i
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL BAHASA DAN BUDAYA III
REVITALISASI IDENTITAS MELALUI BAHASA DAN BUDAYA MARITIM
Penyunting Ahli Dr. I Ketut Sudewa, M.Hum
Penyunting Pelaksana Drs. I Wayan Teguh, M.Hum
DENPASAR, 25 – 26 SEPTEMBER 2018
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR 2018
ii
KATA PENGANTAR
Pada kesempatan ini kami selaku panitia mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pemakalah kunci Dr. Darmoko, M.Hum. (Universitas Indonesia); pemakalah utama: Prof. Dr. I Gde Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum. (Institut Seni Indonesia Bali), dan Dr. Purwadi, M.Hum. (Universitas Udayana) telah bersedia menyampaikan ide-ide dan gagasannya untuk memperkuat kegiatan SNBB III. Terimakasih pula kami ucapkan kepada para pemakalah pendamping, peserta dan mahasiswa yang sudah berupaya untuk turut berpartisipasi mengikuti kegiatan SNBB III.
Kami juga mengucapkan terimakasih atas dukungan Ibu Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. selaku dekan FIB serta koordinator Program Studi di lingkungan FIB, Bapak/Ibu Dosen, Mahasiswa dan civitas Akademika FIB Unud, yang telah ikut berpartisipasi pada kegiatan SNBB III ini. Dan tentunya tidak lupa pula kami juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh panitia SNBB III atas kerja kerasnya untuk mewujudkan kegiatan seminar ini sehingga dapat berjalan dengan lancar.
Akhirnya kami tidak pernah lupa dengan pepatah yang mengatakan bahwa ―Tiada gading yang tak retak‖. Oleh karena itu, kami mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak berkenan di hati Bapak/Ibu selama acara ini berlangsung. Kritik dan saran sangat kami harapkan demi terlaksananya SNBB III yang lebih berkualitas di masa mendatang akan kami terima dengan tangan terbuka.
Panitia Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
iii SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya maka buku kumpulan makalah-makalah yang dikompilasi dalam bentuk proceeding untuk Seminar Nasional Bahasa dan Budaya (SNBB) III dengan mengusung tema ‗Revitalisasi Identitas melalui Bahasa dan Budaya Maritim‘ dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Budaya kemaritiman menarik untuk dibahas dan didiskusikan secara akademis dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-60, dan Badan Kekeluargaan ke-37 Fakultas Ilmu Budaya, serta Dies Natalis Universitas Udayana ke-56. Maritim adalah bagian budaya Nusantara karena merupakan identitas bagi Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai negara Nusantara (archipelagic state). Melalui SNBB III, pembahasan mengenai wilayah perairan bukan saja sebagai pembatas, tetapi juga sebagai penghubung antarpulau yang menyatukan Nusantara sekaligus sumber daya melimpah yang harus dikelola dengan baik diharapkan menjadi fokus utama seminar ini. Budaya maritim sebagai identitas menyentuh dapat semua lini tata perilaku masyarakat, dan negara untuk melahirkan teknologi, seni, bahasa, dan budaya yang unik.
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana mengembangkan ilmu bahasa dan budaya memiliki peran untuk merevitalisasi identitas masyarakat dan bangsa. Dinamika budaya kemaritiman yang berkaitan dengan konteks ideologi, sejarah, antropologi, arkeologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, bahasa, dan ketahanan tidak terbebas dari kerawanan dan kepunahan shingga perlu untuk merevitalisasi identitas tersebut.
Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Para Koordinator Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Udayana atas kerjasama yang baik sehingga seminar bersama bisa dilaksanakan.
2. Dr. Darmoko, M.Hum. (Unversitas Indonesia) sebagai pembicara kunci; pemakalah utama: Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Kar.,
iv
M.Hum (ISI Denpasar), Dr. Purwadi, M.Hum. (FIB Unud), serta para pemakalah pendamping lainnya.
3. Peserta SNBB III, 2018 yang terdiri atas, peneliti dan/atau dosen bahasa, sastra, dan budaya, mahasiswa, pekerja dan pengamat media, dll yang terlalu panjang bila disebutkan semuanya.
4. Panitia SNBB III yang telah bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan penyelenggaraan seminar ini dengan sebaik-baiknya.
SNBB III yang diselenggarakan atas kerjasama semua Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana dapat memberikan pencerahan, dan diharapkan bermuara pada penyatuan Visi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana yaitu memiliki keunggulan dan kemandirian dalam bidang
pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan aplikasi keilmuan yang berlandaskan kebudayaan.
Melalui kesempatan ini sekali lagi kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan SNBB III, dengan harapan semoga Tuhan YME memberikan imbalan yang setimpal dengan pengorbanan Bapak/Ibu sekalian. Kami juga tidak lupa mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dalam penyelengaraan acara ini. Kami ucapkan Selamat Berseminar, dan semoga bermanfaat.
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Dekan,
v DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... i KATA PENGANTAR ... ii SAMBUTAN ... iii DAFTAR ISI ... v PEMAKALAH KUNCI REVITALISASI TEKS-TEKS KEARIFAN LOKAL KEMARITIMAN UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA Darmoko ... 1
PEMAKALAH UTAMA SENI KELAUTAN MEMBANGUN HARMONISASI MANUSIA DENGAN ALAM I Gede Arya Sugiartha ... 15
STRATEGI MASYARAKAT NELAYAN KEDONGANAN MENGHADAPI KEMISKINAN Purwadi Soeriadiredja ... 22
PEMAKALAH PENDAMPING EKSISTENSI PURI AGUNG KARANGASEM DALAM DINAMIKA SOSIAL BUDAYA A.A.A Dewi Girindrawardani ... 41
VARIASI BAHASA SUNDA DI DAERAH PESISIR JABAR SELATAN Asri Soraya Afsari, Teddi Muhtadin ... 50
PERILAKU BUDAYA KESEHATAN DALAM PRAKTIK PERAWATAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA MASYARAKAT PESISIR DI MANGGARAI, NTT Bambang Dharwiyanto Putro ... 57
ANALISIS PEMAKAIAN RAGAM JURNALISTIK DI SMAN 1 ABIANSEMAL: KASUS MENULIS BERITA LANGSUNG I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, Anak Agung Putu Putra, I Ketut Nama, Ni Putu N. Widarsini, Sri Jumadiah ... 67
vi
IDEOLOGI BUDAYA MARITIM DALAM PIDATO MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
I Gusti Ayu Gde Sosiowati ... 73
CITRA DIRI PADA TEKS VERBAL MEDIA KAMPANYE PILGUB BALI I Gusti Ngurah Parthama, Ni Luh Kade Yuliani Giri ... 82
HEGEMONI BUDAYA DALAM PRAKTIK KEKUASAAN MARITIM
I Ketut Darma Laksana ... 88
SITUS KAPAL U.S.A.T LIBERTY DI PANTAI TULAMBEN DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI MARITIM DAN PARIWISATA
I Ketut Setiawan ... 94
KECENDERUNGAN PEMAKAIAN BAHASA BALI SEBAGAI CERMIN IDENTITAS MASYARAKAT DI DAERAH PARIWISATA NUSA DUA I Made Rajeg, Ni Luh Sutjiati Beratha, Ni Wayan Sukarini ... 100
KERAS, KASAR, PEDAS, PENUH GAIRAH KARAKTERISTIK MASYARAKAT PESISIR DALAM DRAMA ―MALAM JAHANAM‖ KARYA MOTINGGO BUSYE
I Made Suarsa ... 108
GAMBARAN PERJALANAN LAUT A.A. ISTRI AGUNG DAN SUAMINYA DARI KARANGASEM KE JEMBRANA
I Made Suastika ... 114
PERAIRAN BALI SEBAGAI RUANG BUDAYA DAN PERADABAN
I Putu Gede Suwitha ... 120
MEMBANGUN KARAKTER BANGSA MELALUI PELESTARIAN DAN PENGIMPLEMENTASIAN NILAI BUDAYA: PERSPEKTIF
BUDAYA BALI
I Wayan Cika... 128
MELACAK KEBAHARIAN NUSANTARA BERDASARKAN BUKTI-BUKTI ARKEOLOGIS
I Wayan Srijaya ... 135
REVOLUSI BIRU DAN HUMAN SECURITY NELAYAN DI KUSAMBA KLUNGKUNG
I Wayan Tagel Eddy, Anak Agung Ayu Rai Wahyuni ... 146
MEMAHAMI KATA TUGAS DALAM BAHASA INDONESIA DITINJAU DARI PELONCATAN KATEGORI DAN FUNGSI
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 88 Denpasar, 25-26 September 2018
HEGEMONI BUDAYA DALAM PRAKTIK KEKUASAAN MARITIM I Ketut Darma Laksana
Fakultas Imu Budaya Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Indonesia lebih percaya diri lagi menyebut negerinya sebagai negara maritim. Selain alasan yang logis bahwa tiga per empat wilayahnya berupa lautan juga karena terdapat narasi besar di balik gagasan yang dicanangkan oleh pemerintah bahwa laut dapat memberikan kemakmuran bagi rakyat. Sehubungan dengan itu, tepat pula gagasan yang dilontarkan oleh pemerintah saat ini dengan menyebut Indonesia sebagai poros maritim dunia.. Inilah yang disebut hegemoni, pengaruh kepemimpinan, dominasi kekuasaan, dengan pemimpinnya yang melihat jauh ke depan manfaat yang diberikan oleh laut. Makalah ini mencoba melihat ideologi di balik hegemoni yang direpresentasikan ke dalam kebijakan pemerintah dalam mengelola potensi dunia kemaritiman Indonesia. Hal ini perlu diungkapkan untuk menjawab ―protes‖ yang disampaikan oleh sebagian kecil anggota masyarakat tentang dua hal berikut. Pertama, mengapa kapal-kapal asing yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) harus ditenggelamkan, bukan sebaiknya dibagikan kepada para nelayan. Kedua, mengapa yang dibangun tol laut bukan bendungan. Dalam upaya mengungkap ideologi yang tersembunyi di balik kebijakan pemerintah perlu dilakukan ―pembongkaran‖ atas wacana yang disampaikan untuk menangkis kedua protes terebut.. Untuk itu, metode yang diterapkan adalah metode ―dekonstruksi‖, sebagaimana yang dikenal dalam teori Pos-Strukturalisme/Posmodernisme. Hasil kajian memperlihatkan bangunan ideologi pemerintah bahwa kekayaan bumi, termasuk laut, dan tol yang dibangun digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Kata kunci: hegemoni, bahasa, budaya, ideologi
1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Bumi yang dihuni oleh manusia sekitar tujuh puluh persen (70%) berupa lautan. Wilayah Indonesia juga sekitar 70% ditutupi oleh laut dibandingkan dengan daratan yang hanya 30%. Dalam buku berjudul Pelestarian Lingkungan Hidup, berdasarkan ―Tafsir Alquran Tematik‖ (2012), eksistensi laut digambarkan sebagai: (1) bagian dari dunia kita, (2) tanda kemahakuasaan Tuhan, (3) sumber penghidupan manusia, (4) prasarana transfortasi, dan (5) potensi bencana (hlm. 29—53). Laut sebagai bagian dari dunia kita berarti bahwa bumi yang dihuni oleh
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 89 Denpasar, 25-26 September 2018
manusia, yakni daratan, berdampingan dengan laut. Laut sendiri di dalamnya hidup berbagai biota yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam kehidupannya.
Laut sebagai tanda kemahakuasaanTuhan berarti bahwa tidak ada kekuatan yang sehebat apa pun, kecuali Tuhan Yang Mahakuasa, yang mampu menciptakan bumi ini yang terdiri atas daratan dan lautan. Manusia yang berakal sehat akan meyakinkan dirinya bahwa laut dan aneka kehidupan yang ada di dalamnya pasti diciptakan oleh Yang Mahakuasa. Laut dikatakan sebagai sumber penghidupan manusia karena di dalamnya terdapat bermacam-macam biota, tidak saja ikan yang dapat dikonsumsi tetapi juga barang-barang yang lebih mahal harganya, seperti mutiara, yang digunakan oleh manusia sebagai perhiasan. Laut dikatakan sebagai prasarana transfortasi karena laut merupakan wilayah yang paling mudah digunakan untuk mengoperasikan berbagai jenis alat transfortasi, seperti perahu, kapal, sampan, dan rakit.
Terakhir, laut berpotensi menimbulkan bencana, seperti tsunami, karena manusia sendiri tidak bisa menjaga lingkungan. Sebagai contoh, manusia melakukan penghancuran hutan-hutan bakau (mangrove) atau perusakan karang, yang masing-masing berfungsi untuk menahan gelombang. Pengetahuan manusia sangat terbatas, manusia tidak mampu memprediksi kapan dan di mana akan terjadi tsunami. Dari kelima eksistensi laut tersebut, dua di antaranya yakni laut sebagai sumber penghidupan manusia dan laut sebagai prasarana transfortasi mendapat prioritas untuk dikaji.
1.2 Masalah
Polemik yang terjadi akhir-akhir ini, sebagai dampak perpolitikan di Indonesia, berawal dari ―protes‖ yang disampaikan oleh sebagian kecil anggota masyarakat mengenai dua hal berikut. Pertama, mengapa kapal-kapal asing yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) harus ditenggelamkan, mengapa tidak diberikan kepada nelayan saja. Kedua, mengapa yang dibangun tol laut, mengapa bukan bendungan untuk kepentingan irigasi. Pertanyaan yang perlu dijawab ialah ideologi apa yang ada di balik ―wacana‖ pemerintah melakukan dua hal yang telah menjadi polemik itu?
90 Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III Denpasar, 25-26 September 2018 1.3 Tujuan
Pertikaian politik yang terjadi di Indonesia saat ini harus diakui dimulai dari kelompok masyarakat yang ―kontra‖ pemerintah. Bagi orang-orang yang termasuk golongan ini, tidak ada cara lain, mereka akan berusaha mencari-cari kelemahan pemerintah, sekecil apa pun. Sehubungan dengan itu, makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada mayarakat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah tidak lain demi perbaikan kehidupan rakyat secara keseluruhan. Eksistensi laut sebagai sumber penghidupan manusia dan prasarana transfortasi, keduanya dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Wilayah laut yang luasnya 70% itu jika dikelola dengan tepat diyakini dapat menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
1.4 Urgensi
Makalah ini disusun berkaitan dengan protes yang disampaikan oleh sekelompok kecil anggota masyarakat yang belum memahami benar ―narasi besar‖ yang dibangun oleh pemerintah. Pemerintah yang sedang bekerja keras dalam usaha meningkatan kesejahteraan rakyat serta memeratakan pembangunan di tanah air perlu didukung. Oleh karena itu, hadirnya makalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat agar konflik yang berkembang selama ini dapat dihentikan.
2. Landasan Teori
Teori yang diterapkan dalam mengungkap makna-makna di balik wacana yang dibangun oleh pemakai bahasa adalah Teori Kritis, sebagaimana yang dipraktikkan oleh penganut teori Pos-Strukturalisme/Posmodernisme. Derrida sebagai salah tokohnya menolak pandangan Strukturalisme bahwa hubungan antara kata/penanda dan makna/petanda bersifat arbitrer. Menurut Derrida, makna suatu kata terbuka untuk makna yang lain, kemungkinan adanya ―motivasi‖ oleh pemakai bahasa. Kata selalu mengandung dalam dirinya sendiri jejak makna lain (lihat Sim dan van Loon, 2008:64-65 dan 88-89). Pandangan dalam Posmodernisme/Pos-Strukturalisme juga penting diterapkan dalam menelaah
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 91 Denpasar, 25-26 September 2018
ideologi di balik wacana yang diproduksi. Dalam Teori Kritis, ideologi itu sendiri dapat dikaji melalui konsep ―hegemoni‖ yang tercermin dalam wacana. Pemikiran Antonio Gramsci tentang konsep ―hegemoni‖ (lihat Sim dan van Loon, 2008:36-37) di sini dikembangkan untuk menjelaskan dua hal berikut. Pertama, bagaimana kelas penguasa menggunakan dominasinya. Kedua, bagaimana cara kerja pemberdayaan budaya oleh pemerintah.
3. Metode
Dalam mengungkap makna-makna di balik wacana yang dibangun oleh pemerintah mengenai kebijakan peningkatan taraf hidup rakyat dan pemerataan pembangunan diterapkan metode ―dekonstruksi‖. Dekonstruksi atau pembongkaran perlu dilakukan untuk melihat motivasi apa yang ada di balik wacana yang disampaikan, baik yang kontra maupun yang pro pemerintah. Pemikiran dari kedua belah pihak masing-masing memiliki alasan. Namun, apakah alasan itu dapat diterima atau tidak. Dalam hal ini memang telah terjadi ―perebutan simpati‖ rakyat demi kepentingan politik. Metode dekonstruksi berupaya melakukan pembongkaran terhadap wacana yang dibangun, namun kemudian disusun kembali dengan narasi yang dapat diterima oleh nalar yang sehat. Di sini harus dipahami benar kebijakan pemerintah menyangkut dunia kemaritiman kita. Seperti diketahui, puluhan tahun berlalu identitas laut kita tidak jelas, kapal-kapal asing bebas menangkap ikan karena ―dilindungi‖, konon oleh oknum tertentu, atau dengan dalih berbagi hasil. Wacana yang berkembang mengandung pesan bahwa kekayaan laut harus dikelola oleh bangsa sendiri karena dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, seperti ikan-ikan yang ada di laut, harus dimiliki dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia bukan oleh orang luar. Adanya wacana pembangunan tol laut yang dibangun oleh pemerintah dalam kenyataannya juga merupakan ―revitalisasi identitas budaya ‖maritim. Seperti diketahui, pemerintah telah memprioritaskan pembangunan tol laut di wilayah Indonesia timur dengan tujuan agar sirkulasi pengiriman barang-barang keperluan hidup sehari-hari, bahan-bahan bangunan, bahan bakar minyak (BBM) tidak memerlukan waktu yang lama yang berakibat pada tingginya harga.
92 Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III Denpasar, 25-26 September 2018 4. Pembahasan
4.1 Revitalisasi Identitas Maritim Melalui Bahasa
Revitalisasi identitas maritim disampaikan oleh pemerintah mengadung ideologi yang berikut. Pertama, kekayaan laut dalam wilayah Indonesia adalah milik bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tidak boleh ada bangsa lain yang melakukan tindakan yang melanggar, dalam hal ini penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing). Kekayaan laut diperuntukkan bagi kemakmuran/kesejahteraan rakyat. Bandingkan kedua kelompok wacana di bawah ini.
Klompok A
(1) Megapa kapal-kapal asing yang melakukan penangkapan ikan secara illegal harus ditenggelamkan.
(2) Mengapa kapal-kapal tersebut tidak diberikan kepada para nelayan kita.
(3) Kelompok B
(4) Kapal-kapal asing yang menangkap ikan di perairan laut kita tidak dilengkapi dokumen yang sah.
(5) Pembagunan tol laut bertujuan untuk meningkatkan keadilan social bagi seluruh rakyat.
Wacana pada Kelompok A merupakan protes dari kelompok kecil masyarakat yang ditujukan kepada pemerintah dengan maksud memperoleh simpati dari masyarakat. Pemberian kapal-kapal asing itu kepada nelayan, terutama yang belum memiliki kapal, dapat membantu nelayan dalam matapecahariannya sebagai penangkap ikan. Sementara itu, wacana pada Kelompok B merupakan balasan dari pemerintah. Pemahaman atas bentuk wacana seperti itu bersifat linguistis karena maknanya langsung diperoleh dari diksi/pilihan kata yang memang ―memihak‖ pada rakyat . Kemudian, pembangunan tol laut bukan berarti pemerintah mengesampingkan pembangunan bendungan, Pembangunan bendungan tetap berjalan, pembagunan tol laut tampaknya menjadi prioritas dengan tujuan mengangkat harkat dan martabat masyarakat terutama yang ada di Indonesia timur (Papua).
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 93 Denpasar, 25-26 September 2018
Sesuai dengan pandangan teori kritis, wacana di atas tidak terlepas dari konteks situasi politik.. Jadi, ada motivasi berupa pencarian simpati dari rakyat. Namun, kedua kelompok wacana tersebut memperlihatkan perbedaan motivasi. Wacana Kelompok A bermotivasi negatif, sedangkan wacana Kelompok B bermotivasi positif.
4.2 Revitalisasi Identitas Maritim Melalui Budaya
Budaya kita mengajarkan bahwa memiliki sesuatu dengan cara ilegal tentu tidak dibenarkan, terutama dilihat dari sudut agama. Banyak kejadian yang serupa, seperti impor elegal bawang dari luar negeri, penyitaan ganja dan sejenisna, oleh pemerintah diambil tindakan pemusnahan. Dengan demikian, hasil usaha yang diperoleh secara tidak sah tidak sesuai dengan budaya dan ajaran agama.
Perhatian yang besar dari pemerintah untuk memeratakan pembangunan di seluruh negeri dengan konsep ―kemakmuran untuk seluruh rakyat‖ berjalan sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, hegemoni yang dimiliki oleh pemerintah memperkuat ideologi penguasa dalam rangka menyejahterakan rakyat secara keseluruhan. Hal ini sesuai dengan sila kelima dari dasar Negara kita, Pancasila, yaitu ―Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia‖.