• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakim Usman Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana, Univeritas Mataram ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hakim Usman Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana, Univeritas Mataram ABSTRACT"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

159

PIDATO BUPATI LOMBOK BARAT

ATAS REKOMENDASI PANSUS LKPJ DPRDDAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN WACANA DI SEKOLAH :

KAJIAN LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK

Hakim Usman [email protected] Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana, Univeritas Mataram

ABSTRACT

This research isfocused onthe analysis ofthe meaning oftransitivityandinterpersonal meaningonthe WestLombokRegentspeech, and therelevance ofthe reseachwithlearning discourseinschool. This researchaims to describethe systemof transitivityand interpersonalmeaning inthe speech, afterwards, to describemeaning orvaluethat is containedinthe dominance ofprocessand basic action, and its relevance tothe learningdiscourseinschool. Theoryused in this research isthetheory ofLFSby Halliday thatfocusing ontext,in this case thetext ofthe WestLombokRegentSpeech. Data collected bythe methodsof documentation, observation, andrecordtechnique. This studyuseda qualitativedescriptiveapproach. The results showedthat dominates theprocessis a mental processamounting to21%, whilethe basic actionthat dominate isthe actionstatementis amounting to60%. As forsome of thevalues containedinthemthe value ofawareness, sincerity, confidence, certainty(direction), creativity, thoroughness, responsibility, compliance, and permissive value. These valuesare containedinmental processes. hevaluescontained in thestatementbasic actionamong them; the value ofgratitude, awareness, sincerity, anddedicationvalue. The relevance of this researchwithlearning discourseinschoolshows the relationshipof languageandapproach thatcan bedescribedexplicitly, wherelearningdiscourse especially speechat the school levelcan also beresearched usingLFStheory approachtofindingmeaning containedin it, as the research in thecollege.

Keywords:Speech, Value, LFS, andLanguage Learning.

ABSTRAK

Penelitian ini terfokus pada analisis transitivitas dan makna antar persona pada pidato Bupati Lombok Barat, serta relevansi kajian dengan pembelajaran wacana di sekolah. Terkait dengan hal itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem transitivitas dan makna antar persona yang ada di dalam pidato tersebut, selanjutnya mendeskripsikan makna atau nilai yang terkandung di balik dominasi proses dan protoaksi, serta relevansinya dengan pembelajaran wacana di sekolah. Teori yang dipergunakan yakni teori LFS oleh Halliday yang berfokus pada teks, dalam hal ini teks Pidato Bupati Lombok Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, observasi, dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan pendekatan yang bersifat deskrip tif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan proses yang mendominasi adalah proses mental yakni sebanyak 21%, sedangkan protoaksi yang mendominasi adalah aksi pernyataan yakni sebanyak 60%. Adapun beberapa nilai yang terkandung di antaranya nilai kesadaran, kesungguhan, keyakinan, kepastian (arah),

(2)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

160 kreatifitas, ketelitian, tanggung jawab, kepatuhan, dan nilai permisif. Nilai- nilai tersebut terkandung pada proses mental. Adapun nilai- nilai yang terkandung dalam protoaksi pernyataan di antaranya; nilai kesyuk uran, kesadaran, kesungguhan, dan nilai pengabdian.Relevansi kajian ini dengan pembelajaran wacanan di sekolah menunjukkan hubungan kebahasaan dan pendekatan yang dapat dideskripsikan secara eksplisit, di mana pembelajaran wacana khususnya pidato di tingka t sekolah juga dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan teori LFS untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya sebagaimana pengkajian di perguruan tinggi.

Kata kunci : Pidato, Nilai, LFS, dan Pembelajaran Bahasa.

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Pidato adalah salah satu bentuk keterampilan berbicara yang menuntut kemampuan retorika yang baik. Sebagai salah satu bentuk keterampilan berbicara, berpidato juga menjadi bagian dari aktivitas rutin seorang Kepala Daerah, sebagaimana pidato yang dilakukan oleh Bupati Lombok Barat yang menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Pidato Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009 – 2014” yang dilakukan dihadapan anggota DPRD Kabupaten Lombok Barat.

Pada hakikatnya Pidato Kepala Daerah merupakan sarana untuk pengaktualisasian pikiran dan gagasan seorang kepala daerah kepada masyarakat melalui anggota DPRD, dengan kalimat lain Pidato Kepala Daerah merupakan salah satu sarana berinteraksi antara kepala daerah dengan anggota DPRD dalam hubungan sosial dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.

Seorang penutur bahasa (dalam hal ini Bupati) merealisasikan pengalamannya (pengalaman bukan linguistik) menjadi pengalaman linguistik. Pengalaman bukan linguistik itu direalisasikan ke dalam

pengalaman linguistik yang terdiri atas tiga unsur, yaitu proses, partisipan, dan sirkumstan. Di samping itu, dari perspektif makna antar persona dalam LFS pada pidato akan ditemukan beberapa bentuk realisasi aksi seorang pembicara terhadap lingkungannya, yang dapat berupa pernyataan, pertanyaan, perintah, maupun tawaran kepada lawan bicaranya.

Aktivitas pidato Bupati tersebut merupakan rutinitas tahunan yang selalu dilakukan, namun meskipun demikian, kenyataannya selama ini belum ada peneliti yang mencoba untuk melakukan pengkajian dari segi kebahasaan khususnya dengan kajian LFS. Hal ini tentu penting dilakukan untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai kemampuan seorang Bupati menyusun dan memberikan makna dalam pidatonya agar dapat dipahami dengan tepat oleh para pendengarnya.

Berpidato adalah bentuk keterampilan berbicara yang disampaikan secara lisan atau melalui ekspresi bunyi (dalam tata bahasa disebut fonologi) dan tertuang dalam bahasa tulisan (grafologi) yang tersusun atas klausa-klausa yang dapat dianalisis dengan teori Linguistik Fungsional Sistemik (selanjutnya disingkat LFS).

Penelitian ini sengaja mengambil topik Pidato Kepala Daerah, oleh karena belum ada peneliti sebelumnya yang melakukan penelitian terhadap Pidato ini. Selain itu,

(3)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

161 Pidato Kepala Daerah merupakan bagian

dari kegiatan memaparkan pengalaman seseorang yang merupakan salah satu fungsi bahasa berdasarkan metafungsi bahasa. Pidato Kepala Daerah disampaikan menggunakan teks, sehingga akan memudahkan peneliti menganalisis teks tersebut. Berdasarkan hal di atas, tentu saja hal ini menjadi menarik untuk diteliti.

Secara fungsional, merujuk pada teori LFS bahwa metafungsi bahasa itu ada tiga, yakni fungsi pemaparan pengalaman, pertukaran pengalaman, dan perangkaian pengalaman. Fungsi pemaparan pengalaman dapat kita lihat ketika Bupati menyampaikan pikiran dan gagasannya yang tentunya berdasarkan pada pengalamannya kepada para anggota DPRD selaku pendengar. Pidato Bupati tersebut selain sebagai pemaparan pengalaman juga merupakan fungsi pertukaran, hal ini disebabkan karena Pidato Bupati tersebut merupakan tanggapan balik atas rekomendasi pansus DPRD. Lalu fungsi perangkaian pengalaman merupakan fungsi bahasa dalam “Pidato Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009 – 2014”untuk merangkaikan pikiran dan gagasan tersebut menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh pendengar.

1.2 Rumusan Masalah

Mencermati latar belakang di atas, isupenting yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah bagaimana pemakaian sistem transitivitas yang ada dalam “Pidato Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009 – 2014” serta bagaimanakah bentuk protoaksi yang muncul dari pidato tersebut.

Adapun rumusan masalah penelitian dapat dirinci sebagai berikut.

a). Bagaimanakah transitivitas yang terdapat dalam Pidato Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009-2014?

b). Bagaimanakah bentuk protoaksi yang muncul pada Pidato Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009-2014?

c). Bagaimanakah relevansi hasil kajian LFS terhadap Pembelajaran wacana di Sekolah?

1.3 Tujuan

a) Penelitian ini mendeskripsikan transitivitas yang terdapat dalam Pidato Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009-2014.

b) Penelitian ini mendeskripsikan protoaksi yang muncul pada Pidato Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009-2014.

c) Penelitian ini mendeskripsikan relevansi hasil kajian LFS terhadap Pembelajaran wacana di Sekolah.

2. Kajian Pustaka, Konsep, dan

Landasan Teori 2.1 Kajian Pustaka

Terdapat tujuh penelitan yang penulis jadikan penelitian relevan, tiga di antaranya yaitu; 1).“Kajian Linguistik

(4)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

162 Fungsional Sistemik Pada Pemberitaan

Kekerasan Gender dalam Media Cetak Lombok Post Dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Wacana di Perguruan Tinggi”(Setiawan, 2014). Penelitian ini fokus pada analisis transitivitas dan modalitas pada pemberitaan kekerasan gender pada media cetak Lombok Post.

2).“Makna Antarpersona dalam Teks

Upacara Perkawinan pada Masyarakat Karo” (Herlina, 2007). Yang dikaji dalam penelitian ini adalah makna antar persona, modus, serta konteks situasi yang mendukung makna antar persona. 3).“Visi Dan Misi Pemilihan Gubernur NTB Periode 2013-2018: Kajian Linguistik Fungsional Sistemik dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Kebahasaan Di Perguruan Tinggi” (Ansori, 2014). Penelitian ini fokus pada perbandingan sistem transitivitas padaklausa Visi dan Misi PILGUB NTB Periode 2013-2018.

2.2 Konsep

Beberapa konsep yang dimaksudkan dalam penelitian ini antara lain:

1).Teks. Teks dimaknai sebagai naskah yg

berupa kata-kata, frasa, klausa asli dari pengarang atau bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran, teks yang dimaksud dalam penelitian ini adalah teks pidato.

2).Pidato.Pidato yang dimaksudkan dalam

kajian ini adalah tuturan Bupati Lombok Barat di depan DPRD yang dalam perspektif LFS dapat dikategorikan sebagai fungsi pemaparan pengalaman.

3).Fungsional. Fungsional yang dipahami

di sini adalah melihat bahasa berdasarkan fungsinya terhadap kebutuhan manusia.

4).LFS. Istilah LFS merupakan sebuah

singkatan dari Linguistik Fungsional Sistemik. Ia merupakan nama sebuah teori.

Teori ini memandang bahasa adalah sistem arti dan sistem lain (yakni sistem bentuk dan ekspresi) untuk merealisasikan arti tersebut.

2.3 Landasan Teori

Landasan teori yang peneliti gunakan pada penelitian ini adalah teori LFS yangdipelopori oleh Halliday (1961) di Universitas London Inggris (Sinar, 2012:6).Fungsi bahasa dalam Pidato Bupati secara langsung membawa salah satu fungsi dari tiga metafungsi bahasa, yakni fungsi pemaparan. Dengan demikian, maka LFS sebagai salah satu teori dalam kajian kebahasaan sangat layak dijadikan sebagai landasan teori dalam penelitian ini karena LFS berbicara tentang fungsi bahasa dalam konteks sosial, di mana pidato adalah salah satu bentuk interaksi sosial yang menggunakan bahasa sebagai alat pengungkapan ide dan pengalaman penuturnya. Adapun secara spesifik teori yang dimaksud adalahteori tentang sistem transitivitas (proses, partisipan, dan sirkumstan) dan teori tentang makna antarpersona khsusnya realisasi aksi dalam klausa.

Istilah transitivitas dalam LFS merupakan realisasi pengalaman linguistik manusia sebagai pemakai bahasa (Saragih, 2006:23). Di mana, satu unit pengalaman yang sempurna direalisasikan dalam klausa yang terdiri atas tiga unsur, yaitu proses (process), partisipan (participant), dan sirkumstan (circumstance). Dalam realisasinya proses di menunjuk kepada kegiatan atau aktifitas yang terjadi dalam klausa, partisipan dibatasi sebagai orang atau benda yang terlibat dalam proses, dan sirkumstan adalah lingkungan tempat proses yang melibatkan partisipan terjadi (Halliday, 1954, dikutip Saragih, 2006:24, 2013:9). Hal tersebut senada dengan yang ditulis Sinar (2007:60, 2012:29) bahwa klausa transitivitas merupakan unit tata

(5)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

163 bahasa yang mempunyai tiga komponen

yaitu (a) proses, (b) partisipan, dan (c) sirkumstan.

Makna antarpersona menunjukkan tindakan yang dilakukan terhadap pengalaman dalam interaksi sosial. Dengan kata lain, makna antarpersona merupakan aksi yang dilakukan pemakai bahasa dalam saling bertukar pengalaman linguistik yang terprenterpretasikan dalam makna pengalaman (experiential meaning) (Saragih, 2006: 50). Fungsi interpersonal juga dimaknai sebagai sebuah interpretasi bahasa dalam fungsinya sebagai suatu saling tukar- menukar maklumat yang disebut „bahasa sebagai kegiatan‟. (Sinar, 2012: 45). Dalam bukunya yang berjudul “Phasal and Experiential Realizations in Lecture Discourse” Sinar (2007: 76) juga

menyebutkan defenisi yang sama dengan defenisi fungsi antar persona di atas dalam bahasa inggris the interpersonal meaning is an interpretation of language in its function as an exchange, which is a doing function of language; it is concerned with language as action.

a. Protoaksi

Dalam berbahasa penutur atau pengguna bahasa hanya melakukan dua peran, yakni meminta dan menerima. Dalam membawakan kedua peran itu dua jenis komoditas terkait, yaitu informasi dan barang dan jasa. Jika kedua variabel peran dan komoditas tersebut diklasifikasi silang, empat jenis aksi didapat seperti teringkas di dalam bagan berikut.

Peran Komoditas

Informasi Barang dan Jasa

memberi Pernyataan tawaran

meminta pertanyaan perintah

b. Aksi dan Realisasi dalam Tata Bahasa Protoaksi tersebut direalisasikan oleh tiga nada percakapan pada tingkat tata bahasa yang secara teknis linguistik disebut mood, yang dalam istilah Indonesia disebut modus. Sebagai realisasi

aksi pada strata tata bahasa, modus terdiri atas modus deklaratif, interogatif, dan

imperatif. Hubungan antara aksi pada

strata semantik dengan modus pada tingkat tata bahasa diringkas dalam bagan berikut.

Semantik Tata Bahasa (Modus) Klausa

pernyataan deklaratif Anaknya bekerja di Australia

pertanyaan interogatif Adakah anaknya bekerja di Australia ? perintah imperatif Kerjakan tugas itu sekarang !

tawaran - Biar saya sajalah mengerjakan tugas itu.

3. Metode Kajian

Metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yakni berupa “Pidato

Terima Kasih Atas Rekomendasi Pansus LKPJ Akhir Tahun 2013 dan Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Periode Tahun 2009 – 2014”, selanjutnya

(6)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

164 metode observasi, yakni mengamati semua

klausa yang ada di dalam teks Pidato tersebut selanjutnya digunakan teknik catat untuk memilih klausa-klausa yang mengandung sistem transitivitas serta protoaksi-protoaksi yang muncul di dalamnya. Adapun kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan terlebih dahulu membaca keseluruhan isi teks pidato tersebut, lalu menguraikan dan mencatat klausa-klausa yang ada dalam teks, selanjutnya mengidentifikasi serta mengklasifikasikan klausa yang berhubungan dengan transitivitas dan protoaksi yang muncul di dalamnya.

Adapun analisis data, menurut Patton dalam Moleong (2010: 280), adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Berdasarkan defenisi tersebut serta berdasarkan kajian penelitian ini, maka data penelitian ini dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif sesuai dengan perspektif LFS.Dalam perspektif LFS unit tata bahasa terdiri atas 1) klausa, 2) grup atau frase, 3) kata, dan 4) morfem. Setelah melakukan analisis berdasarkan unit tatabahasa kemudian dilakukan analisis berdasarkan fungsi dengan melakukan pemilahan minimal sesuai perspektifLFS karena orientasinya kepada fungsi.

Setelah melakukan penganalisisan data penelitian, maka langkah selanjutnya adalah penyajian hasil penganalisisan. Adapun metode penyajian hasil penganalisisan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode formal dan metode informal. Metode formalhasil analisis data disajikan dengan menggunakan kaidah kebahasaan yaitu berbentuk rumus, bagan atau diagram, tabel, dan gambar. Khsusus dalam

penelitian ini lebih banyak menggunakan penyajian melalui tabel. Metode informal, hasil analisis disajikan dengan kata-kata, klausa-klausa atau pernyataan-pernyataan ilmiah yang apabila dibaca dengan serta merta dapat langsung dipahami. Adapun contoh tabel penyajian hasil penganalisisan secara formal dapat dilihat pada beberapa penyajian hasil penghitungan pada sub pembahasan.

4. Pembahasan

Setelah melakukan pengidentifikasian serta pengklasifikasian terhadap data, maka diperoleh sebanyak 56 klausa yang merupakan data yang dianalisis dengan pendekatan teori LFS, khususnya dengan kajian sistem transitivitas dan makna antar persona.

4.1 Analisis Sistem Transitivitas pada Pidato Bupati Lombok Barat

Sistem transitivitas menyangkut tiga fungsi, di antaranya Proses, Partisipan, dan Sirkumstan. Berdasarkan ketiga fungsi tersebut hasil analisis diperoleh sebagaimana dipaparkan berikut ini.

4.1.1. Proses

Setelah melakukan analisis terhadap 56 klausa sebagaimana disebutkan di atas, ditemukan 21 butir proses mental, 14 proses relasional identifikasi, 9 butir proses material, 7 butir proses relasional atribut, 3 butir proses verbal, dan 3 butir proses wujud, sedangkan proses tingkah laku serta proses relasional kepemilikan tidak ditemukan. Adapun hasil analisis tentang proses mental pada pidato Bupati Lombok Barat dapat dilihat pada dua contoh analisis berikut.

(7)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

165 “Untuk melanjutkan proses pembangunan yang telah dilaksanakan”

(Kita) untuk melanjutkan proses

pembangunan

yang telah dilaksanakan Pengindera Penghubung Proses :

Mental

Fenomena Sirkukstan : masalah

Label fungsi Nomina Adverbia Verba Grup nomina Grup Verba Label kelas

Tawaran (Deklaratif) Protoaksi

“dan saya yakin dalam setiap tahapan pembahasan Laporan Pertanggungjawaban ini”

dan saya yakin dalam

setiap pembahasan

laporan

Pertanggungjawaban ini

Penghubung Pengindera Proses

: Mental Sirkumstan : Masalah Sirkumstan : Penyerta Label fungsi

Adverbia Nomina Verba Adverbia Grup nomina Label kelas

Pernyataan (Deklaratif) Protoaksi

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap keberadaan proses tampaklah bahwa proses yang paling banyak muncul pada hasil analisis proses tersebut adalah proses mental, yakni sejumlah 21 proses (37%). Adapun proses relasional

kepemilikan dan proses tingkah laku tidak ditemukan dalam kajian ini. Hasil penghitungan disajikan dalam data berbentuk tabel pada data berikut.

No Jenis Proses Jumlah Persentase (%)

1 Material 9 16 2 Mental 21 37 3 Relasional Identifikasi 14 25 4 Relasional Atribut 7 12 5 Relasional Kepemilikan 0 0 6 Tingkah Laku 0 0 7 Verbal 3 5 8 Wujud 3 5 J u m l a h 57 100 4.1.

2 Partisipan Setelah melakukan analisis tehadap

(8)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

166 analisis partisipan, ditemukan 45 butir

yang merupakan partisipan I dan 43 butir yang merupakan partisipan II. Kedua jenis

partisipan tersebut dipaparkan dengan dua contoh analisis sebagai berikut.

Contoh analisis terhadap partisipan I “Perjalanan panjang ini sangat menguras energi dan pikiran yang kita miliki”

Perjalanan panjang ini

Sangat menguras energi dan pikiran yang kita miliki

Pengindera Proses : mental Fenomena Label

Fungsi Gerup nomina Grup verba Grup nomina Label Kelas

Pernyataan (Deklaratif) Protoaksi

“untuk itulah, pada Tahun Anggaran 2014 ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat akan terus fokus pada pencapaian kondisi dari tujuan mensejahterakan masyarakat”

untuk itulah pada Tahun Anggaran 2014 ini Pemerintah Kabupaten Lombok Barat akan terus fokus pada pencapaian kondisi dari tujuan mensejahterakan masyarakat Penghubung Sirkumstan : Lokasi : waktu Pengindera Proses : Mental Sirkumstan: Masalah Label Fungsi Grup adverbial Grup

nomina

Grup verba

Grup adverbial Label Kelas

Pernyataan (Deklaratif) Protoaksi

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap keberadaan partisipan I tampaklah bahwa partisipan yang paling banyak muncul pada hasil analisis

partisipan tersebut adalah partisipan

pengindera, yakni sejumlah 15 partisipan

(33%). Sementara itu, partisipian kepemilikan dan petingkah laku tidak ditemukan dalam kajian ini. Adapun hasil masing- masing analisis tersebut dapat dilihat pada tabel di halaman selanjutnya.

No Jenis Partisipan I Jumlah Persentase %

1 Pelaku 6 13 2 Pengindera 15 33 3 Identifikasi: Bentuk 12 27 4 Atribut: Penyandang 7 16 5 Kepemilikan: Pemilik 0 0 6 Petingkah Laku 0 0 7 Pembicara 2 4

(9)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

167

8 Maujud 3 7

Jumlah 45 100

Contoh analisis terhadap partisipan II

“Dalam menjalankan fungsi sebagai penyelenggara pemerintahan, abdi negara dan abdi masyarakat”.

(Kita) dalam menjalankan

fungsi sebagai penyelenggara pemerintahan, abdi negara dan abdi masyarakat

Pengindera Proses : Mental

Fenomena Sirkumstan : Peran Label

fungsi Nomina Grup verba Nomina Grup adverbial Label

kelas

Pernyataan (Deklaratif) Protoaksi

“Terutama untuk menjamin terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat sebagai manusia”. Terutama

(kita/Pemeritah)

untuk menjamin

terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat sebagai manusia

Pengindera Proses : Mental

Fenomena Sirkumstan : Masalah Label

fungsi Grup nomina Grup verba adverbial Grup nomina Label

kelas

Tawaran (Deklaratif) Protoaksi

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap keberadaan partisipan II tampaklah bahwa partisipan yang dominan pada hasil analisis partisipan tersebut adalah partisipan nilai, yakni sebanyak 13

partisipan (30%). Sementara itu, partisipan milik tidak ditemukan dalam kajian ini. Adapun hasil masing- masing analisis tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

No Jenis Partisipan II Jumlah Persentase (%)

1 Gol 7 16 2 Fenomenon 12 28 3 Nilai 13 30 4 Atribut 8 19 5 Milik 0 0 6 Perkataan 3 7 J u m l a h 43 100

(10)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

168

4.1.3 Sirkumstan

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap keberadaan sirkumstan tampaklah bahwa sirkumstan yang paling banyak muncul pada hasil analisis tersebut adalah sirkumstan lokasi dan sirkumstan masalah, yakni masing- masing sejumlah 16

sirkumstan (31%). Sementara itu, srikumstan yang tidak ditemukan dalam kajina ini adalah sirkumstan pandangan. Berikut ditunjukkan contoh analisis sirkumstan lokasi dan sirkumstan masalah.

“Yth. Saudara Sekretaris Daerah, Para Asisten, Kepala Badan, Kepala Dinas, Kepala Kantor dan Bagian Dalam Lingkunan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat”.

Yang terhormat Saudara Sekretaris Daerah, Para Asisten, Kepala Badan, Kepala Dinas, Kepala Kantor dan Bagian

Dalam Lingkunan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Proses: Relasional : atribut

Atribut Penyandang Sirkumstan :

Lokasi :

tempat

Label fungsi Grup adverbia Grup nomina Grup adverbia Label

kelas

Pernyataan (Deklaratif) Protoaksi

“Telah mampu memberikan kontribusi berupa rekomendasi yang sangat berharga dan bermakna”. (DPR) telah mampu memberikan kontribusi berupa rekomendasi yang sangat berharga dan bermakna Pelaku Penghubung Proses :

Material

Gol Sirkumstan :

Masalah

Label fungsi Nomina Adverbia Grup verba Nomina Grup nomina Label

kelas

Pernyataan (Deklaratif) Protoaksi

Adapun secara keseluruhan hasil masing- masing analisis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

No Jenis Sirkumstan Jumlah Persentase (%)

1 Rentang 2 4 2 Lokasi 16 31 3 Cara 9 18 4 Sebab 3 6 5 Lingkungan 2 4 6 Masalah 16 31 7 Peran 1 2

(11)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

169

8 Penyerta 2 4

9 Pandangan 0 0

J u m l a h 51 100

4.2 Analisis Makna Antarpersona pada Pidato Bupati Lombok Barat

Memperhatikan analisis yang dilakukan terhadap 56 klausa khususnya terkait keberadaan protoaksi pada makna antarpersona tampaklah bahwa protoaksi yang mendominasi pada hasil analisis

sirkumstan tersebut adalah protoaksi

pernyataan, yakni sejumlah 34 butir (60%). Sementara itu protoaksi pertanyaan (interogatif) tidak ditemukan dalam kajian ini. Berikut ditampilkan contoh analisis pada klausa yang terdapat aksi pernyataan dan aksi tawaran di dalamnya.

“(kebijakan pembangunan) lebih merupakan proses lanjutan dari proses pembangunan” (kebijakan

pembangunan)

lebih merupakan proses lanjutan dari proses

pembangunan Tanda/bentuk Proses : Relasional

identifikasi

Nilai Label

fungsi

Nomina Grup adverbial Grup nomina Label

kelas

Pernyataan (Deklaratif) Protoaksi

“Akhirnya melalui kesempatan yang berbahagia ini izinkan saya” Akhirnya melalui kesempatan yang

berbahagia ini

izinkan saya Penghubung Surkumstan : Lokasi :

waktu

Proses: Mental

Fenomena Label fungsi

Grup adverbial Verba Nomina Label

kelas

Tawaran (Deklaratif) Protoaksi

Adapun hasil keseluruhann masing- masing analisis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

No Jenis Protoaksi Jumlah Persentase (%)

1 Pernyataan (Deklaratif) 34 60

2 Pertanyaan (Interogatif) 0 0

3 Perintah (Imperatif ) 7 12

4 Tawaran 15 28

J u m l a h 56 100

4.3 Makna dan Nilai yang Terkandung di Balik Dominasi Setiap Analisis dalam Pidato Bupati Lombok Barat

Makna yang terkandung pada dominasi proses mental apabila dikaitkan dengan aksi pernyataan pada teks pidato Bupati Lombok Barat yang merupakan

(12)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

170 bagian dari pidato politik atau pidato

birokrasi yang berisi jargon-jargon pembangunan, maka dapat diinterpretasikan bahwa pada pidato tersebut berisi penyampaian berupa

persepsi (ditunjukkan dengan proses

mental) dan pernyataan tentang aksi atau aktifitas-aktifitas pembangunan yang telah dan sedang dilakukan serta ajakan kepada masyarakat melalui DPRD untuk meneruskan aksi nyata dalam pembangunan demi kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat Lombok Barat. Namun tentu, ajakan tersebut masih pada tataran teks dan konsep, sehingga perlu ditindaklanjuti dalam bentuk aksi yang sesungguhnya di lapangan.

Adapun terkait dengan nilai yang terkandung di balik domonasi proses (mental) dan protoaksi (pernyataan) dapat diuraikan bawha nilai- nilai tersebut di antaranya; nilai kesadaran, kesungguhan,

keyakinan, kepastian (arah),

Kreatifitas/kesungguhan, kekhusyu’an/ketelitian,

ketuntasan/tanggung jawab, tanggung jawab, Kepatuhan/ketataan, dan nilai permisif. Nilai- nilai tersebut terkandung

pada proses mental. Adapun nilai- nilai yang terkandung dalam protoaksi

pernyataan di antaranya; nilai

kesyukuran, kesadaran, kesungguhan,

dan nilai pengabdian. Nilai- nilai ini tercermin pada pilihan kata yang digunakan dalam klausa-klausa pada data kajian.

4.4 Relevansi Kajian LFS dengan Pembelajaran Wacana di Sekolah

Dalam tata bahasa tradisional pada pembelajaran wacana di sekolah untuk mendapatkan informasi dari sebuah klausa maka dapat diketahui melalui verbanya, yang dalam istilah tata bahasa tradisional disebut sebagai predikat, karena salah satu

cara untuk memperoleh hal- hal yang dapat memberikan informasi penting adalah dengan jalan menemukan verba (predikat) klausa tersebut.

Sejalan dengan tata bahasa tradisional, untuk menemukan inti atau pokok pembahasan dari sebuah wacana pada kajian LFS maka terlebih dahulu harus mencari klausa-klausa yang di dalamnya terdapat verba yang dalam istilah LFS dinyatakan dengan sebutan proses. Secara substansial istilah predikat tidak jauh berbeda maknanya dengan istilah proses dalam teori LFS. Hanya saja istilah

proses memiliki uraian yang lebih

terperinci dan detail menjelaskan makna tentang realisasi dari sebuah pengalaman linguistik maupun non linguistik. Dikatakan demikian, karena verba dalam LFS yang diistilahkan dengan proses terdiri dari delapan proses, yakni proses material, proses mental, proses relasional identifikasi, atribut, dan kepemilikan, proses tingkah laku, proses wujud, dan proses verba yang masing- masing proses merepresentasikan makna yang berbeda. lain halnya dengan verba dalam tata bahasa tradisional hanya disebut sebagai istilah predikat.

Oleh karena keterpautan makna yang tidak jauh berbeda antara isilah predikat dalam tata bahasa tradisional dengan istilah proses dalam teori LFS, maka kajian dengan pendekatan teori LFS juga dapat dipergunakan untuk pembelajaran wacana di sekolah khsusnya di SMA atau MA sebagaimana pembelajaran wacana di Perguruan Tinggi.

5. Kesimpulan

Kajian ini menggunakan pendekatan teori LFS yang fokus pada sistem teransitivitas dan makna antar persona pada 56 klausa dari data kajian berupa pidato Bupati Lombok Barat dengan menggunakan pendekatan yang bersifat

(13)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

171 deskriptif kualitatif. Adapun kesimpulan

yang dapat disampaikan di antaranya:

1). Hasil kajian atau analisis pada sistem

transitivitas diperoleh bahwa proses yang mendominasi adalah proses mental yakni sejumlah 21 klausa atau sebesar 37%.

2). Hasil kajian atau analisis pada

realisasi aksi pada makna antar persona diperoleh bahwa protoaksi yang mendominasi adalah aksi pernyataan yakni sebanyak 34 klausa (60%).

3). Makna yang dapat dipaparkan yakni

berisi penyampaian berupa persepsi (ditunjukkan dengan proses mental) dan pernyataan tentang aksi atau aktifitas-aktifitas pembangunan yang telah dan sedang dilakukan serta ajakan (melalui aksi

tawaran) kepada masyarakat melalui

DPRD untuk meneruskan aksi nyata dalam pembangunan demi kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat Lombok Barat. Adapun beberapa nilai

yang dapat dipetik dari pidato Bupati tersebut telah disebutkan pada sub pembahasan di atas.

4). Relevansi kajian terhadap pembelajaran wacana di sekolah terletak pada kesamaan pendekatan yang digunakan untuk menemukan makna dan informasi dari sebuah wacana, di mana pada pembelajaran wacana di sekolah verba disebut sebagai predikat sedangakan pada teori LFS verba disebut sebagai proses. Yang berbeda adalah proses pada LFS memiliki uraian yang lebih kompleks dan detail dalam memaparkan makna sebuah wacana. Dapat disimpulkan bahwa teori LFS dapat juga diterapkan dalam menganalisis atau menemukan makna dari sebuah wacana pada pembelajaran di sekolah pada tingkat SMA atau MA sebagaimana penerapan teori LFS di Perguruan Tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah,Siti. 2002. “Metafora Leksikal dalam Novel “Larung” Karya Ayu Utami suatuKajian Linguistik Fungsional Sistemik” (Tesis). Medan: Program Pascasarjana USU.

Ansori, Ahmad. 2014. “Visi Dan Misi Pemilihan Gubernur NTB Periode 2013-2018: Kajian Linguistik Fungsional Sistemik dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Kebahasaan Di Perguruan Tinggi” (Tesis). Mataram: Program Pascasarjana Universitas Mataram.

Arifin, E.Zainal dan Hadi, Farid. 2009. 1001 Kesalahan Berbahasa. Jakarta: AKADEMIKA PRESSINDO.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Paktek . Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana: Teori,Metode, dan Penerapannya pada Wacana Media. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.

Bloor, Thomas and Meriel Bloor. 2004. The Functional Analysis of English: A Hallidayan Approach Second Edition. Lomdon: Arnold.

Booth, Wayne C, Gregory G. Colomb, Jopseph M. Williams. 2003. The Craft of Reserach. Chicago. The University of Chicago Press.

Darma, Yoce Aliah. 2014. Analisis Wacana Kritis: dalam Multiperspektif. Bandung: PT. Refika Aditama.

(14)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

172 Ginting, Syifa Asriany. 2003. “Modalitas pada Cerita Rakyat Karo Seri Turi-Turin Karo Beru

Dayang Jile-Jile: Suatu Kajian Fungsional Sistemik ” (Tesis). Medan: Program Pascasarjana USU.

Halliday M.A.K. 2007. Language Education. Great Britain: Continuum.

Halliday M.A.K. 1994. An Introduction To Functional Grammar Second Edition. Great Britain: Hodder Arnold.

Halliday M.A.K. 1990. Cohesion in English. Singapore: Longman.

Halimatussakdiah. 2010. “Wacana Kepemimpinan: Analisis Fase dan Sistem transitivitas Teks Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Berdasarkan Perspektif Linguistik Sistemik Fungsional” (Tesis). Medan: Program Pascasarjana USU.

Hasbullah. 2012. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT.RAJAGRAFINDO PERSADA. Herlina. 2007. “Makna Antarpersona dalam Teks Upacara Perkawinan pada Masyarakat Karo”

(Tesis). Medan: Program Pascasarjana USU.

Mahsun. 2013. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Press.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Muhammad. 2011. Paradigma Kualitatif Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Liebe Book Press. Rakhmat, Jalaluddin. 2002. Retorika Modern: Pendekatan Praktis. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya.

Riduwan. 2010. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta.

Rusman. 2012. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Saragih, Amrin. 2006. Bahasa dalam Konteks Sosial. Medan: Program Pascasarjana UNIMED. Saragih, Amrin. 2013. Introducing Systemic Functional Grammar of English. Medan: English

Department Faculty of Languages and Arts The State University of Medan UNIMED

Sekretariat Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Lombok Barat. 2014. Risalah Sidang tentang LKPJ Bupati Lombok Barat Tahun Anggaran 2013 dan LKPJ Akhir Masa Jabatan Bupati Lombok Barat Tahun Anggaran 2009-2014. Gerung: Sekretariat Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Lombok Barat.

Setiawan, Irma. 2014. “Kajian Linguistik Fungsional Sistemik Pada Pemberitaan Kekerasan Gender dalam Media Cetak Lombok Post Dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Wacana di Perguruan Tinggi” (Tesis). Mataram: Program Pascasarjana Universitas Mataram.

Sinar, Tengku Silvana. 2012. Teori & Analisis Wacana: Pendekatan Sistemik Fungsional. Medan: CV. MITRA.

Sinar, Tengku Silvana. 2007. Phasal and Experiential Realizations in Lecture Discourse: A Systemic – Functional Analysis. Medan: Kopertis Wilayah I Sumut-NAD.

Sudaryanto. 2006. Metode Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana Universitas Press.

Sukardjo dan Komarudin, Ukim. Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: PT.RAJAGRAFINDO PERSADA.

Thomas, linda dan Wareing, Shan. 2007. BAHASA, MASYARAKAT & KEKUASAAN. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(15)

Litera Jurnal Bahasa Dan Sastra 2015

173 Wajdi, Mohammad. 2014. “Pidato Pembina Upacara di SMP Negeri 2 Kuripan Kajian Linguistik

Fungsional Sistemik dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Wacana di SMP” (Tesis). Mataram: Program Pascasarjana Universitas Mataram.

Referensi

Dokumen terkait

1) Bersikap tenang dan sabar sebelum menulis. 2) Sebelum merasa siap menulis, kumpulkan informasi, susun dan buat kerangka gagasan. 3) Rinci tugas ke dalam aktivitas

Dari beberapa definisi di atas, maka definisi Work From Home atau bekerja dari rumah dalam tugas akhir ini adalah sama dengan definisi dari Mungkasa, (2020)

Dalam mengakomodir berbagai usulan dari masyarakat terkait pelayanan kesejahteraan sosial tentunya Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung perlu

Angket ini berisi tanggapan peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran terpadu tipe jaring laba-laba (webbed) pada materi bangun segi empat, yang akan

Pada proses utama, komputasi menggunakan metode Template Matching dan Hamming Distance, pola wajah akan dilatih untuk mendapatkan sebuah matriks bobot, yang selanjutnya

Penelitian ini bermanfaat bagi lembaga yang diteliti sebagai bahan evaluasi kebijakan organisasi di Dinas Komunikasi Informatika Provinsi Riau terkait dengan media yang

Gelembung yang tidak terlihat pada saat ujung selang dimasukkan ke dalam air untuk mengetahui ketepatan posisi NGT belum bisa dikatakan bahwa posisi NGT tepat berada di

Lain halnya dengan pernyataan dari Bapak Khoirudin, Beliau menuturkan bahwa orangtua juga dapat menjadi faktor penghambat dalam penanaman nilai keagamaan anak. “Faktor