MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 62/PUU-XII/2014
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2012
TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA
DEWANPERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN
DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
(I)
J A K A R T A
RABU, 27 AGUSTUS 2014
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 62/PUU-XII/2014 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan
Umum Anggota Dewanperwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [Pasal 142 ayat (2)] terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON 1. Suhendar 2. Yayat Ruhiyat 3. Yudi Yuspar, dkk., ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Rabu, 27 Agustus 2014, Pukul 14.13 – 15.13WIB
Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Aswanto (Ketua)
2) Arief Hidayat (Anggota)
3) Muhammad Alim (Anggota)
Pihak yang Hadir: A. Pemohon: 1. Suhendar 2. Yayat Ruhiyat 3. Yudi Yuspar 4. Wahyu
B. Kuasa Hukum Pemohon: 1. Rafael Situmorang
2. Asri Vidya Dewi 3. Sastrianta Sembiring 4. Ahmad Jamaludin
1. KETUA: ASWANTO
Sidang Perkara Nomor 62/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Saudara Pemohon, bisa diperkenalkan siapa yang hadir?
2. KUASA HUKUM PEMOHON: RAFAEL SITUMORANG
Terima kasih, Yang Mulia. Yang hadir kali ini, kami dari tim advikasinya ada 4 orang, saya perkenalkan satu per satu. Saya sendiri bernama Rafael Situmorang, kemudian sebelah saya Asri Vidya Dewi, sebelah kanan saya … sebelah kanan lagi Sastr … Sastrianta Sembiring, yang paling ujung Ahmad Jamaludin, kemudian juga ada Prinsipal kami, Yang Mulia.
3. KETUA: ASWANTO
Baik.
4. KUASA HUKUM PEMOHON: RAFAEL SITUMORANG
Ada Pak Suhendar, Pak Yayat, Pak Wahyu, kemudian Pak Yudi dan Pak Edi, Yang Mulia.
5. KETUA: ASWANTO
Baik, cukup ya?
6. KUASA HUKUM PEMOHON: RAFAEL SITUMORANG
Ya.
7. KETUA: ASWANTO
Baik. Pemeriksaan kita pada hari ini adalah pemeriksaan pendahuluan, sebagaimana Saudara tahu bahwa pada pemeriksaan pendahuluan itu Para Hakim akan memberikan saran-saran kepada
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.13 WIB
Pemohon. Namun, sebelum Beliau-Beliau menyampaikan saran-sarannya, saya persilakan Saudara untuk menyampaikan pokok-pokok dari permohonan Saudara, silakan.
8. KUASA HUKUM PEMOHON: RAFAEL SITUMORANG
Terima kasih, Yang Mulia. Kami hanya membacakan pokok-pokoknya saja. Langsung pendahuluan. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Bunyi Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang merupakan (suara tidak terdengar jelas) priambul alinea keempat yaitu sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Yang mengamanatkan bahwa dalam diri setiap orang melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang haris dijunjung tinggi, amanat Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ayat … Pasal 28I ayat (2) tersebut memberikan tataran penting. Pertama bahwa setiap orang berhak terbebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif. Kedua, negara menjamin hak asasi setiap orang tanpa diskriminasi bahwa negara menjamin hak asasi tiap-tiap warga negaranya termasuk perlindungan terhadap hak orang penyandang disabilitas yang merupakan hak asasi.
Langsung kami ke Pasal … halaman 4, Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 berbunyi, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Ini batu ujinya, Yang Mulia. Kami langsung ke halaman 6, langsung ke Pasal yang kami uji, Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu tidak memiliki kepastian hukum pembatasan dan penafsiran yang jelas bahwa Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu, dapat ditafsirkan bermacam-macam, luas, dan semaunya saja oleh lembaga negara penyelenggara pemilu. Padahal penyandang cacat disabilitas khususnya tuna netra hanya bisa membaca melalui huruf braille.
Berdasarkan apa yang telah disampaikan di atas, maka jelas dan berdasarkan hukum demi tegaknya amanat konstitusi di atas, dilakukan uji materi terhadap Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu yang terbukti dengan meyakinkan bertentangan dengan amanat konstitusi Pasal 28I ayat (2), Pasal 28E ayat (2), dan Pasal 28J ayat (1).
Tentang kewenangan kami tidak akan bacakan, Yang Mulia, kami anggap dibacakan.
Kemudian tentang legal standing, Yang Mulia. Bahwa Para Pemohon adalah penyanadang disabilitas tuna netra yang mewakili organisasi tuna netra sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) huruf c
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Bahwa … nomor 2 bahwa Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menyatakan, “Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu. a. Perorangan (WNI).
b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.
c. Badan Hukum publik dan privat atau lembaga negara.”
Sementara itu, Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 6/PUU-III/2005 telah memberikan penjelasan mengenai hak konstitusional dan kerugian konstitusional, sebagai berikut.
1. Adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
2. Bahwa hak konstitusional Pemohon dianggap oleh Para Pemohon telah dirugikan oleh suatu undang-undang yang diuji.
3. Kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi.
4. Adanya hubungan sebab akibat atau causal verban antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang dmohonkan untuk diuji.
5. Adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang di dalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
Langsung butir 6. Bahwa dengan adanya … nomor 5, Yang Mulia. Bahwa pada bulan Februari 2014 Komisioner KPU, Arief Budiman menyatakan dalam siaran persnya tentang tidak adanya template braille dalam pemilu calon anggota legislatif untuk DPR RI, DPRD, dan provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.
Bahwa dengan adanya pernyataan dari komisioner KPU tersebut bahwa Para Pemohon mengirimkan surat kepada KPU pada tanggal 12 Maret 2014 untuk mendapatkan informasi. Bahwa pada tanggal 4 April 2014, KPU kemudian menyampaikan jawaban surat dengan Nomor 287/KPU/IV/2014 perihal Informasi Pendamping dan Alat Bantu bagi Tuna netra.
8. Bahwa dalam surat yang disampaikan oleh KPU menyatakan alasan tidak dibuatnya template braille dalam Pemilihan Umum Legislatif 2014 adalah karena secara teknis sulit dilakukan karena lebar kolom nama anggota DPR atau DPD dalam bentuk huruf braille.
Bahwa alasan teknis tersebut sungguh mengabaikan hak konstitusional rakyat penyandang disabilitas tuna netra yang seharusnya mendapatkan perlindungan negara yang menjamin hak suaranya secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil dalam melaksanakan kedaulatannya.
10. Bahwa ketidakjelasan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam oleh lembaga negara penyelenggara pemilu, dalam hal ini adalah KPU.
Bahwa Para Pemohon adalah warga negara Indonesia, penyandang cacat disabilitas tunanetra yang merasa hak konstitusional secara nyata dirugikan. Para Pemohon harus kehilangan hak pilihnya dalam Pemilu Legislatif Tahun 2014 akibat tidak adanya kejelasan alat bantu dalam Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012.
Pokok permohonan.
a. Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu menimbulkan ketidakpastian hukum dan multitafsir, sehingga memberikan peluang lembaga negara penyelenggara pemilu bertindak tanpa memperhatikan keadaan penyandang disabilitas tuna netra. Bahwa Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu
berbunyi, “Selain perlengkapan pemungutan suara
sebagaimana dimaksud ayat (1) untuk menjaga kerahasiaan dan kelancaran pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara diperlukan dukungan perlengkapan lainnya.” Bahwa kerahasiaan adalah asas penting bagi rakyat untuk memilih wakil-wakilnya yang juga merupakan penyaluran hak asasi warga negara yang prinsipal. Dalam rangka pelaksanaan hak asasi warga negara adalah keharusan bagi penyelenggara pemilu untuk menjamin terlaksananya penyelenggaraan pemilu dengan prinsip kerahasiaan. Bahwa dengan dukungan perlengkapan perangkat pemilu tidak secara konkret disebutkan untuk mendukung penyandang disabilitas, khususnya tuna netra dalam memenuhi hak pilihnya, yaitu template braille, sehingga penyelenggara pemilu menafsirkan perangkat dan perlengkapan pemilu untuk penyandang disabilitas tidak sesuai dengan kebutuhan yang paling prinsip. Nomor 5, langsung, Yang Mulia. Bahwasanya Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu memiliki kepastian hukum dapat ditafsirkan secara jelas dan memiliki garis yang tegas. Alat bantu tuna netra adalah template braille, maka kejadian yang dialami oleh Pemohon tentu tidak akan sampai terjadi. Bahwa kesalahan lembaga negara penyelenggara pemilu dalam menerapkan Pasal 142 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu akibat salah menafsirkan dan adanya ketidakpastian hukum dari Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu. Oleh karenanya ke depan harus dihentikan agar tidak terulang kembali.
Bahwa untuk mengatasi ketidakpastian hukum dan multitafsir Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Para Pemohon memohon kepada Mahkamah Konstitusi untuk
memberikan tafsir atas Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu agar menjadi konstitusional dan memberikan batasan penafsiran agar tidak terjadi inkonstitusionalitas.
Bahwa dengan demikian Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu adalah conditionally unconstitutional (inkonstitusional bersyarat) jika tidak ditafsirkan bahwa alat bantu tuna netra template braille, sehingga penyandang disabilitas tuna netra dapat menggunakan hak pilihnya secara langsung, umum, bebas, rahasia, dan jujur, dan adil.
9. KUASA HUKUM PEMOHON: ASRI VIDYA DEWI
Saya lanjutkan, Yang Mulia. 10. KETUA: ASWANTO
Ya, pokok-pokoknya saja, ya.
11. KUASA HUKUM PEMOHON: ASRI VIDYA DEWI
Ya. Tentang persoalan Penjelasan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum tentang alat bantu yang mengesampingkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, dalam hal kerahasiaan memilih bagi penyandang disabilitas tuna netra. 1. Bahwa Penjelasan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2012 tentang Pemilu menurut penjelasannya adalah sebagai berikut. Yang dimaksud dengan dukungan perlengkapan lainnya meliputi sampul kertas, tanda pengenal KPPS/KPPSLN, tanda pengenal petugas keamanan, TPS/TPSLN, tanda pengenal saksi, karet pengikat, surat suara, lem, perekat, kantong plastik, bolpoin, gembok, spidol, formulir untuk Berita Acara dan sertifikat, stiker nomor kotak suara, tali pengikat, alat pemberi tanda pilihan, dan alat bantu tuna netra.
3. Bahwa Penjelasan dalam Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu tidak menjelaskan secara konkret apa yang dibutuhkan bagi penyandang disabilitas tuna netra, sehingga lembaga negara menyeleng … penyelenggara pemilu menafsirkan bermacam-macam dan mengesampingkan hal mendasar dari pemilihan umum, yakni kerahasiaan pemilih.
4. Bahwa penjelasan dalam Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu yang tidak konkret mengenai alat bantu tuna netra menyebabkan terhalangnya hak dari para penyandang disabilitas tunanetra untuk menggunakan hak pilihnya secara administratif dan teknis karena tidak adanya sarana penun … penunjang dan … dalam menyalurkan suaranya.
5. Bahwa penjelasan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu sangat berpotensi memberikan peluang bagi lembaga negara yang menyelenggarakan pemilu untuk menafsirkan semaunya tanpa landasan yang seharusnya guna memenuhi keadilan bagi penyandang disabilitas tuna netra sebagaimana penjelasan pasal ini tidak memuat tentang template braille.
6. Bahwa apabila penyandang disabilitas tuna netra yang memiliki hak pilihnya dalam setiap pemilu disediakan template braille dalam kertas suara, maka tidak menimbulkan kerugian pada masyarakat dan negara. Sedangkan ketidakjelasan mengenai alat bantu tuna netra dalam penjelasan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu mengeneralisir kemampuan fisik setiap warga negara yang memiliki hak pilih, maka akan membatasi hak pilih warga negara yang memiliki keterbatasan kemampuan fisik atau disabilitas.
7. Bahwa apabila penjelasan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum secara konkret dijelaskan alat bantu tuna netra adalah template braille diterapkan kepada penyandang disabilitas tuna netra, maka negara telah melindungi hak pilih warga negara yang memiliki keterbatasan kemampuan fisik.
Kemudian, permohonan kami dalam petitum, halaman 13. Berdasarkan uraian di atas, Para Pemohon dengan ini memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk memeriksa dan memutuskan permohonan uji materiil Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 terhadap Undang-Undang-Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai berikut.
1. Menerima dan mengabulkan seluruh permohonan pengujian undang-undang Para Pemohon.
2. Menyatakan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu bertentangan dengan Pasal 28I ayat (2), Pasal 28E ayat (2), dan Pasal 28J ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. 3. Menyatakan Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012
tentang Pemilu harus diberi tambahan frasa mengenai alat bantu
tuna netra dengan template braille.
4. Atau apabila Majelis Hakim Konstitusi berpendapat dan menganggap Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat dan berlaku, mohon agar Majelis Hakim Konstitusi dapat memberikan tafsir konstitusional terhadap Pasal 142 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu dengan menyatakan konstitusional bersyarat atau condition … conditionally constitutional diartikan untuk penyandang disabilitas tuna netra lembaga negara penyelenggara pemilihan umum menyediakan perlengkapan dan mendukung penyelenggara pemilihan umum dengan template braille.
5. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. Atau apabila Majelis Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya. Terima kasih.
12. KETUA: ASWANTO Baik, cukup, ya?
13. KUASA HUKUM PEMOHON: ASRI VIDYA DEWI Ya.
14. KETUA: ASWANTO
Jelas yang Saudara bacakan dan pada awal sidang tadi saya sudah menyampaikan bahwa agenda kita pada hari ini adalah pemeriksaan pendahuluan, agendanya adalah menyampaikan pokok-pokok permohonan, Saudara sudah sampaikan, dan sesudah ini Para Hakim Yang Mulia akan memberikan nasihat-nasihat terhadap permohonan Saudara ini.
Silakan!
15. KUASA HUKUM PEMOHON: RAFAEL SITUMORANG
Yang Mulia, mohon bila diizinkan, Prinsipal kami ingin menceritakan tentang kerugian konstitusionalnya, Yang Mulia.
16. KETUA: ASWANTO
Saya kira sudah jelas tadi, sudah cukup tadi. Sudah cukup tadi bahwa karena penyelenggara pemilu tidak melaksanakan ama … apa namanya … ketentuan yang ada pada Pasal 142 ayat (2) ya, ada alat bantu yang mestinya alat bantu yang dimaksud itu adalah apa … template braille, gitu ya. Tapi itu tidak dilaksanakan karena memang di undang-undang hanya menyampaikan, hanya me … di situ hanya tertulis alat bantu tanpa ada kejelasan lebih lanjut alat bantu yang dimaksud adalah alat bantu apa, gitu ya? Itu kan yang Saudara … baik, silakan, Yang Mulia!
17. HAKIM ANGGOTA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih, Yang Mulia Ketua. Saudara Pemohon, ini adalah kewajiban dari Hakim, dari Mahkamah untuk pada persidangan yang utama adalah memberikan saran atau nasihat perbaikan dari
permohonan ini, ya. Jadi, sifatnya wajib kita itu memberi tahu ya, atau menyarankan, atau memberikan nasihat untuk perbaikan permohonan. Dan hak dari Pemohon apakah itu mau memperbaiki atau tidak, itu hak dari Pemohon, ya. Jadi, sifatnya itu hak. Mau diperbaiki, boleh. Atau ini diteruskan juga boleh, tergantung pada Pemohon sendiri, tapi kita bertiga Majelis Panel ini berkewajiban untuk memberikan nasihat atau saran.
Yang pertama ... saya tidak banyak karena sudah melihat bahwa permohonan ini sebetulnya sudah cukup bagus ya, kalau kita baca, saya baca itu sudah cukup bagus. Ada beberapa saja yang perlu saya sampaikan. Yang pertama ada sementara itu pandangan yang begini, Pasal 142 itu harus dibaca dalam satu lafaz sampai yang terakhir diperlukan dukungan perlengkapan lainnya, ini masih belum jelas ternyata. Oleh pembentuk undang-undang kemudian diberi penjelasan,
Pasal 142 ayat (2) diberi penjelasan yang dimaksud dukungan
perlengkapan lainnya itu sudah dijelaskan secara rinci dan pada akhir anak kalimat itu juga sudah dijelaskan secara jelas dan alat bantu, ini khusus, alat bantu khusus disebutkan di situ, dan alat bantu untuk tuna netra, ini mestinya dari penjelasan pasal ini itu kemudian kita bisa menghubungkan lagi di Pasal 142 ayat (3), Saudara mungkin memotong 142 ayat (3). Ayat (3)-nya mengatakan begini, “Bentuk, ukuran, spesifikasi teknis, dan perlengkapan pemungutan suara lainnya diatur dengan peraturan KPU.”
Nah, ini mestinya dari situ itu KPU bisa menerjemahkan apa yang dimaksud dengan alat bantu tuna netra, bentuknya, ukurannya, spesifikasi teknis dalam rangka untuk pemungutan suara, khusus yang dilakukan oleh penyandang tuna netra, itu apa? Kalau orang itu menafsirkan Pasal 143 dengan jernih dalam hal ini penyelenggara pemilu menafsirkan dengan jernih, ya spesifikasi itu yang dimaksud seperti yang Anda kehendaki, yaitu template braille sepertinya itu, tapi saya tidak tahu kenapa penyelenggara pemilu tidak menafsirkan itu, gitu lho. Itu adalah kewenangan dari KPU, ditulis jelas di situ ya, di anak kalimat yang terakhir, “Diatur dengan peraturan KPU.”
Jadi bisa saja kita berpandangan yang salah itu bukan Pasal 142 ayat (2) dan penjelasannya begitu juga diikuti dengan Pasal 142 ayat (3), tapi yang salah adalah peraturan KPU-nya. Lah, kalau pendapat ini diikuti berarti yang salah itu bukan di tataran undang-undang, tapi yang salah di tataran putusan atau peraturan KPU ya, di PKPU nya peraturan KPU-nya yang salah. Lah, kalau peraturan KPU-nya yang salah. Judicial review tidak di Mahkamah Konstitusi, tapi judicial review-nya di Mahkamah Agung, itu pendapat yang pertama saya kasih pandangan. Tapi bisa juga menurut pandangan Saudara, tapi karena Saudara menurut saya memotong Pasal 143 ayat (3) ini, kita lihat di dalam permohonan Anda, Anda hanya mempermasalahkan Pasal 142 ayat (2) dan penjelasannya, tapi Saudara tidak mengikuti yang berikutnya Pasal
142 ayat (3)-nya. Tapi enggak masalah kalau toh Saudara masih tetap berkeyakinan berkesimpulan bahwa undang-undang itu, yang Pasal 142 itu menyebabkan itu karena Saudara enggak melihat ayat (3)-nya berarti yang salah di undang-undang itu dengan penjelasannya. Berarti Saudara memang tempatnya melakukan judicial review di sini. Lah, kalau melakukan judicial review di sini Saudara harus mengelaborasi lagi, mengeksplor lagi permohonan ini sehingga Saudara bisa menegasikan keberadaan ayat (3) dari Pasal 142, itu. Karena jelas di sini disebutkan, “Bentuk, ukuran, spesifikasi, teknis, perlengkapan pemungutan suara lainnya diatur dengan peraturan KPU.” Mestinya KPU-nya menerjemahkan alat bantu untuk saudara-saudara kita yang menyandang tuna netra harus diikuti dengan template braille. Jadi mungkin di situ letaknya ya.
Sekali lagi saya ulangi kesimpulannya, kalau Saudara masih tetap menganggap bahwa itu kekeliruan di Pasal 142 ayat (2) dan penjelasannya, maka di sini judicial reviewnya. Tapi kalau itu di sini, Saudara harus mampu untuk mengeksplore elaborasi dari permohonan ini. Supaya Majelis itu betul-betul yakin ya, bisa mengenyampingkan Pasal 143. Oh, ini salah memang begitu, Anda mampu menguraikan itu. Ya, makanya tadi saya sejak awal mengatakan kita harus membaca satu nafas, ayat (1) … 142 ayat (1), ayat (2), ayat (3) beserta dengan penjelasannya itu jangan dibaca sepotong tapi dibaca satu nafas. Kalau yang lain-lain saya kira sudah cukup bagus.
Kemudian yang terakhir untuk buktinya. Kalau memang mau tetap diteruskan. Buktinya Anda mengajukan P-1 sampai dengan P-4 ini masih kurang. Lazimnya di sini ada bukti Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan ada bukti undang-undang yang diajukan judicial reviewnya. Di sini baru kartu tanda penduduk, jawaban surat Komisi Pemilihan Umum, forum konfirmasi dari Forum Tuna Netra Menggugat, akta pendirian Organisasi Kemasyarakatan Kelompok Tuna Netra tapi yang utama itu landasan konstitusional atau istilah awamnya, batu ujinya belum menjadikan bukti dan yang diuji juga belum ada undang-undangnya. Ya, itu saja.
Terima kasih, saya kembalikan kepada Yang Mulia Ketua. 18. KETUA: ASWANTO
Baik, terima kasih, Yang Mulia. Selanjutnya, silakan, Yang Mulia Pak Dr. Alim.
19. HAKIM ANGGOTA: MUHAMMAD ALIM
Terima kasih, Yang Mulia Ketua. Pertama-tama dahulu kepada Pemohon, mohon maaf ya. Saya menyampaikan kesalahan tulis yang menurut saya dahulu. Nanti masuk kepada materinya.
Di dalam permohonan Anda, Anda menulis Para Pemohon dengan huruf besar. Ya, para kecil saja, Pemohonnya P-nya yang besar, enggak usah seluruhnya besar ya. Itu yang diperbaiki, nanti … nanti dilihatlah yang mana yang kalau mau diperbaiki. Kemudian di sini Anda tidak konsisten. Kata pemilu, huruf P-nya besar tapi yang lain-lain, tapi yang lain kok pemilihan umum ada yang … jadi seragam sekali saja pemilihan pemilu terus (pemilihan umum) dan seterusnya kan pakai pemilu misalnya gitu.
Kalau pemilu itu menurut aturan Bahasa Indonesia hanya huruf P-nya yang besar, huruf lainP-nya huruf kecil saja. Kemudian ada kata konkret, konkret itu kalau dalam Bahasa Indonesia di Kamus Bahasa Indonesia itu konkret tulisannya, inkonkreto, ya konkret. Jadi tidak … tidak ada konkretnya, tidak ada I nya. Bisa pakai g, bisa pakai k saja.
Kemudian di halaman 64 permohonan Anda. Kok ada quod non? (suara tidak terdengar jelas) itu kurang … kurang tepat itu. Kemudian (suara tidak terdengar jelas) negara kalau tidak di permulaan, jangan menjadi huruf besar. Sama juga warga negara, ndak usah huruf besar. Kasih seragamlah, warga negara huruf kecil saja. Celakanya, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum, undang-undangnya Anda tulis huruf kecil, padahal itu harus huruf besar itu. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang … ya, tentangnya yang biasa huruf kecil, tapi huurf besar juga ndak apa-apa, tentang pemilihan umum. Itu Anda … saya lihat di permohonan ini huruf kecil semua kok itu? Undang-undang itu lho, yang beri … diberi nama, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012. Negara huruf kecil. Huruf braille atau template braille itu nama jenis, ya. Jadi, sama dengan garam Inggris, itu nama jenis, Inggrisnya tidak boleh huruf besar. Pisang Ambon, itu nama jenis. Tembakau Madura, itu Maduranya ndak huruf besar. Jadi, template braille itu atau huruf braille itu braillenya kecil saja. Meskipun braille itu adalah penemu huruf-huruf itu, tetapi karena sudah menjadi nama jenis, tidak usah dihuruf besar lagi. Jadi, seperti garam Inggris, Inggrisnya tidak besar, jadi kecil saja. Pisang Ambon, Tembakau Madura, Tembakau Serintil, dan lain-lain, dan lain-lain. Itu nama jenis, dalam Bahasa Indonesia tidak … tidak perlu dihuruf besar, tuna netra juga.
Kemudian, ada hak uji, ya. Halaman 7 itu huruf kecil saja. Kemudian, ada halaman 6 angka 3, itu Anda menulis salah satu putusan … apa … salah sa … bukan, halaman 7 angka 3, itu ada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 006, tolong diberi tanggal, ya! Tanggalnya tidak ada. Di halaman 7 angka 3, di bawah itu lho. Sementara itu, Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 006, tanggal berapa itu nomornya itu … eh, putusan itu? Tolong diisikan, Nak.
Kemudian, huruf braille tadi. Para Pemohon, ya. Ah, ini yang … yang bingung saya ini, mohon maaf. Di … di petitum angka 4 dengan halaman 11 permohonan Anda, di halaman 11 itu angka 8, lihat dulu angka 8. Anda mengatakan, “Conditionally unconstitutional.” Berarti
tidak konstitusional atau secara bersyarat. Itu di halaman 8. Tapi di angka 4 petitum Anda, itu conditionally constitutional, tidak lagi unconstitutional. Itu harus … harus sejalan lho antara petitum atau posita dengan petitum harus sejalan. Jangan di sana unconstitutional, di sini kok constitutional. Jadi, kalau tidak constitutional, bagaimana sekali seragam itu? Kalau constitutional, ya sekali seragam. Jangan yang satu unconstitutional, yang lain constitutional. Jadi, satu constitutional … tidak constitutional bersyarat dan yang lain constitutional bersyarat. Jadi, itu tidak … tidak sejalan. Tolong diperbaiki. Itu jelas sekali di angka 4 permohonan Anda. Kemudian … eh, di petitum Anda.
Petitum pertama, menerima dan mengabulkan. Saya berulang kali mengatakan menerima, belum tentu mengabulkan. Kalau banding diterima karena syarat-syarat dipenuhi, belum tentu dikabulkan, malah dikuatkan putusan pengadilan negeri misalnya. Jadi, mengabulkan saja sudah cukup, berarti itu juga sudah menerima. Jadi, angka 1 itu mengabulkan seluruh permohonan pengujian undang-undang Para Pemohon.
Kemudian, petitum angka 2, itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, tidak usah disebut pasalnya lagi karena sudah dikatakan di depan bertentangan dengan ini, ini, ini. Katakan saja bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, berikutnya tidak mempunyak kekuatan hukum mengikat, kan begitu? Nah, jadi … jadi, yang kedua itu dikatakan saja bahwa Pasal 142 ayat (2) ini undang-undangnya huruf kecil ini Nomor 8 tentang Pemilihan Umum bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, itu kalau dalam petitum. Nah, kalau dalam uraian, ya disebutkan pasal ini lho
yang menjadi … Anda juga menggunakan kata batu uji. Itu tidak salah
sih, tapi kalau undang-undang … kalau Undang-Undang MK, mari saya bacakan. Itu pasal … Undang-Undang MK mengatakan, “Dasar pengujian.” Coba baca Pasal 60 ayat (2). Saya baca, “Ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) dapat dikecualikan jika materi muatan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang dijadikan dasar pengujian berbeda.” Jadi, batu uji itu di … di … oleh undang-undang disebut dasar pengujian. Sama dengan pasal … apa … Pasal 55, itu bisa Anda baca. Pasal 55 mengatakan, “Pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang yang sedang dilakukan di Mahkamah Agung wajib dihentikan apabila undang-undang yang menjadi dasar pengujian.” Jadi, dasar pengujian yang … yang dipakai oleh pembuat undang-undang. Tapi kalau Anda memakai batu uji juga itu tidak salah, cuma saya katakan kalau undang-undang mengatakan, Dasar pengujian,” ya.
Di halaman 12 permohonan Anda ini kurang bagus ini, mohon maaf ya. Kalau dalam Bahasa Indonesia tidak dipakai istilah itu, menggeneralis … menggeneralisir, menggeneralisasi yang ada di dalam kamus. Jadi, jangan menggeneralisir, memproklamirkan tidak,
memproklamasikan . itu jadi menggeneralisasi kemampuan fisik dan seterusnya. Barangkali itu dulu sementara, Pak Ketua, terima kasih. 20. KETUA: ASWANTO
Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Saudara Pemohon ya, banyak catatan-catatan. Saya ingin menambahkan sedikit, di dalam permohonan Saudara kan dinyatakan bahwa Pemohon ini mewakili organisasi tuna netra. Nah, kalau mewakili organisasi tuna netra, maka ya sebaiknya ada struktur organisasi, ada anggaran dasarnya organisasi, lalu apakah memang ada bukti bahwa Anda diminta untuk mewakili organisasi. Nah, itu perlu Saudara pikirkan kembali, ya.
Anda … ya, organisasi tuna netra ya. Perlu dukungan dokumen sebagai bukti bahwa … lalu kemudian … ya tadi, Yang Mulia Prof. Arief sudah menyampaikan bahwa jangan-jangan tempatnya tidak di sini, tempatnya di Mahkamah Agung. Karena kalau kita coba menyimak, tadi Beliau mengatakan, “Satu nafas kita membaca Pasal 142 mulai ayat (1), ayat (2) dan ayat (3).” Ya sebenarnya undang-undangnya sudah menjelaskan bahwa ada alat bantu untuk tuna netra. Apa itu alat bantu kan ndak mungkin orang, selama ini praktiknya kan ada petugas … ada petugas yang mendampingi, yang menuntun. Lalu, itu yang Anda katakan bahwa kalau itu kan kerahasiaannya, kerahasiaannya tidak dijamin, jangan sampai yang menuntun itu petugas di TPS, lalu dia membocorkan gitu. Walaupun ada aturan lebih lanjut kalau membocorkan itu pidana, gitu.
Nah, perlu Saudara kaji lebih jauh itu, bahkan kalau perlu coba lihat juga ketentuan di dalam Pasal 119 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu itu menjadi kewajiban KPU untuk me … apa namanya … mem-break down norma yang ada di dalam Undang-Undang Pemilu yang dianggap belum terlalu jelas, tadi Beliau sudah sampaikan.
Tolong Saudara nanti apa … renungkan itu, kaji lebih jauh dan sesuai dengan amanat undang-undang, kewajiban kami untuk memberikan nasihat, apakah Saudara akan menerima nasihat-nasihat itu, lalu kemudian dijadikan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan, itu adalah hak Saudara.
Menurut aturan, Saudara diberi kesempatan selama 14 hari ya, untuk melakukan perbaikan. Paling lama 14 hari. Jadi, kalau hari ini kita sidang pertama tanggal 27 Agustus 2014, maka 14 hari itu berarti tanggal 10 September, hari Rabu, 10 September 2014. Sebelumnya juga bisa, lebih cepat lebih bagus. Tapi, kalau belum sempat ya paling lambat tanggal 10 September 2014. Kalau sampai pada tanggal itu, lalu Saudara tidak melakukan perbaikan atau tidak memasukkan perbaikan, maka kalau Saudara mau lanjut kita menggunakan dokumen yang Saudara sudah serahkan pada sidang ini.
Masih ada yang Saudara akan kemukakan? Cukup? Baik, kalau cukup saya ingatkan lagi bahwa Anda punya kesempatan 14 hari untuk melakukan perbaikan, paling lambat ya, paling lambat 14 hari, tapi itu bukan … itu menjadi hak Saudara. Mau memperbaiki atau tidak, itu tergantung pada Saudara.
Nah, kalau tidak ada lagi yang Saudara akan kemukakan, sidang pada hari ini kita anggap selesai dan dinyatakan ditutup.
Jakarta, 28 Agustus 2014
Kepala Bagian Tata Usaha Kepaniteraan dan Risalah,
t.t.d.
Makhmudah
NIP. 19620419 199003 2 001 SIDANG DITUTUP PUKUL 15.13 WIB
KETUK PALU 3X
Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.