia, baik dalam lingkungan rumah tangga maupun diluar rumah tangganya1.

Perbedaan prestasi yang dicapai laki-laki dan perempuan sangat berkaitan erat dengan lingkungan yang dimodifikasi secara berbeda. Andaikan lingkungan sejak semula memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan dan laki-laki untuk mahir di berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti yang dilakukan pada anak laki-laki pada umumnya, tentu perempuan tidak akan mengalami ketertinggalan.2

Sebagai mana ada pepatah yang sering kita dengar “wanita

adalah tiang negara, apabila wanitanya baik maka negaranya akan baik, apabila wanitanya rusak maka negara itu akan rusak pula”. Dari

pepatah ini bisa kita simpulkan bahwa betapa besarnya pengaruh seorang wanita dalam kehidupan ini, jika seorang wanita baik, pintar, dan berakhlak mulia maka mereka akan bisa mewujudkan para pemimpin yang hebat untuk suatu negara. Dengan ini mestinya kita sudah bisa mencermati betapa pentinggnya bagi seorang wanita untuk mendapatkan pedidikan sama dengan hal layaknya para laki-laki. Apa lagi kita juga sering mendengarkan ungkapan yang sangat populer bahwasanya “Dibalik laki-laki yang hebat ada perempuan

yang hebat”, dari makna yang tersirat dalam ungkapan tersebut

bahwasanya antara perempuan dan laki-laki mereka saling melengkapi antara satu sama lainnya. Seorang perempuan bisa menjadi hebet ketika dia bisa menghebatkan laki-laki yang ada dalam kehidupannya, baik itu kakek, ayah, kakak, adik dan anak. Begitu juga dengan laki-laki mereka bisa meraih suatu kesuksesan dan dikatakan hebat itupun juga tidak luput dari peran perempuan yang ada dalam kehidupannya, baik itu nenek, ibu, kakak dan adik.

 

1 Eti Nurhayati, Psikologi Perempuan dalam berbagai perspektif, (Yogyakarta:  Pustaka Pelajar,2012), hal. 145

17 Seiring perjalanan sejarah, kaum perempuan telah banyak mengalami berbagai erosi, mulai dari kepribadian, akhlaq, bahkan aqidah. Dan itu semua tidak luput dari pengetahuan yang mereka miliki melalui jenjang pendidikan, sebagaimana yang selama ini kita ketahui pendidikan pada dahulunya lebih diprioritaskan bagi kaum laki-laki saja, sementara kaum perempuan tidak diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi baik karena alasan ekonomi maupun anggapan tugas domestic perempuan. Fenomena subordinasi perempuan dalam pendidikan Indonesia menyaratkan suatu revolusi cultural. Yakni menghancurkan mitos dan segala bentuk pembekuan anggapan yang menyatakan bahwa subordinasi perempuan itu alami (natural). Upaya penyadaran bisa dilakukan melalui pendidikan seperti yang pernah dilakukan R.A. Kartini. Salah satu yang diperjuangkan pada waktu itu adalah kesetaraan pendidikan antara perempuan dan laki-laki3.

A. Pengertian Pendidikan dan Tujuannya

1. Pengertian Pendidikan 

Pengertian pendidikan dari beragam perspektif para tokoh pendidikan yang ada pada buku Dasar-Dasr Kependidikan (Hamdani, 2011), dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah system yang terencana untuk mewujudkan suasana bealajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat4.

2. Tujuan Pendidikan

Tujuan merupakan sasaran yang hendak dicapai dan sekaligus merupakan pedoman yang member arah bagi segala aktivitas yang dillakukan. Salah satu tujuan pendidikan dalam islam adalah “mengembangkan manusia yang baik yang beribadah dan tunduk kepada Allah serta mensucikan diri dari dosa”5. Menurut Zakiyah Drajat ada beberapa tujuan pendidikan, yaitu :

 

3 Agnes Widanti, Fatimah Usman, Belajar Gender, analisis : mengurai ketimpangan gender dalam realitas masyarakat, (Semarang : JGJ PMII Jateng, 2005), hal. 45.

4 Hamdani, Dasar-dasar Kependidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 2011), hal.13-21.

5 Hery Noer Aly. Munzier, Et, al, Watak pendidikan islam, (Jakarta: Friska Agung  Insani, 2003), hal. 152.

a. Tujuan umum yaitu tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran, atau dengan cara lain.

b. Tujuan akhir yaitu insane kamil yang akan menghadap Tuhannya, merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan islam.

c. Tujuan sementara yaitu tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. d. Tujuan operasional yaitu tujuan praktis yang akan dicapai

dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu6.

B. Pengertian Gender Dan Kesetaraannya dalam Pendidikan 

Menurut para ahli, gender didefinisikan sebagai isu perbadaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Gender telah lantang digembor-gemborkan dimana-mana. Sebenarnya apakah gender itu? Gender merupakan atribut yang disematkan pada seseorang, dikodifikasikan dan dilembagakan secara sosial maupun kultural kepada laki-laki atau perempuan. Gender berkaitan dengan pikiran dan harapan masyarakat untuk melakukan peranan terbaik sebagai laki-laki atau perempuan. Karena gender merupakan bentuk sosial (pengalaman masyarakat), maka penempatan gender dari waktu kewaktu selalu berubah. Gender tidak bersifat universal, artinya antara masyarakat satu dengan yang lainmempunyai pengertian yang berbeda-beda dalam memahami gender. Perbedaan ini disebabkan settingsosiohistoris masyarakat satu dan lainnya tidak sama. Peran gender juga dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan karena gender bukan kodrat Tuhan (hukum Tuhan) melainkan bentukan sosial7.

Keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar, tujuan dan misi utama peradaban manusia untuk mencapai kesejahteraan, membangun keharmonisan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dan membangun keluarga berkualitas. Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, sehingga mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan dan memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Secara historis telah terjadi dominasi laki-laki dalam segala lapisan masyarakat di sepanjang zaman, dimana perempuan dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Dari sini muncullah doktrin

 

6 Zakiah Darajat, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hal.29-33 7 Agnes Widanti, Fatimah Usman, Belajar Gender, analisis : mengurai ketimpangan gender dalam realitas masyarakat, hal.3. 

19 ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan8. Ketidaksetaraan tersebut diantaranya adalah:

1. Marginalisasi terhadap perempuan

Marginalisasi berarti menempatkan atau menggeser perempuan kepinggiran. Perempuan dicitrakan lemah, kurang atau tidak rasional, kurang atau tidak berani, sehingga tidak pantas atau tidak dapat memimpin.

2. Steorotip masyarakat terhadap perempuan

Pandangan stereotip masyarakat, yakni pembakuan diskriminatif antara perempuan dan laki. Perempuan dan laki-laki sudah mempunyai sifat masing-masing yang sepantasnya, sehingga tidak dapat keluar dari qodrat yang telah ada.

3. Subordinasi terhadap perempuan

Pandangan ini memposisikan perempuan dan karya-karyanya lebih rendah dari laki-laki, sehingg amenyebabkan mereka merasa sudah selayaknya sebagai pembantu, nomor dua, sosok bayangan, dan tidak berani memperlihatkan kemampuannya sebagai pribadi. Laki-laki menganggap perempuan tidak mampu berpikir seperti ukuran mereka, sehingga mereka selalu khawatir apabila memberi pekerjaan berat kepada perempuan.

4. Beban ganda terhadap perempuan

Pekerjaan yang diberikan kepada perempuan lebih lama pengerjaannya bila diberikan kepada laki-laki, karena perempuan yang bekerja disektor publik masih memiliki tanggungjawab pekerjaan rumah tangga yang tidak dapat diserahkan kepada pembantu rumah tangga sekalipun pembantu rumah tangga sama-sama perempuan.

5. Kekerasan terhadap perempuan

Kekerasan terhadap perempuan dapat berupa kekerasan psikis, seperti pelecehan, permintaan hubungan seks ditempat umum, senda gurau yang melecehkan seks perempuan. Dan kekerasan fisik, seperti pembunuhan, perkosaan, penganiayaan terhadap perempuan dan lain sebagainya9.

Sementara itu dalam pendidikan dasar persamaan pendidikan menghantarkan setiap individu atau rakyat mendapatkan pendidikan sehingga bisa disebut pendidikan kerakyatan. Sebagaimana Athiyah, Wardiman Djojonegoro menyatakan bahwa ciri pendidikan

 

8 Asghar Ali Engineer, Hak-hak Perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, Yogyakarta: Lembaga study Pengembangan Perempuan dan Anak, 1994, hlm. 55.

9A. Nunuk P. Murniati, Getar Gender, Magelang: Indonesia Tera, 2004, hlm.  XX-XXIV.

kerakyatan adalah perlakuan dan kesempatan yang sama dalam pendidikan pada setiap jenis kelamin dan tingkat ekonomi, sosial, politik, agama dan lokasi geografis publik. Dalam kerangka ini, pendidikan diperuntukkan untuk semua, minimal sampai pendidikan dasar. Sebab manusia memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang layak. Apabila ada sebagian anggota masyarakat yang tersingkir dari kebijakan kependidikan berarti kebijakan tersebut telah meninggalkan sisi kemanusiaan yang setiap saat harus diperjuangkan10.

C. Ketimpangan Gender Dalam Pendidikan

1. Kurikulum yang Bias Gender

Terjadinya distori padagogis yang ditimbulkan media masa juga tuntutan pemerintah dan industri swasta. Untuk tehnik pendidikan menengah dan tinggi juga mempresentasikan hal serupa yakni nilai dan kurikulum yang bias gender. Sebenarnya masalah nilai materi merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan kurikulum agar tidak bias. Kurikulum yang bias gender didalamnya memuat dua hal, yakni :

 Kurikulum pendidikan secara teori dalam materi yang diberikan

 Kurikulum yang diberikan dalam bentuk kegiatan atau praktek.

2. Kebijakan Sekolah yang Diskriminatif

Kebijakan-kebijakan yang diambil penguasa pendidikan terhadap siswa laki-laki dan perempuan sering merugikan salah satunya. Tetapi yang paling dirugikan adalah siswa perempuan, semis ala sudut pandang yang membedakan peta perempuan dan laki-laki.

Pertama, bidang studi yang diterima laki-laki lebih pada

alokasi waktu dan kesempatan yang leluasa. Hal ini dapat kita lihat dalam pemberian kesempatan masuk perguruan tinggi jurusan tertentu, sepert teknik dan otomotif. Dengan kesempatan yang berbeda tentu saja buku-buku dan materi laki-laki lebih beragam. Sementara siswi dianggap telah cukup dengan menguasai masalah-masalah sehingga tidak aneh jika laki-laki kelak dapat mengembangkan diri untuk menjadi pemimpin.

Kedua, keberadaan diluar (masyarakat dan lingkungan)

kurang mendapat tempat dan sambutan, sementara itu pula peraturan dan kebijakan yang ditujukan kepada perempuan telah

 

10 Eni Purwati dan Hanun Asrohah, Bias Gender dalam Pendidikan Islam, Surabaya: Alpha, 2005, hlm: 30.

21 membatasi kiprahnya diluar sehingga mereka kekurangan informasi dan kegiatan11.

Pembelajaran yang selama ini berlangsung dilembaga-lembaga pendidikan sekolah maupun luar sekolah, disinyalir sebagian kalangan masih belum berwawasan gender, karena belum dapat menggali dan mengembangkan semua talenta peserta didik, terutama mereka yang perempuan dan kaum dhu’afa. Hal ini karena : (1) masih ada anggapan bahwa prinsip utama pendidikan terletak pada usaha para pendidik, orang tua, atau peserta didik untuk selalu mentaati setiap peraturan tampa reserfe, (2) ada mitos bahwa perempuan kurang cerdas dibanding laki-laki, betapapun mereka mendapat pendidikan seperti laki-laki.

Perlakuan diskriminasi dalam proses pembelajaran berakar dari paradigma konvensional yang memandang anak perempuan lebih rendah dari anak laki-laki dalam berbagai partisipasi kehidupan. Paradigma yang telah terkontruksi secara kultural turun temurun ini diperkuat oleh usaha-usaha untuk mengarahkan laki-laki maskulin dan anak perempuan menjadi feminim, yang kemudian mempengaruhi perkembangan masing-masing anak perempuan dan anak laki-laki menjadi berbeda. Sosialisasi ini terjadi sejak dini melalui instansi keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.12

3. Stigmatisasi disiplin Ilmu

Variasi-variasi peranan dimainkan laki-laki dan perempuan adalah produk dari norma dan nilai-nilai diluar dari individu yang mengajari. Mereka sejak muda belia sudah menerima refleksi perbedaan gender, sehingga stigmatisasi keberbedaan disiplin ilmu menjadi budaya dimasyarakat. Hal inilah yang mengakibatkan diskriminasi terhadap pendidikan perempuan. Pendiskriminasian tersebut disebabkan beberapa factor, sebagi berikut :

a. Factor Ekonomi

Para orang tua lebih memberikan kesempatan pada anak laki-laki karena lemahnya ekonomi. Ketersedian uang dan waktu untuk mengejar cita-cita mengakses pendidikan tinggi, pemudi ketika ditanya mengapa tidak melanjutkan keperguruan tinggi, mereka menjawab “cannot afford it” ini disebabkan karena

 

11 Agnes Widanti, Fatimah Usman, Belajar Gender, analisis : mengurai ketimpangan gender dalam realitas masyarakat. Hal.46-47.

12 Eti Nurhayati, Psikologi Perempuan dalam berbagai perspektif, (Yogyakarta:  Pustaka Pelajar,2012), hal. 121-122.

orang tua harus menyediakan biaya lebih banyak dibanding untuk anak laki-laki melanjutkan pendidikan.

b. Factor fasilitas pendidikan

Jumlah lembaga pendidikan dipedesaan kurang memadai. Baik itu fasilitas umum, khusus ataupun pendukung.

c. Factor social

Awal sosialisasi untuk mandiri antara ank perempuan dan laki-laki yang dibedakan oleh orang tua dan keluarga, mengakibatkan mereka tumbuh berbeda, termasuk dalam gaya berfikirnya. Perkembangan seorang aak sangat ditentukan pertama sekali oleh lingkungan dimana anak lahir, diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluaraga. Adanya kebudayaan (adat) yang menganggap bahwa anak perempuan telah cukup menguasai masalah-masalah pokok dalam pendidikan.

d. Factor pembagian peran menurut jenis kelamin.

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa kepribadian perempuan dan laki-laki sangat berbeda dan tidak ada kesamaan yang dapat menjembatani keduanya. Anggapan ini menimbulkan banyak orang yang mengalami penderitaan psikis karena mereka terikat untuk berperan sebagai perempuan saja dan laki-laki saja, seperti yang telah ditentukan oleh orang tua melalui perlakuan yang berbeda sejak kecil dikeluarga.

Para orang tua cenderung menilai bahwa anak perempuan lebih lemah (pemahamannya dalam pelajaran) dibandingkan anak laki-laki. Akibat dari factor-faktor diatas, maka timbul persoalan lain, diantaranya :

1. Pendominasian laki-laki dalam pengambilan keputusan. 2. Karena pendidikan perempuan kurang memadai dan kurang

keterampilan maka banyak istri yang hidupnya tergantung pada suami cenderung menerapkan system patriarkhi.

3. Masih tingginya tingkat pernikahan dibawah umur terutama perempuan, akibatnya banyak terjadi kawin-cerai dibawah umur karena usia mereka menunjukkan ketidak siapan untuk menikah.

4. Karena pendidikan yang kurang, maka mereka kurang mampu membina keluarga secara psikologis dan kesehatan keluarga13

D. Pendidikan Memandang Gender

Dalam deklarasi hak-hak asasi manusia pasal 26 dinyatakan bahawa: Setiap orang berhak mendapatkan pengajaran… Pengajaran harus mempertinggi rasa saling mengerti, saling menerima serta rasa persahabatan antara semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan, serta harus memajukan kegiatan PBB dalam memelihara perdamaian dunia.

Dari deklarasi diatas , sesungguhnya pendidikan tidak hanya dianggap dan dinyatakan sebagai sebuah unsure utama dalam upaya pencerdasan bangsa melainkan juga sebagai produk atau konstruksi social, maka dengan demikian pendidikan juga memiliki andil bagi terbentuknya relasi gender dimasyarakat. Pendidikan memang harus menyentuh kebutuhan dan relevan dengan tuntutan zaman, yaitu kualitas yang memiliki keimanan dan hidup dalam ketaqwaan yang kokoh, mengenali, menghayati dan menerapkan akar budaya bangsa berwawasan luas dan komprehensif, menguasai ilmu pengetahuan, dan keterampilan mutakhir, mampu mengantisipasi arah perkembangan, berfikir secra analitik, terbuka pada hal-hal baru, mandiri, selektif, mempunyai kepedulian social yang tinggi, dan bisa meningkatkan prestasi. Perempuan dalam pendidikannya juga diarahkan agar mendapatkan kualifikasi tersebut sesuai dengan taraf kemampuan dan minatnya14.

Seperti dalam prinsip pendidikan emansipatori, yang mana sepatutnya memperlakukan masyarakat : laki-laki, perempuan, kaya atau miskin untuk berperan setara dan bertujuan untuk memperbaiki kehidupan dan memperluas pilihan masyarakat (Streeten, 1995). Perbaikan kondisi dan perluasan pilihan itu diharapkan dapat memberikan akses yang sama bagi semua orang keberbagai kesempatan untuk memberbesar pilihan hidup mereka, dapat memberikan suatu kerangka untuk memahami bagaimana system ekonomi, social, lingkungan, dan pemerintah berinteraksi , serta mengkaji trade-offs diantara berbagai subsistem itu, serta dapat mengoptimalkan produktivitasnya melalui investasi dalam pembangunan ekonomi makro menuju peraihan potensinya yang optimal. Atas dasar itu masyarakat dapat menentukan pilihannya sendiri secara otonom.

Untuk mengembangkan masyarakat, ada beberapa prinsip yang harus ditumbuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan emansipatori :

1. Pemerataan atau keselaraan (equity), prinsip ini menganduk  makna suatu kesamaan dan kesetaraan dalam pemanfaatan

setiap kesempatan. Dalam bidang pendidikan kesempatan harus diberikan yang sama kepada rakyat kecil, kaum perempuan, kelompok dewasa dan tua, masyarakat ditempat terpencil, suku terasing, etnis minoritas dan yang lainnya.

2. Berkelanjutan (subtainability), prinsip dasar pembangunan berkelanjutan menurut World Comission on Environment and

Development (1987) bahwa generasi sekarang harus memenuhi

kebutuhannya tampa mengorbankan kemampuan generasi-gemerasi yang akan dating untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pendidikan emansipasi untuk masyarakat harus diselenggarakan secara berkelanjutan antar generasi.

3. Produktivitas (productivity), pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat harus menghasilkan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kemajuan masyarakatnya melalui investasi dalam pembangunan manusia yang memungkinkan manusia meraih potensi optimalnya.

4. Pemberdayaan (empowerment). Pemberdayaan berarti memberikan kesempatan kepada individu untuk berprestasi aktifdalam setiap ikhtiar pembangunan sekaligus upaya pembelajaran masyarakat dalam proses pengembangan diri, memberikan kesmpatan pada masing-masing warga masyarakat untuk berkembang sesuai dengan daya kemampuannya15.

Dengan demikian, departemen pendidikan melakuakn perubahan pada kurikulum dan rupanya sudah terakomodasi dalam kurikulum 2004 tinggal bagaimana mengaplikasikannya dalam bahan ajar terutama isu gender meskipun pada kenyataannya masih membawa dampak bias gender dalam masyarakat yang masih berakibat pada kurang optimalnya sumberdaya manusia yang optimal yang unggul disegala bidang tampa memandang jenis kelamin. Dengan demikian, pendidikan seharusnya memberikan mata pelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat setiap individu perempuan, bukan hanya diarahkan pada pendidikan agama dan ekonomi rumah tangga , melainkan juga masalah pertanian, dan keterampilan lainnya. Pendidikan dan bantuan terhadap perempuan dalam semua bidang tersebut akan menjadikan nilai amat besar dan merupakan langkah awal untuk memperjuangkan persamaan sesungguhnya16.

 

15 Eti Nurhayati, Psikologi Perempuan dalam berbagai perspektif, hal. 171-177. 16 Daryo Sumanto, Isu Gender dalam Bahan Ajar, (Jakarta: Akses Internet, 2004),  hal.1-49.

E. Tujuan Pendidikan Berprespektif gender

Tujuan dari pendidikan berperspektif gender di antaranya:

1. Mempunyai akses yang sama dalam pendidikan, misalnya, anak pria dan wanita mendapat hak yang sama untuk dapat mengikuti pendidikan sampai ke jenjang pendidikan formal tertentu. Tentu tidaklah adil, jika dalam era global sekarang ini menomorduakan pendidikan bagi wanita, apalagi kalau anak wanita mempunyai kemampuan. Pemikiran yang memandang bahwa wanita merupakan tenaga kerja di sektor domestik (pekerjaan urusan rumah tangga) sehingga tidak perlu diberikan pendidikan formal yang lebih tinggi, merupakan pemikiran yang keliru.

2. Kewajiban yang sama , umpamanya seorang laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai kewajiban untuk mencari ilmu. Sejalan dengan hadits nabi “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

3. Persamaan kedudukan dan peranan, contohnya baik pria maupun wanita sama-sama berkedudukan sebagai subjek atau pelaku pembangunan. kedudukan pria dan wanita sebagai subjek pembangunan mempunyai peranan yang sama dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan menikmati hasil pembangunan. Akhirnya berkaitan dengan persamaan kesempatan17.

Dapat diambil contoh, jika ada dua orang guru yakni seorang pria dan seorang wanita sama-sama memenuhi syarat, keduanya mempunyai kesempatan yang sama untuk mengisi lowongan sebagai Dekan atau Ka.Prodi. Wanita tidak dapat dinomorduakan semata-mata karena dia seorang wanita. Pandangan bahwa pemimpin itu harus seorang pria merupakan pandangan yang keliru dan perlu ditinggalkan. Pendidikan berperspektif gender barulah akan memberikan hasil secara lebih memuaskan, jika dilaksanakan oleh seluruh kalangan masyarakat, mulai dari yang tergabung dalam lembaga pendidikan formal maupun non formal, instansi pemerintah, swasta seperti organisasi profesi, organisasi sosial, organisasi politik, organisasi keagamaan dan lain-lain sampai pada unit yang terkecil yaitu keluarga. Pembangunan di bidang pendidikan misalnya, kalau perencanaannya, pelaksanaannya atau pelayanannya, pemantauannya dan evaluasinya sudah berwawasan gender, maka dapat dipastikan bahwa pendidikan yang baik dapat dinikmati oleh baik laki-laki maupun perempuan. Demikian pula pembangunan di bidang-bidang yang lainnya.

 

17 Modul, Evaluasi Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Di Sektor Pendidikan, Direktorat Kependudukan dan Pemberdayaan Perempuan Bappenas bekerja sama dengan CIDA melalui Women’s Support Project Phase II. hlm. 29. 

F. Kesimpulan

Sebagaimana yang kita ketahui pendidikan adalah suatu kebutuhan pokok manusia, baik itu pendidikan formal ataupun informal, pendidikan sangat berperan penting bagi seorang manusia, baik itu laki-laki ataupun perempuan, karena manusia sudah berhak mendapatkan pendidikan semenjak dia didalam kandungan sang ibu, untuk bekal mereka kelak dalam menjalani kehidupan. Jadi sangatlah tidak adil jika dalam pendidikan adanya pendiskriminasian terhadap salah satu pihak yang akan dirugikan pada masyarakat dalam kesempatan untuk meraih berbagai ilmu pengetahuan dalam segala bidang sesuai dengan minat individu. Maka dari itu, dengan adanya kesetaraan gender dalam pendidikan hendaknya bisa membantu para partisipan dalam dunia pendidikan bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakat seoptimal mungkin, sehingga tidak adanya keterbelakangan, akhlaq, pengetahuan, pola berfikir yang mengakibatkan banyaknya ketimpangan-ketimpangan gender dalam pendidikan.

Melalui pendidikan juga bisa dijadikan sebagai wasilah untuk merobah mitos yang telah mendarah daging didalam kehidupan masyarakat kita tentang gender. Baik itu dalam pengembangak kurikulum yang ada, dan dalam proses belajar mengajar ataupun materi dengan contoh kegiatan praktek yang begitu membedakan kemampuan mereka antara siswa laki-laki dan perempuan

DAFTAR PUSTAKA

Aly, Hery Noer. Munzier, Et, al, Watak pendidikan islam, Jakarta: Friska Agung Insani, 2003.

Darajat, Zakiah, Ilmu pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996. Engineer, Asghar Ali, Hak-hak Perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi

dan Cici Farkha Assegaf, Yogyakarta: Lembaga study Pengembangan Perempuan dan Anak, 1994.

Hamdani, Dasar-dasar Kependidikan, Bandung : Pustaka Setia, 2011. Modul, Evaluasi Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Di Sektor

Pendidikan, Direktorat Kependudukan dan Pemberdayaan

Perempuan Bappenas bekerja sama dengan CIDA melalui Women’s

Support Project Phase II. hlm. 29.

Murniati, A. Nunuk P., Getar Gender, Magelang: Indonesia Tera, 2004. Purwati, Eni dan Hanun Asrohah, Bias Gender dalam Pendidikan Islam,

Surabaya: Alpha, 2005.

Nurhayati, Eti, Psikologi Perempuan dalam berbagai perspektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2012.

Roqib, Moh., Pendidikan Perempuan, Yogyakarta: Gama Media, 2003.. Sumanto, Daryo, Isu Gender dalam Bahan Ajar, Jakarta: Akses Internet,

2004.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Widanti, Agnes, Fatimah Usman, Belajar Gender, analisis : mengurai

ketimpangan gender dalam realitas masyarakat, Semarang : JGJ 

ILMU MUNASABAH SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Hendri Purbo Waseso1

Abstrak

Kajian dalam ulumul qur’an dapat dianggap sebagai kajian lama atau yang telah menyejarah dalam perjalanan umat Islam. Mendekati kajian-kajian tersebut dari prespektif yang berbeda dapat memproduksi pengetahuan baru. Melalui kontekstualisasi, seperti yang dilakukan oleh tokoh muslim kontemporer seperti Muhammad Abduh dengan tafsir rasionalnya, Nasr Hamid dengan kajian tekstualitas al-Qur’annya dan sederet tokoh lainnya, agaknya tidak mustahil jika kajian dalam ulumul qur’an dianalisa relevansi dan kontekstualisasinya dengan pendidikan Islam.

Analisa yang digunakan dalam tulisan ini melalui pendekatan hermenutika yaitu, mencari dalalah dalam ilmu munasabah sampai kemudian ditemukan maghza nya dalam konteks pendidikan Islam. Hasilnya adalah bahwa ilmu munasabah dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pendidikan Islam.

Kata kunci: Ilmu Munasabah, Pendidikan Islam. Abstract

Studies in Ulumul quran can be considered as the study of old or who have been historically the way Muslims. Approaching these studies from a different perspective can produce new knowledge. Through contextualization, as practiced by contemporary Muslim figures such as Muhammad Abduh with rational interpretation, Nasr Hamid with textuality al-Quran studies and a series of other figures, it seems not impossible if the studies in Ulumul quran analyzed the relevance and kontekstualisasinya with Islamic education.

Analysis used in this writing approach in hermenutika that is, looking for dalalah in the science of munasabah to later found maghza his in the context of islamic education.The result is that the science munasabah can be used as this approach in islamic education.

Keywords: the science munasabah, islamic education.

 

1 Penulis adalah Dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UNSIQ Jawa  Tengah

A. Latar Belakang Masalah

Al Qur’an merupakan kitab suci sekaligus sumber ilmu bagi umat Islam. Didalamnya terdapat himpunan ayat-ayat dan surat-surat yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw dari Allah Swt melalui malaikat jibril secara bertahap. Pada masa khalifah Usman, muncullah kebijakan tentang dibukukannya al Qur’an. Dalam proses tersebut, terdapat berbagai perdebatan dari berbagai kalangan sahabat. Salah satu sebabnya adalah karena beragamnya bacaan (qira’at) al-Qur’an yang menurut pendapat yang masyhur ada tujuh macam. Salah satu sahabat yang pernah menentang usaha khalifah usman dalam pembukuan al-Qur’an adalah Ibnu Mas’ud.2 Dan bacaan selain mushaf usmani pun banyak yang dianggap tidak “sah” diantaranya mushaf Ubay bin Ka’ab, mushaf Abdullah bin Abbas, Mushaf Ali bin Abi Thalib, Mushaf Abdullah bin Umar, mushaf Hafshah, mushaf Ummi Salamah, mushaf Abdullah bin Zubair, mushaf Aisyah dan lain sebagainya.3 Pengesahan mushaf usmani tersebut yang menjadi rujukan umat muslim sekarang merupakan sejarah awal perjalanan dari unifikasi kitab suci al-Qur’an. Dan keragaman qira’at selanjutnya juga berkembang pada banyaknya penafsiran yang muncul. Baik penafsiran yang dilihat dari teks maupun makna dari teks al-Qur’an.

Dari prespektif sejarah, munculnya ulumul qur’an pada akhir abad ke 3 hijriah merupakan usaha para ilmuwan muslim untuk merespon masalah-masalah yang muncul di masyarakat pada waktu itu yang digunakan untuk mempermudah memahami pesan-pesan al-Qur’an. Masalah-masalah tersebut menjadi sebab munculnya kajian dalam ulumul qur’an seperti asbabun nuzul, makki maddani,

‘am khas, nasakh mansukh, muhkam mutasyabih, munasabah dan

pembahasan pokok lainnya.

Kajian dalam ulumul qur’an tersebut dapat dianggap sebagai kajian lama atau yang telah menyejarah dalam perjalanan umat Islam. Akan tetapi sekarang bukanlah persoalan lama-barunya, melainkan bagaimana kita mendekati kajian-kajian tersebut dari prespektif yang berbeda dan dapat dikontekstualisasikan. Seperti yang dilakukan oleh tokoh muslim kontemporer seperti Muhammad Abduh dengan tafsir rasionalnya, Nasr Hamid dengan kajian tekstualitas al-Qur’annya dan sederet tokoh lainnya. Karena itu, penulis tertarik untuk mengulas ulang atau mendeskripsikan kembali konsep munasabah menurut berbagai pendapat dan berusaha untuk mencari benang merah antara munasabah dan kajian pendidikan Islam. Pertanyaannya sekarang adalah

 

2 Ignaz Goldziher, Mazhab Tafsir (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2006), hlm. x. 3 Ibid 

31 munasabah dalam prespektif pendidikan Islam itu lebih tepatnya diposisikan dimana? Pertanyaan tersebut akan menjadi tantangan tersendiri bagi penulis. Selain hal tersebut, kemunculan istilah munasabah dan konsepnya dalam kajian ilmu-ilmu al-Qur’an juga akan dijelaskan dalam tulisan ini.

B. Kemunculan Istilah Munasabah

Secara logika, munasabah sebenarnya telah muncul ketika al-Qur’an mulai dibukukan. Akan tetapi istilah ini belum berdiri sendiri sebagai cabang ilmu dalam Ulumul Qur’an. Ketika al-Qur’an dibukukan, dalam bagaimana mengurutkan satu ayat ke ayat lain atau antar surat adalah salah satu bukti dimana para sahabat mengurutkan ayatnya tidak mungkin serampangan. Ada dua pendapat tentang keterkaitan antar ayat dan surat dalam al-Qur’an yang sampai pada kita sekarang yaitu pertama, tauqifi, artinya tertibnya ayat dan surat dalam al-Qur’an adalah sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Pendapat ini berdasarkan pada Ijma’ sahabat terhadap mushaf Utsman. Ijma’ ini tak akan mungkin terjadi kecuali kalau tertib itu tauqifi, seandainya bersifat ijtihadi, niscaya pemilik

mushaf lainnya akan berpegang teguh pada mushafnya.

Kedua ijtihadi, artinya munasabah dihasilkan melalui ijtihad para sahabat. Hal ini disebabkan karena tidak ada petunjuk langsung dari Rasulullah tentang tertib surah dalam Al-Quran. Sahabat juga pernah mendengar Rasul membaca Al-Quran berbeda dengan susunan surah sekarang, hal ini di buktikan dengan munculnya empat buah mushaf dari kalangan sahabat yang berbeda susunannya antara yang satu dengan yang lainnya. Yaitu mushaf Ali, mushaf

‘Ubay, mushaf Ibn Mas’ud, mushaf Ibnu Abbas. Mushaf yang ada pada

catatan sahabat berbeda-beda ini juga menunjukkan bahwa susunan surah tidak ada petunjuk resmi dari Rasul.4 Sampai sekarang ada tidaknya konsep munasabah masih menjadi perbincangan yang menarik dalam wacana seputar Ulumul Qur’an.

C. Ilmu Munasabah

Munasabah sebagai ilmu atau yang juga disebut dengan “Tanasubil Aayati Wassuwari” pertama kali di cetus oleh Imam Abu Bakar An-Naisaburi (w.324 H)5. Menurut bahasa Munasabah berasal dari kata ةبسانم بساني بسان yang berarti dekat, serupa, mirip, dan rapat. ةبسانملا sama artinya dengan ةبراقملا yakni mendekatkannya dan menyesuaikannya.; بيسنلا artinya لصتملا بيرقلا(dekat dan

berkaitan). Misalnya, dua orang bersaudara dan anak paman. Ini

 

4 Abu Anwar, Ulumul Quran: Sebuah Pengantar, (Jakarta: Amzah, 2005) hlm. 61 5 Ahmad Syafei, Tafsir Sebuah Pengantar, (Bandung: Pustaka Setia, 2003) hlm 36 

terwujud apabila kedua-duanya saling berdekatan dalam artian ada ikatan atau hubungan antara kedua-duanya. An-Nasib juga berarti

Ar-Rabith, yakni ikatan, pertalian, hubungan.6

Sedangkan dalam pengertian secara istilah, terdapat beberapa macam pendapat dari para ulama, antara lain, Manna’ Khalil al-Qattan, bahwa segi-segi hubungan antara satu kata dengan kata yang lain dalam satu ayat, antar satu ayat dengan ayat lain, atau antar satu surat dengan surat yang lain. Sedangkan Hasbi al-Shiddiqie memandang bahwa munasabah hanya terbatas pada hubungan antar ayat. Dan al-Baghawi menyamakan munasabah dengan ta’wil. Serta Badruddin al-Zarkasyi dan al-Suyuthiy mengemukakan bahwa, munasabah mencakup hubungan antar ayat dan antar surat.7

D. Macam-macam Munasabah dan Ayat-ayatnya

Ditinjau dari sifatnya, munasabah terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Zhahirul Irtibath

Artinya munasabah ini terjadi karena bagian al-Qur’an yang satu dengan yang lain nampak jelas dan kuat disebabkan kuatnya kaitan kalimat yang satu dengan yang lain. Deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu terkadang, ayat yang satu berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelas, pengecualian, atau pembatas dengan ayat yang lain. Sehingga semua ayat menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. Sebagai contoh, adalah hubungan antara ayat 1 dan 2 dari surat al-Isra’, yang menjelaskan tentang di-isra’-kannya Nabi Muhammad saw, dan diikuti oleh keterangan tentang diturunkannya Tarurat kepada Nabi Musa as. Dari kedua ayat tersebut nampak jelas bahwa keduanya memberikan keterangan tentang

Gambar

Gambar 1. alur analisis model interaktif Miles & Huberman  Hasil Penelitian dan Pembahasan
Gambar Piramida Kepemimpinan Mutu

Referensi

Dokumen terkait

Al-Shinqi>t}i berbeda pendapat dengan imam Ma>lik dalam kitab tafsir Ad}wa>’ al-baya>n lebih dari 120 masalah bahkan dia mengomentari pendapat imam