• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROYEK PERANCANGAN RANGKAIAN DIGITAL : THUNDERBURD TAIL LIGHTS. Mochammad Fadhli Zakiy, Rizki Satya Utami

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROYEK PERANCANGAN RANGKAIAN DIGITAL : THUNDERBURD TAIL LIGHTS. Mochammad Fadhli Zakiy, Rizki Satya Utami"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

man

1

PROYEK PERANCANGAN RANGKAIAN DIGITAL :

THUNDERBURD TAIL LIGHTS

Mochammad Fadhli Zakiy, Rizki Satya Utami

Laboratorium Dasar Teknik Elektro

Sekolah Teknik Elektro dan Informatika – ITB

Abstrak

Praktikum kali ini menitik beratkan pada praktikan

untuk mengerti secara keseluruhan dari rangkaian

praktikum dan percobaan yang telah dilakukan sebelumnya,

karena pada praktikum kali ini praktikan ditugaskan

untuk membuat proyek rangkaian digital sendiri.

Praktikum ini diawali dengan membuat rancangan alat

sendiri yang telah ditentukan pilihannya, sedangkan untuk

merealisasikannya dibebaskan, setelah itu merealisasikannya

dan melakukan pengujian dalam memverifikasi fungsinya

dengan simulator tool. Terakhir mengimplementasikannya

pada FPGA untuk didemokan dan mempresentasikan hasil

proyek tersebut kepada Asisten. Dalam menyelesaikan

proyek ini digunakan pendekatan menggunakan VHDL

dan teori-teori yang telah didapat sebelumnya.

Kata kunci: FPGA, VHDL, proyek, merancang

1. Pendahuluan

Praktikum kali ini di latar belakangi oleh butuhnya

praktikan untuk menguji kemampuannya apakah

telah memahami rangkaian praktikum dan

percobaan yang telah dilakukan sebelumnya dengan

uji coba sebuah proyek yang dibebaskan realisasinya

sebagai evaluasi pemahaman. Adapun tujuan

praktikum meliputi:

1. Menspesifikasi suatu system digital sederhana

2. Membagi system menjadi satu atau lebih jalur data

dan kendali

3. Mendesain jalur data untuk sistem

4. Mendesain kendali untuk system

5. Mengintegrasikan jalur data dan kendali kedalam

system secara keseluruhan

6. Melakukan tes secara menyeluruh pada system

7.Mengimplementasikan

system

digital

menggunakan FPGA dan komponen tambahan

yang diperlukan

8.Menguji dan menganalisa system yang sudah

dibangun

2. Dasar Teori

Dalam melakukan praktikum ini praktikan memilih

membuat

proyek

THUNDERBURD

TAIL

LIGHTS. Prinsip kerja proyek ini yaitu sama seperti

lampu – lampu yang berada di belakang mobil. Pada

proyek ini ada 5 buah keadaan yaitu kondisi :

1. NIGHT, ini digunakan pada keadaan

malam hari yaitu menyalanya 2 lampu

(LED) pada sisi kiri dan kanan.

2. BRAKE, ini kondisi pada saat melakukan

pengereman yaitu semua lampu (LED)

menyala

3. RIGHT, ini kondisi pada saat berbelok ke

kanan yaitu menyalakan lampu sen kanan

dengan implementasi 4 lampu (LED)

terkanan menyala secara bergantian dari

dalam menuju ke luar

4. LEFT, kondisi ini sama seperti RIGHT

hanya saja berada pada 4 LED terkiri

untuk menyala secara bergantian dari

dalam menuju keluar.

5. EMERGENCY, kondisi ini digunakan

sebagai tanda bahaya yaitu lampu hazard

implementasinya yaitu semua lampu

(LED) menyala secara bersamaan dan

padam secara bersamaan pula dan

melakukan pengulangan selama tombol

EMERGENCY masih ditekan.

6. PENGEREMAN di TIKUNGAN, atau

BRAKE-RIGHT dan BRAKE-LEFT,

kondisi ini adalah saat melakuakan

pengeraman di tikungan sehingga pola

yang terjadi adanya pola LEFT atau

RIGHT dan BRAKE secara bersamaan,

dengan pola 4 lampu selain yang menjadi

sen akan tetap menyala sedangkan yang

menjadi sen melakukan fungsinya sebagai

sen dengan pola BREAK(menyala semua

LED) pada akhir pola dan kembali menjadi

sen selama RIGHT atau LEFT dan

BRAKE masih ditekan

(2)

man

2

Dalam pengimplementasian digunakan teori teori

yang digunakan pada praktikum sebelumnya yaitu:

Synchronous clock, div by N, clockdiv, flip flop,

counter dan one hot controller. Selain itu digunakan

pengetahuan mengenai FPGA dalam melakukan

implementasi.

Div By N digunakan untuk menjadi counter dalam

penghitungan CLOCK pada implementasi FPGA,

yaitu agar menyesuaikan CLOCK yang terdapat

pada FPGA.

D flip flop digunakan sebagai shift register dan

sebagai penyimpan memory dalam menyala matikan

LED yang dipengaruhi dengan signal CLOCK yang

masuk ke dalam D flip flop.

Synchronizer ini digunkan prinsipnya pada signal

EMERGENCY yaitu membuat LED memiliki pola

nyala dan padam yang disesuaikan dengan CLOCK

yang diberikan.

3. Metodologi

3.1 Mendesain dan Mengkode dengan VHDL

Dalam melakukan desain praktikan menamakan 8 LED yang akan dinyalakan dengan nama A,B,I,D,E,F,G,H dengan LED A sebagai LED terkiri dan LED H sebagai LED terkanan dengan urutan seperti yang telah ditentukan. Kemudian membagi

kemungkinan yang terjadi di setiap LED sebagai berikut:

A: menyala pada kondisi BRAKE, NIGHT, LEFT, EMERGENCY

B: menyala pada kondisi BRAKE, NIGHT, LEFT, EMERGENCY

I: menyala pada kondisi BRAKE, LEFT, EMERGENCY D: menyala pada kondisi BRAKE, LEFT, EMERGENCY E: menyala pada kondisi BRAKE, RIGHT, EMERGENCY

F: menyala pada kondisi BRAKE, RIGHT, EMERGENCY

G: menyala pada kondisi BRAKE, NIGHT, RIGHT, EMERGENCY

H: menyala pada kondisi BRAKE, NIGHT, RIGHT, EMERGENCY

Kemudian membuat state state tersebut dan diimplementasikan dalam fungsi dengan kode yang digunakan sebagai berikut:

LIBRARY IEEE;

USE IEEE.STD_LOGIC_1164.ALL; ENTITY DCD IS

PORT (AK,BRK, CLK: IN STD_LOGIC;

A1,A2,A3,A4: BUFFER STD_LOGIC); END DCD; ARCHITECTURE BEHAVIOURAL OF DCD IS BEGIN PROCESS(CLK,BRK,AK) variable CNT: integer:=0; BEGIN

IF CLK'EVENT AND CLK='1' THEN IF AK='1' THEN IF CNT = 0 THEN A1<='0'; A2<='0'; A3<='0'; A4<='0'; CNT:=CNT+1; ELSIF CNT = 1 THEN A1<='0'; A2<='0'; A3<='0'; A4<='1'; CNT:=CNT+1;

(3)

man

3

ELSIF CNT = 2 THEN A1<='0'; A2<='0'; A3<='1'; A4<='0'; CNT:=CNT+1; ELSIF CNT = 3 THEN A1<='0'; A2<='1'; A3<='0'; A4<='0'; CNT:=CNT+1; ELSIF CNT = 4 THEN A1<='1'; A2<='0'; A3<='0'; A4<='0'; CNT:=CNT+1;

ELSIF BRK='1' AND CNT = 5 THEN A1<='1'; A2<='1'; A3<='1'; A4<='1'; CNT:=0; ELSE CNT:=0; END IF; ELSE IF BRK ='1' THEN A1<='1'; A2<='1'; A3<='1'; A4<='1'; ELSE A1<='0'; A2<='0'; A3<='0'; A4<='0'; END IF; END IF; END IF; END PROCESS; END BEHAVIOURAL; --- LIBRARY IEEE; USE IEEE.STD_LOGIC_1164.ALL; ENTITY CLOCKDIV IS PORT (CLK: IN STD_LOGIC;

DIVOUT : BUFFER STD_LOGIC); END CLOCKDIV;

architecture behavioural of CLOCKDIV is begin PROCESS(CLK) variable count: integer :=0; constant div: integer :=27000000; begin if CLK'event and CLK='1' then if(count<div) then count:=count+1; if(DIVOUT='0') then DIVOUT<='0'; elsif(DIVOUT='1') then DIVOUT<='1'; end if; else if(DIVOUT='0') then DIVOUT<='1'; elsif(DIVOUT='1') then DIVOUT<='0'; end if; count:=0; end if; end if; end process; end behavioural;

(4)

man

4

--- LIBRARY IEEE; USE IEEE.STD_LOGIC_1164.ALL; ENTITY THN IS

PORT (BRAKE, KIRI, KANAN, EMERGENCY, NIGHT, CLOCK: IN STD_LOGIC;

A,B,I,D,E,F,G,H :OUT STD_LOGIC); SIGNAL C: STD_LOGIC_VECTOR (9 DOWNTO 0); END THN;

ARCHITECTURE STRUCTURAL OF THN IS COMPONENT DCD

PORT (AK,BRK, CLK: IN STD_LOGIC;

A1,A2,A3,A4: OUT STD_LOGIC); END COMPONENT;

COMPONENT CLOCKDIV PORT

(CLK : IN STD_LOGIC; DIVOUT : OUT STD_LOGIC); END COMPONENT;

BEGIN

KI: DCD PORT MAP (AK=>KIRI, BRK=>BRAKE, CLK=>C(8), A1=>C(0), A2=>C(1),

A3=>C(2), A4=>C(3));

KA: DCD PORT MAP (AK=>KANAN, BRK=>BRAKE, CLK=>C(8), A1=>C(7), A2=>C(6),

A3=>C(5), A4=>C(4));

CL: CLOCKDIV PORT MAP (CLK=>CLOCK, DIVOUT=>C(8)); C(9) <= EMERGENCY AND C(8); A <= NIGHT OR C(9) OR C(0); B <= NIGHT OR C(9) OR C(1); I <= C(9) OR C(2); D <= C(9) OR C(3); E <= C(9) OR C(4); F <= C(9) OR C(5); G <= NIGHT OR C(9) OR C(6); H <= NIGHT OR C(9) OR C(7); END; 3.2 Mensimulasikan rancangan

1. Lakukan simulasi fungsional untuk melihat kekurangan dan kelebihan dari desain yang dibuat pada QUARTUS 9.0

2. Amati secara seksama

3. Catat pada BCL dan perhatikan keabsahannya

3.3 Mengimplementaskan pada FPGA

1. Jika dirasa benar sudah fungsi dari proyek yang telah dibuat, maka implementasikan pada FPGA

2. Assign pin dengan PIN PLANNER 3. Download pada FPGA

4. Amati dan catat pada BCL.

4. Hasil dan Analisis

4.1 Spesifikasi alat

1. FPGA : Board FPGA DE1

Dalam melakukan praktikum kali ini seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya bahwa praktikan membuat proyek THUNDERBURD TAIL LIGHTS, adapun dibuat dengan tabel kebenaran:

NIGHT EMERGENCY BRAKE LEFT RIGHT LAMPU

0 0 0 0 1 Sen Kanan 0 0 0 1 0 Sen Kiri 0 0 0 1 1 Z 0 0 1 0 0 Pengereman 0 0 1 0 1 Rem belok kanan

0 0 1 1 0 Rem belok kiri

0 1 0 x x hazard

0 1 1 x x Pengereman

1 0 0 0 0 malam

(5)

man

5

Dengan melihat tabel kebenaran dengan X pada tabel merupakan don’t care dan Z adalah kondisi yang tidak ditentukan dan tidak termasuk dalam perencanaan, dengan bantuan ini praktikan membuat THUNDERBURD TAIL LIGHTS, sehingga didapatkan data data sebagai berikut yang merupakan hasil simulasi dengan simulator tool fungsional dengan clock 50 us dan clockdiv yang digunakan countnya sejumlah 3 sehingga count yang berasal dari CLOCK harus berosilasi 3 kali baru terhitung sebuah pergerakan, mengapa menggunakan 3 agar bisa dilihat perubahannya walaupun di kode digunakan 27000000, hal ini agar pada implementasi di FPGA berjalan baik, sedangkan jika digunakan 27000000 maka sulit untuk dilihat perubahannya karena clock harus berosilasi 27000000 kali terlebih dahulu untuk menghasilkan sebuah pergerakan.

Kondisi ini sudah benar kondisi sen kanan yaitu tepat saat RIGHT bernilai 1. Pergerakan atau flip flop baru aktif jika clock sudah berosilasi sebanyak 3 kali, sesuai dengan hipotesa awal

Kondisi ini pun sudah benar yaitu kondisi pada saat sen kiri yaitu saat LEFT bernilai 1. Dengan perubahan saat clock sudah 3 kali berosilasi

Kondisi Ini merupakan kondisi pengereman dengan perubahan terjadi jika clock telah berosilasi sebanyak 3 kali. Mengapa terjadi hal seperti ini bukannya berubah sesaat setelah dipijit tombolnya. Hal ini dikarenakan

praktikan menyatakan kondisi nyalanya LED yang dikarenakan oleh BRAKE yang aktif pada bagian PROCESS di component DCD sehingga untuk merubah lampu rem dari padam hingga menyala dibutuhkan perubahan CLOCK (pada kasus ini 3 kali clock berosilasi).

Pada kondisi ini terjadi pengereman dan berbelok ke kanan sehingga terjadi kondisi berikut. Untuk menampilkan hasil simulasi seperti ini praktikan mengganti nilai CLOCKDIV seharga satu sehingga berubah sesuai dengan CLOCK berubah, hal ini dikarenakan saat menggunakan CLOCK DIV sejumlah 3 tidak dapat teramati semua.

Seperti yang sebelumnya maka ini adalah pengereman yang berbelok kekiri, sehingga berbarengan dengan sen kiri.

Yang terjadi kini adalah kondisi hazard yaitu saat EMERGENCY bernilai 1 sehingga tercipta pola sebagai berikut. Yang terlihat adalah saat aktifnya bernilai 2 clock juga pada saat padamnya hal ini dikarenakan CLOCKDIV bernilai satu sehingga harus menunggu untuk menghitung dari 0 hingga 1yaitu 2 clock baru berubah logikanya.

(6)

man

6

Pada kondisi ini terlihat kondisi PENGEREMAN padahal pada saat ini pula EMERGENCY bernilai 1 hal ini dikarenakan praktikan mengeset BRAKE lebih prioritas dari EMERGENCY sehingga yang terlihat adalah BRAKE.

Terakhir Kondisi ini yaitu kondisi menyalakan lampu MALAM, hal ini telah benar karena terjadi saat NIGHT bernilai 1 dan yang lain bernilai 0.

Sebenarnya masih banyak kondisi lain yang tidak dimasukkan dan disimulasikan oleh praktikan tetapi jika melihat dari fungsi maka kesimpulannya NIGHT akan selalu terjadi saat apapun nilai kondisi masukan lainnya karena prinsip kerja dari THUNDERBURD TAIL LIGHTS yang dibuat yaitu melakukan operasi OR pada LAMPU yang berfungsi (menyala) sebagai penunjuk malam, kemudian jika terjadi EMERGENCY dan BRAKE maka yang terlihat adalah BREAK karena semua fungsi LED menyala dengan melakukan operasi OR pada EMERGENCY dan BRAKE, sedangkan signal emergency yang terjadi dimasukkan ke synchronizer terlebih dahulu supaya terjadi signal yang berosilasi sesuai dengan CLOCKDIV padahal signal masukkannya bernilai 1 terus hal ini dilakukan agar terlihat pola nyala dan padam pada kondisi hazard tetapi jika dibandingkan dengan signal BRAKE yang selalu bernilai 1 maka signal EMERGENCY tidak akan berpengaruh. Kondisi berikutnya yaitu kondisi pada pengereman di tikungan yang memang dilakukan pengaturan pada unit kendalinya yang diber nama DCD sehingga mengatur BRAKE-RIGHT dan BRAKE-LEFT, tetapi pada implementasi terdapat kekurangan pada THUNDERBURD buatan praktikan yaitu dapat melakukan sen kanan dan kiri secara bersamaan, hal ini di kenyataan tidak terjadi tetapi jika benar ingin diimplementasikan di dunia nyata maka praktikan akan menjadikan signal masukan input RIGHT dan LEFT secara berlawanan sehingga tidak mungkin terjaid hal seperti ini. Terakhir yaitu kondisi sen kiri atau dan kanan dengan EMERGENCY, maka pola yang terlihat adalah pola EMERGENCY yang bercampur tidak jelas dengan SEN KIRI atau dan KANAN, sehingga tidak dimasukka kondisi ini oleh praktikan karena dirasa tidak penting dan memang hal ini luput dari perencanaan praktikan dalam membuat THUNDERBURD TAIL LIGHTS.

5. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini yaitu hal hal yang

dilakukan telah menjawab tujuan dan kebutuhan

praktikan dalam memahami mengenai rangkaian

digital tingkat mudah, selain itu praktikan pun

merasa bahwa praktikum kali ini telah tepat sasaran

dan menggunakan metode yang baik untuk

membuat praktikan mengerti akan seluruh rangkain

praktikum dan percobaan yang pernah dilakukan

pada praktikum semester ini pada EL-2195. Semoga

nilai nilai dan pengetahuan yang praktikan dapatkan

pada rangkaian praktikum ini dapat digunakan dan

diimplementasikan dengan baik di dunia nyata

kedepannya.

6. Daftar Pustaka

[1]

Praktikum Sistem Digital, Hal. 67-72,Sekolah

Teknik Elektro dan Informatika, Bandung,

2010

[2]

Brown, Stepehen & Vranesic, Zvonko .2005.

fundamentals of Digital Logic with VHDL design

second edition, Mc GRAW – HILL, 2005

[3]

Sumber gambar: print screen hasil simulasi

Referensi

Dokumen terkait

 Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus diberikan atau disediakan oleh pemerintah daerah

Nusa Toyotetsu Corporation (NTC) Dengan Metode Objective Matrix (OMAX).” melalui dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pemikirannya kepada penulis

Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang selanjutnya disingkat KLHS adalah proses mengintegrasikan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam

Setelah melalui proses validasi oleh ketiga validator sehingga diperoleh perhitungan yaitu perangkat RPP memperoleh presentase 82,22% dari 15 kategori pertanyaan

Sentuhan mata : Gejala yang teruk boleh termasuk yang berikut: kesakitan atau kerengsaan.. berair kemerahan Kesan Kesihatan

Apabila dikemudian hari ternyata kehidupan saya tidak sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berea, maka saya dengan

Kegunaan diagnostik dan prognostik ULJ setelah revaskularisasi koroner (mis, 5-10 tahun) lebih besar dari pada awal (kurang dari 1 tahun) ULJ, karena respon abnormal yang

Jika turunan pertamanya nol, yang mununjukkan suatu kemiringan nol dan karena itu suatu dataran dalam fungsi, sedangkan turunan keduanya negatif, yang berarti