• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKURASI DIAGNOSTIK KOMBINASI TOTAL LYMPHOCYTE COUNT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "AKURASI DIAGNOSTIK KOMBINASI TOTAL LYMPHOCYTE COUNT"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

AKURASI DIAGNOSTIK KOMBINASI TOTAL

LYMPHOCYTE COUNT (TLC) DAN KADAR

HEMOGLOBIN UNTUK MEMPREDIKSI

IMUNODEFISIENSI BERAT PADA PENDERITA

TERINFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

(HIV) PRA TERAPI ANTIRETROVIRAL

NGAKAN KETUT WIRA SUASTIKA

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2013

TESIS

(2)

AKURASI DIAGNOSTIK KOMBINASI TOTAL

LYMPHOCYTE COUNT (TLC) DAN KADAR

HEMOGLOBIN UNTUK MEMPREDIKSI

IMUNODEFISIENSI BERAT PADA PENDERITA

TERINFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

(HIV) PRA TERAPI ANTIRETROVIRAL

NGAKAN KETUT WIRA SUASTIKA NIM. 1014048208

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

RINGKASAN ... x

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR SINGKATAN ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan Penelitian ... 6 1.3.1 Tujuan Umum ... 6 1.3.2 Tujuan Khusus ... 6 1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

2.1 Epidemiologi Kasus HIV di Dunia dan Indonesia ... 7

2.2 Anemia Pada Penderita Terinfeksi HIV ... 7

2.2.1 Epidemiologi ... 7

2.2.2 Etiologi ... 8

2.3 Dampak Anemia Pada Penderita Terinfeksi HIV ... 11

2.3.1 Dampak anemia terhadap kualitas hidup ... 11

2.3.2 Anemia dan survival ... 12

(4)

2.5 Aktivasi Imun Pada Infeksi HIV ... 17

2.6 Akivasi Imun dan Disregulasi Sitokin ... 19

2.7 Abnormalitas Eritropoesis Pada Infeksi HIV .... ... 24

2.7.1 Pengaruh inflamasi/aktivasi imun terhadap eritropoesis ... 25

2.7.2 Apoptosis sel progenitor eritroid, peranan Interferon-γ ... 29

2.7.3 Mekanisme IFN-γ menyebabkan apoptosis sel progenitor eritroid ... 32

2.8 Mekanisme Patogenesis Penurunan Jumlah Sel Limfosit T CD4+ ... 36

2.8.1 Aktivasi imun dan apoptosis sel limfosit T CD4+ (activation-induced cell death/apoptosis) ... 38

2.8.2 Apoptosis sel T CD4+, peranan Fas/APO-1/CD95 ... 41

2.9 Status Imun Pada Penderita Terinfeksi HIV ... 45

2.10 Total Lymphocyte Count (TLC) Sebagai Marker Pengganti (Surrogate Marker) Jumlah Limfosit T CD4+ Dalam Memulai Terapi ARV Pada Daerah Dengan Sumber Daya Terbatas (resource-limited settings) ... 47

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS ... 48

3.1 Kerangka Berpikir ... 48

3.2 Konsep ... 49

3.3 Hipotesis ... 50

BAB IV METODE PENELITIAN ... 51

4.1 Rancangan Penelitian ... 51

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 51

4.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 51

4.4 Populasi Penelitian ... 51

4.4.1 Populasi Target ... 51

4.4.2 Populasi Terjangkau ... 51

4.5 Sampel Penelitian ... 52

4.5.1 Teknik pengambilan sampel ... 52

4.5.2 Besar sampel ... 52

4.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 53

4.6.1 Kriteria Inklusi ... 53

(5)

4.7 Bahan dan Instrumen Penelitian ... 54

4.8 Alur Penelitian ... 55

4.9 Variabel Penelitian ... 55

4.9.1 Identifikasi variabel ... 55

4.9.2 Definisi operasional variabel ... 56

4.10 Analisis Data ... 60

BAB V HASIL PENELITIAN ... 63

BAB VI PEMBAHASAN ... 79

BAB VII SIMPULAN SARAN ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 99

(6)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Klasifikasi imunologis infeksi HIV menurut WHO ... 46

Tabel 4.1 Variabel dalam uji diagnostik ... 61

Tabel 5.1 Karakteristik Sampel ... 64

Tabel 5.2 Data Parameter Hematologi ... 65

Tabel 5.3 Frekuensi Leukopenia, Anemia, dan Trombositopenia ... 66

Tabel 5.4 Klasifikasi Kadar Hemoglobin dan Jumlah Limfosit CD4+ ... 66

Tabel 5.5 Frekuensi Anemia Menurut Klasifikasi Jumlah Limfosit CD4+ ... 68

Tabel 5.6 Korelasi Kadar Hemoglobin dan Parameter Lainnya dengan Jumlah Limfosit CD4+ ... 69

Tabel 5.7 Hasil Analisis Multivariat Regresi Linear Kadar Hemoglobin, Jumlah Limfosit CD4+, Infeksi Tuberkulosis, dan IMT ... 71

Tabel 5.8 Area Under Curve (AUC) TLC dalam Dalam Memprediksi Imunodefisiensi berat ... 75

Tabel 5.9 Analisis tabel 2x2 antara TLC dengan jumlah limfosit CD4+ ... 76

Tabel 5.10 Area Under Curve (AUC) Kombinasi TLC dan Kadar Hemoglobin dalam Dalam Memprediksi Imunodefisiensi berat... 77

Tabel 5.11 Analisis tabel 2x2 kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dengan jumlah limfosit CD4+ ... 78

(7)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Kurva Kaplan-Meier waktu kematian pada

penderita terinfeksi HIV dengan hemoglobin normal, anemia ringan, atau anemia berat

dalam penelitian EuroSIDA ... 13

Gambar 2.2 Gambaran proses eritropoesis normal ... 15

Gambar 2.3 Struktur hemoglobin ... 16

Gambar 2.4 Peningkatan aktivitas imun pada kondisi inflamasi mengakibatkan apoptosis sel eritroid progenitor ... 31

Gambar 2.5 Apoptosis (programmed cell death) pada infeksi HIV ... 40

Gambar 2.6 Apoptosis limfosit CD4+ yang dimediasi oleh Fas/APO-1 ... 43

Gambar 2.7 Model bagaimana mekanisme kerja sistem Fas/APO-1 - FasL/APO-1L dalam menimbulkan apoptosis ... 44

Gambar 3.1 Kerangkan Konsep Penelitian ... 49

Gambar 4.1 Alur penelitian ... 55

Gambar 5.1 Frekuensi Anemia Pada Sampel ... 67

Gambar 5.2 Frekuensi Sampel Berdasarkan Jumlah Limfosit CD4+ ... 68

Gambar 5.3 Grafik Scatter plot korelasi kadar hemoglobin dan jumlah limfosit CD4+. ... 69

Gambar 5.4 Kurva ROC variabel TLC dalam memprediksi jumlah Imunodefisiensi berat ... 75

Gambar 5.5 Kurva ROC kombinasi TLC dan Kadar Hemoglobin dalam Memprediksi jumlah Imunodefisiensi berat... 77

(8)

DAFTAR SINGKATAN

ACD : anemia on chronic disease

AIDS : Acquired immunodeficiency syndrome anti-Fas Mo-Ab : anti-Fas monoclonal antibody

APC : Antigen precenting cell

APO-1 : sel yang mengekspresikan reseptor APO-1 APO-1L : APO-1 ligand

ARV : antiretroviral

BFU-E : burst forming units-erythroid BMMC : bone marrow mononuclear cells CD4+ : Cluster of Diferrentiation 4

CDC : Department of health and human services Centers for Disease

Control and Prevention

CFU-E : colony forming units-erythroid ELISA : enzim-linked immunoabsorbent assay FACS : flow cytomery activated cell shorter scan FasL : Fas ligand

Fpn : ferroportin Gp120 : glikoprotein 120 HepC : hepcidin

HIV : Humman Immunodeficiency Virus HLA : Human leucocyte antigen

IFN-γ : Interferon-γ IL : Interleukin

LH+ : positive likelihood ratio LH- : negative likelihood ratio MCH : Mean corpuscular hemoglobin MCV : Mean corpuscular volume

MCHC : Mean corpuscular hemoglobin concentration MHC : Major histocompability complex

NPV : Negative predicted value

(9)

PPV : Positive predicted value

rhγEpo : recombinant human erythropoietin rhγIFN : recombinant human Interferon-γ SCF : stem cell factors

sTfr : soluble transferin receptor Tat : Trans-Activator transciption TB : Tuberkulosis

TCR : T- cells receptors TLC : Total lymphocyte count TNF-α : Tumour necrosis factor-α

UNAIDS : Joint United Nations Programme on HIV/AIDS WHO : World Health Organization

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran 1 Informed Concern ... 110

Lampiran 2 Formulir Persetujuan Tertulis ... 112

Lampiran 3 Formulir Penelitian ... 113

Lampiran 4 Daftar penyakit yang digolongkan dalam infeksi opportunistik pada infeksi HIV yang ditetapkan menurut CDC (1999) ... 115

Lampiran 5 Stadium Klinis Infeksi HIV menurut WHO ... 116

Lampiran 6 Data sheet SPSS ... 118

Lampiran 7 Output analisis data SPSS ... 123

Lampiran 8 Surat Keterangan Laik Etik (ethical clearance) ... 156

(11)

AKURASI DIAGNOSTIK KOMBINASI TOTAL

LYMPHOCYTE COUNT (TLC) DAN KADAR

HEMOGLOBIN UNTUK MEMPREDIKSI

IMUNODEFISIENSI BERAT PADA PENDERITA

TERINFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

(HIV) PRA TERAPI ANTIRETROVIRAL

Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister

Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik, Program Pascasarjana Universitas Udayana

NGAKAN KETUT WIRA SUASTIKA NIM. 1014048208

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(12)

Lembar Pengesahan

TESIS INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL 24 JUNI 2013

Mengetahui Pembimbing I

Prof. Dr. dr. K. Tuti Parwati Merati, SpPD-KPTI NIP 194812281979032001

Pembimbing II

Dr. dr. Ketut Suega, SpPD-KHOM NIP 195704061983121001

Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana

Universitas Udayana

Prof. Dr.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And. FAACS NIP 194612131971071001

Direktur Program Pascasarjana

Universitas Udayana

Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, SpS (K) NIP 195902151985102001

(13)

Tesis Ini Telah Diuji Pada Tanggal 24 Juni 2013

Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor

Universitas Udayana, No: 881/UN14.4/HK/2013 Tanggal 11 Juni 2013

Ketua : Prof. Dr. dr. K. Tuti Parwati Merati, SpPD-KPTI

Anggota :

1. Dr. dr. Ketut Suega, SpPD-KHOM

2. Prof. Dr. dr. Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro 3. Prof. dr. N. Tigeh Suryadhi, MPH, PhD

(14)

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya, tesis ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini ijinkanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. DR. dr. K. Tuti Parwati Merati, SpPD-KPTI, pembimbing utama yang telah memberikan dorongan, semangat, bimbingan, dan saran dalam penyelesaian tesis ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya pula penulis sampaikan kepada DR. dr. Ketut Suega, SpPD-KHOM, pembimbing II yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.

Ucapan yang sama juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana Prof. DR.dr. I Made Bakta, SpPD-KHOM atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister di Universitas Udayana. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Direktur Program Pascasarjana yang dijabat Prof. DR. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S (K) serta Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Prof. Dr.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And. FAACS atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program Magister pada Program Pasca sarjana Universitas Udayana. Tidak lupa penulis pula penulis mengucapkan terima kasih pada Prof. DR. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana atas ijin yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan Program Magister. Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Ketut Agus Somia, SpPD-KPTI; dr. Made Susila Utama, SpPD-KPTI; dr. A.A.A Yuli Gayatri, SpPD; dr. Dewi Dian Sukmawati, SpPD, staf Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud/RSUP Sanglah atas masukan, bimbingan, dorongan, dan bantuannya dalam penyusunan Tesis ini. Kepala Poliklinik VCT dan semua staf yang telah memberikan bantuan selama melakukan penelitian. Ungkapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada para penguji tesis, yaitu Prof. dr. N. Tigeh Suryadhi, MPH, PhD; Prof. Dr. dr. Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro; DR. dr. Ida Sri Iswari, SpMK, M.Kes, yang telah memberikan masukan, saran, sanggahan, dan koreksi sehingga tesis ini dapat terwujud seperti ini.

(15)

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus disertai penghargaan kepada seluruh guru-guru yang telah membimbing penulis, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Juga penulis ucapkan terima kasih kepada Ayah dan almarhum Ibu yang telah mengasuh dan membesarkan penulis. Seluruh Keluarga Besar Residen Interna atas kerjasama yang baik selama ini.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan dan penyelesaian tesis ini.

Denpasar, April 2013

(16)

ABSTRAK

AKURASI DIAGNOSTIK KOMBINASI TOTAL LYMPHOCYTE COUNT (TLC) DAN KADAR HEMOGLOBIN UNTUK MEMPREDIKSI IMUNODEFISIENSI BERAT PADA PENDERITA TERINFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) PRA TERAPI ANTIRETROVIRAL

Pemeriksaan jumlah limfosit CD4+ tidak selalu tersedia sehingga diperlukan penanda laboratorium sederhana yang dapat diperiksa pada daerah dengan sumber daya terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara kadar hemoglobin dengan jumlah limfosit T CD4+ dan mengetahui akurasi diagnostik kombinasi total

lymphocyte count (TLC) dan kadar hemoglobin untuk memprediksi imunodefisiensi

berat pada penderita terinfeksi HIV pra terapi ARV.

Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan potong lintang analitik. Untuk mengetahui korelasi antara kadar hemoglobin dan jumlah limfosit CD4+ digunakan uji korelasi Spearman. Untuk menentukan Cut off point kadar hemoglobin dalam memprediksi imunodefisiensi berat digunakan metode receiver

operator characteristic (ROC). Melalui uji diagnostik dengan metode analisis

multivariat berjenjang dapat dihitung akurasi diagnostik TLC sendiri serta kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dalam memprediksi imunodefisiensi berat.

Didapatkan korelasi positif kuat yang signifikan antara kadar hemoglobin dan jumlah limfosit CD4+ (r = 0,683; p < 0,001). Didapatkan cut off point kadar hemoglobin 12,2 gr/dl pada laki-laki dan 11,2 gr/dL pada perempuan dalam memprediksi imunodefisiensi berat. Dengan metode ROC didapatkan akurasi diagnostic TLC yang ditunjukkan oleh nilai area under curve (AUC) adalah sebesar 77,4% (IK 95% 68% – 86,7 %) sedangkan akurasi diagnostik kombinasi TLC dan kadar hemoglobin adalah sebesar 89,3% (IK 95% 83,2% - 95,5%) dalam memprediksi imunodefisiensi berat.

Kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dapat meningkatkan akurasi diagnostik TLC sendiri sebesar 11,9% dalam memprediksi imunodefisiensi berat pada penderita terinfeksi HIV sehingga dapat digunakan sebagai penanda pengganti (surrogate

marker) jumlah limfosit CD4+ dalam memulai terapi ARV pada daerah dimana pemeriksaan jumlah limfosit CD4+ atau viral load tidak tersedia.

Kata kunci: Hemoglobin, Total lymphocyte count (TLC), Jumlah limfosit CD4, akurasi diagnostik.

(17)

ABSTRACT

DIAGNOSTIC ACCURACY OF THE COMBINATION OF TOTAL LYMPHOCYTE COUNT (TLC) AND HEMOGLOBIN LEVEL FOR PREDICTING SEVERE IMMUNODEFICIENCY IN PATIENTS WITH HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) PRE ANTIRETROVIRAL

THERAPY

Examination of the CD4+ lymphocytes count is not always available, so we need a simple laboratory markers that can be examined in resource-limited areas. This study was aimed to determining the correlation between hemoglobin levels with CD4+ lymphocyte count and determining the diagnostic accuracy of the combination of total lymphocyte count (TLC) and hemoglobin levels for predicting severe immunodeficiency in HIV-infected patients pre ARV therapy.

This study was an observational study with analytic cross-sectional design. Spearman correlation test was used to determine the correlation between hemoglobin levels and CD4+ lymphocyte counts. Receiver operator characteristic (ROC) methode was used to determine hemoglobin level cut off point in predicting severe immunodeficiency. Diagnostic accuracy of TLC alone and combined TLC and hemoglobin levels in predicting severe immunodeficiency was calculated through a diagnostic test with multistep multivariate analysis methods.

A significant strong positive correlation was proved between hemoglobin levels and CD4+ lymphocyte count (r = 0.683, p <0.001). We found cut off point of hemoglobin level was 12.2 g/dl in male and 11.2 g/dL in female for predicting severe immunodeficiency. With the ROC method, diagnostic accuracy of TLC indicated by the value of area under the curve (AUC) was 77.4% (95% CI 68% - 86.7%), and the diagnostic accuracy of the combination of TLC and hemoglobin levels was 89.3% ( 95% CI 83.2% - 95.5%) in predicting severe immunodeficiency.

This study showed that a combination of TLC and hemoglobin levels can increase 11,9% of the diagnostic accuracy of TLC alone in predicting severe immunodeficiency in HIV-infected patients that can be used as a surrogate marker of CD4+ lymphocyte count in initiating antiretroviral therapy where the laboratory test for CD4+ lymphocyte count or viral load is not available. Key words: Hemoglobin, total lymphocyte count (TLC), CD4+ lymphocytes count, diagnostic accuracy.

(18)

RINGKASAN

AKURASI DIAGNOSTIK KOMBINASI TOTAL LYMPHOCYTE COUNT (TLC) DAN KADAR HEMOGLOBIN UNTUK MEMPREDIKSI IMUNODEFISIENSI BERAT PADA PENDERITA TERINFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) PRA TERAPI ANTIRETROVIRAL

Pemeriksaan jumlah limfosit CD4+ yang merupakan gold standar untuk memulai terapi ARV tidak selalu tersedia, sehingga diperlukan penanda laboratorium sederhana yang dapat diukur untuk menilai progresifitas penyakit pada sumber daya yang terbatas.

Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan potong lintang analitik untuk mengetahui korelasi antara kadar hemoglobin dengan jumlah total limfosit T CD4+. Dilanjutkan dengan uji diagnostik untuk mengetahui akurasi diagnostik kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dalam memprediksi imunodefisiensi berat pada penderita terinfeksi HIV.

Didapatkan korelasi positif kuat yang signifikan antara kadar hemoglobin dan jumlah limfosit CD4+ (r = 0,683; p < 0,001). Didapatkan cut off point kadar hemoglobin 12,2 gr/dl pada laki-laki dan 11,2 gr/dL pada perempuan dalam memprediksi imunodefisiensi berat. Dengan prosedur ROC didapatkan akurasi diagnostik TLC dalam memprediksi imunodefisiensi berat yang ditunjukkan oleh nilai

area under curve (AUC) adalah sebesar 77,4% (IK 95% 68,0% – 86,7 %) dengan

sensitifitas 59,5 %; spesifisitas 95,2%; PPV 98,1%; NVP 35,7%, LH+ 12,3; dan LH- 0,42. Sedangkan akurasi diagnostik kombinasi TLC dan kadar hemoglobin adalah sebesar 89,3% (IK 95% 83,2% - 95,5%) dengan sensitifitas 83,14 %; spesifisitas 90,47%, PPV 97,3%; NVP 55,8%; LH+ 8,7, dan LH- 0,18.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dapat meningkatkan akurasi diagnostik TLC sendiri sebesar 11,9% dan peningkatan sensitifitas dari 59,5% menjadi 83,1% dalam memprediksi imunodefisiensi berat pada penderita terinfeksi HIV. Jadi kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dapat digunakan sebagai penanda pengganti (surrogate marker) jumlah limfosit CD4+ dalam memulai terapi ARV pada daerah dengan sumber daya terbatas dimana pemeriksaan jumlah limfosit CD4+ atau viral load tidak tersedia.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan masalah di seluruh

dunia termasuk Indonesia. Laporan UNAIDS tahun 2010 menyatakan bahwa

walaupun secara global infeksi HIV baru turun 19%, namun jumlah orang yang hidup

dengan HIV/AIDS tetap naik karena angka kematian yang turun dimana tahun 2010

diperkirakan sebanyak 33,3 juta orang hidup dengan HIV/AIDS. Berdasarkan laporan

Kemenkes RI (2011) terdapat total 26483 kasus AIDS di seluruh Indonesia secara

kumulatif.

Anemia adalah komplikasi yang sering terjadi pada penderita HIV, yaitu

sekitar 20-80% (Balperio, dkk., 2006). Anemia lebih sering terjadi daripada

leukopenia atau trombositopenia pada penderita AIDS (Attili, dkk., 2008). Anemia

pada penderita HIV/AIDS memberikan dampak yang sangat besar terhadap kualitas

hidup penderita. Penelitian menunjukkan penurunan kualitas hidup pada penderita

HIV dengan anemia (Volberding, dkk., 2002; Volberding, dkk 2004). Anemia juga

secara independen berhubungan dengan progresifitas penyakit dan penurunan survival

(Russel, dkk., 2010). Intervenesi untuk mencegah terjadinya anemia dapat

meningkatkan survival penderita terinfeksi HIV (Sullivan, dkk., 2002).

Infeksi HIV dapat menimbulkan anemia melalui beberapa mekanisme antara

lain: peningkatan produksi sitokin yang mempengaruhi eritropoesis (Salome, dkk.,

2002; Koka, dkk., 2004; Constantini, dkk., 2009), adanya infeksi opportunistik seperti

mycobacterium avium complex (Hoursborgh, dkk., 1991) dan Parvovirus B19

(Frickhofen, dkk., 1990), pemberian terapi agen kemoterapeutik seperti zidovudine,

(20)

1990) serta myeloptisis oleh karena kanker seperti limfosarkoma. Penyebab lain dari

anemia yang berhubungan dengan HIV walaupun jarang antara lain: defisiensi

vitamin B12 (Ramacha, dkk., 1991) dan destruksi eritrosit oleh mekanisme autoimun

(Wasif, 2001).

Penurunan kadar hemoglobin mencerminkan kecepatan progresifitas penyakit

dan perkiraan prognosis pada kohort dengan demografi yang berbeda (Mocroft, dkk.,

1999). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kadar

hemoglobin dengan jumlah total sel limfosit T CD4+ darah perifer (Florence, dkk., 2004; Obirikorang, dkk., 2009; Marin, dkk., 2010; Owirebu, dkk., 2011).

Mekanisme patogenesis utama terjadinya anemia dan penurunan jumlah

limfosit T CD4+ pada penderita terinfeksi HIV adalah hampir sama yaitu melalui apoptosis sel progenitor eritroid (Maciejewski, dkk., 1995; Taniguchi, dkk., 1997;

Dai, dkk., 1998) serta apoptosis limfosit T CD4+ (Cottrez, dkk., 1997; Wang, dkk., 1999; Kirschner, dkk., 2000; Sousa, dkk., 2002; Resino, dkk., 2006). Apoptosis

terjadi pada limfosit T CD4+ yang telah teraktivasi sebelumnya akibat presentasi antigen oleh antigen precenting cells (APC) serta ikatan dengan protein HIV gp120

pada reseptor CD4, mekanisme ini dikenal dengan activation-induced cell death

(Groux, dkk., 1992; Banda, dkk., 1992). Peningkatan aktivasi imun oleh infeksi HIV

menyebabkan adanya disregulasi sitokin terutama peningkatan interferon-γ (IFN-γ)

(Graziosi, dkk., 1996; Westby, dkk., 1998). IFN-γ adalah inhibitor eritropoesis yang

paling poten dalam menyebabkan apoptosis sel progenitor eritroid (Dai, 1998).

Fas reseptor/APO-1/CD95 adalah suatu molekul reseptor permukaan sel,

dimana aktivasi oleh ligand-nya dapat menimbulkan tranduksi sinyal apoptosis

(Krammer, dkk., 1994). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa interaksi Fas

(21)

baik pada sel limfosit T CD4+ yang teraktivasi (Katsikis, dkk., 1995) maupun sel progenitor eritroid yang terpapar IFN-γ (Dai, dkk., 1998). Mekanisme tersebut di atas

dapat menjelaskan terdapatnya korelasi antara penurunan kadar hemoglobin dengan

penurunan jumlah total sel limfosit CD4+ pada infeksi HIV.

Status imun pada penderita terinfeksi HIV dewasa dapat dinilai melalui

pemeriksaan jumlah absolut limfosit T CD4+, dan ini merupakan standar untuk menilai dan menentukan derajat imunodefisiensi. Penurunan progresif limfosit T

CD4+ berhubungan dengan progresifitas penyakit dan peningkatan infeksi opportunistik dan juga kematian. WHO membuat klasifikasi imunologis untuk

menilai derajat imunodefisiensi menjadi empat kategori: imunodefisiensi yang tidak

signifikan/no significant immunodeficiency (CD4+ > 500 sel/mm3), imunodefisiensi ringan/mild (CD4+ 350-499 sel/mm3), imunodefisiensi lanjut/advanced ( CD4+ 200-349 sel/mm3), dan imunodefisiensi berat/severe (CD4+ < 200 sel/mm3). Sedangkan CDC (2008) mengklasifikasikan derajat imunodefisiensi menjadi tiga stadium:

stadium 1 (CD4+ > 500 sel/mm3), stadium 2 (CD4+ 200-499 sel/mm3), dan stadium 3/AIDS (CD4+ < 200 sel/mm3). Progresifitas penyakit menjadi stadium AIDS atau kematian mengalami peningkatan dengan jumlah sel CD4 < 200 sel/mm3 (WHO, 2007a).

Kesulitan dalam pemberian terapi antiretroviral (ARV) pada penderita HIV

adalah mengidentifikasi penderita yang benar-benar memerlukan terapi. Pemeriksaan

jumlah limfosit CD4+ dan viral load yang merupakan gold standar membutuhkan peralatan yang mahal dan teknisi yang terlatih serta tidak selalu tersedia pada

beberapa negara dan juga beberapa daerah di Indonesia. Beberapa penanda

laboratorium telah diteliti untuk tujuan ini, yaitu penanda yang sederhana yang dapat

(22)

Beberapa di antaranya termasuk delayed type hypersensitivity (DTH), total lymphocyt

count (TLC), hemoglobin, dan body mass index (BMI) (Langford, dkk., 2007).

Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI (2007) serta WHO (2006),

pada seting dimana pemeriksaan jumlah limfosit CD4+ tidak tersedia, terapi ARV bisa diberikan pada penderita dengan WHO stadium III atau IV tanpa memandang jumlah

limfosit total atau stadium II dengan jumlah total limfosit ≤ 1200 sel/mm3. Beberapa penelitian menunjukkan terdapat korelasi yang baik antara TLC dan jumlah limfosit

T CD4+ (Fornier dan Sosenko, 1992; Blatt, dkk., 1993; Beck, dkk., 1996; van der Ryst, dkk., 1998).

Namun memprediksi jumlah limfosit T CD4+ dengan TLC juga terdapat kelemahan. Letak kesulitannya adalah menentukan letak cut off point untuk TLC

dalam menentukan imunodefisiensi berat (limfosit T CD4+ < 200 sel/mm3). Cut off

point ini akan mempengaruhi sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan. Dengan

menurunkan level TLC untuk memprediksi jumlah limfosit T CD4+, kita dapat mengoptimalkan spesifisitas dan meminimalkan jumlah penderita dengan jumlah

limfosit T CD4+ yang tinggi di misklasifikasikan sebagai sebagai penderita dengan jumlah limfosit T CD4+ rendah. Akan tetapi, cut off point TLC yang rendah akan meningkatkan jumlah penderita dengan hasil false negatif. Meningkatkan cut off point

dari TLC kita dapat memaksimalkan sensitifitas dan lebih dapat mendeteksi penderita

dengan jumlah limfosit T CD4+ rendah akan tetapi juga meningkatkan angka false

positif (Spacek, dkk., 2003; Kamya, dkk., 2004).

Penelitian menunjukkan peningkatan sensitifitas TLC dalam memprediksi

rendahnya jumlah limfosit T CD4+ apabila dikombinasikan dengan kadar hemoglobin (Spacek, 2003), namun apakah kombinasi ini memberikan kontribusi yang bermakna

(23)

terhadap penambahan akurasi diagnostik TLC sendiri dalam memprediksi

imunodefisiensi berat pada penderita terinfeksi HIV belum pernah diteliti.

Pemberian terapi ARV khususnya zidovudin akan mempengaruhi kadar

hemoglobin, sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penderita

terinfeksi HIV yang belum memulai terapi ARV (HIV naive patient). Dengan

demikian akan didapatkan korelasi antara kadar hemoglobin dan jumlah limfosit

CD4+ yang disebabkan oleh aktivasi imun akibat infeksi HIV itu sendiri.

Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi dan besarnya korelasi antara

kadar hemoglobin dengan jumlah limfosit T CD4+. Penelitian ini juga mencoba mengkombinasikan TLC dengan kadar hemoglobin untuk memprediksi

imunodefisiensi berat (CD4 < 200 sel/mm3) pada penderita HIV. Kombinasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi (screening) penderita dengan imunodefisiensi berat

sehingga dapat dijadikan pedoman untuk memulai terapi ARV pada daerah dengan

sumber daya terbatas dimana pemeriksaan jumlah limfosit T CD4+ atau viral load tidak tersedia atau menentukan apakah penderita tersebut perlu dirujuk untuk

pemeriksaan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah terdapat korelasi positif antara kadar hemoglobin dengan jumlah limfosit

T CD4+ pada penderita terinfeksi HIV pra terapi antiretroviral?

2. Berapakah cut off point kadar hemoglobin untuk memprediksi imunodefisiensi

berat pada penderita terinfeksi HIV pra terapi antiretroviral?

3. Apakah kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dapat meningkatkan akurasi

diagnostik TLC sendiri dalam memprediksi imunodefisiensi beratpada penderita

(24)

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dengan jumlah limfosit CD4+ pada penderita terinfeksi HIV.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Mengetahui korelasi antara kadar hemoglobin dengan jumlah limfosit T CD4+ pada penderita terinfeksi HIV pra terapi antiretroviral.

2. Mencari cut off point kadar hemoglobin untuk memprediksi imunodefisiensi berat

pada penderita terinfeksi HIV antiretroviral.

3. Membuktikan bahwa kombinasi TLC dan kadar hemoglobin dapat meningkatkan

akurasi diagnostik TLC sendiri dalam memprediksi imunodefisiensi berat pada

penderita terinfeksi HIV pra terapi antiretroviral.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan: dapat diketahui adanya korelasi

antara kadar hemoglobin dan jumlah limfosit T CD4+ pra terapi antiretroviral. 2. Manfaat praktis: dengan mengetahui korelasi antara kadar hemoglobin dengan

jumlah limfosit T CD4+, maka kadar hemoglobin dapat dipakai sebagai penanda adanya imunodefisiensi berat pada penderita HIV sehingga dapat dijadikan

pedoman untuk memulai terapi ARV pada daerah dengan sumber daya terbatas.

dimana pemeriksaan jumlah limfosit T CD4+ dan viral load tidak dapat dikerjakan, atau apakah penderita ini perlu di rujuk segera untuk pemeriksaan

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Epidemiologi Kasus HIV di Dunia dan Indonesia

Infeksi HIV/AIDS merupakan masalah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Menurut

laporan UNAIDS (2010) walaupun terdapat penurunan angka insiden, prevalensi

penderita yang hidup dengan HIV/AIDS tetap meningkat. Hal ini berhubungan

dengan menurunnya jumlah kematian akibat AIDS sebagai dampak pengobatan

antiretroviral (ARV) pada beberapa tahun terakhir.

Menurut UNAIDS, pada tahun 2009, diperkirakan 2,6 juta orang mendapatkan

infeksi baru (newly infected) oleh HIV. Angka ini 19% lebih kecil dibandingkan tahun

1999 (3,1 juta orang) dan 21% lebih kecil dibandingkan tahun 1997 (3,2 juta orang)

tahun dimana infeksi baru HIV mencapai puncaknya. UNAIDS juga memperkirakan

terdapat 33,3 juta orang hidup dengan HIV/AIDS pada akhir tahun 2009, meningkat

27% dibandingkan tahun 1999 (26,2 juta orang).

Berdasarkan laporan Kemenkes RI (2011) terdapat total 26483 kasus AIDS di

seluruh Indonesia secara kumulatif. Prevalensi kasus AIDS di Indonesia secara

nasional adalah 11,09 per 100.000 penduduk. Sedangkan jumlah kasus baru

HIV/AIDS secara nasional pada tahun 2010 adalah 4.158 kasus, lebih tinggi daripada

tahun sebelumnya (3.863 kasus). Angka ini didominansi golongan usia produktif

(20-40 tahun), serta heteroseksual sebagai faktor risiko.

2.2 Anemia Pada Penderita Terinfeksi HIV 2.2.1 Epidemiologi

Anemia adalah komplikasi yang sering ditemukan pada penderita terinfeksi HIV dan

(26)

32.867 rekam medis penderita terinfeksi HIV di 9 kota di Amerika didapatkan

distribusi dari kadar hemoglobin sangat bervariasi tergantung stadium dari penyakit.

Pada penderita terinfeksi HIV tanpa gejala klinis AIDS, 72% pada pria dan 69% pada

wanita memiliki kadar hemoglobin dalam batas normal (masing-masing lebih dari 14

atau 12 g/dL). Akan tetapi pada penderita dengan gejala klinis AIDS hanya 13% pada

pria dan 23% pada wanita yang memiliki kadar hemoglobin dalam batas normal.

Insiden anemia berhubungan dengan stadium penyakit dimana insiden dalam satu

tahun adalah 3,2 % penderita terinfeksi HIV tanpa gejala klinis AIDS dan 36,9% pada

penderita dengan gejala klinis AIDS. Kejadian anemia pada infeksi HIV lebih banyak

terjadi pada ras kulit hitam serta jenis kelamin perempuan (Sullivan, 2008).

Penelitian Levine, dkk (2001) pada 2056 perempuan dengan HIV positif dan

569 perempuan dengan HIV negatif menunjukkan bahwa 37% dari perempuan

dengan HIV positif menderita anemia sedangkan hanya 17% prevalensi anemia pada

HIV negatif. Perempuan dengan HIV positif juga lebih cenderung mengalami anemia

berat dibandingkan dengan HIV negatif. Anemia lebih sering terjadi pada ras kulit

hitam daripada ras lainnya, pada perempuan terinfeksi HIV, 44,9% terjadi pada ras

kulit hitam, sedangkan 25,7% pada ras kulit putih dan 24,8% pada ras latina.

Penelitian di Ghana pada 442 penderita dengan HIV/AIDS mendapatkan

insiden anemia sebesar 63% pada penderita pra ARV, lebih besar secara signifikan

dibandingkan penderita dengan terapi ARV yaitu 46% (Owiredu, 2011).

2.2.2 Etiologi

Penyebab anemia pada penderita HIV adalah multifaktorial, namun penurunan

produksi eritrosit akibat eritropoesis yang inefektif merupakan faktor utama

dibandingkan penyebab lain. HIV secara langsung mempengaruhi sel progenitor

(27)

yang menyebabkan penurunan produksi eritrosit. Interferon-γ (IFN-γ), tumour

necrosis factor-α (TNF-α) dan beberapa sitokin lain dapat menghambat hematopoesis.

Level sitokin tersebut ditemukan meningkat pada penderita terinfeksi HIV.

Pengobatan terhadap infeksi HIV dan penurunan viral load menggunakan ARV dapat

memperbaiki hematopoesis (Claster S, 2002).

Infeksi opportunistik juga dapat menyebabkan anemia pada penderita HIV.

Infeksi tuberkulosis merupakan infeksi opportunistik tersering pada infeksi HIV dan

diketahui menyebabkan anemia on chronic disease (ACD). Infeksi parvovirus B19

yang menyebabkan penurunan yang signifikan terhadap jumlah eritrosit. Penelitian

Naides, dkk (1993) menunjukkan empat dari sembilan pasien dengan viremia B19

yang persisten setelah diperiksa secara serial menderita anemia berat (hemoglobin <

8,5 g/dL) bahkan setelah zidovudin dihentikan. Sedangkan 5 penderita dengan anemia

berat yang mengalami perbaikan setelah zidovudin dihentikan tidak menunjukkan

viremia B19. Penelitian pada tujuh penderita HIV dengan pure red cell aplasia

menunjukkan terdapat giant pronormoblast pada sumsum tulang akibat infeksi akut

dari parvovirus B19 (Frichofen, 1990). Micobacterium avium complex dapat

mengenai beberapa organ. Organ yang paling sering terkena adalah darah, sumsum

tulang, hati, limpa, dan limfonodi. Anemia berat adalah salah satu tanda infeksi

mikroorganisme ini (Desforges, 1991).

Anemia juga dapat disebabkan oleh efek samping dari pengobatan, walaupun

banyak obat yang digunakan untuk terapi HIV/AIDS adalah bersifat myelosupresif,

anemia berat lebih sering terjadi akibat penggunaan zidovudin. Cotrimoxazole

menghambat metabolisme asam folat dan beberapa penelitian telah melaporkan

adanya kelainan akibat penggunaannya. Kelainan ini potensial diperburuk jika

(28)

zidovudin. Penelitian pada 982 penderita HIV dengan pemberian cotrimoxazole

profilaksis menunjukkan peningkatan persentase penderita dengan kelainan

hematologi antara lain: leukopenia (2,1%), neutropenia (2,0%), trombositopenia

(2,3%), dan anemia (2,3%). Data ini telah distratifikasi dengan mean jumlah CD4+ (Watera, 2007). Penelitian oleh Keizu tahun 1990, dalam periode 10 tahun

(1976-1985) terdapat total 154 kasus dengan diskrasia darah dilaporkan di Swedia dimana

setelah dievaluasi berhubungan penggunaan cotrimoxazole. Kelainan tersebut berupa

61 kasus leukopenia, 28 kasus trombositopenia, dan 2 kasus anemia non hemolitik.

Ganciclovir adalah analog nukleosid dengan dengan aktivitas antivirus secara invitro

terhadap grup herpes virus dan beberapa virus DNA yang lain. Efek terhadap sistem

hematologi sering terjadi pada pemberiannya, tetapi efek ini bersifat reversibel

(Faulds dan Heel, 1990)

Perubahan pada hormon eritropoesis seperti penurunan hematopoetic growth

factor dan eritropoetin dapat menyebabkan anemia. Produksi eritropoetin oleh ginjal

dibutuhkan untuk menstimulasi prekursor eritroid sumsum tulang untuk

berproliferasi dan meningkatkan produksi eritrosit, jadi insufisiensi renal yang berat

memberikan kontribusi terhadap terjadinya anemia pada penderita terinfeksi HIV.

Produksi eritrosit normal juga membutuhkan fungsi sumsum tulang yang normal, jadi

harus bebas dari infeksi dan tumor.

Walaupun relatif jarang, defesiensi vitamin B 12 merupakan penyebab anemia

pada penderita HIV. Studi prospektif terhadap 60 penderita terinfeksi HIV yang

dirawat di rumah sakit. Kadar serum vitamin B12 yang rendah didapatkan pada 10

penderita (16,7%). Pemberian terapi parenteral memberikan respon yang berbeda

(29)

Walaupun penyebab utama terjadinya anemia pada penderita terinfeksi HIV

disebabkan oleh penurunan produksi eritrosit, adalah penting untuk

mempertimbangkan penyebab lain seperti hemolisis serta perdarahan gastrointestinal

yang dapat terjadi pada penderita ini. Hasil yang positif pada direct Coombs tes

dilaporkan terdapat pada 20% sampai 40% penderita HIV. Walaupun demikian

autoimmune hemolytic anemia (AIHA) jarang terjadi pada penderita ini. Walaupun

belum jelas, mekanisme patofisiologi penyakit ini berhubungan dengan produksi

antibodi antieritrosit, hipergammaglobulinemia, atau terbentuknya kompleks imun.

Hal ini mungkin disebabkan oleh defek secara umum pada regulasi produksi antibodi

akibat infeksi HIV (Saif, 2001).

Anemia pada penderita terinfeksi HIV sering dihubungkan dengan apa yang

dinamakan “anemia on chronic disease” karena sering penurunan produksi eritrosit terjadi sekunder akibat Infeksi HIV yang kronik. Hal ini disertai dengan menurunnya

respon terhadap eritropoetin.

2.3 Dampak Anemia Pada Penderita Terinfeksi HIV 2.3.1 Dampak anemia terhadap kualitas hidup

Fatigue adalah adalah gejala utama tersering pada penderita HIV, hal ini

menyebabkan gangguan fungsi fisik dan penurunan kualitas hidup. Perkiraan

prevalensi fatigue pada penderita HIV yang asimtomatik berkisar antara 10% sampai

30%, sedangkan pada penderita dengan stadium lanjut mencapai 50% (Breibhart,

dkk., 1998; Darko, dkk., 1992).

Saat anemia yang berhubungan dengan infeksi HIV dapat diatasi, secara

umum terdapat peningkatan kualitas hidup penderita. Bukti ini ditunjukkan oleh

penelitian Revicki, dkk (1994) pada studi multisenter untuk mengevaluasi efek

(30)

hidup penderita HIV dengan anemia. Penderita dengan anemia yang terkoreksi

dengan epoetin alfa menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam energi/fatigue,

home management, kesehatan yang memuaskan (health satisfaction), kesehatan

global dibandingkan dengan penderita dengan anemia yang tidak terkoreksi.

Studi selanjutnya meneliti hubungan pemberian epoetin alfa terhadap kualitas

hidup penderita HIV. Pada penderita ini tetap diberikan zidovudin dengan kombinasi

dengan antiviral yang lain termasuk protease inhibitor. Analisis kualitas hidup pasien

distratifikasi berdasarkan jumlah limfosit CD4+. Hasilnya, terapi epoetin alfa secara signifikan memperbaiki anemia dan menurunkan kebutuhan transfusi, independent

terhadap jumlah CD4+. Lebih lanjut, peningkatan kadar hemoglobin secara signifikan memperbaiki kualitas hidup penderita terutama kesehatan fisik (Abrams, 2000).

2.3.2 Anemia dan survival

Beberapa penelitian menunjukkan bukti yang konsisten mengenai hubungan antara

anemia dengan mortalitas pada penderita terinfeksi HIV. Hasil penelitian multisenter

menunjukkan bahwa penderita terinfeksi HIV dengan anemia memiliki resiko yang

lebih tinggi untuk mortalitas dibandingkan dengan penderita tanpa anemia, walaupun

setelah dikontrol dengan beberapa faktor yang diketahui mempengaruhi survival

seperti viral load atau jumlah limfosit T CD4+. The Center for Disease Control and

Prevention (CDC) melakukan penelitian pada kohort retrospektif yang besar (large retrospective observational cohort study) dimana informasi dikumpulkan dari rekam

medis dari 32.867 penderita HIV positif yang diobati di rumah sakit, klinik dan

praktek swasta di seluruh Eropa. Hasilnya menunjukkan bahwa pada penderita

anemia memiliki median survival yang lebih pendek secara signifikan dibandingkan

(31)

The EuroSIDA study group melakukan dan menganalisis data kohort

retrospektif yang dikumpulkan di Eropa pada 6725 penderita dengan kadar

hemoglobin normal, anemia ringan, dan berat. Kurva Kaplan Meier menunjukkan

proporsi penderita yang meninggal dalam beberapa bulan sejak observasi (gambar

2.1). Pada penderita, 3,1% tanpa anemia, 15,9% dengan anemia ringan dan 40,8%

dengan anemia berat, meninggal setelah 12 bulan. Perbedaan antara 3 kelompok

berbeda secara signifikan (p<0,001) (Mockrof dkk., 1999).

Gambar 2.1 Kurva Kaplan-Meier waktu kematian pada penderita terinfeksi HIV dengan hemoglobin normal (Hb), anemia ringan, atau anemia berat dalam penelitian EuroSIDA

Sumber: Mockroft A, Kirk O, Barton SE, Dietrich M, Proenca R, Colebunders R, Pradier C, Monforte A, Ledergerber B, Lundgren JD, 1999. Anemia is an independent predictive marker for clinical prognosis in HIV-infected patients from across Europe. J Acquir Immune Defic Sindr 13: 943-50.

Penelitian yang lain menanalisis hubungan antara kadar hemoglobin dan

survival pada pada 2343 penderita terinfeksi HIV. Anemia didefinisikan sebagai

kadar hemoglobin <9,5 g/dL. Hasilnya menunjukkan penderita dengan anemia

memiliki risiko kematian yang lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan

penderita tanpa anemia. Hubungan ini independen terhadap jumlah limfosit CD4+, adanya infeksi oportunistik, umur, serta penggunaan antiretroviral maupun terapi

(32)

Perbaikan anemia juga menunjukkan hubungan terhadap survival pada

penderita HIV. Pada studi kohort yang dilakukan CDC terhadap 3203 penderita HIV

dengan anemia menunjukkan perbaikan terhadap anemia secara signifikan

menurunkan risiko terhadap kematian walaupun telah dikontrol dengan jumlah

limfosit T CD4+. (Sulivan, dkk., 1998). Penelitian Moore dkk. (1998) juga menunjukkan koreksi anemia dengan pemberian epoetin alfa menyebabkan

penurunan yang signifikan terhadap risiko kematian. Hubungan ini tetap setelah

dikontrol dengan faktor yang diketahui mempengaruhi prognosis.

2.4 Eritropoesis dan Hemoglobin

Sistem eritroid terdiri dari sel darah merah (red cell) atau eritrosit dan prekursor

eritroid. Unit fungsional dari sistem eritroid ini dikenal sebagai eritron (erythron)

yang mempunyai fungsi penting sebagai pembawa oksigen (oxygen carrier).

Prekursor eritroid dalam sumsum tulang berasal dari sel induk hematopoetik,

melalui jalur sel induk myeloid, kemudian menjadi sel induk eritroid, yaitu BFU-E

dan selanjutnya CFU-E. Prekursor eritroid yang dapat dikenal secara morfologik

konvensional dalam sumsum tulang dikenal dengan pronormoblast, kemudian

berkembang menjadi basophilic (early normoblast), selanjutnya polychromatophilic

normoblast, dan acidophilic (late) normoblast. Sel ini kehilangan intinya, masih

tertinggal sisa-sisa RNA, yang jika di cat dengan pengecatan khusus akan tampak

seperti jala sehingga disebut retikulosit. Retikulosit akan dilepas ke darah tepi,

kehilangan sisa RNA sehingga menjadi eritrosit dewasa. Proses ini dikenal sebagai

eritropoesis. Proses pembentukan eritrosit memerlukan: sel induk (BFU-E, CFU-E,

normoblast); bahan pembentuk eritrosit (besi, vitamin B12, asam folat, protein);

mekanisme regulasi (faktor pertumbuhan hematopoetik dan hormon eritropoetin)

(33)

Prekursor eritroid pada beberapa stadium perkembangan berinteraksi dengan

makrofag sumsum tulang. Lingkungan mikro ini sering disebut dengan erythroid

island (gambar 2.2). Proses perkembangan eritrosit tergantung dari adanya

eritropoetin (Epo-dependent) dimana secara langsung akan mempengaruhi proliferasi

dan survival dari progenitor eritroid. Prekursor eritroid yang masih memiliki nukleus

disebut eritroblas mengekspresikan transferin reseptor (TfR) dalam kadar yang tinggi,

reseptor ini diperlukan untuk uptake besi dari transferin serum. Jika produksi

hemoglobin telah mencukupi, TfR disimpan dan membentuk soluble-transferin

reseptor (sTfr) (Roy, 2010).

Gambar 2.2. Gambaran proses eritropoesis normal

A. Prekursor eritroid matur dalam sumsum tulang dalam kontak dengan sentral makrofag; B. Setelah proses hemoglobinisasi lengkap, prekursur eritroid mengeluarkan nukleusnya dan masuk ke dalam sirkulasi; C. Senescent erythrocytes difagosit oleh makrofag jaringan, dimana besi mengalami recycled; D. Besi dikembalikan ke eritron via transferin.

Sumber: Roy CN, 2010. Anemia of inflammation. Blood 83: 276-80.

Eritrosit hidup dan beredar dalam darah tepi (life span) rata-rata selama 120

hari. Setelah 120 hari eritrosit mengalami penuaan (senescence) kemudian

(34)

Eritrosit matang merupakan suatu cakram bikonkaf dengan diameter sekitar

tujuh mikron. Eritrosit merupakan sel dengan struktur yang tidak lengkap. Sel ini

hanya terdiri atas membran dan sitoplasma tanpa inti sel. Komponen eritrosit terdiri

dari: membran eritrosit, sistem enzim, dan hemoglobin. Hemoglobin berfungsi

sebagai alat angkut oksigen. Komponennya terdiri atas: heme, yang merupakan

gabungan protoforfirin dengan besi; dan globin, bagian protein yang terdiri dari dua

rantai alfa dan dua rantai beta (gambar 2.3).

Gambar 2.3 Struktur Hemoglobin.

Anemia merupakan kelainan hematologi yang paling sering dijumpai baik di

klinik maupun di lapangan. Untuk mendapatkan pengertian anemia maka kita perlu

menetapkan definisi anemia. Anemia adalah keadaan dimana massa eritrosit dan/atau

massa hemoglobin yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan

oksigen bagi jaringan tubuh. Secara laboratorik dijabarkan sebagai penurunan di

bawah normal kadar hemoglobin, hitung eritrosit dan hematokrit (Beutler, dkk.,

2001).

Untuk menjabarkan definisi anemia di atas maka perlu ditetapkan batas

hemoglobin yang bisa kita anggap sudah tejadi anemia. Cutoff point yang umum

dipakai adalah kriteria WHO (1989). Dinyatakan anemia bila: laki-laki dewasa

(35)

2.5 Aktivasi Imun Pada Infeksi HIV

Untuk mengetahui patogenesis anemia pada penderita terinfeksi HIV, terlebih dahulu

harus dipahami pengaruh infeksi HIV terhadap aktivasi sel limfosit dan monosit yang

akan menyebabkan adanya disregulasi sitokin, kemudian bagaimana sitokin pro

inflamasi mempengaruhi eritropoesis normal.

Penelitian menunjukkan bahwa limfosit T, monosit, dan makrofag pada

infeksi HIV berada dalam keadaan teraktivasi yang ditandai peningkatan marker

akivasi pada permukaan selnya serta peningkatan jumlah memory/primed/activated T

cell dan penurunan naïve/resting T cell. Aktivasi sel limfosit T terjadi karena

presentasi antigen pada T cell receptor (TCR) oleh antigen precenting cells (APC)

serta protein HIV seperti gp120 pada reseptor CD4 sel T. Parameter dari aktivasi

imun ini dapat memberikan nilai prognostik yang kuat dalam memprediksi

progresifitas penyakit.

Hazenberg, dkk (2003) melakukan penelitian pada 149 pria homosexual

penderita terinfeksi HIV yang dilakukan pada peripheral blood mononuclear cells

(PBMC). Sampel diambil sebelum terjadinya serokonversi dan 1 serta 5 tahun setelah

serokonversi. Level dari marker aktivasi sel dari sel limfosit T CD4+ dan CD8+ seperti CD38, HLA-DR, CD70, dan Ki67 diukur menggunakan flow cytomery

activated cell shorter scan (FACS scan). CD38 dan HLA-DR (MHC class II antigen)

adalah dua antigen yang diketahui meningkat ekspresinya pada sel T yang telah

teraktivasi. CD70 merupakan famili dari reseptor tumor necrosis factor (TNF)

diekspresikan pada sel T yang teraktivasi dan mengontrol besar dan durasi dari respon

sel T. Penderita terinfeksi HIV menunjukkan peningkatan ekspresi CD70 dimana

mencerminkan menetapnya peningkatan level dari aktivasi imun. Ki67 adalah antigen

(36)

karena itu sering digunakan sebagai marker untuk proliferasi sel T. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa setelah serokonversi terjadi peningkatan secara signifikan

ekspresi Ki67, HLA-DR, CD38 dan CD70 pada sel T CD4+ dan CD8+ dibandingkan nilai pada preserokonversi. Pada penderita yang progresifitas penyakitnya lambat

(slow progresor) ekspresi Ki67 stabil stiap waktu, akan tetapi pada yang progresifitas

penyakitnya cepat (fast progresor) terdapat peningkatan secara signifikan ekspresi

antigen ini pada sel T CD4+ dan CD8+. Korelasi negatif kuat didapatkan pada jumlah total sel CD4+ dengan dengan level ekspresi dari Ki67, HLA-DR, CD 38 (r: -0,506 - 0,599; p<0,005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan level

aktivasi sistem imun yang persisten setelah fase akut dari infeksi HIV.

Seperti pada infeksi HIV-1, jumlah sel T CD4+ mengalami penurunan secara progresif pada infeksi HIV-2, akan tetapi penurunannya lebih lambat dan level

viremia lebih rendah pada setiap stadium penyakit. Sousa, dkk (2002) melakukan

penelitian potong lintang pada 27 penderita terinfeksi HIV-2, dan 26 penderita

terinfeksi HIV-1, serta 25 individu sehat sebagai kontrol. Hasilnya menunjukkaan

bahwa untuk jumlah sel T CD4+ yang sama, penderita terinfeksi 1 maupun HIV-2 menunjukkan level yang sama pada marker aktivasi dan proliferasi sel meskipun

terdapat perbedaan yang besar pada plasma viral load. Hal ini ditandai dengan: 1.

Imbalans rasio populasi sel T naïve : memory; 2. Peningkatan ekspresi marker aktivasi

sel T CD4+ dan CD8+ (HLA-DR, CD38, CD69, Fas/CD95). Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang kuat antara aktivasi imun dan penurunan jumlah sel T

CD4+ pada infeksi HIV dan hubungan yang tidak langsung dengan viral load.

Penelitian lain bertujuan mengetahui hubungan antara penurunan jumlah sel T

CD4+ dan aktivasi imun pada anak yang terinfeksi HIV-1 dengan terapi ARV. Penelitian potong lintang dilakukan pada 143 anak dengan terapi ARV lebih dari 24

(37)

minggu, sebagai kontrol juga diperiksa 23 anak sehat. Hasilnya, anak yang terinfeksi

HIV dengan persentase CD4+ yang rendah memiliki sel T CD4+ memori (CD45RO+) yang tinggi dan sel CD4 naïve+ (CD45RA+) yang rendah. Lebih lanjut, anak dengan CD4 > 25% memiliki jumlah sel T CD4+ memori dan naive yang sama dengan grup kontrol. Pada anak dengan persentase CD4+ rendah menunjukkan peningkatan yang signifikan ekspresi HLA-DR, dan CD38 pada sel T CD4+ dan CD8+ independen terhadap level viral load. Penelitian ini mencerminkan bahwa pada penderita

terinfeksi HIV dengan terapi ARV memiliki ekspresi marker aktivasi sel T yang

tinggi pada jumlah sel T CD4+ yang rendah. Anak dengan infeksi HIV dengan persentase CD4+ yang terendah memiliki jumlah sel T CD4+ memori dan teraktivasi tertinggi dan juga jumlah naive sel T CD4+ dan CD8+ yang terendah. Jadi, penurunan jumlah sel T CD4+ pada penderita berhubungan dengan level yang tinggi dari aktivasi sel T yang diinduksi oleh replikasi HIV yang kontiniu (Resino, 2006).

2.6 Aktivasi Imun dan Disregulasi Sitokin

Inflamasi telah diketahui sebagai penyebab disfungsi imun pada penderita terinfeksi

HIV, mengindikasikan bahwa aktivasi imun adalah faktor penyebab lemahnya

imunitas dan progresifitas penyakit pada penderita terinfeksi HIV. Penelitian

menunjukkan replikasi virus sendiri merupakan penyebab utama keadaan chronic

inflamatory state pada penderita HIV, dimana pada penderita menunjukkan

peningkatan marker dari inflamasi dan aktivasi imun. Aktivasi imun dapat

mempengaruhi proses eritropoesis melalui peningkatan produksi sitokin pro inflamasi

seperti tumor necrosis factor-α (TNF-α) dan interferon-γ (IFN-γ), serta interleukin-10

(IL-10) oleh sel T yang telah teraktivasi.

Infeksi HIV berhubungan dengan perubahan pada imunitas seluler (cell

(38)

terinfeksi secara invitro. Peripheral blood mononuclear cells (PBMC) yang diisolasi

dari penderita terinfeksi HIV menunjukkan ketidakseimbangan produksi sitokin yang

berhubungan dengan disfungsi imunitas seluler.

Penelitian Graziosi, dkk (1996) mempelajari kinetik ekspresi dari beberapa

sitokin seperti IL-2, IL-4, IL-6, IL-10, IFN-γ, dan TNF-α pada PBMC sembilan

penderita terinfeksi HIV menggunakan teknik semiquantitative reverse

transcriptase-polymerise chain reaction( RT-PCR). Hasilnya menunjukkan ekspresi dari IL-2 dan

IL-4 tidak atau minimal sekali terdeteksi pada PBMC. Akan tetapi kadar IL-2 yang

cukup tinggi ditemukan pada sel mononuklear yang diisolasi dari limfonodi (lymph

node mononuclear cell). Ekspresi dari IL-6 terdeteksi hanya pada tiga dari sembilan

pasien, dan ditemukan pada saat transisi dari fase akut ke fase kronik. Eksprei dari

IL-10 dan TNF-α konsisten terdeteksi pada semua pasien, dan kadar semua sitokin ini

bersifat stabil dan meningkat menurut waktu. Sama dengan IL-10 dan TNF-α,

peningkatan ekspresi dari IFN-γ terdeteksi pada semua penderita. Lima dari sembilan

penderita menunjukkan puncak level ekspresi IFN-γ yang sangat awal dari infeksi

HIV. Ekspresi puncak dari IFN-γ bersamaan dengan ekspansi oligoklonal dari sel T

CD8+ dan sel T CD8+ paling banyak mengekspresikan sitokin ini. Sebagai tambahan, ekspresi dari IL-6, IL-10, IFN-γ, dan TNF-α oleh sel mononuklear pada limfonodi

dibandingkan dengan darah perifer lebih tinggi secara signifikan (tiga kali lipat untuk

tiap sitokin). Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa sitokin tertentu seperti IL-2 dan

IL-4 pada darah perifer mungkin tidak akurat merefleksikan situasi pada organ yang

lain seperti limfonodi dan sumsum tulang. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa

sitokin mungkin diproduksi dan bekerja lokal pada jaringan tanpa masuk kedalam

sirkulasi. Level dari sitokin dalam serum adalah relatif rendah dan lebih mudah

(39)

dengan hormon, dimana sitokin merupakan soluble factor yang menunjukkan efek

lokal pada lingkungan seluler tertentu. Jadi, secara in vitro stimulasi terhadap sel T

memberikan gambaran yang lebih baik bagaimana sel T memberikan reaksi dalam

bentuk produksi sitokin. T-cell mediated response sangat berhubungan dengan adanya

puncak yang awal dari ekspresi IFN-γ, dan penelitian menunjukkan bahwa respon

sitokin pada saat awal memainkan peranan utama dalam menekan replikasi virus.

Akhirnya, respon yang bifasik dari ekspresi sitokin (puncak yang awal dari IFN-γ dan

puncak yang lambat dari IL-6, IL-10, dan TNF-α) secara jelas menggambarkan

peranan sel T dalam antiviral immune respon.

Hasil penelitian yang sama juga ditunjukkan oleh Caruso, dkk (1995). Dengan

teknik immunoflorescence dan flow cytometry didapatkan bahwa pada penderita HIV

mulai dari stadium awal infeksi terdapat peningkatan persentase limfosit yang

memproduksi IFN-γ dibandingkan dengan kontrol sehat. Peningkatan ekspresi IFN-γ

oleh limfosit meningkat dengan meningkatnya stadium penyakit. Peningkatan

ekspresi sitokin ini terjadi pada sel T CD4+ maupun CD8+.

Westby, dkk. (1998) menggunakan three colour- flowcytometry activated cell

shorter (FACS) menganalisis produksi sitokin intraselular pada 20 penderita

terinfeksi HIV dan 20 orang sehat sebagai kontrol. Hasilnya, sel limfosit T pada

penderita HIV baik yang simtomatik maupun asimtomatik menunjukkan penurunan

kapasitas untuk memproduksi IL-2 khususnya pada sel T CD4+ dan peningkatan produksi IFN-γ khususnya pada sel T CD8+ dibandingkan dengan kontrol. Produksi IL-2 oleh sel T CD4+ juga juga lebih rendah secara signifikan pada penderita HIV yang simtomatik dibandingkan dengan asimtomatik. Produksi IL-2 oleh sel T CD8+ juga lebih rendah pada penderita HIV simtomatik dibandingkan dengan asimtomatik

(40)

produksi IFN-γ antara penderita HIV simtomatik dan asimtomatik. Jadi, aktivasi sel

T yang ditandai dengan tingginya produksi IFN-γ tampak pada awal terjadinya infeksi

HIV dan menetap seiring perjalanan penyakit. Sedangkan penurunan produksi IL-2

oleh sel T bersifat progresif . Perbedaan produksi IL-2 dan IFN-γ antara kelompok

sampel dan kontrol tidak secara sederhana dijelaskan oleh terbaliknya rasio jumlah

limfosit CD4:CD8, karena telah distratifikasi dengan jumlah sel T CD4+ maupun CD8+ pada masing-masing kelompok. Akan tetapi hasil ini disebabkan oleh penurunan kemampuan sel T CD4+ untuk memproduksi IL-2 dan peningkatan kemampuan sel T CD8+ untuk memproduksi IFN-γ akibat aktivasi sel. Terdapat korelasi negatif antara produksi IL-2 oleh sel T dengan viral load (r = -0,832),

korelasi ini terdapat pada sel T CD4+ dan CD8+ (masing r = -0,435 dan -0,622). Penurunan ekspresi IL-2 dan peningkatan ekspresi IFN-γ oleh sel T juga

didapatkan Fan, dkk (1993). Dengan teknik quantitative polymerise chain reaction,

didapatkan ekspresi mRNA untuk IL-2 yang lebih rendah dan ekspresi mRNA IFN-γ

yang lebih tinggi pada PBMC penderita HIV dibandingkan kontrol sehat. Penelitian

dengan teknik immunofluorescence dan flow cytometric analysis juga menunjukkan

peningkatan produksi IFN-γ pada penderita HIV asimtomatik dibandingkan kontrol

sehat. (Caruso, dkk., 1996).

Penelitian Haissman, dkk. (2009) pada 229 penderita HIV, dan 54 kontrol

bertujuan mengevaluasi peranan aktivasi imun dalam peningkatan produksi sitokin

dalam patogenesis infeksi HIV serta efek pemberian ARV pada parameter ini.

Konsentrasi IL-6, IL-8, IL-10, TNF-α, Interleukin-1 reseptor antagonis (IL-1ra), dan

monosite chemotactic protein-1 (MCP-1) dari plasma penderita terinfeksi HIV dan

kontrol distratifikasi berdasarkan jumlah sel T CD4+ dan diikuti selama 2 dan 4 bulan setelah pemberian ARV. Hasilnya, pada penderita terinfeksi HIV menunjukkan

(41)

peningkatan kadar sitokin TNF-α, IL-6, IL-8, IL-1ra, dan MCP-1 dibandingkan

kontrol. Progresifitas HIV juga memiliki efek terhadap peningkatan sitokin, dimana

terdapat kadar yang lebih tinggi secara signifikan dari TNF-α, IL-6, IL-8, IL-1ra, dan

MCP-1 pada kelompok penderita dengan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 sel/mm3. Kadar semua sitokin menurun setelah 2 bulan pemberian ARV dan berlanjut setelah 4 bulan pengobatan. Pada analisis univariat, semua sitokin memiliki korelasi

positif dengan viral load dan berkorelasi negatif dengan jumlah sel T CD4+. Inflamasi merupakan penyebab utama dari HIV-related immunodeficiency dimana replikasi

virus sendiri merupakan faktor utama yang menyebabkan aktivasi imun dan

peningkatan kadar sitokin walaupun terdapat bermacam koinfeksi. Penelitian ini juga

menggambarkan bahwa ARV sangat efisien untuk menurunkan aktivasi imun dan

kadar sitokin.

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi opportunistik tersering pada penderita AIDS.

Manifestasi klinis dari tuberkulosis pada penderita HIV biasanya lebih berat dengan

kerusakan paru yang difus dan sering dengan manifestasi ekstrapulmoner yang berat.

Oleh karena itu parameter imunologik mungkin berbeda pada penderita AIDS dengan

TB dibandingkan dengan penyakit itu secara sendiri-sendiri. Dengan stimulasi

mitogen pada PBMC, produksi IFN-γ dan TNF-α oleh sel T dianalisis dengan metode

enzim-linked immunoabsorbent assay (ELISA). Sampel didapat melalui 33 penderita

dan dibagi menjadi empat kelompok: sebelas penderita AIDS dengan tuberkulosis,

enam penderita HIV asimtomatik, delapan pasien dengan tuberkulosis, dan delapan

kontrol sehat. Hasilnya menunjukkan proporsi sel T CD4+ yang mengekspresikan TNF-α lebih tinggi pada grup penderita TB dibandingkan dengan penderita HIV

asimtomatik, sedangkan kelompok HIV-TB menunjukkan nilai intermediet yaitu

(42)

ekspresi IFN-γ dan TNF-α berbeda pada keempat kelompok. Persentase sel T CD8+ yang mengekspresikan IFN-γ lebih tinggi pada kelompok penderita TB dibandingkan

dengan kelompok penderita HIV asimtomatik, sedangkan kelompok HIV-TB

menunjukkan nilai intermediet namun lebih mendekati nilai kelompok HIV

asimtomatik. Yang menarik, ekspresi TNF-α oleh sel T CD8+ pada kelompok HIV-TB menunjukkan nilai yang sama dengan kelompok HIV asimtomatik dan lebih

rendah dengan kelompok TB. Respon sel T terhadap Micobacterium tuberculosis

membutuhkan produksi IFN-γ. Mekanisme proteksi ini berhubungan dengan

terbentuknya granuloma untuk melokalisir infeksi yang tergantung oleh terdapatnya

IFN-γ. Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi sitokin

ini oleh sel T CD4+ pada keempat kelompok penderita sedangkan pada sel T CD8+ ekspresi IFN-γ lebih tinggi pada kelompok TB daripada kelompok TB-HIV. Hal ini

menunjukkan bahwa pada penderita HIV terdapat hiporesponsif sel T dalam

mengenali antigen Mycobacterium tuberculosis yang mengakibatkan gangguan

produksi IFN-γ pada kelompok TB-HIV. Hiporesponsif sel T ini terjadi akibat

aktivasi imun secara umum (Cunha, dkk., 2005).

2.7 Abnormalitas Eritropoesis Pada Infeksi HIV

Beberapa penelitian menunjukkan terdapat hambatan pertumbuhan dan diferensiasi

sel progenitor hematopoetik secara in vitro. Infeksi langsung HIV pada sel progenitor

CD34+ pernah dilaporkan (Steinberg, dkk., 1991; Stanly, dkk., 1992), akan tetapi Thomas, dkk menemukan hanya 2 dari 10 sel CD34+ penderita yang positif, dan jumlah kopi dari proviral DNA pada sampel ini adalah 2 sampai 5 per 250.000 sel.

Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa sel progenitor hematopoetik CD34+ tidak rentan terhadap infeksi HIV dan bukan merupakan reservoir virus pada sebagian besar

(43)

penderita HIV asimtomatik (Thomas, dkk., 1995). Hal ini mengindikasikan bahwa

HIV mempengaruhi mekanisme hematopoesis secara indirek.

HIV menghambat beberapa jalur hematopoesis tanpa infeksi langsung pada sel

progenitor eritroid CD34+ tetapi dengan merubah lingkungan mikro (microenvironment) yang mendukung hematopoesis. Hematopoesis abnormal terjadi

pada infeksi HIV sebagai akibat dari disregulasi sitokin yang akan mempengaruhi

ekspresi beberapa gen yang berhubungan dengan hematopoesis (Koka dan Reddy,

2004).

2.7.1 Pengaruh inflamasi/aktivasi imun terhadap eritropoesis

Beberapa penelitian menyatakan bahwa eritropoesis (dan myelopoesis) menurun pada

penderita HIV naïve dibandingkan dengan kontrol akibat disregulasi produksi sitokin

dan growth factor dan peningkatan apoptosis sel progenitor sumsum tulang. Isgro,

dkk (2005) meneliti efek terapi ARV terhadap produksi sitokin oleh sel limfosit dan

sel stromal sumsum tulang pada penderita terinfeksi HIV sebelum dan sesudah terapi

ARV. Dibandingkan dengan penderita sehat, terdapat penurunan produksi IL-2 dan

peningkatan TNF-α oleh sel sumsum tulang, bersamaan dengan terdapatnya

penurunan aktivitas clonogenic. Terapi ARV menunjukkan perbaikan aktivitas stem

cell, perbaikan gambaran fungsi sel stromal, peningkatan produksi IL-2 pada sumsum

tulang, penurunan ekspresi Fas antigen bersamaan dengan penurunan produksi

TNF-α. Fas antigen bertanggung jawab terhadap terjadinya apoptosis pada sel eritroid progenitor maupun sel CD4+ yang secara detail akan dijelaskan kemudian.

Penelitian Isgro, dkk (2000) menunjukkan bahwa perubahan morfologi dan

tidak efektifnya fungsi sumsum tulang bertanggung jawab terhadap terjadinya

sitopenia pada infeksi HIV. Penelitian mengenai efek terapi ARV pada jumlah colony

Gambar

Gambar  2.1  Kurva  Kaplan-Meier  waktu  kematian  pada  penderita  terinfeksi  HIV dengan hemoglobin normal (Hb), anemia ringan, atau anemia berat dalam  penelitian EuroSIDA
Gambar 2.2.  Gambaran proses eritropoesis normal
Gambar 2.3 Struktur Hemoglobin.
Gambar 2.4  Peningkatan aktivitas imun pada kondisi inflamasi  mengakibatkan  apoptosis sel eritroid progenitor
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari analisis sidik ragam menunjukkan bahwa rasio lidah buaya dan rumput laut berpengaruh tidak nyata terhadap aroma permen jelly.. Rata-rata aroma

Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian adalah modul materi sistem reproduksi dengan pembelajaran discovery inquiry dapat digunakan sebagai bahan

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian laporan keuangan secara umum adalah informasi yang dibuat oleh pihak perusahaan tertentu dimana

Dalam mendesain ROV perlu diperhatikan peletakan titik berat atau (CG) dan titik apung atau center buoyancy (CB). Dimana titik tersebut adalah dua pusat gaya tak

Sehingga dengan diketahui beban-beban kebutuhan listrik pada masing-masing kondisi operasi kapal dan beban maksimumnya, maka kapasitas daya Genset lma ditcntukan dan

Halaman 45 RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN..

Website ini bertujuan untuk mempermudah pengguna internet untuk mendapatkan informasi terbaru tentang Gereja HKBP Kramat Jati, disamping itu juga kita dapat mengetahui latar

• semakin kuat usaha-usaha yang dilakukan untuk mendapat imbalan dari seseorang maka kita akan merasa semakin tertarik. • ketertarikan sebagai suatu proses.. Model tahapan